• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harga Pokok pesanan Pengertian dan Konse

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Harga Pokok pesanan Pengertian dan Konse"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

AKUNTANSI BIAYA

Sabtu, 01 Desember 2012

Harga Pokok pesanan

Pengertian dan Konsep Metode Harga

Pokok Pesanan

Metode harga pokok pesanan adalah suatu metode pengumpulan biaya produksi untuk menentukan harga pokok produk pada perusahaan yang menghasilkan produk atas dasar pesanan. Tujuan dari penggunaan metode harga pokok pesanan adalah untuk menentukan harga pokok produk dari setiap pesanan baik harga pokok secara keseluruhan dari tiap-tiap pesanan maupun untuk per satuan. Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan. Pada pengumpulan harga pokok pesanan dimana biaya yang dikumpulkan untuk setiap pesanan/kontrak/jasa secara terpisah dan setiap pesanan dapat dipisahkan identitasnya. Atau dalam pengertian yang lain, penentuan harga pokok pesanan adalah suatu sistem akuntansi yang menelusuri biaya pada unit individual atau pekerjaan, kontrak atau tumpukan produk yang spesifik.

B. Karakteristik Biaya Pesanan

- Sifat produksinya terputus-putus tergantung pada pesanan yang diterima

- Bentuk produk tergantung dari spesifikasi pemesan

- Pengumpulan biaya produksi dilakukan pada kartu biaya pesanan, yang memuat

rincian untuk masing-masing pesanan.

- Total biaya produksi dikalkulasi setelah pesanan selesai - Biaya produksi epr unit dihitung, dengan membagi total biaya produksi dengan total

unit yang dipesan.

- Akumulasi biaya umumnya menggunakan biaya normal

- Produk yang sudah selesai langsung diserahkan pada pemesan.

C. Kartu Biaya Pesanan

Kartu biaya pesanan adalah dokumen dasar dalam penentuan biaya pesanan yang mengakumulasi biaya-biaya untuk setiap pesanan. Karena biaya diakumulasi setiap batch atau loy dalam sistem biaya pesanan menunjukkan bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung serta biaya overhead pabrik yang dibebankan untuk suatu pesanan. File kartu biaya pesanan yang belum selesai dapat berfungsi sebagai buku

besar tambahan untuk persediaan dalam proses

Syarat penggunaan Metode Harga Pokok Pesanan:

(2)

& BTKL) dan biaya tak langsung (selain BBB & BTKL). BBB dan BTKLü dibebankan/diperhitungkan secara langsung terhadap pesanan yang bersangkutan, sedangkan BOP dibebankan kepada pesanan atas dasar tarif yang

ditentukan di muka.

Harga pokok setiap pesanan ditentukan pada saat pesanan selesai.ü ü Harga pokok per satuan produk dihitung dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dibebankan pada pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk dalam pesanan

yang bersangkutan.

Untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan digunakan Kartu Harga Pokok (Job Cost Sheet), yang merupakan rekening/buku pembantu bagi rekening kontrol Barang

Dalam Proses.

D. Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Pesanan

1) Pencatatan Biaya Bahan Baku (BBB)

Dibagi dua prosedur, yaitu :

Prosedur pencatatan pembelian bahan baku, jurnalnya:§

Persediaan Bahan Baku xxx

Utang Dagang / Kas xxx

§ Prosedur pencatatan pemakaian bahan baku, menggunakan metode mutasi persediaan (perpetual). Dalam setiap pemakaian bahan baku harus diketahui pesanan

mana yang memerlukannya. Jurnalnya:

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx

Persediaan Bahan Baku xxx

2) Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)

Diperlukan pengumpulan dua macam jam kerja, yaitu :§

Jam kerja total selama periode kerja tertentu.ü

Jam kerja yang digunakan untuk mengerjakan setiap pesanan.ü

§ Perusahaan harus menyelenggarakan kartu hadir masing-masing karyawan, untuk mengumpulkan informasi jam kerja total selama periode kerja tertentu, untuk pembuatan Daftar Upah. Disamping itu, perusahaan harus mencatat penggunaan jam kerja masing2 karyawan untuk mengerjakan pesanan. (Masing2 karyawan dibuatkan Kartu Jam Kerja /

Job Time Ticket)

Jurnal untuk pembagian upah:§

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx

Gaji dan Upah xxx

3) Pencatatan Biaya Overhead Pabrik (BOP)

BOP dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu :§

Biaya Bahan Penolongü

Biaya reparasi dan pemeliharaan, berupa pemakaian persediaan spareparts dan

persediaan supplies pabrikü

Biaya tenaga kerja tak langsungü

Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap (contoh: biaya

penyusutan aktiva tetap)ü

Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu (contoh: terpakainya asuransi

(3)

ü Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran tunai

(contoh: biaya reparasi mesain pabrik, biaya listrik)

BOP dalam metode harga pokok pesanan harus dibebankan kepada setiap pesanan

berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.§

Tarif BOP ditentukan pada awal tahun/periode dengan cara berikut ini :§

Tarif BOP = Taksiran jumlah BOP selama 1 periode

Jumlah Dasar pembebanan*

Dasar Pembebanan BOP:

Satuan produkü

Biaya Bahan Bakuü

Biaya Tenaga Kerja Langsungü

Jam Tenaga Kerja Langsungü

Jam Mesinü

§ BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan selama satu tahun yang sama, kemudian pada akhir tahun dibandingkan dengan yang dibebankan kepada produk atas

dasar tarif

Pencatatan BOP yang Dibebankan kepada produk:§

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx

Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx

Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan (untuk mempertemukan BOP Dibebankan dengan BOP Sesungguhnya)§

Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx

Pencatatan BOP yang Sesungguhnya:§

1. Pemakaian Bahan Penolong:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx

Persediaan Bahan Penolong xxx

2. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Tak langsung:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx

Gaji dan Upah xxx

4) Pencatatan Produk Selesai

§ Biaya produksi yang telah dikumpulkan dalam Kartu Harga Pokok dijumlah dan dikeluarkan dari rekening Barang Dalam Proses dengan jurnal sbb:

Persediaan Produk Jadi xxx

Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx

Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx

§ Harga Pokok Produk jadi dicatat dalam Kartu Persediaan (Finish Goods Ledger Card) dan Kartu Harga Pokok Pesanan tersebut dipindahkan ke dalam arsip Kartu Harga

Pokok Pesanan yang telah selesai.

E. Perbedaan Antara Akuntansi Perusahaan Manufaktur Dan Akuntansi Perusahaan Dagang

(4)

Perbedaan dalam neraca

Di dalam neraca perusahaan dagang, hanya terdapat satu rekening persediaan barang, yaitu Persediaan barang dagangan, sedangkan rekening persediaan dalam neraca perusahaan manufaktur meliputi persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi dan persediaan suplai

perlengkapan pabrik.

Perbedaan dalam laporan laba rugi

Perbedaan dalam laporan laba-rugi antara perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur terletak pada perhitungan harga pokok penjualan. Pada perusahaan dagang barang tersedia untuk dijual diperoleh dengan menjumlahkan persediaan awal dan pembelian bersih, sedangkan pada perusahaan manufaktur diperoleh dengan menjumlahkan persediaan awal barang jadi dan harga pokok produksi.

F. Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi adalah biaya yang terjadi dalam rangka untuk menghasilkan barang atau produk jadi yang siap untuk dijual. Biaya produksi dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

1. Biaya Bahan Baku

Biaya bahan baku adalah Bahan yang digunakan untuk menghasilkan barang jadi dan secara fisik menjadi bagian dari produk tersebut. Misalnya, pemakaian bahan berupa kulit, benang, paku, lem dan cat pada perusahaan sepatu.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung

Merupakan biaya yang dibayarkan kepada tenaga langsung Istilah tenaga kerja langsung digunakan untuk menunjuk tenaga kerja (karyawan) yang terlibat langsung dalam pengolahan bahan langsung atau bahan baku menjadi barang jadi. Misalnya upah yang dibayarkan kepada karyawan bagian pemotongan atau bagian perakitan atau

bagian pengecatan pada perusahaan mebel.

3. Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik (biaya produksi tidak langsung) adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Misalnya biaya tenaga kerja tidak langsung, bahan pembantu atau penolong, reparasi dan pemeliharaan mesin, pemeliharaan gedung pabrik, biaya listrik pabrik, biaya penyusutan mesin dan lain-lain. G. Manfaat Informasi Harga Pokok Produksi Per Pesanan

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi harga pokok

produksi per

pesanan bermanfaat bagi manajemen dalam :

1. Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan 2. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan terhadap pesanan tertentu.

3. Memantau realisasi biaya produksi

4. Menghitung laba atau rugi tiap pesanan

5. Menentukan harga pokok persediaan barang jadi dan barang dalam proses yang disajikan

dalam neraca.

Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki oleh pemesan. Oleh karena itu harga jual yang dibebankan kepada pemesan sangat ditentukan oleh besarnya produksi yang akan

dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu.

(5)

Ada kalanya harga jual produk yang dipesan oleh pemesan telah terbentuk di pasar, sehingga keputusan yang perlu dilakukan oleh manajemen adalah menerima atau menolak pesanan. Untuk memungkinkan pengambilan keputusan tersebut, manajemen memerlukan informasi total harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut. Informasi total harga pokok pesanan memberikan perlindungan bagi manajemen agar dalam menerima pesanan perusahaan tidak mengalami kerugian.

Memantau realisasi biaya produksi

Jika suatu pesanan telah diputuskan untuk diterima, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di dalam memenuhi pesanan tertentu. Oleh karena itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang diterima untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi tertentu menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang

diperhitungkan sebelumnya.

Menghitung laba atau rugi dap pesanan

Untuk mengetahui apakah suatu pesanan menghasilkan laba atau tidak, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu. Informasi laba atau rugi tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya non produksi dan menghasilkan laba atau rugi. Oleh karena itu, metode harga pokok pesanan oleh manajemen untuk mengumpulkan informasi biaya produksi sesungguhnya keluarkan untuk tiap pesanan guna menghasilkan informasi laba atau rugi tiap pesanan. Menentukan harga pokok persediaan barang jadi dan batang dalam proses yang

disajikan neraca

Pada saat perusahaan dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Di dalam neraca manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan barang jadi dan harga pokok yang sampai dengan tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan pencatatan biaya produksi untuk setiap pesanan. Berdasarkan catatan biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang telah selesai diproduksi, namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan. Di samping itu, berdasarkan catatan itu pula manajemen dapat menentukan harga pokok dari produk yang sampai dengan tanggal penyajian neraca masih dalam proses pengerjaan.

H. Kartu Harga Pokok (Job Order Cost Sheet)

Kartu harga pokok merupakan catatan penting dalam metode harga pokok pesanan, kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk pengerjaan suatu pesanan dicatat secara rinci di dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.

Biaya produksi dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu.

Accounting-Study

berbagi ilmu untuk pelajar akuntansi

(6)

METODE HARGA POKOK PESANAN

A.

Metode Pengumpulan Harga Pokok

Metode pengumpulan harga pokok dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1. Metode harga pokok pesanan

Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga pokok produk di mana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan. Pengolahan produk akan dimulai setelah datangnya ada pesanan

2. Metode harga pokok proses

Metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu tertentu. Pada metode harga pokok proses perusahaan menghasilkan produk yang homogin, bentuk produk bersifat standar, dan tidak tergantung spesifikasi yang diminta oleh pembeli.

B.

Karakteristik Harga Pokok Pesanan

Pada perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan memiliki karakteristik, sebagai berikut:

1. Tujuan produksi perusahaan untuk melayani pesanan pembeli yang

bentuknya tergantung pada spesifikasi pemesan

2. Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan dengan tujuan dapat

dihitung harga pokok pesanan dengan relatif teliti dan adil. Dihubungkan dengan sistem akuntansi biaya yang digunakan untuk membebankan harga pokok kepada produk, metode harga pokok pesanan menggunakan:

a. Sistem harga pokok historis digunakan untuk biaya bahan baku dan biaya

tenaga kerja langsung , sedangkan untuk biaya overhead pabrik menggunakan tarif biaya yang ditentukan dimuka.

b. Dalam metode harga pokok pesanan, dapat juga menggunakan Sistem

harga pokok yang ditentukan dimuka untuk seluruh elemen biaya.

c. Jumlah total harga pokok untuk pesanan tertentu dihitung pada saat

pesanan selesai, dengan menjumlahkan seluruh biaya yang dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan. Harga pokok satuan dihitung dengan cara membagi jumlah total harga pokok pesanan dengan jumlah satuan produk pesanan.

C.

Aliran Kegiatan Perusahaan Manufaktur

Aliran harga pokok produk menunjukkan aliran biaya produksi dalam rangka kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang

selanjutnya dijual, oleh karena itu aliran harga pokok produk akan dipengaruhi aliran kegiatan.

Aliran kegiatan perusahaan manufaktur secara umum terdiri dari:

(7)

Pengadaan adalah kegiatan untuk memperoleh atau mengadakan barang dan jasa yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi, dapat dikelompokkan menjadi:

a. Pembelian, penerimaan, dan penyimpanan bahan baku, bahan penolong,

supplies pabrik, dan elemen lainnya yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi

b. Perolehan jasa dari tenaga kerja langsung, tenaga kerja tak langsung dan

jasa lainnya yang akan dikonsumsi dalam kegiatan produksi. 2. Produksi

Produksi adalah kegiatan pengolah bahan baku menjadi produk selesai. Pada kegiatan tersebut akan dikonsumsi bahan baku, tenaga kerja langsung, barang dan jasa lainnya yang dikelompokkan dalam overhead pabrik.

3. Penyimpanan produk selesai

Produk yang telah selesai diproduksi dari pabrik akan dipindahkan ke dalam gudang produk selesai menunggu saat dijual atau diserahkan kepada pemesan. 4. Penjualan produk selesai.

Produk yang sudah laku dijual akan dikeluarkan dari gudang produk selesai untuk dikirim kepada pembeli, dan perusahaan dapat membebani rekening langganan atau pembeli.

D.

Prosedur Akuntansi Biaya pada metode Harga Pokok Pesanan

Prosedur akuntansi biaya pada metode harga pokok pesanan dapat dikelompokkan menjadi:

1. Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies.

2. Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja.

3. Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik.

4. Prosedur akuntansi produk selesai dan produk dalam proses akhir periode

5. Prosedur akuntansi penjualan dan penyerahan produk kepada pemesan.

Berikut ini akan dibahas per prosedur, sesuai dengan urutan yang telah disebutkan diatas.

1.

Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies

Prosedur akuntansi biaya bahan dan supplies meliputi prosedur pembelian sampai dengan pemakaian bahan dan supplies di dalam pabrik. Secara ringkas prosedur akuntansi bahan dan supplies dapat digambarkan sebagai berikut:.

Transaksi dan Dokumen Dasar

Jurnal Transaksi Buku Besar Pembantu Pembelian Bahan dan

Supplies:

Faktur Pembelian BuktiPenerimaan Barang

Pesanan Pembelian

Persediaan Bahan Baku xx Persediaan Bahan Penolong xx Persediaan Supplies Pabrik xx

Hutang Dagang xx

Hutang Dagang xx Persediaan Bahan Baku xx Persediaan Bahan Penolong xx

(8)

Pengembalian Pembelian: Debit Memorandum Laporan Pengiriman Pengembalian Pembelian

Persediaan Supplies Pabrik xx Supplies Pabrik

Potongan Tunai Pembelian: Bukti Kas Keluar

Hutang Dagang xx Persediaan Bahan Baku xx Persediaan Bahan Penolong xx Persediaan Supplies Pabrik xx Kas xx Atau:

Hutang Dagang xx Penghasilan Lain-Lain xx Kas xx

Kartu Persediaan: Bahan Baku Bahan Penolong Supplies Pabrik

Pemakaian Bahan Baku: Bon Permintaan Bahan

Barang Dalam Proses- B. Bhn Baku xx

Persediaan Bahan Baku xx Kartu Persediaan: Bahan Baku Kartu Harga Pokok Pesanan Pemakaian Bahan

Penolong:

Bon Permintaan Bahan

Pemakaian Supplies Pabrik:

Bon Permintaan Bahan

Biaya Overhead P Sesungguhnya xx Persediaan Bahan Penolong xx

Biaya Overhead P Sesungguhnya xx Persediaan Supplies Pabrik xx

Kartu Persediaan: Bahan Penolong Kartu Biaya: Overhead Pabrik Kartu Persediaan: Supplies Pabrik Kartu Biaya: Overhead Pabrik Pengembalian Bahan Baku dari Pabrik ke Gudang Bahan

Persediaan Bahan Baku xx Barang Dalam Proses-

Biaya Bahan Baku xx

Kartu Persediaan: Bahan Baku Kartu Harga Pokok Pesanan

2.

Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja.

Prosedur akuntansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur terjadinya gaji dan upah, pembayaran gaji dan upah, dan distribusi gaji dan upah untuk semua karyawan perusahaan baik produksi maupun bagian non produksi. Secara ringkas prosedur akuntansi biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut:

Transaksi dan Dokumen Dasar

Jurnal Transaksi Buku Besar Pembantu Penentuan Gaji dan Upah: Biaya Gaji dan Upah xx

(9)

Daftar Hadir Kartu Jam Kerja Daftar Gaji dan Upah

Hutang Dana Pensiun xx Hutang Astek xx Hutang Asuransi Hari Tua xx Piutang Karyawan xx Hutang Gaji dan Upah xx Pembayaran Gaji dan

Upah:

Bukti Kas Keluar

Hutang Gaji dan Upah xx Kas xx

Distribusi Gaji dan Upah: Perintah Jurnal

Barang Dalam Proses- B TKL xx BOP Sesungguhnya xx Biaya Pemasaran xx Biaya Administrasi dan Umum xx Biaya Gaji dan Upah xx

Kartu Harga Pokok Pesanan dan Kartu Biaya Overhead Pabrik

Pemasaran Administrasi dan Umum

Beban atas Gaji dan Upah:

Daftar Sumbangan atas

Gaji dan Upah

BOP Sesungguhnya xx Biaya Pemasaran xx Biaya Administrasi dan Umum xx

Hutang Pajak Pendapatan xx Hutang Dana Pensiun xx Hutang Astek xx Hutang Asuransi Hari Tua xx

Karu Biaya: Overhead Pabrik Pemasaran Administrasi dan Umum

Penyetoran atas Potongan dan beban Gaji dan upah: Bukti Kas Keluar

Hutang Pajak Pendapatan xx Hutang Dana Pensiun xx Hutang Astek xx Hutang Asuransi Hari Tua xx Kas xx

3. Prosedur akuntansi biaya overhead pabrik

Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling komplek.untuk keadilan dan ketelitian pembebanan harus digunakan tarif biaya overhead pabrik yang

ditentukan dimuka.

Apabila tarif biaya overhead pabrik sudah ditentukan, prosedur akuntansi biaya overhead pabrik sebagai berikut:

a. Prosedur pembebanan biaya overhead pabrik pada pesanan

Atas dasar perintah jurnal, maka dibuat jurnal pembebanan BOP dan dimasukkan ke dalam Kartu Harga Pokok Pesanan.

Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik xx

(10)

b. Prosedur akuntansi pengumpulan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya

Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dalam periode yang

bersangkutan ditampung dalam rekening Biaya Overhead Sesungguhnya dan dimasukkan ke dalam Kartu Pembantu Biaya Overhead Pabrik. Berikut ini dibahas jurnal untuk setiap elemen:

(1) Biaya Bahan Penolong (secara detail telah dibahas di prosedur akuntansi biaya Bahan). Jurnal untuk pemakaian bahan penolong sbb:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Persediaan Bahan Penolong xx

(2) Biaya tenaga Kerja Tak Langsung (secara detail telah dibahas di prosedur akuntansi biaya tenaga kerja). Atas dasar Daftar Gaji dan Upah, maka jurnal untuk biaya tenaga kerja tak langsung sbb:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Biaya Gaji dan Upah xx

Jika Pajak, dan asuransi menjadi tanggungan perusahaan, maka jurnalnya:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Hutang Pajak Pendapatan xx

Hutang Dana Pensiun xx

Hutang Astek xx

Hutang Asuransi Hari Tua xx

(3) Biaya Penyusutan dan Amortisasi Aktiva Tetap Pabrik

(11)

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Akumulasi Peyusutan Mesin xx

Akumulasi Penyusutan Bangunan xx

Akumulasi Penyusutan Peralatan xx

Amortisasi Hak Paten xx

(4) Biaya Reparasi dan Pemeliharaan Aktiva Tetap Pabrik Biaya reparasi dan pemeliharaan timbul karena pembelian suku cadang atau pembelian jasa reparasi. Jika terjadi pembelian suku cadang, maka jurnalnya sbb: Persediaan Suku Cadang xx

Hutang Dagang/ Kas xx

Jika terjadi pemakaian suku cadang, mak jurnalnya sbb: Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Persediaan Suku Cadang xx

Jika terjadi pembayaran jasa atas servis yang diterima perusahaan, maka jurnalnya adalah: Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Kas xx

(5) Biaya Listrik dan Air untuk Pabrik

(12)

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Kas/ Hutang Biaya xx

(6) Biaya Asuransi Pabrik

Jurnal pada saat pembayaran persekot asuransi sbb:

Persekot Asuransi xx

Kas xx

Jurnal pada saat pengakuan biaya:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Persekot Asuransi xx

c. Prosedur akuntansi perhitungan dan perlakuan selisih biaya overhead pabrik

Pada akhir periode akuntansi akan dihitung besarnya selisih biaya BOP

sesungguhnya dengan BOP yang dibebankan. Berikut ini jurnal yang biasanya dibuat di perusahaan:

(1) Jurnal menutup biaya overhead pabrik dibebankan ke biaya overhead pabrik sesungguhnya.

Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

(2) Jurnal untuk menutup biaya overhead pabrik sesungguhnya dan menghitung selisih

Apabila BOP sesungguhnya lebih besar dibandingkan BOP dibebankan, maka jurnalnya sbb:

(13)

BOP Sesungguhnya xx

Apabila BOP sesungguhnya lebih kecil dibandingkan BOP dibebankan, maka jurnalnya sbb: BOP Sesungguhnya xx

Selisih Biaya Overhead Pabrik xx

(3) Salah satu perlakuan yaitu masuk ke rekening Rugi laba Jika terdapat selisih tidak mengguntungkan, maka jurnal sbb: Rugi-Laba xx

Selisih Biaya Overhead Pabrik xx

Jika terdapat selisih menguntungkan, maka jurnalnya yang dibuat adalah: Selisih Biaya Overhead Pabrik xx

Rugi-Laba xx

4. Prosedur akuntansi produk selesai dan produk dalam proses akhir periode Jika pesanan telah selesai di produksi, maka jurnal yang dibuat sbb: Persediaan Produk Selesai xx

Barang Dalam Proses- Biaya Bahan Baku xx

Barang Dalam Proses- Biaya Tenaga Kerja Langsung xx

Barang Dalam Proses- Biaya Overhead Pabrik xx

(14)

Persediaan Produk dalam Proses xx

Barang Dalam Proses- Biaya Bahan Baku xx

Barang Dalam Proses- Biaya Tenaga Kerja Langsung xx

Barang Dalam Proses- Biaya Overhead Pabrik xx

5. Prosedur akuntansi penjualan dan penyerahan produk kepada pemesan. Berdasarkan faktur penjualan, maka jurnal penjualan barang adalah: Piutang Dagang/ Kas xx

Penjualan xx

Harga Pokok Penjualan xx

Persediaan Produk Selesai xx

E. Perlakuan Sisa Bahan, Produk Rusak, Produk cacat pada Metode Harga Pokok Pesanan

Dalam pengolahan produk untuk melayani pesanan, kemungkinan timbul sisa bahan, produk rusak, maupun produk cacat.Bagi manajemen masalahnya adalah bagaimana dapat menekan timbulnya sisa bahan, produk cacat dan produk rusak serendah mungkin. Berkut ini dibahas tentang masalah perlakuan akuntansi untuk masing-masing:

1. Sisa Bahan

Dalam perusahaan manufaktur dapat timbul sisa bahan dari proses pengolahan produk, yang disebut sisa bahan. Sisa bahan adalah bahan yang tersisa atau bahan yang rusak di dalam proses pengolahan produk atau penyimpanan dan tidak dapat digunakan kembali dalam perusahaan.

Sisa bahan dapat dikelompokkan menjadi dua:

a. Sisa bahan yang tidak laku dijual

(15)

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

Kas xx

(2) Apabila sisa bahan secara normal terjadinya dalam perusahaan, biaya tersebut dapat diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik sesungguhnya.Jurnal yang digunakan untuk mencatat biaya pemusnahan sisa bahan adalah:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Kas xx

b. Sisa bahan yang laku dijual

(1) Apabila timbulnya sisa bahan disebabkan karena pengolahan pesanan tertentu, hasil sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku atau pengurang biaya keseluruhan biaya produksi pesanan yang bersangkutan. Jurnal yang digunakan untuk mencatat penjualan sisa bahan adalah:

Kas xx

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

(2) Apabila timbulnya sisa bahan sifanya normal di dalam suatu perusahaan, perlakuan hasil penjualan dapat digunakan cara sbb:

(a) Hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya. Jurnal yang digunakan untuk mencatat penjualan sisa bahan adalah:

Kas xx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

(16)

Kas xx

Penghasilan Lain – Lain xx

2. Produk Rusak

Produk rusak adalah produk dihasilkan dalam kondisi rusak atau tidak memenuhi ukuran mutu yang sudah ditentukan dan tidak ekonomis untuk diperbaiki

menjadi produk yang baik, meskipun mungkin secara tehnik dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Produk yang rusak dapat digolongkan menjadi dua:

a. Produk rusak yang tidak laku dijual

Perlakuan produk yang rusak tergantung penyebab timbulnya produk rusak:

(1) Apabila produk rusak disebabkan sulitnya pengerjaan pesanan tertentu, maka harga pokok produk yang rusak dibebankan pada pesanan yang

menimbulkan produk rusak, sehingga harga pokok produksi per unit produk menjadi lebih besar. Akan tetapi tidak ada tambahan jurnal yang harus dicatat.

(2) Apabila produk yang rusak terjadinya bersifat normal dalam suatu

perusahaan,maka harga pokok produk rusak diperlakukan sebagai elemen biaya overhead sesungguhnya. Jurnal yang harus dicatat adalah:

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja Langsung xx

Barang dalam Proses – BOP xx

(3) Apabila produk rusak karena kesalahan atau kurangnya pengawasan, maka harga pokok produk yang rusak diperlakukan sebagai Rugi produk yang rusak. Jurnal yang harus dicacat adalah:

Rugi Produk Rusak xx

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja Langsung xx

Barang dalam Proses – BOP xx

(17)

Perlakuan akuntansi untuk produk rusak yang laku dijual:

(1) Apabila produk rusak yang disebabkan sulitnya pengerjaan pesanan

tertentu, rugi atas penjualan produk yang rusak akan dibebankan pada pesanan yang bersangkutan. Karena sebagian pesanan akan mengalami rusak, dalam pengolahan pesanan harus dimasukkan jumlah yang lebih besar dibanding dengan jumlah yang dipesan. Jurnal yang dicatat pada saat penjualan produk rusak:

Kas xx

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja Langsung xx

Barang dalam Proses – BOP xx

(2) Apabila timbulnya produk rusak bersifat normal di dalam suatu perusahaan, rugi produk yang rusak diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik sesungguhnya.Jurnal yang dicatat pada saat penjualan produk rusak:

Kas xx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xx

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja Langsung xx

Barang dalam Proses – BOP xx

(3) Apabila timbulnya produk yang rusak karena kesalahan atau kurangnya pengawasan produksi, rugi produk yang rusak diperlakukan sebagai Rugi produk yang rusak. Jurnal yang dicatat pada saat penjualan produk rusak:

Kas xx

Rugi Produk Rusak xx

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan xx

Barang Dalam Proses – B. Tenaga Kerja Langsung xx

(18)

3. Produk cacat

Produk cacat adalah produk dihasilkan yang kondisinya rusak atau tidak memenuhi ukuran mutu yang sudah ditentukan, akan tetapi produk tersebut masih dapat diperbaiki secara ekonomis menjadi produk yang baik. Perlakuan akuntansi untuk produk yang cacat:

(1) biaya perbaikan produk cacat diperlakukan sebagai penambah harga pokok pesanan tertentu. Metode ini digunakan apabila penyebab produk cacat karena sulitnya pengerjaan produk. Jurnal yang digunakan untuk mencatat biaya perbaikan produk cacat adalah:

Barang Dalam Proses – Biaya bahan Baku xx

Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung xx

Barang Dalam Proses – Biaya Overhead pabrik xx

Persediaan Bahan xx

Gaji dan Upah xx

Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan xx

(2) Biaya perbaikan produk yang cacat diperlakukan sebagai penambah biaya overhead sesungguhnya. Metode ini digunakan apabila produk cacat sifatnya normal terjadi dalam perusahaan. Jurnal yang digunakan untuk mencatat biaya perbaikan produk cacat adalah: Biaya Overhead Sesungguhnya xx

Persediaan Bahan xx

Gaji dan Upah xx

Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan xx

(19)

Rugi Produk cacat xx

Persediaan Bahan xx

Gaji dan Upah xx

Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan xx

Contoh Soal :

PT Health Wealth International berusaha dalam bidang meubel dan memproduksi

alat alat rumah tangga serta perkamtoran berdasarkan pesanan.

Pada bulan Juni 1995 mendapat pesanan dari yayasan Citra Medika untuk membuat

100 set meja belajar (100 meja dan 200 kursi) dengan harga setiap set sebesar Rp.

175.000 untuk memproduksi pesanan tersebut. PT HWI telah melakukan kegiatan

sebagai berikut

1.

Membeli bahan baku dan bahan penolong

Bahan Baku :

Kayu dengan ukuran :

4 cm x 6 cm x 300 cm

250 pot @ Rp. 18.000

=

Rp.

4.500.000

2 cm x 20 cm x 300 cm

200 pot @ Rp. 30.000

=

Rp. 6.000.000

2 cm x 3 cm x 300 cm

100 pot @ Rp. 5.000

=

Rp.

500.000

Tripleks

25 lbr @ Rp. 15.000

=

Rp. 375.000

Cat

50 klg @ Rp. 10.000

=

Rp. 500.000

Jumlah bahan baku yang dibeli

Rp. 11.875.000

Bahan Penolong :

Paku

5 kg @ Rp. 10.000

=

Rp. 50.000

Dempul

10 kg @ Rp. 5.000

=

Rp. 50.000

Amplas

200 lb @ Rp. 200

=

Rp. 40.000

Jumlah bahan penolong yang dibeli

Rp. 140.000

Jumlah bahan baku dan bahan penolong

Rp. 12.015.000

2.

Pemakaian Tenaga Kerja

(20)

Upah tidak langsung

=

Rp. 400.000

Rp. 2.400.000

Gaji karyawan bagian administrasi dan umum

Rp. 500.000

Jumlah biaya tenaga kerja

Rp. 2.900.000

3.

Pembebanan BOP selain pemakaian bahan penolong dan tenaga kerja tidak

langsung adalah sebagai berikut :

Biaya Penyusutan Mesin

Rp. 100.000

Biaya Penyusutan Gedung

Rp. 250.000

Biaya Pemeliharaan Mesin

Rp. 50.000

Biaya Pemeliharaan Gedung

Rp. 50.000

Jumlah

Rp. 450.000

Berdasarkan data diatas, buatlah :

a. Jurnal pada waktu pembelian bahan baku dan bahan penolong.

b.

Kartu harga pokok, jika BOP yang dibebankan 60% dari tenaga kerja langsung.

c. Jurnal pemakaian/pembebanan bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan

BOP ke dalam BDP.

d. Perhitungan harga pokok produk jadi dan jurnalnya.

e.

Jurnal penjualan produk

f. Jurnal untuk menutup rekening BOP dan selisih BOP.

Jawab :

a.

Jurnal pada waktu pembelian bahan baku dan bahan penolong.

Persediaan Bahan Baku

Rp. 11.875.000

Persediaan Bahan Penolong

Rp. 140.000

Utang Dagang

Rp. 12.015.000

b.

Kartu harga pokok, jika BOP yang dibebankan 60% dari tenaga kerja langsung.

PT Healt Wealth International

Jakarta

KARTU HARGA POKOK PESANAN

(21)

Medika

Jenis Produksi : Meja Belajar Sifat Pesanan : Segera

Tgl. Pesan : 24 Juni 1995 Jumlah : 100 set meja

belajar

Tgl. Selesai : 29 Agustus 1995 Harga Jual : Rp. 175.000

Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik

Tgl Keterangan Jumlah

(Rp) Tgl Jam Kerja

Jumlah

(Rp) Tgl Dasar Tarif

Jumlah (Rp)

5/6 Kayu dengan ukuran

4 x 6 x 300 = 250 pt 2 x 20 x300 = 200 pt

2 x 3 x 300 = 100 pt Triplek 25 lbr Cat 50 Kaleng

4.500.000 6.000.000 500.000 375.000 500.000

1.000 jam 2.000.000 BTKL 60% 1.200.000

11.875.00 0

2.000.000 1.200.000

Jumlah Biaya Produksi Rp. 15.075.000

c. Jurnal pemakaian/pembebanan bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan

BOP ke dalam BDP.

1.

Pemakaian Bahan

BDP – Biaya Bahan Baku

Rp. 11.875.000

Persediaan Bahan Baku

Rp. 11.875.000

BOP Sesungguhnya

Rp. 140.000

Persediaan Bahan Penolong

Rp. 140.000

2.

Pemakaian Tenaga Kerja

BDP – Biaya Tenaga Kerja

Rp. 2.000.000

BOP Sesungguhnya

Rp. 400.000

Biaya Administrasi dan umum

Rp. 500.000

Gaji dan Upah

Rp. 2.900.000

3.

Pemakaian BOP selain bahan penolong dan tenaga kerja tidak langsung

BOP sesungguhnya

Rp. 450.000

Biaya Penyusutan Mesin

Rp. 100.000

Biaya Penyusutan Gedung

Rp. 250.000

Biaya Pemeliharaan Mesin

Rp. 50.000

Biaya Pemeliharaan Gedung

Rp. 50.000

4.

Pembebanan BOP kedalam BDP

BDP – BOP

Rp. 1.200.000

(22)

d.

Perhitungan harga pokok produk jadi dan jurnalnya.

1. Perhitungan Harga Pokok Produk

Biaya Bahan Baku

Rp. 11.875.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung

Rp. 2.000.000

Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Rp. 1.200.000

Rp. 15.075.000

2. Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi

Persediaan Produk Jadi

Rp. 15.075.000

BDP – BBB

Rp. 11.875.000

BDP – BTKL

Rp. 2.000.000

BDP – BOP

Rp. 1.200.000

e. Jurnal penjualan produk

Piutang Dagang

Rp. 17.500.000

Penjualan

Rp. 17.500.000

Harga Pokok Penjualan

Rp. 15.075.000

Persediaan produk jadi

Rp. 15.075.000

f.

Jurnal untuk menutup rekening BOP dan selisih BOP.

1. BOP yang dibebankan

Rp. 1.200.000

Selisih BOP

Rp. 210.000

BOP Sesungguhnya

Rp. 210.000

2. Jurnal untuk menutup rekening BOP

Selisih BOP

Rp. 210.000

Harga pokok penjualan

Rp. 210.000

Penjelasan :

BOP yang dibebankan 60% x Rp. 2.000.000

=

Rp. 1.200.000

BOP yang sesungguhnya :

a. Biaya Bahan Penolong

Rp. 140.000

b.

Biaya tenaga kerja tak langsung Rp. 400.000

c. BOP yang lain

Rp. 450.000

Rp. 990.000

Referensi

Dokumen terkait

Penentuan biaya berdasarkan pesanan mengakumulasi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik yang dibebankan ke setiap pesanan. Dalam

Melakukan pencatatan pengumpulan biaya produksi dengan metode harga pokok pesanan (bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan BOP) Membuat kartu harga

Metode harga pokok pesanan yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, kemudian untuk menghitung harga pokok produksi per satuan

hanya mengidentifikasikan biaya bahan baku per pesanan, sedangkan untuk biaya tenaga kerja langsung dan overhead pabrik tidak diidentifikasikan per pesanan melainkan

Aplikasi ini juga mampu membuat dan menyajikan komponen biaya tetap dan biaya variable, mencatat bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik,

Aplikasi ini juga mampu membuat dan menyajikan komponen biaya tetap dan biaya variable, mencatat bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik,

1. Mengumpulkan data-data mengenai biaya produksi seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Menggolongkan biaya produksi sesuai dengan

Biaya produksi yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari unsur biaya produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead