• Tidak ada hasil yang ditemukan

50266396 AMDAL BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "50266396 AMDAL BAB I"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dengan jelas menyebutkan bahwa sumber daya alam dan budaya merupakan modal dasar pembangunan. Sebagai arahan pembangunan jangka panjang, GBHN menyebutkan bahwa : “Bangsa Indonesia menghendaki hubungan selaras antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya”. Dengan demikian perlu adanya usaha agar hubungan manusia Indonesia dengan lingkungan semakin serasi. Sebagai modal dasar, sumberdaya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu harus selalu diupayakan agar kerusakan lingkungan sekecil mungkin. Hal ini dapat terjadi apabila analisis mengenai dampak lingkungan diterapkan pada setiap kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan.

Perhatian terhadap masalah lingkungan hidup di Indonesia diawali oleh seminar tentang “Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional” yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran di Bandung pada tahun 1972. Para Sarjana dan ahli Indonesia sudah lama mengikuti perkembangan masalah lingkungan, namun Pemerintah Indonesia baru mengenal masalah lingkungan secara resmi sejak mengikuti sidang khusus PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm 5 Juni 1972.

(2)

Indonesia. Lingkungan hidup Indonesia menurut konsep kewilayahan merupakan suatu pengertian hukum. Dalam pengertian lingkungan hidup Indonesia tidaklah lain daripada Kawasan Nusantara.

Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang masing-masing sebagai subsistem yang meliputi aspek sosial budaya, ekonomi dan fisik, dengan corak ragam yang berbeda antara subsistem yang satu dengan subsistem yang lain dengan dengan daya dukung lingkungan yang berbeda. Pembinaan dan pengembangan yang didasarkan kepada keadaan daya dukung lingkungan akan meningkatkan keselarasan dan keseimbangan subsistem, yang berarti juga ketahanan subsistem.

Sejak Indonesia mengikuti sidang khusus PBB 5 Juni 1972, Indonesia sepakat untuk menanggulangi masalah lingkungan bersama negara-negara lain. Dalam Pelita III masalah lingkungan hidup mendapat tanggapan khusus sebagai Program Pembangunan Nasional. Untuk pertama kali dalam kabinet, yaitu Kabinet Pembangunan III telah diangkat seorang Menteri yang mengkoordinasikan aparatur pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup )Prof. DR. Emil Salim). Mengingat bahwa Bangsa Indonesia dewasa ini sedang giat melaksanakan pembangunan di segala bidang, maka yang harus menjadi perhatian adalah bahwa pembangunan itu tidak boleh mengorbankan lingkungan. Untuk itu lingkungan hidup perlu dilindungi, dan keperluan tersebut pada tahun 1982 telah terbentuk Undang-undang yang melindungi lingkungan hidup.

(3)

Dengan demikian kelayakan suatu proyek untuk sekarang bukan hanya ditinjau dari kelayakan ekonomi dan teknologi saja, tetapi juga dari lingkungan hidup.

Perlu dikemukakan juga bahwa keacuhan kita terhadap lingkungan bukan untuk menghambat pembangunan (karena pada dasarnya pembangunan di Indonesia memang sangat diperlukan), tetapi justru agar pembangunan yang lestari memerlukan keutuhan lingkungan hidup.

Dalam lingkungan hidup yang baik, akan terajadi interaksi antara berbagai jenis komponen yang selalu seimbang, tetapi keseimbangan tersebut harus dilihat dari kepentingan manusia, mengapa dikatakan demikian . Hal ini disebabkan karena pada hakekatnya lingkungan hidup bersifat antroposentris, artinya lingkungan hidup itu dipelihara, dibangun atau dikelola dengan sebaik-baiknya tidak lain hanya untuk kepentingan manusia semata.

Untuk itu AMDAL diperlukan sebagai sarana control terhadap pembangunan. Dan dalam hubungannya dengan kesehatan lingkungan , dengan adanya AMDAL maka pembangunan tidak dapat merusak lingkungan sehngga seiring dengan pesatnya pembangunan kesehatan dan kelestarian ingkungan pun tetap terjaga.

Dengan demikian kami menyusun makalah ini sebagai sarana pembelajaran dan peningkatan pengetahuan mahasiswa terhadap AMDAL hubungannya terhadap kesehatan lingkungan.

B. Masalah

Adapun masalah yang dibahas pada makalah ini adalah : 1. Pengertian AMDAL

2. sistem regulasi AMDAL

3. fungsi, peran dan manfaat AMDAL 4. tahap-tahap penyusunan AMDAL

5. alasan suatu rencana kegiatan wajib AMDAL C. Tujuan

(4)

2. Untuk mengetahui sistem Regulasi AMDAL

3. Untuk mengetahui fungsi, peran dan manfaat AMDAL 4. Untuk mengetahui tahap – tahap penyusunan AMDAL

5. Untuk mengetahui alasan suatu rencana kegiatan wajib AMDAL D. Manfaat

Tujuan yang ingin diperoleh dari makalah ini adalah : 1. Kita Dapat mengetahui pengertian AMDAL

2. Kita dapat mengetahui sistem Regulasi AMDAL

3. Kita dapat mengetahui fungsi, peran dan manfaat AMDAL 4. Kita dapat mengetahui tahap – tahap penyusunan AMDAL

5. Kita dapat mengetahui alasan suatu rencana kegiatan wajib AMDAL

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian AMDAL

(5)

Seringkali proyek dibuat dalam porsi ruang lingkup yang sangat luas tetapi disusun kurang cermat. Seluruh program mungkin saja dapat diananlisis sebagai suatu proyek, tetapi pada umumnya akan lebih baik bila proyek dibuat dalam ruang lingkup yang lebih kecil yang layak ditinjau dari segi sosial, administrasi, teknis, ekonomis, dan lingkungan.

Pembangunan dengan proyek yang dikaji dari aspek kelayakan lingkungan bisa disebut pembangunan berwawasan lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan pada hakekatnya dilaksanakan untuk mewujudkan pembangunan berlanjut (sustainable development). Instrumen untuk mencapai pembangunan berlanjut adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

Menurut PP 29/1986, yang kemudian disempurnakan dengan PP 27/1999, yang semula hanya memiliki satu model AMDAL, berkembang dan mempunyai beberapa bentuk AMDAL dan mempunya pengertian:

1) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha/kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan. Kajian ini menghasilkan dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan, Analisis Dampak Lingkungan, Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan. Sementara itu pengertian ANDAL adalah sebagai berikut.

2) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan.

(6)

1) Analisis mengenai dampak lingkungan kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Di dalam PP 27/1999 definisi di atas kata hasil studi diganti kajian dan dampak penting menjadi dampak besar dan penting.

2) Analisis mengenai dampak lingkungan kawasan adalah hasil studi mengenai dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan ha,paran ekosistem dan menyangkut kwenangan satu instansi yang bertanggung jawab. Di dalam PP 27/1999 definisi di atas kata hasil studi diganti kajian dan dampak penting diganti dampak besar dan penting. 3) Analisis mengenai dampak lingkungan regional adalah hasil studi mengenai

dampak penting usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai dengan rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab.

Pada PP 27/1999 pengertian AMDAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Hasil studi ini terdiri dari beberapa dokumen. Atas dasar beberapa dokumen ini kebijakan dipertimbangkan dan diambil.

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:

 Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL  Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu

rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan

(7)

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006

2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002

3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006

4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008

B. Sistem Regulasi AMDAL

Sistem regulasi AMDAL mencakup :

- UU No 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup - PP No 27 tahun 1999 tentang AMDAL:

Pasal 3 ayat 1 1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam

2. Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui

3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya

4. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik. 5. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati

6. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan

7. Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara 8. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi lingkungan alam,

(8)

9. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya.

Pasal 5

Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan terhadap lingkungan hidupantara lain :

a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak b. Luas wilayah persebaran dampak

c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung

d. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak e. Sifat kumulatif dampak

f. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

- Permen LH no8 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan dokumen AMDAL

- Permen LH no.11 tahun 2006 tentang jenis rencana kegiatan yang wajib dilengkapi dengan dokumen

- Keputusan kepala bappedal no.8 tahun 2000 yentan keterlibatab masyarakat untuk memperoleh info dalam AMDAL

- Peraturan UU no.15 tentang pedoman penilaian dokumen AMDAL.

C. Fungsi, peran dan manfaat AMDALFungsi dan peran Amdal

(9)

AMDAL (Analisis Mengenai Danpak Lingkungan) merupakan alat untuk merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktifitas pembangunan yang direncanakan.

Undang-undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 1 menyatakan : “Analisis mengenai dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pngambilan keputusan”.

AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting, karena ini memang yang dikehendaki baik oleh Peraturan Pemerintah maupun oleh Undang-undang, dengan tujuan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena adanya proyek-proyek pembangunan. Oleh karena itu pemilik proyek atau pemrakarsa akan melanggar perundangan bila tidak menyusun AMDAL, semua perizinan akan sulit didapat dan di samping itu pemilik proyek dapat dituntut dimuka pengadilan. Keharusan membuat AMDAL merupakan cara yang efektif untuk memaksa para pemilik proyek memperhatikan kualitas lingkungan, tidak hanya memikirkan keuntungan proyek sebesar mungkin tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang timbul. Dampak dari suatu kegiatan, baik dampak negatif maupun dampak positif harus sudah diperkirakan sebelum kegiatan itu dimulai. Dengan adanya AMDAL, pengambil keputusan akan lebih luas wawasannya di dalam melaksanakan tugasnya. Karena di dalam suatu rencana kegiatan, banyak sekali hal-hal yang akan dikerjakan, maka AMDAL harus dapat membatasi diri, hanya mempelajari hal-hal yang penting bagi proses pengambilan keputusan.

(10)

bahwa dalam suatu kegiatan / pembangunan tidak ada dampak negatifnya. Dampak negatif yang kemungkinan timbul harus sudah diketahui sebelumnya (dengan MDAL), di samping itu AMDAL juga membahas cara-cara untuk menanggulangi / mengurangi dampak negatif. Agar supaya jumlah masyarakat yang dapat ikut merasakan hasil pembangunan meningkat, maka dampak positif perlu dikembangkan di dalam AMDAL.

Nurkin, (2002) mengemukakan bahwa penerapan AMDAL di negara-negara berkembang ditujukan untuk :

a. Untuk mengidentifikasi kerusakan lingkungan yang mungkin dapat terjadi akibat kegiatan pembangunan

b. Mengidentifikasi kerugian dan keuntungan terhadap lingkungan alam dan ekonomi yang dapat dialami oleh masyarakat akibat kegiatan pembangunan c. Mengidentifikasi masalah lingkungan yang kritis yang memerlukan kajian

lebih dalam dan pemantauannya.

d. Mengkaji dan mencari pilihan alternatif yang baik dari berbagai pilihan pembangunan.

e. Mewujudkan keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan.

f. Memabantu pihak-pihak terkait yang terlibat dalam pembangunan dan pihak pengelola lingkungan untuk memahami tanggung jawab, dan keterkaitannya satu sama lain.

Manfaat AMDAL Bagi masyarakat

(11)

- Masyarakat dapat mengetahui perubahan lingkungan di masa sesudah proyek dibangun sehingga dapat memanfaatkan kesempatan yang dapat menguntungkan dirinya dan menghindarkan diri dari kerugian-kerugian yang dapat diderita akibat adanya proyek tersebut;

- Masyarakat dapat ikut berpartisipasi di dalam pembangunan di daerahnya sejak dari awal, khususnya di dalam memberikan informasi-informasi ataupun ikut langsung di dalam membangun dan menjalankan proyek;

- Masyarakat dapat memahami hal-ihwal mengenai proyek secara jelas sehingga kesalahfahaman dapat dihindarkai dan kerja sama yang menguntungkan dapat digalang;

- Masyarakat dapat mengetahui hak den kewajibannya di dalam hubungannya dengan proyek tersebut khususnya hak dan kewajiban di dalam ikut dan mengelola lingkungan.

Bagi pemilik proyek

- Proyek terhindar dari perlanggaran terhadap undang-undang atau peraturan yang berlaku;

- Proyek terhindar dari tuduhan pelanggaran pencemaran atau perusakan lingkungan;

- Pemilik proyek dapat melihat masalah-masalah lingkungan yang akan dihadapi di masa yang akan datang;

- Pemilik proyek dapat mempersiapkan cara-cara pemecahan masalah di masa yang akan datang;

- Nalisis dampak lingkungan merupakan sumber informasi lingkungan di sekitar lokasi proyeknya secara kuantitatif, termasuk informasi sosial ekonomi dan sosial budaya;

(12)

- Dengan adanya analisis dampak lingkungan, pemilik proyek dapat mengetahui keadaan lingkungan yang membahayakan (misalnya banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain-lain) sehingga dapat dicari keadaan lingkungan yang aman bagi proyek.

Bagi pemerintah

- Untuk mencegah agar potensi sumberdaya alam yang dikelola tersebur tidak rusak (khusus untuk sumberdaya alam yang dapat diperbaharui);

- Untuk mencegah rusaknya sumberdaya alam lainnya yang berada di luar lokasi proyek baik yang dioleh olrh proyek lain, diolah masyarakat atau yang belum diolah;

- Untuk menghindari perusakan lingkungan hidup seperti timbulnya pencemaran air, pencemaran udara, kebisingan dan lain sebagainya, sehingga tidak mengganggu kesehatan, kenyamanan dan keselamatan masyarakat; - Untuk menghindari terjadinya pertentangan-pertentangan yang mungkin

timbul khususnya dengan masyarakat dan proyek-proyek lainnya;

- Untuk menjamin agar proyek yang dibangun sesuai dengan rencana pembangunan daerah, nasional ataupun internasional serta tidak mengganggu proyek lain;

- Untuk menjamin agar proyek tersebut mempunyai manfaat yang jelas bagi negara dan masyarakat;

- Analisis dampak lingkungan diperlukan bagi pemerintah sebagai alat pengambil keputusan.

D. Tahapan Penyusunan AMDAL

Prosedur pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

1. Tata laksana menurut PP 29 Tahun 1986

(13)

a. Pemrakarsa rencana kegiatan mengajukan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL) kepada instansi yang bertanggung jawab. PIL tersebut dibuatkan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup. Dalam uraian dibawah ini, yang dimaksud degan menteri KLH adalah “Menteri yang di tugasi mengelola lingkungan hidup” instansi yang bertanggung jawab adalah yang berwenang memberi keputusan tentnag pelaksanaan rencana kegiatan, dengan pengertian bahwa kewenangan berada pad menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan dan pada Gubernur Daerah Tingkat I untuk kegiatan yang berada di bawah wewenangnya

b. Apabila lokasi sebagaimana tercantum dalam PIL dinilai tidak tepat, maka instansi yang bertanggung jawab menolak lokasi tersebut dan memberikan petunjuk tentang kemungkinan lokasi lain dengan kewajiban bagi pemrakarsa untuk membuat PIL yang baru. Apabila suatu lokasi dapat menimbulkan perbenturan kepentingan antar sektor maka instansi yang bertanggung jawab mengadakan konsultasi dengan menteri KLH dan Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang bersangkutan.

c. Apabila hasil penelitian PIL menentukan bahwa perlu dibuatkan ANDAL, berhubung dengan adanya dampak penting rencana kegiatan terhadap lingkungan, baik lingkungan geobiofisik maupun sosial budaya, maka pemrakarsa bersama instansi yang bertanggung jawab membuat Kerangka Acuan (KA) bagi penyusunan ANDAL.

(14)

e. Apabila dari semula sudah diketahui bahwa akan ada dampak penting, maka tidak perlu dibuat PIL lebih dahulu akan tetapi dapat langsung menyusun KA bagi pembuat ANDAL.

f. ANDAL merupakan komponen studi kelayakan rencana kegiatan sehingga dengan demikian terdapat tiga studi kelayakan dalam perencanaan pembangunan, yaitu: teknis, ekonomis dan lingkungan (TEL). biaya rencana kegiatan sebagaimana tercantum dalam studi kelayakan rencana kegiatan tersebut meliputi pula biaya penanggulangan dampak negatif dan pengembangan dampak positifnya.

g. Pedoman umum penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri KLH. Pedoman teknis penyusunan ANDAL ditetapkan oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Nondepartemen yang membidangi kegiatan yang bersangkutan berdasarkan pedoman umum penyusunan ANDAL yang dibuat oleh Menteri KLH.

(15)

i. Apabila ANDAL disetujui, maka pemrakarsa menyusun RKL dan RPL dengan menggunakan pedoman penyusunan RKL dan RPL yang dibuat oleh Menteri KLH atau Departemen yang bertanggung jawab.

j. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan kadaluwarsa apabila rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya keputusan tersebut. Pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas ANDAL. Terhadap permohonan ini instansi yang bertanggung jawab memutuskan dapat digunakan kembali ANDAL, RKL dan RPL yang telah dibuat atau wajib diperbaharuinya dokumen-dokumen tersebut.

k. Keputusan persetujuan ANDAL dinyatakan gugur, apabila terjadi perubahan lingkungan yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena kegiatan lain, sebelum rencana kegiatan dilaksanakan. Pemrakarsa perlu membuat ANDAL baru berdasarkan rona lingkungan baru.

Dokumen AMDAL Menurut PP 29/1986 Dan PP 51/1993 serta PP 29/1999 Menurut PP 29/1986, AMDAL terdiri atas 5 dokumen, sebagai berikut: 1. Penyajian informasi lingkungan (PIL)

2. Kerangka acuan untuk analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL) 3. Analisis dampak lingkungan (ANDAL)

4. Rencana pengelolaan lingkungan (RKL) 5. Rencana pemantauan lingkungan (RPL)

Sementara itu menurut PP 51/1993 Serta PP 29/1999, AMDAL terdiri atas 4 dokumen yaitu:

1. Kerangka Acuan untuk ANDAL (KA) 2. Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. Rencana Pemantauan Lingkungan RPL)

(16)

tersebut berkaitan dan diperlukan dalam mengurus perisinan suatu usaha/kegitan yang direncanakan.

Menurut PP 29/1986 (Damopolii,1988) fungsi dan proses penyusunan PIL adalah sebagai berikut:

a) Penyajian Informasi Lingkungan 1. Fungsi PIL

a. PIL berfungsi sebagai alat penapis apakah suatu rencana kegiatn perlu dilengkapi dengan ANDAL atau tidak yang dikaitkan dengan dampak lingkungan.

b. PIL digunakan untuk penilaian ketetapan lokasi dari suatu rencana kegiatan apakah lokasinya harus dipindah atau tidak

c. PIL berfungsi sebagai acuan untuk menyusun RKL dan RPL apabila rencana kegiatan tidak mempunyai dampak penting.

d. PIL berfungsi sebagai acuan untuk penyusunan KA ANDAL apabila ternyata rencana kegiatan mempunyai dampak penting.

e. Data PIL digunakan pula untuk ANDAL, sehingga tidak diperlukan lagi pengambilan sampel ulang, hanya menambahkan saja ini berati juga menghemat biaya dalam studi ANDAL.

2. Penyusunan PIL

Dalam rangka penyusunan PIL maka sebaiknya dapat dibuat suatu matriks interaksi antara komponen rencana kegiatan dengan rona kegiatan awal sesuai pedoman yang ada. Apabila diduga ada interaksi, maka inilah yang akan dikumpulkan nantinya. Selanjutnya langkah-langkah berikutnya adalah sebagai berikut:

a. Pengumpulan Data 1. Aktifitas Kegiatan

(17)

komponen rencana kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampakterhadap lingkungan. Data ini diambil dari pemrakarsa. 2. Rona Lingkungan Awal

Data yang dikumpulkan adalah rona lingkungan awal yang relevan, yaitu ada interaksinya dengan komponen rencana kegiatan tersebut, baik yang akan terkena dampak dari rencana kegiatan maupun yang dapat menimbulkan dampak terhadap rencana kegiatan itu sendiri. Data yang dikumpulkan ini adalah data sekunder yang masih cukup validitasnya dan bila tidak ada maka perlu diambil data primernya. Dalam pengumpulan data sekunder tersebut maka pertama-tama yang harus diperhatikan adalah ketersediaan data yang ada pada pra studi kelayakan teknis dan ekonomis rencana kegiatan tersebut.

b. Analisis dampak dan penentuan dampak

Interaksi antara komponen rencana kegiatan dan komponen rona lingkungan awal dikaji untuk mengetahui dampak yang mungkin timbul, baik besar maupun sifat/ karakteristiknya menurut waktu dan ruang. Hasil analisis dampak tersebut kemudian dibandingkan dengan kriteria ukuran dampak penting atau baku mutu limbah dan

(18)

b) Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL 1. Pengertian menurut PP 27 Tahun 1999

Kerangka acuan ANDAL adalah runag lingkup kajian analisis dampak lingkungan yang merupakan hasil pelingkupan ( PP 27 Tahun 1999 pasal 1)

2. Tujuan dan fungsi KA ANDAL

a. Tujuan penyusunan KA ANDAL adalah:

a.1. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL

a.2. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya,tenaga dan waktu yang tersedia.

b. Fungsi dokumen KA ANDAL

b.1. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa, instansi teknis yang bertanggung jawab, konsultan penysun dan komisi ANDAL, tentang lingkup dan kedalaman studi AMDAL.

b.2. Sebagai salah satu rujuan untukpenilaian dokumen ANDAL untuk evaluasi hasil studi ANDAL.

3. Manfaat Kerangka Acuan

a. KA menggambarkan ruang lingkup sesuatu pekerjaan yang disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan.

b. Bahwa KA harus disusun dan disepakati bersama oleh semua pihak yang berkepentingan, yaitu: pemrakarsa, instansi yang bertanggung jawab/komisi maupun calon penyusun ANDAL dimaksud untuk mempercepat proses penyelesaiannya.

c. Dasar pertimbangan perlunya KA ANDAL disusun adalah:

(19)

Rencana kegiatan sangatlah beranekaragam menurut bentuknya, ukuran, tujuan dan lain sebagainya.Demikian pua ronalingkungan akan berbeda pule menurut keanekaragaman geografis, factor lingkungan, factor manusia dan sebagainya. Dengan demikian KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan yang manakah yang harus ditelaah , dan komponen lingkungan manakah yang perlu diamati selama penyususnan ANDAL.

2. Keterbatasan SDA

Dalam KA ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritas yang harus diutamakan agar tujuan AMDAL dapat terpenuhi meskipun sumber daya terbatas.

3. Efisiensi

Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada factor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Dengan cara ini maka ANDAL dapat dilaksanakan dengan cara efisien.

4. Hubungan penyusun KA dengan pemakai hasil ANDAL

Dalam penyusunan KA perlu dipahami bahwa pemakai hasil ANDAL adalah para pengambil keputusan, perencana dan pengelola lingkungan sehingga studi ini harus ditekankan pada pendugaan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan usaha penanganannya.

5. Wawasan lingkungan bagi penyusun ANDAL

(20)

melestarikan kemampuan sumber daya alam dan memelihara serta meningkatkan keserasian kualitas lingkungan hidup.

6. Proses pelingkupan dalam penyusunan KA

Pelingkupan pada saat menyusun KA adalah proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting yang terkait dengan usaha atau rencana kegiatan. Dalam KA ini pelingkupan meliputi main issues untuk mendapatkan dampak besar dan dampak penting serta mendapat batas wilayah studi .

c) Penyusunan ANDAL

1. Umum

Dalam penyusunan ANDAL, maka hal-hal yang perlu diperhtikan antara lain:

a. Dalam pelaksanaan ANDAL harus berpegangan pada KA yang telah disepakati bersama

b. Laporan ANDAL disusun sesuai Pedoman Umum secara nasional tentang Penyusunan ANDAL yang telah ditetapkan oleh Kep. Kaepala Bapedal No. 09 Tahun 2000 beserta lampirannya.

c. Setiap tahapan penyusunan ANDAL, dibuat laporan kemajuan secara bersambung yang ini dikonsultasikan dengan pihak pemrakarsa dan pihak tim teknis AMDAL dan komisi penilai untuk memperoleh perbaikan seperlunya.

d. Draft laporan akhir dipresentasikan/diseminarkan dihadapan pemrakarsa dan pihak lain yang dianggap perlu untuk mendapat masukan bagi penyempurnaan lapran tersebut.

(21)

2. Tahapan–tahapan penyusunan ANDAL

Dalam ANDAL ada 5 (lima) tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan sebagai berikut :

a) Pengumpulan data informasi tentang : i. Komponen rencana kegiatan ii. Komponen rona lingkungan awal

Komponen rencana kegiatan

Data yang dikumpulkan adalah data tentang berbagai aktifitas rencana kegiatan baik pada tahap pra konstruksi, konstruksi maupun pasca konstruksi. Pemilihan data yang dikumpulkan tersebut harus mengutamakan data yang berkaitan langsung dengan berbagai dampak yang mungkin akan timbul apabila rencana kegiatan tersebut akan dilaksanakan nantinya.

Komponen Rona Lingkungan Awal

Data yang dikumpulkan terutama komponen lingkungan (biogeofisik, sosial, ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat

b) proyeksi perubahan rona lingkungan awal

Rona lingkungana awal merupakan kondisi (kualitas) linggkungan sesuai hasil analisis data lingkungan yang dikumpulkan sebelum ada kegiatan. Rona lingkungan awal ini akan mengalami perubahan akibat adanya rencana kegiatan apabila telah dilaksanankan nantinya. Besarnya perubahan lingkungan ini perlu diketahui menurut ruang dan waktu bagi kepentingan evaluasi maupun penanganan.

(22)

Hasil kajian terhadap besarnya perubahan dari rona lingkungan awal dengan kondisi lingkungan akibat adanya rencana kegiatan yang kelak dilaksanakan.untuk mengetahui apakah dampak termasuk penting atau tidak, dapat dibandingkan dengan kriteria ukuran dampak penting atau baku mutu lingkungan atau baku mutu limbah yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

d) Evalusi dampak penting

Pada tahap evaluasi dampak penting ini, uraian yang disajikan meliputi hal-hal berikut ini.

 Evaluasi dampak penting yang bersifat holistik terhadap seluruh dampak yang diperkirakan misal dampak positif maupun dampak negatif dianalisis sebagi satu kesatuan yang saling terkait dan pengaruh mempengaruhi, sehungga akan diketahui perimbangannya.

 Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana kegiatan dengan rona lingkungan

Setiap rencana kegiatan apabila telah dilaksanakan akan menimbulkan dampak yang berbeda pada rona lingkungan yang berbeda. Miisalnya mungkin saja sesuatu dampak penting timbul karena rencana kegiatan itu dilaksanakan pada sesuatu lokasi yang padat penduduknya, pada sesuatu daaerah yang sensitif terhadap kegiatan atau bentuk teknologi yang tidak sesuai atau lain sebagainya.

 Ciri (karakteristik) dampak penting

Pada bagian ini perlu dikemukakan adalah sifat-sifat (karakteristik) sesuatu dampak seperti lama berlangsungnya, fluktuasinya sifat antagonistik atau sinergetik antara berbagai dampak atau satu sama lain, saling meniadakan.

 Luas penyebaran dampak penting

(23)

bisa dirasakan secara lokal, regional, nasional maupun mungkin antar negara.

 Cara pendekatan dalam penanganan dampak

Hal ini memuat cara penanganan dampak yang mungkin akan terjadi, baik dari segi ekonomi, teknologi maupun instansi. Dari segi ekonomi misalnya dengan bantuan, pemerintah untuk menanggulangi masalah lingkungan. dari segi teknologi adalahdengan cara membatasi,mengisolasi atau netralisasi terhadap bahan berbahaya dan lain sebagainya.

e) Alternatif pengelolaan dan pemantauan lingkungan Uraian ini akan memuat hal-hal sebagai berikut:

 Komponen lingkungan terkena dampak, sumber dampak, tolak ukur dam bobot dampak untuk kepentingan pengelolaan maupun pemantauan lingkungan.

 Metode pengeloaan dan pemantauan lingkungan yang mencakup faktor biogeofisik-kimia, sosial ekonomi,sosial budaya dan kesehtan masyarakat balik penyempurnaan sistem pengelolaan lingkungan kedalam maupun keluar dari batas rencana kegiatan.

d) Rencana Pengelolaan Lingkungan 1. Umum

(24)

Untuk membuat RKL dapat dilaksanakan tanpa pengumpulan data dilapangan. RKL didasarkan akan adanya dampak penting ynag timbul. RKL yang akan dilaksanakan disusun dengan pendekatan teknologi, ekonomi dan institusional.sesuai dengan prosedur penyusunan dokmen ANDAL,RKL yang bersamaan sesuai PP 51/1993 dan PP 27 Tahun 1999 maka penyusunan RKL dan RPL tidak perlu melakukan studi ke lapangan. RKL ini bersi uraian tentang komponen lingkungan terkena dampak, tujuan, sumber dampak, bobot dan tolak ukur dampak serta upaya pengelolaan lingkungan.

Di dalam dokumen RKL ada pendekatan teknologi berupa upaya secara teknis untuk menanggulangi kerusakan lingkungan khususnya limbah dan pencemaran. Penanggulangan terutama diprioritaskan terhadap pencemaran B3 (bahan beracu berbahaya) dan kerusakan sumber daya alam ( hayati dan non hayati) yang diduga timbul.

2. Fungsi

RKL berfungsi sebagai pedoman dalam menanggulangi dampak. Dengan demikian RKL dapat mengikat semua pihak untuk ikut membantu menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak negatif dalam pembangunan. Dalam RKL dapat dikemukakan instansi yang bertindak sebagai pelaksana, dan instansi lainnya yang bertindak sebagai pengawas dan instansi bertanggung jawab.

3. Penyusunan RKL

Dokumen RKL ini penyusunannya menjadi tanggung jawab pemrakarsa kegiatan.

e) Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan

1. Umum

(25)

mempertahankan mutu kualitas lingkungan dan mengurangi pemborosan sumberdaya.

RPL berisikan uraian tentang dampak penting yang timbul, faktor lingkungnan yang dipantau, tolak ukur dampak, lokasi dan periode pemantauan. Disamping itu juga secara jelas diuraikan pihak-pihak yang berkewajiban sebagai pelaksana untuk memantau lingkungan dan kewajiban pihak-pihak lain (selain pemrakarsa), yang memanfaatka umpan balik hasil pemantauan yang dilaksanakan.

2. Fungsi

RPL merupakan pedoman yang lebih rinci tentang bagaimana seharusnya pemantauan lingkungan dilaksanakan, kapan dilaksanakan dan sipa yang bertanggung jawab terhadap upaya pemantauan dari hasil pemantauan. Sehingga RPL dapat memberikan pedoman bagi setiap instansi terkait tentang apa, bagaimana, kapan ikut menjaga, mempertahankan, sokur meningkatkan mutu lingkungan.

3. penyusunan RPL

Penyusunan RPL (seperti halnya RKL, KA dan ANDAL) menjadi tanggung jawab pemrakarsa. Pelaksanaan penyusunan KA, ANDAL, RKL DAN RPL harus disusun oleh konsultan. Konsultan yang ditunjuk harus sesuai kualifikasinya dan bukan perusahaan yang ada hubungan secara organisatoris dengan pemrakarsa.

(26)

kualifikasi yang lebih tinggi. Pada saat ini berhubung konsultan swasta masih belum banyak yang kualifikasinya baik, maka untuk sementara dapat ditunjuk konsultan pemerintah yaituPusat Studi Lingkungan atau Pusat Penelitian Lingkungan Hidup yang dimiliki oleh Universitas .

Konsultan yang ditunjuk dapat sama, yaitu mengerjakan KA, ANDAL sekaligus RKL dan RPL, tetapi dapat juga berbeda-beda konsultan.

Permasalahan seputar AMDAL dalam pembuatan dokumen AMDAL diantaranya:

1. Status lahan yang sering bermasalah.

 Permasalahan biasanya muncul dari pihak pemrakarsa yang menyatakan secara sepihak telah mengurus perijinan melalui prosedur pemerintahan. Kenyataan dilapangan ternyata lahan tersebut dalam keadaan bermasalah. Ini sering ditemui pada investor yang akan mendirikan perkebunan tapi terkendala pada status tanah ulayat.

 Permasalahan bisa muncul dari masyarakat sekitar kegiatan yang merasa lahan itu adalah lahan pribadi.

 Dibeberapa daerah yang mengakui hak ulayat, akan mendapat tantangan yang lebih berat mengenai status lahan ini. Ini disebabkan adanya perlindungan hukum terhadap hak ulayat. Jadi harus jelas dulu status lahan baru bisa melanjutkan pembangunan.

2. Adanya alih fungsi lahan yang sering terjadi dengan alasan untuk pembangunan ekonomi suatu daerah. Alih fungsi lahan ini biasanya mempersempit areal pertanian khususnya sawah. Padahal kita ketahui bersama bahwa areal sawah tiap tahunnya selalu terjadi penurunan luasan. Perkebunan dimana-mana, pembangunan perumahan adalah contoh yang dominan terhadap alih fungsi lahan produktif ini.

(27)

konstruksi. Tapi pada kenyataan masih banyak ditemukan ketika prosedur AMDAL masih dalam pengurusan, pemrakarsa telah melakukan prose kontruksi, kenyataan yang lebih parah ketika dokumen AMDAL tersebut di fiktifkan.

4. Seringnya lokasi kegiatan tidak mengacu pada tata ruang. Padahal semua kegiatan tidak boleh bertentangan dengan tata ruang peruntukan lahan.

5. Masih belum beraninya Tim Komisi Teknis dan Komisi Penilai untuk menyatakan tidak layak secara lingkungan untuk sebuah dokumen AMDAL . 6. Lamanya proses dari satu sidang ke sidang berikutnya disebabkan prosedur

yang ada tidak berjalan sesuai peraturan dalam pengurusan perijinan AMDAL. Apabila dokumen sudah didaftarkan pada institusi lingkungan hidup daerah yang bersangkutan, selama 75 hari kerja tidak di proses oleh instansi tersebut, maka dokumen secara hukum sudah syah.

7. Masih banyaknya Konsultan yang asal jadi dalam membuat dokumen AMDAL ini, ini disebabkan tidak adanya harga minimal dan maksimal dari pembuatan sebuah dokumen AMDAL. Jadi terkadang ada konsultan yang banting harga. Tentunya hasil yang diharapkan akan jauh panggang dari api.

Solusi yang Ditawarkan

Ada beberapa solusi yang menurut penulis sangat perlu dicermati:

1. Ketika pengumuman akan diadakan studi AMDAL pada salah satu kegiatan yang berdampak lingkungan melalui media masa (surat kabar), ini benar-benar media masa yang bisa dipantau oleh masyarakat terkena dampak.

(28)

3. Perlu adanya sebuah lembaga yang mengawasi proses pembuatan Amdal sampai pada konstruksi dan mengawasi pelaporan berkala mengenai status lingkungan pada tapak kegiatan. Untuk sekarang pengawas ini sebenarnya sudah ada, namun tidak berjalan karena yang mengawasi adalah institusi lingkungan yang ada didaerah. Seharusnya institusi ini tersendiri. Tim Komisi teknis harusnya dilakukan sertifikasi kelayakan sesuai dengan bidangnya, sehingga akan memperbaiki isi dokumen ditinjau dari konsistensi penulisan sampai kedalaman kajian isi dokumen.

4. Perlu adanya sertifikasi untuk perusahaan yang bergerak pada bidang konsultan AMDAL, sehingga isi dari dokumen akan lebih dalam.

D. Alasan suatu rencana kegiatan wajib AMDAL

Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting, wajib dibuat AMDAL Hal ini mengacu pada pasal 3 ayat 1 PP 27 tahun 1999 yaitu ;

1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam

2. Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui 3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan,

kerusakan, pemerosotan dalam pemanfaatan SDA, cagar budaya 4. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.

5. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati

6. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan

7. Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara Jadi, apabila rencana kegiatan mempunyai peran seperti yang telah disebutkan di atas wajib AMDAL.

(29)

AMDAL dan kendali atas polusi, didukung oleh tiga kantor daerah. Kajian dan persetujuan atas berbagai dokumen AMDAL pada saat ini ditangani oleh Komisi Pusat atau Komisi Daerah, sesuai dengan skala proyek dan sumber pendanaan. Lebih dari 4000 AMDAL dikaji sampai dengan 1992 dimana menjadi lebih jelas bahwa berbagai elemen dari proses tersebut terlalu kompleks dan terlalu banyak didasarkan pada AMDAL ‘gaya barat’. Legislasi AMDAL yang baru yang diberlakukan pada tahun 199311 yang memiliki efek pembenahan atas prosedur penapisan, mempersingkat jangka waktu pengkajian, dan memperkenalkan status format EMP yang distandardisasi (UKL/UPL) untuk proyekdengan dampak yang lebih terbatas. Lebih dari 6000 AMDAL nasional dan propinsi diproses berdasarkan peraturan ini termasuk sejumlah kecil AMDAL daerah di bawah suatu komisi pusat yang didirikan di dalam BAPEDAL.

(30)

NEPA 1969 merupakan suatu reaksi terhadap kerusakan lingkungan oleh aktifitas manusia yang makin meningkat, antara lain tercemarnya lingkungan oleh pestisida serta limbah industri dan transpor, rusaknya habitat tumbuhan dan hewan langka, serta menurunnya nilai estetika alam. Misalnya, sejak permulaan tahun 1950-an Los Angeles di negara bagi1950-an Kalifornia, Amerika Serikat, telah terg1950-anggu oleh asap-kabut atau asbut (smog = smoke + fog), yang menyelubungi kota, mengganggu kesehatan dan merusak tanaman. Asbut berasal dari gas limbah kendaraan dan pabrik yang mengalami fotooksidasi dan terdiri atas ozon, peroksiasetil nitrat (PAN), nitrogenoksida, dan zat lain lagi.

AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) adalah instrumen yang sifatnya formal dan wajib (control and command) yang merupakan kajian bagi pembangunan proyek-proyek kegiatan-kegiatan pasal 17a yang kemungkinan akan menimbulkan dampak besar dari penting terhadap lingkungan hidup.

Dalam PP No.27 Tahun 1999 dinyatakan bahwa dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang di akibatkan oleh suatu usaha dan atau kegiatan. Selanjutnya pada pasal 5 PP tersebut dinyatakan bahwa kriteria dari dampak besar dan periting dari suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan antara lain:

a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak b. Luas wilayah persebaran dampak

c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung

d. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak e. Sifat kumulatif dampak

f. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (ireversible)

(31)
(32)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kami tarik dari pembahasan mengai AMDAL di atas ialah :

1. Pada PP 27/1999 pengertian AMDAL adalah merupakan hasil studi mengenai dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.

2. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah:

 Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL  Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu

rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan

 masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL.

3. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

 Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006

(33)

 Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006

 Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008

4. Sistem regulasi AMDAL mencakup :

 UU No 23 tahun 1997 tentang lingkungan hidup  PP No 27 tahun 1999 tentang AMDAL:

5. Menurut PP 29/1986, AMDAL terdiri atas 5 dokumen, sebagai berikut:  Penyajian informasi lingkungan (PIL)

 Kerangka acuan untuk analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL)  Analisis dampak lingkungan (ANDAL)

 Rencana pengelolaan lingkungan (RKL)  Rencana pemantauan lingkungan (RPL)

6. Setiap rencana kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting, wajib dibuat AMDAL Hal ini mengacu pada pasal 3 ayat 1 PP 27 tahun 1999 yaitu ;

 Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam

 Eksploitasi SDA baik yang dapat diperbaharui/tidak dapat diperbaharui

 Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, kerusakan, pemerosotan dalam pemanfaatan SDA, cagar budaya

 Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, jasad renik.  Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati

 Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan

 Kegiatan yang mempunyai tinggi dan mempengaruhi pertahanan negara  Jadi, apabila rencana kegiatan mempunyai peran seperti yang telah disebutkan

di atas wajib AMDAL.

7. pada pasal 5 PP tersebut dinyatakan bahwa kriteria dari dampak besar dan periting dari suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan antara lain:

(34)

 Intensitas dan lamanya dampak berlangsung

 Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak  Sifat kumulatif dampak

 Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (ireversible)

B. Saran

saran yang dapat kami berikan ialah, karena dalam penyusunan makalah ini kami hanya belandaskan dari buku-buku atau referensi lain yang berhubungan dalam penyusunan makalah mengenai AMDAL ini, oleh karena itu kami menyarankan di adakannya kunjungan lapangan. Dengan kunjungan lapangan tersebut bermaksud untuk mengetahui secara langsung tentang AMDAL tersebut serta penyusunannya.

(35)

Fandeli, Chapid, 2007. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Liberty Offset. Yogyakarta

Tosepu, Ramadhan, 2007. Kesehatan Lingkungan. Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas MIPA UNHALU. Kendari

Referensi

Dokumen terkait

Off farm sudah berkembang Pengembangan inovasi teknologi 2 Teknologi budidaya belum maju Kelembagaan pelayanan terkait pertanian sudah mulai dibentuk Pemasaran produk sdh

dan sikap terhadap program swaliba negatif maka perilaku untuk partisipasi dalam melakukan program swaliba juga akan negatif atau rendah, sebaliknya apabila

Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sumatera Selatan (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 2 Seri

Berdasarkan pengamatan dan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan komposisi media dan dosis pupuk organik cair Faktor komposisi

Sistem pengawasan dalam manajemen dana wakaf di lakukan pada proses penghimpunan, pengelolaan, serta pendistribusian manfaat dana wakaf dengan tujuan manajemen dana

Hal ini menunjukkan bahwa patahan pada spesimen terjadi pada daerah yang dekat dengan root dari blade.. Pasangan dari blade yang patah ini yang patah tidak

Kami waktu itu pikirannya sama begitu juga, artinya saya juga tidak ada pikiran memilih Bung Karno, karena Bung Karno waktu itu dalam pandangan kita sudah jelek, zaman

seorang pasien 34 tahun masuk RS dengan keluhan nyeri dada yanng dirasakan sejak 3 hari yang lalu,sering demam tinggi dan pada pemerikasaan foto thorax tak ada kelainan yang