laporan Status
energi bersiH INDONESia
2018
IMPRINT
Laporan STAtus
Energi Bersih Indonesia 2018
Penulis:
Julius Christian Adiatma | Deon Arinaldo Editor:
Fabby Tumiwa
KATA pengantar
Kebijakan Energi Nasional (KEN) telah menetapkan pening- katan bauran energi terbarukan secara progresif. Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) mentargetkan bauran energi terbarukan dalam bauran energi primer mencapai 23% pada 2025, dan 31% pada 2050. Pada tahun 2017, bauran energi terbarukan baru mencapai 6,24%. Masih terdapat kesen- jangan yang cukup lebar antara target yang dicanangkan dan realitas kemajuan yang dicapai sejak KEN ditetapkan pada 2014 lalu.
Di sektor kelistrikan, kapasitas pembangkit energi terbarukan baru mencapai 9,1 GW atau 15% dari total kapasitas pembangkit nasional. Dengan target 23% bauran energi terbarukan, jika proyeksi pertumbuhan kapasitas dalam RUEN dipakai, maka hingga 2025 nanti, pembangkit energi terbarukan perlu ditambah sebesar 35 GW, sehingga 33%
dari total kapasitas pembangkit adalah pembangkit energi terbarukan. Dengan demikian dibutuhkan penambahan 5-7 GW per tahun untuk pembangkit on-grid dan off-grid untuk mencapai target tersebut.
Dalam hal produksi dan pemanfaatan bahan bakar nabati, target pemanfaatan BBN yang sudah ditetapkan kebijakan- nya sejak 2015 lalu belum memberikan hasil yang optimal.
Target blending untuk bahan bakar PSO belum terealisasi karena sejumlah kendala. Pada pertengahan tahun ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru untuk mendorong penggunaan BBN yang lebih luas untuk bahan bakar non-PSO. Kebijakan baru ini, jika diimplementasikan dengan
benar, seharusnya dapat mendorong pemanfaatan BBN dan mengurangi laju impor BBM di tahun-tahun mendatang.
Indonesia kaya dengan potensi energi terbarukan, antara lain energi matahari, energi angin, biomassa, energi laut, panas bumi, yang belum dieksploitasi secara optimal. Potensi energi terbarukan untuk dikonversi menjadi listrik mencapai 422 – 500 GW, atau 7-8 kali dari total kapasitas pembangkit terpasang saat ini. Dari potensi ini baru sekitar 2% yang dimanfaatkan secara komersial. Energi matahari memiliki potensi lebih dari 200-280 GW dengan efisiensi teknologi photovoltaic saat ini tetapi pemanfaatannya kurang dari 100 MW. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, peman- faatan energi matahari Indonesia sangat jauh tertinggal.
Laporan ini merupakan laporan tahunan yang dikeluarkan IESR yang dimaksudkan sebagai sumber informasi bagi publik sekaligus alat pemantauan perkembangan energi bersih di Indonesia. Dengan laporan ini, diharapkan publik memiliki sumber informasi yang kredibel dan dapat terlibat aktif mendorong reformasi kebijakan, pengembangan instru- men pendukung, dan penguatan kelembagaan untuk meningkatkan pembangunan energi bersih di Indonesia.
IESR mengharapkan saran dan umpan balik dari publik untuk menjadikan laporan ini semakin baik dari waktu ke waktu.
Fabby Tumiwa Direktur Eksekutif
pertumbuhan pembangkit listrik
Selama satu dekade terakhir pembangkit listrik berbahan bakar fosil masih mendominasi penyediaan tenaga listrik di Indonesia. Energi fosil mencapai 88% dari total pasokan listrik, porsi batubara mencapai 60%, dan di- ikuti oleh sumber bahan bakar fosil lain seperti minyak dan gas bumi. Kapasitas pembangkit listrik fosil tumbuh 4,5 kali dibandingkan pembangkit energi terbarukan pada periode 2014-2017.
Dalam tiga tahun terakhir (2015-2017), pertumbuhan pembangkit ET justru mengalami penurunan. Pertum- buhan kapasitas pembangkit energi terbarukan hanya 3,6% setiap tahunnya. Pertumbuhan ini termasuk lambat dibandingkan dengan tahun 2013-2015 yang mencapai 15% per tahun. Pencapaian ini bahkan lebih rendah dari target yang dicanangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal EBTKE tahun 2015-2019 sebesar 10% per tahun.
Pembangkit listrik energi terbarukan yang dibangun dalam 10 tahun terakhir sebagian besar berasal dari sumber panas bumi (37%), tenaga air skala besar (29%) dan bioenergi (23%). Namun, sejak tahun 2014, pem- bangkit listrik bioenergi menyumbang 51% pembangkit listrik energi terbarukan, kemudian diikuti panas bumi (32%) dan mini/mikrohidro (14%).
Bahan bakar fosil dan energi terbarukan
Sumber : Kementrian Sumber Daya Energi dan Mineral
2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007
886,3
3.794,5
2.401,3
2.031,5
4.570,6
5.014,8
5.661,3
1.988,9
354,4
533,7
1.060,1
288,4
354,5
929,9
896,8
1.125,4
229,7
254,3
35,5
141,9
75,1
105,5
6000 5000 4000 3000 2000 1000 1000 2000
Energi Fosil Energi Terbarukan
*Satuan dalam MW
2
Provinsi dengan pembangkit energi terbarukan
Jawa Barat merupakan provinsi dengan kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis energi terbarukan yang terbesar pada tahun 2017, dengan total kapasitas 3.240 MW, diikuti oleh Sumatera Utara dengan kapasitas 1.153 MW, dan Sulawesi Selatan dengan kapasitas 574 MW. Total kapasitas terpasang di provinsi-provinsi tersebut men- cakup 55% dari total kapasitas nasional.
Provinsi-provinsi seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Sulawesi Sela- tan memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar yang mencapai lebih dari 20 GW. Oleh karena itu peren- canaan penyediaan listrik di daerah tersebut seharusnya memprioritaskan pemanfaatan energi terbarukan.
Pemanfaatan energi terbarukan setempat untuk pembangkitan listrik dapat menjadi solusi untuk daerah terpencil atau perdesaan karena tidak memerlukan pasokan bahan bakar yang terus menerus seperti pembangkit yang berbasis fosil sehingga biaya produksi tenaga listrik menjadi lebih murah.
terpasang terbesar
pembangkit listrik energi terbarukan terpasang
provinsi dengan
potensi energi terbarukan
Sumatera utara
1153 mw 84% PLTA
Jawa barat
3240 mw 61% PLTA 36% PLTP
sulawesi selatan
574 mw 91% PLTA
papua
nusa tenggara barat kalimantan barat kalimantan tengah
adalah beberapa provinsi yang memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar yang mencapai lebih dari 20 GW.
Sumber : Kementrian Sumber Daya Energi dan Mineral
4
KAPASITAS TERPASANG pembangkit listrik
Hingga kuartal ke-2 tahun 2018 penambahan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi terbarukan baru menca- pai 320 MW, yang sebagian besar berasal dari kapasitas pembangkit panas bumi di Karaha Unit I di Jawa Barat dan Sarulla Unit 3 di Sumatera Utara. PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan yang beroperasi tahun ini dengan kapasitas 75 MW menjadi ladang angin pertama dan terbesar di Indonesia. Total kapasitas terpasang pembangkit energi terbaru- kan on-grid dan off-grid saat ini mencapai 9,4 GW sementara Renstra EBTKE 2015-2019 mentargetkan 15,5 GW.
Dari total kapasitas, pembangkit listrik tenaga air masih mendominasi meski mengalami perlambatan dalam pertum- buhan dibandingkan dengan panas bumi dan bioenergi dalam sepuluh tahun terakhir. Pembangkit tenaga surya masih sangat tertinggal dan sulit bersaing dengan pembangkit jenis lain. Sementara itu, pembangkit tenaga angin sedang dalam momentum yang baik dengan akan adanya penambahan satu lagi ladang angin baru sebesar 72 MW di Jeneponto yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir 2018.
ENERGI TERBARUKAN
Sumber : Kementrian Sumber Daya Energi dan Mineral 3880
4078 5058
5059 5124 5124 5124
5079
2010 3719 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
1000 2000 3000 4000 5000 6000
Air
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
100
50 150 200 250 300 350 400 450 14
63 68
106 170
258 326
181
412
Mini/Mikrohidro
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
1200 1400 1600 1800 2000
Panas Bumi
1192 1209
1343 1345 1405
1640 1805
1435
1948
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
250 500 750 1000 1250 1500 1750 2000
Bioenergi
26 26 126
898
1787 1839
1767 1857
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
4 8 12 16 20
Matahari
0.19 1
4 9 9
16 17
9 16
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
0,25 0,5 0,75 1 75
Angin
0.34 0.93 0.93 0.63
1 1 1
1
75
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018**
2500 5000 7500 10000
Total
4927 5181 5521
6646 7543
8473 8827
9113 9433
*Satuan dalam MW
**Juli 2018
6
PRODUKSI LISTRIK ENERGI TERBARUKAN
Produksi listrik dari pembangkit energi terbarukan masih rendah karena rendahnya kapasitas terpasang dibanding- kan pembangkit fosil. Faktor lainnya adalah menurunnya produksi listrik dari tenaga air (PLTA) dan minihidro. Di tahun 2017, pembangkit listrik berbahan bakar fosil menghasilkan 7 kali lebih banyak energi daripada pembangkit berbasis energi terbarukan.
Di daerah yang ekonominya lebih maju seperti Jakarta dan Jawa Barat, konsumsi energi didominasi oleh industri dan sektor komersial. Sementara itu, di provinsi yang kurang berkembang, terutama di Indonesia Timur, mayoritas konsumen listrik adalah rumah tangga. Ini menyiratkan pentingnya listrik dalam pembangunan suatu wilayah.
Teknologi energi terbarukan seperti biomassa, minihidro, surya dan angin dapat menjadi sumber daya energi lokal untuk penyediaan listrik yang bersih dan hemat biaya dibandingkan dengan pembangkit diesel atau gas.
Sumber : Kementrian Sumber Daya Energi dan Mineral 6139
39
2009
total
157
89%
11% 13 5
6537 42
2010
total
169
85%
15% 20 5
8142 39
2011
total
184
88%
12% 12 10
10130 47
2012
total
201
89%
11% 13 10
11227 51 1710
2013
total
217
88%
12%
1510 12127 55
2014
total
228
89%
11% 14
11 13120 58
2015
total
234
90%
10% 20
11 13617 64
2016
total
248
88%
12% 19
13 14815 59
2017
total
254
87%
13%
*Satuan dalam TWh Energi
Fosil Batu Bara Gas Minyak Bumi
Energi
Terbarukan Tenaga Hidro Energi Terbarukan Lainnya
8
Pembangkit listrik energi terbarukan yang direncanakan di RUPTL 2018-2027 berkurang dari rencana di tahun-tahun sebelumnya. Total kapasitas energi terbarukan yang direncanakan dalam RUPTL 2015-2024 adalah 14,1 GW, RUPTL 2016-2025 adalah 22,6 GW, RUPTL 2017-2026 adalah 21,5 GW, dan RUPTL 2018-2027 adalah 14,9 GW. Namun, penurunan ini juga terjadi pada pembangkit listrik fosil. Hal ini disebabkan karena adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berakibat penurunan pertumbuhan permintaan listrik dari perkiraan sebelumnya.
Porsi pembangkit listrik terbarukan yang direncanakan dalam 10 tahun adalah sekitar 28% dalam 3 RUPTL terakhir.
Dalam 3 RUPTL tersebut, sebagian besar pembangkit energi terbarukan yang direncanakan akan selesai pada 2025.
Dalam RUPTL 2018-2027, energi terbarukan yang direncanakan pada tahun 2025 setara dengan 88% dari total pem- bangkit listrik yang direncanakan untuk tahun itu, dan 49% dari total energi terbarukan yang direncanakan untuk 10 tahun penuh. Keterlambatan penyelesaian proyek akan menimbulkan risiko kegagalan yang tinggi dalam mencapai target energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025.
Kapasitas pembangkit listrik energi terbarukan yang terealisasi selama 2015-2018 pada umumnya lebih rendah dari rencana. Perlu dicatat bahwa realisasi pembangunan pembangkit ET yang tercantum di sini termasuk pembangkit bioenergi off-grid yang tidak termasuk dalam perencanaan RUPTL. Ini menjelaskan tingginya realisasi pada tahun
rencana umum PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (RUPTL)
PErkEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN DALAM
2017 2018
2016
2015
100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
Perbandingan Rencana dan Realisasi RUPTL Energi Perbarukan
930 355
288 320
111
354 454
511
*Satuan dalam MW
Rencana Realisasi
500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000
2027 2026 2025 2023
2022 2021 2020 2019
2018 2024
511
799 1040
1428
996 881
1299 7298
20 639
RUPTL 2018 - 2027 untuk Energi Terbarukan
RUPTL 2015-2024 RUPTL 2016-2025 RUPTL 2017-2026 RUPTL 2018-2027
10.000 15.000 20.000 25.000
Total Rencana Pembangkit Energi Terbarukan
22.600 14.100
14.900 21.500
Sumber : Kementrian Sumber Daya Energi dan Mineral
10
PRODUKSI BAHAN BAKAR NABATI
Industri bahan bakar nabati di Indonesia didominasi oleh biodiesel, meskipun belum dapat memenuhi target 20%
campuran dalam produk minyak diesel yang direncanakan tercapai pada 2016. Perkembangan bioetanol masih terhambat oleh tingginya biaya produksi bahan baku dan kualitas etanol yang dihasilkan. Kebijakan campuran 2%
etanol dalam produk bensin, yang sudah direncanakan sejak 2015, hingga saat ini masih belum terlaksana.
Sementara itu, biodiesel sedang mendapat momentum dengan menurunnya permintaan dunia terhadap minyak sawit mentah (CPO). Naiknya harga minyak dunia dan turunnya harga minyak sawit mentah (CPO) berperan sangat penting dalam membuat harga biodiesel menjadi kompetitif. Pada bulan Juli 2018, harga indeks pasar untuk biodies- el adalah Rp 7.949 sedangkan untuk minyak diesel adalah Rp 7.388.
Konsumsi domestik biodiesel di 2018 diharapkan meningkat ke 2,8 milyar liter. Selain itu, sejak September 2018, campuran 20% biodiesel diwajibkan dalam seluruh produk minyak diesel, termasuk yang non-PSO. Hal ini diharap- kan akan menambah sekitar 3 milyar liter konsumsi domestik per tahun, atau menambah 1 milyar liter hingga akhir tahun 2018.
2009
190.000 kl119.000 kl
2010
243.000 kl223.000 kl
2011
1.812.000 kl359.000 kl
2012
2.221.000 kl669.000 kl
2013
2.805.000 kl1.048.000 kl
3.961.081 kl
2014
1.778.685 kl
2015
1.652.801 kl915.460 kl
3.656.359 kl
2016
3.008.474 kl3.416.416 kl
2017
2.571.569 kl2018*
1.767.060 kl1.159.317 kl
: Produksi : Konsumsi
keterangan :
: 200.000 KL 1
12
*
: Mei 2018energi terbarukan investasi untuk pengembangan
Pengembangan energi terbarukan membutuhkan investasi yang memadai. Berdasarkan perhitungan IRENA, untuk mencapai bauran energi terbarukan 23% dibutuhkan investasi US$ 7,9 milyar setiap tahunnya sejak tahun 2015 hingga 2030. Kementerian ESDM mentargetkan investasi energi terbarukan tahun 2018 sebesar US$ 2 milyar, namun sampai Oktober 2018, investasi yang terealisasi baru mencapai US$ 1,16 milyar.
Selama lima tahun terakhir, investasi energi terbarukan belum meningkat signifikan bahkan cenderung mengalami penurunan. Investasi yang tercapai di tahun 2015 hanya 45% dari target yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM.
Sebagian besar kesenjangan antara target dan realisasi terjadi pada investasi pembangkit listrik tenaga surya, angin dan air.
Indonesia menempati peringkat 36 pada indeks Renewable Energy Country Attractive Index (RECAI) edisi November 2018 yang diterbitkan EY. Posisi ini naik 2 peringkat dari edisi Mei 2018. Indeks ini meliputi aspek ekonomi, politik, dan teknologi. Kenaikan peringkat ini lebih disumbangkan oleh adanya rencana investasi baru ENEL untuk PLTP 55 MW, dan persetujuan pendanaan untuk PLTP Rantau Dadap sebesar US$ 539 juta. COD PLTB Sidrap I dan kema- juan PLTB Tolo di Jeneponto juga menyumbang perbaikan peringkat tersebut.
Indonesia meraih nilai sangat tinggi untuk teknologi energi panas bumi dan air, namun buruk di sektor energi angin dan surya terkonsentrasi (CSP). Filipina merupakan negara Asia Tenggara dengan peringkat tertinggi yaitu 24, diikuti Thailand di peringkat 34.
*Satuan Milyar US$
** Oktober 2018
keterangan :
Panas Bumi Tidak Terkategori
Konservasi Energi Energi Terbarukan Lainnya
2019
0.2%
35.1 % 54%
10.8%
2012
12.4%
87.6%
2013
10.4%
89.6%
2015
39.2%
41.2%
19.6%
2016
0.2%
3.1%
26.0%
70.4%
2014
22.5%
77.5%
2017
3.1%
0.2%
58.8%
38.2%
2018**
100%
total
0,31 3,34 total 2,64 total 2,24 total
total
1,61 1,96 total 1,16 total target 4
Bioenergi
14
Konsumsi energi final
Konsumsi energi final dari sumber non-biomassa (tidak mencakup penggunaan non-energi*) stabil pada sekitar 760 juta setara barel minyak (SBM) sejak 2011. Sejak 2013, konsumsi energi sektor transportasi telah melampaui sektor industri dengan turunnya konsumsi energi di sektor industri. Sektor industri telah memangkas konsumsi energinya sebesar 24% dalam 7 tahun. Pertumbuhan yang lambat pada beberapa industri padat energi seperti tekstil, kertas dan bubur kertas, petrokimia, semen, dan kilang minyak telah berkontribusi pada penurunan konsumsi energi sektor industri, selain dari keberhasilan usaha konservasi energi.
Saat ini transportasi merupakan sektor dengan intensitas energi paling tinggi dan didominasi oleh minyak bumi.
Konsumsi energi sektor ini relatif konstan sejak 2012. Pada 2013, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga eceran BBM, dan pada 2015 mencabut sebagian besar subsidi BBM. Hal ini lah yang lebih berperan dalam perlambatan pertumbuhan konsumsi energi di sektor transportasi, dibanding peningkatan dalam efisiensi. Sektor lain seperti pertanian, pertambangan, konstruksi, dan komersial hanya berkontribusi kurang dari 10% total konsumsi energi final. Di sisi lain, sektor-sektor ini berkontribusi pada lebih dari 50% PDB nasional.
Konsumsi energi per kapita sektor rumah tangga meningkat secara konsisten sekitar 4% per tahun. Namun, ketika memperhitungkan sumber energi biomassa, konsumsi per kapita sektor rumah tangga konstan sejak tahun 2014.
Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran sumber energi di sektor rumah tangga dari biomassa ke sumber
85 92
100 106
115 120
111
2010 82 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
25 50 75 100 125
Perumahan
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
220
200 240 260 280 300 320 340
306 330 325 238
245 222
232
264
Industrial
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
30 34 38 42 46
Komersial
30 33
36 38
39 40
42
41
278 330
362
341 309
340
343
2010 230 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
150 200 250 300 350 400
Transportasi
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
25
20 30 35
22 27
34 31 29 20
21
33
Lainnya
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Total
650 675 700 725 750 775 800 825 670
753
817 748
761 737
777
758
*Satuan dalam juta SBM