UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS HUKUM
Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor : 429/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014
PENERAPAN DENDA PADA AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
(STUDI PADA BANK X SYARIAH WILAYAH BANDUNG)
OLEH
SRINA SEMBIRING PELAWI NPM : 2012200146
PEMBIMBING
Dr. Asep Iwan Iriawan, S.H., M.H
PENULISAN HUKUM
Disusun Sebagai Salah Satu Kelengkapan Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Sarjana
Program Studi Ilmu Hukum
2019
PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIK
Dalam rangka mewujudkan nilai-nilai ideal dan standar mutu akademik yang setinggi-tingginya, maka Saya, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan yang beranda tangan di bawah ini :
Nama : Srina Sembiring pelawi NPM : 2012200146
Dengan ini menyatakan dengan penuh kejujuran dan dengan kesungguhan hati dan pikiran, bahwa karya ilmiah / karya penulisan hukum yang berjudul:
“PENERAPAN DENDA PADA AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
(STUDI PADA BANK X SYARIAH WILAYAH BANDUNG)”
Adalah sungguh-sungguh merupakan karya ilmiah /Karya Penulisan Hukum yang telah saya susun dan selesaikan atas dasar upaya, kemampuan dan pengetahuan akademik Saya pribadi, dan sekurang-kurangnya tidak dibuat melalui dan atau mengandung hasil dari tindakan-tindakan yang:
a. Secara tidak jujur dan secara langsung atau tidak langsung melanggar hak-hak atas kekayaan intelektual orang lain, dan atau
b. Dari segi akademik dapat dianggap tidak jujur dan melanggar nilai-nilai integritas akademik dan itikad baik;
Seandainya di kemudian hari ternyata bahwa Saya telah menyalahi dan atau melanggar pernyataan Saya di atas, maka Saya sanggup untuk menerima akibat- akibat dan atau sanksi-sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pernyataan ini Saya buat dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan, tanpa paksaan dalam bentuk apapun juga.
Bandung, 13 juni 2019
Mahasiswa penyusun Karya Ilmiah/ Karya Penulisan Hukum
( )
Srina Sembiring Pelawi 2012200146
Materai 6000
ABSTRAK
Produk akad pembiayaan Mudharabah merupakan salah satu produk pembiayaan dari Bank XSyariahwilayah Bandung. Akad pembiayaan Mudharabah sendiri adalah bentuk kerja sama antara duapihak. Pihak pertama yaitu pihak yang menyediakan seluruh modal (Shahib al maal) dengan pihak kedua menjadi pihak yang mengelola modal (Mudharib) tersebut kedalam bentuk usaha. Keuntungan yang diperoleh dari usaha tersebut dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam akad yang telah dibuat oleh kedua belah pihak. Hasil usaha yang diperoleh pihak Mudharib akan dibagihasilkan ( profit sharing ) antara pihak Shabib al maal dengan pihak Mudharib. Terdapat 4 (empat ) pilihan jangka waktu pengembalian dana oleh pihak Mudharib yaitu : 1 (satu), 3(tiga) , dan 5 (lima) Tahun yang dianggsur setiap bulannya. Pengembalian dana dilakukan setelah jatuh tempo (terlambat) dikenakan biaya denda yang sudah ditentukan nominalnya oleh pihak bank yaituRp. 1000,00-, per hari satu minggu setelah jatuh tempo.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1). Apakah penerapan denda pada akad Mudharabah yang dilakukan oleh Bank X Syariah wilayah Bandung sudah sesuai dengan landasan hukum Islam. 2). Bagaimana pelaksanaan penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah di Bank X Syariah wilayah Bandung.
Penelitian ini bertolak dari kaidah Muamalah yang mengatakan bahwa denda itu boleh diterapkan, selagi tidak ada unsur yang merugikan salah satu pihak dan dilakukan dengan cara sukarela disertai dengan nilai-nilai keadilan.
Metode penelitian yang diterapkan adalah yuridis sosiologis dengan pendekatan kualitatif, yakni penelitian yang berupaya menyatakan datanya menggambarkan penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah di Bank X Syariah wilayah Bandung dalam keadaan sewajarnya atau sebagaimana adanya (Natural Setting) dengan tidak merubah dalam bentuk simbol-simbol.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bahwa 1) Landasan hukum Bank X Syariah wilayah Bandung mengacu kepada fatwa No. 17/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sanksi Terhadap Nasabah Mampu yang Menunda-Nunda Pembayaran, yang diterapkan Bank X Syariah kepada nasabah yang wanprestasi melakukan keterlambatan pembayaran setelah jatuh tempo. 2) Pelaksanaan penerapan denda di Bank X Syariah wilayah Bandung dalam prakteknya bank
menetapkan denda apabila nasabah terlambat melakukan pembayaran setelah jatuh tempo sebesarRp. 1.000,- sedangkan hal tersebut tercantum kan dalam klausula akad pembiayaan Mudharabah. Namun denda ganti rugi tersebut sudah ditentukan dan dijadikan aturan yang berlaku, hal ini diperoleh dari kebijakan Bank X Syariah pusat yang bertempat di wilayah Kabupaten Bandung.
Kata Kunci : Bank Syariah, AkadPembiayaan ,AkadMudharabah, Denda
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena kasih dan karuniaNya, penulis akhirnya dapat menyelesaikan Penulisan Hukum (Skripsi) ini. Dalam proses penyelesaian Penulisan Hukum ini, penulis mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik berupa doa, semangat moril maupun materill yang diberikan kepada penulis. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Tristam Pascal Moeliono, S.H., M.H., LL.M selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan atas ilmu dan kebaikan yang sudah diberikan kepada penulis
2. Bapak Nasar Ambarita , S.H., M.Hum., Sp1. Selaku dosen wali yang selalu membantu dan membimbing penulis dari awal hingga akhirnya menyelesaikan Penulisan Hukum 3. Ibu Dr. Rachmani Puspitadewi, S.H., M.Hum. selaku Wali Dekan I Universitas Katolik
Parahyangan yang selalu memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis
4. Ibu Dewi Sukma Kristianti, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing penulis saat seminar Proposal yang dengan sabar membimbing dan menuntun penulis untuk menyelesaikan proposal.
5. Bapak Asep Iwan Iriawan, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Penulisan Hukum.
6. Bapak dan Ibu Dosen – Karyawan Fakultas Hukum Unpar yang telah memberikan ilmu dan bantuan semasa kuliah hingga Penulisan Hukum ini selesai.
7. Kedua orang tua penulis yang selalu menyayangi, memberikan dukungan doa,moril dan materill juga menuntun penulis untuk dalam segala hal termasuk menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
8. Friskila Winny Putri, Maria Yolanda, Prima Tarigan selaku adik-adik penulis yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan kepada Penulis
9. Ilfia A , Chnytia Yokerina dan Irmawanti Nugraha selaku sahabat penulis yang selalu setia memberikan dukungan moril dan materill membantu penulis dalam menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
10. Astrid R Putri selaku informan yang memberikan pengetahuan untuk mendukung penelitian Penulisan Hukum ini sehinggan penulis dapat menyelesaikan Penulisan Hukum ini.
11. Komsel Riung Bandung selaku komunitas sel penulis yang selalu setia memberikan dukungan doa dan nasihat untuk penulis
12. Melati Tarigan, Novitasari Laura selaku kakak rohani penulis yang selalu mendukung penulis dalam doa dan memberikan nasihat dalam banyak hal.
13. Seluruh Remaja Hosana Teens yang memberikan semangat dan doa kepada penulis agar dapat menyelesaikan Penulisan Hukum ini
14. Kepada seluruh sahabat, keluarga dan kerabat yang selalu memberikan dukungan kepada penulis yang tidak dapat dituliskan satu persatu. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kiranya Tuhan Yesus membalas semua kebaikan kalian.
Bandung, 28 Mei 2019
Srina Sembiring Pelawi
DAFTAR ISI DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………...1
B. Rumusan Masalah………...10
C. Tujuan Penelitian………...10
D. Manfaat Penelitian……….10
E. Hipotesis……….11
F. Metode Penelitian………...11
G. Teknik Pengumpulan Data……….14
H. Metode Pengolahan Data………15
I. Sistematika Penulisan……….16
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perbankan Syariah………17
B. Dasar Hukum Perbankan Syariah………...19
C. Fungsi, Peranan dan Tujuan Bank Syariah……….20
D. Pengertian Akad Mudharabah………21
E. Syarat Mudharabah……….24
F. Pengertian Denda Menurut Prinsip Syariah dan Undang-Undang Perbankan Syariah………31
BAB III HASIL PENELITIAN TERHADAP BANK X SYARIAH WILAYAH BANDUNG A. Gambaran Umum Bank X Syariah………34
B. Visi dan Misi Bank X Syariah………...34
C. Susunan Pengawas………34
D. Produk-Produk Bank X Syariah………35
E. Aplikasi Pelaksanaan Akad Pembiayaan Mudharabah di Bank X Syariah...37 BAB IV ANALISIS TERHADAP PENERAPAN DENDA PADA AKAD
MUDHARABAH PADA BANK X SYARIAH WILAYAH BANDUNG
A. Analisis Penerapan Denda Pada Akad Pembiayaan Mudharabah Bagi
Nasabah yang Tidak Menepati Janji……….46
B. Analisis Pengelolaan Denda……….48
C. Analisis Penerapan Denda Pada Akad Mudharabah Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional NU 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Terhadap Nasabah Mampu Yang Menunda-Nunda Pembayaran……….48
D. Pelaksanaan Penerapan Denda Pada Akad Mudharabah………..50
E. Denda Nasabah……….50
F. Mekanisme Penerapan Denda pada Pembiayaan Mudharabah………52
G. Pengelolaan Dana Denda………..55
H. Penanganan dan Penyelesaian Sengketa Pembiayaan Mudharabah……….55
I. Produser Lelang di Bank X Syariah……….58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………..59
B. Saran……….59
1 Bab I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dan pertumbuhan perbankan,lembaga keuangan serta bisnis syariah di Indonesia dari tahun ke tahun semakin pesat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang mulai menyimpan dananya di lembaga keuangan syariah salah satunya adalah bank syariah. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdapat pada bank umum syariah dan unit usaha syariah dari tahun 2009 DPK sebesar 52.271 Miliar rupiah, tahun 2010 meningkat menjadi 76.036 Miliar rupiah, tahun 2011 sebesar 115.415 Miliar rupiah kemudian pada tahun 2012 sebesar 147.512 Miliar rupiah dan pada tahun 2013 sebesar 183.534 Miliar rupiah hingga tahun 2014 mengalami DPK 217.858 Miliar rupiah.1
Keberadaan lembaga keuangan syariah khusus nya bank syariah di Indonesia merupakan perwujudan dari keinginan masyarakat yang membutuhkan suatu sistem perbankan yang menyediakan jasa perbankan memenuhi prinsip syariah. Sama halnya dengan perbankan konvensional, bank syariah berfungsi sebagai lembaga intermediasi, yaitu berfungsi menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana-dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan dana dalam bentuk produk pembiayaan2. Perbedaan yang mendasar antara lembaga keuangan syariah dengan lembaga keuangan konvensional adalah lembaga keuangan syariah harus ada underlying transaction yang jelas, sehingga uang yang diterima oleh bank syariah tidak boleh mendatangkan keuntungan dengan sendirinya, tanpa ada transaksi sebelumnya seperti jual-beli yang akan menimbulkan margin, sewa-menyewa yang akan menimbulkan fee dan penyertaan modal yang akan memperoleh bagi hasil3.
1 . https://www.bi.go.id/id/statistik/perbankan/syariah/documents/a04639c063f84f93b9fede2740b39f01mei13.doc.
diakses pada tanggal 20 Desember 2018.
2 . Faturrahman Djamil, Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, Jakarta;Sinar Grafika,2012, hlm Prakata v
3 . ibid, hlm 3
2 Perbankan syariah di Indonesia secara konsisten terus melakukan perkembangan dan inovasi terhadap berbagai produk dalam kegiatan usahanya agar dapat menarik minat masyarakat untuk menyimpan uangnya di lembaga keuangan syariah khususnya bank syariah. Dalam mengembangkan produknya bank syariah tetap berpedoman pada prinsip syariah, prinsip kehati-hatian dan prinsip perlindungan nasabah yang kemudian telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 24/POJK.03/2015 Tentang Produk dan Aktivitas Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Selain itu perbankan syariah sebagai lembaga keuangan yang bergantung kepada kepercayaan masyarakat harus mampu menjaga dan terus meningkatkan tingkat kesehatan banknya seperti yang telah ditentukan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 8/POJK.03/2014 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah dan Unit Kerja Syariah. Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kondisi bank berdasarkan risiko, termasuk risiko terkait penerapan prinsip syariah dan kinerja bank (Risk based bank rating )
Perkembangan praktik kegiatan usaha pada bank-bank syariah menunjukan bahwa bank syariah memilki beberapa produk yang sangat kompetitif dan tidak kalah saing dengan bank konvensional. Dengan konsep bagi hasil yang ditawarkan oleh bank syariah diharapkan mampu menyaingi konsep bunga yang lebih dulu di tawarkan oleh bank konvensional. Begitupun dengan produk penyaluran daya bank syariah mempunyai produk-produk yang memiliki daya tarik sendiri dan pelayanan yang tidak menyulitkan calon nasabahnya meskipun ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh calon nasabahnya.
Pengaturan mengenai kegiatan Bank Syariah secara tegas ditentukan dalam pasal 1 angka 13 Undang-Undang No.10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang No 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, yaitu;
“ prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpan dana atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan prinsip syariah, antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil(Mudharabah), berdasarkan prinsip peyertaan modal(Mushaakah),prinsip jual beli barang(Murabahah), atau pembiayaan barang modal dengan memperoleh keuntungan (Murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (Ijarah) atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain”
3 Seperti yang telah tertera dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, bahwa perbankan syariah dalam melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prisip syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian.
Adapun tujuan prinsip kehati-hatian ini tidak lain agar bank-bank selalu dalam keadaan sehat sehingga likuid, solvent,dan profitable (menguntungkan). Dengan adanya prinsip kehati-hatian ini diharapkan kadar kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah dapat terus meningkat dan tidak ada lagi keraguan bagi masyarakat yang hendak menyimpan dananya di bank syariah4
Tahun 2008 dengan disahkan nya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, eksistensi bank syariah di Indonesia secara factual terus menguat dan menunjukan perkembangan yang sangat pesat5. Namun dengan maraknya kegiatan bisnis yang didasari oleh prinsip syariah sebagai dasar pembiayaannya sangat mungkin untuk terjadinya sengketa antara kedua pihak yang terkait. Pihak bank sebagai penyedia dana dengan pihak nasabah yang menerima dan menjalan usaha.
Pembiayaan merupakan salah satu aktivitas bank syariah maupun lembaga keuangan syariah lainnya dalam menyalurkan dana kepada pihak nasabah yang membutuhkan dana. Pembiayaan memberikan hasil yang paling besar diantara penyaluran dana lainnya yang dilakukan oleh bank syariah. Salah satu aspek penting dalam perbankan syariah adalah pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dimana penyedia uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara pihak bank dengan pihak lain mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah uang atau bagi hasil, karena pembiayaan (financing) merupakan salah satu tugas pokok untuk memenuhi pihak yang defisit6
4 . Trisadin P, Usanti, Transaksi Bank Syariah; Jakarta;Bumi Aksara,2015, hlm 98
5 . Abdurrauf, Penerapan Teori Akad Pada Perbankan Syariah ; Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah (Al-Iqtishad) Vol.
IV, 2012,hlm 15
6 . Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, Jakarta;Alvabet,2003,hlm 200
4 Produk pembiayaan syariah terbagi kedalam tiga kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaanya yaitu7
1. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan dengan prinsip jual-beli, yaitu dengan menggunakan akad murabahah.
2. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa, yaitu dengan menggunakan akad ijarah.
3. Transaksi pembiayaan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil, yaitu dengan akad musyarakah dan mudharabah
Mudharabah merupakan salah satu jenis akad yang dipergunakan dalam penyaluran dana di perbankan syariah. Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) mengaturnya dalam Fatwa DSN No. 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Mudharabah. Dalam prakteknya akad Mudharabah ini sangat popular dalam kegiatan usaha di perbankan syariah karena pembiayaan Mudharabah sendiri adalah akad kerja antara dua pihak yaitu antara penyedia dana ( Shahib al maal ) dengan pihak pelaksana usaha (Mudharib). Didalam akad Mudharabah, seorang Mudharib memperoleh modal dari pihak bank selaku penyedia dana untuk tujuan melakukan perdagangan atau perniagaan. Mudharib menyumbangkan tenaga dan waktunya untuk menjalankan usahanya sesuai ketentuan yang telah di tentukan dalam akad. Keuntungan yang diperoleh dalam kegiatan usaha tersebut akan dibagi sesuai dengan proposi yang terkandung dalam akad. Sedangkan jika kerugian yang timbul akan ditanggung oleh pihak shabib al maal dan Mudharib secara bersama-sama.8
Akad Mudharabah sendiri adalah salah satu ciri dari akad pembiayaan yang ada di perbankan syariah. Akad Mudharabah ini merupakan akad yang mengedepankan hubungan kerja sama antar pihak. Itu berarti hubungan antara Shabib al Maal dan Mudharib adalah mitra yang didasari saling menyimpan kepercayaan pada masing- masing pihak (Trust). Karena disyaratkan bahwa Mudharib adalah orang yang dapat dipercaya oleh Shabib al Maal maka seharusnya Shabib tidak diperolehkan untuk memintakan jaminan sebagai salah satu pengikat antara Mudharib dengan Shabib untuk
7 . Sri Indah Nikensari, Perbankan Syariah Prinsip Sejarah dan Aplikasinya (Semarang: PT. Pustaka Rizky Putra, 2012) hal. 134.
8 . Ascarya, Mecari Solusi Pembiayaan Bagi Hasil Perbankan Syariah; Jakarta; Bank Indonesia,2005, hlm 13
5 mengembalikan modal dengan keuntungan. Jika Shabib memintakan jaminan pada Mudharib dan menyatakan hal ini dalam akad maka akad tersebut tidak sah9
Akad menjadi hal yang sangat penting terutama dalam melaksanakan akad pembiayaan Mudharabah di bank syariah. Akad sebagai bentuk sebuah perjanjian mempunyai potensi untuk timbul masalah yang disebabkan oleh akad tersebut, baik yang disebabkan oleh wanprestasi dari salah satu pihak yang terikat atau akibat yang ditimbulkan oleh pihak ketiga yang tidak terikat akad, namum memilki pengaruh terhadap para pihak yang terikat akad.
Bank x syariah pada wilayah Bandung merupakan salah satu bank syariah yang menjalankan kegiatan perbankannya mengunakan prinsip syariah. Lokasi dari bank x syariah ini ada di jalur kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Bank x syariah pada wilayah bandung ini mempunyai beberapa produk pembiayaan yang dapat ditawarkan kepada calon nasabahnya yaitu pembiayaan Mudharabah, Musyarakah, dan Murabahah10.
Pembiayaan Mudharabah pada bank x syariah merupakan salah satu produk yang dikeluarkan oleh pihak bank x syariah pada wilayah Bandung. Sebelum pihak bank memberikan persetujuan kepada calon nasabah yang akan menggunakan produk pembiayaan kepada calon nasabahnya, pihak Bank x syariah terlebih dahulu melakukan analisa untuk menentukan apakah anggota tersebut layak untuk dibiayai atau tidak. Hal tersebut membuktikan bahwa Pihak bank x syariah sangat berhati-hati dalam pemberian pembiayaan yang diajukan oleh calon nasabahnya. Sekurang- kurangnya Pihak bank x syariah melakukan 10 (sepuluh) tahapan sebelum menyetujui pembiayaan yang di ajukan oleh calon nasabahnya.
1. Calon nasabah mengajukan permohonan pembiayaan kepada pihak bank x 2. Pihak bank x melakukan BI checking
3. Pihak bank melakukan pemeriksaan daftar hitam nasabah pada calon nasabah 4. Appraisal agunan
5. Pihak bank x melakukan analisa keuangan calon nasabah 6. Pihak bank x membuat proposal untuk diajukan sesuai limit
9 . Sutan Remi Sjahdeini, Perbankan Islam , Jakarta ;PT. Pustaka Utama Grafiti, 2007,hlm 33
10 . Hasil wawancara dengan Pimpinan Cabang bank X syariah pada tanggal 20 Desember 2018 pukul 11.24 – 14.48 WIB.
6 7. Pihak bank x akan mempresentasikan kepada Komite Pemantau Kredit
8. Pihak bank x akan memberitahu kepada calon nasabah apabila permohonan pengajuan pembiayaan disetujui atau tidak disetujui oleh pihak komite kredit
9. Jika pihak komite kredit tidak setuju dengan permohonan pengajuan pembiayaan maka pihak bank x akan menegosiasi kembali ke pihak komite kredit agar ditemukan jalan keluar
10. Pihak komite kredit juga melihat performa pihak bank x melalui Non Performing Financing (NPF)
Terdapat 4 (empat) kategori collectibility dalam pembayaran angsuran pembiayaan pada Bank x syariah yaitu kategori lancar, kurang lancar, diragukan dan macet. Pada bank x syariah terdapat 4 (empat) kuadran nasabah yakni nasabah mau bayar, nasabah mampu tapi tidak melakukan pembayaran, nasabah yang tidak mampu namun mau bayar, dan nasabah tak mampu dan tak mau bayar. Maka ,dalam hal ini pihak bank x syariah sangat menitikberatkan pada kejujuran pada anggota yang akan mengajukan pembiayaan. Pihak anggota yang mengajukan pula harus siap untuk menerima kerugian apabila kegiatan usahanya tidak berjalan dengan seharusnya11.
Bank x syariah pada wilayah Bandung dalam melaksanakan akad Mudharabah nya selaku pihak yang memilki dana memberikan batasan terhadap dana yang akan di investasikannya, Mudharib selaku penerima dana hanya bisa mengelola dana sesuai dengan pemintaan atau persyaratan dari pemilik dana yang dapat berupa jenis usaha, tempat dan waktu tertentu.
Meski telah dilakukan analisis sedemikian rupa, dalam pelaksanaan pembiayaan ini masih terdapat nasabah yang akhirnya menunda-nunda kewajiban dalam pembayarannya atau wanprestasi. Akibat dari wanprestasi ini akan sangat mempengaruhi tingkat pendapatan suatu lembaga keuangan manapun baik bank maupun non bank tak terkecuali Bank x syariah pada wilayah Bandung ini.
Oleh karenanya lembaga keuangan syariah khususnya Bank x syariah melakukan suatu tindakan yang diberlakukan kepada anggota yang akan mengajukan permintaan pembiayaan khususnya terhadap anggota yang menunda-nunda pembayaran atau
11 . Hasil wawancara dengan Pimpinan Cabang bank X syariah pada tanggal 20 Desember 2018 pukul 11.24 – 14.48 WIB
7 wanprestasi. Untuk meminimalisir resiko tersebut, maka pihak bank x syariah memberikan sanksi berupa denda atau dikenal dengan istilah Ta’zir. Ta’zir yang dikenakan dapat berupa sejumlah uang yang bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya.
Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional NU 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Terhadap Nasabah Mampu yang Menunda-Nunda Pembayaran, terhadap beberapa poin yang menjadi poin pengajuan denda kepada nasabah yang melalukan akad pembiayaan di Lembaga keuangan syariah:
1. Nasabah yang mampu membayar angsuran namun menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi (denda). Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi
2. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir, yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya.
3. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani
4. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, dalam menangani nasabah yang menunda-nunda angsuran pembiayaan dengan beberapa strategi, salah satunya adalah dengan mengenakan sanksi. Sanksi yang diberikan adalah berupa denda sejumlah uang. Besaran denda yang diberikan sebesar seribu rupiah tiap satu hari apabila telah melewati 3 (tiga) hari dari masa tanggal pembayaran angsuran.
Jumlah denda tersebut akan diakumulasikan dan dapat terlihat di akhir saat anggota melunasi angsurannya.
Dari poin diatas jelas bahwa Lembaga Keuangan Syariah khususnya Bank Syariah dapat menerapkan sanksi denda pada akad pembiayaan dengan memperhatikan kriteria dari Mudharib yang terlambat melakukan keterlambatan pembayaran. Tapi jika diperhatikan kembali, maka penerapan sanksi denda ini masih menjadi pro dan kontra dikalangan para ahli dan masyarakat yang menggunakan jasa dari bank syariah. Sekilas hal ini mirip dengan bunga pada bank konvensional. Hal inilah yang memunculkan perbedaan pendapat dalam ketentuan sanksi denda ini. Menurut peneliti dalam hal ini
8 konsep pembiayaan dengan akad Mudharabah ini adalah akad yang didasarkan pada kepercayaan antar pihak (Trust) atau kemitraan. Tapi mengapa kemudian harus ada sanksi denda didalam akad pembiayaan Mudharabah ini sebagai pengikat bahwa pihak Mudharib tidak akan melakukan apa yang dapat merugikan Shabib sebagai pemberi dana dan sanksi denda ini dinyatakan dalam akad terlebih dahulu.
Penerapan sanksi denda ini mengundang kontroversi. Sekilas hal ini mirip seperti bunga yang merupakan bagian dari riba,dengan perbedaan pada pengakuan dan perhitungannya. Hal inilah yang memunculkan ikhtilaf atau perbedaan pendapat dalam ketentuan sanksi denda ini Apalagi dalam praktiknya di perbankan syariah, celah-celah untuk terjerumus dalam riba sangatlah besar. Seperti halnya dana ta‟zir, walaupun masuk kedalam rekening dana sosial, namun tetap dana tersebut masih dalam penguasaan bank sehingga akan menimbulkan kecendrungan penyalahgunaan dana tersebut. Tidak jarang bank-bank syariah yang menyalahgunakan uang dari denda tersebut untuk keuntungan bak itu sendiri.
Prof. Dr. Al Qarh Daghi dalam bukunya bahwa hal ini pernah terjadi pada sebuah bank syariah di Timur Tengah,
“Direksi mendapat izin dari dewan syariah untuk menarik Late Charge dengan syarat dana tersebut diakui seluruhnya sebagai dana sosial. Namun dengan berbagai alasan pihak direksi berhasil mendapat izin dari dewan syariah untuk mengambil biaya ganti rugi akibat kredit macet dari dana Late Charge. Ternyata melalui akuntannya pihak direksi berhasil meraup seluruh dana sosial untuk ganti rugi kredit macet yang dialami bank”12
Penyaluran dana sosial, bank syariah melakukan penyaluran baik melalui sebuah lembaga zakat misalnya, ataupun secara langsung, mereka akan mencantumkan logo bank syariah mereka. Hal ini bisa menjadi ajang promosi bagi bank syariah. Sehingga secara tak langsung bank syariah dapat mengambil keuntungan atau manfaat dari dana sosial tersebut.
Begitu juga dalam penerapan ta‟widh yang merupakan ganti rugi bagi biaya- biaya yang dikeluarkan oleh bank yang hanya boleh diterapkan pada nasabah wanprestasi secara sengaja padahal mampu. Dalam praktiknya, bank syariah tidak melihat sebab dari kelalaian nasabah tersebut, apakah memang dengan kesengajaan atau memang karena
12 . Erwandi Tarmizi, Harta Haram Muamalat Kontemporer; Jakarta, 2008, hlm.409.
9 force majeur. Dan juga dari jumlah yang dikenakan yang bahkan sampai 15% dari sisa pembiayaan yang belum terbayar13.
Berdasarkan beberapa fakta di atas, peneliti sangat tertarik untuk menggali dan menelisik lebih dalam lagi terkait penerapan denda dalam mengatasi penundaan angsuran pembiayaan pada Bank X syariah pada wilayah Bandung dan bagaimana pihak bank x syariah mengelola denda. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian ini lebih terfokus pada penerapan denda berdasarkan undang-undang yang berkaitan dengan denda, berdasarkan Fatwa MUI dan peraturan lainnya yang berkaitan dengan penerapan denda pada produk pembiayaan di bank x syariah. Berdasarkan permasalahan ini, maka peneliti akan melakukan penelitian dengan judul : “PENERAPAN DENDA PADA AKAD MUDHARABAH DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH” dan peneliti akan melakukan penelitian ini pada salah satu bank yang ada di Kabupaten Bandung yaitu BANK X SYARIAH PADA WILAYAH BANDUNG
13 . Muis Hidayat, Analisis Penerapan Fatwa DSN-MUI No.43/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Ta‟widh Pada Pembiayaan Murabahah di PT Bank Syariah Bukopin; Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah; Jakarta, 2010,hlm 48-61.
10 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah pada bank x syariah ini sesuai dengan prinsip syariah pada Hukum Islam ?
2. Bagaimana konsep penerapam denda pada akad pembiayaan Mudharabah di bank x syariah wilayah Bandung ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1. Mengetahui apakah penerapan denda pada akad Mudharabah yang dilakukan oleh Bank X pada wilayah Bandung sudah sesuai dengan prinsip Syariah pada Hukum Islam.
2. Mengetahui bagaimana penerapan denda pada akad Mudharabah yang ada di Lembaga Keuangan Syariah khusus nya Bank X Syariah pada wilayah Bandung.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, dapat memberikan manfaat berupa sumbangan pemikiran bagi ilmu hukum pada umumnya, khususnya dalam pemahaman penanganan penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah yang ada di Lembaga Keuangan Syariah khususnya Bank X Syariah pada wilayah Bandung
2. Kegunaan praktis dapat memberikan kontribusi bagi pemberi keputusan bagi masyarakat atau pihak terkait lainnya sebagai bahan pertimbangan dan dapat diaplikasikan jikalau dimasa yang akan datang akan melakukan kegiatan pembiayaan dengan akad Mudharabah di Bank X Syariah pada Wilayah Bandung
11 E. Hipotesis
Hipotesis sementara dari penelitian yang hendak diambil adalah bahwa salah satu lembaga keuangan syariah yakni Bank X Syariah pada wilayah Bandung dalam menerapkan denda pada akad pembiayaan Mudharabah tidak menyimpang dari Undang- Undang, Fatwa MUI, Hukum Islam dan peraturan terkait lainnya. Hal tersebut dapat dibuktikan dari pemantauan awal yang sudah peneliti lakukan, Bank X Syariah pada wilayah Bandung selaku objek penelitian peneliti dalam wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2018 dengan pimpinan kantor cabang Bank X syariah disimpulkan penerapan denda yang dilakukan pihak bank tersebut hanya sebatas tindakan pendisplinan terhadap nasabah yang menunda-nunda pembayaran. Namun sebelum pihak bank menerapkan denda tersebut, pihak bank sudah memastikan bahwa pihak nasabah yang akan melaksanakan akad Mudharabah pada pembiayaannya,akan ada denda yang diterapkan pada akad tersebut yakni seribu rupiah(1.000) per hari dan akan dihitung saat 3(tiga) hari setelah tanggal jatuh tempo. Sebelum penerapan denda ini dimintakan kepada nasabah yang bersangkutan, pihak bank tidak serta merta tapi di ingatkan terlebih dahulu sampai dengan SP (Surat Peringatan) 4 (empat). Maka dengan hal ini pihak bank tidak melanggar ketentuan yang ada untuk penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah. Namun dalam pengelolaan denda yang dilakukan oleh pihak bank x syariah masih belum sepenuhnya transparant. Sehingga pihak nasabah tidak mengetahui pasti berapa jumlah dana denda yang di distribusikan oleh pihak ban x syariah ke dana sosial F. Metode Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari suatu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan cara menfanalisanya. Selain itu juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul dalam gejala tersebut.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahu tentang persoalan –persoalan yang terdapat dalam penerapan denda Mudharabah yang diterapkan pada salah satu Bank Syariah yakni Bank X Syariah pada wilayah Bandung. Maka penulis perlu menggunakan metode penelitian untuk mengamati permasalahan yang sudah dipaparkan dalam latar belakang
12 penulisan penelitian ini. 14Dengan maksud mencari tahu atas suatu atau beberapa permasalahan tersebut maka dalam penelitian itu, penulis akan membagi rencana penelitian sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Analistis. Dalam penelitian ini penulis membuat penjelasan secara sistematis, factual,dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Dalam arti ini penulis ingin mengdeskriptif kan tentang penerapan denda akad Mudharabah yang ada dalam kegiataan pembiayaan di Bank syariah. Lalu penulis akan menganalistis bagaimana sebenarnya penerapan yang denda yang terjadi di bank-bank syariah. Penulis perlu mencari atau menerangkan tentang denda dalam akad pembiayaan Mudharabah di Bank X Syariah apakah penerapan denda ini sudah sesuai dengan apa yang tertera pada prinsip syariah, sehingga juga penulis memerlukan hipotesis. Namun demikian selain penulis menjelaskan tentang penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah di bank X syariah atau kejadian yang sudah berlangsung pada saat penulis melakukan penelitian. Deskriptif analistis juga dirancang untuk membuat komparasi maupun untuk mengetahui hubungan atas satu variable kepada variable lainnya15. Dalam penelitian ini metode desktiptif analistis digunakan untuk menjelaskan mengenai penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah di lembaga keuangan Syariah khususnya Bank X Syariah pada wilayah Bandung 2. Metode Pendekatan
Pada penelitian ini,peneliti akan mengunakan pendekatan dengan metode Yuridis Sosiologis. Penulis akan melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yakni penelitian yang berupaya menghimpun data, mengolah dan menganalisisnya serta menafsirkannya secara kualitatif. Secara metodologis penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu penelitian yang bersifat atau mempunyai karakteristik bahwa datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau sebagaimana adanya (Natural Setting) dengan tidak merubah dalam bentuk
14 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2007, hlm 27-28
15 https://www.sttistikian.com/2017/02/. Diakses pada tanggal 01 Oktober 2018
13 simbol-simbol atau kerangka.Penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dilakukan karena berusaha memotret gambaran proses penerapan denda pada akad Mudharabah di lembaga keuangan syariah dengan melakukan studi lapangan ke Bank X Syariah pada wilayah Bandung . Peneliti ingin melihat dengan metode sosiologis yang berarti melihat langsung bagaimana penerapan denda pada akad pembiayaan khusus nya akad Mudharabah tidak hanya secara teori namun juga asas-asas yang berlaku dengan apa yang terjadi sesungguhnya di dalam praktiknya
S. Nasution mendefinisikan penelitian yuridis sosiologis sebagai penelitian yang memilah sejumlah karakter yang memungkinkan seorang peneliti memperoleh informasi dari observasi wawancara dan partisipasi langsung16. Metode penelitian yuridis sosiologis adalah suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan nyata masyarakat atau lingkungan masyarakat dengan maksud dan tujuan untuk menemukan fakta (fact-finding), yang kemudian menuju pada identifikasi (problem-indetification) dan pada akhirnya menuju kepada penyelesain masalah (problem- solution)17. Pendekatan sosiologisini merupakan pendekatan yang mendasarkan pada pandangan positif yang berpegah teguh pada korespondensi tentang kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah antara teori dan yang terjadi pada kenyataannya. Pendekatan sosiologis ini dilakukan secara turun langsung ke lapangan. Dalam kaitannya dengan penelitian yuridis sosiologis, akan digunakan beberapa pendekatan , yaitu :
A. Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach )
Pendekatan dengan menggunakan leslasi dan regulasi. Pendekatan ini dilakukan dengan cara menelaah semua perundang-undangan yang bersangkutan dengan persoalan dalam penelitian baik itu legislasi maupun regulasi yang memiliki keterkaitan dengan rumusan masalah dalam penelitian ini.
B. Pendekatan Konsep (Conceptual Approach )
Pendekatan konseptual dilakukan apabila dalam peraturan perundang-udangan hanya memberikan makna yang bersifat umum, sehingga perlu membangun
16. S. Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah, Bandung; Jemmers ,1982, hlm 12-14
17 . Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta ;Universitas Indonesia, UI-press ,1982 hlm 10
14 konsep yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian. Pendekatan konseptual dilakukan dengan menujuk pada prinsip-prinsip hukum yang dapat ditemukan dalam konsep-konsep doktrin hukum.
G. Teknik Pengumpulan Data
Untuk penelitian tentang penerapan denda pada akad pembiayaan Mudharabah di lembaga keuangan syariah khusus nya bank X Syariah pada wilayah Bandung. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur melalui pendekatan yuridis sosiologis, maka teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan dan menganalisis bahan-bahan hukum. Sedangkan studi lapangan digunakan untuk mengumpulkan data primer yang diperoleh dari instansi yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis.
a. Data primer
yaitu data yang dianggap sebagai data yang dianggap sebagai data yang utama dalam penelitian, dan sumbernya adalah data primer. Data primer ini diperoleh dari hasil wawancara staff atau karyawan yang ada di Bank X Syariah pada wilayah Bandung.
b. Data Sekunder, yaitu data yang diambil dari sumber yang tidak langsung memberikan pengumpulan data. Data sekunder ini diperoleh penulis dari hasil bacaan, seperti buku-buku, makalah, jurnal, artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Data penelitian ini juga diperoleh dari data yang ada di Bank X Syariah pada wilayah Bandung.
1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Contohnya adalah perundang-undangan dan yurisprudensi. Dalam penelitian ini, bahan hukum yang akan digunakan adalah Undang-Undang yang berkaitan dengan perbankan syariah dan Perbankan Syariah menurut hukum Islam
2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Contohnya adalah dokterin atau pendapat para ahli, hasil peneitian akademis, karya-karya ilmiah para sarjana, jurnal-jurnal dan tulisan lainnya yang bersifat ilmiah terutama yang berkaitan dengan penelitian permasalahan yang penulisnbahas. Penuli pun akan mengunakan salah satu sumber hukum nya adalah Fatwa yang berkaitan dengan perbankan syariah.
15 3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Contohnya adalah kamus umum, kamus istilah hukum dan lain-lainnya.
H. Metode Pengolahan Data
Data yang sudah terkumpul kemudian diolah. Pengolahan data umumnya dilakukan dengan cara :18
1. Pemeriksaan data (editing),
yaitu mengoreksi apakah data yang terkumpul sudah cukup lengkap, sudah benar, dan sudah sesuai/relevan dengan masalah. Data yang akan diperiksa adalah data dari hasil wawancara dengan pihak bank sebagai objek dari penelitian penulis
2. Penandaan data (coding),
yaitu memberi catatan atau tanda yang menyatakan jenis sumber data , pemegang hak cipta, atau urutan rumusan masalah. Penulis akan melakukan penandaan setelah dilakukan wawancara dengan pihak bank
3. Rekonstruksi data (reconstructing),
yaitu menyusun ulang data secara teratur, berurutan, logis sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan.
4. Sistematisasi data (sistematizing),
yaitu menempatkan data menurut kerangka sistematika bahasan berdasarkan urutan masalah.
I. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penelitian ini akan dibagi menjadi lima bab. Adapun pembagian tersebut bertujuan agar lebih sistematis dan mudah dalam memahami setiap pembahasan. Tiap-tiap bab terdiri dari beberapa sub-bab yang akan menjelaskan komponen-komponen dari permasalahan.
Bab 1 : Pendahuluan
18 . Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum ,Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2004, hlm.52.
16 Bab ini merupakan bab pendahuluan. Bab ini dibagi lagi menjadi sub-bab yaitu identifikasi masalah dimana penulis menuliskan latar belakang masalah, permasalahan yang akan penulis pecahkan, lalu tujuan dari penelitian ini, selanjutnya kegunaan dari penelitian yang akan dilakukan, lalu metode penelitian apa yang akan dipakai oleh penulis untk penelitian ini.
Bab 2 : Tinjauan Pustaka
Bab ini memuat tentang Akad Mudharabah dan Denda dalam Undang-Undang Perbankan Syariah, Hukum Islam, dan Dasar Hukum yang berkaitan dengan Akad Mudharabah
Pada bab ini penulis akan membahas daripada tinjauan umum mengenai akad-akad yang ada pada sistem perbankan syariah secara umum menurut hukum islam dan perbankan syariah menurut Hukum Nasional, baik menurut undang-undang maupun fatwa.
Bab 3 : Hasil Penelitian Terhadap bank X Syariah Pada Wilayah Bandung
Bab ini akan membahas tentang gambaran umum hasil penelitian wawancara pada Bank X syariah pada wilayah Bandung terkait permasalahan penerapan denda x pada akad pembiayaan Mudharabah
Bab 4 : Analisis Terhadap Penerapan Denda pada Akad Mudharabah pada Bank X pada wilayah Bandung
Bab ini akan membahas tentang analisis penerapan denda bagi nasabah yang tidak menepati janji pembayaran, pengelolaan denda pada bank x dan analisis penerapan denda pada akad Mudharabah menurut Undang-Undang Perbankan Syariah,Fatwa NU 17/DSN-MUI/IX/2000 Tentang Sanksi Terhadap Nasabah Mampu yang Menunda-Nunda Pembayaran dan Prinsip Syariah dalam Hukum Islam
Bab 5 : Penutup
Bab ini akan berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. Kesimpulan diperoleh berdasarkan uraian dan penjelasan secara keseluruhan dari bab-bab terdahulu.
Sedangkan saran-saran merupakan usul dari penulis terhadap topik yang dibahas.