• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. (egg shell) dengan bobot sekitar 11 %, putih telur (albumin) dengan bobot sekitar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. (egg shell) dengan bobot sekitar 11 %, putih telur (albumin) dengan bobot sekitar"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Latar Belakang

Telur merupakan salah satu produk unggas yang memiliki kandungan gizi tinggi. Secara umum telur unggas terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kulit telur (egg shell) dengan bobot sekitar 11 %, putih telur (albumin) dengan bobot sekitar 58 %, dan kuning telur (yolk) dengan bobot sekitar 31 % (Aryani, 2006).

Kandungan nutrisi tiap jenis telur berbeda-beda. Menurut Coutts dan Wilson (2007), sebutir telur ayam kurang lebih mengandung energi 313 kilojoules yang 80 % berasal dari kuning telur. Kandungan nutrisi sebutir telur terdiri dari 6,3 g protein, 5,0 g lemak (termasuk di dalamnya 0,21 g kolesterol), dan 0,6 g karbohidrat. Sarjono dkk. (2005) menyebutkan kandungan nutrisi telur itik tiap butir antara lain lemak 35,28 %, protein 29 %, dan karbohidrat 1,1 %.

Telur itik menyumbang 16,5 % dari total produksi telur nasional sebesar 1.602.000 ton pada tahun 2013 (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2014).

Data statistik peternakan Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (2014), menunjukkan bahwa produksi telur itik di Propinsi DIY tahun 2013 sebanyak 3.366,6 ton/tahun atau 10,99% dari total produksi telur di DIY sebanyak 30.612,02 ton. Kabupaten Bantul menyumbang produksi telur itik sebesar 35,39 % dari total produksi telur di Provinsi DIY.

Telur itik mempunyai peran yang penting dalam industri kuliner di Yogyakarta. Kuliner khas Yogyakarta seperti gudeg Jogja, bakmi Jawa,

martabak, dan telur asin memerlukan telur itik sebagai bahan dasarnya. Menurut

(2)

Anas (2015), potensi ekspor telur itik masih terbuka karena kebutuhan telur itik di pasar internasional sangat besar dan tidak seimbang antara permintaan dan persediaan yang ada. Produksi telur itik di Kabupaten Bantul dihasilkan oleh itik jenis Turi. Saat ini pengembangan itik Turi tengah digalakkan di Kabupaten Bantul karena itik Turi merupakan sumberdaya genetik ternak Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan (Kepmentan No.665/Kpts/SR.120/6/2014).

Secara garis besar sistem pemeliharaan itik di Kabupaten Bantul dibedakan menjadi tiga, yaitu pemeliharaan secara ekstensif, intensif, dan semi intensif. Pemeliharaan dengan sistem ekstensif dilakukan dengan cara itik diumbar di areal persawahan yang sedang panen pada pagi dan sore hari untuk mencari makan sendiri. Lokasi penggembalaan berpindah-pindah dari kecamatan satu ke kecamatan yang lain tergantung lokasi panen yang tersedia. Sistem pemeliharaan intensif dilakukan dengan cara itik tetap berada di kandang dan disediakan pakan berupa konsentrat, jagung, nasi aking, atau limbah rumah makan. Sistem pemeliharaan semi intensif dilakukan dengan cara itik diumbar pada saluran irigasi di sekitar lokasi kandang sekali sehari selama 1-2 jam (Susetyo, 2015).

Itik berpotensi mengalami bioakumulasi pestisida organoklorin atau lainnya karena habitat dan pakan alaminya berupa keong, remis, udang, ikan, dan tumbuhan air. Menurut Munawir (2010), bioakumulasi organoklorin terjadi melalui rantai makanan. Residu organoklorin dijumpai di seluruh kompartemen

lingkungan mulai dari udara, tanah, danau, lautan, sedimen, dan binatang di seluruh dunia (Sudaryanto dkk., 2005).

(3)

Pestisida organoklorin merupakan pestisida yang berfungsi sebagai

insektisida. Penggunaan terbesar di bidang pertanian, perkebunan, dan kesehatan.

Di Indonesia, penggunaan pada bidang pertanian dilarang pada tahun 1974, sedangkan penggunaan pada bidang kesehatan untuk memberantas vektor penyakit malaria baru dihentikan pada tahun 1995 (Sudaryanto dkk., 2005).

Organoklorin mempunyai sifat persisten sehingga keberadaannya di lingkungan bertahan sangat lama. Organoklorin masih ditemukan di lingkungan dan makhluk hidup dalam jangka waktu 40 tahun, serta terdistribusi secara global sampai ke daerah terpencil yang tidak pernah dilaporkan penggunaannya pada daerah tersebut (Sudaryanto dkk., 2007). Menurut Indraningsih dan Sani (2004), residu pestisida yang terdeteksi dari lingkungan (tanah, air, dan sedimen) diduga sebagai sumber kontaminasi pada produk pertanian dan ternak.

Dampak buruk pengunaan pestisida organoklorin adalah pencemaran lingkungan yang berpengaruh pada kesehatan manusia. Intoksikasi kronis senyawa organoklorin dan derivatnya diduga sebagai pemicu kanker, gangguan pertumbuhan, dan mengganggu fungsi endokrin termasuk hormon tiroid (Center for Environmental Research and Children’s Health, 2012). Beberapa senyawa bersifat sangat toksik terhadap biota perairan dan mengancam kepunahan beberapa spesies hewan (Sudaryanto dkk., 2005).

Keberadaan residu pestisida organoklorin di Kabupaten Bantul telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Laudensius dkk. (2002) meneliti tentang residu organoklorin pada bulu walet sarang putih di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan 10% sampel (n = 10) terdeteksi adanya residu heptaklor

(4)

dengan konsentrasi 0,5855 ppm, sedangkan 40 % sampel terdeteksi p,p’ DDD dengan konsentrasi 0,0929 ppm. Residu aldrin juga ditemukan pada sampel tanah di desa Srigading, Bantul sebesar 4,8 ppb dan pada sampel air sebesar 1 ppb.

Residu dieldrin pada sampel tanah sebesar 64,8 ppb dan pada air sebesar 1,2 ppb (Narwanti dkk., 2008). Hasil kajian mengenai perubahan kualitas air sungai Winongo di Kabupaten Bantul dari tahun 2003 sampai dengan 2012 menunjukkan bahwa sampel air mengandung aldrin sebesar < 0,15 ppb dan dieldrin < 0,17 ppb (Permana dan Widyastuti, 2013).

Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia (Peraturan Pemerintah RI No.28, 2004). Penjaminan keamanan pangan dilakukan melalui kegiatan pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standarisasi, sertifikasi, dan registrasi (BKP, 2013).

Banyaknya jenis pestisida yang digunakan saat ini merupakan tantangan bagi laboratorium dalam melakukan deteksi terhadap ada tidaknya residu pestisida yang terkandung dalam suatu bahan pangan. Dalam satu sampel bahan pangan dimungkinkan terdapat lebih dari satu macam residu. Metode analisis multi residu adalah metode untuk mendeteksi keberadaan beberapa analit dalam satu unit sampel (O’kefee dan Ortiz, 2014). Menurut Stefanelli dkk. (2009), metode QuEChERS (Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged and Safe) pertama kali dipublikasikan oleh Anastaciade dkk. tahun 2003 dikenal sebagai QuEChERS original method digunakan untuk analisis multi residu, pada tahun 2005

(5)

dipublikasikan metode QuEChERS versi Association of Official Analytical Chemists (AOAC), dan pada tahun 2008 dipublikasikan metode QuEChERS versi Uni Eropa yang dikenal sebagai EN 15662. Ketiga metode tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan analisis residu pada pangan dengan mempercepat waktu analisis dan meminimalkan penggunaan pelarut.

Metode preparasi QuEChERS merupakan metode preparasi yang cepat, mudah, murah, efektif, kuat, dan aman. Kit QuEChERS komersial tersedia dengan berbagai merk dagang dan beragam spesifikasi. Metode preparasi QuEChERS digunakan untuk mempreparasi sampel bahan pangan segar yang akan dilakukan analisis multi residu maupun residu tunggal (Restek, 2011).

Penggunaan kit QuEChERS disesuaikan dengan matrik yang akan dianalisis, peralatan, dan metode yang akan diacu (Zanella dkk., 2010) . Validasi ulang perlu dilakukan terhadap penggunaan kit QuEChERS yang dimodifikasi sebelum metode tersebut digunakan, sesuai dengan ketentuan SNI ISO/IEC 17025:2008.

Menurut Magnuson dan Ornmark (2014) pemilihan parameter validasi yang diukur bergantung pada jenis metode yang akan divalidasi.

Gas chromatography – mass spectrometry (GC-MS) merupakan alat yang

sesuai untuk melakukan analisis multi residu pestisida organoklorin karena pestisida organoklorin mempunyai polaritas yang rendah (Afful dkk., 2010).

Senyawa yang dapat dianalisis menggunakan GC-MS adalah senyawa yang mempunyai polaritas rendah, stabil terhadap pemanasan, dan bersifat volatil.

Detektor MS mampu melakukan identifikasi banyak analit dengan cepat dan mempunyai sensitivitas yang tinggi (Chromeacademy, 2015).

(6)

Rumusan Masalah

Dari latar belakang penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Saat ini kit QuEChERS komersial khusus untuk analisis telur belum tersedia, sehingga untuk menganalisis telur perlu dipilih kit yang diperuntukkan untuk analisis komoditas yang lain. Pemilihan kit harus disesuaikan dengan karakter dari jenis sampel. Telur mengandung lemak yang tinggi, apakah kit QuEChERS komersial untuk analisis pestisida dalam buah berlemak dapat digunakan untuk analisis residu organoklorin dalam telur itik?

2. Residu pestisida organoklorin masih terdeteksi di lingkungan persawahan, perairan, dan biota yang merupakan habitat dari itik di Kabupaten Bantul.

Apakah residu organoklorin juga terdeteksi dalam telur itik ?

Tujuan Penelitian

Mengetahui validitas metode analisis multi residu pestisida pada telur itik yang digunakan pada penelitian ini dan mendeteksi residu pestisida organoklorin dalam telur itik asal Kabupaten Bantul.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi laboratorium untuk melakukan pengujian multi residu organoklorin pada sampel telur itik menjadi efisien dan dapat memberikan informasi pada masyarakat tentang ada/tidaknya residu organoklorin pada telur itik yang berasal dari Kabupaten Bantul. Penelitian ini juga diharapkan menjadi dasar penelitian selanjutnya.

(7)

Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai pestisida organoklorin dan penggunaan metode QuEChERS telah dipublikasikan oleh beberapa peneliti (Tabel 1).

Tabel 1. Keaslian penelitian

No. Tahun Pengarang Judul Persamaan Perbedaan

1. 1983 Kahunyo J.K.M.

Organochlorin Pesticide Residues In Chicken Fat and Egg

Jenis residu pestisida organoklorin

Metode analisis, sampel yang dianalisis lemak ayam dan telur ayam 2 2008 Homeida

A.G.M.

Organochlorine Pesticidal Residues in Broiler Chicken Fat in Market of Eastern Region of Saudi Arabia

Jenis residu organoklorin

Metode analisis, sampel yang dianalisis lemak ayam

3. 2009 Stefanelli P., dkk.

Multiresidue analysis of organochlorine and pyrethroid

pesticides in ground beef meat by gas chromatographymass spectrometry

Tehnik preparasi menggunakan metode QuEChERS, analisis GC- MS

Jenis pestisida yang dianalisis organoklorin dan piretroid, sampel yang dianalisis daging sapi 4. 2010 Letohay

S.J., dkk.

Comparison Of QuEChERS sample preparation method for the analysis of pesticide residues in fruits and vegetables

Tehnik preparasi menggunakan metode QuEChERS, analisis GC- MS

Jenis sampel sayuran dan buah

5. 2008 Hanum S.N.

Penentuan multi residu pestisida Carbaryl,

Chlorpyrifos, dan Dimethoate dalam sayuran

menggunakan metode QuEChERS dan LCMS/MS

Menggunakan metode QuEChERS

Instrumen yang digunakan LCMS, jenis sampel sayuran, jenis pestisida yang dianalisis

Referensi

Dokumen terkait

Lebih lanjut Hardy &amp; Pazarbasioglu mengatakan bahwa krisis atau permasalahan berat pada industri perbankan dapat bersumber dari sektor riil, internal sektor perbankan,

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas diperoleh hasil bahwa penerapan model pembelajaran ATONG dapat meningkatkan kemandirian siswa pada mata pelajaran PKn materi

Puji syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

Maksud dari ayat tersebut ialah orang-orang yang tidak berdoa dan tidak mentauhidkan Aku (Allah), mereka akan dimasukkan ke Neraka dalam keadaan hina dan rendah (Alu

Suatu balok kayu terdapat sambungan apabila terjadi ukuran panjang bentang yang tidak tersedia, balok kayu pada umumnya menahan beban/gaya lentur sehingga balok kayu

Siswa, khususnya siswa yang berada pada kategori baik dan kurang baik bahkan siswa yang berada pada kategori cukup, hendaknya berusaha untuk memperbaiki serta

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purba dkk (2011) dimana sebagian besar tahanan di LAPAS Kelas IIB Lubuk Pakam, Kabupaten Deli

Työn tavoitteena oli määrittää ELY-keskuksen toimivalta-alueen tärkeimmät solmupysäkit ja erikseen valit- tujen kuntien keskuspysäkit sekä kuvata niiden nykytila