• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS WACANA IKLAN TELEPON GENGGAM DALAM BEBERAPA SURAT KABAR YANG TERBIT DI MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS WACANA IKLAN TELEPON GENGGAM DALAM BEBERAPA SURAT KABAR YANG TERBIT DI MAKASSAR"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh SUKRIADI 10533 5970 09

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

2013/2014

(2)

i Makasassar. Dibimbing oleh Siti Suwadah Rimang dan Muhammad Akhir.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kontruksi gramatikal, bahasa nonverbal, dan emotive words pada iklan yang ada dalam media cetak (surat kabar). Surat kabar Fajar, Kompas, dan Sindo.

Berdasarkan hasil analisis data ada beberapa permasalahan yang dijumpai kesalahan dalam pengguanaan kata dan penggunaan tanda baca, dalam sebuah wacana yang ada pada iklan di media cetak khususnya di iklan telepon genggam.

Penggunan bahasa tersebut juga banyak menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar bahkan ada kata yang tidak ada sama sekali dalam KBBI, sehingga dapat menimbulkan arti yang rancau dan bisa saja kurang diterima dalam masyarakat luas walaupun maksud dan tujuan dalam menyampaikan informasi menggunakan bahasa atau kata dalam menyusun wacana yaitu bahasa dengan kebanyakan dialeg jawa melalui sebuah iklan.

Kesalahan dalam penggunaan kata-kata dalam wacana pada sebuah iklan di media cetak terjadi karena kurangnya kesadaran peneliti dan editor untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, mereka beranggapan dengan penggunaan kata-kata yang kurang baku tetapi menarik itu diterima oleh masyarakat luas akan tetapi itu dapat mengurangi rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia.

Kata Kunci

Analisis kontruksi gramatikal, bahasa non verbal, dan emotif words.

(3)

ii Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak ada kata lain yang lebih baik diucapkan selain puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memberikan pertolongan kepada hamba-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Begitu pula shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw. serta keluarganya dan para sahabat-sahabat-Nya dan orang- orang yang mengikuti beliau. Dalam penulisan skripsi ini penulis mengalami berbagai hambatan dan kesulitan, namun hal itu dapat teratasi dengan baik berkat kerja keras dan tekad yang bulat serta bantuan dan dukungan dari semua pihak.

Penulis telah berusaha untuk menjadikan skripsi ini sebagai sebuah karya yang bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Namun di balik semua itu kesempurnaan tiada milik manusia kecuali milik yang Maha sempurna. Untuk itu, saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk perbaikan menuju kesempurnaan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa melangkah untuk mencapai suatu tujuan, hambatan dan rintangan menemani silih berganti. Namun, berkat rahmat dan hidayah-Nya disertai usaha dan doa serta ikhtiar sehingga semua itu dapat dijalani dengan ikhlas dan tawadhu.

Tak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu selama proses penyusunan skripsi ini, dan hanya kepada-Nya jualah penulis memohon balasan, semoga Allah memberkahi aktifitas kita semua.

Penulis

Sukriadi

Makassar, 2014

(4)

ombak dan kerjakanlah hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, karena hidup hanyalah sekali. Ingat

hanya pada Allah apapun dan dimanapun kita berada kepada Dia-lah tempat meminta dan memohon”.

“Kuolah kata, kubaca makna, kuikat dalam alinea, kubingkai dalam bab sejumlah lima, jadilah mahakarya, gelar sarjana kuterima, orang tua, calon istri, dan calon

mertuapun bahagia”

“Lebih baik terlambat daripada tidak wisuda sama sekali”

Persembahan

Kupersembahkan karya ini buat: Ayahanda Kamaruddin, Ibunda Nuhra, dan

saudaraku tercinta: Suardiman dan Suhendra Kardianto serta keluarga besarku

yang selalu mencurahkan perhatian dan kasih sayang disertai doa dan bimbingan

dengan penuh keikhlasan

.

(5)

xi

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

SURAT PERJANJIAN ... iv

SURAT PERNYATAAN... v

ABSTRAK ... vi

MOTTO ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 6

A. Kajian Pustaka... 6

1. Pengertian Wacana ... 6

2. Pengertian Analisis Wacana ... 10

B. Iklan... 13

1. Pengertian Iklan ... 13

2. Jenis Iklan ... 14

3. Klarifikasi Bagian-bagian Iklan ... 16

4. Ragam Gaya Bahasa Iklan ... 17

5. Fungsi Iklan... 18

(6)

xi

9. Efek Iklan ... 21

10. Strategi Periklanan ... 22

11. Kreatifitas Dalam Iklan ... 25

12. Penelitian Sebelumnya ... 26

C. Kerangka Konsep ... 27

BAB III METODE PENELITIAN... 29

A. Fokus dan Desain Penelitian ... 29

1. Fokus Penelitian ... 29

2. Desain Penelitian... 29

B. Batasan Istila ... 29

C. Sumber Data dan Data... 30

1. Sumber Data ... 30

2. Data ... 30

D. Tehnik Pengumpulan Data ... 30

E. Teknik Analisis Data ... 31

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Hasil Penelitian ... 32

B. Pembahasan... 32

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 58

A. Simpulan ... 58

B. Saran... 58 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP DAFTAR PUSTAKA

(7)
(8)

1 A. Latar Belakang Masalah

Kehidupan dewasa ini tidak terlepas dengan wacana, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis yang terdapat diberbagai media seperti surat kabar, telepisi, spanduk, baliho, dan media lainnya yang hampir setiap hari kita lihat, oleh karena itu wacana menjadi pilihan untuk menyampaikan sesuatu yang luas namun dalam pemakaian rangkaian kata cukup pendek tetapi dapat memberikan arti atau makna yang luas tanpa harus dijelaskan secara langsung dan mendetail. Berbicara tentang wacana tentu banyak yang dapat memaparkan ‘apa itu? analisis wacana seperti yang dipaparkan berbagai pakar bahasa.

Analisis wacana adalah telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa.

Seperti kita ketahui bahwa bahasa adalah salah satu ciri pembeda utama antara manusia dengan makhluk hidup lainnya di dunia ini. Dimana fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi vital dalam hidup ini. Kita menggunakan bahasa dalam kesinambungan atau untaian wacana. Tanpa konteks, tanpa hubungan wacana yang bersifat antar kalimat dan supra kalimat maka kita sulit berkomunikasi dengan tepat satu sama lain. Oleh karena itu, melalui wacana kita dapat saling menyapa, meminta, menyetujui, bertanya, memerintah maupun saling mengkritik.(Brown, 1980:189-190).

Analisis wacana bisa diterapkan pada semua bidang penelitian tetapi tidak bisa dipakai dengan menggunakan semua jenis kerangka teoritis. Analisis wacana tidak bisa digunakan sebagai metode analisis yang terlepas dari pondasi metodologis dan teoretisnya. Setiap pendekatan pada analisis wacana bukan hanya sekedar disajikan sebagai metode analisis data namun juga suatu keutuhan teoretis dan metodologis atau bisa dikatakan sebagai paket lengkap.

(9)

Istilah wacana dipergunakan untuk mencakup bukan hanya percakapan atau obrolan, tetapi pembicaraan di muka umum, tulisan serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dan sandiwara atau lakon. Wacana mencakup keempat tujuan penggunaan bahasa yaitu: ekspresi diri, eksposisi, sastra dan persuasi. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahas asecara alamiah tersebut berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari - hari. Iklan merupakan sebuah bentuk komunikasi yang bertujuan menyampaikan pesan kepada penyimak yang berisi sebuah produk yang diiklankan. Produk yang diiklankan tersebut disampaikan dengan bahasa khas serta diharapkan dapat mempengaruhi penyimaknya.

Kebutuhan manusia sangatlah beragam dan menuntut sebuah kepuasan.

Perkembangan kehidupan juga mempengaruhi perkembangan kebutuhan manusia sehingga terjadi banyak pergeseran kebutuhan. Kebutuhan yang dulunya lux kini telah tergeser menjadi sekunder. Selain itu juga, kebutuhan manusia akan penerimaan dari orang lain menyebabkan peningkatkan kebutuhan termasuk tentang iklan alat elektronik seperti telepon genggam.

Iklan atau dalam bahasa Indonesia formalnya pariwara adalah promosi benda seperti meja baru, jasa seperti kantor pos, tempat usaha dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor. Pemasaran melihat iklan sebagai bagian dari strategi promosi secara keseluruhan. Komponen lainnya dari promosi termasuk publisitas, relasi publik, penjualan, dan promosi penjualan. Iklan sebagai salah satu sarana pembawa pesan yang ingin di sampaikan oleh produsen kepada khalayak ramai yang telah memasuki seluruh bagian kehidupan dan hampir setiap hari kita melihat berbagai

(10)

iklan diberbagai media. Sebagaimana barang yang diproduksi oleh produsen tertentu sebelum dikonsumsi terlebih dahulu diiklankan, dengan adanya iklan diharapkan dapat membantu konsumen untuk memilih barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan atau produsen, misalnya tentang jenis barang, kegunaan barang, dan waktu penggunaan barang.

Iklan adalah salah satu bentuk komunikasi persuasif yang merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang bermaksud membujuk khalayak untuk memanfaatkan barang atau jasa. Banyak jenis-jenis iklan yang dapat digunakan untuk membujuk guna mengenal pesan yang disampaikan melalui iklan. Hanya saja komunikasi persuasif dalam periklanan memiliki audien yang tidak mengetahui secara pasti sumber pengirim, keputusan yang mereka buat, tergantung pada seberapa besar komunikator mempengaruhi atau meyakinkan mereka. Untuk itu diperlukan analisis yang terencana berdasarkan kaidah peneltian, guna mengukur seberapa besar efektivitas pesan melalui iklan dapat mempengaruhi keputusan audien/persuade.

Iklan merupakan bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk membujuk audiens (pemirsa, pembaca atau pendengar) untuk membeli atau mengambil beberapa tindakan atas produk, cita-cita, atau layanan. Periklanan juga dapat berfungsi untuk mengkomunikasikan ide untuk sejumlah besar orang dalam upaya untuk meyakinkan mereka untuk melakukan tindakan tertentu. Komersial pengiklan sering berusaha untuk menghasilkan peningkatan konsumsi dari mereka produk atau jasa melalui branding, yang melibatkan pengulangan foto atau nama produk dalam usaha untuk kualitas terkait diasosiasikan dengan merek dalam benak konsumen.

(11)

Berdasarkan pernyataan di atas peneliti sebelumnya di anggap perlu untuk meneliti wacana iklan karena iklan dapat mengubah prilaku calon konsumen yang awalnya tidak berniat membaca atau mendengarkan sebuah iklan menjadi tertarik untuk menyimak suatu iklan yang dipublikasikan melalui jenis media, baik dari media elektronik, surat kabar, spanduk, dan media lainnya. Bahkan calon konsumen dapat terpengaruh untuk menggunakan produk yang diiklankan (Martutik, 1992:1).

Karena topik wacana iklan menarik untuk diteliti, maka dilakukan penelitian proposal denganjudul “ Analisis Wacana Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar”. Peneliti angkat menjadi sebuah judul untuk diteliti karena melihat kondisi di lingkungan masyarakat terjadi perubahan bahasa dalam berkomunikasi sehari-hari yang menggunakan bahasa tidak baku atau gaya bahasa yang digunakan sesuai dialeg jawa, itu terjadi karena pengaruh gaya bahasa iklan yang terbit di media massa olehnya itu saya mencoba menggali masalah tersebut melalui penelitian pada skripsi ini agar dapat menunjang tentang bagaimna menggunakan bahasa sehari-hari tanpa melenceng dari penggunaan bahasa baku yaitu Bahasa Indonesia. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat memperkuat dan mendukung hasil penelitian sebelumnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana konstruksi gramatikal yang ada pada Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar?

(12)

2. Bagaimana bentuk bahasa non verbal yang dipakai pada Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar?

3. Bagaimana bentuk emotive words yang ada pada Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:

1. Untuk mendeskripsikan konstruksi gramatikal yang ada pada Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar.

2. Untuk mendeskripsikan bentuk bahasa non verbal yang dipakai pada Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar.

3. Untuk mendeskripsikan bentuk emotive words yang ada pada Iklan Telepon Genggam dalam beberapa Surat Kabar yang terbit di Makassar.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Dapat memberikan informasi kepada pengiklan dalam rangka peningkatan mutu sebuah iklan.

2. Sebagai bahan perbandingan bagi manusia yang ingin mengadakan penelitian serupa.

3. Bagi peneliti yang akan datang diharapkan dapat menjadikan referensi untuk penelitian selanjutnya.

(13)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka 1. Pengertian wacana

Istilah wacana merupakan padanan istilah discourse dalam bahasa inggris.

Istilah wacana ini diacukan pada satuan bahasa diatas kalimat. Wacana dapat diartikan sebagai ucapan perkataan atau tutur juga sebagai keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan, dan sebagai bahasa terlengkap yang realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh, seperti buku, novel dan artikel. Tetapi menurut KBBI, wacana adalah merupakan ucapan, perkataan, keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan.

Wacana menurut Stubbs (1983:10) adalah organisasi bahasa di atas kalimat atau di atas klausa, dengan kata lain unit-unit linguistik dari pada kalimat atau klausa, seperti pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis.

Secara singkat apa yang disebut teks bagi wacana adalah kalimat bagi ujaran atau utterance. Hakikat wacana telah diuraikan sebagian persyaratan terbentuknya wacana, yakni persyaratan berstruktur.

Pengertian wacana yang telah diuraikan oleh Stubbs bahwa wacana merupakan organisasi bahasa di atas kalimat dan di atas klausa hampir sama dengan pendapat Kridalaksana yang mengatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang terlengkap dan merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, separti yang diungkapkan Kridalakisana di bawah ini

Wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana1984:208).

6

(14)

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat itu, serta kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar diatas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan dan tertulis (J.S.Badudu, 2000).

Wacana adalah seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca.

Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus muncul dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan oleh penyimak atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan atau pengutaraan wacana itu (Deese,1984:72).

Isi wacana dalam surat kabar lebih menekankan pada fakta terjadinya suatu peristiwa di masyarakat yang secara jelas disajikan dengan mengikuti formula apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.

Konsep wacana yang lebih lengkap diungkapkan Sumarlam, dkk (2009:15) yang menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, khotbah, dan dialog atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren dan terpadu.

Wacana juga dapat dikategorikan berdasarkan saluran atau medisnya (lisan atau tulis) sehingga dapat diperoleh dua jenis wacana, yakni wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki karasteristik yang khas. Wacana lisan memiliki unsur latar dan pengiring nonkebahasaan yang menyebabkan wacana itu sering jelas justru dari latar dan unsur pengiringnya itu, sebagaimana para ilmu bahasa membagi wacana berbagai ragam.

(15)

Wacana memiliki banyak ragam, Djajasudarma (1994:6) membagi wacana dari 4 segi yaitu eksistensinya (realitasnya), media komunikasi, cara pemaparan, dan jenis pemakaian. Menurut realitasnya dibagi dua yaitu verbal dan nonverbal; dari segi media komunikasi dibagi 2 yaitu lisan dan tulis; dari segi cara pemaparan dibagi 5 yaitu naratif, deskriptif, prosedural, ekspositori, dan hortatori; dan dari segi jenis pemakaian dibagi 3 yaitu monolog, dialog, dan polialog.

Wacana teks memiliki strukturnya yaitu struktur gramatikal dan leksikal (Sumarlam, 2009). Struktur gramatikal meliputi pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (konjunction), sedangkan struktur leksikal terdiri atas 6 bagian yaitu repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas- bawah), antonimi (lawan kata) dan ekuivalensi (kesepadanan).

Dari sumber- sumber di atas, dapat dilihat adanya unsur-unsur penting wacana sebagai berikut: satuan bahasa, terlengkap dan terbesar/ tertinggi, diatas kalimat/klausa, teratur/rapi/rasa koherensi, berkesinambungan/ kontinuitas, rasa kohesi/ rasa paduan, lisan dan tulis, serta awal dan akhir nyata.

Dalam batasan wacana tersebut terdapat frase yang berbunyi “satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi di atas kalimat atau klausa”. Bila diterima bahwa satuan bahasa secara linguistic mempunyai urutan dari yang terkecil sampai yang terbesar, maka urutan tersebut yaitu: fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana.

Pada dasarnya unit wacana merupakan unit alamiah dengan awal dan akhir, atau permulaan dan penutup yang nyata, dan sejumlah struktur internal. Dengan kata lain, unit wacana mempunyai struktur internal yang diorganisasi oleh sejumlah prinsip- prinsip formal dan kurtural, termasuk kedalam urutan kata,

(16)

struktur pohon, dan seluruh jaringan asumsi-asumsi sosial mengenai bagaimana caranya hal itu ada dan harus ada.

Di samping mempunyai ciri utama urutan kata, maka narasi sebagai unit wacana kreatif yang bersifat personal mempunyai bagian-bagian lain yaitu:

a. Abstrak b. Orientasi c. Koda

Urutan itu dapat disejajarkan dengan urutan kata awal/ permulaan, tengah, dan akhir/ penutup (Linde, 1981: 97).

Mills (1994) mengemukakan pengertian wacana berdasarkan pendapat Foucault bahwa wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan.

1. Berdasarkan level konseptual teoretis, wacana diartikan sebagai domain dari semua pernyataan, yaitu semua ujaran-ujaran atau teks yang

mempunyai makna dan mempunyai efek yang pasti dalam dunia nyata.

2 Wacana menurut konteks penggunaannya merupakan sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokkan ke dalam kategori konseptual tertentu.

3. Sedangkan menurut metode penjelasannya, wacana merupakan suatu

praktik yang diatur untuk menjelaskan sejumlah pernyataan.

2. Pengertian Analisis Wacana

Analisis terhadap wacana pada mulanya dipelopori oleh Zellig Harris pada tahun 1952 dengan menuliskan sebuah artikel yang berjudul Discourse

(17)

Analysis yang dimuat pada jurnal Language. Para linguist pada era tersebut disibukkan dengan analisis kebahasaan pada tataran morfologi dan sintaksis saja yang hanya mengkaji bahasa sampai pada tataran kalimat. Harris dalam artikelnya menuliskan tentang perlu dilakukannya analisis yang lebih komperehensif terhadap bahasa yang tidak berhenti pada tataran internal kebahasaan saja (kalimat), akan tetapi mengkaji lebih lanjut tataran eksternal yang menyelimuti tataran internal tersebut, yakni keterkaitan antara teks dengan kontesksnya. Analisis wacana baru mulai banyak dilakukan oleh para ahli pada tahun 1960-an. Renkema (2004:1) mendefinisikan analisis wacana sebagai disiplin ilmu yang mengkaji hubungan antara bentuk dan fungsi dalam komunikasi verbal. Brown dan Yule (1983:1) dalam bukunya yang berjudul Discourse Analysis menjelaskan bahwa analisis wacana berarti melakukan analisis terhadap bahasa yang digunakan. Begitu pula dengan Van Dijk (1988:24) dalam karyanya News as Discourseyang menjelaskan bahwa analisis wacana merupakan proses analisis terhadap bahasa dan penggunaan bahasa dengan tujuan memperoleh deskripsi yang lebik eksplisit dan sistematis mengenai apa yang disampaikan. Cook (1992:1) menambahkan bahwa dalam analisis wacana tidak cukup hanya menganalisis unsur kebahasaan saja, akan tetapi juga memperhitungkan konteks yang membangun wacana tersebut.

Analisis wacana (George Yule) mencakup rentangan aktivitas-aktivitas yang sangat luas, dari penelitian yang terfokus secara senpit tentang bagaimana kata-kata ‘oh’ atau ‘baiklah’digunakan dalam percakapan umum, sampai pada studi tentang idiologi yang dominan dalam suatu budaya, misalya yang digambarkan dalam peraktik polotik dan pendidikan. Jika Analisis ini dibatasi

(18)

oleh pokok-pokok persoalan linguistik, maka analisis wacana memfokuskan pada catatan prosesnya (lisan atau tartulis) di mana bahasa itu digunakan dalam konteks-konteks untuk menyatakan keinginan.

Analisis wacana adalah telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa.Analisis wacana bukanlah sekedar satu pendekatan tunggal, melainkan serangkaian pendekatan multidispliner yang bisa digunakan untuk mengeskplorasi banyak domain sosial yang berbeda yang berada dalam jenis- jenis kajian yang berbeda.

Menurut stubs ( 1983:4 ), analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Penggunaan bahasa secara alamiah tersebut berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari- hari.

Analisis wacana Cook (1992:1) adalah merupakan kajian yang membahas tentang wacana sedangkan wacana merupakan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Analisis wacana tidak dimaksudkan untuk mencari keteraturan dan kaidah seperti tata bahasa tetapi yang dituntut adalah keteraturan yang berkaitan dengan keberterimaannya pada khalayak.

Kebanyakan analisis wacana yang mungkin sebagian besar peneliti secara umum tentu ingin memberi konstribusi pada perubahan dunia menuju ke arah yang lebih baik melalui penelitian yang mereka lakukan. Bagi analisis wacana, ambisi ini sering diperlihatkan melalui usaha untuk memperlihatkan konsekuensi-konsekuensi negatif penetapan makna khusus yang memang dirancang untuk membuka cara lain dalam memahami dunia ini. Maka harus diusahakan untuk melakukan destabilisasi terhadap sistem makna yang berlaku.

(19)

Tetapi, alasan penting mengapa sistem makna begitu stabil adalah bahwa banyak pemahaman di dunia ini yang dinaturalisasikan yakni memandangnya bukan sebagai pemahaman dunia. Oleh sebab itu, tujuan analisis wacana yang penting adalah menyingkap dan menggambarkan pemahaman akal sehat yang dianggap sebagai sesuatu yang wajar, dengan mentransformasikannya kedalam kemungkinan objek diskusi dan kritik dan oleh sebab itu terbuka bagi perubahan.

Menurut Eriyanto (2001:100) Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.

Analisis wacana harus memilih di antara sistem transkripsi dan tidak ada sistem yang mampu memperlihatkan segalanya. Tujuan yang ingin dicapai adalah melaksanakan analisis mikrolinguistik yang terinci, karena itu perlu digunakan sistem transkripsi yang agar terinci seperti misalnya sistem yang diusulkan Gail Jefferson yang digunakan sebagai sistem transkriptis standar dalam pengantar analisis wacana oleh Van Dijk (1997).

B. Iklan

1. Pengertian Iklan

Iklan berasal dari bahasa Arab yaitu iklan yang artinya pemberitahuan atau kabar yang disiarkan (Purwadarminta, 1984: 372). Iklan tidak lain adalah kabar kepada umum dengan pujian tentang barang dagang-dagangan agar laku.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 263) pengertian iklan adalah pemberitahuan tentang suatu produk kepada masyarakat yang dimuat dimedia cetak maupun eletronika. Iklan adalah salah satu bentuk

(20)

komunikasi persuasif yang merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang bermaksud membujuk khalayak untuk memanfaatkan barang atau jasa.

Iklan merupakan salah satu media komunikasi yang sangat efektif untuk digunakan sebagai alat penghubung antara produsen dan konsumen. Produsen sering menggunakan iklan sebagai alat untuk menawarkan atau mempromosikan produk-produknya. Oleh karena itu, semua perusahaan yang menghasilkan produk baru, berlomba-lomba dalam memasang iklan sebagus-bagusnya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dari hasil penjualan produk- produknya.

Berbagai iklan yang berkaitan dengan alat eletronik menjadi merak misalnya telepon genggam, camera digital, laptop, dll. Iklan-iklan tersebut secara langsung mempengaruhi setiap orang. Iklan memang dapat mempengaruhi perilaku konsumen terhadap merek yang diiklankan. Pengaruh iklan pada perilaku konsumen ini sangat variatif, mulai dari mendorong konsumen untuk mencari produk yang dimaksud sampai dengan mendorong orang yang sebelumnya tidak loyal menjadi loyal. Untuk menghasilkan iklan yang efektif sekaligus bisa “membius” publik, tentunya dibutuhkan strategi perancangan yang matang. Bukan cuma tampilan fisik atau visual yang “wah”, tapi juga mampu mengomunikasikan pesan atau message yang tersembunyi.

Artinya, mampu memadukan pesan yang eksplisit dengan pesan yang implisit.

Di sinilah, dibutuhkan strategi cerdas dan bijak agar pesan yang dikedepankan bisa ditangkap dalam durasi waktu tertentu, untuk strata sosial dan usia yang bervariasi.

(21)

2. Jenis Iklan

Berdasarkan tujuannya, iklan dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

a. Comercial Advertising

Iklan jenis ini bertujuan untuk mendukung kampanye pemasaran suatu produk atau jasa. Iklan ini terbagi menjadi dua:

1).IklanStrategis

Digunakan untuk membangun merek. Hal itu dilakukan dengan mengkomunikasikan nilai merek dan manfaat produk. Perhatian utama dalam jangka panjang adalah memposisikan merek serta membangun pangsa pikiran dan pangsa pasar. Iklan ini mengundang konsumen untuk menikmati hubungan dengan merek serta meyakinkan bahwa merek ini ada bagi para pengguna.

2). Iklan Taktis

Memiliki tujuan yang mendesak, iklan ini dirancang untuk mendorong konsumen agar segera melakukan kontak dengan merek tertentu. Pada umumnya iklan ini memberikan penawaran khusus jangka pendek yang memacu konsumen memberikan respon pada hari yang sama.

b. CorporateAdvertising

Iklan yang bertujuan membangun citra suatu perusahaan yang pada akhirnya diharapkan juga membangun citra positif produk-produk atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut. Iklan Corporate akan efektif bila didukung oleh fakta yang kuat dan relevan dengan masyarakat, mempunyai nilai berita dan biasanya selalu dikaitkan dengan kegiatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Iklan Corporate merupakan bentuk lain dari iklan strategis ketika

(22)

sebuah perusahaan melakukan kampanye untuk mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada Publik.

Iklan Corporate sering kali berbicara tentang nilai-nilai warisan perusahaan, komitmen perusahaan kepada pengawasan mutu, peluncuran merek dagang atau logo perusahaan yang baru atau mengkomunikasikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar.

c. Public ServiceAdvertising

Iklan Layanan Masyarakat merupakan bagian dari kampanye social marketing yang bertujuan menjual gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan masyarakat. Biasanya pesan Iklan Layanan Masyarakat berupa ajakan, pernyataan atau himbauan kepada masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan demi kepentingan umum atau merubah perilaku yang

“tidak baik” supaya menjadi lebih baik, misalnya masalah kebersihan lingkungan, mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat, anti narkoba dan sebagainya.

3. Klasifikasi bagian – bagian Iklan

Penulis mecoba untuk mengklasifikasikan bagian-bagian yang terdapat pada iklan menjadi beberapa bagian, yaitu butir utama, badan, dan penutup.

a. Butir utama iklan merupakan tujuan pertama dalam wacana iklan untuk menarik perhatian. Untuk itu, diperlukan pesan-pesan iklan yang menarik dan penting sehingga dapat menarik perhatian dari para calon konsumen.

b. Tahapan kedua setelah butir utama adalah badan iklan. Badan iklan mempunyai tujuan untuk menarik minat dan kesadaran para calon

(23)

konsumen. Tujuan adalah tahap ini diwadahi dalam bagian badan. Dengan berdasarkan pada motif calon konsumen dalam membeli sesuatu, yaitu motif emosional dan motif rasional, maka bagian badan wacana iklan hendaknya mengandung alasan Objektif (rasioanal) dan alasan Subjektif (emosional).

Alasan objektif di sini bisa berupa informasi-informasi yang dapat diterima oleh nalar para calon konsumen. Alasan subjektif berupa hal-hal yang dapat mengajak emosi paa calon konsumen untuk memiliki (menikmati) apa yang telah dipromosikan oleh produsen.

c. Pada biasanya, bagian penutup iklan berisi informasi-informasi lain yang berhubungan dengan topik yang diiklankan. Informasi jenis ini disebut dengan butur-butir pasif. Tujuan ketiga dalam wacana iklan adalah mengubah tindakan tertentu pada diri konsumen. Apabila perhatian diperoleh, minat dapat dibangkitkan dan kesadaran telah mencapai puncak yang berarti komunikasi telah tercapai dalam wacana iklan tersebut. Dalam menggembangkan bagian penutup dalam wacana iklan, ada dua hal yang perlu untuk dipertimbangkan yaitu (1) pendekatan penjualan (selling approach) dan (2) butir-butir pasif (passive point). Pendekatan penjualan yang dapat digunakan untuk mengakhiri badan iklan adalah dengan cara keras dan lemah.

4. Ragam Gaya Bahasa Iklan

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek- efek tertentu,

(24)

keseluruhan ciri bahasa, sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik sacara lisan maupun tertulis.

Gaya bahasa atau majas yang sering digunakan dalam periklanan tersebut adalah:

a. Majas hiperbola yaitu suatu gaya bahasa yang bersifat melebih- lebihkan

b. Majas ironi yaitu gaya bahasa yang menyindir dengan halus c. Majas metonimia yaitu majas yang memakai merek suatu barang d. Majas eufemisme yaitu majas yang menggunakan kata- kata/

ungkapan halus dan sopan.

e. Majas personifikasi yaitu pengungkapan dengan menyampaikan benda mati atau tidak bernyawa sabagai manusia.

f. Majas repetisi yaitu majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.

5. Fungsi Iklan

Iklan merupakan sarana komunikasi yang digunakan komunikator dalam hal ini perusahaan atau produsen untuk menyampaikan informasi tentang barang atau jasa kepada publik, khususnya pelanggannya melalui suatu media massa. Selain itu, semua iklan dibuat dengan tujuan yang sama yaitu untuk memberi informasi dan membujuk para konsumen untuk mencoba atau mengikuti apa yang ada di iklan tersebut, dapat berupa aktivitas mengkonsumsi produk dan jasa yang ditawarkan. Ada beberapa fungsi iklan dibawa ini sebagai berikut:

(25)

a. Informing, adanya iklan membuat konsumen sadar (aware) akan

merek-merek baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat merek, serta menfasilitasi penciptaan citra merek-merek iklan yang positif.

.b. Persuading, iklan yang efektif akan mampu mempersuasi (membujuk) pelanggan untuk mencoba produk dan jasa yang diiklankan.

c. Reminding, iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar dalam ingatanparakonsumen.

d. Adding value, periklanan memberi nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi persepsi konsumen.

6. Peran Iklan.

a. Membangun daya tarik konsumen

b. Mereposisi merek dengan merubah persepsi atau perilaku

7. Elemen-Elemen Iklan

Untuk mengetahui apakah iklan suatu produk sesuai dengan keinginan atau apakah dapat menarik perhatian masyarakat, maka sebuah iklan memerlukan elemen-elemen berikut:

a. Heard works

Kata-kata yang ada di dalam iklan diharapkan membuat masyarakat lebih mengerti tentang tujuan yang ingin disampaikan.

b. Musik

(26)

Pilihan musik iringan dalam iklan dapat menarik perhatian audiens dan membuat pesan yang disampaikan diingat dalam jangka waktu yang panjang.

c. Seen words

Kata-kata yang terlihat di iklan dapat mempengaruhi pikiran audiens.

d. Picture

Termasuk di dalamnya gambar atau tayangan iklan meliputi obyek yang digunakan, figur yang digunakan, serta halaman yang ditampilkan.

e. Colour

Komposisi atau keserasian warna gambar serta pengaturan cahaya yang terdapat pada tampilan tayangan iklan.

f. Movement

Disini berarti gerakan yang ada terlihat pada tayangan iklan yang dapat mempengaruhi emosi seseorang untuk larut di dalamnya meliputi fragmen cerita dari adegan yang ditampilkan.

8. Karakteristik Daya Tarik Iklan

Agar unik dan menarik serta minat masyarakat untuk menyimaknya, sebuah iklan juga harus memiliki karakteristik daya tarik berikut:

a. Bermakna

Hal ini berarti sebuah iklan harus menunjukkan manfaat yang membuat iklan tersebut lebih diinginkan atau dalam arti lain menarik minat konsumen.

(27)

b. Dapat dipercaya

Konsumen diarahkan untuk dapat percaya bahwa produk atau jasa tersebut memang akan memberikan hasil yang dijanjikan di iklan.

c. Khas

Khas disini berarti iklan harus dapat menjelaskan bagaimana perbedaan dan bagaimana keunggulan produk atau jasa yang diiklankan ini dibandingkan dengan produk atau jasa lain.

9. Efek Iklan

Suatu iklan baik itu merupakan iklan yang komersil atau yang korporat, diharapkan memiliki pengaruh atau efek kepada orang yang menyimaknya. Efek iklan tersebut terdapat dalam Hierarcy of Effect Steps:

a. Pesan (the message)

Pesan yang disampaikan (message are send) c. Pesan diterima (the message are received)

d. Pesan mulai dimengerti (understanding are taken from them)

e. Pengaruh dari pengertian tersebut diimplementasikan melalui pemikiran dan sikap (the effects of these understandings on thought andattitude take place)

f. Ada perubahan sikap yang mengikuti (a change behavior follows)

10. Strategi Periklanan

Strategi memegang peranan vital dalam penentuan keberhasilan iklan. Strategi merupakan dasar membangun merek, strategi menjaga agar

(28)

periklanan dan elemen pemasaran berada dalam jalur yang tepat serta membangun kepribadian merek dengan jelas dan konsisten. Strategi mewakili jiwa sebuah merek dan menjadi elemen penting untuk keberhasilan (Roman, Maas & Nisenholtz, 2005).

Strategi iklan harus mampu menjawab pertanyaan dasar dari rancangan sebuah sebuah kampanye periklanan yang dirumuskan dalam 5W + 1H (Suhandang, 2005) yaitu:

a. What : Apa tujuan iklan?

b. Who : Siapa khalayak yang akan dijangkau?

c. When : Kapan iklan dipasang?

d. Where : Di mana iklan dipasang?

e. Why : Mengapa harus demikian?

f. How : Bagaimana bentuk iklannya?

Tujuan dari strategi adalah usaha untuk menciptakan iklan yang efektif, oleh karena itu selain rumusan pertanyaan 5W + 1H maka pengetahuan yang cukup tentang produk, persaingan pasar atau kompetitor dan analisis mendalam tentang konsumen merupakan kunci pokok yang harus diketahui oleh pemasar sebelum merumuskan sebuah strategi (Batey, 2003).

Dalam merumuskan strategi iklan, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:

1. Marketing brief

Hal yang paling pertama sebelum strategi dirumuskan adalah pengetahuan tentang produk. Informasi mengenai produk atau jasa yang akan

(29)

diiklankan, termuat dalam marketing brief yang dibuat oleh klien (Madjadikara, 2004). Informasi tersebut biasanya meliputi :

a. Brand

Penjelasan mengenai merek yang dipasarkan.

b. Product knowledge

Penjelasan singkat tentang fitur yang terkandung dalam produk.

c. Differensiasi

Keunggulan yang membedakannya dengan kompetitor.

d. Target audience

Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dari produk yang dipasarkan.Semakin baik dalam mengenal siapa sasaran produk tersebut, semakin baik pula dalam mencari tahu tentang apa yang bisa menarik perhatian mereka.

e. Analisis SWOT

Tujuan mengetahui SWOT adalah untuk menganalisis suatu produk yang dibandingkan dengan produk pesaing, serta kondisi dan kecendrungan pasar.

f. Kompetitor

Produk apa yang menjadi kompetitor dari produk yang akan diiklankan.

Dari sana bisa dilihat apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari produk yang akan diiklankan dan produk kompetitornya. juga bisa melihat seperti apa iklan terakhir dari kompetitor tersebut.

(30)

2. Creative brief

Strategi didefinisikan dengan jelas untuk menstimulasi tujuan yang besar yang tertuang dalam rangkuman kreatif atau creative brief yang dibuat untuk agensi dalam menciptakan iklan. Rangkuman kreatif merupakan jembatan strategi dengan kreatifitas periklanan, rangkuman kreatif mewakili situasi sekarang, kompetisi, kondisi pasar dan pertimbangan media.

Rangkuman itu menjadi strategi hidup dan memberikan pandangan penting bagi tim kreatif untuk menetapkan strategi dan menentukan ide penjualan utama, yang akan menjadi tema pusat kampanye periklanan.

Masing-masing agensi periklanan mempunyai model rangkuman kreatif yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan produk yang akan di iklankan. Tidak ada model pemasaran yang begitu kaku sehingga anda tak dapat berubah. Tidak ada rumus pemasaran yang begitu ketat sehingga setiap perubahan dilarang. Hanya pedoman strategi tidak boleh berubah sedangkan pedoman taktisnya berupa rangkuman kreatif boleh berubah (Batey, 2003).

11. Kreatifitas dalam iklan

Dalam Teori Ilmu Komunikasi, kepenerimaan komunikan akan pesan yang disampaikan oleh komunikator menjadi dasar penilaian akan keberhasilan suatu proses komunikasi (Effendi, 1981) Jadi penetapan strategi pesan periklanan merupakan suatu keputusan strategis yang mampu menjamin sukses atau gagalnya suatu iklan. Hal pertama yang harus dilihat dalam iklan adalah keuntungan kunci konsumen atau ide inti sebagai jantung strategi pesan iklan. Kampanye iklan yang efektif sangat berperan besar

(31)

dalam pencapaian pangsa pikiran (mind share) dan pangsa pasar (market share). Kampanye iklan yang efektif merupakan kampanye periklanan yang didasarkan pada satu tema besar saja. Tema besar ini dikenal sebagai what to say-nya sebuah iklan atau inti dari pesan yang ingin dikomunikasikan kepada audience.

Kreatifitas iklan adalah bagaimana penyampaian sebuah pesan periklanan atau cara yang dilakukan untuk mengkomunikasikan pesan iklan kepada audiens. Prinsip pertama kreatifitas dalam sebuah iklan adalah bahwa kreatifitas tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada. Kreatifitas membuka, memilih, kemudian mengatur kembali, menggabungkan, menghasilkan fakta, keahlian dan ide yang sudah ada sebelumnya. Dalam arti lain bahwa kreatifitas adalah penggabungan ide-ide yang telah ada untuk menciptakan sesuatu yang baru (Roman, Maas & Nisenholtz, 2005).

Menciptakan iklan yang kreatif tidaklah mudah, karena karya iklan merupakan hasil kolaborasi antara penulis naskah dengan pengarah seni atau antara agen dan klien. (Roman, Maas & Nisenholtz, 2005). Oleh karena itu pada tahap brainstorming (pencarian ide yang bebas) dalam sebuah kelompok semua ide ditampung untuk kemudian dinilai ulang. Biasanya saat brainstorming tim kreatif menggunakan strategi tertentu dalam eksekusi kreatif. Strategi tersebut dengan cara melantur, lanturan disengaja untuk tujuan tertentu dengan tetap menjaga relevansinya, maksudnya adalah melantur sejauh-jauhnya namun mereka merelevansikan sedekat-dekatnya (Hakim, 2005).

(32)

12. Penelitian Sebelumnya

Penggunaan bahasa dalam penggunaan bahasa dalam iklan, reklame pada harian sudah banyak dilakukan penelitian dengan pendekatan dan analisis yang berbeda-beda. Nirwana (2010) meneliti gaya bahasa dengan judul

“Analisis Gaya Bahasa Iklan di Media Elektronoik”, Abdul Salim Umar (2012) “Analisis Alih Kode dan Campur Kode Bahasa Indonesia pada Iklan Televisi Trans7”, Rusli (2011) “Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Surat Kabar Konpas”, Andi Muhammmad Hatta (2012/2013) “Analisis Bentuk- bentuk Klausa pada Iklan Surat Kabar Fajar”, Asdiati Asri (2012) “Analisis Keefektifan Ragam Bahasa Jurnalistik pada Majalah Makassar Terkini.

Dengan berbagai judul penelitian di atas terlihat bahwa aspek penggunaan bahasa mendapat tempat yang istimewa dalam masalah bahasa dan kebahasaan. Penelitian-penelitian terdahulu seperti di atas sangat eret hubungannya dan banyak memberikan masukan dalam penelitian ini.

Penelitian tetang pemakain bahasa dalam iklan surat kabar harian fajar.

Analisa dan waspada mengggunakan analisis wacana saat ini belum ada dilakukan pemakainan teori dan pendekatan yang berbeda, dalam hal ini tentu saja menampilka hasil yang berbeda. Analisis wacana iklan sangat erat kaitannya dengan kontruksi gramatikal, bentuk bahasa non verbal, dan bentuk emotive words.

C. Kerangka Konsep

Berdasarkan pembahsan teori yang telah dikemukakan pada tinjauan pustaka di atas, penulis menguraikan teori yang akan mengarahkan penulis

(33)

untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini demi memecahkan masalah yang dipaparkan.

Penulis mengambil data analisis wacana iklan telepon genggam pada koran harian fajar, kemudian iklan yang ditemukan lalu dianalisis dengan menggunakan gaya bahasa iklan tersebut. Gaya bahasa ini meliputi bentuk kontruksi gramatikal, bentuk bahasa non verbal, dan emotive words.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bagan kerangka pikir dibawah ini:

Bagan Kerangka Konsep Wacana

Analisis Wacana Iklan Telepon Genggam pada Surat Kabar Harian Fajar

Gramatikal

Analisis Bahasa Non Verbal

Analisis Konstruksi Gramatikal Analisis Emotive Words

words Temuan

Analisis Wacana

Iklan

(34)

27 A. Variabel dan Desain Penelitian 1. Fokus Penelitian

Adapun fokus yang diamati dalam penelitian ini adalah “Analisis wacana Iklan Telepon Genggam dalam Beberapa Surat Kabar yang Terbit di Makassar”

2. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam peneltian ini adalah desain deskriftif yaitu dengan memaparkan atau mendeskripsikan data apa adanya pada saat dilaksanakan penelitian. Oleh karena itu, penyusunan desainnya pun harus dirancang berdasarkan metode kulitatif, yaitu ada data yang dikumpulkan, dikelola, dianalisis, dan diajukan secara objektif.

B. Defenisi Operasiaonal Variabel

Untuk menghindari adanya kesalahan dalam penafsiran mengenai bentuk istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu dikemukakan bentuk istilah. Gaya bahasa iklan yang dimaksud dalam penelitian ini ialah penggunaan kepada konsumen. Kesesuaianan ketepatan kata dilihat dari kaidah makna yang terdapat dalam iklan tersebut.

(35)

C. Sumber Data dan Data 1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data desain berupa data yang diperoleh dari Koran Harian Fajar Minggu 25 Juni 2013

2. Data

Data yang dimaksud berupa iklan tertulis yang berupa teks-teks yang ada pada iklan telepon genggam di koran harian fajar. Teks-teks itu berupa teks verbal dan nonverbal pada iklan telepon genggam inilah yang dianalisis dalam skripsi ini.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu dengan mengumpulkan data melalui sumber-sumber tertulis atau buku- buku yang relevan dengan penelitian ini, sehingga penelitian ini disebut penelitian pustaka( library riseatch).

Untuk mendapatkan sebagian rujukan dalam penelitian, penulis menggunakan teknik sabagai berikut:

1. Teknik pengamatan

Teknik pengamatan dilakukan dengan cara mengamati data secara langsung pada saat membaca koran atau surat kabar.

2. Teknik catat

(36)

Mencatat seluruh bahasa yang ddiperoleh dari hasil pengamatan pada saat membaca koran iklan itu. Penulis tidak mencatat keseluruhan iklan yang ada tetapi hanya mencatat iklan yang mengandung makna.

E. Teknik Analisis Data

Setelah data diperoleh yang digunakan dengan teknik catat dan pengamatan, selanjutnya data dianalisis dengan cara:

1. Mengkaji sejumlah informasi gaya bahasa iklan 2. Menganalisis data sesuai dengan jenis yang digunakan

(37)

30 A. Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan menguraikan mengenai data yang ditemukan dalam penelitian. Data penelitian yang dimaksud adalah data yang telah dikumpulkan melaluai proses pengumpulan data yang disesuaikan dengan produk permasalahan yang akan dibahas. Adapun pokok permasalahan yang akan dibahas adalah “Analisis Wacana Iklan Telepon Genggam Pada Surat Kabar Harian Fajar”. Analisis yang dimaksud yaitu bentuk kontruksi gramatikal, bahasa non verbal, dan emotive words. Selanjutnya akan dilihat sebagai berikut:

1. Surat Kabar Kompas Edisi Jumat 7 februari 2014 a. Analisis Gramatikal Iklan

Gramatikal yaitu hal- hal yang sesuai dengan tata bahasa atau menurut tata kebahasaan. Gramatikal dalam iklan yang dianalisis berkaitan dengan segi bentuk atau struktur lahir sebuah wacana iklan. Aspek gramatikal dibagi 4 yaitu pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjunction).

(1) Beri keseruan pada momen terbaik tanpa perlu stylus (pena)

(2) Xperia Z Ultra - dari Sony dengan layar 6,4” Full HD memberikan gambar yang mencengangkan serta bisa ditulis dengan alat tulis apa pun.

(3) Anda pun bisa menikmatinya di mana saja karena tahan air, tipis dan ringan.

(38)

Pada kutipan kalimat (1) di atas (Beri keseruan pada momen terbaik tanpa perlu stylus/pena) pada kalimat ini tidak gramatikal karena penggunaann kata (pilihan kata) dalam kalimat tidak tepat yaitu beri keseruan seharusnya menggunakan kata abadikan fotomu/gambar atau ambil fotomu/gambar, misalnya pada kalimat Abadikan fotomu pada momen terbaik tanpa stylus/pena. Kutipan (2) Xperia Z Ultra - dari Sony dengan layar 6,4” Full HD memberikan gambar yang mencengangkan serta bisa ditulis dengan alat tulis apa pun. Pada kutipan 2 ini tidak gramatikal karena penggunaan katanya tidak tepat yaitu kata mencengangkan seharusnya menggunakan kata puas atau memuaskan misalnya pada kalimat Xperia Z Ultra - dari Sony dengan layar 6,4” Full HD memberikan gambar yang memuaskan atau berkualitas serta

bisa ditulis dengan alat tulis apa pun. Kutipan (3) Anda pun bisa menikmatinya di mana saja karena tahan air, tipis dan ringan. Pada kutipan ketiga ini juga tidak gramatikal karena menggunakan kata yang tidak tepat yaitu menikmatinya padahal kata ini sebaiknya digunakan dalam memakan sesuatu makanan. Kutipa ketiga ini seharusnya menggunakan kata menggunakan atau memakainya, misalnya “Anda pun bisa menggunakan atau memakainya di mana saja karena tahan air, tipis dan ringan”.

b. Analisis Nonverbal

Nonverbal adalah tidak dalam bentuk percakapan atau tidak dalam bentuk bahasa. Analisis nonverbal pada skripsi ini berkaitan dengan penggunaan simbol-simbol nonverbal yaitu warna dan gambar. Berikut dipaparkan perihal simbol-simbol nonverbal pada iklan handphone :

(39)

1). Warna

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang harus diterima oleh masyarakat. Warna yang digunakan pada iklan handphone tersebut ada dua yaitu hitam dan hijau kekuning-kuningan. Penggunaan warna hitam tampak pada bodi telepon genggam iklan, secara umum warna hitam yang menjadi symbol netral tanpa memihak dan bisa dipadu-padankan dengan warna apapun. Menurut beberapa pendapat hitam adalah warna yang kuat dan penuh percaya diri, penuh perlindungan, maskulin, elegan, dramatis, dan misterius. buruk karena warna ini dipakai oleh para penjahat di komik atau filem.

Warna hitam juga seringkali digunakan untuk menunjukkan kekuatan dan ketegasan seseorang. Hitam sebenarnya punya reputasi Hitam juga melambangkan duka dan murung. Tapi, hitam juga punya sisi lain, misalnya saja untuk menyatakan sesuatu yang abadi, klasik, dan secara universal.

Intinya HITAM itu ABADI dan KLASIK Tampil pada fisik pada telepon genggam Sony Xperia Z Ultra ini sepertinya juga terlihat lebih elegant, menarik dan juga memiliki kelebihan/ keistimewaan Sony Xperia Z Ultra mungkin bisa anda lihat pada segi desain body yang mewah.

(40)

Iklan Handphone Sony Xperia Z Ultra pada surat kabar Kompas, juga terdapat warna hijau kekuning-kuningan pada latar iklan, pemilihan warna ini sendiri karena warna hijau memiliki arti tersendiri yaitu Warna yang

menggambarkan keseimbangan dan keselarasan, mampu membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru.

Warna hitam yang membaluti telepon genggam tersebut masing- masing menggunakan warna yang bisa dipadukan dngan warna apa pun, itu artinya warna telepon genggam tersebut sangat cocok dipakai oleh siapa pun karena bisa menyesuaikan dengan aksesories yang lainnya.

2). Gambar dan Warna

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang harus diterima oleh masyarakat. Simbol yang pertama nampak yaitu Simbol (1) adalah simbol aplikasi pemutar musik (Walkman) bertujuan sebagai informasi kepada calon pembeli bahwa telepon genggam Sony Xperia Z Ultra tersebut dapat memutar musik dengan suara yang baik.

(41)

Simbol (2) adalah simbol galeri atau penyimpanan foto atau gambar, simbol (3) adalah simbol aplikasi pemutar vidio, dan simbol (4) adalah simbol tambahan yang berisi penampilan kelender, kalkulator dan lain- lain. Keempat Simbol tersebut bertujuan sebagai informasi mengenai kelebihan telepon genggam yang diiklankan melalui surat kabar.

c. Emotif Word

Emotive Words adalah kata-kata yang mempengaruhi emosi. Pada iklan ini, kata-kata yang mempengaruhi emosi pembaca diberikan berikut.

Berikut kutipannya.

1. Oficial partner ( sahabat pegawai) 2. Be moved (digerakkan)

Kedua kata di atas ditulis dengan tujuan dapat mempengaruhi emosi calon pembeli.

2. Surat Kabar Harian Fajar Edisi Jumat, 4 Oktober 2013 a. Analisis Gramatikal Iklan

Gramatikal yaitu hal- hal yang sesuai dengan tata bahasa atau menurut tata kebahasaan. Gramatikal dalam iklan yang dianalisis berkaitan dengan segi bentuk atau struktur lahir sebuah wacana iklan. Aspek gramatikal dibagi 4 yaitu pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjunction).

(1). Synchronise your smiles (Membarengkan seyumanmu) (2). Blackberry time shift(Waktu Bergeser)

(3). Abadikan kenangan sempurna siapa saja

(42)

(4). Keep Moving

Kutipan (1) SYNCHRONISE YOUR SMILES (Membarengkan seyumanmu) ditulis dengan huruf kapital, termasuk kalimat minor. Satuan lingual ini bertujuan sebagai pemberitahuan atau seruan untuk diperhatikan dengan didukung oleh warna tulisan yaitu Putih. Satuan lingual ini secara umum membuat pembaca tergerak dan akhirnya mau membeli produk yang baru tersebut. Kutipan (2) Blackberry time shift (Waktu Bergeser) pada kutipan ini diberitahukan kelebihan produk dimana calon pembeli tidak terlalu bingung memilih produk telopon genggam yang dimiliki Blackberry Q5.

Kutipan (3) Abadikan kenangan sempurna siapa saja, kutipan ini dapat memberikan semangat beli para pengguna alat telekomunikasi karena kelebihan dibali kameranya yang bagus. Kutipan (4) Keep Moving, pernyataan ini memberikan gambaran pada kegunaan sebuah telepon genggam yang dimiliki Blackberry Q5. Keempat kutipan tersebut merupakan sebuah pernyataan argumentatif dan persuasif. Kalimat ini mengandung makna yang memberikan alasan mengapa calon pembeli harus memakai ponsel ini.

b. Analisis Nonverbal

Nonverbal adalah tidak dalam bentuk percakapan atau tidak dalam bentuk bahasa. Analisis Nonverbal pada skripsi ini berkaitan dengan penggunaan simbol-simbol nonverbal yaitu warna dan gambar. Berikut dipaparkan perihal simbol-simbol nonverbal pada iklan handphone :

1). Warna

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang

(43)

harus diterima oleh masyarakat. Warna yang digunakan pada iklan telepon genggam tersebut ada dua yaitu merah dan hitam. Penggunaan warna merah yang tampak pada latar iklan, secara umum warna merah yang menjadi symbol keberanian yang bisa dipadu-padankan dengan warna lain. Selain warna merah, iklan tersebut juga menggunakan warna hitam sebagai latar dari tulisan sub judul iklan, menurut beberapa pendapat hitam adalah warna yang kuat dan penuh percaya diri, penuh perlindungan, maskulin, elegan, dramatis, dan misterius.

Warna yang digunakan telepon genggam menyatu dengan warna latar yaitu warna merah tanpak mencolok pada telelepon genggam tersebut, Intinya warna merah pada body tampil klasik pada blackberry Q5 ini sepertinya juga terlihat lebih elegant, menarik dan juga memiliki kelebihan/ keistimewaan blackberry Q5 mungkin bisa anda lihat pada segi desain body yang mewah.

Seperti pada gambar di bawah ini, Surat Kabar Harian Fajar Edisi, jumat, 4 oktober 2013

(44)

Warna hitam dan merah yang membalu Telepon Genggam tersebut masing- masing menggunakan warna yang bisa dipadukan dngan warna apapun itu artinya warna telepon genggam tersebut sangat cocok dipakai oleh siapapun karena bisa menyesuaikan dengan aksesories yang lainnya.

2). Gambar dan foto

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang harus diterima oleh masyarakat. Simbol yang pertama nampak yaitu

penggunaan gambar (ikon) (1) Logo garansi resmi blackberry yang disingkat dengan huruf SCM, TAM, dan TRIO. Ke tiga simbol atau singkatan huruf tersebut bertujuan untuk membantu bahasa verbalnya menyampaikan kepada calon pembeli bahwa produk yang ada pada iklan memiliki garansi resmi seperti SCM, TAM, dan TRIO agar calon pembeli tidak terkeco dengan produk yang sama namun bukan garansi resmi dan itu artinya merugikan pengguna oleh karena itu iklan tersebut mencamtumkan tiga logo atau simbol huruf sebagai penjamin jika terjadi kerusakan dalam masa garansi.

c. Emotif Words

Emotive Words adalah kata-kata yang mempengaruhi emosi. Pada iklan ini, kata-kata yang mempengaruhi emosi pembaca diberikan berikut. Berikut kutipannya.

(Abadikan kenangan sempurna siapa saja)

(45)

Wacana di atas dapat memberikan semangat kepada calon pembeli dengan kata Siapa saja, dengan kata ini merupakan seruan yang tidak memihak kepada siapa cocok menggunakan apakah pekerja kantoran atau pebisnis.

3. Surat Kabar Harian Kompas Edisi jumat 7 Februari 2014 a. Analisis Gramatikal Iklan

Gramatikal yaitu hal- hal yang sesuai dengan tata bahasa atau menurut tata kebahasaan. Gramatikal dalam iklan yang dianalisis berkaitan dengan segi bentuk atau struktur lahir sebuah wacana iklan. Aspek gramatikal dibagi 4 yaitu pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjunction).

1) Visual Optimal, Performa Maksimal

2) Berkat kemajuan tehnologi informasi dan komunikasi, kini dunia seakan tanpa batas.

3) Capture & Share

4) Every Details of Your Life

5) The ultimate type for people who care about higher quality.

Pada kutipan (1) Visual Optimal, Performa Maksimal, pada kutipan ini merupakan wacana yang terpisah dan melahirkn arti berbeda namun pada wacana tersebut merupakan gramatika Pengacuan (reference), Kutipan (2).

Berkat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kini dunia seakan tanpa batas. satuan lingual Kini, termasuk konstruksi gramatika perangkaian (conjunction) tujuan. Kata tanpa (tidak) pada kutipan (1) merupakan gramatika pengacuan (reference), Kutipan (3) Capture & Share terdapat konstruksi gramatika demonstratif (penunjukan), yang menunjukkan kebihan sebuah

(46)

telepon genggam merek Evercoss. Kutipan (4) Every Details of Your Life, Satuan lingual of (untuk) pada kutipan (4) termasuk konstruksi gramatika perangkaian (conjunction) tujuan. Kata life (hidup/kehidupan), Hidup merupakan kata dasar yang belum mengalami perubahan. Berdasarkan kamus KBBI makna kata “hidup” adalah masih ada, bergerak dan bekerja. Sedangkan kata “kehidupan” merupakan kata turunan.

Mempunyai arti yang berbeda dengan makna dari “hidup” meskipun kata dasarnya sama, yaitu hidup. Penambahan prefix atau awalan pada kata “hidup”

membuat makna “hidup” berubah tidak sekedar masih ada, bergerak, dan bekerja tetapi arti dari “kehidupan” merupakan kata sifat yang berati potensi hidup. Perubahan kata inilah yang dinamakan dengan makna gramatikal.

Kutipan (5) The ultimate type for people who care about higher quality. Satuan lingual for, termasuk konstruksi gramatika perangkaian (conjunction) tujuan.

b. Analisis Nonverbal

Nonverbal adalah tidak dalam bentuk percakapan atau tidak dalam bentuk bahasa. Analisis Nonverbal pada skripsi ini berkaitan dengan penggunaan simbol-simbol nonverbal yaitu warna dan gambar. Berikut dipaparkan perihal simbol-simbol nonverbal pada iklan telepon genggam :

1). Warna

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang harus diterima oleh masyarakat. Warna yang digunakan pada iklan telepon genggam tersebut ada dua yaitu merah dan abu-abu. Penggunaan warna merah yang tampak pada latar judul iklan, secara umum warna merah yang

(47)

menjadi symbol keberanian yang bisa dipadu-padankan dengan warna lain.

Selain warna merah, iklan tersebut juga menggunakan warna abu-abu sebagai latar iklan telepon genggam, menurut beberapa pendapat abu-abu adalah merupakan warna yang paling netral, dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik. Warna yang digunakan paga gambar telepon genggam pada iklan yaitu warna putih dan warna hitam, seperti pada gambar di bawah ini, Edisi, jumat 7 Februari 2014

Warna yang membalut telepon genggam tersebut masing-masing menggunakan warna yang bisa dipadukan dngan warna apapun itu artinya warna telepon genggam tersebut sangat cocok dipakai oleh siapapun karena bisa menyesuaikan dengan aksesories yang lainnya. Tentunya sesuai dengan selerah pengguna.

(48)

2). Gambar dan foto

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang harus diterima oleh masyarakat. Simbol yang pertama tampak yaitu penggunaan gambar (ikon) (1) Logo berbentuk lingkaran dengan warna hijau muda, tampil dengan dimensi yang agak menonjol dan terdapat tulisan di tengahnya “13 MPX CAMERA” Simbol ini bertujuan untuk memberitahukan kepada khalayak bahwa telepon genggam tersebut yang diiklankan memiliki tingkat kualitas kamera 13 MPX Camera, Simbol yang kedua adalah simbol prosessor berbentuk segiempat dengan sudut yang bentuknya bundar berwarna biru muda juga terdapat tulisa ditengahnya “QUAD CORE 1.2 Ghz” simbol tersebut memberikan informasi tentang prosessor atau kecepatan telepon genggem untuk memproses data, simbol yang ke tiga yaitu simbol warna merah bulat dengan tulisa “HSDPA 3G” terdapat pada pertengahan simbol.

Ketiga simbol tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada calon pembeli agar menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai, dengan simbol tersebut juga menjadi pembeda dengan produk lain.

c. Emotif Word

Emotive Words adalah kata-kata yang mempengaruhi emosi. Pada iklan ini, kata-kata yang mempengaruhi emosi pembaca diberikan berikut.

Berikut kutipannya.

(1). Go Internasional

(2). Menjamin komunikasi anda lebih aman dan nyaman via BBM

(49)

(3). EVERCOSS A66 sudah terinstal BBM

Pada kutipan (1) Go Internasional, dapat mempengaruhi emosi hayalan atau anggapan kepada siapa calon pembeli dengan anggapan bahwa kualitas produk tersebut sangat baik karena merupakan produk terpercaya diseluruh dunia. Kutipan (2) Menjamin komunikasi anda lebih aman dan nyaman via BBM, Kalimat ini sangat menjanjikan bagi para penggunanya karena terdapat aplikasi BBM yang banyak dicari pengguna telepon seluler sebagaimana BBM jaringan sosial yang paling disukai saat ini. Kutipan (3) EVERCOSS A66 sudah terinstal BBM, kutipan tersebut tujuannya sama dengan kutipan (2) namun memperjelas dengan mencantumkan merek produk, tipe, dan aplikasi BBM.

4. Surat Kabar Kompas Edisi jumat 7 Februari 2014 a. Analisis Gramatikal Iklan

Gramatikal yaitu hal- hal yang sesuai dengan tata bahasa atau menurut tata kebahasaan. Gramatikal dalam iklan yang dianalisis berkaitan dengan segi bentuk atau struktur lahir sebuah wacana iklan. Aspek gramatikal dibagi 4 yaitu pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjunction).

(1). Official Partner.

(1) Xperia C

(2) foto selfie makin seru

(4). Dengan panduan suara pribadi.

(5). Smartphone sony dengan fitur voice-guide,(suara pemandu) 5”qHD (6). 8MP Camera dan prosessor quadcore yang pintar.

(50)

Pada kutipan kalimat (1) di atas Oficial Partner (Mitra pejabat) terdapat dua kata yang merupakan sebuah wacana, dalam kata oficial-mitra berarti pasangan kerja yang memiliki hak atau kedudukan yang sama sedangkan kata partner- pejabat berarti pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan). Pada wacana tersebut memiliki dua konjungsi gramatika yaitu Oficial dan Partner, Satuan lingual Oficial pada kutipan (1) termasuk konstruksi gramatika pengacuan (reference) yank manjadi sebuah subjek, sedangkan satuan lingual Partner termasuk konstruksi gramatika perangkaian (conjunction) penambahan (aditif), yang juga sebagai subjek dari sebuah kerjasama.

Kutipan (2) Xperia C, Pada kata ini merupakan wacana penujuk sebuah merek dari produk tersebut yang meberitahukan kelebihannya melalu wacana-wacana pada kelebihan yang dimilikinya. Kutipan (3) pada kalimat foto selfie makin seru, wacana tersebut terdapat kata yang merupakan kontruksi gramatika perangkaian (conjuction) dari kata makin (kian bertambah). Kutipan (4) Dengan panduan suara pribadi, satuan lingual panduan, termasuk konstruksi gramatika pengacuan (reference) penunjuk. Kutipan (5) Smartphone sony dengan fitur voice-guide (suara pemandu) 5”qHD, pada kata dengan merupakan konstruksi gramatika demonstratif (penunjukan) kelebihan fitur pada telepon genggam yang bermerek Sony Xperia C. Kutipan (6) 8MP Camera dan prosessor quadcore yang pintar. Merupakan satuan lingual pintar, termasuk konstruksi gramatika pengacuan (pengacuan) kemampuan.

(51)

b. Analisis Nonverbal

Nonverbal adalah tidak dalam bentuk percakapan atau tidak dalam bentuk bahasa. Analisis Nonverbal pada skripsi ini berkaitan dengan penggunaan simbol-simbol nonverbal yaitu warna dan gambar. Berikut dipaparkan perihal simbol-simbol nonverbal pada iklan telepon genggam:

1). Warna

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan yang harus diterima oleh masyarakat. Warna latar yang digunakan pada iklan telepon genggam ini yaitu oranye namun ada juga warna kuning yang menjadi latar tepat dibelakang gambar telepon genggam yang membentuk lingkaran.

Penggunaan warna oranye yang dibelur warna kuning tampak pada latar iklan, secara umum arti warna oranye adalah Energy, Keseimbangan, Kehangantan.

Menekankan sebuah produk yang tidak mahal. Intinya warna putih ini tampil klasik pada fisik telepon genggam ini, sepertinya juga terlihat lebih elegant, menarik dan juga memiliki kelebihan/ keistimewaan Sony Xperia C. Mungkin bisa anda lihat pada segi desain body yang mewah seperti pada gambar di bawah ini,

(52)

Iklan telepon genggam Sony Xperia C pada surat kabar harian Konpas, juga terdapat warna putih pada telepon genggam, pemilihan warna putih sendiri karena warna putih memiliki arti tersendiri yaitu melambangkan kemurnian dan kepolosan, memberikan perlindungan, ketentraman, kenyamanan dan memudahkan refleksi. Namun terlalu banyak warna putih bisa menimbulkan perasaan dingin, steril, kaku dan terisolir. Putih juga termasuk warna paling aman selain hitam, karana boleh dipadu dengan segala warna. Iklan telepon genggam terdapat tiga pilihan warna seperti yang terlihat pada gambar di atas ada warna putih, hitam, dan biru. Iklan tersebut memberikan informasi mengenai pilihan warna yang tersedia.

2). Gambar dan foto

Sebuah iklan didukung juga oleh penggunaan gambar dan foto yang bertujuan membuat iklan lebih menarik serta menyimbolkan suatu pesan

(53)

yang harus diterima oleh masyarakat. Simbol yang pertama nampak yaitu penggunaan gambar (ikon) (1) Walkman yang berbentuk bundar dengan warna ungu, di dalamnya terdapat huruf W singkatan dari walkman, ikon ini menandakan sebagai pemutar musik. (2) ikon galeri foto yang berwarna kuning berbentuk bulat dan di dalamnya terdapat simbol gambar/foto. (3) ikon bundar berwarna merah dengan simbol pemutar vidio. (4) ikon berwarna hijau dan di tengahnya terdapat simbol windous phone, Tujuannya, untuk membantu bahasa verbalnya, digunakan simbol tersebut sebagai tanda memberitahukan bahwa ada produk baru yaitu Sony Xperia C yang memiliki fitur atau kelengkapan tersebut.

c. Emotif Word

Emotive Words adalah kata-kata yang mempengaruhi emosi. Pada iklan ini, kata-kata yang mempengaruhi emosi pembaca diberikan berikut. Berikut kutipannya.

DUAL SIM

Kata ini memberikan gambaran/informasi pada pengguna telepon genggam yang ingin menggunakan produk dari Sony Xperia C dengan kelengkapan dua sim. Informasi ini merupakan persuasif. Kalimat ini mengandung makna yang memberikan alasan mengapa calon pembeli harus memilih dan memakai telepon genggam dengan merek yang terkenal juga terbukti kualitas produknya.

Referensi

Dokumen terkait

Pokja Pengadaan Barang/Jasa ULP Universitas Mataram akan melaksanakan Seleksi Sederhana dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan jasa konsultansi secara

secara berkelompok untuk menjawab pertanyaan tentang pengertian, jenis, karakteristik, lingkup usaha jasa wisata; serta hubungan antara berbagai usaha jasa wisata guna

PERANCANGAN BUKU MENGENAL DUNIA SENI RUPA UNTUK ANAK USIA DINI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu..

Hal di atas perlu dipertimbangkan dan diputuskan oleh peneliti, karena berkaitan dengan jenis instrument yang akan digunakan, karena setiap instrument memiliki

Hal ini dipandang perlu mengingat begitu cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat multi displin, sehingga melalui kerjasama dengan pihak-pihak

Puji Syukur kepada Allah SWT atas berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul: PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN SUPERVISI

tertentu. Latar dalam bentuk tersebut termasuk ke dalam latar yang bersifat psikologi. Nurgiyantoro juga menjelaskan tentang unsur latar yang terdapat dalam cerita.. Unsur latar

DECADAL FOREST COVER LOSS ANALYSIS OVER INDIAN FORESTS USING MODIS 250M IMAGERYR.