Determinants of Male Participation in Antenatal Care
Guspianto1, Ismi Nurwaqiah Ibnu11Study Program of Public Health Science, Faculty of Medicine and Health Sciences, Universitas Jambi. Jalan Tri Brata, KM.11, Pondok Meja Mestong Muaro Jambi. 36364,
Jambi Province, Indonesia
*Corresponding authors: Guspianto ([email protected], 082257486689) ABSTRACT
Background: Antenatal care is very important for maternal health. Male involvement can affect the delays in decision making to seek, reach, and utilize antenatal health services that have an impact on maternal mortality, as well as the right way to improve family quality that promote gender equality.
Objectives: This study aims to assess the level of male participation and to analyze the determinants of male participation in antenatal care.
Methods: A cross sectional study through a survey of 381 men selected by multistage random sampling was conducted in Muaro Jambi District from July to September 2020.
The outcome variable was male participation in antenatal care was contructed from eight dichotomized indicators which measurement results were low (scored 1 and 2) and high (scored 3 and 4). A Multiple logistic regression analysis was performed using SPSS 24.0 at a significance level of 0.05.
Results: The level of male participation in antenatal care was still low (41.2%).
Simultaneously, the determinants were age (OR = 1.858, 95% CI = 1.066-3.240), number
of children (OR = 2.909, 95% CI = 1.532-5.522), income (OR = 1.715, 95% CI = 1,060- 2,775), and knowledge (OR = 3,706, 95% CI = 2,320-5,919). The knowledge factor is the main determinant related to male participation in antenatal care in Muaro Jambi Regency.
Conclusion: Male participation in antenatal care in Muaro Jambi District was still low which influenced by age, number of children, income, and knowledge. Health promotion efforts are needed through providing communication, education and information intensively to empower men for meaningful involvement in antenatal care.
Key words: male participation, antenatal care.
PENDAHULUAN
Peningkatan partisipasi pria yang menekankan pada tanggung jawab terhadap kesehatan maternal merupakan amanat Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994 yaitu (United Nations, 1995). Beberapa studi telah mengungkapkan manfaat keterlibatan pria terhadap kesehatan ibu, seperti peningkatan akses ke layanan antenatal yang cenderung mengarah pada peningkatan persalinan dengan tenaga terlatih1, peningkatan akses pemakaian metode kontrasepsi modern2 dan mengatasi hambatan dalam meng-akses pelayanan kesehatan ibu.3 Partisipasi pria ini juga merupakan cara tepat meningkatkan kualitas keluarga yang mendorong kesetaraan gender.4 Salah satu wujud partisipasi pria dalam kesehatan maternal adalah mengambil peran saat isteri menjalani perawatan kehamilan (antenatal care/ANC).
Perawatan ANC sangat penting bagi kesehatan ibu dan perkembangan janin. Ibu hamil dan keluarganya harus memiliki akses dengan sistem pelayanan kesehatan untuk dapat memanfaatkan fasilitas dan tenaga kesehatan terampil untuk meningkatkan kesehatan diri dan janin dalam melalui siklus kehidupan.4 Partisipasi pria bisa berpengaruh terhadap keterlambatan dalam pengambilan keputusan untuk mencari, mencapai, dan memanfaatkan pelayanan kesehatan ANC yang berdampak pada meningkatnya angka kematian ibu (AKI) yang hingga saat ini masih menjadi masalah besar di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. AKI adalah barometer pelayanan kesehatan ibu dan menjadi salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat suatu negara.5 World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 830 wanita di dunia meninggal setiap harinya akibat kehamilan dan persalinan. AKI di Indonesia sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup (KH) tahun 2016, menduduki peringkat tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Negara Laos.6 Di Provinsi Jambi, AKI cenderung meningkat dalam 3 tahun terakhir yaitu 53/100.000 KH (2015), 56/100.000 KH (2016) dan 59/100.000 KH (2017).7 Oleh karena itu, upaya menurunkan AKI menjadi salah satu target prioritas SDG’s (Sustainable Development Goals) dengan target menjadi 70 per 100.000 KH tahun 2030.8
Partisipasi pria dalam ANC terbukti mampu meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal. Studi Mohammed et al. (2019) menunjukkan hubungan signifikan antara partisipasi pria (suami) dalam perawatan kesehatan ibu dan pemanfaatan layanan kesehatan ibu.9 Partisipasi pria dalam ANC terbukti meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu di negara-negara Afrika.10,11,12 Pengakuan atas pentingnya partisipasi pria dalam ANC semakin meningkat, namun faktanya masih minim dilakukan khususnya di negara-negara berkembang.13 Data SDKI (2012) menunjukkan angka partisipasi pria terhadap kesehatan maternal khususnya perawatan kehamilan (ANC) masih rendah dimana
hanya sebesar 44% pria yang mengetahui kondisi kehamilan isteri, 67% pria menemani istrinya pemeriksa kehamilan, dan 40% pria yang membahas rencana tempat persalinan bersama isterinya.14
Partisipasi pria dalam ANC yang rendah diyakini menyebabkan upaya peningkatan kesehatan dan penurunan angka kematian pada maternal masih mengalami kendala.
Penelitian di Uganda melaporkan keterlibatan pria yang rendah dalam ANC khususnya dalam pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.15 Studi lainnya di Kenya menemukan hanya 12,5% pria menyatakan pernah menemani istrinya minimal satu kali kunjungan ANC.16 Alasan utama rendahnya partisipasi pria adalah pandangan bahwa perawatan kehamilan merupakan urusan wanita, pria belum siap berpartisipasi dalam ANC, dan aturan ANC yang menghambat partisipasi pria17. Rendahnya partisipasi pria dalam ANC dapat menyebabkan peningkatan kesakitan dan kematian ibu akibat kesalahan dan keterlambatan dalam pengambilan keputusan untuk mendapatkan pelayanan ANC yang umumnya didominasi kaum pria.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap partisipasi pria dalam ANC telah banyak dilaporkan antara lain pekerjaan, etnis, agama, waktu tunggu, informasi dan sikap petugas.17,18 Penelitian lainnya di Bangladesh menunjukkan bahwa partisipasi pria dalam pelayanan kesehatan reproduksi berhubungan signifikan dengan pendidikan, pekerjaan, pendapatan, akses ke media, dan jumlah anak hidup. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan tingkat pendidikan menengah ke atas, jumlah anak hidup, status pekerjaan, lama perkawinan, dan akses ke media berhubungan signifikan dengan partisipasi pria dalam layanan kesehatan reproduksi.19 Green, et al (1991) mengemukakan bahwa partisipasi pria dalam ANC merupakan wujud perilaku kesehatan yang dipengaruhi tiga faktor yaitu faktor predisposisi sebagai faktor anteseden dalam berperilaku; faktor pendukung yang memungkinkan perilaku terlaksana; dan faktor pendorong sebagai penguat perubahan perilaku.20 Studi ini bertujuan menilai tingkat partisipasi pria dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi determinan partisipasi pria dalam ANC.
METODE
Desain dan pengambilan sampel
Desain penelitian adalah studi kuantitatif rancangan cross sectional dengan pengumpulan data dilakukan sejak bulan Juni hingga Agustus 2020. Penelitian ini dilakukan di wilayah Muaro Jambi salah satu kabupaten di Provinsi Jambi seluas 5.246 km² dengan populasi sebanyak 365.700 jiwa tahun 2019. Kabupaten ini terletak mengelilingi wilayah Kota Jambi yang merupakan ibukota Provinsi Jambi. Wilayah ini memiliki 3 rumah sakit dan 22 puskesmas yang menyediakan pelayanan ANC. Wilayah ini dipilih berdasarkan data cakupan pelayanan maternal di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah masih rendah di Provinsi Jambi.
Sampel penelitian adalah pria dari pasangan usia subur yang tinggal serumah dengan pasangannya dan telah memiliki anak kandung berusia maksimal 2 (dua) tahun saat pengumpulan data. Ukuran sampel minimum sebanyak 398 responden yang dihitung berdasarkan rumus Slovin21 dengan tingkat toleransi kesalahan sebesar 5% dan ditambah dengan 10% sampel untuk antisipasi responden non-respon sehingga total sampel menjadi 438 responden. Pemilihan sampel menggunakan teknik multistage sampling, mulai dari memilih 4 kecamatan dari 11 kecamatan secara acak, lalu memilih 2 desa dari setiap
kecamatan secara acak sehingga diperoleh total 8 desa. Selanjutnya sampel dipilih secara acak berdasarkan survei rumah tangga pada 8 desa terpilih secara proporsional.
Manajemen dan analisis data
Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti mengadaptasi dari beberapa penelitian sebelumnya,9,16,17,18,22,23,24 ditambah beberapa indikator Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Formulir informed consent disertakan pada halaman pertama kuesioner dan studi ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komisi etik penelitian kesehatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jambi Nomor: LB.02.06/2/109/2020.
Variabel dependen adalah partisipasi pria dalam ANC dibangun sebagai variabel komposit dari 8 item pertanyaan dengan jawaban dikotomi (ya/tidak), yaitu: 1) merencanakan bersama istri waktu dan tempat ANC; 2) mengantarkan isteri periksa kehamilan; 3) menemani isteri saat periksa hamil; 4) berdiskusi dengan petugas kesehatan tentang kehamilan isteri; 5) membantu melakukan pekerjaan rumah saat isteri sedang hamil; 6) mengingatkan isteri untuk senam hamil sesuai anjuran; 7) tidak merokok di dekat isteri hamil; 8) menyiapkan calon donor darah untuk kondisi darurat kehamilan. Total skor dihitung dengan menambahkan skor setiap kegiatan yang dilaporkan responden. Tingkat partisipasi dikategorikan menjadi 2 yaitu partisipasi rendah atau partisipasi tinggi berdasarkan nilai cut off point (median).
Variabel independen terdiri dari 17 variabel karakteristik dan latar belakang reponden berdasarkan teori Green, et al (1991)20 terdiri dari umur (≤ 30 tahun/> 30 tahun), usia kawin pertama (< 25 tahun/≥ 25 tahun), jumlah anak (> 2 orang/≤ 2 orang), nilai anak (≤ 2 orang/> 2 orang), pendapatan (rendah/tinggi), pendidikan (rendah/tinggi), pendidikan isteri (rendah/tinggi), pengetahuan (kurang baik/baik), jarak (jauh/dekat), biaya (mahal/murah), transportasi (sulit/mudah), jaminan kesehatan (tidak ada/ada), kualitas pelayanan (kurang baik/baik), sikap petugas (kurang ramah/ramah), komunikasi (kurang baik/baik), informasi media sosial (tidak/ya), dan budaya (kurang mendukung/mendukung). Pengetahuan dan kualitas pelayanan masing-masing adalah variabel komposit dari beberapa item pertanyan yang dikategorikan berdasarkan nilai cut off point (median).
Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan frekuensi dan persentase dari karakteristis dan latar belakang responden serta tingkat partisipasi pria dalam ANC. Uji chi-square dilakukan untuk melihat hubungan variabel bebas dengan variabel terikat dan untuk melihat faktor yang menjadi determinan tingkat partisipasi pria dalam ANC dilakukan dengan uji regresi logistik ganda.
HASIL
Karakteristik dan latar belakang responden
Penelitian ini memiliki tingkat respon sebesar 87% dimana dari sebanyak 438 sampel hanya 381 sampel yang berhasil diwawancarai, sisanya (13%) tidak berhasil ditemui setelah dilakukan kunjungan rumah berulang. Usia responden berkisar 21-56 tahun dan lebih dari 78% berusia 25-44 tahun. Usia pertama kawin berkisar 16-43 tahun dan mayoritas responden kawin di usia 21-30 tahun (74.8%). Jumlah anak yang dimiliki berkisar 1-6 anak dan sebagian besar memiliki 1-2 anak (77,4%). Jumlah anak yang diinginkan berkisar 1-6 anak dan lebih dari separoh (59.3%) menginginkan anak 1-2 orang.
Pendapatan responden per bulan berkisar Rp. 200.000 - Rp. 10.000.000, dan mayoritas berpendaptan ≤ Rp. 2.500.000 (69%). Lebih dari setengah dari responden berpendidikan rendah baik pada responden sendiri (59,8%) maupun pada isteri responden (62.2%).
Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (56,7%), jarak yang dekat dengan fasilitas layanan ANC (90,6%), biaya murah (68%), transportasi mudah (92,9%), memiliki jaminan kesehatan (68,5%), persepsi kualitas layanan ANC yang baik (52,8%) dan sikap petugas yang ramah (74,8%). Sebagian besar responden kurang baik dalam melakukan komunikasi tentang kesehatan maternal bersama isteri (75,6%), tidak memperoleh informasi kesehatan maternal dari media sosial (71,7%), dan memiliki budaya yang mendukung (70,6%) (Tabel 1).
Tabel 1. Karaktersitik dan Latar Belakang Responden
Variabel Kategori Frekuensi (%)
Umur (tahun) - 21 – 24
- 25 – 34 - 35 - 44 - ≥ 45
7 124 174 76
(1.8) (32.5) (45.7) (20.0) Usia Pertama Kawin - 16 – 20
- 21 – 30 - ≥ 31
67 285 29
(17.6) (74.8) (7.6)
Jumlah Anak - ≤ 2
- 3-5 - 6
295 85 1
(77.4) (22.3) (0.3)
Nilai Anak - ≤ 2
- 3-5 - 6
226 152 3
(59.3) (39.9) (0.8)
Variabel Kategori Frekuensi (%)
Pendapatan - ≤ 2.500.000
- 2.600.000 – 5.000.000 - 5.100.000 – 10.000.000
263 112 6
(69.0) (29,4) (1,6) Pendidikan Suami - Tidak Sekolah
- SD - SLTP - SLTA - PT
1 112 115 139 14
(0.3) (29.4) (30.2) (36.5) (3.7) Pendidikan Isteri - SD
- SLTP - SLTA - PT
96 141 134 10
(25.2) (37.0) (35.2) (2.6)
Pengetahuan - Kurang baik
- baik
165 216
(43.3) (56.7)
Jarak - Jauh
- Dekat
36 345
(9.4) (90.6)
Biaya - Mahal
- Murah
122 259
(32.0) (68.0)
Transportasi - Sulit
- Mudah
27 354
(7.1) (92.9) Jaminan Kesehatan - Tidak memiliki
- Memiliki
120 261
(31.5) (68.5) Kualitas Pelayanan - Kurang baik
- Baik
180 261
(47.2) (52.8) Sikap Petugas - Kurang ramah
- Ramah
96 285
(25.2) (74.8)
Komunikasi - Kurang baik
- Baik
288 93
(75.6) (24.4)
Informasi Media Sosial - Tidak - Ya
273 108
(71.7) (28.3)
Budaya - Kurang mendukung
- Mendukung
112 269
(29.4) (70.6)
Tingkat partisipasi pria dalam ANC
Penelitian ini menemukan proporsi partisipasi pria dalam ANC paling banyak adalah merencanakan waktu dan tempat ANC bersama isteri (66,4%) dan paling sedikit adalah menyiapkan calon donor darah untuk kondisi darurat kehamilan (28,6%). Temuan ini menunjukkan mayoritas responden (58,5%) memiliki partisipasi rendah dalam ANC (tabel 2).
Tabel 2. Tingkat Partisipasi Pria dalam ANC
Indikator Frekuensi (%)
1. Merencanakan bersama istri waktu dan tempat ANC 2. Mengantarkan isteri periksa kehamilan
3. Menemani isteri saat periksa hamil
4. Berdiskusi dengan petugas kesehatan tentang kehamilan isteri 5. Membantu melakukan pekerjaan rumah saat isteri sedang hamil 6. Mengingatkan isteri untuk senam hamil sesuai anjuran
7. Tidak merokok di dekat isteri hamil
8. Menyiapkan calon donor darah untuk kondisi darurat kehamilan
253 138 136 218 135 153 232 109
(66.4) (36.2) (35.7) (57.2) (35.4) (40.2) (60.9) (28.6) Tingkat Partisipasi Pria dalam ANC:
- Partisipasi Rendah - Partisipasi Tinggi
224 157
(58.8) (41.2) Faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi pria dalam ANC
Tabel 3 menyajikan hubungan antara karakteristik dan latar belakang responden dengan tingkat partisipasi pria dalam ANC melalui uji chi-square yang menunjukkan dari 17 variabel, ada 9 variabel yang signifikan berhubungan dengan partisipasi pria yaitu umur, nilai anak, pendapatan, pendidikan suami, pendidikan isteri, pengetahuan, komunikasi, informasi media sosial, dan budaya.
Tabel 3. Hubungan Karakteristik dan Latar Belakang Responden dengan Tingkat Partisipasi Pria dalam ANC
Variabel Partisipasi Rendah Partisipasi Tinggi
X2 p-value
n % n %
Umur - ≤ 30 tahun - > 30 tahun
64 160
70.3 55.2
27 130
29.7 44.8
6.568 0.010**
Usia Kawin Pertama - < 25 tahun - ≥ 25 tahun
113 111
60.4 57.2
74 83
39.6 42.8
0.405 0.524 Jumlah Anak
- > 2 orang - ≤ 2 orang
56 168
65.9 56.8
29 128
34.1 43.2
2.270 0.132 Nilai Anak
- ≤ 2 orang - > 2 orang
148 76
65.2 49.4
79 78
34.8 50.6
9.512 0.002**
Pendapatan - Rendah - Tinggi
164 60
62.4 50.8
99 58
37.6 49.2
4.454 0.035*
Pendidikan Suami - Rendah - Tinggi
146 78
64.0 51.0
82 75
36.0 49.0
6.441 0.011*
Pendidikan Isteri - Rendah - Tinggi
150 74
63.3 51.4
87 70
36.7 48.6
5.238 0.022*
Pengetahuan - Kurang Baik - Baik
126 98
76.4 45.4
39 118
23.6 54.6
37.089 0.000**
Jarak - Jauh - Dekat
17 207
47.2 60.0
19 138
52.8 40.0
2.197 0.138 Biaya
- Mahal - Murah
66 158
54.1 61.0
56 101
45.9 39.0
1.632 0.201 Transportasi
- Sulit - Mudah
16 208
59.3 58.8
11 146
40.7 41.2
0.003 0.959 Kepesertaan Jamkes
- Tidak ada - Ada
70 154
58.3 59.0
50 107
41.7 41.0
0.015 0.902 Kualitas Pelayanan
- Kurang Baik - Baik
102 121
56.7 60.5
78 79
43.3 39.5
0.574 0.449 Sikap
- Kurang Ramah - Ramah
57 167
59.4 58.6
39 118
40.6 41.4
0.018 0.893 Komunikasi
- Kurang Baik - Baik
184 40
63.9 43.0
104 53
36.1 57.0
12.648 0.000**
Variabel Partisipasi Rendah Partisipasi Tinggi
X2 p-value
n % n %
Informasi Medsos - Tidak
- Ya
175 49
64.1 45.4
98 59
35.9 54.6
11.208 0.001**
Budaya
- Kurang Mendukung - Mendukung
75 149
67.0 55.4
37 120
33.0 44.6
4.372 0.037*
Keterangan: * = p≤0,05; ** = p≤0,01; ; *** = p≤0,001 Determinan tingkat partisipasi pria dalam ANC
Hasil analisis multivariat (regresi logistik) diperoleh 4 (empat) faktor yang menjadi determinan tingkat partisipasi pria dalam ANC yaitu umur, jumlah anak, pendapatan dan pengetahuan. Pria berumur > 30 tahun cenderung memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam ANC dibandingkan pria berumur ≤ 30 tahun (OR=1,858, CI 95%=1,066 – 3,240). Pria yang memiliki anak ≤ 2 cenderung lebih tinggi berpartisipasi dalam ANC dibandingkan pria yang memiliki anak > 2 (OR=2,909, CI 95%=1,532 – 5,522). Pria dengan pendapatan tinggi berpeluang lebih berpartisipasi dalam ANC dibandingkan pria berpendapatan rendah (OR=1,715, CI 95%=1,060 – 2,775), dan pria yang berpengetahuan baik cenderung memiliki partisipasi tinggi dalam ANC dibandingkan pria berpengetahuan kurang baik (OR=3,706, CI 95%=2,320 – 5,919). Dari 4 (empat) faktor determinan di atas, faktor pengetahuan merupakan faktor determinan utama yang berhubungan dengan tingkat partisipasi pria dalam ANC (tabel 4).
Tabel 4. Analisis Multivariat Regresi Logistik; Determinan Partisipasi Pria dalam ANC
Variabel B P-Wald OR Exp(B) 95% CI
Umur 0,620 0,029* 1,858 1,066 – 3,240
Jumlah Anak 1,068 0,001*** 2,909 1,532 – 5,522
Pendapatan 0,540 0,028* 1,715 1,060 – 2,775
Pengetahuan 1,310 0,000*** 3,706 2,320 – 5,919
Keterangan: * = p≤0,05; ** = p≤0,01; ; *** = p≤0,001 PEMBAHASAN
Peran pria (suami) terhadap kesehatan maternal secara umum sudah banyak dijelaskan dalam literatur dan hal ini bernilai sangat penting terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia dengan budaya paternalism-nya yang masih kuat yang cenderung mendorong dominasi laki-laki dan menghalangi peran perempuan dalam pengambilan keputusan.25,26
Tingkat partisipasi pria dalam ANC
Secara umum, hasil temuan studi ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pria dalam ANC di Kabupaten Muaro Jambi masih rendah (41,2%). Indikator-indikator yang berkontribusi terhadap rendahnya partisipasi pria tersebut meliputi partisipasi pria untuk mengantarkan isteri periksa kehamilan (36,2%), menemani isteri saat periksa hamil (35,7%), membantu pekerjaan rumah saat isteri hamil (35,4%), mengingatkan isteri untuk senam hamil (40,2%), dan menyiapkan calon pendonor darah untuk antisipasi darurat kehamilan (28,6%). Fenomena ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menunjukkan partisipasi pria dalam ANC masih rendah seperti di sub-sahara Afrika, Kenya, Ethiopia dan Uganda. 9,15,27,28 namun berbeda dengan riset-riset yang dilakukan di Tanzania, Rwanda, Nigeria, Inggris dan Uganda.1,17,29,30,31
Kehamilan merupakan masa saat seorang ibu mengalami perubahan besar secara fisiologis dan psikologis yang mudah menyebabkan kecemasan dan stress serta rentan terhadap risiko tinggi kehamilan seperti hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, anemia, hingga perdarahan yang berdampak pada kematian ibu dan janin. Salah satu upaya untuk pencegahannya adalah melalui program Suami SIAGA (Siap Antar Jaga), artinya suami siap mengambil tindakan dan menjaga istrinya yang sedang hamil atau menghadapi proses persalinan sebagai bentuk partisipasi atau dukungan kepada istri. Studi ini menemukan beberapa variabel yang secara simultan memiliki hubungan siginifikan dengan partisipasi pria dalam perawatan ibu hamil yaitu umur, jumlah anak, pendapatan dan pengetahuan. Temuan ini semakin menambah kompleksitas permasalahan keterlibatan pria dalam kesehatan maternal khususnya ANC.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat partisipasi pria dalam ANC Temuan studi ini menunjukkan bahwa pria berumur > 30 tahun berpeluang memiliki partisipasi tinggi dalam ANC dibanding berumur ≤ 30 tahun (OR=1,858, CI 95%=1,066 – 3,240). Sebagian besar responden dalam penelitian ini berusia > 30 tahun (76,1%) yang menunjukkan tingkat kedewasaan dan memiliki banyak pengalaman terkait proses kehamilan isteri sehingga cenderung lebih berpartisipasi. Dukungan dan partisipasi pria sebagai suami SIAGA sangat penting selama proses kehamilan.32 Studi di Indonesia berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 menemukan kecenderungan suami menemani istri saat pemeriksaan kehamilan dan persalinan lebih besar pada usia isteri antara 21-35 tahun (berarti usia suami berada lebih tinggi di atasnya)33. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada studi-studi lainnya yang membuktikan
usia tidak berhubungan dengan tingkat partisipasi pria dalam ANC.17,18 Temuan penelitian ini mendorong pentingnya peningkatan upaya pendewasaan usia perkawinan baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang memiliki dampak terhadap keterlibatan pria dalam kesehatan maternal.
Sebagian besar pria dalam studi ini memiliki anak ≤ 2 (77,4%) yang berpeluang memiliki partisipasi tinggi dalam ANC dibanding memiliki anak > 2 (OR=2,909, CI 95%=1,532 – 5,522), artinya jumlah anak berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pria ANC. Keluarga dengan jumlah anak ≤ 2 menandakan pengalaman atas kehamilan masih minim, sehingga suami termotivasi untuk turut berpartisipasi dalam perawatan kehamilan isteri untuk belajar bersama terkait kondisi kehamilan dan diharapkan berperan aktif menjaga kesehatan istri selama hamil. Hasil ini sejalan temuan studi sebelumnya bahwa suami yang tidak memberikan dukungan SIAGA terjadi pada multigravida.33 Pria yang memiliki dua anak memiliki kemungkinan lebih tinggi terlibat dalam pelayanan kesehatan reproduksi.19 Temuan ini mendukung program keluarga berencana (KB) terkait kebijakan
“2 anak lebih baik” agar pria dapat lebih terlibat dan berpartisipasi dalam meningkatkan kesehatan maternal khususnya ANC. Hasil ini berbeda dengan beberapa studi lainnya yang membuktikan bahwa jumlah anak tidak berhubungan dengan partisipasi pria dalam ANC, dimana pria yang memiliki lebih dari empat anak cenderung berpartisipasi tinggi (AOR=
1,658, CI 95%= 1,134-2,422) dengan alasan preferensi kesuburan laki-laki yang tinggi, kesadaran akan kesehatan ibu yang lebih rentan, dan hubungan dengan sistem pelayanan kesehatan.17,18
Hasil studi ini menunjukkan pendapatan sebagai determinan partisipasi pria dalam perawatan kehamilan isteri dimana pria berpendapatan tinggi cenderung berpartisipasi tinggi dibandingkan pria berpendapatan rendah (OR=1,715, CI 95%=1,060 – 2,775).
Mayoritas responden dalam studi ini memiliki pendapatan rendah yaitu rata-rata ≤ Rp.
2.500.000,- per bulan (69%), sehingga kekhawatiran atas biaya perawatan ibu hamil kemungkinan besar mempengaruhi keterlibatan pria. Aspek ekonomi merupakan salah satu faktor penghambat partisipasi pria dalam perawatan ibu hamil dimana kekurangan uang membatasi keterlibatan pria dalam kegiatan ANC.15,17,34 Jenis pekerjaan dengan pendapatan yang rendah membuat banyak pria sulit menyisihkan cukup waktu untuk berpartisipasi dalam perawatan kehamilan isterinya.22 Semakin rendah pendapatan keluarga maka aktivitas keluarga terhadap kesehatan ibu hamil akan semakin rendah, disebabkan mahalnya biaya hidup sehari-hari yang lebih prioritas dibanding dengan kesehatan ibu hamil.33
Studi ini menemukan mayoritas responden memiliki jaminan kesehatan (68,5%), namun masih ada biaya yang dikeluarkan untuk perawatan ibu hamil (ANC) disebabkan selain enggan memanfaatkan jaminan kesehatan yang dimiliki (22,6%) dengan alasan pengurusan yang sulit (47,5%), juga karena adanya biaya tambahan seperti transportasi, pembelian bahan dan obat-obatan. Fenomena ini harus menjadi fokus perhatian pemerintah terkait tidak hanya meningkatkan cakupan peserta jaminan kesehatan tetapi juga bagaimana upaya meningkatkan pemanfaatan jaminan kesehatan tersebut dan mengawasi pelaksanaan dalam pemberian pelayanan.
Studi ini menemukan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik tentang kesehatan maternal memiliki peluang untuk berpartisipasi lebih tinggi dibandingkan berpengetahuan kurang baik (OR=3,706, CI 95%=2,320 – 5,919). Hasil penelitian ini mendukung studi di Tanzania yang melaporkan bahwa pria yang memiliki informasi tiga
kali lebih berpeluang untuk terlibat dalam ANC (AOR = 3,077, 95% CI = 2,076 - 4,562), dan sejalan dengan riset-riset terdahulu di Zambia dan Uganda meskipun pada konteks yang berbeda yaitu partisipasi pria dalam program HIV pada ibu hamil.17,35,15 Pria yang memiliki pengetahuan baik tentang kesehatan ibu hamil akan lebih berpartisipasi dalam perawatan kehamilan, sementara pria berpengetahuan rendah akan salah memahami bahwa perawatan kehamilan merupakan tugas isteri. Kesalahpahaman ini adalah bias gender yang menghalangi pria untuk berperan aktif dalam perawatan kesehatan istri.24
Determinan utama partisipasi pria dalam ANC
Hasil analisis multivariat membuktikan pengetahuan sebagai faktor determinan utama partisipasi pria dalam ANC di Kabupaten Muaro Jambi. Pengetahuan berpengaruh terhadap partisipasi pria dalam ANC karena memiliki potensi besar untuk mengatasi kesalahpahaman dan mitos yang menghalangi partisipasi pria dalam perawatan maternal.15,
36,37,38 Pria dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih banyak terlibat dalam perawatan kesehatan reproduksi, hal ini berkemungkinan terkait dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi dan besarnya akses ke media yang berefek pada tingginya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.19
Mayoritas responden dalam studi ini berpengetahuan baik tentang kesehatan maternal (56,7%), namun ada beberapa aspek pengetahuan responden yang masih minim antara lain tidak kuat mengejan sebagai tanda bahaya persalinan (14,2%), melahirkan harus di fasilitas kesehatan (37,5%) dan pemeriksaan kehamilan minimal 2 kali selama hamil (55,9%). Hambatan pengetahuan yang rendah untuk partispasi pria dalam ANC meliputi persepsi negatif masyarakat terhadap pria yang berperan aktif menjaga kesehatan keluarga mereka, kurangnya pengetahuan tentang peran pria dalam perawatan kehamilan, dan sistem layanan kesehatan yang kurang dirancang/dilaksanakan untuk memfasilitasi inklusi kaum pria.
KESIMPULAN
Mayoritas responden melaporkan partisipasi rendah dalam ANC, khususnya dalam hal mengantarkan isteri periksa kehamilan, menemani isteri saat periksa hamil, membantu pekerjaan rumah saat isteri hamil, mengingatkan isteri untuk senam hamil, dan menyiapkan calon pendonor darah untuk antisipasi darurat kehamilan. Secara simultan, faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat partisipasi pria dalam ANC adalah umur, jumlah anak, pendapatan dan pengetahuan. Pengetahuan adalah faktor determinan utama partisipasi pria dalam ANC di Kabupaten Muaro Jambi. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan melalui pemberian komunikasi, edukasi dan informasi secara intensif sangat diperlukan untuk pemberdayaan pria agar lebih berpartisipasi dalam perawatan ANC.
Ucapan Terima Kasih
Kami mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Jambi (LPPM-Unja) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi yang telah menyediakan dana dan mendukung penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. 1 Redshaw, M., & Henderson, J. (2013). Fathers’ engagement in pregnancy and childbirth: Evidence from a national survey. BMC Pregnancy and Childbirth, 13.
https://doi.org/10.1186/1471-2393-13-70.
2. 2 Mekonnen, W., & Worku, A. (2011). Determinants of low family planning use and high unmet need in Butajira District, South Central Ethiopia. Reproductive Health, 8(1), 1–8.
https://doi.org/10.1186/1742-4755-8-37.
3. 3 Comrie-Thomson, L., Tokhi, M., Ampt, F., Portela, A., Chersich, M., Khanna, R., &
Luchters, S. (2015). Challenging gender inequity through male involvement in maternal and newborn health: critical assessment of an emerging evidence base. Culture, Health and Sexuality, 17, 177–189. https://doi.org/10.1080/13691058.2015.1053412.
4. 4 Lincetto O, Seipati MA, Gomez P, et al. Antenatal care. In: Lawn J, Kerber K, editors.
Opportunities for Africa's newborns: practical data, policy and programmatic support for newborn Care in Africa. Geneva: WHO; 2006. p. 51–66.
5. 5 Geller, S. E., Cox, S. M., Callaghan, W. M., & Berg, C. J. (2006). Morbidity and mortality in pregnancy. Laying the Groundwork for Safe Motherhood. Women’s Health Issues, 16(4), 176–188. https://doi.org/10.1016/j.whi.2006.06.003.
6. 6 Kemenkes RI. (2017). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Retrieved from https://www.kemkes.go.id.
7. 7 Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. (2019). Profil Kesehatan Jambi 2018, Jambi.
8. 8 Bappenas. (2018). Retrieved from http://sdgsindonesia.or.id.
9. 9 Mohammed, B. H., Johnston, J. M., Vackova, D., Hassen, S. M., & Yi, H. (2019). The role of male partner in utilization of maternal health care services in Ethiopia: A community- based couple study. BMC Pregnancy and Childbirth, 19(1), 1–9.
https://doi.org/10.1186/s12884-019-2176-z.
10. 10 Wai KM, Shibanuma A, Oo NN, Fillman TJ, Saw YM, Jimba M. Are husbands involving in their spouses’ utilization of Maternal care services?: a cross- sectional study in Yangon, Myanmar. PLoS One. 2015;10(12):e0144135. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0144135.
11. 11 Wendy Holmes JD, Stanley Lunchers. Engaging men in reproductive, maternal and newborn
health compass; 2013. Available from:http://www.
who.int/pmnch/knowledge/publications/summaries/ks26/en/.
12. 12 Ditekemena J, Koole O, Engmann C, Matendo R, Tshefu A, Ryder R, et al. Determinants of male involvement in maternal and child health services in sub-Saharan Africa: a review. Reprod Health. 2012;9:32. https://doi.org/10. 1186/1742-4755-9-32.
13. 13 Davis, J., Luchters, S., & Holmes, W. (2013). Men and maternal and newborn health:
Benefits, harms, challenges and potential strategies for engaging men. Women’s and Children’s
Health Knowldge Hub, (February). Retrieved from
http://www.wchknowledgehub.com.au/sites/default/files/BP_Davis_FEB13.pdf 14. 14 BKKBN RI. (2013). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012, Jakarta.
15. 15 Byamugisha, R., Tumwine, J. K., Semiyaga, N., & Tylleskär, T. (2010). Determinants of male involvement in the prevention of mother-to-child transmission of HIV programme in Eastern Uganda: A cross-sectional survey. Reproductive Health, 7(1), 1–9.
https://doi.org/10.1186/1742-4755-7-12.
16. 16 Bello, F. O., Musoke, P., Kwena, Z., Owino, G. O., Bukusi, E. A., Darbes, L., & Turan, J.
M. (2019). The role of women’s empowerment and male engagement in pregnancy healthcare seeking behaviors in western Kenya. Women & Health, 59(8), 892–906.
https://doi.org/10.1080/03630242.2019.1567644.
17. 17 Gibore, N. S., Bali, T. A. L., & Kibusi, S. M. (2019). Factors influencing men’s involvement in antenatal care services: a cross-sectional study in a low resource setting, Central Tanzania.
Reproductive Health, 16(1), 52. https://doi.org/10.1186/s12978-019-0721-x.
18. 18 Gibore, N. S., Ezekiel, M. J., Meremo, A., Munyogwa, M. J., & Kibusi, S. M. (2019).
Determinants of men’s involvement in maternity care in dodoma region, central Tanzania.
Journal of Pregnancy, 2019. https://doi.org/10.1155/2019/7637124.
19. 19 Shahjahan, M., Mumu, S. J., Afroz, A., Chowdhury, H. A., Kabir, R., & Ahmed, K.
(2013). Determinants of male participation in reproductive healthcare services: A cross- sectional study. Reproductive Health, 10(1), 1. https://doi.org/10.1186/1742-4755-10-27.
20. 20 Notoatmodjo, S. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan, Cetakan ke-2. Rineka Cipta. Jakarta.
21. 21 Sugiyono, 2014, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Alfabeta, Bandung.
22. 22 Ongolly, F. K., & Bukachi, S. A. (2019). Barriers to men’s involvement in antenatal and postnatal care in Butula, western Kenya. African Journal of Primary Health Care and Family Medicine, 11(1), 1–7. https://doi.org/10.4102/phcfm.v11i1.1911
23. 23 Iliyasu, Z., Abubakar, I. S., Galadanci, H. S., & Aliyu, M. H. (2010). Birth preparedness, complication readiness and fathers’ participation in maternity care in a northern Nigerian community. African Journal of Reproductive Health, 14(1), 21–32.
https://doi.org/10.2307/25766336.
24. 24 Kamal, M. M., Islam, M. S., Alam, M. S., & Hasssn, A. B. M. E. (2013). Determinants of Male Involvement in Family Planning and Reproductive Health in Bangladesh. American Journal of Human Ecology, 2(2), 83–93. https://doi.org/10.11634/216796221302332.
25. 25 Kurniati, A., C. M. Chen, F. Efendi, L. J. Elizabeth Ku, and S. M. Berliana. 2017. Suami SIAGA: Male engagement in maternal health in Indonesia. Health Policy and Planning 32 (8):1203–11. doi:10.1093/heapol/czx073
26. 26 Yargawa, J., and J. Leonardi-Bee. 2015. Male involvement and maternal health outcomes:
Systematic review and meta-analysis. Journal of Epidemiology and Community Health 69 (6):604–12. doi:10.1136/jech-2014-204784.
27. 27 Sherr, L., and N. Croome. 2012. Involving fathers in prevention of mother to child transmission initiatives – What the evidence suggests. Journal of the International AIDS Society 15 (Suppl 2):17378. doi:10.7448/IAS.15.4.17378.
28. 28 Asweto, C. O., J. R. Aluoch, C. O. Obonyo, and J. O. Ouma. 2014. Maternal autonomy, distance to health care facility and ANC attendance: Findings from Madiany Division of Siaya County, Kenya. American Journal of Public Health Research 2 (4):153–58. doi:10.12691/ajphr- 2-4-5.
29. 29 Jennings, L., M. Na, M. Cherewick, M. Hindin, B. Mullany, and S. Ahmed. 2014. Women’s empowerment and male involvement in antenatal care: Analyses of Demographic and Health Surveys (DHS) in selected African countries. BMC Pregnancy and Childbirth 14:297.
doi:10.1186/ 1471-2393-14-297.
30. 30 Tweheyo R, Konde-Lule J, Tumwesigye NM, Sekandi JN. Male partner attendance of skilled antenatal care in peri-urban Gulu district, Northern Uganda. BMC Pregnancy Childbirth.
2010;10:53. https://doi.org/10.1186/ 1471-2393-10-53.
31. 31 Olayemi O, Bello FA, Aimakhu CO, Obajimi GO, Adekunle AO. Male participation in pregnancy and delivery in Nigeria: a survey of antenatal attendees. J Biosoc Sci.
2009;41(4):493–503. https://doi.org/10.1017/ S0021932009003356.
32. 32 Liamputtong, P., & Naksook, C. (2003). Perceptions and experiences of motherhood, health and the husband’s role among Thai women in Australia. Midwifery, 19(1), 27–36.
https://doi.org/10.1054/midw.2002.0333
33. 33 Rumaseuw, R., Berliana, S. M., Nursalam, N., Efendi, F., Pradanie, R., Rachmawati, P. D.,
& Aurizki, G. E. (2018). Factors Affecting Husband Participation in Antenatal Care Attendance and Delivery. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 116(1).
https://doi.org/10.1088/1755-1315/116/1/012012
34. 34 Lyatuu MB, Msamanga G, Kalinga AK: Client's satisfaction with services for prevention of mother to child transmission of HIV in Dodoma rural district. East Afr J Public Health 2008, 5:174-179.
35. 35 Tshibumbu D. Factors influencing men’s involvement in prevention of mother-to-child transmission (PMTCT) of HIV programmes in Mambwe district, Zambia. University of South Africa (UNISA). 2006. Available from: https://www.k4health.org/sites/default/files/male_
involvement_pmtct.pdf.
36. 36 Theuring S, Mbezi P, Luvanda H, Jordan-Harder B, Kunz A, Harms G. Male involvement in PMTCT services in Mbeya Region, Tanzania. AIDS Behav. 2009;13(Suppl 1):92–102.
https://doi.org/10.1007/s10461-009-9543-0.
37. 37 Ampt F, Mon MM, Than KK, Khin MM, Agius PA, Morgan C, et al. Correlates of male involvement in maternal and newborn health: a cross-sectional study of men in a peri-urban region of Myanmar. BMC Pregnancy Childbirth. 2015; 15:122.
https://doi.org/10.1186/s12884-015-0561-9
38. 38 Tshibumbu D. Factors influencing men’s involvement in prevention of mother-to-child transmission (PMTCT) of HIV programmes in Mambwe district, Zambia. University of South Africa (UNISA). 2006. Available from: https://www.k4health.org/sites/default/files/male_
involvement_pmtct.pdf.
Filename: ARTIKEL JURNAL GENDER.docx
Folder: /Users/macbook/Library/Containers/com.microsoft.Word/Data/Documents Template: /Users/macbook/Library/Group Containers/UBF8T346G9.Office/User
Content.localized/Templates.localized/Normal.dotm Title:
Subject:
Author: Microsoft Office User
Keywords:
Comments:
Creation Date: 3/18/21 14:45
Change Number: 2
Last Saved On: 3/18/21 14:45 Last Saved By: Microsoft Office User Total Editing Time: 1 Minute
Last Printed On: 3/18/21 14:45 As of Last Complete Printing
Number of Pages: 13
Number of Words: 5,591 (approx.)
Number of Characters: 31,875 (approx.)