• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kendaraan Bermotor Roda Dua KTM di Bandung PROPOSAL SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kendaraan Bermotor Roda Dua KTM di Bandung PROPOSAL SKRIPSI"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

Hal : 1

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kendaraan Bermotor Roda Dua KTM di Bandung

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Proposal Skripsi

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS

UNIVERSITAS TELKOM

2022

(2)

Hal : 2 DAFTAR ISI :

DAFTAR ISI ……….i

DAFTAR TABEL ………. DAFTAR GAMBAR ……… DAFTAR LAMPIRAN……….. BAB I PENDAHULUAN ……… 1

1. 1. Gambaran Umum Objek Penelitian ………1

1. 1 .1 Profil Perusahaan ……….. 1

1. 1. 2 Logo Perusahaan ………..2

1. 1. 3 Visi dan Misi Perusahaan ………..2

1. 1. 4 Produk dan Layanan ………. 3

1. 2 Latar Belakang Penelitian ………5

1. 3 Rumusan Masalah ………..11

1. 4 Tujuan Penelitian………12

1. 5 Kegunaan Penelitian………12

1. 6 Sistematika Penulisan………..12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Teori dan Penelitian Terdahulu………..13

2. 1 .1 Pengertian Pemasaran………...13

2. 1. 2 Bauran Pemasaran………14

2. 1. 3 Manajemen Merek………15

2. 2 Brand………...17

2. 2 .1 Pengertian Merek………17

2. 2. 2 Pengertian Brand Image ………17

2. 3 Keputusan Pembelian………..17

2. 3 .1 Pengertian Keputusan Pembelian ………...17

2. 3. 2 Dimensi Keputusan Pembelian………..17

2. 4 Hubungan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian ……….18

2. 5 Penelitian Terdahulu ………..19

2. 6 Kerangka Pemikiran ………...20

2. 7 Hipotesis Penelitian ………37

2. 8. Ruang Lingkup Penelitian ………...38

BAB III METODE PENELITIAN 3. 1. Jenis Penelitian ……….38

3. 2 Variabel Operasional dan Skala Pengukuran………..39

(3)

Hal : 3

1. 3 Tahapan Penelitian ……….47

1. 4 Populasi dan Sampel ………..47

3. 4 .1 Populasi ……….47

3. 4. 2 Sampel ………...47

1. 5 Pengumpulan Data ……….49

3. 5 .1 Data Primer ………49

3. 5. 2 Data Sekunder ………49

1. 6 Uji Validitas dan Reliablitas ………..50

3. 6 .1 Uji Validitas ………...50

3. 6. 2 Uji Reliabilitas ………...52

3. 7 Teknik Analisis Data ………..53

3. 7 .1 Analisis Deskriptif ……….53

3. 8 Uji Asumsi Klasik ………...54

3. 9 Regresi Linier Sederhana ………56

3. 10 Pengujian Hipotesis ……….57

3. 10 .1 Uji F ………..57

3. 10. 2 Uji T ………..57

3. 10 .3 Koefisien Determinasi ………..58

(4)

Hal : 4

DAFTAR TABEL

Tabel 1. 1 Daftar Dealer KTM di Bandung dan di Jakarta………. 9 Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu Jurnal Nasional ... 26 Tabel 2. 2 Penelitian Terdahulu Jurnal Internasional ... 30

(5)

Hal : 5

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Logo Perusahaan KTM AG ... 8 Gambar 2. 1 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 41

(6)

Hal : 6

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. 1 ... 65

(7)

Hal : 7

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

1.1.1 Profil Perusahaan

Kraftfahrzeug Trunkenpolz Mattighofen atau lebih dikenal dengan sebutan KTM sebuah perusahaan manufaktur di bidang otomotif khususnya roda dua yang berbasis di Eropa tepatnya negara Austria. KTM berawal pada 1934, ketika Johann (Hans) Trunkenpolz membangun bengkel di Mattighofen, Austria. Pada masa Perang Dunia II, bengkel Hans Trunkenpolz merupakan spesialis kendaraan perang. Namun setelah perang usai, kebutuhan servis kendaraan perang berkurang signifikan. Terbesit dalam benak Hans Trunkenpolz untuk merakit motor buatan sendiri. Pada 1951, Hans berhasil merakit sebuah motor dengan mesin Rotax buatan Fichtel & Sachs, yang dinamakan R100. Tapi, motor ini baru dipasarkan pada 1953.

Seiring perjalanan waktu, KTM memiliki banyak divisi serta menaungi merek-merek terkenal, seperti suspensi WP dan produsen motor off-road Husqvarna dan Husaberg. Pada 1992, perusahaan ini dipecah menjadi empat entitas baru, yaitu KTM Sportmotorcycle GmbH (divisi sepeda motor), KTM Fahrrad GmbH (divisi sepeda), KTM Kühler GmbH (divisi radiator) dan KTM Werkzeugbau GmbH (divisi perkakas). Sekarang dimiliki KTM Motorradholding GmbH, yang dibentuk Cross Holding (putri Cross Industries), dan investor lainnya. KTM Sportmotorcycle GmbH mulai beroperasi pada 1992 dan kemudian mengambil alih divisi perkakas saudara KTM Werkzeugbau. Pada tahun berikutnya, sambil terus meningkatkan produksi dan omzet, mereka berinvestasi dalam produksi baru dan fasilitas R&D memperkenalkan model baru serta berhasil mensponsori berbagai acara balapan. Perusahaan menjalani serangkaian restrukturisasi dan perubahan pemangku kepentingan yang dipandu direktur pelaksana KTM dan pemilik Cross Industries Stefan Pierer. Pada 1994, KTM memulai produksi seri sepeda motor jalan Duke. Pada 1996, mesin motorcross KTM pertama kali menyematkan warna oranye khas KTM. Pada 1997, mereka memperkenalkan sepeda motor Supermoto dan Adventure dua silinder berpendingin cairan.

Pada 1995, KTM Motorradholding GmbH mengakuisisi pembuat sepeda motor Swedia Husaberg AB dan mengambil alih perusahaan Belanda White Power Suspension. Pada 2007, pabrikan sepeda motor India Bajaj Auto membeli 14,5 persen saham di KTM Power Sports AG. Pada 2013, Bajaj Auto memegang 47,97 persen saham perusahaan. Pada 2013, KTM mengakuisisi sepeda motor Swedia Husqvarna Motorcycles dari pemilik sebelumnya BMW Motorrad AG. Pada tahun yang sama, KTM

(8)

Hal : 8

mengintegrasikan kembali merek Husaberg ke dalam Sepeda Motor Husqvarna. Sebelumnya mereka dipisahkan pada 1990-an ketika Husqvarna dijual ke perusahaan Italia Cagiva. Sebagai hasil akhir dari proses restrukturisasi, KTM Motorradholding GmbH telah menjadi KTM AG pada 2012. Pada 2015, KTM menghasilkan omzet lebih dari 1 miliar euro dan mempekerjakan 2.515 karyawan. Dari empat perusahaan terpisah yang tersisa setelah perpecahan pada 1992, tiga kembali menjadi bagian dari Grup KTM, yakni KTM Sportmotorcycle GmbH, KTM Werkzeugbau GmbH dan KTM Kühler GmbH (sekarang WP Radiator). KTM Fahrrad GmbH (KTM Bike Industries) tetap merupakan perusahaan independen dimiliki investor China. KTM-Group saat ini terdiri atas merek KTM, Husqvarna dan Sepeda Motor GasGas. Untuk wilayah di Indonesia berpusat di Jakarta beralamat Jl. Ciputat Raya No.8, RT.2/RW.9, Pd. Pinang, Kec. Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12310.

1.1.2 Logo Perusahaan

Gambar 1.1 Logo Perusahaan Sumber: https://www.ktm.com/

1.1.3 Visi dan Misi Perusahaan

KTM mempunyai visi dan misi sebagai berikut:

a. Visi

OUR vision is to offer high-performance vehicles that never compromise on quality and are always made from the highest quality components.

b. Misi

(9)

Hal : 9

After starting out as a pure off-road motorcycle manufacturer, KTM AG developed into an innovative manufacturer of street motorcycles and premium sports cars.

1.1.4 Produk dan Layanan a. Produk KTM

Produk KTM dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu Racing Bike, Sport Fairing, Naked Bike, Adventure Bike dan Trail. namun sebagian besar konsumen KTM menyukai Adventure atau Touring.

b. Layanan

KTM mempunyai dealer khusus yang tersebar di Indonesia, KTM memiliki dealer di Indonesia diantaranya Bandung dan Jakarta, berikut ini adalah dealer KTM di bandung dan Jakarta.

TABEL 1.1

DAFTAR DEALER KTM BANDUNG DAN JAKARTA

No .

Nama Alamat Kota No. telepon

1.

KTM Abdurahman Saleh

Jl. Abdul Rahman Saleh No.79, Husen

Sastranegara, Kec.

Cicendo, Kota Bandung, Jawa

Barat 40174

Bandung (022) 20573130

2. IB KTM Motor

Jl. Ibu Inggit Garnasih No.130 – 132, Pungkur, Kec.

Regol, Kota

Bandung 0856-5927-8692

(10)

Hal : 10 Bandung, Jawa

Barat 40252

3. KTM INDONESIA

Jl. Ciputat Raya No.8, RT.2/RW.9,

Pd. Pinang, Kec.

Kby. Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

12310

Jakarta (021) 22773015

4. KTM Husqvarna 2Wheelies Jakarta

Jl. Abdul Majid Raya No.67, RT.4/RW.11, Cipete Utara, Kec.

Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

12150

Jakarta 0822-8828-8269

5. KTM Antasari Authorized Dealer &

AfterSales

Jl. Pangeran Antasari No.21, RT.2/RW.6, Cipete Sel., Kec. Cilandak,

Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410

Jakarta -

6. KTM Jatiwaringin

Jl. Raya Jatiwaringin No.32

D, RT.5/RW.5, Cipinang Melayu, Kec. Makasar, Kota

Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

17412

Jakarta 0858-9354-8311

Jl. Raya inspeksi kalimalang Komplek billy &

moon Blok M1 BZ No.3 CD,

(11)

Hal : 11

7. DEALER KTM

KALIMALANG

RT.3/RW.10, Pd.

Klp., Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta

Timur, Daerah Khusus Ibukota

Jakarta 12830

Jakarta (021) 29562956

8. KTM Kebon Jeruk

Jl. Panjang Arteri Klp. Dua Raya Kel

No.88A, RT.7/RW.4, Klp.

Dua, Kec. Kb.

Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota

Jakarta 11550

Jakarta (021) 5347410

9. KTM Daan Mogot

Daan Mogot Rd No.km 14 No.168,

RT.8/RW.4, West Cengkareng, Cengkareng, West

Jakarta City, Jakarta 11730

Jakarta 0878-7819-4866

target yang dibidik adalah 6 dealer baru, 4 diantaranya sudah berdiri yakni KTM Sunter, KTM Bandung, KTM Ciateul. Tiga dealer yang segera menyusul adalah KTM Serpong, KTM Kalimalang dan KTM Kebon Jeruk. Sedangkan untuk target tahun depan, PT PJLM berharap bisa memiliki 16 dealer yang melayani aktivitas sales, service, dan sparepart KTM.

Beberapa unit dealer tersebut akan didirikan di daerah Daan Mogot (Jakarta), Serang, Bogor, Cirebon, dan Garut. Selanjutnya juga akan dibangun dealer KTM di wilayah Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.

Sedangkan untuk pengembangan di tahun 2018, akan dibangun juga fasilitas purna jual KTM di pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. (https://otomotifnet.gridoto.com)

1.2 Latar Belakang Penelitian

Dalam persaingan di pasar global yang kompetitif perusahaan dituntut untuk memiliki yang dinamakan competitive advantage yaitu keunggulan dalam bersaing agar dapat memenangkan persaingan baik di dalam pasar domestik maupun internasional. Dengan memiliki keunggulan

(12)

Hal : 12

dalam bersaing diharapkan perusahaan dapatmemenangkan persaingan secara menyeluruh yang berimbas pada kenaikan profit sehingga usaha tersebut dapat berkembang. Berbagai Industri berusaha untukmemenangkan persaingan dengan berbagai macam cara untuk menarik konsumen salahsatunya ialah industri kendaraan roda dua. Di dalam Industri roda dua persaingan dalam memenuhi permintaan dan kebutuhan konsumen atas produk motor sport semakin kompetitif seiring dengan teknologi yang semakin canggih. Hal tersebut berdampak pada produk yang sebelumnya telah melewati tahapan riset dan perkembangan oleh perusahaan agar dapat memenuhi permintaan dan kebutuhan pasar agar dapat diserap oleh konsumen. Perusahaan untuk memenangkan persaingan membuat produk yang memiliki nilai lebih dimata konsumen baik dari kualitas, harga maupun citra merek dari brand yang mengeluarkan produk tersebut. Citra merek yang baik akan memberikan stimulus terhadap calon konsumen, sebaliknya jika citra merek sebuah produk tersebut jelek maka hal itu akan menjadi pertimbangan bagi calon konsumen.

Persaingan ketat antara perusahaan yang memiliki produk ktm, perusahaan perlu memikat konsumen untuk mempertahankan atau merebut pangsa pasar roda dua. Pilihan konsumen tergantung pada brand image yang melekat pada produk, masing2 perusahaan perlu meningkatkan kualitas agar dapat menaikkan brand image perusahaan, semakin baik brand image akan mempengaruhi keputusan pembelian. Terdapat komunitas2 yang menggunakan motor KTM sebagai aktivitas utamanya diantaranya, Indoc, The dukes bandung, KOCI, DROC, OMR KTM, yang tersebar di bandung dan di Jakarta, masing2 komunitas memiliki ktm unggulan yang berbeda2. Hakl tersebut disebabkan oleh brand image atau kulaitas yang diharapkan oleh komunitas masing2, kualitas produk mempengaruhi brand image perusahaan dan brand image merupakan salah satu asset perusahaan yang menjajdi pertimbangan bagi masing2 komunitas untuk menentukan jenis KTM yang mereka gunakan.

Pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 penjualan kendaraan roda KTM menurun drastis dikarenakan efek dari pandemi Corona Virus Desease 19. Tak hanya itu yang membuat produk motor KTM ini menurun salah satunya dari tenaga mesinnya yang masih dibilang kalah dengan pesain – pesain dari pabrikan lain seperti Honda, Yamaha, dan Kawasaki. Mesin KTM tersebut masih menggunakan kombinasi mesin 1 silinder yang kurang futuristik di mata orang Indonesia terutama anak muda. Karena anak muda milenial sekarang lebih suka suara suara 2 silinder dikarenakan mesin kombinasi 2 silinder

(13)

Hal : 13

tersebut sangatlah merdu di telinga mereka kendaraannya seperti Honda dengan Produk CBR250RRnya atau Kawasaki dengan produk Ninja 250nya.

Konsisten membangun pabrik di Indonesia, Meski belum masuk dalam anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang merupakan induk organisasi manufaktur motor di Indonesia, namun upaya KTM untuk membangun pabrik di Indonesia pada 2018 tak main-main.

Melalui investasi awal sebesar Rp76,5 miliar dari total investasi 175 miliar (10 juta euro), pabrik seluas 15.000 meter persegi yang terletak di Gresik, Jawa Timur, itu sejatinya mulai beroperasi secara optimal pada awal 2020.

Kristianto Goenardi, Presiden Direktur Operator Pabrik PJLM, akhir tahun lalu pernah mengatakan bahwa pabrik sudah siap beroperasi karena telah mengantongi perizinan, namun dimundurkan hingga pertengahan 2020. Akan tetapi, pertengahan tahun 2020 pun telah lewat, dan pabrik belum juga beroperasi karena pandemi Covid-19. Pihak PJLM juga masih menunggu skema operasi pabrik sesuai dengan mandat dari KTM India. Perlu diketahui, produk motor KTM yang diproduksi di Gresik nantinya akan menggunakan 80 persen komponen dari India, baru sisanya dari komponen lokal (TKDN 20 persen). Semuanya dalam status perakitan komponen terurai (completely knock-down/CKD). Kapasitas produksi maksimal hingga 36 ribu unit Dengan pemugaran pabrik yang tadinya merupakan gudang motor KTM impor (CBU), direncanakan pabrik ini mampu memproduksi 3.000 unit motor saban bulan, atau 36.000 unit per tahun. Namun untuk tahap awalnya, PJLM akan memproduksi 1.500 hingga 2.000 motor/bulan, atau 50 persen hingga 66 persen dari kapasitas maksimalnya. Untuk varian yang bakal dirakit di sana adalah seri sport fairing (RC200 dan RC250) serta naked bike (Duke200, Duke250, dan Duke390). Atau seri-seri di bawah kapasitas mesin 400 cc. Kabar terbarunya adalah, PJLM saat ini tengah melakukan proses pengajuan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk komponen CKD, sebagai syarat memenuhi standar manufaktur di Indonesia. (Tmcblog.com)

Penulis memilih melakukan penelitian terhadap produk roda dua KTM ,karena pertama KTM merupakan perusahaan yang mengklaim diri berbeda dengan perusahaan lain baik dari segi produk, promosi serta nilai – nilai yang dianut oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

Kepedulian terhadap dunia adventure menjadi nilai yang dipegang teguh oleh perusahaan KTM dan terhadap dunia balap pun di pegang teguh

(14)

Hal : 14

Berikut adalah hasil survey yang telah dilakukan oleh MotoGP consulting tahun 2022 untuk kategori event MotoGP :

Tabel 1.2

EVENT

KTM Rookies Cup To MotoGP 2022 Index 50%

Moto3 19

Moto2 12

MotoGP 9

Red Bull Rookies Cup adalah sebuah event balap junior yang diberikan ruang oleh perusahaan KTM kepada para pemuda yang ingin melakukan jenjang karir di dunia balap. banyak sekali pembalap - pembalap top yang berasal dari akademi KTM. sesuai tabel diatas untuk kelas Moto3 sebanyak 19 pembalap, kemudia disusul untuk kelas Moto2 ialah 12 pembalap lulusan akademi KTM dan untuk kelas tertingginya yaitu MotoGP sebanyak 9 pembalap.

Agar dapat berkembang salah satu cara yang dilakukan oleh KTM adalah menanamkan citra merek yang baik pada konsumen, menurut Tjiptono (2015:49) “Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu citra merek. (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen”. KTM terus berinovasi dalam mengembangkan produknya dengan nilai – nilai yangdipegang teguh dalam menjalankan bisnisnya serta pelayanan yang optimal kepada konsumenya. Kepedulian Produk KTM terhadap pelangganya dibuktikan dengan adanya program membership yaitu ‘Ready To Race”. Dengan menjadi membership dari KTM konsumen akan mendapatkan exclusive benefits yaitu birthday treats dan new product Discount. Hal tersebut merupakan bukti kepedulian KTM terhadap konsumenya dengan memberikan privilege berupa potongan harga terhadap produk terbaru yang mereka rilis serta birthday treats yaitu merupakan exclusive benefits berupa potongan di bulan ulang tahun, detail – detail kecil tersebut

(15)

Hal : 15

membuat produk KTM memiliki nilai lebih dibandingkan dengan merek lain serta hal tersebut akan membuat konsumen merasa special saat menjadi member dari KTM. Hal tersebut akan memberikan dampak secara langsung terhadap brand image KTM secara menyeluruh, calon konsumen dapat melihat bahwa Produk KTM care akan pelangganya dan hal tersebut akan berdampak pada citra merek yang baik terhadap brand KTM itu sendiri. Hal yang disampaikan diatas sejalan dengan penelitian jurnal Muhammar Kadafi dan Hesti Mayasari berjudul Pengaruh Event Sporshonsip dan membership terhadap Brand Image family Futsal (Manajemen dan Kewirausahaan, Volume 9, Nomor 2 Mei 2018) dengan teknik analisis regresi linier berganda hasil penelitian menunjukan bahwa event sponshorsip berpengaruh terhadap brand image dan membership berpengaruh terhadap brand image dengan hasil koefesien determinasi diperoleh angka sebesar 48,3%

.

Tabel 1.3

PRA SURVEY KEPUTUSAN PEMBELIAN

NO PERNYATAAN

JAWABAN PERSENTASE TOTAL

Setuju Tidak setuju

Setuju Tidak setuju 1 Saya memilih merk motor

KTM karena motor tersebut lebih tangguh dari

merk yang lain

14 16 46,6% 53,3% 100%

2 saya mengetahui merk motor KTM dari teman

dan media sosial

22 8 73,3% 26,6% 100%

3 saya membandingkan

(16)

Hal : 16 merk KTM dengan merek

kendaraan motor lainnya dari kualitas dan harga

27 3 90% 10% 100%

4 saya melakukan pembelian produk KTM

karena mereknya

11 19 36.6% 43,3% 100%

5 saya akan

mempertahankan motor KTM di garasi saya.

13 17 43,3% 56,6% 100%

a. Berdasarkan tabel 1.4 diatas menunjukkan adanya variabel Brand Image pada produk KTM yang mempunyai fenomena pada dimensinya. Hal ini menyangkut dengan fenomena yang terjadi pada 12 produk KTM di Kota Bandung dan Kota Jakarta dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Pada pernyataan pertama bahwa “Produk motor KTM merupakan produk yang banyak diminati oleh masyarakat di Bandung dan di Jakarta”. Setelah menyebarkan kuesioner terhadap 30 orang responden secara acak didapatkan hasil 60% yang menyatakan setuju pada pernyataan tersebut, ini menandakan bahwa masyarakat Bandung lebih percaya kepada produk KTM di banding merek lainnya.

2. Pada pernyataan ketiga “Produk motor KTM memiliki kualitas yang terjamin. Setelah menyebarkan kuesioner terhadap 30 orang responden secara acak didapatkan hasil 53,3% yang menyatakan tidak setuju, hal ini dapat diartikan bahwa produk body mist Produk KTM belum memberi kepuasan akan kualitas kepada pelanggan.

4. Pada pernyataan keempat “Produk KTM memberikan banyak pilihan produk bagi pelanggan”.

Setelah menyebarkan kuesioner terhadap 30 orang responden secara acak didapatkan hasil 56,6%

yang menyatakan tidak setuju pada pernyataan tersebut, hal ini dapat diartikan bahwa kurangnya inovasi dari produk motor KTM dibandingkan produk lainnya yang ada di kota Bandung.

5. Pada pernyataan kelima bahwa “Saya merasa percaya diri ketika memakai produk Motor KTM”. Setelah menyebarkan terhadap 30 orang responden secara acak didapatkan hasil 63,3%

yang menyatakan tidak setuju pada pernyataan tersebut, ini menandakan bahwa produk ini belum

(17)

Hal : 17

memberikan kepuasan terhadap pelanggan. 13 Berdasarkan hasil pra survey pada Brand Image Produk KTM ditemukan beberapa masalah pada dimensi Brand Image yang akan mempengaruhi keputusan pembelian terhadap produk tersebut, yaitu yang pertama ialah pelanggan belum puas akan kualitas produk motor KTM, lalu produk tersebut belum memberikan pilihan produk sesuai keinginan masyarakat kota Bandung dan yang terakhir adalah pelanggan masih merasa kurang percaya diri saat menggunakan produk KTM. Berbagai Produk muncul dari merek – merek ternama seperti Honda, Yamaha, dan hal tersebut membuat perusahaan seperti KTM gencar melakukan inovasi produk serta pemilihan strategi yang tepat dalam memasarkan produknya agar dapat memenangkan persaingan pasar. Dengan membentuk brand image yang positif membuat produk dapat bertahan dan mampu menghadapi persaingan dengan para kompetitornya. Citra merek yang positif akan menimbulkan keputuan pembelian suatu produk Menurut Sunyoto (2015:88) pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang mempersatukan memori, pemikiran, pemrosesan informasi dan penilaian-penilaian secara evaluatif. Dapat disimpulkan dari hasil pra survey yang dilakukan oleh penulis timbul beberapa permasalahan baik dari Brand Image body mist Produk KTM maupun terkait dari keputusan pembelian produk, Berdasarkan fenomena tersebut penulis ingin membahas lebih lanjut implementasi Brand Image yang dilakukan oleh Produk KTM dengan judul “Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian pada kendaraan motor KTM dibandung dan dijakarta”.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana tanggapan konsumen mengenai Brand Image produk Kendaraan Roda dua KTM?

b. Bagaimana keputusan pembelian konsumen produk Kendaraan Roda dua KTM?

c. Berapa besar pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian produk Kendaraan Roda dua KTM?

1.4 Tujuan Penelitian

(18)

Hal : 18

Suatu penelitian ilmiah pasti memiliki tujuan tertentu. Penetapan tujuan diperlukan agar terdapat kejelasan terhadap arah penelitian. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis:

d. Untuk mengetahui tanggapan konsumen mengenai Brand Image produk Kendaraan Roda dua KTM.

e. Untuk mengetahui keputusan pembelian pada produk produk Kendaraan Roda dua KTM

f. Untuk mengetahui Besarnya pengaruh Brand Image pada produk Body Mist The Body Shop terhadap keputusan pembelian Bandung.

1.5 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian yang diperoleh yaitu sebagai berikut : a. Aspek Teoristis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pengembangan ilmu di bidang pemasaran mengenai pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian.

b. Aspek Praktis

Aspek Praktis penelitian ini yaitu memberikan informasi kepada perusahaan mengenai peran brand image terhadap keputusan pembelian pada produk dan merek tersebut, sehingga dapat mendesain pembentukan citra yang lebih baik untuk peningkatan jumlah penjualan produk.

1.6 Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam memberikan arah serta gambaran materi yang terkandung dalam penulisan skripsi ini, penulis menyusun sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

(19)

Hal : 19

Pada bab ini diuraikan tentang objek penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini diuraikan tentang landasan teori yang digunakan sebagai dasar dari analisis penelitian, penelitian terdahulu, dan kerangka penelitian teoritis.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan tentang jenis penelitian dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis.

BAB IV HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan tentang hasil dari pengolahan data. Di mana hasil tersebut akan dianalisis oleh peneliti agar ditemukan kesimpulan dari penelitian ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini diuraikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang disertai dengan rekomendasi atau saran bagi perusahaan yang diteliti.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dan Penelitian Terdahulu

2.1.1 Pengertian Pemasaran

Pemasaran menurut Kotler (2018) adalah proses di mana perusahaan melibatkan pelanggan, membangun hubungan baik dengan pelanggan, dan menciptakan nilai untuk pelanggan, sehingga dapat mendapatkan nilai / umpan balik yang baik dari pelanggan dalam rangka untuk meningkatkan profit dan ekuitas pelanggan. Dari definisi ini dapat

(20)

Hal : 20

dilihat bahwa pemasaran adalah proses social yang melibatkan pelanggan dalam membangun hubungan dengan tujuan mendapatkan umpan balik yang postif dari pelanggan dengan tujuan akhir peningkatan profit dan ekuitas pelanggan. Menurut Djahir dan Pratita (2014:238) “pemasaran adalah kegiatan perorangan dan organisasi yang memudahkan dan mempercepat hubungan pertukaran yang memuaskan dalam lingkungan yang dinamis melalui penciptaan, pendistribusian, promosi, dan penentuan harga barang dan gagasan”.

Pemasaran merupakan kegiatan yang perlu dilakukan oleh suatu perusahaan agar tujuan organisasi dapat dicapai serta dapat menjaga keberlangsungan hidup perusahaan.

Menurut Sunyoto (2015: 190), pemasaran merupakan ujung tombak perusahaan. Fungsi bisnis yang mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen yang harus dipuaskan oleh kegiatan manusia lain, yang menghasilkan alat pemuas kebutuhan yang merupakan barang maupun jasa. Sedangkan menurut Dayle dalam Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses manajemen yang berupaya memaksimumkan laba (returns) bagi pemegang saham dengan jalan menjalin relasi dengan pelanggan utama (valued customers) dan menciptakan keunggulan kompetitif.

2.1.2 Bauran Pemasaran

Dalam memasarkan suatu produk/ jasa dalam sebuah perusahaan, diperlukan suatu pendekatan yang mudah dan fleksibel yang biasa disebut sebagai bauran pemasaran.

Bauran pemasaran memiliki 4 jenis elemen yang biasa disebut 4P yaitu product, price, place dan promotion. Menurut Kotler dan Amstrong (2016:76) terdapat empat variabel dalam kegiatan bauran pemasaran yaitu sebagai berikut:

a) Product means the goods and service combination the company offers to the target market. Produk merupakan kombinasi barang dan jasa perusahaan yang ditawarkan ke target pasar.

b) Price is the amount of money customers must past to obtain the product. Harga adalah jumlah uang pelanggan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan produk.

c) Place includes company activities that make the product avaliable to target consumers. Tempat meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia

(21)

Hal : 21 untuk target konsumen.

d) Promotion means activities that communicate the merits of the product and persuade target costumers to buy it. Promosi adalah aktivitas mengkomunikasikan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya.

2.1.3 Manajemen Merek

Keller (1998) dan Kapferer (1995) dalam Krake (2005:229) mempunyai beberapa kesamaan dan memberikan penjelasan yang lebih mudah mengenai menajemen merek:

Perusahaan yang melekatkan manajemen merek di dalam pengenalan organisasinya yang implementasi dari manajemen dan strategi mereknya tidak hanya sekali diujikan tetapi dilakukan secara berulang tiap hari dalam setiap aspek kebijakan pemasaran. Perhatian besar dari berbagai perspektif mengenai merek adalah membangun suatu merek yang berbeda dari kompetisi untuk memperoleh penghargaan yang tinggi dan menimbulkan pertalian kuat dengan target konsumen (Aaker, 1996:98).

(1992) dalam Wong dan Merrilees (2005:156) memberikan andil mengenai pandangan yang holistik mengenai manajemen merek, yaitu dengan menyatakan bahwa manajemen merek penting guna mengatur keseluruan merek, bukan untuk mengatur elemen/ bagian dari bauran pemasaran.

(22)

Hal : 22 2.2 Brand

2.2.1 Pengertian Merek

Merek bukan sekedar logo atau nama perusahaan Anda, melainkan image atau persepsi seseorang tentang produk atau perusahaan. Merek adalah kombinasi lengkap dari asosiasi yang orang bayangkan ketika mendengar sebuah nama perusahaan atau produk. Menurut Kotler dan Keller dalam The American Marketing Association (2016:322) “Brand is a name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those competitors”, dapat diartikan “Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendifirensiasikan mereka dari para pesaing”.

Menurut Aaker (2015:106) Salah satu manfaat merek bagi perusahaan dengan adanya brand membuat komunikasi lebih efisien, lebih mungkin dilaksanakan, dan lebih mudah diingat. Merek merupakan identitas suatu perusahaan dengan merek perusahaan dapat lebih mudah mempromosikan produknya baik barang maupun jasa.

2.2.2 Pengertian Brand Image

Menurut Tjiptono (2015:49) “Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Citra merek (Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen, seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen”

Menurut Kotler & Keller (2013:98) dimensi dari brand image, yaitu:

a) Corporate Image (citra pembuat) merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa. Citra pembuat meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, serta pemakai itu sendiri atau penggunanya.

b) User Image (citra pemakai) merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan barang atau jasa yang meliputi pemakai itu sendiri, serta status sosialnya. Product Image (citra produk)

(23)

Hal : 23

merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang meliputi atribut dari produk, manfaat bagi konsumen, serta jaminan.

2.3 Keputusan Pembelian

2.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian didefinisikan oleh Kotler & Keller (2016:198), “In the evaluation stage , the consumer forms preferences among the brands in the choice and may also form an intention to buy the most preferred brand” dapat diartikan pada tahap evaluasi,konsumen membentuk prefensi di antara merek-merek yang ada dalam pilihan dan juga membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai.

Kotler, Philip and Gary Amstrong (2016:177) mendefinisikan keputusan pembelian sebagai berikut: “Consumer behavior is the study of how individual, groups, and organizations select, buy, use, and dispose of goods, services, ideas, or experiences to satisfy their needs and wants”. yang artinya “Keputusan pembelian merupakan bagian dari perilaku konsumen perilaku konsumen yaitu studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka”.

Menurut Sunyoto (2015:88) pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang mempersatukan memori, pemikiran, pemrosesan informasi dan penilaian- penilaian secara evaluatif.

2.3.2 Dimensi Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian konsumen, terdapat enam sub keputusan yang dilakukan oleh pembeli yaitu menurut Kotler dan Keller (2016 : 201) sebagai berikut :

a) Product Choice (Pilihan produk). Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain.

Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang – orang

(24)

Hal : 24

yang berminat membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.

b) Brand Choice (Pilihan merek). Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek yang terpercaya.

c) Dealer Choice (Pilihan tempat penyalur). Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi

d) Purchase Amount (Jumlah pembelian atau kuantitas). Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat.

Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari satu jenis produk. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.

e) Purchase Timing (Waktu pembelian). Keputusan konsumen akan pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda, misalnya: ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu sekali, tiga minggu sekali atau sebulan sekali dan lain- lain.

f) Payment Method (Metode Pembayaran). Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang akan dilakukan dalam pengambilan keputusan konsumen menggunakan produk atau jasa. Saat ini keputusan pembelian dipengaruhi oleh tidak hanya aspek budaya, lingkungan, dan keluarga, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan dalam transaksi pembelian sehingga memudahkan konsumen untuk melakukan transaksi baik di dalam maupun di luar rumah.

2.4 Hubungan Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian

Kotler & Keller (2016:460) menyatakan bahwa citra merek (brand image) merupakan representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan

(25)

Hal : 25

pengalaman masa lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek merupakan apa yang di proyeksikan oleh konsumen akan suatu merek baik itu berupa sesuatu yang positif maupun negative. Dengan citra merek yang positif akan meberikan stimulus bagi konsumen agar melakukan pembelian produk.

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:338) mengatakan bahwa, “Atribut produk tidak berkaitan dengan fungsi produk, melainkan dengan citra sebuah produk dimata konsumen. Perusahaan mempertahankan, memperbaiki serta meningkatkan citra merek dan produk mereka agar selalu positif dimata konsumen.

Menurut (Sangadji dan Sopiah, 2013:338) Citra merek yang positif memberikan manfaat bagi produsen untuk lebih dikenal konsumen. Dengan kata lain, konsumen akan menentukan pilihannya untuk membeli produk yang mempunyai citra yang baik. Begitu pula sebaliknya, jika citra merek negatif, konsumen cenderung mempertimbangkan lebih jauh lagi ketika akan membeli produk. Citra merek yang positif merupakan hal yang esensi dari sebuah produk karena akan memperngaruhi konsumen pada saat membeli/

menggunakan sebuah produk.

(26)

Hal : 21 2.5 Penelitian Terdahulu

TABEL2.1 PENELITIAN TERDAHULU No Nama Peneliti; Judul;

Tahun

Variabel Metode Kesimpulan Persamaan dan Perbedaan 1. Wiliam Letare;

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian Sepatu Olahraga (Studi Kasus Konsumen Product Converse di Kota Bandung

Tahun: 2017

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitati f

2. Desk riptif – Kausali tas

3. Analisis Linier Sederhana

Penelitian ini

menggunakan variabel X Brand Image yang berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian

(Bersambung)

(27)

Hal : 22 Tabel 2.1 (Sambungan)

2. Ardeo Ghifari;

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan

Pembelian Sepeda Motor Honda Beat Series

Tahun: 2018

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Deskriptif- Kausal

3. Analisis Regresi Linier Sederhana

Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Brand Image memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai

sebesar 40%

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan: Objek penelitian,

3. Frima Fadhila Putra;

Pengaruh Brand Awarenes dan Brand Image Terhadap Keputusan

Pembelian Sepatu Adidas (Studi Pada Kasus Pada

Mahasiswa

Universitas Telkom)

1. Variabel Independen (X1): Brand Image (X2):

Brand Awarenes 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan

1. Kuantitatif 2. Deskriptif- Kausal

3. Analisis Regresi Linier Berganda

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Brand Image berpengaruh secara positif terhadap keputusan pembelian sepatu Adidas

mahasiswa Universitas Telkom

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan: Objek penelitian, Brand Awarenes (X2)

(28)

Hal : 23 Tahun: 2018

Pembelian

(Bersambung)

(29)

Hal : 24 Tabel 2.1 (Sambungan)

4. Hibatullah Firdaus Widawati; Pengaruh Brand Image

Terhadap Keputusan Pembelian Pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Bandung

Tahun: 2017

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y): Proses Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Deskriptif- Kausal

3. Analisis Regresi Linier Sederhana

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Brand Image berpengaruh secara positif terhadap proses keputusan pembelian sepatu nike pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Bandung

Persamaan: Keputusan pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian

5. Firdaus; Pengaruh Brand Image

Terhadap Keputusan Pembelian Pada Rumah Makan Ayam Bakar KQ5 Bandung

Tahun: 2017

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y): Proses Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Deskriptif- Kausal

3. Analisis Regresi Linier Sederhana

Hasil Penelitian

menunjukkan bahwa brand image secara signifikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap

keputusan pembelian pada Rumah Makan Ayam KQ5 Bandung

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian

(30)

Hal : 25

(Bersambung) TABEL 2.2

PENELITIAN TERDAHULU JURNAL NASIONAL

No Nama Peneliti;

Judul; Tahun

Variabel Metode Kesimpulan Persamaan dan Perbedaan

1. Lestari, Dyah Ayu, dan Nurnida Ida ; Pengaruh Brand Image terhadap Keputusan

Pembelian Produk Adidas di Paris Van Java Bandung

Tahun: 2017

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Deskriptif – Kausalitas 3. Analisis Regresi Linier Berganda

Berdasarkan hasil uji hipotesis secara parsial, menunjukkan bahwa keunggulan dan keunikan merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Hasil koefisensi determinasi brand image berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 64,3% dan sisanya sebesar 35,7%

dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian.

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian

(Bersambung)

(31)

Hal : 26 Tabel 2.2 (Sambungan)

2. Indra Kurniawan, Zakaria Wahab, Welly Nailis;

Pengaruh Brand Image dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan

Pembelian Produk Pizza Hut Kota Palembang

Tahun: 2016

1. Variabel Independen (X1): Brand Image (X2):

Kualitas Produk 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Deskriptif- Kausal

3. Analisis Regresi Linier Berganda

Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Brand Image tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian, Kualitas Produk (X2)

3. Wulandari, Dwi Ajeng; Pengaruh Brand Image Terhadap Proses Keputusan Pembelian

Konsumen Sepatu Nike

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan

1. Kuantitatif 2. Deskriptif- Kausal

3. Analisis Regresi Sederhana

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Brand Image berpengaruh secara positif terhadap proses keputusan pembelian sepatu

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian

(32)

Hal : 27 Tahun: 2017

Pembelian Nike pada

mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University Bandung.

(Bersambung)

(33)

Hal : 28 Tabel 2.2 (Sambungan)

4. Soim, Faisal Munif;

Sharyono; Abdillah, Yusri; Pengaruh Brand Image

Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Pembeli Kartu

Perdana Simpati di Booth Telkomsel Matos)

Tahun: 2016

1. Variabel Independen (X1):

Brand Image 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Analisis Regresi Berganda dan Analisis Regresi Parsial

Hasil dari penelitian ini bahwa seluruh variabel brand image secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian dan secara parsial yang berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap keputusan pembelian adalah

Favorability of brand association.

Persamaan:

Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan: Objek penelitian

(34)

Hal : 29 5. Adiwijaya, Adrian

Junio; Tarigan, Zeplin Jiwa Husada., 2017; Pengaruh Brand Image dan Brand Trust

Terhadap Keputusan Sepatu Converse

Tahun: 2017

1. Variabel Independen (X1):

Brand Image (X2):

Brand Trust 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Partial Least Square (PLS)

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa brand image dan brand trust secara signifikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Persamaan:

Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan: Objek penelitian, Brand Trust (X2)

(35)

Hal : 30 TABEL 2.3

PENELITIAN TERDAHULU JURNAL INTERNASIONAL

No Nama Peneliti; Judul;

Publikasi;

Tahun

Variabel Metode Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan

1. Foster, Bob; Impact of Brand Image on Purchasing Decision on Mineral Water Product “Amidis”

(Case Study on Bintang Trading Company)

Tahun: 2016

1. Variabel Independen (X1): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Analisis Regresi Linier Berganda

Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kepuasan konsumen dan citra merek.

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan: Objek penelitian

(Bersambung)

(36)

Hal : 31 2. Amron; Effects of

Product Quality, Price, and Band Image On The Buying Decision Of City Car Product

Tahun: 2018

1. Variabel Independen (X1):

Product Quality (X2): Price

(X3): Brand Image 2. Variabel

Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Teknik analisis data pada penelitian ini

menggunakan penelitian sebelumnya sebagai pembahasan dan dianalisa menggunakan program SPSS

Menunjukkan bahwa variabel kualitas produk memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan harga dan brand image terhadap keputusan pembelian

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X3)

Perbedaan: Objek penelitian, Product Quality (X1), Price (X2)

(37)

Hal : 32 3. Hendra dan Lusiah;

Impact of Brand Imaage, Product Quality and Self- efficiacy on

Purchase Decisions on Private Label Rights Products.

An Empirical Study Tahun: 2017

1. Variabel Independen (X1):

Brand Image (X2):

Product Quality 2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Analisis Regresi Linier Berganda

Mendapat kan hasil bahwa kualitas produk memiliki pengaruh yang lebih besar daripada variabel lainnya dalam menentuk an

keputusan pembelian

Persamaan: Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1)

Perbedaan: Objek penelitian, Product Quality (X2)

(Bersambung)

(38)

Hal : 33 4

.

Gorgius Ago,

Suharno, Sri Mintarti, Sugeng Hariyadi;

Effect of Quality Product Perseption, Trust, and Brand Image on Generic Drug Buying Decision and Customer

Satisfication of Hospital Patiens in East Kalimantan

Tahun: 2015

1. Variabel Independen (X1): Product Quality (X2):

Trust

(X3): Brand Image 2. Variabel Dependen (Y1):

Keputusan Pembelian (Y2): Kepuasan Pelanggan

Penelitian ini menggunakan desain

penelitian observasional dengan studi cross

sectional yang populasinya berasal dari pasien umum yang tidak menggunakan fasilitas dari BPJS

Mendapatkan hasil bahwa trus dan brand image mempunyai

pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian namun tidak berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan

Persamaan:

Keputusan Pembelian (Y1), Brand Image (X1) Perbedaan: Objek penelitian, Product Quality (X1), Trust (X2), Kepuasan Pelanggan (Y2)

(39)

Hal : 34 5

.

Oladepo, Onigbinde Isaac.,; The Influence of Brand Image and Promotional Mix on Consumer Buying Decision – A Study Beverage Consumer in Lagos State, Nigeria

Tahun: 2015

1. Variabel Independen (X1): Brand Image (X2):

Promotional Mix

2. Variabel Dependen (Y):

Keputusan Pembelian

1. Kuantitatif 2. Desain Penelitian Survei Deskriptif

Temuan

mengungkapkan bahwa semua citra merek, periklanan, promosi penjualan dan penjualan pribadi berpengaruh

signifikan terhadap pembelian

konsumen.

Persamaan:

Keputusan Pembelian (Y), Brand Image (X1) Perbedaan:

Objek penelitian, Promotional Mix (X2)

(40)

Hal : 30 2.6 Kerangka Pemikiran

Dalam penelitian ini masalah yang dibahas mengenai pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian, yang sebelumnya telah dipaparkan di latar belakang. Penelitian ini dilandasi dengan dua teori, yaitu brand image dan keputusan pembelian. Brand Image dan keputusan pembelian saling berhubungan, karena ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan positif di benak konsumen maka merek tersebut akan selalu diingat dan konsumen mungkin akan membeli merek tersebut secara berulangulang.

Menurut Kotler & Keller (2013:98) dimensi dari brand image, yaitu:

a. Corporate Image (citra pembuat) Merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa. Citra pembuat meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, serta pemakai itu sendiri atau penggunanya.

b. User Image (citra pemakai) Merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan barang atau jasa yang meliputi pemakai itu sendiri, serta status sosialnya.

c. Product Image (citra produk) Merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang meliputi atribut dari produk, manfaat bagi konsumen, serta jaminan.

Keputusan pembelian konsumen, terdapat enam sub keputusan yang dilakukan oleh pembeli yaitu menurut Kotler dan Keller (2016 : 201) sebagai berikut :

a. Product Choice (Pilihan produk). Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang – orang yang berminat membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.

b. Brand Choice (Pilihan merek). Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek yang terpercaya.

(41)

Hal : 31

c. Dealer Choice (Pilihan tempat penyalur). Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi

Hubungan brand image terhadap keputusan pembelian menurut Kotler & Keller (2016:170) mengatakan bahwa suatu merek dapat membentuk niat konsumen untuk membeli merek yang paling mereka sukai. Merek yang memiliki citra yang baik akan menambah value merek tersebut di dalam benak konsumen.

Berdasarkan uraian dari tinjauan teori, maka terbentuklah kerangka pemikiran untuk menggambarkan variable independen yaitu brand image (X) terhadap variable dependen yaitu keputusan pembelian (Y). Kerangka pemikiran yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah sebagaimana ditunjukan pada gambar 2.1 :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Sumber: Olahan Penulis 2020

2.7 Hipotesis Penelitian

Menurut Sugiyono (2017:63), hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dari kerangka pemikiran diatas hipotesis yang diajukan dan akan dibuktikan kebenarannya dalam penelitian ini adalah “Brand Image berpengaruh

Keputusan Pembelian (Y) Product Choice

Brand Choice Dealer Choice Purchase Amount Purchase Timing Payment Method Sumber: Kotler dan Keller (2016 : 201)

Brand Image (X) Corporate Image

User Image Product Image Sumber: Kotler & Keller (2013:98)

(42)

Hal : 32

terhadap Keputusan Pembelian Produk Kendaraan bermotor roda dua KTM (Studi Pada Produk KTM Bandung)”.

2.8 Ruang Lingkup Penelitian

Agar pembahasan dan penelitian ini dapat terarah, maka peneliti membatasi penelitian ini sebagai berikut:

a. Variabel dan Sub Variabel Penelitian

1) Variable Independen (X) pada penelitian ini adalah Brand Image.

2) Variabel Dependen (Y) pada penelitian ini adalah keputusan pembelian.

b. Lokasi Dan Objek Penelitian

Penelitian ini berfokus pada Produk kendaraan bermotor roda duaKTM sebagai batasan masalah yang akan diteliti oleh penulis. Lalu objek penelitian ini ialah konsumen Kendaraan Bermotor Roda Dua Produk KTM Bandung

c. Waktu dan Periode Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama bulan September, mulai bulan September 2020 sampai Februari 2021

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dan kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2018:11) Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lainnya variabel mandiri adalah variabel yang berdiri sendiri, bukan variabel independen, karena

(43)

Hal : 33

kalau variabel independen selalu dipasangkan dengan variabel dependen. Penelitian kausalitas menurut Sugiyono (2017:8) adalah penelitian yang dilakukan terhadap populasi atau sampel tertentu dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2018:8) penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

3.2 Variabel Operasional dan Skala Pengukuran 3.2.1 Variabel Operasional

Menurut Sugiyono (2018:38) variabel operasional adalah suatu proses menurunkan variabel yang terkandung dalam masalah penelitian menjadi bagian-bagian terkecil sehingga mempermudah mengetahui pengelompokan masalah. Sedangkan variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini variabel yang diteliti adalah sebagai berikut :

1. Variabel Independen (X)

Variabel Independen atau variabel bebas menurut Sugiyono (2019:69) adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Variabel independen atau variabel bebas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Brand Image (X).

2. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen atau variabel terikat menurut Sugiyono (2018:39) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi sebab akibat karena adanya variabel bebas. Variabel dependen sering disebut sebagai variabel output. Variabel terikat atau dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian (Y).

Dalam rangka memberikan gambaran yang lebih tajam mengenai Brand Image dan

(44)

Hal : 34

keputusan pembelian terhadap objek penelitian, ditentukan dengan menetapkan variabel penelitian yang dibentuk ke dalam tabel operasional variabel. Untuk lebih jelasnya, operasionalisasi variable Brand Image dan keputusan pembelian dapat dilihat pada tabel 3.1 dibawah ini :

TABEL 3.1

BRAND IMAGE DAN KEPUTUSAN PEMBELIAN

Variabel Dimensi Indikator Skala Pengukuran No Item Brand Image (X)

Corporate Image Popularitas Ordinal 1

Menurut Tjiptono

(2015:49) “Citra Merupakan merek adalah

deskripsi asosiasi

sekumpulan asosiasi terhadap

Kredibilitas

Ordinal 2

dan keyakinan perusahaan yang konsumen terhadap

merek tertentu.

membuat suatu barang atau jasa.

Jaringan

Perusahaan Ordinal 3

Citra merek (Brand

(45)

Hal : 35 Image) adalah

pengamatan dan kepercayaan yang

Persepi Pengguna

Ordinal 4

digenggam

User Image

Sekumpulan asosiasi terhadap pemakai produk konsumen, seperti

yang dicerminkan

Pemakai

Ordinal 5

di asosiasi atau di

ingatan konsumen” Status Sosial

Ordinal 6

Menurut Kotler &

Keller (2013:98)

dimensi dari brand Product Image

Atribut Produk

Ordinal 7

image, yaitu:

Merupakan Manfaat Bagi

sekumpulan Konsumen Ordinal 8

asosiasi yang dipersepsikan konsumen

terhadap suatu barang atau jasa yang meliputi atribut dari produk,

manfaat bagi konsumen,

Jaminan

Perusahaan Ordinal

9 serta jaminan.

(46)

Hal : 36 Keputusan

Pembelian (Y)

Kotler, Philip and Gary Amstrong (2016:177)

mendefinisikan keputusan

pembelian sebagai berikut:

“Keputusan pembelian

merupakan bagian dari perilaku konsumen perilaku konsumen

yaitu studi tentang bagaimana

individu,

Product Choice

Konsumen dapat mengambil

keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain

Saya memilih Produk KTM karena produk tersebut peduli

akan lingkungan Ordinal 10

Saya membeli produk KTM karena produk tersebut memilik

mesin yang handal Ordinal 11

Brand Choice

Konsumen harus mengambil

keputusan tentang

Saya memilih Produk KTM karena memiliki citra

yang baik

terhadap lingkungan

Ordinal 12

(47)

Hal : 37 kelompok, dan

organisasi memilih, membeli,

menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan

kebutuhan dan keinginan mereka”.

Keputusan pembelian

konsumen, terdapat

enam sub

keputusan yang dilakukan oleh pembeli yaitu menurut Kotler dan Keller (2016 : 201) sebagai berikut :

merek mana yang akan dibeli

Saya memilih produk KTM karena produknya

yang nyaman Ordinal 13

Dealer Choice

Konsumen harus mengambil

keputusan tentang penyalur mana

yang akan

dikunjungi

Konsumen melakukan

pembelian produk KTM pada dealer resmi karena memiliki produk yang lengkap

Ordinal 14

Konsumen melakukan

pembelian produk KTM pada dealer resmi karena jaminan keaslian

“spare part”

Ordinal 15

(48)

Hal : 38 Purchase Amount

Konsumen dapat mengambil

keputusan tentang kuantitas produk yang akan dibeli

Membeli lebih

dari satu Ordinal 16

Purchase Timing Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda

Keputusan

pembelian Ordinal 17

Pembelian

berulang Ordinal 18

Payment Method

Konsumen dapat mengambil

keputusan tentang metode

pembayaran yang akan dilakukan

Promo dan diskon menggunakan

metode pembayaran

tertentu

Ordinal 19

(49)

Hal : 39 Keputusan

metode pembayaran

Ordinal 20

3.2.2 Skala Pengukuran

Menurut Sugiyono (2018:92), skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

Pengukuran setiap variabel dalam penelitian ini menggunakan skala pengukuran ordinal. Menurut Sugiyono (2018:92), skala ordinal adalah skala pengukuran yang tidak hanya menyatakan kategori, tetapi juga menyatakan peringkat construct yang diukur.

Skala ordinal lebih membedakan kategori untuk memberikan informasi tentang bagaimana responden membedakan kategori dengan cara mengurutkan tingkatannya.

Skala instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Menurut Sugiyono (2019:146), skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Menurut Sekaran dan Bougie (2017:92) skala likert adalah suatu skala yang dirancang untuk menelaah seberapa kuat subjek menyetujui suatu pernyataan.

(50)

Hal : 40

Setiap item pernyataan mempunyai lima jawaban dengan nilai 1 sampai 5, di mana nilai 1 adalah sangat tidak setuju dan nilai tertinggi, yaitu 5 adalah sangat setuju. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.2 di bawah ini:

TABEL 3.2

INSTRUMEN SKALA LIKERT

Pernyataan Skor

Sangat Setuju (SS) 5

Setuju (ST 4

Cukup Setuju (CS) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS)

1

Sumber: Sugiyono (2019:147)

(51)

Hal : 41 3.3 Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian merupakan langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian. Berikut ini adalah tahapan penelitian yang akan dilakukan:

Gambar 3.1 Proses Tahapan Penelitian Kuantitatif Sumber: Sugiyono(2019:58)

3.4 Populasi Dan Sampel

3.4.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2018:80) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Produk KTM Bandung yang melakukan pembelian produk KTM.

3.4.2 Sampel

Menurut Indrawati (2015:164) sampel adalah anggota-anggota populasi yang terpilih untuk dilibatkan dalam penelitian, baik untuk diamati, diberi perlakuan, maupun dimintai pendapat tentang yang sedang diteliti. Sedangkan menurut Sugiyono (2019:127) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Menurut Indrawati (2015:166) jika dilihat dari kemungkinan (probability) keterpilihan anggota populasi untuk menjadi sampel, teknik sampling dapat dibagi menjadi dua besar, yaitu

(52)

Hal : 42

teknik sampling peluang (probability sampling) dan teknik sampling non peluang (non probability sampling).

Penelitian ini menggunakan teknik sampling non probability sampling dengan jenis purposive sampling. Non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono 2018:84). Sedangkan purposive sampling yaitu memilih anggota sampel tertentu yang disengaja oleh peneliti, karena hanya sampel tersebut saja yang mewakili atau dapat memberikan informasi untuk menjawab masalah penelitian (Indrawati, 2015:170). Sampel dari penelitian ini yaitu pelanggan Produk KTM pada dealer KTM di Bandung.

Dikarenakan peneliti tidak mengetahui populasi dari besarnya konsumen produk KTM secara pasti, maka penentuan jumlah besarnya sampel menggunakan rumus Bernoulli sebagai berikut:

Keterangan:

n = Jumlah sampel minimum a = Tingkat ketelitian

Z = Area dibawah kurva normal P = Probabilitas diterima

q = Probabilitas ditolak (jika p dan q tidak diketahui, anggap p dan q masing-masing 0,5) e = Tingkat kesalahan

Dalam penelitian ini menggunakan tingkat ketelitian (α) sebesar 5%, tingkat kepercayaan 95% sehingga diperoleh Z = 1,96. Tingkat kesalahan sebesar 10% dan menggunakan pendekatan masing-masing nilai p dan q yaitu 0,5. Dengan memasukkan ke dalam persamaan rumus tersebut maka diperoleh jumlah sampel minimum sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Brand Image (Citra Merek) dan Keragaman Produk Terhadap Keputusan Pembelian di Oriflame Cabang Medan.. Sampel dalam

Perusahaan yang meluncurkan produk baru diharapkan agar tidak mengandalkan brand image untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen sebab konsumen lebih cenderung memilih

Mengatakan bahwa skripsi yang berjudul “’PERAN CITRA MEREK BRAND IMAGE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK FASHION ZOYA DALAM ETIKA BISNIS ISLAM Studi Pada Mahasiswi UKM Bapinda

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Peran Brand Image Memediasi Kualitas Produk dan Persepsi Harga dengan Keputusan Pembelian Produk Smartphone Apple di

Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dilakukan menyatakan brand image dan kualitas produk berpengaruh siginifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk

5) Brand image mempunyai pengaruh paling besar terhadap keputusan pembelian. 6) Keputusan pembelian dalam membeli produk AQUA tidak begitu sensitif

Pengaruh Kualitas Produk , Harga dan Brand Image terhadap Keputusan Pembelian Produk Hand and Body Lotion Merek Citra Studi Kasus pada Mahasiswa IAIN Salatiga.. Pengaruh Kualitas

Hasil Penelitian Brand Image X1 dan Kualitas Produk X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian Y Sepeda Lipat United.. Hasil Penelitian Brand Image X1 dan