BAB II
ANALISIS DATA
A. Jenis Referensi
Permasalahan pertama yang dibahas pada penelitian ini adalah mengenai jenis referensi. Referensi atau pengacuan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (suatu acuan) (Sumarlam, 2013:41). Satuan lingual yang menjadi acuan referen menurut Hamid Hasan Lubis (dalam Mulyana, 2005:14) terdiri dari beberapa jenis, antara lain: persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (membandingkan antara satuan lingual satu dengan satuan lingual yang lainnya).
Referensi dengan kata ganti digunakan untuk menunjukkan bahwa topik yang dibahas masih sama. Penggunaan referensi difungsikan untuk menunjukkan titik fokus yang lebih tinggi pada topik yang dimaksud. Jika topik di dalam suatu wacana adalah persona orang maka penggantinya menggunakan pronomina persona (pertama, kedua, dan ketiga). sedangkan jika topiknya nonpersona, pronominalisasi menggunakan kata ganti penunjuk (ini, itu, di sini, dan sebagainya). Referensi komparatif difungsikan untuk membandingkan satuan lingual satu dengan satuan lingual yang lain sesuai dengan tingkat perbandingannya (sama, lebih, dan paling).
Jenis referensi berdasarkan ketiga tipe acuan di atas terdapat dalam naskah GSBJ yang digunakan sebagai teks siaran di RRI Semarang. Data tersebut di
analisis berdasarkan ciri-ciri satuan lingual yang membentuk suatu wacana.
Analisisnya adalah sebagai berikut.
1. Referensi Persona
a. Pronomina Pertama
Tabel 3
Frekuensi Referensi Persona Pronomina Pertama No.
Naskah
Jumlah Referensi Persona Pronomina Pertama
Tunggal Jamak
Bebas (aku, kula)
Terikat (tak-, dak, -ku)
Inklusif (awakedhewe)
Eksklusif (kita, kula sakanca)
(1) 13 11 1 0
(2) 16 10 0 3
(3) 4 0 0 9
(4) 11 1 0 1
(5) 7 0 1 0
(6) 8 4 0 2
(7) 14 9 0 1
(8) 26 14 0 1
Jumlah 99 49 2 17
1) Tunggal
(1) Shintya : Contone wae piye Mas, ben aku tambah mudeng ! ‘Contohnya saja bagaimana Kak, supaya saya semakin paham.’
Fikri : Ya, contone tembung anteb lan antep, menawa ing pocapan kayane ora ana bedhane ta, Shin ? (GSBJ/08/HHH/2017)
‘Ya, contohnya kata anteb dan antep, jika dilafalkan seperti tidak ada bedanya kan, Shin ?’
Penggalan wacana pada nomor (1) memuat penanda referensial dengan jenis referensi persona pertama. Penanda referensial terwujud melalui aku ‘saya’
yang berfungsi sebagai referen dengan merujuk persona Shintya yang disebutkan pada akhir tuturan. Aku ‘saya’ merupakan jenis referensi persona pertama dengan pronomina tunggal berbentuk bebas. Pronomina tersebut mengacu pada persona yang berjumlah satu dengan bentuk morfem yang dapat berdiri sendiri. Satuan lingual aku ‘saya’ berbentuk morfem bebas karena maknanya dapat dipahami tanpa harus bergabung dengan morfem lain.
Unsur kohesi pada wacana (1) bersifat erat karena tuturan yang disampaikan tokoh O1 dan O2 saling melengkapi. Anteseden yang digunakan sebagai rujukan terletak dalam tuturan O2 yang berbunyi Ya, contone tembung anteb lan antep, menawa ing pocapan kayane ora ana bedhane ta, Shin ? ‘Ya, contohnya kata anteb dan antep, jika dilafalkan seperti tidak ada bedanya kan, Shin’ yang menunjukkan siapa sebenarnya persona yang direferenkan dengan pronomina aku ‘saya’.
(2) Putu : Punapa, nggih, Mbah ? kula kok, dereng mudheng kajengipun Simbah.
‘Apa, ya, Nek ? saya, belum mengerti maksud Nenek.
Simbah : Hehehe (ngguyu), ngene lho Nok, awit saking itungan sewelas, (GSBJ/05/UBAJ/2017)
‘Hehehe, (tertawa), begini lho Nak, dari hitungan sebelas’
Wacana (2) memuat satuan lingual kula ‘saya’ yang termasuk dalam jenis referensi persona pertama. Satuan lingual tersebut merupakan pronomina persona pertama yang bersifat tunggal dengan bentuk bebas. Referensial kula ‘saya’ pada (2) merujuk pada persona Nok ‘Nak’ yang disebutkan pada tuturan berikutnya.
Satuan lingual kula ‘saya’ bersifat tunggal karena mengacu pada persona yang berjumlah satu. Sedangkan berdasarkan bentuk, kula ‘saya’ di atas berbentuk morfem bebas yang maknanya dapat berdiri sendiri.
Unsur kepaduan wacana (2) sangat terlihat karena pemahaman suatu unsur harus melihat pada unsur yang lainnya. Pronomina pertama kula ‘saya’ mengacu pada persona Nok ‘Nak’ terdapat dalam tuturan Hehehe, ngene lho Nok ‘Hehehe, begini lho Nak’ yang disampaikan oleh mitra wicaranya (Simbah)
(3) Ibu : Nok, takrungoake kok, kowe ngomongan ki, karo sapa, ta, Nok ?
‘Nak, saya dengarkan, kamu berbicara itu, sama siapa, sih, Nak ?’
Anak : Boten, kok, Bu! Niki lho, jawahe kok boten terang-terang nanging malah tambah deres. (GSBJ/02/URBJ/2017)
‘Enggak, Bu! Ini lho, hujannya tidak reda-reda tapi malah semakin deras’
Pada percakapan nomor (3) terdapat wujud referensi persona pertama tak-
‘ku-’ pada kata takrungoake ‘saya dengarkan’. Penanda lingual tak- ‘ku-’
merupakan jenis pronomina yang bersifat tunggal dengan bentuk terikat lekat kiri.
Pronomina tak- ‘ku-’ di atas mengacu pada persona Bu (Ibu) yang disebutkan pada tuturan sesudahnya. Penanda lingual tersebut bersifat tunggal karena hanya mengacu pada satu tokoh yaitu Bu (Ibu). Kata takrungoake ‘saya dengarkan’
terbentuk dari tiga morfem yaitu tak ‘saya’ + rungu ‘dengar’ + ake ‘kan’.
Morfem tak ‘saya’ yang melekat di sebelah kiri morfem rungoake ‘dengarkan’
membuat data di atas berbentuk terikat lekat kiri. Bentuk morfem yang terikat tidak dapat berdiri sendiri karena maknanya diketahui setelah bergabung dengan morfem bebas.
Kekohesifan wacana (3) bersifat erat karena referen merujuk satuan lingual yang terdapat pada percakapan sesudahnya. Persona Bu (Ibu) yang menjadi anteseden disebutkan oleh O2 dalam tuturan Boten, kok, Bu! Niki lho, jawahe kok boten terang-terang nanging malah tambah deres. ‘Enggak, Bu! Ini lho, hujannya tidak reda-reda tapi malah semakin deras’.
(4) Fikri : Iya bener iku Shin. Coba saiki golekana maneh tembung- tembung homograf.
‘Ya benar itu Shin. Coba sekarang cari lagi kata-kata yang homograf.’
Shintya : Ehm..., sik..., dakeling-eling sik, Mas (mikir). Aku ora nemu Mas. (GSBJ/08/HHH/2017)
‘Sebentar...., saya ingat-ingat dulu, Kak (berpikir). Saya tidak menemukan Kak.’
Pada percakapan (4) memuat penanda lingual dak- ‘ku-’ dalam kata dakeling-eling ‘saya ingat-ingat’ yang berfungsi sebagai pronomina persona pertama. Pronomina tersebut membentuk kepaduan wacana pada kedua percapakan di atas. Satuan lingual dak- ‘ku-’ yang berada di tuturan kedua (4) merujuk pada persona Shin (Shintya) yang disebutkan dalam tuturan pertama Iya bener iku Shin ‘Ya benar itu Shin’.
Penanda lingual dak- ‘ku-’ di atas merupakan jenis pronomina pertama tunggal dengan bentuk terikat lekat kiri. Dinyatakan tunggal karena merujuk persona yang hanya berjumlah satu saja. Sedangkan berdasarkan bentuk morfem dak ‘saya’ termasuk terikat lekat kiri karena terletak di depan eling-eling ‘ingat- ingat’.
(5) Kustri : Kowe ki ngapa ta, Poet, esuk esuk kok wis mbingungi ? ‘Kamu ini kenapa sih, Poet, pagi-pagi sudah
membingungkan’
Poetri : Iki lho, Mas. Aku lagi antuk tugas saka guruku kon nggolek tembung panyandra. (GSBJ/06/PPS/2017)
‘Ini lho, Kak. Aku sedang mendapat tugasdari guru saya suruh mencari kata kiasan.’
Pada tuturan (5) terdapat pemakaian kohesi gramatikal pronomina –ku
‘saya’ yang melekat pada kata guruku ‘guru saya’. Pronomina tersebut mengacu pada persona Poet (Poetri) yang dituturkan oleh O1. Unsur –ku ‘saya’ pada wacana (5) merupakan jenis pronomina persona pertama tunggal yang berbentuk terikat lekat kanan. Acuan dari pronomina tersebut terdapat dalam percakapan Poet, esuk esuk kok wis mbingungi ? Poet, pagi-pagi sudah membingungkan’ yang dituturkan terlebih dahulu pada wacana (5)
2) Jamak
a) Eksklusif
(6) Inni : Aku arep takon maneh, Mas.
‘Saya mau tanya lagi, Kak.’
Kustri : Takon apa ? ‘Tanya apa ?’
Inni : Awakedhewe mentas ngomongake panambang –a.
Lha yen panambang –en kepiye ? (GSBJ/01/PKPKDK/2017)
‘Kita selesai membicarakan akhiran –a’. Kalau akhiran –en bagaimana ?’
Wacana nomor (6) memuat satuan lingual awakedhewe ‘kita’ yang berfungsi sebagai referensi persona pertama. Satuan lingual tersebut termasuk dalam pronomina yang bersifat jamak dengan bentuk eksklusif. Bentuk eksklusif hanya mengacu pada persona jamak yang terlibat dalam suatu topik. Dalam hal ini satuan lingual awakedhewe ‘kita’ hanya mengacu pada persona Kustri dan Inni yang merupakan tokoh dalam teks naskah tersebut. Sehingga pembaca atau pendengar tidak termasuk dalam unsur awakedhewe ‘kita’ yang dimaksudkan.
b) Inklusif
(7) Nara : Ingkang pungkasan, basa Jawa punika kalebet
anugrah Allah azza wa jalla tumrap kita. Mila kita sedaya kedah ageng rasa syukuripun dhumateng Allah. Salah satunggaling wjud raos syukur punika kita kedah nguri- nguri basa dhaerah supados mboten cures kesrikat jaman.
(GSBJ/03/TMBJ/2017)
‘Yang terakhir, bahasa Jawa termasuk anugerah Allah azza wa jalla kepada kita. Maka dari itu kita semua harus besar rasa syukurnya kepada Allah. Salah satu bentuk rasa syukur kita yaitu memelajari bahasa daerah supaya tidak hilang disingkirkan zaman.’
Penggalan dialog pada data (7) memanfaatkan penanda referensial kita
‘kita’ dalam membentuk jenis referensi persona pertama. Penanda referensial tersebut merujuk pada persona yang berada di dalam teks (narasumber dan moderator) dan luar teks (pembaca/pendengar). Rujukan yang demikian bersifat jamak inklusif karena persona di luar teks juga terlibat sebagai acuan.
Berdasarkan rujukan tersebut penanda lingual kita ‘kita’ merupakan referensi pronomina persona pertama jamak yang berbentuk bebas.
b. Pronomina Kedua
Tabel 4
Frekuensi Referensi Pronomina Persona Kedua No.
Naskah
Jumlah Referensi Pronomina Persona Kedua
Tunggal Jamak
(panjenengan kekalih, ibu kekalih) Bebas
(kowe, panjenengan,
mbak, mas, nok, bu,
ndhuk)
Terikat (kok-, -mu, pun-)
(1) 27 8 0
(2) 88 15 0
(3) 10 0 2
(4) 59 11 1
(5) 58 1 0
(6) 46 3 0
(7) 49 4 0
(8) 42 5 0
Jumlah 359 36 3
1) Tunggal
(8) Kustri : Kowe ki ngapa ta, Poet, esuk esuk kok wis mbingungi ? ‘Kamu ini kenapa sih, Poet, pagi-pagi sudah
membingungkan’ (GSBJ/07/PA/2017)
Penggalan wacana pada data (8) terdapat penanda referensial kowe ‘kamu’
yang berfungsi pronomina persona kedua. Penanda referensial tersebut bersifat tunggal karena merujuk pada persona Poet (Poetri) yang merupakan satu-satunya mitra tutur dalam teks wacana (8). Kowe ‘kamu’ pada data di atas berbentuk morfem bebas yang maknanya stabil dan dapat berdiri sendiri, sehingga tidak perlu bergabung dengan morfem lain untuk mengetahui makna pronomina tersebut.
(9) Shintya : O, ya Mas Fikri sakdurunge panjenengan ngajari aku bab basa Jawa. Panjenengan takgaweake wedang anget dhisik ya, kareben ora ngantuk. (GSBJ/08/HHH/2017)
‘O, ya Kak Fikri sebelum kamu mengajari saya tentang bahasa Jawa. Kamu saya buatkan minuman hangat dulu ya, supaya tidak ngantuk.’
Penanda referensial panjenengan ‘kamu’ pada wacana (9) membentuk referensi dengan tipe persona kedua. Referen tersebut mengacu pada persona Mas Fikri ‘Kak Fikri’ yang telah disebutkan terlebih dahulu pada awal kalimat
pertama. Penanda referensial panjenengan ‘kamu’ merupakan jenis pronomina persona kedua yang bersifat tunggal karena mengacu pada satu persona di dalam teks. Bentuk morfem dari penanda referensial di atas adalah bebas karena maknanya dapat berdiri sendiri tanpa harus bergabung dengan morfem lain.
(10) Inni : Anu, Mas Kus, tekaku mrene iki aku arep takon.
‘Anu, Kak Kus, kedatangan saya ke sini ini saya mau tanya.’
Kustri : Arep takon apa ? ‘Mau tanya apa ?’
Inni : Jare ing Jawa kuwi ana panambang kanggo pakaryan kang durung kelakon. Bener kuwi Mas ?
(GSBJ/01/PKPKDK/2017)
‘Katanya di Jawa itu ada akhiran untuk pekerjaan yang belum dilakukan. Benar itu Kak ?
Pada wacana nomor (10) satuan lingual Mas ‘Kak’ berfungsi sebagai pronomina persona kedua. Satuan lingual tersebut merujuk pada persona Kus (Kustri) yang disebutkan di awal tuturan (10). Pronomina Mas ‘Kak’ di atas bersifat tunggal karena hanya mengacu satu individu yang berperan sebagai mitra tutur. Bentuk morfem dari satuan lingual tersebut berbentuk bebas karena maknanya dapat berdiri sendiri tanpa harus bergabung dengan morfem lain. Mas
‘Kak’ adalah pronomina kedua dalam bahasa Jawa yang ditujukan untuk laki-laki.
(11) Kustri : E, Mbak Inni. Kene-kene mlebu kene, saka ngendi Mbak ?
‘E, Kak Inni. Sini-sini masuk sini, dari mana Kak ? (GSBJ/01/PKPKDK/2017)
Satuan lingual Mbak ‘Kak’ pada wacana nomor (11) merupakan bentuk pronomina persona kedua. Satuan lingual tersebut berfungsi sebagai pengganti persona Inni yang disebutkan di awal tuturan. Pronomina Mbak ‘Kak’ pada wacana (11) bersifat tunggal karena hanya mengacu pada satu persona yaitu Inni.
Bentuk pronomina tersebut merupakan morfem bebas yang maknanya dapat
berdiri sendiri tanpa harus melekat pada morfem yang lain. Mbak ‘Kak’ di atas adalah panggilan dalam bahasa Jawa yang ditujukan untuk perempuan.
(12) Putu : Assalamualaikum. Mbah, Simbah!
‘Assalamualaikum. Nek, Nenek!’
Simbah : waalaikumsalam, simbah ing emper kene, Nok, renea!
(GSBJ/05/UBAJ/2017)
‘Waalaikumsalam, Nenek di serambi sini, Nak, kesinilah!’
Penanda referensial Mbah ‘Nek’ merupakan jenis referensi persona kedua pada wacana (12). Penanda referensial tersebut mengacu pada anteseden Simbah
‘Nenek’ yang disebutkan di akhir tuturan. Mbah ‘Nek pada (12) merupakan bentuk pronomina persona kedua yang bersifat tunggal karena mitra tutur yang berada di dalam teks hanya berjumlah satu. Pronomina tersebut berbentuk morfem bebas yang maknanya konsisten dan dapat berdiri sendiri. Penggunaan penanda referensial Mbah ‘Nek’ menunjuk pada orang yang sudah tua baik secara fisik maupun sosial dalam masyarakat Jawa.
(13) Ibu : Gene wis ngerti ngono lho, Nok.
‘Ternyata sudah paham gitu lho, Nak.’
Anak : Lha, menawi namung conto tembung kula nggih ngertos sekedhik, Bu. (GSBJ/02/URBJ/2017)
‘lha, kalau Cuma contoh kata saya juga tahu sedikit, Bu.’
Pada wacana nomor (13) terdapat pemarkah lingual Nok ‘Nak’ dan Bu
‘Ibu’ yang masing-masing berfungsi sebagai pronomina persona kedua.
Permarkah lingual Nok ‘Nak’ yang berada di akhir tuturan pertama merujuk pada persona kula ‘saya’ yang secara kohesif disebutkan di tuturan kedua. Bersilangan dengan hal tersebut, pronomina Bu ‘Ibu’ yang terdapat dalam tuturan kedua merujuk pada persona yang berperan sebagai mitra tutur dari O1.
Kedua pemarkah lingual tersebut merupakan pronomina kedua yang bersifat tunggal yang masing-masing merujuk pada satu individu yang menjadi mitra tutur. Keduanya berbentuk morfem bebas yang maknanya konsisten dan dapat berdiri sendiri, sehingga pemahamannya tidak harus melekat pada morfem bebas. Pronomina Nok ‘Nak’ adalah panggilan yang ditujukan untuk anak perempuan, sedangkan Bu ‘Ibu’ adalah panggilan yang ditujukan untuk orang tua perempuan.
(14) Fikri : Nah, saiki bab apa kang ora kokmangerteni babagan homonim, homofon, lan homograf ing basa Jawa iku, Shin
? (GSBJ/08/HHH/2017)
‘Nah, sekarang bab apa yang tidak kamu ketahui terkait homonim, homofon, dan homograf dalam bahasa Jawa itu, Shin ?’
Penggalan wacana pada nomor (14) terdapat penanda referensial kokmangerteni ‘kamu pahami’ yang merupakan jenis referensi persona kedua.
Penanda referensial tersebut terbentuk dari morfem yang bersifat kompleks, yaitu kok- ‘kamu’ + ma + ngerti ‘paham’ + -ni ‘-i’. Morfem terikat kok ‘kamu’ yang melekat di sebelah kiri mangerteni ‘pahami’ menimbulkan makna baru sekaligus berfungsi sebagai referensi pronomina kedua. Melekatnya morfem tersebut membuat kok ‘kamu’ disebut morfem terikat lekat kiri.
Pronomina kedua kok ‘kamu’ pada wacana (14) merujuk pada persona Shin (Shintya) yang disebutkan di akhir tuturan. Pronomina tersebut bersifat tunggal karena rujukan persona di dalam teks berjumlah satu. Kok ‘kamu’ di atas merupakan salah satu tripurusa bahasa Jawa yang juga berfungsi sebagai pembentuk kalimat aktif.
(15) Simbah : Gene basa kramamu, ya apik ngono, kok, Nok. Kuwi tandha yen basa Jawa ora angel disinaoni.
(GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Ternyata bahasa krama kamu, juga bagus begitu, Nak. Itu tanda kalau bahasa Jawa tidak susah dipelajari.’
Satuan lingual kramamu ‘kramamu’ pada wacana (15) memuat pronomina yang mengacu persona kedua di dalam teks. Anteseden yang diacu adalah persona Nok ‘Nak’ yang disebutkan di akhir kalimat pertama wacana (15). Satuan lingual –mu ‘-mu’ termasuk pronomina persona kedua yang bersifat tunggal karena mengacu pada satu individu di dalam teks. Berdasarkan bentuknya, satuan lingual kramamu ‘krama kamu’ terdiri dari morfem bebas krama ‘krama’ dan morfem terikat -mu ‘-mu’. Yang kemudian membuat -mu ‘kamu’ melekat di sebelah kanan morfem bebas dan berbentuk terikat lekat kanan.
(16) Anak : [...] Kula nggarap PR kula mangke menawi sampun rampung tulung pun-pirsani sampun leres menapa dereng nggih, Bu ? (GSBJ/02/URBJ/2017)
‘[...] Saya mengerjakan PR saya nanti kalau sudah selesai tolong ibu koreksi sudah benar apa belum ya, Bu ?’
Penggalan percakapan pada wacana (16) terdapat penanda referensial pun-pirsani ‘kamu lihat’. Penanda referensial tersebut membentuk jenis referensi persona kedua dengan pronomina tunggal berbentuk terikat lekat kiri. Pun-pirsani
‘kamu lihat’ pada wacana di atas mengacu pada anteseden Bu (Ibu) yang disebutkan di akhir tuturan. Pronomina kedua tersebut bersifat tunggal karena mengacu pada satu persona yang merupakan mitra tutur O1. Dari segi bentuknya pun-pirsani ‘kamu lihat’ terdiri dari tiga morfem, yaitu (di)pun ‘di-’ + pirsa
‘lihat’ + -ni ‘-i’. Morfem (di)pun- ‘di-’ yang melekat di sebelah kiri morfem pirsani ‘lihat’ membuat data tersebut berbentuk terikat lekat kiri. (di)pun- ‘di-’
tidak dapat berdiri sendiri sehingga pemahaman pronomina tersebut harus bergabung dengan morfem pirsani ‘lihat’
2) Jamak
(17) Mod. : Sugeng dalu..., Bu Yuni, mugi panjenengan kekalih tansah pinanringan kasarasan. (GSBJ/03/TMBJ/2017)
‘Selamat malam..., Bu Yuni semoga kalian berdua selalu diberikan kesehatan.’
Satuan lingual panjenengan kekalih ‘kalian berdua’ pada wacana nomor (17) merupakan bentuk pronomina persona kedua. Panjenengan kekalih ‘kalian berdua’ pada data di atas merujuk pada anteseden Bu Yuni dan satu narasumber lain yang disebutkan di awalan tuturan. Data di atas menggunakan pronomina kedua yang bersifat jamak karena persona yang diacu berjumlah dua orang.
Satuan lingual panjenengan kekalih ‘kalian berdua’ pada wacana (17) berkedudukan sebagai subjek yang menandai apa yang dikatakan penutur.
(18) Mod. : Mugi ibu kekalih kersa mbabaraken tegesipun tembung punika. (GSBJ/03/TMBJ/2017)
‘Semoga ibu berdua berkenan menjelaskan arti kata tersebut.’
Pada penggalan wacana nomor (18) jenis referensi persona kedua terwujud melalui penanda referensial ibu kekalih ‘Ibu berdua’. Penanda referensial di atas merujuk pada narasumber yang bernama Bu Yuni dan satu narasumber lain yang telah disebutkan di awal percakapan di dalam teks. Ibu kekalih ‘Ibu berdua’
merupakan pronomina kedua dengan sifat jamak karena mengacu pada mitra tutur yang berjumlah dua persona. Penanda referensial pada nomor (18) berkedudukan sebagai subjek yang melakukan tidakan mbabaraken ‘menjelaskan’ dalam tuturan tersebut.
c. Pronomina Ketiga
Tabel 5
Frekuensi Referensi Pronomina Persona Ketiga No.
Naskah
Jumlah Referensi Pronomina Persona Ketiga Tunggal
Terikat (di-, ipun, -e)
Jamak
(-ne, wong-wong, para kadang pamiyarsa)
(1) 0 1
(2) 4 1
(3) 1 0
(4) 16 1
(5) 7 0
(6) 1 1
(7) 6 1
(8) 6 0
Jumlah 42 4
1) Tunggal
(19) Ibu : Masmu mau pancen pamit yen baline rada wengi jalaran ana tugas kelompok sing kudu dirampungake dina iki.
(GSBJ/02/URBJ/2017)
‘Kakak kamu tadi memang izin kalau pulangnya malam karena ada tugas kelompok yang harus diselesaikan hari ini.’
Pada wacana nomor (19) satuan lingual dirampungake ‘diselesaikan’
membentuk jenis referensi dengan tipe orang ketiga. Satuan lingual di ‘di-’ dalam dirampungake ‘diselesaikan’ merupakan wujud pronomina ketiga yang merujuk pada anteseden Masmu ‘Kakakmu’ yang disebutkan di awal tuturan nomor (19).
Berdasarkan sifatnya di ‘di-’ bersifat tunggal karena hanya mengacu pada satu individu yang dimaksud.
Dirampungake ‘diselesaikan’ pada data di atas merupakan gabungan dari beberapa morfem yang terdiri dari di ‘di-’ + rampung ‘selesai’ + ake ‘kan’.
Letaknya yang berada di sebalah kiri rampungake ‘selesaikan’ membuat satuan lingual di ‘di-’ berbentuk terikat lekat kiri. Di- ‘di-’ pada wacana (19) merupakan salah satu tripurusa untuk orang ketiga yang membentuk kalimat pasif dalam bahasa Jawa.
(20) Putu : Kawit kalawau kula nengga panjlentrehipun Simbah bab tembung punika. (GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Sudah dari tadi saya menunggu penjelasannya Nenek tentang kata itu.’
Pemarkah lingual panjlentrehipun ‘penjelasannya’ membentuk jenis referensi persona ketiga pada wacana (20). Unsur -ipun ‘-nya’ pada panjlentrehipun ‘penjelasannya’ merupakan bentuk pronomina persona ketiga yang merujuk pada persona Simbah yang terletak di sebelah kanan referen. Sifat dari pronomina tersebut adalah tunggal karena hanya mengacu satu person yang merupakan mitra tuturnya.
Berdasarkan bentuknya pronomina ipun ‘-nya’ merupakan morfem terikat karena tidak dapat berdiri sendiri. Pronomina tersebut melekat pada panjlentrehipun ‘penjelasannya’ yang membuat makna baru. Letaknya yang berada di sebelah kanan pemarkah lingual tersebut membuat pronomina ipun ‘- nya’ disebut dengan terikat lekat kanan.
2) Jamak
(21) Poetri : O, Lha ora tau macul kok Mas. Apa meneh cah wedok.
Sing cah lanang wae saiki wis ora bisa macul, bisane nulis apa dolanan hape karo laptop. (GSBJ/06/PPS/2017)
‘O, tidak pernah mencangkul kok Kak. Apa lagi anak perempuan. Yang anak laki-laki saja sudah tidak bisa mencangkul, bisanya menulis apa mainan handphone dan laptop.’
Pada wacana nomor (21) memuat jenis referensi persona ketiga yang terwujud melalui penanda lingual –ne ‘-nya’. Penanda lingual tersebut merupakan bentuk pronomina persona ketiga yang digunakan untuk mengacu persona cah lanang ‘anak laki-laki’ yang telah disebutkan sebelumnya. Pronomina –ne ‘-nya’
di atas membentuk kepaduan wacana antara klausa Sing cah lanang wae saiki wis ora bisa macul ‘Yang anak laki-laki saja sudah tidak bisa mencangkul’ dengan klausa nulis apa dolanan hape karo laptop ‘menulis apa mainan handphone dan laptop’ karena berfungsi menggantikan persona.
Penanda lingual –ne ‘-nya’ yang terdapat pada data di atas merupakan bentuk terikat yang tidak dapat berdiri sendiri. Penanda lingual tersebut harus bergabung dengan kata bisa ‘bisanya’. Posisinya yang berada di belakang membuat –ne ‘-nya’ termasuk terikat lekat kanan. Berdasarkan sifatnya –ne ‘-nya’
adalah jamak karena mengacu persona yang berjumlah jamak dan umum yaitu cah lanang ‘anak laki-laki’.
(22) Simbah : Wong-wong kuwi padha nggawa pacul, nyangking arit apa arep gugur gunung ta, Nok ?
(GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Orang-orang itu membawa cangkul, memegang sabit apa mau kerja bakti ya, Nak ?’
Wacana (22) memuat pronomina jamak Wong-wong ‘orang-orang’ yang merupakan jenis referensi persona ketiga. Pronomina wong-wong ‘orang-orang’
pada data di atas mengacu pada persona yang berada di luar teks sehingga acuannya bersifat kontekstual. Wong-wong ‘orang-orang’ berdasarkan bentuknya merupakan reduplikasi dari kata wong ‘orang’ yang kermudian membentuk pronomina persona bersifat jamak. Kehadiran pronomina di atas berfungsi sebagai subjek yang melakukan nggawa pacul, nyangking arit ‘membawa cangkul, memegang sabit’
(23) Pamb. : Sugeng dalu para kadang pamiyarsa ingkang kula tresnani, sugeng pepanggihan malih wonten ing acara Sinau Basa Jawa.(GSBJ/07/PA/2017)
‘Selamat malam para saudara sekalian yang saya cintai, selamat berjumpa kembali dalam acara Belajar Bahasa Jawa.’
Pada penggalan dialog (23) terdapat pemarkah lingual para kadang pamiyarsa ‘para saudara sekalian’ yang membentuk wacana dengan jenis referensi persona ketiga. Pemarkah lingual para kadang pamiyarsa ‘para saudara sekalian’ di atas merujuk pada anteseden yang berada di luar teks. Persona yang dituju dari pronomina tersebut merupakan pendengar dari RRI Semarang yang sedang mendengarkan acara GSBJ. Kata para ‘para’ di atas menunjuk anteseden (23) yang bersifat jamak.
2. Referensi Demonstratif
a. Pronominal Waktu
Tabel 6
Frekuensi Referensi Demonstratif Waktu No.
Naskah
Referensi Demonstratif Waktu Kini
(saiki, dina iki)
Lampau (kalawau, jaman
biyen, wingi)
Yang Akan Datang (mangke, sesuk)
Netral (awan, ing dalu punika, esuk-esuk,
jam rolas, wis, sore, dalu, rada
wengi)
(1) 3 1 1 4
(2) 3 4 3 6
(3) 1 2 0 2
(4) 4 7 1 4
(5) 3 0 0 3
(6) 4 4 2 5
(7) 0 2 0 3
(8) 12 0 2 1
Jumlah 30 20 9 28
1) Kini
(24) Kustri : Lumrah yen bocah saiki akeh kang ora ngerti sangkal wong ora tau weruh apa maneh nganggo. Sangkal kuwi garan pacul. (GSBJ/06/PPS/2017)
‘Wajar kalau anak sekarang banyak yang tidak tahu sangkal karena tidak pernah melihat apa lagi memakainya. Sangkal itu pegangannya cangkul.’
Pada penggalan wacana (24) terdapat penanda lingual saiki ‘sekarang’
yang merupakan jenis referensi demonstratif waktu. Pronominal demonstratif
tersebut mengacu pada anteseden yang berada di luar teks sehingga bersifat kontekstual. Penanda lingual saiki ‘sekarang’ termasuk dalam pronominal demonstratif waktu kini yang menginformasikan bahwa topik atau permasalahan pada wacana (24) tersebut sedang terjadi.
(25) Ibu : Masmu mau pancen pamit yen baline rada wengi jalaran ana tugas kelompok sing kudu dirampungake dina iki.
(GSBJ/02/URBJ/2017)
‘Kakak kamu tadi memang izin kalau pulangnya malam karena ada tugas kelompok yang harus diselesaikan hari ini.’
Pemarkah lingual dina iki ‘hari ini’ pada penggalan wacana (25) merupakan bentuk referensi demonstratif temporal. Penggunaan dina iki ‘hari ini’
dalam tuturan di atas mengacu pada anteseden yang terdapat di luar teks.
Pemahaman tentang pronominal tersebut bersifat kontekstual, karena acuan waktu tidak disampaikan secara faktual di dalam teks. Pemarkah lingual dina iki ‘hari ini’ pada data (25) adalah bentuk demonstratif waktu yang merujuk waktu kini, yaitu waktu ketika penutur tersebut sedang melakukan ujaran.
2) Lampau
(26) Putu : Wekdal kula dhateng kalawau, Simbah ugi ngendhikan migunaaken tembung njanur gunung, terus gugur gunung.
(GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Waktu saya datang tadi, Nenek juga berkata menggunakan kata njanur gunung terus gugur gunung.’
Pada penggalan teks dialog (26) terdapat pemarkah lingual kalawau ‘tadi’
yang membentuk wacana di atas berjenis referensi demonstratif. Pemarkah lingual tersebut berfungsi sebagai penunjuk waktu atau temporal dalam suatu wacana.
Kalawau ‘tadi’ pada data (26) mengacu pada anteseden yang berada di luar teks.
Acuan waktu dalam wacana tersebut ditafsirkan secara kontekstual karena hanya
penutur yang mengetahui kapan tindakan tersebut terjadi. Pemarkah lingual lingual kalawau ‘tadi’ termasuk pronominal demonstratif waktu lampau yang merujuk pada tuturan yang telah terjadi.
(27) Kustri : Ya, mungkin wae jaman biyen wong Jawa kuwi luwih awas. Dadi isih bisa weruh rembulan tanggal sji kanthi cetha. (GSBJ/06/PPS/2017)
‘Ya, mungkin saja zaman dulu orang Jawa itu lebih saksama. Jadi masih bisa lihat bulan tanggal pertama dengan jelas.’
Frasa jaman biyen ‘zaman duhulu’ pada data (27) merupakan pemanfaatan pronominal demontratif waktu yang menunjuk pada peristiwa yang telah terjadi. Frasa tersebut merujuk pada anteseden waktu yang tidak disebutkan di dalam teks. Tafsiran mengenai jaman biyen ‘zaman duhulu’ pada data di atas hanya ada di dalam benak penutur sehingga pembacaannya bersifat kontekstual.
Pronominal demonstratif tempat pada wacana (27) digunakan sebagai acuan yang menggambarkan keaadan masyarakat Jawa yang dahulunnya masih dapat melihat bulan pada tanggal pertama.
(28) Simbah : Alhamdulillah. Bapakmu mbeleh pitik dhewe, Nok ? wah, kok katon gedhe iwake. Aturna Ibu, ya, Nenek berterima kasih.
‘Alhamdulillah. Ayah kamu menyembelih ayam sendiri, Nak ? wah sepertinya terlihat besar dagingnya. Bilang Ibu, ya, Nenek berterima kasih
Putu : inggih, Mbah, wingi sonten Bapak mbelehipun.
(GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Iya, Nek,kemarin sore Ayah menyembelihnya.’
Pada wacana nomor (28) memuat pemarkah lingual wingi ‘kemarin’ yang bersifat temporal. Pemarkah lingual tersebut mengacu pada anteseden yang tidak disebutkan secara terperinci sehingga acuannya bersifat situasional atau di luar teks (bahasa). Pemanfaatan pemarkah lingual wingi ‘kemarin’ pada wacana (28)
merupakan jenis referensi demonstratif waktu dengan pronominal lampau, atau penunjukkan pada sesuatu yang telah terjadi. Wingi ‘kemarin’ pada data di atas menginformasikan tuturan yang mengacu kapan tokoh Bapak ‘Ayah’ melakukan tindakan mbeleh pitik ‘menyembelih ayam’ yang kemudian diberikan kepada Simbah ‘Nenek’ pada hari berikutnya.
3) Yang Akan Datang
(29) Anak : Kula nggarap PR kula mangke menawi sampun rampung tulung pun-pirsani sampun leres menapa dereng nggih, Bu ? (GSBJ/02/URBJ/2017)
‘Saya mengerjakan PR saya nanti kalau sudah selesai tolong ibu koreksi sudah benar apa belum ya, Bu ?’
Kata mangke ‘nanti’ dalam wacana (29) merupakan bentuk pronominal yang membentuk jenis referensi demonstratif. Satuan lingual tersebut menunjuk pada anteseden waktu yang tidak terdapat di dalam teks. Pronominal mangke
‘nanti’ mengacu pada ihwal yang ditafsirkan secara kontekstual. Acuan tersebut hanya terdapat di dalam benak penutur tuturan tersebut. Pemanfaatan kata mangke ‘nanti’ pada wacana (29) adalah jenis demonstartif waktu dengan penunjukan waktu yang akan datang. Pada wacana di atas pronominal mangke
‘nanti’digunakan untuk menunjuk saat ketika O1 sudah selesai mengerjakan tugas.
(30) Shintya : Iki Mas, sinau Basa Jawa. Sesuk aku wulangan bab homonim, homofon, lan homograf ing Basa Jawa.
(GSBJ/08/HHH/2017)
‘Ini Kak, belajar Bahasa Jawa. Besok aku ujian tentang homonim, homofon, dan homograf dalam Bahasa Jawa.
Pada tenggalan wacana nomor (30) terdapat penanda referensial sesuk
‘besok’ yang merupakan jenis demonstratif waktu. Penanda referensial tersebut
merujuk pada anteseden yang berada di luar teks (bahasa). Penafsiran tentang acuan waktu di atas tidak disebutkan secara mutlak sehingga pembacaannya bersifat situasional. Penggunaan penanda referensial sesuk ‘besok’ pada wacana (30) adalah bentuk dari referensi demonstratif waktu dengan pronominal yang akan datang, atau merujuk pada peristiwa yang belum terjadi. Kata sesuk ‘besok’
di atas memuat informasi yang menunjuk kapan O1 akan melakukan ujian homonim, homofon, dan homograf Bahasa Jawa.
4) Netral
(31) Kustri : Bener. Wah, iki wis awan, wayahe mangan. Wis dhisik ya Poet, aku tak mangan. Wis luwe. (GSBJ/07/PA/2017)
‘Benar. Wah, ini sudah siang, waktunya makan. Sudah dulu ya Poet, aku mau makan. Sudah lapar.’
Satuan lingual awan ‘siang’ pada penggalan percakapan (31) membentuk wacana di atas berjenis referensi demonstratif. Satuan lingual tersebut merujuk pada anteseden waktu yang bersifat kontekstual. Awan ‘siang’ merupakan bentuk referensi demonstartif waktu dengan pronominal waktu netral yang penunjukkannya berada di luar teks (bahasa). Kehadiran awan ‘siang’ pada wacana di atas merujuk pada waktu yang biasa digunakan sebagai jam istirahat atau jam makan siang oleh penutur.
(32) Pamb. : Wasana mekaten pepanggihan ing dalu punika. Sugeng pinanggih malih ing pepanggihan salajengipun.
(GSBJ/01/PKPKDK/2017)
‘Itulah akhir pertemuan malam hari ini. Selamat bertemu kembali di pertemuan selanjutnya.’
Pada wacana (32) terdapat jenis penanda referensial demonstratif yang terwujud melalui ing dalu punika ‘di malam ini’. Unsur lingual ing ‘di’ dan punika ‘ini’ pada wacana di atas berfungsi sebagai penanda referensi yang
bersifat lokasional, sedangkan pronominal waktu netral dalu ‘malam’ merupakan bentuk referensi demonstratif temporal. Ketiga unsur lingual tersebut membentuk jenis pengacuan yang merujuk anteseden yang berada di luar teks. Ing dalu punika ‘di malam ini’ pada tuturan (32) merujuk waktu yang ditentukan oleh penutur yang sedang menutup acara Giyaran Sinau Basa Jawa.
(33) Simbah : Ya wis, yen ngono ayo siyap-siyap ngadhep Allah subhanahu wata’ala.
‘Ya sudah, kalau seperti itu ayo siap-siap menghadap Allah Subhanahu wata’ala.’
Putu : Wah, ampun riyin, Mbah, kula dereng siyap!
‘Wah, jangan dulu, Nek, saya belum siap!’
Simbah : Lha, kok, durung siyap arep ngapa meneh ? wis meh arep jam rolas kuwi, lho Nok. (GSBJ/05/UBAJ/2017)
‘Kok, belum siap mau apa lagi ? sudah mau jam duabelas itu, Nak.’
(34) Kustri : Kowe ki ngapa ta, Poet, esuk esuk kok wis mbingungi ? (GSBJ/06/PPS/2017)
‘Kamu ini kenapa sih, Poet, pagi-pagi sudah membingungkan ?’
Pemarkah lingual jam rolas ‘jam duabelas’ dan esuk esuk ‘pagi-pagi’
pada (33) dan (34) masing-masing membentuk wacana dengan jenis referensi demonstratif waktu. Kedua pemarkah lingual tersebut merupakan bentuk pronominal demonstratif dengan waktu bersifat netral. Jam rolas ‘jam duabelas’
pada wacana (33) mengacu pada ihwal yang berada di luar teks, sehingga pembaca menafsirkannya dengan pembacaan kontekstual. Berdasarkan sifat kohesian pada wacana (33) maka acuan dapat ditafsirkan sebagai waktu ibadah salat Zuhur
Pemarkah lingual esuk esuk ‘pagi-pagi’ pada wacana (34) juga mengacu pada anteseden waktu yang bersifat kontekstual. Referen tersebut tidak
menyatakan dengan mutlak kapan waktu yang digantikannya. Esuk esuk ‘pagi- pagi’ di atas adalah bentuk reduplikasi yang dapat ditafsirkan sebagai penyangatan waktu yang sangat pagi. Pada wacana (34) didapatkan informasi bahwa penutur merasa heran dengan keadaan Poet (Poetri) yang membuatnya bingung pada pagi hari, padahal waktu tersebut biasanya menggambarkan situasi yang berkonotasi ceria atau menyenangkan.
b. Pronominal Tempat
Tabel 7
Frekuensi Referensi Demonstratif Tempat No.
Naskah
Referensi Demonstratif Tempat Agak dekat
(kene)
Agak jauh (kono, kuwi)
Jauh (punika, kana,
kae)
Eksplisit (Kudus, Pati, dan Rembang, Sragen,
Klaten, Sukoharjo, neng kamar, ing teras
mburi)
(1) 7 2 0 0
(2) 0 0 0 0
(3) 0 0 0 5
(4) 2 3 0 4
(5) 2 0 2 0
(6) 0 0 1 0
(7) 1 1 0 0
(8) 2 1 0 1
Jumlah 13 7 3 10
1) Dekat Dengan Penutur
(35) Shintya : Pamite Mas Kus sedhela ngono lungane. Mangga, Mas, mlebu pinarak dhisik. (GSBJ/08/HHH/2017)
‘Izinnya Kak Kus sebentar begitu perginya. Silakan, Kak, masuk duduk dulu.’
Fikri : O, ya wis Shin. Dakentenane Kustri ing kene.
‘O, ya sudah Shin. Saya tunggu Kustri di sini.
(36) Kustri : Walah, kene wis kerep udan lho Mbak. Mbok kene dilebokake teras kene wae. (GSBJ/01/PKPKDK/2017)
‘Walah, sini sudah sering hujan lo Kak. Sini dimasukkan teras sini saja.’
Pada penggalan wacana (35) dan (36) terdapat penggunaan kohesi gramatikal yang mengacu pada demonstratif tempat, kohesi tersebut terwujud dalam pemarkah lingual kene ‘sini’. Pada wacana (35) pemarkah lingual kene
‘sini’ merujuk pada anteseden yang tidak disebutkan di dalam teks. Tuturan yang berbunyi mlebu pinarak dhisik ‘masuk duduk dulu’ tidak dapat digunakan sebagai acuan dari referen tersebut karena tidak menjelaskan secara mutlak dimana lokasi yang dimaksud. Bentuk rujukan dari kene ‘sini’ pada (35) hanya terdapat di dalam benak penutur sehingga bersifat kontekstual. Sedangkan Pemarkah lingual kene
‘sini’ pada data (36) mengacu pada anteseden teras ‘teras’ yang berada di dalam teks dan telah disebutkan terlebih dahulu. Kedua bentuk referensial di atas merupakan jenis referensi demonstratif lokasional yang menunjuk anteseden tempat yang berada dekat dengan penutur.
2) Agak Jauh Dengan Penutur
(37) Kustri : Lha, aku mau ngomong apa. Rak tenan ta, udan. Kene kuncine, motormu taklebokake teras kono dhisik. . (GSBJ/01/PKPKDK/2017)
‘Saya tadi bilang apa. Benar bukan, hujan. Sini kuncinya, motor kamu saya masukkan teras situ dulu.
Satuan lingual kono ‘situ’ pada wacana (37) merupakan penanda referensial yang menunjuk pada anteseden tempat. Penggunaan satuan lingual kono ‘situ’ pada data di atas merujuk teras ‘teras’ yang telah dituturkan di sebelah kanannya di dalam teks. Penunjukkan kono ‘situ’ untuk ihwalnya menafsirkan bahwa tempat yang diacu berada agak jauh dari penutur.
(38) Simbah : Ning jaba, kok, rame banget. Wong-wong kuwi padha nggawa pacul nyangking arit apa arep gugur gunung ta, Nok ? (GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Di luar, ramai sekali. Orang-orang itu bawa cangkul menenteng sabit apa mau kerjabakti, Nak ?
Pada penggalan tuturan (38) terdapat penanda lingual kuwi ‘itu’ yang membentuk wacana di atas berjenis referensi demonstratif tempat. Penanda lingual tersebut merupakan penunjukan tempat yang mengacu pada anteseden neng jaba ‘di luar’ yang telah disebutkan terlebih dahulu. Kuwi ‘itu’ yang digunakan sebagai pronominal tempat di atas adalah bentuk demonstratif tempat yang menandakan anteseden neng jaba ‘di luar’ berada agak jauh dengan penutur.
Penunjukan neng jaba ‘di luar’ ditafsirkan sebagai tempat yang terletak di luar rumah atau ruangan.
3) Jauh Dengan Penutur
(39) Putu : Kados Mas Tian ingkang nembe ketampi nyambut damel ing PT. Pama punika tegesipun nembe linggih kursi punika, nggih, Mbah ? (GSBJ/05/UBAJ/2017)
‘Seperti Kak Tian yang baru saja diterima bekerja di PT.
Pama itu artinya baru duduk kursi, ya, Nek ?’
Penunjukan tempat punika ‘itu’ pada penggalan wacana (39) merupakan wujud pemarkah lingual yang membentuk referensi demonstratif tempat.
Pemarkah lingual di atas berfungsi sebagai penanda referensial dengan
penunjukan tempat tertentu. Acuan dari punika ‘itu’ pada tuturan di atas bersifat tekstual dengan mengacu PT. Pama yang terletak di sebelah kiri referen. Punika
‘itu’ sebagai pronominal demonstratif tempat digunakan untuk menunjuk tempat yang berada jauh dari lokasi penutur berujar.
(40) Kustri : Pandan sing adate urip neng pinggir laut kae pandhan ri.
(GSBJ/07/PA/2017)
‘Pandan yang biasa hidup di pinggir laut itu pandan duri.’
Pada penggalan wacana (40) terdapat penanda referensial kae ‘itu’ yang berfungsi sebagai pembentuk referensi demonstratif tempat. Penunjukan lokasional tersebut mengacu pada anteseden neng pinggir laut ‘di pinggir laut’
yang telah disebutkan sebelumnya. Pemanfaatan penanda referensial kae ‘itu’
pada data (40) menunjuk lokasi tumbuhnya tanaman pandhan ri ‘pandan duri’
yang berada jauh dengan penutur.
(41) Kustri : Kana, luwih apik gawe wedang-wedang kana. Ngiras pantes kanggo ngilangi ngelakku anggone ngomong.
(GSBJ/06/PPS/2017)
‘Sana, lebih baik buat minuman-minuman sana. Untuk menghilangkan rasa haus saya karena bicara’
Satuan lingual kana ‘sana’ pada wacana (41) berfungsi sebagai penanda referensial demonstratif tempat. Kana ‘sana’ di atas merujuk pada anteseden yang tidak ada di dalam teks sehingga besifat kontekstual. Anteseden yang menggunakan kana ‘sana’ sebagai demonstratif tempat menunjuk lokasi yang berada jauh dengan penutur. Berdasarkan tuturan luwih apik gawe wedang- wedang ‘lebih baik buat minuman-minuman’ dapat ditafsirkan bahwa rujukan yang dimaksud adalah dapur yang merupakan tempat untuk mengolah makanan dan minuman.
4) Menunjuk Secara Eksplisit
(42) Nara. :Tembung mbangetaken punika kawentaripun kathah tinemu ing tlatah Pantura, kadosta Kudus, Pati, lan Rembang. (GSBJ/03/TMBJ/2017)
‘Kata penyangatan itu banyak tersebar di daerah Pantura, seperti Kudus, Pati, dan Rembang.
(43) Nara. : Nanging, tembung-tembung punika ugi
dipunginaaken ing tlatah Jawa Tengah sanesipun, kayata Sragen, Klaten, Sukoharjo. (GSBJ/03/TMBJ/2017)
‘Tetapi, kata-kata itu juga digunakan di daerah Jawa Tengah lainnya, seperti Sragen, Klaten, Sukoharjo.’
Penggalan wacana nomor (42) dan (43) terdapat jenis penanda referensial demonstratif, yang ditunjukkan secara eksplisit. Penanda referensial tersebut terwujud pada Kudus, Pati, lan Rembang ‘Kudus, Pati, dan Rembang’ dan Sragen, Klaten, Sukoharjo ‘Sragen, Klaten, Sukoharjo’. Kedua bentuk pronominal demonstratif tempat tersebut berfungsi sebagai unsur yang diacu pada masing-masing topik pembahasannya.
Kudus, Pati, lan Rembang ‘Kudus, Pati, dan Rembang’ dalam wacana (42) merupakan penunjuk lokasional yang dinyatakan sebagai daerah dengan persebaran pemakai tembung mbangetaken (elativus) dalam jumlah yang banyak.
Sedangkan, penunjukkan Sragen, Klaten, Sukoharjo ‘Sragen, Klaten, Sukoharjo’
dalam wacana (43) adalah daerah lain di Jawa Tengah yang juga menggunakan tembung mbangetaken tetapi tidak sebesar pemakaiannya di daerah Pantura.
(44) Shintya : Ehm... bapak ana Mas, biyasa ... maos koran ing teras buri, yen Ibu uga isih sengkud nyirami anggrek-anggreke ing teras buri karo ngancani Bapak.
(GSBJ/08/PKNTG/2017)
‘Ayah ada Kak, biasa... membaca koran di teras belakang, kalau Ibu masih asyik menyiram anggrek- anggreknya di teras belakang, sambil menemani Ayah.
(45) Inni : Yen kuwi uwis. Tembung ‘aku njupuk kursi neng kamar’
tegese kursine lagi takjupuk utawa malah wis dijupuk.
(GSBJ/01/PKPKDK/2017)
‘Kalau itu sudah. Kata saya mengambil kursi di kamar artinya kursinya sedang saya ambil atau malah sudah diambil.’
Penggalan data pada tuturan (44) dan (45) memuat pemarkah lingual yang membentuk wacana di atas berjenis referensi demonstratif tempat. Pemarkah lingual ing teras buri ‘di halaman belakang’ pada wacana (44) merupakan bentuk penanda referensial yang mengacu pada anteseden di luar teks. Acuan dari pemarkah lingual tersebut bersifat kontekstual karena letaknya hanya diketahui oleh penutur itu saja.
Pemarkah lingual neng kamar ‘di kamar’ pada (45) juga mengacu pada ihwal yang terletak di luar teks. Bentuk neng ‘di’ yang berfungsi sebagai penanda referensial, kemudian diikuti oleh keterangan kamar ‘kamar’ yang dirujuk sebagai tempat untuk mengambil kursi oleh penutur. Pemarkah lingual ing teras buri ‘di halaman belakang’ dan neng kamar ‘di kamar’ di atas merupakan jenis demonstratif tempat yang penunjukkannya bersifat eksplisit.
3. Referensi Komparatif
Tabel 8
Frekuensi Referensi Komparatif No.
Naskah
Referensi Komparatif Ekuatif
(kaya ora ana bedane, persis, uga, ora ana
sejene, saemper, padha-padha, ugi sama, kaya, kados)
Komparatif (langung, luwih)
Superlatif (paling)
(1) 2 0 0
(2) 4 0 0
(3) 1 2 0
(4) 1 3 0
(5) 3 1 0
(6) 7 1 0
(7) 3 0 1
(8) 16 0 0
Jumlah 39 7 1
a. Tingkat Ekuatif
(46) Fikri : Iya bener, nalika dadi tulisan, tembung-tembung homofon pancen ora ana masalah, nanging yen wis dadi pocapan kaya ora ana bedane, kamangka sejatine tembung-tembung iku beda tegese. (GSBJ/08/HHH/2017)
‘Ya benar. Ketika menjadi tulisan, kat-kata homofon memang tidak ada masalah, tetapi ketika sudah menjadi pelafalan seperti tidak ada bedanya. Walaupun aslinya kata- kata itu beda artinya.’
Shintya : Contone wae piye Mas, ben aku tambah mudeng ?
‘Contohnya saja bagaimana Kak, supaya aku lebih paham’
Fikri : Ya, contone tembung antep lan anteb.
‘Ya, contohnya kata antep dan anteb.’
Pada wacana (46) frasa kaya ora ana bedane ‘seperti tidak ada bedanya’
berfungsi sebagai penanda referensial yang berjenis komparatif. Kaya ora ana bedane ‘seperti tidak ada bedanya’ merujuk perbandingan antara tembung antep
‘kata antep’ dengan tembung anteb ‘kata anteb’ yang dituturkan pada akhir wacana (46). Penanda referensial tersebut termasuk pembanding dengan tingkat ekuatif karena merujuk pada perbandingan yang memiliki sifat yang setara.
(47) Poetri : Wujude abang terus ing sela-selane ana wohe kang putih.
(GSBJ/06/PPS/2017)
‘Bentuknya merah terus di sela-selanya ada buahnya yang putih.’
Kustri : Persis. Ya kuwi wujude lambe kang lagi mesem, kaya manggis.
‘Percis. Ya itu bentuk bibir yang sedang tersenyum, seperti manggis.’
Dalam tuturan nomor (47) memuat pemarkah lingual persis ‘percis’ yang membentuk wacana di atas berjenis referensi komparatif. Penunjuk komparatif persis ‘percis’ di atas mengacu pada persamaan wujud benda yang dibandingkan.
Yaitu antara Wujude abang terus ing sela-selane ana wohe kang putih ‘Bentuknya merah terus di sela-selanya ada buahnya yang putih’ dengan lambe kang lagi mesem ‘bibir yang sedang tersenyum’. Pembanding persis ‘percis’ di atas termasuk pembanding dengan sifat ekuatif karena merujuk pada dua unsur yang memiliki kualitas sepadan.
(48) Simbah : O ya, meh padha karo basa Jawa, ing basa Indonesia umur welasan kuwi uga dijenengi usia belasan sing tegese
‘usia remaja’ lho, Nok. (GSBJ/05/UBAJ/2017)
‘O ya, hampir sama dengan bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia umur belasan itu juga dinamakan usia belasan yang sama artinya dengan ‘usia remaja’, Nak.’
Pemarkah lingual uga ‘juga’ pada tuturan (48) berfungsi sebagai penunjuk komparatif dengan membandingkan dua unsur yang memiliki persamaan sifat.
Pemarkah lingual tersebut membandingkan antara umur welasan basa Jawa
‘umur belasan bahasa Jawa’ dengan usia belasan ing basa Indonesia ‘usia belasan dalam bahasa Indonesia’ yang memiliki pengistilahan yang sama. Perbandingan tersebut berisifat tekstual dengan rujukan yang terletak di belakang referen.
Pembanding uga ‘juga’ di atas berjenis ekuatif karena membandingkan dua unsur yang serupa.
(49) Simbah : Lha, pola telungpuluh lan patangpuluh rak ora ana sejene karo basa–basa liyane, Nok. Padha karo basa Indonesia tigapuluh utawa empatpuluh, dene ing basa Inggris ‘thirty’
utawa ‘fourty’. (GSBJ/05/UBAJ/2017)
‘Pola ‘telungpuluh’ dan ‘patangpuluh’ kan tidak ada bedanya dengan bahasa-bahasa lainnya, Nak. Sama dengan bahasa Indonesia tigapuluh atau empatpuluh, sedangkan dalam bahasa Inggris ‘thirty’ atau ‘fourty’
Pada penggalan data nomor (49) terdapat penanda lingual ora ana sejene
‘tidak ada bedanya’ yang termasuk kohesi gramatikal komparatif. Penanda lingual di atas berfungsi sebagai pembanding antara bahasa Jawa dengan bahasa lain (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) yang memiliki pola penulisan serupa untuk angka tigapuluh dan empatpuluh. Yaitu, jika dalam bahasa Jawa berpola akhir ‘- puluh’ dan ‘-puluh’ kemudian bahasa Indonesia ‘-puluh’ dan ‘-puluh’ serta dalam bahasa Inggris ‘-ty’ dan ‘ty’ maka ketiga bahasa tersebut merujuk pada pola yang tidak berbeda. Penunjuk komparatif ora ana sejene ‘tidak ada bedanya’ di atas bersifat ekuatif karena membandingkan unsur yang serupa.
(50) Simbah : Tembung njanur gunung kuwi kalebu wangsalan yaiku tetembungan utawa ukara saemper cangkriman, nanging
batangane wis ana ing perangan mburine, mung dicangking sawanda utawa luwih.
(GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Kata njanur gunung itu termasuk wangsalan yaitu kata atau kalimat yang sepadan tebak-tebakan, tetapi
jawabannya sudah ada di bagian belakang, hanya dijawab satu suku kata atau lebih.’
Satuan lingual saemper ‘sepadan’ pada tuturan (50) membentuk wacana di atas berjenis referensi komparatif. Satuan lingual tersebut berfungsi sebagai penunjuk perbandingan yang bersifat ekuatif karena memadukan dua unsur yang setingkat. Bentuk saemper ‘sepadan’ di atas membandingkan antara wangsalan
‘wangsalan’ yang merupakan jenis pernyataan teka-teki, bersifat setara dengan cangkriman yang merupakan jenis tebak-tebakan yang lebih umum diketahui masyarakat. Persamaan dari kedua unsur tersebut terletak pada bentuk tetembungan ‘kekata’ yang berfungsi sebagai permainan.
b. Tingkat Komparatif
(51) Putu : Punapa sapunika para mudha langkung remen sinau basa Inggris ingkang dipunanggep langkung mentereng tinimbang basa Jawa. (GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Apalagi sekarang anak muda lebih suka belajar bahasa Inggris yang dianggap lebih bergengsi daripada bahasa Jawa.’
(52) Simbah : Wong sing bisa basa rena-rena bakalan dibutuhna wong akeh. Nanging, yen para mudha luwih iwut sinau basa manca, banjur nglirwakake basane dhewe, kalebu basa Indhonesia, ya bakalan bubrah.
(GSBJ/04/PKNTG/2017)
‘Orang yang bisa bahasa bermacam-macam akan dibutuhkan orang banyak. Tetapi, jika anak muda lebih sibuk belajar bahasa asing, terus meninggalkan bahasa sendiri, termasuk bahasa Indonesia, ya akan hilang.’
Tuturan nomor (51) dan (52) memuat penanda referensial langkung dan luwih yang berarti ‘lebih’. Penanda referensial tersebut merupakan pronominal
perbandingan komparatif yang membandingkan antara satu unsur dengan unsur lain dengan sifat kontras atau tidak setara.
Pada tuturan nomor (51) langkung ‘lebih’ digunakan untuk membandingkan antara basa Inggris ‘bahasa Inggris’ yang dianggap lebih bergengsi daripada basa Jawa ‘bahasa Jawa’ sehingga tidak disukai oleh para mudha ‘anak muda’ masa sekarang.
Tidak berbeda jauh pada penunjuk komparatif sebelumnya, pada wacana (52) penanda referensial luwih ‘lebih’ digunakan untuk membandingkan dua unsur yang tidak setara. Yaitu perbandingan antara basa manca ‘bahasa asing’
yang dipelajari lebih tekun dibandingkan dengan bahasa Daerah dan bahasa Indonesia yang malah sengaja ditinggalkan oleh anak-anak muda.
c. Tingkat Superlatif
(53) Poetri : Terus, sing sijine mau, Mas. Apa ? madu pinasthika kuwi apa maksude ? (GSBJ/07/PA/2017)
‘Terus, yang satunya tadi, Kak. Apa ? madu pinasthika itu apa maksudnya ?’
Kustri : Pinasthika kuwi paling apik, pinunjul. Dadi, karepe meh padha yaiku madu sing paling manis.
‘Pinasthika itu paling bagus, lebih bagus. Jadi, maksudnya hampir sama yaitu madu yang paling manis.’
Pada wacana nomor (53) terdapat pemarkah lingual paling ‘sangat’ yang berfungsi sebagai penunjuk kohesi gramatikal komparatif. Pemarkah lingual tersebut mengacu pada perbandingan yang bersifat superlatif yaitu pada kadar kualitas yang paling tinggi. Dalam wacana (53) paling ‘sangat’ merujuk pada madu pinasthika yang merupakan jenis madu dengan tingkat kemanisan yang paling tinggi atau sangat manis.
B. Arah Acuan Referensi
Permasalahan kedua yang dianalisis dalam penelitian ini adalah mengenai arah acuan referensi. Halliday dan Hassan berpendapat bahwa hal yang paling menentukan suatu kelompok kalimat dapat disebut teks atau tidak tergantung kepada hubungan yang ada di dalam dan di antara kalimat-kalimat yang menciptakan jaringan teks (Brown dan Yule, 1996:190). Jaringan teks dibuat oleh hubungan yang padu dan utuh. Kepaduan dan keutuhan teks atau wacana tergantung pada suatu tafsiran tertentu. Dengan kata lain suatu tafsiran tidak dapat berdiri sendiri, karena mengacu kepada satuan lingual lainnya. Bentuk tafsiran yang tidak dapat berdiri sendiri tercermin dalam arah acuan referensi. Bentuk ini memberi petunjuk kepada pembaca atau pendengar untuk mencari tafsirannya.
Dalam naskah GSJB yang menjadi sumber data pada penelitian ini ditemukan arah acuan referensi endofora dan eksofora yang produktif. Berikut ini analisis yang dapat dijabarkan dari data-data tersebut.
1. Referensi Endofora
Halliday dan Hassan membagi arah acuan referensi menjadi dua, yaitu referensi endofora dan referensi eksofora. Referensi endofora adalah pengacuan satuan lingual yang merujuk satuan lingual lainnya yang terdapat di dalam teks. Hubungan endofora menjalin ikatan yang bersifat kohesi.
Berdasarkan arah acuan pula referensi endofora dibagi lagi menjadi dua, yaitu endofora anafora dan endofora katafora. Berikut ini frekuensi data yang ditemukan dalam naskah GSBJ.
a. Anafora
Tabel 9
Frekuensi Referensi Endofora Anafora No.
Naskah
Jumlah Referensi Endofora Anafora Berdasarkan Referensi
Persona Pertama (aku, tak-,
dak-, -ku, kula, awakedhewe,
kita)
Referensi Persona
Kedua (kowe, awakmu, panjenengan,
Referensi Persona
Ketiga (-e, di-, - ipun)
Referensi Demonstratif
Tempat (kana, kene-
kene, kene
Referensi Komparatif (diumpamakake,
ora katon bedane)
(1) 17 16 0 2 2
(2) 20 11 2 0 0
(3) 10 2 1 0 0
(4) 11 9 4 2 0
(5) 5 7 4 2 0
(6) 10 11 2 0 2
(7) 20 20 4 1 2
(8) 36 7 2 1 4
Jumlah 139 93 19 8 12
1) Referensi Endofora Anafora Pada Referensi Persona Pertama (54) Fikri : Shintya ta iki, ehm... Mas Kus ana Shin ?
‘Shintya ya ini, Kak Kus ada Shin ?’
Shintya : Wah, Mas Kus nembe metu Mas, jare arep tuku flashdisk ing toko komputer prapatan kae. Nanging mau Mas Kus wis pesen karo aku menawa Mas Fikri teka Mas Fikri diaturi nunggu dhisik. (GSBJ/08/HHH/2017)
‘Wah, Kak Kus sedang keluar Kak, katanya mau beli flashdisk di toko komputer perempatan sana. Tapi, tadi Kak Kus sudah pesan sama saya kalau Kak Fikri datang Kak Fikri disuruh menunggu dulu’
Wacana (54) memuat pemarkah lingual aku ‘saya’ yang merupakan bentuk referensi persona. Pemarkah lingual tersebut membentuk arah referensi yang bersifat endofora karena mengacu persona yang berada di dalam teks. Acuan dari pemarkah lingual aku ‘saya’ adalah Shintya yang terletak di awal tuturan sebelum aku ‘saya’ disebutkan. Letak acuan yang demikan termasuk referensi endofora dengan arah anafora karena mengacu pada anteseden yang disebutkan terlebih dahulu.
(55) Poetri : Terus contone apa, Mas ? ‘Terus contohnya apa, Kak ?
Kustri : Tak contoake saka perangan awak wae ya, contone saka rambut. (GSBJ/06/PPS/2017)
‘Saya contohkan dari bagian tubuh aja ya, contohnya dari rambut’
(56) Poetri : Kepiye ta, Mas ? Aku isih arep takon maneh je. Iki mau rak lagi nggon sirah sing awak durung.
‘Bagaimana sih, Kak ? Aku masih mau bertanya lagi. Ini tadi kan baru bagian kepala badan belum.’
Kustri : Mengko dakjlentrehake panyandra kanggo perangan awak lan liya-liyane. (GSBJ/06/PPS/2017)
‘Nanti saya jelaskan perumpamaan buat bagian tubuh dan lain-lainnya.’
Wacana pada nomor (55) dan (56) memuat satuan lingual tak- ‘ku-’ dan dak- ‘ku- yang membentuk referensi endofora. Kedua satuan lingual tersebut merujuk pada persona Mas (Kustri) yang disebutkan pada teks di atas. Persona Mas (Kustri) yang berfungsi sebagai anteseden terletak di depan satuan lingual tak- ‘ku-’ dan dak- ‘ku-, sehingga wacana (55) dan (56) berarah anafora karena letak anteseden telah disebutkan terlebih dahulu. Kepaduan wacana (55) dan (56) bersifat erat karena saling nembangun informasi antara tuturan pertama dengan tuturan berikutnya.