• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Laporan Keuangan

2.1.1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, dimana dalam proses tersebut semua transaksi yang terjadi akan dicatat, diklasifikasikan, diikhtisarkan untuk kemudian disusun menjadi suatu laporan keuangan. Dalam laporan keuangan tersebut akan terlihat data kuantitatif dari harta, utang, modal, pendapatan, dan biaya-biaya dari perusahaan yang bersangkutan.

Jadi laporan keuangan suatu perusahaan dapat dikatakan sebagai bentuk pertanggungjawaban pimpinan perusahaan yang berupa ikhtisar keuangan.

Laporan keuangan ini disusun oleh manajemen perusahaan sebagai alat komunikasi yang dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan internal dan eksternal perusahaan.

Menurut Harahap (2011:105) menyatakan bahwa “Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu”.

Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba rugi atau hasil usaha, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan laporan posisi keuangan.

Selain itu menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1) menegaskan bahwa “Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan”.

(2)

Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, seperti sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Kemudian menurut Kasmir (2015:7) menyatakan bahwa “Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu”.

Maksud laporan keuangan yang menunjukkan kondisi perusahaan saat ini adalah merupakan kondisi terkini. Kondisi perusahaan terkini adalah keadaan keuangan perusahaan pada tanggal tertentu (untuk neraca) dan periode tertentu (untuk laporan laba rugi). Biasanya laporan keuangan dibuat per periode, misalnya tiga bulan, atau enam bulan untuk kepentingan internal perusahaan.

Sementara itu untuk laporan lebih luas dilakukan satu tahun sekali.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan yang dapat menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode. Laporan keuangan biasanya terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan laporan posisi keuangan.

2.1.2. Komponen Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2015:7) menyatakan bahwa laporan keuangan meggambarkan pos-pos keuangan perusahaan yang diperoleh dalam suatu

(3)

periode. Dalam penelitan ini penulis menggunakan neraca dan laporan laba rugi dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Neraca

Menururt Harahap (2011:107) menyatakan bahwa “Neraca atau daftar neraca disebut juga laporan posisi keuangan perusahaan. Laporan ini menggambarkan posisi aset, kewajiban dan ekuitas pada saat tertentu”.

Neraca atau balance sheet adalah laporan keuangan yang menyajikan sumber-sumber ekonomis dari suatu perusahaan atau aset kewajiban- kewajibannya atau utang, dan hak para pemilik perusahaan yang tertanam dalam perusahaan tersebut atau ekuitas pemilik suatu saat tertentu. Neraca harus disusun secara sistematis sehingga dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan tersebut.

Selanjutnya menurut Syahrial dan Purba (2013:6) menyatakan bahwa

“Neraca adalah ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu yang menunjukkan total aktiva dengan total kewajiban ditambah total ekuitas pemilik”.

Total aktiva terdiri dari aktiva lancar, investasi jangka panjang serta aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Total pasiva terdiri dari utang lancar, utang tidak lancar serta ekuitas pemilik (modal saham dan laba ditahan).

Kemudian menurut Kasmir (2015:8) mengungkapkan bahwa “Neraca merupakan laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta), kewajiban (utang), dan modal perusahaan (ekuitas) perusahaan pada saat tertentu”.

(4)

Pembuatan neraca biasanya dibuat berdasarkan periode tertentu (tahunan). Akan tetapi pemilik atau manajemen dapat meminta laporan neraca sesuai kebutuhan untuk mengetahui secara jelas berapa harta, utang, dan modal yang dimiliki pada saat tertentu.

Dari teori-teori yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa neraca merupakan ringkasan dari laporan keuangan perusahaan yang menggambarkan jumlah aset, utang dan modal dari perusahaan pada saat tertentu.

2. Laporan Laba Rugi

Menurut Kasmir (2015:45) menyatakan bahwa “Laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukkan jumlah pendapatan atau penghasilan yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dan laba rugi dalam suatu periode tertentu”.

Laporan laba rugi juga memuat jenis-jenis pendapatan yang diperoleh perusahaan disamping jumlahnya (nilai uangnya) dalam satu periode.

Kemudian laporan laba rugi juga melaporkan jenis-jenis biaya yang dikeluarkan berikut jumlahnya (nilai uangnya) dalam periode yang sama.

Dari jumlah pendapatan dan biaya ini akan terdapat selisih jika dikurangkan. Selisih dari jumlah pendapatan dan biaya ini disebut laba atau rugi. Jika jumlah pendapatan lebih besar dari jumlah biaya, dikatakan perusahaan dalam keadaan laba (untung). Namun jika sebaliknya yaitu jumlah pendapatan lebih kecil dari jumlah biaya perusahaan dalam kondisi rugi.

(5)

Komponen lainnya yang ada dalam laporan laba rugi adalah pajak dan laba per lembar saham.

Menurut Fraser dan Ormiston dalam Fahmi (2014:97) menyatakan bahwa:

Laporan laba rugi merupakan salah satu dari banyak bagian suatu paket laporan keuangan dan seperti bagian lainnya, laporan laba rugi merupakan bagian dari produk berbagai pilihan, dilaporkan, seperti halnya kebijakan bisnis, kondisi ekonomi, dan banyak variabel yang memengaruhi hasil yang dilaporkan.

Laporan laba rugi bersumber dari dua hal yaitu laba dan biaya, karena itu dalam penyusunan laporan ini seorang akuntan harus menyadari dengan baik yang mana termasuk dalam kategori laba dan begitu pula sebaliknya yang mana masuk dalam kategori biaya. Jika terlalu besar biaya maka memperlihatkan bahwa laporan tersebut lebih besar kerugiannya dibandingkan laba, dan begitu pula sebaliknya.

Dari teori-teori yang telah dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dalam suatu periode apakah perusahaan dalam keadaan laba atau rugi. Dimana jika nilai pendapatan lebih besar dari nilai biaya maka perusahaan dalam keadaan laba (untung) begitupun sebaliknya.

2.1.3. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut Mahmudi (2010:5) adalah:

1. Untuk memberikan informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan.

2. Untuk alat akuntabilitas publik.

(6)

3. Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam mengevaluasi kinerja manajerial danorganisasi.

Kemudian menurut Kasmir (2015:10) mengungkapkan bahwa “Tujuan laporan keuangan disusun guna memenuhi kepentingan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan”.

Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik pada saat tertentu maupun periode tertentu.

Laporan keuangan juga dapat disusun secara mendadak sesuai kebutuhan perusahaan maupun secara berkala. Jelasnya adalah laporan keuangan mampu memberikan informasi keuangan kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan mengenai tujuan dari laporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan perusahaan pada saat periode tertentu kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan baik dari pihak dalam maupun luar.

2.2. Analisis Laporan Keuangan

2.2.1. Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Setelah laporan keuangan disusun berdasarkan data yang relevan, serta dilakukan dengan prosedur akuntansi dan penilaian yang benar, akan terlihat kondisi keuangan perusahaan yang sesungghnya. Kondisi keuangan yang dimaksud adalah diketahui jumlah harta, utang serta ekuitas dalam neraca.

Kemudian juga akan diketahui jumlah pendapatan yang diterima dan jumlah biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu dalam laporan laba rugi.

(7)

Agar laporan keuangan menjadi lebih berarti sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh berbagai pihak, maka perlu dilakukan analisis laporan keuangan. Bagi pihak pemilik dan manajemen, analisis laporan keuangan bertujuan untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan pada saat ini. Dengan dilakukannya analisis laporan keuangan secara mendalam, akan terlihat perusahaan dapat mencapai target yang telah direncanakan sebelumnya atau tidak.

Menurut Munawir (2010:35) menyatakan bahwa “Analisis laporan keuangan adalah analisis laporan keuangan yang terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan dan tendensi atau kecenderungan untuk menentukan posisi keuangan dan perkembangan perusahaan yang bersangkutan”.

Analisis laporan keuangan merupakan proses untuk mempelajari data- data keuangan agar dapat dipahami dengan mudah untuk mengetahui posisi keuangan, hasil operasi dan perkembangan suatu perusahaan dengan cara mempelajari hubungan data keuangan serta kecenderungan terdapat dalam suatu laporan keuangan.

Sehingga analisis laporan keuangan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan juga dalam melakukan analisisnya tidak akan lepas dari peranan rasio-rasio laporan keuangan, dengan melakukan analisis terhadap rasio-rasio keuangan akan dapat menentukan suatu keputusan yang akan diambil.

Kemudian menurut Harmono (2015:104) menyatakan bahwa “Analisis laporan keuangan merupakan alat analisis bagi manajemen keuangan perusahaan yang bersifat menyeluruh, dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kesehatan perusahaan”.

(8)

Analisis laporan keuangan umumnya dilakukan oleh para pemberi modal seperti kreditor, investor, dan oleh perusahaan itu sendiri berkaitan dengan kepentingan manajerial dan penilaian kinerja perusahaan.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari analisis laporan keuangan adalah mempelajari hubungan dan tendensi untuk menentukan posisi keuangan serta perkembangan perusahaan menggunakan alat analisis.

2.2.2. Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Menurut Munawir (2010:31) menyatakan bahwa “Tujuan analisis lapoan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan bersangkutan”.

Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.

Ada beberapa tujuan bagi beberapa pihak dengan adanya analisis laporan keuangan menurut Kasmir (2015:68) adalah:

1. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa periode.

2. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.

(9)

3. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.

4. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini.

5. Untuk melakukan penilaian kerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.

6. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang mereka capai.

Dari teori-teori yang telah diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari analisis laporan keuangan adalah untuk mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan berserta kekuatan dan kelemahan yang ada pada keuangan perusahaan. Serta untuk acuan dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan keuangan perusahaan kedepannya dan untuk menilai kinerja manajemen.

2.3. Rasio Keuangan

2.3.1. Pengertian Rasio Keuangan

Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan dalam suatu periode tertentu. Aktivitas yang sudah dilakukan dituangkan dalam angka-angka, baik dalam bentuk mata uang rupiah maupun dalam mata uang asing. Angka-angka yang ada dalam laporan keuangan menjadi kurang berarti jika hanya dilihat satu saja.

Artinya jika hanya dengan melihat apa adanya. Angka-angka ini akan menjadi lebih apabila dapat kita bandingkan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Caranya adalah dengan membandingkan angka-angka yang

(10)

ada dalam laporan keuangan atau antarlaporan keuangan. Setelah melakukan perbandingan, dapat disimpulkan posisi keuangan suatu perusahaan untuk periode tertentu. Pada akhirnya dapat menilai kinerja manajemen dalam periode tersebut.

Perbandingan ini dikenal dengan nama analisis rasio keuangan.

Menurut Harahap (2009:297) menyatakan bahwa “Rasio Keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan”.

Rasio keuangan dapat menjelaskan Informasi yang dapat digunakan sebagai alat pertimbangan, dan informasi tambahan dalam pengambilan keputusan dimasa sekarang dan yang akan datang.

Kemudian menurut Kasmir (2015:104) dalam bukunya mengungkapkan bahwa “Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya”.

Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antarkomponen yang ada diantara laporan keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari rasio keuangan adalah membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan sehingga mendapatkan hasil perbandingan yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan

(11)

2.3.2. Manfaat Rasio Keuangan

Beberapa manfaat yang diterima apabila menggunakan rasio keuangan menurut Fahmi (2014:109) adalah:

1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.

2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.

3. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan.

4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dapat digunakan untuk memperkirakan potensi resiko yang akan dihadapi dikaitkan dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.

5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.

2.3.3. Jenis-Jenis Rasio Keuangan

Rasio keuangan memiliki beberapa jenis yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Rasio Likuiditas

Menurut Sartono (2008:120) menyatakan bahwa “Rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampun perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya”.

(12)

Rasio ini membandingkan kewajiban jangka pendek dengan sumber dana jangka pendek.

Kenudian menurut Horne, Wachowicz (2009:206) menegaskan bahwa

“Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya”.

Rasio ini membandingkan kewajiban jangka pendek dengan sumber daya jangka pendek (atau lancar) yang tersedia untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Dari rasio ini banyak pandangan ke dalam yang bisa didapatkan mengenai kompetensi keuangan saat ini perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk tetap kompeten jika terjadi masalah.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari rasio likuiditas adalah alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek yang ada.

2. Rasio Solvabilitas

Menurut Syahrial dan Purba (2013:37) menegaskan bahwa “Rasio solvabilitas merupakan rasio untuk menggambarkan kemampuan perusahaan melunasi kewajiban jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi”.

Semakin kecil rasio ini adalah semakin baik (terkecuali rasio kelipatan bunga yang dihasilkan) karena kewajiban jangka panjang lebih sedikit dari modal dan atau aktiva. Dan juga kewajiban jangka panjang yang besar memiliki konsekuensi beban bunga yang besar pula.

(13)

Kemudian menurut Fahmi (2014:127) menyatakan bahwa “Rasio solvabilitas adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang”.

Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan masuk dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber- sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari rasio solvabilitas adalah alat untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka panjangnya serta mengukur seberapa besar dibiayai oleh utang.

3. Rasio Aktivitas

Menurut Syahrial dan Purba (2013:38) menyatakan bahwa “Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memanfaatkan aktiva yang dimiliki dalam meperoleh penghasilan melalui penjualan”.

Mengenai rasio aktivitas tidak semata-mata mengukur tinggi rendahnya rasio yang dihitung untuk mengetahui baik atau tidaknya keuangan perusahaan.

Hal ini dapat dipahami karena rasio aktivitas untuk mengukur kinerja manajemen dalam menjalankan perusahaan untuk mencapai target atau sasaran yang telah ditentukan.

(14)

Kemudian menurut Kasmir (2015:172) menyatakan bahwa “Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya”.

Atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi (efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan. Efisiensi yang dilakukan misalnya dibidang penjualan, sediaan, penagihan piutang dan efesiensi di bidang lainnya.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari rasio aktivitas adalah alat untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktiva perusahaan secara efektif.

4. Rasio Profitabilitas

Menurut Fahmi (2014:135) menyatakan bahwa “Rasio profitabilitas adalah rasio untuk mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi”.

Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntugan perusahaan.

Kemudian menurut Kasmir (2015:114) mengungkapkan bahwa “Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan”.

Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan

(15)

pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari rasio profitabilitas adalah alat untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan yang diperoleh.

2.4. Rasio Solvabilitas

2.4.1. Pengertian Rasio Solvabilitas

Untuk menjalankan operasinya setiap perusahaan memiliki berbagai kebutuhan, terutama yang berkaitan dengan dana agar perusahaan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dana selalu dibutuhkan untuk menutupi seluruh atau sebagian dari biaya yang diperlukan serta dibutuhkan untuk melakukan perluasan usaha atau investasi baru.

Untuk menutupi kekurangan akan kebutuhan dana perusahaan memiliki beberapa sumber dan yang dapat digunakan. Pemilihan sumber daya ini tergantung tujuan, syarat-syarat, keuntungan dan kemampuan perusahaan.

Sumber-sumber dana secara garis besar dapat diperoleh dari modal sendiri dan pinjaman.

Setiap sumber dana memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Oleh karena itu mengingat penggunaan sumber dana memiliki kelebihan dan kekurangan perlu disiasati agar saling menunjang. Caranya dengan melakukan kombinasi dari masing-masing sumber dana.

Besarnya penggunaan masing-masing sumber dana harus dipertimbangkan agar tidak membebani perusahaan. Dengan kata lain penggunaan

(16)

yang bersumber dari pinjaman harus dibatasi. Kombinasi dari penggunaan dana dikenal dengan nama rasio penggunaan dana atau rasio solvabilitas.

Menurut Fahmi (2014:127) menyatakan bahwa “Rasio solvabilitas adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang”.

Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan masuk dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang.

Kemudian menurut Kasmir (2015:151) mengatakan bahwa “Rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang”.

Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan.

Sedangkan menurut Kamaludin dan Indriani (2012:42) menegaskan bahwa “Rasio solvabilitas adalah untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana perusahaan mendanai aktivanya”.

Rasio ini memberikan ukuran atas dana yang disediakan pemilik dibandingkan dengan keuangan yang diberikan oleh kreditor.

Dari beberapa teori yang telah dijabarkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian dari rasio solvabilitas adalah alat untuk menilai sejauh mana

(17)

aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang selain itu juga mengukur pengaruh modal yang bersumber dari hutang terhadap kondisi perusahaan.

2.4.2. Tujuan dan Manfaat Rasio Solvabilitas

Penilaian kondisi perusahaan menggunakan rasio solvabilitas memiliki beberapa tujuan menurut Kasmir (2015:153) sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya (kreditor).

2. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).

3. Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dengan modal.

4. Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.

5. Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap pengelolaan aktiva.

6. Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.

7. Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, terdapat sekian kalinya modal sendiri yang dimiliki.

Sementara itu manfaat dari penilaian menggunakan rasio solvabilitas menurut Kasmir (2015:154) sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya.

(18)

2. Untuk menganalisis kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).

3. Untuk menganalisis keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dengan modal.

4. Untuk menganalisis seberapa besar aktiva peusahaan dibiayai oleh utang.

5. Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.

6. Untuk menganalisis atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.

7. Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih ada terdapat sekian kalinya modal sendiri.

2.4.3. Jenis-Jenis Rasio Solvabilitas

Dalam menilai kondisi perusahaan menggunakan rasio solvabilitas, terdapat beberapa komponen dalam rasio solvabilitas adalah:

1. Debt to Asset Ratio

Menurut Fahmi (2014:127) menyatakan bahwa “Debt to Asset Ratio merupakan rasio yang melihat perbandingan hutang perusahaan, yaitu diperoleh dari perbandingan total hutang dibagi dengan total aset”.

Selain itu menurut Kasmir (2015:156) menegaskan bahwa “Debt to Asset Ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva”.

(19)

Dengan kata lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar untung perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Adapun rumus untuk menghitung debt to asset ratio sebagai berikut:

2. Debt to Equity Ratio

Menurut Siegel dan Shim dalam Fahmi (2014:128) menyatakan bahwa

“Debt to Equity Ratio merupakan ukuran yang dipakai dalam menganalisis laporan keuangan untuk memperlihatkan besarnya jaminan yang tersedia untuk kreditur”.

Sedangkan menurut Kasmir (2015:157) mengungkapkan bahwa “Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan

ekuitas”.

Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Adapun rumus untuk menghitung debt to equity ratio sebagai berikut:

(20)

3. Times Interest Earned

Menurut Fahmi (2014:129) menyatakan bahwa “Times Interest Earned disebut juga dengan rasio kelipatan”.

Kemudian menurut Fred Weston dalam Kasmir (2015:160) mengungkapkan bahwa “Times Interest Earned merupakan rasio untuk mencari jumlah kali perolehan bunga”.

Rasio ini diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar biaya bunga. Adapun rumus untuk menghitung times interest earned adalah sebagai berikut:

4. Fixed Charge Coverage

Menurut Fahmi (2014:131) menyatakan bahwa “Fixed Charge Coverage merupakan rasio menutup beban tetap”.

Rasio menutup beban tetap dibandingkan dengan rasio kelipatan pembayaran bunga karena termasuk pembayaran bunga yang berkenaan dengan sewa guna usaha.

Sedangkan menurut Kasmir (2015:162) menegaskan bahwa “Fixed Charge Coverage merupakan rasio yang dilakukan apabila perusahaan

memperoleh utang jangka panjang atau menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa”.

Biaya tetap merupakan biaya bunga ditambah kewajiban sewa tahunan atau jangka panjag. Adapun rumus dari fixed charge coverage sebagai berikut:

(21)

2.4.4. Standar Industri Rasio Solvabilitas

Dalam menilai kondisi suatu perusahaan dapat menggunakan rasio solvabilitas dimana dalam setiap komponen-komponen yang ada memiliki standar industri yang telah ditentukan.

Standar indutstri rasio solvabilitas menurut Kasmir (2015:164) sebagai berikut:

No Jenis Rasio Standar Industri

1 Debt to Asset Ratio 35%

2 Debt Equity Ratio 90%

3 Times Interest Earned 10 kali

4 Fixed Charge Coverage 10 kali

2.5. Kinerja Keuangan

2.5.1. Pengertian Kinerja Keuangan

Untuk memutuskan suatu badan usaha atau perusahaan memiliki kualitas yang baik maka ada dua penilaian yang paling dominan yang dapat dijadikan acuan untuk melihat badan usaha atau perusahaan tersebut telah menjalankan suatu kaidah-kaidah manajemen yang baik.

(22)

Penilaian ini dapat dilakukan dengan melihat sisi kinerja keuangan dan kinerja non keuangan. Kinerja keuangan melihat pada laporan keuangan yang dimiliki oleh perusahaan atau badan usaha yang bersangkutan dan itu tercermin dari informasi yang diperoleh pada neraca, laporan laba rugi, dan arus kas serta hal-hal lain yang turut mendukung sebagai penguat penilaian kinerja keuangan tersebut.

Menurut Hanafi dan Abdul (2007:69) menyatakan bahwa “Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai performing measurement yaitu kualifikasi dan efisiensi serta efektifitas perusahaan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi”.

Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu.

Menurut menurut Fahmi (2014:239) menyatakan bahwa “Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar”.

Dengan demikian, untuk dapat menentukan kinerja keuangan suatu perusahaan dilakukan dengan cara analisis rasio berdasarkan data – data yang dihasilkan pada laporan keuangan perusahaan.

Dari teori-teori yang telah disampaikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh perusahaan yang dapat mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga dapat melihat prospek, pertumbuhan, dan potensi perkembangan

(23)

baik perusahaan dengan mengandalkan sumber daya yang ada. Suatu perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila telah mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan.

2.5.2. Tujuan dan Manfaat Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan memiliki beberapa tujuan menurut Jumingan (2009:239) diantaranya adalah:

1. Mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan perusahaan terutama kondisi likuiditas, kecukupan modal, dan profitabilitas yang di capai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya

2. Mengetahui kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan semua aset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara efisien.

Kinerja keuangan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan. Manfaat dari kinerja keuangan bagi perusahaan menurut Prayitno (2010:9) sebagai berikut:

1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotifan karyawan secara maksimal.

2. Membantu pengambilan keputusan yang berhubungan dengan karyawan seperti promosi, transfer, dan pemberhentian.

3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan dan menyediakan kriteria promosi dan evaluasi program pelatihan karyawan.

4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan bagaimana atasa menilai kinerja karyawan.

5. Menyediakan suatu dasar dengan distribusi penghargaan.

Referensi

Dokumen terkait

dilanjutkan dengan pembelajaran yang meliputi konsep dasar pembelajaran, komponen-komponen pembelajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, pendekatan, strategi dan model

kekurangannya.pendapatan dari sumber-sumber lain yang berkaitan dengan proyek atau pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini peningkatan tarif atau juga

Selain dari staff, kami juga meminta bantuan dari para pengajar LTC untuk menjadi pembawa acara sekaligus juga ada yang menjadi pembuka dalam berdoa dan juga ada

Dengan menambah luas permukaan sendi yang dapat menerima beban, osteofot mungkin dapat memperbaiki perubahan-perubahan awal tulang rawan sendi pada osteoartritis, akan tetapi

Kewenangan artibusi KPK yang dilihat dari Pasal 50 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Tindak Pidana Korupsi bahwa KPK sangat diutamakan menjalankan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang intervensi yang tepat guna mengembangkan posttraumatic growth pada diri

Departemen Agama Repub lik Indonesia , selanjutnya di sebut sebagai DEPAG, Dan Yayasan Makkah Almukarramah yang didi rikan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri

menunjukkan bahwa agresi pada anak dapat terbentuk karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau