• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKU DALAM TUTURAN PASIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PELAKU DALAM TUTURAN PASIF"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

i

PELAKU DALAM TUTURAN PASIF

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun oleh : Atik Rahmaniah

14204244013

PENDIDIKAN BAHASA PRANCIS FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2018

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v MOTTO

(Gagal itu biasa, bangkit dari kegagalan itu yang luar biasa)

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Untuk Bapak dan Ibu

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, tugas akhir skripsi yang berjudul Pelaku dalam Tuturan Pasif ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada program studi Pendidikan Bahasa Prancis di Universitas Negeri Yogyakarta.

Penyusunan tugas akhir ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari banyak pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., selaku Rektor Universitas Negeri Yogyakarta beserta jajarannya.

2. Prof. Dr. Endang Nuhayati, M.Hum., selaku Dekan FBS UNY beserta jajarannya.

3. Dr. Roswita Lumban Tobing, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis FBS UNY.

4. Dra. Siti Perdi Rahayu, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang senantiasa meluangkan waktu, memberikan bimbingan, motivasi, dan arahan dengan penuh kesabaran.

5. Nuning Catur Sri Wilujeng, S.Pd, M.A., selaku Penasihat Akademik, yang selalu membimbing selama masa studi perkuliahan,

6. Bapak dan Ibu dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis, atas bimbingan dan dukungan yang telah diberikan,

7. Mbak Anggi yang selalu sabar melayani mahasiwa tingkat akhir, 8. Keluarga tercinta,

9. Teman-teman Pendidikan Bahasa Prancis angkatan 2014.

(8)

viii

10. Semua pihak yang membantu terselesainya skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membaca.

Yogyakarta, 29 Agustus 2018

Atik Rahmaniah

(9)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR BAGAN DAN TABEL ... xi

ABSTRAK ... xii

EXTRAIT ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Batasan Masalah... 4

D. Rumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Masalah ... 4

F. Manfaat Penelitian ... 5

G. Batasan Istilah ... 5

(10)

x BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Sintaksis ... 6

B. Kalimat dan Tipe Kalimat ... 7

C. Tuturan pasif ... 12

D. Analisis Kalimat ... 15

E. Konteks ... 25

F. Penelitian Relevan ... 28

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 30

B. Subjek dan Objek Penelitian ... 30

C. Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 31

D. Data dan Sumber Data ... 34

E. Metode dan Teknik Analisis Data ... 34

F. Instrumen Penelitian ... 36

G. Validitas dan Reliabilitas ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 38

B. Pembahasan ... 38

1. Peran Pelaku Dinyatakan Secara Eksplisit ... 38

2. Peran Pelaku Dinyatakan Secara Implisit ... 40

3. Peran Pelaku Dinyatakan Zéro ... 43

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 46

B. Implikasi ... 46

C. Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 47

LAMPIRAN ... 48

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Contoh Tabel Data Wujud Pelaku dalam Tuturan Pasif ... 33 Tabel 2: Tabel Data Wujud Pelaku dalam Tuturan Pasif ... 4

(12)

xii

PELAKU DALAM TUTURAN PASIF Oleh :

Atik Rahmaniah 14204244013

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud pelaku dalam tuturan pasif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian berupa semua kalimat yang terdapat pada roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Objek penelitian ini adalah pelaku dalam tuturan pasif yang terdapat dalam roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Data penelitian ini adalah semua kalimat yang termasuk dalam tuturan pasif yang terdapat dalam roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord.

Pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik lanjutan yaitu teknik bebas, simak, libat, cakap (SBLC) dan teknik catat. Untuk menganalisis data menggunakan metode agih dan padan. Metode agih digunakan untuk menentukan pelaku dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL) dan teknik lanjutan berupa teknik baca markah, ubah ujud, dan teknik sisip.

Metode padan digunakan untuk menganalisis konteks situasi. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan dengan empat langkah, yakni uji credibility (validitas internal), uji transferability (validitas eksternal), uji dependability (uji reliabilitas) melalui intra- rater dan expert judgement, serta uji confirmability (objektivitas) melalui pengujian hasil penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1) tuturan pasif dengan pelaku eksplisit sebanyak 15 data, 2) tuturan pasif dengan pelaku implisit sebanyak 7 data dan 3) tuturan pasif dengan pelaku zéro sebanyak 34 data. Pelaku yang paling banyak muncul adalah pelaku zero.

Kata kunci : pelaku, tuturan, pasif

(13)

xiii

L’AGENT DANS LA PAROLE PASSIVE

Par Atik Rahmaniah

14204244013 EXTRAIT

Cette recherche a pour but de décrire la forme de l’agent dans la parole passive.

Cette recherche est une recherche descriptive qualitative. Le sujet de cette recherche est tous les phrases dans le roman La Nuit du Titanic par Walter Lord. L’objet dans cette recherche est l’agent dans la parole passive dans le roman La Nuit du Titanic par Walter Lord. Les données de cette recherche sont les phrases qui sont inclus dans la parole passive.

Les méthodes de collecte de données utilisées sont la méthode d’observation avec la technique de lecture attentive (SBLC) et la technique de notation. L’agent dans la parole passive est analysé en utilisant la methode distributionnelle continuée par la technique de la distributionnelle immédiate (BUL), la technique de marque, la technique d'élément modifiée, et la technique d’expansion. La méthode d’identification est appliquée pour décrire les contextes de la situation. La validité et la fiabilité utilisent la validité crédibilité, la validité de la lecture attentive, la fiabilité d’intra-rater et le jugement d’expert, et la présentation du résultat de la recherche.

Les résultats de la recherche montre qu’il existe de l’agent se montre explicitement 14 données, l’agent se montre implicitement 12 données, et l’agent ne se trouve pas (zéro) 32 données.

Mots clés : l’agent, la parole, la passive.

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya membutuhkan adanya interaksi dan komunikasi dengan yang lainnya. Dalam berkomunikasi manusia memerlukan alat yang dapat digunakan dan bahasa adalah alat tersebut. Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari guna untuk menyampaikan ide, gagasan, pesan atau maksud yang ingin disampaikan baik secara tertulis atau lisan. Bahasa sebagai suatu sistem tentunya tersusun atas pola yang teratur dan menghasilkan suatu makna yang dapat diterima dan dipahami.

Linguistik adalah cabang ilmu yang membahas tentang bahasa.

Linguistik dibagi menjadi beberapa bidang, yaitu bidang fonetik dan fonologi yang mengkaji sistem bunyi dari bahasa, hal ini yang menjadi dasar utama dari pembentukan suatu bahasa. Bidang morfologi berkaitan dengan pembentukan kata dari suatu bahasa. Bidang sintaksis membahas tentang struktur antarkata yang terdapat dalam suatu kalimat, dalam bidang ini berkaitan erat dengan tata bahasa pada kalimat. Bidang semantik mengkaji arti atau makna yang terkandung dalam frasa, klausa dan kalimat.

Dalam tataran sintaksis, kalimat menjadi hal yang utama karena sintaksis adalah bidang ilmu bahasa yang membahas tentang hubungan

(15)

antarkata dalam kalimat. Kalimat adalah deretan kata yang menghasilkan makna. Untuk menganalisis kalimat dalam kajian sintaksis meliputi analisis fungsi, kategori, dan peran sintaksis. Fungsi sintaksis berkaitan dengan subjek, predikat, objek, dan keterangan. Kategori sintaksis mencakup nomina, verba, adjektiva, dll. Sedangkan peran sintaksis berkenaan dengan pelaku, alat, sasaran, asal, tujuan, lokatif, pengalami, benefaktif, dan waktu (Rahayu, 2017:

96-107). Peran sintaksis berkaitan dengan makna gramatikal yang dimiliki oleh setiap struktur sintaksis.

(1) Beaucoup furent avertis par leur garçon de cabine.

“Banyak (orang) yang telah diperingatkan oleh awak kapal dari kabin mereka”

(La Nuit du Titanic, Chapitre 1 Page 51) Pada kalimat (1) peran pelaku dinyatakan secara eksplisit bahwa satuan leur garçon de cabine berperan sebagai pelaku yang melakukan tindakan yang dinyatakan oleh verba furent avertis. Satuan beaucoup menyandang sebagai peran sasaran atas tindakan yang dilakukan oleh pelaku.

(2) Tout avait été fait pour donner au Titanic le meilleur orchestre possible.

“Semua telah dilakukan untuk memberikan pertunjukan orkestra terbaik kepada penumpang kapal Titanic.

Pada kalimat (2) frasa donner au Titanic le meilleur orchestre possible menyandang peran sebagai tujuan atas tindakan yang dilakukan. Kehadiran peran pelaku pada kalimat (2) dinyatakan secara implisit. Jika dilihat dari konteksnya peran pelaku pada kalimat (2) adalah Le chef orchestre Wallace Henry Hartley et ses musiciens yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya.

(16)

“Dan kemudian ada sebuah alunan musik yang tidak ingin meninggal- kan kapal. Konduktor orkestra Wallace Henry Hartley dan para pemain musik bermain di dalam ruangan kelas pertama dimana banyak penum- pang yang menunggu untuk menaiki kapal. Beberapa saat kemudian, pemain orkestra keluar dari geladak kapal dan menempati tempat di dekat tangga. Mereka terlihat sedikit konyol, sebagian memakai kos- tum berwarna biru dan sebagian lagi memakai jas berwarna putih, tapi permainan musik yang dimainkan sangat bagus”.

(3) Le vieux navire de 6000 tonnes avait quitté Londres pour Boston sans aucun passager ; à 22 h 30 ce soir-la, il s'était arrêté, completement bloqué par les glaces flottantes.

(La Nuit du Titanic, Chapitre 1 Page 26)

“Kapal tua dengan bobot 6000 ton yang tak berpenumpang telah berlabuh meninggalkan kota London menuju Boston, malam itu jam 22.30, kapal berhenti, terhalang oleh bongkahan es yang mengapung”

Pada contoh (3) satuan les glaces flottantes tidak dapat disebut sebagai pelaku yang telah melakukan tindakan yang dinyatakan oleh verba bloqué karena satuan tersebut bukanlah maujud bernyawa. Peran waktu pada frasa (3) dimiliki oleh satuan à 22 h 30 ce soir-la.

Berdasarkan contoh-contoh tersebut (1), (2) dan (3), penelitian ini akan fokus mengkaji tentang pelaku dalam tuturan pasif karena, dalam bahasa

“Et puis il y avait la musique, qui ne donnait guère envie de quitter le bord. Le chef orchestre Wallace Henry Hartley et ses musiciens jouaient du ragtime dans le salon de prèmiere classe, où de nombreux passagers attendaient que l’on donnât l’ordre de mettre les embarcations à l’eau. Un peu plus tard, l’orchestre sortit sur le pont et se posta tout près du grand escalier. Les musiciens avaient l’air un peu ridicules, les uns en uniforme bleu, les autres en veste blanche, mais la musique était bonne”.

(17)

Prancis tuturan pasif tidak selamanya berbentuk kalimat pasif, terdapat juga bentuk aktif yang bermakna pasif.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan, maka muncul permasalahan yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Wujud pelaku dalam tuturan pasif.

2. Wujud peran sasaran dalam tuturan pasif.

3. Wujud peran waktu dalam tuturan pasif.

4. Wujud peran tujuan dalam tuturan pasif.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, agar penelitian lebih fokus peneliti akan membatasi masalah pada wujud peran pelaku dalam tuturan pasif.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah dikemukakan di atas, permasalahan penelitian dapat dirumuskan, yaitu: bagaimana wujud pelaku dalam tuturan pasif ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah : mendeskripsikan wujud pelaku pada tuturan pasif.

(18)

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi para pembelajar bahasa dalam mempelajari ilmu linguistik khususnya mengenai kajian sintaksis tentang peran pelaku dalam tuturan pasif.

G. Batasan Istilah

Agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi, ada beberapa batasan dan penjelasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini.

1. Tuturan pasif adalah kalimat yang menyatakan bentuk pasif dan kalimat yang bermakna pasif.

(19)

6 BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Sintaksis

Sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang menelaah hubungan antarkata dalam kalimat. Menurut Dominique (1994: 9) « Une composant syntaxique, qui étudie les règles de combinaison des unités linguistiques », yang artinya sintaksis mempelajari tentang aturan-aturan penggabungan unit-unit linguistik.

Dubois (1994 : 468) juga menjelaskan pengertian sintaksis yaitu :

Syntaxe est la partie de la grammaire décrivant les règles par lesquelles se combinent en phrases les unités significatives ; la syntaxe, qui traite des fonctions, se distingue traditionnellement de la morphologie, étude des formes ou des parties du discours, de leurs flexions et de la formation de mots ou dérivation.

“Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang menjelaskan aturan-aturan penggabungan satuan-satuan tanda dalam kalimat; sintaksis, yang mengatur tentang fungsi-fungsi secara umum dibedakan dengan morfologi, kajian tentang bentuk-bentuk atau bagian-bagian dari wacana, fleksi dan pembentukan kata atau derivasi “

Sependapat dengan Verhaar (2010 : 161) yang mengatakan bahwa sintaksis merupakan tatabahasa yang membahas hubungan antara katakata di dalam sebuah tuturan. Tata bahasa sendiri terdiri atas morfologi yang menyangkut struktur gramatikal di dalam kata dan sintaksis yang mempelajari tatabahasa di antara kata-kata di dalam tuturan.

(20)

Dari beberapa pengertian sintaksis yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah ilmu yang mempelajari tentang tatabahasa yang menjelaskan aturan-aturan penggabungan satuan-satuan tanda dalam kalimat, mengatur fungsi- fungsi morfologi, kajian tentang bentuk-bentuk dari wacana, fleksi dan pembentukan kata atau derivasi.

B. Pengertian Kalimat dan Tipe Kalimat

Dubois (1994 : 365) menyebutkan bahwa kalimat didefinisikan sebagai « une concaténation de deux constituants, un syntagme nominal et un syntagme verbal » (rangkaian dari dua komponen, subjek dan verba). Sedangkan Verhaar (2010: 161) mengatakan bahwa kalimat adalah satuan yang merupakan suatu keseluruhan yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhan itu. Rahayu (2017: 14) juga menjelaskan bahwa kalimat memiliki 3 ciri yaitu: satuan lingual yang di awali dengan huruf besar dan di akhiri dengan tanda baca titik, 2) satuan tersebut adalah deretan kata yang membentuk satu makna dan, satuan tersebut terdiri dari dua konsituen wajib, yaitu subjek dan predikat.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang di awali huruf kapital dan di akhiri dengan tanda titik, terdiri dari konstituen wajib, yaitu subjek dan predikat serta memiliki intonasi final.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa kalimat harus memiliki dua konstituen wajib, yaitu subjek dan predikat. Hal tersebut juga berlaku dalam aturan bahasa Prancis dalam pembentukan kalimat. Rahayu (2017: 14) juga menjelaskan bahwa dalam kalimat dasar bahasa Prancis harus terdiri dari SN (syntagme nominal)

(21)

dan SV (syntagme verbal) yang kemudian dapat diformulasikan menjadi P → SN + SV. Simbol P mewakili sebagai kalimat (phrase), tanda → bermakna “dibentuk dari”, SN adalah syntagme nomina atau subjek, dan SV adalah syntagme verbal atau predikat dari kalimat. Perhatikan contoh berikut ini:

(6) Elle est belle.

SN SV “ Dia cantik “

Satuan Elle mewakili sebagai subjek (syntagme nomina) dan verba (syntagme verbal) disandang oleh est belle. Pada kalimat (7) dapat digambarkan dengan diagram pohon, seperti berikut ini.

Elle est belle.

SN SV

Elle est belle

Pada dasarnya setiap kalimat memiliki tipe kalimat seperti: kalimat penyataan, pertanyaan, aktif, pasif, pengingkaran, dan lain sebagainya. Dalam bahasa Prancis kalimat terdiri atas tipe (T) dan struktur kalimat (P) yang dapat dirumuskan menjadi

∑ → T + P. Tanda ∑ adalah simbol dari akhir kalimat, simbol T adalah singkatan dari tipe kalimat dan P mewakili struktur kalimat dasar (Rahayu, 2017: 25). Tipe kalimat Dalam bahasa Prancis dibedakan menjadi 2, yaitu: tipe wajib (obligatoire) dan tipe pilihan (fakultatif).

(22)

1. Tipe Wajib (Obligatoire)

a. Deklaratif (Declarative/Assertive)

Dominique (1994: 46) menyatakan bahwa « l’assertion pose un état de choses comme vrai ou faux » yang artinya adalah kalimat deklaratif merupakan suatu pernyataan yang menyatakan keadaan benar atau salah. Kalimat deklaratif menjadi tipe kalimat yang paling dasar dari semua tipe kalimat yang ada. Berikut contoh kalimat deklaratif.

(7) Paul est malade.

“Paul sakit”

b. Interogatif (Interrogatif)

Kalimat interogatif adalah kalimat yang berisi pertanyaan. Dominique (1994:

49) mengatakan « L’interrogation est constatemment associée à une mélodie montante qui à la fin reste suspendue » ( Kalimat tanya selalu dikaitkan dengan nada naik diakhir kalimat). Kalimat interogatif dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu: 1) Interogatif total adalah kalimat yang membutuhkan adanya jawaban Iya (Oui) , Tidak (Non) atau Si, 2) Interogatif parsial merupakan kalimat yang membutuhkan informasi dari salah satu fungsi kalimat seperti subjek, predikat, objek atau keterangan. Berikut contoh kalimat interogatif.

(8) Vous habitez à Jogja?

“Kamu tinggal di Jogja? “

(23)

(9) Qui porte des lunettes ?

“Siapa yang memakai kacamata? ” c. Imperatif (L’impératif)

Kalimat imperatif adalah kalimat yang menyatakan perintah (ordre), nasihat (conseil), dan dugaan (hypothèse). Tipe kalimat ini ditandai dengan ketidakhadiran dari subjek dan dibatasi hanya untuk orang kedua tunggal (tu), orang kedua jamak (vous) dan orang pertama jamak (nous) (Dominique, 1994 :55). Berikut contoh kalimat imperatif.

(10) Ferme la porte ! (11) Fermez la fenêtre !

d. Eksklamatif

Menurut Dubois (dalam Rahayu, 2017: 13), kalimat eksklamatif adalah kalimat yang berfungsi untuk menyatakan perasaan seperti: terkejut, bahagia, suka duka, gembira, senang, sedih, dll. Kalimat eksklamatif Dalam bahasa Prancis didahului dengan kata quel, quelle, si, comme, tel, dan sebagainya. Berikut contoh kalimat eksklamatif.

(12) Quel dommage ! “ Sungguh malang ! “

(13) Comme je suis belle ! “ Betapa cantiknya aku ! “

(24)

2. Tipe Pilihan (Facultatif) a. Negatif

Kalimat negatif adalah bentuk kalimat pengingkaran. Bentuk kalimat ini ditandai adanya satuan ne…pas, ne…jamais, ne…plus, ne…rien, dll. Unsur ne terletak sebelum verba. Berikut contoh kalimat negatif.

(14) Je ne danse pas.

"Saya tidak menari “ (15) Elle ne parle jamais.

“Dia tidak pernah bicara”

b. Emfatik / Netral

Kalimat emfatik adalah kalimat yang memberi penekanan pada salah satu unsur pembentuknya. Penekanan pada unsur kalimat dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu : 1) menggunakan bentuk présentatif (c’est… que/ qui, il n’y a… que, voici… que, dll), 2) melakukan pemindahan salah satu unsur kalimat ke depan kalimat, dan 3) pengulangan salah satu unsur kalimat dengan menggunakan pronomina (Rahayu, 2017:

35). Berikut contoh kalimat emfatik.

(16) C’est Luc qui est notre chef.

“ Ini Luc atasan kami “

(17) Ses affaires, Luc ne parle jamais.

“ Luc tidak pernah membicarakan masalahnya “

(25)

C. Tuturan Pasif

Tuturan adalah apa yang dituturkan orang. Salah satu satuan tuturan adalah kalimat (Verhaar, 2012: 161). Telah dijelaskan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang diawali huruf kapital dan di akhiri dengan tanda titik, terdiri dari konstituen wajib, yaitu subjek dan predikat serta memiliki intonasi final. Tuturan pasif adalah kalimat yang menyatakan bentuk pasif dan kalimat yang bermakna pasif. Dalam bahasa Prancis tuturan pasif dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan makna.

Tuturan pasif berdasarkan bentuk adalah tututan pasif yang terbentuk dari kalimat pasif. Tuturan ini memiliki konstruksi kalimat S + Être + Participe Passé (PP) + (par/de). Konstruksi être + participe passé melibatkan subjek yang tidak berperan sebagai pelaku tetapi sebagai subjek kalimat (Dominique, 1994: 123). Dalam konstruksi ini pelaku tindakan ditunjukkan secara eksplisit. Berikut contoh tuturan pasif dengan bentuk être + participe passé :

(18) Louis est mordu par le chien.

“Louis digigit anjing“

(19) Un jurnal est lu par André.

“Sebuah koran dibaca oleh André “

Kalimat (18) dan (19) menyebutkan dengan jelas pelaku yang melakukan tindakan dari verba (est) mordu, yaitu le chien dan verba (est) lu, yaitu André.

Tuturan pasif berdasarkan makna adalah tuturan pasif yang terbentuk dari kalimat aktif namun memiliki makna pasif. Tuturan ini meliputi konstruksi verba pronominal, impersonal, dan verba faire. Berikut penjelasannya.

(26)

a. Konstruksi verba pronominal

Tipe ini dibentuk dari verba pronominal se + verba. Berbeda dengan tuturan pasif bentuk être + participe passé, tipe ini selalu menunjukkan peran pelakunya secara implisit atau tidak langsung (Dominique, 1994: 124). Berikut contoh kalimat pasif dengan konstruksi verba pronominal.

(20) Ce livre se vend “Buku ini terjual“

(21) La jupe courte se porte encore ”Rok pendek itu masih dipakai“

Contoh kalimat (20) dan (21) memiliki makna pasif tetapi tidak menyebut peran pelaku yang telah melakukan tindakan dari verba se vendre dan se porter meskipun satuan ce livre pada kalimat (20) dan satuan la jupe courte pada kalimat (21) berkedudukan sebagai subjek kalimat.

b. Konstruksi Impersonal

Seperti halnya konstruksi pronominal, konstruksi pasif ini juga tidak menunjukkan adanya pelaku yang telah melakukan sebuah tindakan. Konstruksi impersonal memiliki subjek yang diduduki oleh impersonal (Dominique, 1994: 125).

Berikut contoh kalimat pasif dengan konstruksi impersonal. Berikut contoh tuturan pasif dengan konstruksi impersonal.

(22) Il a été vu un homme.

“Terlihat seorang laki-laki“

(27)

(23) Il se repand des nouvelles “Berita tersebar“

(Dominique, 1994: 126)

Contoh kalimat (22) dan (23) memiliki subjek kalimat impersonal il. Kata kerja pada kalimat (22) menggunakan verba être + participle passé dan pada kalimat (23) menggunakan verba pronominal.

c. Konstruksi Faire + V infinitif 1) Faire + verba infinitif

Konstruksi verba faire digunakan ketika subjek meminta orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak dapat dilakukan oleh subjek. Berikut contoh kalimat pasif dengan konstruksi verba faire . Contoh diambil dari buku ajar Echo 2.

(24) Pierre fait peindre sa maison.

“Pierre mengecat tembok rumahnya“

Kalimat (24) memiliki makna pasif yang menjelaskan bahwa Pierre tidak melakukan pekerjaannya sendiri melainkan dengan menyuruh seseorang. Karena pekerjaan seperti mengecat rumah pada umumnya tidak dilakukan secara sendiri oleh pemilik rumah, tetapi menyuruh orang lain yang melakukannya.

2) Se faire + verba infinitif

Kontruksi ini juga digunakan ketika seseorang melakukan tindakan kepada orang lain. Contoh diambil dari buku Echo 2 :

(25) Elle se fait couper les cheveux.

“Dia potong rambut“

(28)

Kalimat (25) memiliki makna pasif yang menyatakan bahwa subjek elle sebenarnya tidak memotong rambutnya sendiri tetapi dilakukan oleh orang lain. Karena kegiatan memotong rambut pada umumnya dilakukan ditempat potong rambut yang dilakukan oleh ahli potong rambut.

D. Analisis Kalimat

Menurut Putrayasa (2007: 67), dalam menganalisis kalimat menggunakan pendekatan sintaksis dan semantik dengan membedakan berdasarkan fungsi sintaksis, kategori sintaksis dan peran semantis unsur-unsur kalimat. Setiap kata atau frasa yang menjadi unsur pembentuk kalimat termasuk dalam kategori sintaksis, fungsi sintaksis serta peran semantis tertentu. Kategori sintaksis meliputi: nomina, verba, adjektiva, preposisi, dan lain sebagainya. Fungsi sintaksis diisi oleh unsur kategori tertentu yang meliputi: subjek, objek, predikat, dan keterangan. Sedangkan peran semantis meliputi:

pelaku, sasaran, alat, tujuan, tempat, waktu, dan sebagainya. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang analisis berdasarkan kategori, fungsi, dan peran.

1. Analisis Kalimat Berdasarkan Fungsi

Fungsi adalah peran yang diduduki oleh elemen linguistik seperti: fonem, morfem, kata, syntagma). Fungsi membicarakan tentang fungsi subjek, fungsi prediktif, fungsi objek dan fungsi keterangan (Dubois, 1994: 204). Berikut adalah penjelasan tentang subjek, predikat, objek dan keterangan.

(29)

a. Subjek

Subjek adalah pelaku yang melakukan perbuatan yang diungkapkan oleh kata kerja. Subjek berupa nomina (nama diri) atau kata ganti (pronom) yang dapat menggantikan subjek (Dubois, 1994: 456). Berikut contoh kalimat fungsi subjek.

(26) Anne va au Lycée.

“Anne pergi ke Sekolah”

Pada kalimat (26) nomina Anne berkedudukan sebagai subjek yang melakukan tindakan dari verba aller.

b. Predikat

Predikat adalah unsur wajib yang harus ada dalam kalimat. Predikat adalah tindakan yang subjek lakukan, keberadaan subjek, atau hubungan antara atribut dan subjek (Dubois, 1994: 505). Dalam bahasa Prancis semua verba berkonjugasi yang disesuaikan dengan 1) subjek, 2) jumlah subjek, tunggal atau jamak. 3) Bentuk, kesesuaian peran predikat yang dikaitkan dengan subjek, 4) modus atau cara yang digunakan untuk memahami dan menyatakan proses, 5) waktu/kala berlangsungnya predikat yang dilakukan oleh subjek (Dubois, 1994: 505). Berikut contoh penggunaan predikat dalam kalimat.

(27) Il fait de la natation.

“Dia berenang”

Kalimat (28) diisi oleh verba fait yang berasal dari infinitif faire, kemudian verba tersebut dikonjugasi sesuai dengan subjek, kala, dan modusnya.

(30)

c. Objek

Objek adalah nomina yang melengkapi frasa dari kata kerja atau benda yang mengalami tindakan yang dibuat oleh subjek (Dubois, 1994: 332). Objek dibedakan menjadi objek langsung (complément d'objet direct) dan objek tidak langsung (complément d'objet indirect). Berikut contoh fungsi objek.

(29) Cloé ecrit une lettre.

“Cloé menulis sebuah surat”

Pada kalimat (29) une lettre berkedudukan sebagai objek langsung.

d. Keterangan

Keterangan atau complément circontanciel adalah fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya (Rahayu, 2017: 98). Keterangan terletak di awal, di tengah atau di akhir kalimat. Berikut contoh fungsi keterangan.

(30) Philipe boit du café tous les matins “Philipe minum kopi setiap pagi“

Pada kalimat (30) tous les matins berfungsi sebagai keterangan waktu atas perbuatan yang dilakukan oleh subjek.

2. Analisis Kalimat Berdasarkan Kategori

Analisis kalimat berdasarkan kategori merupakan penentuan kelas kata yang menjadi unsur-unsur dalam kalimat. Seperti yang diungkapkan oleh Verhaar (2012:

170) bahwa kategori sintaksis adalah apa yang sering disebut ‘kelas kata’, seperti nomina, verba, adjektiva, adverbia, adposisi (artinya preposisi atau posposisi). Menurut Dubois (dalam Rahayu, 2017 : 99-100) kelas kata dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

(31)

1) kata bervariasi (mots variables) : nomina, ajektiva, artikula, pronomina dan verba, 2) kata tak bervariasi, meliputi : adverbia, preposisi, konjungsi, dan interjeksi.

Kategori kata pengisi fungsi subjek adalah nomina. Nomina adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan subjek atau objek. Dalam bahasa Prancis nomina ditandai berdasarkan jenis (genre) dan jumlah (varie en nombre) (Dubois, 1994: 325).

Nomina dapat berfungsi sebagai sujet, attribut, apposition, complément d'objet direct, complément d’objet indirect, complément d’attribution, complément circonstanciel (Dubois, 1994: 325). Setiap nomina didahului oleh déterminant seperti les articles, l’adjectif possesif, etc. Perhatikan contoh berikut:

(31) La fille est belle

“ Seorang gadis cantik “ (32) Un garçon est étudiant.

“ Anak laki-laki itu (adalah) mahasiswa “ (33) Les étudiants font des examens.

“ Para mahasiswa sedang (melakukan) ujian “

Contoh (35) nomina fille berfungsi sebagai subjek tunggal dan berjenis (genre) femina ditandai dengan déterminant la dan nomina garcon pada contoh kalimat (32) berfungsi sebagai subjek tunggal yang berjenis maskula yang ditandai dengan l’article indéfini un. Sedangkan kalimat (33) fungsi subjek diduduki oleh nomina étudiants yang berjenis maskula jamak dengan ditandai oleh l’article definis les.

Kategori kata pengisi fungsi predikat adalah verba. Verba adalah kata yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan oleh subjek. Dalam bahasa Prancis semua verba berkonjugasi yang disesuaikan dengan 1) subjek, 2) jumlah subjek, tunggal atau

(32)

jamak, 3) bentuk, kesesuaian peran kata kerja/verba yang dikaitkan dengan subjek, 4) modus atau cara yang digunakan untuk memahami dan menyatakan proses, 5) waktu/kala berlangsungnya predikat yang dilakukan subjek (Dubois, 1994: 505).

Perhatikan contoh berikut.

(34) Elle range ses affaires

“ Dia menyusun barang-barangnya “ (35) Nous sommes allés au cinema “ Kita pergi ke Bioskop “

Pada kalimat (34) kategori verba diduduki oleh verba transitif ranger dengan kala waktu kini (présent) dan modus indicatif. Sedangkan kalimat (35) kategori verba diduduki olah verba (sommes) allés yang berasal dari konjugasi auxiliaire être + participle passé (aller). Kalimat (35) memiliki kala waktu lampau yang ditandai adanya verba être + participe passé.

Kategori kata pengisi fungsi objek adalah nomina dan nominalisasi. Dalam bahasa Prancis nomina ditandai berdasarkan jenis (genre) dan jumlah (varie en nombre) (Dubois, 1994: 325). Nomina didahului oleh determinant seperti les articles, l’adjectif possesif, etc. Nominalisasi adalah penggunaan le verbe (kata kerja) atau l’adjectif (kata sifat) sebagai nomina (kata benda) dalam kalimat. Berikut contoh kategori kata pengisi fungsi objek.

(36) Valeri achete une voiture “ Valeri membeli sebuah mobil “ (37) Vous cherchez votre chat ? “ Anda mencari kucing Anda? “

(33)

(38) Je désire prendre l'air

“ Saya ingin menghirup udara segar “

(Dubois, 1994: 327)

Contoh kalimat (36) memiliki objek yang diduduki oleh nomina voiture dengan artikula indéfini une yang menandakan objek tersebut berjumlah tunggal. Kalimat (37) mempunyai objek yang dinyatakan oleh nomina chat dengan l’adjectif possesif votre yang menandakan kepemilikan dari subjek vous. Pada kalimat (38) menggunakan verba prendre sebagai nomina kalimat.

Kategori kata pengisi fungsi keterangan dapat diisi oleh adverbia dan preposisi+nomina. Adverbia didefinisikan sebagai kata yang menyertai kata kerja, kata sifat atau kata keterangan lain untuk memperjelas maknanya (Dubois, 1994: 19).

Bentuk adverbia dapat berupa: hier, ici, maintenant, dll. Berikut contoh kategori kata pengisi fungsi keterangan berupa adverbia:

(39) Hier, je suis allé à la plage “ Kemarin, saya pergi ke Pantai “

(40) Aujourd’hui, nous étudions l’histoire de la France “ Hari ini, kami belajar sejarah Prancis “

Adverbia hier pada kalimat (39) dan aujourd’hui pada kalimat (40) menjelaskan keterangan waktu kejadian.

Preposisi adalah kata depan yang menghubungkan unsur-unsur seperti nomina, verba, dalam kalimat. Dalam bahasa Prancis preposisi dapat berupa après, avant, avec, chez, contre, de, depuis, devant, sur, sous, vers, dll, (Rahayu, 2017: 104). Berikut contoh kategori kata pengisi fungsi keterangan berupa preposisi.

(34)

(41) Helene met son livre sur la table

“ Helene meletakan bukunya di atas meja“

(42) Il prends des photos devant le musée “ Dia berfoto di depan Museum “

Kalimat (41) terdapat peposisi sur yang diikuti oleh nomina la table yang menunjukkan keterangan tempat dari nomina son livre. Preposisi devant yang diikuti oleh nomina le musée pada kalimat (42) juga berfungsi untuk memberi keterangan posisi atau tempat dari tindakan prendre des photos.

3. Analisis Kalimat Berdasarkan Peran

Analisis kalimat berdasarkan peran mengacu pada makna dari unsur-unsur fungsional yang terdapat dalam kalimat. Peran sintaksis adalah arti dari argumen pada verba yang sedemikian rupa sehingga arti itu berakar pada verba (Verhaar, (2012: 169).

Di dalam sintaksis terdapat unsur semantis tertentu sehingga dengan pengisian unsur peran dapat diketahui makna yang terdapat pada masing-masing unsur fungsional.

Peran sintaksis berkenaan dengan pelaku (agent), alat (instrument), sasaran (objectif), asal (source), tujuan (but), lokatif (locatif), pengalami (expériementeur), benefaktif (bénéficiare), waktu (temps) (Tutescu, 1979: 155-157).

a. Pelaku (agent)

Pelaku adalah peran yang disandang oleh maujud bernyawa yang melakukan tindakan yang dinyatakan oleh predikat (Rahayu, 2017: 107). Bentuk pelaku adalah berupa nomina atau pronomina. Berikut contoh kalimat yang menyatakan adanya pelaku.

(35)

(43) Un livre est lu par Jeanne “ Buku dibaca oleh Jeanne”

(44) Jeanne lit un livre

“ Jeanne membaca sebuah buku “ (45) Elle conduit une voiture

“ Dia mengendari mobil “

(46) Un chat noir a attrapé une souris

“ Seekor kucing hitam telah menangkap seekor tikus “

Pada kalimat (43) dan (44) Jeanne menyandang sebagai pelaku yang melakukan tindakan membaca/dibaca yang dinyatakan oleh verba lire. Kalimat (45) menunjukkan bahwa pronomina elle berperan sebagai pelaku yang melakukan tindakan mengendarai yang dinyatakan oleh verba conduire. Nomina un chat noir pada kalimat (46) menyandang peran sebagai pelaku yang melakukan tindakan menangkap yang dinyatakan oleh verba attraper.

b. Alat (instrument)

Alat adalah peran yang disandang oleh maujud tak bernyawa yang menimbulkan terjadinya aksi atau proses yang dinyatakan oleh predikat verbal (Rahayu, 2017: 108). Berikut contoh peran alat.

(47) Il utilise le panier pour apporter des pommes.

“ Dia menggunakan keranjang untuk membawa apel “

Nomina panier pada kalimat (47) menyandang peran sebagai alat yang digunakan untuk membawa apel (apporter des pommes).

(36)

c. Sasaran (objectif)

Sasaran adalah peran yang netral dan ditunjukkan oleh verba itu sendiri. Peran sasaran disandang oleh maujud yang berupa frasa, nominal, frasa preposisional, verba infinitif atau klausa (Rahayu, 2017: 110). Berikut contoh peran sasaran.

(48) Elle mange du chocolat “ Dia makan coklat “

Nomina chocolat pada kalimat (48) menyandang peran sebagai sasaran atas tindakan makan yang ditunjukan oleh verba manger.

d. Asal (source)

Peran asal adalah peran yang menyatakan batas awal sebuah tindakan, sumber, penyebab, asal mula tindakan yang dinyatakan oleh predikat verbal (Rahayu, 2017:

111). Berikut contoh peran asal.

(49) A cause de l’accident de voiture, sa jambe a été blessée.

“ Kakinya terluka akibat kecelakaan mobil ”

L’accident de voiture pada kalimat (49) menyandang peran sebagai asal yang menyebabkan terjadinya keadaan yang dinyatakan oleh predikat verbal a été blessée.

e. Tujuan (but)

Tujuan adalah peran yang menyatakan batas akhir suatu tindakan, tujuan, hasil, penerimanya berupa maujud tak bernyawa (Rahayu, 2017: 110). Berikut contoh peran tujuan.

(50) Pierre visite le musée du Louvre ” Pierre mengunjungi Museum Louvre “

(37)

Nomina musée de Louvre pada kalimat (50) menyandang sebagai peran tujuan atas tindakan yang dinyatakan oleh verba visiter.

f. Lokatif (locatif)

Peran lokatif adalah peran yang disandang oleh nomina sebagai tempat atau lokasi yang dinyatakan oleh predikat verbal (Rahayu, 2017: 109). Berikut contoh peran lokatif.

(51) Elle achète des legumes au marché “ Dia membeli sayuran di pasar “

Nomina marché pada kalimat (52) berperan sebagai lokatif yang menyatakan tempat terjadinya tindakan membeli yang dinyatakan oleh verba acheter.

g. Peran Datif

Peran datif disebut juga pemanfaat (bénéficiaire) atau pengalam (expérimenteur) adalah peran yang disandang oleh maujud bernyawa yang mengalami peristiwa atau keadaan yang berkaitan dengan kejiwaan yang dinyatakan oleh predikat verbal (Rahayu, 2017: 108). Berikut contoh peran datif.

(53) Paul croyait qu’il réussirait

“ Paul percaya bahwa dia akan berhasil “ (54) Il a béneficié sur ce marché

“ Dia memanfaatkan pasaran “

Pada kalimat (53), peran datif disandang oleh Paul, yaitu sebagai keadaan dari tindakan yang dinyatakan oleh verba croyait. Sedangkan pada kalimat (54) subjek il menyandang sebagai peran mengalami sesuatu yang dinyatakan oleh verba a béneficié.

(38)

h. Peran waktu

Peran waktu adalah peran yang menyatakan waktu berlangsungnya suatu kejadian. Peran ini disandang oleh adverbia seperti: hier, maintenant, aujourd'hui, ce jour, demain dan lain sebagainya (Dubois, 1994: 473) . Berikut contoh peran waktu.

(55) Demain, j’irai à Jakarta

“ Besok saya akan pergi ke Jakarta “ (56) Aujourd’hui, il se marié

“ Hari ini, dia menikah “

Pada kalimat (55) adverbia demain berperan sebagai waktu yang memberi keterangan bahwa kejadian j’irai à Jakarta terjadi pada waktu yang akan datang.

Adverbia aujourd’hui pada kalimat (56) berperan sebagai waktu untuk memberi keterangan pada kejadian il se marié.

E. Konteks

Dalam memahami sebuah tuturan, konteks menjadi pelengkap yang dapat memberikan arti tersendiri dari sebuah tuturan tersebut. Dubois (2002: 116) mengatakan, « on appelle contexte l’ensemble du texte dans lequel se situe une unité déterminée, c’est-à-dire les éléments qui précèdent ou qui suivent cette unité, son environnement ‘konteks merupakan keseluruhan teks yang terdapat pada kesatuan tertentu, dengan kata lain unsur-unsur yang mendahului atau yang mengikuti kesatuan unit tersebut (lingkungannya)’.

Konteks berkaitan erat dengan proses komunikasi, oleh sebab itu segala sesuatu yang berhubungan dengan tuturan sangat bergantung pada konteks yang mendasari tuturan tersebut. Hymes (dalam Mulyana, 2005: 21) menguraikan delapan komponen

(39)

tutur yang kemudian disingkat menjadi SPEAKING yang terdiri atas setting and scene (fisik dan latar psikologis), participants (peserta tutur), ends (tujuan tutur), acts (urutan tindak), keys (nada tutur), instruments (saluran tutur), norms (norma tutur), dan genres (jenis tutur) yang dijabarkan sebagai berikut.

1. Setting and Scene (S)

Setting adalah tempat dan waktu suatu tuturan berlangsung, sedangkan scene berarti situasi psikologis dari suatu peristiwa tutur seperti senang, gembira, sedih, dll.

2. Participants (P)

Participants merupakan semua pihak yang terlibat dalam dalam sebuah tuturan, yakni bisa penutur atau pengirim pesan, mitra tutur atau penerima pesan. Hal-hal yang berkaitan dengan partisipan seperti usia, pendidikan, latar sosial, juga dapat menjadi perhatian.

3. Ends (E)

Ends adalah tujuan yang dicapai dalam sebuah peristiwa tutur. Dalam hal ini penutur menjadi penentu tujuan akhir tuturan dan pemilihan penggunaan bahasa disesuaikan dengan tujuan akhir yang ingin dicapai.

4. Act sequences (Pesan atau Amanat)

Act sequences merupakan pesan atau amanat yang terdiri dari bentuk pesan dan isi pesan. Bentuk pesan berkaitan dengan cara penyampaian suatu topik atau persoalan, sedangkan isi pesan berkaitan dengan persoalan yang sedang dibicarakan atau disampaikan. Bentuk pesan mempertimbangkan pemilihan kata dan penggunaan bahasa agar sesuai dengan isi pesan.

(40)

5. Keys (K)

Keys adalah nada atau intonasi yang diekspresikan oleh penutur dalam melakukan sebuah ujaran. Selain itu key juga ditandai dengan isyarat, gerak, sikap tubuh, musik yang mengiringi, dan sebagainya sehingga menggambarkan ekspresi penutur yang disampaikan bisa jadi kegembiraan, kesedihan atau kemarahan dan lain–

lain.

6. Instruments (I)

Instruments merupakan saluran informasi maupun sarana yang digunakan penutur dalam menyampaikan maksud dari sebuah tuturan. Sarana yang digunakan penutur bisa berupa lisan, percakapan melalui telepon, ataupun berupa tulisan.

7. Norms (N)

Norms mengacu kepada kesopanan atau adat istiadat yang berlaku di tempat tuturan tersebut digunakan. Hal ini berhubungan dengan strata sosial dan hubungan sosial pada umumnya dalam suatu masyarakat. Norma berpengaruh dengan makna sebuah kalimat, karena norma yang ada pada sebuah kalimat mencerminkan cara berbahasa penutur.

8. Genres (Jenis)

Genres merujuk kepada jenis atau bentuk wacana. Jenis merujuk kepada kategori dari aktivitas bahasa. Jenis mengacu pada kategori-kategori seperti puisi, lirik lagu, orasi, dongeng, peribahasa, teka-teki, surat edaran, editorial, dsb.

Berikut contoh penerapan analisis konteks.

(41)

(57) Le Titanic effectuait son premier voyage. C’était sa cinquiéme nuit en mer.

Navire le plus grand du monde, il était aussi le plus beau. Tout était splendide à bord, jusqu’aux chiens des passagers. John Jacob Astor avait emmené avec lui son airedale Kitty, Henry Sleeper Harper – de la famille des éditeurs – son pékinson Sun Yat-sen. Robert W. Daniel, le banquier de Philadelphie, rapportait en Amérique un bouldoque français qu’il venait d’acheter en Angleterre. Clarence Moore, de Washington, sétait lui aussi intéressé aux chiens en Europe. Mais, les cinquante couples de chiens de chasse anglais qu’il avait achetés pour sa meute de Loudoun n’étaient pas du voyage.

Ini adalah perjalanan perdana kapal pesiar Titanic. Malam kelima di atas laut.

Kapal pesiar terbesar dan terindah di dunia. Semarak dari penumpang dan anjing-anjingnya di pinggiran kapal. John Jacob Astor membawa anjingnya yang berjenis Airedale, yang bernama Kitty, Henry Sleeper Harper – keluarga jenis pékinos sun yat-sen. Robert W. Daniel, banker dari Philadelphie membawa anjingnya yang jenis bulldog Prancis yang baru saja dibelinya di Inggris. Clarence Moore, wanita asal Washington, dia tertarik dengan anjing- anjing Eropa. Tetapi 50 pasang anjing pemburu Loudoun tidak ikut dalam perjalanannya.

Contoh (57) dari roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord chapitre 1.

Kejadian tersebut berlangsung pada malam kelima berlabuhnya kapal Titanic (Setting).

Kegembiraan penumpang yang menikmati malam di pinggiran kapal bersama anjing- anjingnya (Scene). Walter Lord ingin (P1) menceritakan peristiwa tersebut kepada pembaca (P2) bahwa kaum burjois pada masa tersebut suka memelihara seekor anjing (N) yang dia tulis dalam sebuah roman (Instruments). Roman ini berjenis tragedi romantis (Genre).

F. Penelitian yang Relevan

Penelitian terdahulu mengenai analisis kalimat telah dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya oleh Widya Kartika (2013) dari jurusan Pendidikan Bahasa

(42)

Prancis UPI, Dewi Apriliani (2016) dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY.

Penelitian Widya Kartika (2013) yang berjudul Analisis Sintaksis Bahasa Prancis Respon Pengunjung Youtube Terhadap Video Klip Coeur de Pirates dalam Album Coeur de Pirates. Hasil penelitiannya dari 69 responden klip video Coeur de Pirates menunjukkan bahwa analisis sintaksis berdasarkan fungsi terdiri dari fungsi subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Analisis berdasarkan kategori terdiri dari nomina, verba, adjektiva, adverbia konjungsi, interjeksi, frasa nomina, frasa adjektiva dan frasa adverbia. Analisis berdasarkan peran terdiri dari pelaku, tindakan, penerima, hasil, syarat, perbandingan, pertentangan, keadaan, tujuan, waktu, cara.

Penelitian Dewi Apriliani (2016) yang berjudul Analisis Kalimat Aktif dan Pasif pada Rubrik Opini dalam Surat Kabar Harian Suara Merdeka Berita Ekonomi- Bisnis Bulan Agustus 2014. Hasil penelitian ini menunjukkan jenis, struktur dan cara mengubah kalimat aktif menjadi pasif.

Berdasarkan kedua penelitian tersebut dapat diketahui jika analisis sintaksis dapat dilakukan dari berbagai media seperti, novel, cerpen, artikel, dll. Dalam penelitian ini, penelitian di atas digunakan sebagai referensi. Kedua penelitian di atas memiliki topik yang hampir sama dengan topik yang peneliti pilih, yaitu menganalisis tuturan pasif.

(43)

30 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif karena penelitian ini mendeskripsikan wujud pelaku dalam tututan pasif yang terdapat dalam roman berbahasa Prancis, sehingga data-data yang diperoleh tidak berupa angka, tetapi berupa kualitas bentuk-bentuk verbal yang berwujud tuturan.

Menurut Moleong (2017: 6), penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan untuk memahami suatu fenomena dari subjek penelitian secara utuh dengan cara mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

B. Subjek dan Objek Penelitian

Dalam penelitian ini, subjek penelitian berupa semua kalimat yang terdapat pada roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord.

Objek penelitian adalah sesuatu yang dikaji dalam sebuah penelitian. Dalam kajian linguistik, Kesuma (2007: 26) menjelaskan bahwa objek penelitian bahasa berupa satuan kebahasaan yang dikhususkan untuk diteliti. Oleh karena itu, objek penelitian ini adalah wujud pelaku dalam tuturan pasif yang terdapat dalam roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord.

(44)

C. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak yaitu metode yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 2015: 203). Metode simak dalam penelitian ini diwujudkan dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik lanjutan yaitu teknik simak, bebas, libat, cakap (SBLC) dan teknik catat yang berfungsi untuk melakukan pencatatan data yang telah diperoleh.

Setelah dicatat, data tersebut diseleksi berdasarkan penggunaannya.

Teknik sadap adalah teknik dasar metode simak karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan (Mahsun, 2005: 92). Teknik sadap adalah pemerolehan data dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang. Penggunaan bahasa yang dimaksud adalah bahasa secara lisan maupun tertulis.

Dalam penelitian ini peneliti melakukan penyadapan terhadap penggunaan bahasa tertulis. Teknik SBLC dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa tanpa ikut berpartisipasi dalam menentukan pembentukan dan pemunculan data. Selain dua teknik tersebut, peneliti menggunakan teknik catat yang merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mencatat hasil penyimakan data pada sebuah tabel data.

Langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut.

1. Membaca roman La Nuit du Titanic berulang-ulang untuk mendapatkan pemahaman secara umum.

2. Melakukan pembacaan ulang per chapitre.

(45)

3. Mencari makna yang terkandung pada setiap kalimat dalam roman La Nuit du Titanic.

4. Menandai kalimat yang diduga data yang mempunyai bentuk dan makna pasif.

5. Memeriksa kembali kalimat yang telah ditandai.

6. Mengklasifikasikan kalimat berdasarkan wujud pelaku.

7. Memasukkan data yang diperoleh ke dalam tabel data yang telah dipersiapkan agar mempermudah dalam menganalisis. Berikut tabel yang dimaksud.

(46)

Tabel 1. Contoh Tabel Data Wujud Pelaku dalam Tuturan Pasif

- Kode Data : kode chapitre/halaman No Kode

Data

Data Wujud Pelaku Keterangan

Eksplisit Implisit Zero (Ø) 1. 3/51 Beaucoup furent avertis par

leur garçon de cabine.

Banyak orang yang

diperingatkan oleh anak-anak dari kabin mereka.

Satuan leur garçon de cabine adalah

pelaku yang melakukan tindakan furent avertis.

(47)

D. Data dan Sumber Data Penelitian

Data penelitian adalah objek penelitian beserta konteks satuan kebahasaan yang melingkupinya (Kesuma, 2007: 25-26). Data dalam penelitian ini berupa kalimat yang termasuk dalam tuturan pasif. Sumber data dalam penelitian ini adalah roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord yang diterbitkan tahun 1958.

E. Metode dan Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode agih. Metode agih adalah metode yang alat penentunya merupakan bagian dari bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 2015: 18) .Penerapan metode agih ini menggunakan teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik BUL merupakan teknik analisis data yang dijalankan dengan cara membagi satuan lingual data menjadi beberapa bagian atau unsur dimana unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 2015:

37). Teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung diterapkan dengan membagi satuan lingual yang terdapat pada tuturan pasif yang terdapat dalam roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord dan digunakan untuk menentukan argumen inti dan noninti dalam klausa.

Selain menggunakan teknik dasar, penerapan metode agih juga menggunakan beberapa teknik lanjutan. Teknik lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca markah dan teknik ubah ujud parafrasal. Teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara melihat secara langsung pemarkah yang bersangkutan, atau dengan kata lain membaca penanda di dalam suatu konstruksi kalimat (Kesuma, 2007:

(48)

66). Teknik ubah ujud adalah berubahnya salah satu atau beberapa unsur satuan lingual yang bersangkutan). Teknik ini digunakan pada tataran sintaksis, yaitu untuk menentukan satuan makna konstituen sintaksis yang disebut “peran” (seperti pelaku, objektif, dsb) (Sudaryanto, 2015: 108). Berikut contoh analisis wujud pelaku dalam tuturan pasif.

(57) Beaucoup furent avertis par leur garçon de cabine.

“Banyak (orang) yang diperingatkan oleh awak kapal dari kabin mereka.”

Penggalan kalimat pada contoh (57) diambil dari chapitre 3 roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Kalimat tersebut tergolong sebagai bentuk kalimat pasif.

Langkah pertama dalam menganalisis peran pelaku pada kalimat (57) adalah dengan teknik BUL. Dengan teknik tersebut, kalimat (57) dapat dibagi menjadi 1) Beaucoup, 2) furent avertis, dan 3) par leur garçon de cabine. Pemenggalan tersebut menunjukkan adanya unsur fungsi sintaksis yaitu, subjek, predikat, dan objek. Setelah ditemukan unsur pembentuk dari kalimat (57), langkah kedua adalah menentukan pelaku dari kalimat (57). Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik ubah ujud. Kalimat (57) diubah menjadi sebagai berikut.

(57a) Leur garçon de cabine avertis beaucoup de gens.

Awak kapal kabin mereka memperingatkan banyak (orang).

Setelah dilakukan pengubahan ujud kalimat (57) dan (57a) memiliki kesamaan struktur fungsionalnya dan kesamaan struktur perannya. Sehingga dapat ditentukan peran sintaksis leur garçon de cabine berperan sebagai pelaku.

(49)

Selain menggunakan teknik yang telah diuraikan di atas, peneliti menggunakan metode padan referensial, yaitu metode yang alat penentunya berupa referen bahasa (Kesuma, 2007: 48). Teknik dasar dari metode padan referensial adalah teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dengan teknik lanjutan Hubung Banding Menyamakan (HBS).

Teknik HBS adalah teknik analisis data dengan cara membandingkan satuan-satuan kebahasaan yang dianalisis dengan alat penentu berupa hubungan banding antara semua unsur penentu yang relevan dengan semua unsur satuan kebahasaan yang ditentukan (Sudaryanto, 2015: 31). Teknik PUP digunakan melalui bantuan komponen tutur SPEAKING.

F. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai human instrument berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagi sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya (Sugiyono, 2009:

306). Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan pengetahuan tipe kalimat, analisis kalimat dan lain sebagainya. Semua klasifikasi data tentang wujud pelaku dikumpulkan menggunakan kriteria yang diperoleh dari berbagai referensi yang berkenaan dengan aspek tersebut.

G. Validitas dan Reliabilitas

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono, 2016: 363).

Dengan demikian data yang valid adalah data yang sesuai antara data laporan peneliti

(50)

dengan data pada objek penelitian. Reliabilitas merupakan serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi data.

Menurut Moleong (2017: 24) pengujian keabsahan dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan empat kriteria, yakni uji credibility (validitas internal), uji transferability (validitas eksternal), uji dependability (uji reliabilitas), dan uji confirmability (objektivitas). Uji credibility dalam penelitian ini dengan melakukan pengamatan atau membaca, penerjemahan, pengecekan, diskusi, dan analisis yang disertai penggunaan referensi pendukung. Uji transferability dilakukan dengan cara membuat uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Uji dependability dilakukan dengan cara melakukan audit keseluruhan proses penelitian dengan intra- rater dan expert judgement (dosen pembimbing skripsi). Terakhir, uji confirmability dilakukan melalui pengujian hasil penelitian.

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan, yaitu untuk mendeskripsikan wujud pelaku dalam tuturan pasif. Setelah dilakukan pendataan dan analisis data, hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan pasif dengan pelaku dinyatakan eksplisit sebanyak 15 data, tuturan pasif dengan pelaku implisit sebanyak 7 data dan tuturan pasif dengan pelaku zéro sebanyak 34 data.

B. Pembahasan

1. Pelaku Dinyatakan Secara Eksplisit

Pelaku eksplisit adalah peran yang disandang oleh maujud bernyawa yang kehadirannya dinyatakan secara jelas dalam tuturan pasif.

(58) La grande coursive du Pont E était complétement embouteillée par des soutiers chassés de la chaufferie nº 6, et surtout les passagers de troisième classe qui essayaient de se frayer un chemin vers l’arrière, emportant avec eux des sacs, des paquets, des valises et même de malles.

“Lorong di Geladak kapal E dipenuhi oleh kelasi kapal yang keluar dari ruang uap nomor 6 dan penumpang dari kelas ketiga yang mencoba mencari jalan keluar dan yang membawa tas dan koper besar”.

Contoh (58) diambil dari chapitre I roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Langkah pertama dalam menganalisis pelaku pada contoh (58) adalah dengan teknik BUL. Dengan teknik tersebut, contoh (58) dapat dibagi menjadi 1) La grande coursive du Pont E, 2) était complétement embouteillée dan 3) des soutiers chassés de

(52)

la chaufferie nº 6, et surtout les passagers de troisième classe qui essayaient de se frayer un chemin vers l’arrière, emportant avec eux des sacs, des paquets, des valises et même de malles. Langkah selanjutnya menggunakan teknik ubah ujud. Contoh (58) dapat diubah menjadi sebagai berikut.

(58a) Des soutiers chassés de la chaufferie nº 6 et surtout les passagers de troisième classe qui essayaient de se frayer un chemin vers l’arrière, emportant avec eux des sacs, des paquets, des valises et même de malles avaient complétement embouteillé la grande coursive du Pont E.

“Kelasi kapal yang keluar dari ruang uap nomor 6 dan penumpang dari kelas ketiga yang mencoba mencari jalan keluar dengan membawa tas dan koper besar mereka yang besar telah memadati lorong di Geladak kapal E”.

Setelah dilakukan pengubahan ujud pada contoh (58a) dapat ditentukan bahwa des soutiers chassés de la chaufferie nº 6 et surtout les passagers de troisième classe qui essayaient de se frayer un chemin vers l’arrière, emportant avec eux des sacs, des paquets, des valises et même de malles berperan sebagai peran pelaku.

(59) Les gens arrivaient petit à petit, entourés, guidés, par l’équipage.

“Orang-orang mulai berdatangan, dikelilingi dan dipandu oleh awak kapal.”

Contoh (59) diambil dari chapitre 3 roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Langkah pertama untuk menganalisis contoh (59) adalah menggunakan teknik BUL. Dengan teknin tersebut, contoh (59) dapat dibagi menjadi 1) les gens arrivaient petit à petit dan 2) entourés, guidés, par l’équipage. Langkah kedua menggunakan teknik sisip.

(53)

(59a) Les gens arrivaient petit à petit qui sont entourés, sont guidés par l’équipage.

“Orang-orang mulai berdatangan yang dikelilingi dan dipandu oleh awak kapal.”

Anak kalimat qui sont entourés, sont guidés par l’équipage adalah tuturan pasif. Satuan l’équipage menyadang peran sebagai pelaku yang melakukan tindakan yang dinyatakan pada verba entourés dan guidés.

(60) Les seize malles des Ryerson préparées avec amour par Victorine.

“Enam belas koper Ryerson telah disiapkan dengan penuh kasih oleh Victorine.”

Kalimat (60) diambil dari chapitre 6 roman La Nuit du Titanic. Langkah pertama dalam menganalisis pelaku pada kalimat (60) adalah dengan menggunakan teknik BUL. Dengan teknik tersebut, kalimat (60) dapat dibagi menjadi 1) les seize malles des Ryerson, 2) préparées avec amour dan 3) par Victorine. Langkah berikutnya menggunakan teknik ubah ujud.

(60a) Victorine prépare avec amour les seize malles des Ryerson.

“Victorine menyiapkan dengan penuh kasih enam belas koper Ryerson.”

Setelah dilakukan pengubahan ujud pada contoh (60a) dapat ditentukan bahwa Victorine menyandang sebagai pelaku.

2. Pelaku Dinyatakan Secara Implisit

Pelaku implisit adalah pelaku yang tidak dinyatakan secara nyata di dalam tuturan pasif.

(54)

“Dan kemudian ada sebuah alunan musik yang tidak ingin meninggalkan kapal. Konduktor orkestra Wallace Henry Hartley dan para pemain musik bermain di dalam ruangan kelas pertama dimana banyak penumpang yang menunggu untuk menaiki kapal. Beberapa saat kemudian, pemain orkestra keluar dari geladak kapal dan menempati tempat didekat tangga. Mereka terlihat sedikit konyol, sebagian memakai kostum berwarna biru dan sebagian lagi memakai jas berwarna putih, tapi permainan musik yang dimainkan sangat bagus. Semua itu dilakukan untuk memberikan pertunjukan orkestra terbaik kepada kapal Titanic.”

Contoh (61) dari chapitre 3 roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Dalam kutipan (61) terdapat tuturan pasif yaitu Tout avait été fait pour donner au Titanic le meilleur orchestre possible. Tuturan pasif tersebut tidak secara jelas menyatakan pelaku yang telah melakakukan tindakan avait été fait. Untuk mengetahui pelaku pada tuturan pasif yang terdapat pada contoh (61), digunakan metode padan referensial dengan teknik dasar PUP dan teknik lanjutan HBS. Teknik PUP digunakan melalui bantuan komponen tutur SPEAKING berikut. Peristiwa tersebut terjadi di tangga kapal (Setting). Pemain musik yang terlihat sedikit konyol dengan kostum yang mereka pakai memainkan musik yang indah (Scene). Konduktor orkestra Wallace Henry Hartley (P1) dan para pemain musik (P1) melakukan hal tersebut untuk memberikan pertunjukan yang menarik dengan musik orkestra yang indah (Ends) kepada

(61) Et puis il y avait la musique, qui ne donnait guère envie de quitter le bord.

Le chef orchestre Wallace Henry Hartley et ses musiciens jouaient du ragtime dans le salon de prèmiere classe, où de nombreux passagers attendaient que l’on donnât l’ordre de mettre les embarcations à l’eau. Un peu plus tard, l’orchestre sortit sur le pont et se posta tout près du grand escalier. Les musiciens avaient l’air un peu ridicules, les uns en uniforme bleu, les autres en veste blanche, mais la musique était bonne. Tout avait été fait pour donner au Titanic le meilleur orchestre possible.

(55)

penumpang kapal Titanic (P2). Kapal pesiar besar selalu memberikan pertunjukkan orkestra sebagai hiburan kepada penumpang (N).

Penentuan penentuan pelaku implisit pada contoh (61) dilakukan melalui teknik HBS yang dipadankan dengan konteks pada tuturan keseluruhan, yakni dengan komponen, tutur (Ends). Semua hal dilakukan oleh Konduktor orkestra Wallace Henry Hartley dan para pemain musik untuk membuat pertunjukkan orkestra yang indah kepada penumpang. Hal ini membuktikan bahwa pelaku pada tuturan pasif yang terdapat pada contoh (61) adalah Le chef orchestre Wallace Henry Hartley et ses musiciens.

(62) A cette heure-là, on avait encore du mal persuader les femmes de s’embarquer; Joughin usa carrément de la manière forte. Il descendit sur le pont-promenade et ramera plusieurs femmes avec lui. Puis, pour se servir de ses propres mots, il les « lanca » dans le canot. Et Joughin avait été désigné comme patron du nº 10.

” Pada saat itu, orang-orang masih sulit untuk meyakinkan para wanita untuk menaiki kapal; Joughin menggunakan cara yang sedikit kasar. Dia pergi ke dek kapal dan membawa beberapa wanita bersamanya. Kemudian, dia melontarkan kata-katanya di dalam kapal. Joughin dinobatkan sebagai pemimpin kapal no 10 “.

Kutipan (62) diambil dari chapitre 8 roman La Nuit du Titanic karya Walter Lord. Dalam kutipan tersebut terdapat tuturan pasif yaitu Joughin avait été désigné comme patron du nº 10 . Tuturan pasif tersebut tidak secara jelas menyatakan pelaku yang telah melakakukan tindakan avait été désigné. Untuk mengetahui pelaku pada tuturan pasif yang terdapat pada kutipan (62), digunakan metode padan referensial dengan teknik dasar PUP dan teknik lanjutan HBS. Teknik PUP digunakan melalui

Gambar

Tabel 1. Contoh  Tabel Data Wujud Pelaku dalam Tuturan Pasif
Tabel 2 Data Wujud Pelaku dalam Tuturan Pasif

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat menciptakan agama dengan mendefinisikan fenomena tertentu sebagai sesuatu yang sakral dan sementara yang lain dianggap profan (kejadian yang umum atau

Hasil penilaian validator yang menyatakan bahwa, materi dalam modul sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku (Kurikulum 2013), dapat mendukung pemahaman konsep,

Abstrak , metode simpleks yang direvisi adalah suatu metode yang didesain untuk mencapai hal yang tepat sama seperti pada metode simpleks asli, akan tetapi dengan suatu

Guru mengarahkan siswa untuk merangkum penyakit yang berhubungan Guru mengarahkan siswa untuk merangkum penyakit yang berhubungan dengan sistem peredaran darah pada manusia..

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, segala anugrah dan keajaiban disetiap waktu, akhirnya peneliti bisa menyusun dan menyelesaikan segala proses pembuatan skripsi yang

Kita diundang juga karena, terus terang, produksi pangan kita meningkat dengan baik, contoh negara yang tidak terlalu terguncang dengan krisis pangan di dunia ini, mungkin

Kemudian siswa dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri, para siswa juga harus membaca secara fasih, lancar, benar dan sempurna.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

Sedangkan pada pekerja kasar, meskipun mempunyai kebiasaan merokok, namun karena disertai aktivitas yang tinggi maka pembakaran kolesterol tinggi pula, sehingga kadarnya