• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGGA PRAMUDYA *1, SURATMI 1, SUDALHAR 2 Program Studi Administrasi Rumah Sakit 1. STIKES Muhammadiyah Lamongan 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANGGA PRAMUDYA *1, SURATMI 1, SUDALHAR 2 Program Studi Administrasi Rumah Sakit 1. STIKES Muhammadiyah Lamongan 2"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN BEBAN KERJA PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN PROSES TIMBANG

TERIMA PASIEN DI RUANG ANYELIR RSUD dr. R.

SOSODORO DJATIKUSUMO BOJONEGORO

ANGGA PRAMUDYA*1, SURATMI1, SUDALHAR2 Program Studi Administrasi Rumah Sakit

1STIKES Muhammadiyah Lamongan

2STIKES Muhammadiyah Bojonegoro Email: [email protected]

ABSTRAK

Perawat di RSUD Bojonegoro jarang melakukan proses timbang terima sesuai S.O.P yang telah ditetapkan. Karena terlalu banyak beban kerja yang di bebankan timbang terima pasien di ruang perawatan hanya berjalan secara sederhana dan hanya menggunakan buku laporan jaga tidak ada interaksi antar perawat secara langsung. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan beban kerja perawat terhadap pelaksanaan proses timbang terima di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro.

Desain penelitian yang digunakan adalah analitik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Total sampel yang digunakan adalah 20 responden yang merupakan perawat ruang anyelir. Variable yang digunakan merupakan variable dependent yaitu timbang terima pasien dan variabel independent adalah pengetahuan dan beban kerja. kemudian dilakukan editing, coding, scoring dan tabulating kemudian ditarik kesimpulan dengan menggunakan prosentase. Uji statistik yang digunakan regresi linier.

Hasil penelitian yang didapat bahwa sebagian besar perawat yang memiliki pengetahuan baik tentang timbang terima dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai S.O.P yang ada. Dan didapatkan bahwa lebih dari sebagian perawat yang memiliki beban kerja yang tinggi (berat) dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai S.O.P yang ada.

Ada hubungan yang tinggi antara beban kerja perawat terhadap pelaksanaan timbang terima pasien, dan kurangnya hubungan antara pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan proses timbang terima pasien. Untuk mewujudkan timbang terima (handover) yang sempurna perlu dibentuk tim khusus sebagai pengawas proses timbang terima. Selain itu untuk mewujudkan hal itu perawat sebaiknya diberikan pelatihan-pelatihan tentang timbang terima dan dengan cara memberikan hadiah kepada perawat yang memiliki kinerja baik dan profesional.

Kata kunci : Pengetahuan, Beban Kerja, Perawat, Timbang Terima.

(2)

ABSTRACT

Nurses in Bojonegoro hospitals seldom did handover according S.O.P that has been set. Because too much workload be imposed handover on the ward just walk simple and just use book report and there is no interaction between the nurse directly. To determine the relationship of knowledge and the workload of nurses on the implementation process of handover in dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro hospital.

The research design used is analytic. The approach used in this study was cross sectional. The total sample is 20 respondents who are nurse in anyelir room. Variable used dependent variable that handover the patients and the independent variable is the knowledge and workload. then do the editing, coding, scoring and tabulating then be deduced by using percentages. The statistical test used linear regression.

The results of research found that the majority of nurses who have good knowledge about handover is insufficient in the handover process correctly according S.O.P there.

And found that more than most nurses have high workload (weight) is insufficient in the handover process correctly according S.O.P there.

There is high correlation between the workload of nurses on the implementation of the handover, and the lack of correlation between the knowledge of nurses to handover the implementation process. To realize handover is perfectly necessary to set up special team as supervisor handover. In addition to realizing that nurses should be given training on handover and by giving gifts to the nurses who have good and professional performance.

Keyword: Knowledge, Workload, Nurse, Handover.

Latar Belakang

Handover merupakan suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien / keselamatan pasien.

Hari perawat dimulai dengan kegiatan dari laporan, saling bertukar informasi tentang semua pasien. Informasi yang disampaikan harus akurat, dan berkesinambungan sehingga asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna (Nursalam,2008). Realitanya di lapangan perawat di ruang anyelir tidak melakukan proses timbang terima sesuai standart operasional yang ada,

perawat kerap sekali hanya melakukan timbang terima tersebut hanya dengan meninggalkan buku catatan/buku laporan saja dan jarang sekali melakukan komunikasi secara langsung saat pergantian sift sehingga hal tersebut mengurangi kualitas pelayanan keperawatan.

Berdasarkan survey data tahun 2014 yang dilakukan di RSUD Bojonegoro pada 30 perawat dari 13 ruang yang berbeda di dapatkan hasil 76,77% tidak melakukan suatu proses timbang terima dengan baik. Dari 13 Ruang yang dilakukan survey data awal

(3)

ada 6 kepala ruang yang tidak pernah memantau proses timbang terima yang dilakukan perawat pelaksana. Dari data tersebut 21 dari 30 perawat yang dilakukan wawancara terbukti tidak jelas dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan dan tidak pernah melakukan timbang terima dengan baik. Data tersebut menunjukkan bahwa timbang terima masih belum dilaksanakan dengan baik.

Timbang terima pasien di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sikap perawat, pengetahuan perawat, beban kerja perawat, motivasi kerja seorang perawat dll. Berdasarkan data yang ada tercatat bahwa perawat di rumah sakit sekitar 90% adalah berpendidikan D3 keperawatan dan 10%

berpendidikan S1 Keperawatan Ners.

Berdasarkan tingkat pendididikan tersebut seharusnya semua perawat sudah memliki pengetahuaan yang cukup dan mampu mengaplikasikan proses timbang terima dengan baik sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki tetapi kebanyakan dari mereka tidak melakukannya dengan baik karena faktor kelelahan dan karena beban kerja yang banyak dan tidak sesuai dengan jumlah sumberdaya manusia yang berada di masing masing ruang. Akibatnya proses pelayanan kesehatan terhadap pasien tidak maksimal dan tidak optimal, sering pula mengancam keselamatan pasien itu sendiri.

Untuk mewujudkan timbang terima (handover) yang sempurna perlu dilakukan supervise oleh masing masing atasan sebagai pengawas proses timbang terima. Tujuannya untuk memantau apakah perawat melakukan proses

tersebut dengan benar. Dalam tim khusus tersebut harus berisi orang orang yang berkompeten di bidang manajement keperawatan.

Metode Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi semua perawat pelaksana di ruang anyelir RSUD dr. R. Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro sebanyak 20 orang dengan sampel sebanyak 20 perawat. Pengambilan sampel dengan teknik Non probability sampling yaitu dengan teknik total sampling. Variabel penelitian ini terbagi menjadi 2 yaitu variabel dependen dan variabel independent. Variabel dependen adalah proses timbang terima pasien. Variabel independent adalah pengetahuan dan beban kerja perawat. Pengumpulan data dengan menggunakan Kuisioner dan melakukan observasi. Penelitian dilakukan pada tanggal 30 desember 2015 sampai 17 januari 2016. Setelah data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data dengan Coding, Editing, Scoring, dan Tabulating.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Distribusi Pendidikan Responden

Gambar 1. Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir responden di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro tahun 2015.

2. Distribusi Usia Responden 0%

85%

15%

PENDIDIKAN

SPK

D3

KEPERAWATAN S1

KEPERAWATAN

(4)

Gambar 2. Distribusi responden berdasarkan usia responden di RSUD dr.

R. Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro tahun 2015.

3. Distribusi Masa Kerja Responden

Gambar 3. Distribusi responden berdasarkan Masa Kerja Responden di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro tahun 2015.

Data Khusus

Pengetahuan perawat

Tabel 4.1 Distribusi data pengetahuan perawat tentang timbang terima pasien di ruang anyelir RSUD dr. R. Sosodoro Djatikusumo. Bojonegoro Tahun 2015

No

Pengetahuan perawat

Jumlah Prosentase (%)

1 Baik 15 75

2 Cukup 5 25

3 Kurang 0 0

Jumlah 20 100

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa sebagian besar perawat yaitu 15 responden (75%) memiliki pengetahuan yang baik tentang timbang terima pasien

Beban Kerja Perawat 45%

25%

20%

10%

MASSA KERJA

1-5 Tahun

6-10 Tahun

11-15 Tahun

16-20 Tahun

35% 55%

10% 0%

USIA

20-30

Tahun 31-40 Tahun 41-50 Tahun

>50 Tahun

(5)

Tabel 4.2 Distribusi data beban kerja perawat di ruang anyelir RSUD dr. R.

Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro Tahun 2015

No

Pengetahuan Perawat

Jumlah Prosentase (%)

1 Berat 13 65

2 Sedang 7 35

3 Ringan 0 0

Jumlah 20 100

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa lebih dari sebagian perawat yaitu 13 responden (65%) termasuk beban kerja berat

Timbang Terima Pasien

Tabel 4.3 Distribusi data timbang terima pasien yang dilakukan perawat di ruang anyelir RSUD dr. R.Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro Tahun 2015

No

Timbang terima pasien

Jumlah Prosentase (%)

1 Baik 0 0

2 Cukup 0 0

3 Kurang 20 100

Jumlah 20 100

Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan bahwa mayoritas perawat yaitu 20 responden (100%) dinilai kurang dalam mengaplikasikan proses timbang terima pasien dengan baik

Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan proses timbang terima

(6)

Tabel 4.4 Tabulasi silang hubungan pengetahuan perawat terhadap

pelaksanaan proses timbang terima pasien di ruang anyelir RSUD dr. R.Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro Tahun 2015

No

Timbang Terima Pengetahuan

Baik Cukup Kurang

N %

n % n % n %

1 Baik - - - - 15 75 15 75

2 Cukup - - - - 5 25 5 25

30 Kurang - - - -

Jumlah - - - - 20 100 20 100

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan bahwa sebagian besar perawat yang memiliki pengetahuan baik tentang timbang terima dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai S.O.P yang ada.

Hubungan beban kerja perawat terhadap pelaksanaan proses timbang terima Tabel 4.5 Tabulasi silang hubungan beban kerja perawat terhadap

pelaksanaan proses timbang terima pasien di ruang anyelir RSUD dr. R.Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro Tahun 2015

No

Timbang Terima Beban Kerja

Baik Cukup Kurang

N %

n % n % n %

1 Berat - - - - 13 65 13 65

2 Sedang - - - - 7 35 7 35

30 Ringan - - - -

Jumlah - - - - 20 100 20 100

(7)

Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan bahwa lebih dari sebagian perawat yang memiliki beban kerja yang tinggi (berat) dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai S.O.P yang ada.

(8)

Pembahasan Penelitian Pengetahuan Perawat Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan bahwa sebagian besar perawat yaitu 15 responden (75%) memiliki pengetahuan yang baik tentang timbang terima pasien dan kurang dari sebagian perawat yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang timbang terima pasien. Berdasarkan hasil kuesioner yang telah diberikan pada responden didapatkan hasil sebagai berikut responden mengerti dan memahami pengertian timbang terima, responden juga telah mengerti dan memahami tujuan dan manfaat dari proses timbang terima pasien, akan tetapi hampir semua responden tidak mengetahui dan tidak memahami bagaiman prosedur dan tata cara pelaksanaan timbang terima hal ini terbukti dari hasil pertanyaan kuesioner no.

3,4,5,6,7,9,10,11,12,13,14 banyak yang salah dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang ada dikepala kita. Kita dapat mengetahui sesuatu berdasarkan pengalaman yang kita miliki. Selain pengalaman, kita juga menjadi tahu karena kita diberitahu oleh orang lain. Pengetahuan juga didapatkan dari tradisi (Prasetyo, 2007, hlm.3-4).

Pengetahuan merupakan hasil “Tahu“ dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yakni: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007, hlm.

121).Pengetahuan (Knowledge) adalah suatu proses dengan menggunakan pancaindra yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat, 2007). Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber seperti, media poster, kerabat dekat, media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas

kesehatan, dan sebagainya. Pengetahuan dapat membentuk keyakinan tertentu, sehingga seseorang berperilaku sesuai dengan keyakinannya tersebut ( Istiari, 2008)

Dengan adanya pengetahuan perawat yang seperti itu mungkin dapat dipengaruhi oleh sikap, lingkungan, kebiasaan, dll. Pengetahuan itu akan bermanfaat jika diaplikasikan sesuai fungsinya. Berdasarkan hasil yang seperti itu peneliti meragukan tingkat pengetahuan perawat yang hanya mengerti tentang pengertian, tujuan, dan manfaat timbang terima itu sendiri. Sedangkan yang paling utama bukan hanya mengerti pengertian, tujuan, dan manfaat saja tapi juga harus tahu, mengerti, dan memahami prosedur pelaksaanaannya, kalau seperti ini bagaimana perawat dapat mengoptimalisasikan fungsinya. Bisa dilihat dari tabel distribusi data kuesioner pengetahuan tentang timbang terima bahwa banyak responden yang menjawab salah pada soal soal tentang prosedur timbang terima. Seharusnya pihak rumah sakit terkait harus melaksanakan pelatihan timbang terima tiap tahun dan melaksanakan evaluasi tiap hari sehingga perawat dapat mengeti dan memahami tentang timbang terima.

Beban Kerja Perawat

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa lebih dari sebagian perawat yaitu 13 responden (65%) termasuk beban kerja berat dan kurang dari sebagian perawat memiliki beban kerja sedang.

Menurut Moekijat (2005) beban kerja adalah volume dari hasil kerja atau catatan tentang hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan volume yang dihasilkan oleh sejumlah pegawai dalam suatu bagian tertentu. Jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh sekelompok atau seseorang dalam waktu tertentu atau beban kerja dapat dilihat pada sudut pandang obyektif dan subyektif. Secara obyektif adalah keseluruhan

(9)

waktu yang dipakai atau jumlah aktivitas yang dilakukan. Sedangakan beban kerja secara subyektif adalah ukuran yang dipakai seseorang terhadap pernyataan tentang perasaan kelebihan beban kerja, ukuran dari tekanan pekerjaan dan kepuasan kerja. Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan keperawatan (Marquis dan Huston, 2005).

Dengan kurangnya sumber daya manusia yang ada (perawat) hal ini mengakibatkan jumlah beban kerja seseorang semakin meningkat secara signifikan.

Berdasarkan jumlah perawat yang berjumlah 20 orang dirasa sangat tidak setandar untuk menangani 55 pasien yang terbagi menjadi 3 type yaitu total care, partial care, dan minimum care.

Dengan demikian banyak tugas dan pekerjaan menjadi tidak dilaksanakan. Pada sift pagi banyak hal yang membuat beban kerja sangat tinggi di karena banyak tindakan seperti tindakan rawat luka yang hampir mencapai 8-10 pasien perhari di masing masing tim dan hampir disaat yang bersamaan dengan hal itu perawat harus menyiapkan pasien yang mau berangkat operasi biasanya disela rawat luka harus berhenti sejenak untuk mengirim pasien terlebih dahulu ke ruang operasi jumlah pasien operasi per tim tiap harinya bisa 5-8 pasien itu pun terkadang berbeda beda jam pengirimannya. Selain itu perawat harus menyiapkan pasien pulang dan menyiapkan obat obat untuk injeksi setelah pelaksannaan rawat luka. Terkadang disela sela itu harus mengambil pasien dari kamar operasi. Pada sift sore banyak tindakan yang membuat sift sore memiliki beban kerja yang tinggi yaitu harus mengambil pasien dari kamar operasi, harus memulangkan pasien, memanggil dan menerima pasien baru baik dari ugd ataupun poli terkadang bisa mencapai 30 pasien saat akhir pekan, selain itu harus melakukan tindakan adv dan ekg, mengkonsultasikan pasien baru pada dokter

spesialis, menyiapkan injeksi. Terkadang hingga perawat sift jaga malam datang buku laporan belum juga belum diisi karena banyak nya pasien yang biasanya datang diatas jam 19.00 WIB padahal jam 15.30 WIB perawat memanggil pasien pasien baru tersebut. Pada sift malam pun hampir sama dengan sift sore pada sift malam kebanyakan melakukan adv, memasang infus pasien pasien baru dan yang diacarakan untuk operasi pada keesokan harinya, meminta tanda tangan persetujuan tindakan operasi dan menjelaskan persiapan operasi yang harus dilakukan pasien, dan menyiapkan injeksi.

Timbang Terima Pasien

Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan bahwa mayoritas perawat yaitu 20 responden (100%) dinilai kurang dalam mengaplikasikan proses timbang terima pasien dengan baik.

Timbang terima (operan) merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien. Operan atau timbang terima adalah, suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan pasien,bertujuan: menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum pasien, menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya,

Timbang terima pasien harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas, dan lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan/belum dan perkembangan pasien saat itu. Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh perawat primer keperawatan kepada perawat primer (penanggung jawab) dinas sore atau dinas malam secara tertulis dan

(10)

lisan (Nursalam, 2010).Prosedur timbang terima, selama ini sudah dilakukan pada setiap pergantian shift jaga, namun cara penyampaian isi timbang terima belum terungkap secara komprehensif, meliputi: isi timbang terima (masalah keperawatan pasien lebih fokus pada diagnosis medis), dilakukan secara lisan tanpa ada pendokumentasian, sehingga rencana tindakan yang belum dan sudah dilaksanakan, dan hal - hal penting masih ada yang terlewati untuk disampaikan pada shiftberikutnya. Selain itu mekanisme timbang terima belum sesuai dengan standar baku (Nurssalam, 2010).

Operan merupakan sistem kompleks yang didasarkan pada perkembangan sosio- teknologi dan nilai-nilai yang dimiliki perawat dalam berkomunikasi. Operan shif berperan penting dalam menjaga kesinambungan layanan keperawatan selama 24 jam (Kerr, 2012). Tujuan komunikasi selama operan adalah untuk membangun komunikasi yang akurat, reliabel (Lardner, 2011), tentang tugas-tugas yang akan dilanjutkan oleh staf pada shif berikutnya agar layanan keperawatan bagi pasien berlangsung aman dan efektif, menjaga keamanan, kepercayaan, dan kehormatan pasien, mengurangi kesenjangan dan ketidak akuratan perawatan, serga memberi kesempatan perawat meninggalkan pelayanan langsung. (Achmad, dkk, 2012).

Operan merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien.

Operan pasien harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dan yang belum dilakukan serta perkembangan pasien saat itu.

Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna. Operan dilakukan oleh perawat primer keperawatan kepada perawat primer (penanggung jawab)

dinas sore atau dinas malam secara tertulis dan lisan. (Nursalam, 2011).

Menurut Keliat, 2010. Operan adalah komunikasi dan serah terima pekerjaan antara shift pagi, sore dan malam. Operan dari shif malam ke shif pagi dan dari shif pagi ke shif sore dipimpin oleh kepala ruangan, sedangkan operan dari shif sore ke shif malam dipimpin oleh penanggung jawab shif sore.

Dengan hasil observasi yang menyatakan bahwa mayoritas perawat tidak melaksanakan proses timbang terima pasien dengan benar. hal ini sangat aneh karena berdasarkan tingkat pengetahuan perawat yang sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik tentang timbang terima. Mereka hanya melakukan timang terima hanya di nurse station saja dan hanya 5-10 menit saja. Menurut mereka tidak perlu berkeliling dan mendatangi pasien satu per satu tiap timbang terima karena itu sangat boros waktu. Misalnya ketika waktu operan jaga antara perawat sift pagi dan sift sore, perawat yang jaga pagi dan jaga sore berkumpul di nurse station kemudian perawat yang jaga pagi menyerahkan buku laporan pada perawat yang jaga sore untuk di baca terkadang perawat jaga pagi menjelaskan apa saja yang belum dan sudah dikerjakan tidak jarang pula setelah menyerahkan buku laporan perawat yang jaga pagi langsung pulang tanpa harus berkeliling satu persatu mendatangi pasien yang ada pada masing masing tim. Begitu pula yang terjadi pada pergantian sift yang lain.

Hubungan Pengetahuan Perawat Terhadap Pelaksanaan Proses TimbangTerima Pasien

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan bahwa sebagian besar perawat yang memiliki pengetahuan baik tentang timbang terima dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai S.O.P yang ada.

(11)

Menurut Slameto (2005:54), ada dua faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2011:147).

Berdasrkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan tidak berpengaruh terlalu besar terhadap seorang perawat dalam melaksanakan proses timbang terima pasien dengan benar. selain itu karena faktor lingkungan pula bisa merubah suatu pengetahuan tentang timbang terima yang baik bisa berubah menjadi kurang dari segi pengaplikasiannya. Kebanyakan perawat lebih suka mengikuti kebiasaan yang sudah ada dari pada harus mempersulit diri dengan mengaplikasikan proses timbang terima sesuai sop yang ada.

Hubungan Beban Kerja Perawat Terhadap Pelaksanaan Proses TimbangTerima Pasien Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan bahwa lebih dari sebagian perawat yang memiliki beban kerja yang tinggi (berat) dinilai masih kurang dalam melakukan proses timbang terima yang benar sesuai S.O.P yang ada

Menurut Caplan & Sadock (2006) beban kerja sebagai sumber ketidakpuasan disebabkan oleh kelebihan beban kerja secara kualitatif dan kuantitatif. Kelebihan beban kerja secara kuantitatif meliputi : Harus melakukan observasi penderita secara ketat selama jam kerja.Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan demi

kesehatan dan keselamatan penderita.Beragam jenis pekerjaan yang dilakukan demi kesehatan dan keselamatan penderita. Kontak langsung perawat klien secara terus menerus selama 24 jam. Kurangnya tenaga perawat disbanding jumlah penderita. Sedangkan beban kerja secara kualitatif meliputi : Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tidak mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan. Tuntutan keluarga untuk kesehatan dan keselamatan penderita. Harapan pimpinan rumah sakit terhadap pelayanan yang berkualitas.Setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat. Tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan asuhan keperawatan klien di ruangan. Menghadapi pasien yang karakteristik tidak berdaya, koma, kondisi terminal. Setiap saat melaksanakan tugas delegasi dari dokter.

Beban kerja adalah jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh sekelompok atau seseorang dalam waktu tertentu dan sebagai sumber ketidakpuasan disebabkan oleh kelebihan beban kerja secara kualitatif dan kuantitatif (Caplan & Sadock, 2006).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa beban kerja yang tinggi sangat mempengaruhi pelaksanaan proses timbang terima pasien yang dilakukan seorang perawat. Mungkin karena faktor kelelahan seorang perawat malas dan enggan melakukan timbang terima yang benar sesuai sop yang ada. Seharusnya pihak terkait harus segera menambah sumber daya manusia (perawat) baru untuk mengurangi beban kerja yang berlebih itu.

Pada sift pagi banyak hal yang membuat beban kerja sangat tinggi di karena banyak tindakan seperti tindakan rawat luka yang hampir mencapai 8-10 pasien perhari di masing masing tim dan hampir disaat yang bersamaan dengan hal itu perawat harus menyiapkan pasien yang mau berangkat operasi biasanya disela rawat luka harus berhenti sejenak untuk mengirim pasien terlebih dahulu ke ruang operasi jumlah pasien

(12)

operasi per tim tiap harinya bisa 5-8 pasien itu pun terkadang berbeda beda jam pengirimannya.

Selain itu perawat harus menyiapkan pasien pulang dan menyiapkan obat obat untuk injeksi setelah pelaksannaan rawat luka. Terkadang disela sela itu harus mengambil pasien dari kamar operasi. Pada sift sore banyak tindakan yang membuat sift sore memiliki beban kerja yang tinggi yaitu harus mengambil pasien dari kamar operasi, harus memulangkan pasien, memanggil dan menerima pasien baru baik dari ugd ataupun poli terkadang bisa mencapai 30 pasien saat akhir pekan, selain itu harus melakukan tindakan adv dan ekg, mengkonsultasikan pasien baru pada dokter spesialis, menyiapkan injeksi. Terkadang hingga perawat sift jaga malam datang buku laporan belum juga belum diisi karena banyak nya pasien yang biasanya datang diatas jam 19.00 WIB padahal jam 15.30 WIB perawat memanggil pasien pasien baru tersebut. Pada sift malam pun hampir sama dengan sift sore pada sift malam kebanyakan melakukan adv, memasang infus pasien pasien baru dan yang diacarakan untuk operasi pada keesokan harinya, meminta tanda tangan persetujuan tindakan operasi dan menjelaskan persiapan operasi yang harus dilakukan pasien, dan menyiapkan injeksi.

Karena banyaknya tugas tugas itu kebanyakan perawat setelah jam dinas selesai mereka malas melakukan timbang terima sesuai prosedur tapi m,alah melakukan timbang terima sebagai berikut ketika waktu operan jaga antara perawat sift pagi dan sift sore, perawat yang jaga pagi dan jaga sore berkumpul di nurse station kemudian perawat yang jaga pagi menyerahkan buku laporan pada perawat yang jaga sore untuk di baca terkadang perawat jaga pagi menjelaskan apa saja yang belum dan sudah dikerjakan tidak jarang pula setelah menyerahkan buku laporan perawat yang jaga pagi langsung pulang tanpa harus berkeliling satu persatu mendatangi pasien yang ada pada masing masing tim. Begitu pula yang terjadi pada pergantian sift yang lain.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Sebagian besar reponden memiliki pengetahuan yang baik tentang timbang terima pasien

Lebih dari sebagian responden memiliki beban kerja yang terlalu berat

Mayoritas responden tidak melakukan timbang terima pasien sesuai dengan SOP yang ada.

Ada hubungan yang tinggi antara beban kerja perawat terhadap pelaksanaan timbang terima pasien, dan kurangnya hubungan antara pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan proses timbang terima pasien.

Saran

Bagi Ruangan Perawatan

Untuk mewujudkan timbang terima yang optimal sebaiknya seluruh perawat ruangan mengerti tentang proses timbang terima yang benar.

Bagi Institusi Pendidikan

Untuk institusi pendidikan sebaiknya mengoptimalkan pembelajaran tentang proses timbang terima. Selain itu institusi sebaiknya melakukan praktikum tentang timbang terima untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa.

Bagi Rumah Sakit

Untuk mewujudkan timbang terima (handover) yang sempurna perlu dilakukan supervise oleh masing masing atasan sebagai pengawas proses timbang terima. Tujuannya untuk memantau apakah perawat melakukan proses tersebut dengan benar. Dalam tim khusus tersebut harus berisi orang orang yang

(13)

berkompeten di bidang manajement keperawatan. Pada saat melakukan timbang terima memiliki sikap menghargai, menerima, merespon & bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal itu perawat sebaiknya diberikan pelatihan-pelatihan tentang timbang terima.

Sebaiknya masing masing kepala ruang membagi tugas kepada masing masing tim perawat dan melakukan proses evaluasi tiap 1 minggu sekali untuk mengetahui kekurangan dalam strategi menejemen ruang yang telah di terapkan dalam 1 minggu. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya perawat yang berada di masing masing ruang, perlu diadakan suatu seminar atau pelatihan pelatihan tentang timbang terima yang baik.

Bagi Responden

Dapat meningkatkan kualitas dalam melakukan tugasnya sebagai seorang perawat.

Selain itu seorang perawat harus memiliki sikap yang profesional dalam melakukan setiap tindakan.

Bagi Peneliti

Semoga penelitian ini menjadi tolak ukur bagi peneliti untuk mengembangkannya menjadi suatu penelitian yang lebih menghasilkan hal hal yang positif bagi seluruh instansi kesehatan.

Daftar Pustaka

Aditama, T.Y.(2010).Manajemen administrasi rumah sakit.Edisi II. Jakarta: Universitas Indonesia.

Ahmadi, A.2011. Psikologi Sosial. Jakarta:

Rineka Cipta.

Amelia, N. 2013. Prinsip Etika Keperawatan.

Yogyakarta: D-Medika.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta. Rineka Cipta.

Arwani & Supriyatno (2006). Manajemen bangsal keperawatan. (Cetakan Pertama).

Jakarta: EGC

Asri Raras M, Pratiwi Sri G. 2012. “Analisa Beban Kerja Untuk Menentukan Jumlah Optimal Karyawan Dan Pemetaan Kompetensi Karyawan Berdasarkan pada Job Descrition”. Diakses dari http://ejurnal.its.ac.id/index.php/teknik/article/vi ew/1824

Azwar, S.2010. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka

Bachtiar, Y. 2013. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis. Jakarta: EMS.

Gerungan. 2010. Psikologi Sosial. Bandung:

Refika Aditama

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Ketiga. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Herlambang, S. 2012. Manajemen Kesehatan.

Jakarta: Griyen Tribiting.

Hidayat, A. 2011. Metodelogi Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Ilyas, Y. 2005. Perencanaan SDM Rumah Sakit : Teori, Metoda, dan Formula. Depok. FKM-UI.

Marquis dan Huston (2010). Kepemimpinan dan manajemen keperawatan. Teori

dan Aplikasi. Alih bahasa: Widyawati dan Handayani. Jakarta. Edisi 4. EGC.

Moekijat. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Mandar Maju.

(14)

Muninjaya, A.A Gede. (2005), Manajemen Keperawatan, Edisi kedua, Penerbit buku Kedokteran, Jakarta

Notoatmodjo. 2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. 2010. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2012. Manajemen Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.Pelajar.

Potter, P.A & Perry, A.G.2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,

Proses, & Praktik, Volume 2. Edisi 7.

Jakarta: EGC.

Pramudya. Angga. 2014. Gambaran Sikap Perawat Dalam Proses Timbang Terima Pasien.

Bojonegoro: tidak di publikasikan.

Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Sugiyono.2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif.Bandung: Alfabeta.

Triwibowo, C. 2013. Manajemen Pelayanan Keperawatan Di Rumah Sakit.

Bandung: TIM.

Uyanto, S.S. 2009. Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Jakarta : Graha Ilmu

Gambar

Gambar  1.  Distribusi  responden  berdasarkan  pendidikan  terakhir  responden  di  RSUD  dr
Gambar  3.  Distribusi  responden  berdasarkan  Masa  Kerja  Responden  di  RSUD  dr.  R
Tabel 4.2 Distribusi data beban kerja perawat di ruang anyelir RSUD dr. R.
Tabel 4.4 Tabulasi silang hubungan pengetahuan perawat terhadap

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian Sikap Warga Putat Jaya mengenai City Branding kota Surabaya melalui Program Revitalisasi eks Lokalisasi Dolly ini

WLD2 Bulak Banteng-Dukuh Kupang PP

Pengawasan kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila dipergunakan, mempertahankan kualitas produk yang sudah tinggi dan

Para PNS lingkungan Kecamatan dan Kelurahan wajib apel pagi setiap hari senin di Halaman Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, dan akan diberikan teguran kepada yang tidak ikut apel

Kesalahpahaman sering terjadi karena faktor komunikasi Apabila pelayanan yang diberikan buruk, pasien akan memberikan respon negatif berupa ketidakpuasan sehingga pasien tersebut

2 Wakil Dekan Bidang I SALINAN TERKENDALI 02 3 Wakil Dekan Bidang II SALINAN TERKENDALI 03 4 Manajer Pendidikan SALINAN TERKENDALI 04 5 Manajer Riset dan Pengabdian

Penelitian menggunakan 60 ekor ayam pedaging, dua puluh ekor ayam di awal penelitian diambil darahnya untuk pengamatan titer antibodi asal induk terhadap infeksi virus

Dapat dilihat bahwa di setiap saat, grafik amplitudo sel[1,1] pada simulasi tanpa anomali (warna merah) selalu lebih tinggi daripada grafik simulasi dengan anomali.