115
PELAKSANAAN PROGRAM PENGENALAN LAPANGAN PERSEKOLAHAN (PLP) MAHASISWA PENDIDIKAN KIMIA UNISKA MAB BANJARMASIN DI MASA PANDEMIC COVID-19
1GUSTI HADIATUS SOLEHAH. 2NOVRIAN DONY, 3NOVI RAHMAWANTI
1,2,3PENDIDIKAN KIMIA FKIP UNISKA MAB BANJARMASIN
ABSTRACT
This article describes the implementation of the School Field Introduction (PLP) program for Chemistry Education students at the Islamic University of Kalimantan, MAB Banjarmasin. This study aims to describe the implementation of PLP in the limited face-to-face learning period (limited PTM) using descriptive qualitative methods using PLP student respondents. Sources of data in the form of observations, documentation, and interviews. Reliability using extended observations and triangulation.
This program is carried out for 2 months starting from October to November 2021. This program is carried out right when limited face-to-face learning (limited PTM) is implemented in a high school in South Kalimantan. During those 2 months, there was a change in the duration of learning from 1 hour meeting (JP) for 22.5 minutes, changing to 45 minutes. During the learning activities carried out simultaneously both online and face-to-face in class. Although the PLP guide was made for normal conditions, the competencies and mastery expected in this activity were well achieved.
Keywords: limited PTM, PLP, student competence PENDAHULUAN
Pandemic corona virues 2019 (covid 19) mengakibatkan perubahan besar-besaran didunia Pendidikan. Untuk mencegah penyebaran covid 19, pendidikan yang secara umum dilakukan secara tatap muka di dalam kelas mau tak mau harus berubah menjadi daring atau online (Nafrin & Hudaidah, 2021). Perubahan dari tatap muka langsung ke online menyebabkan antara guru dan peserta didik menghasilkan fenomena yang sangat rumit, sulit, dan menantang. Hak ini pun dikarenakan tidak hanya bagi guru (M. Fauzi, 2020) tetapi juga bagi orang tua/ wali siswa di rumah(Prihatin, 2021). Salah satu hal yang yang diperhatikan dalam pembelajaran daring adalah efikasi diri dan perilaku belajar siswa (Suryono et al., 2022). Di sisi lain tidaklah mudah menanggulangi masalah yang dihadapi dimasa tersebut (Taradisa et al., 2020). Setelah menjalani pendidikan dengan secara daring secara penuh, selanjutnya pembelajaran kembali mengalami perubahan dengan pembelajaran tatap muka terbatas (PTM terbatas). PTM merupakan sebuah kebijakan baru yang diambil melalui kebijakan tiga menteri untuk memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik (Keputusan Bersama Menteri, 2021). Kebijakan tiga menteri ini, menuntun pemerintah daerah agar melaksanakan pendidikan mengikuti kebijakan ini. Mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin harus mengikuti Program Perkenalan Persekolahan (PLP) sebagai beban akademik wajib yang dilaksanakan mahasiswa di fakultas Keguruan dan Ilmu di Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin di Sekolah. Program ini merupakan program pengalaman menjadi guru menghadapi peserta didik di kelas maupun sekolah agar mahasiswa memiliki kompetensi pendidik dan siap menjadi guru (UPPL, 2019). Secara garis besar, buku panduan ini diperuntukkan untuk kegiatan dalam kondisi normal atau sebelum pandemic. Pandemi yang datang tidak terduga dan tidak diketahui secara pasti perubahan kebijakan disaat pandemic membuat buku panduan ini tidak dapat dijadikan acuan mutlak saat kegiatan PLP. Pada kegiatan tahun ajaran 2021/2022 secara mendadak kegiatan PLP dilaksanakan dengan kondisi yang jauh berbeda dengan tahun ajaran 2020/2021. Pada tahun ajaran 2021/2022, mahasiswa tepat melaksanakan PLP dengan kebijakan PTM, sedangkan pada tahun 2022/2021 PLP dilaksanakan dengan suasana
116
belajar daring secara penuh. Pada artikel penelitian ini akan dijelaskan bagaimana pelaksanaan PLP oleh salah satu mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin dilaksanakan secara PTM di salah satu SMA di Kalimantan Selatan. Pelaksanaan PTM bertepatan dengan kebijakan PTM baru diterapkan di SMA dimaksud.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data berupa pendeskripsian fakta atau fenomena yang didapati mengenai bagaimana pelaksanaan PLP di salah satu SMA di Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan responden seorang mahasiswa Pendidikan kimia yang melaksanakan PLP dan ini merupakan bagian juga dalam hal tugas dan tanggung jawan dosen pembimbing dan dosen di Pendidikan Kimia. Penulis tidak mencantumkan nama sekolah didasarkan kepada pertimbangan ketidaksediaan salah satu guru mencantumkan nama sekolah. Oleh karena itu, dokumentasi yang menunjukkan interaksi mahasiswa, guru, dan siswa tidak ditampilkan dalam artikel ini. PLP ini dilaksanakan selama 2 bulan pada Oktober dan November 2021 tepat pada kondisi PTM baru saja dilaksanakan di SMA di lokasi penelitian. Sumber data berupa pengamatan, dokumentasi, dan wawancara. Reabilitas menggunakan perpanjangan pengamatan dan triangulasi.
Wawancara dilaksanakan selain kepada guru juga kepada siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksaaan kegiatan PLP ini tepat dilaksanakan pada saat pelaksanaan PTM terbatas baru dilaksanakan. PTM terbatas SMA yang dimaksud adalah dilaksanakan dengan cara sebagian siswa melaksanakan tatap muka langsung di ruang kelas dan sebagiannya lagi dilaksanakan secara daring. Waktu pelaksanaan sejak awal oktober sampai akhir minggu ke-3 Oktober 2021. Pelaksanaan tatap muka langsung di kelas dilaksanakan dengan durasi 1 jam pertemuan (1 JP) selama 22,5 menit. Waktu ini setengah durasi 1 JP di waktu normal yang dilaksanakan selama 45 menit. Perubahan durasi 1 JP juga terjadi di sekolah lain (W. N. A. Fauzi et al., 2021). Di minggu terakhir bulan oktober sampai akhir November 2021 1 JP dilaksanakan dengan durasi waktu 45 menit. Hal yang tidak dapat penulis telusuri lebih lanjut ke pihak sekolah mengenai informasi lebih lanjut mengenai setiap pelajaran sampai minggu ke-3 Oktober dilaksanakan selama 45 menit, sementara sejak minggu ke-4 Oktober sampai selesai semester itu setiap 1 mata pelajaran 2 x 45 menit. Hal ini diakibatkan begitu cepat dan banyaknya perubahan perubahan yang terjadi. Yang jelas pihak sekolah telah mengambil kebijakan dengan banyak perhitungan dan pertimbangan satgas Covid 19 setempat.
Siswa diberikan kebebasan untuk memilih PTM terbatas secara daring atau secara tatap muka langsung di kelas. Namun untuk siswa yang memilih tatap muka langsung di kelas, wajib telah mendapatkan vaksin dan dalam kondisi sehat. Vaksin juga menjadi syarat untuk guru yang mau melaksanakan pembelajaran tatap muka langsung di kelas. Tetapi di sekolah ini semua guru sudah mendapatkan vaksin. Sekolah diwajibkan dan menjamin pelaksanaan protokol kesahatan. Ini menjadi syarat wajib bagi sekolah untuk mengadakan PTM terbatas dan protocol kesehatan dari Satgas Covid 19. Kapasitas ruangan yang biasanya mencapai 35 siswa yang hanya terisi 33 sampai dengan 34 orang siswa, hanya bisa diisi maksimum 20 untuk mencegah penularan Covid 19.
Dari 33 sampai 34 orang siswa setiap kelasnya, mayoritasnya sudah mendapatkan vaksin dan memilih PTM terbatas tatap muka langsung di kelas. Akibat kapasitas kelas tidak memenuhi maka dilakukan pergantian daring dan tatap muka langsung di kelas secara bergantian setiap minggu. Siswa yang tidak memenuhi syarat tatap muka langsung ke kelas hanya dapat melaksanakan pembelajaran secara daring saja. Pada jam pelajaran salah satunya mata pelajaran kimia, siswa tatap muka langsung di kelas belajar secara bersamaan dengan siswa yang menerima pembelajaran secara daring. Siswa yang menerima pembelajaran secara daring diberikan materi pembelajaran melalui media sosial WhatsApp dengan mengirimkan materi berupa dokumen, dan atau PowerPoint, dan atau video, dan atau link video, dan atau suara, dan tugas. Tugas
117
tersebut harus segera dikerjakan siswa dan siswa diberi waktu tertentu untuk menyelesaikannya. Hal ini serupa dengan yang dilakukan di sekolah lain tetapi daring hanya mengoptimalkan WhatsApp saja (SIPAYUNG, 2021)
Guru dan Beban Kerja Guru
Sebagai standar pelaksanaan PLP selain adanya dosen pendamping, juga terdapat guru pamomg. Guru pamong adalah salah satu guru mata pelajaran kimia yang mengajar di sekolah tersebut yang dipilih oleh kebijakan sekolah. Tugas utama guru pamong adalah memberikan pembimbingan ke mahasiswa secara insentif selama mahasiswa melaksanakan PLP.
Guru pamong yang ditentukan oleh kepala sekolah merupakan guru kimia yang paling senior dan telah berumur di atas 55 tahun serta dianggap memiliki pengalaman yang relatif banyak.
Guru pamong di sekolah ini adalah guru kimia yang paling senior di sekolah ini. Kelebihan guru senior adalah telah memiliki pengalaman yang banyak sehingga diharapkan akan memberikan kemudahan agar tujuan akhir PLP tercapai. Walaupun demikian, ditemui guru senior ini memiliki kelemahan dalam penguasaan information technology (IT). Hal ini diakui guru tersebut yang mana faktor kebutuhan masa lalu dan sekarang begitu cepat mengalami perubahan. Walaupun demikian, guru yang menjadi guru pamong ini telah mengikuti kegiatan pelatihan terkait pemanfaatan dan penggunaan IT dalam pembelajaran walaupun kecepatan dalam pengusaan tidak secepat rekan guru-guru juniornya.
Pada PTM terbatas, guru mengeluhkan begitu beratnya beban tugas guru. Hal ini disebabkan oleh untuk pembelajaran di satu kelas, guru harus mengajar secara tatap muka langsung dan daring di waktu yang bersamaan. Hal ini memaksa guru harus mempersiapkan pembelajaran dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pengalaman tahun ajaran sebelumnya memaksa guru harus menguasai IT dalam pembelajaran, di tahun 2021/2022 guru juga harus menggunakan IT sekaligus tatap muka langsung seperti sebelum pandemic. Kesulitan yang dihadapi guru pamong terletak dalam persiapan pembelajaran daring yang menggunakan IT. Hal ini karena kurangnya penguasaan dan masih kurang familiar dengan IT sehingga pekerjaan terasa lambat dan menghabiskan banyak tenaga.
Capaian Belajar dan Beban Belajar Mahasiswa PLP
Kondisi PTM terbatas yang dirasa relatif berat bagi guru karena harus mempersiapkan dan melaksanakan tatap muka langsung dan daring secara bersamaan, membuat mahasiswa PLP diberikan kepercayaan lebih. Dari hasil wawancara baik mahasiswa dan guru, guru merasa terbantu dengan kehadiran mahasiswa dan mahasiswa banyak diberikan kepercayaan lebih dalam mempersiapkan dan pelaksanaan daring. Sebagaimana diceritakan oleh guru, guru pamong tidak begitu familiar dan secepat mahasiswa PLP. Beban guru tidak hanya dalam pembelajaran saja, tetapi terkait RPP juga yang menjadi perangkat yang harus dimiliki guru. Dalam hasil wawancara baik siswa maupun guru, baik guru dan siswa sama-sama memiliki kesulitan dalam mempersiapkan ini. Hal ini disebabkan karena perubahan situasi dan kondisi yang begitu cepat.
Selama pelaksanaan PLP, mahasiswa diberikan kepercayaan dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran untuk kelas XI. Untuk kelas X dan XII mahasiswa PLP tidak dilibatkan dalam hal persiapan maupun pelaksanaan pembelajaran. Sebagaimana pelaksanaan PLP ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi: pemahaman peserta didik, pembelajaran yang mendidik, penguasaan bidang keilmuan dan/atau keahlian, dan kepribadian. Menurut penulis, mahasiswa telah memenuhi kompetensi sesuai yang diharapkan. Ini didapatkan penulis melalui wawancara baik ke siswa dan guru dan didukung dokumentasi. Dalam pemahaman peserta didik, mahasiswa yang melaksanakan PLP di tahun 2021/2022 dirasa lebih memiliki kesempatan dalam memahami peserta didik dibandingkan tahun ajaran sebelumnya (tahun ajaran 2020/2021). Sebab pada tahun ajaran 2020/2021 pelaksanaan pembelajaran umumnya dilaksanakan secara daring.
Pertemuan dengan peserta didik secara langsung memberikan kesempatan mahasiswa PLP untuk berinteraksi dengan peserta didik dan diharapkan memahami peserta didik. Hal ini tampak dari wawancara dan diskusi penulis dengan mahasiswa PLP mengenai beberapa hal mengenai interaksinya dengan peserta didik dan dipertegas dengan wawancara
118
dengan guru. Untuk pembelajaran mendidik, penulis kesulitan untuk menelusuri pengakuannya. Untuk penguasaan bidang keilmuan, keahlian, dan kepribadian nampak terlihat dari bagaimana wawancara mahasiswa dan guru. Guru banyak memberikan kepercayaan ke kelas yang diampu oleh guru pamong. Hasil pendampingan dan pemantauan guru pamong, mahasiswa PLP telah banyak berperan dan membantu guru pamong dalam hal terkait penguasaan IT dan pemilihan video- video di youtube yang dirasa sangat tepat diberikan ke siswa. Untuk pembelajaran daring, ada pembinaan guru pamong terhadap mahasiswa. Tidak ada pengkajian lebih lanjut mengenai penerapan problem base learning seperti yang dilakukan pada penelitian di sekolah lain (W. N. A. Fauzi et al., 2021). Factor yang menjadi penghalang/penghambat pada peneltian tersebut juga ditemui di sekolah ini. Untuk hal yang mendukung penguasaan keilmuan dan keahlian yang diharapkan perguruan tinggi sudah terlihat dari pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Hal ini terlihat dari dengan adanya interaksi guru dan mahasiswa. Adapun interaksi tersebut terlihat dari kegiatan: Peninjauan dan revisi perangkat pembelajaran berupa dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Pemberian tugas dan pemeriksaan tugas ke siswa,Materi yang termuat di dalam RPP yang ditinjau dan direvisi, mengharus mahasiswa memutar dan memilah video-video yang tersedia di youtube untuk dibagikan ke siswa sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. Materi yang digunakan dalam dokumen kembali dituangkan kebentuk powerpoint menarik serta dibuat suaranya oleh mahasiswa agar powerpoint dapat dipahami dengan baik. Mahasiswa telah menghasilkan 1 video yang mendukung pembelajaran. Mahasiswa banyak memutar video di youtube dalam menemukan video yang tepat, menarik, sesuai dengan materi yang telah dibahas bersama dengan guru untuk dibagikan ke siswa sebagai bahan pembelajaran. Pembuatan soal test, pemeriksaan, dan evaluasi pembelajaran Hal-hal tersebut dapat ditunjukkan oleh mahasiswa PLP pada materi yang diamanahkan. Tiga materi tersebut adalah minyak bumi, termokimia, dan laju reaksi. Dengan ditemukan dan didapatkannya interaksi guru pamong dan mahasiswa PLP, secara umum dapat dikatakan bahwa hal yang diharapkan dari kegiatan PLP ini tercapai dengan baik. Hal-hal yang diharapkan sebagaimana tertulis pada panduan PLP berupa:
Analisis kurikulum;
Penyusunan perangkat pembelajaran (RPP/RPL, media, LKS, bahan ajar, dan instrumen penilaian); Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan ragam strategi pembelajaran dan media pembelajaran; Pengelolaan kelas;
Pemanfaatan tekonologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran; Pelaksanaan penilaian dan evaluasi pembelajaran;
Pengelolaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler; Pekerjaan administrasi guru. Secara keseluruhan dapat terlaksana dengan baik. Bahkan dengan kondisi PTM terbatas ini mahasiswa merasa tertantang dengan keadaan yang menuntut segera berubah dan penuh dengan keterbatasan ini.
Permasalahan Penilaian, Setelah melakukan evaluasi, pada masa PTM terbatas sekolah secara umum dihadapkan oleh permasalahan evaluasi sumatif. Hal ini disebabkan karena sebagian siswa dievaluasi sumatif pada tatap muka langsung dan sebagiannya secara daring. Karena ketersediaan perangkat IT yang dimiliki oleh siswa menyebabkan tidak terpenuhinya oleh keseluruhan siswa, sehingga potensi-potensi kecurangan sangat sulit dihindari. Siswa yang menerima soal evaluasi sumatif di rumah tidak dapat dipantau kejujurannya. Namun apabila ingin dipantau lebih lanjut tidaklah menjamin semua siswa memilikinya terutama smartphone dan laptop. Umumnya siswa hanya memiliki smartphone saja. Sementara laptop hanya sebagian kecil diantara mereka yang memilikinya. Sekolah dan guru tidak dapat berbuat banyak di momen yang begitu cepat terjadi tersebut. Belum lagi disaat tersebut beban guru bertambah karena harus mempersiapkan pembelajaran daring dan tatap muka langsung secara bersamaan. Potensi-potensi kecurangan yang pernah disebut sebelumnya sangatlah sukit untuk diantisipasi (Mushthofa et al., 2021).
KESIMPULAN
Setelah pelaksanan PLP dan suasana yang cepat dan berubah dalam masa PTM terbatas, dapat dikatakan apa yang diharapkan PLP dapat terlaksana dengan baik. Walaupun panduan PLP disiapkan untuk kondisi normal dan tidak relevan,
119
tetapi secara prinsip apa yang diharapkan dapat terlaksana. Hal yang diunggulkan adalah memaksa mahasiswa PLP mengoptimalkan penggunaan IT karena kebutuhan mendesak.
DAFTAR PUSTAKA
I. A. Nafrin and H. Hudaidah, “Perkembangan Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Covid-19,” Edukatif J. Ilmu Pendidik., vol. 3, no. 2, pp. 456–462, 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i2.324.
M. Fauzi, “Strategi Pembelajaran Masa Pandemi COVID-19,” J. Al-Ibrah, vol. 2, no. 2, pp. 120–145, 2020.
Prihatin, “Peran Orang tua dan Kendala yang dihadapi dalam Pembelajaran di Rumah (Daring) Saat Pandemi Covid-19,”
Mahaguru, vol. 2, no. 1, pp. 146–154, 2021, [Online]. Available: https://ummaspul.e- journal.id/MGR/article/download/1882/597.
Suryono, A. Bastian, and F. Oemar, “Pengaruh Kebijakan Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid-19 terhadap Efikasi Diri dan Perilaku Belajar Siswa,” Lect. J. Pendidik., vol. 13, no. 1, pp. 120–135, 2022.
N. Taradisa, N. Jarmita, and E. Emalfida, “Kendala Yang Dihadapi Guru Mengajar Daringpada Masa Pandemi Covid-19,”
JPrimary J. Keilmuan dan Kependidikan Dasar, vol. 12, no. 02, pp. 141–154, 2020.
Nomor H. 01. 08/Menkes/4242. 2021 dan nomor 440-717 tahun 2021 tentang panduan pputasan bersama menteri KeSurat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri dalam negeri Republik Indonesia nomor 03/KB/2021, nomor 384 Tahun 2021, Keputusan bersama menteri. 2021.
UPPL, Pedoman Pengenalan Lapangan Persekolahan II (PLPII) Program Sarjana Pendidikan. FKIP UNISKA, 2019.
W. N. A. Fauzi, Y. Setiawati, and O. Sulaeman, “Analisis Penerapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SDIT Luqman Al Hakim Sleman,” MADROSATUNA J. Pendidik. Guru Madrasah Ibtidaiyah, vol. 4, no. 2, pp. 94–103, 2021, doi:
10.47971/mjpgmi.v4i2.379.
J. SIPAYUNG, “Efektifitas Pembelajaran Masa Pandemi Dalam Meningkatkan Kompetensi Siswa Melalui Daluta,”
EDUTECH J. Inov. Pendidik. Berbantuan Teknol., vol. 1, no. 2, pp. 171–178, 2021, doi: 10.51878/edutech.v1i2.482.
Z. Mushthofa, A. Rusilowati, S. Sulhadi, P. Marwoto, and B. N. Mindiyarto, “Analisis Perilaku Kecurangan Akademik Siswa dalam Pelaksanaan Ujian di Sekolah,” J. Kependidikan J. Has. Penelit. dan Kaji. Kepustakaan di Bid. Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, vol. 7, no. 2, p. 446, 2021, doi: 10.33394/jk.v7i2.3302.