KERAGAMAN JAMUR ANTAGONIS PADA RHIZOSFER TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell.Arg.) SEHAT DAN TERSERANG
JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus (Swartz: Fr)) YANG BERPOTENSI SEBAGAI AGENS ANTAGONIS
SKRIPSI
OLEH : IRMA ARYANI
130301097
AGROTEKNOLOGI - HPT
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KERAGAMAN JAMUR ANTAGONIS PADA RHIZOSFER TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell.Arg.) SEHAT DAN TERSERANG
JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus (Swartz: Fr)) YANG BERPOTENSI SEBAGAI AGENS ANTAGONIS
SKRIPSI
OLEH : IRMA ARYANI
130301097
AGROTEKNOLOGI - HPT
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana
di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Penelitian : Keragaman Jamur Antagonis Pada Rhizosfer Tanaman Karet (Hevea Brassiliensis Muell.Arg.) Sehat dan Terserang Jamur Akar Putih (Rigidoporus Microporus (Swartz: Fr) yang Berpotensi sebagai Agens Antagonis
Nama : Irma Aryani
Nim : 130301097
Prodi : Agroteknologi
Minat : Hama dan Penyakit Tumbuhan
Disetujui Oleh:
Komisi Pembimbing
Dr. Lisnawita, SP., M.Si Ir.Lahmuddin Lubis, MP Ketua Komisi Pembimbing Anggota Komisi Pembimbing
Mengetahui,
Dr. Ir. Sarifuddin, M.S.
Ketua Program Studi Agroteknologi
ABSTRACT
IRMA ARYANI. 2018. The Diversity of Antagonistic Fungi in Rhizosphere of Rubber Plants (Hevea brassiliensis Muell.Arg) Healthy and Attacted White Root Disease (Rigidoporus microporus Swartz: Fr) Potential as Agents Antagonist, under the guided by Lisnawita, and Lahmuddin Lubis. This study aims to determine the diversity of antagonistic fungi found in the soil around root (rhizosphere) healthy rubber plants and attected White Root disease that has the potential to control white root disease. This research was conducted in rubber plantation of Silomlom Village, Simpang Empat Sub-district, of Asahan Regency and Plant Disease Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Sumatera Utara from October 2017 until March 2018. The research was conducted by colecting of soil samples from healthy rubber plant and attacked White Root Disease then was isolated in the laboratory until obtained a pure fungi isolates and antagonistic test and identified to the genus level. The results showed that fungi obtained in healthy plant rhizosphere such as Mortierella, Humicola, Fusarium, Aspergillus, Gliocladium, Penicillium, Trichoderma and on the plant rhizosphare attacted white root disease obtained fungi Trichoderma Humicola, and Phialophora. The results of antagonistic test showed that the highest inhibition is Mortierella that was 90%, then Trichoderma was 71,85%, Aspergillus 66,46% and the lowest is Humicola 27,78%.
Keywords : Rhizosphere, Rubber, White Root Disease, Antagonistic Test
ABSTRAK
IRMA ARYANI. 2018. Keragaman Jamur Antagonis Pada Rhizosfer Tanaman Karet (Hevea Brassiliensis Muell.Arg.) Sehat dan Terserang Jamur Akar Putih (Rigidoporus Microporus (Swartz: Fr) yang Berpotensi sebagai Agens Antagonis, di bawah bimbingan Lisnawita, dan Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jamur antagonis yang terdapat pada tanah sekitar perakaran (rhizosfer) tanaman karet sehat dan yang terserang jamur akar putih yang berpotensi untuk mengendalikan jamur akar putih. Penelitian ini dilaksanakan di kebun karet Desa Silomlom, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara pada bulan Oktober 2017 sampai Maret 2018.
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel tanah dari tanaman karet yang sehat dan terserang jamur akar putih kemudian diisolasi di laboratorium hingga didapat biakan murni jamur serta dilakukan uji antagonis dan diidentifikasi sampai tingkat genus. Hasil penelitian menunjukkan jamur yang diperoleh pada rhizosfer tanaman sehat diantaranya yaitu Mortierella, Humicola, Fusarium, Aspergillus, Gliocladium, Penicillium, Trichoderma dan pada rhizosfer tanaman terserang diperoleh jamur Trichoderma Humicola, dan Phialophora. Hasil uji antagonis menunjukan bahwa daya hambat tertinggi terdapat pada jamur Mortierella yaitu sebesar 90%, kemudian Trichoderma sebesar 71,85%, Aspergillus 66,46%, dan daya hambat terendah terdapat pada jamur Humicola sebesar 27,78%.
Kata Kunci : Rhizosfer, Karet, Jamur Akar Putih, Uji Antagonis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kisaran, Sumatera Utara pada tanggal 19 Maret 1996 merupakan anak tunggal dari pasangan Ayahanda Fitriadi dan Ibunda Suwartik.
Tahun 2007 penulis lulus dari SD 014683 Sukadamai, Kisaran. Tahun 2010 penulis lulus dari SMP Negeri 4 Kisaran. Tahun 2013 penulis lulus dari SMA Negeri 4 Kisaran dan pada tahun yang sama penulis diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Program Studi Agroteknologi melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur Undangan Bidikmisi pilihan pertama.
Selama perkuliahan penulis pernah mengikuti kepanitiaan Gamadiksi Green Camp Season 3 pada tahun 2016 dan menjadi anggota dalam Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman (IMAPTAN) pada tahun 2017. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Perkebunan Nusantara V Kebun Tandun, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada bulan Juli-Agustus 2016. Penulis melaksanakan penelitian di Desa Silomlom, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan dan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Adapun judul skripsi ini adalah “Keragaman Jamur Antagonis Pada Rhizosfer Tanaman Karet (Hevea Brassiliensis Muell.Arg.) Sehat dan Terserang Jamur Akar Putih (Rigidoporus Microporus (Swartz: Fr) yang Berpotensi sebagai Agens Antagonis” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada komisi
pembimbing Dr. Lisnawita, SP., M.Si. selaku Ketua pembimbing dan Ir. Lahmuddin Lubis, MP selaku Anggota pembimbing yang telah memberikan
saran dan kritik serta berbagai masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan usulan penelitian ini di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juli 2018
DAFTAR ISI
ABSTRACT ... i
ABSTRAK ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Hipotesis Penelitian ... 3
Kegunaan Penulisan ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Botani Patogen ... 4
Daur Hidup Patogen ... 4
Gejala Serangan ... 5
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyakit ... 6
Potensi Pengendalian Penyakit JAP ... 7
Keberadaan Jamur Pada Rhizosfer... 9
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 10
Bahan dan Alat ... 10
Metode Penelitian... 10
Pelaksanaan Penelitian ... 11
Pemilihan Kebun ... 11
Penetapan Sampel Tanaman ... 11
Isolasi Jamur... 11
Perhitungan Keanekaragaman dan Kelimpahan Jamur ... 12
Uji Antagonis ... 12
Interaksi Jamur dengan JAP ... 13
Identifikasi Jamur ... 14
Peubah Amatan ... 14
Daerah Hambatan (Inhibiting Zone) (%) ... 14
Diameter Koloni (cm) ... 14
Bentuk Interaksi ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Jamur Pada Rhizosfer Tanaman Sehat ... 16
Identifikasi Jamur Pada Rhizosfer Tanaman Terserang... 21
Presentase Daerah Hambatan ... 25
Diameter Koloni Isolat ... 27
Bentuk Interaksi ... 29
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 31
Saran ... 31 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
1 Hasil identifikasi jamur rhizosfer tanaman sehat ... 17 2 Hasil identifikasi jamur rhizosfer tanaman terserang JAP... 22 3 Daerah hambatan pemberian jamur rhizosfer terhadap JAP.. 25 4 Diameter koloni pertumbuhan jamur yang diperoleh... 28
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
1 Uji antagonisme jamur rhizosfer dengan JAP... 12 2 Uji interaksi jamur rhizosfer terhadap JAP... 13 3 Jumlah keseluruhan isolat jamur yang diperoleh dari rhizosfer
karet... 16 4 Interaksi antara jamur rhizosfer dan JAP... 29
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1 Foto uji antagonis jamur rhizosfer terhadap JAP... 35 2 Data daerah hambatan isolat rhizosfer sehat terhadap JAP.... 37 3 Data daerah hambatan isolat rhizosfer terserang terhadap
JAP... 42
PENDAHULUAN Latar Belakang
Karet (Hevea brassilliensis) merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta kepala keluarga, komoditas ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet (Budiman, 2012).
Luas areal perkebunan karet di Indonesia dari tahun 2013 hingga 2015 mengalami peningkatan, pada tahun 2013 luas areal karet sebesar 3.555.946 ha hingga tahun 2015 meningkat menjadi 3.621.587 ha. Namun produksi dari tahun 2013 sebesar 1083 kg/ha/tahun mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi 1036 kg/ha/tahun. Terlebih lagi pada perkebunan karet rakyat yang produktivitasnya rendah padahal luas areal perkebunan rakyat adalah 85% dari total luas areal di Indonesia dibandingkan dengan perkebunan swasta sebesar 9%
dan perkebunan negara sebesar 6% (Direktorat Jendral Perkebunan, 2015).
Sumatera Utara memiliki beberapa Kabupaten yang merupakan sentra produksi tanaman karet, di antaranya Kabupaten Batubara, Asahan, Simalungun, Padang Lawas Utara, Pakpak Barat dan Serdang Bedagai. Rata-rata produksi karet di Asahan pada tahun 2013 yaitu 6.896,96 ton dengan luas lahan 6.585,80 ha (BBPPTP, 2014).
Kabupaten Asahan merupakan salah satu sentra perkebunan karet di Sumatera Utara. Produksi karet mengalami penurunan dari 7.934,88 ton pada tahun 2011 menjadi 5.073,79 ton pada tahun 2014. Rata-rata produksi karet di
Asahan pada tahun 2014 yaitu 5.073,88 ton dengan luas lahan 5.252,21 ha (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan, 2015).
Rendahnya produktivitas tanaman karet rakyat ini karena umumnya usaha tani karet rakyat diusahakan dalam skala kecil dan tidak dikelola dengan baik.
Penyebab lainnya adalah banyaknya areal kebun karet yang telah tua/rusak dan terserang oleh peyakit jamur akar putih (JAP/Rigidoporus microporus) sehingga kurang produktif dan perlu segera diremajakan. Pada tahun 2014 luas serangan per ha JAP di Kabupaten Asahan mencapai 361,17 ha dengan taksasi kehilangan hasil per tiga bulan adalah 216,7 ha. Kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp.
1.159.671.750 dengan presentase kerugian mencapai 8,53 % (BBPPTP, 2014).
Pengendalian yang umum dilakukan oleh para petani di perkebunan rakyat di Kabupaten Asahan sebagian besar dengan membersihkan lahan, namun ada yang melakukan pengerokan pada tanaman yang terserang. Permukaan akar yang ditumbuhi jamur dikerok dengan alat yang tidak melukai akar. Bagian akar yang busuk dipotong dan dibakar. Pengendalian hayati dilakukan dengan menaburkan biakan jamur Trichoderma harzianum yang dicampur dengan kompos sebanyak 200 g/lubang tanam (Rahayu, 2016).
Mikroorganisme menguntungkan yang berada disekitar perakaran (rhizosfer) sangat melimpah jumlahnya. Potensi tersebut, khususnya jamur antagonis, digunakan untuk mengendalikan patogen tular tanah termasuk juga dalam pengendalian JAP yang merupakan patogen tular tanah. Lapisan rizosfer di perkebunan karet mengandung mikrobiologis sebagai biofungisida dan
biofertilizer yang berpotensi dalam peningkatan produktivitas karet (Amaria et al., 2014)
Melihat adanya penurunan produksi tanaman karet akibat serangan JAP di Kabupaten Asahan serta pengendalian yang belum maksimal maka peneliti tertarik untuk mencari jamur-jamur yang bisa di manfaatkan sebagai agens biokontrol untuk mengendalikan serangan JAP. Hasilnya akan diharapkan lebih efisien dan efektif untuk pengendalian jamur.
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui keragaman jamur antagonis yang terdapat pada tanah sekitar perakaran (rhizosfer) tanaman karet sehat dan yang terserang JAP yang berpotensi untuk mengendalikan jamur akar putih (JAP).
Hipotesis Penelitian
Ada beberapa jenis jamur dan perbandingan antara jamur yang terdapat pada rhizosfer tanaman karet sehat dan terserang JAP yang berpotensi untuk mengendalikan serangan jamur akar putih.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Serta sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA Biologi Patogen
Menurut Alexopoulus et al. (1996) penyakit Jamur Akar Putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Fungi ; Filum : Basidiomycota ; Kelas : Basidiomycetes ; Ordo : Aphylloporales ; Famili : Polyporaceae ; Genus : Rigidoporus ; Spesies : Rigidoporus microporus.
Basidiospora bulat, tidak berwarna, dengan garis tengah 2,8-5,0 nm, banyak dibentuk pada tubuh buah yang masih muda. Basidium pendek (buntak), lebih kurang 16 x 4,5-5,0 nm, tidak berwarna, mempunyai 4 sterigma (tangkai basidiospora). Diantara basidium-basidium terdapat banyak sistidium yang berbentuk gada, berdinding tipis dan tidak berwarna (Semangun, 2008).
Warna permukaan tubuh buah dapat berubah tergantung dari umur dan kandungan airnya. Pada permukaan tubuh buah benang-benang jamur berwarna kuning jingga, tebalnya 2,8-4,5 μm, mempunyai banyak sekat (septum) yang tebal. Pada waktu masih muda berwarna jingga jernih sampai merah kecokelatan dengan zona gelap yang agak menonjol. Permukaan bawah berwarna jingga, tepinya berwarna kuning jernih atau putih kekuningan. Jika menjadi tua atau kering tubuh buah menjadi suram, permukaan atasnya cokelat kekuningan pucat dan permukaan bawahnya cokelat kemerahan. Tepinya menggulung ke bawah dan warnanya tidak kuning lagi, tetapi putih kotor (Yuniarti, 2010).
Daur Hidup Patogen
JAP merupakan penyakit tular tanah (soil borne disease) yang dapat bertahan sebagai sumber infeksi selama bertahun-tahun sehingga tidak mudah
dalam pengendaliannya. Infeksi JAP dimulai sejak di pembibitan sampai tanaman menghasilkan sehingga upaya pengendalian maupun pencegahan terhadap patogen dan sumber infeksi dapat dilakukan sejak awal (Amaria et al., 2014).
JAP terutama menular karena adanya kontak antara tanaman sehat dengan akar tanaman sakit, atau dengan kayu-kayu yang mengandung jamur tadi. Agar dapat mengadakan infeksi pada akar yang sehat, jamur harus mempunyai alas makanan (food base) yang cukup. Dari akar-akar yang halus, yang tidak banyak mengandung kayu, misalnya akar-akar tanaman penutup tanah kacangan, jamur tidak mampu menginfeksi akar karet yang sehat (Semangun, 2008).
JAP dapat menular dengan perantaraan rizomorf. Setelah mencapai akar tanaman yang sehat rizomorf lebih dulu tumbuh secara epifitik pada permukaan akar sampai agak jauh sebelum mengadakan penetrasi ke dalam akar. Kemajuan infeksi di dalam akar ditentukan oleh kemajuan rizomorf pada permukaan akar bersangkutan. Seterusnya jamur masuk ke dalam kayu melalui jari-jari empelur.
Tanaman mengadakan reaksi terhadap infeksi dengan membentuk kambium gabus atau barier luka, tetapi pertahanan ini pada umumnya dapat ditembus oleh jamur.
Pertumbuhan dan penetrasi jamur pada akar ke arah pangkal berlangsung lebih kurang dua kali lebih cepat daripada ke arah ujung (Omorusi, 2012).
Gejala Serangan
Meskipun dapat timbul pada semua umur tanaman, penyakit akar putih lebih banyak terdapat di kebun karet muda. Tanaman yang terserang mula-mula daunnya tampak kusam, kurang mengkilat dan melengkung ke bawah. Setelah itu daun-daun menguning dan rontok. Pada pohon dewasa gugurnya daun, yang disertai dengan matinya ranting-ranting, menyebabkan pohon mempunyai
mahkota yang jarang. Akar-akar busuk, sehingga pohon mudah rebah (Semangun, 2008).
Gejala serangan penyakit jamur akar putih adalah daun-daun tanaman menjadi pucat kuning dengan tepi ujungnya berlipat kedalam. Daun-daun ini kemudian gugur dan rantingnya mati. Adakalanya tanaman yang sakit membentuk daun muda dan buah yang lebih awal. Pada akar tanaman tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal. Benang-benang tersebut menempel kuat pada akar sehingga sulit dilepas. Akar tanaman yang sakit pada akhirnya akan membusuk, lunak dan berwarna coklat (Nazaruddin, 1992).
Pada permukaan akar yang sakit terdapat benang-benang miselium jamur (rizomorf) berwarna putih menjalar sepanjang akar. Disana-sini benang-benang meluas atau bercabang-cabang seperti jala. Pada ujungnya benang meluas seperti bulu. Benang-benang melekat erat pada permukaan akar. Kadang-kadang benang berwarna kekuningan. Dalam tanah merah warnanya dapat kemerahan atau kecokelatan. Kulit yang sakit busuk dan berwarna cokelat (Semangun, 2008).
Untuk memastikan gejala tersebut penyebabnya adalah JAP beberapa pohon karet yang dicurigai sebaiknya diperiksa dengan membuka leher akar.
Apabila tanaman tersebut terserang JAP maka akan terlihat adanya rizomorf jamur berwarna putih menyelimuti permukaan akar. Terkadang bagian akar yang diserang sudah berwarna cokelat dan membusuk sehingga tanaman terserang mudah tumbang (Rahayu et al., 2006).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit
Perkembangan penyakit JAP terutama dipengaruhi oleh banyaknya sumber infeksi di dalam kebun. Kebun karet yang dibangun bekas hutan atau
kebun karet tua yang pengolahan tanahnya (land clearing) tidak dapat dilakukan dengan baik, tanaman akan banyak menderita serangan JAP. Pada kebun bertunggul yang berasal dari kebun karet tua atau hutan primer menunjukkan bahwa laju perkembangan kematian tanaman sangat cepat (Rahayu et al., 2006).
Jamur dapat juga menular ke tanaman pembibitan. Disini biasanya penyakit tidak sempat menimbulkan gejala. Pada waktu bibit dibongkar untuk tanaman atau dipindah ke polibag, ketauan bahwa akar tunggang bibit diliputi rizomorf. Namun pada lahan pembibitan bekas pertanaman karet tua yang terserang berat oleh jamur akar putih dan pengolahan lahannya tidak baik, yaitu masih tersisa banyak potongan akar sakit, gejala dan kematian karena jamur akar putih akan sering dijumpai (Semangun, 2008).
Keadaan kelerangan sangat menentukan untuk menduga potensi kebanjiran/genangan di suatu wilayah. Wilayah berlereng aliran air akan terjadi lebih cepat dibandingkan wilayah datar, dengan demikian kemungkinan terjadinya banjir/genangan di wilayah datar lebih besar dibandingkan wilayah berlereng.
Sehingga berpotensi meningkatkan intensitas serangan penyakit pada tanaman karet (Fauzi, 2008).
Potensi Pengendalian Penyakit JAP
Penggunaan bibit unggul yang sehat serta penjagaan kebersihan kebun dari sisa-sisa tunggul dan akar tanaman lama, pemeliharaan tanaman yang intensif merupakan cara yang dapat mencegah/preventif terjadinya serangan JAP. Namun secara umum kebun-kebun petani di lokasi kurang dilakukan pemeliharaan seperti tidak atau kurang melakukan pemupukan, tidak menggunakan tanaman penutup
tanah dan masih banyaknya ditemukan sisa-sisa tunggul dan akar tanaman lama yang dapat menjadi sumber penyebaran JAP (Neliyati et al., 2015).
Pengendalian terhadap jamur R. microporus yang biasa digunakan ialah dengan pemberian fungisida sintetis. Penggunaan fungisida sintetis ini oleh petani dirasakan lebih cepat mengendalikan patogen, namun dampak negatifnya tidak bisa dihindari. Pemberian fungisida sintetis secara terus menerus akan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan, adanya resiko mutagenik, teratogenik, dan karsinogenik terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya, serta dapat menyebabkan OPT menjadi resisten terhadap fungisida tersebut (Widiantini et al., 2016).
Pengaplikasian T. harzianum dalam bentuk granular pada tanah disekitar akar tanaman karet juga merupakan suatu pengendalian hayati untuk mengandalikan penyakit JAP. Karena jamur T. harzianum merupakan jamur endofit dalam tanah yang dapat menekan perkembangan jamur akar putih. Dengan diaplikasikannya T. harzianum diharapkan terdapat jamur-jamur endofit lain yang dapat menjadi pengendali jamur akar putih dalam tanah (Pulungan et al., 2014).
Mikroorganisme menguntungkan sangat melimpah jumlahnya, baik yang berada di sekitar perakaran (rizosfer) maupun jaringan tanaman (endofit). Potensi tersebut, khususnya jamur antagonis, digunakan untuk mengendalikan patogen tular tanah. Pada lapisan rizosfer di perkebunan karet mengandung mikrobiologis sebagai biofungisida dan biofertilizer yang berpotensi dalam peningkatan produktivitas karet. Selain rizosfer, mikroorganisme endofit juga berperan penting dalam pengendalian penyakit tanaman, yaitu bersifat induksi ketahanan. Jamur
endofit antagonis mempunyai aktivitas tinggi dalam menghasilkan enzim yang dapat digunakan untuk mengendalikan patogen (Amaria et al., 2014).
Keberadaan Jamur pada Rhizosfer
Rizosfir merupakan bagian dari tanah yang memiliki aktivitas metabolisme tertinggi yang didefinisikan sebagai sebagian kecil volume tanah yang langsung dipengaruhi oleh pertumbuhan dan metabolisme akar tanaman.
Tanaman dan mikroba berinteraksi dan saling menstimulasi yang disebabkan oleh eksudat akar (Schröder dan Hartmann, 2003).
Jamur rizosfir merupakan salah satu faktor biotik yang dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit. Jamur yang ada di rhizosfer dapat melindungi tanamanterhadap patogen dan meningkatkan kesuburan pertumbuhan tanaman sehinggga digolongkan sebagai jamur pemacu kesuburan tanaman (Purwitasari dan Hastuti 2009).
Rizosfer merupakan bagian tanah yang berada di sekitar perakaran tanaman dan berperan sebagai pertahanan luar bagi tanaman terhadap serangan patogen akar.
Populasi mikroorganisme di rizosfer biasanya lebih banyak dan beragam dibandingkan pada tanah bukan rizosfer (Purwantisari dan Rini, 2009).
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kebun karet di Desa Silomlom Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan dan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Oktober 2017 sampai Maret 2018.
Alat dan Bahan
Adapun alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain gelas ukur, petridish, objek gelas, toolbox, ember, beker gelas, batang pengaduk, pinset, jarum inokulasi, kaca pereparat, tissu, kotak inokulasi, slotip, kantong plastik, shakeer, aluminium foil, oven, laminar air flow, hot plat, tabung gas, timbangan, batang pengaduk, mikroskop compound, pH meter, loop, cangkul,ember, kalkulator, buku data, kamera, meteran dan alat – alat yang mendukung lainnya.
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah sekitar tanaman karet, aquadesh, alkohol 70 %, PDA, methanol, imersi oil, methil blue.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei.
Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive random sampling (acak) pada kebun di Desa Silomlom. Sampel yang diambil dari tanaman karet yang sehat dan yang terserang JAP. Mengambil sampel tanah di sekitar akar (rhizosfer) dari tanaman karet pada kedalaman ± 0-15 cm dari permukaan tanah dan selanjutnya di amati di Laboratorium.
Pelaksanaan Penelitian Pemilihan Kebun
Pemilihan kebun berdasarkan data luas tanaman karet perkebunan rakyat menurut kecamatan dan desa. Pekerjaan dimulai dengan survei atau pengecekan lapangan tanaman karet terserang JAP yang ditunjukkan dengan gejala serangan.
Gejala serangan dilihat dari gejala di atas permukaan tanah dari batang hingga daun.
Pengambilan Sampel Tanah
Sampel jamur antagonis diambil dari pohon karet yang sehat dan yang terserang JAP. Pengambilan setiap sampel tanah dilakukan dengan cara mengambil tanah di sekitar perakaran tanaman karet (rhizosfer) dari empat titik dengan kedalaman 20 cm dari permukaan tanah. Tanah yang diambil lalu dikompositkan dengan total lebih kurang sebanyak 200 g, dimasukkan ke dalam kantong plastik yang telah disediakan dan diberi label. Label yang ditulis berupa nama kebun dan titik sampel pengambilan. Sampel di simpan pada box.
Selanjutnya di bawa ke Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (Amaria et al., 2013)
Isolasi Jamur
Cara isolasi jamur yaitu dengan mengambil sebanyak 10 g tiap sampel tanah yang telah dikompositkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 90 ml air steril, lalu di shaker selama 15 menit. Suspensi kemudian diencerkan hingga pengenceran Untuk pengenceran sampai diambil 1 ml kemudian dibiakkan dalam media PDA, dan diinkubasi selama 3 hari paada suhu ruang. Setiap koloni jamur yang tumbuh dicatat, dihitung jumlahnya dan
dikelompokkan berdasarkan bentuk dan warna koloni kemudian dimurnikan pada media PDA (Amaria et al., 2013).
Perhitungan Keanekaragaman Jamur
Keanekaragaman jamur ditentukan dengan mengelompokkan koloni berdasarkan perbedaan bentuk koloni, warna permukaan atas dan bawah, serta tepiannya.
Uji Antagonis
Uji antagonis dilakukan untuk mengetahui potensi isolat jamur yang didapatkan. Uji antagonis dilakukan dengan menumbuhkan isolat jamur akar putih dan agens hayati pada bagian tepi yang berbeda dan berjarak 3 cm, kemudian diinkubasi pada suhu ruang, sedangkan untuk kontrol yaitu dengan metelakkan isolat jamur akar putih saja pada cawan petri yang telah berisi media PDA. Tiap pengujian dilakukan 3 kali ulangan (Gambar 1).
Pengamatan dilakukan selama 7 hari dengan mengukur diameter koloni jamur akar putih pada kontrol dan diameter koloni jamur akar putih pada perlakuan. (Amaria et al., 2013).
Gambar 1. Uji antagonisme jamur rhizosfer dengan JAP x
R2 R1 y
Keterangan:
R1 = jari-jari koloni jamur akar putih yang menjauhi agens R2 = jari-jari koloni jamur akar putih yang mendekati agens x = isolat jamur antagonis
y = jamur patogen (JAP) Interaksi Jamur dengan JAP
Pengujian ini dilakukan untuk melihat interaksi isolat yang didapat dan JAP dalam satu cawan petri yang berdiameter 7 cm. JAP dan isolat yang didapat diletakkan berhadapan kamudian dibagian tengah diletakkan objek glass yang telah diberi lapisan tipis PDA (Gambar 2).
Gambar 2. Uji interaksi jamur rhizosfer terhadap JAP Keterangan :
x = Patogen (JAP) y = Agens Antagonis
Pengamatan bentuk interaksi ini dilakukan setelah terjadi pertemuan kedua ujung jamur dengan cara mengangkat objek glass. Selanjutnya ditetesi dengan
y x
methyl blue dan diamati di bawah mikroskop bentuk interaksi antara patogen dan isolat yang didapat.
Identifikasi Jamur
Biakan murni jamur diidentifikasi dengan mengambil koloni menggunakan selotip transparan sampai hifa jamur menempel. Kemudian selotip ditempelkan pada kaca preparat yang telah ditetesi methil blue dan diamati di bawah mikroskop. Identifikasi morfologi dicocokkan menggunakan buku kunci identifikasi yang ditulis Watanabe (2002).
Peubah amatan
1. Daerah hambatan (Inhibiting zone) (%)
Pengamatan dilakukan dengan mengukur daerah hambatan yang dihasilkan agens hayati terhadap JAP. Untuk mengukur presentase penghambatannya dapat dihitung dengan rumus: IZ = x 100 %.
Keterangan :
IZ = persentasi zona penghambat pertumbuhan (%)
R1 = jari-jari koloni jamur akar putih yang menjauhi agens R2 = jari-jari koloni jamur akar putih yang mendekati agens
Kriteria seleksi dilakukan terhadap persentase daya hambat, nilai >70%
dikategorikan sebagai isolat terseleksi.
2. Diameter koloni (cm)
Data diperoleh dengan mengamati dan mengukur diameter pertumbuhan koloni jamur yang terbentuk setiap hari sampai 7 hari setelah inokulasi (hsi).
3. Bentuk interaksi
Pengamatan dilakukan dengan melihat bentuk interaksi antara agens hayati dan JAP pada objek glass di bawah mikroskop
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Isolat Jamur yang diperoleh
Hasil eksplorasi jamur pada rhizosfer tanaman karet sehat (2°55’18,222”
LU/99°42’31,398” BT) didapatkan 12 isolat jamur sedangkan pada rhizosfer tanaman karet terserang JAP ( 2°52’19,842” LU/99°42’31,464” BT) terdapat 11 isolat jamur.
Gambar 3. Jumlah keseluruhan isolat jamur yang diperoleh dari rhizosfer karet Dari 12 isolat jamur dari sampel tanaman sehat dan diidentifikasi diperoleh 8 genus jamur diantaranya yaitu Mortierella, 2 genus Humicola, Fusarium, 3 genus Aspergillus, Penicillium, Gliocladium, dan 3 genus Trichoderma. Sedangkan dari 11 isolat jamur dari sampel tanaman terserang JAP dan diidentifikasi diperoleh hanya 3 genus diantaranya yaitu 2 genus Humicola, 5 genus Trichoderma, 2 genus Phialophora, dan 2 isolat jamur yang tidak teridentifikasi. Genus yang diperoleh lebih beragam pada tanaman sehat dibandingkan pada tanaman terserang. Dengan beragamnya genus yang terdapat pada tanaman sehat ini memungkinkan tanaman terlindungi dari patogen seperti
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Sehat Terserang
JAP. Purwitasari dan Hastuti (2009), menyebutkan bahwa jamur rizosfir merupakan salah satu faktor biotik yang dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit. Jamur yang ada di rhizosfer dapat melindungi tanaman terhadap patogen dan meningkatkan kesuburan pertumbuhan tanaman sehinggga digolongkan sebagai jamur pemacu kesuburan tanaman.
2. Identifikasi Jamur dari Rhizosfer Tanaman Sehat
Selanjutnya semua isolat jamur yang diperoleh diidentifikasi dengan melihat bentuk koloni, warna permukaan atas dan bawah, serta tepiannya, dan mikroskopisnya. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil identifikasi jamur rhizosfer tanaman sehat
No Genus Ciri-ciri Kode
Isolat 1 Mortierella
(a) spora, (b) collumella
Makroskopis:
- Koloni berwarna putih - Permukaan koloni halus
seperti kapas - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Spora berbentuk lonjong - Memiliki columella (strukur
steril di dalam sporangium) - Hifa bersekat
SS1
2 Humicola Makroskopis:
- Koloni berwarna putih - Permukaan koloni kasar - Tepi koloni rata
SS2 a
b
(a) hifa, (b) aleurioconidia
Mikroskopis:
- Hifa tidak bersekat dan hialin
- Terbentuk aleurioconidia tunggal dan ada yang berpasangan
3 Fusarium
(a) konidiofor, (b)makrokonidia
Makroskopis:
- Koloni berwarna putih - Miselium berwarna hialin - Permukaan koloni kasar - Tepiannya rata
Mikroskopis:
- Konidiofor bercabang- cabang
- Makroonidia berbentuk seperti sabit yang bersekat
SS3
4 Humicola Makroskopis:
- Koloni berwarna putih - Permukaan koloni kasar - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Hifa tidak bersekat dan hialin
- Terbentuk aleurioconidia tunggal dan ada yang berpasangan
SS4 a
b
a b
a
b
5 Aspergillus
(a) spora, (b) konidiofor, (c) konidia
Makroskopis:
- Koloni berwarna hijau - Permukaan koloni kasar - Tepi koloni tidak rata
Mikroskopis:
- Konidiofor panjang
- Konidia terdiri dari satu sel berbentuk bulat
SS5
6 Aspergillus
(a) konidia, (b) konidiofor, (c) spora
Makroskopis:
- Koloni berwarna kehitaman - Permukaan koloni kasar dan
pertumbuhannyatidak beraturan
- Tepi koloni tidak rata
Mikroskopis:
- Konidiofor panjang
- Konidia terdiri dari satu sel berbentuk bulat
SS6
7 Trichoderma Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan setelah 7 Hsi - Permukaan koloni
bertekstur seperti kapas
SS7 a
b c
c b a
(a) konidia, (b) konidifor (c) spora
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
8 Penicillium
(a) konidia (b) konidiofor
Makroskopis:
- Koloni berwarna hijau - Permukaan koloni kasar - Tepi koloni tidak rata
Mikroskopis:
- Konidia terdiri dari 1 sel dan tumbuh berantai - Konidia bulat telur
- Konidiofor panjang muncul dari hifa
SS8
9 Gliocladium Makroskopis:
- Koloni berwarna putih kemudian terdapat warna hijau menggumpal setelah 7 Hsi
- Permukaan koloni kasar - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Konidiofor hialin dan bercabang
- Hifa bersekat
SS9 c
b a
b a
b a
10 Aspergillus
(a) konidia, (b) konidiofor
Makroskopis:
- Koloni berwarna hijau - Permukaan koloni kasar dan
pertumbuhannya tidak beraturan
- Tepi koloni tidak rata
Mikroskopis:
- Konidiofor panjang
- Konidia terdiri dari satu sel yang ujungnya berbentuk bulat
SS10
11 Trichoderma
(a) konidia, (b) konidiofor
Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna hijau
- Permukaan koloni bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
SS11
12 Trichoderma Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan setelah 7 Hsi - Permukaan koloni
bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
SS12 b
a
b a
(a) konidiofor, (b) konidia
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
3. Identifikasi Jamur dari Rhizosfer Tanaman Terserang JAP
Pada rhizosfer tanaman terserang JAP didapat 11 isolat dengan 2 isolat jamur yang tidak teridentifikasi dengan kode isolat SK1 dan SK2.
Tabel 2. Hasil identifikasi jamur rhizosfer tanaman terserang JAP
No Genus Ciri-ciri Kode
Isolat 1. Humicola
(a) aleurioconidia, (b) hifa
Makroskopis:
- Koloni berwarna putih - Permukaan koloni kasar - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Hifa tidak bersekat dan hialin
- Terbentuk aleurioconidia tunggal dan ada yang berpasangan
SK3
2. Trichoderma Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan setelah 7 Hsi - Permukaan koloni
bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
SK4 b
a
b a
(a) konidia, (b)konidiofor
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
3. Humicola
(a) areulioconidia, (b) hifa
Makroskopis:
- Koloni berwarna putih - Permukaan koloni kasar - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Hifa tidak bersekat dan hialin
- Terbentuk aleurioconidia tunggal dan ada yang berpasangan
SK5
4. Trichoderma
(a) konidiofor, (b) konidia
Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan setelah 7 Hsi - Permukaan koloni
bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
SK6 b
a
b a
a b
5. Trichoderma
(a) konidiofor, (b) konidia
Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan setelah 7 Hsi - Permukaan koloni
bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
SK7
6. Trichoderma
(a) konidia, (b) konidiofor
Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan setelah 7 Hsi - Permukaan koloni
bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
SK8
7. Phialophora Makroskopis:
- Koloni berwarna putih dengan hijau dibagian tengah
- Permukaan koloni halus seperti kapas
- Tepi koloni rata
SK9 a
b
b a
(a) hifa, (b) konidiofor, (c) fialid
Mikroskopis:
- Konidiofor tegak dan bercabang
- Hifa bersekat
- Memiliki fialid yang pendek dan tebal
8. Trichoderma
(a) konidia, (b) konidiofor
Makroskopis:
- Koloni awalnya berwarna putih kemudian menjadi kehijauan di bagian tengah setelah 7 Hsi
- Permukaan koloni bertekstur seperti kapas - Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Memiliki konidia dan konidiofor
- Konidia berbentuk bulat - Konidia bersekat dan
memiliki percabangan
SK10
9. Phialophora Makroskopis:
- Koloni berwarna putih kemudian agak kehijauan dibagian tengah
- Permukaan koloni halus seperti kapas
- Tepi koloni rata
Mikroskopis:
- Konidiofor tegak dan bercabang
- Hifa bersekat dan memiliki fialid yang pendek dan tebal
SK11 a
b c
b a
b a
4. Presentase Daerah Hambatan (Inhibiting Zone)
Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa nilai daerah hambatan isolat jamur yang didapat berpengaruh sangat nyata terhadap JAP. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Daerah hambatan pemberian jamur yang diperoleh terhadap JAP
Sampel Perlakuan Daerah Hambatan
1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi 4 Hsi 5 Hsi 6 Hsi 7 Hsi
SS
SS1 15,00 59,59 ab 85,71 a 90,00 a 91,11 a 90,00 a 90,00 a SS2 15,00 47,91 bc 77,20 ab 81,11 ab 85,55 ab 85,55 ab 85,55 ab SS3 16,67 19,27 e 40,83 ef 68,89 bc 70,00 cd 72,22 bc 72,22 bc SS4 0,00 21,78 de 27,78 f 27,78 e 27,78 f 27,78 f 27,78 f SS5 0,00 25,38 de 47,56 de 57,98 cd 57,98 cde 59,09 cde 62,42 cde SS6 11,11 23,93 de 62,14 bcd 66,46 c 66,46 cd 66,46 cd 66,46 cd SS7 8,33 20,75 e 66,85 bc 71,85 bc 71,85 bc 71,85 bc 71,85 bcd SS8 11,00 44,1 c 35,04 ef 47,78 d 45,55 e 45,55 e 46,66 e SS9 0,00 62,32 ab 59,37 cd 59,37 cd 59,37 cde 59,37 cde 59,37 cde SS10 0,00 16,02 e 64,45 bcd 64,45 c 64,44 cd 64,45 cd 64,45 cd SS11 8,33 37,12 cd 65,56 bc 70,45 bc 56,01 de 56,01 de 56,01 de SS12 6,67 64,84 a 60,40 cd 64,44 c 64,44 cd 64,44 cd 64,44 cd
SK
SK1 11,11 6,11 d 6,08 d 26,66 ef 12,22 fg 11,11 gh 23,33 fg SK2 0,00 10,25 d 5,51 d 8,89 f 8,89 g 8,89 h 8,89 g SK3 0,00 68,06 a 78,86 a 49,98 bc 49,98 bcd 49,98 bcd 49,98 bcde SK4 16,67 62,9 a 74,44 a 57,40 ab 57,40 abc 57,40 abc 57,40 abcd SK5 16,67 38,33 bc 27,78 c 36,11 cde 36,11 de 36,11 def 36,11 def SK6 16,67 38,89 bc 57,40 b 30,00 de 30,00 def 30,00 efg 30,00 efg SK7 11,11 35,55 c 35,55 c 19,44 ef 19,44 efg 19,44 fgh 19,44 g SK8 0,00 36,29 bc 50,00 b 46,67 bcd 46,67 cd 46,67 cde 46,67, cde SK9 0,00 49,29 b 70,93 a 70,58 a 70,58 a 70,58 a 70,58 ab SK10 0,00 64,61 a 71,39 a 68,36 a 68,36 ab 68,36 ab 68,36 abc SK11 0,00 40,97 bc 55,83 b 73,33 a 73,33 a 73,33 a 73,33 a Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda nyata menurut uji jarak Duncan pada taraf 5%. SS: sampel dari tanaman sehat, SK: sampel dari tanaman terinfeksi, SS1:
Moertierella, SS2 dan SS4: Humicola, SS3: Fusarium, SS5,SS6,SS10: Aspergillus, SS8: Penicillium, SS9: Gliocladium, SS7,SS11,SS12: Trichoderma, SK1,SK2: tidak teridentifikasi, SK3,SK5: Humicola, SK4, SK6, SK7, SK8, SK10: Trichoderma, SK9,SK11: Phialophora.
Tabel 3 menunjukkan bahwa JAP mengalami hambatan pertumbuhan karena kehadiran jamur antagonis. Daya hambat tertinggi pada 7 Hsi terdapat pada perlakuan SSI yaitu jamur Mortierella. sebesar 90 % dan daya hambat terendah terdapat pada perlakuan SS4 yaitu jamur Humicola. sebesar 27,78%.
Dari data daya hambat jamur Mortierella adalah yang tertinggi dibanding dengan semua perlakuan, hal ini diduga bahwa jamur Mortierella ini memiliki suatu senyawa kimia yang tidak dimiliki jamur lain yang dapat menghambat JAP.
Peningkatan daerah hambatan dari 1-7 Hsi menunjukkan jamur yang berasal dari rhizosfer tanaman sehat ini mampu menghambat pertumbuhan JAP. Cook dan Baker (1989) menjelaskan bahwa salah satu syarat suatu organisme disebut sebagai agens hayati adalah apabila mempunyai kemampuan antagonisme atau kemampuan menghambat perkembangan dan pertumbuhan organisme lainnya.
Trichoderma juga mampu menghambat pertumbuhan JAP dengan nilai daerah hambatan sebesar 71,85% pada 7 Hsi. Serta hampir semua jamur yang terdapat pada rhizosfer tanaman sehat dapat menghambat pertumbuhan JAP seperti Aspergillus, Penicillium dan Gliocladium. Suwandi (2008) menyatakan kelompok jamur Trichoderma mempunyai mekanisme antagonis kompetisi, antibiosis dan mikoparasit yang efektif dalam menekan perkembangan patogen.
Pada pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada uji jarak duncan di seluruh perlakuan. Presentase daerah hambatan pada seluruh perlakuan yang teridentifikasi berkisar antara 50-80%.
Namun presentase yang >70% hampir semua terdapat pada sampel tanah yang sehat. Diketahui bahwa pada tanah yang sehat terdapat mikroorganisme yang berpotensi sebagai agens antagonis. Agens antagonis tersebut memiliki suatu
senyawa yang dapat menekan atau mematikan sel-sel dari jamur lain yang bukan agens antagonis. Selain itu, Habazar dan Yaherwandi (2006) menyatakan bahwa kemampuan agens hayati dalam menghambat pertumbuhan cendawan patogen sering dikaitkan dengan kemampuannya dalam menghasilkan enzim kitinase.
Enzim ini menyebabkan kerusakan sel cendawan patogen yang akhirnya dapat menyebabkan kematian sel.
Pada Tabel diketahui bahwa presentase daerah hambatan dari sampel tanaman terserang terhadap JAP tidak semua isolat jamur dapat menghambat pertumbuhan JAP. Dapat dilihat pada perlakuan SK2 daya hambat pada 7 Hsi yang sangat rendah sebesar 8,89%. Namun terdapat juga jamur-jamur lain yang dapat menghambat pertumbuhan JAP seperti Trichoderma, Humicola, dan Phialophora walaupun daya hambat tertinggi hanya 73,33 %. Rendahya daya hambat pada jamur-jamur ini disebabkan oleh tanah tempat pengambilan sampel adalah tanah yang telah berkembangnya patogen JAP. Winarno (1992) menyatakan jumlah koloni jamur tanah di lahan endemis patogen lebih rendah dibandingkan di lahan non endemis. Hal ini diduga akibat rusaknya sumberdaya hayati dan kurangnya peran jamur tanah lahan endemis dalam mengendalikan patogen. Sehingga jamur patogen di lahan endemis lebih banyak berperan dibandingkan di lahan non endemis.
4. Diameter Koloni Isolat
Hasil pengamatan diameter pertumbuhan selama 7 hsi menunjukkan adanya isolat yang pertumbuhannya sangat lambat. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Diameter koloni pertumbuhan jamur yang diperoleh
Perlakuan Kode Diameter Pertumbuhan
Isolat 1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi 4 Hsi 5 Hsi 6 Hsi 7 Hsi
SS
SS1 1,50 b 3,87 d 6,93 b 8,77 ab 9,00 a 9,00 a 9,00 a SS2 0,87 d 3,93d 6,50 c 8,13 bc 9,00 a 9,00 a 9,00 a SS3 0,87 d 2,17 e 3,97 de 5,67 d 6,90 b 8,03 bc 8,8 a SS4 2,10 a 5,30 c 7,70 ab 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SS5 0,87 d 2,60 e 3,87 de 5,13 d 6,67 b 7,77 c 9,00 a SS6 1,00 d 2,63 e 4,17 d 5,67 d 6,93 b 7,77 c 9,00 a SS7 1,27 c 3,87 d 5,67 c 7,40 c 8,40 a 8,83 ab 9,00 a SS8 0,57 e 1,03 f 1,50 f 1,93 e 2,73 c 3,10 e 4,10 c SS9 1,93 a 5,50 bc 7,70 ab 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SS10 0,60 e 2,17 e 3,17 e 4,93 d 6,17 b 6,73 d 7,80 b SS11 1,50 b 5,97 ab 8,43 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SS12 1,93 a 6,27 a 8,33 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a
SK
SK1 0,50 d 0,93 f 1,30 d 1,73 b 1,93 b 2,23 b 2,60 b SK2 0,50 d 0,97 f 1,27 d 1,67 b 1,90 b 2,30 b 2,63 b SK3 2,00 ab 6,50 abc 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SK4 2,27 a 6,40 bc 8,43 bc 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SK5 1,27 c 6,47 bc 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SK6 1,67 bc 5,83 de 8,33 c 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SK7 1,97 ab 6,83 ab 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SK8 2,20 a 6,93 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a SK9 1,13 c 6,20 cd 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a
SK10 1,57 bc 5,83 de 8,33 c 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a
SK11 1,40 c 5,60 e 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a 9,00 a
Pertumbuhan koloni jamur dari rhizosfer tanaman sehat sangat cepat.
Dilihat dari grafik pertumbuhan pada 7 Hsi telah memenuhi keseluruhan ruang cawan petri. Sedangkan pertumbuhan koloni jamur dari rhizosfer tanaman terserang tidak semuanya tumbuh dengan cepat. Terdapat 2 isolat jamur yang pertumbuhannya hanya 2,3-3 cm pada 7 hsi. Dilihat dari uji antagonis kedua isolat ini juga merurupakan isolat dengan daya hambatnya terendah dan tidak memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan JAP. Hal ini disebabkan karena kedua isolat ini bukan merupakan agens antagonis. Cook dan Baker (1989)
menjelaskan bahwa salah satu syarat suatu organisme disebut sebagai agens hayati adalah apabila mempunyai kemampuan antagonisme atau kemampuan menghambat perkembangan dan pertumbuhan organisme lainnya. Amaria et al (2014) menyatakan bahwa isolat jamur yang merupakan isolat antagonis yang pertumbuhan koloninya lebih cepat dibandingkan koloni patogen dan tampak perkembangan koloni antagonis dapat menutupi dan menekan perkembangan koloni patogen.
5. Bentuk Interaksi
Gambar 6. Interaksi antara jamur rhizosfer dan JAP. (A) Aspergillus dan JAP, (B) Trichoderma dan JAP, (C) Aspergillus dan JAP, (D) Trichoderma dan JAP, (E) Trichoderma dan JAP.
A B
C D
E
Dari hasil pengamatan bentuk interaksi antara hifa JAP dengan jamur antagonis didapat adanya jamur yang melilit hifa JAP (Gambar 5A dan 5B) sehingga hifa jamur antagonis yang memenuhi semua ruang. Hifa patogen lama- kelamaan menipis dan hilang tergantikan oleh hifa jamur rhizosfer. Hal ini sesuai dengan Dolakatabadi et al. (2012) yang menyatakan bahwa jamur endofit membentuk kait di sekitar hifa patogen sebelum penetrasi. Mekanisme kerja senyawa antimikroba dalam melawan mikroorganisme patogen dengan cara merusak dinding sel, mengganggu metabolisme sel mikroba, menghambat sintesis sel mikoba, mengganggu permeabilitas membran sel mikroba, menghambat sintesis protein dan asam nukleat sel mikroba.
Pada Gambar 5C terlihat bahwa hifa patogen menjadi keriting, dan pada Gambar 5D hifa patogen menjadi terputus-putus. Sedangkan pada Gambar 5E hifa patogen menjadi tidak berwarna (transparan). Ini dikarenakan jamur rhizosfer sebagai agens hayati mampu mengambil nutrisi dari patogen sehingga hifa patogen mengalami kerusakan berupa perubahan bentuk serta kematian sel. Hal ini sesuai dengan literatur (Soesanto, 2008) yang menyatakan bahwa cendawan antagonis memanfaatkan sumber gula dan karbohidrat sebagai sumber karbon yang memiliki peran sebagai prekursor dari metabolit sekunder untuk menghambat perkecambahan spora cendawan patogen. Sunarwati dan Yoza (2010) menyatakan bahwa mekanisme lisis pada hifa patogen ditandai dengan berubahnya warna hifa patogen menjadi jernih dan kosong karena isi sel dimanfaatkan oleh agen hayati sebagai nutrisi serta kemampuan agen hayati menghasilkan enzim yang dapat melisiskan dinding sel patogen.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Jamur yang didapat pada rhizosfer tanaman sehat dan terserang diantaranya yaitu Trichoderma, Aspergillus, Fusarium, Penicillium , Gliocladium , Mortierella , Humicola , dan Phialophora .
2. Terdapat perbedaan keragaman jamur pada rhizosfer tanaman sehat dan terserang JAP. Pada rhizosfer tanaman sehat diperoleh jamur yang lebih beragam dan daya hambat terhadap JAP lebih tinggi.
3. Interaksi yang terjadi antara jamur antagonis dan JAP yaitu perubahan bentuk hifa patogen serta lisis.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang antagonisme jamur rhizosfer terhadap jamur akar putih di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Alexopoulus CJ., Mims CW & Blackwell M. 1996. Introduction Micology 4 EditionJohn Wiley and Sons, New York.869 p.
Amaria W., Taufiq E dan Harni R. 2014. Seleksi dan Identifikasi Jamur Antagonis Sebagai Agens Hayati Jamur Akar Putih Rigidoporus microporus pada Tanaman Karet. Buletin Ristri. 4 (1): 55-64.
BBPPTP. 2014. Laporan Serangan OPT Penting Perkebunan. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Medan
Budiman H. 2012. Budidaya Karet Unggul Prospek Jitu Investasi Masa Depan.
Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
Cook, J. R. and F. K., Baker. 1989. The Nature and Practice of Biological Control of Plant Patogen. APS Press. The American Phytopatological Society St.
Paul Minnesota.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Asahan. 2015. Daftar Luas Areal dan Produksi Tanaman Karet Kabupaten Asahan. Asahan.
Direktorat Jendral Perkebunan. 2015. Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Karet 2014-2016. Direktoral Jenderal Perkebunan, Jakarta.
Dolakatabadi, H. K., E. M. Goltapeh, N. Mohammadi, M. Rabiey, N. Rohani, and Varma. Biocontrol Potential of Root Endophytic Fungi and Trichoderma Species Against Fusarium Wilt of Lentil Under In vitro and Greenhouse Conditions. J. Agr. Sci. Tech. (2012) Vol. 14: 407-420.
Fauzi A. 2008. Kesesuaian Lahan Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) Berdasarkan Aspek Agroklimat di Sulawesi Tenggara. Departemen Geofisika dan Meteorologi afakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Habazar, T dan Yaherwandi. 2006. Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press. Padang.
Nazarudin B F. 1992. Karet: Budidaya dan Pengolahanya. Dalam Karakterisasi Biologi Isolat-Isolat Rigidoporus Microporus pada Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis) Asal Cilacap. (Editor. Nugroho). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Neliyati., Gusniwati., Lisdawati dan Kartika E. 2015. Ibm Kelompok Tani Karet Penerapan Teknologi Pengendalian Terpadu Penyakit Jamur Akar Putih Pada Tanaman Karet di Desa Giriwinangun Kecamatan Rimbo Ilir,
Omorusi VA. 2012. Effect of White Root Rot Disease on Hevea brasilienis (Muell. Arg.). Challenges and Control Approach. Plant Protect Division.
Rubber Research Institute of Nigeria. PMB Iyanomo. Benin City.
Nigeria.
Pulungan M A., Lubis L., Zahara F dan Fairuzah Z. 2014. Uji Efektifitas Trichoderma harzianum Dengan Formulasi Granular Ragi untuk Mengendalikan Penyakit Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus (Swartz:Fr.) Van Ov) pada Tanaman Karet di Pembibitan. Jurnal Online Agroekoteknologi. 2 (2) : 497- 512.
Purwitasari, S., dan Hastuti, R. B. 2009. Isolasi dan Determinasi Jamur Indigenous Rhizosfer Tanaman Kentang dari Lahan Pertanian Kentang Organik di Desa Pakis, Magelang. BIOMA. FMIPA Universitas Diponegoro. Semarang. Vol. 11, No. 2. 45-53
Purwantisari S, Rini BH. 2009. Isolasi dan identifikasi cendawan indigenous rizosfer tanaman kentang dari lahan pertanian kentang organik di Desa Pakis, Magelang. J Bioma. 11(2):45–53.
Purwitasari, S., dan Hastuti, R. B. 2009.Isolasi dan Determinasi Jamur Indigenous Rhizosfer Tanaman Kentang dari Lahan Pertanian Kentang Organik di Desa Pakis, Magelang. BIOMA. FMIPA Universitas Diponegoro.
Semarang. Vol. 11, No. 2. 45-53
Rahayu M S. 2016. Distribusi Peta Awal Serangan Penyakit Jamur Akar Putih (JAP) (Rigidoporus microporus (Swartz: Fr)) pada beberapa Perkebunan Karet Rakyat di Kabupaten Asahan. Skripsi Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU. Medan.
Rahayu S., Sujatno dan Pawirosoemardjo. 2006. Manajemen Pengedalian Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet. Balai Penelitian Karet.
Sungai Putih. hal: 259-262
Semangun H. 2008. Penykit-penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Cetakan Kelima. UGM Press. Yogyakarta.
Schröder, P and A. Hartmann. 2003. New Developments in Rhizosphere Research. J Soils & Sediments 3 (4): 227
Soesanto L, 2008. Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman. Jakarta:
Rajawali Pers.
Sunarwati, D. dan R. Yoza. 2010. Kemampuan Trichoderma dan Penicillium dalam Menghambat Pertumbuhan Cendawan Penyebab Penyakit Busuk Akar Durian (Phytophthora palmivora) Secara In Vitro. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Seminar Nasional Program dan Strategi
Pengembangan Buah Nusantara. Solok, 10 Nopember 2010. Hal. 176- 189.
Suwandi, 2008. Evaluasi kombinasi isolat Trichoderma mikoparasit dalam mengendalikan penyakit akar putih pada bibit karet. J. HPT Tropika 8 (1) : 55-62.
Watanabe T. 2002. Pictorial Atlas of Soil and Seed Fungi Morphologies of Cultured Fungi and Key to Species. Secend Editions. CRC Press. New York.
Widiantini F., Purnama A., Yulia E dan Formanda D. 2016. Keefektifan Oligochitosan dalam Menekan Pertumbuhan Jamur Patogen Rigidoporus lignosus [(Klotzsch) Imazeki] Penyebab Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Cengkeh secara in Vitro. Jurnal Agrikultura. 27 (1): 59-64.
Winarno, R. 1992. Ekologi Sebagai Dasar untuk Memahami Tatanan dalam Lingkungan Hidup. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang.
Yuniarti F. 2010. JAP Pada Tanaman Karet. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP). Surabaya.
Lampiran 1. Foto uji antagonis jamur rhizosfer terhadap JAP
Lampiran 2. Data daerah hambatan isolat rhizosfer sehat terhadap JAP 1 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SK1 x JAP 20,00 25,00 0,00 45,00 15,00
SK2 x JAP 20,00 25,00 0,00 45,00 15,00
SK3 x JAP 25,00 25,00 0,00 50,00 16,67
SK4 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK5 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK6 x JAP 0,00 0,00 33,33 33,33 11,11
SK7 x JAP 0,00 0,00 25,00 25,00 8,33
SK8 x JAP 33,00 0,00 0,00 33,00 11,00
SK9 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK10 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK11 x JAP 25,00 0,00 0,00 25,00 8,33
SS12 x JAP 20,00 0,00 0,00 20,00 6,67
Total 143,00 75,00 58,33 276,33
Rataan 11,92 6,25 4,86 7,68
FK 2121,063
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 1345,57 122,32 0,80 2,22
Galat 24 3683,26 153,47
Total 35 5028,83
KK 161%
2 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SS1 x JAP 66,66 45,45 66,66 178,77 59,59
SS2 x JAP 43,75 63,63 36,36 143,74 47,91
SS3 x JAP 22,22 8,33 27,27 57,82 19,27
SS4 x JAP 32,00 33,33 0,00 65,33 21,78
SS5 x JAP 46,15 0,00 30,00 76,15 25,38
SS6 x JAP 7,69 30,76 33,33 71,78 23,93
SS7 x JAP 12,50 18,18 31,57 62,25 20,75
SS8 x JAP 62,50 42,85 27,27 132,62 44,21
SS9 x JAP 71,42 60,00 55,55 186,97 62,32
SS11 x JAP 41,66 36,36 33,33 111,35 37,12
SS12 x JAP 73,33 66,66 54,54 194,53 64,84
Total 479,88 428,62 420,88 1329,38
Rataan 39,99 35,72 35,07 36,93
FK 49090,311
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 10961,23 996,48 5,14 2,22
Galat 24 4651,09 193,80
Total 35 15612,32
KK 38%
3 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SS1 x JAP 90,00 86,36 80,76 257,12 85,71
SS2 x JAP 73,33 80,00 78,26 231,59 77,20
SS3 x JAP 51,72 57,14 13,63 122,49 40,83
SS4 x JAP 50,00 33,33 0,00 83,33 27,78
SS5 x JAP 78,57 27,27 36,84 142,68 47,56
SS6 x JAP 53,33 86,95 46,15 186,43 62,14
SS7 x JAP 55,55 65,00 80,00 200,55 66,85
SS8 x JAP 50,00 36,36 18,75 105,11 35,04
SS9 x JAP 53,84 60,00 64,28 178,12 59,37
SS10 x JAP 66,67 66,67 60,00 193,34 64,45
SS11 x JAP 66,67 70,00 60,00 196,67 65,56
SS12 x JAP 50,00 54,54 76,66 181,20 60,40
Total 739,68 723,62 615,33 2078,63
Rataan 61,64 60,30 51,28 57,74
FK 120019,52
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 9545,17 867,74 3,32 2,22
Galat 24 6263,47 260,98
Total 35 15808,64
KK 28%
4 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
SS1 x JAP 90,00 93,33 86,66 269,99 90,00
SS2 x JAP 76,66 83,33 83,33 243,32 81,11
SS3 x JAP 70,00 66,66 70,00 206,66 68,89
SS4 x JAP 50,00 33,33 0,00 83,33 27,78
SS5 x JAP 83,33 27,27 63,33 173,93 57,98
SS6 x JAP 72,72 73,33 53,33 199,38 66,46
SS7 x JAP 55,55 80,00 80,00 215,55 71,85
SS8 x JAP 40,00 53,33 50,00 143,33 47,78
SS9 x JAP 53,84 60,00 64,28 178,12 59,37
SS10 x JAP 66,67 66,67 60,00 193,34 64,45
SS11 x JAP 64,70 70,00 76,66 211,36 70,45
SS12 x JAP 50,00 66,66 76,66 193,32 64,44
Total 773,47 773,91 764,25 2311,63
Rataan 64,46 64,49 63,69 64,21
FK 148434,26
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 8203,59 745,78 4,22 2,22
Galat 24 4242,87 176,79
Total 35 12446,46
KK 21%
5 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SS1 x JAP 90,00 93,33 90,00 273,33 91,11
SS2 x JAP 90,00 83,33 83,33 256,66 85,55
SS3 x JAP 70,00 66,66 73,33 209,99 70,00
SS4 x JAP 50,00 33,33 0,00 83,33 27,78
SS5 x JAP 86,66 27,27 60,00 173,93 57,98
SS6 x JAP 72,72 73,33 53,33 199,38 66,46
SS7 x JAP 55,55 80,00 80,00 215,55 71,85
SS8 x JAP 40,00 53,33 43,33 136,66 45,55
SS9 x JAP 53,84 60,00 64,28 178,12 59,37
SS10 x JAP 66,67 66,67 60,00 193,34 64,45
SS11 x JAP 64,70 70,00 33,33 168,03 56,01
SS12 x JAP 50,00 66,66 76,66 193,32 64,44
Total 790,14 773,91 717,59 2281,64
Rataan 65,85 64,49 59,80 63,38
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 9218,50 838,05 3,93 2,22
Galat 24 5111,99 213,00
Total 35 14330,49
KK 23%
6 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SS1 x JAP 90,00 93,33 86,66 269,99 90,00
SS2 x JAP 90,00 83,33 83,33 256,66 85,55
SS3 x JAP 70,00 66,66 80,00 216,66 72,22
SS4 x JAP 50,00 33,33 0,00 83,33 27,78
SS5 x JAP 90,00 27,27 60,00 177,27 59,09
SS6 x JAP 72,72 73,33 53,33 199,38 66,46
SS7 x JAP 55,55 80,00 80,00 215,55 71,85
SS8 x JAP 40,00 53,33 43,33 136,66 45,55
SS9 x JAP 53,84 60,00 64,28 178,12 59,37
SS10 x JAP 66,67 66,67 60,00 193,34 64,45
SS11 x JAP 64,70 70,00 33,33 168,03 56,01
SS12 x JAP 50,00 66,66 76,66 193,32 64,44
Total 793,48 773,91 720,92 2288,31
Rataan 66,12 64,49 60,08 63,56
FK 145454,52
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 9106,48 827,86 3,68 2,22
Galat 24 5400,01 225,00
Total 35 14506,49
KK 24%
7 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SS1 x JAP 90,00 93,33 86,66 269,99 90,00
SS2 x JAP 90,00 83,33 83,33 256,66 85,55
SS3 x JAP 70,00 66,66 80,00 216,66 72,22
SS4 x JAP 50,00 33,33 0,00 83,33 27,78
SS5 x JAP 93,33 27,27 66,66 187,26 62,42
SS7 x JAP 55,55 80,00 80,00 215,55 71,85
SS8 x JAP 40,00 53,33 46,66 139,99 46,66
SS9 x JAP 53,84 60,00 64,28 178,12 59,37
SS10 x JAP 66,67 66,67 60,00 193,34 64,45
SS11 x JAP 64,70 70,00 33,33 168,03 56,01
SS12 x JAP 50,00 66,66 76,66 193,32 64,44
Total 796,81 773,91 730,91 2301,63
Rataan 66,40 64,49 60,91 63,93
FK 147152,8
Sk db JK KT Fhitung F 5%
Perlakuan 11 8929,17 811,74 3,46 2,22
Galat 24 5632,76 234,70
Total 35 14561,92
KK 24%
Lampiran 3. Data daerah hambatan isolar rhizosfer terserang terhadap JAP 1 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SK1 x JAP 0,00 33,33 0,00 33,33 11,11
SK2 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK3 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK4 x JAP 50,00 0,00 0,00 50,00 16,67 SK5 x JAP 50,00 0,00 0,00 50,00 16,67 SK6 x JAP 50,00 0,00 0,00 50,00 16,67 SK7 x JAP 0,00 0,00 33,33 33,33 11,11
SK8 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK9 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
SK10 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 SK11 x JAP 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Total 150,00 33,33 33,33 216,66
Rataan 13,64 3,03 3,03 6,57
FK 1303,932
Sk db JK KT Fhitung F 5% Keterangan
Perlakuan 10 1936,66 193,67 0,66 2,30 tn Galat 22 6481,19 294,60
Total 32 8417,85
KK 261%
2 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SK1 x JAP 8,33 0,00 10,00 18,33 6,11 SK2 x JAP 0,00 0,00 30,76 30,76 10,25 SK3 x JAP 72,72 76,92 54,54 204,18 68,06 SK4 x JAP 68,75 53,33 66,66 188,74 62,91 SK5 x JAP 40,00 50,00 25,00 115,00 38,33 SK6 x JAP 33,33 33,33 50,00 116,66 38,89 SK7 x JAP 33,33 33,33 40,00 106,66 35,55 SK8 x JAP 20,00 33,33 55,55 108,88 36,29 SK9 x JAP 46,66 46,66 54,54 147,86 49,29 SK10 x JAP 64,28 75,00 54,54 193,82 64,61
Total 443,65 448,56 461,59 1353,80
Rataan 40,33 40,78 41,96 41,02
FK 50910,4
Sk db JK KT Fhitung F 5% Keterangan
Perlakuan 10 16821,54 1682,15 11,41 2,30 * Galat 22 3244,24 147,47
Total 32 20065,79
KK 30%
3 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SK1 x JAP 4,54 8,69 5,00 18,23 6,08 SK2 x JAP 0,00 4,54 12,00 16,54 5,51 SK3 x JAP 85,00 82,35 69,23 236,58 78,86 SK4 x JAP 86,66 70,00 66,66 223,32 74,44 SK5 x JAP 25,00 33,33 25,00 83,33 27,78 SK6 x JAP 66,66 50,00 55,55 172,21 57,40 SK7 x JAP 33,33 33,33 40,00 106,66 35,55 SK8 x JAP 33,33 50,00 66,66 149,99 50,00 SK9 x JAP 73,91 66,66 72,22 212,79 70,93 SK10 x JAP 69,23 72,22 72,72 214,17 71,39 SK11 x JAP 75,00 65,21 27,27 167,48 55,83
Total 552,66 536,33 512,31 1601,30
Rataan 50,24 48,76 46,57 48,52
FK 71226,71
Sk db JK KT Fhitung F 5% Keterangan
Perlakuan 10 27479,71 2747,97 23,82 2,30 * Galat 22 2538,30 115,38
Total 32 30018,01
KK 22%
4 HSI
Isolat Ulangan
Total Rataan
I II III
SK1 x JAP 26,66 23,33 30,00 79,99 26,66