BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkawinan adalah bagian hidup yang sakral karena harus memperhatikan norma dan kaidah dalam masyarakat. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang berprinsip demikian. Berbagai alasan pembenaran yang cukup masuk akal dan bisa diterima oleh masyarakat membuat perkawinan sering kali tidak dihargai kesakralannya. Perkawinan adalah satu-satunya ritual pemersatu dua insan dan diakui secara resmi dalam hukum kenegaraan dan hukum agama.
Pelaksanaan perkawinan di Indonesia mempunyai beberapa jenis. Jenis perkawinan di Indonesia diantaranya ada perkawinan lewat Kantor Urusan Agama (KUA), perkawinan bawa lari, dan perkawinan yang sangat populer di kalangan masyarakat yaknui kawin siri. Perkawinan yang tidak dicatatkan atau yang dikenal dengan macam-macam istilah lain seperti “kawin bawah tangan”, “kawin siri”
atau “kawin siri adalah perkawinan yang dilakukan berdasarkan aturan agama atau adat istiadat dan tidak dicatatkan di Kantor Pegawai Pencatat Kawin (KUA bagi yang beragama islam, Kantor Catatan Sipil Bagi Non-Muslim). Kata siri berasal dari bahasa arab sirra, israr yang berarti rahasia. Kawin siri menurut arti katanya perkawinan yang dilakukan dengan sembunyi sembunyi atau rahasia.
Dengan kata lain,kawin siri tidak disaksikan oleh orang banyak dan tidak
agama.1
1 Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam islam, (Jakarta: Hidaka karya agung, 1979). Cet.
Kedelapan. Hal.176.
Dalam rangka mengatur dan memberi pedoman tentang perkawinan pemerintah telah mengelurkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Dalam Undang-Undang tersebut pada Bab 1 Pasal menyebutkan bahwa definisi perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.2
Dalam islam perkawinan memiliki syarat dan rukun, jika syarat dan rukunnya telah terpenuhi maka hukumnya sah. Hal ini berbeda dengan pandangan peraturan perkawinan Indonesia, suatu perkawinan selain harus terpenuhi syarat dan rukun kawin, perkawinan itu juga harus dicatatkan oleh pejabat yang berwenang, sehingga perkawinan tersebut mempunyai kekutatan hukum. Oleh karena itu dalam pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Pekawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.3
Dalam pasal 7 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Kawin yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Kawin, maka bagi masyarakat yang tidak mempunyai Akta Kawin dapat mengajukan isbat kawin ke Pengadilan Agama (ayat 2). Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa isbat kawin yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan:
a. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian.
b. Hilangnya Akta Kawin
c. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan
2 BAB 1 Pasal 1, Undang‐Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
3 Pasai 2 ayat (1) Undang‐Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
d. Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 tahun 197; dan
e. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. 4
Perkawinan yang tidak dicatatkan sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan di atas biasanya dikenal dengan kawin siri. Secara administrasi Negara perkawinan siri melanggar aturan yang berlaku. Perkawinan tersebut walaupun secara agama sah tetapi tidak dilakukan pencatatan secara sah menurut undang- undang yang berlaku mengakibatkan perkawinan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum, dan karenanya dianggap tidak pernah ada dalam catatan Negara atau dengan kata lain perkawinan tersebut tidak diakui oleh Negara. Dengan demikian, kawin siri dianggap tidak mematuhi atau tidak mentaati peraturan pemerintah yang
sah. Namun sejauh ini belum ada sanksi secara tegas bagi pelaku kawin siri, agar pasangan yang ingin melakukan kawin siri merasa takut dan jera untuk melakukan kawin siri.5
Dalam pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa “tiap-tiap perkawinan harus dicatat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Dengan demikian, setiap perkawinan harus didaftar dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Kawin (PPN) di
4 Pasal 7 ayat (4) Komplikasi Hukum Islam
5 Agus Arifin mekawin untuk Bahagia "figih kawin dan kamasutra islami”, ( Jakarta: PT Elex Media Kompotindo, 2013), him. 337.
kantor Pencatatan Kawin Kecamatan sesuai dengan peraturan perundng- undangan.6
Di dalam kehidupan masyarakat peraturan tersebut masih belum dapat teraplikasikan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perkawinan yang tidak dicatatkan (kawin siri) di kalangan masyarakat. Padahal jika meninjau dari tujuan adanya aturan pencatatan perkawinan adalah untuk memberikan jaminan dan perlindungan hukun kepada pasangan suami istri serta anak-anak yang akan dilahirkan. Dengan diberlakukannya aturan pencatatan perkawinan tersebut maka status hubungan hukum pasangan suami istri yang telah mekawin dan tidak dicatatkan dianggap perkawinannya tidak pernah terjadi, dan jika mereka melakukan hubungan seksual dan melahirkan anak,maka anak tersebut tidak mempunyai status hukum anak sah.
Kawin siri dapat diartikan sebagai kawin yang dirahasiakan yang hanya diketahui oleh pihak yang ada di dalam akad tersebut, yaitu dua orang saksi,wali, dan kedua mempelai. Ada pula kawin siri dalam persepsi masyarakat, yaitu perkawinan yang dilakukan menurut agama tapi tanpa dicatatkan secara resmi ke Kantor Urusan Agama (KUA).
Ada beberapa dugaan tentang alasan mengapa kawin siri dengan segala resikonya masih dijadikan sebagai alternatif. Di kalangan masyarakat yang awam hukum dan masyarkat ekonomi lemah, bisa disebabkan karena keterbatasan dana sehingga dengan prosedur yang praktis tanpa dipungut biaya, perkawinan bisa dilaksanakan. Bila dilihat dari aspek agama, ada kemungkinan khawatir
6 Pasal 2 ayat (2) Undang‐Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
melakukan dosa dan terjebak dalam perbuatan maksiat, maka perkawinan dengan prosedur yang cepat dan dianggap sah telah memberikan ketenangan batin tersendiri.7
Kabupaten Pamekasan terdiri dari 13 kecamatan yang terbagi menjadi dua zona Pamekasan selatan dan pantura (pantai utara), Pamekasan Selatan dikenal dengan daerah pinggiran kota dan sebagian besar masyarakatnya berpendidikan sedangkan daerah pantura sebagian masyarakatnya tidak berpendidikan. Praktik kawin siri paling banyak terjadi di wilayah utara Pamekasan salah satunya Kecamatan Proppo.
Fenomena kawin siri masih banyak terjadi di berbagai tempat, salah satunya di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan. Berdasarkan data putusan isbat kawin pada tahu 2016 dari Pengadilan Agama Pamekasan ada sebanyak 114 perkara kawin siri yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang tinggal diwilayah kewenangan KUA Kecamatan Proppo.8
Pada umumnya perempuan di Desa Tattangoh menginginkan perkawinan yang sah dan resmi. Namun mereka terpaksa melangsungkan perkawinan siri karena kendala administrasi pengurusan perkawinan. Salah satu contoh permasalahan yang umum ialah tidak ada izin dari istri pertama bagi mereka yang berpoligami.
Beberapa kasus lainnya ialah seorang wanita terpaksa harus mekawin siri karena desakan keluarga besarnya (apalagi jika dia sudah janda). Sedangkan pria yang sudah memiliki istri tidak diijinkan untuk mekawin lagi. Maka perkawinn
7 A. Zuhdi Mudhlor, memahami hukum perkawinan (kawin, talak, cerai, dan rujuk) menuju keluarga bahagia (Bandung Al‐Bayan, 1994), him. 22.
8 Berdasarkan Data Isbat Kawin Tahun 2016 Dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Proppo.
siri menjadi solusinya. Bagi masyarakat Madura orang yang berpacaran harus segera mekawin agar tidak berzina.
Di dalam masyarakat Madura perkawinan merupakan sesuatu yang harus dipercepat. Dalam pandangan orang madura orang yang mekawin memiliki posisi yang lebih baik dalam masyarakat daripada orang yang belum mekawin. Oleh karena itu orang Madura akan segera mekawinkan anak perempuannya jika sudah lulus sekolah walaupun masih belum cukup umur. Sistem Patriarki di Madura masyarakat masih beranggapan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, jika harus kawin padahal belum cukup umur menurut hukum, kawin siri adalah solusinya. Secara umum dalam masyarakat Madura dan kususnya masyarakat di Kecamatan Proppo perkawinan siri diartikan sebagai perkawinan pada umumnya, yaitu untuk membentuk suatu keluarga.
Proses pelaksanaan kawin siri di Desa Tattangoh memenuhi syarat kawin islami, mereka adalah mempelai perempuan dan laki-laki, keberadaan sedikitnya dua orang saksi, wali (wali pengantin perempuan atau kerabt laki-laki yang secara hukum bertanggung jawab atas pengantin perempuan, mahar (mas kawin) dan ijab gabul (persetujuan yang diberikan). Mereka juga menggelar walimatul “ursy”
dengan mengundang kerabat dan tetangga sebagai bentuk pengumuman perkawinan.
Dampak yang sangat dirasakan perempuan dan anak dari perkawinan siri tersebut. Anak kawin siri tidak bisa memiliki akta kelahiran pasalnya salah satu syarat pengurusan akta kelahiran adalah akta kawin. Wanita tidak bisa meminta cerai jika menghadapi masalah dalam rumah tangganya hal ini dikarenakan hak
cerai dalam islam ada di tangan Suami sehingga keputusan cerai ada di pihak suami.9
Orang yang sangat dipercaya mekawinkan dalam kawin siri adalah tokoh masyarakat atau kyai atau mereka yang dipandang telah mengetahui hukum- hukum munakahat (perkawinan). Bagi masyarakat Madura khususnya Desa Tattangoh kyai adalah orang yang paling dihormati dibandingkan dengan golongan sosial yang lain, sosok kyai dipandang sebagai sosok yang serba tahu segalanya, dimana setiap perkataanya dipatuhi dan dilakasanakan demi mendapatkan barokah.10
Seiring dengan perkembangannya kerena sah dan tidaknya suatu perkawinan sesuai dengan agamanya maka kawin siri sangat marak dan menjadi ngetrend. Baik politisi,pengusaha, kyai dan orang biasa/asyarakat pada umumnya di Kabupaten Pamekasan Madura. Bahkan ada yang malah bermaksud mengadukan perkara ke pengadilan perihal satu pihak merasa tidak pernah sekalipun melakukan kawin siri sedangkan pihak lain melakukan klaim bahwa ia telah melakukan perkawinan tersebut. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai kawin siri dengan judul “Analisis Praktik Kawin Siri di Desa Tattngoh Kabupaten Pamekasan”.
B. Rumusan Masalah
1. Mengapa terjadi praktik kawin siri di Desa Tattangoh Kabupaten Pamekasan?
9 Affandi, 1990. Adat dan Upacara Perkawinan Masyarakat Madura Di Kabupaten Jember.Jember.
Universitas Jember.
10 Zuhdi Mudholor, Memahami Hukum Perkawinan ( Kawin, Talak, Cerai, dan Rujuk),( Bandung:
Al‐Bayan, 1995), him. 22
2. Bagaimana cara penyelesaian masalah apabila terjadi konflik dari kawin siri yang berkaitan dengan hukum positif?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui mengapa terjadi praktik kawin siri di Desa Tattangoh Kabupaten Pamekasan.
2. Untuk mendapatkan informasi mengenai cara penyelesaian apabila terjadi konflik dari kawin siri yang berkaitan dengan hukum positif.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat penelitian hpktim ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Bagi penulis penelitian ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana (strata-I) yang merupakan tugas akhir sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana dengan tujuan untuk menilai kecakapan seorang calon sarjana hukum.
2. Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat Desa Tattangoh, dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi tambahan pengetahuan mengenai praktik perkawinan siri.
E. Metode Penelitian 1. Metode Pendekatan
Uraian serta pembahasan masalah akan ditelusuri dengan menggunakan pendekatan yuridis sosiologis yang mengacu pada aplikasi dan fenomena yang berkembang dilingkup masyarakat sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian dengan yuridis sosiologis adalah penelitian hukum secara sistematis dan intensif melakukan kajian terhadap aspek hukum, yaitu yuridis dari prespektif hukum peraturan perundang-undangan dan aspek sosial, yang mana merupakan aplikasi fenomena di masyarakat.
2. Jenis Data
a. Data Primer yaitu berupa data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat di lapangan melalui kegiatan hasil wawancara dan dokumentasi. Data primer dalam penelitian ini didapatkandengan cara melakukan wawancara langsung dengan Kepala Desa Tattangoh dan masyarakat Desa Tattangoh yang melakukan praktik kawin siri.
b. Data Sekunder yaitu merupakan data pendukung untuk melengkapi data primer.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data akan dilakukan berdasrkan jumlah populasi masyarakat Desa Tattangoh dengan teknik sampling tertentu sesuai dengan pokok pembahasan dalam penelitian ini.
Sebuah penelitian pasti dihadapkan dengan masalah sumber data yang dapat disebut sebagai populasi dan sampel penelitian. Sumber data dalam penelitian merupakan subjek darimana data dapat diperoleh atau didapatkan. Sebagai populasi, kelompok subjek harus memiliki ciri atau karakter bersama yang dapat membedakan dari kelompok subjek lainnya.
Dari populasi ini penulis mengambil sampel yang diharapkan mampu mewakili suatu populasi. Populasi di dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Tattangoh Kabupaten Pamekasan yang melakukan perkawinan siri.
Pengambilan sampel penulis mengambil 5% dari populasi terhadap masyarakat yang melakukan kawin siri di Kecamatan Desa Tattangoh Kabupaten Pamekasan.
Teknik pengambilan sampel, penulis menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel untuk mendapatkan sumber data dengan mempertimbangkan suatu hal atau adanya pertimbangan tertentu.11
Adapun alasan penulis memilih dan menggunakan teknik purpose sampling adalah penulis ingin mencari informasi, data, dan fakta mengenai bagaimana praktik kawin siri terjadi di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan. Untuk mendapatkan data yang sesuai dalam menjawab topik yang penulis angkat, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
11Sugiyono, 2016, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan, Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D Bandung: CV Alfabeta. Hal. 85
a) Wawancara
Wawancara secara mendalam, suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber untuk mendapatkan informasi Yang mendalam terkait masalah yang diteliti yaitu analisis praktik kawin siri di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan. Dalam hal ini penulis menentukan sampel responden yaitu masyarakat yang melakukan kawin siri di Kecamatan Proppo dipilih yang kawin siri dan mempunyai konflik hukum positif yaitu:
a. Kepala Desa Tattangoh.
b. Masyarakat yang melakukan kawin siri dan c. Tokoh masyarakat yang mengawinkan siri.
b) Dokumentasi
Suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian, yaitu seperti data-data pelaku kawin siri.
c) Studi Pustaka
Studi Pustaka adalah kegiatan menghimpun informasi yang diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, internet dan sumbersumber lain yang berkaitan dengan penulisan hukum ini.
4. Analisa Data
Bahan hukum yang sudah dikaji akan dianalisis dan diidentifikas kemudian ditentukan pokok isi secara objektif dan sistematis.
F. Sistematika Penulisan
Sesuai dengan urutannya dalam menyusun tugas akhir ini, maka penulis akan menyajikan empat bab yaitu, BAB I, BAB II, BAB 1I1, Dan BAB IV dengan penjelasan sebagai berikut:
BAB I: PENDAAHULUAN
BAB pendahuluan ini akan diurai tentang latar belakang, rumusan masalah, meliputi pertanyaan yang terfokus dan terspesifikasi terhadap masalah yang akan diteliti serta merupakan dasar pemilihan judul penelitian hukum. Manfaat peneltian, metode penelitian yang menguraikan tentang metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian, jenis dan sumber data yang digunakan. Teknik pengumpulan data dan teknik menganalisa data penelitian, serta sistematika pembahasan
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
BAB ini merupakan kerangka dasar teori penelitian dalam menganalisa pembahasan permasalahan yang akan diteliti meliputi: pengertian perkawinan, pengertian kawin siri.
BAB III: PEMBAHASAN
BAB ini berisi hasil dari penelitian yang telah dikaji, dan dianalisa, dalam BAB ini juga penulis akan memaparkan hasil penelitian terkait dengan analisa praktik kawin siri Di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan.
BAB IV: PENUTUP
BAB ini berisikan kesimpulan dari pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya dan juga saran dari penulis yang disampaikan untuk menjawab dan mencari penyelesaian dari permasalahan yang ada.