1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Media audio-visual seperti film dan televisi merupakan media massa yang mengalami perkembangan pesat. Tayangan televisi saat ini mempunyai kecenderungan untuk mengabaikan ketentuan yang sudah ditetapkan, dan juga media televisi sangat berpengaruh untuk menyampaikan pesan baik atau buruk.
Kekerasan dalam media televisi dapat memicu kekerasan sebenarnya dalam dunia nyata. Menurut sebuah hasil studi di Amerika Serikat oleh American Psychological Association di tahun 1995, ada tiga kesimpulan menarik yang perlu diperhatikan dalam merepresentasikan program yang memiliki konten kekerasan dapat meningkatkan perilaku agresif, memperlihatkan tayangan kekerasan secara berulang dapat menyebabkan ketidakpekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban. Tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga menciptakan representasi dalam diri pemirsa (Haryatmoko, 2007, p.124).
Di sebagian besar masyarakat di dunia, televisi merupakan sarana komunikasi utama. Tidak ada media lain yang dapat menandingi televisi dalam hal volume teks budaya pop yang diproduksinya dan banyaknya penonton. Dari segi program yang disajikan, pengabaian ketetapan oleh televisi terlihat dari ditonjolkannya unsur seksualitas, hedonism dan kekerasan. Bahkan anak-anak dan remaja, semakin banyak kekerasan yang mereka lihat, semakin berkurang aktifitas berfikir, belajar, melakukan pertimbangan, dan kontrol emosi pada otak.
Pada sisi lain, berbagai bentuk tayangan yang memuat adegan kekerasan dan tema lainnya akan terus bertambah intensitasnya (Mulkan, 2005).
Menurut kriteria yang dikembangkan oleh YKAI (Yayasan Konsumen Anak Indonesia), terdapat 25% yang dapat dikategorikan aman untuk anak. Sisanya, tayangan anak tidak berkualitas dan tidak aman dikonsumsi pemirsanya. YKAI memiliki kategori aman tersendiri. Pertama, program anak tidak menempatkan tema anti sosial, tema seksualitas, tema mistik, dan tema-tema yang bertentangan dengan pendidikan sebagai daya tarik acara tersebut. Misalnya, kekerasan fisik, seksual, kekerasan mental, dan sebagainya. Kedua, program tersebut memiliki alur cerita yang simpel, memperlihatkan batas yang jelas antara baik dan buruk,
2
Universitas Kristen Petra
boleh dan tidak boleh, dan tidak mendua. Ketiga, tidak menggunakan kata yang tidak pantas diucapkan dan didengar oleh anak. Misalnya, kata-kata kasar yang biasanya diucapkan oleh orang dewasa Keempat, akan lebih baik jika program itu dapat menumbuhkan salah satu nilai positif pada anak. Misalnya, kreatif, berpikiran kritis, menumbuhkan rasa ingin tahu, keinginan membaca, menumbuhkan keinginan berempati dan menolong orang lain, menghargai budaya lain (Sunarto, 2009, p. 106).
Berdasarkan penelitian terdahulu yang berjudul Jenis-jenis kekerasan dalam film animasi pendek di televisi Indonesia (Rony Gunawan, 2012. p. 57), ditemukan hasil terdapatnya 221 kali adegan kekerasan yang ditunjukkan pada 5 film, yaitu Shaun The Sheep, Larva, Oscar’s Oasis, The Owl, dan Glumpers. Dari semua jenis kekerasan, yang paling sering ditunjukkan atau yang mendominasi dalam 5 film animasi tersebut adalah jenis kekerasan fisik.
Kekerasan yang ditayangkan dalam televisi berupa film, fiksi, siaran, iklan menjadi industri budaya yang tujuan utamanya ialah mengejar rating program tinggi dan sukses pasar (Haryatmoko, 2007, p.121). Kekerasan yang muncul dalam televisi tidak lagi hanya terdapat dalam program seperti berita, film lepas, serial, maupun sinetron, kekerasan juga muncul dalam tayangan film animasi yang memiliki penonton anak-anak. Padahal televisi seharusnya memberikan tiga fungsi yang utama, yaitu informasi, hiburan, dan edukasi (Effendy, 2007, p. 226).
Anak belajar banyak dari media. Mereka meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka mengidentifikasi dengan karakter yang mereka lihat. Anak-anak jarang menyatakan pelajaran yang mereka pelajari dengan kata-kata. Namun secara implisit, secara verbal, atau tidak tertulis, mereka belajar bagaimana berprilaku di dunia, bahkan saat menonton karakter seperti Scooby Doo atau boneka seperti di Sesame Street. Mereka meniru dan meniru apa yang mereka lihat. Mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka lihat. (Drinka, 2013).
Tayangan yang mengandung kekerasan makin marak bermunculan di media, dan dapat mendorong anak memiliki persepsi yang sama dengan apa yang ditampilkan tayangan tersebut. Dalam sebuah penelitian mengenai adegan kekerasan dalam televisi, ditemukan bahwa film yang ditayangkan di televisi
3
Universitas Kristen Petra
membuat anak-anak menjadi agresif. Baku hantam sampai menyebabkan korban lebih sering terjadi pada anak-anak (Suyanto, 1996, p. 11).
Penelitian di Amerika mengenai pengaruh TV mengatakan bahwa filmfilm yang menayangkan banyak adegan kekerasan dan seksual menimbulkan pengaruh yang mengkhawatirkan. Misalnya, film Power Rangers yang mengobral kekerasan. Hal ini dapat membuat penonton meniru apa yang dikonsumsinya.
Perilaku yang ditiru tidak sekedar bersifat fisik dan verbal, namun justru nilainilai yang dianut oleh tokoh-tokoh pada acara tersebut. Pengaruh TV tidak selalu dapat dilihat langsung, namun terpaan yang berulang-ulang pada akhirnya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan penonton (Mulyana, 1999, p. 143).
Sebuah riset oleh Iowa State University yang dipublikasikan dalam jurnal dari Applied Developmental Psychology juga menemukan bahwa tayangan yang ditujukan kepada anak-anak seperti film animasi Scooby Doo dan Pokemon memiliki konten kekerasan yang lebih dibandingkan tayangan umum. Riset ini juga menemukan bahwa kalangan muda memiliki kecenderungan untuk mengikuti apa yang mereka lihat di TV dan mempraktekannya di sekolah (Clark, The Daily Mail, 2009).
Sebuah hasil penelitian yang dilansir Jurnal Kedokteran Inggris (BMJ) menyatakan bahwa film animasi untuk anak-anak mengandung lebih banyak adegan kekerasan dibandingkan film untuk orang dewasa. Dr. Ian Colman dan Dr.
James Kirkbride meneliti 45 film animasi terkenal kategori Bimbingan Orang Tua atau Umum sejak 1937 hingga 2013. Artinya, sejak era Snow White and The Seven Dwarfs hingga Frozen. Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa dalam film animasi anak-anak, pemeran utamanya memiliki lebih dari dua kali kesempatan untuk mati ataupun terbunuh. Film anak-anak tersebut, menurut sang peneliti, tidak hanya mengandung unsur kekerasan yang mengerikan bila menjadi konsumsi anak, tetapi juga mengajarkan anak terkait kematian dan kehilangan (Priherditryo, CNN Indonesia, 2014).
Menurut Fyfe, program yang memiliki penonton anak-anak memiliki konten yang berbeda dari televisi biasa, sehingga penyesuaian diperlukan untuk mengulas program tayangan tersebut (PTC, 2006, p. 5). Sehingga peneliti memilih teori ini untuk digunakan sebagai tolak ukur.
4
Universitas Kristen Petra
Dengan adanya fenomena mengenai kekerasan dalam film animasi, peneliti ingin mengetahui frekuensi kekerasan yang terdapat dalam film animasi serial TV The Simpsons sebagai subjek penelitian. The Simpsons merupakan sebuah animasi karya Matt Groening yang ber-genre komedi, dimana nama-nama karakter keluarga Simpsons berasal dari nama asli keluarga yang dimiliki Matt.
Homer yang merupakan ayah dari Matt, Margareth yang digambarkan sebagain Marge, dan juga Lisa maupun Maggie yang merupakan saudara kandungnya di dunia nyata, hanya saja dia menggunakan Bart sebagai pengganti namanya yang merupakan analogi dari “Brat” atau anak nakal. Animasi ini debut sebagai sebuah tayangan pendek yang mengisi sebagian kecil dari acara Tracy Ulman Show di 19 April 1987. Setelah berjalan selama 3 seri, tayangan ini berkembang dan berubah menjadi sebuah acara bernama The Simpsons yang memulai debut di 17 Desember 1989. Acara ini menjadi sangat tenar di Fox dan menjadi series yang memasuki top 30 rating dalam penayangan. (biography.com, 2014).
The Simpsons dinobatkan menjadi animasi terbaik sepanjang masa oleh IGN (2017) yang merupakan sebuah perusahaan entertainment internasional di bidang media yang terletak di San Francisco, Amerika Serikat.
Gambar: 1.1 Peringkat The Simpsons Sumber: IGN, 2017
5
Universitas Kristen Petra
The Simpsons juga sudah memperoleh banyak penghargaan bertaraf internasional seperti Nickolodeon’s Kids Choice, Bristish Comedy Award, People Choice Award, Fox’s Teen Choice Award, dan The Simpsons juga memperoleh 35 awards, dan 85 nominasi pada Emmys Award, memperoleh 30 awards, dan 48 nominasi pada Annie Award, mengalahkan semua film animasi yang pernah diproduksi dan diakui oleh International Animated Film Association yang sudah berdiri sejak 1972. Bahkan The Simpsons merupakan satu dari 12 animasi yang sudah mengukirkan namanya dalam Hollywood Walk Of Fame, dimana The Simpsons mendapatkan pengakuan dan sebagai bukti dari dunia entertainment internasional. (IMDB, 2017)
Gambar: 1.2 The Simpsons Walk of Fame Star
Sumber: Boucher, Geoff dan Lorenza, Munoz, Los Angeles Times, 2007.
The Simpsons dikategorikan sebagai film animasi serial yang aman bagi semua umur, dan diatas 12 tahun oleh sebuah badan rating bernama Bristih Board of Film Classification. Film serial ini sangatlah popular dikalangan penonton umur 12-34 tahun, hingga mencapai 5 favorit dengan jumlah penonton mencapai 3,6 juta. (Rice, 2011). Bahkan dalam sebuah artikel Los Angeles Times dikatakan bahwa penonton The Simpsons yang paling besar adalah anak-anak sejumlah 56%
dari total penonton yang menyaksikan The Simpsons (Brow, 1990).
Common Sense Media yang merupakan organisasi non-profit yang berkutat dalam dunia anak dan media juga menyampaikan bahwa The Simpsons merupakan film animasi serial yang layak ditonton bagi anak berumur 12 tahun,
6
Universitas Kristen Petra
yang bahkan beberapa pihak memiliki opini bahwa The Simpsons pantas untuk anak berumur 10 tahun (Herman, 2017). Yang dimaksud dengan definisi anak menurut UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 1 angka 1 dan juga Konvensi hak-hak anak “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
Gambar 1.3 Rating umur kelayakan The Simpsons Sumber: Herman, Jolly, 2017
Tetapi The Simpsons juga diberitakan oleh media sebagai animasi yang tidak sepantasnya diperuntukan bagi anak-anak dan telah melanggar batasan-batasan moral yang ada dalam televisi. Seperti yang dilansir oleh Pedestarian TV dalam artikel berjudul The Simpsons Goes At Trump’s Presidency With Unuasually Brutal Promo , The Simpsons mengejutkan audiens dengan menunjukan sebuah scene dimana salah satu karakter dari film animasi tersebut menggantung dirinya.
The Simpsons menjadi lebih vulgar dalam memperlihatkan kekerasan berupa kematian yang tidak disensor. Bahkan dikatakan The Simpsons yang baru sangatlah berbeda dengan The Simpsons yang ada terdahulu (Adams, 2017).
Karena kontroversi ini juga peneliti memilih The Simpsons season 28 yang merupakan season terbaru yang berakhir di 21 Mei 2017.
7
Universitas Kristen Petra
Gambar 1.4 Bunuh Diri dalam The Simpsons Sumber: Smith, Jeniffer. 2017
Ada juga pemberitaan mengenai The Simpsons yang mengatakan bahwa sebuah scene menunjukan Homer yang merupakan karakter The Simpsons tergantung di sebuah pohon, dan hal itu menuai protes guna melindungi anak-anak dari materi televisi yang tidak sesuai (Dowell, Radiotimes, 2015). Bahkan di tahun 1994, Presiden Amerika Serikat pada masa itu, George W. Bush, mengatakan bahwa untuk tidak mencontoh keluarga The Simpsons dalam sebuah pidato partai Republic nasional. (Thielman, The Guardian, 2017)
Dalam episode pertama di season 28 peneliti juga menemukan terjadinya kekerasan berupa seekor hewan yang meledak karena terkena sinar matahari yang berubah menjadi laser.
Gambar 1.5 Binatang yang meledak Sumber: The Simpsons episode 1 season 28
8
Universitas Kristen Petra
Dengan fenomena di atas peneliti tertarik untuk meneliti film animasi serial The Simpsons karena The Simpsons merupakan film animasi yang sangat popular tetapi juga memiliki gejala kekerasan didalamnya. Kekerasan dalam The Simpsons belum pernah diteliti menggunakan metode analisis isi sebelumnya.
Penelitian sebelumnya mengenai The Simpsons berupa Retorikal Agama dalam The Simpsons oleh Lewis (2009), penelitian psikologi The Simpsons oleh Brown dan Logan (2006), penelitian relasi dunia medis dan televisi, mengenai merokok dalam the simpsons oleh Eslick (2008), serta sebuah buku sejarah The Simpsons oleh Ortved (2009).
Menurut Fyfe, program yang memiliki penonton anak-anak memiliki konten yang berbeda dari televisi biasa, sehingga penyesuaian diperlukan untuk mengulas program tayangan tersebut (PTC, 2006, p. 5). Sehingga peneliti memilih teori ini untuk digunakan sebagai tolak ukur.
Permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini menyangkut pertanyaan berapakah frekuensi dan persentase adegan kekerasan dalam film serial animasi The Simpsons dan berapakah frekuensi dan persentase adegan kekerasan yang dilakukan para tokoh atau karakter dalam film serial animasi The Simpsons dengan menggunakan metode analisis isi. Peneliti memilih menggunakan analisis isi sebagai metode penelitian dikarenakan tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung frekuensi dan persentase adegan kekerasan dalam film yang sesuai dengan definisi analisis isi Menurut Barelson (Bulaeng, 2004, p. 164), analisis isi adalah suatu teknik penelitian yang obyektif, sistematik, dan menggambarkan secara kuantitatifisi-isi pernyataan suatu komunikasi.
Dalam analisis isi kuantitatif, selain menghitung, pada akhir analisis ditambahkan pemaknaan dari data yang didapat, lalu ditarik kesimpulan.
Sedangkan metode semiotika tidak melakukan perhitungan terhadap frekuensi dan persentase, melainkan pemaknaan yang mendalam dari simbol-simbol yang ada.
Dan metode analisis isi kualitatif digunakan untuk mengetahui perbandingan isi dari sebuah wacana, sedangkan penelitian ini tidak melakukan suatu perbandingan. Karena itu, analisis isi kuantitatif merupakan metode yang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini.
9
Universitas Kristen Petra
Penelitian ini dilakukan dengan mengamati secara intensif dan melakukan penghitungan adegan kekerasan yang dimunculkan dalam film serial animasi The Simpsons, lalu menganalisisnya dengan kategorisasi yang telah ditentukan.
Dengan penelitian ini, pembaca dapat mengetahui frekuensi kekerasan apa saja dan kemudian mengetahui jenis kekerasan yang terdapat dalam film serial animasi The Simpsons.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya adalah:
“ Apakah jenis kekerasan yang terdapat dalam film animasi serial The Simpsons?”
1.3 Tujuan Penelitian
Terkait dengan rumusan masalah yang sudah ditetapkan di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan “Untuk mengetahui jenis kekerasan yang terdapat dalam film animasi serial The Simpsons”
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Akademis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan akan kajian media, khususnya televisi. Serta dapat memberikan kontribusi pada pemahaman isi pesan televisi, khususnya pada film animasi anak-anak.
b. Menambah perbendaharaan Fakultas Ilmu Komunikasi Petra tentang Analisis Isi adegan kekerasan dalam film animasi serial The Simpsons 1.4.2 Manfaat Praktis
a. Melalui hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi stasiun televisi agar lebih selektif dalam memilih dan menayangkan film animasi untuk anak-anak sehingga dapat meminimalisir penayangan jenis film animasi yang banyak mengandung adegan kekerasan.
10
Universitas Kristen Petra
b. Sebagai masukan kepada orang tua dan masyarakat sebagai penonton tidak hanya bersikap pasif tetapi mampu menjadi penonton yang aktif atau pun kritis pada setiap tayangan yang ditontonnya.
c. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan wawasan sosial kepada orang tua mengenai pesan kekerasan dalam film animasi serial The Simpsons. Tidak hanya itu saja, penelitian ini juga diharapkan dapat memberi masukan pada orang tua agar lebih bijaksana dalam memilih film animasi untuk anak-anak.
1.5 Batasan Penelitian 1.5.1 Subyek
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif karena peneliti ingin mengetahui jenis kekerasan dalam film animasi serial dengan menggunakan teori kekerasan oleh Kristen Fyfe berupa kekerasan kartun, kekerasan fantasi, kekerasan fisik, ilmu bela diri, menggunakan senajata, melibatkan objek, kebakaran, kekerasan tersirat, kematian, kekerasan detil, dan kekerasan verbal.
1.5.2 Objek
Pada penelitian ini, peneliti membatasi penelitian yaitu 22 episode film animasi serial The Simpsons season 28. Pemilihan season ini dikarenakan adanya kontroversi mengenai kekerasan yang lebih vulgar dari The Simpsons season terdahulu walaupun memiliki rating umur yang sama dengan season terdahulu.
1.5.3 Waktu
Peneliti akan meneliti 22 episode The Simpsons season 28 yang mulai tayang dari 25 September 2016 sampai dengan 21 Mei 2017.
1.6 Sistematika Penulisan BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan sistematika penulisan.
11
Universitas Kristen Petra
BAB II: KERANGKA TEORI
Bab ini menjelaskan teori-teori yang mendasari penelitian yaitu teori serial TV, film animasi, pesan moral, pesan media, pesan verbal, pesan non-verbal, dan analisis isi.
BAB III: METODE PENELITIAN
Bab ini berisi definisi konseptual, jenis penelitian, metode penelitian, sasaran penelitian, unit analisis, teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan uji reliabilitas.
BAB IV: ANALISIS DATA
Bab ini berisi sinopsis singkat dari serial film animasi ini, temuan data dan analisis dari data-data yang terkumpul.
BAB V: KESIMPULAN
Bab ini berisi mengenai kesimpulan yang peneliti peroleh berdasarkan datadata yang ada. Peneliti juga memaparkan saran untuk peneliti selanjutnya.