RUBY IN D R A K U S U M A H
PERANAN PAJAK NON MIGAS DALAM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA SEBAGAI AKIBAT DIBERLAKUKANNYA U N D A N G -U N D A N G
PERPAJAKAN TA H U N 1983
M I L ! K PERPUSTAKAAN
'U N IV E R S ITA S A IR L A N G O A "
S U R A B A Y A
F A K U L T A S EKONOMI U N I V E R S I T A S AIRLANGGA
1987
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
P E R A N A N ■ P A J A K N O N M I G A S DALAM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
SEBAGAI AKIBAT DIBERLAKUKANNYA UNDANG UNDANG PERPAJAKAN TAHUN 1983
c
M I L I K
PERPUSTAK'VAN
UNIVERSITAS a i r l a n g g a * ____§
u
K A B A Y A )3*>
SKRIPSI
DIAJUKAN UNTUK MEMPERLENGKAPI SYARAT-SYARAT DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJ'ANA EKONOMI JURUSAN
STUDI PEMBANGUNAN
OLEH :
RUBY INDRAKUSUMAH No. Pokok : 048211351
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS AIRLANGGA 1987
Surabaya, ..% ...
Disetujui dan diterima baik oleh :
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah S.W.T., yang telah mem- berikan petunjuk dan hidayah serta kekuatan baik fisik mau- pun mental, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan yang diharapkan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa sebagai manusia biasa dengan segala keterbatasan kemampuannya, walaupun Pe
nulis telah mencurahkan segala kemampuan dan usaha untuk mewujudkan skripsi ini, tentunya masih banyak kekurangan baik dari segi kemampuan pembahasan, teknis maupun materi- nya. Oleh karena-itu, Penulis sangat mengharapkan dan akan menerima segala bentuk saran maupun kritik yang berguna ba- gi perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.
Perkenankanlah Penulis untuk menyampaikan rasa te- rima-kasih dengan setulus hati dan penghargaan yang-seting- gi-tingginya kepada,:
1. Orang-tua, fMbot, adik, dan kakak-kakak-ku,yang te
lah memberikan dorongan dan kekuatan baith'in . serta bantuan lain yang sulit untuk diungkapkan dengan ka- ta-kata.
2, Dosen Pembimbing, Bapak drs. ec. Achmadi, M.S..
3* Ketua,Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Uni- versitas Airlangga dan dosen wall, Bapak drs-ee.^Soeprajitno.
4. Mantan Kepala Kantor Wilayah IV Direktorat Jendral Pajak Java Barat, Bapak drs. Roslan Wiranata.
Mantan Kepala Inspeksi Pajak Surabaya Timur Kantor Wi- layah VI Direktorat Jendral Pajak Jawa Timur, Bapak drs.
Soetidjan Harsono.
Kepala Seksi Organisasi dan Tata Laksana Kantor Wila - yah VI Direktorat Jendral Jawa Timur, Ibu Noerani, S,H.
5. Drs. ec. Eko Bambang Afiatno, drs. ec. Budi Purwandaya, Bapak drs.ec. Sihhadi Poernomo, M.A., Bapak drs. ec.Soe- bagyo, Bapak drs. ec. Joko Mursinto.
6. Dekan beserta Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universi- tas Airlangga.
7. Semua Guruku.yang telah memberikan ilmunya dengan ikh- las.
8. Semua temanku yang memberi pengaruh positif dan semua pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Surabaya, Awal Januari 1987
Penulis
ii
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... • * Daftar Isi ... i:Li Daftar Tabel ... ... .
»i t Daftar Gambar ... ...* *...
Daftar L a m p i r a n .... ... ... . viii
B A B I. Pendahuluan ... 1
V 1 . Pandangan Umum ... *... . 1
2* Penjelasan Judul ... 5
3. Alasan Pemilihan Judul ... 6
4. Tujuan Penyusunan Skripsi ... 7
5* Sistimatika Skripsi ... ® 6. Metodologi ... 6.1. Permasalahan ... 6.2. Hipotesa Kerja ... ... ^ 6.3- Scope (Lingkup) Analisa ... ^ 6.4-* Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 1*
XI. Teori Pajak Dalam Hubungannya dengan Pereko- nomian ... ... '8
1. Kebijaksanaan Fiskal dan APBN ... 1.1* APBN dan Perekonomian ... 22
\ 2. Pengertian Pajak dan Beberapa Teori P a jak ... ... 25 2.1. Definisi Pajak ... ^
Halaman
2.2. Fungsi Pajak ...
2.3* Asas-asas Perpajakan ...
2.4. Asas-asas Pemungutan Pajak ...
2.5* Sistim Pemungutan Pajak ...
2.6* Penggolongan Pajak ...
2.7. Tarif Pajak ...
3. Pajak dan Perekonomian ... .
3.1. Kurva Laffer ... ...
III. Kebijaksanaan dan Perkembangan Perpajakan di Indonesia .... ...
1. Pembaruan Perpajakan ...
1.1. Sisi Penerimaan APBN Sebelum Undang - Undang Perpajakan Tahun 1983 ...
1.2. Sisi Penerimaan APBN Sejak Diberlaku- kannya Undang-Undang Perpajakan Ta - hun 1983. ...
2. Perkembangan Penerimaan Pajak Non Migas 3. Perkembangan Perekonomian ... . IV. Analisis Penerimaan Pajak ...
1. Analisis Peranan Pajak Non Migas ...
2. Analisis Kemampuan Memungut Pajak ...
3. Analisis Penerimaan Negara dalam Hubungan- nya dengan Perekonomian ..., 3.1. Pengaruh APBN Terhadap Perekonomian..
3.2. Pengaruh PDB Terhadap Pajak Non Mi - gas ... ...
Vt Kesimpulan dan Saran ... ...
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
1« Kesiropulan ...*.... . > 78
* 2, Saran ... 80 Daftar Pustaka
Iampiram
Halaman
1. Penerimaan* Pertumbuhan, dan Peranan Pajak Non ro Migas Tahun 1969/1970 - 1986/1987 ...
2. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia
Tahun 1970 - 1985 Atas Dasar Harga Konstan cc Tahun 1973 ...
3. Peranan,Pertumbuhan, dan Penerimaan Pajak Mi
gas dan Pajak Non Migas dalam APBN Ta
hun 1969/1970 - 1986/1987 ... "
4. Pertumbuhan Pajak Non Migas Periode Tiga Ta
hun Pertama Tiap Pelita Sejak Pelita I sam - pai dengan Pelita IV (dalam persen) .
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
5. Pertumbuhan Pajak Migas Periode Tiga Tahun Pertama Tiap Pelita Sejak Pelita I sampai dengan Pelita IV (dalam persen) ...
6. Pertumbuhan APBN Periode Tiga Tahun Pertama Tiap Pelita Sejak Pelita I sampai dengan Pe
lita IV (dalam persen) ... ***
7. Kemampuan Memungut Pajak (Tax Effort) Ta -
hun 1969/1970 - 1983/1984 (dalam persen) .... 65 8. Kemampuan Memungut Pajak (Tax Effort) dari ^
Beberapa Negara Tahun 1983 (dalam persen) ...
9. Jumlah Wajib Pajak (dalam persen) ... 68 10. Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Memasukkan SPT
(dalam persen) ... 69 11. APBN, Pajak Non Migas, dan PDB Atas .Dasar
Harga yang Berlaku (dalam milyar rupiah) .... 71 12. APBN, Pajak Non Migas, dan PDB Atas Dasar
Harga yang Berlaku (dalam harga logaritma).. 72
vi
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Bagan Lingkup Kebijaksanaan Fiekal ... 20
2* Tarif Pajak Proporsional ... 38
3* Tarif Pajak Degresif ... 58
4* Tarif Pajak Progresif ... 59
5. Kurva Laffer ... 45
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1• Perbandingan Ketentuan Uraum/Formal antara undang-un- dang lama dengan baru.
2. Perbandingan antara Undang-undang Pajak Penghasilan
■ yang lama dan yang baru.
3. Perbandingan antara Undang-undang Pajak Penjualan Lama dengan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai Tahun 1984.
4- Penyesuaian Tahun Takwim^Menjadi Tahun Anggaran ter
hadap PDB Atas Dasar Harga yang Berlaku.
5. Langkah Perhitungan Model Regresi.
6. Hasil Perhitungan Model Regresi PDB.
7. Hasil Perhitungan Model Regresi Pajak Non Migas.
8. Tabel t test.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS...▼iii RUBY INDRAKUSUMAH
B A B I
P E N D A H U L U A N
1• Pandangan Umum
Dalam dasa-warsa terakhir perekonomian Indonesia mengalami tantangan yang sangat berat, terutama sebagai akibat pasaran minyak bumi yang kurang menguntungkan dan rese^i dunia. Walaupun demikian bukan berarti tanpa harap- an, berbagai kebijaksanaan telah dikeluarkan pemerintah untuk tetap menunjang dan mengamankan laju serta kelang—
sungan pembangunan nasional. Keadaan ekonomi dunia terse
but sangat berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia pada umumnya dan penerimaan negara khususnya karena bagi- an terbesar dari Penerimaan Dalam Negeri dalam APBN bera- sal dari pajak minyak bumi dan gas alam (selanjutnya di -
i
sebut pajak migas).
...penerimaan dari sektor minyak bumi dan gas alam te
tap merupakan sumber penerimaan anggaran belanja ter- penting dan terbesar*
sangat besarnya peran minyak bumi dan gas alam dalam perekonomian Indonesia juga harus mengundang kesadar- an dan kewaspadaan kita, karena berhubung dengan aki- bat-akibat yang mungkin terjadi iterhadap penerimaan negara...bilamana terjadi penurunan harga atau jumlah produksi dan ekspor minyak bumi dan gas alam kita.1
^Presiden R.I., Keterangan Pemerintah Tentang Ran- cangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara T a h u n 19857 1986 pada Sidang Dewan Perwakilan Rakyat» Departemen Fe - nerangan R.I., 1985, halaman 13 - M * i
1
Menurut Widjoyo Nitisastro perkembangan harga dan pasar minyak bumi masih sulit untuk diharapkan merabaik,
".. .sepanjang tahun 1985 keadaan pasar tetap leraah...,"2j karena ketika terjadi pelonjakan harga minyak, permintaan dunia terhadap minyak menurun secara bertahap akibat ke - berhasxlan negara-negara konsumen mengganti penggunaan minyak bumi dengan sumber energi lain dan keberhasilan mereka dalam menghemat energi. Selain itu pula, sejumlah
»
negara bukan anggota OPEC_(Organization of Petroleum Ex - porting Countries) berhasil meningkatkan produksinya se - hingga penawaran minyak bumi meningkat.
Walaupun tetap ada gejala musiman kenaikan harga karena kenaikan permintaan menjelang musim dingin, tetapi karena negara-negara OPEC harus tetap memproduksi sesuai kuota yang ditetapkan, maka hanya negara-negara bukan anggota OPEC saja yang dapat menikmati kenaikan harga itu.
Keadaan tersebut menyebabkan menguatnya perasaan tidak adil di antara anggota-anggota OPEC (karena' beban mempertahankan harga hanya dipikul oleh mereka), selain itu timbul rasa saling curiga tentang pelanggaran kuota produksi dan tingkat harga. Dalam keadaan yang sulit ter
sebut, Arab Saudi yang selama ini bertindak Sebagai swing
P
Widjoyo Nitisastro dalam Kompast 23 Agustus 1986 halaman 1 dan 12.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
producer (artinya kalau pasaran memungkinkan OPEC raenam - bah produksinya, Arab Saudi yang akan menambah produksi - nya dan sebaliknya bila pasaran mengecil maka Arab Saudi yang akan menurunkan produksinya), menyatakan tidak ber -
sedia lagi menjadi swing producer.
Jadi memang sulit untuk mengharapkan pasar dan harga minyak bumi membaik kembali seperti masa "lceemasan1'- nya dan begitu pula dengan Indonesia tidak mungkin hanya atau tetap mengandalkan penerimaan negara dari minyak bu-
• iMtfdan gas alam saja.
Dalam rangka menyesuaikan ekonomi Indonesia dengan kenyataan-kenyataan tersebut dan untuk tetap mempertahan- kan kondisi, perkembangan serta pertumbuhan ekonomi .pada tingkat yang sebaik-baiknya serta untuk menumbuhkan kesa
daran bahwa pada akhirnya pembiayaan pembangunan harus menjadi tanggung-jawab seluruh masyarakat, pemerintah ber- usaha memperluas dasar komposisi penerimaan negara mela - lui penerimaan dari luar minyak bumi dan gas alam dengan mengadakan pembaharuan sistem perpajakan. Hal ini terung- kap dalam pidato presiden R.I, dalam mengantarkan RAPBN tahun 1985/1986 yang banyak membahas masalah perpajakan, terutama mengenai Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983 yan^
mulai berlaku tahun 1984-*
Presiden R.I* dalam uraiannya antara lain mengata- kan bahwa karena sistem perpajakan baru nenyangkut pembaha-
ruan yang sangat mendasar maka adalah wajar jika pelaksa- naannya membutuhkan penyesuaian diri dan semangat, baik dari kalangan aparatur perpajakan sendiri maupun dari ka- langan masyarakat* Pemerintah dan seluruh masyarakat me - mang harus meningkatkan kesadaran membayar pajak dan mem- perbesar penerimaan negara dari pajak non minyak bumi dan gas alam (selanjutnya disebut pajak non migas).
Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983 diharapkan da
pat mengerahkan sumber-sumber dalam negeri yang berasal dari sektor di luar minyak bumi dan gas alam. Selain un - tuk menggantikan sistem perpajakan warisan penjajah yang jelas tidak sesuai dengan semangat perpajakan dalam alam Indonesia merdeka dan tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman, maka sistem perpajakan baru (U.U. Perpajakan Ta - hun 1983) bertujuan untuk mengerahkan kemampuan sendiri dalam mengatur rumah-tangga negara dan membiayai pemba - ngunan.
Ciri-ciri pokok dari U.U. Perpajakan Tahun 1983 ada
lah :
- cara pandang terhadap wajib-pajak yang tidak diang- gap sebagai "obyek" pajak, tetapi dianggap sebagai
"subyek" pajak.
- pemungutan pajak merupakan perwujudan pengabdian, kewajiban, dan peran serta wajib-pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban -
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
perpajakan yang diperlukan untuk biaya negara.
- wajib-pajak diberi kepercayaan untuk menghitung dan memperhitungkan sendiri pajak yang terhutang (sis - tern self-assessment).
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap beban bagaima- napun juga tentu ingin sedikit banyak dielakkan oleh me - reka yang menerima beban ini. Apalagi dalam masa pereko - nomian yang sedang sulit yang dihadapi perekonomian Indo
nesia, usaha peningkatan penerimaan pajak non minyak bumi dan gas alam tentunya dianggap sebagai beban tambahan yang makin mempersulit atau meraperburuk perekonomian.
2. Pen.jelasan Judul
Judul skripsi ini adalah : "PERANAN PENERIMAAN PA
JAK NON MIGAS DALAM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGA
RA SEBAGAI AKIBAT DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN TAHUN 1983!Ti Pengertian yang terkandung dalam judul terse
but dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. "Penerimaan Pajak Non Migas" adalah penerimaan da
lam negeri pemerintah (dalam sisi penerimaan APBN) yang bersumber dari sektor non minyak bumi dan gas alam, tidak termasuk penerimaan bukan pajak.
b. "Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara",ber
arti yang ditinjau adalah masalah peranan pajak non migas dikaitkan dengan kontribusinya dalam Anggar
an Pendapatan dan Belanja Negara Republik Indone-
sia.
c. "Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983", raerupaJcan rangkaian peratur&n di bidang perpajakan yang di - keluarkan oleh pemerintah pada tahun 1983 dan yang dimaksudkan adalah : Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang PajakPeng- hasilan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
Secara keseluruhan, pengertian yang terkandung da
lam judul skripsi ini adalah untuk mempelajari. dan meng -
*
analisis sampai sejauh mana peranan penerimaan pajak non
*
migas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Repu
blik Indonesia sehubungan dengan diberlakukannya Undang - Undang Perpajakan Tahun 1983*
3« Alasan Pemilihan Judul
Ketergantungan Indonesia terhadap penerimaan dari sektor minyak bumi dan gas alam sudah berjalan cukup lama dan cukup besar. Bahkan dapat dikatakan ketergantungan ter
sebut dimulai sejak tahun pertama Pelita II (peranannya pada tahun 1974/1975 sebesar 48,2 %) dan berkelanjutan te- rus sampai sekarang, keadaan yang paling mengkhawatirkan terjadi pada tahun ke tiga Pelita III (sebesar 62,0 %)*
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
Kemudian disadari bahwa sektor minyak bumi dan gas alam makin sulit untuk diharapkan menjadi penopang ut£ma penerimaan negara mengingat harga dan pasar minyak bumi dan gas alam yang makin memburuk. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijaksanaan untuk mengatasi hal tersebut, sa - lah satunya adalah kebijaksanaan di bidang perpajakan yai
tu Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983.
Mengingat situasi dan kondisi selama ini (keter - gantungan terhadap minyak bumi dan gas alam yang berke panjangan dan besar) dan kondisi perekonomian yang sedang berada dalam keadaan sulit (peningkatan penerimaan pajak dirasakan sebagai beban tambahan yang makin memperburuk kondisi perekonomian). Maka dikeluarkannya kebijaksanaan perpajakan tersebut menjadi sangat menarik minat untuk di- bahas dan dianalisis lebih lanjut, disamping itu juga ka
rena dengan kebijaksanaan yang diambil pemerintah terse - but berarti merupakan perubahan yang sangat mendasar ter
hadap sistem perpajakan yang sebelumnya berlaku.
4. Tu.iuan Penyusunan Skripsi
Kebijaksanaan fiskal di bidang perpajakan yang be- rupa seperangkat Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983 me- rupakan kebijaksanaan yang sifatnya mendasar dan ternyata kurang mendapat tanggapan positip mengingat kondisi pere
konomian yang sedang tidak menguntungkan dan terlebih la-
gi dianggap sebagai salah satu penyebab yang makin mem - perburuk kondisi perekonomian tersebut, sedangkan pening
katan penerimaan pajak dari sektor non migas diharapkan untuk dapat menjadi penopang utama dari penerimaan dan sumber pembiayaan negara.
Oleh karena itu tujuan penyusunan skripsi ini ada
lah untuk memberikan gambaran umum tentang keadaan dan pe
ranan penerimaan'pajak non migas terhadap APBN serta pe - ngaruhnya terhadap kondisi perekonomian sebelura dan sejak diberlakukannya Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983*
5• Sistimatika Skripsi
Skripsi ini terdiri dari lima bab, di mana pada ma- sing-masing bab saling berkaitan antara satu dengan lain- nya. Secara garis besar, penjelasan masing-masing bab da
pat dikemukakan sebagai berikut : BAB I Pendahuluan.
Secara berurutan dalam bab ini dikemukakan : pan - dangan umum, penjelasan judul, alasan pemilihan ju
dul, tujuan penyusunan skripsi, sistimatika skrip
si, dan metodologi. Dalam sub-bab metodologi dibagi menjadi empat bagian yaitu permasalahan, hipotesa*
kerja, lingkup (scope) analisis, dan yang terakhir adalah prosedur pengumpulan dan pengolahan data*
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
BAB II Teori Pajak dalam Hubungannya dengan Pertumbuhan Ekonomi*
Teori-teori yang dikemukakan dalam bab ini adalah teori tentang kebijaksanaan fiskal (fiscal policy), perpajakan dan kemudian teori tentang pajak dalam hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi dari Arthur
*
B. Laffer. Teori-teori tersebut digunakan sebagai dasar/landasan untuk menganalisis kebijaksanaan Undang-Undang Perpajakan Tahun 1983f peranan dan pengaruhnya terhadap penerimaan negara (APBN) mau
pun terhadap perekonomian Indonesia.
BAB III Perkembangan Penerimaan Pajak dan Kebijaksanaan Perpajakan Indonesia.
Secara garis besar bab ini berisikan "usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkat - kan penerimaan pajak non migas untuk mendorong dan mengendalikan perekonomian. Selain itu pula dikete- ngahkan tentang perkembangan penerimaan negara da
lam APBN dan perkembangan pertumbuhan ekonomi In - donesia.
BAB IV Analisis Penerimaan Pajak Non Migas.
Bab ini dibagi menjadi tiga sub-bab. Sub-bab per - tama menganalisis tentang perkembangan - penerimaan pajak non migas dan migas dalam APBN. Sedangkan pa
da sub-bab berikutnya, merupakan analisis tentang kemampuan lembaga perpajakan dalam menghimpun pa -
jak (Tax Effort), Dan dalam sub-bab terakhir di - lakukan analisis tentang pengaruh APBN terhadap perekonomian dan pengaruh perekonomian terhadap penerimaan pajak non migas, dalam hal ini diguna
kan dua buah model regresi sederhana dengan dua variabel.
BAB V Kesimpulan dan Saran.
Di dalam bab terakhir ini, dibuat suatu kesimpul
an dari hasil analisis yang telah dilakukan sebe- lumnya dan juga diajukan beberapa saran.
6. Metodologi
6.1 Permasalahan.
Menurunnya penerimaan pajak migas akibat membu - ruknya harga dan pasaran minyak bumi dan gas alam, dan selama ini perannya dalam APBN sangat dominan, ternyata sangat berpengaruh terhadap kemampuan APBN dalam membia- yai pengeluaran-pengeluaran rutin pemerintah maupun pe - ngeluaran pembangunan.
Sejalan dengan menurunnya kemampuan APBN tersebut (dapat dilihat dari menurunnya pertumbuhan APBN) menye-
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
babkan perekonomian Indonesia yang masih lesu akibat p e
ngaruh resesi dunia menjadi bertambah lesu.
Untuk mempertahankan kemampuan APBN dalam membia- yai pembangunan maka pemerintah mengupayakan peningkatan
penerimaan pajak non migas (dengan dikeluarkannya Undang
Undang Perpajakan tahun 1983) agar dapat menggantikan
peran pajak migas dalam menopang pertumbuhan APBN dan
agar APBN tidak akan hanya bergantung pada sektor minyak bumi dan gas alam saja.
Dengan dikeluarkannya Undang - Undang Perpajakan
tahun 1983 diharapkan kemampuan pemerintah, dalam hal
ini instansi perpajakan, untuk meningkatkan penerimaan pajak non migas menjadi bertambah baik, namun ternyata
sampai dengan tiga tahun pertama pelaksanaannya pening - katan penerimaan pajak non migas belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan justru mengaiami penu - runan dalam pertumbuhan penerimaannya.
6.2. Hipotesa Kerja.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat di'su- sun hipotesa kerja sebagai berikut : Jika penerimaan pa - jak non migas dapat meningkat dan berperan cukup besar da
lam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maka pembiaya- an pembangunan-tidak hanya akan bergantung pada penerima
an dari satu sektor saja dan lebih lanjut diharapkan pem
bangunan ekonomi Indonesia akan tetap dapat meningkat.
6.3. Lingkup (Scope) Analisis.
Untuk menghindari kekaburan masalah yang akan di - bahas dan dianalisis serta menghindari kekaburan dalam uraian skripsi ini, maka analisis dibatasi sebagai beri - kut :
- Analisis dalam skripsi ini berkisar pada teori tentang APBN dalam hubungan dengan perekonomian, teori perpa - jakan, dan teori tentang pajak dalam hubungannya dengan perekonomian dari Arthur B. Laffer.
- Pengertian penerimaan negara adalah penerimaan dari pa
jak migae'1, penerimaan dari pajak non migas, penerimaan bukan pajak,. dan penerimaan pembangunan (bantuan luar - negeri), kesemuanya ini berada pada sisi penerimaan APBN.
- Karena relevansinya dan juga mengingat keterbatasan da
ta yang dapat diperoleh maka data yang dibahas dan dia -
I
P E R P U b T A K A A N ' U N T V 1 -R S 1 T A S A l R L A N O G A
S U R A B A Y * ---
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
nalisis adalah data tahunan dari Pelita I sampai dengan tahun ketiga Pelita IV untuk menganalisis peranan pajak non migas, dan data per-semester raulai tahun kedua Pe - lita II sampai dengan tahun terakhir Pelita III untuk menganalisis APBN dan pajak non migas dalam hubungannya dengan perekonomian.
- Mengingat bahwa data penerimaan pajak yang dapat diper- oleh hanya dalam bentuk atas dasar harga yang berlaku , maka semua data yang terkait juga atas dasar +harga yang berlaku.
- Walaupun sebenarnya kebijaksanaan di bidang perpajakan merupakan. rangkaian yang bukan hanya berupa U.U.Nomor 6*
7, dan 8 tahun 1983 saja, tapi karena mengingat ■ masa berlakunya yang baru dimulai pada tahun 1984 dan tahun
1985 dan juga mengingat keterbatasan dalam kemampuan mendapatkan data, maka analisis dan pembahasan hanya berkisar pada peranan dan pengaruh dari ketiga - undang- undang tersebut saja.
6*4* Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data.
- Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari/diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik dan Direkto
rat Jendral Pajak. Sedangkan informasi lain (pelengkap) yang diperlukan diperoleh melalui tanya-jawab ■ ■ dengan
pejabat-pejabat yang terkait dengan masalah tersebut.
- Data yang sudah dikumpulkan kemudian ditabulasikan dan dianalisis baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
- Untuk membahas dan menganalisis peranan penerimaan non migas digunakan bentuk persamaan sebagai berikut :
R = Tjn + Tnm + N-t + B]_
R adalah penerimaan negara total yang terdiri dari : Tm = Pajak migas,
Tnm = Pajak non migas,
= Penerimaan bukan pajak, Bjl = Bantuan luar-negeri.
- Untuk membahas dan menganalisis kemampuan untuk.memu- ngut pajak digunakan rumusan sebagai berikut :
T - Penerimaan pajak 3)
6 P D B
Te adalah kemampuan untuk menghimpun pajak ( Tax - Effort) yang merupakan hasil-bagi penerimaan pajak dengan pendapatan nasional.
- Untuk menganalisis Anggaran Pendapatan-dan 'Belanja Negara dengan perekonomian, digunakan bentuk fungsi :
PDB = f(APBN)
PDB sebagai tolok ukur perekonomian, dipengaruhi oleh besarnya APBN.,Sedangkan APBN adalah pendapatan dan
^ Sri ■ Bintang Pamungkas, "Anggaran Berimbang dan Perekonomian Indonesia-Sebuah Tinjauan", Prisma, Nomor 4, April 1986, halaman 18..
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk mencapai per- kembangan dan kestabilan perekonomian yang lebih baik. Ke- mudian dibuat model regresi dua variabel (Two-Variable Re
gression Model) dengan metode Ordinary Least Square : log PDB^ = log a + b log APBN^ + A , t ^
PDB = Produk Domestik Bruto atas dasar harga yang berlaku.
APBN = Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
K - Disturbance term, a ’ = Konstanta regresi.
b = Koefisien regresi.
t = Time series = 1 , 2 , ... , n.
n = Jumlah pengamatan/observasi.
- untuk menganalisis penerimaan pajak dalam hubungannya de
ngan perekonomian digunakan bentuk fungsi : Tnm = f (PDB)
Tnm a^a^-a^ besarnya penerimaan pajak (tax revenue)non mi- gas yang besarnya dipengaruhi oleh kondisi perekonomian, karena penerimaan pajak diperoleh dari perkalian tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak (tax rate x tax base)
Tiarry H. Kelejian dan Wallace E. Oates, Introduction To Econometrics - Principle And Applications, second editi
on, Harper & Row, New York, 1981, hal. 103.
dun besarnya tax base dipengaruhi oleh kondisi perekono^
mian, sedangkan PDB sebagai tolok ukur dari perekonomi ■ :m . Kemudian dibuat model regresi dua variabel (Two-Va
riable regression Model) dengan metode Ordinary Least Square :
log Tnm = log c + d log PDBt + - M ' t ^ T = Pajak non migas.
PDB = Produk Domestik Bruto atas dasar harga yang her- laku.
= Disturbance term, c * Konstanta regresi.
d = Koefisien regresi.
t = Time series = 1 , 2 , ... , n.
n = Jumlah pengamatan/observasi.
*
Karena untuk data PDB tidak tersedia dalam bentuk per-se- mester sehingga untuk memperoleh data tersebut digunakan suatu cara dengan rumusan sebagai berikut :
Qi = 4 - [ Y t < y t - V i } ]
Q2 = 4 “ [ ^ < Yt - Yt-1 > ]
■6)
5lbid, loc cit.
6Perumusan interpolasi linier tersebut dilakukan oleh Insukin- dro dengan cara coba-coba , lihat Insukindro, "Pengaruh Pengeluaran Pe- merintah, Cadangan Devisa dan Angka Pengganda Uang terhadap Jumlah Uane Beredar di Indonesia ", Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Desember 1984, hal. 450.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
Q = Data triwulanan.
= Data tahun yang berlaku.
Y ^ = Data tahun sebelumnya.
Kernudian setiap dua triwulan digabungkan sesuai dengan senestornya dan karena tahun anggaran pemerintah berlang- sung dari 1 April sampai dengan 31 Maret tahun berikut - nya, eedangkan ■ data PDB yang tersedia berdasarkan tahun takwim maka dilakukan penyesuaian sebagai berikut :
- Semester I APBN v/aktunya sama dengan triwulan II dan III dari PDB.
- Semester II APBN waktunya sama dengan triwulan IV dari PDB tahun yang berlaku dan triwulan I dari PDB tahun berikutnya.}
TEORI PAJAK DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI B A B II
1. Kebijaksanaan Fiskal dan Anggaran pendapatan dan Belan- ja Negara (APBNj
Kebijaksanaan fiskal atau Fiscal Policy adalah ke
bijaksanaan yang digunakan pemerintah untuk mencapai tu - juan yang ditetapkan dalam bidang penerimaan dan pengelu- aran pemerintah. Mengenai istilah tersebut, sering terja- di kesimpang-siuran pengertian seperti yang diungkapkan oleh Rochmat Soemitro :
Istilah Fiscal policy atau kebijaksanaan fiskal belum mendapatkan pengertian yang pasti karena masih belum dapat ditarik garis pemisah yang jelas antara fiskal policy di satu pihak dan keuangan negara, Kebijaksa - naan Keuangan dan Kebijaksanaan Ekonomi Pemerintah di
lain pihak.1
Kernudian Rochmat Soemitro menjelaskan lebih lanjut menge
nai lingkup kebijaksanaan fiskal sebagai berikut :
Jika kita memberikan definisi berdasarkan unsur-unsur ,operasional, maka 'fiscal policy1 berarti penggunaan Iperbuatan dan tindakan pemerintah tertentu yang ditu- jukan kepada perkembangan dan stabilitas ekonomi. Dan yang menjadi alat untuk melaksanakan fiskal policy ialah :
A. penerimaan-penerimaan negara sebagai hasil sumber- sumber pendapatan negara, terutama pajak-pajak.
B. pengeluaran-pengeluaran.
C. kredit (debt management)
Untuk melaksanakan kebijaksanaan fiskal yang baik ke- tiga-tiganya unsur ini harus dikordinasikan dan diin- 1
^Rochmat Soemitro, Pa.iak dan Pembangunan, P.T. Eres- co, Bandung-Jakarta, 1982, halaman 14-6.
18
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
tegrasikan.2
Pada akhirnya Rochmat Soemitro berpendapat bahw-a : ...kebijaksanaan fiskal sebagai suatu pengertian yang lebih luas daripada kebijaksanaan perpajakan.
Walaupun demikian kami akui bahwa soal perpajakan da
lam Fiscal•policy ini mengambil peranan yang sangat penting, di samping policy pengeluaran serta policy kredit yang telah kami sebut di atas, karena pajak - pajak merupakan suraber pendapatan negara yang utama.^
Sedangkan menurut John F. Due, kebijaksanaan fis - kal adalah "...penyesuaian dalam pendapatan dan pengelu - aran-pengeluaran pemerintah untuk mencapai kestabilan eko
nomi yang lebih baik dan laju pembangunan ekonomi yang di- kehendaki."4
Selanjutnya pendapat dari J. Richard Aronson me ngenai kebijaksanaan fiskal sebagai berikut : "Adjusting the level of tax revenues and government expenditures to achieve full employment and stable p r i c e s " 5
Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, dapat di-
i
katakan bahwa kebijaksanaan fiskal merupakan alat/instru- ment yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah di -
2I M A * halaman 252.
^Ibid, halaman 253*
^John F. Due, Keuangan Negara - Perekonomian dari Sektor Pemerintah, edisi ke dua, ter.jemahan Iskandarsyah dan Arief Janin, Yayasan Penerbit U.I*, Jakarta, 1979» ha
laman 34-9.
^J. Richard Aronson, Public Finance, Me Graw - Hill Co*, Singapore, 1985, halaman 594. !
tetapkan dalam bidang penerimaan dan pengeluaran pemerin
tah. Dan kebijaksanaan perpajakan merupakan bagian dari kebijaksanaan fiskal, sementara itu kebijaksanaan fiskal itu sendiri merupakan bagian dari kebijaksanaan ekonomi , seperti tercermin dalam gambar 1.
GAMBAR 1
BAGAN LINGKUP KEBIJAKSANAAN FISKAL
Kebijaksanaan Ekonomi*
Kebijaksanaan Pertanian Kebijaksanaan Moneter Kebijaksanaan Perdagangan Kebijaksanaan Perindustrian
»
Fiscal, Policy Ii
♦
' A t%
i 1• 1
Kebijaksanaan Penerimaan Pemerintah
1 i i .
Kebijaksanaan Pengeluaran , Pemerintah
*
\
f Efen Jaln -M iA * * ^
1. Kebijaksanaan Barpajakan 1. Kebijaksanaan Subsidi
2. Debt Managaoart 2. Kebijaksanaan M e rja sn tirun 3. Kebijaksanaan rrcngam Ifemsaha- 3. Kebijaksanaan ftr^eiuaian trans
an Negara fe r yang la in
4 . Ifan la in Iain 4. Ebn la m M n
Sumber : Soetrisno P.H. , Dasar Dasar Ilmu Keuangan Nega
ra, edisi ke duaf Bagian Penerbitan Takultas Eko- nom UGM, Yogyakarta, 1982, hal. 2/+, diolah.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
Mengenai hubungan antara kebijaksanaan fiskal de
ngan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Boedi- ono menyatakan bahwa "Kebijaksanaan fiskal adalah kebi - jaksanaan lewat APBN11 Selanjutnya dikemukakan pula bah
wa :
APBN mempunyai dua sisi, yaitu sisi yang mencatat pe- ngeluaran dan sisi yang mencatat penerimaan. Sisi pe- ngeluaran mencatat semua kegiatan pemerintah yang me- raerlukan uang untuk pelaksanaannya.
Sisi penerimaan menunjukkan dari mana dana yang di - perlukan tersebut diperoleh.'
Berdasarkan uraian di atas dapat dimengerti bahwa pelaksanaan dari kebijaksanaan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah dapat diamati melalui APBN. Sedangkan istilah APBN merupakan istilah yang resmi digunakan oleh Pemerin
tah Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Arifin P.
Soeria Atmadja bahwa :
...sejak Proklamasi tanggal 17 Agustus 194*5» istilah
‘Anggaran Pendapatan dan Belanja1 dipakai dalam pasal 23 ayat (1) UUD 1945, yang dalam perkembangan selan - jutnya secara resmi pula ditambahkan kata "Negara", sehingga lengkapnya sampai saat'ini dipergunakan is - tilah "Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara" di - singkat APBN.®
Boediono, Ekonomi Makro, edisi ke empat, RP;F.E.»
.Yogyakarta, 1985, halaman 109.
^Ibid, halaman 110.
®Arifin P. Soeria Atmadja, Mekanisme Pertanggung - jawaban Keuangan Negara. P.T. Graraedia, Jakarta, 1986, ha- laman 10*
1.1. APBN dan Perekonomian.
APBN adalah pencerminan dari pelaksanaan kebijalysa- naan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah, adapun tujuan dari kebijaksanaan fiskal adalah untuk mencapai kestabilan dan laju pembangunan ekonomi yang lebih baik.
Pengeluaran dan kegiatan pemerintah makin lama akan makin meningkat, hal ini disebabkan karena tugas dan fung- si pemerintah yang juga makin meningkat untuk menunjang perkembangan kegiatan ekonomi, seperti yang terkandung da
lam tujuan pokok maupun dalam tujuan pelengkap dari kebi -
«
jaksanaan fiskal.
Adapun tujuan pokok dari APBN yang merupakan pen cerminan dari kebijaksanaan fiskal yang dilakukan oleh pe
merintah adalah : 8)
♦
1. Penggunaan sumber-daya ekonomi yang optimal.
2. Peningkatan distribusi pendapatan dan kekayaan.
3* Kestabilan dalam kehidupan ekonomi.
Selain tujuan pokok seperti yang- telah disebutk'an di - atas, APBN mempunyai tujuan pelengkap sebagai berikut : 9)
1. Ekonomi Pembangunan, termasuk peningkatan effisien- si dan effektivitas.
2. Peningkatan Kesejahteraan.
3. Peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa.
*
g
Soetrisno P.H., Dasar Dasar Ilmu Keuangan Negara, BP FE UGM, Yogyakarta, 1982, halaman 51.
9
I b i d * l o c c i t .
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
' 4. Peningkatan demokrasi terniasulc doinokrasi ekononi dan politik.
5. Peningkatan pendidikan moralita dan nasionalita ter- raasuk kesadaran akan keadilan dan sebagai warga-ne - gara.
6. Peningkatan perdamaian, portahanan, keamanan dan ke- tertiban.
7. Kemerdekaan dan kerja sama internasional.
8. Dan lain-lain.
2. Pengertian Pa.iak dan Beberapa xeori Pa.iak
2.1. Definisi Pajak.
Definisi atau batasan pajak ada berbagai macam pen - dapat, P.J.A. Adriani mengemukakan bahwa :
Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksa - kan) yang terhutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasikem- bali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum ber- hubung denganfttugas Negara untuk menyelenggarakan peme-
rintahan. 10 -
Sedangkan N.J. Feldman mendefinisikan pajak sebagai berikut, 11 Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terhutang kepada Penguasa, (menurut norma- • norma yang ditetapkan secara umum), tanpa adanya kontra-prestasi, dan seniata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum"11
Menurut Rochmat Soemitro pajak adalah "... iuran
10R. Santoso Brotodihardjo, Ilmu Hukum Pa.iak, P.T.
Eresco, Jakarta-Bandung, 1981, halaman 2 Ibid, halaman 3 dan 4*
11
rakyat kepada Kas Negara berdasarkan Undang-undang ( yang dapat dipaksakan) dengan tiada raendapat jasa-timbal (kpn- tra-prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang di-
Sementara itu Soeparman Soemahamidjaja mengartikan pajak sebagai "...iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norroa hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa
Dibandingkan dengan definisi-definisi pajak yang ter- dahulu, maka definisi pajak menurut Soeparman Soemahatni djaja tersebut mempunyai kesan yang lebih baik, karena ti
dak ada istilah paksaan. Dengan perkataan iuran wajib saja, diharapkan bahwa^pajak dipungut dengan bantuan dari dan dengan kerja-sama wajib pajak, sehingga tidak perlu penggu- naan istilah paksaan. Oleh karefia itu, dianggap terlalu berlebihan bila khusus mengenai pajak ditekankan penting- nya paksaan sehingga seakan-akan tidak ada kesadarari masya- rakat untuk melakukan kewajibannya. Tanpa istilah paksaan- pun cukup, karena bila kewajiban tersebut berdasarkan un- dang-undang dan bila kewajiban tersebut tidak dilaksanakan maka undang-undang menunjukkan cara pelaksanaan yang lain
(dan cara ini biasanya untuk memaksa), hal ini berlaku ti- gunakan untuk membayar pengeluaran umum"
1 *3 kolektip dalam mencapai kese jahteraan umum". ■*'
^ibid, halaman 5.
^Ibid, halaman 4.
M I L I K
P E R P U S T A K A A N
' U M V t R . s i T A S A I R L A N G G A "
___ ^ b R * B A Y A
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
dak hanya mengenai pajak saja. Dengan demikian diharapkan bahwa kewajiban membayar pajak harus timbul dari keaadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajibannya dan bukan kare
na paksaan.
Sehubungan dengan hal itu, Soemitro Djojohadikoe soemo memberikan definisi pajak sebagai berikut, MPajakada
lah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Jlegara untuk membiayai pengeluaran rutin dan 'surplus-'nya diguna'- kan untuk ^public saving1 yang merupakan sumber utama untuk membiayai *public investment1
Selanjutnya S.I. Djajadiningrat memberikan definisi yang lebih luas, di samping mencakup tujuan pemungutan pa
jak juga memberikan sebab-sebab penggunaan pajak :
Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian da- ripada kekayaan kepada negara disebabkan suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan ter - tentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan- peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipak- sakan, tetapi tidak ada jasa balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum.15
Dari berbagai definisi tentang pajak tersebut dapat disimak bahwa walaupun banyak ahli memberikan definisi atau batasan pajak yang berbeda, akan tetapi definisi tersebut pada dasarnya mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Pajak dipungut oleh negara berdasarkan pada kekuatan un- dang-undang serta aturan pelaksanaannya.
^ S . Munawir, Pokok-Pokok Perpa.iakan, edisi ketiga.
Liberty, Yogyakarta, 1985, halaman 2.
^ Ibidt halaman 3.
b. Pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra- prestasi perorangan oleh pemerintah.
c. Pajak diperuntukkan bagi pengoluaran pembayaran pemorin- tah, yang bila dari pemasukan masih terdapat surplus di
gunakan untuk membiayai public investment, sehingga tu
juan yang utama dari pemungutan pajak adalah sebagai sum- ber keuangan negara.
d. Pajak dipungut karena suatu keadaan, kejadian, dan per- buatan yang memberikan kedudukan tertentu pada seseo - rang, sehingga selain mempunyai fungsi sebagai sumber keuangan negara juga mempunyai fungsi mengatur dalam pe- ngertian yang luas, termasuk melindungi, mengarahkan , mendorong, dan sebagainya.
2.2. Fungsi Pajak.
Menurut Rochmat Soemitro, pajak mempunyai dua fung
si, yaitu :
a. Fungsinya sebagai suaiber keuangan. negara.-adalah
"Fungsiyang letaknya di sektor publik dan pajak - pajak di sini merupakan suatu alat atau suatu sumber untuk •mema.- sukkan uang sebanyak-banyaknya ke dalam leas negara, yang pada'waktunya akan digunakan untuk membiayai pengeluar- an-pengeluaran negara11.16
Rochmat Soemitro, op cit, halaman 10.
/
16
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
b. Fungsi mengatur., yakni pajak "...digunakan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang letaknya di luar bidang keuangan"
Di samping itu, Rochmat Soemitro menjelaskan lebih lanjut tentang fungsi mengatur tersebut bahwa dengan adanya fungsi mengatur ini diharapkan dapat memberikan dorongan pada penanaman modal, memberikan proteksi terhadap indus - tri dalam negeri, menghambat infIasi t meratakan pendapat
an, dan lain sebagainya.
2.3* Asas-Asas Perpajakan.
Dalam pembuatan undang-undang perpajakan harus me - menuhi syarat-syarat atau asas-asas tertentu, yakni asas keadilan, asas yuridis, asas ekonomis, dan asas finansial.
2,3.1. Asas Keadilan.
Tujuan dari undang-undang perpajakan adalah membuat adanya keadilan dalam pemungutan pajak, tetapi keadilan itu sendiri ternyata sangat relatif sifatnya. Dari waktu ke waktu pengertian keadilan mengalarai perubahan, yang dahulu dianggap adil mungkin sekarang dianggap tidak adil. Begitu pula yang dianggap adil dalam suatu negara belum tentu di
anggap adil pula di negara lain.
^Rochmat Soemitro, loc cit.
Menurut P.J.A. Adriani, pengertian adil dalam undang-undang perpajakan adalah "Dalam pemungutan pajak harus diseleng - garakan sedemikian rupa, sehingga dapat diperoleh tekanan yang sama atas seluruh rakyat*"^®
Sebagai dasar menyatakan keadilan seperti terkandung dalam Asas Keadilan, maka teori-teori yang menjadi dasar adalah sebagai berikut :
+
2.3*1.1. Teori Asuransi*
Teori ini menganggap pajak sebagai premi asuransi r*;
yang dibdyarkan pada waktu-waktu tertentu untuk perlindung- an yang diberikan oleh negara terhadap. jiwa dan harta ben- da. Hal ini dikaitkan dengan salah satu tugas negara, se - perti yang dikemukakan oleh Santoso Brotodihardjo bahwa :
"Adalah termasuk dalam tugas Negara untuk melindungi orang dan segala kepentingannya: keselamatan dan kearaanan jiwa- pun pula hartabendanya. "** 9
2.3*1*2. Teori Kepentingan*
Teori ini menekankan pembagian beban pajak yang ha
rus dipungut dari penduduk. Menurut teori ini mereka yang mendapat atau menikmati jasa dari pemerintah yang lebih be
sar harus memberikan pembayaran pajak yang lebih besar pu-
1 R1 °R. Santoso Brotodihardjo, op cit, halaman 26*
**9r. Santoso Brotodihardjo, op cit.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
la.
2.3-1.3* Teori Gaya-Pikul.
Yang menjadi pokok pangkal teori ini adalah bahwa te- kanan pajak .harus saraa beratnya untuk setiap orang, pa
jak harus dibayar menurut gaya-pikul seseorang.
Namun tidaklah raudah untuk mengukur gaya-pikul se - seorang, sebab besarnya gaya-pikul tergantung antara lain v‘, pada jumlah uang yang ada pada seseorang, baik berupa pen
dapatan maupun yang berupa kekayaan, juga mempertimbangkan besar-kecilnya tanggungan keluarga. W.J. de Langen menga - takan bahwa yang dimaksud dengan gaya-pikul adalah "Besar
nya kekuatan seseorang untuk dapat mencapai pemuasan-kebu- tuhan setinggi-tingginya, setelah dikurangi dengan yang mu- tlak untuk kebutuhan yang primer."20
2.3.1 .4- Teori Kewajiban Pajak Mutlak (Teori Balcti).
Menurut teori ini, negara mempunyai hak mutlak un - tuk memungut pajak. Warga negara harus menyadari bahwa mem- bayar pajak merupakan kewajiban untuk membuktikan tanda - baktinya kepada negara.
Jadi dasar hukum pajak terletak dalam hubungan war
ga negara dengan negara dan karena sifat negaralah maka timbul hak mutlak untuk memungut pajak.
^QIbid, halaman 30.
2.3*1*5* Teori Asas Gaya Beli*
Berdasarkan teori ini, fungsi pemungutan pajak ada
lah mengambil gaya beli dari rumah-tangga - rumah-tangga da
lam masyarakat untuk rumah-tangga negara, kemudian menya - lurkan kerabali ke masyarakat (dalam bentuk lain , seperti prasarana dan sarana umum) dengan maksud untuk memelihara hidup masyarakat dan untuk membawanya ke arah tertentu.
Keadilan menurut teori ini adalah terselenggaranya kepentingan masyarakat dan bukan kepentingan individu atau- pun kepentingan pemerintah semata. Dengan perkataan lain, teori ini menekankan pada kepentingan masyarakat yang me - liputi keduanya (individu dan pemerintah).
2.3*2. Asas Yuridis.
Undang-undang perpajakan harus memberikan kepastian hukum, baik untuk negara maupun untuk warganya. Kepastian hukum ini memberikan jaminan untuk terlaksananya pemungut
an pajak dengan lancar, mengingat bahwa peralihan kekaya - an dari sektor yang satu ke sektor yang lain tanpa adanya kontra-prestasi hanya dapat terjadi bila dilakukan dengan paksaan atau perampasan.
Selain itu, para wajib pajak harus mendapat kepas - tian hukum, supaya tidak diperlakukan semena-mena oleh pe- mungut pajak (aparatur perpajakan), serta untuk inenjatnin rahasia-rahasia mengenai diri atau perusahaan - perusahaan wajib pajak yang telah disampaikan kepada instansi-instan-
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
si pajak dan rahasia tersebut tidak disalahgunakan oleh aparatur-aparatur porpaj aiian.
2.3*3* Asas Ekonomis.
Selain berfungsi sebagai sumber dana, juga berfungsi untuk mengatur. Antara lain mengatur politik perekonomian negara untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan ekonomi agar tidak terganggu.
Oleh karena itu, undang-undang perpajakan harus di- usahakan agar tidak menghambat lancarnya produksi dan per
dagangan serta jangan sampai merugikan kepentingan umum.
2.3.A* Asas Finansial.
, Dalam pembuatan undang-undang perpajakan harus pula mempertimbangkan tentang biaya pemungutan pajak, yaitu bah
wa biaya-biaya tersebut harus sekecil roungkin bila diban - dingkan dengan pendapatannya.
Jadi dalam melaksanakan pemungutan pajak harus di - perhatikan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dan hasil yang dicapai. Jangan sampai biaya yang dikeluarkan untuk mengenakan dan memungut pajak ternyata lebih besar daripada hasil yang diperoleh dari pemungutan pajaknya.
2.4.. Asas-Asas Pemungutan Pajak.
2.4*1• Asas Tempat tinggal.
Pemungutan pajak dilakukan berdasarkan di mana tem- pat tinggal seseorang/wajib pajak. Menurut asas ini, negara berhak untuk meraungut pajak atas segala pendapatan dan ke- kayaan wajib pajak yang bertempat tinggal di negara terse
but. Dalam hal ini negara tidak memandang di mana sumber pendapatan/kekayaan itu diperoleh, juga tidak memperhati - kan kebangsaan wajib pajak, sehingga setiap orang yang ber- kebangsaan asing-pun bila bertempat tinggal di negara yang menganut asas ini maka wajib pula membayar pajak kepada instansi perpajakan di negara tersebut.
\
2.4*2. Asas Kebangsaan.
Berdasarkan asas kebangsaan, maka pemungutan pajak dilakukan terhadap wajib pajak yang menjadi warga negara - nya sendiri. Negara berhak memungut pajak dari warga nega
ra tanpa memandang dari mana sumber pendapatan/kekayaan wa
jib pajak tersebut, serta tidak memandang di mana warga ne- garanya tersebut (wajib pajak) bertempat tinggal,
2.4*3* Asas Sumber.
Menurut asas ini, negara berwenang untuk memungut pajak atas hasil yang berasal dari wilayah negara tersebut,
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
tanpa memandang wajib-pajak tersebut bertempat tinggal ju
ga kebangsaannya.
2.5. Sistim Pemungutan Pajak#
Pada dasarnya ada tiga sistim pemungutan pajak yai- tu : Official Assessment System, Self Assessment System, dan With Holding System.
2*5.1. Official Assessment System.
Official Assessment System adalah sistim pemungutan dimana besarnya pajak terhutang oleh v/ajib-pajak ditentu - kan sendiri oleh petugas perpajakan (f i s c u s Dalam sistim ini wajib-pajak bersifat pasif dan sebaliknya petugas per - pajakan-lah yang harus bersifat aktif.
2.5*2. Self Assessment System.
s,
Self Assessment System adalah sistim pemungutan di- mana wewenang menghitung besarnya pa-jak terhutang oleh wa- jib-pajak diserahkan dari petugas perpajakan kepada wajib- pajak, sehingga wajib pajak harus aktif untuk menghitung, melaporkan dan menyetor pajak terhutangnya. Sedangkan tu - gas petugas perpajakan hanya terbatas pada memberi pene rangan/pejelasan dan pengawasan.
2.5.3. With Holding System.
With Holding System yaitu suatu sistim pemungutan
di raana penghitungan besarnya pajak yang terhutang oleh wa- jib-pajak dilakukan oleh pihak ke tiga.
2.6. Penggolongan Pajak.
Menurut S. Munawir, pajak dibagi dalam golongan-go- longan sebagai berikut :
"A. Pajak Langsung dan Pajak Tidak LAngsung.
B. Pajak Umum (pusat) dan Pajak Daerah C. Pajak Subyektif dan Pajak Obyektif." ^
2.6.1. Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung.
Pajak Langsung adalah pajak yang harus dipikul wa - jib-pajak yang bersangkutan dan tidak dapat dilimpahkan ke
pada pihak lain, Tujuannya adalah langsung pada wajib-pa - jak itu sendiri (pihak kedua).
Pajak Tidak Langsung adalah pajak yang dapat dilim
pahkan (diges.erk'to) kepada pihak lain. Dan yang menjadi tujuan adalah pihak ketiga (konsumen) sedangkan pihak ke - dua (produsen dan Pengusaha jasa) sebagai wajib-pajak ber
fungsi memungut pajak tidak langsung untuk kepentingan ne
gara (instansi perpajakan).
2.6.2. Pajak Umum (Pusat) dan Pajak Daerah.
Pajak Pusat adalah pajak yang wewenang pemungutannya berada di tangan Pemerintah Pusat (Departemen Keuangan) r.P&jak $aerah. adalah
r . . . ,
^S.Munawir, Pokok-Pokok Perpa.iakan, Liberty, Yogyakarta, 1985, halaman 16.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
pajak yang wewenang pemungutannya berada di tangan Peroe rintah Daerah.
2.6.3. Pajak Subyektif dan Pajak Obyektif.
Pajak Subyektif adalah pajak yang dipungut dengan mengingat/mempertimbangkan keadaan/kondisi perorangan (wa
jib-pajak), keadaan seperti berkeluarga atau tidak berke - luarga, jumlah anak/keluarga yang menjadi tanggungannya.
Pajak Obyektif adalah pajak yang dipungut dengan ha
nya mempertimbangkan obyek pajaknya saja tanpa mempertim - bangkan keadaan/kondisi perorangan/pemilik obyek pajak, se
perti pada cukai rokok, tidak pandang subyeknya orang mis- kin , orang kaya, bujangan atau sudah berkeluarga, siapapun yang merokok terkena cukai rokok.
2.7- Tarif Pajak.
Pemungutan pajak tidak dapat terlepas dari keadilan dan pemungutan pajak harus adil dan merata, sehingga selu- ruh wajib-pajak akan merasakan tekanan yang sama dalam mem-
•
bayar pajak, selain itu pula karena salah satu fungsinya adalah mengatur. Dengan demikian tarif yang berlaku harus mencerminkan keadilan dan sesuai dengan tujuan yang diha - rapkan (mengatur pemerataan, mendorong investasi, mengatur konsumsi, dsb.), tarif yang berlaku dalam pemungutan pajak adalah sebagai berikut :
1. Tarif pajak yang proporsiona’l atau sebanding.
2. Tarif pajak yang degresif atau menurun.
3. Tarif pajak yang progresif atau meningkat.
Tarif pajak tetap.
2.7.1. Tarif Pajak Proporsional atau Sebanding.
Yang dimaksud dengan tarif pajak yang proporsional adalah tarif pemungutan pajak dengan menggunakan prosentase yang tetap berapapun jumlah yang digunakan sebagai dasar pe- ngenaan pajak, tentunya pajak yang dibayarkan akan selalu berubah sesuai dengan jumlah yang dikenakan pajak. Semakin besar dasar pengenaan pajak semakin beear pula jumlah pajak yang terhutang. Secara grafis dapat dilihat pada gambar 2.
2.7.2. Tarif Pajak Degresif atau Menurun.
Tarif pajak yang menurun adalah tarif pemungutan pa
jak dengan menggunakan prosentase yang semakin kecil dengan semakin besarnya dasar pengenaan pajak. Walaupun prosentase tarifnya makin menurun namun tidak berarti bahwa pajak ter
hutang juga semakin mengecil, bahkan akan semakin besar de
ngan semakin besarnya dasar pengenaan pajak. Secara grafis dapat dilihat pada gambar 3-
2.7.3* Tarif Pajak Progresif atau Meningkat.
Tarif pajak yang meningkat adalah tarif pemungutan pajak dengan prosentase yang semakin meningkat dengan sema-
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
kin besarnya dasar pengenaan pajak, tarif pajak yang pro - gresif ini dapat dibagi lagi menjadi :
a. progresif proporsionil.
b. progresif degresif.
c. progresif progresif.
Tarif pajak yang progresif proporsionil adalah ta - rif pajak dengan prosentase yang naik dengan semakin besar
nya dasar pengenaan pajak, namun kenaikan prosentasenya adalah tetap.
Tarif pajak yang progresif degresif adalah tarif pa
jak dengan prosentase yang naik dengan semakin besarnya da
sar pengenaan pajak, namun kenaikan prosentasenya adalah semakin menurun.
Tarif pajak yang progresif progresif adalah tarif pajak dengan prosentase yang naik dengan semakin besarnya dasar pengenaan pajak, dan kenaikan prosentasenya semakin bertambah besar.
Secara grafis dapat dilihat pada gambar 4, di mana A sebagai kurva tarif pajak progresif proporsional, B se - bagai kurva tarif pajak progresif degresif, dan C sebagai kurva tarif pajak progresif progresif.
4
2.7.4* Tarif Pajak Tetap.
Yang dimaksudkan dengan tarif pajak tetap adalah ta
rif pajak dengan jumlah.yang sama untuk setiap jumlah, se
hingga besarnya pajak terhutang tidak tergantung pada sua-
tu jumlah (nilai obyek) yang dikenakan pajak GAMBAR 2.
GAMBAR 2
TARIF PAJAK PROPORSIONAL
10 %
0 Dasar pajak Rp
Suaber : Soetrisno P*H,, Dasar-Dasar Ilmu Keuangan Negara, B.P. F.E. UGM, Yogyakarta, 1982, halaman 1^.7.
GAMBAR 3 TARIF PAJAK DEGRESIF
Sumber : Soetrisno P.H., Dasar-Dasar Ilmu Keuangan Negara.
B.P. F.E. UGM, Yogayakarta, 1982, halaman K 7 .
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
TARIF PAJAK PROGRESIF
0 Dasar pajak Rp
Sumber : Soetrisno P.H., Dasar-Dasar Ilmu Keuangan Negara*
B.P. F.E. UGM, Yogyakarta, 1982, halaman H 7 .
3. Pa.iak dan Perekonomian
Pada hakekatnya, teori yang digunakan untuk menjadi dasaranalisis, tentang hubungan pajak dan perekonomian adalah merupakan pandangan dari para pendukung Ekonomi Sisi Pena -
*
waran (Supply Side Economics).
"Proponents of the supply-side view focus on the effect that tax rate have on relative prices, aggregate supply and economic growth n.22
Mereka berpendapat bahwa perubahan tarif pajak (tax - rate)akan memepengaruhi tingkat harga dan juga akan mempe - ngaruhi pilihan alokasi sumber daya dan aktivitas ekonomi.
Seperti yang dikemukakan oleh Robert E. Keleher dan William P. Orzechowski sebagai berikut : "tax-induced relative
^^Robert E. Keleher dan William P* Orzechowski,
"Classical Origins of Supply-Side Economics, Economic Impact, A Quarterly Review of World Economics, edisi ke 36", Inter - national Communication Agency, U.S.A., , hal. 35*
price changes affect choices between (1) work and leisure, (2) consumption and savings - investment, and (3) market activity and non market activity".''23
Bila seluruh dana pemerintah diperoleh dari pajak, dan karena dana pemerintah digunakan untuk membiayai pe laksanaan tugas atau kewajibannya yaitu menyediakan barang dan jasa kolektif (prasarana dan sarana umum), maka bila tarif pajak sama dengan nol persen ( 0 % ), pemerintah ti
dak akan sanggup melaksanakan kewajibannya atau menyedia - kan barang dan jasa umum, seperti yang sangat mendasar ya
itu hukum yang diperlukan untuk dapat terselenggaranya per- janjian transaksi (jual beli), pertahanan dan keamanan, prasarana dan sarana perhubungan, dan pendidikan dasar, dan sebagainya, hal tersebut akan mengakibatkan output/produk- si akan sangat menurun.
Bila tarif pajak dinaikkan, pemerintah akan sanggup melaksanakan kewajibannya karena dana telah tersedia. De - ngan adanya prasarana dan sarana umura kegiatan produksi akan bertambah lancar dan meningkat serta kegiatan pereko-
t
nomian akan meningkat dan berkembang pula. Pada kondisi ini pengaruh dari kenaikan efisiensi produksi lebih besar dari - pada pengaruh negatif (dis-incentives dan inefficiencies) akibat kenaikan ta,»rif pajak.
^ Ibid, loc cit.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
Bila tarif pajak dinaikkan terus, pengaruh negatif karena kenaikan tarif pajak akan menjadi dominan. Hal _ ini
4
akan mengakibatkan harga menjadi meningkat dibandingkan ce- beluranya, dan menyebabkan penghasilan setelah pajak untuk ditabungkan dan diinvestasikan menurun. Demikian pula bagi masyarakat yang bekerja pada pekerjaan yang penghasilannya terkena pajak, akan mengubah kegiatannya menjadi bekerja de
ngan lebih santai sehingga produksi barang dan jasa akan ber- kurang.
Sebagai konsekuensinya, output akan terus menurun sampai pada kondisi dimana tarif pajak yang berlaku adalah seratus persen ( 100 % ), yang akan menyebabkan tidak akan ada seorangpun yang mau bekerja untuk memperoleh penghasil
an, karena semua penghasilannya akan diambil oleh negara, dan tidak ada sektor yang dapa£ dikenakan pajak. Sehingga kegiatan perekonomian-pun pada akhirnya akan terhenti.
Mengenai hubungan antara tarif pajak, penerimaan pa
jak, dan perekonomian, Robert E. Keleher dan William P. Or
zechowski mengungkapkan lebih lanjut bahwa "... tax reve. - nues is equal to the product of the tax rate times the tax base'. Since tax-rate changes affect aggregate supply, these rate also affect the tax base - often in the opposite di rection.
^ I b i d , halaman 36.
3*1. Kurva Laffer.
Hubungan antara tarif pajak, penerimaan pajak, *dan pertumbuhan ekonomi diteliti lebih .nendalam oleh Arthur B.
Laffer , ia berhasil membuat suatu model ekonomi yang dapat 25 meramalkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan ca- ra menurunkan tarif pajak. Adapun dasar pemikirannya ada - lah "...lowering tax rates would in fact produce larger tax revenues, and that a substantial tax cut would produce mo-
A / »
re economic growth and thus more revenue".
Pada gambar 5 dapat diamati bahwa, sumbu tegak me - nunjukkan tarif pajak (tax rate) dalam persen ( % ) dan sumbu mendatar menunjukkan jumlah penerimaan pajak (tax re- venues). Tarif pajak optimal ( T0 ) adalah tarif pajak yang menghasilkan penerimaan pajak maksimal dimana perekonomian berada pada kondisi yang paling baik (work effort, invest
ment, saving berada pada kondisi maksimal).
Bila kernudian pemerintah mengambil kebijaksanaan be
rupa kenaikan tarif pajak menjadi T1 ; ffiaka penerimaan pa - jak justru akan menurun. Begitu pula bila tarif pajak ditu- runkan menjadi T2> penerimaan pajak-pun akan menurun. Hal ini disebabkan karena perekonomian bereaksi negatif terha - dap perubahan tarif pajak, sehingga tax base menurun dan
25lihat Arthur B. Laffer, dalam Roger LeRoy Miller, Economics Today, Fourth Edition, Harper and Row Publishers Inc.t, New York, 1982, halaman 349.
p i
Ibid, loccit.
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
KEBIJAKSANAAN DAN PERKEMBANGAN PERPAJAKAN ' DI INDONESIA
1. Pembaruan Perpajakan
Dalam alam kemerdekaan, terhadap peraturan perpajak
an telah banyak dilakukan perubahan-perubahan untuk menye - suaikan dengan situasi dan kondisi yang -sedang dihadapipada masanya. Namun perubahan-perubahan yang telah dilakukan ha
nya bersifat parsial sedangkan perubahan yang agak mendasar baru dilakukan dengan dikeluarkannya Undang-Undang nomor 8 tahun 1967 tentang Perubahan dan Penyempurnaan Tata Cara Pe- mungutan Pajak Pendapatan 194-4, Pajak Kekayaan 1932, "dan Pajak Perseroan 1925; yang mana pelaksanaannya diatur dalam P.P. nomor 11 tahun 1967, dan lebih dikenal dengan sistim M.P.S. dan M.P.O. (Menghitung Pajak Sendiri dan Menghitung Pajak Orang).
Meskipun demikian, upaya perubahan tersebut belum da
pat menjawab secara mendasar tuntutan dan kebutuhan rakyat atas perangkat perundang-undangan perpajakan yang lebih ba
ik, seperti yang tersirat dalam G .B ■H .N. 1 bahwa sistim per
pajakan harus terus disempurnakan, pungutan pajak diinten - sifkan dan aparat perpajakan harus makin mampu dan bersih.
^GBHN-Ketetapan MPR No. II/MPR/1983> Sekretariat Ne
gara, Bab IV, Sub-bab D, ayat 13- ^
M I L I K .
^ P B U P U j T A K A A N
B A B III
kernudian akan menghasilkan penerimaan pajak yang menurun.
Untuk menjelaskan lebih lanjut Laffer menyatakan.bah
wa "Zero tax rates would obviously produce zero revenues;
however, tax rates of 100 percent would also produce zero re'-nues, since taxpayers would cease to work (at least for money) since their income would be entirely taxed away".27
GAMBAR 5
K U R V A L A F F E R
R? R max
PENERIMAAN PAJAK (TAX REVENUES), R Sumber
1982, halaman 348, diolah.
27Ibid* loccit*
SKRIPSI PERANAN PAJAK NON MIGAS... RUBY INDRAKUSUMAH
Perubahan yang mendasar telah dilakukan oleh peme -
b
rintah, baik sebagai perbaikan proses pengelolaan penerima- an. pajak maupun untuk meningkatkan penerimaan negara .Adapun
undang-udang perpajakan yang dikeluarkan adalah :
- Undang-Undang nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan.
- Undang-Undang nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasil- a n .
- dan Undang-Undang nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Per -
«
tambahan Nilai Atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
:Ketiga undang-undang tersebut ditetapkan pada tang- gal 31 Desembar 1983, dan untuk Undang-Undang nomor 6 ta - hun 1983 dan Undang-Undang nomor 7 tahun 1983 mulai diber- lakukan pada tanggal 1 Januari 1984. Sedangkan Undang-Un - dang nomor 8 tahun 1983 mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1984 namun berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Un - dang-Undang nomor 1 tahun 1984 berlakunya ditangguhkan sam
pai selambat-lambatnya tanggal 1 Januari 1986. Kernudian berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 1 Tahun 1985 dite - tapkan mulai berlaku pada tanggal 1 April 1985.
Undang-Undang nomor 7 tahun 1983 dapat disebut se - 1 i bagai Undang-Undang Pajak Penghasilan tahun 1984, dan Un - dang-Undang nomor 8 tahun 1983 dapat disebut sebagai Un - dang-Undang Pajak Pertambahan Nilai tahun 1984.