Dundin Zaenuddin, Anang Hidayat dan Teddy Lesmana
Latar Belakang
Kebijakan Pemerintah terkait pengelolaan sumber daya hutan belum menyentuh pada kepentingan masyarakat dalam menjamin kesejahteraan dan perlindungan bagi
pemanfaatan secara berkelanjutan. Secara umum pengukuran tingkat kesejahteraan yang
dimaksud yang tersebut di atas dapat di lihat dari seberapa besar kemampuannya dalam
pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat di suatu kawasan, khusunya di area hutan. Sementara itu munculnya berbagai konflik antar sektor
kehutanan lebih disebabkan karena tumpang- tindinya kebijakan yang berpihak. Konflik sering kali terjadi antara masyarakat dan pihak
Perhutani dibandingkan dengan konflik antara masyarakat dengan masyarakat lainnya karena perebutan lahan. Konflik lebih dipicu pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap
pemerintah, khususnya pada aparatur Jagawana (penjaga hutan) yang didukung oleh para pemilik modal. Para pemilik modal yang memiliki peran sebagai pengepul/penadah memiliki dua
kepentingan pada masyarakat, pertama, karena kegiatan kehutanan dapat menghasilkan
pendapatan yang cukup besar dengan melibatkan masyarakat dalam skala kecil, sehingga para pemilik modal hanya terbebani biaya upah tanam, hasil tumpangsari, upah tebangan dan upah dari berbagai kegiatan lain. Kedua, dengan adanya keberpihakan aparatur terhadap pemilik modal, maka masyarakat hanya dijadikan objek
dalam kepentingan usahanya. Kondisi ini dapat dilihat dari bagaimana keterlibatan oknum pemerintah dalam hal ini oknum perhutani, oknum militer, para pemilik modal, dan pihak- pihak lain yang terkait dalam suatu jaringan tata usaha perkayuan yang terkadang beberapa oknum masyarakat sendiri juga terlibat di dalamnya. Ditambah lagi maraknya aksi penjarahan dan perambahan hutan kerap kali terjadi dan berdampak pada kerugian dari segi ekonomi, ekologi maupun sosial dan budaya di kawasan hutan.
Berdasarkan kondisi diatas Perhutani melakukan langkah reformasi dengan menerapkan gagasan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Pada awalnya (tahun 2001) segenap pembiayaan atas gagasan yang implementasikan dalam bentuk program-program kerja PHBM di bebankan pada anggaran Perhutani. Adapun model dan sistem PHBM itu sendiri
dilaksanakan dengan jiwa bersama, berdaya dan berbagi dalam pemanfaatan lahan/ruang, waktu, dan hasil dalam pengelolaan sumber daya hutan dengan prinsip saling menguntungkan,
memperkuat dan mendukung serta kesadaran akan tanggung jawab sosial. Program PHBM sendiri diyakini menjadi salah satu trobosan bagi Perhutani untuk menanggulangi terjadinya penjarahan karena sistem yang diterapkannya adalah bagi hasil. Program PHBM itu sendiri dinilai telah menggeser paradigma dalam
Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat
©P2SDR-LIPI, 2014
Tulisan ini merupakan pandangan penulis dan tidak berarti pandangan resmi P2SDR-LIPI
Lt. 4, Gedung Herbarium Museum Ethnobotani Indonesia Jl. Ir. H. Juanda 22 Bogor 16122 Fax: +62-251-8321039
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat pengelolaan hutan. Pengelolahan hutan yang dulunya berbasis pada hasil-hasil kayu bergeser pada pengelolaan yang berbasis pada
pengelolaan sumber daya hutan partisipatif yang dilakukan bersama dengan masyarakat atau kelompok masyarakat yang memiliki
kepentingan terhadap kelestarian sumber daya hutan.
Kondisi Terkini
Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, membagi hutan berdasarkan
statusnya menjadi dua, yaitu hutan negara dan hutan hak. Secara definisi pada pasal 1, hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah, sedangkan hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Dari pembagian hutan tersebut, terdapat beberapa opsi
pengelolaan hutan berbasis masyarakat (community based forest management) yang dapat dilakukan. Pada hutan negara dapat dilakukan pengelolaan hutan menggunakan beberapa konsep, yaitu hutan kemasyarakatan yang diatur dalam Permenhut No. P. 37/Menhut- II/2007 Jo No. P. 52/Menhut-II/2011, hutan desa yang diatur dalam Permenhut No. P. 49/Menhut- II/2008 Jo No. P. 53/Menhut-II/2011, hutan tanaman rakyat yang diatur dalam Permenhut No. P. 23/Menhut-II/2007 Jo No. P. 5/Menhut- II/2008, dan hutan adat.
Prinsip mendasar pembangunan hutan berbasis masyarakat yang dapat diterapkan dalam hutan hak adalah hutan rakyat. Hutan rakyat
merupakan sebuah bentuk pengaplikasian dari konstruksi sosial masyarakat dengan hutan yang
dapat menunjukan bahwa terdapat multifungsi dari pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat dengan kearifan lokal yang dimiliki.
Hutan rakyat sendiri adalah hutan yang tumbuh di atas tanah milik dengan luas minimal 0.25 ha, yang didominasi oleh tanaman perkayuan, dan atau tanaman tahun pertama minimal 500 batang (Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999).
Hutan rakyat ini dipandang kedepan memiliki potensi besar dalam kegiatan rehabilitasi lahan maupun konsevasi alam. Perlu dipahami, bahwa dengan masyarakat yang sejahtera maka hutan akan lestari dengan sendirinya (Mutiono, 2011).
Gerakan PHBM diawali dengan lahirnya SK Direksi No. 136/KPTS/Dir/2001 tanggal 29 Maret 2001 tentang Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Surat Keputusan tersebut dikuatkan dengan adanya SK Gubernur Jawa Tengah No.
24 Tahun 2001 tanggal 26 September 2001 tentang Pengelolaan Sumber Daya Hutan Bersama Masyarakat dan SK Direksi PT.
Perhutani (Persero) No. 001/KPTS/Dir/2002 tanggal 2 Januari 2002 tentang Pedoman Berbagi Hasil Hutan Kayu. Sejak itu PHBM ditetapkan sebagai sistem pengelolaan hutan yang ideal. Di satu pihak, pelaksanaan PHBM yang diterapkan menemui beberapa kendala yang pada akhirnya menghambat kurang lancarnya dalam eksekusi program. Hal tersebut lebih dipicu oleh
ketidakpercayaan masyarakat terhadap Perhutani. Selain itu kendala lain yang sering kali muncul adalah maraknya oknum masyarakat yang mempunyai kepentingan pribadi
melakukan provokasi penentangan yang berdampak pada pelaksanaan PHMB menjadi terganggu. Kendala pada aparatur Perhutani terutama di tingkat bawah dengan pemahaman
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat tentang program PHBM masih belum
menyeluruh. Program penerapan PHBM tentu tidak lepas dari kendala dan hambatan baik dari internal maupun eksternal. Kendala dan
hambatan yang dalam penerapan PHBM yang masih dirasakan masyarakat adalah kurang memahaminya akan penerapan kebijakan PHMB. Tingkat pemahaman yang kurang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam menginteprestasikan kebijakan PHMB di lapangan. Adanya pemahaman yang berbeda dalam masyarakat akan berakibat kurang berhasilnya tujuan dari PHMB dan kurang optimalnya hasil kegiatan PHMB. Masalah lain yang masih dirasakan oleh banyak pihak dari unsure yang terkait dengan PHBM adalah masalah alokasi dana bagi hasil sebesar 25%
untuk LMDH yang tercantum dalam kebijakan PHBM. Kurang sesuainya kebijakan mengenai alokasi dana dalam upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat desa hutan berdampak pada hasil pelaksanaan PHBM yang kurang optimal.
Kesenjangan
Kebijakan ekonomi tentang alokasi serta pengelolaan kawasan hutan berbasis Negara hanya memihak kepentingan modal, dan secara nyata telah berdampak sangat luas terhadap kerusakan alam dan fungsi ekologis hutan.
Korban pertama dan yang utama dari kerusakan ini adalah masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Kebijakan kehutanan lebih ekstraktif dan tidak memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengelola hutan secara berkelanjutan. Pengetahuan dan kearifan lokal dalam mengelola hutan sepertinya belum
mendapat tempat yang layak sebagai bagian dari
faktor produksi. Sementara itu, diperkirakan di Indonesia paling sedikit 30 juta jiwa di antaranya berada di dalam dan di sekitar hutan adalah kelompok masyarakat adat yang tertinggal, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, maupun di bidang sosial dan budaya lainnya. Di satu sisi, adanya perlakuan tidak adil yang dapat dilihat dari pengkategorian dan pendefinisian terhadap masyarakat adat sebagai masyarakat terasing, peladang berpindah, masyarakat rentan, masyarakat primitif dan sebagainya, yang mengakibatkan percepatan kemunduran sistem dan pola kehidupan masyarakat adat secara ekonomi, politik, hukum maupun secara sosial dan kultural. Hal ini dapat diamati dari adanya berbagai kebijakan dan aturan yang secara sepihak menetapkan alokasi dan pengelolaan hutan yang sebagian besar berada di dalam wilayah-wilayah adat yang di bawah kekuasaan dan kendali pemerintah. Dengan mengeluarkan dan menerapkan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan, yang kemudian diganti dengan UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan, secara sepihak telah menempatkan hutan milik masyarakat/adat sebagai hutan negara. Dalam hal ini kebijakan telah menjadi instrumen untuk mengambil-alih sumber-sumber ekonomi yang dikuasai oleh masyarakat
terutama masyarakat adat yang selanjutnya pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta.
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) meyakini bahwa solusi terhadap persoalan- persoalan kunci kehutanan di Indonesia hanyalah kearifan lokal yang bersumber dari adat, yang sekian lama ditransformasikan ke dalam sistim pengelolaan hutan yang progresif dan mengikuti zamannya. Bagaimana pun juga kearifan lokal yang berbasis komunitas tersebut merupakan
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat potensi sosial-budaya yang sangat besar untuk direvitalisasi, diperkaya, diperkuat dan
dikembangkan sebagai landasan baru menuju perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang selama ini terpusat di tangan
pemerintah yang terbukti memiliki dampak negatif terhadap konsevasi hutan dan
memarjinalisasi ekonomi masyarakat di dalam maupun di sekitar hutan.
Masyarakat di kawasan hutan atau lebih dikenal sebagai masyarakat adat terbukti mampu
menopang kehidupan sosial-ekonomi mereka sendiri sebagai komunitas dan sekaligus menyangga keberlangsungan ekologi alam dimana mereka tinggal. Dengan pranata sosial yang bersahabat dengan alam, masyarakat adat memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan rehabilitasi dan memulihkan
kerusakan hutan di areal-areal bekas konsesi Hak Penguasaan Hutan (HPH) dan lahan-lahan hutan kritis (community based reforestation and rehabilitation) dengan tanaman jenis lokal dan komersial. Dengan pengayaan terhadap pranata sosial untuk pencapaian tujuan-tujuan ekonomis, komunitas masyarakat di sekitar hutan mampu mengelola usaha ekonomi komersial berbasis sumber daya hutan yang ada di wilayahnya (community logging/portable sawmill, community forestry, credit union, dan
sebagainya) untuk mengatur dan mengendalikan pembalakan liar yang dimodali oleh pengusaha perkayuan, mengurangi “clear cutting” legal dengan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) untuk tujuan konversi hutan, dan mencegah
penebangan hutan yang resmi (legal, dapat ijin yang sah dari pemerintah) tetapi merusak lingkungan dan tidak berkeadilan seperti Izin
Hak Pemungutan Hasil Hutan (IHPHH) yang diterbitkan oleh pemerintah daerah.
TEMUAN
Mengambil pelajaran dari negara-negara di ASEAN yang mulai gencar mengangkat isu-isu lingkungan dengan melakukan gerakkan
menjaga hutannya dengan berbagai program- program konservasi hutan yang dikaitkan dengan kebijakan skala nasionalnya. Seperti contohnya di Thailand dengan luasan hutan yang tinggal 18% telah mengkaitkan pengelolaan hutan dengan program nasionalnya. Salah satu program nasional Thailand yang gencar dilakukan adalah gerakan ekowisata dengan peran serta dari berbagai unsur, baik dari unsur Pemerintah, Swasta, maupun masyarakat adat sebagai aktor utamanya. Sementara itu Malaysia lebih banyak berkonsentrasi pada konservasi hutan melalui membangun lebih banyak cagar- cagar biosfer dan melibatkan masyarakt adat secara penuh dalam aktivitas pengendalian, pengawasan dan pemanfaatannya. Jadi, pada dasarnya bagaimana dapat membuat rakyat sejahtera terlebih dahulu sebelum memikirkan hutan lestari, karena salah satu penyebab
kerusakan hutan di Indonesia adalah kemiskinan.
Melalui pengelolaan hutan berbasis masyarakat, selain potensinya yang besar untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga akan mendorong kepedulian masyarakat untuk terus menjaga hutan serta lingkungan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 49/Menhut-II/2011 tentang Rencana Kehutanan Tingkat Nasional, terlihat bahwa target nasional untuk pemanfaatan hutan skala
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat kecil adalah sebesar 5,6 juta hektar. Untuk mencapai target tersebut tentu saja diperlukan berbagai upaya strategis dalam mendorong pengembangan kegiatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat khususnya yang dilakukan dalam hutan negara, baik itu yang menyangkut kebijakan, kelembagaan, infrastruktur, dan lain sebagainya. Sementara itu persoalan yang terkait dengan target pengembangan hutan
kemasyarakatan dan hutan desa yang cukup besar adalah tidak mudahnya mengalokasikan kawasan hutan yang benar-benar bebas dan bersih. Seperti yang dikemukan sebelumnya, sebagian besar kawasan hutan negara telah dipenuhi oleh berbagai izin pemanfaatan baik HPH, HTI, perkebunan, maupun pertambangan, yang antara satu dengan lainnya yang terkadang saling tumpang tindih. Kondisi ini menjadi kendala tersendiri dalam pencapaian target nasional pengembangan hutan kemasyarakatan dan hutan desa saat ini dan dimasa mendatang.
Pada prinsipnya terdapat beberapa alasan yang mendasari pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan hutan, yaitu:
1. Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan memiliki motivasi yang kuat sebagai
penerima insentif yang paling bernilai untuk melindungi hutan dibandingkan pihak-pihak lain karena hutan sendiri menyangkut keberlanjutan kehidupan mereka;
2. Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan memiliki pengetahuan asli bagaimana memelihara dan memanfaatkan sumber daya hutan yang ada di dalam habitat mereka;
3. Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan memiliki hukum adat untuk ditegakkan secara turun menurun;
4. Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan memiliki kelembagaan adat yang mengatur interaksi harmonis antara mereka dengan ekosistem yang ada di hutan;
5. Sebagian dari masyarakat yang tinggal di kawasan hutan sudah memiliki organisasi dan jaringan kerja untuk membangun solidaritas di antara komunitas-komunitas masyarakat adat, dan juga mengorganisasikan dukungan politis dan teknis dari pihak-pihak luar;
6. Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan dilindungi UUD 1945 yang mengharuskan negara mengakui, menghormati dan
melindungi hak-hak tradisional (hak-hak asal usul, menurut penjelasan Pasal 18 UUD 1945 sebelum diamandemen), dan diposisikan sebagai Hak Azasi Manusia (HAM) baik dalam Pasal 28 I ayat (3) sesuai dengan standar HAM dalam berbagai instrumen internasional.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penyelenggaraan kehutanan dengan
memperhatikan aspirasi dan mengikutsertakan masyarakat telah menjadi gagasan yang mendasar. Pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang kehutanan yang berdaya guna dan berhasil guna (Pasal 70 UU Kehutanan No. 41 Tahun 1999). Dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 (Peraturan ini direvisi menjadi PP No. 3/2008) tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan, Kementerian Kehutanan mengeluarkan program
Pemberdayaan Masyarakat Setempat. Dalam PP 6/2007 Jo PP 3/2008 tersebut diamanatkan bahwa pemberdayaan masyarakat setempat ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya hutan yang adil dan optimal. Dalam hal ini ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu peningkatan kapasitas dan pemberian akses kepada masyarakat terhadap sumber daya hutan yang ada disekitarnya. Kebijakan dan program pembangunan kehutanan harus dikembalikan pada konstitusi, yaitu sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Bentuk peran masyarakat dalam bidang kehutanan yang harus didorong oleh pemerintah salah satunya adalah
pembangunan hutan berbasis masyarakat.
REKOMENDASI
Program-program pengelolaan hutan selama ini sebagaimana pengelolaan dalam bentuk
Community Based Forest Management yang telah diimplementasikan di beberapa Asia Tenggara dan sudah diadopsi dan
diimplementasikan di Indonesia dalam bentuk Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Pola pengelolalan seperti ini direkomendasikan untuk dilanjutkan dan ditingkatkan baik volume maupun kualitas pengelolaannya guna efekfititas dan efisisiensi program karena beberapa pertimbangan berikut:
1. Setiap komunitas desa hutan (KDH) memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh warga komunitasnya;
2. Muncul ide-ide cara dan tujuan pemanfaatan sumber daya hutan (SDH);
3. Warga tersebut mampu merumuskan konsensus bersama dalam menentukan cara pemanfaatkan SDH;
4. Pemanfaatan SDH melalui PHBM dapat bertahan lama karena mekanismenya
memperhatikan prinsip keadilan untuk semua
warga sehingga menumbuhkan rasa saling percaya (trust). Mekanisme
pengorganisasiannya juga membuka
partisipasi sederajat antar warga (networks).
Di samping itu, ada aturan yang jelas dan dipatuhi bersama tentang ganjaran dan sangsi (shared institutions) yang harus dilaksanakan secara konsisten.
Dengan demikian, komunitas desa hutan ini dapat berfungsi secara berkelanjutan jika diwarnai oleh tiga unsur utama yaitu saling percaya, jaringan sosial dan pranata bersama yang dapat memelihara kerjasama kolektif karena adanya ganjaran dan sanksi yang diimplementasikan secara konsisten dan berkeadilan.
Rekonstruksi dan revitalisasi peran komunitas desa hutan perlu dan dapat difasilitasi oleh lembaga pemerintah sejauh lembaga ini mempraktekkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik seperti transparansi, akuntabilitas, keterbukaan akan partisipasi masyarakat, responsiveness dan keefektifan dalam menjalankan program-program
pengembangan wilayah. Hal ini pada gilirannya akan menciptakan relasi sinergis antara
komunitas desa hutan, perusahaan dan
pemerintah yang berkontribusi signifikan dalam pengelolaan hutan yang berkesinambungan Belajar dari sistem pengelolaan berbagai Negara di Asia Tenggara seperti sudah dilakukan dalam program-program PHBM selama ini, maka penyebaran (transmisi) unsur-unsur modal sosial yang merupakan basis terjadinya kerjasama kolektif--dalam penyediaan kebutuhan
masyarakat, bisa berlangsung, jika faktor-faktor
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat yang membuat persistensi modal sosial itu tersedia dan mekanisme-mekanisme sosial yang kondusif juga ditemukan dalam suatu konteks komunitas. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagaimana uraian berikut:
Langkah 1: Untuk proses pengelolaan hutan berbasis komunitas desa hutan dalam bentuk Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat, harus ada indentifikasi SDH yang kongkrit yang menjadi subyek pengelolaan.
Langkah 2: Pengembangan gagasan atau ide untuk pengelolaan SDH tadi, harus melalui suatu proses panjang guna pembahasan dan
pematangannya, dengan memperhitungkan berbagai aspek (melalui semacam analisis SWOT), kemudian ditetapkan sebagai sebuah pilihan cara mengatasi suatu masalah yang dihadapi masyarakat.
Langkah 3: Menemukan consensus melalui musyarah di antara pemangku kepentingan dengan keberadaan SDH tersebut untuk mendapatkan komitmen dan dukungan atas pengelolaan sumber daya.
Langkah 4: Merumuskan tujuan pengelolaan.
Tujuan harus sesuatu yang mungkin dan dapat dicapai (attainable) dan dapat memenuhi kebutuhan bersama warga (kolektif).
Langkah 5: Menetapkan jaringan sosial atau satuan sosial yang menjadi konstituen
pengelolaan, yaitu mereka yang akan menjadi partisipasi aktif dalam proses pengelolaan dan pemanfaatan hasilnya.
Langkah 6: Merajut pranata (crafting
institution), baik berupa sistem nilai bersama,
norma-norma, aturan-aturan teknis serta sanksi sebagai bentuk membangun sistem pengelolaan.
Langkah 7: Membangun hubungan saling percaya. Hubungan saling percaya akan tumbuh ketika proses-proses sosial dalam pengelolaan hutan memberikan jaminan keadilan bagi semua pihak
Langkah 8: Melakukan siklus pendayagunaan modal sosial komunitas desa hutan, perusahaan dan pemerintahdengan membangun kekompakan atau kesatu-paduan (cohesiveness) di kalangan komunitas desa hutan untuk meneguhkan pelaksanaan institusi, menumbuhkan
kepercayaan, dan demikian seterusnya secara berulang dan berkelanjutan (cyclicle-
sustainable).
Pola pengelolaan termasuk pembiayaan kegiatan-kegiatan dalam program PHBM dan program pemberdayaan selama ini, sebagai salah satu unsur penting pengelolaan hutan, perlu ditingkatkan secara sistematis memanfaatkan komunitas desa hutan.Sistem keswadayaan (co- produksi) ini telah membuat lapisan masyarakat yang tidak terlibat dapat terakomodasi untuk pelaksanaan penyediaan infrastruktur.
Hal ini terutama dirasakan oleh golongan menengah ke bawah, mengingat pengelolaan hutan dan kebutuhan pada SDH semakin tinggi, maka perlu upaya-upaya kreatif yang dalam jangka panjang mampu mengembangkan sinergi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Oleh karena itu upaya alternatif dengan melihat potensi komunitas desa hutan merupakan hal yang strategis untuk dilakukan.
Pengelolaan Hutan Bebasis Masyarakat
Aktualisasi komunitas desa hutan pada dasarnya merupakan upaya dan langkah-langkah yang sesuai dengan mekanisme sosial pada setting komunitas tertentu. Berikut ini adalah beberapa mekanisme yang dapat dikembangkan, yaitu:
a. Insentif sosial berupa penerimaan dari lingkungan sekitar akan munculnya
kerjasama berkelanjutan yang memberikan peluang munculnya upaya kongkrit
pengelolaan hutan untuk kepentingan masyarakat.
b. Pemerintah mendorong dan menfasilitasi tumbuhnya usaha-usaha pengelolaan hutan melalui komunitas desa hutan. Melalui mekanisme kelembagaan tersebut dapat diperoleh kemanfaatan sebagai berikut:
• Dapat mengatasi kekurangan kemampuan pemerintah dalam pengelolan hutan yang berkesinambungan. Mekanisme sosial yang dapat mengurangi beban keuangan negara dan tenaga kerja itu adalah dengan menggali potensi komunitas desa hutan.
• Dapat mengatasi opportunity loss.
Pembiayaan jangka panjang melalui APBN/APBD, di samping memiliki risiko default juga memiliki risiko terhadap perubahan variable makro ekonomi yang mengakibatkan terjadinya opportunity loss bagi pemerintah untuk kebutuhan-
kebutuhan yang lebih strategis seperti pendidikan.Mekanisme pengelolaan hutan bersama masyarakat ini dapat mengurangi opportunity loss ini.
• Untuk mengatasi risiko pada saat pembangunan proyek. Pendayagunaan potensi komunitas desa hutan juga dapat meminimalisasi risiko kerugian dan ketidak-manfaatan suatu program apabila komunitas itu tidak dilibatkan secara sinergis sejak dari awal program dilakukan.
Tentang Penulis Dundin Zaenuddin dan Anang Hidayat adalah peneliti pada Pusat Penelitian Sumber Daya Regional;
Teddy Lesmana adalah peneliti pada Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Policy Brief ini merupakan salah satu output dari penelitian yang dibiayai DIPA PSDR-LIPI tahun 2010-2014 tentang Mitos, Local Wisdom dan Manajemen Hutan di Asia Tenggara.