No. : 086/Ketua/II/2022
Hal. : Penugasan Dosen Tetap STFT Jakarta dalam Program Kursus Teologi Dasar
SURAT TUGAS
Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta melalui surat ini menugaskan 5 (lima) dosen STFT Jakarta untuk menjadi pembicara dalam Program Kursus Teologi Dasar dengan tema “Belajar Alkitab Seri-2”. Program ini dilaksanakan dengan tujuan menyediakan tempat bagi masyarakat yang berminat belajar teologi dasar sekaligus mempopulerkan ilmu teologi kepada masyarakat. Kursus Teologi Dasar diselenggarakan secara online oleh STFT Jakarta pada Semester Genap TA 2021-2022, dengan rincian sebagai berikut:
No. Nama Dosen Topik Waktu
1 Asigor Parongna Sitanggang, Th.D.
Markus Injil Tertua 10 Maret 2022 2 Yonky Karman, Ph.D. Perjanjian Lama Sebagai
Kitab Suci
17 Maret 2022 3 Agustinus Setiawidi, Th.D. Teologi Profetis 24 Maret 2022
4 Yonky Karman, Ph.D. Kitab Imamat 31 Maret 2022
5 Agustinus Setiawidi, Th.D. Teologi Ratapan 7 April 2022 6 Prof. Dr. Samuel Benyamin Hakh Surat-surat Am 14 April 2022 7 Asigor Parongna Sitanggang,
Th.D. Rasul Paulus Penulis Surat
Terbanyak 5 Mei 2022
8 Justitia Vox Dei Hattu, Th.D. Anak dan Alkitab 12 Mei 2022
Demikian surat tugas ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 22 Februari 2022
Septemmy Eucharistia Lakawa, Th.D.
Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta
SERTIFIKAT diberikan kepada:
sebagai pembicara dalam kegiatan Kursus Teologi Dasar semester genap 2021/2022
dengan judul
Teologi Profetis
yang diselenggarakan pada 24 Maret 2022 di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Jalan Proklamasi 27 Jakarta Pusat, 10320
Agustinus Setiawidi, Th.D.
Wakil Ketua I STFT Jakarta Bidang Akademik
Agustinus Setiawidi, Th.D.
KURSUS TEOLOGI DASAR ONLINE BERSERTIFIK AT
Seri Kelima
10 Maret 2022 17 Maret 2022 24 Maret 2022 31 Maret 2022
7 April 2022 14 April 2022 21 April 2022 28 April 2022
12 Mei 2022 5 Mei 2022
Asigor Sitangang, Th.D Yonky Karman, Ph.D. Agustinus Setiawidi Th.D
Prof. Samuel. B. Hakh, D.Th
Yonky Karman, Ph.D.
Agustinus Setiawidi Th.D Sally N.S. Neparassi, M.Th. Isabella N. Sinulingga, MTS.
Justitia. V. D. Hattu, Th.D.
Asigor Sitangang, Th.D
Markus Injil Tertua Perjanjian Lama sebagai Teologi Profetis
Kitab Suci Kitab Imamat
Kitab Ratapan Surat-surat Am Paul: The Letter and
Literary Writer
Narasi Kesembuhan dalam Alkitab dalam Perspektif Teologi DisabilitasRasul Paulus Penulis
Surat Terbanyak Anak dan Alkitab
`
KURSUS TEOLOGI DASAR 5
“Belajar Alkitab – Seri 2”
PENJELASAN
Melihat kebutuhan jemaat untuk belajar teologi dasar dengan baik dari tempat yang terpercaya, program Kursus Teologi Dasar, adalah sebuah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, dan salah satu program Bina Warga Jemaat dan Aktivis Bersertifikat, yang dirancang oleh Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta (STFT Jakarta), yang memberikan kesempatan kepada warga jemaat untuk belajar tema-tema dasar dalam ilmu teologi, dan juga untuk mempopulerkannya kepada publik. Program ini mendorong peserta yang berasal dari berbagai gereja menjadi ruang belajar bagi warga jemaat untuk memiliki keterampilan teologi dasar.
Pada seri keempat ini, Kursus Teologi Dasar mengangkat tema “Belajar Alkitab – Seri 2”.
Diharapakan melalui proses ruang belajar ini, peserta diharapkan memiliki keterampilan dalam liturgika dan musik gereja yang dapat diterapkan pada pelayanan di gereja masing-masing.
PENYELENGGARA
Kantor Wakil Ketua IV bidang Relasi Publik - Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta.
WAKTU PELAKSANAAN
Kelas diselenggarakan setiap hari Kamis, mulai tanggal 10 Maret – 12 Mei 2022 pukul 18.00–
20.00 WIB secara daring menggunakan aplikasi Zoom (jadwal terlampir).
BENTUK PERTEMUAN
• Pertemuan/kelas diadakan sebanyak 10 kali secara daring melalui aplikasi Zoom.
• Pembicara adalah dosen-dosen STFT Jakarta.
• Para pembicara menyiapkan dan menulis makalah/diktat (3000-4000 kata), serta bahan presentasi Powerpoint.
• Kesepuluh pertemuan/kelas dibagi sebagai berikut:
- Paparan materi selama 1 jam (18.00–19.00 WIB) - Istirahat selama 5 menit (19.00–19.05 WIB)
- Diskusi interaktif selama 55 menit (19.05–20.00 WIB) JADWAL KEGIATAN
Tanggal Tema Seri 1 Tema Seri 2 Pembicara
10 Maret 2022 Pengantar kepada
Teologi Alkitab Asigor Sitanggang, Th.D.
17 Maret 2022 Pengantar Teologi
Perjanjian Lama Yonky Karman, Ph.D.
24 Maret 2022 Kitab-kitab Musa Agustinus Setiawidi, Th.D.
31 Maret 2022 Kitab-kitab Sastra Yonky Karman, Ph.D.
7 April 2022 Kitab Nabi Agustinus Setiawidi, Th.D.
`
14 April 2022 Pengantar Teologi Perjanjian Baru
Prof. Samuel Benyamin Hakh, D.Th.
21 April 2022 Injil Bambang Subandrijo, Ph.D.
28 April 2022 Surat-surat Pastoral Isabella Novsima
Sinulingga, MTS.
5 Mei 2022 Kitab Wahyu Asigor Sitanggang, Th.D.
12 Mei 2022 Membaca Alkitab
dengan Mata Baru Justitia Vox Dei Hattu, Th.D.
PESERTA
Target peserta adalah 80-100 orang. Komposisi peserta dalam kegiatan ini adalah para pendeta, anggota Majelis Jemaat, aktivis/pengurus gereja (secara khusus pelayan dalam pelayanan liturgi dan musik gereja), mahasiswa teologi, dan warga jemaat umum.
BIAYA KONTRIBUSI
- Kategori umum: Rp1.000.020,00
- Kategori mahasiswa teologi: Rp600.020,00
- atau jika mengikuti per-pertemuan, masing-masing sebesar Rp150.020,00
Biaya kontribusi dibayarkan melalui transfer bank ke nomor rekening STFT Jakarta:
BCA Cabang Matraman No. 342-302-2635 (a.n. Yay Lembaga PT Teologi Jakarta).
PENDAFTARAN
Mengisi formulir elektronik pada tautan https://bit.ly/daftarKTD5
(Catatan: Terdapat kolom unggah bukti transfer, sehingga perlu melakukan transfer biaya kontribusi dahulu sebelum mengisi formulir)
Pendaftaran ditutup pada hari Senin, 7 Maret 2022. Informasi selanjutnya dapat menghubungi kami melalui email [email protected].
Kursus Teologi Dasar 5
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Kamis, 24 Maret 2022
1
TEOLOGI PROFETIS
Agustinus Setiawidi
Pengantar
Pada KTD terdahulu, saya sudah membahas kitab-kitab para nabi secara garis besar. Bahasan itu mencakup definisi tentang siapakah para nabi di dalam Perjanjian Lama, apa latar belakang atau konteks ekonomi, sosial, dan keagamaan yang membuat mereka muncul, apa yang mereka lakukan dan perspektif teologis tentang para nabi itu sendiri.
Dalam KTD lanjutan ini saya ingin memperdalam bahan-bahan itu dengan percakapan tentang teologi yang dianut atau diperjuangkan oleh para nabi, khususnya mereka yang hidup sebelum dan selama periode Pembuangan.
Kita telah maklum bahwa kritik yang disuarakan oleh para nabi berpusat pada Perjanjian antara Allah Israel dan umat-Nya. Para nabi yang diutus oleh Allah mengingatkan umat bahwa Perjanjian itu telah dipertaruhkan ketika berbagai praktik hidup, baik hidup keagamaan dan hidup sehari-hari, tidak lagi sesuai dengan apa yang dituntut oleh Perjanjian, yang telah disepakati bersama.
Kritik para nabi kita kenal sebagai suara kenabian. Teologi profetis adalah tema-tema teologis yang dapat kita temukan dalam suara kenabian tersebut, yang bermuara kepada keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati, sebagaimana yang disuarakan oleh nabi Mikha (6:8). Suara yang sama juga diserukan oleh nabi-nabi lainnya.
Karena keterbatasan waktu, kita harus membatasi diri dengan mengangkat tema-tema yang selama ini sudah sering menjadi pokok diskusi di kalangan para teolog.
Teologi Pertobatan (Yesaya 1:10-20)
Bertobat atau kembali ke jalan yang seharusnya ditempuh, merupakan tema sentral dalam pemberitaan para nabi sebelum pembuangan. Kita akan mengambil contoh dari suara nabi Yesaya.
Dalam bagian pembukaan, Yesaya 1:10-20 menyerukan pertobatan. Menurut saya, judul yang diberikan oleh LAI – Bertobat lebih baik dari mempersembahkan korban – sudah tepat, karena inti dari perikop ini adalah seruan pertobatan. Akan tetapi dalam pengamatan saya, perikop ini lebih dikenal sebagai perikop pengampunan dosa, dan sayangnya pengampunan dosa yang dipahami di sini menjadi kurang bermakna. Sebab ayat 18 sering dikutip sebagai bukti kebaikan Tuhan yang akan mengampuni atau menghapus dosa manusia seberapa pun beratnya. Pengampunan pada ayat 18 tidak bisa dilepaskan dari seruan pertobatan. Pertama-tama, firman TUHAN melalui nabi Yesaya memberitahukan apa kesalahan dan dosa umat-Nya. Mereka memang taat untuk memberikan korban persembahan, bahkan mungkin dalam jumlah yang lebih daripada yang telah diatur oleh para imam.
Akan tetapi, semuanya itu ditolak oleh TUHAN, begitu juga dengan perayaan hari-hari keagamaan yang meriah. Alasannya jelas. Umat melakukan pelanggaran atas Perjanjian. Mereka tidak berlaku adil terhadap orang-orang lemah yang diwakili oleh para janda dan anak-anak yatim. Untuk semua kejahatan yang telah dilakukan, TUHAN menuntut pengakuan dan pertobatan. Jadi, kemungkinan besar tantangan yang harus dihadapi umat adalah ketidakberanian untuk mengaku dan bertobat.
Mereka takut kalau TUHAN akan murka dan melenyapkan mereka. Ketakutan ini dijawab langsung oleh firman TUHAN: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju;
Kursus Teologi Dasar 5
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Kamis, 24 Maret 2022
2
sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” TUHAN menantang umat-Nya untuk maju ke meja pengadilan ilahi. Yang dibutuhkan adalah iman yang percaya bahwa pengakuan dan pertobatan yang sungguh-sungguh akan dihargai oleh TUHAN.
Pertobatan yang sungguh-sungguh akan dianggap sebagai pengakuan yang otentik sehingga putusannya adalah: Bebas! Tidak bersalah! Dengan demikian ayat 18, sesungguhnya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pertobatan yang sungguh-sungguh, yang harus ada terlebih dahulu.
Tema pertobatan dari Yesaya ini mempertanyakan pertobatan yang mungkin kita pernah lakukan.
Apakah pertobatan kita itu sungguh-sungguh? Sebab dosa seberat apa pun, akan dihapus hanya jika kita mau membasuh dan membersihkan diri; berhenti berbuat jahat, belajar untuk berbuat baik;
mengendalikan orang kejam (16-17). Tetapi, jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh TUHAN yang mengucapkannya. Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa di dalam suara kenabian Yesaya, hanya pertobatan yang sungguh-sungguh yang akan diampuni. Dengan kata lain, hanya ada satu pertobatan yang benar, yakni: pertobatan yang berani maju ke meja pengadilan ilahi.
Teologi Imanuel
Masih dalam kitab nabi Yesaya, kita menemukan teologi yang akrab di telinga kita – Allah beserta kita (immanuel). Nama Imanuel terdapat dalam Yesaya 7:14, 8:8, dan 8:10 (dalam bentuk lain). Imanuel adalah nama yang juga disandang oleh Yesus.
Jika kita melihat kembali konteks asal-mula nama Imanuel, dengan jelas kita melihat konteks politik.
Ahaz, raja Yehuda, sedang terkepung (band. 2Raj. 16 dan 2Taw. 28:1-27) oleh pasukan Rezin, raja Aram, dan Pekah bin Remalya, raja Israel. Ahas dan rakyatnya ketakutan (7:2). Di tengah-tengah ketakutan ini TUHAN menawarkan bantuan kepada Ahas melalui Yesaya. Sang raja diizinkan untuk meminta suatu pertanda, yang akan membuktikan bahwa TUHAN akan menolongnya. Namun, Ahas menolaknya. Ia tidak ingin mencobai TUHAN. Begitulah pengakuannya. Pengakuan Ahas ini memberi kesan bahwa ia adalah raja yang sangat percaya kepada TUHAN dan mau menyerahkan nasibnya dan nasib rakyatnya kepada Dia. Akan tetapi kalau kita membaca dua sumber yang lain (2 Raj. dan 2 Taw.) kita tahu bahwa sesungguhnya Ahas tidak jujur dengan pengakuannya. Ia meminta pertolongan Asyur untuk melawan pasukan sekutu Aram-Israel yang mengepung Yerusalem. Yesaya tahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati Ahas. Karena itu, Yesaya berkata: Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Perhatikanlah bahwa dengan sengaja Yesaya menyebut Allah yang ia percayai sebagai Allahnya, bukan Allah kita. Jadi, meskipun Yesaya dan Ahas sama-sama bagian dari umat TUHAN, pada saat itu nabi membedakan Allah yang ia percaya dan Allah yang Ahas percaya. Pembedaan ini menjadi penting karena dalam konteks Ahas, yang sedang terdesak, ia berpura-pura percaya kepada pertolongan Allah, tetapi sesungguhnya ia lebih percaya kepada Asyur. Secara umum, Ahas dievaluasi sebagai raja yang tidak melakukan apa yang baik di mata TUHAN. Daftar pelanggaran dan kesalahannya terkait Perjanjian, ada dalam 2 Raja-raja dan 2 Tawarikh. Lagi-lagi kita ditantang untuk menguji iman kita. Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada pernyataan Allah, yang mungkin tidak masuk akal (bagaimana mungkin pertolongan yang sangat mendesak dibutuhkan, datang dari seorang bayi yang akan lahir?), atau kita lebih percaya kepada pertolongan manusia sehingga sebenarnya pura-pura percaya kepada Allah yang menyertai kita.
Kursus Teologi Dasar 5
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Kamis, 24 Maret 2022
3
Teologi Keadilan
Di dalam Kitab Para Nabi, tema keadilan kita temukan di mana-mana, terutama keadilan sosial dan hukum. Dalam banyak tempat, keadilan sosial tampak jelas diserukan – perampasan, penindasan, dlsb. Namun di dalam Amos 6:4-7 kita membaca daftar aktivitas yang tidak langsung bisa dikaitkan dengan penindasan, perampasan, dan bentuk-bentuk ketidakadilan sosial lainnya.
Celakakah mereka yang berbaring di tempat tidur yang terbuat dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan daging yang lezat dan nikmat; yang bernyanyi-nyanyi (karaoke?) mendengar bunyi gambus; yang minum anggur. Kita tidak mendapat informasi apa pun tentang siapakah mereka ini, tetapi kita bertanya: apa salahnya menikmati hidup pemberian TUHAN? Jika kita kebetulan ingin makan enak, karaoke, main golf, nonton, apakah itu tidak boleh?
Ternyata jawaban atas semua pertanyaan itu ada dalam ayat 6: “…. Tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf! Menurut suara profetis Amos, ada standar yang lebih tinggi yang harus diterapkan dalam kehidupan bersama. Keadilan tidak hanya dipahami sebagai sikap yang tidak berat sebelah, tidak semena-mena, atau memperjuangkan hak mereka yang tertindas. Keadilan juga melibatkan empati. Umat TUHAN akan dianggap tidak adil, jika mereka bisa bersenang-senang, menikmati manis dan indahnya kehidupan di samping saudara-saudaranya yang menderita. Kepekaan adalah bagian dari keadilan. Sampai di sini kita bisa berdiskusi tentang batas kewajaran ketika kita ingin menikmati hidup sebagai anugerah TUHAN, tanpa kehilangan kepekaan kita terhadap penderitaan orang lain.
Teologi Tanggung Jawab
Di dalam Dekalog kita membaca bahwa Allah Israel adalah Allah yang cemburu. Ia akan membalas kesalahan orangtua kepada anak-anaknya sampai empat generasi. Dengan mudah kita membayangkan sebuah teologi yang percaya bahwa kalau kita mendapat kemalangan, kecelakaan, dan berbagai bentuk penderitaan, semua itu bisa berasal dari hukuman Allah atas kesalahan nenek moyang kita. Kita tidak melakukan kesalahan, tetapi menanggung hukuman atas kesalahan orangtua, kakek-nenek, dan para pendahulu kita. Sebuah teologi yang kuno tetapi tidak bisa dikatakan telah punah. Dalam Perjanjian Baru, Yesus pernah ditanya tentang alasan mengapa seorang anak menjadi buta. Salah satu alternatif yang kita dapat adalah (mungkin) karena kesalahan orangtua.
Di dalam Yehezkiel 18:2 kita membaca: “Mengapa peribahasa ini terus disebut-sebut di Israel, ‘Orang tua makan buang anggur yang asam rasanya, tetapi anak-anaklah yang ngilu giginya.’ Konteks nabi Yehezkiel adalah Pembuangan di Babilonia. Jadi, ada jarak waktu yang cukup panjang antara peristiwa pemberian Sepuluh Firman dan Pembuangan di Babilonia. Kita melihat ada dinamika teologis dalam perjalanan hidup bangsa Israel itu sendiri. Yehezkiel meyakinkan bangsanya yang ada di dalam Pembuangan bahwa mereka harus bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya.
Teologi tanggung jawab ini erat kaitannya dengan pertobatan. Firman TUHAN kepada Yehezkiel:
Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti akan hidup, ia tidak akan mati.
Pertobatan yang sungguh-sungguh, sekali lagi, akan menemukan pengampunan.
Kursus Teologi Dasar 5
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Kamis, 24 Maret 2022
4
Teologi Mesias
Di dalam Alkitab, mesias adalah orang yang diurapi, sebagai tanda bahwa yang bersangkutan menyandang jabatan atau tugas tertentu, misalnya: imam, nabi dan raja. Bagi orang Kristen, mesias adalah Yesus Kristus. Dalam hal ini, makna mesias yang dilekatkan kepada Yesus mengalami perkembangan sehingga Yesus bukan hanya orang yang diurapi tetapi juga juru selamat. Di dalam Yesaya 45:1, kita membaca bahwa Koresh, raja Persia adalah mesias yang dipilih sendiri oleh TUHAN.
Koresy adalah satu-satunya raja asing yang diurapi oleh Allah Israel. “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang, supaya Aku menundukkan bangsa- bangsa di depannya ….” Para pakar berdebat tentang kemesiasan Koresh. Apakah seorang pemimpin asing bisa diurapi oleh Allah Israel? Kita tahu bahwa raja Koreshlah yang mengizinkan orang-orang Yehuda di Babilonia untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman, bahkan kelak mendirikan kembali Bait Suci. Jika Koresh adalah mesias, orang yang diurapi untuk jabatan atau pekerjaan tertentu, maka tugas yang ia harus lakukan adalah memberi izin kepada orang-orang Yehuda kembali ke Yerusalem. Dengan kata lain, secara teologis TUHAN memakai Koresh sebagai alat-Nya. Kita bisa membandingkan fungsi Koresh dengan fungsi Nebukadnezar, raja Babilonia, yang telah mengalahkan Yehuda dan menghancurkan Bait Suci, sebelum membawa sejumlah orang Yehuda ke negerinya.
Dalam Yeremia 25:9 kita membaca: “…. – demikianlah firman TUHAN – menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hamba-Ku itu; Aku akan mendatangkan mereka melawan negeri ini ….”
Jika Koresh adalah alat TUHAN untuk mengembalikan orang-orang Yehuda ke Yerusalem, Nebukadnezar adalah alat TUHAN untuk menghukum Yehuda. Teologi mesias, orang yang diurapi, menurut suara profetis berpusat kepada karya TUHAN. Dialah yang menetapkan orang-orang untuk tugas tertentu.
Penutup
Masih banyak teologi profetis dalam kitab-kitab para nabi yang bisa kita gali dan temukan.
Sebagaimana yang telah saya singgung dalam KTD sebelumnya, fungsi para nabi masih sering dipersempit kepada bernubuat, dalam arti membuat ramalan, tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Kalangan Kristen tertentu percaya bahwa pandemic COVID-19 sudah dinubuatkan di dalam Alkitab, meskipun tidak semuanya mengacu kepada kitab para nabi.
Tema-tema teologis yang telah dipaparkan di atas memperlihatkan bahwa tugas dan fungsi para nabi Perjanjian Lama amat sangat erat terkait dengan kehidupan masyarakat dan bangsa pada waktu itu.
Para nabi mengingatkan umat Israel bahwa mereka harus selalu mengingat Perjanjian yang telah diikat oleh nenek moyang mereka dengan Allah, sang Pencipta. Suara para nabi adalah suara kritis tentang yang sedang berlangsung di dalam kehidupan sehari-hari, terlebih ketika kesetiaan, keadilan dan kerendahan hati terancam oleh penghianatan, keserakahan, penindasan, kesombongan dan berbagai sikap, perangai, serta tindakan yang melanggar Perjanjian.
Suara profetis menantang kita untuk juga bersikap kritis atas apa yang berlangsung di dalam kehidupan kita.