DINAMIKA UNSUR HARA NITROGEN PADA TANAH ANDISOL DAN ULTISOL
SKRIPSI OLEH :
ELSI ASHARI SIREGAR 170301134
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2022
SKRIPSI OLEH :
ELSI ASHARI SIREGAR 170301134
Merupakan Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2022
Program Studi : Agroteknologi Minat : Ilmu Tanah
Disetujui oleh:
Komisi Pembimbing
( Dr. Ir. Mukhlis, M.Si) (Dr. Mariani Br Sembiring, SP. MP)
Mengetahui,
(Dr. Nini Rahmawati SP., M.Si) Ketua Program Studi Agroteknologi
Tanggal Lulus : 14 Januari 2022
i
dan N-menguap oleh pemupukan Urea dan ZA di tanah Andisol dan Ultisol. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Teknologi Fakultas Pertanian USU dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 3 faktor. Faktor pertama jenis tanah (A) Andisol; (T) Ultisol, faktor kedua jenis pupuk (U) Urea; (Z) ZA, faktor ketiga berupa masa inkubasi I0 (0 hari); I1 (3 hari); I2 (6 hari); I3 (9 hari); I4 (12 hari);
I5 (15 hari); I6 (18 hari) setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar N-total maksimum tersedia pada hari ke-3 setelah aplikasi N pada tanah Andisol dan Ultisol. Kadar N-total pada tanah Andisol lebih tinggi dari tanah Ultisol. Kemudian N pada tanah mengalami penurunan dan kehilangan memalui pencucian dan penguapan. Kadar N-tercuci maksimal pada hari ke-12 oleh Urea dan hari ke-6 oleh ZA pada tanah Andisol. Pada tanah Ultisol hari ke-15 oleh Urea dan ZA.
Kadar N-tercuci pada tanah Andisol lebih kecil dibanding tanah Ultisol. Kadar N- menguap maksimal pada hari ke-12 oleh Urea dan ZA pada tanah Andisol maupun tanah Ultisol.
Kata Kunci : Masa inkubasi, pupuk Urea, pupuk ZA, tanah Andisol, tanah Ultisol.
ii
evaporated by Urea and ZA fertilization in Andisol and Ultisol soils. This research was conducted at the Research and Technology Laboratory of the USU Faculty of Agriculture using a Factorial Completely Randomized Design with 3 factors. The first factor is soil type (A) Andisol; (T) Ultisol, the second factor of fertilizer (U) Urea; (Z) ZA, the third factor is incubation period I0 (0 days); I1 (3 days); I2 (6 days); I3 (9 days);
I4 (12 days); I5 (15 days); I6 (18 days) each treatment was repeated 3 times. The results showed that the maximum level of N-total was available on the 3 days after application N to Andisol and Ultisol soils. The N-total content in Andisol soil was higher than Ultisol soil. Then the N in the soil decreases and loses through leaching and evaporation. The maximum level N-leached was on the 12 days by Urea and the 6 days by ZA on Andisol soil. On 15 days Ultisol soil by Urea and ZA. The N-leached content in Andisol soil was lower than Ultisol soil. Maximum levels of N-evaporated on day 12 by Urea and ZA on Andisol soil and Ultisol soil.
Keywords: Incubation period, Urea fertilizer, ZA fertilizer, Andisol soil, Ultisol soil.
iii
tanggal 16 Agustus 1999, anak dari Ayahanda Asrul Hawanri Siregar dan Ibunda Elvi Siswati. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara.
Penulis memulai pendidikan formal di SD Negeri 158309 Pandan 3 dan lulus pada tahun 2011. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Swasta Al-Muslimin Pandan, lulus pada tahun 2017. Setelah lulus pendidikan menengah, penulis kemudian langsung melanjutkan pendidikan kenperguruan tinggi dan diterima di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan mengambil minat Ilmu Tanah.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai angota HIMAGROTEK (Himpunan Mahasiswa Agroteknologi). Dalam Bidang Akademik penulis aktif sebagai Asisten Laboratorium Dasar Ilmu Tanah, Pupuk dan Pemupukan dan Kesuburan Tanah.
Pada tahun 2020, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT.
Agro Kati Lama Sipef Group. Kemudian pada tahun 2021, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di desa Kecamatan Rambutan Kota Tebing Tinggi.
iv
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “Dinamika Unsur Hara Nitrogen Pada Tanah Andisol dan Ultisol” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih khususnya kepada Bapak Dr. Ir. Mukhlis, M. Si selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Mariani Br Sembiring, SP., MP anggota komisi pembimbing, yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta masukan dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 14 Januari 2022
Penulis
v
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
Hipotesis Penelitian ... 3
Kegunaan Penulisan... 4
TINJAUAN PUSTAKA Unsur Hara Nitrogen... 5
Dinamika Unsur Hara Nitrogen dalam Tanah Mineralisasi ... 6
Immobilisasi ... 7
Denitrifikasi ... 8
Volatilisasi ... 9
Tanah Ultisol ... 9
Tanah Andisol ... 10
Pupuk Nitrogen ... 12
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 14
Bahan dan Alat ... 14
Metode Penelitian ... 14
Pelaksanaan Penelitian Pergambilan Contoh Tanah ... 16
Penanganan Contoh Tanah ... 16
Analisis Tanah Awal ... 16
Persiapan Media Inkubasi ... 17
Penetapan Dosis Pupuk ... 17
vi
Nitrogen Tercuci ... 17 Nitrogen Menguap ... 18 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ... 19 Pembahasan ... 25 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 28 Saran ... 28 DAFTAR PUSTAKA
vii
1. Nilai Nitrogen Total Tanah akibat dari pemberian pupuk
Urea dan ZA dengan 6 masa Inkubasi yang berbeda ... 20 2. Nilai Nitrogen Tercuci akibat dari pemberian pupuk
Urea dan ZA dengan 6 masa Inkubasi yang berbeda ... 22 3. Nilai Nitrogen Menguap akibat dari pemberian pupuk
Urea dan ZA dengan 6 masa Inkubasi yang berbeda ... 24
viii
1. Kriteria Sifat-Sifat Tanah ... 32
2. Data Analisis Awal Tanah ... 33
3. Perhitungan Dosis Pupuk ... 33
4. Perhitungan Kadar Air &Kapasitas Lapang ... 34
5. Perhitungan Berat Tanah per Botol Plastik (100g) ... 35
6. Bagan Penelitian ... 36
7. Data Nilai pH akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol ... 37
8. Analisis Sidik Ragam pH tanah Andisol dan Ultisol akibat pemberian pupuk Urea dan ZA dengan 6 masa Inkubasi ... 38
9. Data Nilai Nitrogen Total akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol dengan 6 masa Inkubasi ... 39
10. Daftar Sidik Ragam Nilai Nitrogen Total akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol dengan 6 masa Inkubasi ... 40
11. Nilai Nitrogen Tercuci akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol ... 41
12. Daftar Sidik Ragam Nilai Nitrogen Tercuci akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol ... 42
13. Nilai Nitrogen Menguap akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol ... 43
14. Daftar Sidik Ragam Nilai Nitrogen Menguap akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol ... 44
15. Foto Botol Plastik yang sudah diberi perlakuan ... 45
16. Foto Bukti Rangkaian Penelitian Analisis Nitrogen Total metode Khejdhal ... 45
PENDAHULUAN
Unsur nitrogen (N) merupakan unsur hara yang penting. Nitrogen adalah salah satu dari enam elemen penting yang dikenal sebagai 'CHNOPS' dan unsur ke empat yang paling melimpah dalam biomassa sel dan, setelah karbon, merupakan nutrien terpenting bagi kehidupan. Semua sel membutuhkan unsur ini dalam jumlah yang agak besar untuk sintesis banyak biomolekul yang digunakan untuk struktural, metabolik, herediter, dan fungsi lainnya. N terutama ditemukan dalam protein dan asam nukleat, dan juga dalam beragam molekul organik lainnya, termasuk vitamin, klorofil (pigmen kunci yang dibutuhkan oleh organisme fotosintesis) dan beberapa polisakarida, seperti kitin dan kitosan, yang merupakan salah satu sumber daya terbarukan yang paling melimpah di Bumi dan dapat digunakan sebagai sumber nitrogen non-konvensional oleh mikroorganisme (Gonzales dan Alejandro, 2021).
Oleh karena besarnya peranan dan kebutuhan N bagi tanaman, maka selalu ditambahkan ke tanah dalam bentuk pupuk. Pupuk yang biasa diaplikasikan adalah pupuk organik tetapi lambat tersedia, sehingga yang diberikan pupuk anorganik atau pupuk buatan, yaitu Urea dan Zwavelzure Amonium (ZA). Pupuk Urea dan ZA memiliki perbedaan waktu dalam menyediakan N tersedia bagi tanaman. Urea membutuhkan bantuan enzim dalam menyediakan unsur hara N sehingga membutuhkan waktu lebih lama dari pupuk ZA. Pupuk N dalam bentuk urea sudah menjadi kebutuhan pokok bagi petani padi khususnya di Indonesia karena dianggap dapat langsung meningkatkan produktivitas sehingga pemborosan dalam pemakaian urea di petani tidak dapat dihindari (Endrizal & Julistia 2004). Dosis pemberian pupuk yang cukup tinggi di petani saat ini ada yang mencapai 400-600 kg Urea/ha
diatas rekomendasi pemerintah sebesar 200±260 kg urea/ha (Abdul 2003). Pupuk ZA memberikan unsur N yang mudah tersedia dalam waktu yang cukup cepat bagi tanaman. Berdasarkan data pemakaian pupuk ZA , penyerapan pupuk ZA dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan penyerapan pupuk ZA tersebar diseluruh propinsi, peningkatan tersebut diduga disebabkan oleh perpindahan pola pemupukan dari pupuk Urea menjadi pupuk ZA, dimana pada 100 kg pupuk ZA terdapat 20,8 kg unsur Nitrogen dan mengandung Sulfur. Pemupukan perlu dilakukan karena kandungan unsur hara dalam tanah bervariasi dan berubah-ubah disebabkan terjadinya kehilangan unsur hara melalui pencucian (Susila et al., 2010).
Inkubasi ditujukan agar reaksi bahan organik, tanah dan pupuk anorganik dapat bejalan dengan baik, oleh karena itu perlakuan inkubasi sangat perlu diperhatikan agar nantinya unsur hara dapat tersedia bagi tanaman. Hal ini sesuai dengan Jama et al., (2000) yang menyatakan bahwa inkubasi dilakukan untuk memberikan kesempatan mikroorganisme untuk dapat berkembang dan bermetabolisme untuk menguraikan kandungan bahan organik menjadi senyawa- senyawa anorganik yang nantinya akan diserap oleh tanaman (Siregar et al., 2017).
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia (Prasetyo dan Purwadikarta, 2006). Tanah Ultisol saat ini menjadi sasaran utama perluasan pertanian Oleh karena itu tanah Ultisol perlu mendapat perhatian mengingat Ultisol memiliki banyak permasalahan, salah satunya kandungan N yang rendah (Munir, 1996). Sedangkan tanah Andisol menempati sekitar 3,4% dari luas daratan di Indonesia dengan luas areal diperkirakan 6.491.000 ha. Tanah Andisol
merupakan tanah subur karena mempunyai sifat fisik dan kimia yang sesuai dengan kondisi tanah yang diperlukan oleh tanaman pertanian pada umumnya, sehingga Andisol mempunyai prospek yang cukup baik untuk usaha di bidang pertanian (Munir, 1996).
Akibat dari perbedaan sifat fisik, kimia dan biologi pada tanah Andisol dan Ultisol maka berbeda pula kemampuan tanah tersebut dalam mengikat unsur hara lebih lama di dalam tanah.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji waktu tersedianya unsur hara N maksimum dan perubahannya oleh pencucian dan penguapan pada tanah Andisol dan Ultisol.
Hipotesis Penelitian
- Ada perbedaan kadar N-total tanah, pencucian N dan penguapan N didalam tanah Andisol dan Ultisol.
- Ada perbedaan kadar N-total tanah, pencucian N dan penguapan N akibat pemupukan Urea dan ZA.
- Ada interaksi masa inkubasi dan jenis tanah dalam menentukan kadar N-total, pencucian N dan penguapan N.
- Ada interaksi masa inkubasi dan jenis pupuk N dalam menentukan kadar N- total tanah, pencucian N dan penguapan N.
- Ada interaksi jenis tanah dan jenis pupuk N dalam menentukan kadar N-total tanah, pencucian N dan penguapan N.
- Ada interaksi masa inkubasi, jenis tanah dan jenis pupuk N dalam menentukan kadar N-total tanah, pencucian N dan penguapan N.
- Ada masa inkubasi tertentu yang menyediakan kadar N-total, pencucian N dan penguapan N dari tanah Andisol dan Ultisol.
Kegunaan Penelitian
Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA Unsur Hara Nitrogen (N)
Unsur hara N dibutuhkan tanaman dalam proses pertumbuhan vegetatif terutama dalam membentuk daun dan batang tanaman. Sehingga unsur hara N dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang tidak sedikit. Pemberian pupuk N ke dalam tanah khususnya yang berasal dari Urea dan ZA selain dapat meningkatkan kandungan N-total di dalam tanah, juga memiliki kecenderungan untuk menurunkan
nilai pH tanah atau dengan kata lain memasamkan tanah (Firmansyah dan Sumarni, 2013).
Ketersediaan N tersebut dapat dipengaruhi oleh proses kimia dan biologis.
Dalam keadaan reduksi, N diserap tanaman dalam bentuk amonium (NH4+), sedangkan dalam keadaan oksidasi dalam bentuk nitrat (NO3-). Menurut Tan (2011), bila tanah mengandung sebagian mineral bermuatan tidak tetap, maka amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-) dapat teradsorpsi oleh kompleks pertukaran kation dan anion. Tetapi bentuk nitrat ini mempunyai ikatan yang paling lemah dibandingkan dengan fosfat dan sulfat, sehingga nitrat lebih mudah terlepas dari kompleks pertukaran anion dan tercuci.
Rendahnya kandungan N karena dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu pencucian bersama air draenase, penguapan dan diserap oleh tanaman (Patti, 2013). Tantangan utama dalam mengurangi kehilangan N dari kegiatan sektor pertanian adalah mengoptimalkan jumlah pupuk tambahan atau pupuk N yang digunakan oleh tanaman. Dalam kasus sintetis pupuk, mengoptimalkan tingkat aplikasi, membagi
tingkat N tahunan yang dibutuhkan, meningkatkan metode aplikasi, pemupukan pada waktu yang tepat, adalah yang paling umum (Gonzales dan Alejandro, 2021).
Dinamika Unsur Hara Nitrogen Dalam Tanah Mineralisasi
Proses mineralisasi merupakan proses yang bertanggung jawab atas ketersediaan N dalam tanah. Mineralisasi mencakup pelapukan bahan organik tanah yang melibatkan kerja enzim untuk menghidrolisa protein kompleks. Dalam proses dekomposisi, mikroorganisme memanfaatkan senyawa karbon dalam bahan organik untuk memperoleh energi dengan hasil sampingan berupa CO2. Proses mineralisasi N terdiri atas aminisasi (protein menjadi R-NH2), amonifikasi (R-NH2 menjadi NH4+) dan nitrifikasi (NH4+ menjadi NO3-) (Benbi dan Richter, 2002).
Tanah mikroorganisme memainkan peran kunci dalam tanah mineralisasi bahan organik, atmosfer N2 fiksasi, denitrifikasi, dalam siklus biogeokimia nitrogen dan akibatnya dalam kesuburan tanah (Jetten 2008). Sekitar 90% nitrogen di dalam tanah adalah nitrogen organik, sehingga proses nitrifikasi dan amonifikasi (mineralisasi) yang dilakukan oleh bakteri adalah kunci nutrisi tanaman. Faktanya, mikroorganisme seperti jamur mikoriza dan PGPR termineralisasi bahan organik dengan melepaskan enzim hidrolitik dan oleh karena itu meningkatkan ketersediaan unsur hara ditanah (Gonzales dan Alejandro, 2021).
Mineralisasi nitrogen terjadi ketika kebutuhan N biomassa mikroba dipenuhi oleh sisa tanaman penutup tanah, memungkinkan terjadinya dekomposisi yang cepat tanpa kehilangan N dari tanah atau tanaman penutup tanah. NH3 segera diubah menjadi amonium (NH4+) dan digunakan oleh tanaman untuk membuat protein.
Ketika tanaman penutup tanah dihentikan dan biomassa tanaman penutup tanah dimasukkan ke dalam tanah, mikroorganisme memulai proses mineralisasi N dengan menguraikan N organik dalam biomassa legum. Setelah mineralisasi, N ini tersedia di
tanah untuk penyerapan tanaman di masa mendatang (Gonzales dan Alejandro, 2021).
Immobilisasi
Imobilisasi adalah pengubahan suatu unsur dari bentuk anorganik menjadi organik dalam jaringan mikrobia atau dalam jaringan tanaman (Aggrahini, 2009).
Immobilisasi berkaitan dengan proses dikonsumsinya unsur NO3- dan NH4+ oleh organisme tanah, sehingga keduanya menjadi tidak dapat dikonsumsi oleh tanaman.
Immobilisasi N oleh mikroorganisme dapat berpengaruh pada jumlah N yang tersedia bagi tanaman, karena terdapat kompetisi antara tanaman dengan mikroorganisme dalam memperoleh N. Immobilisasi ini hanya mengunci sementara unsur N dan ketika mikroorganisme mati, unsur N organik yang terdapat dalam sel akan diubah kembali melalui proses mineralisasi dan nitrifikasi sehingga menghasilkan unsur nitrat yang dapat dikonsumsi tanaman (Nikmah dan Musni, 2019).
Rasio C:N dari substrat yang diterapkan juga telah digunakan sebagai indikator laju proses. Transformasi N dalam tanah meliputi dua proses biologis yang penting: imobilisasi (atau asimilasi), ini adalah penyerapan N oleh mikroorganisme dan konversinya menjadi N organik, dan mineralisasi (atau amonifikasi), ini adalah konversi N organik menjadi NH4+. Keseimbangan antara mineralisasi dan imobilisasi tergantung pada rasio C:N tanah dan residu yang ditambahkan. Tanah dan residu dengan rasio C:N lebih rendah dari 30:1 menyajikan dominasi mineralisasi atas
imobilisasi, dan N tersedia dapat diserap oleh tanaman atau digunakan dalam proses mikroba. Adanya rasio C:N yang tinggi dalam tanah dapat meningkatkan imobilisasi pupuk N yang diberikan (Baggs et al. 2000), sehingga menurunkan reaksi denitrifikasi dan emisi N2O. Ketika rasio C:N yang rendah ada di dalam tanah, imobilisasi N berkurang dan lebih banyak N akan tersedia untuk proses nitrifikasi dan denitrifikasi, sehingga meningkatkan emisi N2O (Gonzales dan Alejandro, 2021).
Denitrifikasi
Denitrifikasi adalah proses perubahan senyawa nitrat (NO3-) menjadi gas nitrogen (N2). Bakteri yang bekerja pada proses denitrifikasi adalah bakteri anaerobik, yaitu bakteri yang tidak memerlukan oksigen dalam aktivitasnnya, bahkan kehadiran oksigen dapat menyebabkan bakteri ini mati. Reaksi reduksi senyawa nitrat menjadi nitrogen memerlukan senyawa karbon organik sebagai sumber elektron (elektron donor). Mikroorganisme yang mampu melakukan denitrifikasi berasal dari genera : Pseudomonas, Bacillus, Spirillum, Hyphomicrobium, Agrobacterium, Acinetobacter, Propionobacterium, Rhizobium, Corynebacterium, Cytophaga, Thiobacillus dan Alcaligenes. Genera Pseudomonas (P.fluorescens, P.aeruginosa, P.denitrificans) dan Alcaligenes merupakan yang paling banyak terlibat (Herlambang & Marsidi,2003). Proses denitrifikasi paling efektif pada pH antara 7,0 dan 8,5 dan optimal sekitar 7,0 (Kida et al., 1999). Alkalinity dan pH naik selama terjadi denitrifikasi.
Di tanah, sebagian besar amonium yang dilepaskan oleh dekomposisi aerobik dengan cepat diasimilasi (diubah menjadi asam amino dan senyawa N lainnya) oleh tanaman dan mikroorganisme. Namun demikian, beberapa amonia hilang dalam
kondisi basa karena volatilitasnya. Bagaimanapun, amonia hanya mewakili ca. 15- 20% dari total nitrogen yang dilepaskan ke atmosfer yang sebagian besar terdiri dari N2 atau N2O yang dihasilkan selama denitrifikasi. Namun, senyawa nitrogen ini mengalami berbagai reaksi, produk yang dibawa kembali ke tanah oleh hujan (Gonzales dan Alejandro, 2021).
Volatilisasi
Proses volatilisasi juga dapat menurunkan kandungan ammonium dalam tanah, dimana volatilisasi termasuk proses transformasi NH4+ menjadi NH3 yang selanjutnya akan menguap ke atmosfer apabila tanah kering. Laju proses kehilangan nitrogen secara volatilisasi semakin meningkat pada kondisi tanah yang memiliki pH tanah tinggi dan tanah yang mudah kehilangan air, misalnya pada kondisi panas dan berangin. Ketika pH lebih rendah dari pH netral, maka hilangnya nitrogen melalui volatilisasi relatif sangat kecil, sedangkan pada pH yang tinggi hilangnya nitrogen akan meningkat dan dapat mempengaruhi produksi. Proses volatilisasi ini dapat terjadi akibat penguapan melalui sistem kapiler tanah, yaitu NH4+ yang terlarut dalam
air akan bergerak ke lapisan atas dan hilang melalui proses evaporasi (Nihmah dan Musni, 2019).
Tanah Ultisol
Ultisol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia (Prasetyo dan Purwadikarta, 2006). Tanah Ultisol saat ini menjadi sasaran utama perluasan pertanian Oleh karena itu tanah Ultisol perlu mendapat perhatian mengingat Ultisol memiliki banyak permasalahan yaitu, kandungan bahan organik
tanah sangat rendah, kemasaman tanah, kejenuhan basa kurang dari 35 %, kejenuhan Al tinggi, KTK rendah, kandungan N, P, dan K rendah serta sangat peka terhadap erosi (Munir, 1996).
Permasalahan utama pada Ultisol disamping kondisi perharaannya yang tergolong miskin juga sifat fisiknya yang kurang menguntungkan. Salah satu sifat fisiknya yang menonjol yaitu tekstur tanah yang dicirikan oleh kandungan pasir yang tinggi, liat dan debu rendah. Kondisi tekstur ini mendasari banyaknya masalah lain pada Ultisol, diantaranya masalah retensi dan transmissi air, pemadatan tanah, dan penetrasi akar. Distribusi pori yang kurang seimbang, karena didominasi oleh pori mikro, menyebabkan aerasi kurang baik, laju infiltrasi rendah, dan peka erosi.
Selanjutnya, kemantapan aggregat dan permeabilitas tanah juga rendah (Sarief, 1989).
Dari hasil analisis N-total tanah menunujukkan bahwa ke enam sub grup Ultisol secara umum memiliki kadar N-total berkisar dari 0.09 ± 0.18 % dengan kriteria tergolong sangat rendah sampai rendah. Rendahnya kandungan N-total pada masing-masing sub grup Ultisol disebabkan karena rendahnya kandungan C-organik tanah, hilangnya akibat dari pencucian, penguapan ke udara, dan terangkut panen (Syahputra et al., 2015).
Tanah Andisol
Tanah Andisol merupakan tanah-tanah yang berkembang dari bahan volkan muda, mempunyai peranan sangat penting dalam bidang pertanian karena mempunyai sifat-sifat morfologi, fisik-kimia dan mineral yang unik dan produktivitas yang tinggi untuk pertanian (Shoji et al., 1993). Di Indonesia, ordo Andisols luasnya diperkirakan
sekitar 5.4 juta ha atau 2.9 % dari luas daratan Indonesia (Subagyo et al., 2000), sedangkan didunia diperkirakan 0.84 % dari luas daratan muka bumi (Leamy, 1984). Tanah-tanah volkan banyak tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Halmahera.
Tanah andisol merupakan tanah abu vulkanik yang banyak dijumpai pada daerah dengan ketinggian sekitar 700-1500 m di atas permukaan laut dan bekas gunung berapi (Widjonarko et al., 2003). Tanah andisol mempunyai sifat-sifat yang khas dan diasumsikan bahwa sifat-sifat tersebut berkaitan erat dengan tingginya kandungan alofan. Tanah andisol tidak hanya memiliki sifat kandungan bahan organik tinggi, berat jenis rendah, daya menahan air tinggi, total porositas yang tinggi, tanah ini bersifat gembur konsistensinya, kurang plastis dan tidak lengket (Tan, 2011).
Sifat fisik tanah andisol yaitu tingginya kadar air pada saat kapasitas lapang (air tersedia bagi tanaman). Tanah-tanah volkanik di iklim tropis perhumid memiliki kadar air gravimetrik yang sangat tinggi, lebih dari 100% dari berat mineral aslinya.
Kebanyakan andisol memiliki bulk density <0,91 g/cm3 pada retensi air 33kPa.
Ringannya tanah ini dinyatakan sebegai tanah yang memiliki ciri ‘fluffy’ (benang halus/lembut) yang diwujudkan sebagai konsistensi lemah (Mukhlis, 2011).
Sifat kimia tanah dari tanah andisol ditandai dengan reaksi tanah agak masam sampai netral (pH 5,0-6,5), kejenuhan basa sekitar 20-40% kapasitas tukar kation sekitar 20-30 me/100g , kandungan C dan N tinggi tetapi rasio C/N rendah, kandungan kalium (K) sedang, kandungan fosfor (P) rendah, berat jenis < 0,85% dan
pada kapasitas lapang kelembaban tanah >15% dan kandungan bahan organik pada lapisan atas 5-20% (Tan, 2011).
Nitrogen selalu menjadi usur hara pembatas bagi pertumbuhan tanaman pada kebanyakan tanah termasuk Andisol. Tanah Andisol selalu mengakumulasi bahan organik dalam jumlah besar yang senantiasa mengandung nitrogen organik. Oleh sebab itu tanah abu volkanik dapat mensuplai sejumlah besar N-mineral kedalam tanaman. Menurut data dari beberapa tanah Andisol yang dibudidayakan di Jepang, rata-rata kadar N organik dilapisan olah 0.44% pada lahan sawah dan 0.37% pada lahan kering (Mukhlis, 2011).
Pupuk Nitrogen
Tanaman tidak cukup hanya mengandalkan unsur hara dari dalam tanah saja.
Oleh karena itu, tanaman perlu diberikan unsur hara tambhan dari luar, yaitu berupa pupuk. Pupuk nitrogen yang banyak digunakan para petani di daerah Brebes yaitu Urea dan ZA. Urea dan ZA merupakan sumber nitrogen anorganik yang paling umum digunakan di wilayah tropika. Ketersediaan unsur nitrogen yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman.
Urea dibutuhkan oleh tanaman dalam bentuk amonium dan nitrat. Urea di dalam tanah akan terhidrolisis menjadi ammonium dan nitrat sehingga mudah diserap oleh tanaman. Perubahan urea menjadi bentuk nitrat tergantung pada jenis tanah di mana setiap jenis tanah memiliki jumlah bakteri tanah yang berbeda. Jumlah bakteri tanah tergantung pada sifat fisik dan kimia tanah. Bakteri nitrifikasi mampu menyusun senyawa nitrat dari senyawa amonia yang pada umumnya berlangsung secara aerob di dalam tanah (Bernhard, 2010).
Pupuk ZA mengandung belerang 24% (dalam bentuk sulfat) dan nitrogen 21% (dalam bentuk amonium). Kandungan nitrogennya hanya separuh dari urea, sehingga biasanya pemberiannya dimaksudkan sebagai sumber pemasok hara belerang pada tanah-tanah yang miskin unsur ini. Unsur S dalam tanaman merupakan salah satu unsur makro yang banyak dibutuhkan tanaman karena unsur S merupakan salah satu unsur utama penyusun inti sel dan unsur penting dalam pembentukan protein (Miller and Donahue, 1990). Pemberian pupuk ZA meningkatkan kandungan N dan S dalam jaringan tanaman. Bilamana hara S terbatas, penambahan pupuk
nitrogen tidak mengubah hasil dan kandungan protein dalam tanaman (Singh et al ., 2010).
Penambahan bahan organik mampu memperkecil sifat pupuk N yang mudah hilang karena pupuk organik mampu mengikat unsur hara dan menyediakan unsur hara sesuai kebutuhannya, sehingga dengan adanya bahan organik efektifitas dan efisiensi pemupukan menjadi lebih tinggi (Kresnatita et al., 2013). Nitrogen yang cukup selama fase pertumbuhan dapat merangsang aktivitas metabolisme dalam tanaman. Kandungan nitrogen dalam tanah yang rendah, dengan adanya pemupukan
dapat meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah tersebut (Wiroatmodjo dan Soesilowati, 1991).
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Riset dan Teknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini dimulai pada bulan Oktober 2021 sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalalah dua bahan tanah, yaitu Ultisol Tanjung Morawa, Andisol gunung Sinabung, pot plastik sebagai wadah yang digunakan selama pengamatan, kertas saring Whatman, Aquades, Sumber Pupuk Nitrogen yaitu berasal dari pupuk Urea dan pupuk ZA. Asam Sulfat H2SO4 96% dan H2SO4 1 N, Asam Salisilat (C6H4OHCOOH), Kataslis Campuran, Larutan NaOH, Larutan H3BO3 4%, Larutan HCl 0.02 N, Indikator pp yang digunakan untuk analisis Nitrogen.
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Cangkul untuk mengambil tanah, Timbangan analitik yang digunakan untuk menimbang bahan, ayakan 10 mesh untuk mengayak tanah, tabung Kejedhal yang digunakan untuk tempat sementara sampel, Alat Destruksi dan Alat Destilasi untuk analisis Nitrogen, Erlenmeyer sebagai wadah penampung hasil destilasi, pipet skala, pH meter untuk mengukur pH tanah.
Metode Penelitian
Metode penelitian ini memperlakukan dua jenis tanah yaitu tanah Andisol dan Ultisol dengan mengaplikasikan dua jenis pupuk nitrogen yaitu Urea dan ZA pada pot plastik, dengan banyak tanah 100 g dan masa inkubasi dengan interval 0, 3, 6, 9, 12,
15, 18. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 84 perlakuan dan 3 ulangan yaitu,
• Faktor I Pupuk terdiri dari dua jenis : U : (Urea) Pupuk Urea 0,044 g Z : (ZA) Pupuk ZA 0,095 g
• Faktor II Tanah terdiri dari dua jenis : A : Tanah Andisol
T : Tanah Ultisol
• Faktor III lamanya waktu inkubasi yaitu : I0 : Masa Inkubasi 0 Hari
I1 : Masa Inkubasi 3 Hari I2 : Masa Inkubasi 6 Hari I3 : Masa Inkubasi 9 Hari I4 : Masa Inkubasi 12 Hari I5 : Masa Inkubasi 15 Hari I6 : Masa Inkubasi 18 Hari
Sehingga diperoleh kombinasi perlakuan sebagai berikut :
Percobaan ini dianalisis dengan sidik ragam dengan model linier Rancangan Acak Lengkap faktorial sebagai berikut:
Yij = μ + Т
i
+ Є
ij
dimana:
• Yij = Respon yang ditimbulkan unit percobaan ke-j yang mendapat perlakuan ke-i.
• μ = Nilai tengah sebenarnya.
• Тi = Efek perlakuan ke-i yaitu simpangan terhadap μ akibat perlakuan ke-i.
• Єij = Efek galat (error) yang bekerja pada unit percobaan ke-j yang mendapat perlakuan ke-i
Data hasil penelitian yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%.
Pelaksanaan Penelitian Pengambilan Contoh Tanah
Masing-Masing Tanah diambil di daerah yang berbeda, Tanah Ultisol diambil dari Galang, Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Tanah Andisol diambil dari Gunung Sinabung Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo Sumatera Utara. Masing masing contoh tanah diambil secara acak sebanyak 6 titik mewakili 1 Ha.
Penanganan Contoh Tanah
Tanah dikering udarakan dan diayak menggunakan ayakan 10 mesh kemudian ditimbang seberat 100 g dan dimasukkan ke dalam pot plastik bening.
Analisis Awal Tanah
Diilakukan analisis awal tanah sebagai data yang digunakan untuk mendukung penelitian, Tekstur tanah (Metode Hydrometer), pH H2O (Metode Elektrometri) kandungan N-Total Tanah (Metode Kjeldahl).
Persiapan Media Inkubasi
Tanah yang telah diayak dimasukkan kedalam pot setara dengan 100 g BTKO.
Penetapan Dosis Pupuk
Pupuk Nitrogen yang digunakan yaitu pupuk Urea dan ZA dengan masing masing sebesar 45% dan 21% N. Pupuk N yang diberikan dengan dosis 200ppm N.
Dari hasil perhitungan yang didapat dosis pupuk Urea 0.045 g dan pupuk ZA 0.095 g.
Aplikasi Pupuk Nitrogen
Pengaplikasian pupuk Nitrogen yaitu pupuk Urea dan ZA dilaplikasikan setelah tanah di kering udarakan selama satu minggu. Setelah itu di campurkan hingga pupuk dan tanah menjadi homogen menggunakan batang pengaduk.
Parameter Pengamatan Nitrogen Total
Sampel tanah yang telah diberi perlakuan pupuk Urea dan ZA ditutup dengan rapat selama waktu pengamatan. Kemudian dianalisis kadar nitrogennya di hari ke 0, 3, 6, 9, 12, 15 dan 18 hari. Tanah di analisis kadar N-total menggunakan metode kjeldahl. Didestruksi dan didestilasi, hasil destilasi kemudian dititrasi dan dihitung HCl yang terpakai.
Nitrogen Tercuci
Pot plastik bagian bawah dilubangi sebanyak 6 lubang dengan diameter 1 mm.
Bagian bawah pot plastic diberi wadah penampung untuk menampung nitrogen yang tercuci. Sampel tanah yang telah diberi perlakuan pupuk Urea atau ZA kemudian disiram dalam kondisi 150% kapasitas lapang sehingga air melewati lubang bawah
pot plastic dan tertampung pada wadah yang telah disediakan. Pada masa pengamatan pot plastik bagian atas dalam keadaan tertutup menggunakan plastik wrap dan tutup plastik. Air yang turun melewati lubang akan ditampung langsung dan dianalisis kadar Nitrogennya. Hasil dari destilasi kemudian dititrasi dan dihitung HCl yang terpakai.
Rumus N-tercuci :
%N = [mL HCl x N HCl x BA X 100]
𝑁 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
Nitrogen Menguap
Sampel tanah yang telah diberi perlakuan pupuk Urea atau ZA kemudian tanah disiram hingga dalam kondisi kapasitas lapang. Bagian atas pot plastik di lapisi dengan kertas saring Whatman yang sudah diberi Larutan H2SO 1 N, lalu ditutup dengan plastik bening agar cahaya dapat masuk ke dalam pot plastic dan tidak terjadi penguapan. Kemudian kertas saring di destilasi menggunakan alat destilasi. Hasil dari destilasi di titrasi dan dihitung volume HCL yang terpakai.
Rumus N-menguap :
%N = [mL HCl x N HCl x BA X 100]
𝑁 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Nitrogen Total Tanah
Hasil uji statistik pada Tabel Lampiran 11 diperoleh bahwa perlakuan jenis tanah dan masa inkubasi berpengaruh nyata pada kadar N-total tanah. Interaksi jenis tanah dan jenis pupuk, interaksi jenis tanah dan masa inkubasi dan interaksi jenis tanah dan masa inkubasi juga berpengaruh nyata terhadap kadar N-total tanah.
Interaksi jenis tanah, jenis pupuk dan masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap N-total tanah.
Pada Tabel 1. menunjukkan bahwa penambahan pupuk N ke tanah maksimum tersedia pada masa Inkubasi hari ke-3 baik pada tanah Andisol maupun Ultisol. Kadar N-Total pada tanah Andisol lebih besar dibanding tanah Ultisol. Pada tanah Andisol rataan kadar N-total sebesar 0,414% sedangkan pada tanah Ultisol hanya mencapai 0,122% dari ke-6 masa Inkubasi. Pemberian pupuk Urea maupun pupuk ZA tidak berbeda nyata dalam meningkatkan N-total pada tanah baik pada tanah Andisol maupun tanah Ultisol. Permberian pupuk ZA lebih cepat menyediakan N dalam tanah dibandingkan pupuk Urea. Pada tanah Andisol dan Ultisol dengan pemberian pupuk N setelah mencapai angka maksimum, terjadi penurunan kadar N seiring dengan masa inkubasi. Pada hari ke-18 tanah Andisol kadar N-total tanah sebesar 0,452%
oleh Urea dan 0,431% oleh ZA dengan kriteria Sedang, namun pada tanah Ultisol kadar N-total tanah sebesar 0,134% oleh Urea dan 0,110% oleh ZA dengan kriteria Rendah.
Tabel 1. Kadar N-Total Tanah Akibat Pemberian Pupuk Urea dan ZA dalam 6 Masa Inkubasi
Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak nyata berbeda pada taraf 5% menurut uji DMRT
Jenis Tanah
Jenis Pupuk
Inkubasi (Hari)
Rataan Pupuk
Rataan Tanah
0 3 6 9 12 15 18
--- % ---
Andisol
Urea 0,293 ihg 0,721 a 0,233 i 0,353 defg 0,308 fghi 0,470 cd 0,452 cde 0,404
0,417 p ZA 0,336 fghi 0,609 b 0,424 ef 0,480 c 0,373 cdefgh 0,390 cdefgh 0,403 cdefgh 0,431
Ultisol
Urea 0,047 j 0,287 hi 0,321 fghi 0,106 j 0,058 j 0,067 j 0,054j 0,134
0,122 q
ZA 0,063 j 0,413 cdefg 0,047 j 0,067 j 0,056 j 0,078 j 0,049 j 0,110
20
Nitrogen Tercuci
Hasil uji statistik pada Tabel Lampiran 14 diperoleh bahwa perlakuan jenis tanah dan masa inkubasi berpengaruh nyata pada N-tercuci. Interaksi jenis tanah dan jenis pupuk, interaksi jenis tanah dan masa inkubasi dan interaksi jenis tanah dan masa inkubasi juga berpengaruh nyata terhadap N-tercuci. Interaksi jenis tanah, jenis pupuk dan masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap N-tercuci.
Pada Tabel 2. menunjukkan bahwa kadar N-tercuci pada tanah Ultisol lebih besar dibanding tanah Andisol. Pada tanah Ultisol rataan kadar N-tercuci sebesar 0,663% sedangkan pada tanah Andisol hanya mencapai 0,447% dari ke-6 masa Inkubasi. Kadar N-tercuci pada tanah Andisol, mengalami kehilangan N maksimal pada hari ke-12 oleh Urea sebesar 0,861% dan oleh pupuk ZA hari ke-6 sebesar 0,811%. Kadar N-Tercuci pada tanah Ultisol maksimal pada hari ke-15 oleh pemupukan Urea sebesar 1,556% dan ZA sebesar 1,262%. Pemberian pupuk Urea maupun pupuk ZA tidak berbeda nyata dalam meningkatkan N-total pada tanah baik pada tanah Andisol maupun tanah Ultisol. Permberian pupuk ZA lebih cepat mengalami kehilangan N melalui proses pencucian dibandingkan pupuk Urea. Pada tanah Andisol dan Ultisol dengan pemberian pupuk N mengalami peningkatan kadar N-tercuci seiring masa inkubasi, setelah mencapai angka maksimum terjadi penurunan kembali.
Tabel 2. Kadar N-Tercuci Akibat Pemberian Pupuk Urea dan ZA dalam 6 Masa Inkubasi
Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak nyata berbeda pada taraf 5% menurut uji DMRT
Jenis Tanah
Jenis Pupuk
Inkubasi (Hari)
Rataan Pupuk
Rataan Tanah
0 3 6 9 12 15 18
--- % ---
Andisol
Urea 0,051 m 0,026 m 0,624 fg 0,683 ef 0,861 d 0,417 hij 0,467 hi 0,447
0,447 q ZA 0,056 m 0,034 m 0,811 de 0,319 ijk 0,575 fgh 0,694 ef 0,648 f 0,448
Ultisol
Urea 0,240 kl 0,084 lm 0,110 lm 0,456 hi 0,903 cd 1,556 a 0,931 cd 0,612
0,663 p ZA 0,294 jk 0,054 m 0,480 gh 0,833 de 1,033 c 1,262 b 1,038 c 0,714
22
Nitrogen Menguap
Hasil uji statistik pada Tabel Lampiran 17 diperoleh bahwa perlakuan jenis tanah dan masa inkubasi berpengaruh nyata pada kadar N-menguap. Interaksi jenis tanah dan jenis pupuk, interaksi jenis tanah dan masa inkubasi dan interaksi jenis tanah dan masa inkubasi juga berpengaruh nyata terhadap kadar N-menguap.
Interaksi jenis tanah, jenis pupuk dan masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap kadar N-menguap.
Pada Tabel 3. menunjukkan bahwa kadar N-menguap pada tanah Ultisol lebih besar dibanding tanah Andisol. Pada tanah Ultisol rataan kadar N-menguap sebesar 0,223% sedangkan pada tanah Andisol hanya mencapai 0,049% dari ke-6 masa Inkubasi. Pencucian hara N oleh tanah Andisol maksimal terjadi pada hari ke- 12 baik oleh Urea sebesar 0,097% dan hari ke-9 oleh ZA sebesar 0,086%. Penguapan N pada tanah Ultisol maksimal terjadi pada hari ke-12 oleh pupuk Urea sebesar 0,645% dan hari ke-9 oleh ZA sebesar 0,639%. Pemberian pupuk Urea maupun pupuk ZA tidak berbeda nyata dalam mempengaruhi kehilangan N melalui proses penguapan baik pada tanah Andisol maupun tanah Ultisol. Permberian pupuk Urea lebih cepat mengalami kehilangan N melalui proses penguapan dibandingkan pupuk ZA. Pada tanah Andisol dan Ultisol dengan pemberian pupuk N mengalami peningkatan kadar N-menguap seiring masa inkubasi, setelah mencapai angka maksimum terjadi penurunan kembali.
Tabel 3. Kadar N-Menguap Akibat Pemberian Pupuk Urea dan ZA dalam 6 Masa Inkubasi
Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak nyata berbeda pada taraf 5% menurut uji DMRT
Jenis Tanah
Jenis Pupuk
Inkubasi (Hari)
Rataan Pupuk
Rataan Tanah
0 3 6 9 12 15 18
--- % ---
Andisol
Urea 0,000 k 0,016 jk 0,064 fghi 0,069 fghi 0,097 ij 0,040 ij 0,050 ghij 0,048
0,049 q ZA 0,000 k 0,012 jk 0,048 ghij 0,086 fg 0,080 fgh 0,072 fghi 0,060 ghi 0,051
Ultisol
Urea 0,000 k 0,045 hij 0,047 ghij 0,281 d 0,645 a 0,278 d 0,310 cd 0,229
0,225 p ZA 0,000 k 0,032 ijk 0,320 c 0,639 a 0,433 b 0,238 e 0,308 cd 0,281
24
Pembahasan
Kadar N-total pada tanah Andisol lebih tinggi dari tanah Ultisol. Kadar N- total tanah Andisol 0,295% lebih tinggi dari pada tanah Ultisol. Hal ini didukung dengan data analisis awal tanah kadar N-total pada tanah Andisol lebih tinggi dibandingkan tanah Ultisol. Sedangkan pencucian hara N di tanah Andisol relatif lebih rendah dari tanah Ultisol. Pencucian di tanah Andisol 0,216% lebih rendah dari pada pencucian ditanah Ultisol. Hal yang sama juga terjadi pada penguapan N.
Penguapan di tanah Andisol 0,176% lebih rendah dibandingkan tanah Ultisol. Ketiga kejadian ini disebabkan akibat dari perbedaan sifat fisik dan kimia di tanah Andisol dan Ultisol. Ketiga kejadian ini disebabkan karena perbedaan sifat fisik dan kimia di tanah Andisol dan Ultisol. Tanah Andisol didukung oleh kadar bahan organik yang lebih tinggi dan tekstur yang lebih halus (Lempung berpasir) sehingga N tertahan lebih lama di tanah. Hal ini sesuai dengan literatur Tan (2011) yang menyatakan bahwa tanah Andisol memiliki sifat kandungan bahan organik yang tinggi, berat jenis rendah, total porositas tinggi, bersifat gembur konsistensinya, kurang plastis dan tidak lengket. Sehingga mengakibatkan N terhambat kehilangannya, ini bisa di buktikan dari proses pencucian dan penguapan N yang lebih rendah. Pada tanah Andisol N tercuci sebesar 0,447% (Sedang) dan teruapkan sebesar 0,049% (Sangat rendah), sebagai mana ditunjukkan pada data N yang tercuci dan N yang teruapkan. Kondisi ini tidak sama dengan tanah Ultisol yang memang dari awal kadar N total lebih rendah, bahan organik yang lebih rendah dan tekstur tanah yang lebih kasar (Pasir berlempung). Hal ini sesuai dengan literatur Munir (1996) yang menyatakan bahwa Ultisol perlu mendapatkan perhatian, mengingat memiliki banyak permasalahan yaitu
kandungan bahan organik yang rendah, kemasaman tanah, kejenuhan basa yang rendah, KTK yang rendah, kandungan N, P, dan K rendah serta sangat peka terhadap erosi. Hal ini juga sesuai dengan literatur Sarief (1989) yang menyatakan bahwa permasalahan utama pada Ultisol disamping kondisi perharaannya yang tergolong miskin juga sifat fisiknya yang kurang menguntungkan. Salah satu sifat fisiknya yang menonjol yaitu tekstur tanah yang dicirikan oleh kandungan pasir yang tinggi, liat dan debu rendah. Kondisi tekstur ini mendasari banyaknya masalah lain pada Ultisol, diantaranya masalah retensi dan transmissi air, pemadatan tanah, dan penetrasi akar.
Selanjutnya, kemantapan aggregat dan permeabilitas tanah juga rendah. Sehingga N pada tanah Ultisol banyak mengalami kehilangan melalui proses pencucian dan penguapan. N tanah Ultisol tercuci sebesar 0,663% dan menguap sebesar 0,225%, sebagaimana ditunjukkan pada data N tercuci dan teruapkan.
N-total pada tanah Andisol dan Ultisol dengan pemberian Urea atau ZA, ternyata kadar N-total maksimum tersedia pada inkubasi 3 hari setelah aplikasi pupuk. Setelah itu kadar N-total mengalami penurunan. Penurunan kadar N-total disebabkan oleh proses pencucian dan penguapan. Hal ini sesuai dengan literatur Patti (2013) yang menyatakan bahwa ada tiga hal yang dapat menyebabkan hilangnya N dari dalam tanah yaitu N dapat hilang karena tercuci bersama air draenase, penguapan dan diserap oleh tanaman. Pencucian N di tanah Andisol oleh pemupukan Urea maksimum pada hari ke-12, sementara ZA pada hari ke-6. Sedangkan pada Ultisol, pencucian N maksimum pada hari ke-15 baik oleh Urea maupun ZA.
Pencucian hara pada tanah Andisol lebih cepat dibandingkan tanah Ultisol. Hal ini disebabkan karena tanah Andisol memiliki sifat yang porous, yang dapat
mengakibatkan pemberian air yang melebihi kapasitas lapang ke tanah akan langsung turun mengikuti gravitasi dan membawa sebagian besar N tercuci. Sebagaimana ditunjukkan pada data N-tercuci pada tanah Andisol. Proses kehilangan N pada larutan tanah disebut dengan leaching. Senyawa N yang tercuci dalam bentuk NO3-
dan NH4+ yang ada pada larutan tanah.
Selain tercuci ternyata N juga mengalami proses penguapan. Pada tanah Andisol penguapan maksimum terjadi pada hari ke-12 oleh Urea dan hari ke-9 oleh ZA, sementara pada Ultisol penguapan terbesar terjadi pada hari ke-12 oleh Urea dan hari ke-9 oleh ZA. Proses penguapan N pada tanah Andisol lebih kecil dibandingkan tanah Ultisol. Hal ini disebabkan karena permukaan tanah Ultisol yang memiliki penampang pori yang lebih luas akibat dari tekstur yang lebih kasar (Pasir berlempung) sehingga tingkat penguapan semakin tinggi. Proses kehilangan nitrogen berupa NH3 dan NO3- yang berada pada permukaan tanah disebut dengan proses volatilisasi dan denitrifikasi, kehilangan NH3 dan NO3- dapat ditekan dengan cara mengaplikasikan pupuk N dengan cara dibenamkan atau penyiraman irigasi.
KESIMPULAN Kesimpulan
Pemupukan Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol menyediakan N-total maksimum pada hari ke-3 setelah aplikasi, setelah itu kadar N-total menurun karena tercuci dan menguap. Pencucian N di tanah Andisol maksimum terjadi di hari ke-12 dan ditanah Ultisol pada hari ke-15 setelah aplikasi pupuk Urea dan ZA. Penguapan N ditanah Andisol maksimum terjadi pada hari ke-12 setelah pemupukan Urea dan pada hari ke-9 setelah pemupukan ZA.
Pada tanah Andisol kadar N-total (0,437%) relative lebih tinggi dibandingkan pada tanah Ultisol (0,122%). Pencucian dan penguapan N dari tanah Ultisol rata-rata 0,663% dan 0,225%, relative lebih besar dibandingkan tanah Andisol 0,447% dan 0.663%.
Pupuk Urea dan ZA tidak menunjukkan perbedaan terhadap penyediaan N (N-total) dan pencucian serta penguapan N dari tanah Andisol ataupun Ultisol
Saran
Sebaiknya pemberian pemupukan diperhatikan ketersediaan unsur hara agar pemupukan menjadi efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul SW. 2003. Peningkatan efisiensi pupuk nitrogen pada Padi sawah dengan Metode Bagan warna daun. J Litbang Pertan 22 (4): 156-161.
Aggrahini, N. 2009. Dinamika N-NH4+ , N-NO3- dan Potensial Nitrifikasi Tanah di Alfisols, Jumantono Dengan Berbagai Perlakuan Kualitas Serasah. . Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Bernhard, A., 2010. The Nitrogen Cycle : Processes, Players and Human Impact.
Nature Education Knowledge, 2(2):12.
Benbi, D.K, and J. Richter. 2002. A critical review of some approaches to modelling nitrogen mineralization. Biol Fertil Soils. 35:168–183.
Dahlgren, R, S. Shoji and M. Nanzyo. 1993. Mineralogical Characteristics of Volcanic Ash Soils in S. Shoji., M. Nanzyo and R. Dhalgren (eds) Volcanic Ash Soils. Genesis, Properties and Utilization. Elsevier. Amsterdam.
Endrizal, B, Julistia. 2004. Efisiensi penggunaan pupuk nitrogen dengan penggunaan pupuk organik pada tanaman padi sawah. J PPTP 7 (2): 118-124.
Firmansyah, I dan Sumarni, N, 2013. Pengaruh Dosis Pupuk N dan Varietas Terhadap pH Tanah, N-Total Tanah, Serapan N, dan Hasil Umbi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Tanah Entisol-Brebes Jawa Tengah.
Jurnal Hortikuktura . 23(4):358-364.
Gonzales. J. L and Alejandro. G. M, 2021. Nitrogen Cycle. Ecology, Bioteknological Aplications and Environmental Impacts. Taylor & Francis Group. New York.
Hapsari, R., Moch. R dan Moch. D. M, 2016. Pengaruh Sumber Pupuk Nitrogen dan Waktu Pemberian Urea pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays Sturt. var. saccharata). Vol.4 (1)
Herlambang A dan Marsidi R.2003. Proses Denitrifikasi dengan System Biofilter untuk Pengolahan Air Limbah yang Mengandung Nitrat. Jakarta: J.Tek.Ling.
P3TL-BPPT. 2003;4(1):46 55
Jama, B., C.A. Palm., R.J. Buresh., A.Niang., C,Gachengo., B. Amadalo. 2000.
Tithonia diversifolia as a Green Manure for Soil Fertility Improvement in Western Kenya. Journal of Agroforestry Systems. 49 : 201-221.
Kida K, S.Morimura, Y Mochinaga, and M Tokuda. Efficient Removal of Organic Matter and NH4+ from Pot Ale by a Combination of Methane Fermentation and Biological Denitrification and Nitrification Process. Journal of Process Biochem. 1999; 34:567-569
Miller R.W. and R.L.Donahue. 1990. An Introduction to Soil and Plant Growth.
Prentice Hall International Edition. Englewood, New Yersey.
Mukhlis, 2011. Tanah Andisol. Genesis, Klasifikasi, Karakteristik, Penyebaran dan Analisis. USU Press. Medan
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Di Indonesia, Karateristik, Klasifikasi dan Pemanfaatannya. Pustaka Jaya. Jakarta.
Prasetyo, B. H. N. dan Suriadikarta, H. 2006. Karakteristik, Potensi, dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia. Litbang Pertanian. Vol. 2 (25): 39 hal.
Patti, P. S., E. Kaya dan Ch. Silahoy. Analisis Status Nitrogen Dalam Kaitannya Dengan Serapan N Oleh Tanaman Padi Sawah di Desa Waitamital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jurnal Agrologia. Vol.
2. No.1:51-58
Ramadhani, R.H. Moch R dan Moch. D. M, 2016. Pengaruh Sumber Pupuk Nitrogen dan Waktu Pemberian Urea Pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays Sturt. Var. saccharata). Jurnal Produksi Tanaman. Vol (4) No. 1: 8-15
Sarief, S. 1989. Fisika-kimia tanah pertanian. Pustaka Buana Bandung.
Singh, A.K., Manibhushan, M.K. Meena, and A. Upadhyaya. 2012. Effect of Sulphur and Zinc on Rice Performance and Nutrient Dynamics in Plants and Soil of Indo Gangetic Plains. Journal of Agricultural Science 4(11): 162-170.
Siregar, P., Fauzi dan Supriadi. 2017. Pengaruh Pemberian Beberapa Sumber Bahan Organik dan Masa Inkubasi Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah Ultisol. Jurnal Agroekoteknologi FP USU. Vol. 5(2) : 256-264.
Susila, A.D., J.G. Kartika, T. Prasetyo, dan M.C, Palada. 2010. Fertilizer recommendation: Correlation and calibration study of soil-P test for yard
long bean (Vigna ungvilata, L.) and utisal in Nanggung, Bogor. Jurnal Agronomi Indonesia Indonesian Journal of Agronomy XXXVIII(3).
Syahputra, E. Fauzi dan Razali. 2015. Karakteristik Sifat Kimia Sub Grup Tanah Ultisol di Beberapa Wilayah Sumatera Utara. Jurnal Agroekoteknologi. E- ISSN No. 2337- 6597 Vol.4. No.1. (572) :1796 - 1803
Tan, K.H. 2011. Principles of Soil Chemistry 4th Edition.. New York.
Widjonarko, D.M., Pranoto, & Christina, Y. 2003. Pengaruh H2SO4 and NaOH terhadap Luas Permukaan and Keasaman Alofan, Alchemy 2 (2): 19-29.
Lampiran 1. Kriteria Sifat-Sifat Tanah Sifat Tanah Satuan Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi C (karbon) % <1.00 1,00-2,00
2,01-3,00 3,01-5,00 >5.00 N (nitrogen) % <0,10 0,10-0,20
0,21-0,50 0,51-0,75 >0,75
C/N --- <5 05-10 11-15 16-25 >25
P2O5 Total % <0,03 0,03-0,06 0,06-
0,079 0,08-0,10 >0,10 P2O5 eks-HCl % <0,021 0,021-0,039
0,04-0,06 0,061-0,10 >0,10 0 P-avl Bray II Ppm <8,0 8,0-15 16-25 26-35 >35
P-avl Troug Ppm <20 20-39 40-60 61-80 >80
P-avl Olsen Ppm <10 10-25 26-45 46-60 >60
MgO eks-HCl % <0,05 0,05-0,09
0,10-0,20 0,21-0,3 >0,30 MnO eks-HCl % <0,05 0,05-0,09
0,10-0,20 0,21-0,30 >0,30 K-tukar me/100 <0,10 0,10-0,20
0,30-0,50 0,60-1,00 >1,00 Na-tukar me/100 <0,10 0,10-0,30
0,40-0,70 0,80-0,100 >1,00 Ca-tukar me/100 <2.0 2,0-5,0 6,0-10,0 11,0-20,0 >20 Mg-tukar me/100 <0,40 0,40-1,00
1,10-2,00 2,10-8,00 >8,00
KTK (CEC) me/100 <5 5-16 17-24 25-40 >40
KB (BS) % <20 20-35 36-50 51-70 >70
Kej. AL % <10 10-20 21-30 31-60 >60
EC (nedeco) Mmhos/
cm ---- ---
2,5 2,6-10 >10 Sumber: Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983
Lampiran 2. Data Analisis Awal Tanah Tanah Andisol
Parameter Satuan Nilai Kriteria
pH H2O - 5,23 Masam
Pasir % 70
Debu % 14
Liat % 16
Tekstur Lempung Berpasir
C-Organik % 2,03 Sedang
N-Total % 0,28 Sedang
KTK me/100g 31,2 Tinggi
Tanah Ultisol
Parameter Satuan Nilai Kriteria
pH H2O - 4,84 Masam
Pasir % 83
Debu % 8
Liat % 9
Tekstur Pasir Berlempung
C-Organik % 1,28 Rendah
N-Total % 0,04 Rendah
KTK me/100g 4,8
Sangat Rendah Lampiran 3. Perhitungan Dosis Pupuk
200 ppm N = 200 mg N/ 1 kg 200 ppm N = 20 mg N / 100 g
Urea = 100/45 X 20 mg N / 100 g = 0.044 g Urea / 100 g pot 200 ppm N = 200 mg N/ kg
300 ppm N = 20 mg N / 100 g
ZA = 100/21 X 20 mg N / 100 g = 0.095 g ZA / 100 g pot
Lampiran 4. Perhitungan Kadar Air & Kapasitas Lapang
• Andisol
%KA1 = 𝐵𝑇𝐾𝑈−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100% %KA2 = 𝐵𝑇𝐾𝑈−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100%
= 10−9
9 𝑋 100% = 10 – 8,9
8,9 𝑋 100%
= 11,1% = 12,3%
%KA = 11,1%+12,3%
2 = 11,7%
%KL1 = 𝐵𝑇𝐾𝐿−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100% %KL2 = 𝐵𝑇𝐾𝐿−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100%
= 10−6
6 𝑋 100% = 10−5,9
5,9 𝑋 100%
= 66,7% = 69,5%
%KL = 66,7%+69,5%
2 = 68%
• Ultisol
%KA1 = 𝐵𝑇𝐾𝑈−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100% %KA2 = 𝐵𝑇𝐾𝑈−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100%
= 10−9,2
9,2 𝑋 100% = 10 – 9,2
9,2 𝑋 100%
= 8,7% = 8,7%
%KA = 8,7%+8,7%
2 = 8,7%
%KL1 = 𝐵𝑇𝐾𝐿−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100% %KL2 = 𝐵𝑇𝐾𝐿−𝐵𝑇𝐾𝑂
𝐵𝑇𝐾𝑂 𝑋 100%
= 10−7,2
7,2 𝑋 100% = 10−7,2
7,2 𝑋 100%
= 38,89% = 38,89%
%KL = 38,89%+38,89%
2 = 38,89%
Lampiran 5. Perhitungan Berat Tanah per Botol Plastik (100 g)
• Andisol
BTKU = BTKO + (%KA X BTKO)
= 100g + (0,111 X 100)g
= 100g + 11,1g
= 111,1g
BTKL = BTKO + (%KL X BTKO)
= 100g + (0,68 x 100)g
= 100g + 68g
= 168g
• Ultisol
BTKU = BTKO + (%KA X BTKO)
= 100g + (0,087 X 100)g
= 100g + 8,7g
= 108,7g
BTKL = BTKO + (%KL X BTKO)
= 100g + (0,3889 x 100)g
= 100g + 38,89g
= 138,89g
Lampiran 6. Bagan Penelitian
AUI0(1) AUI2(3) AUI0(3)
AUI5(3) AZI5(1) AUI3(2)
AUI2(1) TZI0(2) AZI1(1)
TZI3(1) AZI5(3) TUI5(1)
AUI4(1) TUI1(2) AUI4(3)
TZI3(3) AUI5(2) AUI1(1)
AUI3(3) AZI2(3) AUI6(3)
AZI0(1) TZI3(2) TUI1(1)
TZI4(3) TUI6(1) TUI4(2)
AZI1(2) AZI2(2) AUI6(2)
TZI1(1) AZI6(1) TZI4(2)
AZI4(1) TZI1(3) AZI4(3)
AUI1(2) AZI5(2) AUI2(2)
AZI3(2) TUI2(3) AUI5(1)
TUI0(1) TUI0(2) TUI0(3)
AZI0(3) TUI1(2) TZI2(2)
TUI2(1) AUI3(1) AZI6(2)
TUI5(3) TUI3(2) TUI3(3)
TZI3(3) AZI1(3) AUI0(2)
AUI6(1) TZI6(1) TUI3(1)
AZI2(1) TUI6(2) TZI6(2)
TZI0(3) TZI5(3) TZI0(1)
AZI3(3) TZI1(2) AZI4(2)
TZI2(1) TUI1(3) AZI6(3)
AUI4(2) AZI0(2) TUI4(1)
TZI4(1) AZI3(1) AUI2(3)
TZI5(1) TZI5(2) TUI4(3)
TUI5(2) TUI6(3) TZI6(3)
Lampiran 7. Data Nilai pH akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol
Perlakuan Ulangan
Total Rata- Rata
I II III
AUI0 4.77 4.77 4.77 14.31 4.77
AUI1 5.13 5.13 5.13 15.39 5.13
AUI2 5.42 5.42 5.42 16.26 5.42
AUI3 5.30 5.30 5.30 15.90 5.30
AUI4 5.18 5.18 5.18 15.54 5.18
AUI5 4.79 4.79 4.79 14.37 4.79
AUI6 4.16 4.16 4.16 12.48 4.16
AZI0 4.60 4.60 4.60 13.80 4.60
AZI1 4.76 4.76 4.76 14.28 4.76
AZI2 4.94 4.94 4.94 14.82 4.94
AZI3 4.98 4.98 4.98 14.94 4.98
AZI4 4.97 4.97 4.97 14.91 4.97
AZI5 4.70 4.70 4.70 14.10 4.70
AZI6 4.08 4.08 4.08 12.24 4.08
TUI0 4.41 4.41 4.41 13.23 4.41
TUI1 4.52 4.52 4.52 13.56 4.52
TUI2 4.74 4.74 4.74 14.22 4.74
TUI3 4.69 4.69 4.69 14.07 4.69
TUI4 4.67 4.67 4.67 14.01 4.67
TUI5 4.99 4.99 4.99 14.97 4.99
TUI6 4.99 4.99 4.99 14.97 4.99
TZI0 4.33 4.33 4.33 12.99 4.33
TZI1 4.47 4.47 4.47 13.41 4.47
TZI2 4.64 4.64 4.64 13.92 4.64
TZI3 4.63 4.63 4.63 13.89 4.63
TZI4 4.63 4.63 4.63 13.89 4.63
TZI5 4.65 4.65 4.65 13.95 4.65
TZI6 4.71 4.71 4.71 14.13 4.71
Total 132.85 132.85 132.85 398.55 132.85
Rataan Umum 30.546
Lampiran 8. Analisis Sidik Ragam pH tanah Andisol dan Ultisol akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada berbagai masa Inkubasi
SK db JK KT F hitung F tabel
5%
Perlakuan 27 7.927 0.294 69.297 3.823*
Tanah 1 0.787 0.787 185.715 5.987*
Pupuk 1 0.764 0.764 180.273 5.987tn
Inkubasi 6 2.290 0.382 90.097 4.284*
Tanah vs Pupuk 1 6.377 6.377 1505.044 5.987*
Tanah vs Inkubasi 6 4.850 0.808 190.790 4.284*
Pupuk vs Inkubasi 6 4.873 0.812 191.697 4.284*
T x P x I 6 4.086 0.681 160.744 4.284*
Galat 56 0.000 0.000
Total 83 7.927
KK 0.02%
Keterangan :
KK = Koefisien Keragaman tn = tidak nyata
* = nyata
Lampiran 9. Kadar Nitrogen Total akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol dengan 6 masa Inkubasi
Perlakuan Ulangan
Total Rata-Rata
I II III
AUI0 0.286 0.297 0.297 0.879 0.293 AUI1 0.459 0.694 1.008 2.162 0.721 AUI2 0.280 0.241 0.179 0.700 0.233 AUI3 0.437 0.347 0.274 1.058 0.353 AUI4 0.325 0.280 0.319 0.924 0.308 AUI5 0.465 0.493 0.454 1.411 0.470 AUI6 0.437 0.459 0.459 1.355 0.452 AZI0 0.330 0.330 0.347 1.008 0.336 AZI1 0.650 0.616 0.560 1.826 0.609 AZI2 0.364 0.403 0.504 1.271 0.424 AZI3 0.510 0.465 0.465 1.439 0.480 AZI4 0.370 0.364 0.386 1.120 0.373 AZI5 0.308 0.409 0.454 1.170 0.390 AZI6 0.403 0.392 0.414 1.210 0.403 TUI0 0.050 0.039 0.050 0.140 0.047 TUI1 0.280 0.353 0.230 0.862 0.287 TUI2 0.302 0.370 0.291 0.963 0.321 TUI3 0.101 0.118 0.101 0.319 0.106 TUI4 0.050 0.056 0.067 0.174 0.058 TUI5 0.078 0.056 0.067 0.202 0.067 TUI6 0.050 0.056 0.056 0.162 0.054 TZI0 0.056 0.067 0.067 0.190 0.063 TZI1 0.498 0.448 0.291 1.238 0.413 TZI2 0.045 0.039 0.056 0.140 0.047 TZI3 0.045 0.078 0.078 0.202 0.067 TZI4 0.062 0.062 0.045 0.168 0.056 TZI5 0.078 0.062 0.095 0.235 0.078 TZI6 0.045 0.045 0.056 0.146 0.049 Total 7.364 7.638 7.672 22.674 7.558
Lampiran 10. Daftar Sidik Ragam Kadar Nitrogen Total akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol dengan 6 masa Inkubasi
SK Db JK KT Fhit F tabel
5%
Perlakuan 27 3.041 0.113 26.581 3.823*
Tanah 1 1.828 1.828 431.524 5.987*
Pupuk 1 0.000 0.000 0.007 5.987tn
Inkubasi 6 0.845 0.141 33.247 4.284*
Tanah vs Pupuk 1 1.212 1.212 286.148 5.987*
Tanah vs Inkubasi 6 0.367 0.061 14.446 4.284*
Pupuk vs Inkubasi 6 2.196 0.366 86.365 4.284*
T x P x I 6 0.367 0.061 14.444 4.284*
Galat 56 0.237 0.004
Total 83 3.278
KK 11.13%
Keterangan :
KK = Koefisien Keragaman tn = tidak nyata
* = nyata
Lampiran 11. Kadar Nitrogen Tercuci akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol
Perlakuan Ulangan
Total Rata-Rata
I II III
AUI0 0.038 0.057 0.057 0.153 0.051 AUI1 0.023 0.023 0.031 0.078 0.026 AUI2 0.504 0.696 0.672 1.872 0.624 AUI3 0.476 0.762 0.810 2.048 0.683 AUI4 0.691 1.127 0.764 2.582 0.861 AUI5 0.452 0.310 0.488 1.250 0.417 AUI6 0.471 0.397 0.533 1.401 0.467 AZI0 0.050 0.067 0.050 0.167 0.056 AZI1 0.037 0.028 0.037 0.101 0.034 AZI2 0.925 0.568 0.938 2.432 0.811 AZI3 0.327 0.292 0.339 0.957 0.319 AZI4 0.525 0.630 0.570 1.725 0.575 AZI5 0.675 0.789 0.617 2.081 0.694 AZI6 0.764 0.472 0.708 1.944 0.648 TUI0 0.240 0.240 0.240 0.720 0.240 TUI1 0.097 0.078 0.078 0.253 0.084 TUI2 0.105 0.122 0.105 0.331 0.110 TUI3 0.789 0.263 0.316 1.368 0.456 TUI4 1.065 0.774 0.871 2.710 0.903 TUI5 2.917 0.917 0.833 4.667 1.556 TUI6 0.931 0.931 0.931 2.793 0.931 TZI0 0.265 0.265 0.353 0.882 0.294 TZI1 0.068 0.041 0.054 0.163 0.054 TZI2 0.360 0.480 0.600 1.440 0.480 TZI3 0.667 1.083 0.750 2.500 0.833 TZI4 1.000 1.000 1.100 3.100 1.033 TZI5 1.786 1.286 0.714 3.786 1.262 TZI6 1.500 0.692 0.923 3.115 1.038 Total 17.747 14.390 14.482 46.619 15.540
Rataan Umum 1.354
Lampiran 12. Daftar Sidik Ragam Kadar Nitrogen Tercuci akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol
SK Db JK KT Fhit F tabel
5%
Perlakuan 27 13.505 0.500 118.054 3.823*
Tanah 1 0.973 0.973 229.536 5.987*
Pupuk 1 0.056 0.056 13.213 5.987tn
Inkubasi 6 8.712 1.452 342.711 4.284*
Tanah vs Pupuk 1 12.477 12.477 2944.721 5.987*
Tanah vs Inkubasi 6 3.820 0.637 150.278 4.284*
Pupuk vs Inkubasi 6 4.737 0.789 186.332 4.284*
T x P x I 6 3.764 0.627 148.076 4.284*
Galat 56 4.436 0.079
Total 83 17.941
KK 20.79%
Keterangan :
KK = Koefisien Keragaman tn = tidak nyata
* = nyata
Lampiran 13. Kadar Nitrogen Menguap akibat pemberian pupuk Urea dan ZA pada tanah Andisol dan Ultisol
Perlakuan Ulangan
Total Rata- Rata
I II III
AUI0 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 AUI1 0.016 0.016 0.016 0.047 0.016 AUI2 0.072 0.072 0.048 0.192 0.064 AUI3 0.048 0.095 0.063 0.206 0.069 AUI4 0.109 0.091 0.091 0.291 0.097 AUI5 0.036 0.036 0.048 0.119 0.040 AUI6 0.050 0.074 0.025 0.149 0.050 AZI0 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 AZI1 0.018 0.009 0.009 0.037 0.012 AZI2 0.053 0.040 0.053 0.145 0.048 AZI3 0.082 0.093 0.082 0.257 0.086 AZI4 0.075 0.075 0.090 0.240 0.080 AZI5 0.072 0.086 0.057 0.215 0.072 AZI6 0.056 0.069 0.056 0.181 0.060 TUI0 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 TUI1 0.039 0.058 0.039 0.136 0.045 TUI2 0.052 0.035 0.052 0.140 0.047 TUI3 0.263 0.316 0.263 0.842 0.281 TUI4 0.581 0.677 0.677 1.935 0.645 TUI5 0.333 0.250 0.250 0.833 0.278 TUI6 0.207 0.310 0.414 0.931 0.310 TZI0 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 TZI1 0.041 0.027 0.027 0.095 0.032 TZI2 0.360 0.240 0.360 0.960 0.320 TZI3 0.333 0.917 0.667 1.917 0.639 TZI4 0.500 0.300 0.500 1.300 0.433 TZI5 0.214 0.214 0.286 0.714 0.238 TZI6 0.346 0.231 0.346 0.923 0.308 Total 3.955 4.332 4.518 12.805 4.268