Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI DENGAN
MENGGUNAKAN METODE AGGREGATE PLANNING (STUDI KASUS DI PT DELTA PASIFIC INDOTUNA)
SKRIPSI
DARMA SARI INTAN 12 22 119
PROGRAM STUDI AGROINDUSTRI DIPLOMA 4
JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN
2016
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini,
Nama Mahasiswa : Darma Sari Intan
NIM : 12 22 119
Program Studi : Agroindustri Diploma IV
Perguruan Tinggi : Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis dengan Judul: “Perencanaan dan Pengendalian Produksi dengan Menggunakan Metode Aggregate Planning (Studi Kasus di PT DELTA PASIFIC INDOTUNA)”.
Adalah benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan Tugas Akhir ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Pangkep, 24 Agustus 2016 Yang Menyatakan
(Darma Sari Intan)
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
RINGKASAN
DARMA SARI INTAN (12 22 119). Perencanaan dan Pengendalian Produksi dengan Menggunakan Metode Aggregate Planning. Dibimbing oleh ANDI RIDWAN MAKKULAWU dan ANDI MUH. YUSLIM PATAWARI.
Aggregate Planning adalah perencanaan yang dibuat untuk menentukan total permintaan dari seluruh elemen produksi dan jumlah tenaga kerja yang diperlukan.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh rancangan metode Aggregate Planning maupun mengetahui perencanaan dan pengendalian produksi, mendapatkan forecasting/ramalan persediaan bahan baku, mempelajari parameter yang dibutuhkan dalam formulasi sistem perencanaan produksi.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak minitab versi 14 dengan Identifikasi Pola Data berupa Plot Data DEF, Plot ACF, Plot DEF pada First Difference. Adapun model terbaik adalah ARIMA (2,1,3) karena menghasilkan parameter yang significant, memiliki SS terkecil dan nilai MAPE terkecil. Parameter penyusunan perencanaan produksi agregat yaitu jumlah permintaan dari pelanggan, kapasitas gudang produk jadi, tingkat persediaan produk jadi, waktu kerja yang tersedia dan kecepatan produksi.
Peramalan (forecasting) persediaan bahan baku yang dihasilkan secara optimal yang diperoleh dengan jumlah produksi ikan kaleng sebanyak 37.617.600 unit/tahun, penggunaan jam tenaga kerja 2.014,46 jam/tahun, jumlah persediaan 3.761.760 unit/tahun. Untuk periode perencanaan, ternyata perusahaan tidak perlu melakukan lembur, karena nilai reduced cost pada pemakaian jam kerja lembur lebih besar dari nol.
Artinya jika kerja lembur dilaksanakan akan menambah biaya tiap jamnya. Maka dari itu, perusahaan tidak perlu melakukan jam lembur karena jam kerja regular masih dapat untuk memenuhi jumlah produksi sesuai perencanaan
Kata Kunci : Aggregate Planning, forecasting, Metode ARIMA.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
SUMMARY
DARMA SARI INTAN (12 22 119). Production planning and control using the method aggregate planning. Under direction of ANDI RIDWAN MAKKULAWU and ANDI MUH. YUSLIM PATAWARI.
Aggregate Planning is the planning that was made to determine the total demand of all elements of production and the amount of labor required.
This research purposes to know the obtain draft Planning Aggregate method to determine the production planning and control, getting forecasting/prediction inventory of raw materials, studying the parameters required in the formulation of the production planning system
This study conducted by using the software minitab version 14 with the identification of scheme piece of Plot Data DEF, Plot ACF, Plot DEF on the First Difference. As for the best model is ARIMA (2,1,3) due to produce the parameters significant, have SS smallest and value MAPE smallest. Parameters authors production planning aggregate the number of requests from costumers, capacity storage the finished product, inventory levels finished product, time working available and speed production.
Forecasting inventories of raw materials produced optimally obtained with total production of canned fish as much as 37.6176 million units/year, the use of labor hours 2014.46 hours/year, the amount of inventories 3.76176 million units/year. For the planning period, apparently the company did not have to do overtime, because the value of the reduced cost to the use of overtime hours is greater than zero. This means that if the overtime work carried out will add to the cost per hour. Therefore, companies do not need to do overtime for regular working hours they can to meet the production quantities in the planning horizon
Keywords: Aggregate Planning, forecasting, Method ARIMA.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE
AGGREGATE PLANNING
(STUDI KASUS DI PT DELTA PASIFIC INDOTUNA)
DARMA SARI INTAN
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan
pada
Program Studi Agroindustri
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP 2016
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
HALAMAN PENGESAHAN
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE
AGGREGATE PLANNING
(STUDI KASUS DI PT DELTA PASIFIC INDOTUNA)
SKRIPSI
OLEH :
DARMA SARI INTAN NIM. 12 22 119
Sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
Telah diperiksa dan disetujui :
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. A. Ridwan M. ST., M.Si., M.Sc A. Muh. Yuslim P, S.ST.Pi, M.P Nip. 19750626 200112 1 001 Nip. 19780309 200604 1 001
Ketua Jurusan Ketua Program Studi
Ir. Nurlaeli Fattah, M. Si Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP., M.P Nip. 19680807 199512 2 001 Nip. 19760810 200912 2 002
Diketahui Oleh : Direktur
Dr. Ir. Darmawan, M.P Nip. 19670202 199803 1 002 Tanggal Lulus : 22 Agustus 2016
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI
Judul : Perencanaan dan Pengendalian Produksi dengan Menggunakan Metode Aggregate Planning
(Studi Kasus di PT DELTA PASIFIC INDOTUNA)
Nama Mahasiswa : Darma Sari Intan
NIM : 12 22 119
Program Studi : Agroindustri Diploma IV Tanggal lulus : 22 Agustus 2016
Disahkan Oleh : Tim Penguji
1. Dr. Andi Ridwan Makkulawu ST., M.Si., M.Sc ( ……….………. )
2. Andi Muh. Yuslim Patawari, S.ST.Pi., M.P ( .………..….……….. )
3. Dr. Ir. Sitti Nurmiah, M.Si ( ……….……. )
4. Syamsuar, S.Pi., M.Si ( …….…..…….…….. )
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kebodohan menuju zaman kemajuan seperti sekarang ini.
Skripsi ini dibuat berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada Praktek Kerja Magang Industri (PKMI) Mahasiswa di PT Delta Pasific Indotuna Bitung, Sulawesi Utara, yang berlangsung mulai tanggal 04 Januari sampai 30 April 2014.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayahanda Muhammad Darwis dan Ibunda Rahmawati M. tercinta yang dengan penuh ketulusan dan kasih sayang selama ini telah membimbing serta senantiasa memberikan dukungan moral maupun dukungan moril kepada penulis yang tak ternilai harganya. Tak lupa pula untuk saudaraku Sarwono Darwis, Muh. Ilham Darwis dan Muh. Irhas Darwis atas motivasinya untuk penyelesaian skripsi ini. Serta berbagai pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Melalui kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. A. Ridwan M. ST., M.Si., M.Sc selaku pembimbing I dan bapak A. Muh. Yulim P. S.ST.Pi., MP selaku pembimbing II.
2. Bapak Ir. Abdul Khalid, MBA selaku General Manager dan Bapak Basmi Said SE., M.Si selaku pembimbing lapangan beserta staf PT Delta Pasific Indotuna, Bitung. Sulawesi Utara.
3. Ibu Nur Asyurah, selaku Ketua QA Laboratorium PT Delta Pasific Indotuna, yang telah membagi ilmunya, selalu memberi nasihat, motivasi dan doa.
4. Bapak Dr. Ir. Darmawan M.P selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep beserta staf dan jajarannya.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 5. Ibu Ir. Nurlaeli Fattah, M. Si, selaku Ketua Jurusan Teknologi Pengolahan
Hasil Perikanan beserta staf dan jajarannya.
6. Ibu Zulfitriany Dwiyanti Mustaka SP. MP, selaku Ketua Program Studi Agroindustri beserta staf dan jajaranya.
7. Rekan – rekan jurusan Agroindustri sebagai teman seperjuangan, terima kasih atas bantuan dan do’anya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik.
8. Sahabat terbaik Agroindustri Ernawati, Nurmiati A. Hatirah, St. Amina yang senantiasa menemani dalam suka dan duka dalam penulisan tugas akhir ini.
9. Keluarga besar Agroindustri XXV, terima kasih karena senantiasa berjuang bersama.
10. Rekan Kost Batu Akik, Bitung. Sulawesi Utara : Oppa Rhendy, Oppa Jefry, Oppa Acho, Oppa Syaeiful, Oppa Akmal, Oppa Chaeirul, Oppa Luthfi, Prima, Asrul, dan Unnie Yhati, terima kasih atas bantuan, dukungan, semangat dan do’anya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Karenanya, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan tugas akhir ini. Akhirnya penulis mengucapkan banyak terima kasih, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wabillahi taufik walhidayah Assalamu’ alaikum Wr. Wb
Pangkep, 24 Agustus 2016
Penulis
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan ... 3
1.4 Manfaat Kegiatan ... 3
II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Industri Perikanan ... 5
2.2 Sistem Produksi ... 6
2.3 Perencanaan Produksi ... 7
2.4 Pengendalian produksi ... 10
2.5 Peramalan (forecasting) ... 13
2.6 Pola Data Deret Waktu ... 17
2.7 Metode Peramalan ... 19
2.8 Metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) ... 19
2.9 Produksi Aggregate Planning ... 21
2.10 Strategi Perencanaan Agregat ... 23
2.11 Metode Perencanaan Produksi Agregat ... 26
III METODOLOGI ... 28
3.1 Waktu Penelitian ... 28
3.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ... 28
3.3 Kerangka Pemikiran Konseptual ... 29
3.4 Tahapan Penelitian ... 32
3.5 Pengolahan dan Analisis Data ... 35
IVHASIL DAN PEMBAHASAN ... 37
4.1 Sistem Perencanaan Produksi Agregat ... 37
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 4.2 Faktor-faktor yang Dipertimbangkan dalam Menyusun Perencanaan
Produksi Agregat ... 38
4.3 Identifikasi Pola Data Permintaan Ikan Kaleng Ekspor ... 40
4.4 Penerapan Metode Peramalan ... 43
4.5 Pemilihan Metode Peramalan ... 45
4.6 Peramalan Model yang di Pilih ... 46
4.7 Perencanaan Produksi Agregat ... 47
4.8 Optimasi Sistem Perencanaan Produksi Agregat ... 47
4.9 Implikasi Manajerial ... 52
V PENUTUP ... 54
5.1 Kesimpulan ... 54
5.2 Saran ... 55
DAFTAR PUSTAKA ... 56
RIWAYAT HIDUP ... 57
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
DAFTAR TABEL
No. Tesk Halaman
1. Jenis kebutuhan data, metode pengumpulan dan analisis data ... 29
2. Rangkuman Model ARIMA ... 42
3. Peramalan jumlah permintaan produk selama periode perencanaan Agregat ... 46
4. Nilai kendala perencanaan produksi ... 48
5. Hasil perencanaan produksi agregat ikan kaleng ... 49
6. Nilai surplus jam kerja dan kapasitas gudang ... 50
7. Prediksi perencanaan waktu produksi ... 51
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan |
DAFTAR GAMBAR
No. Tesk Halaman
1. Input-Output Sistem Produksi ... 6
2. Sistem Operasi Pengendalian Produksi ... 12
3. Penggunaan prakiraan untuk peramalan permintaan dalam sub sistem produksi operasi ... 16
4. Tahapan pendekatan dalam menentukan model ARIMA ... 21
5. Ruang lingkup perencanaan agregat ... 24
6. Kerangka pemikiran konseptual ... 31
7. Tahapan diagram alir penelitian ... 34
8. Diagram alir proses perencanaan produksi ... 37
9. Plot Data DEF ... 40
10. Plot ACF ... 40
11. Plot DEF pada First Difference ... 41
12. Proses perencanaan jadwal induk produksi ... 52
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang industrinya telah tumbuh dan berkembang dengan pesatnya. Seiring dengan perkembangannya tentunya persaingan antar perusahaan akan semakin ketat khususnya pada industri perikanan di tanah air. Dengan meningkatnya persaingan, tentunya perusahaan akan lebih meningkatkan kualitas manajemennya agar dapat tetap bertahan dalam persaingan. Salah satunya adalah memperbaiki kelangsungan produksi agar dapat memenuhi permintaan konsumen dengan tepat waktu, tentunya juga dengan biaya produksi seminimal mungkin.
PT Delta Pasific Indotuna merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri perikanan. Perusahaan yang didirikan atas izin investasi yang di terbitkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) No. 178/1/PMDN/2005 pada tanggal 15 Desember 2005. Perusahaan yang penanaman modalnya tergolong sebagai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dimana pemilik modal atau sahamnya adalah Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.
Perencanaan produksi agregat sangat diperlukan untuk mengusahakan supaya perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya yang dimiliki secara optimal, berproduksi pada tingkat efisien dan efektifitas yang tinggi, berproduksi dengan biaya rendah, menjual produk dalam jumlah banyak, memperoleh keuntungan bagi pengembangan dan kemajuan perusahaan dalam memiliki daya saing yang tinggi. Perusahaan yang tidak melakukan perencanaan produksi agregat akan menghadapi beberapa permasalahan seperti produksi yang tidak sesuai dengan permintaan, tidak optimalnya utilisasi kapasitas, keterlambatan waktu pengiriman dan beban produksi yang tidak merata.
Pada perencanaan persediaan bahan baku terlebih dahulu ditetapkan kuantitas bahan baku yang diperlukan dalam melaksanakan proses produksi. Jadi perencanaan persediaan berhubungan dengan penentuan komposisi persediaan, penentuan waktu serta lokasi untuk memenuhi kebutuhan persediaan dalam
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | melaksanakan proses produksi tersebut. Sedangkan pengendalian persediaan berhubungan dengan pengendalian kualitas dan kuantitas dalam jumlah batas- batas yang direncanakan suatu perlindungan fisik terhadap persediaan yang ada.
Perencanaan persediaan bahan baku perlu sekali mendapat perhatian yang serius, sebagai bagian dari pengendalian persediaan bahan baku dan mencakup juga mulai dari bahan baku diterima sampai ke proses produksi, sebab pangaruh pada saat tersebut apabila kurang diperhatikan akan mengakibatkan dampak negatif terhadap kualitas bahan tersebut. Dengan demikian apabila bahan baku tadi dikendalikan dengan baik maka hasilnya juga akan baik dan mutu hasil olah mampu bersaing dipasaran. Efektif yang berarti keselarasan antara perencanaan dengan hasil yang didapat, sedangkan efisien berarti mampu memproduksi suatu output tertentu dengan sumber daya yang ada dengan seminimal mungkin.
Oleh karena itu, penulis menyadari beberapa permasalahan dan mencoba melakukan suatu penelitian, dan dengan hasil tersebut diharapkan suatu karya yang berjudul “Perencanaan dan Pengendalian Produksi Ikan Kaleng dengan Menggunakan Metode Aggregate Planning di PT Delta Pasific Indotuna”. Hal ini dilakukan untuk menghindari tinggi rendahnya persediaan yang mengakibatkan biaya simpan terlalu tinggi, disamping itu dapat mengurangi pelayanan kepada konsumen dikarenakan keterlambatan penyerahan produk dan melakukan peramalan permintaan di masa yang akan datang agar dapat membuat suatu perencanaan dan pengendalian dalam mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki perusahaan, tentu saja juga untuk mengatasi permintaan konsumen yang dinamis dengan biaya yang minimal. Dengan harapan semua permintaan dapat terpenuhi secara tepat waktu dengan biaya yang minimal.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 1.2 Rumusan Masalah
Perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimana peningkatan kinerja perusahaan dalam menerapkan sistem perencanaan dan pengendalian dengan menggunakan metode Aggregate Planning ?”.
b. Bagaimana cara melakukan peramalan permintaan dimasa yang akan datang agar dapat optimal secara efektif maupun efisien ?
c. Apakah perusahaan membutuhkan parameter penyusunan perencanaan agregat ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang akan dicapai dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Memperoleh rancangan metode Aggregate Planning untuk mengetahui perencanaan dan pengendalian produksi
b. Mendapatkan forecasting/ramalan persediaan bahan baku
c. Mempelajari parameter yang dibutuhkan dalam formulasi sistem perencanaan produksi
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi peneliti
Dengan penelitian ini, peneliti dapat mempelajari penerepan aggregate planning dalam perencanaan dan pengendalian produksi untuk mendukung rencana produksi.
b. Bagi universitas
Penelitian dapat digunakan sebagai pembendaharaan perpustakaan agar dapat berguna bagi mahasiswa yang akan datang dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
c. Bagi perusahaan
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Dapat diketahui jumlah jam produksi dan penghematan biaya produksi setelah diterapkan perencanan produksi secara agregat sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Industri Perikanan
Lebih dari 80% potensi laut Indonesia belum dieksplorasi dan dikelola dengan baik. Potensi perikanan laut di Indonesia sendiri tersebar pada hampir semua bagian perairan laut Indonesia belum tergali secara maksimal. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari 0,8 juta km² laut territorial, 2,3 juta km² laut nusantara, dan 2,7 juta km² Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508, Indonesia memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari dengan rincian sebanyak 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia (Adi, 2012).
Industri Sumber Daya Ikan, Menurut Undang-undang No. 9 Tahun 1985 tentang perikanan, yang dimaksudkan dengan sumber daya hayati laut adalah sumber daya ikan (SDI). Berdasarkan ketersediaan sumber daya kelautan, maka usaha dan upaya pemanfaatan sumber daya tersebut dibagi dalam berbagai spesialisasi industri kelautan, yaitu industri sumber daya ikan, industri sumber daya tak dapat pulih dan industri jasa lingkungan.
Industri perikanan untuk pemanfaatan sumber daya ikan dibagi dalam berbagai kelompok kegiatan industri, yaitu :
1. Industri penangkapan ikan (fishing industry) yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha penangkapan ikan di laut. Jenis industri ini disebut juga sebagai industri primer.
2. Industri hasil perikanan (fish processing industry), yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pengolahan hasil laut, seperti pengalengan, pengeringan, pembekuan dan sebagainya. Jenis industri ini disebut sebagai industri sekunder.
3. Industri pemasaran produk laut, yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pemasaran hasil laut. Jenis industri ini disebut sebagai industri tersier dalam perikanan.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 4. Industri budidaya perairan, yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam
usaha budidaya perairan, termasuk industri primer dalam perikanan.
Disamping itu terdapat juga industri-industri lain sebagai penunjang usaha perikanan, seperti industri pembuatan alat-alat penangkapan ikan, industri kapal perikanan, industri pakan ikan dan sebagainya.
2.2 Sistem Produksi
Produksi dalam pengertian sederhana adalah keseluruhan proses dan operasi yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa. Sistem produksi merupakan kumpulan dari sub sistem yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi input produksi menjadi output produksi. Input produksi ini dapat berupa bahan baku, mesin, tenaga kerja, modal dan informasi. Sedangkan output produksi merupakan produk yang dihasilkan berikut sampingannya seperti limbah, informasi, dan sebagainya. Sistem produksi tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 sebagai berikut:
Teknologi Ekonomi
Input Output
Feedback
Politik Sosial Budaya Gambar 1. Input-Output Sistem Produksi
Proses produksi terdiri dari beberapa sub proses produksi, misalkan proses pengolahan bahan baku menjadi komponen, perakitan komponen menjadi sub assembly dan proses perakitan sub assembly menjadi produk jadi.
Proses Transformasi 1. Tenaga
Kerja 2. Modal 3. Material 4. Energi 5. Tanah 6. Informasi 7. Manajerial
Produk Limbah Informasi
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Beberapa tipe proses produksi menurut Handoko (2000), yaitu :
1. Aliran Garis Proses produksi dari bahan mentah sampai menjadi produk akhir dan urutan-urutan operasi yang digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa selalu tetap. Aliran ini terdiri dari produksi massa (mass production) dan produksi terus menerus (continuous production). Produksi massa kumpulan produk dalam jumlah besar dengan mengikuti serangkaian operasi yang sama dengan kumpulan produk sebelumnya.
2. Aliran Intermitten (job shop) Proses produksi dalam kumpulan-kumpulan atau kelompok-kelompok barang yang sejenis pada interval-interval waktu yang terputus-putus. Operasi intermitten dapat diterapkan dalam produksi barang-barang yang tidak distandarisasi atau volume produksinya rendah.
3. Proyek Proses produksi digunakan untuk memproduksi produk-produk khusus atau unik, seperti kapal, pesawat terbang, peluru, jembatan, gedung, pekerjaan seni, peralatan-peralatan khusus, dan sebagainya.
4. Proses produksi untuk pesanan Memproduksi barang dan jasa-jasa atas dasar permintaan atau pesanan tertentu langganan akan suatu produk.
5. Produksi untuk persediaan Produksi digunakan untuk persediaan barang dan untuk memenuhi permintaan yang tidak pasti dan merencanakan kebutuhan kapasitas.
2.3 Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi (Production Planning) adalah salah satu dari berbagai macam bentuk perencanaan yaitu suatu kegiatan pendahuluan atas proses produksi yang akan dilaksanakan dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Ditinjau dari bentuk industri, perencanaan produksi suatu perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya terdapat perbedaan. Banyak hal yang menyebabkan perbedaan tersebut, bahkan pada perusahaan yang sejenis.
Perencanaan adalah fungsi manajemen yang paling pokok dan sangat luas meliputi perkiraan dan perhitungan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu yang akan datang mengikuti suatu urutan tertentu. Syarat mutlak suatu
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | perencanaan harus mempunyai tujuan yang jelas dan mudah dimengerti serta perencanaan harus terukur dan mempunyai standar tertentu. Perencanaan produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin, dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di masa depan sesuai dengan yang diperkirakan atau diramalkan (Assauri, 2004).
Tujuan dari perencanaan produksi adalah :
1. Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu.
2. Menetapkan jumlah dan saat pemesanan bahan baku serta komponen secara ekonomis dan terpadu.
3. Menetapkan keseimbangan antara tingkat kebutuhan produksi, teknik pemenuhan pesanan, serta memonitor tingkat persediaan produk jadi setiap saat, membandingkannya dengan rencana persediaan, dan
melakukan revisi atas rencana produksi pada saat yang ditentukan; serta 4. Membuat jadwal produksi, penugasan, pembebanan mesin dan tenaga
kerja yang terperinci sesuai dengan ketersediaan kapasitas dan fluktuasi permintaan pada suatu periode.
Menurut Baroto (2002), tujuan perencanaan produksi adalah menyusun suatu rencana produksi untuk memenuhi permintaan pada waktu yang tepat dengan menggunakan sumber-sumber atau alternatif-alternatif yang tersisa dengan biaya yang paling minimum dari keseluruhan produk.
Prawirasentono (2007) membagi tiga perencanaan dalam produksi berdasarkan horizon waktu yaitu :
1. Perencanaan jangka panjang (lebih dari 18 bulan). Tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab eksekutif puncak, misalnya menambah fasilitas dan menambah peralatan yang memiliki umur panjang.
2. Perencanaan jangka menengah (3 hingga 18 bulan), disebut juga perencanaan agregat yang dilakukan oleh manajer operasi dengan perencanaan tugas seperti perencanaan penjualan, sub kontrak,
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | menambah peralatan, menambah shift, menambah karyawan, dan membuat atau menggunakan persediaan.
3. Rencana jangka pendek (hingga 3 bulan). Perencanaan dilakukan oleh manajer operasi, para penyelia dan mandor. Penjadwalan tugas, penjadwalan karyawan dan pengalokasian mesin merupakan tanggung jawab mereka.
Unsur-unsur perencanaan produksi terdiri dari dugaan/perkiraan, perhitungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Syarat mutlak suatu perencanaan harus mempunyai tujuan yang jelas dan mudah dimengerti. Perencanaan harus terukur dan mempunyai standar tertentu (Baroto, 2002).
Menurut Prawirasentono (2007) perencanaan produksi meliput beberapa hal : 2.3.1 Desain Produk
Desain produk harus disiapkan sebelum perusahaan beroperasi dalam jangka pendek. Sesuai dengan perubahan selera pasar, desain barang akan selalu diperbaharui agar barang yang dibuat selalu dibutuhkan konsumen atau pasar.
Berdasarkan desain barang yang akan dibuat dapat ditentukan teknologi/mesin yang akan dibeli, termasuk kapasitas produksinya.
2.3.2 Teknologi dan Fasilitas Produksi
1. Hal ini biasanya terdapat dibeberapa negara yang mempunyai mesin dan teknologi yang akan dijual. Biasanya pemilik perusahaan akan memilih yang harganya yang sesuai dengan modal yang dimiliki.
2. Besar kecilnya kapasitas mesin yang harus dibeli tergantung kepada ramalan penjualan yang akan menjadi dasar perencanaan produksi. Jenis proses produksi yang akan digunakan akan tergantung pada desain barang yang akan dibuat.
2.3.3 Bentuk Bangunan dan Fasilitas Produksi
Besarnya kapasitas dan jenis teknologi akan mempengaruhi bentuk dan besar kecilnya bangunan pabrik yang harus didirikan. Selanjutnya akan
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | menentukan rencana letak mesin dan rencana kegiatan pemeliharaan mesin dan sebagainya.
2.3.4 Jumlah dan Tenaga Kerja
Butir a, b, dan c seperti dijelaskan di atas akan mempengaruhi pula pada kebutuhan tenaga kerja. Bukan hanya jumlah tenaga kerja, tetapi juga jenis dan mutu tenaga kerja.
2.3.5 Bentuk dan Mutu Produk
Bentuk dan mutu produk akan menentukan jenis dan jumlah persediaan bahan yang harus dibeli.
2.4 Pengendalian produksi
Persediaan bahan baku dianggap sebagai bagian yang sangat penting dalam perusahaan karena adanya ketidakpastian persediaan, yaitu diperlukannya bahan baku untuk menjaga agar kegiatan produksi tetap berjalan lancar jika pengiriman datang terlambat atau jika tidak ada pengiriman sama sekali. Proses produksi yang tidak dapat diandalkan dapat juga menciptakan permintaan untuk memproduksi persediaan ekstra. Misalnya, suatu perusahaan memutuskan untuk memproduksi lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan karena proses produksi sering sekali menghasilkan produk-produk yang tidak seragam dalam jumlah yang cukup besar.
Pengendalian produksi ialah memberdayagunakan sumber daya produksi yang terbatas secara efektif, terutama dalam usaha memenuhi permintaan kosumen dan menciptakan keuntungan bagi perusahaan (Kusuma, 2004).
Pengendalian produksi memiliki fungsi dalam perencanaan, peramalan, penjadwalan, dan pengendalian persediaan. Menurut Kusuma (2004) pada sistem manufaktur yang kontiniu, masalah pengendalian produksi terletak pada :
1. Ketersediaan bahan baku pada saat yang tepat dengan jumlah dan jenis yang tepat
2. Menghindarkan terjadinya bottle-neck pada lintas produksi, serta
3. Pemindahan dan distribusi produk jadi dari lintas produksi ke titik penyimpanan atau penjualan.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Fungsi dasar pengendalian persediaan baik bahan baku, barang dalam proses maupun barang jadi banyak sekali. Fungsi tersebut meliputi proses berurutan mulai dari timbulnya kebutuhan, pembelian, pengolahan, pengiriman.
Permasalahan utama persediaan yang timbul yaitu bagaimana fungsi tersebut dapat mengatur persediaan sehingga setiap permintaan dapat dilayani akan tetapi biaya persediaan harus minimum. Bila persediaan cukup banyak, permintaan dapat segera dilayani akan tetapi menyebabkan biaya penyimpanan barang tersebut akan menjadi sangat mahal. Dengan memperhatikan hal tersebut diambil keputusan untuk menentukan nilai persediaan.
Dalam sistem job-order (tidak kontiniu), diperlukan proses yang berbeda pada setiap pesanan. Perhentian satu atau beberapa titik dalam lintas produksi tidak akan menghentikan keseluruhan lintas, karena setiap produk dibuat dengan prosesnya sendiri maka produk jadi biasanya langsung dikirim ke konsumen.
Menurut Baroto (2002) fungsi yang ditangani perencanaan dan pengendalian adalah :
1. Mengelola pesanan dari pelanggan (order).
2. Meramalkan permintaan, untuk mengatasi fluktuasi permintaan.
3. Mengelola persediaan.
4. Menyusun rencana agregat (penyesuaian permintaan dengan kapasitas).
5. Membuat Jadwal Induk Produksi (JIP). JIP adalah rencana terperinci mengenai apa dan berapa unit yang harus diproduksi pada satu periode tertentu untuk setiap item produksi.
6. Merencanakan kebutuhan. JIP yang telah berisi apa dan berapa yang harus dibuat selanjutnya diterjemahkan ke dalam kebutuhan komponen, sub assembly, dan bahan penunjang untuk penyelesaian produk.
7. Penjadwalan pada mesin atau fasilitas produksi.
8. Memonitoring dan pelaporan pembebanan kerja dibanding kapasitas produksi. Kemajuan tiap tahap dimonitor dan dibuat laporannya untuk dianalisis.
9. Evaluasi skenario pembebanan dan kapasitas. Bila realisasi tidak sesuai dengan rencana, maka rencana agregat, JIP, dan penjadwalan dapat
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | disesuaikan kebutuhan. Untuk jangka panjang dapat digunakan untuk menambah kapasitas produksi.
Peramalan merupakan titik awal kegiatan pengendalian produksi. Peramalan dilakukan dalam satu jangka waktu perencanaan yang kita sebut sebagai horizon perencanaan. Hal yang penting adalah mengetahui akurasi ramalan penjualan yang akan datang. Tanpa peramalan yang akurat maka tidak mungkin perencanaan kapasitas jangka panjang. Perencanaan kapasitas adalah langkah kedua dalam rantai pengendalian produksi. Pada tahap ini direncanakan jumlah tenaga kerja yang akan direkrut, jumlah jam kerja lembur yang dijadwalkan, dan jumlah persediaan sehingga permintaan konsumen dapat dipenuhi secara efisien. Sistem operasi pengendalian produksi dapat diperjelas dengan Gambar 2 di bawah ini.
Gambar 2. Sistem Operasi Pengendalian Produksi (Bethworth dan Bailey dalam Kusuma, 2004)
Pengendalian persediaan merupakan suatu sistem dan harus dilihat secara menyeluruh. Pada tahap akhir analisis, tugas aktivitas perencanaan dan pengendalian produksi adalah menginterpretasikan tujuan yang saling berlawanan antara bagian produksi, bagian penjualan, dan bagian keuangan; dan menjabarkannya ke dalam rencana produksi dan kebijaksanaan persediaan (Kusuma, 2004).
Peramalan Permintaan
Pemesanan
Produk Konsumen
Receiving dan Shipping
Pemasok Perencanaan
kapasitas jangka panjang
Produksi
Persediaan Perencanaan
kebutuhan jangka pendek
Pengendalian pemantauan penjadwalan
Pengendalian pemantauan penjadwalan produksi
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 2.5 Peramalan (forecasting)
Peramalan adalah kegiatan memperkirakan apa yang terjadi pada waktu yang akan datang sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Peramalan menjadi sangat penting karena penyusunan suatu rencana diantaranya didasarkan pada suatu proyeksi atau ramalan.
Peramalan adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan (Heizer dan Render, 2004). Menurut Kusuma (1999), peramalan adalah tingkat permintaan satu atau lebih produk selama beberapa periode mendatang.
Peramalan produksi penting dan perlu karena beberapa hal, sebagai berikut : 1. Ada ketidakpastian aktivitas produksi di masa yang akan datang 2. Kemampuan & sumber daya perusahaan yang terbatas
3. Untuk dapat melayani konsumen lebih baik, melalui tersedianya hasil produksi yang baik.
Menurut Baroto (2002), karakteristik peramalan permintaan adalah sebagai berikut :
1. Faktor penyebab yang berlaku di masa lalu diasumsikan akan berfungsi juga di masa yang akan datang.
2. Peramalan tidak pernah sempurna, permintaan aktual selalu berbeda dengan permintaan yang diramalkan.
3. Tingkat ketepatan ramalan akan berkurang dalam rentang waktu yang semakin panjang. Implikasinya, peramalan untuk rentang yang pendek akan lebih akurat ketimbang peramalan untuk rentang waktu yang panjang.
Tujuan peramalan dalam manajemen operasional adalah untuk mengurangi ketidakpastian produksi, agar langkah proaktif/antisipatif dapat dilakukan, dan untuk keperluan penjadwalan produksi. Peramalan dapat dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan lingkungan internal perusahaan. Lingkungan eksternal dapat berupa pendapatan konsumen, promosi pesaing, harga pesaing, ketersedian produk, efektifitas kompetitif, efesiensi saluran yang digunakan, karakteristik pelanggan, dan lain sebagainya. Sedangkan lingkungan internal adalah kebijakan-
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | kebijakan yang dilakukan dalam perusahaan, berupa kebijakan promosi, biaya dan saluran perusahaan (Makridakis et al., 1995).
Beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa peramalan permintaan yang dilakukan dapat mencapai taraf ketepatan yang optimal (Baroto, 2002) adalah sebagai berikut :
1. Penentuan tujuan. Tujuan peramalan tergantung pada kebutuhan informasi para manajer. Analisis peramalan membicarakan dengan cara “decision maker” untuk mengetahui apa kebutuhan mereka dan selanjutnya menentukan :
- Variabel apa yang diramalkan,
- Siapa yang menggunakan hasil peramalan, - Untuk tujuan apa hasil peramalan digunakan,
- Peramalan jangka panjang atau jangka pendek yang diperlukan, - Derajat ketepatan peramalan yang diinginkan,
- Kapan peramalan diperlukan,
- Bagian-bagian peramalan yang diinginkan, seperti peramalan untuk kelompok pembeli, kelompok produk, atau daerah geografis.
2. Pengembangan model. Model mempermudah pengolahan dan penyajian data untuk dianalisis, bila dimasukkan data input akan menghasilkan output berupa ramalan di masa yang akan datang. Validitas dan reliabilitas ramalan sangat ditentukan oleh model yang digunakan.
3. Pengujian Model. Pengujian model bertujuan untuk melihat tingkat akurasi, validitasi, dan reliabiltas yang diharapkan. Bila model telah memenuhi tingkat akurasi, validitas, dan reliabilitas yang telah ditetapkan (langkah 1), maka model ini dapat diterima. Perlu dipahami model yang dipilih belum tentu merupakan model yang terbaik.
4. Penerapan model. Penerapan model dengan cara memasukkan data historis (data masa lalu) untuk menghasikan suatu ramalan.
5. Revisi dan evaluasi. Hasil ramalan yang telah dibuat harus senantiasa ditinjau ulang untuk diperbaiki. Perbaikan perlu bila terdapat perubahan berarti pada variabel input-an. Hasil peramalan harus dibandingkan dengan
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | kondisi nyata untuk menentukan apakah model peramalan yang digunakan masih memiliki tingkat akurasi yang ditetapkan. Bila tidak, maka model peramalan harus dikembangkan ulang.
Umumnya jumlah yang diproduksi sangat ditentukan oleh besarnya permintaan akan produk. Berdasarkan jumlah permintaan yang diramalkan operasi, maka sub sistem operasi merencanakan dan merancang sistem, dan menjadwalkan sistem serta mengendalikan sistem tersebut. Dalam merencanakan dan merancang sistem tercakup perancangan produk, perancangan proses, investasi dan penggantian peralatan, serta perencanaan kapasitas. Sedangkan dalam penjadwalan sistem tercakup perencanaan produksi menyeluruh dan penjadwalan operasi. Dalam pengendalian sistem (controlling the system) mencakup pengendalian produksi, pengendalian persediaan, pengendalian tenaga kerja dan pengendalian biaya. Ketiga kegiatan tersebut, yaitu perencanaan sistem, penjadwalan sistem, dan pengendalian sistem menentukan hasil keluaran berupa barang atau jasa. Keterkaitan penggunaan prakiraan atau peramalan permintaan tersebut dengan sub sistem produksi operasi seperti dapat dilihat pada Gambar 3.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Gambar 3. Penggunaan prakiraan untuk peramalan permintaan dalam sub sistem produksi operasi (Assauri, 2004)
Semua metode peramalan memiliki ide sama, yaitu menggunakan data masa lampau untuk memperkirakan atau memproyeksikan data di masa yang akan datang. Berdasarkan tingkatan awal peramalan, metode peramalan dapat dibagi menjadi metode top down, metode bottom-up, dan metode interpretasi permintaan.
Ketiga metode di atas dapat dilakukan dengan metode kualitatif atau kuantitatif, salah satu atau bersama-sama.
Informasi Tentang Permintaan Yang Ada Dan
Produksi
Prakiraan Permintaan Untuk Operasi
Penjadwalan Sistem Perencanaan Produksi Agregat Penjadwalan Operasi
Pengendalian Sistem Pengendalian Produksi Pengendalian Persediaan Pengendalian Tenaga Kerja
Pengendalian Biaya Perencanaan/
Perancangan Sistem Perancangan Produk
Perancangan Proses Investasi dan Penggantian
Peralatan Perencanaan Kapasitas
Keluaran Berupa Barang Atau Jasa
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Prosedur peramalan permintaan menurut Baroto (2002) sebagai berikut :
1. Menentukan pola data permintaan. Hal tersebut, dilakukan dengan cara memplotkan data secara grafis dan menyimpulkan apakah data itu berpola trend, musiman, siklikal, atau eratik/random.
2. Mencoba beberapa metode deret waktu yang sesuai dengan pola permintaan tersebut untuk melakukan peramalan. Metode yang dicoba semakin banyak semakin baik. Pada setiap metode, sebaiknya dilakukan pula peramalan dengan parameter yang berbeda.
3. Mengevaluasi tingkat kesalahan masing-masing metode yang telah dicoba.
Tingkat kesalahan diukur dengan kriteria Mean Absolute Deviation (MAD), Mean Squared Error (MSE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), atau lainnya. Sebaiknya tingkat kesalahan (apakah MAD, MSE, atau MAPE) ini ditentukan dulu. Tidak ada ketentuan mengenai berapa tingkat kesalahan maksimal dalam peramalan.
4. Memilih metode peramalan terbaik diantara metode yang dicoba. Metode terbaik adalah metode yang memberikan tingkat kesalahan terkecil dibanding metode lainnya dan tingkat kesalahan tersebut di bawah batas tingkat kesalahan yang telah ditetapkan.
5. Melakukan peramalan permintaan dengan metode terbaik yang telah dipilih.
2.6 Pola Data Deret Waktu
Metode deret waktu adalah teknik peramalan yang menggunakan sekumpulan data masa lalu untuk melakukan peramalan (Heizer dan Render, 2005). Menurut Baroto (2002) metode deret waktu adalah peramalan secara kuantitatif dengan menggunakan waktu sebagai dasar peramalan. Secara umum peramalan deret waktu pada masa yang akan datang dipengaruhi oleh waku dan data historis. Dalam deret waktu terdapat empat jenis permintaan, yaitu :
1. Pola Trend
Pola trend adalah bila data permintaan menunjukkan pola kecenderungan gerakan penurunan atau kenaikan jangka panjang. Data berfluktuasi
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | apabila dilihat pada rentang waktu yang panjang akan dapat ditarik suatu garis maya. Metode peramalan yang sesuai adalah metode regresi linier, exponential smoothing, dan double exponential smoothing. Metode regresi linier biasanya memberikan tingkat kesalahan yang kecil.
2. Pola Musiman
Bila data yang kelihatannya berfluktuasi, namun fluktuasi tersebut akan terlihat berulang dalam suatu interval waktu tertentu, maka data tersebut berpola musiman. Disebut musiman karena data tersebut dipengaruhi oleh musim, sehingga biasanya interval perulangan data ini adalah satu tahun. Contoh : Permintaan baju hangat tentu dipengaruhi oleh musim (semi, panas, gugur, dingin). Metode peramalan yang sesuai dengan pola musiman adalah metode winter (sangat sesuai), moving average, dan weight moving average.
3. Pola Siklikal
Pola siklikal adalah bila fluktuasi permintaan dalam jangka panjang membentuk pola sinusoid atau gelombang atau siklus. Pola siklikal mirip dengan musiman. Pola musiman tidak harus berbentuk gelombang, bentuknya dapat bervariasi, namun bentuknya akan berulang setiap tahun (umumnya). Pola siklikal bentuknya selalu mirip gelombang sinusoid.
Metode yang sesuai bila data berpola siklikal adalah metode moving average, weight moving average, dan exponential smoothing.
4. Pola Eratik/Random
Pola eratik adalah bila fluktuasi data permintaan dalam jangka panjang tidak dapat digambarkan oleh ketiga pola lainnya. Fluktuasi permintaan bersifat acak atau tidak jelas. Tidak ada metode peramalan yang direkomendasikan untuk pola ini. Hanya saja tingkat kemampuan seorang analis peramalan sangat menentukan dalam pengambilan kesimpulan mengenai pola data. Keterampilan dan imajinasi analisis peramalan memang merupakan faktor yang paling menentukan dalam pelaksanaan peramalan.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 2.7 Metode Peramalan
Menurut Makridakis et al., (1995), pendekatan dalam peramalan dapat dilakukan dengan dua analisis, yaitu :
1. Peramalan Kuantitatif
Menggunakan model matematik yang beragam dengan data masa lalu dan variabel sebab akibat untuk meramalkan permintaan.
Menurut Makridakis et al., (1995), peramalan kuantitatif dapat diterapkan bila terdapat tiga kondisi berikut :
a. Tersedia informasi masa lalu.
b. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numerik.
c. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus berlanjut di masa yang akan datang.
2. Peramalan Kualitatif
Peramalan yang menggabungkan suatu intuisi, emosi, pengalaman pribadi, dan sistem nilai pengambil keputusan untuk meramal. Biasanya metode ini digunakan bila tidak ada atau sedikit data masa lalu yang tersedia. Metode kualitatif yang banyak dikenal adalah metode Delpi dan metode nominal (nominal group technique).
2.8 Metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA)
Metode Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) merupakan salah satu model peramalan yang menggunakan data masa lalu untuk diproyeksikan ke masa depan. Penerapan suatu model ARIMA menurut Makridakis et al., (1995) membutuhkan dua kegiatan utama, yaitu (1) analisis terhadap deret masa lalu dan berdasarkan hasilnya dilakukan (2) pemilihan model atau teknik peramalan masa datang. Model ARIMA yang tepat, dapat diperoleh dengan melakukan identifikasi terhadap stasioneritas dan non stasioneritas deret data. Pembedaan (differencing) dilakukan apabila deret data tidak menunjukkan stasioneritas. Penerapan suatu model ini terdapat tiga proses yang digabungkan atau harus dilakukan sekaligus, yaitu proses pembangkitan autoregresif, proses pembedaan, dan proses rata-rata bergerak.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Tahapan pendekatan metode ARIMA menurut Makridakis et al., (1995), yaitu :
1. Pengidentifikasian model, kombinasi (p, d, q) harus diidentifikasi secara teliti sampai diperoleh kesesuaian yang memadai terhadap deret berkala. Hal ini dilakukan dengan menyesuaikan autokorelasi teoritis untuk berbagai model autoregressive dan moving average (p, d, q).
2. Pendugaan parameter model untuk kombinasi yang diidentifikasi dalam tahap pertama, metode kuadrat terkecil digunakan untuk menyesuaikan model sementara yang dicoba terhadap deret berkala yang mendasari.
Dengan demikian diperoleh koefisien untuk autoregressive dan rata-rata bergerak.
3. Pemeriksaan diagnostik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa kecukupan penyesuaian model yang diduga dengan menganalisa nilai-nilai sisa yang dihasilkan. Apabila nilai-nilai tersebut memperlihatkan keadaan acak sepanjang waktu, maka model yang disesuaikan dianggap memberikan yang memadai terhadap deret berkala yang mendasarinya. Jika pada tahap penyesuaian dianggap kurang memadai, maka kembali ke tahap pertama dengan mencoba suatu model baru.
4. Prakiraan dengan model yang dipilih. Model prakiraan yang diterima digunakan untuk menghasilkan prakiraan nilai mendatang.
Menurut Makridakis et al., (1995), suatu pengujian terhadap koefisien autokorelasi dan koefisien autokorelasi parsial dari model ARIMA yang stasioner mengungkapkan beberapa sifat sebagai berikut:
1. AR (1) ditunjukkan oleh autokorelasi yang menurun secara eksponensial dan satu autokorelasi yang berbeda nyata.
2. MA (1) ditunjukkan oleh autokorelasi parsial yang menurun secara eksponensial dan satu autokorelasi yang berbeda nyata.
3. AR (2) ditunjukkan oleh autokorelasi yang seperti gelombang sinus terendam dan dua autokorelasi yang berbeda nyata.
4. MA (2) ditunjukkan oleh autokorelasi parsial yang seperti gelombang sinus terendam dan dua autokorelasi yang berbeda nyata.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 5. ARMA (1, 1) ditunjukkan oleh autokorelasi dan autokorelasi parsial yang
mendekati nol secara eksponensial.
Tahapan pendekatan dengan metode ARIMA dapat dilihat pada Gambar 4.
Ya
Gambar 4. Tahapan pendekatan dalam menentukan model ARIMA
2.9 Produksi Aggregate Planning
Perencanaan Agregat (aggregate planning) juga dikenal sebagai Penjadwalan Agregat adalah Suatu pendekatan yang biasanya dilakukan oleh para manajer operasi untuk menentukan kuantitas dan waktu produksi pada jangka menengah (biasanya antara 3 hingga 18 bulan ke depan). Perencanaan agregat dapat digunakan dalam menentukan jalan terbaik untuk memenuhi permintaan yang diprediksi dengan menyesuaikan nilai produksi, tingkat tenaga kerja, tingkat persediaan, pekerjaan lembur, tingkat subkontrak, dan variabel lain yang dapat dikendalikan.
Merumuskan Kelompok Model Umum
Penetapan Model Sementara
Penaksiran Parameter pada Model
Apakah Model Memadai ?
Peramalan dengan model Terpilih
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Menurut Baroto (2002), perencanaan agregat merupakan perencanaan produksi jangka menengah. Horizon perencanaannya biasanya berkisar antara 1 sampai 24 bulan. Horizon waktu ini tergantung pada karakteristik produk dan jangka waktu produksi. Pada dasarnya perencanaan produksi agregat merupakan suatu proses penetapan tingkat output/kapasitas produksi secara keseluruhan guna memenuhi tingkat permintaan yang diperoleh dari peramalan dan pesanan dengan tujuan meminimalkan total biaya produksi.
Menurut Kusuma (2004), perencanaan agregat bertujuan untuk merencanakan jadwal induk produksi untuk beberapa periode mendatang, merencanakan kondisi optimal ketersediaan sumber daya terhadap ekspektasi permintaan produk serta pengembangan strategi penggunaan sumber daya itu.
Tujuan perencanaan agregat ialah menggunakan sumber daya manusia dan peralatan secara produktif. Kata agregat menunjukan bahwa perencanaan dilakukan di tingkat kasar dan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan total seluruh produk dengan menggunakan seluruh sumber daya manusia dan peralatan yang ada pada fasilitas produksi tersebut. Namun menurut Kusuma (2004), perlu diperhatikan bahwa satuan agregat hanya digunakan pada beberapa produk yang menggunakan fasilitas produksi yang sama. Jika terdapat dua produk yang menggunakan dua fasilitas produksi yang berlainan. Hal itu berarti bahwa kedua produk itu tidak perlu dikonversikan ke dalam satuan agregat.
Beberapa fungsi perencanaan agregat yaitu :
1. Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadap rencana strategi perusahaan.
2. Alat ukur performansi proses perencanaan produksi.
3. Menjamin kemampuan produksi terhadap rencana produksi.
4. Memonitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi dan membuat penyesuaian.
5. Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target dan membuat penyesuaian.
6. Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan jadwal induk produksi.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Pada dasarnya tujuan dari perencanaan agregat adalah berusaha untuk memperoleh suatu pemecahan yang optimal dalam biaya atau keuntungan pada periode perencanaan. Namun bagaimanapun juga, terdapat permasalahan strategis lain yang mungkin lebih penting daripada biaya rendah. Permasalahan strategis yang dimaksud itu antara lain mengurangi permasalahan tingkat ketenagakerjaan, menekan tingkat persediaan, atau memenuhi tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Bagi perusahaan manufaktur, jadwal agregat bertujuan menghubungkan sasaran strategis perusahaan dengan rencana produksi, tetapi untuk perusahaan jasa, penjadwalan agregat bertujuan menghubungkan sasaran dengan jadwal pekerja.
Terdapat 4 poin alasan pentingnya dilakukan perencanaan agregat, yakni :
1. Untuk memaksimalkan penggunaan fasilitas dan meminimalkan resiko kelebihan penggunaan atas fasilitas dan fasilitas yang menganggur.
2. Memastikan ketersediaan kapasitas yang cukup untuk memuaskan permintaan yang diharapkan.
3. Merencanakan perubahan pada kapasitas produksi yang sistematik untuk mencapai puncak dan lembah pada kurva permintaan pelanggan.
4. Memperoleh keluaran yang paling optimum dari sumber daya yang tersedia
2.10 Strategi Perencanaan Agregat
Strategi perencanaan agregat dapat dilakukan melalui analisis sensitivitas terhadap pilihan kapasitas, pilihan permintaan dan pilihan campuran dari keduanya. Strategi dapat berjalan dan berfungsi apabila memiliki tahapan umum untuk membuat suatu perencanaan produksi agregat sebagai berikut:
1. Menentukan permintaan untuk setiap periode perencanaan.
2. Menentukan kapasitas pada setiap periode.
3. Menelusuri kebijakan departemen yang berhubungan.
4. Menentukan biaya per unit untuk setiap kerja, lembur, sub kontrak, persediaan dan biaya lain yang relevan.
5. Mengembangkan alternatif perencanaan dan menghitung biayanya.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | 6. Jika perencanaan yang memuaskan telah tersusun, maka diseleksi yang
paling tepat sesuai tujuannya, jika tidak terbentuk maka kembali kepada tahap 5.
Ruang lingkup perencanaan agregat dapat dilihat pada Gambar 5. Langkah ini untuk perusahaan yang make to stock. Bila perusahaan make to order, maka peramalan tidak perlu dilakukan (cukup dengan daftar order pelanggan saja).
Gambar 5. Ruang lingkup perencanaan agregat (Baroto, 2002).
Fase 1 Peramalan Permintaan
Fase 2 Pemerataan penggunaan kapasitas
Fase 3 Menentukan alternatif produksi
yang layak
Fase 4 Mengalokasikan permintaan ke periode
produksi
Produk lengkap Moving
Average
Biaya langsung TK tetap
Lembur Undertime
Exponential smoothing
Penentuan harga
Winter’s Promosi
dan lain-lain
Memfleksibel kan waktu penyerahan
Sub kontrak Pelepasan Perekrutan
Pesanan Back Order Persediaan
Heuristik, dll
Teori Analisis keputusan Biaya tak langsung
Program Linear,
NCR, Vogel’s Approximati
on Method, dll Trial &Error
Lainnya
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Persyaratan dalam perencanaan produksi adalah menentukan prakiraan.
Peramalan diprediksi berdasarkan tingkat permintaan secara keseluruhan.
Menurut Baroto (2002), strategi pilihan perencanan agregat dapat dilakukan dengan rincian pilihan keputusan sebagai berikut :
1. Pilihan Kapasitas Dasar Produksi
- Mengubah tingkat persediaan, manajer dapat meningkatkan persediaan selama periode permintaan rendah untuk memenuhi permintaan yang tinggi di masa depan dengan tidak mengesampingkan biaya-biaya akibat peningkatan persediaan tersebut.
- Menyeragamkan jumlah tenaga kerja dengan cara pengangkatan atau memberhentikan karyawan. Disesuaikan dengan tingkat produksi dan akibatnya.
- Menyeragamkan tingkat produksi melalui lembur atau waktu kosong, dengan tujuan menjaga agar tenaga kerja tetap konstan.
- Sub kontrak, sebuah perusahaan dapat memperoleh kapasitas sementara dengan melakukan sub kontrak selama periode permintaan tinggi.
- Penggunaan karyawan paruh waktu, untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja yang tidak terampil.
2. Pilihan Permintaan
- Mempengaruhi permintaan. Ketika permintaan rendah, perusahaan dapat meningkatkan permintaan melalui iklan, promosi, kewiraniagaan dan diskon.
- Tunggakan pesanan selama periode permintaan tinggi. Strategi hanya dilakukan jika perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan. Oleh karena itu, perusahaan harus memperhatikan loyalitas pelanggan karena dapat menyebabkan kehilangan penjualan.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | - Perpaduan produk dan jasa yang counter seasonal, (Perusahaan
dapat memproduksi produk yang berbeda pada musim yang berbeda).
3. Pilihan Campuran
- Strategi perburuan, yaitu mengatur tingkat produksi sesuai dengan permintaan yang diprediksi melalui variasi pilihan-pilihan di atas.
- Strategi bertingkat, yaitu menjaga tingkat output, nilai produksi, atau jumlah tenaga kerja yang tetap sepanjang horizon perencanaan.
2.11 Metode Perencanaan Produksi Agregat
Menurut Kusuma (2004), metode perencanaan produksi agregat adalah sebagai berikut.
1. Metode Koefisien Bowman
Suatu pendekatan untuk memodelkan keputusan manajemen dengan analisis regresi keputusan manajemen masa lalu.
Wt = f (F, I*, It-1, Wt-1)
Pt = f (Wt, I*, It-1, Ft, Ft+1, Ft+2,..,Ft+n) dimana :
Wt = Jumlah tenaga kerja di periode t.
Ft = Ramalan permintaan di periode t.
I* = Tingkat persediaan yang diinginkan.
It-1 = Persediaan aktual pada akhir periode t-1.
Pt = Tingkat produksi di periode ke-t.
2. Model Pemrograman Linier
Metode yang mengelola sumber daya yang terbatas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Maksimumkan (minimumkan) Z = C1X1 + C2X2 + …+ CiXj.
Dengan syarat : aijxj (≤, =, ≥) bi, untuk semua i (i =1,2...m) semua xj ≥ 0 Keterangan :
xj : Banyaknya kegiatan j, dimana j = 1.2,….n. Berarti di sini terdapat n
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | variabel keputusan.
Z : Nilai fungsi tujuan
cj : Sumbangan per unit kegiatan, untuk masalah maksimisasi cj
menunjukkan keuntungan atau penerimaan per unit, sementara dalam kasus minimisasi ia menunjukkan biaya per unit.
bi : Jumlah sumber daya i (i = 1,2,3,..,m), berarti terdapat n jenis sumber daya.
aij : Banyaknya sumberdaya i yang dikonsumsi sumber daya j. Ingat bahwa tanda pertidaksamaan tidak harus sama untuk setiap kendala.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari–April 2016. Berlokasikan di Jalan Veteran Lingkungan IV Kelurahan Girian Bawah Kecamatan Girian-Bitung, Sulawesi Utara. Merupakan industri pengolahan hasil perikanan yakni Pengalengan Ikan Tuna.
3.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data
Metodologi penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam menyusun penelitian ini, penulis melakukan penelitian dengan cara sebagai berikut:
1. Studi Lapangan (Data Primer)
Penelitian yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung obyek yang akan diteliti, untuk memperoleh data-data yang penulis perlukan dalam penyusunan penelitian.
2. Studi Pustaka (Data Sekunder)
Penelitian yang dilakukan dengan membaca literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah-masalah yang ada relevansinya dengan permasalahan yang akan dibahas.
Data yang dibutuhkan berupa gambaran umum perusahaan, proses produksi dan sistem perencanaan produksi yang dijalankan perusahaan, volume penjualan satu tahun yang lalu, jumlah jam kerja reguler yang tersedia, jumlah persediaan produk jadi, kapasitas gudang, kapasitas mesin, jumlah sub kontrak, dan biaya- biaya lain yang terkait dengan variabel keputusan. Dengan mengetahui hal tersebut, maka dapat diketahui parameter-parameter apa saja yang dibutuhkan dalam penyusunan sistem perencanaan produksi agregat. Secara rinci, data yang dibutuhkan pada penelitian disajikan pada Tabel 1.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Tabel 1. Jenis kebutuhan data, metode pengumpulan dan analisis data
No. Tujuan Penelitian Jenis Data Data yang
dibutuhkann Metode Analisis Data
1.
Memperoleh rancangan metode Aggregate Planning untuk
mengetahui perencanaan dan pengendalian produksi.
a. Primer b. Sekunder
Prosedur kegiatan produksi bahan baku sampai produk jadi
a. Studi Lapangan
b. Studi Literatur Analisis Deskriptif
2.
Mendapatkan forecasting/ramalan
persediaan bahan baku pada PT Delta Pasific Indotuna
a. Primer b. Sekunder
Data kebutuhan Bahan baku ikan
a. Studi lapangan Analisis kuantitatif
3.
Mempelajari parameter yang dibutuhkan dalam formulasi sistem perencanaan produksi di PT Delta Pasific Indotuna
a. Primer b. Sekunder
Penyusunan perencanaan produksi di PT Delta Pasific Indotuna
a. Studi lapangan
Analisis Kualitatif
3.3 Kerangka Pemikiran Konseptual
Persaingan dalam industri yang semakin ketat mengharuskan setiap perusahaan melakukan strategi terhadap aktivitas usahanya sehingga dapat berproduksi secara efisien dan efektif. Salah satu faktor yang berperan dalam produksi yang efektif dan efisien adalah perencanaan produksi. Perencanaan produksi yang disusun harus sesuai dengan kapasitas yang dimiliki perusahaan seperti bahan baku, peralatan, tenaga kerja, dan bahan pembantu. Sumber daya dan fasilitas produksi merupakan sesuatu yang sifatnya terbatas, sehingga perlu digunakan secara efektif dan efisien melalui perencanaan produksi agregat.
Perencanaan produksi agregat bersifat menyeluruh dan dasar untuk membuat perencanaan yang terperinci dengan memperhatikan sumber daya yang dimiliki.
Salah satu kekuatan ekonomi ditentukan oleh kekuatan sektor industri, diantaranya industri perikanan. Kekuatan sektor industry perikanan tidak hanya
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | menjadi modal dalam posisi tawar di tataran lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat regional dan global. PT Delta Pasific Indotuna merupakan industri perikanan yang memasarkan produk ke luar negeri. Di tengah krisis global dan banyaknya industri perikanan, PT Delta Pasific Indotuna melakukan berbagai strategi untuk dapat bertahan dalam kondisi pasar sekarang. Salah satu usaha yang sesuai dengan kondisi perusahaan adalah melakukan perencanaan produksi agregat sehingga sumber daya dapat dialokasikan secara optimal.
Perencanaan produksi agregat yang disusun harus dapat mengelola faktor internal perusahaan seperti kapasitas dan sumber daya perusahaan lainnya, dan faktor eksternal perusahaan berupa permintaan pelanggan. Dengan demikian, tujuan perencanaan agregat tercapai yaitu optimalisasi pemanfaatan kapasitas atau sumber daya perusahaan, minimalisasi biaya produksi (efisiensi), kapan berproduksi, dan tercapainya pemenuhan kebutuhan pelanggan sehingga konsumen puas atas pelayanan perusahaan. Tercapainya tujuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan keuntungan dan daya saing perusahaan sehingga perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dibanding dengan pelaku bisnis lainnya.
Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan | Kerangka pemikiran konseptual penelitian dijelaskan dalam Gambar 6 di bawah ini.
Gambar 6. Kerangka pemikiran konseptual Proses produksi dan Sistem
Perencanaan Produksi PT Delta Pasific Indotuna
Persaingan dalam industri
Identifikasi Parameter-Parameter dalam Sistem Perencanaan Produksi
Perencanaan Produksi Agregat
Optimalisasi Pemanfatan Sumber daya
Minimalisasi Biaya Produksi
Tercapainya pemenuhan Permintaan Pelanggan
Peningkatan Keuntungan dan Daya Saing Perusahaan
Perusahaan tumbuh, mapan, dan memiliki keunggulan yang kompetitif