Jurnal Widiya Praja, Vol. 1 No. 2 (2021)
p-ISSN: 2356-0045 | e-ISSN: 2808-781x
PENYEDERHANAAN STRUKTUR ORGANISASI PERANGKAT DAERAH UNTUK MEWUJUDKAN BIROKRASI PROFESIONAL
STUDI KASUS PERAMPINGAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN WONOSOBO
Maria Susiawati
Widyaiswara BPSDMD Provinsi Jawa Tengah Email: [email protected]
Abstrak
Dinamika perubahan lingkungan strategis perlu direspon dalam pengembangan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menyelaraskan kinerja OPD dengan tuntutan perubahan lingkungan strategis.
Hingga saat ini birokrasi pemerintah kabupaten/kota masih menghadapi berbagai permasalahan in- efisiensi dan in-efektifitas yang antara lain ditunjukkan oleh masih gemuknya struktur OPD. Beberapa alternatif perampingan dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah unit jabatan struktural antara lain dengan mewujudkan struktur OPD yang flat (datar/pipih) yang tersusun dalam dua layers dengan mengoptimalkan Jabatan Fungsional dalam komposisi dan jumlah pegawai di setiap OPD.
Pengalaman Kabupaten Wonosobo melakukan perampingan struktur OPD dengan menghapus sebanyak 323 unit jabatan struktural atau 41,46% dari jumlah semula dapat menjadi konfirmasi dan referensi mengenai manfaat, masalah, prospek, dan langkah-langkah urgent yang perlu dilakukan dalam mewujudkan birokrasi yang professional melalui pembentukan struktur organisasi dua layers.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perampingan struktur OPD yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelaahan dokumen diperoleh kesimpulan bahwa mewujudkan organisasi yang ramping dengan struktur yang flat dengan dua layers merupakan kebutuhan untuk merespon perkembangan lingkungan strategis yang sangat dinamis dalam mewujudkan birokrasi yang professional.
Kata kunci : perubahan lingkungan strategis, struktur organisasi dua layers, birokrasi professional.
PENDAHULUAN
Pembangunan SDM ASN saat ini sedang berada pada titik waktu yang strategis. Dinamika perkembangan isu lingkungan strategis seperti era perdagangan bebas yang menuntut daya saing tinggi hingga trend industri 4.0, menjadi tantangan yang semakin nyata. Pembangunan SDM ASN juga memasuki titik waktu yang kritis, yaitu memasuki periodisasi pembangunan nasional lima tahun ke depan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yang merupakan periode akhir dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 yang mengamanatkan terwujudnya birokrasi professional. Juga memasuki periode ke-empat pelaksanaan Reformasi Birokrasi tahun 2020- 2024 yang merupakan periode akhir pelaksanaan kebijakan Grand Design Reformasi Birokrasi (2010-2025) yang bertujuan mewujudkan birokrasi kelas dunia pada tahun 2025.
Birokrasi kelas dunia yang ingin diwujudkan ditandai dengan pemerintahan yang profesional dan berintegritas tinggi yang mampu menyelenggarakan pelayanan prima kepada masyarakat dan manajemen pemerintahan yang demokratis agar mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Tantangan akan dapat diatasi dengan tata pemerintahan yang baik, yang didukung oleh SMART ASN, yaitu ASN yang memiliki kualitas integritas, nasionalisme, wawasan global, IT dan Bahasa asing, hospitality (pelayanan), networking (jaringan), dan entrepreneurship (kewirausahaan).
Arahan Presiden Joko Widodo mengenai penyederhanaan birokrasi dengan membentuk struktur organisasi dua layers yang kemudian dituangkan dalam RPJMN Tahun 2020-2024 sejalan dengan cita-cita mewujudkan birokrasi kelas dunia. Dalam pidato politik pada 14 Juli 2019, Presiden Joko Widodo menyampaikan pandangan perlunya reformasi struktural untuk mewujudkan lembaga yang semakin sederhana,
semakin simpel, lincah, yang menjamin kecepatan melayani, kecepatan dalam pemberian perizinan, efisien, dengan didukung mindset aparatur yang berubah. Arahan tersebut dipertegas dalam pidato pelantikan presiden dan wakil presiden tanggal 20 Oktober 2019 yaitu harapan dan arahan presiden mengenai reformasi birokrasi untuk mewujudkan birokrasi yang efektif dan cepat dalam pelayanan publik, dan secara spesifik presiden melemparkan gagasan struktur organisasi dua layers sebagai struktur organisasi pemerintah yang ideal untuk mewujudkan hal tersebut.
Arahan presiden mengenai struktur organisasi dua layers tersebut dipersepsikan sebagai pemangkasan organisasi untuk tujuan efisiensi dengan mengorbankan jabatan/kedudukan struktural para pegawai (PNS) sehingga menuai sikap skeptik dari beberapa pihak, dianggap sebagai gagasan yang ekstrim dan berpotensi menuai resistensi dalam pelaksanaannya. Kebijakan ini sempat diklarifikasi atau dipersepsikan oleh beberapa pihak yang mengarah pada pembatasan atau reduksi terhadap substansi dan realisasi arahan presiden tersebut.
Pengalaman Kabupaten Wonosobo merampingkan struktur OPD mengonfirmasi kebijakan penerapan struktur organisasi dua layers merupakan kebutuhan mewujudkan birokrasi profesional yang didukung optimalisasi jabatan fungsional. Bagaimana urgensi penerapan penyederhanaan birokrasi dilihat dari pengalaman perampingan OPD di Kabupaten Wonosobo Tahun 2014 dan 2016?
Struktur Organisasi Dua Layers dan Birokrasi Profesional
Badan Kepegawaian Nasional (2010), mengelaborasi beberapa definisi organisasi dan menyimpulkan bahwa “organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama”, atau “organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk mencapai tujuan tertentu”. Lebih lanjut diuraikan bahwa ciri-ciri organisasi adalah (a) Adanya komponen atasan dan bawahan;
(b.)Adanya kerjasama yang berstruktur dari sekelompok orang; (c)Adanya tujuan;
(d)Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati; (e)Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas.
Selanjutnya, Henry Mintzberg (1993) mengelompokkan fungsi-fungsi yang diperlukan dalam organisasi ke dalam 5 (lima) unsur yang pada umumnya ada pada struktur organisasi publik, yaitu :(a)The Strategic Apex, fungsi ini menjadi tanggungjawab pimpinan organisasi dalam rangka menjamin tercapainya keseluruhan kegiatan organisasi sesuai dengan visi misi organisasi. (b)TheMidle Line, berfungsi menjembatani antara the strategic apex dengan operating core yang diisi oleh seperangkat pejabat struktural menengah (dari pejabat struktural senior hingga pejabat struktural paling rendah). (c) Operating Core merupakan fungsi pelaksanaan tugas pokok organisasi yang berkaitan dengan pelayanan langsung dengan masyarakat. Dalam struktur pemerintah daerah, fungsi ini dilaksanakan oleh dinas.(d) The Technostructure, berfungsi merumuskan kebijakan-kebijakan pimpinan dengan mengkaji dan menyarankan berbagai pedoman-pedoman atau standarisasi-standarisasi tertentu. (e)The Support Staf, berfungsi mendukung tugas-tugas organisasi yang berada di luar pelaksanaan aliran kerja organisasi.
Pengelompokkan fungsi tersebut digambarkan dalam susunan/bagan organisasi sebagai berikut :
STRATEGIC APEX
Middle.
line
oc oc oc oc oc
ss ss ss TS
TS
SUSUNAN ORGANISASI
Sumber: Mintzberg, 1993
Keberadaan struktur yang efisien tetap menjadi kebutuhan utama setiap organisasi pemerintah. Untuk itulah pemahaman terhadap konsep Mintzberg menjadi dasar bagi upaya melakukan restrukturisasi tersebut.
Menelusuri terminologi birokrasi:
birokrasi pemerintah sering kali diartikan sebagai “officialdom” atau kerajaan pejabat.
Suatu kerajaan yang raja-rajanya adalah para pejabat dari suatu bentuk organisasi yang digolongkan modern. Didalamnya terdapat tanda-tanda bahwa seseorang mempunyai yurisdiksi yang jelas dan pasti, mereka berada dalam area ofisial yang yurisdiktif. Di dalam yurisdiksi tersebut seseorang mempunyai tugas dan tanggung jawab resmi (official duties) yang memperjelas batas-batas kewenangan pekerjaannya. Dalam melaksanakan pekerjaannya para pejabat tersebut selalu terkonsep pada sebuah dokumen tertulis “The Files”, dan mereka semua bekerja dalam tatanan pola hierarki sebagai perwujudan dari tingkatan otoritas dan kekuasaannya.
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia birokrasi diartikan kantor dan istilah birokrasi mempunyai beberapa arti :
(1) Pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat; (2) Cara pemerintahan yang sangat dikuasai oleh pegawai negeri; (3) Cara kerja atau susunan pekerjaan yang serba lambat, serba menurut aturan, kebiasaan, dan banyak liku-likunya.
Definisi dalam kamus bahasa Indonesia ini nampaknya tidak hanya berusaha memberikan makna birokrasi tetapi juga istilah turunan yang mengacu pada sifat atau kebiasaan birokrasi.
Birokrasi pemerintah secara umum berkiblat pada birokrasi Weber. Birokrasi yang dikembangkan oleh Max Weber dari masa ke masa semakin mendapatkan tantangan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perkembangan tuntutan dalam penyelenggaraan administrasi publik (pelayanan publik).
Birokrasi ala Weber, yang dikenal dengan sebutan birokrasi feodal atau tradisional, yaitu birokrasi yang lebih cenderung menerapkan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, dianggap kurang responsif dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Birokrasi Weber dalam perkembangan selanjutnya menjadi lahan subur untuk tumbuhnya paradigma kekuasaan versus pelayanan. Keadaan ini tentunya sangat tidak kondusif bagi berlangsungnya fungsi pelayanan publik. Maka pada dekade terakhir, perkembangan paradigma pemerintahan di banyak negara, mulai meninggalkan konsep pemerintahan/birokrasi yang dikembangkan Max Weber.
Menurut Wicaksono (2010), perubahan paradigma birokrasi, dari paradigma “mengatur”
menjadi paradigma “melayani” dalam
penyelenggaraan pelayanan publik, memerlukan adanya suatu upaya rekonstruksi kultur dan manajemen birokrasi. Kultur dan manajemen dalam birokrasi harus mengarah pada pencapaian sosok birokrasi yang profesional, efisien, efektif, dan responsif dalam penyelenggraan pelayanan publik.
Menurut Henry Mintzberg (1993), birokrasi profesional adalah birokrasi yang mampu mengerjakan tugas yang terspesialisasi, yang membutuhkan ketrampilan profesional yang terlatih. Oleh karenanya struktur birokrasi profesional anggotanya banyak spesialis yang terlatih pada unsur operating core. Jadi kekuatan birokrasi professional terletak pada operating core yang terdiri dari spesialis yang profesional, dan staf pendukung yang melayani operating core adalah juga spesialis yang berpengalaman di bidangnya.
METODE PENELITIAN
Model penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study). Dengan metode ini penelitian yang dilakukan bisa mendapat hasil yang intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit.
Penelitian dilakukan untuk menghasilkan gambaran kondisi penyederhanaan birokrasi dua layers di Kabupaten Wonosobo di Tahun 2014 dan 2016. Data-data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan adalah data-data mengenai gejala-gejala permasalahan yang timbul selama proses tersebut, manfaat penyederhanaan birokrasi, serta cara-cara yang bisa dilakukan untuk menangani permasalahan selama proses penyederhanaan berlangsung.
Data primer dikumpulkan berdasarkan hasil observasi partisipatif langsung, di mana peneliti langsung terlibat dalam proses penyederhanaan birokrasi di Kabupaten Wonosobo yang dilakukan pada tahun 2014 dan 2016. Selain itu, ada juga data yang didapat dari dokumen-dokumen pendukung seperti:
(1)Dokumen Naskah Akademik dan Perda Nomor 3 Tahun Tahun 2014 tentang Organisasi Perangkat Daerah, (2) Dokumen Naskah Akademik dan Perda Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Wonosobo, (3)Dokumen notulensi rapat evaluasi dan restrukturisasi organisasi, (4)PP Nomor 18 Tahun 2016 tentang
Perangkat Daerah, (5)Laporan Simpeg BKD Kabupaten Wonosobo, 1 Oktober Tahun 2021
Data-data yang terkumpul kemudian dianallisis. Teknik analisis data digunakan untuk menggambarkan seluruh fakta yang diperoleh dari lapangan. Proses analisis data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, kemudian data disusun dalam satuan-satuan untuk dikategorikasikan, diperiksa keabsahannya serta ditafsirkan. Penafsiran juga melihat kondisi fakta-fakta terkait penyederhanaan birokrasi pemerintah di era saat ini, untuk dapat ditarik kesimpulan mengetahui urgensinya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam kerangka reformasi birokrasi, Pemerintah Kabupaten Wonosobo menetapkan kebijakan perampingan OPD yang bertujuan untuk mewujudkan OPD yang efektif. Proses perumusannya didasarkan pada hasil analisis keorganisasian secara komprehensif: analisis jabatan dan analisis beban kerja, telaah peraturan perundang-undangan, diskusi-diskusi pemetaan fungsi masing-masing OPD (Urusan), kebijakan strategis bupati, pemetaan dan pembagian fungsi OPD ke dalam satuan organisasi dengan fungsi dan beban kerja yang optimal (padat), serta mengidentifikasi dan memadukan jabatan-jabatan dalam setiap unit kerja/OPD.
Perbandingan jumlah unit jabatan struktural (eselon) Perangkat Daerah Kabupaten Wonosobo sebelum perampingan dan sesudahnya adalah sebagai berikut :
Perbedaan dapat diidentifikasi sebagai berikut :
Dari table tersebut dapat dilihat bahwa penataan struktur OPD Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengalami perubahan/restrukturisasi 3 (tiga) kali dalam kurun waktu 2008, 2014, dan
2016. Restrukturisasi tahun 2014 yang ditetapkan dengan Perda Kabupaten Wonosobo Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Organisasi Perangkat Daerah merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk mewujudkan birokrasi yang efektif dengan melakukan perampingan jumlah unit jabatan struktural. Sedangkan restrukturisasi tahun 2016 berdasarkan Perda Kabupaten Wonosobo Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Wonosobo yang dilakukan berdasarkan instruksi PP Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah.
Restrukturisasi tahun 2014 merupakan perampingan yang dilakukan sebelum PP Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah ditetapkan. Perampingan struktur tersebut dilakukan dengan mengurangi 323 unit jabatan struktural di semua tingkat eselon, yaitu dari yang semula 779 menjadi 451 unit atau sebesar 41,46%. Postur OPD menjadi lebih ramping, yang ditandai dengan berkurangnya dinas dan badan serta unit kerja struktural di semua layers, sebagai berikut :
1) Sekretariat Daerah
Sekretariat Daerah yang semula terdiri dari 3 asisten sekda, 5 staf ahli, 9 bagian yang didukung masing-masing 3 sub bagian, sehingga total jumlah sub bagian sebanyak 27 sub bagian.
Perubahan struktur Setda menjadi terdiri dari 3 asisten sekda, 3 staf ahli, 10 bagian dan 31 sub bagian. Penambahan bagian yaitu Bagian Organisasi dan Kepegawaian yang merupakan merger dari Bagian Organisasi dan Badan kepegawaian Daerah (BKD), dan Bagian Keuangan yang merupakan pengalihan dari Badan Pengelolaan Keuangan Daerah yang didukung dengan 4 sub bagian. Dan adanya pengurangan bagian yaitu Bagian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang yang dialihkan dan digabungkan dengan Dinas Keluarga Berencana.
2) Sekretariat DRPD
Sekretariat DPRD dari yang semula terdiri dari 3 bagian dan 7 sub bagian dirampingkan menjadi 2 bagian dan 4 sub bagian.
3) Dinas
Dinas yang semula berjumlah 14 menjadi berjumlah 7 dinas. Ketujuh dinas yang masih eksis adalah Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga; Dinas Kesehatan; Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga; Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Kebersihan; Dinas Pertanian dan Perikanan; Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan, dan dengan penambahan adanya Dinas Pendapatan. Restrukturisasi OPD dinas diikuti dengan mengurangi sejumlah unit jabatan struktural, yaitu unit jabatan eselon II.B dari semula berjumlah 14 menjadi 7, unit jabatan eselon III.A dari semula 14 menjadi 7, unit jabatan eselon III.B semula berjumlah 46 menjadi 21, serta berkurangnya unit jabatan eselon IV.A yang semula berjumlah 166 menjadi 51.
4) Badan
Badan dengan setara eselon II.B yang semula berjumlah 5 menjadi 3 badan. Badan yang masih eksis adalah Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda); Badan Kependudukan, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu. Restrukturisasi OPD badan diikuti dengan mengurangi sejumlah unit jabatan struktural, yaitu unit jabatan eselon II.B dari semula berjumlah 5 menjadi 3, unit jabatan eselon III.A dari semula 5 menjadi 3, unit jabatan eselon III.B semula berjumlah 16 menjadi 8, serta berkurangnya unit jabatan eselon IV.A yang semula berjumlah 47 menjadi 14.
5) Inspektorat
Restrukturisasi organisasi inspektorat dengan menghilangkan unit jabatan eselon IV (sub bidang dan sub bagian).
6) Kantor
Pada restrukturisasi OPD Pemerintah Kabupaten Wonosobo tahun 2014, bentuk kantor digunakan untuk mewadahi “dinas kecil”.
Dari jumlah semula berjumlah 6 kantor bertambah menjadi 10 kantor. Kesepuluh kantor yang dibentuk meliputi Kantor Perindustrian dan Perdagangan; Kantor Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah; Kantor Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kantor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Kantor Perhubungan; Kantor Pemberdayaan Masyarakat; Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah; Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik; Kantor Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil; dan Satuan Polisi Pamong Praja.
7) BPBD atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah
BPBD merupakan OPD baru yang dibentuk dengan nama “badan” tetapi dengan struktur organisasi seperti “kantor” yang dipimpin oleh pejabat eselon III.A.
Pembentukan OPD BPBD menambah 1 unit
jabatan eselon III.A dan 5 unit jabatan eselon IV.A.
8) RSUD atau Rumah Sakit Umum Daerah, dipertahankan pada status quo, sebagai perangkat daerah yang dipimpin oleh jabatan eselon III.A dengan didukung 4 unit jabatan eselon III.B dan 9 unit jabatan eselon IV.A.
9) Kecamatan
Restrukturisasi organisasi kecamatan dilakukan dengan menghapus 30 unit jabatan eselon IV.B (sub bagian) yang ada di dalam struktur organisasi kecamatan sebelumnya, dan tetap mempertahakan 15 unit jabatan eselon III.A (camat); 15 unit jabatan III.B (sekcam);
dan 60 unit jabatan eselon IV.A (seksi).
10) Kelurahan
Restrukturisasi organisasi terhadap 29 kelurahan dilakukan dengan mengurangi jumlah unit jabatan eselon IV.B (seksi) pada struktur organisasi kelurahan, dari yang semula 145 menjadi 87, berkurang sebanyak 58 unit (seksi), dan mempertahakan 29 unit jabatan eselon IV.A (lurah).
11) UPT menjadi unit fungsional
Beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang semula merupakan unit kerja struktural dengan eselon IV.A diubah menjadi unit kerja fungsional (non eselon) yang dipimpin oleh koordinator. Beberapa UPT yang direstrukturisasi menjadi unit fungsional antara lain adalah puskesmas, sanggar kegiatan belajar, dll.
12) Seluruh jabatan struktural eselon V dihapus.
Dengan berlakunya PP Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah, pada tahun 2016 Pemerintah Kabupaten Wonosobo telah kembali melakukan penataan struktur OPD dengan penambahan 5 dinas/badan (eselon II.B), 35 unit jabatan eselon III, dan 55 unit jabatan eselon IV. Sasaran penyederhanaan struktur OPD untuk mewujudkan organisasi dua layers yang akan dilakukan adalah merasionalisasi kembali jumlah jabatan struktural yang saat ini sebesar 546 unit atau 8,21%.
Optimalisasi Jabatan Fungsional
Perampingan OPD Pemerintah Kabupaten Wonosobo tersebut diarahkan untuk profesionalisasi birokrasi yaitu adanya perubahan komposisi pegawai dengan jumlah jabatan struktural yang semakin efisien (selektif) pada satu sisi dan optimalisasi jumlah jabatan fungsional, serta jumlah staf yang proporsional.
Pilihan terhadap jabatan fungsional didasarkan
pada pertimbangan kebutuhan pegawai yang berkompetensi untuk pelaksanaan tugas fungsi dan visi misi organisasi. Jabatan fungsional secara normatif mempunyai kompetensi teknis yang memadai karena telah terstandarisasi yaitu standar kompetensi jabatan, pengembangan karier, pengembangan kompetensi, penilaian kinerja, dst. Karena kapasitasnya yang lebih baik, maka penempatan jabatan fungsional pada unit kerja akan merasionalisasi struktur organisasi. Penempatan jabatan fungsional kedalam seluruh unit kerja dalam struktur organisasi akan membentuk struktur organisasi yang pipih/datar atau flat, hal ini selaras dengan gagasan struktur organisasi dua layers.
Jumlah total PNS pada tahun 2014, sebelum perampingan struktur OPD, sebesar 7.618 orang. Proporsi pegawai pemangku jabatan fungsional dengan total sebanyak 5.110 orang atau 67,07%. Melihat angka tersebut jabatan fungsional telah menduduki proporsi yang tinggi, akan tetapi poin kritisnya adalah jika kita lihat lebih detil bahwa jabatan fungsional didominasi oleh jabatan fungsional guru yang berjumlah sebesar 4.402 orang atau 57,78% dari seluruh PNS yang ada. Sedangkan jabatan fungsional tenaga kesehatan menduduki jabatan fungsional dengan jumlah terbesar kedua, yaitu sebesar 516 orang atau 6,77%.
Meskipun telah menduduki proporsi yang tinggi jumlah guru dan tenaga kesehatan tersebut hingga saat ini belum memenuhi kebutuhan secara optimal. Komposisi PNS yang mencerminkan profesionalisasi birokrasi, yang diidealkan lebih banyak diisi oleh jabatan fungsional perlu ditelaah di luar jabatan fungsional guru dan tenaga kesehatan. Dari table tersebut terlihat bahwa jumlah jabatan fungsional selain tenaga pendidik dan kependidikan maupun tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh OPD atau sektor layanan baru ada 10 jenis Jabatana fungsional dengan jumlah masing-masing yang sangat kecil, yaitu : Penyuluh Pertanian sebanyak 68 orang, Penyuluh Keluarga Berencana (KB) 33 orang, Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan 2 orang, Penguji Kendaraan Bermotor 2 orang, Perencana 2 orang, Arsiparis 3 orang, Auditor 11 orang, P2UPD 10 orang, serta Pengantar Kerja dan Pustakawan masing-masing 1 orang.
Seluruh jabatan fungsional non tenaga pendidik dan kependidikan dan tenaga kesehatan berjumlah sebanyak 133 orang atau 1,74%.
Sementara jabatan struktural sebanyak 854 atau 11,21% dan pelaksana sebesar 1.654 atau
21,71%, angka-angka yang jauh lebih besar dari jumlah dan proporsi jabatan fungsional di luar guru dan tenaga kesehatan.
Komposisi PNS tersebut tidak banyak mengalami perubahan hingga tahun 2016, namun tercatat ada penambahan jumlah pemangku jabatan fungsional lainnya (jabatan fungsional non tenaga pendidik dan kependidikan dan non tenaga kesehatan) sebanyak 104 orang sehingga menjadi 237 orang (BKD Kabupaten Wonosobo yang dikutip dari Naskah Akademik Perda Kabupaten Wonosobo Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Wonosobo).
Sampai dengan Oktober 2021 jumlah jabatan fungsional non guru dan tenaga kesehatan tersebut mengalami perkembangan dengan total ada 33 atau bertambah sebanyak 23 jenis jabatan fungsional di berbagai sektor, seperti Administrator Kesehatan, Psikologi Klinis, Pranata Komputer, Auditor Kepegawaian, Analis Kepegawaian, Penera, Pengadaan Barang dan Jasa, Pengawas Lingkungan, Teknik Jalan dan Jembatan, Teknik Pengairan, Teknik Bangunan, dsb. Tenaga Kesehatan mengalami peningkatan jumlah dan jenis, sedangkan guru berkurang karena pensiun.
Jumlah total PNS Kabupaten Wonosobo per 1 Oktober 2021 sebanyak 6.650 orang, dengan komposisi: jabatan struktural sebanyak 546 atau 8,21%; pelaksana sebanyak 1.152 atau 17,32%, jumlah jabatan struktural dan jabatan pelaksana yang masih cukup tinggi inilah yang menjadi sasaran pengalihan ke jabatan fungsional dalam kerangka kebijakan penyederhanaan birokrasi.
Adapun jumlah total jabatan fungsional sebanyak 4.952 yang terdiri dari guru sebanyak 3.813 orang atau 57,33% dan tenaga kesehatan 779 orang atau 11,71%, serta jabatan fungsional non guru dan tenaga kesehatan sebanyak 296 orang atau 4,45% yang meskipun sudah mengalami kenaikan masih jauh lebih kecil dibanding jumlah dan proporsi jabatan struktural dan pelaksana.
Manfaat yang Diperoleh
Manfaat atau efektifitas dari organisasi dengan struktur yang flat (dua layers) yang merupakan hasil optimal dari optimalisasi Jabatan Fungsional memungkinkan organisasi menjadi lebih fleksibel dan dinamis karena rantai hirarki yang pendek. Tugas fungsi organisasi menjadi komprehensif dan dapat
lebih terstruktur dengan baik sejalan dengan standarisasi tugas fungsi Jabatan Fungsional.
Struktur yang ramping memungkinkan tata laksana kerja menjadi lebih sederhana dan lebih mudah untuk terwujudnya proses bisnis yang terintegrasi, kolaboratif, dan lebih terbuka.
Rantai hirarki yang pendek memungkinkan proses pengambilan keputusan lebih cepat berefek pelayanan menjadi lebih cepat pula.
Organisasi lebih efisien dengan berkurangnya biaya operasional, sarpras dan lain-lain biaya over head cost. Dengan jumlah OPD dan unit kerja yang lebih sedikit memungkinkan program dan anggaran menjadi lebih terfokus dan terintegrasi (tidak tersebar dengan nilai yang kecil). Pengelolaan keuangan organisasi dapat lebih solid dalam sistem satu pintu dan lebih mendorong terwujudnya akuntabilitas.
Di bidang sumber daya manusia:
pengembangan kapasitas pegawai lebih merata hingga ke layers bawah, pemetaan kebutuhan kompetensi yang jelas, dengan re-orientasi ke jabatan fungsional maka ruang pengembangan karier pegawai menjadi lebih luas dengan mengoptimalkan sistem pengembangan karier vertikal, horizontal dan diagonal, tidak terperangkap dalam mindset linier yang menganggap jabatan struktural sebagai satu- satunya peluang bagi pengembangan karier pegawai. Program dan pelaksanaan pembinaan dan pengembangan pegawai lebih mudah dan tersistematis karena telah terstandarisasi dengan baik.
Berangkat dari kondisi saat ini, langkah cepat dan strategis apa yang perlu dilakukan?
a. Mereview Peta Jabatan seluruh instansi/OPD eksisting untuk disesuaikan dengan langkah atau strategi optimalisasi jabatan fungsional, hindari duplikasi fungsi diantara jabatan yang ada dan utamakan jabatan fungsional mengisi Peta Jabatan instansi.
Beberapa catatan penting terkait optimalisasi jabatan fungsional dalam Peta Jabatan instansi antara lain:
- Pengisian jabatan fungsional pada Peta Jabatan instansi dan seluruh unit kerja harus dilakukan secara konsisten. Eksistensi jabatan struktural dan jabatan pelaksana dalam Peta Jabatan OPD hanya sepanjang belum tersedia jenis jabatan fungsional yang sesuai.
- optimalisasi pengisian jabatan fungsional ke dalam Peta Jabatan berdasarkan hasil analisis jabatan dan analisis beban kerja, sehingga lebih tepat dalam menentukan jenis
dan jumlah kebutuhannya (tepat fungsi, tepat ukuran).
b. Kementerian/Lembaga instansi pembina perlu segera proaktif menyusun/membentuk jenis-jenis jabatan fungsional yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tugas fungsi instansi dan visi-misi pemerintah baik untuk pusat maupun daerah.
c. Kebijakan inpassing mestinya tidak hanya didasarkan pada “pilihan individual”
sebagai kanal bagi PNS/ASN yang kehilangan jabatan struktural ataupun karena PNS/ASN enggan menjadi pejabat struktural. Kebijakan pindah jabatan dari non fungsional ke jabatan fungsional mestinya untuk memenuhi kebutuhan organisasi/instansi, sehingga dilaksanakan secara komprehensif.
d. Kebijakan rekrutmen CPNS dan PPPK mulai tahun 2018 yang lebih diutamakan untuk pengisian formasi jabatan fungsional di berbagai sektor perlu dipertajam dengan prinsip pengadaan jabatan pelaksana hanya bagi jabatan yang belum tersedia jabatan fungsionalnya.
Adapun beberapa langkah strategis yang sejalan dengan kebijakan optimalisasi jabatan fungsional dan struktur organisasi dua layers yang urgent dilakukan antara lain:
- Penerapan sistem kelas jabatan sebagai dasar penggajian dan pemberian tunjangan kinerja ASN dapat menjadi jawaban atas kekhawatiran berkurangnya pendapatan ASN akibat penerapan kebijakan ini dengan didukung penguatan sistem manajemen kinerja pegawai dan penerapannya secara otentik.
Dengan uraian ini, semoga para pengambil kebijakan khususnya di daerah semakin diyakinkan bahwa penerapan struktur organisasi pemerintah dua layers adalah pilihan terbaik untuk mewujudkan birokrasi professional, dan secara teknis sangat mungkin dilakukan, dan perlu segera dilakukan karena saat inilah momennya. Kebijakan ini merupakan salah satu langkah yang mendasar dalam upaya perbaikan birokrasi. Sikap surut atau mundur dalam realisasi maupun substansi ide dari kebijakan ini akan bermakna pembangunan SDM ASN dan birokrasi kita kehilangan momentumnya sementara tuntutan perkembangan lingkungan strategis sangat memerlukan perubahan yang berdampak luas dan mendasar untuk mewujudkan birokrasi yang profesional.
Masalah-masalah yang timbul dan upaya mengatasi masalah
Masalah yang paling mengemuka pada kebijakan perampingan OPD Pemerintah Kabupaten Wonosobo adalah resistensi dari para pegawai (PNS), khususnya para pegawai yang mengalami penurunan eselon maupun yang
“kehilangan” jabatan struktural. Resistensi yang muncul cukup massif hingga berujung pada gugatan terhadap pemberlakuan perda perampingan OPD kepada Mahkamah Agung.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo menghadapi gugatan tersebut dengan memberikan jawaban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Jawaban atas gugatan disusun dalam dua sisi, yaitu rechtmatigheid (asas kepastian hukum) dan doelmatigheid (asas kemanfaatan).
Resistensi pegawai sebagian besar menyangkut kekhawatiran terhadap berkurangnya penerimaan gaji dan tunjangan sebagai akibat turunnya level eselon ataupun perubahan jabatan. Upaya untuk mengatasi hal ini dengan pendayagunaan para pegawai yang mengalami penurunan ataupun perubahan jabatan kedalam gugus tugas dengan mengelaborasi ketentuan pemberian tunjangan kinerja atau tambahan penghasilan pegawai.
Masalah lain yang muncul terkait dengan pengalihan jabatan dari jabatan struktural ataupun pelaksana (staf Administrasi) ke jabatan fungsional. Hal ini dikarenakan saat itu belum ada kebijakan khusus dari Pemerintah Pusat untuk pengalihan jabatan dari non fungsional ke jabatan fungsional. Masalah ini diatasi dengan melakukan inventarisasi dan pemetaan potensi serta memproyeksikan pegawai untuk memenuhi/menduduki jabatan fungsional sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Hal ini dilakukan seiring dengan penyusunan Peta Jabatan OPD.
Upaya lain yang dilakukan adalah mensosialisasikan jabatan fungsional dan adanya layanan khusus (desk) bagi informasi dan konsultasi pengalihan ke jabatan fungsional, serta perbaikan tunjangan kinerja bagi jabatan fungsional.
Prospek organisasi dua layers ke depan Pembentukan struktur organisasi dua layers telah menjadi kebijakan presiden, yang dikenal dengan kebijakan penyederhanaan birokrasi. Operasionalisasi kebijakan ini telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan-RB) Nomor 25 Tahun
2021 Tentang Penyederhanaan Struktur Organisasi Pada Instansi Pemerintah Untuk Penyederhanaan Birokrasi. Di Kementerian/Lembaga Non Kementeraian di Pusat telah dimulai sejak tahun 2020 seiring dengan penetapan kebijakan ini sebagai salah satu program fokus pada RPJMN Tahun 2020 – 2024. Sementara pelaksanaan kebijakan penyederhanaan OPD diagendakan pada tahun 2021. Mewujudkan struktur organisasi dua layers tidak lagi sulit seperti sebelumnya.
Beberapa kebijakan pendukung untuk memudahkan realisasi kebijakan ini antara lain :
- Sampai dengan Oktober 2021 telah ditetapkan tidak kurang dari 237 jenis jabatan fungsional keterampilan dan keahlian baik untuk instansi pusat dan daerah. Dengan adanya jenis jabatan fungsional yang semakin lengkap di semua sektor (kelembagaan/kementerian) maka optimalisasi pengisian jabatan fungsional yang sesuai kedalam Peta Jabatan OPD akan lebih mudah dilakukan. Dan untuk mendukung birokrasi professional yang ingin dibentuk dari penyederhanaan struktur OPD telah disusun jabatan Pelaksana yang juga terspesialisasi di semua sektor sebagaimana ditetapkan dalam Permenpan-RB Nomor 18 Tahun 2017 Tentang Nomenklatur Jabatan Pelaksana Bagi Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Instansi Pemerintah.
- Adanya kebijakan afirmasi untuk pengalihan jabatan dari non fungsional ke jabatan fungsional (inpassing) telah dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat melalui Permenpan-RB Nomor 17 Tahun 2021 Tentang Penyetaraan Jabatan Administrasi ke Dalam Jabatan Fungsional.
- Penerapan sistem penggajian ASN berbasis kelas jabatan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara akan sejalan dengan optimalisasi jabatan fungsional dengan penyetaraan kelas jabatan fungsional dengan jabatan struktural.
KESIMPULAN
Ada dua aspek penting dalam restrukturisasi kelembagaan birokrasi, yaitu penataan kelembagaan secara vertical dan horizontal. Penataan kelembagaan secara vertikal dilakukan untuk menyederhanakan hierarki birokrasi sehingga menjadi lebih sederhana dan pendek. Untuk saat ini kajian memang harus dilakukan pada birokrasi pemerintahan, termasuk didalamnya adalah
susunan dan tingkat pemerintahan. Kondisi struktur pemerintahan yang saat ini terjadi cenderung kompleks dan perlu memperoleh perhatian dalam Reformasi Birokrasi. Kemudian usaha perbaikan struktur birokrasi harus mencakup penyederhanaan secara vertikal yang dilakukan dengan memperpendek hierarki kekuasaan. Dalam aspek penyederhanaan dapat dilakukan melalui delayering dalam hubungan antara satuan birokrasi pada tingkat bawah dan birokrasi atasannnya serta hubungan antara birokrasi dan warganya.
Struktur organisasi publik yang ramping, pipih atau datar (flat) yang hanya terdiri dari dua layers, merupakan kebutuhan yang bersifat alamiah sebagai respon terhadap perkembangan lingkungan strategis.
Mewujudkan sistem kerja yang terpadu dalam struktur OPD yang ramping sejalan atau disyaratkan oleh sistem kerja berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam penyelenggaraan fungsi birokrasi sehari-hari sebagaimana menjadi arah birokrasi ke depan (e- administration dan e-government). Era disrupsi yang ditandai dengan ketidakpastian dan dinamika yang tinggi dalam berbagai sektor kehidupan, kecenderungan keterkaitan antar sektor yang menguat yang semakin memerlukan pendekatan multi dimensi, maka diperlukan birokrasi yang responsive, adaptive, fleksibel, serta cepat dan tanggap (agile). Secara kelembagaan sifat-sifat ini lebih bisa direspon oleh organisasi yang ramping, dengan struktur yang flat. Untuk itu struktur organisasi dua layers layak untuk diwujudkan.
DAFTAR RUJUKAN
Ambar Teguh, dkk, 2015, Teori dan Implementasi Birokrasi Organisasi:
Agenda Penataan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Wonosobo, Independent Generation,Yogyakarta Badan Kepegawaian Negara, 2010, Pedoman
Analisis Beban Kerja Pegawai Negeri Sipil, Jakarta
Dwiyanto, Agus, 2011, Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi, Gramedia, Jakarta
Mintzberg, Henry. 1993. Structure in Fives:
Designing Effective Organization. New Jersey: Prentice Hall
Thoha, Miftah. 2011. Birokrasi Pemerintah Indonesia di Era Reformasi. Kencana.
Jakarta
Anonymous,
https://elib.unikom.ac.id/download.php?id
=114099,diakses diakses 22 Oktober 2021, jam 15.46 wib
Sony Wicaksono, 2010, Reformasi Birokrasi, http://sonylogica2.blogspot.com/2010/10/
kultur-birokrasi-pelayanan-
indonesia.html, diakses 22 Oktober 2021, jam 20.46 wib
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor
18 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024
Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, Jakarta.
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 18 Tahun 2017 Tentang Nomenklatur Jabatan Pelaksana Bagi Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Instansi Pemerintah Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2021 Tentang Penyederhanaan Struktur Organisasi Pada Instansi Pemerintah Untuk Penyederhanaan Birokrasi
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26 Tahun 2011, tentang Pedoman Penghitungan Kebutuhan Jumlah PegawaI Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 17 Tahun 2021 Tentang Penyetaraan Jabatan Administrasi ke Dalam Jabatan Fungsional.
Naskah Akademik dan Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Organisasi Perangkat Daerah
Naskah Akademik dan Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 12 Tahun
2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Wonosobo