SKRIPSI
PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP PROFITABILITAS, PRODUKTIVITAS, DAN NILAI PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
OLEH
MUHAMMAD SYAFII 150502065
PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
ABSTRAK
PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP PROFITABILITAS, PRODUKTIVITAS, DAN NILAI PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini menguji pengaruh modal intelektual terhadap profitabilitas, produktivitas, dan nilai perusahaan. Dalam penelitian ini modal intelektual dibagi menjadi modal manusia dan modal struktural. Modal intelektual diukur menggunakan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC). Profitabilitas, diukur dengan Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).
Produktivitas, diukur dengan Asset Turn Over (ATO), dan Price Earning Ratio (PER) untuk nilai perusahaan. Objek penelitian adalah 68 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2015 hingga 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Intellectual Capital terhadap Profitabilitas, diukur dengan Return On Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE). Produktivitas, diukur dengan Asset Turn Over (ATO), dan Price Earning Ratio (PER) untuk nilai perusahaan dengan teknik analisis data regresi linear sederhana dengan menggunakan program E-views 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intellectual capital berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas (ROA dan ROE), namun intellectual capital berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap assets turnover, dan intellectual capital berpengaruh negatif dan signifikan terhadap price earning ratio. Kemungkinan perusahaan di Indonesia sebagian besar masih menggunakan pendekatan konvensional, tidak didasarkan pada pengetahuan perusahaan teknologi tinggi yang intensif dan kurangnya perhatian terhadap modal manusia, modal struktural, dan modal pelanggan.
Kata Kunci: Intellectual Capital, Profitabilitas, Produktifitas, Nilai Perusahaan.
THE INTELLECTUAL CAPITAL EFFECT ON PROFITABILITY, PRODUCTIVITY, AND
COMPANY VALUE IN COMPANIES MANUFACTURING REGISTERED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE
This study examines the effect of intellectual capital on profitability, productivity, and firm value. In this study intellectual capital is divided into human capital and structural capital. Intellectual capital is measured using Value Added Intellectual Coefficient (VAIC). Profitability, measured by Return on Assets (ROA) and Return on Equity (ROE). Productivity, measured by Asset Turn Over (ATO), and Price Earning Ratio (PER) for firm value. The object of the study was 68 manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange between 2015 and 2017. This study aims to determine the effect of Intellectual Capital on Profitability, measured by Return On Assets (ROA) and Return on Equity (ROE).
Productivity, measured by Asset Turn Over (ATO), and Price Earning Ratio (PER) for firm value with simple linear regression data analysis techniques using the E-views 9. The results show that intellectual capital has a positive and significant effect on profitability (ROA and ROE), but intellectual capital has a positive and not significant effect on assets turnover, and intellectual capital has a negative and significant effect on price earnings ratio. The possibility of companies in Indonesia mostly still using conventional approaches, not based on knowledge of intensive high-tech companies and lack of attention to human capital, structural capital, and customer capital.
Keywords: Intellectual Capital, Profitability, Productivity, Company Value.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas rahmatnya yang berlimpah kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Profitabilitas, Produktivitas, dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)” untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Skripsi ini peneliti persembahkan untuk Ayahanda, (Alm) Amri dan Ibunda, Bahria. Terimakasih telah membesarkan, mendidik dan memberikan dukungan moral dan materiil serta kasih sayang dan doa yang tidak ternilai mulai dari peneliti belajar hingga dapat menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Manajemen. Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi serta saran kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Ibu Dr. Nisrul Irawati MBA, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dan
Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan serta staf dan pegawai yang telah membantu selama proses penulisan skripsi.
6. Kepada kakak dan adik saya, Indra Gusnawan, Riski Dinda dan Ridho Adha yang selalu setia mendoakan dan membantu dalam penyusunan skripsi ini.
7. Sahabat-sahabat terbaik dan teman- teman seperjuangan di masa kuliah, Ridho, Abdi, Alwi, Ihsan, Fikri, Farhan, Ikmal, Adil, Riyan, Erson, Yanriko, yang selalu memberikan semangat kepada peneliti dalam mengerjakan skripsi ini.
8. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Akhir kata peneliti berharap skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat di pergunakan untuk menambah pengetahuan dan bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.
Medan, 05 April 2019 Peneliti,
Muhammad Syafii 150502065
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 14
1.3 Tujuan Penelitian ... 14
1.4 Manfaat Penelitian ... 15
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 15
1.4.2 Manfaat Praktis ... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 17
2.1 Landasan Teori ... 17
2.1.1 Stakeholder Theory ... 17
2.1.2 Resource Based Theory... 18
2.1.3 Human Capital Theory ... 18
2.1.4 Pengertian Intellectual Capital ... 19
2.1.5 Komponen Intellectual Capital... 20
2.1.6 Profitabilitas ... 26
2.1.7 Tujuan dan Manfaat Rasio Profitabilitas ... 27
2.1.8 Nilai Perusahaan ... 28
2.1.9 Produktivitas ... 30
2.2 Penelitian Terdahulu ... 31
2.3 Kerangka Konseptual ... 39
2.1.1 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Profitabilitas (ROA) ... 39
2.1.2 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Profitabilitas (ROE) ... 40
2.1.3 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Produktivitas (ATO) ... 40
2.1.4 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Perusahaan (PER) ... 41
2.4 Hipotesis Penelitian ... 43
BAB III METODE PENELITIAN ... 44
3.1 Jenis Penelitian ... 44
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 44
3.3 Batasan Operasionalisasi ... 45
3.4. Definisi Operasionalisasi Variabel ... 45
3.5 Operasional Variabel ... 48
3.6 Populasi dan Sampel ... 50
3.7 Jenis dan Sumber Data ... 53
3.8 Metode Pengumpulan Data ... 53
3.9 Teknik Analisis Data ... 53
3.9.1 Analisis Statistik Deskriptif. ... 54
3.9.2 Analisis Regresi Linier Sederhana ... 54
3.10 Uji Hipotesis ... 55
3.10.1 Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t) ... 55
3.10.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)... 56
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 57
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 57
4.2 Analisis Data ... 58
4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 58
4.2.2 Pengujian Hipotesis ... 60
4.3 Pembahasan ... 68
4.3.1 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Profitabilitas (ROA) ... 68
4.3.2 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Profitabilitas (ROE) ... 70
4.3.3 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Produktivitas (ATO) ... 71
4.3.4 Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Perusahaan (PER) ... 72
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 74
5.1 Kesimpulan... 74
5.2 Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 76
DAFTAR LAMPIRAN ... . 81
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Data Perkembangan Profitabilitas, Assets Turnover (ATO), Price Earning Ratio (PER), Intellectual Capital (VAIC) dari 5 (lima) Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia ... 4
2.1 Penelitian Terdahulu ... 35
3.1 Definisi Operasional Variabel ... 49
3.2 Jumlah Populasi dan Sampel ... 51
3.3 Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur ... 52
4.1 Rekapitulasi Objek Penelitian ... 57
4.2 Statistik Return on Assets, Return on Equity, Assets Turnover dan Price Earning Ratio ... 58
4.3 Pengujian Hipotesis Pertama ... 61
4.4 Pengujian Hipotesis Kedua ... 63
4.5 Pengujian Hipotesis Ketiga ... 65
4.6 Pengujian Hipotesis Keempat ... 67
No. Gambar Judul Halaman 1.1 Perkembangan Return on Assets (ROA) pada 5 (lima)
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa
di Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 5 1.2 Perkembangan Return on Equity (ROE) pada 5 (lima)
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) ... 6 1.3 Perkembangan Assets Turnover (ATO) pada 5 (lima)
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) ... 7 1.4 Perkembangan Price Earning Ratio (PER) pada 5 (lima)
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) ... 8 1.5 Perkembangan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC)
pada 5 (lima) Perusahaan Manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 9 2.1 Kerangka Kopseptual ... 42
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
1. Daftar Populasi dan Sampel Perusahaan Manufaktur ... 81
2. Tabulasi Data Variabel Penelitian ... 86
3. Deskriptif Statistik Variabel Penelitian ... 93
4. Analisis Regresi Linear Sederhana... 94
1.1 Latar Belakang
Perusahaan merupakan salah satu bentuk organisasi yang pada umumnya memiliki tujuan tertentu. Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam usahanya yaitu untuk memenuhi kepentingan para stakeholder. Selain itu tujuan perusahaan antara lain meningkatkan nilai perusahaan, memuaskan kebutuhan masyarakat dan untuk memperoleh keuntungan (profit). Kinerja perusahaan akan menentukan tercapainya tujuan tersebut dan akan dijadikan dasar pengambilan keputusan bagi pihak internal maupun eksternal.
Pencapaian keuntungan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan tersebut. Ketika perusahaan mampu menghasilkan keuntungan berarti juga akan meningkatkan kesejahteraan para stakeholder. Kemampuan perusahaan untuk mencapai laba ini sering disebut dengan istilah profitabilitas. Laba mengindikasikan bagaimana suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban kepada kreditur dan investor sehingga akan mempengaruhi keputusan pihak tersebut. Demi meraih laba yang diharapkan, efisiensi haruslah dilakukan oleh setiap perusahaan dalam rangka menjaga kelangsungan usaha ataupun meningkatkan daya saing. Beberapa perusahaan yang mempunyai sumber daya yang banyak masih belum mengelolanya secara efisien, sehingga kinerja perusahaan belum secara optimal. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa masih ada kendala dalam pencapaian tujuan perusahaan.
2
Profitabilitas perusahaan telah menjadi kriteria utama dalam menentukan kinerja keuangan perusahaan. Pada dunia bisnis profitabilitas memainkan peran penting dalam struktur dan pengembangan perusahaan karena dapat mengukur kinerja dan keberhasilan perusahaan. Pengukuran kinerja perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan alat analisis yaitu rasio keuangan. Salah satu rasio yang digunakan sebagai pengukuran kinerja keuangan adalah rasio profitabilitas, dimana Return on Asset (ROA) merupakan salah satu indikator pengukurannya. Laporan keuangan diperlukan untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu untuk mengetahui sejauh mana perusahaan mencapai tujuannya. Oleh karena itu, laporan keuangan memegang peranan yang luas dan mempunyai posisi yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan.
Persaingan dalam era globalisasi terakhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam skala kecil, menengah maupun besar dan juga menghasilkan perubahan paradigma yang signifikan dari sebelumnya. Perusahaan pun harus mengubah pola manajemen dari pola manajemen berbasis tenaga kerja (labor based bussines) menjadi manajemen berbasis pengetahuan (knowledge based business), sehingga karakteristik utama perusahaannya menjadi perusahaan berbasis ilmu pengetahuan. Pengetahuan telah diakui sebagai komponen bisnis yang penting dan sumber daya strategis yang lebih sustainable berkelanjutan untuk memperoleh dan mempertahankan competitive advantage Asni (dalam Solikhah, 2010).
Secara general, intellectual capital adalah ilmu pengetahuan atau daya pikir, yang dikuasai/dimiliki oleh perusahaan, tidak memiliki bentuk fisik (tidak berwujud), dan dengan adanya intellectual capital tersebut, perusahaan akan mendapatkan tambahan keuntungan atau kemampuan proses usaha serta memberikan perusahaan suatu nilai. Secara sederhana, intellectual capital (IC) dapat diartikan sebagai modal yang berbasis pengetahuan yang dimiliki perusahaan, yang mana IC meliputi intangible assets tidak hanya yang bersifat tradisional saja (seperti brand names, dan trademark), tetapi juga bentuk intangible yang baru ( seperti knowledge, technology value, dan good customer relationship).
Perusahaan yang mempunyai kinerja intellectual capital yang baik cenderung akan mengungkapkan intellectual capital yang dimiliki oleh perusahaan dengan lebih baik. Semakin tinggi kinerja intellectual capital perusahaan, maka semakin baik tingkat pengungkapannya, karena pengungkapan mengenai intellectual capital dapat meningkatkan kepercayaan para stakeholder terhadap perusahaan. Dengan pemanfaatan dan pengelolaan intellectual capital yang baik, maka kinerja perusahaan juga semakin meningkat. Ukuran profitabilitas perusahaan dalam penelitian ini menggunakan rasio profitabilitas (ROA) dan profitabilitas (ROE) dan yang mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan total aset yang dimilikinya, rasio produktifitas (ATO) yang digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dengan total aset yang dimiliki, serta nilai perusahaan yang diukur berdasarkan rasio (PER).
4
Tabel 1.1
Data Perkembangan Profitabilitas, Asset Turnover (ATO), Price Earning Ratio (PER), dan Intellectual Capital (IC) dari 5 (Lima) Perusahaan Manufaktur dari Tahun 2015 – 2017 yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Kode
Perusahaan Tahun
Profitabilitas Asset Trurnover
(ATO)
Price Earning
Ratio (PER)
Intellectual Capital
(VAIC) ROA
(%)
ROE (%)
INDS
2015 0.08 0.10 0.07 11.90 -12.7
2016 2.00 2.40 0.10 10.70 -0.73
2017 4.67 5.30 0.16 7.30 0.57
ADES
2015 5.03 10.00 0.52 18.20 -1.17
2016 7.29 14.56 0.60 10.50 -0.66
2017 4.55 9.04 0.52 13.70 -0.98
STAR
2015 0.04 0.06 0.06 78.00 -6.01
2016 0.06 0.09 0.04 63.00 -3.44
2017 0.10 0.12 0.04 80.00 -2.423
KLBF
2015 15.02 18.81 0.63 30.10 1.04
2016 15.44 18.86 0.62 30.10 1.12
2017 14.76 17.66 0.59 32.30 1.08
MYOR
2015 11.02 24.07 0.37 21.80 6.53
2016 10.75 22.16 0.38 26.50 6.67
2017 10.93 22.18 0.33 22.70 5.58
Sumber: www.idx.co.id (Data diolah, 2018)
Pada Tabel 1.1 menunjukkan perkembangan Profitabilitas, Asset Turnover (ATO), Price Earning ratio (PER), dan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) dari 5 (lima) Perusahaan yaitu PT. Indospring Tbk (INDS), PT. Akasha Wira Internasional Tbk (ADES), PT. Star Petrcohem Tbk (STAR), PT. Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT. Mayora Indah Tbk (MYOR).
Tabel 1.1 menunjukkan bahwa perkembangan Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Asset Turnover (ATO), dan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) yang berfluktuasi dari tahun 2015 – 2017, dari 5 (lima) perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Su mber: www.idx.co.id (Data diolah, 2018)
Gambar 1.1
Perkembangan Return on Assets (ROA) pada 5 (lima) perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Pada Gambar 1.1 dapat dilihat grafik di atas menunjukkan tren ROA yang berfluktuasi dari setiap perusahaan dalam empat tahun terakhir. Tren ROA selama empat tahun terakhir dapat dikatakan belum optimal, karena nilainya masih berfluktuasi yang membuktikan bahwa pemanfaatan total asset yang di miliki masih belum efektif. Pada tahun 2015 menunjukkan cenderung meningkat sebesar 11,02%, dan pada tahun 2016 – 2017 cenderung stabil sebesar 10,75% dan sebesar 10,93%.
Dalam hal ini perlu diketahui faktor – faktor yang mempengaruhi ROA agar dapat diambil langkah perbaikan kinerja perusahaan untuk meningkatkan ROA perusahaaan selanjutnya. Return on Assets adalah rasio profitabilitas yang dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan.
6
Sum ber: www.idx.co.id (Data diolah, 2018)
Gambar 1.2
Perkembangan Return on Equity (ROE) pada 5 (lima) perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan Gambar 1.2 dapat lihat ROE setiap perusahaan berfluktuasi dari tahun ke tahun, pada ROE perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) cenderung stabil yaitu pada tahun 2015 menunjukkan proporsi sebesar 18,81%, pada tahun 2016 sebesar 18,86%, dan pada tahun 2017 sebesar 17,66% mengalami penurunan sebesar 1,20% dari tahun 2016, ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dalam tinggkat pengembalian modal masih kurang baik.
Return on Equity adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan modal sendiri dan menghasilkan laba bersih yang tersedia bagi pemilik atau investor.
Sum ber: www.idx.co.id (Data diolah, 2018)
Gambar 1.3
Perkembangan Assets Turnover (ATO) pada 5 (lima) perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan Gambar 1.3 dapat dilihat fluktuasi nilai Assets Turnover (ATO) yang terjadi pada masing-masing perusahaan di setiap tahunnya. Pada tahun 2017 hampir seluruh perusahan mengalami penurunan nilai Assets Turnover, kecuali perusahan Star Petrcohem Tbk (STAR) dan perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF). Dengan menurunnya nilai rasio ini menandakan bahwa perusahaan tersebut belum mampu memaksimalkan aktiva yang di miliki.
Menurut Abidin (2000), perusahaan–perusahaan di Indonesia cenderung menggunakan conventional based dalam membangun bisnisnya, sehingga produk yang dihasilkannya masih miskin kandungan teknologi. Dengan demikian intellectual capital yang telah dikeluarkan oleh perusahaan belum secara langsung mempengaruhi upaya perusahaan meningkatkan perputaran pendapatan.
8
Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Herdyanto dan Nasir (2013), yang menyimpulkan bahwa Intellectual Capital (VAIC) berpengaruh signifikan terhadap ATO perusahaan.
Sum ber: www.idx.co.id (Data diolah, 2018)
Gambar 1.4
Perkembangan Price Earning Ratio (PER) pada 5 (lima) perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan Gambar 1.4 dapat dilihat Price Earning Ratio (PER) pada setiap perusahaan dan setiap tahunnya berfluktuasi, pada perusahaan Star Petrcohem Tbk (STAR) Price Earning Ratio (PER) cenderung meningkat yaitu pada tahun 2016 sebesar 63,00 naik menjadi 86,00 pada tahun 2017, dan PER terendah di miliki oleh perusahaan Indospring Tbk (INDS) pada tahun 2017 sebesar 7.30.
PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang diharapkan di masa yang akan datang. Semakin besar PER, maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pasar telah memberikan penilaian yang lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki modal intelektual yang lebih tinggi. Temuan penelitian ini
mengindikasikan bahwa penghargaan pasar pada suatu perusahaan tidak hanya didasarkan pada sumber daya fisik yang dimiliki saja tetapi jugamodal intelektual yang dimiliki perusahaan, investor juga menitikberatkan pada sumber daya intelektual yang dimiliki perusahaan (Sunarsih dan Mendra, 2012).
Sumber: www.idx.co.id (Data diolah, 2018)
Gambar 1.5
Perkembangan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) pada 5 (lima) perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan Gambar 1.5 menunjukkan tingkat perkembangan VAIC pada setiap perusahaan dan setiap tahunnya mengalami fluktuatif, perusahaan yang memiliki VAIC tertinggi terdapat pada perusahaan Mayora Indah Tbk (MYOR) sebesar 6,67 pada tahun 2016, dan perusahaan yang memili VAIC terendah pada perusahaan Indospring Tbk (INDS) sebesar -12,70 pada tahun 2015.
Perusahaan dalam kategori Top Performers adalah perusahaan yang memiliki nilai VAIC diatas 3, yang terdapat pada perusahaan Mayora Indah Tbk (MYOR) memiliki nilai VAIC ditas 3 yaitu pada tahun 2015 – 2017. Perusahaan
10
dalam kategori Good Performers adalah perusahaan yang memiliki nilai VAIC antara 2,0 sampai 2,99, yang terdapat pada perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar 2,48 pada tahun 2015, dan Perusahaan dalam kategori Bad Performers adalah perusahaan yang memiliki nilai VAIC dibawah 1,5 yang terdapat pada perusahaan Indospring Tbk (INDS), Akasha Wira Internasional Tbk (ADES), Star Petrcohem Tbk (STAR).
Dengan demikian, perusahaan dengan nilai VAIC tinggi berarti perusahaan tersebut dapat memanfaatkan seluruh potensi sumberdaya yang dimiliki perusahaan dengan baik, baik itu karyawan (human capital), asset fisik (physical capital), maupun structural capital.
Intellectual Capital merupakan materi intelektual yang telah diformalisasikan, ditangkap, dan diungkit untuk menciptakan kekayaan, dengan menghasilkan suatu aset yang bernilai tinggi (Ulum, 2009:19). Fenomena intellectual capital di Indonesia mulai berkembang setelah munculnya PSAK No.
19 revisi 2000 tentang aktiva tidak berwujud. Menurut PSAK No. 19, aktiva tidak bewujud adalah aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif Ikatan Akuntan Indonesia, 2009. Intellectual Capital memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan keunggulan kompetitif (Kaplan dan Norton dalam Artinah, 2011). Karenanya manfaat lain yang diperoleh perusahaan dengan melaporkan intellectual capital, selain untuk mengkomunikasikan keunggulan mereka, perusahaan juga dapat
menarik sumberdaya yang bernilai tambah (Mouritsen et.al., 2004). Namun, pengukuran yang tepat terhadap intellectual capital perusahaan belum dapat ditetapkan. Pulic (1998) misalnya, tidak mengukur secara langsung intellectual capital perusahaan, tetapi mengajukan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari nilai tambah sebagai hasil dari kemampuan intelektual perusahaan value added intellectual coefficient .
Komponen utama dari Value added Intellectual Coefficient (VAIC) yang dikembangkan Pulic (1998) tersebut dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu Physical Capital Value Added Capital Employed (VACA), Human Capital Value Added Human Capital (VAHU) dan Structural Capital Value Added Structural Capital (STVA). Menurut Pulic (1998), tujuan utama dalam ekonomi yang berbasis pengetahuan adalah untuk menciptakan value added, sedangkan untuk dapat menciptakan value added dibutuhkan ukuran yang tepat tentang physical capital yaitu dana-dana keuangan dan intellectual potential direpresentasikan oleh karyawan dengan segala potensi dan kemampuan yang melekat pada mereka. Salah satu keunggulan metode Pulic adalah karena data yang dibutuhkan relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber dan jenis perusahaan. Data yang dibutuhkan untuk menghitung berbagai rasio tersebut adalah angka-angka keuangan yang standar yang umumnya tersedia dari laporan keuangan perusahaan.
Sektor industri manufaktur sebagai salah satu sektor penting dalam membangun ekonomi nasional. Sektor industri manufaktur merupakan salah satu penompang perekonomian nasional karena sektor ini memberikan kontribusi yang
12
cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada tahun 1990-1996, industri manufaktur Indonesia tumbuh dengan cepat dan Indonesia pada saat itu mengalami pertumbuhan yang signifikan. Saat ini Indonesia tengah berada dalam transisi dari perekonomian yang berbasisi agraris menjadi perekonomian semi- industrial dalam upaya untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Pola perekonomian subsistensi yang mengandalkan sektor primer perlahan-lahan bergeser menjadi perekonomian yang ditopang oleh sektor manufaktur.
Sektor industri manufaktur merupakan sektor yang cukup stabil dan menjadi salah satu penopang perekonomian negara ditengah ketidakpastian perekonomian dunia dengan tingkat pertumbuhan yang positif. Data terbaru dari kementrian perindustrian tahun 2015 menunjukkan bahwa sektor industri, khususnya sektor manufaktur non-migas mengalami pertumbuhan yang signifikan, melampui pertumbuhan GDP Indonesia pada kwartal I tahun 2015.
Kontribusi sektor industri manufaktur nonmigas terhadap PDB tahun 2015 mencapai 18,18% dengan nilai Rp 2.089 triliun. Kontribusi ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 19,89% dengan nilai hanya Rp 1,884 triliun (BPS,2016:2).
Dengan data empiris diatas memilih sektor manufaktur sebagai sampel dilakukan untuk tujuan homogenitas sampel sehingga hasil yang bias dapat dihindari dan diharapkan hasil penelitian akan lebih akurat (Firer dan Williams, 2003:10) dan selama beberapa tahun terakhir perkembangan industri pada sektor manufaktur terus meningkat dan ditandai dengan munculnya perusahaan- perusahaan baru yang begerak pada sektor tersebut. Banyaknya perusahaan yang
muncul tersebut menyebabkan persaingan bisnis menjadi semakin ketat. Sektor industri manufaktur merupakan sektor yang cukup stabil dan menjadi salah satu penopang perekonomian negara ditengah ketidak pastian perekonomian dunia dengan tingkat pertumbuhan yang positif.
Penelitian yang dilakukan Herdyanto & Nasir (2013) membuktikan bahwa Intellectual Capital (VAIC) berpengaruh signifikan terhadap ROA, ROE, dan ATO perusahaan, tetapi tidak signifikan terhadap GR. Sedangkan hasil penelitian Suhendah (2012) membuktikan bahwa Intellectual Capital berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas positif dan produktivitas negatif, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap penilaian pasar.
Penelitian yang dilakukan Randa & Solon (2012) membuktikan bahwa modal intelektual berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai perusahaan.
Artinah (2011) juga meneliti tentang pengaruh Intellectual terhadap profitabilitas.
Hasilnya adalah bahwa intellectual capital berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.
Berpijak pada penelitian sebelumnya, maka penelitian ini mencoba untuk meneliti kembali pengaruh Intellectual Capital terhadap profitabilitas, produktivitas, dan nilai perusahaan, pada perusahaan Manufaktur di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mengambil judul :“Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Profitabilitas, Produktivitas, dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)”
14
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dalam penelitian ini, maka permasalahan yang diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah Intellectual Capital berpengaruh terhadap Return on Assets (ROA) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
2. Apakah Intellectual Capital berpengaruh terhadap Return on Equity (ROE) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
3. Apakah Intellectual Capital berpengaruh terhadap produktivitas (ATO) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
4. Apakah Intellectual Capital berpengaruh terhadap Nilai perusahaan (PER) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1 Menganalisis pengaruh Intellectual Capital terhadap Return on Assets (ROA) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Menganalisis pengaruh Intellectual Capital terhadap Return on Equity (ROE) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3. Menganalisis pengaruh Intellectual Capital terhadap produktivitas (ATO) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
4. Menganalisis pengaruh Intellectual Capital terhadap nilai perusahaan (PER) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan di bidang akuntansi dan investasi terutama dalam hal pengaruh intellectual capital terhadap Profitabilitas, Produktivitas dan Nilai Perusahaan. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian sejenis di masa yang akan datang.
1.4.2 Manfaat Praktis 1. Bagi peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk mengimplementasikan pengetahuan yang peneliti dapat selama masa perkuliahan. Selain itu penelitian ini juga menjadi salah satu syarat menyelesaikan studi jenjang Sarjana pada Universitas Sumatera Utara.
2. Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada perusahaan dalam memahami pemanfaatan intellectual capital dalam mencapai efisiensi operasional perusahaan sehingga mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Dapat dijadikan sebagai bahan tambahan pertimbangan dan pemikiran atau bahan referensi dalam penelitian lebih lanjut dalam bidang yang berkaitan dengan Intellectual Capital,Profitabilitas, Produktivitas dan Nilai Perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Teori-teori yang dapat menjelaskan pentingnya pengungkapan intellectual capital atau modal intelektual diantaranya adalah:
2.1.1 Stakeholder Theory
Menurut Deegan (2004) teori stakeholder menekankan akuntabilitas organisasi jauh melebihi kinerja keuangan atau ekonomi sederhana. Teori ini menyatakan bahwa organisasi akan memilih secara sukarela mengungkapkan informasi tentang kinerja lingkungan, sosial dan intelektual organisasi, melebihi dan di atas permintaan wajibnya, untuk memenuhi ekspektasi sesungguhnya atau yang diakui oleh stakeholder.
Tujuan utama dari teori stakeholder adalah untuk membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas- aktivitas yang mereka lakukan dan meminimalkan kerugian yang mungkin muncul bagi stakeholder mereka. Sebenarnya, teori ini menjelaskan hubungan antara manajemen perusahaan dengan para stakeholdernya. Para stakeholder memiliki hak untuk diperlakukan secara adil oleh organisasi, dan manajemen harus mengelola organisasi untuk keuntungan seluruh stakeholder (Deegan, dalam Pramelasari, 2010).
2.1.2 Resource Based Theory
Resource Based Theory (RBT) menganalisis dan menginterpretasikan
sumber daya organisasi untuk memahami bagaimana organisasi mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. RBT berfokus pada konsep atribut perusahaan yang difficult-to-imitate sebagai sumber kinerja yang unggul dan keunggulan kompetitif (Barney, 1986; Hamel dan Prahalad, dalam Murti, 2010).
Dalam kaitannya dengan penelitian ini, resources based theory menjelaskan perusahaan akan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya, dan sumber daya intelektual termasuk di dalamnya, baik itu karyawan (human capital), aset fisik (physical capital) maupun structural capital.
2.1.3 Human Capital Theory
Investasi dalam pelatihan dan peningkatan sumber daya manusia merupakan investasi yang amat penting (Becker dalam Suhendah, 2010) karena pengalaman, skill, dan pengetahuan yang dimiliki sumber daya manusia mempunya nilai ekonomi bagi perusahaan yang menciptakan produktivitas dan kemampuan beradaptasi. Peningkatan produktivitas dari setiap pegawai atau human capital memerlukan biaya investasi pada human capital yang berkaitan dengan pemotivasian, pengawasan, dan mempertahankan pegawai dalam mengantisipasi Return di masa mendatang (Flamholtz & Lacey dalam Suhendah, 2012).
2.1.4 Pengertian Intellectual Capital
Modal intelektual (IC) merupakan salah satu sumber da ya yang di miliki oleh perusahaan. Modal intelektual (IC) pada umumnya didefinisikan
18
sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capitalnya. Modal intelektual (IC) seringkali menjadi faktor penentu utama perolehan laba suatu perusahaan.
Sebuah perusahaan dapat mengetahui penilaian pasar dengan menggunakan metode pengukuran Value Added Intellectual Capital (VAIC), yaitu dengan melihat kemampuan intelektual yang dimiliki oleh perusahaan tersebut dan nilai yang dimiliki perusahaan tersebut.
Menurut Stewart (1997) adalah sebuah konsep modal yang merujuk pada modal tidak berwujud yang terkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia serta teknologi yang digunakan. Aset tak berwujud tersebut dibagi menjadi tiga komponen, yaitu : Human Capital (HC), Structural Capital (SC), dan Capital Employed (Martin & Hartley, 2006, h.23). Selanjutnya menurut (Bontis et al.
2000), secara sederhana HC mencerminkan individual knowledge stock suatu organisasi yang dipresentasikan oleh karyawannya. HC ini termasuk kompetensi, komitmen dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Lebih lanjut (Bontis et al, 2000) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam SC adalah database, organizational chart, process manual, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar dari nilai materialnya. Sedangkan CE adalah pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship.
Dapat disimpulkan bahwa modal intelektual (IC) merupakan suatu konsep penting yang dapat memberikan sumber daya berbasis pengetahuan dan mendeskripsikan aset tak berwujud yang jika digunakan secara optimal
memungkinkan perusahaan untuk menjalankan strateginya dengan efektif dan efisien. Dengan demikian modal intelektual merupakan pengetahuan yang memberikan informasi tentang nilai tak berwujud perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan memberikan kontribusi pada keunggulan kompetitif perusahaan.
2.1.5 Komponen Intellectual Capital 1. Human Capital
Human capital merupakan lifeblood dalam modal intelektual. Disinilah tercipta sumber inovasi dan kemajuan suatu perusahaan, tetapi modal manusia merupakan komponen intellectual capital yang sulit diukur. Human Capital merupakan tempat sumbernya pengetahuan yang sangat berguna, keterampilan, dan kompetensi, dalam suatu organisasi atau perusahaan. Human Capital merupakan kemampuan perusahaan secara kolektif untuk menghasilkan solusi yang terbaik berdasarkan penguasaan pengetahuan dan teknologi dari sumber daya manusia yang dimilikinya. Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. Menurut Bontis, et.al, (2000), HC merepresentasikan individual knowledge stock suatu organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. HC merupakan kombinasi dari genetic inheritance, education, experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis. Human capital ini yang nantinya akan mendukung structural capital dan capital employed (dalam Ulum, 2008).
2. Structural Capital
Structural Capital merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam dalam
20
memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang berkaitan dengan usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual perusahaan yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan, misalnya: sistem operasional perusahaan, proses manufakturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan. Seorang individu memiliki intelektualitas yang tinggi, tetapi jika perusahaan memiliki sistem operasi dan prosedur yang buruk maka intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Menurut Bontis, et.al., (2000), Structural Capital meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Dalam hal ini termasuk adalah database, organisational charts, process manuals, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya dalam (dalam Ulum, 2008).
3. Relational Capital
Elemen ini merupakan komponen intellectual capital yang memberikan nilai nyata bagi perusahaan. Relational capital merupakan hubungan harmonis yang dimiliki oleh perusahaan dengan pihak di luar perusahaan. Baik yang berasal dari para pemasok yang berkualitas, pelanggan yang loyal dan merasa puas akan pelayanan perusahaan, hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun kerjasama rekan bisnis. Relational capital dapat muncul dari berbagai bagian diluar lingkungan perusahaan dalam meningkatkan kerjasama bisnis yang dapat memberikan keuntungan bagi kedua pihak, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.
4. Value Added Intellectual Coefficient (VAIC).
Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) merupakan metode yang dikembangkan oleh Pulic pada tahun 1997 yang didesain untuk menyajikan informasi mengenai value creation efficiency dari aset berwujud (tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible asset) yang dimiliki perusahaan.
Model ini dimulai dengan kemampuan perusahaan untuk menciptakan value added (VA). Menurut Pulic (1998), VA adalah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation) (dalam Ulum, 2008).Selain itu, VAIC juga merupakan alat manajemen pengendalian yang memungkinkanorganisasi untuk memonitor dan mengukur kinerja intellectual capital dari suatu perusahaan. VA dihitung sebagai selisih antara output dan input. Nilai output (OUT) mempresentasikan revenue dan mencakup seluruh produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan untuk dijua di pasar, sedangkan input (IN) meliputi seluruh beban yang digunakan perusahaan untuk memproduksi barang atau jasa dalam rangka menghasilkan revenue. Menurut (Tan et al, 2007), hal penting dalam model ini adalah bahwa beban karyawan tidak termasuk dalam input (IN). Beban karyawan (labour expenses) tidak termasuk dalam input (IN) karena karyawan berperan penting dalam proses penciptaan nilai (value creation) yang tidak dihitung sebagai biaya (cost) (dalam Ulum, 2008). Dalam Ulum (2007), disebutkan bahwa keunggulan metode VAIC adalah karena data yang dibutuhkan relatif mudah diperoleh dari berbagai sumber dan jenis perusahaan. Data yang dibutuhkan untuk
22
menghitung berbagai rasio tersebut adalah angka-angka keuangan yang standar yang umumnya tersedia dari laporan keuangan perusahaan. Alternatif pengukuran intellectual capital lainnya terbatas hanya menghasilkan indicator keuangan dan non-keuangan yang unik yang hanya untuk melengkapi profil suatu perusahaan secara individu. Indikator-indikator tersebut, khususnya indikator non-keuangan, tidak tersedia atau tidak tercatat oleh perusahaan yang lainnya. Konsekuensinya, kemampuan untuk menerapkan pengukuran intellectual capital alternatif tersebut secara konsisten terhadap sampel yang besar dan terdiversifikasi menjadi terbatas (Firer and Williams, 2003 dalam Ulum 2007). Value added Intellectual Coefficient (VAIC), mengindikasikan kemampuan intelektual organisasi, yang dihitung dengan rumus :
VAIC = VACA + VAHU + STVA
5. Komponen Utama Value Added Intellectual Coefficient (VAIC)
Komponen utama dari VAIC yang dikembangkan Pulic tersebut dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu physical capital (VACA – Value Added Capital Employed), human capital (VAHU – Value Added Human Capital), dan structural capital (STVA – Structural Capital Value Added).
a. Value Added Capital Employed (VACA)
VACA adalah indikator untuk value added yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital terhadap value added perusahaan. VACA merupakan perbandingan antara value added (VA) dengan model fisik yang bekerja (CA). Dalam proses penciptaan nilai, intelektual potensial yang direpresentasikan dalam biaya karyawan tidak dihitung sebagai
biaya (input). Pulic mengasumsikan bahwa jika satu unit dari CA menghasilkan return yang lebih besar pada sebuah perusahaan, berarti perusahaan tersebut lebih baik dalam memanfaatkan CA (dana yang tersedia) (Ulum 2008). Value added Capital Employed , menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added organisasi, yang dihitung dengan rumus :
b. Value Added Human Capital (VAHU)
VAHU mengindikasikan berapa banyak value added (VA) dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja pegawai (Tan et al., 2007 dalam Ulum 2008). Human capital merepresentasikan kemampuan perusahaan dalam mengelola modal pengetahuan individu organisasi yang dipresentasikan oleh karyawannya sebagai aset strategic perusahaan karena pengetahuan yang mereka miliki. Hubungan antara VA dengan HC mengindikasikan HC untuk menciptakan nilai di dalam perusahaan. Berdasarkan konsep RBT, agar dapat bersaing perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Selain itu, perusahaan harus dapat mengelola sumber daya yang berkualitas tersebut dengan maksimal sehingga dapat menciptakan value added dan keunggulan kompetitif perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Value added Human Capital (VAHU), menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi, yang dihitung
24
dengan rumus :
c. Structural Capital Value Added (STVA)
Structural Capital Value Added (STVA) menunjukkan kontribusi modal struktural yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari value added perusahaan. Dalam model yang dikembangkan Pulic ini, STVA dihitung dengan membagi structural capital (SC) dengan value added (VA). Dalam model Pulic, SC diperoleh dari VA dikurangi dengan HC.
STVA menunjukkan kontribusi modal struktural dalam penciptaan nilai semakin kecil kontribusi HC dalam penciptaan nilai maka akan semakin besar kontribusi SC (Tan et al., 2007 dalam Ulum, 2008). Structural Capital Value Added (STVA), mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi keberhasilan SC dalam penciptaan nilai, yang dihitung dengan rumus :
2.1.6 Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dan mendukung pertumbuhan perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang (Hermawan dan Wahyuaji, 2013). Menurut Kasmir (2012:196) menyatakan bahwa rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan mencari keuntungan. Rasio profitabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau
seberapa efektif pengelolaan perusahaan oleh manajemen (Syahyunan, 2015:104).
Menurut Hery (2016:192) menyatakan bahwa rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya. Rasio-rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio profitabilitas yaitu Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Return on Assets (ROA)
Rasio ini digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan (Syahyunan, 2015:106).
Dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
2. Return on Equity (ROE)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan (Syahyunan, 2015:106).
Dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
2.1.7 Tujuan dan Manfaat Rasio Profitabilitas
Tujuan penggunaan profitabilitas bagi pihak intern maupun ekstern perusahaan menurut Kasmir (2011:197):
1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu.
2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun
26
sekarang.
3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sediri.
5. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan, baik modal pinjaman atau modal sendiri.
Sementara itu, manfaat yang diperoleh:
1. Untuk mengetahui besarnya laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu.
2. Untuk mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.
3. Untuk mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu.
4. Untuk mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.
5. Untuk mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan, baik modal pinjaman atau modal sendiri.
Profitabilitas keuangan perusahaan dapat terlihat pada laporan keuangan perusahaan yang dideskripsikan pada laporan labarugi. Berdasarkan hal tersebut perusahaan akan menjadikannya sebagai pertimbangan dalam pembuatan keputusan ekonomi.
2.1.8 Nilai Perusahaan
Meningkatkan nilai perusahaan adalah tujuan dari setiap perusahaan, karena semakin tinggi nilai perusahaan maka akan diikuti pula oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Nilai perusahaan yang tinggi dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, sehingga para pemegang saham akan
menginvestasikan modalnya kepada perusahaan tersebut (Tendi Haruman, 2007).
Nilai perusahaan memberikan gambaran kepada manajemen mengenai persepsi investor mengenai kinerja masa lalu dan prospek perusahaan dimasayang akan datang (Brigham dan Houston, 2003).
Sujoko dan Soebiantoro (2007) menjelaskan bahwa nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Nilai perusahaan berperan penting dalam memproyeksikan kinerja perusahaan sehingga dapat mempengaruhi investor dan calon investor terhadap suatu perusahaan (Mulianti, 2010 dalam Setiaji, 2011).
Nilai perusahaan pada dasarnya diukur dari beberapa aspek, salah satunya adalah harga pasar saham perusahaan, karena harga pasar saham perusahaan mencerminkan penilaian investor atas keseluruhan ekuitas yang dimiliki (Wahyudi dan Pawestri, 2006). Semakin tinggi harga saham, maka nilai perusahaan dan kemakmuran pemegang saham juga akan meningkat. Menurut Van Horne (dikutip Diyah dan Erman, 2009). “Value is represented by the maket price of the company’s common stock which in turn, is a function of firm’s investment, financing and dividend decision”.
Nilai perusahaan dapat direfleksikan melalui harga pasar dimana harga pasar merupakan barometer dari kinerja perusahaan. Rika dan Ishlahudin (2008), mendefinisikan nilai perusahaan sebagai nilai pasar. Alasannya karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran atau keuntungan bagi pemegang saham jika harga perusahaan meningkat.
Nilai pasar perusahaan ini merupakan nilai yang diberikan pada bursa
28
kepada manajemen dan perusahaan sebagai organisasi yang terus tumbuh (Brigham, 1999). Nilai perusahaan adalah nilai yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa, yang dihitung dengan rumus :
2.1.9 Produktivitas
Produktivitas mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan atau memanfaatkan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan pendapatan.Produktivitas terhadap aktivitas operasi perusahaan membutuhkan investasi, baik untuk aset yang bersifat jangka pendek (inventory and account receivable) maupun jangka panjang (property, plan, and equipment).
Produktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan Produktivitas dapat diukur dengan rasio aktivitas. Rasio aktivitas dapat diukur dengan total asset turnover.
Rasio perputaran asset atau aktiva (Asset Turnover /ATO) dihitung dengan membagi total pendapatan atau penjualan dengan total aset atau aktiva perusahaan. Rasio ini menggambarkan dana yang tertanam pada aktiva berputar dalam satu periode tertentu atau kemampuan modal yang ditanamkan dalam seluruh aktiva untuk menghasilkan pendapatan. Rasio ini berguna untuk menghitung nilai penjualan yang dihasilkan perusahaan dari setiap aset yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang memiliki margin keuntungan rendah biasanya memiliki rasio asset turnover tinggi, sementara yang margin
keuntungannya tinggi memiliki asset turnover rendah
.
Menurut Ambar dan Rosidah (2003) mengemukakan bahwa produktivitas adalah menyangkut masalah hasil akhir, yakni seberapa besar hasil akhir yang diperoleh di dalamproses produksi, dalam hal ini adalah efisiensi dan efektivitas.
Produktivitas dapat diukur dengan rasio aktivitas. Salah satu rasio aktivitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah rasio asset turnover ATO. ATO mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan di dalam menghasilkan penjualan dengan menggunakan aktiva yang dimiliki, yang dihitung dengan rumus :
2.2 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, terdapat persamaan dan perbedaan. Objek pada penelitian ini adalah Perusahaan Manufaktur yang ada di Indonesia. Terdapat beberapa peneliti yang menjadikan intellectual capital sebagai objek yang mereka teliti, diantaranya adalah:
1. Kuspinta dan Husaini (2018)
Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Intellektual Capital terhadap Profitabilitas pada Perusahan Manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2016”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Return on Assets (ROA) dengan Value Added Capital Employed (VACA), Value Added Human Capital (VAHU), Structural Capital Value Added (STVA) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2014-2016. Metode analisis yang digunakan ialah metode regresi
30
linier berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Value Added Capital Employed (VACA), Value Added Human Capital (VAHU), dan Structural Capital Value Added (STVA) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent (ROA), dan Variabel Physical Capital (VACA) adalah variabel paling dominan terhadap profitabilitas perusahaan.
2. Faza dan Hidayah (2014)
Penelitian ini meneliti tentang Pengaruh intellektual capital terhadap Profitabilitas, Produktivitas, dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perbankan tahun 2010-2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intellectual capital dengan Profitabilitas Return on Asset (ROA), Profitabilitas Return on Equity (ROE), Produktifitas, Nilai Perusahaan.
Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda.Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI pada tahun 2010-2012 dengan jumlah sampel yang sudah diuji sebanyak 27 perusahaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Terdapat pengaruh positif dan signifikan intellectual capital terhadap return on assets, intellectual capital berpengaruh positif terhadap return on equity, Tidak terdapat pengaruh positif intellectual capital terhadap asset turnover, dan Tidak terdapat pengaruh positif intellectual capital terhadap Tobin’s Q.
3. Suhendah (2012)
Penelitian ini meneliti tentang Pengaruh intellektual capital terhadap Profitabilitas, Produktivitas, dan Penilaian Pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intellectual capital dengan ukuran physical
capital, human capital, structural capital terhadap Profitabilitas return on asset (ROA), Produktivitas asset turnover (ATO), market valuation. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda.Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang Go Public di Indonesia tahun 2005-2007. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa intellectual capital berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (positif) dan produktivitas (negatif), namun tidak berpengaruh signifikan terhadap penilaian pasar, physical capital tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, produktivitas, dan penilaian pasar, human capital berpengaruh signifikan terhadap produktivitas, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas dan penilaian pasar, dan structural capital berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas dan produktivitas, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap penilaian pasar.
4. Masyithoh (2012)
Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Intellektual Capital terhadap Earning Per Share pada (EPS) Perusahan Manufaktur yang Terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2010”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Intellectual Capital (IC) dengan Earning Per Share (EPS) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-2010. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode studi dokumentasi. Sedangkan metode analisis yang digunakan ialah metode regresi sederhana. Penelitian ini juga menggunakan model Pulic sebagai ukuran efisiensi atas komponen IC; Value Added Capital Employed (VACA), Value Added Human Capital (VAHU), dan Structural Capital Value Added
32
(STVA) digunakan untuk menguji pengaruh Value Added Intellectual Capital (VAIC). Hasil penelitian masing-masing komponen IC menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap EPS. VAIC juga menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap EPS perusahaan di masa mendatang.
5. Candrasari (2013)
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris terhadap Perusahaan-Perusahaan Jakarta Islamic Index (JII), tahun 2007-2012)”. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Intelectual Capital terhadap keuangan perusahaan. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan go public yang termasuk dalam kelompok JII (Jakarta Islamic Index) periode 2007-2012. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intelectual capital berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Masing-masing komponen Intelectual Capital memberikan hasil pengaruh positif akan tetapi capital employed efficiency mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja keuangan perusahaan JII.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Penelitian/
Tahun
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Teknik Analisis
Data
Hasil Penelitian
1. Kuspinta dan Husaini (2018)
Intellektual Capital terhadap Profitabilitas pada Perusahan Manufaktur yang Terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-
Dependen:
Return On Assets (ROA)
Independen:
Intellektual Capital (VACA, VAHU, STVA)
1. Analisis Regresi linier berganda
1. Value Added Capital Employed (VACA), Value Added Human Capital (VAHU), dan Structural Capital Value Added (STVA) mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap variabel
Lanjutan Tabel 2.1
No Penelitian/
Tahun
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Teknik Analisis
Data
Hasil Penelitian
2016 2. 3. (ROA),
Variabel Physical capital (VACA) adalah variabel paling dominan terhadap profitabilitas perusahaan
2. Faza dan Hidayah (2014)
Pengaruh Intellektual Capital terhadap Profitabilitas, Produktivitas, dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Perbankan tahun 2010- 2012
Dependen:
1. Profitabilitas Return on Asset (ROA),
2. Profitabilitas Return on Equity (ROE),
3. Produktifitas, 4. Nilai Perusahaan
Independen:
Intellektual Capital
Analisis Regresi linier berganda
1. Terdapat pengaruh positif dan
signifikan
Intellectual Capital terhadap Return On Assets 2. Intellectual Capital
berpengaruh positif terhadap
Return On Equity 3. Tidak terdapat
pengaruh positif Intellectual capital terhadap Asset Turnover 4. Tidak terdapat
pengaruh positif Intellectual Capital terhadap Tobin’s Q.
3. Suhendah (2012)
Pengaruh Intellektual Capital terhadap Profitabilitas, Produktivitas, dan Penilaian Pasar pada Perusahaan
Dependen : 1. Profitabilitas
Return on Asset (ROA)
2. Produktivitas Asset Turnover (ATO)
3. Market valuation
4. Analisis Regresi Sederhan a
1. Intellectual Capital berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (positif) dan produktivitas (negatif), namun tidak berpengaruh