• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH SULAWESI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH SULAWESI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH SULAWESI MATSUI Kazuhisa

Tenaga Ahli JICA di Makassar

Penasihat Kebijakan Pembangunan Daerah Sulawesi Catatan:

Tulisan ini (asli dalam bahasa Inggris dengan judul “New Direction for Sulawesi Regional Development”) dibuat dalam rangka International Symposium “Enhancing Sulawesi Initiatives towards Local-based Partnership and Development”, 8-9 Oktober, 2009, Imperial Aryaduta Hotel, Makassar. Ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penulis sendiri.

1. SULAWESI SEBAGAI KESATUAN WILAYAH ?

Pulau Sulawesi sebagaimana digambarkan dalam peta memiliki bentuk yang unik seperti huruf ‘K’. Karena memang demikian kondisi geografisnya, selama ini Sulawesi tidak dianggap memiliki rasa kesatuan sendiri sebagai satu kesatuan wilayah. Bagian utara Sulawesi secara tradisional berhubungan dekat dengan Pilipina Selatan dan Maluku Utara. Bagian barat Sulawesi lebih berhubungan dengan Kalimantan Timur lewat Selat Makassar. Bagian timur Sulawesi berhubungan lama dengan kepulauan Maluku. Dan, bagian selatan Sulawesi memiliki hubungan ekonomi dan sosial dengan kepulauan Nusa Tenggara sampai bagian utara Australia. Maka, Sulawesi tidak dianggap sebagai kesatuan wilayah yang utuh dan tidak membagi nasib yang sama antara daerah-daerah di dalamnya.

Realisasi Jalan Trans-Sulawesi antara Makassar dan Manado pada tahun 1980-an itulah mulai mengubah imaj Sulawesi sampai saat itu, meskipun ciri khas keterpisahan di Sulawesi belum bisa berubah secara drastis. Perubahan itu dapat dilihat saat ini, misalnya, kentang dari daratan tinggi Desa Modoinding di Sulut cukup terkenal di pasar tradisional di Makassar, Sulsel. Ada berbagai jalur bis jarak jauh ditempuh lewat Jalan Trans-Sulawesi seperti Makassar-Manado, Makassar-Palu, Makassar-Poso, Toraja-Palu, dan lain-lainnya. Dengan perkembangan transportasi interaksi ini, Sulawesi makin mulai dianggap sebagai kesatuan wilayah.

Pada September 2000, empat pemprov di Sulawesi, yaitu Sulut, Sulteng, Sulsel dan Sultra (catatan:

saat ini enam pemprov termasuk Gorontalo dan Sulbar), menyatakan membentuk Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) untuk mendorong kerjasama antar daerah di Sulawesi. BKPRS merupakan instansi pertama di Indonesia yang bertujuan menjalin kerjasama antar daerah, disusul oleh upaya yang sama di Sumatera, Kalimantan dan Jawa-Bali. Namun, upaya kerjasama antar daerah di Sulawesi tidak begitu mudah direalisasikan karena masih muncul konflik kepentingan antara pemda dengan penerapan desentralisasi sejak tahun 2001 dan pilkada sejak tahun 2005 setelah Pilpres pertama pada tahun 2004.

Dengan keadaan ini, BKPRS juga belum bisa berfungsi baik seperti yang diharapkan pada tahun 2000.

Padahal, rasa kesatuan wilayah Sulawesi ingin dimanfaatkan oleh pemprov-pemprov Sulawesi secara strategis untuk memperkuat daya bargaining terhadap pemerintah pusat agar menerima alokasi dana dan perhatian yang lebih besar dalam urusan pembangunan daerah Sulawesi. Upaya kerjasama antar daerah terlihat umumnya di tingkat kabupaten/kota dalam bentuk studi banding antar daerah.

Dengan demikian, strategi pembangunan daerah Sulawesi sebagai kesatuan wilayah bisa mulai dipikirkan. Tulisan ini mencoba melihat upaya-upaya pembangunan saat ini dan membahas arah baru pembangunan daerah Sulawesi masa depan.

2. UPAYA-UPAYA PEMBANGUNAN SAAT INI DI SULAWESI 2.1. Sulawesi dalam konteks Kawasan Timur Indonesia (KTI)

Indonesia menggunakan istilah ‘Kawasan Timur Indonesia’ (KTI) sejak tahun 1993, di mana Dewan Pengembangan KTI didirikan untuk mendorong pembangunan daerah KTI yang tertinggal sebagai prioritas utama dalam strategi pembangunan nasional. KTI saat itu termasuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam konteks pembangunan KTI, Sulawesi diposisikan sebagai pintu gerbang dan penggerak utama yang memberikan dampak pembangunan positif terhadap daerah-daerah lain di KTI.

Sulawesi menjadi komponen penting untuk menyampaikan aspirasi KTI terhadap pemerintah pusat.

Namun demikian, istilah KTI tidak lagi begitu populer di dalam Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dibawah pemerintahan Presiden Yudhoyono kedua. Pemerintahan

baru mencoba menerapkan pendekatan pembangunan daerah berdasar pulau-pulau besar seperti Sumatera,

(2)

Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua, untuk menghindari dikotomi KTI-KBI dan nuansa politik di dalam istilah KTI. Dengan pendekatan baru ini, RPJMN membayangkan penyebaran dampak pembangunan dari Jawa-Bali ke Sulawesi, Sulawesi ke Maluku dan sampai ke Papua.

Sehingga konsep dasar yang menempatkan Sulawesi sebagai penggerak utama untuk daerah lain di KTI tidak berubah.

2.2. Sulawesi: Daerah Pertumbuhan Tertinggi di Indonesia

Sulawesi masih dianggap sebagai wilayah tertinggal dan miskin di Indonesia. Pendapatan regional dan indikator ekonomi lain Sulawesi memang lebih rendah daripada Jawa. Persentase Sulawesi dalam PDRB sekitar 4% dan ini hampir tetap sama sejak dulu. Namun, Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi di Indonesia selama sepuluh tahun ini.

Seperti di Tabel 1, dalam pertumbuhan PDRB rata-rata pada 1999-2003, Sulawesi bertumbuh 4,1%

per tahun dan ini lebih tinggi daripada Jawa (4,0%) dan Sumatera (3,0%). Pada 2003-2007, pertumbuhan Sulawesi rata-rata 6,4% per tahun dan ini jauh lebih tinggi dari Jawa (5,8%) dan Sumatera (4,2%). Di dalam Sulawesi, Sulteng dan Sultra terus menikmati pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata di atas 7% per tahun sejak 2004. Sulbar dan Gorontalo juga mencatat pertumbuhan diatas 7% pada 2007. Provinsi lain, Sulsel dan Sulut, juga diatas 6%, lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Sulawesi menikmati pertumbuhan tinggi secara keseluruhan, misalnya semua provinsi diatas 6% pada 2007. Tidak demikian di Jawa dan Sumatera.

Tabel 1: Persentase PDRB dan Pertumbuhan Rata-Rata PDRB (%) Persentase PDRB Pertumbuhan Rata-Rata 1999 2003 2007 1999-2003 2003-2007

KTI 17,7 16,4 16,8 3,5 4,0

KBI 82,3 83,6 83,2 3,7 5,3

Sulawesi 4,6 4,2 4,1 4,1 6,4

Kalimantan 9,5 8,9 9,1 3,0 3,5

Sumatera 22,4 22,4 23,0 3,0 4,2

Jawa 58,5 60,0 59,0 4,0 5,8

(Jakarta) 16,2 17,1 16,1 3,3 6,0

Sumber: Diolah dari Statistik PDRB Tahunan oleh BPS.

Catatan: KTI termasuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. KBI termasuk Sumatera dan Jawa-Bali.

Perekonomian regional yang dinamis saat ini di Sulawesi bias terlihat dari rasio kredit-pinjaman atau lending-deposit ratio (LDR) dalam sektor perbankan (Tabel 2). Pada akhir tahun 2008, LDR nasional adalah 0,73. Ini berarti kredit lebih kecil dibandingkan tabungan atau deposito, maka dana di perbankan belum dimanfaatkan secara optimal. Namun demikian, LDR di Sulawesi mencapai 1,12 dan ini berarti dana yang masuk ke Sulawesi lebih besar dibandingkan dana yang keluar dari Sulawesi. LDR di Sulawesi tetap lebih tinggi daripada rata-rata nasional pada 2004-2008. Terutama, LDR di Sulsel sudah diatas 1 sejak 2005, disusulkan oleh provinsi-provinsi lain di Sulawesi. Akhirnya, pada akhir tahun 2008, LDR semua provinsi di Sulawesi tercatat diatas 1. Seperti terlihat di PDRB, ini sangat berbeda dari Jawa dan Sumatera, di mana masih terlihat ketimpangan angka LDR antara provinsinya.

Tabel 2: Rasio Kredit-Tabungan / Lending-Deposit Ratio (LDR)

2004 2005 2006 2007 2008

Nasional 0,57 0,61 0,61 0,65 0,73

Sulawesi 0,89 0,98 0,95 1,02 1,12

Sumatera 0,70 0,74 0,68 0,76 0,85

Jawa-Bali 0,54 0,57 0,58 0,62 0,70

Kalimantan 0,74 0,72 0,66 0,75 0,82

Lainnya 0,47 0,47 0,39 0,47 0,58

Sumber: Diolah dari Laporan Statistik Bulanan Bank Indonesia.

2.3. Makassar dan Manado: Pusat Pertumbuhan

Sulawesi memiliki dua kota yang berperan penting untuk pembangunan daerah, yaitu Makassar dan Manado.

(3)

Makassar terletak di bagian barat-daya Sulawesi dan Manado di timur-lautnya. Fungsi kedua kota ini perlu ditingkatkan untuk mendukung proses pembangunan daerah di Sulawesi dan KTI.

Makassar, ibukota provinsi Sulsel, memiliki jumlah penduduk terbanyak (sekitar 1,2 juta orang) di Sulawesi, dan mendefinisikan diri sebagai pusat pelayanan pembangunan untuk Sulawesi dan KTI. Sejak zaman kolonial Belanda, Makassar sudah berperan ekonomis sebagai pusat perdagangan komoditi premier (termasuk kopra, teripang, sirip ikan hiu, dan rumpah-rumpah) dari Sulawesi dan KTI ke pasar internasional, dan sebagai pusat distribusi barang-barang industri dari Jawa dan luar negeri ke Sulawesi dan KTI. Saat ini Pemerintah menginginkan peranan Makassar jauh lebih ditingkatkan untuk mendorong pembangunan daerah di Sulawesi dan KTI. Dengan bantuan teknis dari Jepang lewat JICA, Pemerintah dan Pemprov Sulsel sedang menerapkan perencanaan wilayah perkotaan terpadu bersama Pemda Kabupaten/Kota terkait dengan nama Pembangunan Wilayah Maminasata, singkatan dari (Makassar + Maros + Sungguminasa + Takalar) didalamnya termasuk Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros dan Kabupaten Takalar. Dengan rencana ini, pengembangan sarana-prasarana kota seperti jalan, pelabuhan, bandar udara, penyediaan air bersih, dan pengelolaan sampah akan dilaksanakan dimana sebagiannya telah mulai berjalan.

Manado, ibukota provinsi Sulut, adalah kota berpenduduk terbanyak kedua (sekitar 410 ribu orang) setelah Makassar di Sulawesi. Manado secara geografis kota yang terdekat di Indonesia ke Japan dan disebut-sebut sebagai pintu gerbang ke Samudra Pacifik. Manado memiliki Bandar udara internasional Sam Ratulangi dengan penerbangan langsung ke Singapura dan Kuala Lumpur, serta dekat dengan pelabuhan Bitung yang telah memiliki status pelabuhan samudra seperti pelabuhan Makassar. Pada tahun 2009, Pemprov Sulut dan Pemkot Manado berhasil menyelenggarakan dua even besar internasional di Manado:

World Ocean Conference (WOC) pada Mei dan Sail Bunaken pada Agustus. Kedua even ini dimanfaatkan secara strategis sebagai kesempatan yang berharga untuk mendorong pengembangan sarana-prasarana dan promosi pariwisata terhadap dunia luar. Melalui pelaksanaan even internasional ini, Manado makin terkenal sebagai tujuan wisata selain Bali dalam dunia pariwisata internasional. Oleh karena itu Pemprov Sulut berkeinginan mewujudkan Kota Manado sebagai kota pariwisata internasional pada tahun 2010.

Makassar dan Manado memiliki ciri khas yang berbeda untuk menarik perhatian. Meskipun terlihat sentiment rivalitas antara kedua kota ini, namun lebih baik perbedaan ciri khas tersebut dimanfaatkan dengan saling menunjang untuk mendorong pembangunan daerah Sulawesi. Kemudian ada kecenderungan pertumbuhan PDRB di Sulawesi berpusat di ibukota-ibukota provinsi, terutama Makassar dan Manado.

2.4. Strategi Pembangunan Berbasis Komoditi

Aktivitas ekonomi utama di Sulawesi adalah pertanian. Produksi pertanian di Sulawesi memiliki dua aspek;

produksi pangan termasuk padi dan produksi komoditi berorientasi ekspor seperti kakao, kopi, dan rempah-rempah. Bagian produksi komoditi non-pangan di Sulawesi lebih besar daripada Jawa yang mana pertaniannya secara relatif lebih fokus ke pasar domestik. Misalnya, Sulsel telah lama menfokuskan ke kebijakan pengembangan pertanian berbasis komoditi sejak 1980an. Waktu itu, studi JICA mencoba membuat pemetaan komoditi dengan mengidentifikasi komoditi apa yang cocok. Berdasar pengalaman ini, Pemprov Sulsel menerapkan berbagai kebijakan pembangunan berbasis komoditi, seperti Kewilayahan Komoditas (Wilkom) untuk meningkatkan produksi komoditi pertanian. Sesudah Wilkom, pendekatan seperti ini dimodifikasi lagi dengan Gerakan Petik-Olah-Jual, dan saat ini Pemprov Sulsel melaksanakan Gerbang-emas (Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat) sejak tahun 2003, dengan memilih sekitar 10 komoditi dan hanya melakukan fasilitasi terhadap pelaku ekonomi untuk mendapat informasi pasar dan kredit/pinjaman dari perbankan.

Provinsi lain di Sulawesi juga saat ini mencoba menerapkan pendekatan yang sama. Pada tahun 2004, BKPRS dan UNIDO melakukan surveiconducted a survei tentang komoditi unggulan lokal dan membuat pemetaan komoditi Pulau Sulawesi. Hasil survei ini menjadi masukan penting untuk diskusi tentang rencana tata ruang berbasis komoditi dan mendorong suasana kerjasama antar provinsi dalam strategi pembangunan daerah Sulawesi. Semua gubernur sepakat membuat Corn Belt dan Cacao Belt di Sulawesi untuk meningkatkan produksi dengan sharing produksi antara provinsi di Sulawesi. Umumnya, kebutuhan dari pembeli luar lebih besar daripada kapasitas produksi dalam satu provinsi. Jagung yang diminta ke provinsi Gorontalo dapat dipenuhi jika, misalnya, provinsi Sulsel menyediakan jagungnya yang akan digabungkan dengan jagung hasil Gorontalo. Dengan demikian kerjasama antar wilayah di Sulawesi seperti ini adalah termasuk semacam pemasaran kolektif.

2.5. Keinginan Kontribusi dan Bargaining untuk Ekonomi Nasional

Pada waktu krisis moneter pada tahun 1997-1998, mata uang rupiah menurun drastis sampai ke 1 dollar AS

= 16.000 Rp (saat ini sekitar 9.600 Rp) dan terlihat dampak negatif yang serius terhadap ekonomi domestik

terutama sektor industri di Jawa yang sangat tergantung bahan baku impor, dan produksi pertanian yang

cukup rendah karena kemarau panjang yang luar biasa. Akan tetapi para petani komoditi di Sulawesi malah

(4)

menikmati kenaikan pendapatannya secara tiba-tiba dengan harga komoditi internasional yang tinggi. Tidak sedikit petani di Sulawesi menjadi kaya dan mereka mengharapkan krisis moneternya berlanjut terus pada waktu itu.

Pertanian di Sulawesi sektor komoditi yang berorientasi ekspor cakupannya lebih besar daripada Jawa.

Kemudian perbedaan karakter pertanian regional ini di Sulawesi dinilai dapat menurunkan dampak negatif krisis moneter terhadap perekonomian Indonesia. Oleh karena itu kita perlu belajar dari pengalaman ini terkait pemikiran strategi pembangunan di Indonesia. Artinya Sulawesi bisa saja memberi kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Dalam Musrenbang Regional Sulawesi di Makassar pada Mei 2009, enam pemprov di Sulawesi menyatakan bahwa Sulawesi ingin menjadi pusat produksi pangan nasional. Setiap pemprov menetapkan target produksi padi, jagung, dan komoditi pertanian lainnya untuk meningkatkan pangsa produksi Sulawesi di dalam produksi nasional. Strategi peningkatan produksi tersebut berdasarkan pada kesulitan perluasan lahan secara ekstensif di Jawa dan krisis pangan dunia yang dianggap terjadi masa akan datang. Sulawesi tidak mau lagi hanya minta perhatian khusus dari Pemerintah dengan memperlihatkan kelemahan dan kekurangan sebanyak mungkin, tetapi, saat ini, ingin memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional, meskipun tujuan utamanya tetap untuk meningkatan daya bargaining terhadap Pemerintah.

Taktik kolektif ini sebagai salah satu wujud kesatuan wilayah Sulawesi ternyata disambut baik oleh Pemerintah yang membuat RPJMN, termasuk pendekatan-pendekatan pulau besar oleh pemerintahan Yudhoyono kedua. Taktik ini baru terlihat di Sulawesi dan belum di wilayah besar lain di Indonesia.

3. BEBERAPA ISU PEMBANGUNAN WILAYAH SULAWESI 3.1. Dampak Desentralisasi dan Demokratisasi

Pelaksanaan desentralisasi sejak 2001 dan Pilkada sejak 2005 memberi dampak signifikan terhadap proses pembangunan di Indonesia termasuk Sulawesi.

Pertama, desentralisasi memberi peluang dan kesempatan terhadap Pemda untuk mengelola daerahnya sendiri dengan pelimpahan kewenangan dari Pusat ke Daerah. Namun, oleh karena kekurangan kemampuan Pemda, peningkatan beberapa pelayanan publik justru terlihat menurun. Pemerintah Pusat meminta Pemda memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM), tetapi Pemda kuatir permintaan ini terkait proses resentralisasi oleh Pemerintah Pusat. Disisi lain Lembaga Donatur memperhatikan kemampuan pengelolaan pengeluaran publik oleh Pemda.

Kedua, desentralisasi mengakibatkan hubungan yang kurang jelas antara Pemprov dan Pemda Kab/Kota dalam perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring-evaluasi dalam kebijakan pembangunan daerah.

Sebelum desentralisasi, cukup ada hubungan top-down atau bersifat komando dari Pusat ke Pemprov dan Pemda Kab/Kota dalam kebijakan pembangunan daerah. Saat ini, Provinsi mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai wakil Pusat dan sebagai daerah otonom. Sedangkan, Kab/Kota hanya berfungsi sebagai daerah otonom. Karena hubungan hierarkis antara provinsi dan kabupaten/kota tidak begitu jelas lagi dalam era desentralisasi, pemda kabupaten/kota saat ini kurang mengikuti lagi instruksi dari pemprov. Di sisi lain, kemampuan komunikasi dan koordinasi oleh pemprov belum cukup akomodatif terhadap aspirasi dari pemda kabupaten/kota. Saat ini, Pemerintah Pusat sedang membahas revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk memperkuat peranan gubernur sebagai wakil dari Pemerintah Pusat di provinsi dengan meninjau kembali pelaksanaan Pilkada dari pemilihan oleh rakyat ke oleh DPRD.

Ketiga, pelaksanaan Pilkada meningkatkan motivasi politis buat elit politik lokal untuk mendapat kekuasaan pengelolaan pemerintahan. Dalam sepuluh tahun ini setelah desentralisasi, jumlah provisi, kabupaten dan kota bertambah secara dramatis. Proses pemekaran daerah masih berjalan. Pemekaran daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan pemda yang berposisi lebih dekat dengan masyarakat. Namun, pemekaran daerah sering direkayasa oleh elit politik lokal untuk mendapat basis kekuasaannya. Di Sulawesi, banyak rencana dan wacana pemekaran daerah di tingkat provinsi (seperti Sulawesi Timur dimekarkan dari Sulteng, Buton Raya dari Sultra, Luwu Raya dari Sulsel, dan dua provinsi dari Sulut) dan tingkat kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan.

3.2. Ketimpangan Antar Daerah dan Dalam Daerah Sendiri.

Salah satu isu utama pembangunan di Indonesia adalah bagaimana memperkecil ketimpangan antar daerah antara Jawa dan luar Jawa, atau antara KBI dan KTI. Meskipun pertumbuhan PDRB Sulawesi lebih tinggi daripada daerah lain selama sepuluh tahun ini, persentase PDRB di KTI belum meningkat secara signifikan.

Pemerintah Pusat mengakui perlunya intervensi secara efektif untuk mendorong pembangunan daerah.

Pemerintah Pusat mengakui keperluan intervensi yang efektif untuk mendorong pembangunan KTI dengan

dukungan pengembangan sarana prasarana yang umumnya dianggap tidak efektif dan efisien secara

(5)

ekonomis. Langkah pertama untuk mengurangi ketimpangan oleh Pemerintah adalah peningkatan fungsi ibukota provinsi seperti Makassar dan Manado agar dampak positif disebar ke daerah lain.

Namun demikian, terlihat ketimpangan di dalam daerahnya sendiri. Misalnya, di Sulawesi, Sulsel dan Sulut dianggap lebih berkembang secara relatif daripada daerah lain. Di dalam Sulsel, bagian utara lebih berkembang dibandingkan bagian selatan secara relatif. Selain itu, pertumbuhan PDRB Makassar di Sulsel dan Manado di Sulut jauh lebih tinggi daripada kabupaten/kota lain di dalam provinsi masing-masing. Saat ini, pembangunan daerah Sulawesi bisa dikatakan didorong oleh pertumbuhan tinggi ibukota provinsi.

Berarti, ketimpangan antara kota dan non-kota makin besar. Dalam hal ini, kami perlu melihat adanya struktur ketimpangan yang beragam dari tingkat nasional sampai tingkat lokal.

3.3. Pengembangan Pertanian dan Industrialisasi

Sulawesi sedang fokus pada peningkatan produksi pangan dan komoditi ekspor dengan peningkatan produktivitas dan penggunaan bibit jenis baru. Misalnya, pemprov Sulsel menargetkan produksi surplus beras 2 juta ton, surplus jagung 1,5 juta ton, dan angka-angka target produksi komoditi lain. Surplus produksi ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menuju ekspor untuk meningkatkan pendapatan petani dengan memanfaatkan perbedaan harga antara pihak pembeli seperti Malaysia dan pasar domestik. Gubernur Sulsel sendiri menyatakan bahwa Malaysia dan Pilipina pernah meminta Sulsel untuk menyediakan beras, jagung, dan daging sapi untuk kebutuhannya.

Strategi peningkatan produksi komoditi pertanian rupanya efektif dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, ini perlu diubah menuju peningkatan mutu produknya. Misalnya, kakao dari Sulawesi diekspor ke pasar internasional umumnya sebagai kakao kelas dua dan mutunya belum bisa bersaing dengan negara-negara pengekspor kakao lain. Karena sudah ada bagian pasar internasional yang menyerap kakao yang bermutu rendah, petani atau produsen kakao di Sulawesi kurang berminat meningkatkan mutu kakao sebaik mungkin tanpa insentif harga antara kakao yang fermentasi dan yang non-fermentasi. Selain itu, petani menanam kakao bukan sebagai komoditi ekspor tetapi sebagai komoditi untuk menghindari resiko karena kakao menghasilkan uang secara rata dalam setahun. Oleh karena itu perlu usaha keras menciptakan kondisi di mana Sulawesi bisa mengekspor bukan hanya kakao yang bermutu rendah tetapi juga kakao yang bermutu tinggi yang diakui oleh pasar internasional. Komoditi lain juga memiliki kondisi yang sama dalam hal ini.

Selama ini di Sulawesi, pembangunan ekonomi secara historis rupanya berdasar dari perdagangan daripada industri pengolahan. Industri pengolahan yang berdasar SDA seperti meubel rotan pernah berkembang pada tahun 1980-an tetapi tidak berlanjut karena kebijakan pengembangan industri nasional akhirnya lebih menguntungkan Jawa, dan Sulawesi hanya menjadi penyedia bahan baku rotan ke Jawa.

Relokasi industri dari Jawa ke Sulawesi juga masih sulit karena biaya angkutan/transportasi cukup tinggi, biaya tenaga kerja di Sulawesi juga relatif lebih tinggi daripada Jawa, dan ketrampilan tenaga kerja di Sulawesi umumnya lebih rendah daripada Jawa. Jika Sulawesi menginginkan adanya relokasi industri dari Jawa, maka perlu membuat strategi industrialisasi dalam jangka panjang secara jelas.

3.4. Pertumbuhan Ekonomi dan Konservasi Lingkungan Hidup

Sulawesi merupakan suatu pulau yang sangat unik dengan berbagai jenis flora dan fauna yang endemik.

Sekitar 90 persen hewan mamalia yang hidup di Sulawesi adalah jenis endemik. Sulawesi berada di bagian tengah wilayah terkonsentrasi terumbu karang di seluruh dunia, sebagaimana terlihat dalam Coral Triangle Initiatives yang ditandatangani oleh wakil-wakil enam negara di Manado pada Mei 2009. Dalam konteks biodiversity, wilayah Sulawesi merupakan aset yang sangat penting untuk dunia. Namun, sayangnya, masyarakat di Sulawesi belum menyadari dan mengetahui hal tersebut.

Sulawesi umumnya cukup sibuk untuk meningkatkan pendapatan regional dengan pertumbuhan ekonomi sambil memanfaatkan SDA yang masih dianggap cukup kaya. Seperti dibahas sebelumnya, peningkatan produksi komoditi pertanian merupakan prioritas utama. Selain pertanian, pertambangan emas di berbagai lokasi di Sulawesi sering terlihat sejak sekitar sepuluh tahun lalu, khususnya sejak tahun 2007.

Ini memunculkan beberapa permasalahan seperti; pertambangan emas berbasis rakyat yang tidak tertib terus tersebar di mana-mana sampai ke Taman-Taman Nasional; kemungkinan terjadinya tekanan antara pendatang yang menggali tambang emas dan masyarakat lokal setempat; penggunaan merkuri dalam proses purifikasi dan dampak negatifnya terhadap lingkungan hidup sampai pada kesehatan tenaga kerja pertambangan. Masalah-masalah semcam ini sangat perlu ditangani secara tepat.

Namun demikian, jika dilihat dalam konteks pembangunan daerah yang berfokus pada peningkatan

pendapatan masyarakat, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi lingkungan hidup

tersebut menjadi dilema besar dalam pilihan-pilihan kebijakan buat Pemda di satu sisi, sedangkan di sisi lain

Sulawesi merupakan pulau yang sangat unik di dunia. Konservasi lingkungan hidup benar-benar menjadi

tantangan besar untuk pembangunan daerah di Sulawesi.

(6)

4. MENUJU ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH SULAWESI

Strategi pembangunan daerah mempunyai kecenderungan terfokus hanya selama lima tahun sesuai dengan RPJMD yang dibuat setelah Pilkada. Umumnya, fokus kebijakan berubah setelah kepala daerah yang lain terpilih. Kurangnya perspektif jangka panjang sangat menguatirkan dan sulit menjamin sustainabilitas serta konsistensi dalam strategi pembangunan daerah. Dengan mengingatkan berbagai keanekaragaman dan spesialitas yang dimiliki oleh kondisi alam Sulawesi, maka strategi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) jangka panjang, melalui pemanfaatan SDA yang tepat, harus ditempatkan sebagai prinsip inti.

Meskipun Sulawesi tidak memiliki sentimen wilayah kesatuan secara historis sejak dulu, upaya kerjasama antar daerah saat ini memberikan tanda awal menuju pembentukan strategi pembangunan daerah terpadu se-Sulawesi. Fungsi BKPRS perlu dioptimalkani secara efektif dan dimanfaatkan untuk mewujudkan strategi pembangunan daerah yang harmonis dan terpadu. Dinamika pembangunan yang berdasar dari hubungan ekonomi tradisional seperti antara bagian barat Sulawesi dan Kalimantan, atau antara bagian utara Sulawesi dan Pilipina Selatan, perlu dimanfaatkan secara efektif dan didorong tanpa pemaksaan kebijakan mengada-ada oleh pemerintah.

Sasaran kebijakan saat ini, yaitu peningkatan produksi pertanian, perlu disambung dan diarahkan ke peningkatan nilai tambah dengan industrialisasi dalam langkah berikutnya. Proses ini mungkin mulai dari pengolahan sederhana di tingkat petani, seperti dari pisang ke kripik pisang. Untuk menyebarkan upaya memulai industrialisasi yang sederhana ini, kesempatan belajar dan latihan cara pengolahan komoditi perlu diperbanyak di tingkat petani. Pusat pelatihan yang sudah ada bisa dimanfaatkan bukan hanya sebagai pusat pelatihan saja, tetapi juga sebagai pusat pelatihan pelatih atau training of trainer (ToT) center agar pusat pelatihan serupa yang baru dapat didirikan dan dikelola secara tersendiri oleh pelatihnya. Sulawesi membutuhkan banyak pusat pelatihan skala kecil seperti ini, yang mana mudah disentuh oleh para petani, dan informasi pelatihan tersebut perlu disebarkan kemana-mana. Bersama ini, Sulawesi sebaiknya mulai berpikir bagaimana merelokasi industri bukan hanya dari Jawa saja tetapi mungkin juga dari negara-negara ASEAN. Industri resource-based akan kompetitif dalam tingkatan pertama, namun pada industri pengolahan lain juga memiliki potensi besar karena Sulawesi mempunyai Selat Makassar sebagai jalur laut internasional dan berada di posisi terdekat Samudra Pasifik.

Pendekatan ToT perlu menjadi pendekatan kunci dalam semua aspek pembangunan daerah Sulawesi.

Pengembangan SDM dan kapasitas di sektor pemerintah dan sektor swasta sebaiknya perlu memperhatikan menciptakan lebih banyak pelatih dan mengantarkan proses otonom pengembangan SDM dan kapasitas secara berkelanjutan. Sulawesi membutuhkan banyak pelatih dan banyak kesempatan pelatihan. Bantuan luar negeri dapat dimanfaatkan hanya di tingkat pertama untuk membuat pelatih-pelatih memiliki kapasitas bermutu. Pelatih tersebut nantinya harus menciptakan pelatih yang baik lagi pada langkah berikutnya, tanpa bantuan dari luar. Proses tanpa henti ini perlu disebar dan disadari di dalam pembangunan Sulawesi. Sebagai contoh, saat ini JICA sedang melaksanakan Sulawesi Capacity Development Project berdasar dari pendekatan ToT ini. Dan donatur lain juga melakukan hal sama atas nama pengembangan kapasitas.

Sulawesi bisa memanfaatkan kondisi khusus seperti ini dibandingkan wilayah lain di Indonesia, dan ini diharapkan akan mengubah konsep pengembangan SDM dan pengembangan kapasitas di masa akan datang.

Sulawesi juga merupakan salah satu pusat biodiversity yang terpenting di dunia dengan keanakaragaman flora dan fauna yang endemik dan unik. Sulawesi diperhatikan secara internasional sebagai pulau yang sangat khusus, bisa dikatakan sebagai asset penting dunia untuk generasi masa akan datang.

Oleh karena itu, dari beberapa konteks tersebut Sulawesi mempunyai hak sendiri untuk berinisiatif menciptakan “model pembangunan baru” yang berbeda dari model konvensional yang dipercaya sampai saat ini dengan perhatian koeksistensi dan sinergi antara pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan yang benar. Ini hanya salah satu contoh peranan Sulawesi untuk masa depan. Saat inilah Sulawesi memberikan kontribusi yang positif untuk ekonomi nasional Indonesia, negara-negara lain dan bahkan dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Matsui, Kazuhisa (2007), Regional Development Policy and Direct Local-Head Election in Democratizing East Indonesia, ASEDP No. 76, Institute of Development Economies, Japan.

Matsui, Kazuhisa (2005), “Post-decentralization Regional Economies and Actors: Putting the Capacity of

Local Governments to the Test”, The Developing Economies, XLIII (1), Institute of Development

Economies, Japan.

Gambar

Tabel 1: Persentase PDRB dan Pertumbuhan Rata-Rata PDRB (%)  Persentase PDRB  Pertumbuhan Rata-Rata  1999  2003  2007  1999-2003  2003-2007  KTI  17,7  16,4  16,8  3,5  4,0  KBI  82,3  83,6  83,2  3,7  5,3  Sulawesi  4,6  4,2  4,1  4,1  6,4  Kalimantan  9,

Referensi

Dokumen terkait

Dipilih jika anda sangat tidak setuju dengan pernyataan yang ada dalam angket/pernyataan yang ada dalam angket sangat tidak di setjui oleh anda... NO Peryataan

bahwa untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a, telah diterbitkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 63 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Tata

Struktur organisasi perangkat kerja daerah yang menangani kegaiatn bidang cipta karya sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.Tugas serta fungsi

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan hasil belajar mahasiswa pada perkuliahan mata kuliah

21.3 Apabila pekerjaan dalam perintah perubahan harga satuannya terdapat dalam daftar kuantitas dan harga, dan apabila menurut pendapat direksi pekerjaan bahwa

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu: kualitas layanan (X) terhadap keputusan konsumen (Y) serta

dapat disimpulkan: Perlakuan jenis pupuk organik (K) berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman umur 4 minggu dan 8 minggu setelah tanam, umur tanaman saat

Faktor – faktor yang mempengaruhi kemenangan Joko Widodo – Jusuf Kalla pada pemilu presiden tahun 2014 di Kecamatan Pondok Melati inilah yang menjadi objek