ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH SULAWESI MATSUI Kazuhisa
Tenaga Ahli JICA di Makassar
Penasihat Kebijakan Pembangunan Daerah Sulawesi
Catatan:
Tulisan ini (asli dalam bahasa Inggris dengan judul “New Direction for Sulawesi Regional Development”) dibuat dalam rangka
International Symposium “Enhancing Sulawesi Initiatives towards Local-based Partnership and Development”, 8-9 Oktober, 2009,
Imperial Aryaduta Hotel, Makassar. Ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penulis sendiri.
1. SULAWESI SEBAGAI KESATUAN WILAYAH ?
Pulau Sulawesi sebagaimana digambarkan dalam peta memiliki bentuk yang unik seperti huruf ‘K’. Karena memang demikian kondisi geografisnya, selama ini Sulawesi tidak dianggap memiliki rasa kesatuan sendiri sebagai satu kesatuan wilayah. Bagian utara Sulawesi secara tradisional berhubungan dekat dengan Pilipina Selatan dan Maluku Utara. Bagian barat Sulawesi lebih berhubungan dengan Kalimantan Timur lewat Selat Makassar. Bagian timur Sulawesi berhubungan lama dengan kepulauan Maluku. Dan, bagian selatan Sulawesi memiliki hubungan ekonomi dan sosial dengan kepulauan Nusa Tenggara sampai bagian utara Australia. Maka, Sulawesi tidak dianggap sebagai kesatuan wilayah yang utuh dan tidak membagi nasib yang sama antara daerah-daerah di dalamnya.
Realisasi Jalan Trans-Sulawesi antara Makassar dan Manado pada tahun 1980-an itulah mulai mengubah imaj Sulawesi sampai saat itu, meskipun ciri khas keterpisahan di Sulawesi belum bisa berubah secara drastis. Perubahan itu dapat dilihat saat ini, misalnya, kentang dari daratan tinggi Desa Modoinding di Sulut cukup terkenal di pasar tradisional di Makassar, Sulsel. Ada berbagai jalur bis jarak jauh ditempuh lewat Jalan Trans-Sulawesi seperti Makassar-Manado, Makassar-Palu, Makassar-Poso, Toraja-Palu, dan lain-lainnya. Dengan perkembangan transportasi interaksi ini, Sulawesi makin mulai dianggap sebagai kesatuan wilayah.
Pada September 2000, empat pemprov di Sulawesi, yaitu Sulut, Sulteng, Sulsel dan Sultra (catatan:
saat ini enam pemprov termasuk Gorontalo dan Sulbar), menyatakan membentuk Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) untuk mendorong kerjasama antar daerah di Sulawesi. BKPRS merupakan instansi pertama di Indonesia yang bertujuan menjalin kerjasama antar daerah, disusul oleh upaya yang sama di Sumatera, Kalimantan dan Jawa-Bali. Namun, upaya kerjasama antar daerah di Sulawesi tidak begitu mudah direalisasikan karena masih muncul konflik kepentingan antara pemda dengan penerapan desentralisasi sejak tahun 2001 dan pilkada sejak tahun 2005 setelah Pilpres pertama pada tahun 2004.
Dengan keadaan ini, BKPRS juga belum bisa berfungsi baik seperti yang diharapkan pada tahun 2000.
Padahal, rasa kesatuan wilayah Sulawesi ingin dimanfaatkan oleh pemprov-pemprov Sulawesi secara strategis untuk memperkuat daya bargaining terhadap pemerintah pusat agar menerima alokasi dana dan perhatian yang lebih besar dalam urusan pembangunan daerah Sulawesi. Upaya kerjasama antar daerah terlihat umumnya di tingkat kabupaten/kota dalam bentuk studi banding antar daerah.
Dengan demikian, strategi pembangunan daerah Sulawesi sebagai kesatuan wilayah bisa mulai dipikirkan. Tulisan ini mencoba melihat upaya-upaya pembangunan saat ini dan membahas arah baru pembangunan daerah Sulawesi masa depan.
2. UPAYA-UPAYA PEMBANGUNAN SAAT INI DI SULAWESI 2.1. Sulawesi dalam konteks Kawasan Timur Indonesia (KTI)
Indonesia menggunakan istilah ‘Kawasan Timur Indonesia’ (KTI) sejak tahun 1993, di mana Dewan Pengembangan KTI didirikan untuk mendorong pembangunan daerah KTI yang tertinggal sebagai prioritas utama dalam strategi pembangunan nasional. KTI saat itu termasuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Dalam konteks pembangunan KTI, Sulawesi diposisikan sebagai pintu gerbang dan penggerak utama yang memberikan dampak pembangunan positif terhadap daerah-daerah lain di KTI.
Sulawesi menjadi komponen penting untuk menyampaikan aspirasi KTI terhadap pemerintah pusat.
Namun demikian, istilah KTI tidak lagi begitu populer di dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dibawah pemerintahan Presiden Yudhoyono kedua. Pemerintahan
baru mencoba menerapkan pendekatan pembangunan daerah berdasar pulau-pulau besar seperti Sumatera,