BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Lingkungan Kerja
2.1.1 Pengertian Lingkungan Kerja
Menurut Sutrisno (2016) dalam (Indiyati et al., 2018) “Lingkungan kerja adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang ada di sekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan”.
“Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan” menurut Nitisemito, 2000:183 dalam (Handayani, 2015).
Menurut Sedarmawati dalam (Handayani, 2015)mendefinisikan lingkungan kerja sebagai berikut, lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai kelompok maupun perseorangan.
“Lingkungan kerja berkaitan dengan segala sesuatu yang berada di tempat kerja. Lingkungan kerja adalah segala kondisi yang berada di sekitar karyawan yang dihubungkan dengan terjadinya perubahan psikologis dalam diri karyawan yang bersangkutan” menurut Nitisemito. 2000; Schultz. 2006 dalam (Hamid, 2014).
Sedangkan menurut (Hamid, 2014) “ lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang berada di sekitar karyawan dan dapat mempengaruhi karyawan dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan”.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat di pahami bahwa, lingkungan kerja adalah segala suatu keadaan fisik maupun non fisik yang dapat mempengaruhi pegawai saat menjalankantugasnya.
2.1.2Jenis Lingkungan Kerja
Menurut (Prihantoro, 2015) menyatakan bahwa lingkungan kerja dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Lingkungan kerja Internal
Lingkungan kerja internal pada dasarnya merupakan faktor yang turut mempengaruhi tugas yang di bebankan pada karyawan secara langsung atau segala sesuatu yang berada di lingkungan karyawan yang turut serta mempengaruhi keberhasilan suatu pekerjaan
2. Lingkungan Kerja Eksternal
Lingkungan kerja eksternal adalah menurut Wursanto segala sesuatu yang ada di sekitar para karyawan yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Jadi lingkungan kerja eksternal merupakan lingkungan secara tidak langsung dapat mempengaruhi semangat dan gairah kerja karyawan.
2.1.3 Lingkungan Kerja Fisik dan Non Fisik 1. Pengertian dari lingkungan kerja fisik
Menurut Sedarmayanti dalam (Hamid, 2014) yaitu semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja dimana dapat mempengaruhi karyawan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik sendiri dapat dibagi dalam dua kategori yaitu:
a. Kategori yang pertama
Lingkungan yang berhubungan langsung dengan karyawan dan berada di dekat karyawan(seperti meja,kursi dan sebagainya).
b. Kategori yang kedua
Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya: temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau tidak sedap, warna, dan lain-lain.
Menurut Gie dalam (Hamid, 2014)lingkungan kerja fisik merupakan sekumpulan faktor fisik dan merupakan suatu suasana fisik yang ada di suatu tempat kerja. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja fisik adalah kondisi fisik yang ada di sekitar yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
2. Lingkungan Kerja Non Fisik
Menurut Sedarmayanti dalam (Hamid, 2014)“Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan denganhubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan” Pendapat lain muncul mengenai lingkungan kerja non fisik dan serupa dengan pendapat Sedarmayanti di atas yaitu diungkapkan oleh Nitisemito dalam (Hamid, 2014), perusahaan hendaknya mencerminkan kondisi yang mendukung kerjasama antara tingkat atasan, bawahan maupun yang memiliki jabatan yang sama di perusahaan. Dari beberapa pendapat di atas dapatdisimpulkan bahwa lingkungan
kerja non fisik adalah kondisi yang berkaitan dengan hubungan karyawan yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
2.1.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Menurut (Handayani, 2015)Manusia mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik, sehingga dicapai suatu hasil yang optimal, apabila diantaranya ditunjang oleh suatu kondisi lingkungan yang sesuai. Suatu kondisi lingkungan dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.
Berikut ini beberapa faktor yang diuraikan Sedarmawati dalam (Handayani, 2015) yang dapat mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja dikaitkan dengan kemampuan karyawan, diantaranya adalah:
1. Penerangan/cahaya di tempat kerja 2. Temperatur/suhu udara di tempat kerja 3. Kelembaban di tempat kerja
4. Sirkulasi udara di tempat kerja 5. Kebisingan di tempat kerja 6. Bau tidak sedap ditempat Kerja 7. Tata warna di tempat kerja 8. Dekorasi di tempat kerja 9. Musik di tempat kerja 10. Keamanan di tempat kerja
Lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman memiliki berbagai manfaat bagi karyawan dan perusahaan.
Menurut Hamid, 2014 mengemukakan bahwa manfaat lingkungan kerja yang aman dan sehat adalah sebagai berikut :
1. Meningkatnya produktivitas karena menurunnya jumlah hari yang hilang. 2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih berkomitmen 3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi
4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.
5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikan.
6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena naiknya citra perusahaan.
Upaya-upaya perlu dilakukan oleh manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan membuat para karyawan merasa nyaman karena lingkungan kerja sangatmempengaruhi baik atau tidaknya kinerja karyawan. Lingkungan kerja yang baik akan mendukung karyawan untuk memiliki kinerja yang positif sedangkan lingkungan kerja yang buruk akan mendukung karyawan untuk memiliki kinerja yang negatif.
2.1.6 Faktor Lingkungan Kerja
Dalam undang-undang perkantoran, The Office Act dalam (Laksmi, 2015)terdapat peraturan yang mengatur lingkungan fisik. Syarat-syarat tersebut adalah :
1. Kebersihan selain kebersihan gedung, juga terkait dengan kebersihan perlengkapan dan perabotan kantor
2. Luas ruangan sebaiknya diperuntukkan untuk sejumlah pekerja, dengan standar bahwa 1 pekerja memiliki luas ruangan 3,7m
3. Suhu Udarayang nyaman umumnya adalah 25 derajat celcius dengan kelembaban udara 45%
4. Ventilasi diatur secara sistematis untuk menjaga sirkulasi udara agar ketersediaan oksigen tetap mencukupi untuk semua orang dalam suatu ruangan.
5. Penerangan, baik yang berasal dari cahaya matahari maupun lampu, sebaiknya tidak terlalu gelap atau terang. Cahaya diatur agar tiba di atas meja pekerja dari kiri. 6. Fasilitas kesehatan mancakup kebersihan kamar kecil
7. Penyediaan air minum, dispenser sebaiknya disediakan disetiap ruang kerja dan kelayakan serta ketersediaan air di dalamnya dipantau setiap saat oleh petugas khusus
8. Tempat pakaian untuk menggantung pakaian yang basah disediakan untuk menjaga kesehatan pekerja dan kerapihan ruang
9. Lantai, gang dan tangga dilengkapi dengan pegangan tangan dan diusahakan untuk tidak licin
10. Mesin berbahaya harus diberi pelindung
11. Kotak P3K disediakan di setiap ruang dan bila perlu dilengkapi dengan petugas terlatih
12. Perlindungan dari bahaya kebakaran adalah alat pemadam kebakaran, pintu darurat, alarm dan pelatihan dalam menghadapi bahaya tersebut.
2.2 Tata Ruang Kantor
2.2.1 Pengertian Tata Ruang Kantor
Menurut (Quible, Priansa dan Garnida , 2013) dalam (Rasyid, 2018)“Tata ruang kantor menjelaskan bagaimana penggunaan ruang secara efektif serta mampu memberikan kepuasaan kepada pegawai terhadap pekerjaan yang dilakukan, maupun memberikan kesan yang mendalam bagi pegawai”.
Menurut Laksmi, 2015 dalam (Rasyid, 2018) Tata ruang kantor adalah suatu penyusunan perabotan dan perlengkapan pada luas lantai yang tersedia; atau bisa juga diartikan sebagai penentuan kebutuhan ruang dan penggunaan secara rinci dari suatu ruang untuk menyiapkan suatu susunan praktis faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja perkantoran dengan biaya yang layak.
Menurut Nuraida, 2008 dalam (Rasyid, 2018)“Tata ruang kantor adalah pengaturan ruangan kantor serta penyusunan alat-alat dan perabotan kantor pada luas lantai dan ruangan kantor yang tersedia untuk memberikan sarana bagi pekerja”.
Menurut George Terry dalam (Isnaeni et al., 2018)mengutarakan bahwa “Tata ruang kantor adalah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan ruang dan tentang penggunaan secara terperinci dari ruang ini untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis dari faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan
Menurut G.R. Terry dalam (Hadi Pancorowati, 2017) “kantor adalah orang- orang. Pernyataan ini mengandung pengertian bahwa suatu kenyataan bahwa pekerjaan kantor itu dilaksanakan oleh orang-orang, dan untuk kepentingan orang-orang”.
Wajah kantor sangat ditentukan oleh aktivitas orang-orangyang ada di dalam kantor (dalam Wursanto, 2007:95) dalam (Hadi Pancorowati , 2017).
2.2.2 Tujuan Tata Ruang Kantor
Ada tujuh tujuan tata ruang kantor menurut (Gie, 2007) dalam (Rasyid, 2018)menyusun ruangan untuk kerja perkantoran, ada beberapa tujuan yang perlu dicapai, baik secara fungsional yang berhubungan dengan pekerjaan langsung, maupun nonfungsional seperti keindahan atau citra professional. Secara rinci tujuan dari tata ruang antara lain:
1. Memperlancar pekerjaan kantor sehingga menjadi lebih dekat. 2. Menggunakan seluruh ruangan yang ada dengan optimal. 3. Menciptakan kondisi kerja yang baik.
4. Memudahkan pengawasan terhadap pekerjaan kantor.
5. Membangun kesan yang baik bagi pelanggan (meningkatkan estetika). 6. Membangun fleksibilitas yang tinggi.
7. Menjaga keseimbangan antara alat dan karyawan.
2.2.3 Prinsip-Prinsip Tata Ruang Kantor
Menurut Maryati, 2014 dalam (Rasyid, 2018) agar tujuan tercapai maka penataan ruang kantor harus memperhatikan prinsip- prinsip berikut:
1. Pekerjaan harus mengalir secara terus menerus.
2. Fungsi yang sama atau berhubungan diletakkan berdekatan. 3. Pengaturan perkakas membuat pengawasan lebih mudah. 4. Tidak permanen, agar fleksibel jika terjadi perubahan. 5. Ada ruang yang cukup untuk bergerak atau berjalan
6. Pekerjaan yang menimbulkan suara gaduh, misalnya bagian produksi dijauhkan dari yang lainnya.
7. Ruang pimpinan dipilih yang tenang karena lebih banyak membutuhkan konsentrasi dalam bekerja.
8. Pengaturan tata letak membuat jarak tempuh lebih pendek sehingga menghemat tenaga.
2.2.4 Asas-Asas Tata Ruang Ruang Kantor
Menurut Chrisyanti, 2011 dalam (Rasyid, 2018) terdapat kurang lebih empat asas pokok tata ruang kantor yang baik:
1. Asas jarak pendek
Suatu tata letak ruang kantor yang terbaik dimana memungkinkan proses penyelesaian suatu pekerjaan dapat dilakukan sependek-pendeknya atau dengan waktu yang efektif.
2. Asas rangkaian kerja
Penempatan para karyawan dan alat-alat kantor yang diurut rangkaiannya agar sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaan.
3. Asas penggunaan segenap ruangan
Asas dimana suatu tata ruang kantor mempergunakan sepenuhnya ruang kantor termasuk di dalamnya secara vertikal ke atas dan ke bawah.
Perubahan susunan ruangan tata kerja dapat dilakukan apabila tata letak suatu ruang kerja diharuskan untuk berubah karena alasan alasan 3 hal di atas.
2.2.5 Jenis-Jenis Tata Ruang Kantor
Menurut Haryadi, 2009 dalam (Rasyid, 2018) secara garis besar, tata ruang kantor dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu ruang kantor terbuka dan ruang kantor tertutup.
1. Ruang kantor terbuka (Open Plan Offices)
Semua aktivitas dilaksanakan bersama-sama oleh beberapa pegawai dalam satu ruangan besar yang terbuka dan tidak dipisahkan oleh tembok atau penyekat yang terbuat dari kayu. Keuntungannya ruang kantor terbuka sebagai berikut :
a. Memudahkan perubahan layout ruangan tanpa perlu biaya yang tinggi. b. Memudahkan komunikasi dan koordinasi kerja antarpegawai tetap baik. c. Menghemat penggunaan penerangan dan peralatan kerja.
d. Memudahkan penempatan, penggunaan, dan perawatn peralatan kerja. e. Memudahkan pengawasan.
Kerugian ruang kantor terbuka sebagai berikut. a. Sulit melakukan pekerjaan yang bersifat rahasia.
b. Memerlukan air conditioning untuk mengurangi debu dan memerlukan air cleaner untuk mengurangi bau.
c. Memungkinkan terjadinya kebisingan yang mengganggu konsentrasi kerja. 2. Ruang kantor tertutup (Closed Plan Offices)
Ruang bekerja dipisahkan dalam kamar-kamar atau ruangan dipisahkan oleh tembok atau penyekat yang terbuat dari kayu. Keuntungan ruang kantor tertutup sebagai berikut :
a. Cocok untuk pekerjaan yang harus terjamin kepentingan,kerahasiaan, dankeamanannya, baik dari segi pembicaraan, dokumen-dokumen, maupun asset perusahaan yang berharga.
b. Konsentrasi terhadap pekerjaan dapat lebih mudah. c. Lebih menghargai tamu yang datang.
Kerugiannya sebagai berikut.
a. Membutuhkan biaya yang lebih besar untuk memisahkan ruangan, lebih banyak alat komunikasi (seperti telepon dan e-mail), penerangan, ventilasi, peralatan kantor, dan pemeliharaannya.
b. Mempersulit perubahan lay out kantor atau fleksibilitas ruangan kurang.
c. Komunikasi dan koordinasi lebih sulit jika tidak ditunjang oleh alat komunikasi yang memadai.
d. Mempersulit pengawasan.
2.2.6 Lingkup Ruang Kantor
Menurut (Nuraida, 2015:164) apabila ditinjau dari ruang kantor maka tata ruang kantor dapat dibagi sebagai berikut:
1. Tata ruang pribadi (Private office)
Tata ruang pribadi digunakan untuk berbagai alas an, seperti prestise dan status. Misalnya, ruang bagi atasan. Selain itu, pegawai juga memerlukan private office
apabila membutuhkan suasana ruangan yang tenang untuk berkonsentrasi dalam pekerjaannya, atau pegawai yang bekerja dengan menggunakan alat-alat atau material yang mahal memerlukan ruangan tersendiri.
2. Tata ruang antar bagian a. General office area
1) Biaya membuat private area dianggap lebih mahal
2) Dibutuhkan kemudahan dalam pengawasan langsung terhadap bawahan 3) Suatu saat dimungkinkan adanya perubahan lay out
4) Tidak ingin disulitkan oleh peraturan penerangan sirkulasi udara , alat komunikasi , mebel , furniture, dan lain-lain
5) Keterkaitan pekerjaan pelayanan dengan administrasi tinggi, seperti ruangan untuk para staff tata usaha
6) Diperlukan azas kebersamaan yang cukup tinggi dan perlu kemudahan dalam bottom up decision making.
b. Private office area
Misalnya ruang rapat atau ruang, ruang tamu , ruang pelatihan. c. Service area
Biasanya merupakan tempat yang kotor atau berisik. Misalnya ruang dapur, cafe, ruang fotokopi, ruang percetakan , dan toilet.
d. Storage area
Digunakan untuk menyimpan barang. Misalnya ruang penyimpanan bahan mentah, barang setengah jadi dan barang jadi serta ruang arsip.
2.2.7. Teknik Tata Letak Kantor
Menurut(Zulkarnain, 2015:161) Langkah awal dalam menata kantor adalah perlu diketahui hubungan unit yang melaksanakan tata usaha itu dengan unit-unit lainnya dan memperhatikan sifat pekerjaan. Hal ini perlu diperhatikan dalam menentukan letak dan susunan yang tepat bagi unit tersebut. Berikut adalah pedoman dalam menentukan letak. 1. Unit kerja yang bersifat gaduh hendaknya dijauhkan dari unit yang lain
2. Unit-unit yang pekerjaannya berhubungan erat dikelompokkan di satu tempat
3. Unit pusat yang mengerjakan semua kerja ketatausahaan dari organisasi tersebut diberi tempat di tengah sehingga unit-unit lainnya dapat mudah menghubungi
4. Unit-unit yang tugas pekerjaannya khusus melayani public hendaknya diletakkan di tempat yang mudah didatangi oleh publik.
2.2.8. Faktor Bangunan Gedung Kantor
Menurut (Sutha, 2018:5) Faktor yang harus diperhatikan pada bangunan gedung kantor yaitu:
1. Syarat Adminitrasif
Persyaratan administratif meliputi, pertama status hak atas tanah, dan atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah, kedua, status kepemilikan bangunan gedung, dan yang ketiga, izin mendirikan bangunan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Disain arsitektur (aspek Kesehtan dan Keselamatan kerja diperhatikan mulai dari tahap perencanaan). Seleksi material, misalnya tidak menggunakan bahan yang membahayakan seperti asbes dll. Seleksi dekorasi disesuaikan dengan asas tujuannya misalnya penggunaan warna yang disesuaikan dengan kebutuhan. Tanda khusus dengan pewarnaan kontras/kode khusus untuk objek penting seperti perlengkapan alat pemadam kebakaran, tangga, pintu darurat dll. (peta petunjuk pada setiap ruangan/unit kerja/tempat yang strategis misalnya lift, lampu darurat menuju exit door, dll).
3. Kesehatan
Untuk menjaga kesehatan para pekerja kantor, gedung kantor harus memenuhi syarat-syarat sebagai kantor yang sehat. Kantor yang sehat harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a. Memiliki kualitas udara yang baik
b. Memiliki kualitas pencahayaan yang baik c. Sistem sanitasi yang baik
d. Kebersihan terjaga 4. Keamanan
Faktor keamanan adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam pembangunan gedung kantor. Dengan adanya kepastian keamanan pada gedung kantor maka pekerja akan lebih merasa aman, nyaman dan tenang ketika bekerja. Dengan rasa aman tersebut pekerja akan dapat melaksanakan pekerjaan dengan lebih maksimal. Untuk menciptakan keamanan pada gedung kantor dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memasang berbagai alat untuk mengantisipasi terjadinya
kebakaran (Fire Safety Management), dan dengan menempatkan petugas keamanan di setiap lantai.
5. Keindahan/Desain Interior
Desain sebuah bangunan tidak sekedar memberikan pemandangan indah bagi pemiliknya, namun juga dapat mempresentasikan jiwa penghuninya serta menunjukkan kreativitas dan kemampuan dalam menghasilkan karya lewat tampilan tempat kerja.
2.2.9 Prinsip-prinsip Tata Ruang
Menurut (Asriel, Silvia Armida, 2016) ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan guna mendesain layout kantor yang efektif, antara lain :
1. Menganalisis hubungan antara peralatan, informasi dan pegawai dalam arus kerja. 2. Mengondisikan arus kerja agar bergerak dalam bentuk garis lurus dan
meminimalisasi kemungkinan terjadinya crisscrossing dan backtracking.
3. Pegawai maupun tim kerja yang melakukan pekerjaan serupa harus ditempatkan dalam area yang berdekatan
4. Pegawai maupun divisi yang berhubungan dengan publik harus ditempatkan berdekatan dengan pintu masuk kantor
5. Pegawai maupun tim kerja yang membutuhkan konsentrasi harus ditempatkan diruang kerja yang suasananya lebih tenang
6. Alokasi ruang harus berdasarkan posisi, pekerjaan yang dilakukan dan peralatan khusus yang diperlukan masing-masing individu
8. Lorong harus nyaman dan lebar untuk mengantisipasi pergerakan yang efisien dari pekerja
9. Pertimbangan keamanan harus diberikan prioritas tinggi
10. Area terbuka yang besar lebih efisien dibanding dengan ruangan kecil yang tertutup 11. Provisi yang tepat bagi pencahayaan , dekorasi, AC, kelembaban dan kontrol suara 12. Memperhatikan kebutuhan perluasan kantor di masa yang akan datang