88
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
5.1.
Konsep Makro
5.1.1. Konsep aksesibilitas
Lingkar wisata Gunungkidul merupakan tempat-tempat wisata yang sedang ramai dikunjungi. Tempat-tempat ini menyajikan berbagai macam wisata alam yang menarik dan menantang. Karena keadaan inilah, pencapaian ke tempat-tempat wisata ini seringkali susah dan membingungkan. Tak jarang pula terdapat joki antar yang memaksa untuk mengantar ketempat tujuan karena membingungkannya akses ke tempat wisata tersebut. Meskipun Museum Kayu Wanagama terbantu dari akses pencapaian yang mudah karena berada dalam lintasan utama dalam lingkar wisata Gunungkidul, namun letaknya yang agak menjorok kedalam menyebabkan lokasinya tetap sulit diketahui.
Gambar 5. 1 Ilustrasi konsep signage s umber: dokumenta s i penul i s
89 Gagasannya adalah untuk mempromosikan museum Kayu Wanagama dengan pemberian konsep pencapaian yang mudah. Secara makro, konsep pencapaian dilakukan dengan pemberian signage dititik-titik krusial seperti persimpangan dan tempat-tempat yang mudah dilihat.
Entrance juga dibuat mencolok dan terkesan terbuka agar memberi suasana yang welcome dan mudah dicari.
5.2.
Konsep Messo
5.2.1. Konsep tata ruang " Indoor dan Outdoor Gallery"
Hubungan ruang luar dan ruang dalam digambarkan dengan pembentukan indoor dan outdoor gallery. Integrasinya menyesuaikan kebutuhan fungsi ruang utama sebagai ruang edukasi maupun wisata.
Materi display utama tentunya yang berkaitan dengan kayu, entah berupa pajangan koleksi, pajangan kesenian, maupun pajangan hidup "live performance".
Gambar 5. 2 Ilustrasi hubungan ruang dalam dan ruang luar s umber: dokumenta s i penul i s
90 Ruang indoor memfasilitasi sebagian besar kebutuhan edukasi. Namun bentuk edukasi ini juga terbentuk bersama dengan suasana wisata misalnya dengan menawarkan hiburan dan praktik edukasi kesenian dan pengolahan kayu. Ruang outdoor juga meskipun memfasilitasi sebagian besar fungsi wisata namun dikemas lagi dalam wadah berwisata sambil belajar. Disini sistem pembelajaran langsung berinteraksi dengan alam sekitar.
5.2.2. Konsep linkage wisata hutan Wanagama
Linkage ini merupakan bagian dari lintasan simpul yang akan menyatukan sekaligus mengenalkan bagian-bagian dari hutan Wanagama, termasuk fasilitas yang memang sudah tersedia sebelumnya. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, museum sebagai entrance atau gerbang awal kemungkinan lintasan yang akan dilalui pengunjung. Dalam artian, bahwa lintasan yang didesain nanti akan dibedakan sesuai kegiatan atau aktivitas yang ingin dilakukan oleh masing-masing pengunjung, namun museum merupakan poin entry utama dimana pengunjung pasti akan melewatinya. Jika digambarkan, konsep ini akan membentuk ring sesuai kebutuhan lintasan.
Gambar 5. 3 Ilustrasi hubungan ruang dalam dan ruang luar s umber: dokumenta s i penul i s
91
Gambar 5. 4 Ilustrasi pembagian ring dalam konsep linkage Sumber: dokumenta s i penul i s
Gambar 5. 5 Ilustrasi pembagian ring dalam konsep linkage Sumber: dokumenta s i penul i s
92 Ring dibagi menjadi 3 area. Ring 1 sebagai entry utama dan menginterpretasikan ruang, sirkulasi, dan aktivitas di dalam museum kayu Wanagama ( bangunan ). Perjalanan lintasan berawal dari sini sebagai area edukasi awal mengenai semua hal yang akan didisplay dalam. Ring ini juga termasuk dari bagian tata ruang indoor gallery. Lintasan dalam ring ini merupakan lintasan paling pendek dari keseluruhan lintasan yang ditawarkan.
Ring 2 merupakan area lanjutan setelah pengunjung menikmati museum. Area dalam ring 2 sudah termasuk dalam area ruang outdoor gallery, yang mana kegiatan utamanya yaitu ziarah/ susur hutan dan outdoor class. Selama perjalanan, perasaan yang ingin ditujukan pada pengunjung adalah perasaan bersenang-senang namun juga merenung dan belajar.
Dalam keadaan ini, pengunjung berziarah dalam hutan sambil diberikan pengetahuan tambahan berupa outdoor class. Lintasan akan dibagi oleh beberapa spot. Spot ini mewakili kebutuhan ruang penting yang disuguhkan untuk outdoor class. Spot yang akan ditawarkan misalnya spot air, spot pengenalan pohon tertentu, spot penangkaran burung, spot menara pandang, dll. Dalam jarak tertentu, spot ini juga dapat digunakan sebagai titik-titik istirahat sekaligus titik keamanan selama perjalanan.
Gambar 5. 6 Diagram pengembangan zona dalam ring 2 Sumber: dokumenta s i penul i s
93 Konfigurasi sirkulasi ini didasarkan pada kebutuhan dan fleksibilitas
ruang hutan yang ada tanpa mengganggu atau memutilasi pohon eksisting.
Jalur pengunjung lebih organik agar suasana susur hutan lebih terasa asli mengikuti keacakan jarak dan sebaran pohon. Jalur maintenance akan lebih linier untuk mempersingkat waktu perjalanan maintenance.
Ring 2 ini merupakan ring dengan lintasan yang medium, dengan jarak pengawasan yang masih terjangkau.
Setelah ring 2, kegiatan susur hutan dapat dilanjutkan di ring 3. Terdapat cabang lintasan yang memungkinkan pengujung untuk meneruskan perjalan
Gambar 5. 7 Ilustrasi sirkulasi linkage hutan Wanagama Sumber: dokumenta s i penul i s
Gambar 5. 8 Diagram pengembangan zona dalam ring 2 Sumber: dokumenta s i penul i s
94 ataupun kembali ka area dalam ring 1 untuk keluar .Lintasan selanjutnya dalam ring 3 yaitu lintasan dengan jarak paling jauh. Lintasan ini menghubungkan fasilitas-fasilitas yang telah ada di daerah hutan Wanagama seperti Tahura, penangkaran rusa, dan rest area Bunder. Selain itu, terdapat lahan kritis yang dapat digunakan untuk kegiatan bersama seperti penanaman bibit pohon. Kemungkinan kegiatan tambahan yang akan mengisi path adalah kegiatan seperti outbond, camping ground, dll.
Karena lingkup ring 3 yang agak luas, lintasan yang ada dimungkinkan menjadi bicycle track dimana orang dapat menyewa sepeda untuk meneruskan perjalanan sesuai rute.
5.3.
Konsep Mikro
5.3.1. Programatis ruang
Kegiatan yang berlangsung dalam ruang museum terbagi menjadi tiga fungsi kegiatan utama dan 3 fungsi kegiatan penunjang museum. Kegiatan utama terdiri dari fungsi pameran ( exhibition ), education, dan collect &
conservation. Fungsi penunjang berupa public service, service &
maintenance, dan parking. Keenam program tadi dijalankan oleh pengguna museum yang dibagi menjadi 4 yaitu pengunjung public, pelajar ( student ), pakar dan peneliti, serta pengelola.
Dalam pengelompokannya, pengguna public dan student dapat memasuki area/ ruang yang bersifat publik seperti area exhibition, dan beberapa area education, pakar peneliti dapat memasuki area public, education dan beberapa ruang yang lebih privat dengan fungsi collecting&
conservating.Pengelola tentunya sebagai pengguna paling bebas dan dapat memasuki semua area yang ada dalam museum dan meyesuaikan kebutuhan pekerjaan mereka.
Fungsi exhibisi mewadahi kegiatan dengan keperluan ruang paling luas dengan analisis sebesar lebih dari 80% total ruang yang akan didesain dalam re-desain museum kayu Wanagama.
95 Jika dirangkum dalam diagram, bentuk programatis ruang yang tersusun sesuai kegiatan dan pelaku kegiatan dalam museum dapat dilihat pada gambar berikut:
Jalur dengan anak panah menunjukkan alur-alur ruang manasajakah yang dapat dilewati oleh pelaku kegiatan dalam museum.
5.3.2. Konsep Morfologi a. Lansekap
Lansekap merupakan salah satu pembentuk desain utama selain bangunan. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, konsep pembentukan lansekap mengarah pada elemen-elemen yang ada dalam ekosistem hutan, yang sekaligus merupakan materi museum. Elemen tersebut berupa air, keanekaragaman hayati, dan hutan itu sendiri.
Gambar 5. 9 Diagram analisis programatis ruang Sumber: a na l i s i s penul i s
96 Sifat elemen ekosistem tersebut yang kemudian memberikan pembentukan lansekap dengan ruang gerak yang dinamis, fluid, dan organik. Kemungkinan pemberian ruang yang selaras dengan hutan dengan pola linear, bercabang, maupun berpori. Pembentukan lansekap selain mengikuti sifat-sifat elemen, juga diikuti dengan pengolahan secara fisik elemen tersebut. Jadi litterally memberikan air, memberikan kebun flora dan fauna, mengolah hutan dalam elemen lansekap sehingga keberadaan ekosistem hutan semakin terasa sekaligus sebagai upaya pelestarian lingkungan. Dalam desain lansekap, kontur dipertahankann sesuai kontur asli.
b. Bangunan
Bangunan nantinya merepresentasikan jati diri museum kayu secara maksimal. Konsep yang diambil meliputi transormasi tata massa, metode re-desain dan tata ekspos kayu. Dalam gambar dijelaskan seperti berikut:
Gambar 5. 10 Diagram elemen pembentuk lansekap Sumber: a na l i s i s penul i s
Gambar 5. 11 Ilustrasi konsep morfologi bangunan Sumber: dokumenta s i penul i s
97 Massa menggunakan geometri dasar yang dinamis sehingga akan lebih fleksibel untuk selera pengunjung.. Meskipun dengan geometri dasar, pengembangan massa diterapkan menggunakan tektonika arsitektur yang menerapkan prinsip ekspos struktur kayu. Disini ekspos struktur kayu juga sebagai bagian dari estetika bangunan dan edukasi pengolahan kayu dalam segi struktur. Selain itu, ekspos kayu juga diterapkan dalam fasad bangunan.
Penggunaan ramp pada massa bangunan juga diperhitungkan sebagai bagian tata olah massa untuk menikmati site di sekitar. Bagian ramp menjadi path susur bangunan membentuk double layer dimana dibagian paling atas digunakan sebagai menara pandang dengan jarak pandang lebih dari 2700. Prinsip double layer sebagai efisiensi lahan sekaligus efisiensi bangunan.
Gambar 5. 12 Ilustrasi konsep morfologi bangunan Sumber: dokumenta s i penul i s
Gambar 5. 13 Ilustrasi penerapan double layer
Sumber: referens i pra ta denga n judul s epeda center ol eh Gi na nja r Ba gus P
98 Sistem infill design mempengaruhi pola massa menjadi mengelilingi bangunan lama, sifat massa pada bagian entrance lebih terbuka sehingga lebih welcome pada pengunjung yang datang.
c. Ruang
Pembentukan ruang pada bangunan didasarkan pada filosofi kehidupan kayu dimana dimulai dari akar, batang, dahan, dan daun.
Akar melambangkan ruang yang berada dalam tanah, solid, gelap, dengan semburat cahaya dari celah-celah, ruang tersusun dari cabang- cabang akar yang menjalar, membentuk suatu pengalaman ruang baru
Gambar 5. 15 Ilustrasi konsep filosofi kayu Sumber: dokumenta s i penul i s
Gambar 5. 14 Ilustrasi pembentukan ruang dan sekuen ruang museum Sumber: dokumenta s i penul i s
99 yang dapat dikembangkan sebagai area hiburan dalam bangunan. Air sebagai salah satu makanan bagi pohon dimungkinkan masuk ke dalam elemen desain ruang ini. Filosofi akar diinterpretasikan sebagai zona awal sebelum dan saat memasuki museum ( entrance )
Batang melambangkan ruang dengan susunan yang linear, vertikal, berada dalam lingkup ruang tertutup namun dengan semburat cahaya yang jatuh dari sela dedaunan. Ruang ini disusun dengan ruang yang luas, tinggi, dan dengan susunan kolom vertikal yang melambangkan batang.
Filosofi batang sebagai pertumbuhan pohon diinterpretasikan sebagai ilmu yang terus tumbuh dari fungsi pembelajaran. Jenis ruang yang ditawarkan yaitu seperti hall dan indoor gallery. Bagian dahan sebagai salah satu bagian batang diinterpretasikan sebagai cabang-cabang ilmu yang dapat dipelajari dan dikelompokkan menjadi ruang-ruang, seperti bengkel pengolahan kayu, kelas terbuka, dan juga ruang workshop kesenian kayu.
Daun sendiri melambangkan bagian yang paling bebas, paling terbuka, tinggi, dan terkena cahaya langsung. Meskipun outdoor, area ruang yang diinterpretasikan dalam daun yaitu tetap dalam area bangunan. Ruang ditempatkan tinggi dan terbuka untuk menikmati panorama sekitar site. Selanjutnya adalah bagian paling bebas, yaitu bagian susur hutan dimana area desain sudah memasuki area lansekap dan benar-benar berada diluar bangunan.
5.3.3. Penataan ruang display
Gambar 5. 16 Diagram tata ruang display Sumber: dokumenta s i penul i s
100 Darah pameran terbagi menjadi dua yaitu pameran indoor dan outdoor.
Pada ruang luar display utama berupa display ekosistem di dalam hutan.
Pada ruang dalam bangunan, display berupa segala koleksi dan pajangan tentang kayu.
a. Indoor gallery
Pada bagian ini pameran menunjukkan segala koleksi tentang perkayuan.
Museum sebagai galeri seni ekspos kayu
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa bangunan akan menampakkan elemen struktur dan fasad dengan ekspos material kayu. Struktur bangunan menampakkan arsitektur tektonika dan berkaitan dengan segala estetika tentang material kayu lewat struktur.
Hall
Hall terdapat pada area dekat entrance dan merupakan area paling awal dalam galeri. Secara teknis ruangan hall juga tesusun atas bentuk arsitektur vertikal dengan pengembangan struktur tektonika yang akan memberikan nuansa dan menunjukkan suasana di tengah pohon dalam hutan. Disini hall juga sebagai area yang merangkum segala isi materi museum dengan pajangan beberapa info terkait materi museum.
Gambar 5. 17 Bangunan sebagai galeri museum
Sumber: http://www.dezeen.com/2009/11/13/memori a l -for-tree-of-knowl edge -by- m3a rchi tecture/
101
Galeri pengenalan kayu
Pada bagian ini, pengunjung akan ditawarkan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan kayu secara umum. Mulai dari pengenalan macam-macam kayu, sifat umum dan khusus dari kayu, umur kayu dan informasi umum lainnya. Disini pengunjung dapat melihat deskripsi pengenalan, peta, foto, video, audio dan beberapa diorama mini.
Galeri kesenian kayu
Disini pameran memamerkan koleksi kesenian yang berbahan dasar kayu. Galeri kontemporer ini akan diisi oleh seniman-seniman lokal dan dibagi lagi berdasarkan sifat pameran apakah temporer maupun permanen.
Galeri edukasi kayu
Disini pameran tidak hanya dinikmati dengan mengamati dan melihat koleksi, namun juga praktik langsung tentang segala edukasi kayu.
Yang ditawarkan berupa bengkel pengolahan dan workshop kesenian kayu. Selain itu terdapat kelas terbuka yang dapat diikuti oleh publik.
b. Outdoor Gallery
Disini pameran terletak pada ruang luar bangunan dan menunjukkan materi-materi display dalam ekosistem hutan.
Gambar 5. 18 Ilustrasi galeri dalam Hall Sumber: dokumenta s i penul i s
102
Galeri air
Air merupakan elemen penting pembentuk hutan. Dalam site, air merupakan salah satu potensi besar yang dapat dimanfaatkan karena berada sangat dekat dengan lokasi museum. Karena itu elemen air akan diperkuat baik dengan cara desain buatan maupun alami. Cara yang bisa dilakukan yaitu menempatkan area perjalan/ path susur hutan melewati sungai ataupun memanfaatkan potensi sungai sebagai view. Galeri ekosistem air juga bisa digunakan dengan membuat desain kolam buatan dalam spot-spot yang akan dibutuhkan untuk galeri.
Galeri hutan
Hutan Wanagama mengandung beragam jenis florayang dapat ditampilkan untuk galeri. Spot-spot tertentu dapat dikembangkan menjadi area display jenis-jenis flora tersebut. Misalnya spot A untuk pepohonan berkayu keras seperti jati, akasia, mahoni, spot B untuk pohon buah, spot C untuk display semak semak, dll.
Galeri Keanekaragaman Hayati
Selain memiliki berbagai macam flora, hutan Wanagama juga memiliki beragam jenis fauna. Paling banyak didominasi burung.
Penangkaran eksitu maupun insitu dapat diterapkan dalam outdoor gallery ini sekaligus sebagai upaya penyelamatan lingkungan.
5.3.4. Storyline
Storyline berdasarkan cerita perkayuan yang ingin ditunjukkan dalam museum dimana alur ini berjalan melalui tahap ruang indoor dan outdoor
Gambar 5. 19 Ilustrasi galeri dalam susur hutan Sumber: dokumenta s i penul i s
103 gallery dalam keseluruhan cerita perkayuan di Indonesia dan terutama di wilayah Yogyakarta, Wanagama. Timeline dibentuk dengan pola yang umum-spesifik-khusus. Umum menggambarkan perkayuan secara umum, spesifik menggambarkan perkayuan dengan perkembangan seni, teknologi dan edukasi, khusus menggambarkan perkayuan di wilayah kehutanan Wanagama dan akan sebagian besar ditampilkan dalam galeri hidup melalui outdoor gallery.
5.3.5. Konsep Sirkulasi
Sirkulasi yang digunakan adalah sirkulasi pencapaian, sirkulasi dalam ruang dan sirkulasi susur hutan.
Sirkulasi pencapaian yang digunakan langsung untuk memudahkan akses. Pencapaian langsung ini sekaligus upaya agar fungsi entrance yang welcome dapat tersampaikan dengan baik. Sementara itu, sirkulasi dalam ruang spiral agar sekuen ruang yang diinginkan juga tercapai sesuai alur.
Sirkulasi susur hutan menggunakan sirkulasi organik agar lebih fleksibel dalam menempatkan path pada sela sela pepohonan.
Gambar 5. 20 Ilustrasi sirkulasi dalam bangunan museum Sumber: dokumenta s i penul i s
104 5.3.6. Konsep Sistem Bangunan
a. Material
Pada museum kayu Wanagama ini, tentunya kayu merupakan material paling dominan yang akan ditampakkan dalam bangunan. Warna dan teksturnya secara alami memberikan tone ruangan yang selaras dikombinasikan dengan material apa saja. Meskipun begitu, bukan berarti bahwa penggunaan material lain tidak memungkinkan.
Penggunaan material yang dapat memberikan tekstur dan warna yang netral seperti beton juga mempengaruhi aktivitas pameran menjadi lebih nyaman. Penggunaan material kaca juga sangat memungkinkan pada spot tertentu untuk memberikan efek semu dalam pembatas ruang.
b. Utilitas
Sumber air bersih selain dari PDAM juga didapatkan dari pengolahan air bersih dari sungai Oya yang kemudian ditampung dalam bak penampungan yang terletak paling tinggi. Sistem pengaliran menggunakan downfeed system yang kemudian didistribusikan ke ruangan berkebutuhan.
Air kotor diolah kembali dengan hasil olahan yang didistribusikan untuk keperluan flush dan sprinkle.
c. Pencahayaan
Dalam ruangan yang besar seperti hall utama atau lobby sistem void atau skylight digunakan untuk memasukkan cahaya alami dan ventilasi alami sekaligus.
Gambar 5. 21 Konsep material Sumber: dokumenta s i penul i s
105 Penerapan pencahayaan buatan pada dasarnya dibagi 3 jenis, Artwork Lighting, Task Lighting dan General Lighting. Untuk pencahayaan museum sendiri, artwork lighting menjadi yang paling penting untuk menonjolkan materi display. Prioritas yang kedua adalah task lighting yang berfungsi untuk menerangi kegiatan-kegiatan tertentu yang terjadi di ruangan tersebut. Misalnya penerangan pada keterangan materi pameran, kantor dan laboratorium. Prioritas yang terakhir adalah general lighting yang merupakan penerangan umum yang diperlukan di keseluruhan museum. Penerangan ini biasanya terletak di area sirkulasi yang belum terselesaikan pencahayaannya dengan artwork atau task lighting. General lighting dapat berupa downlight yang berjumlah banyak
d. Pengamanan Kebakaran
Pengamanan kebakaran merupakan salah satu sistem bangunan yang penting dalam museum kayu. Pengamanan meliputi pencegahan dan pemadaman api. Sistem yang menangani pencegahan berupa fire detector, smoke detector, heat detector, dan alarm. Bentuk pemadaman kebakaran berupa sprinkler, fire extinguisher maupun hydrant. air dari sprinkler dan hydrant berasal dari penampungan air yang memang disedikana untuk pengamanan kebakaran.
Gambar 5. 22 Konsep pencahayaan alami
Sumber: http://www.floornature.com/projects-learni ng/project-ta da o-a ndo-mus eum-of- wood-mi ka ta -gun-fores t-4816/