9 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Film
Menurut ensiklopedia komunikasi film adalah media komunikasi yang bersifat visual atau audio-visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu (Sobur, 2014:213).
Sedangkan menurut UU RI No. 33 Tahun 2009 tentang Perfilman menjelaskan bahwa film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi denga atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.
Kemudian film memiliki fungsi dan peran dalam masyarakat yaitu:
1. Film sebagai sumber pengetahuan yang menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi masyarakat dari berbagai belahan dunia.
2. Film sebagai sarana sosialisasi dan pewarisan nilai, norma, dan kebudayaan, yang artinya selain sebagai hiburan secara tidak langsung film dapat menularkan nilai tertentu pada penontonnya.
3. Film berperan sebagai pengembangan kebudayaan
Dalam membuat suatu film dibutuhkan pemilihan teknik pengambilan gambar yang benar. Teknik pengambilan gambar adalah pemilihan luas area frame dari objek.
Luas frame ini digunakan untuk mempertegas tujuan pengambilan gambar dan kondisi objek (Rajaq, 2011:5).
a. Extreme Close-up : Pengambilan gambar sangat dekat yang bertujuan untuk menunjukkan kedetailan suatu objek.
b. Big Close-up : Pengambilan gambar sebaatas kepala hingga dagu objek.
c. Close-up : Pengambilan gambar dari kepala hingga leher.
d. Medium Close-up : Pengambilan gambar dari kepala hingga dada untuk mempertegas profil seseorang.
e. Mid Shoot : Pengambilan gambar dari kepala hingga.
10
f. Knee Shoot : Pengambilan gambar dari kepala hingga lutut.
g. Full Shoot : Pengambilan gambar dari kepala hingga kaki.
h. Long Shoot : Pengambilan gambar lebih luas dari pada Full Shoot.
i. Extreme Long Shoot : Pengambilan gambar lebih luas dari Long Shoot untuk menunjukkan bahwa objek merupakan bagian dari lingkungan.
j. One Shoot : Pengambilan gambar satu objek untuk memperlihatkan. seseorang atau suatu benda dalam frame.
k. Two Shoot : Pengambilan gambar dua objek.
l. Three Shoot : Pengambilan gambar tiga objek
m. Group Shoot : Pengambilan gambar sekumpulan objek untuk menampilkan sekelompok oarng yang melakukan suatu aktivitas.
2.2 Film Dokumenter
Istilah film dokumenter pertama kali digunakan oleh Grierson saat ia menulis tulisan kritis mengenai film Moana pada tahun 1926 (Ayawaila, 2008:11). Grierson menulis bahwa “Karya film dokumenter merupakan sebuah laporan aktual yang kreatif (creative treatment of actuality)”. Meskipun istilah film dokumenter baru digunakan pada tahun 90-an, namun film yang dikategorikan sebagai film dokumenter telah lahir bahkan pada tahun 1800. Lumière Brothers mulai membuat film nonfiksi pendek mereka sendiri dan mulai memutarkannya pada tahun 1895.
Dimulai dari Paris, bioskop keliling mereka melebar hingga ke Inggris, Asia, bahkan Afrika Utara. Lumière Bersaudara kemudian dijuluki sebagai pelopor film dokumenter. Setalah Lumière Bersaudara muncul pelopor lain, yaitu Robert Joseph Flaherty. Karir sebagai dokumentarisnya dimulai ketika Flaherty mendokumentasikan kehidupan manusia tambang di tambang besi di Michigan. Kemudian Flaherty membuat film lain seperti Nanook Of The North dan Moana, yang kemudian diulas oleh Grierson.
Adapun kriteria dokumenter adalah sebagai berikut (Ayawaila, 2008:23):
11
Setiap adegan dalam film dokumenter merupakan rekaman kejadian sebenarnya, tanpa interpretasi imajinatif.
Yang dituturkan dalam film dokumenter berdasarkan peristiwa nyata (realita), sedangkan pada film fiksi isi cerita berdasarkan karangan (imajinatif)
Sutradara melakukan observasi pada suatu peristiwa nyata, lalu melakukan perekaman gambar sesuai apa adanya
Konsentrasi dokumenter adalah isi dan pemaparan.
Kemudian untuk membuat sebuah film dokumenter terdapat beberapa tipe pemaparan film dokumenter yaitu eksposisi (expository documentary), observasi (observational documentary), interaktif (interactive documentary), refleksi (reflexive documentary), performatif (performatife documentary)(Fachruddin, 2012:320).
Dokumenter eksposisi merupakan tipe film dokumenter yang menggunakan narator sebagai narator tunggal. Kemudian dokumenter interaktif merupakan dokumenter yang memperlihatkan peran aktif dari produser, tidak hanya wawancara yang ditampilkan namun juga bagaimana wawancara dilakukan jadi komunikasi antara sutradara dan subjek terlihat jelas. Dokumenter refleksi menggambarkan kamera bagaikan mata film yang merekam berbagai realitas. Dokumenter performatif berfokus pada kemasan. Kemasan domunenter performatif dibuat semenarik mungkin mulai dari alur penuturan (plot) dan bentuk penuturan itu sendiri. Sedangkan dokumenter observasi tidak menggunakan narator sebagai pengisi suara, dan menggunakan dialog antarsubjek.
Untuk pembuatan film dokumenter mengenai pemilahan sampah ini, akan digunakan tipe pemaparan interaktif (interactive documentary). Karena dalam produksi film dokuemnter ini akan terdapat banyak wawancara kepada narasumber.
Wawancara ini dilakukan untuk mendapat pendapat atau pandangan dari narasumber mengenai pemilahan sampah di Salatiga. Pendapat atau pandangan tersebut akan menjadi argumen untuk mendukung permasalahan yang diangkat di fim dokumenter ini.
12
Film dokumenter sendiri memiliki banya genre atau jenis yaitu, dokumenter laporan perjalanan, dokumenter sejarah, dokumenter potret/biografi, dokumenter perbandingan/kontradiksi, dokumenter nostalgia, dokumenter rekonstruksi, dokumenter investigasi, dokumeneter eksperimental, dokumenter buku harian, dokumenter drama (dokudrama), serta dokumenter ilmu pengetahuan.
Dokumenter ilmu pengetahuan merupakan jenis film dokumenter yang menyampaikan mengenai suatu teori, sistem, berdasarkan disiplin ilmu tertentu.
Dokumenter jenis ini memiliki dua sub-genre yaitu, film dokumenter sains dan film instuksional. Film dokumenter sains biasanya ditujukan untuk public umum yang menjelaskan mengenai suatu ilmu pengetahuan tertentu, misalnya mengenai dunia binatang, dunia teknologi, dunia automotif, atau mengenai makanan serta dunia di sekitarnya. Sedangkan film instuksional dibuat untuk mengajadi (instruksi) pemirsanya bagaimana melakukan berbagai macam hal yang ingin mereka lakukan.
Dalam proses pembuatan film dokumenter wawancara merupakan salah satu teknik yang sering digunakan, baik untuk mengumpulakan data sebelum proses produksi dilakukan juga adegan wawancara yang juga ditampilkan dalam film itu sendiri. Untuk membuat perekaman gambar wawancara terdapat tiga jenis posisi umum (Ayawaila, 2008:100) , yaitu:
1. Arah pandang subyek menatap lurus ke kamera
2. Subyek tidak menatap lurus ke kameran, namun agak miring ke kiri atau kanan kamera sehingga menimbulkan kesan subyek sedang berdialog dengan seseorang yang tidak terlihat didalam frame.
3. Pewawancara ikut terlihat di dalam frame.
13 2.3 Infografis
Infografis atau informasi grafis adalah representasi visual dari informasi, data atau pengetahuan (Lee, 2014:129). Infografis menjadi penting karena hampir 50%
dari otak cenderung menangkap informasi berupa gambar, grafik, dan grafis lebih baik dibanding informasi yang hanya berupa teks. Hal tersebut terjadi karena neuron yang bertanggung jawab untuk menangkap visual memiliki bagian hingga 30% porsi otak. Sebagai perbandingan, neuron yang bertanggung jawab untuk menangkap rangsangan dari sentuhan hanya memiliki porsi sebanyak 8%, dan 3% untuk pendengaran (Smickles, 2012:7). Kemudian proses yang dibutuhkan otak manusia untuk mencerna informasi yang diberikan secara visual lebih cepat dibanding dengan informasi secara teks. Sehingga informasi yang disajikan dalam bentuk infografis akan lebih mudah untuk dicerna. Infografis terdiri dari 3 jenis (Ratminto, 2017:103) , yaitu:
1. Infografis Statis, adalah infografis yang disajikan dalam bentuk gambar tidak bergerak.
2. Infografis Animasi, adalah infografis yang disajikan dalam bentuk video animasi baik 2 dimensi ataupun 3 dimensi. Infografis jenis ini lebih menarik karena menggunakan elemen visual yang dapat memperkuat pesan yang disampaikan.
3. Infografis Interaktif, infografis jenis ini ditampilkan melalui website dan memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan informasi yang ditampilkan.
2.4 Penelitian Terdahulu
Pembuatan film dokumenter ilmu pengetahuan sudah pernah dilakukan sebelumnya. Salah satu film dokumenter ilmu pengetahuan dibuat oleh Almaviva Sakina Rofiandi pada tahun 2016 sebagai tugas akhir dengan judul “Pembuatan Film Dokumenter Ilmu Pengetahuan Pulau Giliyang di Kabupaten Sumenep Madura Jawa
14
Timur dengan judul Pulau Oksigen”. Film dokumenter ini dibuat untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Pulau Gliyang merupakan pulau dengan kadar oksigen terbaik kedua di dunia, sehingga masyarakat diharapkan ikut menjaga Pulau Giliyang dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan mengurangi penebangan pohon. Kemudian film ini bertujuan untuk memberi contoh kepada masyarakat akan menghirup udara bersih dan bebas polusi serta menginformasikan bahwa oksigen sanagtlah penting bagi manusia.
Penelitian yang dilakukan oleh Dina Kholis Aziza pada tahun 2015 berjudul
“Praktik Kampanye Sosial Pemerintah Kota Salatiga (Studi Kasus Strategi Kampanye Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang dalam Upaya Membangun Kesadaran Masyarakat Peduli Lingkungan Melalui Gerakan Bank Sampah Periode 2013-2014)”, meneliti mengenai kampanye peduli lingkungan yang dilakukan oleh Dinas Ciptakaru Salatiga kepada masyarakat Salatiga. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat karena adanya kampanye yang telah dilakukan oleh Dinas Ciptakaru Salatiga ini. Selain itu setelah adanya kampanye ini jumlah bank sampah di Salatiga meningkat dari lima menjadi 25. Namun demikian setelah adanya kampanye ini jumlah sampah yang masuk ke TPA belum terlihat perbedaan yang signifikan.
Kemudian penelitian ini menemukan beberapa kelemahan kampanye ini. Yang pertama Dinas Ciptakaru belum menggunakan media yang dianggap efektif dan isi pesan yang cenderung bersifat global kurang menarik perhatian masyarakat Salatiga sendiri. Ditemukan pula bahwa Dinas Ciptakaru kurang menjalin kerjasama dengan NGO, akademisi, dan LSM yang melakukan kegiatan yang serupa.
Produksi film dokumenter ini memiliki kemiripan dengan produksi film dokumenter yang dilakukan oleh Almaviva Sakina Rofiandi, yaitu sama-sama memberikan informasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Namun produksi terdahulu tersebut menyoroti mengenai ajakan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan penebangan pohon, sedangkan produksi kali ini berfokus pada masalah sampah dan pentingnya melakukan pemilahan sampah. Produksi ini juga merupakan lanjutan dari penelitian yang dilakukan oleh Dina Kholis Aziza. Pada
15
penelitian tersebut ditemukan bahwa kampanye yang dilakukan Dinas Ciptakaru memiliki kelemahan yaitu isi pesan cenderung global, sehingga produksi ini dibuat dengan pesan yang lebih spesifik yaitu mengenai pemilahan sampah.
16 2.5 Kerangka Pikir Perancangan
Masalah:
Pemilahan sampah di Salatiga belum efektif karena kurangnya partisipasi dari masyarakat untuk memilah sampah. Hal tersebut terjadi karena masih rendahnya kesadaran dan
pengetahuan masyarakat akan pentingnya pemilahan sampah tersebut.
Tujuan:
Untuk memberikan informasi mengenai pentingnya melakukan pemilahan sampah.
Bentuk Solusi:
Film dokumenter “Pilah Sampah Kurangi Masalah”
Fakta:
Salatiga yang telah meraih piala Adipura dua kali berturut-turut juga masih berkutat dengan masalah sampah. Untuk mengatasi masalah sampah tersebut dibutuhkan pengolahan sampah yang baik, namun sebelum diolah sampah harus dipilah berdasarkan jenisnya terlebih dahulu.
dipilah berdasarkan jenisnya terlebih dahulu.
Solusi:
Memberikan informasi mengenai pentingnya melakukan pemilahan sampah di unit terkecil, yaitu individu.
Media:
Sebagai media sosialisasi yang akan digunakan oleh Pejuang Lingkungan Hidup Salatiga