• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME PENGAWASAN HALAL SUPPLY CHAINS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEKANISME PENGAWASAN HALAL SUPPLY CHAINS"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

MEKANISME PENGAWASAN HALAL SUPPLY CHAINS DI PASAR TRADISIONAL INDONESIA SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN KONSUMEN.

(STUDI KASUS: KOMODITI DAGING AYAM DAN SAPI DI EMPAT PASAR TRADISIONAL SURABAYA)

Oleh : Dr. H. Ah. Ali Arifin, MM.

Dr. H. Suqiyah Musafa’ah, M.Ag.

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Saat ini industri halal mengalami perkembangan yang pesat hal tersebut sejalan dengan kesadaran akan produk dan layanan halal yang semakin meningkat terutama di Negara Indonesia yang mana mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Menurut data pada Badan Pusat Statistik pada tahun 2018, populasi umat Muslim mencapai 232 juta jiwa atau sekitar 88,7 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa. Industri halal tidak hanya sebatas produk makanan akan tetapi meliputi jugakosmetik dan farmasi, fashion, sistem keuangan berbasis Islam, media dan rekreasi, konseppariwisata halal, healthcare, serta pendidikan. Berdasarkan laporan State of The Global Islamic Economy 2016/2017 produk makanan halal merupakan penyumbang pendapatan terbesar pada tahun 2015 yakni sebesar $1,17 Triliun selanjutnya diikuti oleh sektor keuangan, pariwisata halal, fashion, kosmetik dan farmasi, media dan rekreasi, healthcare,dan pada urutan terakhir yakni pada sektor Pendidikan.

Untuk melihat tingkat kehalalan suatu komoditi bisa dilihat dari empat hal. Pertama halal zatnya, misalnya makanan tersebut berasal dari binatang maupun tumbuhan yang tidak diharamkan oleh Allah seperti bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih disebut nama selain Allah lA SQ( ,ﷻ-Ma’idah ayat 3(Kedua, dari bagaimana cara memperolehnya, makanan halal akan menjadi haram apabila memperolehnya dengan cara yang bathil seperti dari hasil mencuri, berzina, menipu, hasil riba, maupun dengan cara bathil lainnya.

Ketiga, halal cara memprosesnya, bahan baku makanan yang halal dan cara mendapatkannya sudah menurut tuntunan Shari’ah akan menjadi haram apabila cara memprosesnya dengan cara yang haram , misalnya menggunakan pisau untuk menyembelih seekor ayam yang sebelumnya telah digunakan untuk menyembeli babi, maka ayam yang pada hakikatnya halal mencadi haram.

Keempat, halal cara menyajikan, mengantarkan, serta menyimpannya sebelum akhirnya akan disantap oleh konsumen makanan atau minuman halal akan menjadi haram

(2)

apabila cara menyajikan dipiring emas Atau makanan halal diantarkan melalui alat transportasi yang sebelumnya telah diperuntukkan mengirim hewan-hewan najis dan disimpan bersandingan dengan makanan haram lainnya.

Banyak orang tidak mengetahui lebih detail bagaimana makanan dapat dikatakan halal secara konstruksinya, yang mereka tahu makanan tersebut tidak berasal atau terbuat dari bahan makanan yang diharamkan oleh Syari’ah maka makanan tersebut sudah dapat dikatakan makanan yang halal dan baik untuk dikonsumsi. Padahal lebih jauh dari pada itu, sebelum makanan dapat dikonsumsi orang maka makanan tersebut harus melalui prosedur yang bertahap dan terstruktur. Misalnya saja daging dari hewan ayam dan sapi didatangkan dari desa yang kemudian akan didistribusikan ke kota-kota tertentu menggunakan alat transportasi yang bisa saja transportasi tersebut telah digunakan untuk mendistribusikan hewan-hewan yang haram. Sampailah hewan ayam dan sapi tersebut ke tempat yang dituju, hewan ayam dan sapi adalah hewan yang dagingnya jika akan dikonsumsi maka harus disembelih terlebih dahulu, maka dari itu proses penyembelihan juga harus sesuai dengan yang telah ditentukan oleh Shari’at agama Islam.

Proses di atas dapat juga disebut sebagai rantai pasokan halal, proses tersebut adalah serangkaian tahap yang sebenarnya terjadi sebelum makanan dapat dikatakan makanan yang halal lagi baik untuk dikonsumsi. Namun, yang lebih membutuhkan perhatian khusus yakni pada proses penyembelihan daging, kemudian daging tersebut dibeli oleh penjual di pasar tradisional untuk selanjutnya sampai ditangan konsumen.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana memetakan rantai pasok komoditi daging di pasar tradisional berdasarkan konsep halal supply chain?

2. Apa saja potensi risiko penyimpangan prinsip halal yang muncul pada setiap proses di sepanjang supply chain?

3. Bagaimana mekanisme pengawasan terhadap penyimpangan prinsip halal komoditi daging di sepanjang supply chain?

C. Tujuan Penelitian

1. Memetakan rantai pasok komoditi daging di pasar tradisional berdasarkan konsep halal supply chain.

2. Mengidentifikasi potensi risiko penyimpangan prinsip halal yang muncul pada setiap

(3)

proses di sepanjang supply chain.

3. Merancang mekanisme pengawasan terhadap penyimpangan prinsip halal komoditi daging di sepanjang supply chain.

D. Kajian Penelitian Terdahulu yang relevan

1. Relationship of spirituality leadership style and SMEs performance in halal supply chain-Elias, Ezanee Mohamed dkk (2017) Konsumsi terhadap halal F&B telah berpengaruh besar terhadap peningkatan tantangan baru untuk semua perusahaan manufaktur terutama SME’s di Malaysia. Penelitian ini mengusulkan sebuah kerangka teori dalam hal penilaian gaya kepemimpinan terutama segi spiritualitas terhadap performansi organisasi dengan dimoderasi oleh aturan syariah didasarkan pada orientasi kewirausahaan

2. Halal Supply Chain Management Streamlined Practices: Issues and Challenges - Kadir M.H.Adkk(2016)Implementasi halal supply chain management memiliki berbagai isu dan tantangan. Halini menjadi bahan kajian dari sudut pandang para praktisi serta berbagai pihak yang terlibat dalam industri terutama penghasil produk makanan ( di Malaysia)

3. Factors influencing supplier selection process among Muslim food operators: A qualitative study-AliR dkk (2017)

Berdasarkan penelitian ini diketahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemilihan supplier di kalangan produsen (Muslim) adalah religiusitas, kompetensi supplier, ketertelusuran, kepercayaan dan pengaruh budaya

4. Motivations and benefits of halal food safety certification - Ab Talib M.S. (2017) Dari penelitian ini diketahui bahwa motivasi internal concern kepada proses internal, sumber daya manusia dan ketersediaan sumber daya lainnya. Sedangkan motivasi eksternal berkaitan dengan elemen eksternal perusahaan seperti intervensi pemerintah dan tekanan pasar

5. Halal supply chain framework for retail business focused on beverage industry: A case study-Saleh, Chairul dkk (2016)Penelitian ini fokus pada pedoman halal supply chain yang dibutuhkan pada tiap tahapan dalam industri halal food hingga tahap retail. Dalam penelitian ini secara khusus membahas studi kasus pada bisnis retail. Proses penilaian terhadap beverage product dibagi ke dalam hal supplier arrival, receiving, transit, storage dan display dengan didasarkan pada aturan Islam.

(4)

6. Supply chain framework for selling halal meat in retail business: A case study – Feriyanto N dkk (2016)Fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah tentang cara menjaga status kehalalan daging selama tahapan supply chain, mulai dari penyembelihan hingga daging dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen. Berkaitan dengan daging halal di pasar retail, status kehalalan lebih fokus dalam hal pergudangan, proses delivery dan transportasi, persediaan hingga daging dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen

7. Halal integrity in the food supply chain -Soon,Jan Mei dkk (2017) Paper ini membahas tentang ketiadaan integritas kehalalan di tahapan-tahapan food chain konvensional. Integritas kehalalan tidak hanya mengenai makanan boleh atau tidak boleh dikonsumsi tetapi juga berkaitan dengan status kehalalan dari food productsmulai dari raw material hingga diterima konsumen harus benar-benar bebas dari kontaminasi dengan produk ataupun cara pengolahan yang haram bahkan harus bebasdari sumber penyakit.

8. Halal risk mitigation in the Australian– Indonesian red meat supply chain - Maman U dkk (2018) Strategi mitigasi utama untuk menjamin status daging sapi halal di tempat pemotonganadalah kewajiban dari vendor ataupun perusahaan untuk mengeluarkan aturan manual tertulis mengenai stunning tool. Sedangkan strategi mitigasi di tahap retail adalah perlunya kebijakan halal yang diterapkan oleh transporter perusahaan dan supermarket

9. Extenuating food integrity risk through supply chain integration: The case of halal food -Ali M.H dkk (2014)Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa integrasi supply chain dapat mengurangi resiko dari integritas halal food. Dalam supply chain, integritas halal food yang dibahas meliputi resiko di dalam produksi, raw material,keamanan makanan,praktek outsourcing,pelayanan, dan resiko logistic

10. Halal supply chain critical success factors: A literature review - Ab Talib M.S dkk (2015) Dukungan pemerintah, perencanaan transportasi, teknologi informasi, manajemen sumber daya manusia, hubungan kolaborasi, sertifikasi halal dan halal traceability merupakan CSF pada halal supply chain

E. Konsep atau Teori relevan (yang akan digunakan dalam analisis)

Halal Supply Chain Konsep Halal dan haram menurut ulama’ fikih adalah sebagaimana yang diterangkan olehAllah dan Rasul-Nya. Dalam pengertian ini ada pemahaman bahwa yang berhak menentukan halal-haramnya sesuatu hanyalah Allah SWT melalui Rasulnya.

Demikian pula, Yusuf al-Qardhawi menulis. Al-Qushayri meriwayatkan, Rasulullah S.A.W bersabda, bahwa sesungguhnya perkara halal itu jelas dan haram juga jelas, dan apa yang

(5)

ada di antara keduanya adalah shubhat (perkara yang samar). Rasulullah S.A.W bersabda:

“Apa yang telah dihalalkan di dalam kitabNya (al-Qur’an(, maka ia halal, dan apa yang diharamkan maka haram, dan apa saja yang Allah diamkan, maka ia adalah ma’fu, yakni sesuatu yang dimaafkan, maka terimalah apa yang telah Ia maafkan(bolehkan). Ketika Rasulullah ditanya tentang hal-hal kecil yang tidak ada nasnya, maka beliau tidak menjawab pertanyaan itu dengan persis, akan tetapi beliau memberikan kaedah pokok yang dapat dirujuk untuk mengetahui status halal haramnya sesuatu. Dengan demikian definisi halal berdasarkan al-Qur’an dan hadis sangat simple dan jelas, yakni segala sesuatu yang baik bagi tubuh, akal dan jiwa maka hukumnya halal. Begitu sebaliknya, segala sesuatu yang mendatangkan mudarat (bahaya) bagi kesehatan: badan, akal, dan jiwa, hukumnya adalah haram.

Umat muslim diwajibkan untuk mengonsumsi produk yang halal, untuk itu dalam setiap proses supply chain setiap produk, dalam hal ini yaitu komoditas daging, dari hulu ke hilir harus dipastikan tidak mengandung sesuatu yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan sifat halal. Supply chain dalam hal ini yaitu jaringan perusahaan- perusahaan yang secara Bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk pemasok, pabrik, distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik (Pujawan, 2005). Halal Supply chain menurut tieman 2012dapat diartikan sebagai kegiatan keseluruhan entitas yang terlibat sepanjang rantai pasok dari hulu ke hilir menerapkan konsep yang sesuai syariat Islam, dimulai dari pemilihan pemasok, proses produksi, penyimpanan, sampai dengan distribusi (memisahkanpenyimpanan dan pengiriman produk halal agar terhindar dari kontaminasi).

Manajemen Risiko dapat diartikan sebagai proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakkan, mengembangkan alternatif penanganan risiko, dan memonitor serta mengendalikan implementasi penanganan risiko. Perusahaan selalu dihadapi dengan berbagai macam risiko. Kesanggupan manajemen untuk mengelola berbagai macam risiko ini menjadi suatu keharusan. yang dimaksud dengan manajemen risiko menurut Ronny Kountour adalah cara-cara yang digunakan manajemen untuk menangani berbagai permasalaha yang disebabkan oleh adanya risiko. Menurut Djojosoedarso manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat. Jadi mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, memimpin/mengkordinir, dan mengawasi (termasuk mengevaluasi) program

(6)

penanggulangan risiko. Menurut Fahmi Manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis.

(7)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Produk Halal

1. Definisi

Produk memiliki definisi yaitu barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetic, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat.(Republik Indonesia, 2014). Halal berasal dari kata halla, yahillu, hillam yang berarti membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan, dan membolehkan. Segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika menggunakannya. Sedangkan produk halal menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal, Produk Halal adalah Produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam.(Republik Indonesia, 2014)

Islam ajaran yang begitu sempurna, sangat memperhatikan segala urusan ummatnya tak terkecuali makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh, oleh karenanya Allah SWT menurunkan Firman-Nya yang berbunyi:

نيِبُّم ٌّوُدَع ْم ُكَل ۥُهَّنِإ ۚ ِنََٰطْيَّشلٱ ِت ََٰوُطُخ ۟اوُعِبَّتَت َلَ َو اابِ يَط الًََٰلَح ِض ْرَ ْلْٱ ىِف اَّمِم ۟اوُلُك ُساَّنلٱ اَهُّيَأَََٰٰٓي

Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah:168)

Pada dasarnya semua yang bermanfaat dan hal-hal yang baik adalah halal sedangkan semua yang membahayakan dan yang buruk adalah haram. Hukum asal makanan baik dari hewan, tumbuhan, yang di laut, maupun yang di darat adalah halal, sampai ada dalil yang mengharamkannya. Allah SWT berfirman;

ميِلَع ٍءْىَش ِ لُكِب َوُه َو ۚ ٍت ََٰو ََٰمَس َعْبَس َّنُهَٰى َّوَسَف ِءَٰٓاَمَّسلٱ ىَلِإ ََٰٰٓى َوَتْسٱ َّمُث ااعيِمَج ِض ْر َْلْٱ ىِف اَّم مُكَل َقَلَخ ىِذَّلٱ َوُه

(8)

Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.

Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu..” (QS. Al-Baqarah:29)

Berkata Imam Syafi‟i ; ”Hukum asal makanan dan minuman adalah halal, kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dalam Al-Qur‟an-Nya atau melalui lisan Rasulullah

ﷺ.

Karena apa yang diharamkan oleh Rasulullah

sama dengan pengharaman (dari) Allah.” (Al-Umm, 2/213)

2. Raw Material (Hewan yang boleh dikonsumsi)

Segala sesuatu baik berupa tumbuhan, buah-buahan atau pun binatang pada dasarnya adalah halal hingga apabila ada dalil yang mengharamkannya. Untuk bisa dikonsumsi secara halal, hewan perlu melalui proses penyembelihan secara Syari’at terlebih dahulu,

kecuali jenis ikan dan belalang, sebagaimana dalam Firman Allah yang berbunyi :

َٰٓاَم َو ُةَحيِطَّنلٱ َو ُةَيِ د َرَتُمْلٱ َو ُةَذوُق ْوَمْلٱ َو ُةَقِنَخْنُمْلٱ َو ۦِهِب ِ َّللَّٱ ِرْيَغِل َّلِهُأ َٰٓاَم َو ِري ِزن ِخْلٱ ُمْحَل َو ُمَّدلٱ َو ُةَتْيَمْلٱ ُمُكْيَلَع ْتَم ِ رُح

نِم ۟او ُرَفَك َني ِذَّلٱ َسِئَي َم ْوَيْلٱ ۗ قْسِف ْمُكِلََٰذ ۚ ِمََٰل ْزَ ْلْٱِب ۟اوُمِسْقَتْسَت نَأ َو ِبُصُّنلٱ ىَلَع َحِبُذ اَم َو ْمُتْيَّكَذ اَم َّلَِإ ُعُبَّسلٱ َلَكَأ ِنَمَف ۚ اانيِد َمََٰلْسِ ْلْٱ ُمُكَل ُتي ِض َر َو ىِتَمْعِن ْمُكْيَلَع ُتْمَمْتَأ َو ْمُكَنيِد ْمُكَل ُتْلَمْكَأ َم ْوَيْلٱ ۚ ِن ْوَشْخٱ َو ْمُه ْوَشْخَت َلًَف ْمُكِنيِد مي ِح َّر روُفَغ َ َّللَّٱ َّنِإَف ۙ ٍمْثِ ِ لْ ٍفِناَجَتُم َرْيَغ ٍةَصَمْخَم ىِف َّرُطْضٱ

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)

yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya” (QS. Al-Maidah 3)

Adapun Daftar Hewan Beserta Hukumnya Menurut Syari’at Islam berikut ini

(9)

3. Sharia’ Process

a. Pemotongan Hewan

1) Syarat dan tahapan penyembelihan ayam sesuai persyaratan halal (Nuraini Henny ; Supratikno, 2018)

a) Penyembelih harus beragama Islam, dewasa (baligh) dan berakal sehat.

(10)

b) Adanya kesengajaan menyembelih

c) Memastikan bahwa ayam yang akan disembelih harus dalam keadaan hidup, sehat, dan bersih serta disunnahkan untuk dihadapkan ke arah kiblat.

d) Hewan ayam berumur sekitar 6 minggu atau lebih

e) Penyembelih melafazkan “Bismillahi Allahu Akbar” atau

“Bismillahirrahmanirahiim” saat menyembelih unggas. Hal yang tidak diperbolehkan adalah menyembelih sambil makan, minum, merokok atau aktivitas lain yang menyebabkan lalai dalam mengucapkan basmalah.

f) Melakukan penyembelihan pada pangkal leher unggas dengan memutuskan saluran pernafasan (trakhea/hulqum), saluran makan (esofagus/mari’) dan dua urat lehernya (pembuluh darah di kanan dan kiri leher/wadajain) dengan sekali sayatan tanpa mengangkat pisau. Proses penyembelihan dilakukan dari leher bagian depan diantara ruas tulang leher ke 2 dan ke 3 serta tidak memutus tulang leher (Gambar 3).

g) Pisau yang digunakan harus setajam mungkin dan dalam keadaan bersih.

Memastikan bahwa matinya ayam disebabkan oleh penyembelihan tersebut.

h) Darah ayam dibiarkan keluar dengan waktu minimal 3 menit sebelum proses berikutnya (lebih baik dalam posisi digantung untuk memaksimalkan pengeluaran darah).

i) Ayam yang akan masuk kedalam proses perendaman air panas harus dipastikan sudah mati (tidak ada reflek kornea mata dan darah berhenti memancar). Pada pemotongan skala industri, harus diperhatikan kecepatan konveyor dan jarak ke tempat pencelupan air panas.

j) Proses penanganan selanjutnya dilakukan dengan kondisi yang bersih agar tidak terjadi kontaminasi bakteri, najis atau bahan haram.

2) Syarat dan tahapan penyembelihan hewan sapi sesuai persyaratan halal:

a) Si penyembelih Laki-laki/Perempuan Muslim/Beragama b) Si penyembelih berakal dan tamyiz

c) Adanya kesengajaan menyembelih

d) Menyebutkan Nama Allah saat menyembelih.

e) Menggunakan pisau yang tajam

(11)

f) Memutus dua saluran darah dan dua urat leher, tenggorokan dan kerongkongan sekaligus.

g) Berumur ± 1 Tahun, jika kurang dari itu maka boleh jika perawakan besar h) Jantan atau betina, jika betina yang sudah tidak produktif

i) Sehat dan tidak memiliki cacat dalam batas toleran

j) Jika sapi ketika akan disembelih dalam keadaan sekarat maka perlu dicek kembali

b. Standar Pengolahan, Penyimpanan, dan Pengiriman (MUI, 2009)

1) Pengolahan dilakukan setelah hewan dalam keadaan mati oleh sebab penyembelihan.

2) Hewan yang gagal penyembelihan harus dipisahkan.

3) Penyimpanan dilakukan secara terpisah antara yang halal dan nonhalal.

4) Dalam proses pengiriman daging, harus ada informasi dan jaminan mengenai status kehalalannya, mulai dari penyiapan (seperti pengepakan dan pemasukan ke dalam kontainer), pengangkutan (seperti pengapalan/shipping), hingga penerimaan.

B. Supply Chain Management

Supply chain Management merupakan topik umum yang sering dijumpai di berbagai media seperti majalah, buku, koran ataupun dalam diskusi-diskusi. Namun, menurut berbagai kalangan masyarakat Supply chain juga dianggap sebagai suatu software. Bahkan ada yang mempersepsikan bahwa Supply chain hanya dimiliki oleh perusahaan manufaktur saja.(Anwar, 2011) Menurut Cooper, Supply chain baru muncul di awal tahun 90-an yang merupakan sekumpulan aktifitas atau fasilitas dalam proses transformasi atau distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam, sampai produk jadi pada konsumen.(Suprianto, 2017) Dari pengertian tersebut, supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkut bahan baku dari alam kemudian perusahaan tersebut akan mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen.(Kristiana et al., 2020) Setelah ditransformasikan kepada komponen, akan diberikan kepada supplier bahan-bahan pendukung pokok dan distributor, kemudian retrailer yang akan menjual barang tersebut kepada konsumen terakhir.

Supply Chain Management juga diartikan sebagai pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier,

(12)

manufaktur, retailer hingga kepada konsumen.(Assauri, 2011) Dari sini aktifitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut berlangsung secara transparan. Supply Chain Management merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktifitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik.

Menurut Turban, Rainer, Porter (2004), terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu:(Turban et al., 2012)

1. Rantai Suplai Hulu (Upstream supply chain) Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau keduaduanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

2. Manajemen Rantai Suplai Internal (Internal Supply Chain Management) Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu.

Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

3. Segmen Rantai Suplai Hilir (Downstream supply chain segment) Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after sales service.(Fitriani, 2018)

Supply chain Management (SCM) merupakan aplikasi terpadu yang dapat memberiikan dukungan system informasi kepada management dalam hal pengadaan barang dan jasa bagi perusahaan sekaligus mengelola hubungan diantara mitra untuk menjaga tingkat kesediaan produk dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan secara optimal.(Lokollo, 2012) Dalam proses Supply chain Management (SCM) mengintegrasikan mulai dari pengiriman order dan proses pengelolaannya, pengadaan bahan mentah, order tracking, penyebaran informasi, perencanaan kolaboratif, pengukuran kinerja, pelayanan purna jual, dan pengembangan produk baru.

(13)

C. Halal Supply Chain

Halal Suppy Chain Management merupakan proses pengelolaan dalam pengadaan, penyimpanan, dan pengadaan bahan, makanan dan non makanan, dan informasi terkait bersama-sama dengan dokumentasi mengalir melalui organisasi yang sesuai dengan umum prinsip-prinsip hukum syariah. Halal supply chain management di perlukan dengan adanya kegiatan yang dapat mengontrol dalam kegiatan penjaminan dalam proses logistik bisnis.

Namun, Tieman berpendapat bahwa fondasi Halal Supply chain Management di tentukan oleh tiga faktor, yaitu: kontak langsung dengan haram (dilarang), prinsip muslim konsumen dan resiko kontaminasi.(Tieman, 2011)

Dalam hal ini, risiko dalam faktor tersebut telah didasarkan pada karakteristik produk, seperti versus produk massal dan produk basah. Dalam persepsi di dasarkan pada persyaratan, seperti sekolah yang berbasis islami, fakta lokal dan adat istilah setempat.(Kristiana et al., 2020) Berdasarkan daya pengaruh dan dampak secara (langsung, tidak langsung). Empat bentuk koordinasi tersebut diantaranya adalah:(Suprianto, 2017) (1) mengatur koordinasi (dampak dan kekuasaan tidak langsung); (2) koordinasi kondisional (dampak dan pengaruh tidak langsung); (3) melakukan koordinasi (dampak lansung dan kekuasaan); dan (4) mendorong koordinasi (dampak dan pengaruh langsung)

Rantai pasok halal juga diartikan sebagai rangkaian proses mulai dari sumber pasokan sampai mencapai ke konsumen harus terjamin kehalalannya. Rantai pasok halal daging ayam akan dimulai dari peternakan dan rumah pemotongan hewan, dan selanjutnya daging ayam diangkut dan disimpan sebelum sampai ke pelanggan. Hal ini untuk memastikan bahwa halal tidak hanya diterapkan untuk produk atau makanan tetapi juga untuk semua aktivitas dalam rantai pasok yang meliputi penanganan dan pengelolaan produk (manajemen persediaan dan penanganan bahan).(Ma’rifat & Rahmawan, 2018) Menurut Zulfakar semua komponen dalam rantai pasok, dari hulu ke hilir, harus memiliki tanggung jawab individu dan terintegrasi untuk melindungi produk makanan halal agar tidak terkontaminasi silang, baik sengaja maupun tidak sengaja.(Zulfakar et al., 2014)

Koordinasi tersebut telah diklasifikasi dalam koordinasi supply chain management terbaik sebagai “koordinasi regulasi” (dampak dan kekuatan tidak langsung) sebagai logistik halal dan yang lengkapi dengan standar. Namun, dalam rantai pasokan ada berbagai standar halal yang terlibat. Kekuatan pada standar halal tidak dapat langsung diklasifikasikan melalui tugas maupun prosedur standarisasi untuk memastikan dalam koordinasi dan standarisasi output. Dalam halal supply chain management harus di sesuaikan dengan tujuan pasar.(Van

(14)

der Vorst & Beulens, 2002) Dalam persyaratan minimum, sebagai perameter desain logistik, harus di bagi di seluruh rantai pasokan. Dalam pendekatanya pembelian dan basis pemasok di analisis berdasarkan dua variabel, pada variabel pertama, terdapat dampak pemasok terhadap hasil keuangan yang dapat diukur dalam biaya pembelian dan kategori produk tertentu atau dampak pada kualitas produk. Pada variabel kedua resiko pasokan dapat diukur berdasarkan kriteria seperti jumlah pemasok potensial, struktur kompetitif di pasar pasokan dan ketersediaan pasokan.

Ada beberapa aspek yang menjadi hal penting dalam halal supply chain managemaent:(Kristiana et al., 2020)

1. Dukungan pemerintah

Dalam dukungan dari pemerintah di perlukan dengan adanya melatih dan mendidik karyawan di perusahaan logistik kecil dan mampu bersaing di pasar global. Selain itu, dukungan pemerintah tersebut penting untuk mempromosikan layanan logistic.

2. Aset khusus

Dalam aset khusus halal, sangat penting untuk diterapkan dalam rantai pasokan halal dan pemisahan lengkap sepanjang rantai pasokan akan meningkatkan integritas halal.

Kunci dalam aset khusus halal merupakan pemisahanan lengkap antara produk halal dan non-halal (haram) selama distribusi, dan asset tersebut akan berbeda dari tranportasi, pergudangan, maupun peralatan. Pada asset khusus ini telah dianggap penting sebagai pencampuran halal dan non-halal (haram) bersama kegiatan transportasi, non-halal (haram) akan menang.(Tieman, 2011)

3. Informasi teknologi

Teknologi informasi sangat penting dalam halal supply chain management, karena hal tersebut dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan, serta dapat menjadikan penguat untuk efesiensi rantai pasokan, dan hal tersebut dapat memungkinkan integrasi rantai pasokan yang lebih besar, sehingga teknologi informasi menunjukkan kebutuhan untuk berinvestasi dalam tegnologi dalam rantai pasokan.(Hammant, 1995)

4. Sumber daya manusia merupakan suatu hal yang penting, karena dalam komponen ini telah menjadi semua komponen lainnya dan dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. Manusia menjadi faktor penting dalam melaksanakan kebijakan halal.

Maka dari itu -pelatihan terhadap karyawan mengenai penerapan kebijakan dan prosedur halal harus dilakukan. Selain menjaga komitmen UMKM halal dalam menerapkan kebijakan halal, pelatihan dapat meningkatkan keahlian karyawan.(Din & Daud, 2014)

(15)

Karyawan yang terlatih akan memiliki tingkat produktivitas yang lebih baik daripada karyawan yang tidak menerima pelatihan. Pelatihan juga dapat mengurangi biaya proses yang timbul karena karyawan melakukan kesalahan sehingga terjadi ketidaksesuaian produk ataupun pengulangan proses produksi.

5. Collaborative Relationship atau kolaborasi atau integrasi halal supply chain management sebagai “dua atau lebih perusahaan independen bekerja bersama untuk merencanakan dan melaksanakan operasi rantai pasokan dengan keberhasilan yang lebih besar dari pada ketika bertindak secara berpisah.(Simatupang & Sridharan, 2002) 6. Sertifikat halal, dimana terdiri dari lembaga dan lembaga sertifikasi halal yang terdiri

dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, masjid lokal atau masyarakat Islam.(Qomaro, 2018)

7. Halal Traceability merupakan kemampuan untuk melacak dan mengikuti makanan maupun pakan hewan atau zat penghasil makanan yang dimaksud untuk diharapkan melalui semua tahap produksi, pemrosesan dan distribusi.

D. Pengawasan

Ada beberapa teori yang dikemukakan tentang pengawasan salah satunya adalah dari Newman yang menjelaskan bahwa pengawasan adalah suatu tindakan yang dilakukan sejak awal proses kegiatan sampai akhir kegiatan. Sedangkan menurut Fahmi (2015, p.653) pengawasan adalah sebuah cara suatu organisasi untuk menciptakan kinerja yang efektif dan efisien serta bertujuan untuk mewujudkan visi dan misi organisasi. Satriadi (2016) menjeaskan bahwa pengawasan adalah suatu proses kegiatan seseorang atau bagian tertentu untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana yang disiapkan, ketentuan-ketentuan yang berlaku, dan kebijaksanaan yang telah di tetapkan. Berdasarkan teori – teori yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa pengawasan adalah sebuah perilaku ataupun tindakan yang dilakukan oleh seseorang dari sejak proses awal kegiatan dimulai sampai dengan akhir kegiatan agar dapat menyelesaikan kegiatan tersebut sesuai dengan tujuan yang dicapai.

Menurut Marigan Masry Simbolon (2004) ada 2 macam teknik pengawasan yaitu:

1. Pengawasan secara langsung

Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan oleh seorang pimpinan atau manager dalam mengawasi kegiatan yang sedang berlangsung. Pengawasan langsung dapat dilakukan dengan cara inspeksi secara langsung ketempat kegiatan

(16)

ataupun laporan dari tempat kegiatan.

2. Pengawasan secara tidak langsung

Pengawasan secara tak langsung adalah pengawasan yang dapat dilakukan dari jarak jauh melalui laporan yang dapat dilihat dari laporan tertulis maupun melalui laporan lisan.

Dari pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pengawasan dari pimpinan ataupun dari seorang manager dapat dilaksanakan secara langsung ataupun secara tak langsung. Tugas seorang pimpinan ataupun manager dalam melakukan pengawasan sangatlah penting dalam segala kegiatan organisasi, Oleh sebab itu, keberhasilan suatu organisasi dapat diukur dari proses kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh seorang pimpinan ataupun dari manager.

(17)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini berupa penelitian kualitatif, dimana menurut Bodgan dan Biklen dalam Moleong (2012: 280) penelitian kualitatif merupakan sebuah upaya yang dilakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data yang relevan, mengoorganisirnya dan mengelolanya sehingga dapat ditemukan hasil sintesa baik berupa pola maupun segala sesuatu yang penting dari apa yang telah dipelajari agar dapat diputuskan apa saja yang dapat diceritakan dan dipertanggung jawabkan kepada publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat fokus terhadap apa saja yang terjadi pada objek penelitian untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, kepercayaan, sikap, persepsi dan pemikiran manusia baik secara individu maupun kelompok (Bachri, 2010). Adapun karakteristik penelitian kualitatif menurut Bodgan dan Biklen tergambar dalam penelitian ini yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang bersifat alami dimana sumber data primer adalah komponen yang utama. Dalam penelitian ini tidak ada upaya manipulatif atau memberikan sebuah perlakuan tertentu kepada objek yang diteliti sehingga segala proses yang berjalan dalam penelitian ini bersifat natural dan apa adanya.

2. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Penelitian ini menjelaskan secara detail, runtut dan rinci terhadap data apa saja yang diperoleh sepanjang proses penelitian

3. Penelitian kualitatif lebih menitik beratkan pada proses dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh. Peneliti menggunakan tesa dan antitesa dalam penelitian ini, namun dalam proses penelitian tidak terpacu pada hasil yang diharapkan, melainkan penggalian dan analisis data berjalan apa adanya sehingga apapun sintesa yang diperoleh adalah hasil yang murni dari data yang telah diperoleh.

4. Penelitian kualitatif cenderung dianalisis secara induktif, dimana dalam penelitian ini menggunakan cara berfikir yang didasari sesuatu yang khusus, yakni apa saja yang terjadi dalam objek penelitian kami, menuju sesuatu yang umum, yakni hasil dari penelitian dapat bersifat general dan aplikatif terhadap pemangku kebijakan.

5. “Makna” merupakan sesuatu yang esensial dalam penelitian kualitatif. Peneliti hadir dalam setiap proses pengumpulan data di lapangan, sehingga segala hal yang ada dalam objek penelitian dapat terserap sebagai data dan dimaknai keberadaannya.

(18)

B. Sumber Data

Sumber data berupa subjek maupun objek penelitian dimana dari keduanya data yang dibutuhkan diperoleh. Sumber data yang paling utama atau yang biasa disebut dengan sumber data primer dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata dan tindakan, sedangkan sumber data tambahan atau yang biasa disebut dengan sumber data sekunder dapat berupa dokumen, catatan-catatan penting, dokumentasi dan lain sebagainya (Lofland dalam Moleong, 2013). Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 102) sumber data secara garis besar terdapat dua macam, yaitu data primer (pokok) dan data sekunder (pelengkap) (Dimyati, 2013). Dan data yang diperoleh pada penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data yaitu:

1. Data primer

Data primer merupakan data utama penelitian yang diperoleh langsung tanpa perantara melalui pengukuran langsung, maupun data hasil dari wawancara dengan narasumber yang harus diolah lagi (Tersiana, 2018). Pana penelitian ini data atau informasi yang dibutuhkan tersebut secara langsung dapat diperoleh pada saat di lapangan dengan menggunakan instrument-instrumen yang sudah ditetapkan. Pengumpulan data primer merupakan bagian internal dari sebuah proses penelitian. Data primer juga seringkali diperlukan dalam pengambilan suatu keputusan. Adapun data primer yang diperoleh peneliti dalam proses penelitian bersumber dari informan yang akan mendukung berjalannya penelitian ini, yaitu:

• para pedagang dan pemilik Rumah Potong Hewan di 4 pasar tradisional yakni pasar Wonokromo Surabaya, Pasar Balongsari Surabaya, Pasar Kedurus Surabaya dan Pasar Pegirian Surabaya

• Pemilik Peternakan ayam di Lamongan

• Pemilik peternakan ayam di Gresik

• Pemilik peternakan sapi di Lumajang

• Pemilik peternakan sapi di Bali 2. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang tersedia dari berbagai macam bentuk dari sumber lain yang tidak diperoleh langsung oleh peneliti pada saat melakukan penelitian di lapangan.

Nasution (2011) menyebutkan data sekunder merupakan sebuah data hasil dari pengumpulan orang lain, dimana yang dimaksud adalah data yang memiliki kategorisasi menurut keperluan, dan data sekunder biasanya diperoleh dari studi kepustakaan,

(19)

dokumen ataupun peneliti terdahulu (Yusuf & Daris, 2018). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumentasi berupa beberapa foto yang diambil dalam tiap objek penelitian.

C. Teknik Pengumpulan Data

Sebuah proses yang teratur dan sistematik dalam upaya memperoleh data yang diperlukan disebut dengan Teknik pengumpulan data, dimana tahap ini merupakan suatu prosedur yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa Teknik dalam pengumpulan data, yakni dengan Teknik observasi, Teknik wawancara dan Teknik dokumentasi (Mamik, 2015) yang akan dijelaskan dengan lebih rinci sebagai berikut:

1. Teknik Pengamatan (Observasi)

Teknik observasi berupa Tindakan pengamatan secara mendalam dan seksama terhadap setiap gejala yang tampak pada objek penelitian sebagai proses pengambilan informasi. Teknik observasi berupa usaha untuk mengkaji tingkah laku dan fenomena dalam objek yang diteliti. Ada dua jenis observasi dalam penelitian, yakni observasi secara langsung dan observasi secara tidak langsung. Observasi secara langsung yakni oberservasi yang dilakukan pada objek penelitian di tempat terjadi atau diselidikinya, sedangkan observasi tidak langsung yakni pengamatan yang dilakukan tidak pada saat suatu peristiwa yang tengah diselidiki sedang berlangsung. Obervasi yang dilakukan dalam penelitian ini berupa pengamatan cara pedagang daging ayam dan sapi dalam menjual dagangannya, cara juru sembelih dalam rumah potong hewan dalam mengeksekusi hewan dan cara beternak ayam dan sapi. Melalui proses observasi, peneliti dapat secara langsung mengetahui tentang segala hal yang terjadi dan kemungkinan dapat terjadi dalam setiap titik pada rantai pasok komoditi daging ayam dan sapi di Surabaya

2. Teknik Wawancara

Wawancara adalah sebuah proses untuk mendapatkan keterangan yang diperlukan dalam sebuah penelitian dengan metode tanya jawab dan tatap muka antara pihak peneliti selaku pewawancara dan pihak yang diwawancara dengan mengacu pada pedoman wawancara (interview guide) (Hardani, 2020). Tujuan dari adanya proses wawancara adalah untuk melakukan sebuah konstruksi pemikiran terhadap manusia, organisasi, kejadian, perasaan, motivasi, tuntutan, dan lain sebagainya. Wawancara merupakan sebuah proses yang telah direncanakan sebelumnya dan tentunya harus

(20)

sudah terjadi kesepakatan sebelumnya antara kedua belah pihak, yakni pihak peneliti dan pihak informan untuk melakukan proses wawancara ini. Secara garis besar ada tiga macam pedoman dalam melakukan penelitian yang menggunakan metode interview, yaitu: a. Pedoman wawancara tidak struktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Disini kreatifitas seorang pewawancara sangat diperlukan karena pewawancara menjadi seorang pengemudi jawaban responden.

b. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai cheklist, disini pewawancara tinggal membubuhkan tandah (chek) pada nomor yang sesuai c. Pedoman wawancara semi struktur, dalam pedoman ini interviewer mula-mula menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut.

Dengan demikian keterangan yang diperoleh bisa meliputi semua variabel dengan keterangan yang lengakap dan mendalamWawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan pedagang daging ayam dan sapi dan pemilik rumah potong hewan (RPH) di empat pasar tradisional di Surabaya, yakni pasar Wonokromo, pasar Balongsari, Pasar Kedurus dan Pasar Pegirian; pemilik peternakan ayam di Gresik dan Lamongan; pemilik peternakan sapi di Lumajang dan Bali.

3. Teknik Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya. Metode ini lebih mudah dibandingkan dengan metode lain karena apabila ada kekeliruan dalam penelitian sumber datanya tidak berubah dan dalam metode dokumentasi yang diamati adalah benda mati. Dokumentasi dalam penelitian kualitatif dijadikan sebagai penyempurna dari data wawancara dan data observasi yang dilakukan oleh peneliti. Dokumen yang diperoleh dari penelitian dapat berupa tulisan, gambar ataupun sebuah karya monumental dari objek yang diteliti (Ulfatin,2014).Keutamaan dari metode dokumentansi adalah sebagai bukti suatu pengkajian, metode ini sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah sesuai dengan konteks, metode ini mudah ditemukan dengan kajian isi.

D. Teknik Analisis Data

Teknik Analisis Data Analisis data adalah suatu cara yang digunakan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya.

(21)

“Menurut Bogdan dan Biklen dalam Lexy J. Moleong analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensiskanya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan orang lain.” Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori dari Bogdan dan Biklen (1992) yang mengemukakan bahwa analisis data merupakan sebuah proses untuk mencari dan mengatur secara sistematis transkrip wawancara, hasil dokumentasi, dan data-data yang lainnya. Rangkaian analisis data ini dapat dibangun dalam tiga ranah, yaitu: Tesa, Antitesa dan Sintesa seperti pada Gambar berikut:

Gambar 3.1. Analisis tiga ranah tesa, antitesa dan sintesa

Tesa dalam penelitian ini adalah konseptual, yakni teori konsep halal supply chain pada komoditi daging ayam dan sapi. Antitesa dalam penelitian ini berupa adanya dugaan berupa terdapat beberapa prosedur halal yang terlewati dari rantai pasok halal (ada penyimpangan) dalam setiap titik yang terdapat dalam rantai pasok halal komoditi daging ayam dan sapi, contohnya yaitu adanya pihak yang menyembelih ayam dan sapi belum tersertifikasi juleha, adanya dugaan hewan tiren, darah hewan sembelihan yang seharusnya dibuang masih digunakan, dll.sedangkan sintesa adalah hasil analisis dari data yang diperoleh dan teori yang digunakan dalam penelitian ini. Dari Gambar 3.1 tersebut juga dapat dilihat posisi “tesa” di isi dengan teori atau data, posisi sintesa juga diisi oleh hal yang sama yaitu teori dan data, tentunya dalam perspektif yang berbeda dengan yang digunakan pada teori dan data sebelumnya, sedangkan posisi sintesa merupakan analisis teori dan data yang telah dibangun pada posisi tesa dan sintesa. Di samping itu, juga menggunakan analisis data yang dikemukakan oleh Strauss dan Juliet Corbin (2003), yaitu dengan (a) pengkodean terbuka (open coding), (b) pengkodean berporos (axcial coding), Ismail Nawawi 34 dan (c)

(22)

pengkodean terpilih (selective coding). Analisis inilah yang menuntun dalam melakukan analisis data. Di samping analisis data tersebut, peneliti menggunakan analisis kualitatif seperti yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992), yaitu melalui proses tahapan pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan kemudian penarikan data/verifikasi. Hal ini diilustrasikan pada Gambar dibawah ini.

Gambar 3.2

Komponen-komponen Analisis Data

E. Validasi Data

Untuk memeriksa keabsahan data penelitaian ini dilakukan dengan berbagai kegiatan, yaitu: (a) melakukan triangulation (memverifikasi temuan dengan berbagai sumber informasi), (b) melakukan peer debriefing, (pemeriksaan data melalui sejawat dengan melakukan diskusi), (c) melakukan member check (langkah meningkatkan hasil penelitian dengan cara melibatkan partsipan untuk merivie data/informasi) dan audit trial (menguji keakuratan data melalui pemeriksaan data mentah). Adapun Pemeriksaan keabsahan data didasarkan atas kriteria tertentu. “kriteria itu terdiri atas derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).

Untuk mendapatkan data yang relevan dan urgen terhadap data yang terkumpul, maka penulis menggunakan teknik triangulation yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Hal ini merupakan cara yang paling populer dalam penelitian

(23)

kualitatif, karena dengan triangulasi ini peneliti mampu menarik kesimpulan yang mantap tidak hanya dari satu cara pandang sehingga kebenaran data lebih bisa di terima. a.

Triangulasi Penggunaan Sumber, caranya anatara lain: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (3) membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi peneliti dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu, (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan rendah, menengah, dan tinggi, orang berada, dan orang pemerintahan, (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

(24)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Lokasi Penelitian

1. Peternakan Ayam Broiler Gresik

Peternakan ayam broiler milik bapak syamsuri beralamatkan di desa punduttrate RT 08 RW 02 Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik Jawa Timur. Peternakan ini sudah berdiri sejak tahun 2010. Total kandang untuk peternakan ayam broiler yang dimiliki pak syamsuri ada 3 dimana setiap kandangnya berisi sekitar 3000 ekor ayam broiler dengan luas kandang 4000m2. Bapak syamsuri mengelola peternakan ayam broiler bersama saudara kandungnya yaitu bapak anwar. Setiap hari mereka berdua merawat ayam – ayam broiler dari pagi hari sampai malam hari.

2. Peternakan Ayam Gresik

Peternakan ayam milik Bapak H. Mochammad Ali ini berlokasi di daerah gresik pada awalnya pemilik memiliki modal untuk mendirikan peternakan sejumlah Rp 15.000.000 secara tradisional untuk dibelikan bibit, makanan, serta pembuatan kandang.

Kapasitas kandang yang dimiliki saat awal mendirikan sejumlah 1.500 ekor ayam.

Pemilik mendapati kesulitan seiring waktu berjalan dalam hal memasarkan, pembelian makanan dan kesehatan ayam, karena adanya beberapa kendala kemudian pemilik bergabung dengan pabrik comfit agar teknik pemasaran, kebutuhan bibit, makanan dan kesehatan ditanggung oleh pabrik. Dalam kerjasama yang sudah berjalan berkembang untung, namun tetap masih ada yang dirasa kurang masksimal akhirnya Bapak M. Ali mengembangkan ruang kandangnya dari keuntungan bekerjasama dengan pabrik menjadi berkapasitas 5.000 ekor. Akan tetapi kerjasama dengan pabrik comfit tidak berlangsung lama, dan pemilik peternakan memilih bekerjasama dengan pihak lainnya dengan tawaran yang lebih baik. Selain itu anak dari si pemilik juga ikut andil dalam proses pengembangan kandang yang awalnya terbuka menjadi semi tertutup.

3. Peternakan Ayam Lamongan

Peternakan ayam milik Bapak H. Kasrip seorang pensiunan PNS memulai usaha peternakan ayam secara modern dengan kondisi kandang tertutup dan bekerjasama dengan pabrik pensuplai bibit, pakan, vitamin untuk ayam. Biaya operasional yang dikeluarkan oleh Bp. H. Kastrip lebih banyak karena kondisi kandang yang tertutup membutuhkan blower listrik yang bisa mencapai Rp 15.000.000/Bulan. Terkait kesehatan ternak ayam telah terjamin penuh dari pabrik dan keluarga yang berprofesi

(25)

sebagai dokter.

4. Peternakan Sapi Lumajang

Peternakan sapi yang terletak di daerah Lumajang Jawa Timur milik Bapak Rachman memiliki sapi berjenis limosin dan blasteran berjumlah 6 ekor sapi dewasa dan 1 ekor anak sapi yang dipelihara dalam kandang yang semi terbuka. Ia membeli sapi untuk digemukkan pada umur tiga tahun dengan bobot 1,5kw, lalu akan menjualnya saat masa panen yaitu sekitar 5 bulan lamanya penggemukan atau sampai pada bobot yang diinginkan. Lalu akan dijual kembali ke pasar untuk didistribusikan oleh tengkulak di pasar keluar daerah.

5. Peternakan Sapi Dusun Amed Bali

Peternakan sapi berlokasi di Dusun Amed Desa Purwakerthi Kecamatan Karangasem Kabupaten Bali yang dipelihara oleh Bapak Ketut Danne berjumlah 5 ekor betina dan jantan. Pemeliharaan sapi dilakukan di kebun milik salah seorang warga yang menyewakan tanahnya kepada Bapak Ketut. Ia berternak sapi bersama istri dan anaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sarana dan prasarana dalam ternak sapi yang dijalankan masih terbilang cukup sederhana dan tradisional, dengan memanfaatkan peralatan dan perlengkapan yang seadanya baik untuk kebutuhan makanan dan juga kandang sapi.

6. UD. Bali Sapi Mandiri

UD. Bali Sapi Mandiri didirikan pada tahun 2020 oleh Bapak Haqi, berlokasi di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, namun Bapak Haqi telah menggeluti usaha ternak sapi sudah cukup lama. Memiliki 5 orang pegawai. UD Bali Sapi Mandiri adalah tempat usaha pengepul ternak sapi yang akan dikirim ke seluruh Indonesia. Bekerja sama dengan masyarakat di desa dalam proses penggemukan sapi. Lokasi kandang UD. Bali Sapi Mandiri sarana untuk sapi transit sebelum dikirim ke pelosok negeri.

7. Rumah PH Pasar Wonokromo

Pasar Wonokromo adalah salah satu pasar tradisional yang terletak di Kota Surabaya di bawah pengelolaan pusat oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yakni PD. Pasar Surya. Selain pasar tradisional di lokasi yang sama terletak di lantai dua tersedia pasar modern dengan harga yang sudah tidak dapat dilakukan tawar menawar.

Pasar tradisional Wonokromo menyediakan berbagai macam kebutuhan pokok sehari- hari mulai dari sayuran, daging, buah, peralatan rumah tangga hingga pakaian dan sepatu. Jam operasional Pasar Wonokromo dimulai dari dini hari hingga 17.00 WIB,

(26)

selain itu terdapat kios yang tetap buka di jam-jam tertentu.

Salah satu RPH Ayam Ps. Wonokromo milik pribadi berdiri pada tahun 1991 yang dirintis oleh Paman dari H. Fauzi lalu diserahkan kepada H. Fauzi, yang dikelola oleh adiknya bernama Moh. Ariksan N. memiliki pegawai sejumlah 13 orang. RPH ayam milik H.Fauzi mendapatkan supply ayam hidup dari PT. Subur yang memiliki ternak di beberapa tempat.

8. RPH Ayam Balongsari Surabaya

RPH balong sari didirikan oleh H. Syueb sejak tahun 1998. RPH Balongsari ini beralamatkan di Pasar Balongsari JL. Balongsari Tama 1D no 17 Surabaya. RPH balongsari ini adalah satu – satunya tempat untuk pemotongan ayam saja di daerah Surabaya barat dan sekitarnya. Jam operasional RPH Balongsari adalah buka pukul 00.00 – 05.00, kemudian buka lagi pukul 13.00 sampai dengan habis. RPH balongsari terdiri dari 1 orang pemilik, 3 orang tukang jagal ayam, 2 supir untuk pengiriman barang ataupun untuk kulakan, dan 3 orang untuk bagian kernet.

9. Rumah Potong Hewan Sapi Kedurus Surabaya

Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Kedurus Surabaya atau RPH adalah salah satu Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah Kota Surabaya menyediakan jasa tempat pemotongan hewan sapi yang didirikan pada tahun 1967, pusatnya berada di RPH Pegirikan Surabaya. RPH Kedurus terletak di alamat Jl. Raya Mastrip No. 45 A, Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Kota Surabaya. RPH Kedurus beroperasional dimulai dari jam 22.00 – 03.00 WIB. Karyawan yang terdapat di RPH Kebonsari berjumlah 12 orang yang dipimpin oleh Bapak Bandang. Hewan yang dipotong di RPH Kedurus yaitu khusus untuk pemotongan sapi saja.

a. Tugas Pokok dan Fungsi

Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah di Kota Surabaya Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan mempunyai

Tugas Pokok:

1) Memberikan pelayanan kepada masyarakat terhadap kebutuhan daging sehat, segar dan hygienis serta halal.

2) Sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan sumber Pendapatan Asli Daerah dan sebagai sarana pembangunan perekonomian dalam rangka pembangunan Daerah khususnya dan pembangunan Nasional pada umumnya.

Fungsi :

(27)

1) Perencanaan segala usaha untuk kepentingan pengembangan Perusahaan Daerah.

2) Pelaksanaan pemungutan retribusi pemotongan hewan dan lainnya yang sah dengan ketentuan yang berlaku, pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada dalam kewenangan Perusahaan Daerah

3) Pembinaan, bimbingan dan penyuluhan terhadap kegiatan para pemakai jasa Rumah Potong Hewan.

4) Koordinasi baik keluar maupun kedalam dalam mewujudkan tujuan Perusahaan Daerah.

5) Pengawasan teknis sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Kepala Daerah atau Badan Pengawas serta Peraturan Perundangan yang berlaku.

b. Visi dan Misi

Visi dari Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Surabaya adalah sebagai berikut : Menjadikan Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Surabaya sebagai pusat pelayanan dan bisnis serta produk ikutannya, berorientasi pada Ketahanan Pangan dan Produk ASUH (Aman Sehat Utuh Halal). Misi dari Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Surabaya adalah sebagai berikut :

1) Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Surabaya menjadi pusat produksi dan bisnis daging yang handal.

2) Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Surabaya mampu memenuhi kebutuhan konsumen akan daging yang ASUH, Hygienis dan berkualitas.

3) Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan Surabaya mampu memenuhi standar SNI (Standar Nasional Indonesia) yang ramah lingkungan dan secara tidak langsung meningkatkan gizi dan intelektual masyarakat.

4) Meningkatkan Pengembangan Usaha yang Prospektif khususnya dibidang Jasa, Perdagangan dan Manufaktur.

B. Rantai Pasok Komoditi Daging Ayam dan Daging Sapi 1. Komoditi daging ayam

Salah satu sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia berasal dari daging ayam. Tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia berada di urutan tertinggi, bahkan mengalahkan tingkat konsumsi daging sapi (BPS, 2020). Pada

(28)

tahun 2020 konsumsi daging ayam mencapai angka 3,2 juta ton dalam setahun, jika dirata- rata maka setiap orang dapat mengkonsumsi sebanyak 13 kg ayam per tahun. Banyaknya konsumsi daging ayam ini dikarenakan harga ayam relatif lebih murah dibandingkan dengan daging bebek, kambing, dan sapi. Selain itu daging ayam mudah diolah serta memiliki cita rasa yang lezat. Tingkat konsumsi daging ayam yang tinggi di Indonesia harus disertai dengan dijamin kehalalannya mulai dari ketika ayam diternakkan hingga berada pada tangan konsumen akhir. Dibutuhkan penelusuran pada setiap titik yang ada dalam sepanjang rantai pasok komoditi ayam agar dapat dikaji kehalalan dalam setiap prosesnya.

Hampir di setiap pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern terdapat daging ayam yang dijual. Penelitian ini mengambil sampel di 4 pasar tradisional di Surabaya, dimana 2 diantaranya terdapat rumah potong ayam, yakni pasar wonokromo dan pasar balongsari. Hasil penelusuran rantai pasok komoditi daging ayam yang dilakukan oleh peneliti dapat dilihat dalam bagan berikut:

Peternak Ayam

RPH Ayam(Dalam Pasar Tradisional)

Pedagang Ayam Potong Eceran (Di

pasar Tradisional

Konsumen Akhir

Rumah Makan / Restoran / Hotel

Konsumen Akhir

Gambar 4.1

Rantai Pasok Komoditi Daging Ayam

Dalam bagan tersebut, dapat kita kaji bahwa hulu atau awal dari rantai pasok komoditi daging ayam adalah di peternakan ayam. Peternakan ayam yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah peternakan ayam broiler (ayam pedaging) milik Bapak Syamsuri yang terletak di Gresik dan peternakan ayam pedaging milik Bapak A yang

(29)

terletak di Lamongan. Peternakan ayam pada umumnya bermitra dengan perusahaan yang mensupply ayam pedaging ke rph. Perusahaan pensupply ayam ini menetaskan telur-telur ayam sehingga lahir anak ayam. Anak ayam yang baru menetas dan masih berusia 0 sampai dengan 1 hari kemudian dibawa ke peternakan-peternakan ayam untuk dibesarkan, hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan pemilik peternakan ayam sebagai berikut:

“Untuk konsep peternakannya kita itu bermitra. Jadi kita tidak kulakan ayam kecil trus kemudian kita jual sendiri ketika nanti sudah besar. Kita itu bermitra, dari anakan ayam atau yang biasa disebut DOC yang berusia 0 atau 1 hari itu semuanya dikirim oleh perusahaan yang bermitra dengan kami. Kemudian perusahaan tersebut juga akan mengirimkan pakan ayam, vitamin, obat, dan segala kebutuhan lainnya. Setelah itu nanti ketika sudah berusia 33-36 hari ayam sudah siap untuk dipanen itu kita setorkan lagi kepada perusahaan mitra kita. Jadi disini konsepnya adalah hanya untuk penggemukan ayam”

Anakan ayam yang masih berusia kurang dari sama dengan 1 hari kemudian dirawat oleh peternak ayam dalam kandang khusus dan diberi makan dengan pakan hewan yang memiliki kualitas tinggi. Pakan ayam yang digunakan dalam peternakan ini adalah Malindo 8201 dan 8202. Malindo dengan kode ini adalah pakan khusus ayam dan tidak boleh diberikan kepada ternak ruminansia lain (kerbau, sapi, kambing dan domba). Pakan ayam yang diberikan ini memiliki kandungan nutrisi seperti protein 22-24%, lemak2,5%, serat kasar 4%, kalsium (Ca) 1%, dan phosphor (P) 0,7-0,9%. Malindo sendiri adalah pakan ayam yang diproduksi oleh pabrik yang bersertifikat GMP, ISO 9001 dan ISO 22000, artinya, pakan yang dihasilkan adalah pakan yang memiliki kualitas tinggi dan diproduksi secara higienis. Selain itu, ayam juga diberi asupan vitamin secara berkala agar meningkatkan daya tahan tubuh ayam sehingga tidak mudah terkena penyakit. Selain itu, ayam juga mendapatkan vaksin agar terhindar dari penyakit yang paling ditakuti oleh peternak ayam broiler, yakni penyakit Newcastle disease yang menyerang pernapasan ayam. Vaksin ini diberikan kepada ayam dengan mencampurkannya ke air yang diminum ayam di usia 12 hari dan 19 hari. Segala yang masuk dalam tubuh ayam broiler telah disesuaikan dengan kebutuhan ayam dengan menerapkan standar mutu yang tinggi sehingga ayam yang dihasilkan adalah ayam yang sehat dan memiliki gandungan gizi serta protein yang tinggi. Peternak juga tidak diperkenankan memberikan pakan tertentu yang dapat membahayakan ayam atau bahkan dalam jangka panjang dapat membahayakan manusia yang mengkonsumsi ayam tersbut, seperti yang disampaikan oleh informan dalam penelitian ini:

(30)

“Untuk saat ini sudah tidak ada obat untuk penggemukan mas. Semua makanan, vitamin, obat itu tidak ada yang khusus untuk menggemukkan. Vitamin dan obat itu diberikan agar ayamnya tidak gampang sakit. Kalau jaman dulu sebelum 2014, ada makanan yang mengandung AGP (Antibiotic Growth Promoter). Kalau ada kandungan AGP tersebut ayam lebih cepat gemuk. Selain itu ayam tidak mudah stress dan tidak mudah terkena penyakit sehingga perawatannya lebih mudah. Namun kandungan AGP tersebut saat ini sudah dilarang oleh pemerintah. Setelah dilakukan penelitian, ternyata kandungan AGP ini dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit ketika dikonsumsi manusia. Di luar negeri sendiri, penggunaan AGP sudah dilarang sejak dahulu.”

Selain dari sesuatu yang dikonsumsi oleh ayam, proses pemeliharaan ayam juga tidak terlepas dari kualitas tempatnya. Kandang ayam yang ada di peternakan juga menjadi sesuatu yang selalu diperhatikan oleh peternak, hal ini agar proses pemeliharaan ayam tidak mengandung unsur yang menyakitkan, sesuai dengan hadits Rasulullah Saw,

“Seorang perempuan diazab karena seekor kucing yang dikurungnya sampai mati. Dia pun masuk neraka karena perbuatan itu. Kucing itu tidak diberi makan dan minum ketika dia mengurungnya. Bahkan, dia tidak membiarkannya makan serangga di bumi." (HR Muttafaq 'Alaih). Anjuran Islam untuk tidak menyakiti hewan, termasuk hewan ternak juga diaplikasikan dalam pembangunan dan perawatan kandang, dimana kandang ayam ini harus dijaga kebersihannya, seperti yang dikatakan oleh informan penelitian:

“Kandang mas itu ada 2 yaitu ada yang system open house dan ada yang system close house. Kalau disini sistemnya open house. Jadi didirikan ditengah sawah agar dapat angin yang cukup dan agar baunya terhindar dari warga. Kemudian, ini sistemnya buka tutup korden mas. Kalau suhu ruangannya panas akan kita nyalakan kipas angin blower dan kita buka semua terpal atau horden2nya agar suhunya turun. Namun kalau malam hari atau musim penghujan kita tutup terpalya atau hordennya. Kandang didirikan diatas tanah dengan kayu mas. Kemudian lantainya dibuat berongga agar kotoran ayam tadi tidak di kandang tapi jatuh ke tanah. Setiap selesai panen kandang harus benar2 dibersihkan dan dipel agar lalat ataupun hewan lainnya tidak hinggap ke kandang. Setiap hari wajib untuk dibersihkan. Makanan untuk ayam juga dipilih yang bagus agar kotorannya tidak terlalu bau. Kalau tidak dibersihkan, kandang akan banyak lalat dan ayam akan mudah terkena penyakit lalu kemudian mati.”

(31)

Gambar 4.2 Kandang Ayam Broiler

Proses perawatan ayam tidak terhenti pada pakan dan kebersihan kandang saja, namun ada hal lain yang harus diperhatikan, yakni suhu dalam kandang ayam. Suhu yang tidak tepat akan menyiksa ayam dan menyebabkan ayam cepat mati. Pengaturan suhu dalam kandang ayam secara lebih jelas dipaparkan oleh informan sebagai berikut:

“Kalau untuk suhu, tergantung dari usia ayamnya. Kalau masih kecil itu ayam – ayam butuh suhu yang lebih hangat yaitu dikisaran antara 36 - 38 derajat celcius. Untuk menjaga suhu agar tetap segitu, biasanya kita nyalakan alat penghangat ruangan mas yang memakai bahan bakar gas LPG. Namun kalau sudah seminggu atau 10 hari suhunya akan diturunkan. Semakin besar ayam semakin rendah suhunya. Ayam broiler yang sudah umur 25 hari keatas membutuhkan suhu ruangan sekitar 27 derajat celcius. Agar dapat suhu yang rendah biasanya kita nyalakan kipas angin blower semuanya sampai siap panen”

Pemeliharaan ayam di peternakan dilakukan dengan baik, namun tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa ayam yang mati sebelum dipanen. Ayam yang mati sebelum dipanen biasa disebut dengan sebutan “ayam tiren”. Ayam tiren ini mati tanpa melalui proses penyembelihan, sehingga dihukumi sebagai bangkai dan haram dikonsumsi oleh manusia sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur’an:

َٰٓاَم َو ُةَحيِطَّنلٱ َو ُةَيِ د َرَتُمْلٱ َو ُةَذوُق ْوَمْلٱ َو ُةَقِنَخْنُمْلٱ َو ۦِهِب ِ َّللَّٱ ِرْيَغِل َّلِهُأ َٰٓاَم َو ِري ِزن ِخْلٱ ُمْحَل َو ُمَّدلٱ َو ُةَتْيَم ْلٱ ُمُكْيَلَع ْتَم ِ رُح

ْمُكِنيِد نِم ۟او ُرَفَك َنيِذَّلٱ َسِئَي َم ْوَيْلٱ ۗ قْسِف ْمُكِلََٰذ ۚ ِم ََٰلْزَ ْلْٱِب ۟اوُمِسْقَتْسَت نَأ َو ِبُصُّنلٱ ىَلَع َحِبُذ اَم َو ْمُتْيَّكَذ اَم َّلَِإ ُعُبَّسلٱ َلَكَأ

ىِف َّرُطْضٱ ِنَمَف ۚ اانيِد َمََٰلْس ِْلْٱ ُمُكَل ُتي ِض َر َو ىِتَمْعِن ْمُكْيَلَع ُتْمَمْتَأ َو ْمُكَنيِد ْمُكَل ُتْلَمْكَأ َم ْوَيْلٱ ۚ ِن ْوَشْخٱ َو ْمُه ْوَشْخَت َلًَف

مي ِح َّر روُفَغ َ َّللَّٱ َّنِإَف ۙ ٍمْثِ ِ لْ ٍفِناَجَتُم َر ْيَغ ٍةَصَمْخَم

(32)

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al- Maidah:3)

Larangan mengkonsumsi bangkai dalam Islam berada pada urutan pertama.

Konsumsi ayam tiren yang notabene adalah bangkai merupakan hal yang sangat membahayakan. Bangkai dihukumi najis dan mengandung kuman serta penyakit sehingga sangat berbahaya apabila sampai dikonsumsi oleh manusia. Perlakuan kepada ayam tiren dalam peternakan dijelaskan oleh informan sebagai berikut:

“Biasanya ayam – ayam yang mati itu kita kumpulkan jadi satu dan kita kubur. Kalau peternak lain, ayam – ayam mati atau yang biasanya disebut dengan tiren itu bisa juga sebenarnya untuk dijual, tapi lihat – lihat dulu siapa yang akan membeli. Ayam tiren biasanya dijual ke peternak lele untuk pakan lele. Namun sebelum dijual, ayam tersebut harus dibakar dulu, ini untuk mencegah agar ayam tiren tersebut tidak dijual ke masyarakat umum dan kalau ayam tersebut dibakar dulu itu akan membuat kolam lele jadi tidak berbau”

Pemeliharaan ayam di peternakan berlangsung hingga ayam mencapai usia siap panen. Usia ayam yang siap untuk dipanen 33 sampai dengan 36 hari dan memiliki bobot diatas 2 kg. ayam yang siap dipanen ini kemudian diambil oleh pabrik pensuplai anakan ayam yang berada di awal penjelasan untuk kemudian dikirimkan kepada rumah potong ayam.

Rumah potong ayam yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah rumah potong ayam milik H. Fauzi yang terletak di pasar Wonokromo dan Rumah potong ayam milik H. Syueb yang terletak di pasar Balongsari Surabaya. Rumah potong ayam adalah tempat penyembelihan ayam yang beroperasi hampir setiap hari, mengingat permintaan ayam di Indonesia sangat tinggi, termasuk di provinsi Jawa Timur tempat objek penelitian ini. Ayam yang sudah dipanen dari peternakan ayam kemudian diangkut ke rumah potong ayam untuk disembelih. Jumlah ayam yang diangkut ke rumah potong ayam sesuai dengan pesanan yang diterima oleh rumah potong ayam. Rumah potong ayam menerima pesanan

Referensi

Dokumen terkait

[Lihat

Efektif membunuh dermatofita dan varietes fungi sistemik seperti Histoplasma, Blastomyces dan Coccidioides (Wientarsih et al., 2012). Ketoconazole 2% dapat dioleskan ke

Bunyi yang kita dengar dari sumber bunyi sebenarnya dapat didengar karena adanya getaran dari sumber bunyi tersebut. Pada saat angklung kita gerakkan maka akan

PEDOMAN PELAY MAN PELAYANAN KESEHATA ANAN KESEHATAN N MATERNAL MATERNAL DAN DAN NEON NEONAT ATAL AL RUMAH SAKIT UMUM YARSI PONTIANAK. RUMAH SAKIT UMUM

Dalam tipologi ruang kota, informasi visual ini menjadi penanda untuk membangun orientasi dan persepsi spatial.Penemuan terhadap orientasi menjadi penting ketika para pelaku

Konsep perancangan pada Mixed Use Building Di Surabaya yang akan di desain akan diarahkan untuk merespon potensi sekitar berupa lokasi yang terletak pada daerah

Dapatan kajian ini juga hampir selari dengan kajian yang dijalankan oleh Khaziah (2016) yang menunjukkan faktor pentadbir iaitu guru besar dalam dimensi iklim sekolah

terkait asas-asas, doktrin-doktrin, dan norma hukum yang berkaitan dengan Kepastian Nilai Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Melalui Hibah