PENGARUH TINGKAT INFLASI TERHADAP TINGKAT SUKU BUNGA PINJAMAN PADA BANK
BUMN XXX
Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Program Diploma III
Oleh :
DWI WARA HESTINING NURANI 31105009
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK BATAM
2008
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS AKHIR
PENGARUH TINGKAT INFLASI TERHADAP TINGKAT SUKU BUNGA PINJAMAN PADA BANK BUMN XXX
BATAM, 01 JULI 2008
DOSEN PEMBIMBING I DOSEN PEMBIMBING II
HENDRA GUNAWAN, SE DWI KARTIKASARI, ST
NIK. 100004 NIK. 106039
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Pengaruh Tingkat Inflasi Terhadap Tingkat Suku Bunga Pinjaman pada Bank BUMN XXX”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan pengerjaan Tugas Akhir ini. Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada:
1. Kedua orang tua yang telah banyak memberikan support kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. Bapak Hendra Gunawan, SE selaku pembimbing I.
3. Ibu Dwi Kartikasari, ST selaku pembimbing II.
4. Bapak Priyono Eko Sanyoto selaku Direktur Politeknik Batam.
5. Ibu Sinarti selaku Kaprodi Akuntansi.
6. Bapak Fahrudin Lubis selaku wali kelas penulis.
7. Seluruh staff dan dosen Politeknik Batam.
8. Bapak Arnold Swd Maukar selaku Area Manager PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam yang telah memberikan pelajaran berharga selama penulis melakukan kegiatan magang industri.
9. Bapak Bolot Tukino selaku Operational Manager PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam yang telah mengizinkan penulis untuk mengangkat judul
Tugas Akhir yang datanya penulis peroleh dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam.
10. Bapak Purwanto Sardjono Wirutomo selaku Kepala Cabang di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan magang industri di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam.
11. Bapak Gugus Gunawan selaku WorkFlow manager yang telah bersedia menerima penulis untuk melaksanakan kegiatan magang industri di Consumer Loan Bussiness Center.
12. Bapak Dhian Affandi selaku Sales Manager PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Cabang Batam yang telah bersedia menjadi Trainer bagi penulis selama penulis melakukan kegiatan magang industri.
13. Pak Ikhwan, Mbak Dede, Kak Ija, Pak Ripal, Mbak Zita, Mbak Iles, Mbak Ani, Mbak Leni, dan Mbak Tika selaku Sales Executive yang telah banyak memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis mengenai dunia marketing perbankan serta dengan rela berbagi kursi dan ruang kerja dengan penulis.
14. Mas Jack yang telah berbaik hati untuk memberikan panduan mengenai latar belakang berdirinya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. beserta struktur organisasinya.
15. Pihak manajemen dan staff PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan magang industri dan mempelajari banyak hal terkait dengan Tugas Akhir penulis.
16. Pihak Bank Indonesia Cabang Batam yang telah banyak memberikan informasi kepada penulis.
17. Pihak Badan Pusat Statistik yang telah banyak memberikan informasi kepada penulis.
18. Bang Nandar dan Mas Didi yang bersedia meluangkan waktu ketika penulis datang ke Bank Indonesia untuk mencari data.
19. Adit yang selalu bersedia direpotin selama 24 jam.
20. Uthie dan Titie yang bersedia bersusah-susah bersama selama tiga tahun ini.
21. Teman-teman seangkatan yang juga merasakan apa yang penulis rasakan.
Penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, sehingga dalam penulisan Tugas Akhir ini tentunya terdapat berbagai kekurangan dan masih jauh dari nilai kesempurnaan. Dengan segala kerendahan hati, penulis menghargai kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dapat bermanfaat bagi penulis di masa mendatang.
Akhir kata penulis memohon maaf kepada segenap pihak yang telah membantu penulis dalam pengerjaan Tugas Akhir ini. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan tersebut penulis tetap berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca. Amin.
Batam, 05 Juni 2008
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul... i
Halaman Pengesahan ... ii
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... ix
Daftar Gambar... x
Daftar Grafik ... xi
Abstrak ... xii
Bab I Pendahuluan ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Tujuan Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
1.6 Hipotesis Penelitian... 4
1.6.1 Hipotesis... 4
1.6.2 Rancangan Pengujian Hipotesis... 5
1.7 Sistematika Penulisan ... 5
Bab II Tinjauan Pustaka ... 7
2.1 Inflasi ... 7
2.1.1 Pengertian Inflasi ... 7
2.1.2 Jenis-Jenis Inflasi ... 10
2.1.3 Teori-Teori Inflasi... 14
2.1.4 Dampak Inflasi terhadap Kegiatan Ekonomi ... 18
2.1.5 Cara Mengatasi Inflasi ... 22
2.2 Suku Bunga ... 28
2.3 Kaitan antara Tingkat Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Pinjaman... 32
Bab III Metodologi Penelitian dan Gambaran Umum Perusahaan... 35
3.1 Metodologi Penelitian ... 35
3.1.1 Objek Penelitian ... 35
3.1.2 Teknik Pengumpulan Data... 35
3.1.3 Metode Analisis Data... 36
3.2 Gambaran Umum Perusahaan... 37
3.2.1 Sejarah Berdirinya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk... 37
3.2.2 Peran PT Bank Mandiri (Persero) Tbk... 41
3.2.3 Visi dan Misi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk... 42
3.2.4 Produk dan Jasa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk... 44
3.2.5 Struktur Organisasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam ... 46
3.2.6 Deskripsi kerja ... 47
3.2.7 Sejarah Berdirinya Consumer Loan Bussiness Center (CLBC) ... 49
3.2.8 Struktur Organisasi Consumer Loan Bussiness Center (CLBC) ... 50
3.2.9 Deskripsi Kerja ... 51
3.2.10 Kebijakan Perusahaan ... 66
Bab IV Pembahasan ... 67
4.1 Pengumpulan Data ... 67
4.1.1 Sumber Data... 67
4.1.2 Karakteristik data ... 67
4.1.3 Statistik Deskriptif ... 70
4.2 Uji Normalitas... 72
4.3 Hasil Uji ... 74
Bab V Penutup ... 81
5.1 Kesimpulan ... 81
5.2 Saran... 82 Daftar Pustaka
Lampiran
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Daftar Tingkat Inflasi Periode Januari Tahun 2005 sampai
dengan Periode Desember Tahun 2007... 68
Tabel 4.2 Daftar Tingkat Suku Bunga Pinjaman Periode Januari Tahun 2005 sampai dengan Periode Desember Tahun 2007 ... 69
Tabel 4.3 Hasil Uji Statistik Deskriptif untuk Tingkat Inflasi ... 70
Tabel 4.4 Hasil uji Statistik Deskriptif untuk Tingkat Suku Bunga Pinjaman ... 71
Tabel 4.5 Tabel Hasil Uji Korelasi antara Tingkat Inflasi dan Tingkat Suku Bunga Pinjaman ... 74
Tabel 4.6 Tabel Variables Entered Removed ... 75
Tabel 4.7 Tabel Model Summary... 76
Tabel 4.8 Tabel Anova... 77
Tabel 4.9 Tabel Hasil Uji Koefisien ... 77
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Model Penelitian ... 36 Gambar 3.2 Struktur Organisasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam.... 47 Gambar 3.3 Struktur Organisasi Consumer Loan Bussiness Center (CLBC) ... 50
DAFTAR GRAFIK
Gambar 2.1 Kurva Inflasi Tekanan Permintaan... 12 Gambar 2.1 Kurva Inflasi Dorongan Biaya ... 13 Gambar 4.1 Grafik dari Normal Probability Plot ... 73 Gambar 4.2 Grafik Regresi antara Tingkat Inflasi dan Tingkat Suku
Bunga Pinjaman ... 80
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX. Objek penelitian yang digunakan adalah tingkat inflasi periode Januari tahun 2005 sampai dengan periode Desember tahun 2007 dan tingkat suku bunga pinjaman periode Januari tahun 2005 sampai dengan periode Desember tahun 2007. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif dengan menggunakan analisa korelasi dan analisa regresi dengan bantuan program SPSS versi 12.0. Dari hasil penelitian yang ada maka dapat di ambil kesimpulan bahwa tingkat inflasi mempengaruhi tingkat suku bunga pinjaman sebesar 34% dan sisanya 66%
dipengaruhi oleh faktor lain.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi utama yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia. Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator untuk mengetahui kondisi dan perkembangan ekonomi suatu negara atau wilayah. Indonesia pernah mengalami inflasi yang paling tinggi yaitu terjadi pada tahun 1960-an pada saat pemerintahan orde lama. Menurut catatan BPS (Badan Pusat Statistik, 2004) laju inflasi tertinggi dan menembus angka tiga digit terjadi pada tahun 1962, 1963 dan tahun 1964, masing-masing sebesar 154,40 persen 128,07 persen dan 135,13 persen.
Inflasi yang tinggi berarti menurunnya kemampuan atau daya beli masyarakat untuk memperoleh barang dan jasa. Keadaan ini tidak hanya merugikan golongan penduduk yang menerima gaji tetap dan buruh kecil saja, tetapi juga berdampak negatif bagi produsen maupun pengusaha. Inflasi mempunyai dampak terhadap individu maupun bagi kegiatan perekonomian luas. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif ataupun positif, tergantung pada tingkat keparahannya. Laju inflasi yang terlalu tinggi akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menyengsarakan masyarakat yang berpenghasilan tetap dan rendah.
Dampak positif inflasi terjadi apabila tingkat inflasi masih berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku, karena pihak tertentu
yakni pihak pengusaha dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, dan menjual barang dan jasa. Namun inflasi yang terlalu tinggi juga dapat membawa dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, yaitu: dampak inflasi terhadap pemerataan pendapatan, dampak inflasi terhadap output (hasil produksi), mendorong penanaman modal spekulatif, menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi di masa depan, menimbulkan masalah neraca pembayaran, serta menyebabkan tingkat suku bunga meningkat dan akan mengurangi investasi.
Untuk menghindari kemerosotan nilai mata uang dari modal yang dipinjamkan, biasanya pihak perbankan akan menaikkan suku bunga pinjaman. Apabila tingkat inflasi tinggi, maka tingkat suku bunga juga tinggi. Tingginya tingkat suku bunga akan mengurangi penanaman modal untuk membuka usaha-usaha produktif. Pemerintah dan pihak perbankan sebagai lembaga masyarakat seharusnya dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Tingkat Inflasi Terhadap Tingkat Suku Bunga Pinjaman pada Bank BUMN XXX”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah tingkat inflasi di Indonesia berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
2. Seberapa besar pengaruh tingkat inflasi di Indonesia terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih mengarah pada tujuan yang diharapkan, maka peneliti akan membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Batasan Lapangan
Perusahaan yang akan diteliti adalah salah satu Bank BUMN XXX, terutama di bagian kredit.
2. Batasan Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan daftar tingkat inflasi di Indonesia periode Januari tahun 2005 sampai dengan periode Desember tahun 2007 dan daftar tingkat suku bunga pinjaman kredit konsumtif pada Bank BUMN XXX periode Januari tahun 2005 sampai dengan periode Desember tahun 2007.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah tingkat inflasi di Indonesia berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat inflasi di Indonesia terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Bank BUMN XXX, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai langkah evaluasi terhadap penetapan tingkat suku bunga pinjaman terutama dari faktor inflasi.
2. Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan berpikir mengenai tingkat inflasi di Indonesia, tingkat suku bunga pinjaman suatu bank serta hubungannya dalam perekonomian Indonesia.
3. Bagi pembaca, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi serta informasi tambahan bagi penelitian di masa yang akan datang.
1.6 Hipotesis Penelitian 1.6.1 Hipotesis
Penulis memberikan hipotesis awal berupa tingkat inflasi (x) berpengaruh positif terhadap tingkat suku bunga pinjaman (y).
1.6.2 Rancangan Pengujian Hipotesis
Dari permasalahan dapat ditarik ketetapan bahwa inflasi adalah variabel x sebagai variabel bebas dan tingkat suku bunga pinjaman adalah variabel y sebagai variabel terikat.
Secara statistik, hipotesis tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Ho = tidak terdapat pengaruh antara tingkat inflasi (x) terhadap tingkat suku bunga pinjaman (y).
Ha = terdapat pengaruh antara tingkat inflasi (x) terhadap tingkat suku bunga pinjaman (y).
1.7 Sistematika Penulisan
Laporan ini rencananya akan disusun dan dibagi dalam lima bab, berikut uraian dari tiap bab tersebut:
1. Bab I Pendahuluan, dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis penelitian dan sistematika penulisan.
2. Bab II Tinjauan Pustaka, pada bab ini penulis akan menjelaskan mengenai teori-teori yang digunakan dan teori yang relevan serta mendukung terselesaikannya penelitian ini.
3. Bab III Metodologi Penelitian dan Gambaran Umum Perusahaan, metodologi penelitian di sini akan memaparkan mengenai objek penelitian, teknik pengumpulan data yang digunakan dan metode analisa data yang digunakan.
Gambaran perusahaan yang dimaksud adalah gambaran umum perusahaan yang meliputi sejarah berdirinya perusahaan, visi dan misi perusahaan, kegiatan dan jenis usaha perusahaan, struktur organisasi, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
4. Bab IV Pembahasan, pada bab ini penulis akan menguraikan jawaban atas pertanyaan yang terdiri dari apakah tingkat inflasi di Indonesia berpengaruh terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX dan seberapa besar pengaruh tingkat inflasi di Indonesia terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
5. Bab V Penutup, pada bab ini penulis akan membuat kesimpulan dari hasil analisis yang dilakukan oleh penulis pada bab IV dan penulis juga akan membuat saran yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak manajemen Bank BUMN XXX.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Inflasi
Inflasi merupakan salah satu gejala moneter yang dapat mempengaruhi perekonomian secara luas, terutama ketika tingkat inflasi terlalu tinggi. Oleh karenanya perkembangan inflasi mendapat banyak perhatian dari para ekonom, pemerintah dan masyarakat.
2.1.1 Pengertian Inflasi
Kenaikan harga barang dapat bersifat sementara dan berlangsung terus-menerus. Ketika kenaikan harga tersebut berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadi hampir pada seluruh barang dan jasa maka gejala ini dapat disebut inflasi. Dapat disimpulkan bahwa, inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus. Menurut Prabowo, Rahardja, dan Syahreza (2005), ada tiga komponen yang yang harus dipenuhi agar dapat dikategorikan sebagai inflasi, yaitu:
a. Adanya kenaikan harga
Harga suatu barang dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi daripada harga periode sebelumnya. Perbandingan tingkat harga ini bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama, misalnya seminggu, sebulan, triwulan, dan setahun.
Perbandingan harga juga bisa dilakukan berdasarkan patokan musim. Misalnya ketika masa paceklik harga beras bisa mencapai Rp7.000 per kilogram, hal ini dikarenakan persediaan gabah menurun dan harga gabah telah naik. Tetapi pada musim panen, harga gabah cenderung lebih murah karena persediaan melimpah dan harga gabahnya juga telah turun.
b. Kenaikan harga bersifat umum
Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga-harga secara umum naik. Misalnya, harga rambutan jika belum musimnya bisa mencapai Rp5.000 per ikat, tetapi jika sudah musim rambutan maka harga rambutan akan turun menjadi Rp2.500 per ikat. Kenaikan harga rambutan belum bisa dikatakan sebuah inflasi karena harga-harga komoditas lain tidak ikut meningkat, hal ini disebabkan oleh rambutan bukan merupakan komoditas pokok sehingga tidak memiliki dampak besar terhadap stabilitas harga.
Keadaan akan berbeda ketika yang naik adalah harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pengalaman di Indonesia menunjukan bahwa setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM, harga-harga komoditas lain turut naik karena BBM merupakan komoditas strategis. Jika harga rambutan naik, harga BBM tidak akan naik. Tetapi jika harga BBM naik, harga rambutan pasti akan naik karena biaya transportasi juga akan meningkat.
BBM adalah komponen input paling penting untuk dapat membuat roda-roda alat transportasi berputar. Karenanya kenaikan harga BBM menyebabkan biaya operasional transportasi menjadi meningkat.
Kenaikan harga BBM juga membuat harga jual produk-produk industri khususnya kebutuhan pokok merambat naik. Hal ini dikarenakan biaya operasional untuk menjalankan mesin-mesin pabrik menjadi lebih mahal. Bahkan kenaikan harga BBM akan mengundang kaum buruh menunutut kenaikan upah harian untuk memelihara daya beli mereka.
c. Berlangsung terus-menerus
Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadinya hanya sesaat. Karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.
Hal ini dilakukan karena dalam sebulan akan terlihat apakah kenaikan harga bersifat umum dan terus-menerus. Rentang waktu yang lebih panjang adalah triwulan dan tahunan. Jika pemerintah melaporkan bahwa inflasi tahun ini adalah 10%, berarti akumulasi inflasi adalah 10% per tahun, inflasi triwulan rata-rata 2,5% (10% : 4) dan inflasi bulanan sekitar 0,83% (10% : 12).
2.1.2 Jenis-Jenis Inflasi
Menurut Prabowo, Rahardja, dan Syahreza (2005), jenis inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan, sumber penyebab, dan berdasarkan asalnya. Berikut adalah pembagian inflasi berdasarkan jenisnya:
1. Inflasi berdasarkan tingkat keparahannya
Tingkat inflasi yang terjadi dalam perekonomian dapat bervariasi. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka semakin parah dampak yang ditimbulkannya pada perekonomian. Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dibagi menjadi:
a. Inflasi ringan
Inflasi ringan terjadi ketika tingkat harga umum mengalami kenaikan di bawah 10% per tahun. Inflasi ringan merupakan satu gejala ekonomi yang wajar karena masih mudah dikendalikan.
Harga-harga secara umum mengalami kenaikan, namun tidak menyebabkan krisis ekonomi. Inflasi ringan sering pula disebut single digit inflation atau inflasi satu digit.
b. Inflasi sedang
Inflasi sedang berkisar antara 10% hangga 25% per tahun.
Inflasi jenis ini belum membahayakan perekonomian, namun sudah berdampak pada penurunan tingkat kesejahteraan penduduk, terutama yang berpenghasilan tetap karena akan mengurangi daya beli mereka.
c. Inflasi berat
Inflasi pada tingkat berat sudah mengacaukan kondisi perekonomian. Harga-harga barang mengalami lonjakan drastis, sehingga masyarakat cenderung lebih suka menimbun barang.
Kenaikan harga-harga umum pada inflasi berat bisa mencapai 25%
hingga 100% per tahun. Dalam kondisi ini masyarakat enggan menabung karena bunga tabungan lebih rendah daripada tingkat inflasi.
d. Hiperinflasi (inflasi sangat berat)
Dalam kondisi hiperinflasi, perekonomian sudah sangat kacau-balau. Kebijakan fiskal maupun moneter yang ditempuh tidak mampu mengendalikan situasi. Inflasi ini bisa mencapai lebih dari 100% per tahun dan tidak hanya berdampak pada bidang ekonomi tetapi juga bidang politik serta sosial. Misalnya terjadi kerusuhan atau pemberontakan.
2. Inflasi berdasarkan sumber penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, inflasi dalam perekonomian dibagi menjadi:
a. Inflasi tekanan permintaan (Demand-Pull Inflation)
Inflasi tekanan permintaan bersumber pada permintaan masyarakat akan barang yang terlalu kuat.
ADo AD1
Yo Y1
0 P1
Po P
Y ASo
Keterangan : P = Harga
Y = Hasil Perekonomian
Gambar 2.1 Kurva Inflasi Tekanan Permintaan
Pada gambar 2.1 dapat dilihat bahwa tekanan (kenaikan) permintaan digambarkan dengan bergesernya kurva AD0 ke AD1. Tekanan permintaan menyebabkan output perekonomian bertambah ditunjukkan oleh bergesernya Y0 ke Y1, tetapi disertai peningkatan harga dari P0 ke P1. Dalam inflasi tekanan permintaan tidak selalu berarti penawaran agregat (AS) tidak bertambah. Jika terjadi penambahan penawaran, jumlahnya lebih kecil dibanding peningkatan permintaan agregat (AD).
b. Inflasi dorongan biaya (Cost Push Inflation)
Inflasi dorongan biaya terjadi karena kenaikan biaya produksi. Kenaikan biaya produksi dapat berupa kenaikan harga bahan baku, harga bahan bakar atau karena kenaikan upah pekerja.
ADo
Yo Y1 0
P1
Po P
Y
Keterangan : P = Harga
Y = Jumlah produksi nasional ASo
AS1
Gambar 2.2 Kurva Inflasi Dorongan Biaya
Dari gambar 2.2 dapat dilihat bahwa kenaikan biaya produksi akan memaksa perusahaan mengurangi penawarannya.
Penawaran agregatpun akan berkurang dan tingkat harga umum naik dari P0 ke P1. Jika demikian yang terjadi, maka inflasi akan disertai penurunan kegiatan ekonomi sehingga jumlah produksi nasionalpun turun dari Y0 ke Y1.
c. Inflasi campuran
Dalam prakteknya, kedua jenis inflasi di atas jarang sekali dijumpai secara sendiri-sendiri. Pada umumnya inflasi yang terjadi di berbagai negara adalah campuran antara inflasi tekanan permintaan (demand-pull inflation) dengan inflasi dorongan biaya (cost-push inflation).
3. Inflasi berdasarkan asalnya
Berdasarkan asalnya, inflasi terbagi menjadi:
a. Inflasi dari dalam negeri (Domestic Inflation)
Inflasi ini berasal dari dalam negeri. Adapun penyebabnya antara lain, adanya defisit anggaran pemerintah yang mendorong pencetakan uang, kenaikan upah pekerja dan gagal panen.
b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (Imported Inflation)
Inflasi ini terjadi karena pengaruh kenaikan harga barang- barang impor. Jika barang impor berasal dari negara yang mengalami inflasi, maka harganya menjadi semakin mahal.
Kenaikan harga barang impor ini akan mempengaruhi biaya produksi bagi industri yang bahan baku atau barang modalnya diimpor.
2.1.3 Teori-Teori Inflasi
Para ekonom mencoba menyusun teori-teori inflasi dengan menyoroti aspek-aspek tertentu dari inflasi. Menurut Prabowo, Rahardja, dan Syahreza (2005), secara garis besar ada tiga teori tentang inflasi, yaitu Teori Kuantitas, Teori Keynes, dan Teori Strukturalis. Untuk menerapkan teori mana yang lebih cocok bagi suatu negara, harus ditentukan aspek- aspek yang terpenting dalam proses inflasi di negara tersebut. Ketiga teori tersebut adalah:
1. Teori Kuantitas
Teori Kuantitas tergolong teori inflasi yang paling awal. Meski demikian, masih bisa digunakan untuk menjelaskan proses inflasi pada jaman modern saat ini. Teori ini menekankan bahwa inflasi dipengaruhi oleh pertambahan jumlah uang beredar dan anggapan masyarakat terhadap kenaikan harga-harga (faktor psikologis).
Menurut teori kuantitas, inflasi hanya bisa berlangsung apabila terjadi penambahan jumlah uang beredar. Di setiap transaksi, jumlah yang dibayarkan pembeli sama dengan jumlah uang yang diterima oleh penjual. Hal ini berlaku untuk seluruh perekonomian. Dalam periode tertentu nilai barang dan jasa yang dibeli harus sama dengan nilai barang dan jasa yang dijual.
2. Teori Keynes
Menurut Keynes, inflasi terjadi karena adanya sebagian masyarakat yang ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya.
Proses inflasi merupakan proses perebutan bagian rezeki di antara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini terlihat pada keadaan di mana permintaan masyarakat terhadap barang- barang selalu melebihi jumlah barang yang tersedia. Hal ini menimbulkan apa yang disebut celah inflasi atau inflationary gap.
Celah inflasi timbul karena golongan masyarakat berhasil mewujudkan keinginan mereka menjadi permintaan efektif (permintaan berdaya beli) terhadap barang-barang dan jasa. Golongan masyarakat tersebut adalah pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja.
Pemerintah berusaha memperoleh pendapatan yang besar dengan cara mencetak uang baru. Pengusaha melakukan investasi dengan modal yang diperoleh dari kredit bank. Sedangkan pekerja berusaha memperoleh kenaikan upah atau gaji maupun dari kredit bank agar bisa lebih banyak membeli barang dan jasa serta memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin banyak jumlah golongan masyarakat yang memperoleh dana dari kredit bank, maka akan menyebabkan banyaknya jumlah uang beredar yang pada akhirnya akan menyebabkan inflasi. Inflasi akan terus berlangsung selama jumlah permintaan efektif dari semua golongan masyarakat tersebut melebihi jumlah output yang dihasilkan. Inflasi yang berlangsung terus-menerus akan menyebabkan meningkatnya tingkat suku bunga pinjaman seiring dengan meningkatnya tingkat inflasi di Indonesia.
3. Teori Strukturalis
Teori strukturalis disusun berdasarkan pada pengalaman di negara-negara Amerika Latin. Teori ini memberikan perhatian besar terhadap struktur perekonomian di negara berkembang. Inflasi di negara berkembang terutama disebabkan oleh faktor-faktor struktur
ekonominya. Menurut teori ini, kondisi struktur ekonomi negara berkembang yang dapat menimbulkan inflasi adalah:
a. Ketidakstabilan penerimaan ekspor
Nilai ekspor di negara berkembang tumbuh secara lamban dibandingkan pertumbuhan sektor-sektor lain. Adapun penyebabnya adalah:
1) Negara sedang berkembang hanya mampu mengekspor komoditas primer seperti hasil pertanian dan hasil hutan (kayu yang belum diolah). Di pasar dunia, harga komoditas primer sangat tidak stabil dan cenderung rendah.
2) Produksi barang-barang ekspor tidak responsif terhadap perubahan harga. Hal ini disebabkan keterbatasan teknik produksi dan kurangnya pengetahuan atau informasi pasar.
b. Ketidakelastisan penawaran atau produksi makanan di dalam negeri
Produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan pendapatan per kapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung naik, sehingga melebihi kenaikkan harga barang-barang lain.
Dampak yang ditimbulkan adalah munculnya tuntutan karyawan untuk mendapat kenaikan upah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan kenaikan ongkos produksi. Hal ini berarti akan menaikkan harga barang-barang. Kenaikan harga barang-barang
tersebut akan mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi.
Proses ini akan berhenti apabila harga bahan makanan tidak terus naik. Namun, karena faktor struktural, harga bahan makanan akan terus naik sehingga proses saling mendorong antara upah dan harga tersebut tidak akan berhenti.
2.1.4 Dampak Inflasi terhadap Kegiatan Ekonomi
Inflasi mempunyai dampak terhadap individu maupun bagi kegiatan perekonomian luas. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif maupun positif, tergantung pada tingkat keparahannya. Laju inflasi yang terlalu tinggi akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menyengsarakan masyarakat yang berpenghasilan tetap dan rendah.
Menurut Prabowo, Rahardja, dan Syahreza (2005), dampak yang ditimbulkan oleh inflasi adalah sebagai berikut:
1. Dampak positif
Pengaruh positif inflasi terjadi apabila tingkat inflasi masih berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku. Misalnya, pada saat itu tingkat bunga kredit adalah 15% per tahun dan tingkat inflasi 10%. Bagi negara maju, inflasi seperti ini akan mendorong kegiatan ekonomi dan pembangunan. Hal ini terjadi karena para pengusaha atau wirausahawan di negara maju dapat memanfaatkan kenaikan harga untuk berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang dan jasa.
2. Dampak negatif
Inflasi yang terlalu tinggi membawa dampak yang tidak sedikit terhadap perekonomian, terutama tingkat kemakmuran masyarakat.
Dampak inflasi antara lain:
a. Dampak inflasi terhadap pemerataan pendapatan
Inflasi akan merugikan orang yang berpendapatan tetap, seperti pensiunan dan pegawai negeri. Misalnya, seorang pensiunan memperoleh gaji Rp7.000.000 per tahun dan laju inflasi adalah 10% setahun. Jika tahun berikutnya pensiunan tersebut masih tetap berpenghasilan Rp7.000.000 setahun, ia akan mengalami penurunan pendapatan riil sebesar 10% x Rp7.000.000
= Rp700.000 setahun. Artinya, ia akan mengalami kerugian dari tahun sebelumnya sebesar Rp700.000. Kerugian lain akibat krisis inflasi juga akan dialami oleh mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang kas (uang tunai) atau mereka yang menabung uang di rumah dalam hoarding (celengan).
Adapun pihak-pihak yang mendapat keuntungan dengan adanya inflasi adalah:
1) Orang yang persentase kenaikan pendapatannya melebihi persentase kenaikan inflasi.
2) Mereka yang memiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk barang atau emas.
3) Buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang kuat, sehingga mereka dapat menuntut kenaikan upah melebihi kenaikan laju inflasi.
b. Dampak inflasi terhadap output (hasil produksi)
Dampak inflasi terhadap hasil produksi akan terjadi dua kemungkinan, yaitu:
1) Inflasi bisa menyebabkan terjadinya kenaikan hasil produksi.
Dalam keadaan inflasi, biasanya kenaikan harga barang mendahului upah atau gaji, sehingga keuntungan yang diperoleh para pengusaha akan meningkat. Kenaikan keuntungan ini mendorong para pengusaha berproduksi dan akan menambah target volume produksi untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.
2) Apabila laju inflasi yang terjadi terlalu tinggi (hiperinflasi) justru akan berakibat sebaliknya, bukan meningkatkan jumlah produksi, melainkan mengakibatkan turunnya jumlah output (hasil produksi). Hal ini terjadi karena dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai riil uang menjadi turun sehingga masyarakat tidak akan senang memiliki uang tunai. Akibatnya, pertukaran akan cenderung dilakukan antara barang dengan barang (barter). Jika pertukaran dilakukan dengan barter, biasanya para produsen tidak akan terdorong untuk berproduksi sehingga
mereka akan mengurangi kegiatan produksi dan akhirnya hasil produksi akan menurun.
c. Mendorong penanaman modal spekulatif
Inflasi menyebabkan para pemilik modal cenderung melakukan kegiatan spekulatif. Hal ini dilakukan dengan membeli rumah, tanah, dan emas yang nilainya relatif stabil. Cara ini dirasa oleh mereka lebih menguntungkan daripada melakukan investasi yang produktif.
d. Menyebabkan tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi investasi
Untuk menghindari kemerosotan nilai uang dari modal yang mereka pinjamkan, lembaga keuangan akan menaikan suku bunga pinjaman. Apabila tingkat inflasi tinggi, maka tingkat suku bunga pinjaman juga tinggi. Tingginya suku bunga pinjaman akan mengurangi penanaman modal untuk membuka usaha – usaha produktif.
e. Menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi di masa depan Tingkat inflasi yang cukup parah dan gagal dikendalikan oleh pemerintah akan berdampak pada ketidakpastian ekonomi.
Selanjutnya, arah perkembangan ekonomi sulit diramalkan.
Keadaan ini akan mempersulit masyarakat maupun pengusaha.
Konsumen cenderung melakukan penimbunan barang karena takut
barang tidak tersedia. Produsen akan sulit memperhitungkan biaya produksi karena harga bahan baku terus berubah.
f. Menimbulkan masalah neraca pembayaran
Inflasi di dalam negeri menyebabkan harga barang – barang impor menjadi lebih murah sehingga masyarakat lebih menyukai barang impor. Hal ini berpengaruh pada terjadinya defisit neraca pembayaran dan kemerosotan nilai mata uang dalam negeri.
2.1.5 Cara Mengatasi Inflasi
Pemerintah melalui Bank Indonesia memiliki kebijakan untuk mengendalikan inflasi. Yang dimaksud mengendalikan di sini bukan menghilangkan inflasi sama sekali, tetapi berusaha mencapai tingkat inflasi yang ideal. Berikut ini beberapa kebijakan pemerintah dalam mengendalikan inflasi:
1. Kebijakan Moneter
Menurut teori moneter klasik, inflasi terjadi karena penambahan jumlah uang beredar. Dengan demikian, secara teoritis relatif mudah untuk mengatasi inflasi, yaitu dengan mengendalikan jumlah uang beredar itu sendiri. Kebijakan moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar terlalu berlebihan sehingga inflasi meningkat tajam, Bank Indonesia akan
segera menerapkan berbagai kebijakan moneter untuk mengurangi peredaran uang. Macam-macam kebijakan moneter tersebut adalah:
a. Operasi pasar terbuka (open market operation)
Operasi pasar terbuka adalah satu kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga berupa obligasi.
b. Politik diskonto (discount rate policy)
Politik diskonto adalah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menambah dan mengurangi jumlah uang beredar dengan cara menaikkan atau menurunkan suku bunga bank.
c. Politik cadangan kas (cash ratio)
Politik cadangan kas adalah kebijakan bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikkan atau menurunkan cadangan minimum yang harus dipenuhi oleh bank-bank umum dalam mengedarkan atau memberikan kredit kepada masyarakat.
d. Kebijakan kredit selektif
Kebijakan kredit selektif adalah kebijakan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat dengan cara menentukan syarat-syarat yang ketat. Bank yang ingin memberikan kredit, harus memperhatikan syarat-syarat kredit yang dikenal dengan 5C, yaitu:
1) Character
Character adalah penilaian karakter debitur yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap kewajibannya.
2) Capacity
Capacity adalah penilaian terhadap kemampuan finansial debitur dalam memenuhi kewajiban yang telah dijanjikan.
3) Capital
Capital yang dimaksud adalah penilaian terhadap kemampuan modal sendiri atas jumlah dana yang dibutuhkan.
4) Collateral
Collateral adalah penilaian terhadap jaminan yang diberikan oleh debitur agar kebutuhan pendanaannya menjadi bankable (layak didanai dari kredit bank).
5) Condition
Condition adalah penilaian terhadap situasi mikro dan makro yang meliputi kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya yang dapat mempengaruhi segala bentuk usaha yang sedang dijalankan.
e. Imbauan moral (moral persuasion)
Dengan imbauan moral, otoritas moneter mencoba untuk mengarahkan atau mengendalikan jumlah uang beredar. Bank sentral melakukan imbauan moral melalui media masa,
pengumuman atau pidato-pidato yang bisa mempengaruhi sikap lembaga moneter dan individu yang bergerak di bidang moneter.
Misalnya, Gubernur Bank Indonesia dapat memberikan saran agar pihak perbankan berhati-hati dengan kreditnya atau membatasi keinginannya meminjam uang dari bank sentral.
f. Kebijakan sanering
Kebijakan sanering adalah kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral dengan cara pengguntingan atau pemotongan nilai uang. Tujuannya adalah untuk menyehatkan kembali nilai mata uang yang sudah jatuh. Kebijakan ini dilakukan oleh bank sentral apabila perekonomian sudah berada pada kondisi hiperinflasi dan harga-harga melambung sangat tinggi.
g. Kebijakan devaluasi dan revaluasi
Devaluasi adalah kebijakan bank sentral untuk menurunkan nilai rupiah terhadap mata uang asing. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki neraca pembayaran luar negeri. Dengan devaluasi, harga barang ekspor akan menjadi murah di luar negeri sehingga nilai ekspor kita bisa meningkat. Sementara itu harga barang luar negeri menjadi lebih mahal sehingga dapat mengurangi impor.
Peningkatan ekspor dan penurunan impor ini akan mendorong neraca perdagangan surplus, artinya ekspor lebih besar daripada impor. Sedangkan revaluasi merupakan kebijakan bank sentral
untuk menaikkan kembali nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing.
2. Kebijakan fiskal
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal dilakukan pemerintah sejalan dengan kebijakan moneter. Kebijakan fiskal dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
a. Pengurangan pengeluaran pemerintah
Dengan mengurangi pengeluaran pemerintah, diharapkan pengeluaran agregat dalam perekonomian dapat dikendalikan.
Namun kenyataannya kebijakan ini sulit dilaksanakan, karena pengeluaran pemerintah cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.
b. Menaikkan tarif pajak
Saat terjadi kenaikkan laju inflasi, jumlah uang yang beredar terlalu banyak. Jumlah uang beredar tersebut dapat dikurangi dengan menaikkan tarif pajak. Jika tarif pajak dinaikkan, maka uang yang dibelanjakan oleh masnyarakat akan berkurang.
c. Mengadakan pinjaman pemerintah
Peminjaman pemerintah ini dilakukan secara otomatis agar uang tidak terlalu banyak beredar. Kebijakan ini dilakukan
pemerintah dengan cara memotong gaji pegawai negeri untuk ditabung dan penjualan surat obligasi pemerintah.
3. Kebijakan Non-Moneter dan Non-Fiskal
Selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, pemerintah melakukan kebijakan non-moneter atau non-fiskal dengan tiga cara sebagai berikut:
a. Menaikkan hasil produksi
Kenaikan hasil produksi dapat memperkecil laju inflasi.
Kenaikkan hasil produksi ini dapat dilakukan dengan cara kebijaksanaan penurunan bea masuk untuk bahan baku maupun barang jadi, hal ini akan berakibat impor barang meningkat.
Pertambahan jumlah barang di dalam negeri cenderung menurunkan harga.
b. Kebijakan upah
Kebijakan upah adalah tindakan menstabilkan upah atau gaji dengan cara gaji tidak sering dinaikan. Kenaikan upah atau gaji hanya dapat dilakukan jika produktivitas pekerja atau pegawai naik. Kenaikan upah atau gaji akan menimbulkan kenaikan daya beli. Hal ini pada akhirnya akan menaikkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan atau permintaan agregat.
Apabila hal ini terjadi, maka akan menimbulkan inflasi.
c. Pengamanan harga dan distribusi
Pemerintah harus dapat mengendalikan kenaikan harga berbagai macam barang. Oleh karena itu pemerintah menetapkan harga maksimum (harga eceran tertinggi atau HET), melakukan pengamanan harga, dan menetapkan sanksi yang cukup berat.
Apabila penetapan harga tidak disertai dengan pengamanan yang baik, maka tidak akan memberikan hasil yang diharapkan. Namun, terkadang pengamanan harga oleh pemerintah sering menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari timbulnya pasar gelap, pemerintah dapat mendistribusikan barang kebutuhan pokok langsung kepada masyarakat.
2.2 Suku Bunga
Menurut Kashmir (2001), dalam kegiatan perbankan sehari-hari, ada dua macam suku bunga yang diberikan kepada nasabah, yaitu:
1. Suku bunga simpanan
Suku bunga simpanan adalah bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Suku bunga simpanan merupakan harga yang harus dibayar oleh pihak bank kepada nasabahnya. Yang termasuk suku bunga simpanan adalah suku bunga giro, suku bunga tabungan dan suku bunga deposito.
2. Suku bunga pinjaman
Suku bunga pinjaman adalah suku bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada pihak bank, misalnya suku bunga kredit.
Menurut Dahlan Siamat faktor-faktor yang mempengaruhi suku bunga pinjaman diantaranya adalah:
a. Jangka waktu
Jangka waktu jatuh tempo kredit yang lebih panjang cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi pula, yaitu ketidakpastian terhadap pelunasan kredit yang terdiri dari pembayaran bunga dan pokok. Oleh karena jangka waktu jatuh tempo ini merupakan refleksi terhadap tinggi rendahnya risiko yang dihadapi bank, maka semakin panjang jangka waktu kredit semakin tinggi pula ketidakpastian pembayaran dan semakin besar terjadinya risiko default. Umumnya, semakin panjang jangka waktu kredit, akan semakin tinggi pula tingkat bunga kredit yang dibebankan pihak bank kepada nasabah.
b. Jaminan kredit
Jaminan merupakan alat pengaman terhadap kemungkinan tidak mampunya debitur melunasi kredit yang diterimanya sesuai dengan perjanjian. Dengan demikian, fungsi jaminan di sini adalah memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapatkan pelunasan pembayaran dengan barang jaminan tersebut. Penentuan
tingkat suku bunga sangat dipengaruhi oleh sifat jaminan yang diserahkan nasabah. Nilai barang jaminan yang proporsional dengan jumlah kredit yang diberikan merupakan sifat jaminan seperti mudah dijual atau dicairkan serta nilainya tidak mengalami penurunan, maka akan memberikan risiko yang relatif rendah bagi bank sehingga tingkat bunga yang dibebankan pihak bank kepada nasabah relatif akan lebih rendah.
c. Reputasi perusahaan
Penentuan tingkat suku bunga dipengaruhi pula oleh kondisi perusahaan (nasabah). Reputasi perusahaan biasanya dilihat dari peringkatnya (credit rating). Semakin tinggi credit rating sebuah perusahaan, maka semakin rendah tingkat risikonya dan semakin rendah pula tingkat bunga yang dikenakan oleh pihak bank. Demikan pula sebaliknya, perusahaan dengan reputasi credit rating yang rendah akan lebih tinggi pula tingkat bunga kredit yang dibebankan oleh pihak bank karena dianggap memiliki risiko yang lebih tinggi.
d. Hubungan baik
Bank yang telah lama memiliki hubungan dengan nasabah, di mana selama hubungan tersebut historical records (nasabah yang bersangkutan cukup baik dan memberikan keuntungan bagi pihak bank), umumnya pihak bank akan menggolongkan sebagai prime customers dan oleh karena itu akan dikenakan tingkat bunga kredit yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan nasabah biasa.
e. Jaminan pihak ketiga
Adanya jaminan yang diberikan oleh pihak ketiga, baik oleh bank lain atau perusahaan lain yang cukup kredibel, misalnya berupa bank garansi atau corporate guarantee yang akan mengurangi risiko kredit. Jaminan tersebut akan meningkatkan kepercayaan dan keyakinan bank terhadap nasabah yang bersangkutan, yang akan mempengaruhi keputusan penentuan tingkat suku bunga pinjaman.
Kedua macam suku bunga tersebut yaitu suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman, merupakan komponen utama faktor biaya dan pendapatan bagi pihak bank. Bunga simpanan merupakan biaya dana yang harus dikeluarkan kepada nasabah, sedangkan bunga pinjaman merupakan pendapatan yang diterima dari nasabah.
Pembebanan besarnya tingkat suku bunga pinjaman atau kredit dibedakan kepada jenis kreditnya. Pembebanan yang dimaksud adalah metode perhitungan yang akan digunakan, sehingga mempengaruhi jumlah bunga yang akan dibayarkan oleh nasabah. Jumlah bunga yang akan dibayarkan akan mempengaruhi jumlah angsuran perbulannya, di mana jumlah angsuran terdiri dari pokok pinjaman dan bunga. Menurut Kashmir (2001), metode pembebanan yang dimaksud adalah:
1. Effective rate
Effective rate adalah perhitungan bunga dengan cara bunga dihitung dari sisa pokok pinjaman sehingga jumlah bunga yang dibayar
berbeda setiap bulannya dan semakin lama semakin kecil sejalan dengan menurunnya sisa pokok pinjaman. Namun demikian besarnya angsuran (pokok + bunga) setiap bulan yang dibayar selalu tetap, sepanjang tingkat suku bunga belum atau tidak berubah.
2. Flat rate
Flat rate adalah pembebanan bunga setiap bulan tetap dari jumlah pinjamannya, demikian pula pokok pinjaman setiap bulan juga dibayar sama sehingga cicilan setiap bulan sama sampai kredit tersebut lunas.
Sifat suku bunga pinjaman juga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Fixed rate
Fixed rate adalah tingkat suku bunga yang besarnya selalu tetap selama jangka waktu tertentu atau selama jangka waktu kredit.
2. Floating rate
Floating rate adalah tingkat suku bunga yang besarnya dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan besarnya suku bunga yang berlaku di pasar.
2.3 Kaitan antara Tingkat Inflasi dengan Tingkat Suku Bunga Pinjaman Secara makro ekonomi antara tingkat inflasi dan tingkat suku bunga pinjaman jelas terdapat suatu keterkaitan. Ketika tingkat inflasi mengalami peningkatan, maka tingkat suku bunga pinjaman juga ikut naik. Hal ini tentu
saja menggambarkan keterkaitan yang searah dan erat antara tingkat inflasi dan tingkat suku bunga pinjaman.
Hal ini diperkuat dengan adanya Teori Keynes yang telah dijelaskan sebelumnya dan didukung oleh adanya Teori Irving Fisher yang menyatakan bahwa ada hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat suku bunga. Ia menuliskan bahwa harga merupakan ekspektasi dari inflasi. Sehingga jika harga naik maka akan menyebabkan suku bunga naik sebesar naiknya harga.
Ketika terjadi inflasi, hampir semua harga barang-barang kebutuhan masyarakat mengalami kenaikan. Hal ini tentu saja memicu meningkatnya jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kondisi seperti ini, peredaran uang di kalangan masyarakat akan meningkat. Pemerintah dan lembaga keuangan yaitu perbankan akan melaksanakan salah satu kebijakan moneter, yaitu politik diskonto.
Seperti yang telah dijelaskan, politik diskonto adalah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar dengan cara menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga bank.
Dengan banyaknya uang beredar di masyarakat, pemerintah dan lembaga keuangan akan menaikkan suku bunga tabungan agar masyarakat menyimpan sebagian uang yang dimilikinya. Kemudian suku bunga pinjaman juga akan dinaikkan agar masyarakat tidak meminjam dana dari bank untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harganya semakin meningkat.
Cara ini dinilai efektif oleh pemerintah untuk mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat.
Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila suku bunga pinjaman diturunkan maka tidak dengan mudah menyebabkan inflasi menurun, tetapi apabila inflasi diturunkan maka dengan sendirinya tingkat suku bunga akan turun. Hal ini jelas menggambarkan bahwa inflasi adalah variable yang mempengaruhi tingkat suku bunga pinjaman.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN DAN GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
3.1 Metodologi Penelitian 3.1.1 Objek Penelitian
Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan agar proses penelitian dapat dikendalikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, maka penulis akan melakukan penelitian di Bank BUMN XXX khususnya di bagian Consumer Loan (kredit) selama tiga bulan dimulai pada bulan Maret 2008 sampai dengan bulan Mei 2008.
Yang menjadi objek penelitian adalah data mengenai tingkat inflasi di Indonesia periode Januari tahun 2005 sampai dengan periode Desember tahun 2007 dan tingkat suku bunga pinjaman kredit konsumtif pada Bank BUMN XXX periode Januari tahun 2005 sampai dengan periode Desember tahun 2007. Dari data-data yang ada, penulis akan menghitung seberapa besar pengaruh tingkat inflasi terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
3.1.2 Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Wawancara
Wawancara adalah salah satu metode penelitian dengan cara melakukan komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari responden. Dengan metode ini maka penulis akan melakukan
wawancara dengan bagian-bagian terkait yang dapat memberikan informasi yang dapat menunjang terselesaikannya penelitian ini (Jogiyanto, 2005).
2. Studi Kepustakaan
Dengan metode ini maka peneliti akan mencari referensi buku- buku yang dapat menunjang pembahasan penelitian ini terutama teori mengenai inflasi, tingkat suku bunga, dan perhitungan statistik yang dapat membantu menyelesaikan penelitian ini.
3.1.3 Metode Analisis Data
Penelitian ini akan menggunakan metode kuantitatif, yaitu berupa pengujian dengan menggunakan alat uji statistik dengan tingkat keyakinan guna mengungkap data konkrit dalam bentuk angka dan persentase mengenai seberapa besar pengaruh tingkat inflasi terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
Dalam menganalisis kekuatan pengaruh inflasi terhadap tingkat suku bunga pinjaman, penulis akan menggunakan analisa korelasi dan regresi yang akan diuji menggunakan alat uji statistik dengan bantuan program SPSS versi 12.0.
Gambar 3.1 Model Penelitian Tingkat Inflasi
(X)
Tingkat Suku Bunga Pinjaman
(Y)
Output yang akan di hasilkan dari program SPSS versi 12.0 dapat berupa hasil uji statistik deskriptif yang akan menjelaskan mengenai karakteristik data yang digunakan, hasil uji normalitas yang akan meyakinkan bahwa penelitian ini dapat diuji dengan analisa korelasi dan regresi, hasil uji korelasi yang akan menjawab seberapa besar pengaruh tingkat inflasi terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX, serta hasil uji regresi yang akan menjawab seberapa besar pengaruh tingkat inflasi terhadap tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX dan akan menghasilkan sebuah persamaan yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat suku bunga pinjaman pada Bank BUMN XXX.
Persamaan yang akan dihasilkan nantinya dapat berupa:
Keterangan:
Y = Tingkat suku bunga pinjaman.
X = Tingkat inflasi.
a = Konstanta.
b = Koefisien regresi.
3.2 Gambaran Umum Perusahaan
3.2.1 Sejarah Berdirinya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat
Y = a + bX
bank milik pemerintah yaitu: Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia bergabung menjadi Bank Mandiri. Sejarah keempat bank tersebut dapat ditelusuri lebih dari seratus empat puluh tahun yang lalu. Keempat bank tersebut telah turut membentuk riwayat perkembangan dunia perbankan di Indonesia.
Bank Dagang Negara merupakan salah satu bank tertua di Indonesia. Sebelumnya Bank Dagang Negara dikenal sebagai Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang didirikan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1857. Pada tahun 1949 namanya berubah menjadi Escomptobank NV. Selanjutnya, pada tahun 1960 Escomptobank dinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah bank pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan.
Bank Bumi Daya didirikan melalui suatu proses panjang yang bermula dari nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handelsbank NV, menjadi Bank Umum Negara pada tahun 1959. Pada Tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya adalah bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak untuk melanjutkan operasi bank tersebut. Pada tahun 1965, Bank Umum Negara digabungkan ke dalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV yang akhirnya beralih menjadi Bank Bumi Daya.
Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) berawal dari perusahaan dagang Belanda N.V.Nederlansche Handels Maatschappij
yang didirikan pada tahun 1842 dan mengembangkan kegiatannya disektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahaan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Ekspor Impor, yang akhirnya menjadi Bang Exim, bank pemerintah yang membiayai kegiatan Ekspor dan Impor.
PT Bank Ekspor Indonesia (Persero) lahir melalui Undang-undang No 22 tahun 1968 menyusul Undang-Undang Pokok Perbankan pada awal masa orde baru. Pada saat itu namanya adalah Bank Ekspor Impor Indonesia. Menurut Undang-Undang No 22 tahun 1968 tersebut, Bank Ekspor Impor Indonesia berdiri dengan status sebagai bank umum milik Pemerintah Indoesia. Sejalan dengan perkembangan sektor perbankan di Indonesia sejak tanggal 1 Agustus 1992 status Bank Ekspor Impor Indonesia diubah menjadi PT Persero berdasarkan Akte Notaris No 134 tanggal 31 Juli 1992.
Bank Ekspor Impor Indonesia telah lama dikenal nasabah dan masyarakat umum dengan nama Bank Exim. Sehubungan dengan hal tersebut dan memperhatikan perkembangan Bank Ekspor Impor Indonesia serta untuk kepentingan publikasi dalam menciptakan citra korporasi pada masyarkat, maka sejak awal tahun 1990 manajemen secara resmi telah menggunakan nama Bank Exim sebagai akronim.
Pada awalnya aktivitas Bank Exim adalah pembiayaan produksi dan pemasaran komoditi ekspor. Tetapi setelah dua dekade Bank Exim berkembang dan memperluas aktivitasnya meliputi retail banking, pinjaman usaha (corporate lending), investasi dan kegiatan perbankan internasional (internasional operation).
Bank Exim selalu berusaha mengikuti kemajuan tekhnologi demi menghasilkan kualitas pelayanan yang terbaik bagi nasabahnya, menuntut staffnya untuk lebih profesional dan siap menghadapi berbagai perubahan yang ada. Bank Exim menyediakan produk-produk jasa bidang keuangan yang mencakup skala bisnis kecil, sedang dan besar dalam berbagai macam sektor dibidang ekonomi, khususnya yang mendukung kegiatan ekspor.
Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berawal dari Bank Industri Negara (BIN), sebuah bank industri yang didirikan pada tahun 1951. Misi Bank Industri Negara adalah mendukung perkembangan sektor-sektor ekonomi tetentu, khususnya perkebunan, industri, dan pertambangan. Bapindo dibentuk sebagai bank milik negara pada tahun 1960 dan BIN kemudian digabung dengan Bapindo. Pada tahun 1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi dan pariwisata.
Kini, Bank Mandiri menjadi penerus suatu tradisi layanan jasa perbankan dan keuangan yang telah berpengalaman selama lebih dari
seratus empat puluh tahun. Masing-masing dari empat bank pemerintah bergabung memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi.
3.2.2 Peran PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Sebagai lembaga keuangan yang termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. bertujuan untuk mendukung kebijaksanaan pembangunan nasional dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak.
Fungsi atau peran tersebut sebagai penjabaran dari pasal 10 Undang-Undang Perbankan 1998 bahwa Perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Dengan demikian praktek PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. oleh pemerintah bisa ditingkatkan untuk melaksanakan program pemerintah guna mengembangkan sektor-sektor perekonomian tertentu atau memberikan perhatian yang lebih besar pada koperasi dan pengusaha golongan ekonomi lemah atau pengusaha kecil dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Hal tersebut menunjukan bahwa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
selain memiliki tugas-tugas tradisional yaitu menghimpun dana
masyarakat dan memobilisasikannya dengan pemberian kredit, juga dapat berfungsi untuk turut menjaga kestabilan moneter yang ditandai keadaan spekulasi semacam itu pada saat-saat pertumbuhannya. Maka selanjutnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. bersama-sama dengan lembaga keuangan lainnya dan masyarakat memprioritaskan upaya turut menstabilkan keadaan moneter.
Maka jelas fungsi dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
sebagaimana bank-bank pemerintah lainnya dalam rangka mengantisipasi berbagai kebijaksanaan dan berusaha meraih peluang-peluang masa mendatang, meningkatkan persaingan yang semakin tajam antara sesama bank milik pemerintah dan semakin banyaknya kemudahan-kemudahan yang telah dimiliki oleh bank-bank non pemerintah dalam beroperasi di bidang keuangan dan moneter.
3.2.3 Visi dan misi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Visi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Bank terpercaya pilihan anda.
Misi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
1. Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar.
2. Mengembangkan sumber daya manusia yang profesional.
3. Keuntungan maksimal untuk stakeholder.
4. Melaksanakan manajemen yang terbuka.
5. Peduli terhadap kebutuhan masyarakat.
TIPCE
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam memiliki lima budaya perusahaan dan sepuluh nilai utama insan Bank Mandiri yang disebut dengan TIPCE, yaitu:
1. Trust
a. Saling menghargai dan bekerjasama.
b. Jujur, tulus dan terbuka.
2. Integrity
a. Disiplin dan konsisten.
b. Berfikir, berkata dan bertindak terpuji.
3. Professionalism
a. Kompeten dan bertanggung jawab.
b. Memberikan solusi dan hasil terbaik.
4. Customer Focus
a. Inovatif, proaktif dan cepat tanggap.
b. Mengutamakan pelayanan dan kepuasan pelanggan.
5. Excellent
a. Orientasi pada nilai tambah dan perbaikan terus menerus.
b. Peduli lingkungan.
Five Self Power
Five Self Power merupakan lima nilai yang harus dimiliki juga oleh insan Bank Mandiri, yaitu:
1. Satu nasabah baru yang harus diraih setiap hari.
2. Dua informasi setiap hari.
3. Tiga greeting setiap hari.
4. Empat job yang harus dikuasai.
5. Lima menit telah hadir sebelum meeting dimulai.
3.2.4 Produk dan Jasa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
A. Bidang Usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Kegiatan usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. secara umum adalah sebagai bank umum atau bank devisa adalah pengumpulan dana dari masyarakat dalam berbagai jenis tabungan, sistem tabungan mandiri, deposito, dan bank garansi yang kemudian disalurkan dalam bentuk kredit dan melakukan kegiatan dalam bentuk transaksi valuta.
Dengan demikian sebagai lembaga intermediary dan menjabarkan peran serta fungsi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sampai saat ini mempunyai beberapa aktivitas usaha sebagai berikut:
1. Penghimpun dana:
a. Giro.
b. Deposito.
c. Tabungan.
d. Likuidasi Bank Indonesia.
e. dan lainnya.
2. Penyaluran dana:
a. Penyaluran kredit.
b. Penempatan dana pada bank lain.
c. Penyertaan dan lainnya.
3. Jasa-jasa bank lainnya:
a. Kiriman uang.
b. Inkaso.
c. Referensi bank.
d. Jaminan bank.
e. dan lainnya.
B. Tarif Suku Bunga
Suku bunga bagi usaha perbankan adalah sebagai pemasukan dana atau keuntungan yang diperoleh dari bidang usaha yang dikelolanya. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dalam menentukan tarif suku bunga ini sebagai perbankan lainnya adalah berusaha supaya dapat menarik minat masyarakat menjadi nasabahnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam menentukan tarif suku bunga ini membedakan antara:
a. Suku bunga tabungan
Suku bunga ini relatif rendah dari suku bunga jenis usaha lainnya dikarenakan tabungan adalah simpanan jangka pendek yang sewaktu- waktu dapat ditarik nasabah.
b. Suku bunga deposito
Suku bunga deposito relatif tinggi dari suku bunga tabungan, dikarenakan deposito adalah tabungan berjangka dengan demikian pihak bank dapat memobilisasi dana tabungan deposito tersebut dalam bentuk pemberian kredit.
c. Suku bunga kredit
Suku bunga kredit adalah suku bunga yang tertinggi dari tarif suku bunga jenis usaha lainnya, hal ini dikarenakan dana tersebut akan dilepas oleh pihak bank, yang walaupun ada jaminannya tetap akan ada risikonya.
3.2.5 Struktur Organisasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam Sebagaimana diketahui bahwa struktur organisasi menggambarkan suatu pembagian pekerjaan, wewenang dan tanggung jawab yang ada di dalam organisasi. Sedangkan fungsi dan ruang lingkup tugas unit organisasi, menggambarkan pembagian kegiatan yang ada di dalam organisasi, dikelompokkan secara garis besar di dalam masing-masing unit organisasi.
Oleh karena PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam telah berkembang sedemikian rupa, maka pembagian kegiatan secara garis besar perlu dilengkapi dengan uraian kerja sebagai penjabaran lebih lanjut.
Sehingga pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-msing unit organisasi menjadi jelas dan konkrit.
Adapun struktur organisasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam adalah sebagai berikut:
KEPALA CABANG
CSO HEAD TELLER
CSA CSR TELLER
KOORDINATOR
TELLER
Gambar 3.2 Struktur Organisasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Cabang Batam
3.2.6 Deskripsi Kerja 1. Kepala Cabang
a. Mengawasi kinerja semua unit kerja.
b. Sebagai pengambil kebijakan untuk cabang.
2. CSO (Customer Service Officer)
a. Sebagai pengawas dari CSA (Customer Service Administration) dan CSR (Customer Service Representative).
b. Mengerjakan pekerjaan insidentil, misalnya membuat laporan keuangan bulanan.
c. Supervisor dalam operasional cabang, misalnya melakukan verifikasi data yang berhubungan dengan kebijakan perusahaan.
3. CSA (Customer Service Administration)
a. Menunjang pekerjaan teller dan customer service, misalnya pengadaan alat tulis kantor, brosur dan souvenir.
b. Mengarsip dokumen nasabah.
c. Mengelola Save Deposit Box (SDB) dan mengelola Payroll Package Bank Mandiri.
4. CSR (Customer Servise Representative)
Memberikan pelayanan kepada nasabah mengenai produk- produk Bank Mandiri, misalnya pembukaan rekening tabungan serta melayani keluhan nasabah.
5. Head Teller
a. Pengelola kas besar (uang yang ada di cabang).
b. Pengelola ATM yang ada di cabang.
c. Sebagai supervisor dari teller.
6. Teller Koordinator
a. Mengambil uang ke Bank Indonesia atau dari dan ke cabang.
b. Mengelola persediaan kas di seluruh cabang.
c. Mengadministrasi surat-surat berharga, misalnya cek, bilyet giro, buku tabungan.
7. Teller
a. Melakukan pembukuan setoran dan penarikan tunai.
b. Melakukan setoran penarikan pindah buku.
c. Melakukan pembukuan setoran kliring.
3.2.7 Sejarah Berdirinya Consumer Loan Bussiness Center (CLBC)
Pulau Batam sebagai daerah yang berada di Kepulauan Riau, memiliki potensi yang sangat besar dalam perkembangan perekonomian.
Selain letaknya yang strategis, Pulau Batam juga menjadi salah satu pusat perindustrian di Kepulauan Riau. Semakin besar perkembangan perindustrian di Pulau Batam, maka semakin berkembanglah perekonomian di Pulau Batam. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai perumahan-perumahan baru yang dibangun guna memenuhi kebutuhan tempat tinggal masyarakat Batam yang semakin meningkat,