PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EFEKTIVITAS PROGRAM ACARA TELEVISI “CHARITY SHOW”
(Program Acara Televisi “Bedah Rumah” dan “Uang Kaget”)
(Studi Kasus: RT 04 RW 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat)
Oleh :
MAYANG ANGGUN PUSPITSARI A14202047
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
RINGKASAN
MAYANG ANGGUN PUSPITASARI. Persepsi Masyarakat terhadap Efektivitas Program Acara Televisi Charity Show (Program Acara Bedah Rumah dan Uang Kaget) Studi Kasus: RT 04 RW 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat Di bawah bimbingan NINUK PURNANINGSIH.
Pengaruh negatif kemajuan teknologi, khususnya televisi, kurang menjadi perhatian disebabkan Production House (rumah produksi) lebih menekankan tersedianya alternatif informasi dan hiburan bagi konsumennya. Oleh sebab itu, televisi swasta yang ada di Indonesia menghadirkan beragam acara untuk menarik minat masyarakat, sehingga menambah rating, misalkan film, sinetron, gossip, reality show dan charity show. Salah satu program tayangan televisi yang sedang digemari adalah reality show.
Reality show yang menyentuh aspek sosial dengan membagi-bagikan rejeki kepada penonton kalangan papan bawah dikenal dengan program acara televisi ”charity show”. Program ini bukan hanya menghibur tetapi yang paling utama dapat menjadi inspirasi bagi pemirsa untuk berbuat kebaikan dan berani mewujudkan setiap impian untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Survei yang dilakukan oleh Nielsen Media Research (NMR) di Indonesia pada pertengahan tahun 2005 tercatat reality show yang memiliki rating tertinggi adalah Uang Kaget dan Bedah Rumah.
Walaupun keberadaan rating dari program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget cukup signifikan namun tidak dapat dipungkiri keberadaanya memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Adapun pendapat yang pro mengenai tayangan Bedah Rumah dan Uang Kaget menyatakan bahwa tayangan tersebut menciptakan iklim pada masyarakat untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan terdorong untuk melakukan pertolongan yang sama dengan program acara tersebut terhadap orang lain yang membutuhkan. Sementara pendapat yang kontra menyatakan bahwa penayangan tersebut menganggap persoalan kemiskinan hanya dapat diselesaikan dengan memberikan uang banyak dalam waktu singkat, kesan menjadi orang kaya tiba-tiba juga melekat dalam benak masyarakat tanpa memikirkan jangka panjang dan mengeksploitasi kemiskinan.
Berdasarkan pertimbangan hal tersebut di atas, penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk menilai seberapa efektif kedua program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget dipersepsikan positif oleh masyarakat sehingga masyarakat terdorong untuk melakukan pertolongan terhadap sesama. Diharapkan hasil kajian dapat dimanfaatkan oleh rumah produksi kedua program acara tersebut sebagai bahan masukan sehingga kedua program acara tersebut menunjukkan peranannya sebagai sarana hiburan dan sarana informasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show dan menganalisis faktor- faktor apa saja yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan di RT 04 RW 04
Barat, pada bulan Desember tahun 2008 sampai dengan bulan Maret 2009.
pemilihan RT dilakukan secara sengaja atau purposive. Ukuran contoh yang diteliti sebanyak 32 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling (berpeluang acak sederhana). Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai, dengan menggabungkan dua metode penelitian yaitu kuantiatif dan kualiatif. Pengolahan data dilakukan dari hasil kuesioner, selanjutnya dibuat tabulasi silang, kemudian dianalisis menggunakan pengujian secara uji statistik, yaitu chi-square.
Program acara televisi reality show yang menjadi pilihan masyarakat untuk diproduksi pertamakali program acara reality show yang berbasis sosial di motori oleh PT. Trisawarsana diantaranya adalah ”Bedah Rumah” dan ”Uang Kaget”. PT. Trisawarsana menetapkan kedua program acara antara lain usia talent berkisar anatara 40 – 60 tahun serta jam tayang ditetapkan pada waktu sore hari.
Selanjutnya, kedua program acara memiliki karakterstik yang berbeda dilihat dari konsep acara dan peran pembawa acara.
Karakteristik internal responden, sebagian besar berusia antara 30 sampai 45 tahun, memiliki latar belakang pendidikan sedang (tamatan SMP dan SMA) serta pekerja. Untuk karakteristik eksternal, durasi menonton sebagian besar tinggi yaitu menonton televisi lebih dari 5 jam. Adapun frekuensi menonton responden yang sebagian besar selalu menonton program acara televisi charity show.
Persepsi responden terhadap efektivitas program acara televisi charity show sebagian besar positif terhadap talent, bentuk hadiah, peran pembawa acara, konsep acara dan jam tayang. Walaupun ada juga pihak yang merasa kurang tertarik dengan konsep acara Bedah Rumah dan Uang Kaget karena hanya menayangkan eksploitasi kemiskinan.
Persepsi responden terhadap efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget tentang talent menunjukkan positif yaitu talent yang patut dibantu berada pada usia 40 tahun ke atas. Hal ini dikarenakan, bila sasarannya masih berusia muda, talent masih bisa berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kondisi yang masih bugar.
Persepsi responden terhadap efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget tentang bentuk hadiah menunjukkan positif yaitu perbaikan rumah dengan isinya dalam program acara Bedah Rumah. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi pendidikan responden maka semakin mengerti bentuk bentuk hadiah yang mendidik bagi pemirsa.
Persepsi responden terhadap efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget tentang peran pembawa acara menunjukkan positif yaitu pembawa acara dalam program acara Bedah Rumah. Hal ini dikarenakan, selama tayangan berlangsung pembawa acara dianggap mampu melibatkan emosi penonton dalam susasana haru.
Persepsi responden terhadap efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget tentang konsep acara menunjukkan positif yaitu konsep acara Bedah Rumah dianggap menarik responden dari awal sampai akhir. Hal ini dilihat dari penyajian segmen program acara, bintang tamu yang ditampilkan dan penayangan
secara mendetail mengenai perbedaan kondisi rumah yaitu sebelum dibedah dengan sesudah dibedah. Hal ini menyebabkan responden menjadi penasaran sehingga responden tertarik untuk menonton dari awal sampai akhir. Dan responden menilai tayangan program acara Uang Kaget memiliki kekurangan karena memberikan dampak secara tidak langsung mengajarkan budaya konsumtif bagi pemirsa.
Persepsi responden terhadap efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget tentang jam tayang menunjukkan positif yaitu pada sore hari sudah tepat ditayangkan. Hal ini dikarenakan sore hari merupakan waktu luang untuk menonton televisi setelah melakukan aktivitas rutin dalam melakukan pekerjaan rumah. Sehingga kedua program acara tersebut menghibur responden sambil beristirahat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi responden terhadap tayangan program acara televisi charity show menunjukkan hubungan yang nyata antara lain durasi menonton televisi serta jenis pekerjaan (karakteristik individu) dan konsep program acara Bedah Rumah (karakteristik program acara televisi charity show).
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EFEKTIVITAS PROGRAM ACARA TELEVISI CHARITY SHOW
(Program Acara Bedah Rumah dan Uang Kaget)
(Studi Kasus RT 04 RW 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat,
Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat)
Oleh:
Mayang Anggun Puspitasari A14202047
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Judul : Persepsi Masyarakat Terhadap Efektivitas Program Acara Televisi
Charity Show (Program Acara Bedah Rumah dan Uang Kaget) pada studi kasus RT 04 RW 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat.
Nama : Mayang Anggun Puspitasari NRP : A14202047
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ninuk Purnaningsih NIP. 19690108 199303 2 001
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 19571222 198203 1 002
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ”PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EFEKTIVITAS PROGRAM ACARA TELEVISI CHARITY SHOW (PROGRAM ACARA BEDAH RUMAH DAN UANG KAGET) KASUS PADA RT 04 RW 04 KELURAHAN BALUMBANG JAYA, KECAMATAN BOGOR BARAT, KOTA BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT”. BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR- BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Juli 2009
Mayang Anggun P.
A14202047
RIWAYAT PENULIS
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 21 Desember 1984. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara pasangan (Alm.) Soedjono Hardjo Suparno dan Edah Suhaedah.
Penulis memulai pendidikannya di Taman Kanak-Kanak Al-Iman pada tahun 1989, kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri 06 Cipinang Muara Jakarta pada tahun 1990 dan selesai pada tahun 1996. Pada tahun 1996 penulis melanjutkan pendidikannya di SLTP Negeri 52 Cipinang Muara Jakarta.
Selanjutnya penulis melanjutkan lagi sekolahnya di SMUN 53 Cipinang Jaya Jakarta dan lulus pada tahun 2002.
Pada tahun 2002, penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB. Penulis diterima di Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Ilmu- Ilmu Sosial dan Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian.
Semasa kuliah, penulis ikut dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Ladang Seni dan penulis juga pernah aktif dalam Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta penulis pernah menjadi panitia pada berbagai kegiatan mahasiswa
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, kekuatan serta jalan yang terbaik menurut-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi (SEP 495) yang berjudul “Persepsi Masyarakat Terhadap Efektivitas Program Acara Televisi Charity Show” ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian, di Fakultas Pertanian IPB.
Skripsi ini merupakan penelitian dan studi persepsi terhadap program acara televisi charity show. Oleh karena itu, diharapkan menjadi referensi yang berguna dalam kajian mengenai studi evaluasi program acara di televisi. Penulis menyadari adanya kekurangan dalam pembuatan skripsi ini, namun semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan pihak-pihak yang memerlukannya.
Bogor, Juli 2009
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menghaturkan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, berkah dan karunia-Nya, sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan dan semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan Skripsi ini, antara lain:
1. Dr. Ir. Ninuk Purnaningsih, MSi selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan dan sarannya dalam upaya penyusunan Skripsi 2. Dr. Sarwititi .S Agung, MSi dan Ir. Dwi Sadono, MSi selaku Dosen
Penguji yang telah memberikan masukan dan sarannya dalam upaya penyusunan Skripsi
3. Seluruh Keluarga di rumah (Mba Lia, Mba Ade, Babby, Rafel, Metha, Teteh), khususnya Mama yang dengan ketulusan hati dan kesabaran memberikan dorongan, semangat, motivasi dan do’anya.
4. Hary Purnomo Hidayat yang dengan sabar selalu memberikan semangat, inspirasi hidup, motivasi, dorongan dan arahan hingga selesainya karya tulis ini.
5. Mas Aris selaku Produser Pelaksana Program Acara Bedah Rumah yang telah menyempatkan waktu memberikan masukan dan arahan demi kelancaran Skripsi ini.
6. Ketua RT 04 RW 04 Kelurahan Balumbang Jaya dan PT. Trisawarsana yang telah memberikan izin melakukan penelitian dalam penyusunan karya tulis ini.
7. Seluruh responden yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih atas partisipasinya dan kebersamaannya
8. Reni dan Heri Sanjaya Putra yang telah membantu kelancaran penyusunan karya tulis ini.
9. Bapak-bapak dan ibu-ibu penjaga perpustakaan LSI IPB yang selalu ramah
10. Keluarga besar KOHATI HMI Cabang Bogor terutama Eny Widiyawati, Rahmawati, Titin, Eva, Nurul, Sirih, Yuliana, Tia dan Sun sun untuk kebersamaannya yang berharga selama ini .
11. Keluarga KPM, terima kasih untuk kebersamaannya selama ini serta dukungannya
12. Dan untuk rekan-rekan yang lainnya yang tidak dapat disebutkan secara satu persatu.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Kegunaan Penelitian ... 7
1.5 Batasan Penelitian ... 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi Massa ... 8
2.2 Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa ... 11
2.3 Perilaku Menonton Televisi ... 15
2.4 Program Acara Televisi Charity Show... 16
2.5 Persepsi ... 18
2.5.1 Pengertian Persepsi ... 18
2.5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 20
2.5.3 Hubungan Persepsi dengan perilaku ... 22
2.6 Kerangka Pemikiran ... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31
3.2 Metode Penentuan Sampling ... 31
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 32
3.4 Metode Pengolahan Data dan Analisis Data ... 33
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI DAN PROGRAM ACARA TELEVISI CHARITY SHOW
4.1 Gambaran Umum Kelurahan Balumbang Jaya ... 35
4.1.1 Kondisi Geografis ... 35
4.1.2 Kondisi Demografi ... 36
4.1.3 Sarana dan Prasarana ... 39
4.2 Gambaran Umum RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya . 41 4.3 Gambaran Umum Program Acara Televisi Charity Show ... 42
4.3.1 Sejarah Singkat Berdirinya PT. Trisawarsana ... 42
4.3.2 Karakteristik Program Acara Uang Kaget ... 44
4.3.3 Karakteristik Program Acara Bedah Rumah ... 47
4.3.4 Tujuan Program Acara Bedah Rumah dan Uang Kaget .. 50
4.4 Ikhtisar ... 51
BAB V GAMBARAN UMUM KARAKTERISTIK INDIVIDU RESPONDEN ... 5.1 Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 52
5.2 Jumlah Responden Berdasarkan Usia ... 53
5.3 Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 54
5.4 Jumlah Reponden Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 55
5.5 Durasi Menonton Televisi ... 55
5.6 Pilihan Acara ... 57
5.7 Pilihan Program Acara Televisi Charity Show ... 59
5.8 Frekuensi Menonton Program Acara Televisi Charity Show .. 61
5.9 Ikhtisar ... 63
BAB VI PERSEPSI RESPONDEN TERHADAP PROGRAM ACARA TELEVISI CHARITY SHOW 6.1 Persepsi Responden Terhadap Tokoh Utama (Talent) dalam Program acara Televisi Charity Show ... 64
6.2 Persepsi Responden Terhadap Bentuk Hadiah dalam Program acara Televisi Charity Show ... 67
6.3 Persepsi Responden Terhadap Peran Pembawa Acara dalam
Program acara Televisi Charity Show ... 69
6.3.1 Persepsi Responden Terhadap Peran Pembawa Acara Bedah Rumah dalam Program Acara Televisi Charity Show 70 6.3.2 Persepsi Responden Terhadap Peran Pembawa Acara Uang Kaget dalam Program Acara Televisi Charity Show 72 6.4 Persepsi Responden Terhadap Konsep Acara dalam Program Acara Televisi Charity Show ... 75
6.4.1 Persepsi Responden Terhadap Konsep Acara dalam Program Acara Televisi Bedah Rumah ... 75
6.4.2 Persepsi Responden Terhadap Konsep Acara dalam Program Acara Televisi Uang Kaget ... 78
6.5 Persepsi Responden Terhadap Jam Tayang dalam Program Acara Televisi Charity Show ... 81
6.7 Ikhtisar ... 83
BAB VII KESIMPILAN DAN SARAN 7. 1 Kesimpulan ... 85
7. 2 Saran ... 86
DAFTAR PUSTAKA ... 88
LAMPIRAN ... 90
DAFTAR TABEL
No. Teks Hal
1 Kisi-kisi Instrumen Persepsi Masyarakat terhadap
Program Acara Televisi Charity Show...
33
2 Sebaran Penggunaan Lahan Kelurahan Balumbang Jaya ...
36
3 Sebaran Jumlah Penduduk Menurut kelompok
Umur dan Jenis Kelamin ...
37
4 Sebaran Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan
Balumbang Jaya ...
38
5 Sebaran Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan
Balumbang Jaya ...
39
6 Sebaran Sarana dan Prasarana Perhubungan
Kelurahan Balumbang Jaya ...
38 ...
7 Sebaran Sarana dan Prasarana Olahraga
Kelurahan Balumbang Jaya ...
40
8 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Masyarakat RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat,
Walikotamadya Bogor ...
53
9 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Usia Pada Masyarakat RW 04 RT 04
Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat,
Walikotamadya Bogor ...
53
10 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan Pada Masyarakat RW 04 RT 04
Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat,
Walikotamadya Bogor ...
54
11 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Pada Masyarakat RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat,
Walikotamadya Bogor ...
55
12 Persentase Responden Menurut Durasi Menonton
Pada Masyarakat RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya,
Kecamatan Bogor Barat, Walikotamadya Bogor ...
... 57 13 Persentase Responden Menurut Pilihan Acara Televisi
Pada Masyarakat RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya,
Kecamatan Bogor Barat, Walikotamadya Bogor, Tahun 2009 ...
58
14 Persentase Responden Menurut Pilihan Program Acara Televisi
Charity Show Pada Masyarakat RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Walikotamadya Bogor, Tahun 2009 ...
60
15 Persentase Responden Menurut Frekuensi Menonton Pada Masyarakat RW 04 RT 04 Kelurahan Balumbang Jaya,
Kecamatan Bogor Barat, Walikotamadya Bogor ...
63
16 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Talent dalam Program Acara Televisi Charity Show
dengan Karakteristik Individu ...
65
17 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Bentuk Hadiah dalam Program Acara Televisi Charity Show
dengan Karakteristik Individu ...
68
18 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Peran Pembawa Acara Bedah Rumah dalam Program Acara Televisi Charity Show
dengan Karakteristik Individu ...
71
19 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Peran Pembawa Acara Uang Kaget dalam Program Acara Televisi Charity Show
dengan Karakteristik Individu ...
73
20 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Konsep Acara
dengan Karakteristik Individu ...
77
21 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Konsep Acara Uang Kaget dalam Program Acara Televisi Charity Show
dengan Karakteristik Individu ...
79
22 Hubungan Antara Persepsi Responden Tentang Jam Tayang dalam Program Acara Televisi Charity Show
dengan Karakteristik Individu ...
83
DAFTAR GAMBAR
No. Teks Hal
1 Kerangka Pemikiran ...
25
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal 1 Sketsa Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat
Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat Tahun 2009 ... 91 2 Daftar Responden Berdasarkan
Karakteristik Internal Responden... 92 3 Kuesioner Survei ... 93 4 Hasil Analisis Data dengan Pengujian Uji Statistik ... 99
BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran menyatakan dengan jelas bahwa siaran yang dipancarkan dan diterima secara bersamaan, serentak dan bebas, memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukkan pendapat, sikap dan perilaku khalayak, sehingga penyelenggaraan penyiaran wajib bertanggung jawab dalam menjaga nilai moral, tata susila, budaya, kepribadian dan kesatuan bangsa yang berlandaskan kepada ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab1.
Pesatnya teknologi komunikasi, membawa pengaruh yang cukup besar terhadap setiap aspek kehidupan manusia. Kecanggihan teknologi komunikasi tersebut menyebabkan berbagai informasi dapat disampaikan dengan mudah, kepada ribuan bahkan jutaan manusia dalam waktu yang bersamaan. Hal ini terwujud salah satunya melalui media massa elektronik yang bernama televisi (Suangga, 2004). Siaran televisi di Indonesia dimulai tahun 1962, pada saat itu dilakukan peresmian penyiaran televisi oleh Presiden Soekarno. Sejak peresmian tersebut, jumlah pesawat penerima televisi, khususnya di Jakarta semakin meningkat. Lebih lanjut, televisi swasta juga berkembang dengan pesat sejak tahun 1987, sehingga memberikan pilihan bagi pemirsanya. Dengan demikian, globalisasi komunikasi dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia (Halim, 2005).
Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan nama untuk stasiun televisi pertama Indonesia, dimana acara-acaranya dikemas untuk kepentingan pemerintah. Acara yang dikemas untuk kepentingan pemerintah misalnya: siaran pedesaan untuk kalangan petani, dialog politik, laporan khusus dan lain sebagainya. Seiring dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Penerangan Republik Indonesia nomor 111/Kep/Menpen/1990 tanggal 10 Juli 1990 mengizinkan beberapa stasiun televisi swasta beroperasi di Indonesia (Rojat, 2001). Perkembangan pemanfaatan televisi swasta ditunjukkan oleh berdirinya PT.
Rajawali Citra Televisi Indonesia tahun 1989, PT. Surya Citra Televisi (SCTV) tahun 1990, Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) tahun 1991, PT. Andalas Televisi (ANTV) tahun 1993, PT. Indosiar Visual Mandiri berdiri tahun 1995, Metro TV tahun 2000, PT. Global TV tahun 2001, PT. Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV) tahun 2001, TV7 tahun 2001 dan yang terakhir Lativi tahun 2001.
Munculnya stasiun-stasiun swasta ini mengangkat kondisi pertelevisian Indonesia tumbuh dengan luar biasa baik kualitas maupun kuantitas siaran televisi (Gozali dalam Rojat, 2001). Kualitas siaran diantaranya, siaran pendidikan dan agama, berita dan informasi serta hiburan, dikemas sedemikian rupa sehingga lebih menarik dan berbobot misalnya dalam bentuk siaran langsung yang melalui telepon, tanya jawab dengan pemirsa dan sejenisnya. Kuantitas hiburan menunjukkan adanya penambahan jam tayang, dimana sebelumnya televisi hanya dapat dinikmati pada malam hari, sekarang televisi dapat dinikmati siang dan malam hari (Rojat, 2001).
Acara-acara yang disajikan oleh stasiun televisi swasta nasional terbagi dalam 11 tema acara, yaitu berita (news), dokumenter, film (meliputi sinetron, seri dan lepas), kuis, reality show, talk show, musik, tari, olahraga, iklan (meliputi iklan produk, iklan layanan masyarakat, iklan acara/thriller), pengetahuan agama, dan ragam acara (variety show)2. Salah satu program tayangan televisi yang sedang digemari adalah reality show. Hal ini disebabkan karena bentuk acara reality show yang hadir tanpa arahan sutradara atau koreografer. Rasa haru, marah, sediah, gembira dan berbagai ekspresi wajah yang ditampilakan pemerannya begitu nyata dan murni dari hati nurani3. Orang-orang yang terlibat didalamnya bukan aktor atau aktris. Mereka adalah orang-orang biasa, bukan selebritas. Akan tetapi, konsep ’orang biasa masuk TV’ itulah yang berhasil merebut jutaan pemirsa di Tanah Air4.
Tayangan reality show yang makin menjamur beberapa tahun belakangan ini di hampir semua stasiun televisi swasta, misalnya Kontes Dangdut Indonesia (TPI), Playboy Kabel dan Tolooong!! (SCTV), Indonesian Idol, Bedah Rumah dan Uang Kaget (RCTI). Konser AFI (Indosiar), Indonesian Star (Metro TV), Cilapop, Ketok Pintu, Rejeki Nomplok (TV7). Bule Gila (Trans TV), MTV Gokil (Global TV), Pemburu Hantu (Lativi) dan sebagainya.
Produsen acara-acara televisi berani tampil beda dengan menyajikan hiburan berkualitas. Reality show yang menyentuh aspek sosial dengan membagi-
2 Eriyanti .Televisi Menghibur Sampai “mati”.
Http://www.rakyat.com/cetak/2006/072006/10/teropong/index.html . Diakses tanggal 10 Desember 2006
3 Buletin Studia. 30 Maret 2005. Ketika Empati Hadir di Televisi. Http://www.dudung.com . Diakses tanggal 10 Desember 2006
4 Rizka Halida. Jurus ‘Reality Show’ di Layar Kaca Menebar Iba, Menuai ‘Rating’.
Http://www.mediaindo.co.id . Diakses tanggal 10 Desember 2006
bagikan rejeki kepada penonton kalangan papan bawah dikenal dengan program acara televisi ”charity show”. Program ini bukan hanya menghibur tetapi yang paling utama dapat menjadi inspirasi bagi pemirsa untuk berbuat kebaikan dan berani mewujudkan setiap impian untuk menuju kehidupan yang lebih baik5. Reality show dengan konsep ’dewa penyelamat’, artinya acara tersebut memberikan rejeki tidak terduga kepada ’targetnya’. Bentuknya bisa bermacam- macam. Ada yang berupa uang, pembayaran hutang, sampai renovasi rumah atau kamar tidur. Sebagian besar ’korban’ tampak menangis terharu, mencium tangan dan pipi tokoh ’dewa penyelamat’ atau bersujud.
Program acara televisi charity show dikemas dan didesain sedemikian rupa unuk menarik perhatian penonton. Tidak bisa dipungkiri, program acara charity show meningkatkan antusiasme masyarakat Indonesia yang membuat program acara televisi charity show sebagai budaya masyarakat yang fenomenal.
Survei yang dilakukan oleh Nielsen Media Research (NMR) di Indonesia pada pertengahan tahun 2005 tercatat reality show yang memiliki rating tertinggi adalah Uang Kaget dan Bedah Rumah. Keduanya sama-sama mengusung tema charity show. Indikatornya adalah rating dan share. Rating adalah persentase penonton acara tersebut secara keseluruhan populasi pemirsa televisi. Share adalah persentase penonton acara itu dari keseluruhan pemirsa yang menonton televisi pada saat tertentu. Bedah rumah memperoleh rating hingga 5.4 persen
5 Anonim. 2005.“Bedah Rumah” Lahir di Ungaran.
Http://suaramerdeka.com/harian/0512/01/x_nas.html . Diakses tanggal 10 Desember 2006
dengan share 25 persen. Sementara Uang Kaget memperoleh rating sebesar 5.9 persen dengan share 21.9 persen6.
Walaupun keberadaan rating dari program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget cukup signifikan namun tidak dapat dipungkiri keberadaanya memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Adapun pendapat yang pro mengenai tayangan Bedah Rumah dan Uang Kaget menyatakan bahwa tayangan tersebut menciptakan iklim pada masyarakat untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan terdorong untuk melakukan pertolongan yang sama dengan program acara tersebut terhadap orang lain yang membutuhkan. Sementara pendapat yang kontra menyatakan bahwa penayangan tersebut menganggap persoalan kemiskinan hanya dapat diselesaikan dengan memberikan uang banyak dalam waktu singkat, kesan menjadi orang kaya tiba-tiba juga melekat dalam benak masyarakat tanpa memikirkan jangka panjang dan mengeksploitasi kemiskinan.
Berdasarkan pertimbangan hal tersebut di atas, penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk menilai seberapa efektif kedua program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget dipersepsikan positif oleh masyarakat sehingga masyarakat terdorong untuk melakukan pertolongan terhadap sesama. Diharapkan hasil kajian dapat dimanfaatkan oleh rumah produksi kedua program acara tersebut sebagai bahan masukan sehingga kedua program acara tersebut menunjukkan peranannya sebagai sarana hiburan dan sarana informasi.
6Rizka Halida. Jurus ‘Reality Show’ di Layar Kaca Menebar Iba, Menuai ‘Rating’.
Http://www.mediaindo.co.id. Diakses tanggal 10 Desember 2006
1. 2 Perumusan Masalah
Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan televisi di masyarakat sudah menjadi suatu kebutuhan (Suharto, 2006). Program Acara televisi charity show yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta merupakan suatu hal yang baru bagi masyarakat dan menjadi program acara televisi yang paling digemari.
Dari sekian keberagaman program acara televisi charity show, fokus dalam penelitian ini adalah efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget karena kedua acara tersebut menjadi awal kebangkitan program acara televisi charity show.
Penayangan program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget memiliki karakteristik yang berbeda dilihat dari alur cerita, bentuk hadiah, dan peran pembawa acara. Selain itu, masyarakat khususnya yang menjadi cakupan penelitian ini memiliki latar belakang dan karakteristik sosial-ekonomi yang beragam sehingga mereka dapat memiliki persespsi yang berbeda-beda.
Bedasarkan uraian di atas, penelitian ini akan mengkaji persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi ”charity show” Oleh karena itu, masalah yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagimanakah persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi ”charity show”?
2. Faktor-faktor apakah yang dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi “charity show”?
1. 3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat tentang program acara televisi ”charity show”.
2. Untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi “charity show”.
1. 4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. Pemerintah, sebagai bahan informasi tentang pengaruh penayangan program acara televise charity show
2. Stasiun-stasiun televisi dan rumah produksi, sebagai bahan informasi tentang pengaruh dari produknya terhadap masyarakat, sehingga dapat lebih selektif dalam mengemas atau membuat program acara televisi charity show yang akan ditayangkan.
3. Mahasiswa serta masyarakat luas yang ingin mengetahui penelitian ini, menjadikan bahan informasi bagi yang ingin mengkaji kembali atau mengadakan penelitian kembali.
1. 5 Batasan Penelitian
Penelitian ini meneliti persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show. Dalam hal ini, faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik internal dan eksternal dalam program acara televisi charity show difokuskan pada program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget. Pemilihan kedua program acara ini dikarenakan program acara televisi charity show pertama kali di Indonesia dan paling banyak digemari. Penelitian ini menekankan persepsi responden terhadap efektivitas program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Komunikasi Massa
Rakhmat (2002) mengartikan komunikasi massa sebagai jenis komunikasi sebagai jenis komunikasi yang ditujukan pada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak dan atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Selanjutnya Effendy (1998) menyatakan komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa. komunikasi massa mempunyai ciri-ciri khusus yang disebabkan sifa-sifat komponennya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Komunikasi berlangsung satu arah
Komunikasi ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator. Dengan perkataan lain wartawan sebagai komunikator tidak mengetahui tanggapan para pembacanya terhadap pesan atau berita yang disiarkannya itu. Yang dimaksudkan dengan “tidak mengetahui” dalam keterangan di atas, ialah tidak mengetahui pada waktu proses komunikasi itu berlangsung.
b. Komunikasi pada komunikasi massa melembaga
Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu institusi atau organisasi. Karena itu, komunikatornya melembaga atau dalam bahasa asing disebut
Institutionalized communicator. Sebagai komunikasi dari sifat komunikator yang melembaga itu, maka peranannya dalam proses ditunjang oleh orang-orang lain. Kemunculannya dalam media komunikasi tidak sendirian, melainkan bersama orang lain.
Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, maka komunikator pada komunikasi massa dinamakan komunikator pada kolektif, karena tersebarnya pesan komunikasi massa merupakan hasil kerjasama sejumlah kerabat kerja. Karena sifatnya kolektif, maka komunikator yang terdiri dari sejumlah kerabat kerja itu, mutlak harus mempunyai keterampilan yang tinggi dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian komunikasi sekunder sebagai kelanjutan dari komunikasi primer itu, akan berjalan sempurna.
c. Pesan komunikasi massa bersifat umum
Pesan yang disebarkan melaui media massa bersifat umum (public), karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi tidak ditujukan kepada perorangan atau sekelompok orang tertentu.
Media massa tidak akan menyiarkan suatu pesan yang tidak menyangkut kepentingan umum.
d. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Ciri lain dari media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan (simultaneity) pada pihak khalayak dalam mnerima pesan-pesan yang disebarkan hal inilah yang merupakan ciri paling hakiki dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.
e. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen
Komunikasi atau khalayak yang merupakan kumpulan anggota- anggota masyarakat terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator, bersifat heterogen. Keberadaanya secara terpencar-pencar dimana atara satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak terdapat kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal: jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, keinginan, cita-cita, dan lain sebagainya. Berdasarkan ciri heteregonitas maka media komunikasi diperlukan perencanaan yang matang agar pesan yang disampaikan menjadi komunikatif.
Menurut Mulyana (2001), menyatakan bahwa terdapat empat model efek komunikasi massa yaitu (1) Model jarum suntik (Hypodermic Needle Model), mengasumsikan media massa secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat kuat atas massa media; (2) Model dua tahap (Two Step Flow Theory), menyatakan informasi diteruskan dari berbagai media massa dari para pemimpin pendapat kepada kemudian diteruskan ke mass audience; (3) Model satu tahap (One Step Flow Theory), menyatakan pesan media massa langsung kepada massa audiens, tetapi tidak kuat kepada khalayak penggunanya. Efek yang ditimbulkan untuk masing-masing khalayak berbeda; (4) Model alir banyak tahap (Multi Step Flow Theory), menyatakan khalayak memperoleh informasi langsung melalui media, baik secara langsung melalui opinion leaders maupun hubungan sesama khalayak. Model efek komunikasi yang akan menjadi perhatian dari penelitian ini adalah model alir satu tahap yang menyatakan pesan media massa langsung
kepada khalayak, tetapi efek yang ditimbulkan berbeda untuk masing-masing penerima.
Menurut Chaffee (Ardianto dan Erdinaya, 2004) efek media massa dapat dilihat dari dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri. Pendekatan kedua adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa yang berupa sikap, perasaan dan perilaku atau biasa dikenal dengan perubahan kognitif, afektif, dan behavioral.
2.2 Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa
Media massa merupakan kependekan dari istilah media komunikasi massa yang secara sederhana dapat memberikan pengertian sebagai alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan serentak kepada khalayak banyak yang berbeda-beda dan tersebar di berbagai tempat (Effendy, 1984).
Effendi (1984) menyatakan bentuk media massa dibedakan menjadi televisi, radio, surat kabar, film, buku dan pita. Diantara bentuk-bentuk tersebut, televisi mempunyai karakteristik khusus yang membedakan dengan media massa lainnya yaitu, kemampuan televisi menyampaikan pesan secara audio-visual dengan serentak yakni dalam waktu, acara dan stasiun yang sama dapat dinikmati oleh khalayak dimana saja untuk acara yang sama.
Televisi merupakan media yang dapat mendominasi komunikasi massa, karena sifatnya yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan khalayak. Televisi mempunyai kelebihan dari media massa lainnya yaitu bersifat audio visual
(didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa di manapun mereka berada (Ardianto dan Erdinaya, 2004).
Media televisi sebagai sarana tayang realitas sosial menjadi penting artinya bagi manusia untuk memantau diri manusia dalam kehidupan sosialnya.
Pemantauan itu bisa dalam bentuk perilaku, mode bahkan sikap terhadap ideologi tertentu. Faktor pendidikan sebagai ‘filter’ untuk mencegah efek kognitif materi tayangan televisi. Selain itu, kualitas informasi yang ditayangkan televisi, juga menjadi tolak ukur untuk sampai sejauh mana informasi tersebut benar-benar memiliki arti penting bagi kehidupan secara moral dan edukasi (Kuswandi, 1996).
Menurut Suangga (2004) televisi dianggap sebagai kotak ajaib yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia saat ini, menawarkan kenikmatan yaitu mendapatkan hiburan dan informasi. Televisi juga mamiliki posisi yang penting dalam kehidupan manusia apabila benar-benar dimanfaatkan sebagaimana seharusnya. Televisi menawarkan berbagai alternatif, sehingga dapat memilih informasi yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu, pendidikan, pengetahuan dan sebagainya.
Menurut Ardianto dan Erdinaya (2004), ditinjau dari stimulasi alat indera, televisi memiliki tiga karakteristik, yaitu:
1. Audiovisual: Televisi dapat didengar sekaligus dapat dilihat (audiovisual).
Jadi, apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata-kata, musik, dan efek suara, maka, khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak.
Namun demikian, tidak berarti gambar lebih penting daripada kata-kata.
2. Berpikir dalam gambar: Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama, adalah visualisasi (visualization), yakni menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Dalam proses visualisasi, pengarah acara harus menunjukkan objek-objek tertentu menjadi gambar yang jelas dan menyajikannya sedemikian rupa, sehingga mengandung suatu makna.
Kedua, penggambaran, yakni kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa, sehingga kontinuitasnya mengandung makna tertentu.
3. Pengoperasian lebih kompleks: Dibandingkan dengan radio siaran, pengoperasian televisi siaran lebih kompleks, dan lebih banyak melibatkan orang. Peralatan yang digunakannya pun lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit dan harus dilakukan oleh orang-orang yang terampil dan terlatih.
Pesan yang akan disampaikan media televisi memerlukan pertimbangan- pertimbangan lain agar pesan tersebut dapat diterima oleh khalayak sasaran.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan itu adalah sebagai berikut (Ardianto dan Erdinaya, 2004):
1. Pemirsa: Individu yang menggunakan media massa elektronik dalam memenuhi suatu tujuan tertentu. Jadi, setiap acara yang ditayangkan benar-benar beradasarkan benar-benar berdasarkan kebutuhan pemirsa, bukan acara yang dijejalkan.
2. Waktu: Menyesuaikan waktu penayangan dengan minat dan kebiasaan pemirsa. Faktor waktu menjadi bahan pertimbangan, agar setiap acara ditayangkan secara proposional dapat diterima oleh khalayak sasaran.
3. Durasi: Durasi berkaitan dengan waktu, yakni jumlah menit dalam setiap penayangan acara. Durasi masing-masing acara disesuaikan dengan jenis acara dan tuntutan skrip atau naskah. Suatu acara tidak akan mencapai sasaran karena durasi terlalu singkat.
4. Metode penyajian: Telah kita ketahui bahwa fungsi utama televisi menurut khalayak pada umumnya adalah untuk menghibur, selanjutnya adalah informasi. Dengan mengemas pesan sedemikian rupa, yakni menggunakan metode penyajian tertentu dimana pesan nonhiburan dapat mengandung unsur hiburan. Karena pada umumnya pesan yang mengandung nonhiburan kurang diminati pemirsa.
Menurut Hoffmann (1999), terdapat lima fungsi televisi dalam masyarakat, diantaranya pengawasan situasi masyarakat dan dunia, menghubungkan satu dengan yang lain, menyalurkan kebudayaan, pengerahan masyarakat untuk bertindak dalam keadaan darurat dan hiburan. Selanjutnya menurut Effendy (1984), terdapat tiga fungsi pokok televisi yaitu fungsi penerangan (media yang mampu menyiarkan informasi kepada khalayak), fungsi pendidikan dan fungsi hiburan. Berkaitan dengan fungsi yang di jelaskan, televisi akan bermanfaat bagi pemirsanya ditinjau dari tiga hal, yaitu (1) Dari paket acara televisi; (2) Dari isi paket acaranya; (3) Dari kritik dan saran paket acara televisi (Sulaiman, 1988 seperti yang diacu oleh Rojat, 2001).
Penyampaian isi pesan televisi yang diterima pemirsa diinterpretasikan secara berbeda-beda menurut visi pemirsa. Serta dampak yang ditimbulkan juga beraneka ragam. Pada umunya terdapat perbedaan pendapat tentang dampak acara televisi dalam operasionalnya berhubungan dengan institusi sosial lain yang ada di masyarakat, serta adanya perbedaan sudut pandang dari khalayak sasaran (Kuswandi, 1996).
Menurut Kuswandi (1996), terdapat tiga dampak yang ditimbulkan dari acara televisi terhadap pemirsa, yaitu:
1. Dampak kognitif yaitu kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.
2. Dampak peniruan yaitu pemirsa dihadapkan pada trendi aktual yang ditayangkan televisi.
3. Dampak perilaku yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan pemirsa sehari-hari.
2. 3 Perilaku Menonton Televisi
Perilaku menonton merupakan apa yang dilakukan seseorang dalam menonton televisi. Untuk mengidentifikasi perilaku anak-anak dan remaja dalam menonton televisi, Lowery dan DeFleur (1993) seperti yang dikutip Herlina (1999) menyatakan ada tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat ukur, yaitu:
1. Total waktu yang digunakan untuk menonton televisi dalam sehari.
2. Pilihan program acara yang ditonton dalam sehari serta program acara yang paling disukai.
3. Frekuensi menonton program acara.
Hasil penelitian Greenberg di Inggris tahun 1972 menyatakan setiap individu membentuk pola tertentu dalam menggunakan media massa. Jika pola dan motif anak-anak dalam menggunakan media dapat diidentifikasi, maka pola tersebut akan terikut dan menjadi dasar dari pola penggunaan dan orientasi orang dewasa terhadap media massa (Herlina, 1999 seperti yang diacu oleh Novilena, 2004).
Berdasarkan pengertian perilaku menonton tersebut diatas, maka pengertian perilaku menonton dimaksud dalam penelitian ini adalah tindakan dalam menonoton televisi meliputi frekuensi menonton tayangan program acara televisi ”charity show” di televisi, durasi menonton televisi selama sehari dan stasiun televisi yang ditonton untuk menyaksikan tayangan program acara televisi ”charity show”.
2. 4 Program Acara Televisi “Charity Show”
Program acara televisi reality show adalah suatu acara yang diselenggarakan di televisi dan temanya bisa bermacam-macam, ada yang berupa pencarian bakat, hingga menjebak kekasih dan kawan. Yang membedakannya dari acara-acara televisi lainnya adalah tidak adanya naskah atau jalan cerita yang disiapkan sebelumnya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya pun bukanlah aktor atau aktris. Di Indonesia, acara ini sebenarnya sudah cukup lama
diselenggarakan. Namun istilah reality show baru saja dikenal di negeri ini pada tahun 2000.7
Program acara televisi reality show adalah program acara yang menampilkan kejadian asli tidak memiliki naskah atau jalan cerita yang disiapkan sebelumnya. Tokoh utamanya adalah orang-orang biasa bukan selebritas, sehingga kejadian yang ditayangkan merupakan kejadian diambil dari keseharian, kehidupan masyarakat apa adanya, yaitu realita di masyarakat. Reality show yang menonjolkan ‘orang biasa’ terasa lebih dekat dengan pemirsa. Penampilan yang tanpa make-up, pakaian biasa saja, dan rumah yang bersahaja serta jauh dari keglamoran gaya hidup selebritas dianggap memiliki persamaan dengan jutaan pemirsa.8
Program acara televisi yang di kemas dalam format reality show yang menyentuh aspek sosial, dengan membagikan hadiah kepada masyarakat kalangan bawah. Program acara televisi ini bertujuan tidak hanya menghibur tetapi juga menjadi inspirasi bagi pemirsa untuk berbuat kebaikan. Karena tayangan ini menjembatani pemirsa untuk melihat realitas sosial dalam masyarakat kalangan bawah yang membutuhkan pertolongan. Selajutnya menurut Siregar (1997), mencari pertalian antara televisi dengan nilai-nilai sosial dapat dimulai dengan melihat bahwa di satu pihak lain televisi ikut membentuk nilai- nilai sosial yang menjadi acuan masyarakat.
7Anonim. 2006. Reality Show.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_reality_show_di_Indonesia.htm. Diakses tanggal 17 Desember 2006
8 Anonim. 2005.“Bedah Rumah” Lahir di Ungaran.
Http://suaramerdeka.com/harian/0512/01/x_nas.html . Diakses tanggal 10 Desember 2006
Program acara televisi reality show yang bernuansa sosial terus bermunculan dilayar kaca, sehingga program ini menjadi acara yang paling disukai oleh pemirsa, karena menurut Siregar (1997) yang menyatakan produk faktual akan lebih efektif dalam membangun pemahaman manakala detail fakta yang disampaikan sesuai referensi. Artinya, khalayak sudah mengenali, berkepentingan, atau merasa dekat dengan fakta yang dihadapinya.
Sehubungan dengan itu, pemirsa mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh dalam program acara televisi charity show sebagai bagian dari dirinya, karena permasalahan hidup sehari-hari yang ditayangkan sama dengan orang banyak dianggap mewakili pemirsa.
2. 5 Persepsi
2.5.1 Pengertian Persepsi
Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami melalui alat penginderaan dengan kesadaran atau kognisi. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, peraba dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi (Sarwono, 2002). Selanjutnya, menurut Rakhmat (2001) menyatakan bahwa persepsi merupakan pengalaman mengenai objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan yang melibatkan sensasi, atensi, ekspetasi, motivasi dan memori.
Menurut Mulyana (2001), persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita. Persepsi
disebut sebagai inti komunikasi, karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antar individu, semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi, dan sebagai konsekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.
Terdapat empat prinsip dasar dalam proses pembentukkan persepsi yaitu:
(Krech dan Crutchfield dalam Rakhmat, 1996)
1. Persepsi dipengaruhi oleh karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli yang diterima. Artinya seseorang akan memberikan suatu arti tertentu terhadap stimulus yang dihadapinya, walaupun arti dan maksud stimulus tidak sesuai dengan arti persepsi orang tersebut.
2. Persepsi yang bersifat selektif secara fungsional dimana seseorang dalam mempersepsikan suatu stimulus melalui proses pemilihan.
3. Persepsi yang selalu diorganisasikan dan diberi arti memiliki suatu medan kesadaran yang memberi struktur terhadap gambaran yang muncul kemudian. Disamping itu keadaan lingkungan sosial seseorang akan mempengaruhi proses pembentukkan persepsi.
4. Persepsi yang ditentukan oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya melalui efek pembauran.
2.5.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi, Krech and Crutch field dalam Rakhmat (2000) mengemukakan ada dua faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu:
1. Faktor fungsional: berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Dalam hal ini, yang membentuk persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli itu. Faktor- faktor fungsional pembentuk persepsi lazim disebut sebgai kerangka rujukan (frame of reference). Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan mempengaruhi bagaimana orang memberi makna pada pesan yang diterimanya.
2. Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek saraf individu.
Karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi yang dapat mempengaruhi persepsi menurut Osley dalam Sadli (1996) adalah:
1. Faktor ciri khas obyek stimulasi yang terdiri dari nilai, arti dan intensitas.
2. Faktor pribadi termasuk di dalamnya ciri khas individu, seperti umur, taraf kecerdasan, emosional dan latar belakang
3. Faktor pengaruh kelompok, yaitu respon orang lain yang dapat memberi arah ke suatu tingkah laku yang sesuai.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dilihat dari penelitian- penelitian yang dilakukan sebelumnya, yaitu:
1. Hasil penelitian Suangga (1989) tentang persepsi remaja pedesaan terhadap tayangan berita kriminalitas di televisi menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi remaja di Desa Sukarame terhadap tayangan berita kriminalitas antara lain umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan (karakteristik individu internal), kepemilikan televisi, frekuensi menonton televisi (karakteristik individu eksternal), materi/isi, kemasan, alur cerita, gambar/ilustrasi serta jam tayang (karakteristik berita kriminalitas). Secara keseluruhan faktor-faktor yang menunjukkan hubungan yang cukup kuat dengan persepsi remaja tersebut dengan tayangan berita kriminalitas di televisi dalah materi/isi (karakteristik berita kriminalitas) serta frekuensi menonton televisi (karakteristik individu).
2. Hasil penelitian Sulastomo (1999) tentang analisa persepsi iklan komersial di televisi kaitannya dengan sikap pegambilan keputusan pembelian/penggunaan suatu produk di desa dan di kota menyimpulkan bahwa faktor-faktor karakteristik individu internal yang mempengaruhi persepsi terhadap iklan antara lain jenis pekerjaan, pendidikan dan status pernikahan.
3. Hasil penelitian Fauzi (2004) tentang persepsi dan partisipasi masyarakat sasaran dalam program pengembangan usaha kelompok kecil menyimpulkan bahwa faktor karakteristik internal individu yang berperan
penting dalam pembentukkan persepsi dalam program PUKK adalah pendidikan dan tingkat pendapatan.
4. Hasil penelitian Lestari (2000) tentang persepsi masyarakat mengenai kebebasan pers ditinjau dari sisi penyajian berita politik pada surat kabar Kompas menyimpulkan bahwa faktor-faktor karakteristik individu yang mempengaruhi persepsi yang dimilikinya adalah usia, pendidikan, pendapatan, frekuensi membeli surat kabar, frekuensi membaca surat kabar, dan total waktu membaca surat kabar.
2.5.3 Hubungan Persepsi dengan Perilaku
Tubbs dan Moss (2001) menyatakan bahwa terdapat dua jenis filter (alat yang digunakan individu untuk menyaring informasi dalam pembentukkan persepsi) yang sangat berpengaruh dalam proses pembentukkan persepsi, yaitu:
1. Filter fisiologis: berkaitan dengan kemampuan fisik dalam mendukung menangkap stimuli. Kemampuan fisik tersebut meliputi kemampuan perhatian, kemampuan penglihatan, pendengaran, rasa dan lain-lain
2. Filter psikologis lebih menekankan pada harapan atau kecenderungan dalam memberi respon. Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi harapan atau kecenderungan seseorang terhadap sesuatu.
Hal yang paling utama adalah pengalaman masa lalu dan budaya.
Selanjutnya De Fleur and Ball-Rokeach (1982), menyatakan bahwa efek konatif atau disebut juga dengan efek behavioral yang ditimbulkan oleh media massa terdiri dari pengaktifan perilaku dan menon-aktifkan perilaku. Hal tersebut berkaitan dengan pesan-pesan media massa sebagai stimulus yang kemudian
direspon oleh khalayak tersebut merupakan suatu konsekuensi dari pesan media massa yang dapat mengaktifkan perilaku tertentu atau bahkan menon-aktifkan (menghentikan) perilaku tertentu.
2. 6 Kerangka Pemikiran
Persepsi menurut Rakhmat (1996) dan Sarwono (2002) merupakan pengalaman seseorang, dalam penelitian ini adalah pengalaman masyarakat tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan tersebut. Alat untuk mengumpulkan informasi adalah penginderaan (pendengaran, penglihatan, peraba dan sebagainya), sedangkan alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Salah satu sumber hiburan bagi masyarakat dalam penelitian ini adalah televisi, terutama tayangan acara program charity show berkaitan dengan kemasan acara.
Penelitian ini ingin mengkaji sejauhmana persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show. Proses pembentukkan persepsi menurut Krech dan Crutchfield dalam Rakhmat (1996), persepsi bersifat secara fungsional dimana seseorang dalam mempersiapkan stimulus melalui proses pemilihan. Terdapat faktor personal dan struktural yang berhubungan dengan persepsi. Faktor personal merupakan karakteristik individu baik internal maupun eksternal. Selanjutnya, faktor struktural (dalam penelitian ini adalah karakteristik Program acara televisi charity show).
Penentuan keefektifan pesan yang disampaikan dalam program acara Bedah Rumah dan Uang Kaget seringkali melibatkan khalayak sebagai penentu
efektivitas kedua program acara tersebut. Penelitian ini menjadi kajian terhadap karakteristik program acara televisi charity show yaitu Bedah Rumah dan Uang Kaget. Diharapkan sebuah program acara televisi charity show akan dapat menumbuhkan jiwa menolong khalayak dan bukan menjadi tontonan hiburan semata.
Studi kajian penelitian ini diduga dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat sebagai individu, baik itu internal maupun eksternal. Karakteristik individu internal terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan, sedangkan karakteristik individu eksternal terdiri dari durasi menonton dan frekuensi menonton televisi setiap minggu yang mendukung terhadap proses terjadinya persepsi. Sehubungan dengan itu, Lowery dan DeFleur (1993) seperti yang dikutip Herlina (1999) menyatakan ada tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat ukur dari perilaku masyarakat menonton yaitu total waktu yang digunakan, pilihan program acara televisi charity show dan frekuensi menonton televisi.
Faktor struktural yang berhubungan dengan karakteristik program acara televisi charity show terdiri dari pemilihan usia talent (usia diatas 40 tahun atau tidak memandang usia), peran pembawa acara Bedah Rumah dan Uang Kaget (pembawa acara yang membawakan acara yang mampu melibatkan emosi pemirsa atau pembawa acara yang kurang mampu melibatkan emosi pemirsa), Konsep Acara atau cara penyajian berdasarkan alur cerita yaitu peristiwa yang dibahas dari awal sampai akhir (menarik atau tidak) dan karakteristik lainnya adalah jam tayang (pagi, siang, sore dan malam).
Secara lengkap kerangka pemikiran seperti disajikan pada Gambar 1:
Keterangan: Masalah yang mempengaruhi
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Persepsi Masyarakat Terhadap Efektivitas Program Acara Televisi Charity Show
Karakteristik Individu Internal (X1)
X1.1 Jenis kelamin X1.2 Usia
X1.3 Tingkat pendidikan X1.4 Jenis pekerjaan
Karakteristik Individu eksternal (X2)
X1.1 Durasi menonton X2.2 Frekuensi menonton
Persepsi terhadap Efektivitas
Program acara televisi charity show (Y1) Y1.1 Talent
Y1.2 Bentuk hadiah Y1.3 Peran pembawa acara Y1.4 Konsep Acara
Y1.5 Jam tayang
Hipotesis
Terdapat hubungan antara karakteristik individu internal (usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan) dan individu eksternal (durasi menonton dan frekuensi menonton televisi) yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show (talent, bentuk hadiah, peran pembawa acara, konsep acara dan jam tayang ).
Definisi Operasional
Karakteristik Individu Internal (Variabel X1)
1. Jenis kelamin adalah pembedaan responden yang dikategorikan menjadi laki-laki dan perempuan. Selanjutnya jenis kelamin dapat digolongkan:
(1) Laki-laki (2) Perempuan
2. Usia adalah lamanya seorang individu dalam tahun sejak lahir sampai dengan tahun pelaksanaan penelitian. Usia seorang individu dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu:
17 sampai dengan 30 tahun (usia muda)
31 sampai dengan 45 tahun (usia dewasa)
46 tahun ke atas (usia tua)
3. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah atau sedang diikuti oleh seorang individu. Terdapat tiga kategori yaitu:
Pendidikan tinggi adalah pendidikan lanjutan setelah SMA
Pendidikan sedang adalah pendidikan antara SMP sampai dengan SMA
Pendidikan rendah adalah tidak tamat SD dan tamat SD
4. Jenis pekerjaan adalah sesuatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang individu dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat dua kategori pekerjaan, yaitu:
a. Penduduk bukan pekerja: Ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa.
b. Penduduk pekerja: PNS, swasta, TNI/POLRI, petani, buruh, wiraswasta.
Karakteristik Individu eksternal (Variabel X2)
1. Durasi menonton program acara televisi adalah jumlah waktu (jam) yang digunakan seorang individu untuk menonton program acata televisi. Total waktu menonton program acara televisi digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:
Rendah : ≤ 2 jam diberi skor 1
Sedang : > 2 jam sampai 5 jam diberi skor 2
Tinggi : > 5 jam diberi skor 3
2. Frekuensi menonton program acara televisi charity show adalah sering atau tidaknya seorang individu menonton program acara televisi charity show dalam satu minggu dihitung berdasarkan banyaknya hari dalam seminggu. Data diukur dalam skala ordinal. Kategori frekuensi menonton terdiri dari:
Jarang (jika frekuensi 2-3 kali) maka diberi skor 1
Selalu (jika frekuensi > 3) maka diberi skor 2
Persepsi terhadap Efektivitas Program Acara Televisi Charity Show ( Variabel Y1)
1. Persepsi terhadap talent adalah pihak penerima hadiah dalam program acara televisi charity show. Tokoh utama terdiri dari dua kategori, yaitu (1) Positif = skor 5 – 8, artinya dianggap menarik adalah tokoh utama yang dianggap usia tokoh utama diatas 40 tahun dalam program acara televisi charity show; (2) Negatif = skor 2 – 4, artinya dinggap menarik adalah tokoh utama yang dianggap usia tokoh utama di bawah 40 tahun dalam program acara charity show.
2. Persepsi terhadap bentuk hadiah adalah penghargaan yang diberikan kepada talent yang dalam program acara charity show sebagai bentuk pertolongan. Terdapat dua jenis bentuk hadiah dari dua program acara yaitu Bedah Rumah dan Uang Kaget. Bentuk Hadiah terdapat dua kategori yaitu (1) Positif = skor 5 – 8, artinya dianggap menarik menonton program acara televisi charity show yang menayangkan bentuk hadiahnya dalam bentuk perbaikan rumah dengan isinya; (2) Negatif = skor 2 – 4, artinya dianggap menarik menonton program acara televisi charity show yang menayangkan bentuk hadiahnya uang tunai.
3. Persepsi terhadap peran pembawa acara adalah fungsi yang dimainkan saat membawakan sebuah program acara televisi charity show (membuat suasana menjadi hidup, berinteraksi dengan talent). Terdapat dua jenis pesepsi terhadap peran pembawa acara diantaranya
• Persepsi terhadap pembawa acara Bedah Rumah terdiri dari dua kategori yaitu (1) Positif = skor 7 – 15, artinya dianggap menarik
adalah penampilan pembawa acara mengajak penonton menjadi terharu atau tersentuh selama ini; (2) Negatif = skor 3 – 6, artinya dianggap menarik adalah penampilan pembawa acara kurang mengajak penonton menjadi terharu atau tersentuh selama ini.
• Persepsi terhadap pembawa acara Uang Kaget terdiri dari dua kategori yaitu (1) Positif = skor 9 – 20, artinya dianggap menarik adalah penampilan pembawa acara mengajak penonton menjadi terharu atau tersentuh selama ini; (2) Negatif = skor 4 – 8, artinya dianggap menarik adalah penampilan pembawa acara kurang mengajak penonton menjadi terharu atau tersentuh selama ini
4. Konsep acara adalah aturan atau alur cerita yang mendasari program acara charity show berlangsung. Terdapat dua jenis persepsi terhadap konsep acara, diantaranya:
• Persepsi terhadap konsep acara Bedah Rumah terdiri dari dua kategori yaitu (1) Positif = skor 7 – 15, artinya dianggap menarik alur cerita dari awal sampai akhir program acara; (2) Negatif = skor 3 – 6, artinya dianggap kurang menarik alur ceritanya dari awal sampai akhir program acara.
• Persepsi terhadap konsep acara Uang Kaget terdiri dari dua kategori yaitu (1) Positif = skor 7 – 15, artinya dianggap menarik alur cerita dari awal sampai akhir program acara; (2) Negatif = skor 3 – 6, artinya dianggap kurang menarik alur ceritanya dari awal sampai akhir program acara.
5. Jam tayang adalah jam penayangan program acara televisi charity show., sehingga digolongkan menjadi:
(1) Negatif = skor lebih dari 3, artinya menarik apabila acara ditayangkan di sore hari.
(2) Positif = skor 1 – 3, artinya menarik apabila acara ditayangkan pada pagi, siang serta malam hari.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan RW 04 RT 04 yang merupakan bagian dari Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat setempat akses terhadap televisi sehingga masyarakat setempat terdedah oleh program acara charity show. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember tahun 2008 - Maret tahun 2009.
3. 2 Metode Penentuan Sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Kelurahan Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Sample diambil dengan cara random sampling sederhana. Dari satu kelurahan Balumbang Jaya dipilih satu RT, mengingat besarnya luas wilayah dan jumlah penduduk yang ada. Populasi yang digunakan kemudian diperkecil menjadi lingkungan RW, yang kemudian diperkecil lagi menjadi lingkungan RT, namun tetap pada kelurahan yang sama. Reponden didapatkan dengan cara menggunakan daftar nama yang datanya diperoleh dari ketua RT 04 RW 04, kemudian masing- masing diurut dan ditetapkan setiap nomor yang ganjil. Jumlah Responden yang digunakan sebagai subjek penelitian sebanyak 32 orang dengan pertimbangan bahwa jumlah tersebut sudah mempresentasikan keadaan khalayak pada
umumnya dan merupakan ukuran yang dapat diterima dan memahami syarat dari suatu metode penelitian dengan minimal jumlah sampel adalah 30 orang yang termasuk dalam jenis deskriptif korelasional (Gay dalam Hassan, 2002)
Subjek penelitian terdiri dari orang dewasa laki-laki dan perempuan dengan unit analisis yaitu responden yang menonton program acara televisi charity show dan dimulai pada batas tingkatan usia 17 tahun ke atas. Alasan usia 17 tahun ke atas karena pada usia itu dianggap sudah mampu mengemukakan pendapatnya dan sudah memahami pertanyaan yang diberikan melalui kuesioner.
Unit analisis yang digunakan adalah individu.
3. 3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survey, dilengkapi dengan wawancara. Instrumen pengumpulan data yang dipakai dalam survey adalah kuesioner (Lampiran 4) yang berisi karakteristik individu internal, karakteristik individu eksternal dan persepsi masyarakat terhadap program acara televis charity show. Kisi-kisi instrumen untuk variabel persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show meliputi tokoh utama, bentuk hadiah, peran pembawa acara, konsep acara dan jam tayang, sebagaimana terlihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Instrumen variabel persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show terdiri dari 24 pernyataan yang disertai dengan jawaban sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (R), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju.
Penilaian persepsi dilakukan dengan menggunakan skor 1 sampai 5. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi data gambaran umum mengenai Kelurahan
Balumbang Jaya, seperti peta wilayah dan jumlah penduduk. Data mengenai Kelurahan Balumbang Jaya diperoleh dari data Kelurahan Balumbang Jaya.
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Persepsi Masyarakat terhadap Efektivitas Program Acara Televisi Charity Show
No. Persepsi Masyarakat terhadap Efektivitas Program Acara Televisi Charity Show
Jumlah butir
1. Tokoh Utama 3
2. Bentuk Hadiah 2 & 2
3. Peran Pembawa Acara 3 & 4
4. Konsep Acara 3, 2 & 6
5. Jam Tayang 1
3. 4 Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dari hasil kuesioner dalam rangka menjawab identifikasi masalah dan tujuan penelitian, selanjutnya dibuat tabulasi silang. Data yang diperoleh dari kuesioner diolah dengan menggunakan program SPSS for windows versi 12.0. Tabel frekuensi digunakan untuk menyajikan deskripsi tentang karakteristik individu internal, karakteristik individu eksternal dan persepsi masyarakat terhadap efektivitas program acara televisi charity show.
Beberapa data lainnya dianalisis dengan pengujian secara uji statistik, yaitu uji chi square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel berpengaruh dengan variabel terpengaruh, yaitu pada karakteristik individu dengan persepsi terhadap efektivitas program acara televisi charity show.
Rumus Chi square (Nazir, 1988), adalah sebagai berikut:
k
X
2 =∑ (Oi - Ei – 1/2)
2
i=1
Ei
Keterangan:
X2 = koefisien korelasi Chi square
Oi = frekuensi yang diamati, kategori ke-i
Ei = frekuensi yang diharapkan dari kategori ke-i k = jumlah kategori