DAMPAK KETERLIBATAN CAMBRIDGE ANALYTICA DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN AMERIKA SERIKAT
TAHUN 2016-2017
Skripsi
“Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh Fakhri Zeidan 1161130000089
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2021
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:
Nama : Fakhri Zeidan
NIM : 11161130000089
Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul
DAMPAK KETERLIBATAN CAMBRIDGE ANALYTICA DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN AMERIKA SERIKAT TAHUN 2016-2017 Dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji:
Jakarta, 18 Desember 2020
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Program Studi Pembimbing
M. Adian Firnas, S.IP, M.Si Dr. Badrus Sholeh, MA
NIP. NIP. 197102111999031002
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI
Dampak Keterlibatan Cambridge Analytica Dalam Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat Tahun 2016-2017
oleh Fakhri Zeidan 11161130000089
telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 29 Desember 2020.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional.
Ketua, Sekretaris,
Dr. M. Adian Firnas, M.Si NIP.
Irfan Rachmat Hutagalung, SH, LLM NIP.
Penguji I, Penguji II,
Dr. Agus Nilmada Azmi, M.Si NIP.
Faisal Nurdin Idris, Ph.D NIP.
Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 29 Desember 2020.
Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta
M. Adian Firnas, S.IP, M.Si NIP.
i ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis dampak setelah keterlibatan Cambridge Analytica (CA) dalam pemilu AS tahun 2016-2017 antara kedua negara yaitu AS dan Inggris.
Keterlibatan CA di AS terkait tindakannya yang membantu tim kampanye Trump.
Sedangkan di Inggris, CA diduga terlibat dalam kampanye leave.eu atau british exit.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apa saja ancaman keamanan non- tradisional yang terjadi akibat keterlibatan CA dalam pemilu AS 2016 dan mencari tahu apakah ada transnational crime yang terjadi.
Dalam skripsi ini, penulis menggunakan kerangka pemikiran mengenai konsep keamanan non-tradisional yang dikemukakan oleh Barry Buzan dan asumsinya tentang sekuritisasi. Menurut Buzan, berakhirnya perang dingin merupakan perubahan istilah tentang keamanan, yang mana perubahan tersebut memunculkan istilah baru dalam keamanan yaitu keamanan non-tradisional. Penulis juga menggunakan konsep transnasional crime yang diungkapkan oleh Neil Boster. Menurut Boster, istilah transnational crime juga mengalami perubahan ruang lingkup akibat semakin berkembangnya teknologi, informasi dan komunikasi. Pada awalnya transnational crime hanya sebatas membahas kejahatan konvensional seperti terorisme atau radikalisme, tetapi akibat perkembangan teknologi definisi kejahatan menjadi lebih luas seperti peretesan,
Berdasarkan analisis konsep-konsep serta asumsi-asumsi tersebut, penelitian ini menemukan bahwa keterlibatan CA dalam pemilu presiden AS tahun 2016, telah menyebabkan beberapa ancaman yang terjadi dan terdapat adanya indikasi transnational crime. Penelitian ini menemukan bahwa AS dan Inggris merasakan adanya ancaman privasi, siber dan kebebasan yang muncul setelah keterlibatan CA dalam pemilu. Selanjutnya, penelitian ini juga menemukan bahwa transnational crime dapat terjadi akibat keterlibatan CA dalam pemilu AS 2016, ini disebabkan karena CA sebagai non-state actor telah melewati batas teritorial suatu negara, terkait dengan keterlibatan CA dalam pemilu.
Kata kunci : cambridge analytica, pemilihan umum presiden AS 2016, keamanan non- tradisional, , transnational crime.
ii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat serta salam kepada Baginda Nabi Muhammad Sallalahu ‘Alaihi Wasallam yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang ini.
Penulis menyadari bahwa diselesaikannya skripsi ini tidak lepas karena banyaknya bantuan dari berbagai pihak baik moril ataupun materiil. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih serta syukur kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada:
1. Kedua orang tua penulis, Khoirudin Ilyas dan Aemi Setianah yang tiada henti- hentinya memberikan dukungan berupa motivasi, doa, pengingat dan masukan yang tak terhingga. Berkat keduanya, yang tidak pernah lelah memberikan dukungan membuat penulis hingga sampai dititik sekarang ini.
2. Keluarga penulis, Farhan, Fazla, Fathia, Bang Galih serta Kak Nina yang menjadi pengingat dan memberikan dukungan secara langsung ataupun tidak langsung kepada penulis pada saat proses penulisan skripsi.
iii
3. Bapak Dr. Badrus Sholeh, MA selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah bersedia membimbing, mengarahkan dan memberikan tambahan ilmu serta solusi atas semua kesulitan dalam penulisan skripsi ini.
4. Seluruh Dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terima kasih telah memberikan berbagai macam ilmu yang tak ternilai harganya kepada penulis.
5. Sahabat sekaligus teman seperjuangan, Demi Omaha Alif, Andi Farah Sabrina, Kak Ika dan Bang Luthfi. Sebagai tempat untuk mengobrol, pelepas stres, memberikan solusi hingga bantuan moril. Tidak lupa juga, kepada Rafly Muzady sebagai teman, keluarga dan sahabat yang selalu memberikan dukungan, masukan, hiburan serta bantuan yang tak terhingga.
6. Teman-teman seperjuangan di kampus, Nida, Adila, Nuzlah, Adit, Farha dan lainnya. Serta, Bang Musyfiq sebagai mentor dan teman. Terima kasih telah memberikan bantuan secara langsung ataupun tidak langsung, sehingga bisa memberikan masukan dan dampak bagi penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi.
7. Sahabat serta teman dekat penulis, Muhammad Alifurrohman, M. Fajrin Mubarok dan Arya Buana. Terima kasih telah membantu dan mendukung penulis dalam suka maupun duka, dan sekaligus menjadi tempat refreshing bagi penulis yang bisa menyempatkan untuk trip bersama.
iv
8. Teman jurusan HI khususnya teman-teman HI-C, yang tidak dapat disebutkan satu persatu karena telah memberikan pengalaman yang tidak terlupakan selama di kampus yang membuat penulis menjadi seperti sekarang ini.
Penulis berharap penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Hubungan Internasional serta dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh karena itu, penulis terbuka untuk mendapat saran dan kritik yang konstruktif dari berbagai pihak.
Jakarta, 29 Januari 2021
Fakhri Zeidan
v DAFTAR ISI
ABSTRAK ... I DAFTAR ISI ... V
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. PERNYATAAN MASALAH ... 1
B. PERTANYAAN MASALAH ... 8
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN... 9
D. TINJAUAN PUSTAKA ... 10
E. KERANGKA PEMIKIRAN ... 14
1. Keamanan Non-Tradisional ... 14
2. Konsep Transnational Crime... 18
F. METODOLOGI PENELITIAN ... 23
G. SISTEMATIKA PENULISAN ... 24
BAB II KONFLIK CAMBRIDGE ANALYTICA DI BEBERAPA NEGARA ...26
A. KONFLIK CA DI BEBERAPA NEGARA ... 26
1. Amerika Serikat ... 26
2. Inggris ... 29
B. METODE YANG DILAKUKAN CAMBRIDGE ANALYTICA ... 31
BAB III RESPONS KONFLIK CA DI BEBERAPA NEGARA ...35
A. Internasional ... 35
B. Nasional ... 37
BAB IV ANALISIS KETERLIBATAN CAMBRIDGE ANALYTICA DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN AMERIKA SERIKAT 2016-2017 ...43
A. KEAMANAN NON-TRADISIONAL ... 43
1. Ancaman Privasi dan Kebebasan ... 46
2. Ancaman Siber ... 50
B. TRANSNATIONAL CRIME ... 56
BAB V PENUTUP ...64
A. KESIMPULAN ... 64
DAFTAR PUSTAKA ...67
vi
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK
Tabel IV.B.1. Jaringan Hubungan antara Kampanye Trump dan Kampanye Brexit ... 59 Grafik IV.B.2.1. Jumlah Persen Orang Dewasa yang Menggunakan Media Sosial ... 66
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.B.1.1. Laporan Penerimaan dan Pembayaran Bulan Juli ... 28
Gambar II.B.1.2. Laporan Penerimaan dan Pembayaran Bulan September ... 29
Gambar II.C.1. Teknik Ocean Model ... 33
Gambar II.C.2. Teknik Behavioral Microtargeting ... 34
Gambar IV.B.2.1. Email dari Kogan Kepada Wylie Tentang Mendeskripsikan Sifat-Sifat yang Bisa Diprediksi ... 63
Gambar IV.B.2.2. Teknik Behavioral Microtargeting ... 65
Gambar IV.C.1. Bukti Kerja Sama antara SCL dan Kenya ... 70
Gambar IV.C.2. Peluang Kerja Sama Antara SCL dengan Perusahaan Berbasis Marketing Ponte Estratégia di Brazil ... 70
Gambar IV.C.3. Proposal dari SCL Group untuk Partai Politik Jubilee di Kenya ... 71
viii
DAFTAR SINGKATAN
CA Cambridge Analytica
AS Amerika Serikat
Pemilu Pemilihan Umum
UNHRC United Nations Human Rights Council FEC Federal Election Commission
FTC Federal Trade Commission DOJ Departement of Justice
ICO Information Commission Office
DCMS Department for Digital, Culture, Media and Sport GDPR General Data Protection Regulation
CCPA California Consumer Privacy Act
EU European Union
DPA Data Protection Act UKIP UK Independence Party
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Pernyataan Masalah
Skripsi ini akan menganalisis keterlibatan Cambridge Analytica (CA) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Amerika Serikat tahun 2016-2017. Penelitian ini akan difokuskan pada tahun 2017 setelah pemilu di AS selesai dan terbongkarnya skandal CA ke publik. CA merupakan perusahaan konsultasi politik yang berasal dari Inggris, sebagai perusahaan yang memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini, yaitu menggunakan big data. CA dapat memengaruhi keputusan para pemilih, menggiring opini, menyebarkan berita disinformasi dan lainnya.1 CA adalah anak perusahaan dari Strategic Communication Laboratories (SCL) Group, yang telah berdiri dari tahun 1990 dan telah terlibat dalam perpolitikan di berbagai penjuru dunia.2
Pertama kali keikutsertaan CA dalam perpolitikan pada saat CA diduga terlibat dalam kampanye Leave.EU. Sebuah kampanye di Inggris yang menyuarakan agar Inggris keluar dari Uni Eropa atau dikenal juga sebagai british exit (brexit). Melalui artikel yang dibuat oleh jurnalis yang bernama Carole Cadwalladr, mengatakan bahwa CA diibaratkan sebagai mesin propaganda yang memengaruhi keputusan voters untuk
1 Ken Ward, “Social networks, the 2016 US presidential election, and Kantian ethics: applying the categorical imperative to Cambridge Analytica’s behavioral microtargeting,” Journal of Media Ethics (2019): 133.
2 SCL Group, About, diakses melalui https://sclgroup.online/about, pada tanggal 6 Januari 2021.
2
memilih Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.3 Akan tetapi, pemerintah Inggris melalui laporan investigasi yang dilakukan oleh Information Commissioner Office (ICO) mengatakan sebaliknya, tidak ada bukti yang kuat yang menunjukkan keterlibatan CA dalam kampanye Leave.EU. Memang ada indikasi yang membuktikan bahwa CA membantu salah satu partai politik di Inggris yaitu UK Independence Party (UKIP).4 Namun CA tetap dikenakan denda sebesar £15,000 karena melanggar dalam peraturan Subject Access Request (SAR).5
Kemudian, di tahun 2016 CA diduga juga turut membantu tim kampanye Trump dalam pemilu presiden AS. Negara AS melalui badan pemerintahnya yaitu Federal Trade Commission (FTC) telah menuduh CA menyimpan informasi pribadi dari jutaan pengguna Facebook yang digunakan untuk memengaruhi keputusan para pemilih.
Informasi pribadi seperti jenis kelamin, tanggal kelahiran, lokasi, political references dan lainnya.6 Namun CA mengalami kebangkrutan di akhir tahun 2018, dalam penyelesaiannya FTC meminta CA untuk menghapus atau menghancurkan semua informasi pribadi yang mereka simpan melalui konsumen.7
3 Carole Cadwalladr, “The great British Brexit robbery: how our democracy was hijacked,” The Guardian, diakses melalui https://www.theguardian.com/technology/2017/may/07/the-great-british- brexit-robbery-hijacked-democracy, pada tanggal 6 Januari 2021.
4 Paul Lewis dan Paul Hilder, 2018, “Cambridge Analytica misled MPs over work for Leave.EU, says ex-director,” diakses melalui https://www.theguardian.com/news/2018/mar/23/cambridge-analytica- misled-mps-over-work-for-leave-eu-says-ex-director-brittany-kaiser, pada tanggal 20 Januari 2021.
5 Digital, Culture, Media and Sport Committee (DCMS), 2019, Disinformation and ‘fake news’: Final Report, 22.
6 Federal Trade Commission, 2019, FTC Sues Cambridge Analytica, Settles with Former CEO and App Developer https://www.ftc.gov/news-events/press-releases/2019/07/ftc-sues-cambridge-analytica- settles-former-ceo-app-developer Diakses pada 6 Januari 2021.
7 Federal Trade Commission, 2019, FTC Grants Final Approval to Settlement with Former Cambridge Analytica CEO, App Developer over Allegations they Deceived Consumers over Collection of
3
Gambar I.A.1. Laporan penerimaan dan pembayaran bulan Juli
Sumber: https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016 Gambar I.A.2. Laporan penerimaan dan pembayaran bulan September
Sumber: https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016
Kedua gambar tersebut merupakan bukti keterlibatan CA sebagai perusahaan asal Inggris yang terlibat dalam urusan dalam negeri AS yaitu pemilu di tahun 2016.
Facebook Data, melalui https://www.ftc.gov/news-events/press-releases/2019/12/ftc-grants-final- approval-settlement-former-cambridge-analytica, diakses pada 6 Januari 2021.
4
Melalui laporan yang dirilis oleh Federal Election Commission (FEC) tentang Laporan Penerimaan dan Pembayaran tim kampanye Trump kepada CA untuk membantunya dalam hal promoting, branding, dan data management services dengan sejumlah biaya sebesar $100,000 untuk di bulan Juli dan meningkat menjadi sebesar $5 juta di bulan September.8
Keadaan masyarakat saat ini dikatakan sebagai masyarakat modern yang mana masyarakatnya semuanya berbasis informasi. Dengan semakin cepat perkembangan teknologi internet dan informasi, semakin banyak juga informasi atau data pribadi yang bersifat sensitif terkumpul dan tersimpan. Fenomena seperti ini, dikenal dengan istilah era big data yaitu kumpulkan banyak yang terkumpul secara masif.9 Pada saat memberikan arahan dalam perencanaan pelaksanaan sensus penduduk di Istana Negara, Presiden Jokowi membahas betapa pentingnya suatu data bagi kemajuan negara. Menurut Presiden Jokowi, minyak bumi dan gas telah menjadi faktor penting bagi penunjang kehidupan manusia, namun saat ini data adalah new oil atau minyak baru yang lebih berharga dari minyak. Selain itu, menurutnya dengan menggunakan data yang akurat pemerintah juga dapat dengan mudah menggunakannya untuk menyusun perencanaan yang benar dan membuat keputusan yang tepat.10
8 Federal Election Commission, 2016, Financial summary, melalui
https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016, diakses pada 6 Januari 2021.
9 Cheng Xiao, “Personal Data Rights in the Era of Big Data,” Social Sciences in China 40 (2019): 175.
10 Chandra Gian Asmara, “Jokowi: Zaman Now, Data Lebih Berharga dari Minyak,” CNBC Indonesia, diakses melalui https://www.cnbcindonesia.com/news/20200124150815-4-132514/jokowi-zaman- now-data-lebih-berharga-dari-minyak, diakses pada 6 Januari 2021.
5
CA menggunakan data pribadi atau informasi pribadi yang diambil dan dikumpulkan dari platform media sosial Facebook. CA telah merekrut profesor dari Universitas Cambridge yang bernama Alexandr Kogan, CA dan Kogan membuat suatu aplikasi yang dinamakan personality quiz application. Secara tidak langsung aplikasi tersebut juga mengambil akses data pribadi dari jutaan pengguna Facebook.11
Banyak respons internasional akibat keterlibatan CA dalam pemilu AS tahun 2016.
Salah satunya, pertemuan antara sembilan negara yaitu Argentina, Belgium, Brazil, Canada, Prancis, Irlandia, Latvia, Singapura dan Inggris yang termasuk ke dalam Internasional Grand Committee di tahun 2018. Dalam pertemuan tersebut membahas tentang Cambridge Analytica-Facebook Scandal di Inggris untuk bertukar ide dan solusi terhadap permasalahan ini. Di akhir pertemuan kesembilan menghasilkan Prinsip Internasional bagi platform teknologi.12
Selain itu, menurut laporan Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR), perlindungan data pribadi diperlukan dan penting untuk diaplikasikan, selain karena implikasi dari kemajuan teknologi dan informasi, perlindungan data pribadi juga terkait tentang perlindungan hak asasi manusia.13
Permasalahan CA antara kedua negara AS dan Inggris berakhir di persidangan, kedua negara telah memanggil CEO dari CA yaitu Alexander Nix untuk hadir dalam
11 Douglas Guilbeault, “DIGITAL MARKETING IN THE DISINFORMATION AGE,” Journal of International Affairs , Vol. 71 (2018), 36.
12 Digital, Culture, Media and Sport Committee (DCMS), 2019, Disinformation and ‘fake news’: Final Report, 9.
13 Report of the United Nations High Commissioner for Human Rights, 2018, Impact of new
technologies on the promotion and protection of human rights in the context of assemblies, including peaceful protests, 2.
6
persidangan. Setelah serangkaian investigasi telah dilakukan, pemerintah Inggris melalui ICO memanggil CA beberapa kali untuk dimintai keterangan terkait pelanggaran penyalahgunaan data dalam kampanye Leave.EU. Hasil dari investigasi ICO, menunjukkan bahwa CA telah melakukan beberapa pelanggaran seperti, memengaruhi pemilu asing dan penggunaan data pribadi untuk tujuan kampanye perpolitikan. Begitu pun juga pada AS yang telah memanggil CA melalui FTC karena adanya dugaan pelanggaran peraturan perlindungan konsumen.
Hasil akhirnya menunjukkan bahwa, tuduhan-tuduhan atau anggapan terhadap apa yang dilakukan CA di kedua negara tersebut tidak sepenuhnya menyalahi aturan. Di Inggris, setelah melakukan beberapa kali panggilan persidangan CA tidak terbukti dalam gugatan yang sebelumnya diarahkan kepadanya, ini disebabkan karena kurangnya ketersediaan bukti yang kuat menunjukkan CA telah melakukan pelanggaran tersebut. Akan tetapi, CA tetap dikenakan sanksi moneter karena tidak merespons gugatan yang dilakukan oleh seorang akademi AS yaitu Profesor David Caroll, terkait tentang peraturan Subject Access Request (SAR). Singkatnya, gugatan tersebut berisikan agar CA menyerahkan semua data pribadi miliki Caroll yang telah disimpan melalui Facebook, karena berdasarkan hukum undang-undang perlindungan data tahun 1998 setiap subjek atau individu memiliki hak untuk meminta atau
7
menghapus datanya sendiri. Akibatnya, CA diharuskan membayar denda sebesar
£15,000 atau sekitar 285 juta rupiah.14
Sedangkan, yang terjadi di AS berbeda dengan di Inggris, pada saat ingin melanjutkan investigasi lebih dalam CA dilaporkan mengalami pailit atau bangkrut di tahun 2018. Maka dari itu, penyelesaian di AS hanya sebatas meminta pihak CA untuk membuat pengumuman ke publik terkait dugaan pelanggaran yang terjadi dan diwajibkan untuk menghapus semua data pribadi atau informasi pribadi yang telah disimpan dan dikumpulkan melalui Facebook.15 Walaupun demikian, hal tersebut tidak membuat sepenuhnya CA tidak bersalah, karena banyak laporan terhadap apa yang dilakukan CA terkait penggunaan data pribadi untuk digunakan dalam perpolitikan.
Salah satunya, dari mantan karyawan CA itu sendiri atau whistleblower yaitu Britanny Kaiser dan Christopher Wylie. Saat Wylie menjadi whistleblower untuk menentang tindakan CA dengan bersedia untuk diwawancarai oleh The New York Times, sebagai seorang data scientist Wylie menjelaskan bagaimana suatu data bisa digunakan untuk memengaruhi para pemilih yang dikumpulkan melalui Facebook sehingga membuat suatu alat yang mengancam privasi.16
14 Parliamentary Copyright House of Commons 2019, “The ‘Disinformation and ‘fake news’: Final Report,” diakses melalui
https://publications.parliament.uk/pa/cm201719/cmselect/cmcumeds/1791/1791.pdf, 22.
15 Federal Trade Commission, 2019, FTC Grants Final Approval to Settlement with Former
Cambridge Analytica CEO, App Developer over Allegations they Deceived Consumers over Collection of Facebook Data, melalui https://www.ftc.gov/news-events/press-releases/2019/12/ftc-grants-final- approval-settlement-former-cambridge-analytica diakses pada 6 Januari 2021.
16 Margaret Hu, “Cambridge Analytica’s black box,” Big Data & Society (Juli 2020): 2.
8
Setelah persidangan telah dilakukan di kedua negara AS dan Inggris, adanya beberapa indikasi dampak atau afek yang terjadi atau istilahnya sebagai efek domino akibat keterlibatan CA dalam pemilu AS tahun 2016.17
Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini berupaya menjelaskan apa efek atau dampak yang terjadi akibat keterlibatan CA dalam pemilu AS tahun 2016. Kemudian, lebih difokuskan lagi tentang ancaman keamanan non-tradisional yang terjadi setelah konflik CA terbongkar dan adanya unsur indikasi kejahatan transnasional yang dilakukan oleh CA. Sedangkan periode penelitian mulai tahun 2016-2017 dengan alasan bahwa pada tahun tersebut adalah awal terjadinya pemilu di AS dan mulai terbongkarnya permasalahan CA ke publik.
B. Pertanyaan Masalah
Berdasarkan pernyataan masalah yang telah dijelaskan di atas, maka pertanyaan penelitian yang akan dijadikan sebagai dasar analisa dalam penelitian ini adalah:
“Apa Dampak dari Keterlibatan Cambridge Analytica dalam Pemilihan Umum Presiden AS tahun 2016-2017?”
Penelitian ini akan difokuskan untuk menganalisis kejadian setelah konflik CA terbongkar ke publik, yang mana terdapat beberapa ancaman keamanan non-tradisional di AS dan Inggris, serta adanya unsur kejahatan transnasional yang dilakukan CA.
17 United Nations, Government Policy for the Internet Must Be Rights-Based and User-Centred, melalui https://www.un.org/en/chronicle/article/government-policy-internet-must-be-rights-based-and- user-centred diakses pada 6 Januari 2021.
9
Walaupun secara tidak terbuka bahwa kedua negara merasakan ancaman, tetapi terdapat adanya satu anomali yang sama setelah konflik CA terbongkar atau setelah keterlibatan CA di pemilu AS 2016. Adapun yang dimaksudkan satu anomali yang sama ialah, ancaman-ancaman yang terjadi setelah keterlibatan CA di pemilu AS tahun 2016. Untuk kasus ini, ancaman privasi, hak asasi manusia dan demokrasi.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada pernyataan masalah yang telah dirumuskan, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui dampak dari keterlibatan Cambridge Analytica dalam pemilihan umum Presiden AS tahun 2016-2017.
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan secara komprehensif dengan menggunakan kerangka pemikiran tertentu terkait dampak dari keterlibatan Cambridge Analytica dalam pemilihan umum Presiden AS tahun 2016-2017.
3. Menganalisis dampak dari keterlibatan Cambridge Analytica dalam pemilu presiden AS 2016.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, terutama Ilmu Hubungan Internasional.
2. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan Ilmu Hubungan Internasional dan dapat dijadikan sumber data agar dapat berguna bagi mahasiswa lainnya.
10
3. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan bagi mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional.
D. Tinjauan Pustaka
Telah terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan keterlibatan CA dalam pemilu AS 2016. Pertama, penelitian yang ditulis oleh Ken Ward pada tahun 2018 yang berjudul “Social networks, the 2016 US presidential election, and Kantian ethics: applying the categorical imperative to Cambridge Analytica’s behavioral microtargeting”. Dalam penelitiannya, Ward menerangkan secara detail tentang bukti- bukti yang dilakukan CA di dalam pemilu presiden AS 2016, seperti metode apa yang dilakukan, berapa jumlah dana yang diterima oleh CA, siapa saja aktor di belakang CA, bagaimana CA dapat memengaruhi decision making para pemilih, dan lainnya. Tidak hanya itu, dalam penelitian tersebut juga menjelaskan implikasi yang terjadi akibat keterlibatan CA dalam pemilu yaitu adanya indikasi ancaman privasi bagi setiap individu. Ancaman privasi hadir karena data pribadi berisi alamat, hobi, gender dan political references yang disimpan oleh CA dan digunakan untuk dapat memanipulasi atau memengaruhi keputusan para pemilih, untuk dalam kasus ini memengaruhi voters dalam memilih siapa calon presiden selanjutnya.18
18 Ken Ward, “Social networks, the 2016 US presidential election, and Kantian ethics: applying the categorical imperative to Cambridge Analytica’s behavioral microtargeting,” Journal of Media Ethics (2019): 139-142.
11
Hasil penelitian yang dilakukan Ward, didukung oleh pembuktian scan bukti Laporan Penerimaan dan Pembayaran di bulan September 2016, yang keluarkan oleh Federal Election Commission (FEC). Di dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa di tanggal 9 September 2016 tim kampanye Trump membayar Cambridge Analytica, LLC dengan tujuan untuk membantu Data Management dengan pembayaran sebesar
$5 juta.19
Gambar I.D.1. Laporan penerimaan dan pembayaran bulan September
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Kristian P. Humble dengan judul
“International law, surveillance and the protection of privacy”. Dalam penelitian ini menerangkan bahwa apa yang dilakukan CA telah berdampak atau adanya perubahan tentang hak privasi bagi setiap individu, yang mana berkaitan tentang penggunaan data
19 Federal Election Commission, Financial Summary Donald J. Trump For President, INC (database online); tersedia di https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016; diunduh pada 12 Nov. 20.
12
pribadi yang dilakukan oleh CA. Menurut Humble, komunitas internasional merespons lambat dalam menghadapi perubahan dalam teknologi, yaitu perubahan terhadap komunikasi dan koleksi data karena perkembangan informasi yang semakin maju dibutuhkan suatu peraturan yang mengikat agar mencegah pelanggaran terjadi. Salah satu komunitas internasional yaitu International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) mendefinisikan privasi ruang lingkupnya hanya sebatas konvensional seperti keluarga, rumah dan lainnya yang mana tidak relevan untuk perkembangan informasi saat ini. Walaupun begitu, ada beberapa perlindungan privasi di bawah hukum internasional, ICCPR melalui pasal 2 ayat 1 tentang setiap negara harus menghormati dan memastikan hak bagi setiap individunya, pemerintah Inggris melalui Regulation of Investigatory Powers Act 2000 (RIPA), AS melalui US Foreign Intelligence Surveillance Act 1978, Australia melalui Intelligence Services Act dan Kanada melalui National Defence Act 1985. Peraturan dari Inggris, AS, Australia dan Kanda keempatnya mengatur privasi ke dalam peraturan pengawasan atau regulations surveillance. Selanjutnya, hak privasi bagi setiap individu juga berhubungan tentang Hak Asasi Manusia (HAM), berdasarkan apa yang dikatakan oleh United Nations Office of the High Commissioner:
“Digital surveillance may engage a State’s human rights obligations if that surveillance involves the State’s exercise of power or effective control in relation to digital communications infrastructure, wherever found for example through direct tapping or penetration of that infrastructure. Equally where a State exercises
13
regulatory jurisdiction over a third party that physically controls the data that State also would have obligations under the Covenant”.20
Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Humble tentang keterlibatan CA yang berdampak munculnya ancaman hak privasi dan perlindungan HAM, didukung oleh laporan yang dikeluarkan oleh United Nations High Commissioner for Human Rights (UNHCHR) yang berjudul “Impact of new technologies on the promotion and protection of human rights in the context of assemblies, including peaceful protests:
report”. Dalam laporan tersebut menjelaskan bahwa terdapat adanya dampak atau efek akibat semakin berkembangnya informasi dan komunikasi teknologi yang mana berdampak kepada perlindungan HAM.21
Skripsi ini mencoba menjelaskan ancaman-ancaman yang dirasakan bagi kedua negara yaitu AS dan Inggris setelah kejadian CA terbongkar, yang berkaitan dengan ancaman keamanan non-tradisional. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, mereka tidak membahas ancaman keamanan non-tradisional yang dapat mengancam keamanan nasional suatu negara, mereka hanya membahas mengenai ancaman yang terjadi, hukum internasional yang berlaku, dan tindakan CA di pemilu AS tahun 2016. Akan tetapi, skripsi ini mencoba menganalisis permasalahan yang paling mendasar pada
20 Kristian P. Humble, “International law, surveillance and the protection of privacy,” The International Journal of Human Rights (2020): 1-14.
21 United Nations Human Rights Office of The High Commissioner, 2020, Impact of new technologies on the promotion and protection of human rights in the context of assemblies, including peaceful protests: report, melalui
https://www.ohchr.org/EN/Issues/DigitalAge/Pages/ReportDigitalAgeAssembliesandProtests.aspx, diakses pada 20 Januari 2021.
14
ancaman keamanan non-tradisional yang mana dapat mengancam keamanan nasional suatu negara.
E. Kerangka Pemikiran
Untuk menganalisis keterlibatan CA dalam pemilu AS tahun 2016, maka penelitian ini menggunakan konsep keamanan non-tradisional dan konsep sekuritisasi.
Adapun penelitian ini melihat bahwa akibat keterlibatan CA dalam pemilu presiden AS 2016 telah terjadi beberapa permasalahan, khususnya permasalahan keamanan dan ancaman.
1. Keamanan Non-Tradisional
Sebagai salah satu kajian Hubungan Internasional di dalam Security Studies, pemahaman konsep keamanan non-tradisional maupun tradisional keduanya saling berbeda argumen tentang wilayah cakupan keamanan (referent object of security).22 Keamanan tradisional berpedapat bahwa wilayah cakupan keamanan berfokus hanya pada suatu negara, dengan kata lain ancaman hanya berasal dari kekuatan militer negara lain. Lain halnya dengan keamanan tradisional, menurut keamanan non- tradisional wilayah cakupan keamanan fokusnya tidak hanya pada suatu negara, karena dengan berakhirnya perang dingin istilah keamanan mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan isu keamanan seperti terorisme, HAM, radikalisme, siber
22 Al A’raf, “Dinamika Keamanan Nasional,” Jurnal Keamanan Nasional 1 (2015): 28.
15
dan lainnya telah memperluas sudut pandang terhadap kompleksitas ancaman yang muncul. 23
Singkatnya, konsepsi keamanan non-tradisional menekankan kepada kepentingan para non-state actors, ini terjadi karena menurunnya angka ancaman militer terhadap kedaulatan negara. Di sisi lain, telah terjadi peningkatan angka ancaman terhadap keamanan manusia seperti penyakit, lingkungan, siber, dan lainnya.
Terdapat beberapa karakteristik dari ancaman keamanan non-tradisional, yang mana berfokus kepada ancaman non militer yaitu:
• Ancaman bersifat transnasional.
• Ancaman ketidakstabilan sosial dan politik suatu negara seperti kelangkaan sumber daya alam dan migrasi menjadikan suatu ancaman terhadap keamanan.
• Ancaman seperti perubahan iklim merupakan ancaman terhadap kemanan, karena secara tidak langsung membuat keseimbangan alam tidak stabil yang seringkali sulit untuk dikembalikan atau diperbaiki.
• Solusi nasional seringkali gagal dan membutuhkan kerjasama regional dan multilateral.
• Cakupan keamanan tidak lagi hanya negara, seperti negara berdaulat atau integritas teritorial, melainkan orang atau individu juga.24
23 Barry Buzan, People, States and Fear: an Agenda for International Security Studies in the Post-Cold War (Brighton.: Heatsheaf Books Ltd, 1991), 75.
24 Caballero-Anthony Mely, An Introduction to Non-Traditional Security Studies: A Transnational Approach (London:SAGE Publications Ltd, 2016), 6.
16
Salah satu ancaman yang tergolong baru dan hadir karena perkembangan teknologi, yaitu ancaman siber menjadi salah satu dari isu-isu keamanan non- tradisional yang dapat mengancam kedaulatan suatu negara. Ancamannya dapat berbentuk sabotase, penyadapan, spionase ataupun kejahatan lainnya yang sifatnya sulit untuk dideteksi, namun dapat menyebabkan kerugian besar kepada masyarakat ataupun negara, baik sektor perekonomian, nasional atau keamanan internasional.25
Barry Buzan melalui bukunya yang berjudul Security: A New Framework for Analysis. Menurut Buzan, keamanan merupakan suatu tindakan yang telah melampaui aturan main atau aturan hukum dan mengategorikan masalah tersebut termasuk dalam ranah politik atau bukan.26 Sekuritisasi juga bisa dikatakan sebagai bentuk yang lebih ekstrem dari politisasi. Berbeda halnya dengan social security yang diartikan sebagai penjaga keamanan atau polisi, international security bisa dikatakan bentuk ekstrim dari social security. Karena dalam social security mengutamakan nilai-nilai keadilan, sedangkan international security merupakan akar dari politik kekuasaan27.
Selanjutnya, Buzan membagi isu keamanan publik menjadi tiga bagian, antara lain tidak dipolitisasi (nonpoliticized), dipolitisasi (politicized) dan untuk mengamankan (to securitized). Nonpoliticized merupakan keadaan di mana negara tidak menangani suatu permasalahan karena tidak termasuk dalam perdebatan dan
25 Indah Novitasari, “Babak Baru Rejim Keamanan Siber Di Asia Tenggara Menyosong Asean Connectivity 2025,” Jurnal Asia Pacific Studies 1 (Desember 2017): 221.
26 Barry Buzan, Ole Wæver, dan Jaap de Wilde, Security: A New Framework for Analysis, (United Kingdom: Lynne Rienner Publishers, 1998), 23.
27 Ibid, 22.
17
keputusan isu keamanan publik. Kemudian, untuk yang dipolitisasi (politicized) berarti suatu isu yang menjadi bagian dari kebijakan publik/ isu publik, yang membutuhkan keputusan dan alokasi sumber daya pemerintah sehingga adanya indikasi campur tangan banyak orang dan akan membutuhkan waktu yang lama. Terakhir, to securitized merupakan suatu isu yang menggambarkan sebagai ancaman eksistensial atau ancaman yang bersifat nyata, yang membutuhkan tindakan darurat dan memerlukan tindakan yang segera mungkin di luar prosedur politik yang mana dianggap sah untuk dilakukan.28 Ancaman eksistensial sendiri diartikan sebagai ancaman yang telah ada dan jika berkelanjutan akan membuat bahaya bagi orang banyak, negara ataupun suatu ideologi, contohnya bisa mencakup perubahan iklim, kerusakan lingkungan, politik, keamanan siber, dan lain-lain.29 Dengan begitu, bisa diambil kesimpulan bahwa sekuritisasi merupakan suatu studi untuk dapat memahami ancaman yang ada (existentially threatened), memahami para aktor sekuritisasi (securitizing actors), memahami kemungkinan dapat terjadinya ancaman, dan lainnya.
Selanjutnya Buzan, Waever dan Jaap de Wilde membagi tiga jenis pendekatan tentang bagaimana menganalisis unit keamanan antara lain, Referent Objects, Securitizing Actors, dan Functional Actors. Referent Objects merupakan suatu ancaman yang dianggap secara nyata (existentially threatened) atau ancaman yang benar-benar terancam bagi negara dan bangsa untuk dapat bertahan hidup (survival).
28 Ibid, 24.
29 “Existential Meaning,” dictionary.com, diakses melalui https://www.dictionary.com/e/pop- culture/existential-threat/, pada tanggal 27 Oktober 2020.
18
Sedangkan, Securitizing Actors adalah aktor yang mengamankan ancaman yang ada atau isu-isu dengan cara mengumumkan atau melaporkannya, bisa dalam bentuk sebagai referent objects atau existentially threatened. Terakhir, Functional Actors merupakan aktor yang memengaruhi dinamika suatu sektor tanpa perlu menjadi referent object, ini adalah aktor yang secara signifikan memengaruhi keputusan dalam bidang keamanan. Contohnya seperti suatu perusahaan pencemar (polluting company) yang menjadi aktor utama dalam sektor lingkungan yang mana perusahaan tersebut bukan sebagai referent objects dan juga tidak sedang mengamankan masalah lingkungan.30 Selain itu, Buzan dkk menjelaskan salah satu sektor analisis dalam sekuritisasi yaitu sektor politik. Keamanan politik adalah tentang pengorganisasian tatanan sosial, yang mana jantung dari sektor politik ditujukan pada ancaman terhadap kedaulatan negara.31
2. Konsep Transnational Crime
Dari tahun ke tahun pengertian dari kejahatan transnasional berubah seiring berjalannya waktu, pada awalnya tahun 1971 para ahli hubungan internasional Keohane dan Joseph Nye berpendapat bahwa hubungan transnasional merupakan suatu pergerakan uang, fisik, objek, orang, atau barang berwujud dan tidak berwujud lainnya, yang telah melintasi batas negara ketika ada individu atau aktor yang terlibat khususnya
30 Barry Buzan, Ole Wæver, dan Jaap de Wilde, Security: A New Framework for Analysis, (United Kingdom: Lynne Rienner Publishers, 1998), 36.
31 Ibid, 141.
19
aktor non-pemerintah, yang mana telah menjadi salah satu faktor penting dalam hubungan antar negara dalam HI.32
Selanjutnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggunakan istilah kejahatan transnasional pertama kali di Kongres PBB Kelima tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakuan terhadap Pelanggar di tahun 1975 oleh Pencegahan Kejahatan dan Peradilan Pidana PBB. Tujuan awal dibuat istilah ini karena untuk mengategorikan atau mengidentifikasi fenomena kejahatan kriminal tertentu yang telah melewati perbatasan internasional, melanggar hukum beberapa negara dan berdampak pada negara lain.
Selain itu, Survei Tren Kejahatan dan Operasi Sistem Peradilan Pidana Keempat PBB juga mendefinisikan kejahatan transnasional sebagai tindak pidana secara langsung atau tidak langsung yang telah berdampak dan melibatkan lebih dari satu negara.
Definisi tersebut merupakan cerminan dari pasal 3 (2) PBB tahun 2000 tentang Kejahatan Terorganisir Transnasional. Kemudian, PBB juga telah menentukan beberapa kondisi apa saja yang bisa dikatakan sebagai kejahatan transnasional, yaitu:
a) Kejahatan yang dilakukan lebih dari satu negara
b) Kejahatan yang dilakukan di satu negara, tetapi persiapan, perencanaan, pengarahan atau pengendalian dilakukan di negara lain.
c) Kejahatan yang dilakukan di satu negara, tetapi melibatkan suatu kelompok kriminal terorganisir yang terlibat dalam aktivitas kriminal di lebih dari satu negara.
32 Neil Boister, An Introduction to Transnational Criminal Law, (United Kingdom: Oxford University Press, 2012), 3.
20
d) Kejahatan yang dilakukan di satu negara, tetapi berdampak atau memengaruhi negara lain.33
Kemudian untuk dapat memahami fenomena kejahatan transnasional yang terjadi, terdapat beberapa karakteristik dan penyebab dapat terjadinya kejahatan transnasional, mulai dari private crime, economic crime, political crime dan organized crime.
Pertama, private crime merupakan kejahatan yang dilakukan oleh aktor non- pemerintah, yang dapat berbentuk individu, kelompok, perusahaan, unit organisasi negara dan lainnya. Kedua, economic crime adalah aktivitas kriminal transnasional yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi pribadi. Ketiga, political crime merupakan kejahatan transnasional yang menginginkan keuntungan politik dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan, yang mana tujuan utama mereka agar memengaruhi opini publik dan pemerintah untuk mencapai tujuan politik mereka sendiri. Terakhir, organized crime merupakan aktor kejahatan transnasional yang terstruktur dengan mempunyai visi misi, hubungan antara atasan-bawahan dan adanya sistem komando dari atasan.34
Kategori dari kejahatan transnasional cukup luas, intinya adalah suatu kejahatan yang telah melanggar hukum nasional ataupun internasional yang melewati batas wilayah negara tertentu dan berdampak dengan negara-negara lain. Bentuk-bentuk dari kejahatan transnasional yaitu, Pelanggaran Keamanan Maritim dan Pembajakan,
33 Ibid, 4.
34 Ibid, 5.
21
Perdagangan Manusia, Perdagangan Obat Terlarang, Terorisme, Kelompok Terorganisir Internasional, Korupsi, Pencucian Uang dan Emerging Transnational Crimes. Khusus dalam kasus ini yang paling mendekati ialah emerging transnational crime, bentuk kejahatan transnasional tersebut merupakan bentuk kejahatan yang berkembang terus-menerus berdasarkan perkembangan dunia, seperti perdagangan senjata api, perdagangan benda budaya dan seni, kejahatan siber, kejahatan lingkungan, dan bermacam-macam kejahatan baru lainnya.
Kejahatan siber merupakan jenis pelanggaran gambaran dapat menjelaskan keterlibatan CA dalam Pemilu AS 2016. Semakin berkembangnya internet dan teknologi, begitu juga semakin berkembangnya kejahatan baru yang menggunakan internet sebagai alat untuk melakukan tindak kriminal. Kejahatan menggunakan komputer biasanya mengancam komputer lainnya seperti virus, pencurian data, malware, spamming, dan seterusnya. Kejahatan siber yang biasanya dilakukan secara instan dengan menggunakan internet yang mana aktivitas kejahatan ini biasanya bersifat transnasional di negara-negara yang berbeda. Sebuah studi mengatakan bahwa di 187 negara anggota Interpol (International Criminal Police Organization) mengungkapkan sebanyak 93 tidak memiliki undang-undang yang mengatur tentang pelanggaran pornografi terhadap anak.35
Salah satu perjanjian multilateral tentang kejahatan siber ialah Konvensi Budapest tentang Kejahatan Siber atau Konvensi Budapest, yang mana membagi tiga jenis
35 Ibid, 115.
22
pelanggaran kejahatan siber. Pertama, Access Offences adalah jenis pelanggaran yang mengandung kerahasiaan, integritas dan ketersediaan data dan sistem komputer.
Berdasarkan pasal 2, tentang pelanggaran peretasan komputer setiap pihak diwajibkan untuk menghukum atau mengriminalisasi setiap akses ilegal, yang secara sengaja mengakses yang menyalahi aturan. Kemudian, berdasarkan pasal 3 tentang pelanggaran penyadapan ilegal, menjelaskan bahwa setiap data privasi yang bersifat rahasia atau “non-public” harus dilindungi dengan melarang untuk tidak melakukan penyadapan yang disengaja, yang berbentuk fakta, informasi ataupun konsep.
Selanjutnya, pasal 6 menjelaskan tentang alat peretas komputer, yaitu suatu alat yang sengaja dibuat atau di design dengan tujuan melakukan pelanggaran tertentu seperti penyadapan dan pencurian. Kedua, Use Offences merupakan jenis pelanggaran kejahatan yang dilakukan menggunakan komputer. Berdasarkan pasal 7 tentang kewajiban setiap pihak untuk mengriminalisasi terkait pemalsuan, yang dapat berbentuk dengan sengaja memasukkan, mengubah, menghapus, atau menyembunyikan data komputer tanpa hak yang mengakibatkan data tidak lagi original. Ketiga, Content Offences ialah jenis pelanggaran kejahatan yang berhubungan tentang konten atau isi. Berdasarkan pasal 10 setiap pihak mewajibkan untuk menekan pelanggaran yang berhubungan dengan hak kekayaan intelektual atau hak cipta.36
36 Ibid, 116.
23 F. Metodologi Penelitian
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik studi kepustakaan (library research). Dengan menggunakan teknik studi pustaka, penelitian dilakukan dengan mencari data sekunder seperti buku, laporan, artikel jurnal hingga hasil penelitian dari penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya.
Kemudian, dalam menyusun penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif adalah metode tentang bagaimana mengeksplorasi data- data untuk memahami maknanya yang lebih mendalam agar dapat menghasilkan data deskriptif. Sedangkan, menurut Cresswell metode kualitatif merupakan metode yang berfokus pada suatu data yang dapat berupa informasi, pernyataan atau kalimat yang jelas dan sistematis, dengan tujuan agar menarik kesimpulan sehingga menemukan kebenaran.37 Dalam penelitian ini, metode kualitatif digunakan untuk menjelaskan ancaman non-tradisional yang terjadi akibat dari keterlibatan CA dalam pemilu AS tahun 2016.
Tidak hanya itu, penulis juga menganalisis laporan dan dokumen yang diakses melalui situs resmi Federal Trade Commission (FTC), Federal Election Commission (FEC), Department for Digital, Culture, Media & Sport (DCMS), Information Commissioner's Office (ICO) serta United Nations Human Rights Council (UNHRC).
Setelah menganalisis laporan dan dokumen tersebut, penulis melakukan membagi atau mengklasifikasikan sumber tersebut kemudian difokuskan pada ancaman non-
37 John W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methodes Approaches, (California: SAGE Publications, 2013), 4th Edition, 234.
24
tradisional yang terjadi di AS dan Inggris setelah keterlibatan CA di pemilu AS 2016, dengan menganalisis dua aspek ancaman keamanan di AS dan Inggris, yaitu ancaman privasi dan ancaman HAM.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini terbagi dalam lima bab, setiap bab terdiri dari bahasan yang berbeda. Tujuan dari pembagian bab adalah untuk mempermudah dalam membahas setiap bahasan, sehingga pertanyaan penelitian dapat terjawab dengan baik.
BAB I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, metodologi penelitian dan sistematika penulisan. Tujuannya menjelaskan apa saja inti dari permasalahan-permasalahan yang akan dijadikan landasan dan batas penulis untuk meneliti fenomena-fenomena yang terjadi. Kemudian, menyatukan beberapa referensi dan sumber utama yang terkait.
BAB II membahas tentang konflik Cambridge Analytica di beberapa negara.
Tujuan dari bab ini, ingin melihat sejauh mana keterlibatan CA di dua negara yaitu AS dan Inggris yang mana menjadi latar belakang terbongkarnya konflik CA.
BAB III membahas tentang respons antara AS dan Inggris akibat dari keterlibatan CA dalam pemilu AS 2016. Fokus dari bab ini adalah respons apa saja yang dilakukan oleh kedua negara setelah konflik CA terbongkar ke publik dan apa saja tindakan hukum yang dilakukan AS dan Inggris.
25
BAB IV membahas tentang penggabungan antara kerangka teori dan gagasan/pendapat penulis, agar dapat menjadi suatu landasan dan tidak dianggap sebagai gagasan yang mengada-ada melainkan gagasan yang didasarkan pada teori- teori tersebut. Kemudian, akan digabungkan dengan gagasan penulis tentang keterlibatan CA dalam pemilu AS 2016 yang didasarkan pada teori-teori tersebut.
BAB V merupakan bagian penutup yang terdiri kesimpulan dan saran. Tujuan dari bab ini, bagaimana penulis merangkum keseluruhan dari isi skripsi ini melalui kesimpulan yang nantinya setiap pembaca akan lebih mudah memahaminya melalui penjelasan yang sudah diringkas oleh penulis agar tidak adanya salah persepsi.
Kemudian saran merupakan salah satu bentuk kontribusi dari penulis untuk para pembaca yang menjadi benang merah atau solusi agar permasalahan ini selesai dan tidak terulang kembali.
26 BAB II
KONFLIK CAMBRIDGE ANALYTICA DI BEBERAPA NEGARA
Pada bab ini, menjelaskan tentang konflik CA yang terjadi di AS dan Inggris. Bagian ini akan dimulai dengan pembahasan mengenai konflik CA yang terjadi di kedua negara yaitu AS dan Inggris. Bagian selanjutnya, menjelaskan tentang metode yang digunakan oleh CA, dengan menggunakan metode seperti itu akan dapat menimbulkan ancaman keamanan non-tradisional. Keterkaitan bab ini dengan kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat dari adanya indikasi ancaman keamanan non- tradisional yang terjadi setelah konflik CA terbongkar publik.
A. Konflik CA di Beberapa Negara
CA merupakan perusahaan asal Inggris yang membuat gempar dunia internasional tentang penggunaan data pribadi dalam tujuan kepentingan perpolitikan. Pembahasan konflik CA di beberapa negara, difokuskan hanya kedua negara yaitu AS dan Inggris.
Dengan alasan, AS merupakan negara yang membuat CA dikenal akibat keterlibatannya dalam pemilu presiden AS tahun 2016, dan Inggris yang mana merupakan negara asal dari CA serta keterlibatannya juga dalam kampanye perpolitikan.
1. Amerika Serikat
27
Keterlibatan CA dalam Pemilu AS pertama kali dan menarik perhatian media di tahun 2015, terkait ada hubungannya dengan kampanye Senator Texas yaitu Ted Cruz dalam pemilihan Presiden AS tahun 2016. Ini terjadi disebabkan adanya kecurigaan terkait laporan pengeluaran kampanye, menurut Federal Komisi Pemilihan AS laporan pengeluaran menunjukkan bahwa kandidat Cruz meningkat pada akhir 2015 dan awal 2016, yang mana kampanyenya membayar CA lebih dari $5,8 juta.38 Selain itu, kampanye Donald Trump juga tercatat membayar CA dengan total hampir $6 juta di tahun 2016. Melalui dokumen yang diterbitkan oleh Komisi Federal Pemilihan atau Federal Election Commission (FEC) tentang Laporan Penerimaan dan Pembayaran Trump selama berkampanye, dalam beberapa bulan di tahun 2016 Trump tercatat melakukan pembayaran ke CA secara bertahap.39 Di mulai dari bulan Juli, tim kampanye Trump melakukan pembayaran pertama sebesar $100,000 untuk membayar membantunya berkampanye. Kemudian, di bulan selanjutnya terjadi peningkatan pembayaran menjadi $250,000 dan puncaknya di bulan September membayar CA sebesar $5 juta.40 Maka dari itu, bisa diasumsikan bahwa CA memang benar terlibat langsung dalam kontestasi Pemilu Presiden AS 2016, yang mana menerima sejumlah
38 Ken Ward, “Social networks, the 2016 US presidential election, and Kantian ethics: applying the categorical imperative to Cambridge Analytica’s behavioral microtargeting,” Journal of Media Ethics 33 (Juli 2018): 139.
39 Federal Election Commission, Financial Summary Donald J. Trump For President, INC (database online); tersedia di https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016; diunduh pada 12 Nov. 20.
40 Federal Election Commission, Total Disbursements (database online); tersedia di
https://www.fec.gov/data/disbursements/?cycle=2016&data_type=processed&committee_id=C005801 00&two_year_transaction_period=2016&disbursement_description=DATA+MANAGEMENT&line_
number=F3P-23; diundu pada 12 Nov. 20.
28
uang untuk membantu kampanye Trump yang bertujuan untuk membayar Layanan Manajemen Data.
Gambar II.B.1.1. Laporan penerimaan dan pembayaran bulan Juli
Sumber: https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016
Gambar II.B.1.2. Laporan penerimaan dan pembayaran bulan September
Sumber: https://www.fec.gov/data/committee/C00580100/?cycle=2016
Dalam pembayaran pertama Trump membayar CA hanya sebesar $100,000, kemudian di bulan Juli Trump membayar CA naik sebesar $250,000, dan di bulan
29
September naik secara drastis menjadi $5juta.41 Setelah memenangkan pemilihan, di akhir tahun tercatat kampanye Trump terhitung telah mengeluarkan dana sebanyak kurang lebih $6 juta. Dengan kata lain, CA sebagai perusahaan asal Inggris terlibat dalam pemilu AS tahun 2016 dan terdapat juga laporan yang berasal dari FEC.
2. Inggris
Salah satu orang yang berperan penting dalam menghubungkan CA dengan kampanye Trump ialah Nigel Farage. Farage merupakan anggota dari kampanye Leave.EU dan juga ketua UKIP pada saat itu, terlebih Farage juga teman dekat dari Trump, Mercer dan Bannon. Sebagai warga negara AS Bannon dan Mercer keduanya mempunyai sentral penting dalam berjalannya CA. Keluarga Mercer yaitu Robert dan Rebekah Mercer merupakan miliarder AS, penyumbang dana terbesar dalam kampanye Trump, dan juga merupakan investor utama CA yang mana pembeli saham terbesar di CA. Sedangkan, Steve Bannon merupakan salah satu dewan atau co-founder dari CA yang sebelumnya bekerja sama dengan kampanye Leave.EU. 42
Kasus di Inggris berfokus pada kegiatan CA yang secara diam-diam telah dikontrak untuk kampanye Leave.EU yang bertujuan agar Inggris keluar dari European Union (EU). Di awal tahun 2017, sejumlah laporan oleh media-media menuduh bahwa sebuah
41 Ken Ward, “Social Networks, The 2016 US Presidential Election, And Kantian Ethics: Applying The Categorical Imperative To Cambridge Analytica’s Behavioral Microtargeting,” Journal of Media Ethics 33 (Juli 2018): 139.
42 Ibid, 5.
30
perusahaan, yaitu Cambridge Analytica (CA) telah bekerja sama untuk kampanye Leave.EU selama referendum EU berlangsung.43
Kampanye dukungan Brexit, yaitu Leave.EU, didanai oleh pengusaha Inggris yaitu Arron Banks, yang mana telah memberikan sumbangan dana terbesar untuk kampanye politik dalam sejarah Inggris, yaitu senilai £ 8,4 juta.44 Ketika dipertanyakan oleh Komite Dewan Rakyat Britania Raya tentang dari mana sumber dana tersebut, Banks tidak cukup menjelaskan dari mana asal uang tersebut. Meskipun begitu, Komite tetap menyelidiki dari mana uang tersebut berasal, salah satu indikasinya Banks mengadakan pertemuan dengan Diplomat dan pengusaha Rusia.45
Antara tim kampanye Leave.EU dan CA keduanya membantah bahwa tidak ada kerja sama yang terjalin ataupun kontrak secara finansial dan teknis dalam membantu kampanye Leave.EU.46 Kemudian, berdasarkan mantan direktur pengembangan bisnis CA dan juga sebagai pelapor yaitu Brittany Kaiser, memberikan email-email kepada DCMSC yang menunjukkan bahwa CA dan Leave.EU menjalin kerja sama. Selain itu, surat yang ditulis oleh Brittany Kaiser kepada Damian Collins sebagai Ketua Komite DCMSC, yang berisikan “Tanggung jawab pekerjaan yang diselesaikan oleh UK Independence Party (UKIP) dan Leave.EU, dan saya memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa kumpulan data dan analisis data yang diproses oleh Cambridge
43 Information Commissioner’s Office, 2018, Investigation Into The Use Of Data Analytics In Political Campaigns: A Report To Parliament, 16.
44 Digital, Culture, Media and Sport Committee (DCMS), 2017, Disinformation and ‘fake news’: Final Report, 74.
45 Daniel Dobrowolski, David V Gioe & Alicia Wanless, “How Threat Actors are Manipulating the British Information Environment,” The RUSI Journal (2020): 9.
46 Ibid.
31
Analytica .... kemudian digunakan oleh kampanye Leave.EU tanpa bantuan lebih lanjut dari Cambridge Analytica”.47
Adanya intervensi yang dilakukan CA di Leave.EU juga terdapat keterkaitan di kampanye Trump, sesuai dari pernyataan dari pelapor dan juga sebagai mantan kepala bisnis pengembangan CA yaitu Brittany Kaiser, yang mengatakan bahwa perusahaan CA bekerja sama dengan kampanye Leave.EU dan juga partai politik UK Independence Party (UKIP) yang mana menginginkan Inggris keluar dari EU pada saat referendum EU. Salah satu orang yang berperan penting dalam menghubungkan CA dengan kampanye Trump ialah Nigel Farage, yang mana merupakan anggota dari kampanye Leave.EU dan juga ketua UKIP pada saat itu, terlebih Farage juga teman dekat dari Trump, Mercer dan Bannon.48
B. Metode yang dilakukan Cambridge Analytica
Metode yang dilakukan CA terhadap pemilihan di AS ataupun Brexit ialah dengan cerita naratif (narrative story). Pada awal penggunaannya kata cerita naratif hanya berfungsi menunjukkan cerita dari suatu tokoh, tetapi narrative menjadi suatu hal yang kompleks seiring berkembangnya zaman. Cerita naratif menjadi suatu hal yang dapat menyusun realitas, menciptakan dan mempertahankan suatu identitas serta memberikan suatu makna kepada orang, lembaga dan budaya. Penyelenggara politik,
47 Alex Hern, 2019, Cambridge Analytica Did Work For Leave. EU, Emails Confirm
https://www.theguardian.com/uk-news/2019/jul/30/cambridge-analytica-did-work-for-leave-eu- emails-confirm Diakses pada 10 Agustus 2020.
48 Samar Ahmad, “UNMAKING DEMOCRACY,” Harvard International Review 41 (SPRING 2020):
56.
32
aktivis dan lainnya mulai menggunakan penggunaan naratif sebagai tujuan mereka untuk meningkatkan citra mereka di masyarakat. Tidak hanya itu, negara-negara mulai melihat narasi sebagai alat kebijakan luar negeri yang bisa digunakan untuk melemahkan musuh mereka yang mana dinamakan sebagai weaponized narrative.49
Berdasarkan hasil presentasi dari CEO CA Alexander Nix dalam konferensi digital dan informasi dari situs web Cambridge Analytica, CA memanfaatkan data digital untuk memengaruhi perilaku individu dalam tiga tahap.50 Pertama, CA membagi beberapa model kepribadian terhadap individu menggunakan kuis sukarela dalam beberapa situs jejaring sosial untuk dapat mengukur kepribadian peserta dalam lima dimensi: Keterbukaan (openness) pada pengalaman baru; Kehati-hatian (conscientiousness) yang mana seseorang dapat bertanggung jawab, dapat diandalkan, persisten dan stabil; Ekstraversi (extraversion) kondisi seseorang mampu bersosialisasi, ekspresif dan percaya diri; Keramahan (Agreeableness) dimana kondisi yang menjelaskan seseorang mudah akur atau bersepakat, kooperatif dan mempercayai orang lain; Neurotisme (Neuroticism) jenis kepribadian yang stabil dalam emosional seperti sabar, tenang, dan percaya diri.
Penggabungan lima model kepribadian tersebut atau disingkat kepribadian OCEAN, mewakili komponen-komponen dari tingkah laku setiap orang atau psikolog
49 Braden R Allenby, “The Age of Weaponized Narrative or, Where Have You Gone, Walter Cronkite?,” Issues in Science and Technology 33 (SUMMER 2017): 65.
50 Ken Ward, “Social Networks, The 2016 US Presidential Election, And Kantian Ethics: Applying The Categorical Imperative To Cambridge Analytica’s Behavioral Microtargeting,” Journal of Media Ethics 33 (Juli 2018): 139.
33
perilaku (behavioral psychologists), yang mana cukup akurat untuk mencirikan kepribadian seseorang.51 Kedua, CA akan mencocokkan antara kepribadian OCEAN dengan banyak titik data yang dimiliki tentang orang-orang. Kemudian, banyak data yang dimiliki tidak hanya sekedar informasi demografis dan geografis, seperti ras, etnis, jenis kelamin, usia, tempat tinggal, tempat tinggal sebelumnya, pendapatan, dan sebagainya, tetapi juga termasuk data psikografis, kebiasaan, hobi dan mencakup preferensi kecenderungan terhadap perpolitikan, ideologis, aktivitas dan sebagainya.
Ketiga, dengan mengandalkan penggabungan antara kepribadian OCEAN dan data yang dimiliki, nantinya akan menghasilkan profil setiap orang yang sebelumnya sudah dikategorikan berdasarkan kepribadian OCEAN, yang mana ruang lingkupnya mencakup hampir seluruh populasi AS.
Gambar II.C.1. Teknik OCEAN Model
Sumber: https://towardsdatascience.com/effect-of-cambridge-analyticas- facebook-ads-on-the-2016-us-presidential-election-dacb5462155d
51 Lewis R. Goldberg, “The Development of Markers for the Big-Five Factor Structure,”
Psychological Assessment 4 (1992): 26.
34
Penggunaan penargetan psikologis dalam konteks ini dikatakan cukup efektif yang mana dapat menyesuaikan daya tarik orang banyak atau kelompok besar untuk dapat memengaruhi perilaku dan pilihan mereka. Daripada memprediksi seseorang menggunakan jejak digital orang tersebut, meggunakan profil psikologis orang berdasarkan Like di sosial media jauh lebih efektif untuk dapat menggambarkan seseorang.52 Kemudian, dengan menggunakan metode ini CA juga dapat menyebarkan berita bohong kepada setiap pengguna berdasarkan profil psikologi mereka yang mana dinamakan sebagai behavioral Microtargeting.
Gambar II.C.2 Teknik Behavioral Microtargeting
Sumber :
https://web.archive.org/web/20160216023554/https://cambridgeanalytica.org/about
52 S. C. Matz, M. Kosinski, G. Nave dan D. J. Stillwell, “Psychological Targeting As An Effective Approach To Digital Mass Persuasion” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 114 (November 2017): 12714.