23
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Penelitian Terdahulu
Guna menjadi titik tolak penelitian maka penelitian terdahulu atau kerap diberikan istilah sebagai research gap menjadi tempat untuk memulai. Penelitian terdahulu yang dijadikan acuan penulis sebagai berikut:
1. PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI HANDPHONE
TERHADAP MORAL SISWA MI MUHAMMADIYAH GONDANG MUNGKID MAGELANG
Penelitian ini berasal dari Muhari pada tahun 2018 yang merupakan Thesis.
Dari Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia. Penelitian yang dilakukan ini memiliki tujuan untuk mengetahui apa saja pengaruh menggunakan gawai berupa handphone terhadap moral siswa MI Muhammadiyah Gondang Mungkid Magelang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian non eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MI Muhammadiyah. Untuk mengetahui hal tersebut maka dalam penelitian ini diterapkan rumusan masalah sebagai berikut: 1) seberapa tinggi pengaruh penggunaan teknologi handphone terhadap moral Siswa MI Muhammadiyah Gondang Mungkid Magelang. Maka didalam penelitian ini memberikan data dan hasil bahwa penggunaan teknologi handphone berpengaruh terhadap moral Siswa MI Muhammadiyah Gondang, Magelang. Perolehan nilai koefisien regresi negatif, berarti bahwa penggunaan teknologi handphone berpengaruh negatif terhadap moral siswa.
2. PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA PEMBENTUKAN KARAKTER ISLAMI SISWA SMA NEGERI 1 MODEL TANJUNG PURA KABUPATEN LANGKAT.
Penelitian ini dilakukan oleh Maulida, M pada tahun 2018 dengan jurnal terbitan Edu-RILIGIA volume 3 nomor 1. Didalam penelitian ini, penulis
24
menyampaikan hasil penelitian bahwa salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam menjalankan pendidikan karakter di sekolah yaitu dengan mengoptimalkan pembelajaran materi pendidikan agama, utamanya pada negara Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Peran pendidikan agama khususnya pendidikan agama Islam dinyatakan sebagai salah satu cara efektif dalam mewujudkan pembentukan karakter religius siswa.
3. PERAN GURU PAI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA SMA NEGERI 1 SEMARANG.
Didalam penelitian ini menyajikan mengenai apa saja peran guru PAI dalam pendidikan karakter religius siswa SMA Negeri 1 Semarang. Rumusan masalah yang menjadikan penelitian ini penting untuk dilakukan adalah: 1) Bagaimana peran guru PAI dalam pendidikan karakter religius siswa SMA Negeri 1 Semarang; 2) Apa saja faktor pendorong dan penghambat yang dihadapi guru PAI dalam pendidikan karakter religius siswa SMA Negeri 1 Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, maka kehadiran peneliti di lapangan sangat penting. Peneliti bertindak langsung untuk mengumpulkan data hasil observasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa Peran guru PAI dalam pendidikan karakter religius siswa SMA Negeri 1 Semarang yaitu: menjadi pengajar, pendidik, teladan, motivator, sumber belajar (Nangimah, 2018).
4. PENGARUH PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS DAN DISIPLIN TERHADAP PRESTASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK SISWA DI MIN 4 TULUNGAGUNG.
Penelitian ini dilakukan oleh Rohmadi Ariadi yang dituangkan dalam bentuk skripsi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui: 1) apakah ada pengaruh pendidikan karakter religius terhadap prestasi belajar aqidah akhlak, 2) apakah ada pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar aqidah akhlak, 3) apakah ada pengaruh pendidikan karakter religius dan disiplin terhadap prestasi belajar aqidah akhlak.Penelitian ini dilakukan di MIN 4 Tulungagung. Hasil yang ditemukan adalah terdapat pengaruh pendidikan karakter religius terhadap prestasi belajar aqidah akhlak, tidak ada pengaruh
25
disiplin terhadap prestasi belajar aqidah akhlak, dan terdapat pengaruh pendidikan karakter religius dan disiplin terhadap prestasi belajar aqidah akhlak.
5. URGENSI PENDIDIKAN INKLUSIF: STUDI KASUS PADA KEGIATAN B’RELIGI DI SMA NEGERI 3 MALANG
Pada artikel ini tujuannya untuk mengkaji pentingnya pendidikan inklusif bagi peserta didik di SMA Negeri 3 Malang. Melalui salah satu kegiatan keagamaannya yang bertajuk B’Religi, sekolah ini ingin mengajarkan anak didiknya mengenai toleransi dan penghargaan terhadap kelompok berbeda.
Hal ini didasari atas pluralitas bangsa Indonesia. Hasil yang didapatkan menujukkan bahwa penerapan pendidikan inklusif tidak bisa bila sekadar dilakukan dalam tatararan konseptual, yaitu pembelajaran formal di ruang kelas. Penanaman sikap inklusif yang berarti menghargai kelompok agama berbeda, misalnya, karena di SMA 3 Malang terdapat beberapa peserta didik dari agama yang beragam, sangatlah penting dibenihkan melalui pembiasan dan keteladanan (Faridi, 2020).
6. PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter merupakan peluang bagi penyempurnaan manusia dengan cara mengembangkan diri sehingga mampu mencapai keutamaan sebagai manusia.
Karakter yang dimiliki seseorang dalam hidupnya akan memberikan arah masa depan bagi hidupnya. Pendidikan karakter akan menjadi pedagogi (penjaga/pembimbing) bagi pengembangan setiap individu yang terlibat dalam Lembaga pendidikan dalam relasinya dengan pelaku pendidikan yang lain, seperti Lembaga keluarga, negara, dan masyrakat secara luas. Pendidikan karakter adalah usaha Bersama yang dilakukan oleh sekolah, keluarga, komunitas masyarakat, dan komunitas negara untuk membantu anak anak muda untuk memahami, menumbuhkan dan merawat nilai-nilai moral fundamental yang berguna bagi pertumbuhan kepribadian mereka. Dapat dikatakan pendidikan karakter adalah sebuah usaha pembudayaan dan pembudidayaan dalam konteks kehidupan Bersama dalam lingkungan pendidikan (Dony Koesoema A, 2007).
7. STRATEGI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER.
26
Karakter adalah watak atau tabi’at yang dimiliki manusia. Pendidikan karakter bertujuan untuk mempromosikan dan menginternalisasikan nilai utama atau nilai positif kepada warga masyarakat agar menjadi warga bangsa yang percaya diri, tahan uji, bermoral tinggi, demokratis, bertanggung jawab dan bertahan dalam kehidupan masyarakat. Sehingga mengantarkan masyarakat kepada potensi yang dimilikinya dan menjadi insan yang beradab dengan tetap berpegang teguh pada nilai kemanusian, nilai kehambaan, dan kekhalifahan. Untuk mencapai pendidikan karakter yang baik lembaga sekolah, keluarga, pemerintah ikut turun tangan untuk menghasilkan warga masyarakat yang memiliki pendidikan karakter berkualitas.
(Sukiyat, 2020)
Dengan melihat dan mengkaji beberapa sumber dan referensi terkait dengan penelitian ini, maka dapat diketahui bahwa penelitian yang dilakukan sebelum adanya penelitian ini dengan terkait topik yang sama didapatkan melalui sumber berupa jurnal nasional, skripsi dan juga buku materi. Pada penelitian dari Muhari (2018) dengan judul “Pengaruh Penggunaan Teknologi Handphone Terhadap Moral Siswa Mi Muhammadiyah Gondang Mungkid Magelang” memiliki satu poin persamaan dengan penelitian ini yaitu meneliti mengenai penelitian karakter. Hal yang berbeda dari penelitian tersebut dengan yang akan diteliti dalam tulisan ini adalah terletak dari segi penilaian karakter, dimana penelitian Muhari lebih berfokus untuk melihat karakter moral siswa yang menggunakan handphone dengan menggunakan kuesioner dan desain penelitian kuantitatif sedangkan pada penelitian ini akan berfokus pada penilaian karakter religius siswa dengan inisiasi pembelajaran oleh guru menggunakan lembar wawancara dengan desain penelitian kualitatif.
Pada referensi kedua oleh Maulida (2018) dijelaskan bahwa fokus utama dalam penelitian tersebut adalah penelitian mengenai karakter Islami. Hal tersebut sama dengan fokus penelitian pada tulisan ini yakni sama dalam penilaian karakter religius, namun perbedaan mendasar adalah, jika pada penelitian Maulida peningkatan karakter Islami dilakukan dengan pemberian perlakuan pada pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, maka pada penelitian ini, peneliti akan lebih fokus terhadap peran guru dalam membentuk karakter religius siswa bukan hanya melalui pelajaran Pendidikan Agama Islam saja, namun lebih
27
kepada inisiasi nilai Islami dan Ketuhanan dalam seluruh mata pelajaran selain Pendidikan Agama Islam.
Referensi selanjutnya dalam skripsi Nangimah (2018) dengan judul “Peran Guru PAI dalam Pendidikan Karakter Religius Siswa SMA Negeri 1 Semarang”
juga memiliki kesamaan dengan penelitian ini. Kesamaan tersebut berada pada poin yang ingin diteliti yaitu sama dalam hal meneliti karakter religius siswa. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam penelitian tersebut. Perbedaannya terletak kepada subjek penelitian, dimana pada penelitian Nangimah berfokus kepada peran guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dalam peningkatan karakter religius sedangkan pada penelitian ini akan berfokus kepada peran guru seluruh mata pelajaran dalam membentuk karakter Islami siswa.
Referensi dari Ariadi (2018) dengan tujuan utama penelitiannya adalah melihat apakah terdapat pengaruh karakter Islami dan disiplin terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian tersebut memiliki kemiripan dalam satu variable penelitian yaitu menilai mengenai karakter Islami. Namun hal yang tidak terdapat dalam penelitian ini oleh penelitian Ariadi adalah adanya fokus terhadap variable disiplin yang akan mempengaruhi prestasi belajar dari siswa itu sendiri. Dari hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa penelitian dari Ariadi menggunakan variable inferensial dan tergolong kedalam desain penelitian kuantitatif sedangkan pada penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dan menyebarkan lembar wawancara terhadap subyek penelitian.
Jurnal selanjutnya yang berjudul “Urgensi Pendidikan Inklusif: Studi Kasus pada Kegiatan B’Religi di SMA Negeri 3 Malang” oleh Faridi (2020) yang juga memiliki sedikit kesamaan dengan penelitian ini yaitu fokus terhadap nilai karakter islami. Namun pada penelitian oleh Faridi lebih berfokus kearah kegiatan keagamaan yang sifatnya mendidik siswa secara inklusif mengenai nilai-nilai Islam. Kegiatan tersebut cenderung mengarah kepada kegiatan diluar dari pembelajaran langsung didalam kelas atau setara dengan ekstrakurikuler dengan penanaman nilai Islam kepada siswa sedangkan pada penelitian ini, nilai religius tersebut ditekankan kedalam pembelajaran langsung didalam kelas dengan interaksi antara guru dengan siswa.
28
Sementara itu, relevansi antara referensi buku yang ditulis oleh Kusuma (2007) terhadap penelitian ini adalah adanya kata “karakter” yang disinggung dan dikatakan sebagai salah satu factor yang dapat membuat manusia menjadi manusia secara seutuhnya melalui pendidikan karakter yang dinaungi langsung oleh sekolah dan diterapkan oleh tenaga kependidikan. Refernsi ini menjadi awal dari pendukung penelitian yang akan dilaksanakan terkait perihal karakter dari peserta didik yang semakin hari semakin mengalami penurunan yang signifikan. Referensi ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter perlu untuk dikembalikan kepada masa kejayaannya yang bukan hanya mengenai pengenalan karakter tetapi juga masuk kedalam ranah pendalaman karakter sehingga siswa lebih mengetahui adab terhadap guru, sopan santun maupun etika.
Pada sisi lain, buku karangan Sukiyat (2020) memperlihatkan bahwa penguatan karakter dari tiap individu harus diinternalisasikan sehingga pribadi akan menunjukkan nilai positif kepada individu yang ada disekitar. Seperti yang diketahui bahwa siswa atau peserta didik menjadi sosok yang dikenal positif ditengah masyarakat dalam hal perilaku, tutur kata, kesopanan maupun ilmu yang dimiliki. Maka dari itu, melihat dari keseluruhan referensi dan penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya memperlihatkan bahwa penelitian ini memiliki fokus yang identik yaitu melihat pendalaman, penguatan dan pendidikan karakter baik itu secara umum, maupun karakter secara khusus seperti karakter Islami maupun religius. Namun, perbedaan mencolok dari keseluruhan penelitian sebelumnya dengan yang akan dilakukan saat ini adalah implementasi pendidikan dan pembentukan karakter religius tersebut. Penelitian sebelumnya akan lebih berfokus terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) atau pelaksanaan kegiatan diluar ruangaan kelas setara ekstrakurikuler, namun pada penelitian ini pembentukan karakter religius tersebut akan berfokus pada pemberian inisiasi mengenai nilai-nilai agama pada seluruh mata pelajaran serta menilai peran guru dalam memberikan inisiasi tersebut dalam proses pembelajaran dalam rangka membentuk karakter religius siswa.
2.2 Kajian Pustaka
2.2.1 Peran Guru dalam Dunia Kependidikan
29
Pada zaman dan era seperti saat ini, kehidupan layaknya dan memang harus dipenuhi dengan berbagai macam teknologi. Abad ke-21 adalah suatu abad dimana kualitas individu maupun secara kelompok akan diukur dengan seberapa jauh seseorang tersebut mengenal dan memahami teknologi. Teknologi dapat menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang atau bahkan kesuksesan suatu negara dalam membangun hal positif dalam diri mereka sendiri. Salah satu contoh yang dapat diketemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan internet. Internet dari masa ke masa rupanya menjadi salah satu faktor yang penting dalam menopang kehidupan modern seperti saat ini.
Pada saat ini, dunia global memiliki tuntutan salah satunya adalah untuk membangun masyarakat yang berbasis atau memiliki dasar pengetahuan sehingga membuat para pemangku kepentingan industri pendidikan (termasuk guru dan juga kepala sekolah) mengenali potensi kebutuhan dalam pengintegrasian internet dalam bentuk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan. Patut disadari bahwa penggunaan internet dalam dunia kerja, ekonomi, maupun dalam dunia pendidikan sangat penting keberadaannya (Zhang, T. Simin, G. Ahmad, Z.A.
Muhammad, 2014).
Hal tersebut senada dengan salah satu literatur bahwa internet saat ini dianggap perlu dan penting dalam langkah dalam menciptakan lingkungan belajar abad ke-21 untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga yang efektif dari masyarakat yang berbasis pengetahuan dan didorong oleh TIK (Hartami, 2020).
Maka, untuk mencapai hal tersebut, pemerintah masing-masing negara yang berbeda di seluruh dunia bekerja sama dengan pemegang kepentingan lainnya untuk terus melakukan berbagai upaya dalam menyediakan fasilitas TIK yang dibutuhkan di berbagai sekolah-sekolah agar dapat menciptakan lingkungan belajar abad ke-21 yang diinginkan dan pelatihan yang dibutuhkan oleh para guru untuk mengintegrasikan fasilitas TIK yang disediakan dalam pengajaran. Fasilitas TIK tersebut mencakupi koneksi internet yang stabil, penggunaan komputer kantor ataupun laptop, hingga penggunaan smartphone.
Seluruh infrastruktur TIK dan konektivitas internet pada lembaga pendidikan menyediakan kesempatan kepada peserta didik maupun guru untuk
30
mengadopsi metode belajar dan mengajar abad ke-21 yang memperlihatkan perkembangan keterampilan abad ke-21 yang pesat. Ketersediaan konektivitas internet pada sekolah pada akhirnya membuat sekolah-sekolah akan beralih dari penggunaan pembelajaran yang berpusat pada pedagogi guru (pembelajaran berbasis konten dan materi) menuju kepada metode pembelajaran yang berpusat pada pengetahuan peserta didik (penyelidikan dan pembelajaran berbasis proyek) yang dirasa lebih interaktif dan berorientasi pada aktivitas peserta didik (Garba, S.A. Nur, A.H.B. Yusuf, 2015).
Namun, dibalik penggunaan dan hal positif yang ditimbulkan oleh abad modernitas ini, abad-21 dengan segala teknologinya juga memiliki kekurangan khususnya dalam dunia pendidikan jika tidak diberi batasan dalam penggunaannya.
Seperti yang dijelaskan (R. D. E. Prayogi, 2019),kemahiran dalam abad ke-21 timbul dikarenakan adanya realitas pendidikan global yang sayangnya belum seluruhnya mampu dalam mengakomodasi kebutuhan dalam era digitalisasi pendidikan. Pandangan belajar yang akhirnya terbentuk adalah untuk peserta didik hadir hanya untuk berkompetisi. Para sisi lainnya, pendidik rupanya tidak sadar, mengajari dan mendidik mereka dalam atmosfir persaingan tanpa kerjasama.
Contohnya, masih berlaku posisi akademik walau dalam bentuk verbal atau perlakuan khusus, kelas-kelas percepatan, dan sekolah unggulan.
Hal tersebut menimbulkan pola berpikir yang hanya menuntut kompetitif dan membuat peserta didik hanya cerdas dalam ranah kognitif dan melupakan budaya kerjasama, kolaborasi dan elaborasi. Padahal, pandangan tersebut sangatlah kontras dengan apa yang digambarkan dalam abad 21 bahwa seseorang akan hidup dikelilingi akan penggunaan teknologi, yang bilamana terdapat kemudahan mengakses segala informasi yang banyak, pola komunikasi dan kolaborasi yang baru. Sehingga jika ingin mendukung kesuksesan di era digital sangat diperlukan basis keterampilan dalam era digital antara lain, keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, berkomunikasi, dan kolaborasi.
Lebih lanjut, bahwa abad pengetahuan saat ini, membutuhkan pandangan belajar yang berorientasi pada proyek, masalah, penyelidikan, penemuan dan penciptaan(Hamka, L. N.A, Sofyan. A.R, 2018). Seperti halnya, pendidikan saat
31
ini dihadapkan oleh era pengetahuan yang sangat butuh berbagai modal dan keterampilan intelektual misalnya keterampilan berpikir kritis dan sifat kerja sama yang harus dimiliki oleh semua peserta didik. Pada era tersebut diperlukan adanya perbaikan pada sektor pendidikan semua jalur dan jenjang pendidikan(Muhiddin, 2012). Perbaikan tersebut dilaksanakan agar peserta didik bisa bersaing dalam dunia kerja pada abad 21.
Dibalik segala kemudahan penggunaan akses internet khususnya dalam dunia pendidikan, akses internet dan juga TIK rupanya memiliki kekurangan tersendiri dalam pengaplikasiannya. Seperti yang tercantum pada situs Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional sejatinya penggunaan internet dalam pembelajaran tidak luput dari beberapa faktor yang akan menjadi kekurangan penggunaan internet itu sendiri. Setidaknya ada empat kekurangan yang dapat diidentifikasi yaitu keterbatasan akses internet, berkurangnya interaksi dengan pengajar, pemahaman terhadap materi, dan minimnya pengawasan dalam pembelajaran. Peningkatan penggunaan internet semakin meningkat hingga pada tahun 2020 dan hal tersebut wajar terjadi, mengingat adanya wabah yang menyerang bukan hanya Indonesia, namun seluruh dunia global juga merasakan (WANTIKNAS, 2020).
Dengan adanya kasus wabah covid-19 (coronavirus disease 2019) maka dilakukan penutupan akses sementara kepada seluruh dunia pendidikan dalam upaya pencegahan penyebaran wabah covid-19 yang hingga kini masih meningkat di seluruh dunia dan berdampak pada jutaan pelajar, termasuk di Indonesia. Adanya hambatan dalam proses belajar mengajar secara tatap muka antara guru dengan para peserta didik bahkan penghentian penilaian proses pembelajaran berdampak pada kesehatan mental peserta didik sehingga menyebabkan penurunan kualitas keterampilan yang signifikan. Hal ini menjadi tanggung jawab seluruh elemen pendidikan, khususnya pemerintah, dalam membantu kelangsungan sekolah bagi semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (Aji, 2020).
Kondisi dunia pendidikan sangatlah berbeda keadaannya pada saat sebelum datangnya wabah covid-19 dengan setelah datangnya wabah tersebut. Metode
32
pembelajaran yang terjadi pada saat sebelum terjadinya wabah masih didominasi oleh pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran konvensional guru lebih berperan sebagai pusat dari segala informasi dan materi yang ingin disampaikan.
Selain daripada pemberian pengetahuan dan pemahaman mengenai materi, peran guru yang lainnya adalah untuk meningkatkan minat belajar dan motivasi peserta didik dalam belajar.
Istilah motivasi memiliki akar kata dari bahasa latin movere, yang berarti gerak atau dorongan untuk bergerak. Atau bisa disebut dengan motif yang diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat guna mencapai suatu tujuan (Safitri, 2014).
Motivasi juga memberikan alasan mengapa orang melakukan hal-hal tertentu, membuat mereka tetap melakukannya, dan membantu mereka menyelesaikan tugas. siswa, yang memiliki motivasi belajar, akan memperhatikan pelajaran dengan cermat, membaca materi sehingga mereka dapat memahami konten dan menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang didukung. Selain itu, siswa juga akan terlibat dalam kegiatan belajar, memiliki rasa ingin tahu, dan menemukan sumber terkait pahami topik tertentu, dan selesaikan tugas yang diberikan (Bahri, A & A.D, 2015).
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik) (Hamdani et al., 2020).
Sejalan dengan (Aisyah, 2012), bahwa secara harfiah motivasi berarti dorongan, alasan, kehendak atau kemauan. Sedangkan secara istilah motivasi adalah daya penggerak kekuatan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu dan memberikan arah dalam mencapai tujuan, baik yang didorong atau yang dirangsang dari luar maupun dari dalam dirinya.
Motivasi dalam pendidikan berkaitan dengan motivasi siswa untuk belajar.
Jika kita menempatkan nilai pada pengembangan motivasi untuk belajar pada siswa, kita akan mulai menaruh simpati pada siswa untuk memulai kegiatan belajar dan mempertahankan keterlibatan dalam pembelajaran serta komitmen untuk
33
proses pembelajaran (Emda, 2017). Lebih jelasnya, dikemukakan bahwa motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik (Uno, 2010).
Namun, dengan kondisi saat ini rupanya menjadi kendala tersendiri bagi tenaga pendidik memberikan motivasi terhadap anak didiknya. Peran guru yang tadinya memberikan pemahaman dan juga motivasi kepada peserta didik layaknya terhalang faktor ruang. Pembelajaran secara tatap muka dirasa lebih menguntungkan baik dari sisi tenaga pendidik (guru) maupun peserta didik. Tenaga pendidik merasa leluasa dalam memberikan nasihat dan juga motivasi terhadap peserta didik dibandingkan jika hanya melalui layar komputer ataupun ponsel. Sisi lainnya, peserta didik juga dirasa lebih memahami dan meresapi materi maupun tindakan guru mereka yang memotivasi mereka dalam hal belajar.
Bahkan, pada saat pembelajaran jarak jauh seperti saat ini dirasakan merugikan bagi peserta didik. Hal tersebut kemudian diungkapkan dalam salah satu literatur, bahwa terdapat suatu kerugian yang sayangnya bersifat mendasar untuk peserta didik dengan adanya penutupan sekolah ataupun kampus (Aji, 2020). Ujian yang mestinya dilakukan oleh murid pada kondisi normal, sekarang secara tiba-tiba karena adanya wabah covid-19, maka ujian pada akhirnya dibatalkan atau di tunda.
Proses penilaian internal bagi instansi pendidikan kemungkinan dianggap kurang begitu penting tetapi bagi keluarga peserta didik informasi penilaian sangat penting guna mawas diri dari peserta didik itu sendiri.
Beberapa pihak menganggap hilangnya informasi penilaian murid akan sangat berarti bagi keberlangsungan masa depan murid. Semisal target-target keterampilan maupun keahlian tertentu yang dimiliki oleh peserta didik yang sudah semestinya tahun ini akan mendapatkan penilaian sehingga berdampak pada perlakuan yang akan diberikan orang tua untuk tahun yang akan datang, maka harapan tersebut seakan-akan menghilang bagi murid yang telah mampu menguasai
34
banyak keterampilan pada tahun ini tetapi tidak memperoleh penilaian yang semestinya dari berbagai pihak instansi pendidikan.
Maka dari itu, peran guru pada masa sekarang ini, hendaknya harus lebih dioptimalkan dan dimaksimalkan lagi guna tujuan dari pembelajaran yang dicantumkan dalam kurikulum yang berlaku saat ini yaitu kurikulum 2013 dapat terlaksana dan tercapai sebagaimana mestinya. Seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini (Wijaya et al., 2016).
Gambar 2.2.1.1. Pergeseran pandangan belajar abad 21 (Wijaya et al., 2016) Maka dapat dipastikan berdasar pada gambar yang telah dicantumkan, bahwa guru pada abad ke-21, selain ditekankan pada gaya dan paradigma belajar yang berbeda juga ditekankan kepada penerapan seluruh paradigma belajar tersebut kedalam wadah digital disebabkan adanya wabah covid-19 yang melanda dunia.
Guru tidak lagi menjadi sumber maupun pemberi informasi yang sejati, namun lebih mengarah kepada bagaimana guru dapat memberikan fasilitas berupa arahan materi, petunjuk pengerjaan, hingga kepada penyadaran diri dan motivasi meski
35
tidak secara tatap muka bagi peserta didik yang dirasa kurang mampu dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh (daring).
2.2 Teori-Teori Karakter Religius
Karakter pada umumnya merupakan kata yang sulit untuk diberikan defenisi, sebab karakter merupakan pembawaan dari seseorang yang tidak dapat terlihat secara langsung atau dalam hal ini tidak memiliki fisik sehingga hanya dapat dirasakan oleh seseorang disekitarnya. Sesuai dari beberapa literature bahwa, etimologi atau ilmu tentang kalimat dari karakter cukup rumit untuk diberikan penjelasan. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani yaitu kharakter untuk "tanda terukir," "simbol atau jejak pada jiwa," dan "alat untuk menandai (Oktarosada, 2017).
Selain itu, pada karakter juga dikenal memiliki sembilan pilar didalamnya berdasar kepada situs Indonesian Heritage Foundation. Seperti yang diketahui bahwa sembilan pilar karakter adalah sebuah konsep dari adanya pondasi atau dasar dari pilar dalam rangka membangun manusia yang hakiki atau dalam kata lain adalah memanusiakan manusia dengan karakter yang unggul, cerdas, kreatif dan berbagai karakter positif lainnya. Konsep dari sembilan pilar ini adalah salah satu dari banyaknya strategi dalam dunia karakter yang dapat digunakan dalam memudahkan penanaman nilai karakter karena dianggap sesuai dengan cara kerja otak manusia yaitu dengan adanya nilai tertentu yang lebih mudah dipelajari dan dipahami jika memiliki pola (Tim Penulis www.ihf.or.id, 2020) .
36
Gambar 2.2.2.1. 9 Pilar Pondasi Karakter (www.ihf.or.id)
Sementara itu, menurut literatur lainnya yaitu (Ridwan, 2018), bahwa terdapat sembilan pilar dari karakter yang juga saling terkait yaitu rasa tanggung jawab (Responsibility), kejujuran (Honesty), kewarganegaraan (Citizenship), peduli (Caring), disiplin (Discipline), tekun (Perseverance), keadilan (Fairness), hormat (Respectfull), dan keberanian (Courage).
Mengenai teori dalam karakter, maka merujuk pada sumber bahwa dalam mengetahui, mengamati, maupun memberikan analisa tentang kondisi religius seseorang, maka dapat diketahui melalui lima dimensi menurut Utama (2015) dalam (Ridwan, 2018) yang terdiri dari:
a. The Belief Dimension atau dimensi kepercayaan atau ideologi
Pada dimensi ini berisi tentang harapan seseorang memiliki pegangan teguh kepada pandangan yang dibawanya berdasarkan kepada ilmu keagamaan (teologis) dan juga mengakui bahwa hal tersebut benar adanya meski tidak dapat dilihat langsung oleh mata. Contoh pada dimensi ini adalah memercayai bahwa adanya surga, neraka, Tuhan, Malaikat.
b. Practice of Religious atau praktik dalam hal keagamaan
Pada dimensi ini akan mencakup tentang puja dan puji, pelaksanaan ritual keagamaan, tata tertib dalam beragama, dan menunjukkan konsistensi dan komitmen terhadap agama yang dipeluk oleh seseorang tersebut.
c. Dimension of Experience atau dimensi dari pengalaman
Pada dimensi ini, erat kaitannya pada pengalaman dalam beragama, pandangan, perasaan, maupun sensasi yang dialami oleh individu dalam agama dan kepercayaan yang dipeluk. Contoh adalah sensasi seseorang yang beragama Islam saat disebutkan nama Allah maka akan bergetar hatinya dan hanya ingin melakukan hal yang baik saja jika nama Allah disebutkan.
d. Religious Knowledge Dimension atau dimensi dari pengetahuan keagamaan
37
Pada dimensi ini akan mengacu kepada adanya harapan dari seseorang yang memeluk agama tersebut untuk lebih mengetahui seluk beluk yang terdapat didalam agamanya seperti halnya dalam agama Islam mengetahui bahwa nabi yang terakhir dan mendapatkan kemuliaan yang sungguh besar adalah nabi Muhammad SAW.
e. Dimension of Religious Consequences atau dimensi dari konsekuensi agama Pada dimensi ini, akan mengacu pada identifikasi akibat munculnya keyakinan dalam keagamaan. Hal tersebut berarti bahwa terdapat implikasi atau pengaruh adanya ajaran agama yang mengubah perilaku individu tersebut.
2.2.3 Nilai Karakter Religius dalam Dunia Kependidikan
Seperti yang diketahui bersama bahwa di negara Indonesia, mayoritas atau kebanyakan penduduknya memeluk agama islam. Islam berasal dari kata "salam"
yang berarti keselamatan dan juga dapat diartikan sebagai kedamaian yang pada hakikatnya bahwa pada agama ini membawa tuntunan untuk keselamatan kehidupan di dunia maupun di alam akhirat kelak. Selain membawa tuntunan, agama ini juga menekankan pada penerapan kedamaian dalam kehidupan sehari- hari, baik itu damai dengan diri sendiri maupun damai dengan masyrakat lainnya yang tinggal di lingkungan sekitar.
Meskipun telah memasuki era globalisasi dan modernisasi, islam yang ada pada saat ini tidak berubah dari Islam pertama kalinya hadir di muka bumi.
Modernisasi merupakan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dunia, juga di Indonesia bahkan umat Islam. Umat Islam tidak bisa lepas dari arus modernisasi yang semakin merata baik di negara besar maupun kecil, negara kaya dan negara miskin, negara yang terletak pada jalur lalu lintas internasional dan regional (Asry, n.d.). Pada masa saat ini, orang sedang mengalami perubahan sosial yang sangat cepat. Perubahan itu hampir merambah berbagai sektor kehidupan. Mulai dari bidang ekonomi, hukum, politik bahkan agama (Efrinaldi, 2001).
Agama Islam menjalankan peran yang cukup penting dalam budaya populer dunia Muslim, seperti yang sebelumnya diketahui bahwa dalam budaya dan sejarah popularitas Muslim yang hidup sebagai minoritas di negara-negara non-Muslim, sebuah kelompok yang awalnya kecil telah tumbuh secara dramatis dalam ukuran yang besar dan memiliki peran penting sejak akhir Perang Dunia Kedua. Budaya
38
Muslim saat ini memiliki sedikit perbedaan dari yang sebelumnya dalam tiga hal penting. Hal yang pertama adalah islam pada saat ini tidak lagi mencerminkan Islam normatif yang berkembang di lembaga-lembaga kuno seperti masjid dan madrasah (tempat belajar), atau bahkan di lembaga modern seperti universitas dan kementerian pemerintah. Perbedaan kedua adalah budaya Muslim pada masa lampau rupanya lebih beragam daripada saat sekarang ini, hal ini terjadi dikarenakan efek dari globalisasi dan penyebaran pendidikan pada setiap negara.
Hal yang ketiga adalah budaya konsumsi masyarakat Muslim yang kian meningkat dari yang pernah ada. Hal tersebut dirasa lumrah terjadi sebagai konsekuensi dari terjadinya modernisasi dan globalisasi di hampir tiap penjuru dunia. Selain daripada itu, ternyata budaya "kebarat-baratan" juga ikut andil dalam merubah tatanan hidup seorang Muslim (Kenney, J.T. Moosa, 2016).
Meski terlihat lumrah dan biasa terjadi pada masyarakat, sejatinya perubahan tersebut terkadang dipandang negatif dan tidak seharusnya terjadi.
Perubahan tersebut muncul akibat adanya pergeseran pola hidup manusia menuju manusia yang lebih modern dan lebih mengenal media digital dari yang pernah ada.
Seseorang yang memeluk agama Islam harusnya dapat menghadapi era globalisasi dan modernisasi dengan lapang dada namun selektif dalam pemilihan budaya, etika, maupun pengetahuan.
Apalagi, proses dari modernisasi sebenarnya bukan sesuatu hal yang substansial untuk dilarang jika normanya masih mengacu pada ajaran Islam. Sebab agama ini adalah agama yang tersebar secara umum dan tidak akan melarang manusia untuk bersikap maju, namun harus berpedoman kepada Islam. Dalam Islam ada satu hal yang tidak dibenarkan yaitu Westernisasi, yaitu menghidupi kehidupan secara total yang mana faktor menonjol adalah sekularisme, karena sekularisme pada akhirnya berkaitan dengan ateisme dan sekularisme menjadi penyebab manusia menjadi tidak bermoral. Intisari proses modernisasi yang akhirnya menjadi suatu hal yang penting dan sejalan dengan apa yang diajarkan dalam Islam adalah rasionalisasi yaitu usaha untuk mengedepankan segala perbuatan yang mengarah kepada kalkulasi dan pertimbangan akal. Rasionalisasi pada selanjutnya akan mendorong ummat Islam untuk bisa bersikap kritis dan
39
meninggalkan taqlid yang dikecam dalam Islam. Dengan demikian, pada dasarnya modernisasi bukanlah sebuah esensi yang bertentangan dengan ajaran dasar agama Islam.
Selain agama Islam memiliki peranan dalam dunia modern dan para Muslim memiliki tantangan dalam menghadapi derasnya modernisasi global, Islam juga memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan khususnya di negara Indonesia yang notabene ditinggali oleh masyarakat yang beragama Islam. Dalam Islam itu sendiri, terdapat berbagai macam norma dan juga nilai-nilai budi pekerti yang baik.
Nilai budi pekerti tersebut kenyataannya dapat membawa pribadi khususnya pribadi peserta didik menjadi lebih baik lagi seiring perkembangan fisik maupun mentalnya. Dalam Islam, telah diatur bagaimana pola kehidupan yang sebenarnya mulai dari peserta didik berusia kanak-kanak hingga dewasa dan pada akhirnya menua. Pola kehidupan tersebut tentunya dapat diaplikasikan berdampingan dengan berjalannya modernisasi dan globalisasi yang jika di seleksi masih tergolong kedalam nilai Islam.
Seperti yang dijelaskan dari salah satu sumber bahwa berawal dari pendidikan merupakan proses pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna. Islam memandang pendidikan itu sangat penting. Karena dengan menjalani proses itulah seseorang dapat memperoleh ilmu yang dapat menunjang taraf hidup dan kedudukannya dihadapan Tuhan dan orang lain. Sedangkan nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku. Sehingga nilai-nilai pendidikan Islam menjadi sifat atau hal-hal yang melekat dalam pendidikan Islam dijadikan sebagai landasan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia itu sendiri yaitu berdedikasi kepada Tuhan. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan baik padanya (Noor, 2015).
Begitu pentingnya Islam dalam pendidikan di Indonesia, sehingga menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah khususnya pemuka-pemuka agama Islam agar mengedepankan nilai Islam dalam pembelajaran. Satu contoh yang diketahui yang layak digunakan untuk Islam dalam pendidikan adalah pendidikan karakter.
40
Penggunaan istilah karakter, berasal dari bahasa Yunani yaitu ”charassein” yang memiliki makna mengukir (Johansyah, 2017). Karakter diibaratkan mengukir batu permata atau permukaan besi yang keras. Selanjutnya berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku(Judiani, 2010).
Sejalan dengan itu, pendidikan karakter telah menjadi isu penting dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini, hal ini terkait dengan fenomena semakin beragamnya dekadensi moral yang terjadi di masyarakat maupun di lingkungan pemerintahan. Kejahatan, ketidakadilan, korupsi, kekerasan terhadap anak, pelanggaran hak asasi manusia, merupakan bukti telah terjadi krisis identitas dan karakteristik bangsa Indonesia. Akhlak luhur, kesopanan, dan sifat religius yang dijunjung tinggi dan menjadi budaya masyarakat Indonesia selama ini terkesan asing dan jarang ditemukan di tengah-tengah masyarakat. Kondisi ini akan semakin parah jika pemerintah tidak segera mengupayakan program perbaikan, baik jangka panjang maupun pendek (Ainiyah, 2013).
Salah satu muatan dalam pendidikan karakter yang ingin dimunculkan adalah kejujuran, dalam prosesnya pemerintah berharap dapat melahirkan penerus yang memiliki karakter jujur untuk memperbaiki berbagai penyimpangan dalam masyarakat (Umar Mansyur, 2018). Selain dari sikap jujur yang diharapkan tumbuh dari peserta didik pada saat penerapan nilai Islam dalam dunia pendidikan, juga diharapkan mampu menumbuhkembangkan moral (akhlak) peserta didik menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Moral atau akhlak adalah kepribadian yang memiliki tiga komponen perantara pengetahuan, sikap, dan perilaku lainnya (Sahlan, 2012). Pendidikan kepribadian atau akhlak anak merupakan kegiatan mengembangkan segala aspek kepribadian manusia yang bertahan sampai akhir hayat. Demikianlah pendidikan kepribadian atau akhlak anak tidak hanya di dalam kelas, tetapi bisa juga berlangsung di luar kelas. Pendidikan kepribadian atau akhlak dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja(H. J. Sada, 2017).
Dalam upaya memperkuat fungsi dan tujuan pendidikan itu perlu Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai harapan untuk membentengi dan membimbing peserta didik dan dapat membentuk sikap dan kepribadian lebih baik
41
lagi. Dalam hakikat pembelajaran PAI berusaha dan mampu membangun akhlak dan moral Menanamkan sikap jujur kepada peserta didik, pendidikan agama berupaya untuk terus membina dan menggali, membentuk dan mengarahkan pada perbuatan atau akhlak terpuji sehingga pendidikan Islam dapat berfungsi sebagai pendidikan karakter. Melalui pendidikan karakter mampu memunculkan kebajikan dari dalam diri seseorang serta mampu memunculkan sikap, nilai dan akhlak seperti kejujuran dalam berbicara atau bertingkah laku baik kepada dirinya sendiri, kepada orang lain dan kepada tuhannya. Kemudian sikap ini akan terlihat dan muncul dalam tindakan nyata yaitu perilaku baik, jujur, tanggung jawab, menghargai hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Mulyadi, D., Sapriya, 2019).