BAB 2 DATA DAN ANALISA. Data-data yang ada diperoleh melalui: Wawancara dengan tokoh yang bersangkutan

Teks penuh

(1)

BAB 2

DATA DAN ANALISA

2.1. Data

Data-data yang ada diperoleh melalui:

ƒ Wawancara dengan tokoh yang bersangkutan

ƒ Survei lapangan

ƒ Literatur dari internet

2.2. Pengertian Packaging

Berdasarkan kamus Wikipedia (ensiklopedia bebas berbahasa Inggris), Packaging is the science, art, and technology of enclosing or protecting products for distribution, storage, sale, and use. Kurang lebih berarti Packaging atau kemasan adalah ilmu, seni, dan teknologi yang bertujuan untuk melindungi produk pada saat dikirim, disimpan, dan dijual.

2.2.1. Sejarah Packaging

Sejak awal diciptakan, alam beserta isinya sudah menerapkan sistem kemasan, yang diaplikasikan juga oleh nenek moyang kita dalam lini kehidupan. Pada awal pembuatannya kemasan lebih dipentingkan pada fungsinya saja dan berasal dari alam.

Seperti dikatakan oleh Mendiola B.Wiryawan (Creative Director Mendiola Design

(2)

Associates) “Alam mengajarkan kita banyak hal. Tulang kita dibungkus oleh kulit, kulit kita dibungkus oleh pakaian, lalu kita dibungkus oleh rumah dan rumah dibungkus lagi oleh atmosfir – sama seperti bawang yang terdiri dari lapisan demi lapisan yang saling bungkus, juga telur yang dibungkus oleh cangkangnya, pisang, durian, dll”.

Asal kemasan dan pengawetan makanan modern bermula pada saat teknologi

makanan modern dimulai, diawali oleh eksperimen seorang pembuat permen asal Perancis, Nicolas Appert (1750-1841) yang menemukan cara melindungi makanan

yang digunakan untuk perbekalan tentara Napoleon Bonaparte. Eksperimennya selama empat belas tahun menghasilkan metode pengawetan makanan dengan cara dipanaskan.

Makanan,daging atau sayuran pertama kali dimasak di ceret terbuka lalu ditempatkan di wadah kaca, setelah membuatnya kedap udara sebisa mungkin, wadah tersebut ditutup lalu dilapisi dengan kawat gabus, kemudian dicelupkan pada air yang mendidih. Appert memilih menggunakan kaca sebagai wadah karena dia menganggap udara yang menyebabkan pembusukan. Perlu dicatat pada masa itu belum diketahui jika mikroorganisme-lah penyebab makanan membusuk. Proses pembusukan makanan oleh mikroorganisme baru diketahui hingga penemuan Louis Pasteur (1822-1895) tentang mikroorganisme pada pertengahan abad 19 (Thorne, 1986). Penemuan Appert menjadi cikal bakal perkembangan pengemasan makanan modern yang menyebar ke negara lain.

- Kaleng

Di tahun 1812 Bryan Donkin dan Peter Durand dari Inggris mengembangkan penemuan Appert dengan menggantikan wadah kaca yang mudah pecah dengan besi, hasilnya adalah daging yang dikalengkan. Pada tahun 1819 teknologi pengawetan masuk ke Amerika. Gail Borden merupakan pelopor makanan kaleng di Amerika., di tahun 1856 ia sukses membuat susu kental manis dalam kaleng dan dipatenkan. Pada

(3)

perkembangan nya kaleng yang berat digantikan oleh materi kaleng yang lebih ringan dan proses pembuatannya pun lebih higenis dan rapih.

- Kaca

Diluar dari sifatnya yang mudah pecah serta biaya produksinya yang mahal, kaca memiliki kelebihan dibanding kaleng yang bila terkena air dapat terjadi reaksi kimia yang mengakibatkan karat. Masalah dari kontaminasi timah hitam dapat diatasi di tahun 1904 setelah Sanitary Can Company di New York tidak perlu lagi mematri kaleng. Di tahun 1903 kaca menjadi relatif murah dan bentuk yang mudah untuk kemasan ketika Michael J. Owen di Inggris memperkenalkan mesin semi-otomatis machine untuk produksi botol dan kendi (Lief, 1965). Penyempurnaan dan inovasi terus dilakukan untuk membuat tutup bagi wadah tersebut. Botol Mason merupakan inovasi yang paling signifikan di tahun 1858, botol kaca dengan jarum di bagian leher yang dapat ditutup dengan memutar tutup besi, dan pada tahun 1898 tutup botol berbentuk mahkota diperkenalkan oleh William Painter.

- Pembungkus makanan, kertas, karton dan plastic

Kertas dan karton muncul di akhir abad sembilanbelas untuk menutup dan membungkus makanan. Untuk jangka waktu yang panjang bahan yang digunakan untuk membungkus makanan lebih mahal dari makanan itu sendiri. Inovasi teknologi memungkinkan untuk membuat bahan kemasan menjadi lebih murah. Kertas menjadi penting sebagai pembungkus makanan ketika kertas dapat diproduksi dari sumsum kayu, tapi kertas dan karton tebal belum dapat digunakan untuk kemasan cair. Baru ditahun 1880-an di Amerika, kertas dan karton tebal dapat dibuat kedap dan tidak dapat tembus dengan melapisinya dengan paraffin yang tipis.

(4)

Di tahun 1930-an kertas kaca / bening menjadi bahan penting untuk kemasan makanan, namun cepat tergantikan oleh pengembangan dari polyethylene dan bentuk pastik lainnya (Borgstrom, 1967). Terobosan lainnya dengan dihasilkannya Tetra Pak di Swedia pada tahun 1952. Yang meningkatkan kemampuan dari karton untuk digunakan sebagai kemasan susu, sari buah dan minuman cair lainnya. Karton yang dilapisi polyethylene menjadi ancaman serius bagi pasar untuk kaca dan kaleng.

- Label dan nama brand

Pada awal abad ke-19, produsen makanan menyadari bahwa produknya dapat terjual dengan baik jika ditambahkan nama merek pada produknya, nama yang penting agar dikenali oleh konsumen. Inisial, label dengan informasi tentang isi ditempel pada kemasan botol atau kaleng. Pada perkebangannya keseluruhan label dan kemasan menjadi berarti untuk mempromosikan suatu produk makanan.

2.2.2. Fungsi Packaging

Kemasan memiliki beberapa fungsi seperti:

ƒ Fungsi Proteksi

Kemasan harus dapat memberikan perlindungan fisik terhadap isi produk.

Perlindungan tersebut mencakup ketahanan kemasan terhadap benturan, tekanan, temperature, dll. Perlu diperhatikan juga apakah materi yang hendak dikemas tahan terhadap oksigen, air, debu, dsb.

ƒ Fungsi pengelompokan, penempatan dan penyimpanan

(5)

Kemasan yang ideal sebaiknya harus menjawab bagaimana sebuah materi dikelompokkan atau ditempatkan. Harus diperhitungkan juga, bagaimana kemasan tersebut ketika harus ditumpuk atau dibawa dalam jumlah banyak.

Apakah efisien dan memungkinkan ditumpuk dalam jumlah besar.

ƒ Fungsi keamanan

Kemasan yang baik harus dipastikan teruji dengan baik keamanannya bagi konsumen. Misalnya, apakah material yang digunakan untuk membungkus dapat mencemari isi produk didalamnya secara kimiawi. Pastikan juga agar material pembungkusnya tidak meracuni isi produk.

ƒ Fungsi Informasi

Kemasan yang ideal sebaiknya memberikan informasi yang sesuai dan dibutuhkan kepada khalayaknya, baik secara verbal maupun visual. Intinya adalah, apakah elemen-elemen desain dalam kemasan sudah memberikan informasi secara cepat, mudah dan lengkap, mulai dari batas kadaluarsa, komposisi makanan, halal atau haram, dll.

ƒ Fungsi kemudahan fisik

Kemasan harus memiliki fungsi yang memudahkan baik saat pengepakan, distribusi, maupun penggunaan oleh end-user. Faktor ergonomic dapat dikatakan sangat berperan didalam pengembangan desain kemasan.

ƒ Fungsi marketing

Bagaimana kemasan mampu menjawab ‘aspirasi’ konsumen. Untuk memenuhi fungsi ini, otomatis diperlukan kepekaan desainer terhadap kebutuhan dan keinginan khalayak. Jadi, desain kemasan yang baik adalah yang bisa memvisualisasikan ‘brand’ alias membantu branding sebuah produk.

(6)

2.2.3. Jenis-Jenis Packaging

Berdasarkan tujuan fungsionalnya, kemasan terbagi atas tiga jenis yaitu :

ƒ Primary Packaging

Material atau kemasan yang pertama kali bersentuhan langsung dengan isi produk. Contohnya bermacam-macam, seperti botol, kaleng, aerosol spray, amplop, plastic pembungkus makanan, skin pack, wrappers, dll.

ƒ Secondary Packaging

Kemasan yang membungkus Primary Packaging atau kemasan yang ukurannya lebih besar dan mewadahi beberapa Primary Packaging sekaligus. Contohnya kardus atau shrink wrap. Kantong plastik yang sering digunakan untuk membawa barang-barang juga termasuk didalamnya.

ƒ Tertiary Packaging

Jenis kemasan yang digunakan untuk melindungi produk saat pengiriman atau pendistribusian. Contohnya container, barell. dll.

Sedangkan dalam prosesnya, pengemasan kadang tidak dapat dilepaskan dari package labeling atau biasa disebut labeling, yaitu:

1. Sepotong kertas, kain, logam, kayu, dsb yang ditempelkan pada barang dan menjelaskan tentang nama barang, nama pemilik, tujuan, alamat, dsb;

2. Etiket, merek dagang;

3. Petunjuk singkat tentang zat-zat yang terkandung dalam produk, dsb (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen P&K, Balai Pustaka).

(7)

2.2.4. Material Packaging

Berdasarkan bentuk dan materialnya, packaging dapat dikategorikan atas:

ƒ Kemasan Logam/ Kaleng (Metal can)

ƒ Kemasan Plastik (Rigid/ Kaku dan Flexible/ Lentur/ Multilayer)

ƒ Kemasan Kertas & Karton, Corrugated Carton Box (Biasa digunakan untuk secondary packaging)

ƒ Kemasan Gelas Kaca

ƒ Kemasan Kayu

ƒ Kemasan Lain (termasuk yang menggunakan bahan-bahan setempat atau tradisional)

2.2.5. Teknologi Cetak

Ada berbagai jenis teknologi cetak pada kemasan, teknologi cetak yang populer digunakan yaitu:

ƒ Rotogravure (Rotogravur)

Proses pencetakan berkualitas tinggi untuk memproduksi gambar-gambar untuk dicetak, yang efek tone-nya sama seperti fotografi. Biasanya dipakai untuk cetak majalah, kertas kado, kertas dinding, perangko, dll. Cetak cara gravure memiliki reproduksi terbaik tapi memiliki keterbatasan dalam mencetak besar.

ƒ Flexography

Proses pencetakanyang menggunakan pelat ber-relief yang fleksibel, yang digantung di sebuah silinder. Biasanya digunakan untuk tas plastik, kemasan makanan, Koran dan majalah.

(8)

ƒ Offsett (Lithography)

Jenis cetak ini paling banyak digunakan untuk pekerjaan cetak komersial seperti majalah, buku, brosur, dll. Cetak offsett merupakan salah satu teknik cetak dimana bagian image dan non-image terletak sama tinggi pada permukaan pelat cetak. Prinsip cetaknya adalah tolak-menolak antara tinta dengan air. Bagian image peka terhadap minyak (tinta cetak), sedangkan non-image peka terhadap air. Cetak ini memiliki kualitas bagus dan biaya pelatnya rendah.

ƒ Screen Printing

Salah satu bentuk cetak stensil.

ƒ Digital printing

Teknologi cetak paling baru dan menggunakan teknologi print-on-demand atau Direct Image, dimana proses cetak bisa dilakukan langsung dari computer ke mesin. Digital printing memudahkan seseorang untuk cetak hemat sesuai kebutuhan dalam waktu singkat. Dan tinta atau toner yang digunakan dalam digital printing, tidak menyerap ke dalam material kemasan tapi hanya membentuk image di permukaannya saja. Biasanya digunakaan untuk kemasan berbahan plastic dan kain (baju).

2.2.6. Mesin Pengemasan

Mesin-mesin yang digunakan untuk pengemasan banyak macamnya. Dalam penggunaannya diperlukan pemahaman secara teknis, sumber daya, keselamatan kerja, kualifikasi (biasanya diterapkan untuk makanan, obat-obatan, dll).

Beberapa tipe mesin tersebut:

(9)

Blister packs, skin packs and Vacuum Packaging Machines

Bottle caps equipment, Over-Capping, Lidding, Closing, Seaming and Sealing Machines

Cartoning Machines

Box, Case and Tray Forming, Packing, Unpacking, Closing and Sealing Machines

Cleaning, Sterilizing, Cooling and Drying Machines

Conveyors, Accumulating and Related Machines

Feeding, Orienting, Placing and Related Machines

Filling Machines: handling liquid and powdered products

Package Filling and Closing Machines

Form, Fill and Seal Machines

Inspecting, Detecting and Checkweighing Machines

Palletizing, Depalletizing, Unit load assembly

Product Identification: labeling, marking, etc.

Wrapping Machines

Converting Machines

Other speciality machinery: slitters, perforating, laser cutters, parts attachment, dll.

2.3. Sejarah Minuman Ringan

Minuman ringan pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Priestly dari Inggris pada tahun 1772 dengan nama sparkling water, kemudian dengan berbagai penelitian

(10)

lanjutan muncul minuman berkarbonat. Bisnis minuman ringan dimulai pada tahun 1806 oleh Benjamin Sillomon, seorang professor kimia di sekolah tinggi Yale di kota Connecticut yang memperkenalkan minuman berkarbonat dalam kemasan botol. Tahun 1830-1866 minuman soda dengan berbagai macam rasa menjadi populer, dan jenis rasa yang digunakan adalah cola, lemon-lime, orange, ginger, root beer dan anggur. Pada tahun 1886 seorang apoteker dan pendiri confederate soldier, John Styth Pemberton menjadikan minuman tersebut favorit dengan menambahkan ekstrak dari cocoa.

Minuman cola adalah minuman yang populer hingga sekarang ( Ensminger, Konlade &

Robson, 1994 ).

Minuman ringan (soft drink) adalah minuman penyegar yang dihasilkan oleh suatu industri. Jenis minuman ringan (soft drink) dikelompokkan atas dua kelompok utama yaitu minuman carbonated dan minuman noncarbonated. Minuman bergas (carbonated) merupakan minuman yang mengandung CO2 umumnya dibuat dari bahan non-alami, jenis minuman ini mengandung gula, asam, flavor dan konsentrat sedangkan minuman tidak bergas (noncarbonated ) merupakan minuman yang tidak mengandung CO2 biasanya mempunyai flavor alami, seperti jus buah dan teh dalam kemasan.

Menurut keputusan Dirjen POM No.02240/B/SK/91 yang dimaksud minuman ringan adalah produk yang diperoleh tanpa melalui proses fermentasi dengan atau tanpa penambahan CO2, dapat langsung diminum atau diminum setelah diencerkan, tidak termasuk susu, susu coklat, sari buah, teh, kopi, cikori, coklat dan hasil olahannya, minuman beralkohol dan tidak boleh ditambahan alcohol. Termasuk dalam kategori minuman ringan adalah sirup, sirup buah, minuman beraroma, minuman botanical, susu kedelai, air soda, air minum dan air minum teh dalam kemasan.

(11)

Komposisi minuman ringan sebagian besar mengandung air, gula ( pemanis lainnya, flavor, berasal dari buah, sari buah atau essen, pewarna, stimulant seperti kafein, asam ( ciltric, phosphoric, tartaric ), soda, dan zat aditif. Komposisi minuman teh dan sari buah meliputi bahan pengawet, bahan pemanis, flavor dan aroma, serta gula yang erat hubungannya dengan selera konsumen.

2.4. Pengertian Industri

Industri merupakan suatu kelompok perusahaan yang memproduksi barang yang sama untuk pasar yang sama. Menurut Badan Pusat Statistik (2001), perusahaan atau usaha industri adalah suatu unit ( kesatuan ) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu, dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seseorang yang bertanggung jawab atas usaha tersebut

2.4.1. Logo Perusahaan

(12)

Perusahaan menginginkan logo yang sederhana dan mudah diingat, logo dibuat berbentuk buah jeruk, disesuaikan dengan produk awalnya pada saat masih bersifat industri rumah tangga, yaitu limun.

Perusahaan mengambil nama SAP karena kata tersebut memiliki arti yang sama baik bahasa Inggris maupun Belanda, yang berarti tetesan dari perasan sari buah atau air buah, karena dari awal SAP mengkhususkan bergerak dalam minuman yang berasal dari buah-buah / bahan alami.

Warna merah melambangkan keberuntungan menurut mitologi China.

2.4.2. Sejarah Perusahaan

PT. Minuman SAP merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri minuman ringan, yang memfokuskan diri pada produk minuman sari buah seperti sirsak, lechy, mocca milk, dan teh dalam kemasan botol. Perusahaan menggunakan strategi brand Monolitik (berkonsentrasi pada induk perusahaan).

(13)

PT. Minuman SAP berdiri pada tahun 1978, pada awalnya hanya diproduksi secara manual dan belum terbentuk perusahaan. Produk yang diproduksi pada waktu itu adalah limun dalam kemasan botol. Baru pada tahun 1983 dikukuhkan menjadi perusahaan.

Perusahaan mulai berproduksi pada tahun 1983 dengan brand SAP, produk pertamanya adalah minuman sari buah sirsak, kemudian pada tahun 1992 PT. Minuman SAP mulai memproduksi beberapa jenis minuman seperti mocca milk dan teh dalam botol.

Sejak dikukuhkan sebagai perusahaan pada tahun 1983 SAP mulai berproduksi dengan menggunakan mesin yang didatangkan dari luar negeri. Salah satu wujud dari penggunaan sistem yang modern ini adalah digunakannya mesin pencuci botol, berbagai perangkat alat produksi seperti mesin pengisian otomatis dengan kapasitas 5000 liter per jam, mesin pencampuran (mixing) dan alat pasteurisasi.

PT. Minuman SAP mulai berkembang dari tahun ke tahun, hal ini dibuktikan dengan bertambahnya produk minuman ringan yang diproduksi dan adanya penambahan alat produksi yang lebih sempurna, seperti mesin pengolah mocca milk yang didatangkan pada tahun 1992. Mesin-mesin modern yang digunakan dalam proses produksi semua didatangkan dari Belanda.

2. 4.3. Visi dan Misi Perusahaan

Sejak didirikan tahun 1983, perusahaan tetap konsisten berada dalam industri minuman ringan. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan yaitu ingin menjadi yang terbaik dalam industri minuman ringan. Visi inilah yang menyebabkan PT. Minuman

(14)

SAP memiliki misi memproduksi minuman ringan yang berbahan baku alami dengan kualitas terbaik serta meningkatkan kemampuan para pekerjanya.

Untuk mendukung misi tersebut maka PT. Minuman SAP memiliki mesin produksi yang bekerja secara otomatis dengan kapasitas 5000 liter per jam, serta dilengkapi dengan laboratorium untuk menjaga dan mendapatkan kualitas minuman ringan yang terbaik agar disukai oleh konsumen. Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan pekerjanya setiap tahun pihak perusahaan mengirimkan beberapa karyawannya untuk mengikuti pelatiahan yang diadakan oleh Departemen Tenaga Kerja, Departemen Perdagangan, dan Deperteman Kesehatan (Ditjen POM).

2. 4.4. Produk Perusahaan

PT. Minuman SAP saat ini menghasilkan produk-produk yaitu, minuman sari buah sirsak, mocca milk, lychee, dan teh botol. Minuman dalam botol dikemas dengan isi 232 ml/ botol dan 220 ml/cup. Proses produksi masing-masing dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin otomatis. Penggunaan mesin-mesin modern tersebut bertujuan untuk menghasilkan produk dengan kualitas baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.1

(15)

2.4.5. Proses Produksi

Proses produksi minuman yang dilakukan oleh PT. Minuman SAP dimulai dari pengadaan bahan baku hingga menghasilkan produk minuman dalam kemasan baik itu botol maupun cup yang siap dipasarkan. Tahapan-tahapan proses produksi secara garis besar meliputi tahap sortasi bahan, pencucian, pengambilan inti, penghancuran dan ekstrasi, penyaringan, homoginisasi, pemanasan (pasteurisasi) dan pengisian kedalam wadah botol, pendinginan serta penyimpanan.

(16)

2.4.6. Analisa Produk

Produk SAP saat ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu:

1. tidak adanya klasifikasi Varian yang jelas.

2. Identitas brand tidak tertera dalam label

3. Tidak adanya kesatuan desain antara produk satu dengan yang lain.

4. Desain yang kurang menarik.

5. Tidak memperlihatkan produk untuk segmen A-B.

6. Tidak adanya saran penyajian dan penyimpanan.

2.4.7. Target sasaran Demografi

Sex : Pria-Wanita.

Usia : 25-35 tahun Pendidikan : SMA, S1,S2.

Pekerjaan : Profesional dan tenaga ahli, manager, staff, mahasiswa

(17)

Kelas Sosial : Atas-menengah Geografi

Wilayah : Jabodetabek.

Luas Wilayah : B

Kepadatan : Urban dan sub-urban Iklim : Tropis, daerah perkotaan.

Psikografi

Terbuka, imajinatif, menyukai hal-hal yang bersifat pengetahuan atau kultur, high couriousity, berani tampil, hangout ke café dan coffeshop. Menyukai musik-musik experimental, dan elektronik pada umumnya namun tidak menutup diri dengan musik lainnya. Menyenangi hal-hal yang baru, selalu ingin mencoba sesuatu. Membeli barang di mall ataupun butik-butik. Sering membeli sesuatu yang berjenis collectible item. Kadang suka keramaian namun selalu ada moment untuk pribadi.. Sering online dan browsing internet. Dinamis, memiliki mobilitas yang tinggi, kaum pekerja, Mengikuti berita dan informasi terkini, baik teknologi, dan gaya hidup.

2.4.8. Kompetitor

2.4.8.1 Kompetitor Langsung

Pada khususnya tidak ada pesaing lokal dengan produk sejenis di Indonesia, namun berikut adalah produk minuman import yang memiliki rasa atau bentuk yang sama seperti Berri juice, Snapple dan Starbucks Frappucino, kesemuanya merupakan merek luar.

(18)
(19)

2.4.8.2 Kompetitor tak Langsung

Secara keseluruhan yaitu semua perusahaan minuman ringan seperti:

PT. Sinar Sosro, PT. Coca Cola Company, PT. Pepsi Cola Indobeverages, PT. Heinz ABC Ind, PT. Ultra Jaya Milk Ind, Orang Tua Group, PT. Tang Mas.

2.5. Analisa SWOT

2.5.1. Strength (kekuatan)

A. Minuman jus pertama di Indonesia dalam botol kaca premium.

(20)

B. Menggunakan ekstrak bahan asli. Produk minuman ini termasuk jenis minuman fruit juice nectar, yaitu jenis minuman yang mempunyai kandungan serat dari sari buah asli yaitu terdiri dari 25 persen sari buah dan 75 persen lainnya terdiri dari gula dan air.

C. Harga yang lebih murah dibanding produk sejenis dari luar.

2.5.2. Weakness (kendala)

A. Desain kemasan yang kurang menarik.

B. Jaringan distribusi yang belum luas

PT. Minuman SAP hanya memasarkan produknya di daerah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi dan baru memasuki produknya ke pasar swalayan seperti Giant dan Carefour.

C. Promosi yang kurang

Kegiatan promosi yang dilakukan baru sebatas mengikuti pameran- pameran dagang, melalui tenaga penjual atau sales yang ditujukan kepada distributor dan agen-agen serta pemasangan iklan berukuran besar pada truk pengangkut minuman. Tingginya biaya pemasangan iklan melalui media elektronik membuat PT. Minuman SAP belum melakukan promosi.

2.5.3. Opportunities (peluang)

Produk juice lokal dalam botol kaca pertama, kompetitor terdekat merupakan produk luar yang lebih mahal dengan desain kemasan yang unik, kuat, dan berkarakter menjadi salah satu nilai jual terpenting untuk menarik hati pasar

(21)

2.5.4. Threat (ancaman)

A. Anggapan produk luar seperti starbucks dan Snapple lebih terlihat bagus dan gaya.

B. Bertambahnya pesaing dengan varian-varian yang baru.

C. Perkembangan teknologi yang mampu diadaptasi oleh pesaing D. Produk lain yang lebih dikenal masyarakat

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :