• Tidak ada hasil yang ditemukan

V GAMBARAN UMUM KOPERASI PERIKANAN MINA USAHA DESA JETIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "V GAMBARAN UMUM KOPERASI PERIKANAN MINA USAHA DESA JETIS"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

V GAMBARAN UMUM KOPERASI PERIKANAN MINA USAHA DESA JETIS

Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis terletak di Desa Jetis Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Provpnsi Jawa Tengah. Lokasi Desa Jetis dapat di lihat pada gambar 2.

Gambar 2. Peta Lokasi Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap

(2)

5.1. Kondisi Umum Desa Jetis 5.1.1. Kondisi Lingkungan Fisik

Desa Jetis merupakan satu-satunya desa komunitas nelayan di wilayah paling timur Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Secara fisik, desa ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kebumen. Dengan demikian wilayah Desa Jetis merupakan salah satu gerbang masuk menuju wilayah Kabupaten Cilacap melalui jalur selatan. Desa Jetis juga merupakan salah satu desa yang berada di sepanjang pantai selatan Laut Jawa. Mata pencaharian sebagai nelayan merupakan bidang mata pencaharian yang penting dilakukan oleh sebagian warga komunitas Desa Jetis.

Luas Desa Jetis mencapai sekitar 606 hektar, bertopografi pantai dengan ketinggian tempat sekitar 3 meter dari permukaan laut (Kantor Desa Jetis, 2008).

Curah hujan Desa Jetis rata-rata dalam setahun mencapai 35 mm dengan suhu udara rata-rata 23oC.

Secara administratif Desa Jetis masuk wilayah Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Desa Jetis terdiri dari 41 Rukan Tangga (RT) dan delapan Rukun Warga (RW)/dusun yaitu; Sitara, Pajaten, Sikudik, Jetis, Simerak, Simerak Lor, Sirendeng dan Mertangga. Desa Jetis dipimpin oleh seorang kepala desa yang pada tahun 2009 ini, kepala desa yang bersangkutan juga merupakan ketua Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis. Batas wilayah Desa Jetis sebelah utara berbatasan dengan Desa Banjareja Kecamatan Nusawungu, sebelah selatan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia, sebelah barat berbatasan dengan Desa Banjarsari Kecamatan Nusawungu dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Ayah Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen yang merupakan bagian dari Karisidenan Kedu Propinsi Jawa Tengah.

Letak Desa Jetis dari Pusat Pemerintahan Kecamatan berjarak 9 km, jarak dari Pusat Pemerintahan Kota Administrasi mencapai 20 km, jarak dari ibukota Kabupaten mencapai 50 km, jarak dari ibukota Propinsi Jawa Tengah mencapai 206 km dan jarak dari ibukota RI mencapai sekitar 488 km.

(3)

5.1.2. Profil Komunitas

Bila membandingkan jenis komunitas nelayan di Desa Jetis dengan nelayan lainnya di wilayah Kebupaten Cilacap Jawa Tengah, nelayan Desa Jetis memiliki ciri unik yaitu sebagai nelayan tradisional yang seluruhnya menggunakan jenis-jenis perahu kecil bermotor bertipe jukung dengan bahan fiber. Jenis perahu ini maksimal hanya dapat diawaki oleh empat orang. Warga

komunitas nelayan Jetis berangkat melaut pada pagi hari (subuh) dengan beramai- ramai mendorong perahunya ke tengah laut melawan ombak besar Laut Selatan.

Secara berkelompok, mereka bahu-membahu dan saling menolong untuk mengantisipasi bila salah satu perahu mereka ada yang terbalik dalam menembus ombak, sebab ombak yang terdapat di wilayah perairan mereka termasuk ombak yang cukup tinggi/besar bila dibandingkan dengan jenis perahu yang mereka gunakan. Jenis perahu yang digunakan disampaikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Perahu Nelayan Desa Jetis (Perahu Jukung, Gambar 1, 2 dan 3) dan Mesin Perahu (Gambar 4)

1 2

3 4

(4)

Berdasarkan daerah jelajah penangkapan nelayan warga komunitas Jetis, teridentifikasi bahwa mereka dapat menangkap ikan hingga ke wilayah perairan Jogyakarta dan Pangandaran dengan jenis ikan tangkapan berupa ikan-ikan laut dalam maupun udang.

Sebagai komunitas nelayan yang masih tergolong tradisional, ciri yang tidak terlepas dari warga komunitas Jetis secara umum, yaitu sebagai warga komunitas yang masih bersifat homogen. Homogenitas komunitas Jetis ini ditunjukkan dengan kesamaan kondisi sosial ekonomi, golongan etnik maupun sifat keterbukaan mereka dengan warga komunitas yang berasal dari luar Jetis.

Rasa kolektifitas diantara mereka untuk saling membantu dan tolong menolong, masih cukup tinggi.

5.2. Latar Belakang Pembentukan Koperasi Perikanan Mina Usaha

Latar belakang pembentukan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis tidak terlepas dari latar belakang pembentukan kelompok nelayan di Desa Jetis.

Setelah kelompok nelayan terbentuk dan selama kelompok nelayan tersebut aktif melakukan kegiatan, maka atas dasar kepentingan kelompok, dibentuklah koperasi.

5.2.1. Pembentukan Kelompok Nelayan

Kegiatan nelayan Desa Jetis sudah di mulai sejak jaman dahulu, bahkan umur kegiatan nelayan sama dengan umur Desa Jetis itu sendiri. Pada awal kegiatannya di Desa Jetis, para nelayan masih menggunakan peralatan yang sederhana, ramah lingkungan dalam menggali potensi sumber daya alam kelautan dengan menggunakan jala, jaring pinggir, serta waring (alat penangkap larong) dan belum menggunakan mesin. Pada tahun 60-an Desa Jetis terkenal sebagai sentra produksi terasi karena produksi rebon sebagai bahan baku terasi cukup tinggi. Sampai sekarang jenis rebon dan atau udang tidak pernah sepi dari hasil tangkapan nelayan.

Perkembangan sarana nelayan Jetis mengalami kemajuan dari perahu getek kayu tak bermesin mejadi perahu getek kayu yang bermesin sebanyak 10 perahu pada tahun 80 sampai 90-an. Masuknya nelayan Cilacap ke Jetis dan

(5)

sebagian mereka menetap di Jetis, merubah perahu getek menjadi perahu jukung dari bahan baku fiber yang bersayap dengan mesin dua tak (dua langkah pembakaran) yang berbahan bakar bensin.

Indikasi perkembangan kemajuan nelayan di Desa Jetis adalah tumbuhnya kesadaran perlunya dibentuk suatu wadah. Maka pada tanggal 10 Maret 1992 bertempat di Balai Desa Jetis yang dihadiri 54 orang nelayan serta dihadiri instansi terkait, diadakan musyawarah pembentukan kelompok. Pada waktu itu terbentuklah Kelompok Nelayan ‘Mina Usaha’ yang mengangkat:

1. Bapak Gunawan sebagai Ketua Kelompok.

2. Ibu Turiah sebagai Sekretaris.

3. Bapak Ahmadi sebagai Bendahara.

4. Bapak Slamet Juli dari Dinas Perikanan sebagai Pembina.

Dalam kondisi normal, kebiasaan melaut dimulai pada pagi hari, sedangkan dalam kondisi paceklik (sepi) para nelayan biasanya berangkat lebih awal sekitar pukul 03.00 sampai 04.00 WIB untuk mengejar areal tangkap yang lebih jauh seperti ke Jogyakarta atau Pangandaran. Jika kondisi ikan di laut berlimpah, para nelayan berangkat pagi hari sekitar pukul 05.30 - 06.00 WIB.

Kegiatan melaut dilakukan sampai pukul 13.00 atau 14.30 WIB. Hasil tangkapan langsung dilelang setibanya di TPI. Pelelangan dimulai pada pukul 13.00 sampai 16.00 dan disesuaikan dengan kepulangan nelayan dari laut.

Kebiasaan melaut yang dilakukan kelompok nelayan Mina Usaha Jetis, libur pada hari Selasa dan Jum’at Kliwon. Kebiasaan ini dilakukan berdasarkan kepercayaan para sesepuh setempat bahwa pada hari-hari tersebut sangat keramat untuk wilayah laut Pantai Selatan. Pantangan melaut ini sangat diyakini para nelayan mengingat berbagai kejadian kecelakaan jika pantangan tersebut dilanggar. Berdasarkan ritual kejawen, puncaknya akan terjadi pada Bulan Suro hari Jumat Kliwon yang diwujudkan melalui sedekah laut. Sedekah laut ini dilakukan dengan mengadakan acara selamatan di darat dan pertunjukkan kesenian wayang kulit pada malam harinya.

Peran sesepuh, selain memberikan ramalan tentang ritual Jawa juga selalu mengiringi pemberangkatan para nelayan dengan berdiri di pinggir pantai. Dalam hal ini sesepuh seolah-olah memberi pamit kapal para nelayan dan menunggu

(6)

nelayan pulang. Bila suatu saat terjadi kecelakaan, dengan kekuatan dan kemampuan indera keenamnya (menurut nelayan), sesepuh akan memberikan informasi tentang terjadinya kecelakaan dan dimana korban berada.

5.2.2. Pembentukan Koperasi Perikanan Mina Usaha

Pada tahun 2000 dilaksanakan rapat anggota kelompok nelayan yang dihadiri oleh lebih dari 250 anggota kelompok. Pada rapat anggota ini disepakati untuk membentuk koperasi dan dihasilkan keputusan sebagai berikut:

Nama Lembaga : Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

Pengawas : 1). Solihin Haryanto, 2). Sairan H., 3). Slamet

Ketua Umum : Saimun

Ketua I : Saiman Saifulloh

Ketua II : Waluyo

Sekretaris I : Samingin

Sekretaris II : Fuad Rosadi

Bendahara I : Amin Mapon

Bendahara II : Sumardjo Sirin

Pembina : Ibu Sumarni dari Dinas Koperasi Kabupaten Cilacap.

Badan Hukum : No. 94/BH/KDK.11.16/XII/2000 tanggal 16 Desember Tahun 2000

5.3. Struktur Organisasi Koperasi Perikanan Mina Usaha

Perkembangan kehidupan suatu koperasi sangat tergantung dan berfungsi atau tidaknya alat perlengkapan organisasi. Perlengkapan organisasi meliputi rapat anggota, pengurus, pengawas dan manajer. Struktur organisasi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dapat dilihat pada lampiran 1.

5.3.1. Rapat Anggota

Rapat anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam tata kehidupan koperasi. Rapat anggota melibatkan seluruh anggota koperasi dan dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Rapat Anggota ini dikenal dengan Rapat Anggota

(7)

Tahunan (RAT) yang merupakan rapat tutup tahun. RAT ini adalah wujud pertanggungjawaban koperasi sebagai suatu organisasi ekonomi atau badan usaha.

Dalam Rapat Anggota. pengurus menampung saran-saran dan kritik. serta ide-ide untuk perkembangan koperasi. dan pengurus memberikan kesempatan pada anggota dalam forum tanya jawab berkenaan dengan keinginan anggota terhadap koperasinya.

Koperasi Mina Usaha Desa Jetis mengadakan Rapat Anggota sesuai dengan undang-undang. yaitu satu tahun sekali. Rapat anggota dilakukan untuk meminta pertanggung jawaban pengurus terhadap anggota. Dalam Rapat Anggota ini juga dibahas dan dipilih tentang susunan kepengurusan tahun berikutnya.

5.3.2. Pengurus Koperasi Perikanan Usaha Desa Jetis

Pengurus koperasi adalah salah satu alat perlengkapan organisasi yang diberi kuasa oleh anggota atau oleh Rapat Anggota koperasi untuk melaksanakan program koperasi sehingga pengurus bertanggung jawab atas organisasi koperasi yang bersifat operasional. Sedangkan wewenang pengurus diantaranya memutuskan penerimaan atau penolakan anggota baru. serta pemberhentian anggota yang tidak memenuhi syarat keanggotaan yang telah ditetapkan oleh/dalam Anggaran Dasar. Koperasi Mina Usaha Desa Jetis juga melakukan tindakan untuk kepentingan dan manfaat koperasi sesuai dengan tanggung jawabnya. misalnya dengan melakukan kegiatan sedekah laut yang dilakukan rutin setiap tahun bersama warga desa dan kegiatan sosial lainnya.

5.3.3. Badan Pengawas

Badan pengawas koperasi adalah salah satu alat perlengkapan organisasi koperasi di samping pengurus dan rapat anggota. Pengawas dipilih oleh dan untuk anggota koperasi dalam rapat anggota dan bertanggung jawab kepada rapat anggota.

Pengawas mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberikan informasi mengenai koperasi kepada anggota yang meliputi: keadaan organisasi.

keuangan dan administrasi yang dijalankan oleh pengurus serta perkembangan kegiatan usaha koperasi. Informasi tersebut diperoleh dengan jalan memeriksa

(8)

pembukuan yang sedang berjalan yang dilakukan sewaktu-waktu baik secara langsung maupun tidak langsung. Badan Pengawas bertugas melakukan pemeriksaan terhadap tata kehidupan koperasi yang meliputi organisasi dan usaha koperasi.

Koperasi Mina Usaha Desa Jetis memiliki Badan Pengawas yang melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan dilaporkan secara khusus dalam lembaran tersendiri yang merupakan laporan pertanggung jawaban. Adapun susunan pengawas terdiri dan ketua dan dua orang anggota.

5.3.4. Manajer dan Karyawan

Manager bertugas sebagai pengelola kegiatan usaha koperasi. Manager atau pelaksana usaha diangkat dan bertanggung jawab pada pengurus. Manajer mempunyai tugas dan tanggung jawab meliputi bidang perecanaan usaha, pelaksanaan usaha, administrasi atau keuangan, pengawasan dan laporan.

Karyawan mempunyai tugas untuk menjalankan usaha yang ada di Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dengan pembagian tugas yang jelas pada masing-masing karyawan.

5.4. Kegiatan Usaha Koperasi Mina Usaha Desa Jetis

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis merupakan usaha yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggota khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Kegiatan usaha yang dilakukan sampai saat ini adalah:

Unit usaha simpan pinjam

Unit pelelangan ikan

Unit warung serba ada (waserda)

5.4.1. Unit Usaha Simpan Pinjam (Simpi)

Usaha simpan pinjam dalam pelaksanaan operasionalnya senantiasa berupaya sesuai dengan PP No. 9 tahun 1995 tentang Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi, yaitu dengan memberikan status otonom yang artinya

(9)

pengelolaan simpi dilakukan secara terpisah dari usaha lainnya dan unit ini diperuntukkan bagi anggota dan juga calon anggota.

Sistem pinjaman yang terdiri dari pinjaman harian, pinjaman mingguan dan pinjaman bulanan yang memudahkan para nasabah untuk memilih sistem pinjaman yang sesuai dengar kemampuan membayar. Anggota merasa keberadaan simpi ini sangat diperlukan jika sewaktu-waktu anggota memerlukan dana pinjaman untuk modal usaha. Perkembangan alokasi pinjaman dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Perkembangan Alokasi Pinjaman pada Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Selama Lima Tahun Terakhir Periode Pembukuan

Tahun Alokasi Pinjaman (Rp) Pertumbuhan Alokasi

2002 477.141.150 -

2003 496.441.150 Naik

2004 256.214.400 Turun

2006 476.189.100 Naik

2007 591.163.100 Naik

Sumber: Unit Simpi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, 2009

Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat perkembangan alokasi pinjaman pada simpi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis mengalami fluktuasi. Pada tahun 2004 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, kemudian setelah itu meningkat. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain adalah adanya sumber modal dari luar, yaitu dari program pinjaman Kompensasi Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) dan Modal Awal Padanan (MAP). Pola subsidi PKPS-BBM dilakukan sejak tahun 2000-2003. Pola MAP disalurkan melalui KSP dan telah dilaksanakan sejak tahun 2000-2004 dengan besaran plafon Rp 150 sampai Rp 250 juta. Kegiatan pada unit simpi disajikan pada Gambar 4.

(10)

Gambar 4. Kegiatan Unit Simpan Pinjam Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

5.4.2. Unit Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Kegiatan unit usaha ini sampai sekarang adalah yang paling dominan dan utama karena unit TPI ini memberikan masukan atau pendapatan yang besar untuk Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis. Unit usaha TPI berperan sebagai perantara antar nelayan dan bakul selaku pembeli hasil tangkapan serta sebagai penetap harga melalui juru tawar. Perkembangan produksi di TPI Koperasi Mina Usaha Desa Jetis pada tahun terakhir mengalami fluktuasi yang berpengaruh pada pendapatan unit pelelangan ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) yang dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Perkembangan Produksi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Empat Tahun Terakhir (2004 – 2007)

Tahun

Jumlah

Pendapatan Jasa TPI Produksi/ (Rp)

Hasil Tangkap (kg) Nilai Raman (Rp)

2004 316,649 2,478,512,710.00 111,491,618

2005 523,583 2,557,315,770.00 81,950,709

2006 650,656 3,239,510,385.00 96,330,998

2007 604,027 2,990,993,905.00 64,492,931

Sumber: TPI Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, 2009

(11)

Pendapatan jasa TPI mengalami penurunan selain karena diberlakukan peraturan daerah yang berkaitan dengan retribusi daerah dan pos-post lainnya terutama sejak tiga tahun terakhir yang juga disebabkan oleh penurunan produksi hasil tangkap

Saat ini pelaksanaan kegiatan TPI mengacu pada Perda No. 10 tahun 2000 tentang Pasar Grosir ikan. TPI sebagai jasa pemasaran produk dari anggota melalui proses pelelangan. Sistem pembayaran di Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dilakukan secara tunai, langsung kepada anggota yang melelangkan hasil tanggapananya. Para anggota menerima uang yang telah dipotong sebesar delapan persen. Produksi hasil perikanan pada wilayah kerja Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis adalah dari hasil tangkapan nelayan di laut (perikanan tangkap). Kondisi Unit TPI disajikan pada gambar 5.

Gambar 5. Unit TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Koperasi Perimanan Mina Usaha Desa Jetis (Menjelang Kegiatan Lelang)

(12)

5.4.3. Unit Waserda

Kegiatan unit waserda saat ini masih mengutamakan pelayanan bagi kebutuhan para nelayan baik anggota maupun bukan anggota (calon anggota).

Keberadaan waserda sangat membantu para nelayan dalam pemenuhan kebutuhan khususnya alat tangkap. Selain menjual kebutuhan alat tangkap, waserda juga melayani kebutuhan rumah tangga dan lainnya. Khusus untuk alat tangkap yang dibeli di waserda dibayar dengan sistem tunai atau kredit. Sumber barang waserda sendiri diperoleh dengan membeli bahan alat tangkap dari Ibu Kota Kabupaten Cilacap. Selain itu juga diperoleh langsung dari agen atau distributor agar harga yang dijual lebih murah dan terjangkau oleh nelayan.

Kondisi cuaca akhir-akhir ini yang kurang menentu membuat kegiatan penengkapan ikan di laut cenderung menurun. Hal ini juga berdampak pada kemampuan dan keinginan nelayan membeli keperluan alat tangkap. Nelayan lebih cenderung melakukan perawatan alat tangkap nelayan dengan memanfaatkan waktu senggang sambil menunggu kondisi cuaca membaik.

Pendapatan unit usaha waserda ini dari tahun ke tahun cenderung menurun.

Pendapatan unit waserda beberapa tahun terakhir disampaikan pada tabel 5.

Tabel 5. Pendapatan Unit Waserda Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Empat Tahun Terakhir (2004 – 2007)

Tahun Pendapatan (Rp)

2004 5,524,850

2005 5,433,037

2006 3,109,204

2007 2,552,284

Sumber: Koperasi Mina Usaha Desa Jetis (diolah), 2009

Lokasi waserda berada pada tempat yang strategis yaitu di pinggir jalan menuju lokasi TPI. Kondisi unit waserda disampaikan pada gambar 6.

(13)

Gambar 6. Unit Waserda Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

5.5. Anggota Koperasi Mina Usaha Desa Jetis

Keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka bagi setiap warga negara Indonesia yang didasari atas persamaan kepentingan. Keanggotaan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis terdiri dari anggota dan calon anggota.

Anggota adalah orang yang mendapatkan pelayanan koperasi dan telah memenuhi kewajiban sebagai anggota, yaitu membayar simpanan wajib dan simpanan pokok.

Calon anggota adalah orang yang mendapatkan pelayanan koperasi namun belum memenuhi kewajiban sebagi anggota, dalam hal ini membayar simpanan pokok dan wajib. Perbedaan status tersebut menjadikan adanya perbedaan hak antara anggota dan calon anggota. Perkembangan jumlah anggota selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada tabel 6.

(14)

Tabel 6. Perkembangan Jumlah Anggota Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan

Tahun Anggota

I 228

II 251

III 254

IV 250

Sumber: Koperasi Mina Usaha Desa Jetis, 2009

Berdasarkan tabel 6, jumlah keanggotaan mengalami fluktuatif dan pada akhir tahun menurun, hal ini disebabkan karena adanya anggota yang meninggal dan memang keluar dari keanggotan koperasi.

Keberadaan koperasi dapat memberikan tiga manfaat utama bagi anggota, yaitu berupa manfaat ekonomi, sosial dan teknologi (Saefudin, 1993 dalam Muyasaroh 2004). Ketiga macam manfaat ini diberikan dalam bentuk pelayanan dari unit-unit usaha yang ada di koperasi kepada konsumen. Manfaat ekonomi yang akan dirasakan apabila terjadi perbaikan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya taraf hidup anggota. Jenis kegiatan atau pelayanan koperasi yang berkaitan dengan manfaat ekonomi dapat berupa pemenuhan kebutuhan anggota melalui pembelian sarana produksi yang bersaing/murah, kepastian menjual hasil produksi dan memperoleh harga jual dan harga beli produk serta pelayanan pinjaman modal untuk menunjang kegiatan usaha. Manfaat sosial dapat dirasakan apabila terjadi kerjasama antara anggota dalam menjalankan kegiatan usaha dan masyarakat dalam koperasi. Manfaat teknologi koperasi yang dirasakan anggota, mulai dari pengenalan sampai pengembangan teknologi usaha baru. Proses adopsi teknologi dapat disebarkan melalui kegiatan berupa kursus, pelatihan. dan studi banding ke daerah lain.

Menurut Bayu Krisnamurti, 2002, setidaknya terdapat tiga tingkat bentuk eksistensi koperasi bagi masyarakat: 1) Koperasi dipandang sebagai lembaga yang menjalankan suatu kegiatan usaha tertentu, dan kegiatan usaha tersebut diperlukan oleh masyarakat. Kegiatan usaha dimaksud dapat berupa pelayanan kebutuhan keuangan atau perkreditan, atau kegiatan pemasaran, atau kegiatan lain. Pada

(15)

tingkatan ini biasanya koperasi penyediakan pelayanan kegiatan usaha yang tidak diberikan oleh lembaga usaha lain atau lembaga usaha lain tidak dapat melaksanakannya akibat adanya hambatan peraturan. Peran koperasi ini juga terjadi jika pelanggan memang tidak memiliki aksesibilitas pada pelayanan dari bentuk lembaga lain. Hal ini dapat dilihat pada peran beberapa Koperasi Kredit dalam menyediaan dana yang relatif mudah bagi anggotanya dibandingkan dengan prosedur yang harus ditempuh untuk memperoleh dana dari bank. Juga dapat dilihat pada beberapa daerah yang dimana aspek geografis menjadi kendala bagi masyarakat untuk menikmati pelayanan dari lembaga selain koperasi yang berada di wilayahnya. 2) Koperasi telah menjadi alternatif bagi lembaga usaha lain. Pada kondisi ini masyarakat telah merasakan bahwa manfaat dan peran koperasi lebih baik dibandingkan dengan lembaga lain. Keterlibatan anggota (atau juga bukan anggota) dengan koperasi adalah karena pertimbangan rasional yang melihat koperasi mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Koperasi yang telah berada pada kondisi ini dinilai berada pada ‘tingkat’ yang lebih tinggi

dilihat dari perannya bagi masyarakat. Beberapa koperasi untuk beberapa kegiatan usaha tertentu diidentifikasikan mampu memberi manfaat dan peran yang memang lebih baik dibandingkan dengan lembaga usaha lain, demikian pula dengan Koperasi Kredit. 3) Koperasi menjadi organisasi yang dimiliki oleh anggotanya. Rasa memilki ini dinilai telah menjadi faktor utama yang menyebabkan koperasi mampu bertahan pada berbagai kondisi sulit, yaitu dengan mengandalkan loyalitas anggota dan kesediaan anggota untuk bersama-sama koperasi menghadapi kesulitan tersebut. Sebagai ilustrasi, saat kondisi perbankan menjadi tidak menentu dengan tingkat bunga yang sangat tinggi, loyalitas anggota koperasi membuat anggota tersebut tidak memindahkan dana yang ada di koperasi ke bank. Pertimbangannya adalah bahwa keterkaitan dengan koperasi telah berjalan lama, telah diketahui kemampuannya melayani, merupakan organisasi

‘milik’ anggota, dan ketidak-pastian dari dayatarik bunga bank. Berdasarkan

ketiga kondisi diatas, maka wujud peran yang diharapkan sebenarnya adalah agar koperasi dapat menjadi organisasi milik anggota sekaligus mampu menjadi alternatif yang lebih baik dibandingkan dengan lembaga lain.

(16)

Peranan dan tugas koperasi Indonesia adalah mempersatukan mengarahkan, membina dan mengembangkan usaha koperasi atau potensi, daya kreasi dan daya usaha. Hal itu untuk meningkatkan produksi dan mewujudkan tercapainya masyarakat adil dan makmur yang merata.

Anggota Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis pada umumnya terdiri dari nelayan dan bakul. Hal ini disebabkan karena keadaan masyarakat di Desa Jetis yang sebagian besar adalah nelayan dan petani. Namun selain itu ada juga yang bermata pencaharian sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan dan sebagainya.

Keberadaan koperasi sangat besar manfaatnya bagi komunitas nelayan Jetis. Manfaat yang paling dirasakan terutama oleh anggota adalah dengan terbentuknya warung serba ada (waserda) yang melayani alat-alat tangkap ikan dengan pembayaran tunai atau kredit. Sebagai gambaran komposisi kebutuhan kegiatan penangkapan ikan dalam setiap tahun disajikan pada tabel 7.

Tabel 7. Jenis dan Jumlah Kebutuhan Nelayan Rata-rata Setiap Tahun

N o

Jenis Kebutuhan

Jumlah Kebutuhan

Rata-rata Musim Ramai Musim Sedang Musim Paceklik

1 Perahu 98 98 98 98

2 Sirang 98 98 98 98

3 Ciker 98 98 98 98

4 Kantong 62 62 62 62

5 Arad 98 98 98 98

6 Pintur 98 98 98 98

7 Cuduk 87 87 87 87

8 Pancing 51 51 51 51

9 Bensin 350.800 ltr 352.800 ltr 147.000 ltr 284.200 ltr

10 Oli 10.022 ltr 10.080 ltr 4.200 ltr 8.100 ltr

11 Es 300 balok 250 balok 200 balok 250 balok

12 Garam 2,7 ton 2 ton 1,5 ton 2 ton

Sumber : Kelompok Nelayan Mina Usaha Jetis

(17)

Tabel 7 menunjukkan bahwa, nelayan Jetis setiap tahun dalam melakukan usaha penangakan ikan mengalami tiga musim, yaitu musim ramai, sedang dan paceklik. Namun demikian, tidak semua kebutuhan tersebut dipenuhi oleh waserda, sperti bensin dan es yang disuplai oleh pihak lain (SPBU Pertamina dan usaha perorangan).

Gambar

Gambar 2. Peta Lokasi Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap
Gambar 3. Perahu Nelayan Desa Jetis (Perahu Jukung, Gambar 1, 2 dan 3) dan Mesin Perahu (Gambar 4)
Tabel 4. Perkembangan  Produksi  Koperasi Perikanan Mina  Usaha  Desa Jetis Empat Tahun Terakhir (2004 – 2007)
Gambar 5. Unit TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Koperasi Perimanan Mina Usaha Desa Jetis (Menjelang Kegiatan Lelang)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi asam-asam organik hasil fermentasi anaerob batang pisang (Musa paradisiaca Val.) dengan penambahan molases sebagai bahan aditif,

Dengan semakin banyaknya tempat usaha dan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak, mendorong para pemilik dan pengelola tempat usaha untuk mengelola lahan parkir

dan 2012 berdasarkan tingkat konsentrasi klorofil-a pada bulan Maret 2010. Tingginya kelimpahan jenis fitoplankton dari jenis Chaetoceros sp., Coscinodiscus sp.,

1) Motivasi positif, adalah pemberian motivasi yang dilakukan dengan cara memberikan harapan atau hadiah kepada karyawan yang mempunyai prestasi tinggi (menjalankan

(4) Penetapan jenjang jabatan untuk pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Rescuer berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki setelah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang

fasilitas bangunan Servis maintenance gedung Privat, tertutup, tidak pengap Gudang, ruang istirahat, unit hunian Melayani urusan teknis dalam. pengoperasian apartemen

Hasil analis menunjukan bahwa kelompok kontrol negatif memiliki perbedaan jumlah geliat yang bermakna

Kami bersyukur bahwa semakin besar orang tua Odha mulai terlibat dalam upaya kami, yang ditandai dengan keterlibatan wakil dari empat kelompok dukungan sebaya untuk orang tua