• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Media Buku Cerita Bergambar (BCB) Pada Tema 4 Subtema 1 Materi Membaca dan Pengaruhnya Terhadap Minat Membaca Siswa Kelas II di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Penerapan Media Buku Cerita Bergambar (BCB) Pada Tema 4 Subtema 1 Materi Membaca dan Pengaruhnya Terhadap Minat Membaca Siswa Kelas II di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbicara soal pendidikan, tidak dapat dilepaskan dari proses pembelajaran di ruang kelas. Pembelajaran di ruang kelas mencakup dua aspek penting yakni guru dan siswa. Guru mempunyai tugas mengajar dan siswa belajar. Perlu disadari bahwa pembelajaran itu merupakan sistem yang didalamnya terdapat komponen-komponen yang saling berhubungan dalam tercapainya suatu tujuan pembelajaran. Beberapa komponen yang dimaksud meliputi: (1) komponen tujuan pembelajaran, (2) komponen materi/bahan pembelajaran, (3) komponen metode pembelajaran, (4) komponen media pembelajaran, (5) komponen sumber belajar, dan (6) komponen penilaian hasil belajar.1 Karena pembelajaran merupakan suatu sistem maka keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh sejauh mana efektifitas interaksi pada setiap komponen.

Sebagai salah satu komponen dalam sistem tersebut, media pembelajaran mempunyai fungsi sebagai sarana komunikasi non-verbal.

Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar.2 Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran dalam pembelajaran bukanlah

1 Ananda Rusydi, Perencanaan Pembelajaran (Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI), 2019). hlm 27

2 Junaidi, Peran Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar, Vol. 3 No. 1 (April, 2019), hlm 45.

1

(2)

fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.3 Melalui penggunaan media akan tercipta proses belajar-mengajar yang lebih efektif karena media menjadi perantara antara sumber belajar dan siswa.

Secara didaktis psikologis media pembelajaran sangat membantu perkembangan psikologis anak dalam belajar. Dikatakan demikian sebab secara psikologis alat bantu mengajar berupa media pembelajaran sangat memudahkan siswa dalam hal belajar karena media dapat membuat hal-hal yang bersifat abstrak menjadi konkrit (nyata). Hal ini sejalan dengan yang dikatakan rusyan yakni pada prinsipnya media itu dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi yang lebih efektif dan efisien. Terkait dengan efektivitas penggunaan media dalam proses pembelajaran Depdikbud menegaskan bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, mengurangi atau menghindari terjadinya verbalisme, membangkitkan nalar yang teratur, sistematis, dan untuk menumbuhkan pengertian dan pengembangan nilai-nilai pada diri siswa.

Disamping itu penggunaan media pembelajaran sangat penting karena dapat menyingkat waktu. Artinya, pembelajaran dengan menggunakan media dapat menyederhanakan masalah terutama dalam menyampaikan hal-hal yang baru dan asing bagi siswa. Penggunaan media pembelajaran secara benar, tidak hanya membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien tetapi juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran

3 Fikri Hasanul Dkk, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif, Penerbit Samudra Biru, (Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru, 2018). hlm 13

(3)

secara menyeluruh.4

Dalam penggunaan media pembelajaran akan memberikan bantuan kepada guru dalam menyampaikan materi dan murid dalam memahami pembelajaran yang sedang berlangsung. Sehingga proses belajar mengajar menjadi kondusif dan diharapkan menghasilkan prestasi yang meningkat dari pelajaran tersebut. Penggunaan media pembelajaran juga menarik minat siswa karena dianggap menyenangkan dan mengurangi rasa bosan.

Penggunaan media dapat menjadikan pembelajaran lebih terarah sehingga siswa dapat lebih fokus dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu media mutlak harus ada atau harus dimanfaatkan di dalam setiap pembelajaran.

Information technology is defined as information technology which is defined as knowledge in the field of computer-based information and its development is very rapid. Utilizon of information technology in education as an educational media (tool), information source, and learning system.5

Faktor lain yang dapat mendukung kesuksesan siswa dalam belajar adalah siswa harus memiliki minat membaca. Di era revolusi 5.0 minat membaca khususnya siswa di level sekolah dasar perlu ditingkatkan.

Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan menuntut siswa memiliki kemampuan baca dan tulis yang lebih, dengan tujuan agar siswa memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup untuk dapat bersaing dan mengikuti perkembangan zaman.6 Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu penegetahuan termasuk informasi dan petunjuk

4Hillir Alwi, Pengembangan Teknologi Pendidikan Peranan Pendidik Dalam Menggunakan Media Pembelajaran, (Jawa Tengah: Penerbit Lakeisha, 2021). hlm 51

5 Herman Zaini, Covid-19 and Islamic Education in School: Searching for Alternative Learning Media, Vol.18 No. 1 (April, 2021). hlm 156-157.

6 Cahya dhina Rohim, Peran Literasi Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Di Sekolah Dasar Negeri, Vol. 6 No. 3 (September, 2020). hlm 2.

(4)

sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Dengan memiliki kemampuan membaca, seseorang dapat menjalani kehidupannya dengan kualitas yang lebih baik.

Data dari UNESCO pada Januari 2020, menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah mengenai literasi dunia, artinya minat baca masyarakat sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, Cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset berbeda bertajuk World,s Most Lierate Nation Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduku peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwanda (61) . padahal, dari segi infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 9 provinsi yang masuk dalam aktivitas literasi sedang, 24 provinsi masuk dalam literasi rendah.7 Sumatera Selatan sendiri duduk di kursi 17 dengan nilai indeks 36,06. 8

Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS), survei yang dilakukan pada tahun 2015 menunjukan bahwa 91,47% anak usia sekolah lebih suka menonton televisi dan 13,11% anak usia sekolah yang lebih suka membaca. Secara umum, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2012 menunjukan bahwa sebanyak 91,58% masyarakat Indonesia

7 Rahmawati, Komunitas Baca Rumah Luwu Sebagai Inovasi Sosial Untuk Meningkatkan Minat Baca Di Kabupaten Luwu, Vol. 4 No. 2 (2020) hlm 32.

8 Fera Widyanata, Pengembangan Intelektualitas Melalui Literasi Membaca Bagi Karang Taruna Desa Kota Daro II Kabupaten Ogan Ilir, Vol.1, No. 1 (2022). hlm 44.

(5)

yang berusia 10 tahun keatas lebih suka menpnton televisi dan hanya sekitar 17,58% saja masyarakat yang gemar membaca buku, surat kabar, atau majalah.9

Dalam meningkatkan minat baca pemerintah sebenarnya telah menerbitkan peraturan baru, yakni dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) ristek Nomor 17 Tahun 2021 Tentang Asesmen Nasional, bahwa hasil belajar kognitif mencakup literasi membaca dan numerasi. Hasil belajar ini diukur melalui asesmen kompetensi minimum. Hasil belajar nonkognitif mencakup sikap yang melandasi karakter-karakter dalam profil pelajar Pancasila.

Melalui minat serta kemampuan membaca, diharapkan siswa dapat melaksanakan pembelajaran secara interaktif, inspiratif dan menyenangkan, sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 yang menyatakan bahwa pembelajaran dilaksanakan secara interaktif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang khusus untuk prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikplogis peserta didik. Salah satu upaya dalam melaksanakan tuntutan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tersebut adalah dengan menumbuhkan minat serta kemampuan membaca siswa.

Supriyoko menyatakan bahwa secara teoritis ada hubungan yang

9 Roy Gustaf Tupen Ama, Minat Baca Siswa Ditinjau Dari Persepsi Keterlibatan Orangtua Dalam Pendidikan, Vol. 2 No. 1 (Januari, 2021). hlm 220.

(6)

positif antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability), rendahnya minat baca menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah ini berpengaruh dengan kemampuan membaca.

Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi jika anak-anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai macam bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.

Oleh karena itu, siswa harus mempunyai minat dan kemampuan membaca untuk belajar. Kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam suatu masyarakat terpelajar, membaca adalah hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran, karena jantung dari program pembelajaran adalah membaca, keberhasilan di sekolah hampir bersinonim dengan keberhasilan membaca. Kemampuan serta minat baca yang tinggi adalah modal dasar untuk keberhasilan siswa dalam berbagai mata pelajaran serta kemajuan dalam pendidikan, oleh karena itu kajian tentang minat siswa dalam membaca perlu dilakukan.

Selama ini dalam pelaksanaan pembelajaran khususnya di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang masih banyak guru dan orang tua yang memaksa anaknya untuk belajar membaca secara individu, sehingga siswa merasa terbebani dan tertekan untuk belajar membaca, hal ini dapat berakibat pada rendahnya minat membaca pada siswa. Untuk membuat aktivitas membaca menjadi suatu kegemaran, hal yang di miliki oleh seseorang adalah minat membaca. Guru memiliki peranan penting dalam

(7)

mebiasakan siswa membaca, melalui proses membaca tersebut diharapkan dapat menumbuhkan karakter gemar membaca.10 Bila seseorang tidak memiliki minat membaca, maka seseorang tidak akan menjadi gemar membaca. Setumpuk bahan bacaan yang disodorkan kepadanya, tidak satupun yang akan disentuh, apalagi dibaca. Hal ini juga terjadi pada anak- anak usia sekolah, dimana aktivitas bermain lebih mendominasi aktivitas kesehariannya.

Burns mengatakan bahwa kesiapan membaca siswa dapat dirangsang dengan memberikan pengalaman pramembaca (prareading experience). Dengan mengenalkan satu atau lebih bagian membaca kepada siswa sehingga timbul ketertarikan yang kuat untuk “membaca”. siswa akan bersemangat melihat buku atau sumber bacaan lain. Rasa ingin tahu siswa tumbuh dengan kuat sehingga mendorong untuk bertanya, hal ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi proses pembelajaran membaca pada siswa.

Melalui kegiatan membaca buku cerita bergambar ini diharapkan menjadi salah satu cara efektif untuk memberi pengalaman membaca, kemasan buku yang penuh warna memudahkan anak untuk belajar.

Sementara itu, bagi siswa yang sudah memiliki pengalaman pra membaca pada usia sebelumnya, buku bergambar sedikit kata dapat meningkatkan minatnya belajar membaca.

Buku cerita bergambar sedikit kata merupakan alat belajar yang baik untuk merangsang siswa suka membaca. Warna-warni yang

10 Hasanah Uswatun Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Di Sekolah Dasar (Jakarta:

Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020), hlm 21.

(8)

mencolok akan merangsang minat siswa ”membaca” sekaligus menggugah rasa ingin tahunya. Hal ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi anak-anak yang masih dalam proses mengenal huruf, kemasan buku yang penuh warna memudahkan anak untuk belajar. Sementara itu, bagi anak- anak yang sudah memiliki pengalaman pra membaca pada usia sebelumnya, buku bergambar sedikit kata dapat meningkatkan minatnya belajar membaca. Media buku cerita bergambar (BCB) merupakan salah satu media yang tepat digunakan untuk menstimulasi kemauan dan kemampuan membaca pada siswa. Penggunaan buku ceita bergambar ini sangat bagus diterapkan di sekolah dasar karena banyak sekali manfaat yang vdapat diambil dari media tersebut. Manfaat yang diperoleh dalam proses belajar membaca dengan menggunakan media buku cerita bergambar (BCB), siswa lebih termotivasi dan lebih tertarik untuk membaca dan mengetahui isi buku cerita bergambar (BCB) tersebut.

Penggunaan buku cerita bergambar dapat merangsang minat atau perhatiaan siswa, gambar yang dipilih secara tepat membantu siswa memahami dan mengingat isi informasi yang diperoleh.11

Sejalan dengan penelitian Evita Widiyati dalam Jurnal yang berjudul “Peningkatan minat dan kemampuan membaca permulaan melalui media buku cerita bunatang dan permainan Bahasa siswa kelas II SD Plus Al-Anwar Pacul Gowang Jombang” hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penerapan media BCB dan PB dapat meningkatkan minat dan kemampuan membaca permulaan siswa hal ini diketahui dengan

11 Fika Hidayatul Munawarah, Model Dan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia SD”

(Surabaya: Scopindo Media Pustaka, 2021). Hlm 22

(9)

meningkatnya nilai pada setiap aspek penilaian.

Senada juga dengan penelitian Nadhirotul Ulil Habibah dalam Jurnal yang berjudul “Penerapan Media Cerita Bergambar Terhadap Minat Baca Siswa Kelas III SD” Nadhirotul Ulil mengungkapkan pada penelitiannnya bahwa penerapan media cerita bergambar terhadap minat baca siswa kelas III SD dapat meningkatkan minat baca siswa, menimbulkan antusias, menarik perhatian, dan memiliki respon baik dari siswa. Zahra Yuniar Panca Hidayah, dkk. Juga mengungkapkan dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Media Pembelajaran Buku Cerita Bergambar Terhadap Minat Baca Siswa Kelas III Madrasah Ibtidayah”

Penerapan media buku cerita bergambar (BCB) dapat berpengaruh terhadap minat membaca siswa. Hal ini dapat dilihat dari perhitungan angket dimana dari 31 responden dengan 10 pernyataan dibagi dalam 5 pernyataan positif dan 5 peryataan negatif, didapatkan hasil sebanyak 85%, maka termasuk dalam kategori sangat baik.

Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti dengan guru dan siswa di kelas II SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang didapatkan hasil bahwa pada SDN 1 Terusan Menang Sebagian besar masih banyak siswa yang kurang minat dalam membaca atau bisa dikatakan bahwa minat membaca siswa masih tergolong rendah karena siswa belum mempunyaai inisiatif atau kesadaran sendiri dalam membaca buku, siswa juga sering tidak memperhatikan guru saat pembelajaran membaca. Salah satu siswa mengungkapkan bahwa dirinya bosan jika hanya belajar membaca menggunakan buku paket saja. Sedangkan pada observasi di SD 2 Terusan

(10)

Menang didapatkan hasil Sebagian siswa masih belum mampu dalam mengeja kata, dan juga siswa tidak menunjukan ketertarikan dan kesenangan pada buku, guru mengungkapkan siswa cepat bosan saat diberikan tugas membaca oleh guru dan belum ada inisiatif atau kesadaran sendiri untuk membaca. siswa cenderung ribut saat pembelajaran membaca karena lebih memilih bermain atau mengobrol dibandingkan memperhatikan pembelajaran yang disampaikan guru dan juga pada proses pembelajaran guru hanya menggunakan buku paket saja.

Pada saat pengamatan awal proses pembelajaran membaca pada kelas II di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang guru belum menggunakan media yang sesuai dengan pembelajaran membaca, sumber belajar siswa hanya berfokus pada buku paket siswa sehingga siswa kurang berminat dalam hal membaca karena media yang di gunakan oleh guru tidak bervariasi jadi anak merasa kurang tertarik. Guru belum menggunakan media yang sesuai untuk memotivasi siswa pada saat pembelajaran membaca, jadi anak siswa aktif apabila ada pembelajaran yang berhubungan dengan membaca. Untuk memecahkan masalah kurangnya minat serta kemampuan membaca dan mengingat kondisi tersebut maka pendidik perlu menginovasi kegiatan pada saat proses pembelajaran.

Dengan menggunakan media buku cerita bergambar (BCB) diharapkan dapat menumbuhkan minat membaca siswa.

B. Identifikasi Masalah

(11)

Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidenifikasi masalah-masalah yang mempengaruhi minat dan kemampuan membaca siswa, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan antara lain, yaitu:

1. Kurangnya minat membaca siswa di kelas II SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang.

2. Guru masih menggunakan metode konvensional (ceramah) dalam pelajaran.

3. Pembelajaran membaca di kelas 11 SDN 2 dan SDN 1 Terusan Menang belum menggunakan media yang sesuai dan kurang menarik, sehingga belum meningkatkan minat membaca siswa.

C. Batasan Masalah

Untuk mengatasi agar permasalahan yang dibahas tidak meluas dan fokus masalah menjadi semakin jelas, maka peneliti hanya membatasi permasalahan sebagai berikut:

1. Fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah penerapan media buku cerita bergambar (BCB) dan pengaruhnya terhadap minat membaca siswa pada kelas II di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang.

2. Penelitian ini dilakukan di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang (OKI) 3. Siswa yang diteliti ialah siswa kelas II

D. Rumusan Masalah

(12)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana minat membaca siswa sebelum dan sesudah diterapkan media buku cerita bergambar (BCB) di kelas eksperimen 1 di SDN 1 Terusan Menang?

2. Bagaimana minat membaca siswa sebelum dan sesudah diterapkan media buku cerita bergambar (BCB) di kelas eksperimen 2 di SDN 2 Terusan Menang?

3. Bagaimana perbandingan minat membaca siswa setelah diterapkan media buku cerita bergambar di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana minat membaca siswa sebelum dan sesudah diterapkan media buku cerita bergambar (BCB) di kelas eksperimen 1 di SDN 1 Terusan Menang?

2. Untuk mengetahui bagaimana minat membaca siswa sebelum dan sesudah diterapkan media buku cerita bergambar (BCB) di kelas eksperimen 2 di SDN 2 Terusan Menang?

4. Untuk mengetahui bagaimana perbandingan minat membaca siswa setelah diterapkan media buku cerita bergambar di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang?

(13)

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan dari tujuan penelitian, maka manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini, diharapkan dapat memperluas wawasan keilmuan yang berkaitan dengan ketrampilan berbahasa, khususnya ketrampilan membaca dengan menggunakan media Buku Cerita Bergambar (BCB).

2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa

Dapat memberikan pengaruh terhadap minat dan kemampuan membaca dengan menggunakan media Buku Cerita Bergambar (BCB).

b. Bagi guru

Dapat memperkaya media pembelajaran untuk diterapkan di kela khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN 1 dan SDN 2 Terusan Menang

c. Bagi peneliti

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana S1 pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibridaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negri Raden Fatah Palembang.

G. Tinjauan Pustaka

1. Skiripsi 2019, Yunita Ambarwati, penelitian yang berjudul

“Pengaruh Penerapan Media Cerita Bergambar (komik) Terhadap

(14)

Minat Membaca Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas III di MI Nurul Qamar Palembang.” Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahu8i pengaruh penerapan media buku bergambar (komik) terhadap minat membaca siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen. Hasil uji hipotesis dengan membandingkan besarnya t yang diperoleh dalam perhitungan (t0 = 14,6) dan besarnya t yang tercantum pada tabel (tt.ts 5% = 2,055) dan (tt.ts 1% = 2,778) maka dapat kita ketehui bahwa t0 lebih besar dari tt bearti adanya pengaruh penggunaan media cerita bergambar (komik) terhadap minat membaca siswa. Persamaan dengan penelitian ini yaitu sama-sama meneliti minat baca siswa dan menggunakan metode penelitian eksperimen adapun perbedaannya penelitian iini menerapkan media komik sedangkan penelitian penelit8i menggunakan media buku cerita bergambar (BCB).12

2. Nadhiroutul Ulil Habibah, 2022. “Penerapan Media Cerita Bergambar Terhadap Minat Baca Siswa Kelas III SD” Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui penerapan media cerita bergambar terhadap minat baca siswa kelas III SD. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini terdapat pengaruh media buku cerita bergambar terhadap minat baca siswa, menimbulkan antusias, menarik perhatian, dan memiliki respon baik dari siswa. Persamaan

12 Yunita Ambarwati, Skripsi: “Pengaruh Penerapan Media Cerita Bergambar (Komik) Terhadap Minat Membaca Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas III di Nurul Qamar Palembang.” (Palembang: Uin Raden Fatah, 2020).

(15)

penelitian ini dengan penelitian peneliti yaitu sama-sama meneliti minat baca dengan menggunakan media cerita bergambar. Adapun perbedaannya, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif sedangkan penelitian peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen.13 3. Acep Saepul Rahmat, “Games Book Sebagai Media Peningkatan

Minat Baca pada Pembelajaran Bahasan Indonesia SD Kelas Tinggi” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan minat baca siswa dengan media Games book. Media Games book memberi pengaruh terhadap minat membaca siswa, serta memberikan pengaruh terhadap ketertarikan siswa dalam membaca, respon siswa, kerja sama siswa dan kinerja siswa.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti yaitu sama sama meneliti minat baca siswa. Sedangkan perbedaannya penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan Quasy Eksperimen sedangkan penelitian peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan True Eksperimen.14

4. Ariza Maghfitrotul Izzah, 2021. “Penerapan Media Buku Cerita Bergtambar dalam Pembelajaran Tematik Siswa Kelas IV di Sekolah Dasar Al-Furqon Jeggawah-Jember” Tujuan dari penelitian ini untuk menerapkan media buku cerita bergambar

13 Nadhirotul Ulil Habibah, Penerapan Media Cerita Bergambar Terhadap Minat Baca Siswa Kelas III SD, Jurnal Ilmiah Multi Disiplin Indonesia, Vol. 1 No. 6 (April, 2022).

14 Acep Saepul, Games Book Sebagai Media Peningkatan Minat Baca pada Pembelajaran Bahasan Indonesia SD Kelas Tinggi, Vol. 1 No. 1 (Juni, 2017).

(16)

dalam pembelajaran tematik kelas IV siswa SD. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan adanya perencanaan penerapan menggunakan media buku bergambar, guru lebih mudah mengarahkan peserta didik agar bisa memahami materi, siswa juga lebih semangat dan timbul kepercayaan diri untuk belajar membaca dengan baik Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti yaitu sama-sama meneliti menggunakan media buku cerita bergambar (BCB). Perbedaaan penelitian ini dengan penelitian peneliti yaitu penelitian ini menggunakan subjek kelas IV dan penelitian peneliti menggunakan subjek kelas II, Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif.15

5. Zahra Yuniar Panca Hidayah, “Pengaruh Media Pembelajaran Buku Cerita Bergambar Terhadap Minat Baca Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah” Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh media buku cerita bergambar terhadap minat membaca siswa kelas III MI. penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimen. Penerapan media buku cerita bergambar (BCB) dapat berpengaruh terhadap minat membaca siswa, hal ini dapat dilihat dari perhitungan angket dimana dari 31 responden dengan 10 pernyataan yang dibagi dalam 5 pernyataan positif dan 5 pernyataan negatif, didapatkan hasil sebanyak 85%, maka termasuk dalam kategori sangat baik. Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti yaitu sama-sama meneliti minat

15 Ariza Maghfirotul, Skripsi: “Penerapan Media Buku Cerita Bergtambar dalam Pembelajaran Tematik Siswa Kelas IV di Sekolah Dasar Al-Furqon Jeggawah-Jember” (Jember:

IAIN Jember, 2021).

(17)

membaca siswa dengan menggunakan media buku cerita bergambar dan sasama menggunakan metode penelitian kuantitatif.

Adapun perbedaannya, Penelitian ini meneliti siswa kelas III dengan menggunakan metode penelitian pre-Eksperimen sedangkan penelitian ini meneliti siswa kelas II dengan menggunakan metode True Eskperimen.16

16 Zahra Yuniar, Pengaruh Media Pembelajaran Buku Cerita Bergambar Terhadap Minat Baca Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah, Vol. 2 No. 2 (September, 2022)

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan tindakan Siklus I pertemuan ke-1 pada tangga 13 November 2014 oleh guru kelas I dengan menerapkan strategi Reading Aloud dan media pembelajaran berupa kartu

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca percakapan singkat melalui strategi role playing dengan media cerita bergambar siswa kelas V SDN

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca percakapan singkat melalui strategi role playing dengan media cerita bergambar siswa kelas V SDN

Siklus I merupakan tahap awal pelaksanaan pembelajaran membaca nyaring dengan menggunakan metode demonstrasi pada murid kelas II SDN 20 Sungai Kunyit. Pada

Penggunaan media flashcard pada siswa kelas 1 SDN Sonraen, membuat siswa sangat aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan mencoba untuk menebak, menulis dan membaca kosakata. Guru pun

Diharapkan peneliti dapat mengetahui langkah – langkah penggunaan media flashcard dalam meningkatkan membaca dan menulis dalam pembelajaran bahasa indonesia siswa kelas II di SDN Kepuh

Pengaruh media audio visual terhadap kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas 1

Studi tentang kemampuan membaca awal dan tantangan siswa kelas 1 SD di SDN 2 Babakanreuma, analisis dan solusi mengatasi kesulitan