STUDI KASUS TENTANG KEGIATAN BELAJAR MAHASISWA
UNIVERSITAS TERBUKA MELALUI BELAJAR KELOMPOK
T E S I S
Diajukan kepada Panitia Ujian Tesis
Institut
Keguruan
dan
llmu
Pendidikan
Bandung
untuk Memenuhi Sebagai Syarat PenyelesaianProgram Strata - 2 Bidang Studi Pengembangan Kurikulum
O I e h : AIM ABDULKARIM
Nomor Pokok : 559/F/XVII-9
FAKULTAS PASCA SARJANA
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
DISETUJUl DAN DISAHKAN OLEH
PROF. PR. S. NASUTION, M.A.
Pembimbing I
PROF. DR. ROCHMAN NATAWIDJAJA Pembimbing II
FAKULTAS PASCA SARJANA
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
B A N D U N G
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGE3AHAN ii
KATA PENGANTAR iii
UCAPAN TERIMA KASIH vii
DAFTAR ISI ix
BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Analisis dan Perumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian
12
D. Kegunaan Hasil Penelitian 13
BAB II. INFORMASI TENTANG UNIVERSITAS TERBUKA 15
A. Lembaga Universitas Terbuka
15
B. Sistem Belajar Mahasiswa .Universi
tas Terbuka Melalui Modul 17
C. Sistem Evaluasi Belajar Mahasiswa
Universitas Terbuka 2.k
BAB IV. PROSEDUR PENELITIAN 27
A. Sampel Penelitian
27
B. Tahap-Tahap Pelaksanaan Penelitian
28
C. Teknik Pengumpulan Data
30
D. Anggapan Dasar
•
3k
E. Instrumen Pengumpul Data
36
BAB. IV. ANALISIS DATA kO
A. Data Yang Diperoleh
kO
B. Pola Analisis *+0
C. Analisis Data A-l
a. Asas-Asas Manajemen (Modul 1-5)
Zf2
1) Persiapan Belajar Kelompok .. k2.
2) Proses Belajar Kelompok
2+8
3) Kedisiplinan Mahasiswa
60
-b. Asas- Asas Manajemen (Modul 6-9)
66
1) Persiapan Belajar Kelompok
..
66
2) Proses Belajar Kelompok 73
3) Kedisiplinan Mahasiswa
79
c. Dasar-Dasar Akuntansi (Modul 1-5)
81
1) Persiapan Belajar Kelompok
..
81
2) Proses Belajar Kelompok
...
88
3) Kedisiplinan Mahasiswa
...
9k
d. Dasar-Dasar Akuntansi (Modul 6-9)
96
1) Persiapan 3elajar Kelompok
..
96
2) Proses Belajar Kelompok 103
3) Kedisiplinan Mahasiswa
111
BAB V. PENEMUAN DAN DISKUSI 112+
BAB VI. KESIMPULAN DM REKOMENDASI 123
A. Kesimpulan
123
B. Rekomendasi 130
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1. Mahasiswa Universitas Terbuka
Sejak berdirinya Universitas Terbuka sebagai
lembaga pendidikan tinggi negeri
yang -ke-45
di
Indonesia, dalam perjalanannya banyak hal yang amat
menarik untuk diadakan pengkajian. Begitu pula bagi
peneliti mempunyai daya tarik tersendiri dalam
meng-amati permasalahan yang dihadapi mahasiswa
Univer
sitas Terbuka, permasalahan ini
merupakan
\latar
belakang pemikiran, mengapa peneliti mengadakan
ka-jian terhadap kegiatan belajar kelompok mahasiswa;
antara lain :
a. Tingginya jumlah mahasiswa Universitas
terbuka
yang tidak mendaftar ulang yaitu
dari
140.000
Orang, yang mendaftar ulang hanya 80.000
Orang;
hal tersebut menunjukkan penurunan yang berarti.
Di lain pihak pemerintah mendirikan Universitas
Terbuka untuk memberikan dan
memperluas kesem
patan belajar di perguruan tinggi.
b. Berdasarkan dokumen yang ada hasil belajar maha
siswa di bawah standar, di lain pihak sebenarnya
mahasiswa telah banyak diberikan kemudahan dalam
secara mandiri, kelompok, dan tutorial
ataupun
dengan mendengarkan-menyaksikan
program
audio
visual.
c. Universitas Terbuka memberikan kesempatan kepada
setiap mahasiswa
untuk
mengikuti tutorial yang
diadakan dua kali dalam setiap semester, rnamun
hanya sebagian kecil mahasiswa yang dapat hadir;
bahkan ada kecenderungan semakin menurun.
d. Jika dilihat dari data sebagian besar
mahasiswa
Universitas Terbuka berusia di atas 30 tahun,
dan sudah bekerja baik di sektor formal
maupun
non-formal; selain itu pula mereka sebagian -be
sar telah berkeluarga. Sementara itu mereka mem
punyai status sebagai mahasiswa Universitas Ter
buka yang dituntut untuk dapat belajar
secara
kontinyu, rajin, disiplin dan memerlukan
kesung-guhan.
Berdasarkan permasalahan tersebut
di atas
merupakan kendala yang dihadapi Universitas Terbuka
yang cukup berat, dan memerlukan telaahan yang
me-nyeluruh dan terpadu agar dapat menggambarkan
kea-daan yang sebenarnya hingga kendala-kendala terse
but dapat teratasi secara baik.
Maka banyak
aspek
yang ingin peneliti kaji secara mendalam, berhubung
keterbatasan waktu, biaya dan sebagainya; untuk se
2.. Kelompok Belajar Mahasiswa Universitas Terbuka
Salah satu kegiatan belajar mahasiswa Uni
-versitas Terbuka adalah melalui kelompok belajar,
melalui kelompok belajar diharapkan mahasiswa
da
pat meningkatkan penguasaan bahan perkuliahan
dan
hasil belajar yang memuaskan. Secara umum kelompok
belajar seringkali
diartikan sebagai kumpulan
be-berapa orang yang memiliki
norma dan tujuan
ter-tentu, memiliki ikatan batiniah antara satu dengan
yang lainnya, dan memiliki unsur kepemimpinan.
Adapun yang dimaksud dengan kelompok belajar
mahasiswa Universitas Terbuka adalah kumpulan ma
hasiswa yang berjumlah antara lima sampai dua puluh
orang yang belajar bersama untuk memecahkan :
kesu-litan-kesulitan yang dihadapi dalam memahami -"
isi
materi pelajaran, khususnya isi materi modul, agar
dapat mencapai hasil yang optimal dalam studi atau
ujian semester. Pembentukan kelompok belajar
pada
prinsipnya dilakukan olen^mahasiswa itu sendiri,
dengan mempertimbangkan kesamaan program studi yang
diikuti, kesamaan semester yang ditempuh,
kesamaan
k
Kelompok belajar dipimpin oleh seorang ketua dan
sekretaris yang dipilih atau ditunjuk oleh anggo
ta kelompok belajar tersebut.
Pimpinan kelompok berfungsi sebagai
orga-nisator dan sekaligus sebagai dinamisator bagi
keseluruhan anggota tersebut. Anggota lain dapat
pula difungsikan secara bergilir menjadi pimpinan
setiap pertemuan yang telah dijadwalkan.
Penugas-an pimpinPenugas-an pertemuPenugas-an belajar kelompok sebaiknya
disesuaikan dengan tingkat kemampuan penguasaan
atas materi perkuliahan atau bidang studi yang
kan dijadikan topik bahasan. Penetapan hal ini
a-kan lebih produktif jika setiap anggota kelompok
menawarkan diri ketimbang hanya mengandalkan
di-ri untuk ditunjuk oleh anggota yang lain.
Kelompok belajar dibentuk atas inisiatif
mahasiswa dengan dorongan dari Unit Pusat Belajar
Jarak Jauh (UP-BJJ), setelah itu kelompok belajar
menyusun perencanaan penjadwalan kegiatan.
Dian-taranya, menetapkan hari dan jam tertentu 'dimana
setiap anggota kelompok untuk menghadirinya.
Pe-nyusunan jadwal merupakan kegiatan yang periodik,
apakah seminggu sekali, sebulan sekali • ata-ukah
sebulan dua kali; dan setiap pertemuan ditetapkan
lamanya. Setiap pertemuan kelompok terlebih
akan dipelajari bersama, agar setiap anggota su
dah membawa bekal untuk bahan belajar.
Setiap kelompok belajar mempunyai
keingin-an agar kelompoknya berhasil sesuai dengkeingin-an
tuju-annya, karena itu setiap anggota kelompok
ditun-tut untuk : menyiapkan diri sebelum belajar ke
lompok dimulai, berusaha untuk disiplin,
berini-siatif dan berpartisipasi aktif, mau menerima
atau memberi ide-saran dan penjelasan yang baik,
mengikuti masalah atau materi yang dipelajari dan
mau menerima hasil keputusan bersama.
Agar kelompok belajar itu efektif dan pro
duktif hendaknya tujuan kelompok dirinci • -arecara
jelas, tumbuhkan suasana kekeluargaan yang hangat
dan menyenangkan, mempunyai anggapan belajar
ke
lompok sebagai titik tolak, setiap anggota berpar
tisipasi aktif, tenggang rasa dan saling membantu,
mengadakan evaluasi terhadap proses dan hasil
ker-ja kelompok, setiap anggota memenuhi
atau
mema-tuhi norma kelompok.
Efektif tidaknya suatu kelompok belajar ba
nyak tergantung dari kualitas dan kebersamaan ang
gota. Begitu pula produktif tidaknya
suatu kelom
pok belajar
banyak dipengaruhi oleh kemampuan
di-lihat dari persiapan, proses dan kedisiplinan. As—•
pek tersebut amat penting dan sangat mempengaruhi
terhadap baik tidaknya suatu kelompok belajar bagi
mahasiswa Universitas Terbuka.
Konsekuensi penerapan sistem belajar pada
mahasiswa Universitas Terbuka harus dapat
mengem-bangkan sikap belajar yang mandiri. Belajar
mandi-ri adalah belajar tanpa ketergantungan kepada
ada-nya pengajar secara tatap muka, mahasiswa belajar
dengan menggunakan bahan-bahan belajar yang
terse-dia,
dan berinisiatif dalam memecahkan
persoalan-persoalan yang dihadapi baik secara
r individual
maupun secara kelompok dengan
mahasiswa-mahasiswa
lainnya.
Namun sikap belajar mandiri masih merupakan
hal baru bagi sebagian besar mahasiswa Universitas
Terbuka. Karenanya, diperlukan tempat pengembangan
belajar yang intensif, terarah, terencana - untuk
menunjang keberhasilan studi para mahasiswa secara
optimal; yaitu dengan belajar kelompok.
Pembentuk-an kelompok belajar antara lain bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi, efektivitas dan
produktivi-tas
proses belajar, menciptakan wahana komunikasi
di antara • mahasiswa, dapat menumbuhkan
dan
me-ngembangkan motivasi belajar di antara sesama
ma
3. Kegiatan Bela.iar Kelompok di Lapangan
Mahasiswa dalam mengadakan kegiatan
belajar
kelompok terlebih dahulu dituntut untuk
mempunyai
tujuan, program dan sasaran. Tujuan merupakan
lang-kah awal untuk tercapainya kebersamaan belajar
ke
lompok, karena tanpa adanya tujuan akan lebih -ba
nyak kendala yang dialami. Begitu pula program
dan
sasaran dalam setiap kelompok terlebih dahulu
diru-muskan secara matang yang merupakan
persetujuan
bersama di antara anggota kelompok. Jika anggota
kelompok belajar mampu menyusun dan merumuskan tu
juan, program dan sasaran, maka belajar
kelompok
akan lebih terencana dan terarah serta ada
kejelas-an bagi semua kejelas-anggota.
Tujuan, program dan sasaran merupakan hal
yang utama bagi kepentingan belajar kelompok.
Dengan adanya program yang telah tersusun __ secara
sistimatis anggota akan lebih mudah mengadakan
per-siapan-persiapan untuk keperluan belajar kelompok,
di antaranya mempersiapkan diri dalam penguasaan
bahan modul secara mandiri dan mencatat permasalahan
yang akan diajukan dalam belajar kelompok. Hal ter
sebut merupakan tuntutan bagi anggota untuk meng
8
Setiap anggota belajar kelompok dituntut un
tuk dapat menyusun jadwal kegiatan belajar
harian,
mingguan, dan bulanan secara teratur, tekun, jujur
yang merupakan syarat bagi keberhasilan belajarnya.
Kejujuran terutama diharapkan dari mahasiswa dalam
melakukan penilaian terhadap kemampuan belajar yang
dilakukan sendiri atau secara kelompok.
Beberapa faktor kesulitan yang dihadapi ma
hasiswa dalam mengadakan persiapan untuk belajar
kelompok amat kompleks, di antaranya kebiasaan bel
ajar, kepatuhan belajar dengan sistem modul dan
konsentrasi belajar.
Mahasiswa dalam menyelenggarakan
:kegiatan
belajar membutuhkan sarana dan prasarana yang
mema-dai dan layak untuk suatu kegiatan belajar kelompok,
karena itu kelompok belajar harus dapat memilih
tempat belajar yang baik, nyaman dan mendukung ter
hadap tingkat keberhasilan proses belajar kelompok;
begitu pula fasilitas lainnya seperti alat-alat
belajar.
Setiap kelompok belajar dalam mengadakan ke
giatan proses kelompok menggunakan berbagai
pendek-atan sistem belajar yang berbeda-beda, hal ini
se-suai dengan keinginan, kebiasaan dan kesepakatan
kelompok ada beberapa faktor yang perlu
diperhati-kan, di antaranya produktivitas penguasaan
bahan
atau materi modul, aktivitas anggota, kedisiplinan
anggota dan waktu yang dipergunakan serta
bahan
pengayaan selain modul.
Tingkat kedisiplinan setiap anggota kelom
pok belajar mahasiswa amat diperlukan, karena baik
tidaknya
suatu belajar kelompok dapat dipengaruhi
pula oleh faktor kedisiplinan. Di antara
faktor
kedisiplinan mahasiswa
dapat dilihat dari tingkat
kehadiran, kepatuhan terhadap waktu belajar,
rasa
tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan
dan
patuh terhadap tata tertib yang telah
disepakati
bersama.
Baik tidaknya belajar kelompok banyak dipe
ngaruhi pula oleh tingkat hubungan antara
ketua
dan anggota, anggota dengan anggota, inisiatif dan
kreatiyitas ketua dan anggota. Selain itu
dapat
pula dilihat dari upaya mempertahankan keberadaan
kelompok belajar, mengadakan evaluasi program yang
telah disusun dan direncanakan dengan yang dapat
dilaksanakan, mengkaji faktor kesetabilan anggota,
mengkaji tingkat partisipasi anggota,
ketergantung-an dketergantung-an kepuasaaketergantung-an ketergantung-anggota, serta
mengkaji
hasil
10
B. Analisis dan Perumusan Masalah
Mengingat latar belakang masalah tersebut di
atas yang amat kompleks, namun cukup menaruh perhatian
untuk diadakan penelitian terutama yang berkaitan de
ngan efektivitas kegiatan belajar mahasiswa Universi
tas Terbuka melalui belajar kelompok.
Adapun dalam penelitian ini yang dijadikan
fo-kus masalah adalah "Hingga manakah pelaksanaan kegiat
an mahasiswa Universitas Terbuka melalui belajar ke
lompok .?.
Masalah tersebut masih bersifat umum, karena
itu diperlukan rumusan dan analisis yang lebih jelas
dan mendalam serta terperinci sebagai berikut :
1. Masalah mengenai, bagaimanakah persiapan-persiapan
yang dilakukan mahasiswa untuk kegiatan belajar ke
lompok ?
a. Apakah kelompok belajar itu mempunyai tujuan
program dan target sebagai bahan persiapan dalam
proses belajar kelompok ?
b. Bagaimana kegiatan belajar mahasiswa secara man
diri sebagai persiapan dalam kegiatan belajar
kelompok ?
c. Bagaimana faktor fasilitas untuk kegiatan belajar
kelompok ?
11
untuk mengadakan kegiatan belajar kelompok ?
2. Masalah mengenai, bagaimanakah kegiatan
mahasiswa
Universitas Terbuka dalam proses belajar kelompok ?
a. Metode pendekatan apakah yang digunakan
dalam
kegiatan belajar kelompok ?
b. Bagaimana penguasaan mahasiswa terhadap
modul
dalam kegiatan proses belajar kelompok ?
c. Bagaimanakah efisiensi, efektivitas dan'
produk-tivitas kegiatan belajar kelompok mahasiswa
Universitas Terbuka ?
d. Bagaimanakah kreativitas dan kesungguhan
maha
siswa dalam kegiatan belajar kelompok ?
e. Bagaimanakah penggunaan buku sumber
dalam kegi
atan belajar kelompok ?
f. Faktor-faktor kesulitan apa yang dialami - maha
siswa dalam mengadakan kegiatan proses belajar
kelompok ?
3. Masalah mengenai, bagaimanakah kedisiplinan
maha
siswa dalam kegiatan belajar kelompok ?
a. Apa yang dilakukan anggota kelompok untuk
newu-judkan kedisiplinan belajar kelompok ?
b. Hingga manakah ketercapaian
disiplin
kelompok
baik dalam keterikatan kelompok maupun dalam ke
giatan proses belajar kelompok ?
c. Adakah faktor-faktor kedisiplinan dan ketidak
ke-12
kelompok ?
k.
Bagaimanakah hasil belajar anggota
kelompok
jika
dilihat dari indeks prestasi kumulatif ?
C. Tu.iuan Penelitian
Adapun tujuan penelitiannya adalah sebagai
be-rikut :
1. Untuk memperoleh data, fakta dan informasi yang
me-nunjukkan
kegiatan mahasiswa
dalam
mengadakan
persiapan untuk melakukan belajar kelompok.
2. Untuk memperoleh data, fakta dan informasi
yang
menunjukkan kegiatan proses belajar kelompok •maha
siswa.
3. Untuk memperoleh data, fakta dan informasi yang
me-menunjukkan tingkat kedisiplinan mahasiswa
dalam
kegiatan belajar kelompok, baik dilihat dari
keter-ikatan kelompok maupun pada saat kegiatan
proses
belajar kelompok.
if. Untuk memperoleh data, fakta dan informasi yang me
nunjukkan tingkat hasil belajar anggota
kelompok
dilihat dari indeks prestasi kumulatif.
5. Untuk memperoleh informasi tentang
faktor-faktor
kesulitan
mahasiswa dalam belajar kelompok.
6. Untuk mengkaji berbagai permasalahan yang dihadapi
13
D. Kegunaan Hasil Penelitian
Apabila tujuan-tujuan di atas dapat dicapai ma
ka hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
ma-sukan bagi para pengambil keputusan untuk membina
dan
mengembangkan belajar kelompok. Rekomendasi hasil pene
litian ini dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam
me-nyusun dan mengembangkan kegiatan belajar kelompok
ma
hasiswa Universitas Terbuka yang lebih efektif, efesien
dan produktif; yang dapat memenuhi tuntutan
kurikulum
yang fungsional dan layak.
Secara operasional hasil penelitian
ini ->dapat
digunakan sebagai berikut :
1. Melalui penemuan lapangan tentang berbagai
masalah
yang dihadapi mahasiswa, khususnya yang
berkaitan
erat dengan kegiatan belajar kelompok mahasiswa Uni
versitas Terbuka; dapat dijadikan bahan pertimbangan
dalam mengambil langkah-langkah perbaikan
sebagai-mana mestinya.
2. Sebagai gambaran keberadaan yang sebenarnya
tentang
kegiatan mahasiswa Universitas Terbuka dalam belajar
kelompok di lapangan, hal ini dapat digunakan
seba
gai bahan masukan bagi tim evaluator kurikulum
Uni
versitas Terbuka.
3. Bagi pengembang kurikulum penelitian ini
merupakan
umpan balik, dilihat dari relevansi materi,
Ik
kegiatan mahasiswa di lapangan khususnya dalam ke
giatan belajar kelompok. Karena itu
data,
fakta
dan informasi hasil penelitian ini dapat digunakan
dan dijadikan dasar dalam melakukan perbaikan
dan
pengembangan; baik secara keseluruhan maupun seba
gian
atau komponen tertentu
dari kurikulum
yang
dikembangkan oleh Universitas Terbuka
1±.
Bagi para pengambil keputusan, dapat digunakan se
bagai dasar untuk menentukan arah
kebijaksanaan
dalam meningkatkan efektivitas, efesiensi dan
pro-duktivitas implementasi kurikulum yang berlaku ba
gi mahasiswa Universitas Terbuka, khususnya
yang
berkaitan dengan sistem belajar mahasiswa.
5. Bagi mahasiswa hasil penelitian ini dapat dijadikan
masukan, khususnya mahasiswa yang mengikuti belajar
kelompok untuk mengadakan langkah-langkah perbaik
an dalam rangka meningkatkan efesiensi, efektivitas
dan produktivitas belajar kelompok.
Penelitian ini diharapkan dapat mendetekdi
kon-disi lapangan yang sebenarnya sehingga dapat
mengung-kapkan berbagai masalah secara objektif dan sesuai de
ngan fokus penelitian. Selain itu diharapkan pula
me-lahirkan masalah-masalah baru yang merupakan lanjutan
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
A. Sampel Penelitian
Fokus penelitian yang dijadikan sasaran dalam hal
ini adalah hingga manakah aktivitas mahasiswa Universi
tas Terbuka dalam proses belajar kelompok,yang meliputi
penguasaan materi yang
terdapat dalam modul,
dan
ke
disiplinan anggota belajar kelompok.
Fokus penelitian di atas amat
berkaitan
dengan
kondisi sebenarnya
di lapangan, terutama dalam
proses
belajar kelompok yang dilakukan oleh Mahasiswa Univer
sitas Terbuka dalam rangka penguasaan materi
perkuliah-an dperkuliah-an sistem belajar modul,yperkuliah-ang sudah diprogramkperkuliah-an dperkuliah-an
disediakan sebelumnya.
Peneliti mencoba mengadakan berbagai
pengamatan
pencarian data-data yang akurat,serta mengadakan
wawan-Eara dengan informan yang terlibat langsung hingga mem
peroleh fokus penelitian yang merupakan
suatu
proses
yang amat panjang, .Joerliku-iiku, rumit, serta
berbagai
kendala. Namun dengan penuh ketabahan, kesabaran,
se-mangat yang tinggi, serta keingintahuan yang kuat,
pe
neliti akhirnya mendapatkan informasi yang baik dan
be-nar berdasarkan observasi langsung di lapangan.
Ruang lingkup yang menjadi fokus dalam .kelompok
belajar melibatkan berbagai komponen, seperti anggota
28
kelompok belajar, pimpinan kelompok belajar, modul,
ru-angan, dan fasilitas lainnya. Sedangkan fokus materi
kajiannya adalah sistem belajar imodul .dalam belajar
kelompok, penguasaan materi modul, kedisiplinan .,.„ dan
Persiapan
kelompok. Komponen dan
materi
tersebut
menjadi fokus pengamatan dan pengkajian yang .merupakan
satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Objek penelitian yang diorientasikan pada .'maha
siswa yang melaksanakan belajar kelompok dengan
"pende-katan proses dalam rangka penguasaan mata kuliah
yang
tertuang dalam modul. Penelitian ini bersifat ?, studi
kasus:.: karena itu dalam proses pengambilan sampel ?ter
lebih dahulu diadakan observasi pengamatan secara terus
menerus. Kemudian diadakan wawancara dengan mengajukan
pertanyaan yang sama dengan yang diamati secara .men
dalam (triangulasi). Peneliti mencoba mengarahkan ruang
lingkup pengamatan dan wawancara pada fokus penelitian.
Untuk itu berakhirnya pengambilan sampel setelah fokus
penelitian terpenuhi, apa yang dikehendaki dan
-^disesu-aikan dengan waktu serta biaya yang tersedia pada pene
liti, namun peneliti berupaya dalam pengambilan sampel
benar-benar terfokus pada kajian penelitian. Easilnya
terpilih empat kelompok belajar yang berada di Bandung.
B. Tahap-tahan Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini diadakan empat
29
tinjauan secara umum, tahap pemusatan penelitian ,
dan
tahap pengujian laporan sementara.
Adapun penjelasan tahap-tahap penelitian adalah sebagai
berikut :
1. Tahap Perencanaan.
Pada tahap ini peneliti mengadakan identifikasi
je^
nis permasalahan yang diteliti dan kemudian
dikon-sultasikan agar didapat persetujuan atau perbaikan
fokus penelitian. Pada tahap ini pula disusun disain
penelitian.
2. Tahap Orientasi dan Tinjauan Umum .
Terlebih dahulu peneliti mengadakan -temu wicara
dengan informan awal dan memberikan penjelasan
yang
berkaitan dengan fokus penelitian dan dilanjutkan
dengan wawancara dengan informan tersebut. Hal ini
penting dilakukan guna mendapatkan informasi
yang
lebih lengkap
mengenai
lingkungan yang akan
dija
dikan objek penelitian; agar peneliti tidak banyak
mengalami kesulitan.
3. Tahap Pemusatan Penelitian .
Setelah peneliti mendapatkan masukan dari '"tahap
orientasi, dan terdapat hal-hal yang menonjol dalam
tahap tersebut maka dilakukan penelitian lebih men
dalam dan hal ini
sangat menunjang tujuan peneliti
an, terutama dalam pengkajian fokus penelitian.
30
Pada tahan ini hasil penelitian yang telah dirangkum
diujikan kembali kepada partisipan untuk mendapatkan
komentar dan perbaikan jika ada."Pada tahap ini pula
partisipan ditanya mengenai hal-hal yang lebih
men-detail bahkan sering pula diamati lagi agar dipero
leh data yang lebih lengkap dan mendalam.
5. Metode Penelitian.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode
des-kriptif. Metode deskriptif tidak terbatas hanya sam
pai pada pengumpulan data, tetapi meliputi analisis
dan interpretasi tentang arti data itu. Metode ini
memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang
ada pada masa sekarang, dan masalah-masalah yang
akr-tual . Maksud penelitian deskriptif adalah : "To
describe systematically or area of interest,factual
ly and accurately ".(Stephen Issac,1982:46) .
C. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan
ialah :
1. Teknik Obsevasi.
Pengamatan dilakukan secara langsung terhadap objek
penelitian. Dengan mengadakan observasi dapat kita
peroleh suatu gambaran yang lebih jelas tentang
ke-hidupan sosial, yang sukar diperoleh dengan metode
31
2. Teknik Komunikasi Langsung (Wawancara).
Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komu
nikasi untuk mendapatkan informasi dengan cara
ber-tanya secara langsung. Dalam hal ini peneliti
me-nyampaikan pertanyaan kepada informan , merangsang
untuk menjawabnyajmengg-ali jawaban lebih jauh dan
mencatatnya. Adapun yang dijadikan informan dalam
wawancara ini adalah anggota kelompok belajar dan
ketua kelompok belajar.
3. Teknik Studi Dokumentasi.
Melalui dokumentasi ini dapat diperoleh data
'.tertu-lis tentang objek yang diteliti secara akurat. Doku
men sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk
me-nguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. ( Lexy
Moleong 1989:177).
Setelah data terkumpul peneliti mengadakan anali
sis data yang didukung oleh studi kepustakaan, teknik
ini digunakan untuk memperoleh landasan teori yang
ber-hubungan dengan pokok permasalahan yang dibahas , dan
sebagai bahan bandingan utama dengan kondisi sebenarnya
di lapangan.
Pada saat peneliti sudah dapat mengumpulkan data
lengkap dan teori pendukung sudah dianggap memadai,maka
pembahasan selanjutnya dilakukan secara kualitatif ber
dasarkan studi kasus pada kelompok belajar mahasiswa
32
Untuk lebih jelasnya kami uraikan ciri-ciri pe
nelitian kualitatif,sebagai berikut:
1. Penelitian kualitatif memiliki natural setting seba
gai sumber data langsung dan peneliti itu sendiri
merupakan instrumen inti.
2. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif.
3. Penelitiannya lebih menekankan pada proses ketimbang
hasil atau produknya.
if. Peneliti lebih cenderung untuk menganalisis data se
cara induktif.
5. Pendekatan kualitatif sangat mengutamakan "meaning"."
(Bogdan dan Biklen,1982:27-30).
Semua peneliti dengan menggunakan pendekatan ku
alitatif khususnya tidak mungkin sama sekali dapat
menghilangkan bias pribadi terhadap objek penelitiannya
dan juga sulit untuk memperoleh persesuaian yang
sem-purna antara apa yang ingin dipelajari
t the
natural
setting) dengan apa yang dipelajari sesungguhnya atau
setting yang disajikan peneliti. (Bogdan dan Biklen,
19-82 : 43).
Untuk menghindari bias pribadi yang berlebihan
pada kesempatan ini peneliti membuat tcatatan secara
sistematis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami
dipikirkan, dan pengumpulan informasi lapangan lainnya.
Agar benar-benar dapat diperoleh data
secara
lengkap
33
selanjutnya yang lebih mendetail dan lengkap.
Agar penelitian ini mantap, maka diperlukan
di-sain atau rancangan sebagai panduan di
lapangan,meski-pun pada saat di lapangan sering kali menjadi berkem
bang,karena itu disain penelitian yang disusun
bersi-fat "emergent" atau tampil, timbul sewaktu melakukan
-nya, oleh karena itu rancangannyapun dituntut untuk
bersifat lebih fleksibel agar penelitian di lapangan
lebih leluasa dan memudahkan bagi peneliti.
Penelitian ini menggunakan pendekatan analytic
induction (induksi analitik), baik dalam
pengumpulan
data maupun menganalisisnya, dan peneliti mengembang
kan teori-teori yang relevan dan mengujinya. Prosedur
induksi analitik sering digunakan jika fokus peneliti
annya meliputi masalah, pertanyaan, atau isyu-isyu
ke-jadian yang terjadi dalam lingkungan penelitian yang
spesifik. Adapun teknik pengumpulan datanya dilakukan
melalui wawancara secara terbuka (open-ended), parti
cipant observation, dan analisis dokumen. Menurut
Bogdan, penelitian semacam ini dinamakan observational
case studies. (1982 :60) .
Observasi dilakukan secara partisipatif terhadap
proses belajar kelompok yang dilaksanakan oleh Maha
siswa Universitas Terbuka dengan fokus kajian
aktivit-as anggota kelompok belajar, fasilitas yang digunakan
34
dengan fokus kajian yang bertautan dengan penguasaan
bahan perkuliahan dan kondisi disiplin mahasiswa dalam
belajar,serta kepemimpinan kelompok belajar. Selain itu
diadakan juga wawancara secara terbuka kepada para ke
tua kelompok belajar dan anggota, .' hal. ini dilakukan
dengan maksud untuk menutupi kemungkinan timbulnya bi
as pribadi. Observasi dan wawancara di lapangan rasanya
cukup melelahkan bagi peneliti, karena memakan waktu
yang cukup lama, peneliti berada di lapangan sekitar
tujuh bulan dan hampir tiap minggu terjun ke lapangan
mengadakan pengamatan dan wawancara.
D. Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah suatu titik tolak pemikiran
yang digunakan sebagai dasar penelitian, adapun sebagai
anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai
ber-ikut:
1. Kelompok belajar bagi mahasiswa Universitas Terbuka
merupakan salah satu sarana kegiatan proses belajar
yang amat menentukan terhadap keberhasilan belajar
terutama dalam penguasaan modul perkuliahan.
2. Melalui kelompok belajar mahasiswa Universitas ter
buka akan menemukan dan mengembangkan konrsep dan
fakta-fakta yang terdapat dalam modul perkuliahan.
3. Pembentukkan kelompok belajar bertujuan untuk me
35
menciptakan wahana komunikasi diantara mahasiswa
dalam proses belajarnya, dapat menumbuhkan dan me
ngembangkan motivasi belajar diantara sesama maha
siswa dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
E. Instrumen Pemgumpul Data
Sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini
adalah peneliti sendiri, tidak ada anggota -lain yang
terlibat secara langsung. Hal ini sesuai dengan
pen-dapat yang dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen ( 1982 :
43) agar observasi dilakukan oleh peneliti, dengan
mak-sud supaya tidak ada penafsiran lain dari orang ketiga.
Peneliti kualitatif harus berusaha untuk membangkitkan
kepercayaan responden, agar terjalin kerja sama dan
hu-bungan yang.wajar ; tidak menonjolkan diri, tidak
me-nakut-nakutij tidak saling memihak, serta tidak saling
berpengaruh; karena dengan tumbuhnya saling mempercayai
akan menimbulkan keterbukaan terutama dari informan.
Sebenarnya penelitian kualitatif yang saya
laku-kan ini merupalaku-kan pengalaman pertama, dan teori •— teori
atau prosedur yang sebenarnyapun baru didapat pada saat
mengikuti perkuliahan dan beberapa literatur yang baru
saja beredar di Fakultas Pasca Sarjana khususnya IKIP
Bandung. Karena itu banyak hambatan dan kesulitan bagi
saya baik pada saat berada di lapangan maupun dalam
36
yang bulat untuk dapat segera menyelesaikan penelitian
ini, maka hambatan demi hambatan dapat teratasi
meski-pun masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam penyusunan
penelitian ini.
Sebetulnya ada beberapa faktor yang menjadi
mo-tivasi bagi saya dalam mengadakan penelitian kualitatif
ini hal mana peneliti sebagai alat pengumpul data,yakni
1. Agar didapat pengalaman baru yang lebih bermakna ba
gi peneliti, hingga mendapat wawasan yang lebih luas
dan dapat mengembangkan diri khususnya dalam
peneli-an kualitatif.
2. Agar dapat meningkatkan kejelian yang mendalam dalam
mengkaji berbagai permasalahan yang dihadapi secara
tajam, akurat, cepat, dan tepat ; karena itu bagi
peneliti merupakan latihan berpikir.
Selain itu ada beberapa instrumen berupa pedoman
observasi dan wawancara yang merupakan pedoman dalam
mengamati dan mewawancarai langsung.
Semua instrumen tersebut oleh peneliti
dipergu-nakan sebagai pegangan untuk mengadakan pengamatan se
cara langsung terhadap objek penelitian, agar proses
pengamatan dapat terekam sesuai dengan fokus kajian.
F. Pengumpulan Dat^ dan Analisis Data
Dalam pengumpulan data ini peneliti
3?
1. Langkah Persiapan.
a. Pada tahap pertama ini terlebih dahulu peneliti
menghubungi UP-BJJ-UT Bandung untuk meminta in
formasi kelompok belajar mahasiswa yang berkaitan
dengan aktivitasnya dan memfoto copy data - data
kelompok belajar.
b. Setelah data didapat mencoba mengadakan
.survey
ke lapangan yaitu ke beberapa
kelompok
belajar
sebagai langkah penjajagan yang sebenarnya.
c. Peneliti memperbaiki disain penelitian dan
diaju-kan pada pembimbing, setelah disetujui mengajudiaju-kan
surat permohonan penelitian kepada RektorV IKIP
Bandung, melalui Dekan FPS IKIP Bandung.
Dengan
surat pengantar dari Rektor keluarlah :ijin
dari
Direktorat Sosial Politik Propinsi Jawa Barat
untuk mengadakan penelitian pada lingkungan
ke
lompok belajar mahasiswa Universitas Terbuka yang
berada di wilayah kotamadya Bandung.
d.fSelompok belajar yang dikunjungi ada empat kelom
pok, untuk lengkah pertama pertemuan peneliti me
ngadakan pembicaraan yang santai dan memberikan
penjelasan tentang maksud dan tujuan peneliti.
Ketua kelompok belajar memberikan jadwal kegiatan
belajar kelompok yang sudah disusun sebelumnya.
Setelah peneliti mendapat penjelasan dari ketua
38
menyusun jadwal kegiatan untuk
kelapangan.Penyusun-an jadwal secara hati-hati agar tidak bentrok dan
semua kelompok dapat termonitor atau teramati; Se
lain itu peneliti mempersiapkan instrumen.
2. Langkah Pengumpulan Data.
a. Menghubungi ketua kelompok belajar untuk meng
-adakan wawancara sesuai dengan objek penelitian,
wawancara diadakan secara terbuka dan dalam kon
disi yang santai, penuh humor, dan kekeluargaan.
b. Mengadakan studi dokumentasi sambil membuat ca
tatan sekitar data yang diperlukan yang dianggap
relevan dengan permasalahan.
c. Peneliti berada di lapangan lebih kurang tujuh
bulan, karena kegiatan kelompok belajar diadakan
satu minggu satu kali.
d. Setelah data terkumpul secara terus menerus, pe
neliti kemudian mengadakan pengolahan data dan
analisis data secara kualitatif dengan dukungan
berbagai konsep teori sebagai hasil kajian
ke-pustakaan ; maka hasil penelitian ini lebih
ber-makna khususnya bagi peneliti.
3. Langkah Pengolahan dan Analisis Data.
a. Memeriksa catatan dokumen, observasi dan 'hasil
wawancara di lapangan.
39
c. Membuat deskripsi dari catatan lapangan.
d. Menyusun data sesuai dengan permasalahan dan tu
juan penelitian
e. Mengamati kembali seluruh data
yang telah
disu-sun secara cermat hingga tampak kejelasaanya.
f. Akhirnya disusun suatu deskripsi yang dapat
meng-gambarkan suatu keadaan yang sebenarnya
tentang
kegiatan belajar kelompok mahasiswa
Universitas
Terbuka
Prosedur penelitian tersebut di atas
peneliti
laporkan agar tidak salah pengertian baik untuk
pene
liti sendiri maupun pembaca, khususnya yang
berhubung-an dengberhubung-an pendekatberhubung-an penelitiberhubung-an kualitatif yberhubung-ang digu
nakan oleh peneliti. Selain itu pula sebagai petunjuk
atau pedoman bagi peneliti agar penelitian ini
tidak
[image:31.595.116.515.54.574.2]BAB V
PENEMUAN DAN DISKUSI
Dari hasil analisis data yang dikemukakan dalam
Bab IV tampak belajar kelompok mempunyai tujuan, pro
gram dan target yang jelas. Mahasiswa terlebih dahulu
merumuskan program kerja kelompok yang berkaitan dengan
jadwal kegiatan, materi kegiatan, petugas yang memimpin
belajar dan modul yang akan dibahas. Adapun tujuan bel
ajar kelompok adalah sebagai tempat belajar, - mencari
informasi, mencari teman bergaul dan untuk menumbuhkan
motivasi.
Dalam mengikuti belajar kelompok mahasiswa di
tuntut untuk mengadakan persiapan individual khususnya
dalam penguasaan bahan atau materi modul yang sudah di
tentukan terlebih dahulu, akan tetapi kenyataannya pe
nguasaan mahasiswa terhadap materi yang akan dibahas
rendah; hal ini lebih tampak pada saat . berlangsungnya
proses belajar kelompok.
Banyak hambatan yang dialami mahasiswa dalam
belajar modul secara mandiri, banyak waktu yang tersita
oleh kegiatan rutin seperti pekerjaan di kantor, kelu
arga dan kegiatan lain yang sifatnya tidak tetap.
Ak-tivitas tersebut banyak menyita waktu dan sedikit waktu
untuk belajar sungguh-sungguh, karena sudah terkuras
115
oleh kegiatan lain yang melelahkan dan dapat pula me
nimbulkan kemalasan untuk belajar secara mandiri.
Mahasiswa dalam membahas modul secara mandiri
masih rendah, mereka belajar modul tidak tuntas, tidak
sesuai dengan pola atau petunjuk belajar melalui mo
dul yang sebenarnya. Mereka belajar hanya sepintas de
ngan cara melihat dan membaca uraian dan contoh, dan
itupun banyak dilewati dan hanya sekali-kali melihat
latihan, rangkuman dan test formatif. Sedangkan dalam
belajar kelompok mahasiswa harus mempersiapkan diri
terlebih dahulu untuk memahami modul sebagai bahan
diskusi atau pemecahan masalah, agar belajar kelompok
berjalan dengan baik.
Selanjutnya yang berhubungan dengan fasilitas
tempat belajar kurang mendukung terhadap kegiatan bel
ajar kelompok, dimana tempat lingkungan belajar berada
di daerah berpenduduk padat. Begitu pula ruangan tem
pat belajar telalu sempit, kurang segar dan bahkan te
rasa pengap. Di lain pihak untuk kegiatan belajar ke
lompok dibutuhkan berbagai fasilitas yang dapat mendu
kung kenyamanan, kesegaran, keseimbangan ruangan de
ngan banyaknya anggota kelompok.
Proses belajar kelompok berlangsung dengan
meng-gunakan pendekatan pemecahan masalah,
semua
anggota
peng-116
ajuan masalah diajukan baik oleh anggota maupun pim
pinan belajar yang untuk selanjutnya dibahas bersama
-sama. Penggunaan pendekatan masalah ini sering ter
paku
pada salah satu masalah, hingga banyak
mengha-biskan waktu dan banyak materi yang terlewat
untuk
dibahas.
Pada saat proses belajar kelompok berlangsung
sering tidak ada yang mengajukan
masalah,
hingga
belajar kelompok tersendat-sendat. Sebagai jalan
ke-luarnya pimpinan belajar kelompok mengajak
kepada
semua anggota yang hadir untuk membaca bersama-sama,
setelah itu baru ada yang mengajukan permasalahan.
Dengan demikian hal tersebut menunjukkan .
kekurang
siapan anggota untuk belajar kelompok.
Modul yang dibahas dalam belajar kelompok se
ring tidak sampai pada target yang sudah
ditentukan
paling tidak hanya sekitar dua atau tiga modul
yang
terbahas, ini pun banyak materi kegiatan
yang tidak
sempat terbahas atau hanya sekilas. Sedangkan
menu
rut target sebenarnya harus sampai lima modul, begi
tu pula jika dilihat dari tingkatan kedalaman materi
masih dangkal, karena tidak terbahas secara menyelu
ruh. Dengan demikian tingkat kedalaman bahasan masih
jauh dari yang diharapkan.
117
digunakan dalam proses belajar kelompok, akan
tetapi
jarang sekali mahasiswa dalam setiap pembahasan modul
mengambil suatu kesimpulan. Begitu pula yang berkait
an dengan materi yang dianggap penting jarang
sekali
dicatat dalam buku catatan khusus, meskipun sebagian
besar mereka mempunyainya. Mahasiswa dalam proses
belajar hampir tidak pernah menggunakan buku
sumber
lain sebagai pengayaan, mereka lebih menitik-beratkan
pada modul.
Pembahasan modul tidak sistematis atau
ter-struktur seperti yang dianjurkan dalam pola atau sis
tem belajar dengan menggunakan modul, pembahasan
ber-orientasi pada uraian materi. Sedangkan menurut teori
belajar modul harus bertahap untuk mencapai
belajar
tuntas.
Sebagian besar mahasiswa terganggu konsentrasi
belajar jika ada
teman atau anggota yang datang ter
lambat pada saat proses belajar kelompok berlangsung.
Begitu pula menjelang habis waktu belajar -- kelompok
yang sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan membu
at mahasiswa kurang konsentrasi, bahkan membuat
situ-asi belajar terganggu. Hal ini dikarenakan
sebagian
besar anggota sudah mulai melakukan
^aktivitas
lain
seperti belajar sambil mencicipi makanan yang
san-118
tai bersandar pada dinding, bercanda dengan
anggota
lain, ada yang permisi ke belakang, bahkan ada
pula
yang membeli sesuatu untuk kepentingan dirxnya dan
beberapa anggota.
Patisipasi dan kreativitas anggota dalam pro
ses belajar kelompok lebih tampak terutama kemampuan
individual, kreativitas sering didominasi oleh bebe
rapa orang saja; dan tingkat ketergantungan anggota
pada anggota lain semakin tampak.
Kegiatan proses belajar kelompok jika dilihat
dari penggunaan waktu hubungannya dengan materi yang
dibahas tidak seimbang, terlalu banyak
penghamburan
dan terlalu membiarkan anggota larut dalam pembica
raan yang meluas; sementara masih banyak materi yang
belum terbahas. Dengan demikian dapat dikatakan peng
gunaan waktu tidak efisien dan dilihat dari pembahas
an tidak efektif dan produktif.
Mahasiswa akan lebih tampak kerja sama dalam
belajar kelompok pada saat membahas soal-soal ujian
unit yang wajib diserahkan kepada Kepala Unit Program
Belajar Jarak Jauh (UP-BJJ) dan ujian tersebut dapat
mempengaruhi nilai akhir bagi mahasiswa yang bersang
kutan. Dengan -demikian mahasiswa akan bersemangat un
tuk menghadiri dan membahas modul dalam belajar ke
lompok jika ada tugas yang harus diselesaikan yang
119
Mahasiswa beranggapan bahwa soal yang diujikan
hampir seluruhnya terdapat dalam modul, . karena itu
mereka cukup belajar dengan modul dan materi ujian
atau soal-soal yang keluar dalam ujian sering terba
has dalam belajar kelompok. Dengan demikian jika ma
hasiswa belajar benar-benar dalam^penguasaan modul,
khususnya dalam belajar kelompok; maka ia akan mampu
dan mendapat nilai yang baik dalam mengikuti ujian
unit dan semester.
Keberhasilan anggota kelompok dalam belajar
kurang memuaskan, bila dilihat dari hasil evaluasi
dalam ujian tiap semester yang dikeluarkan oleh ' Uni
versitas Terbuka. Yang mana Indeks Prestasi'Kumulatif
anggota-belajar kelompok bila dirata-ratakan dengan
semua
anggota kelompok hanya mencapai 1,95. Jika ki
ta telaah dari data yang ada, dari..14 anggota kelompok
belajar hanya 7 Orang yang mempunyai Indeks Prestasi
kumulatif antara 2,01 - 2,66; dan yang lainnya kurang
dari 2 (C). Sedangkan persyaratan mahasiswa untuk me
ngikuti ujian komprehensip diharuskan mempunyai IPK
minimal 2,00 (C). Jika dikaji dari data tersebut
di
atas, maka dapat dinyatakan kegiatan belajar kelompok
mahasiswa kurang produktif dan kurang mendukung ter
hadap hasil belajar, oleh karena itu diperlukan
pene-laahan yang leTpih mendalam yang berkaitan dengan fak
120
Ada beberapa faktor kesulitan atau hambatan
dalam proses belajar kelompok di antaranya : mahasis
wa belum mengadakan persiapan untuk belajar
kelompok
khususnya mempelajari modul, kehadiran anggota
yang
tidak tetap, banyak anggota yang datang terlambat
tidak tepat waktu pelaksanaan belajar kelompok, ku
rangnya bahan bacaan atau literatur lain selain modul
, banyaknya istilah-istilah asing dalam modul, lokasi
tempat tinggal anggota yang berjauhan dan adanya rasa
tanggung jawab dan kepatuhan yang kurang. serta,adanya
perbedaan karakter anggota.
Mahasiswa belum dapat memanfaatkan waktu
seng-gang untuk belajar, terutama pada saat menunggu ang
gota lain dimana ada waktu sekitar 35-70 menit sambil
menunggu belajar kelompok dimulai. Akan tetapi banyak
dipergunakan untuk bercanda dan berbincang-bincang.
Yang sebenarnya jika mahasiswa dapat menggunakan ke
sempatan tersebut untuk belajar dengan membaca modul,
maka kemungkinan besar akan lebih mempercepat proses
pemahaman terhadap materi modul yang akan dibahas.
Belajar kelompok selalu tidak tepat waktu bah
kan terlambat sekitar 40-70 menit. Begitu pula banyak
anggota yang datang terlambat sampai 90 menit, di an
tara mereka terlambat antara 30-90 menit. Dengan kon
disi seperti ini berarti mereka kurang patuh dan di
121
Mahasiswa Universitas Terbuka belum terbiasa bel
ajar mandiri, disiplin diri dalam belajar, mereka
bel
ajar tidak sesuai dengan jadwal yang telah disusun, hal
ini berarti telah melanggar peraturan yang dibuatnya
dan mengingkari diri. Karena itu ketekunan, keuletan be
lum membudaya, dan budaya malas yang lebih tampak; mere
ka belum mampu menampilkan kecerdasan dan potensi
keman-diriannya dalam bidang pendidikan.
Kelompok belajar mempunyai tata tertib yang meru
pakan hasil kesepakatan
bersama
agar
belajar kelompok
berjalan dengan baik, namun dalam pelaksanaannya sebagi
an besar anggota melanggar tata tertib tersebut. Sebagai
contoh : sebagian besar anggota terlambat hadir,
sebagi
an besar anggota belum mengadakan persiapan belajar se
cara mandiri, sebagian besar anggota tidak mempersiapkan
masalah sebagai bahan belajar kelompok, sebagian
besar
tidak melaksanakan tugas yang diberikan oleh ketua ke
lompok,
dan anggota jarang memberikan informasi
alasan
ketidak-hadirannya.
Pada awalnya intensitas pertemuan belajar kelom
pok diadakan seminggu sekali secara rutin, kemudian men
jadi dua minggu sekali, sebulan sekali,
kadang-kadang
dua bulan sekali, akhirnya sering diadakan
.menjelang
ujian semester yaitu dua minggu sebelumnya. Dilaksanakan
secara kontinyu seminggu dua sampai tiga kali.
Begitu
122
saat menjelang ujian semester sebagian besar
anggota
hadir. Mereka biasanya dalam setiap pertemuan mengguna
kan waktu antara 2,5-3 Jam dan menjelang ujian
sering
4-6 jam.
Anggota belajar kelompok pada umumnya beranggap
an belajar kelompok itu sebagai pusat belajar, dan me
lalui belajar kelompok banyak informasi dan
transforma-si yang didapat, khususnya yang berkaitan dengan pemba
hasan modul, informasi perkuliahan,
pergaulan
sesama
mahasiswa. Dengan demikian belajar kelompok bagi
maha
siswa perlu dikembangkan dengan mencari model
alterna-tif model belajar kelompok yang lebih efisien, efekalterna-tif
dan produktif.
Keakraban dan rasa kekeluargaan serta
persauda-raan di antara mahasiswa lebih tampak, mereka mampu
me-melihara, memupuk kebersamaan baik secara langsung mau
pun tidak langsung. Berbagai kegiatan diadakan seperti
rekreasi dan arisan serta anjang sono di antara anggota.
Ketua kelompok belajar mempunyai peranan yang
amat penting, ketua melaksanakan tugasnya sebagai
koor-dinator, organisator, motivator, moderator dan
mengata-si berbagai masalah khususnya yang berhubungan
dengan
belajar kelompok. Karena itu faktor kepemimpinan kelom
pok menentukan pula keberhasilan
belajar
kelompok
akan tetapi banyak kendala yang dihadapi di
antaranya
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang
peneliti lakukan terhadap mahasiswa Universitas Terbuka
, khususnya dalam kegiatan belajar kelompok yang
meru
pakan hasil analisis data dengan fokus masalah : Hingga
manakah mahasiswa melaksanakan kegiatan belajar melalui
kelompok, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan
dan
rekomendasi sebagai berikut :
A. Kesimpulan
1) Bagi mahasiswa Universitas Terbuka membentuk
ke
lompok belajar bertujuan sebagai tempat belajar,
mencari informasi yang berhubungan dengan perku
liahan dan untuk teman bergaul. Karena itu setiap
kelompok belajar memiliki program, tujuan dan sa
saran yang jelas; yang merupakan
hasil
rumusan
bersama-sama berdasarkan musyawarah secara
keke-luargaan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya banyak
program yang tidak dapat dilaksanakan
berhubung
banyak sekali kendala yang dialami.
2) Persiapan mahasiswa dalam mengikuti belajar kelom
pok khususnya dalam penguasaan modul rendah, ter
utama dilihat dari kesempatan belajar, terlalu
banyak kegiatan rutin yang dapat
menyita waktu
tenaga dan pikiran di luar bidang akademis.
124
ti pekerjaan di kantor, keluarga, organisasi dan
kegiatan lainnya yang tak henti-hentinya. Kegia
tan tersebut dapat menyebabkan kemalasan
untuk
mempersiapkan diri dalam belajar kelompok.
3) Pendekatan yang digunakan dalam
belajar
secara
mandiri oleh mahasiswa Universitas Terbuka mela
lui modul sebagai bahan persiapan belajar kelom
pok, kebanyakan mahasiswa tidak menggunakan pen
dekatan belajar sistem modul; yaitu belajar
ter-struktur.
4) Fasilitas yang digunakan kelompok belajar,
di
antaranya seperti ruangan dan perlengkapan
ku
rang memadai, mahasiswa menggunakan ruangan yang
sempit dengan peralatan yang minim
dan
tidak
nyaman untuk tempat belajar kelompok. Begitu pu
la
pengambilan lokasi
belajar berjauhan dengan
tempat tinggal anggota.
5) Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan belajar
kelompok adalah melalui pemecahan masalah, mate
ri modul yang dianggap sulit
diadakan pemecahan
masalah bersama-sama dan setiap mahasiswa
diper-bolehkan mengajukan masalah. Akan tetapi
dalam
pelaksanaannya sering tersendat-sendat,
tidak
ada yang mengajukan masalah dan sebagai jalan
125
pengajuan masalah.
6) Melalui kegiatan belajar kelompok pembahasan mo
dul tidak sampai pada target yang sudah ditentu
kan, berhubung banyak waktu yang digunakan untuk
memecahkan masalah. Dengan demikian dilihat dari
proses belajar kelompok hubungannya dengan
ba
hasan modul tampak kurang efisien, efektif
dan
produktif.
7) Jarang sekali mahasiswa dalam setiap pembahasan
modul mengambil suatu kesimpulan,
begitu
pula
jarang mahasiswa mencatat dalam buku catatan se
cara khusus
meskipun sebagian besar mereka
mem-punyainya. Mahasiswa dalam proses belajar kelom
pok hampir tidak pernah menggunakan
buku sumber
lain sebagai pengayaan, mereka lebih memfokuskan
pada modul.
8) Mahasiswa lebih tampak kerja sama dalam belajar
kelompok pada waktu membahas soal-soal ujian unit
yang wajib diserahkan kepada Kepala Unit Program
Belajar Jarak Jauh (UP-BJJ) dan ujian
tersebut
dapat mempengaruhi nilai akhir bagi
mahasiswa
yang bersangkutan. Dengan demikian mahasiswa akan
bersemangat untuk menghadiri dan membahas
modul
dalam belajar kelompok jika ada tugas yang
126
9) Mahasiswa beranggapan bahwa soal yang diujikan
hampir seluruhnya terdapat dalam modul, karena
itu cukup belajar dengan modul dan
soal-soal
yang keluar dalam ujian
sering terbahas dalam
belajar kelompok. Karena itu jika mahasiswa
benar-benar dapat mengikuti kegiatan belajar
kelompok dengan baik, maka ia akan mampu dan
mendapatkan nilai atau hasil belajar yang baik
pula.
10) Anggota kelompok belajar mempunyai Indeks Pres
tasi Kumulatif yang kurang baik yaitu rata-rata
1,95. Sedangkan persyaratan mahasiswa untuk me
ngikuti ujian komprehensif diharuskan mempunyai
IPK rata-rata 2,00. Oleh karena itu kegiatan
belajar kelompok mahasiswa kurang produktif dan
kurang mendukung terhadap hasil belajar.
11) Tingkat partisipasi dan kreativitas anggota da
lam proses belajar kelompok lebih tampak ter
utama kemampuan individu, partisipasi dan krea
tivitas sering didominasi oleh beberapa orang
saja; dan tingkat ketergantungan anggota pada
anggota lain yang kreatif semakin tinggi.
12) Dilihat dari tingkat kehadiran mahasiswa dalam
belajar kelompok cukup rendah,
jika
dibanding-kan dengan jumlah anggota; uaitu hanya sekitar
127
13) Pelaksanaan belajar kelompok selalu tidak te
pat waktu, bahkan terlambat sekitar 40-70 me
nit. Begitu pula kehadiran mahasiswa
hanya
sebagian kecil saja yang dapat hadir
tepat
waktunya, sedangkan sebagian besar kesiangan
antara 30-90 menit. Hal ini menunjukkan
ke-kurang; .disiplinan mahasiswa dalam
belajar
kelompok.
14) Ketekunan, keuletan, kemandirian dan disiplin
diri belum biasa bagi mahasiswa
Universitas
terbuka, mereka belum mampu menampilkan
ke
cerdasan dan potensi kemandiriannya dalam bi
dang pendidikan.
15) Adanya penurunan intehsitas pertemuan kegiat
an belajar kelompok dari mulai
satu
minggu
sekali, dua minggu sekali, satu bulan sekali,
dua bulan sekali dan akhirnya sering diadakan
hanya pada waktu menjelang ujian semester.
Begitu pula intensitas kehadiran anggota ter
jadi penurunan, kecuali pada saat pembahasan
soal-soal ujian unit. Lama pertemuan belajar
kelompok menghabiskan waktu antara 2,5
jam-3 jam, kecuali pada waktu menjelang ujian se
mester menghabiskan waktu 4 jam-6 jam.
16) Anggota belajar kelompok beranggapan
amat
128
dijadikan sebagai pusat belajar. Melalui belajar
kelompok banyak inforraasi dan transformasi yang
diterima.
17) Keakraban,rasa kekeluargaan dan persaudaraan di
antara mahasiswa lebih tampak hal ini terungkap
pada saat mereka bercanda, berdialog, tukar
in-formasi dan pada waktu pembahasan modul.
Meski-pun perbedaan karakter tiap individu
semakin
tampak.
18) Beberapa faktor kesulitan mahasiswa dalam proses
belajar kelompok
di antaranya : mahasiswa belum
mengadakan persiapan untuk belajar kelompok,
ke-hadiran anggota yang tidak tetap dan
cenderung
menurun, sebagian besar anggota datang terlambat,
tidak tepat waktu pelaksanaan belajar
kelompok,
kurangnya bahan bacaan atau literatur lain selain
modul, banyaknya istilah-istilah asing dalam mo
dul,
lokasi tempat tinggal anggota yang
berja-uhan, kepatuhan yang kurang dan adanya perbedaan
karakter anggota.
19) Peranan ketua kelompok amat penting dalam belajar
kelompok, ketua bertugas sebagai:koordinator,
or-ganisator, motivator dan moderator. Dalam
pelak-sanaannya banyak kendala yang dihadapi. di anta
ranya faktor latar belakang anggota yang
amat
129
20. Sistem sosial budaya bangsa Indonesia masih adaptif
ter-hadap mahasiswa Universitas Terbuka, terutama budaya
yang kurang menguntungkan di antaranya budaya malas, ti
dak disiplin, hanya bersifat formalistik, tidak tekun,
tidak ulet dan tidak rajin membaca.
21. Sebagian besar mahasiswa Universitas Terbuka belum mampu
menampilkan pendidikan sebagai potensi untuk
perkerabang-an pribadi dalam berbagai aspek. Mahasiswa Universitas
Terbuka lebih mengutamakan kuantitas formal daripada
ku-alitas intelektual.
22. Lembaga Universitas Terbuka baru dapat berfungsi sebagai
. sosialisasi dan memperkenalkan informasi serta belum mam
pu adaptif terhadap lingkungan dan kehidupan mahasiswa,
belum dapat menumbuhkan kehidupan yang selaras, seimbang
dan serasi. Karena itu sering nampak kemadegan dalam pro
ses transformasi sebagai rekayasa, proses pendidikan be
lum mampu membuahkan potensi kemandirian yang lazim
di-butuhkan dalam membangun suatu bangsa yang cerdas,
krea-tif dan inovatif.
23. Universitas Terbuka sebagai lembaga pendidikan baru dapat
mengembangkan proses pendidikan sebagai proses mekanis,
hal mana mahasiswa diperintahkan untuk belajar dan
mengu-asai modul secara bertahap. Dengan demikian tidak menum
buhkan dan mengembangkan transformasi nilai, khususnya
yang ber&ubungan dengan transmisi pengetahuan,
130
B. Rekomendasi
1) Kelompok belajar bagi mahasiswa Universitas
Ter
buka sangat diperlukan sebagai sarana
belajar,
berkomunikasi, meningkatkan kreativitas mahasis
wa dan hasil belajar mahasiswa. Karena itu
perlu
adanya pembinaan langsung dari Unit Program
Bel
ajar Jarak Jauh (UPBJJ). Kelompok belajar
bagi
mahasiswa Universitas Terbuka dapat dijadikan sa
rana untuk meningkatkan
efektivitas, efisiensi,
dan produktivitas proses belajar, rnenciptakan
w.a-hana komunikasi di antara mahasiswa dalara proses
belajarnya, menumbuhkan dan mengembangkan
motiva-si belajar di antara sesama mahamotiva-siswa dan
untuk
menumbuhkan rasa kebersamaan.
2) Berhubung rendahnya persiapan belajar
mahasiswa
untuk mengikuti belajar kelompok, maka
pendekat
an yang digunakan dalam belajar kelompok
tampak-nya akan lebih baik jika menggunakan
pendekatan
secara sistematis atau terstruktur sesuai dengan
sistem belajar modul. Hal ini akan lebih bermakna
dari pada melalui pendekatan pemecahan
masalan,
akan tetapi bukan berarti menghilangkan sama seka
kali pendekatan masalah. Pendekatan tersebut akan
lebih relevan jika dihubungkan
untuk
pereiap&n
131
akhir semester dan mengerjakan tugas
ujian
unit,
yang mana hampir seluruh bahan yang diujikan beracla
dalam modul dengan sebagian besar jenis
evaliiasi
yang diberikan objektif test. Dengan demikian
ke-trampilan membaca secara efisien, efektif dan
pro-duktif lebih diutamakan.
3) Sehubungan dengan hasil pengamatan di lapangan
ada
kecenderungan mahasiswa Universitas Terbuka
belum
siap untuk belajar secara mandiri, di
lain
pihak
raerupakan belajar utamanya. Hal ini memang
secara
sosiologis dan budaya bangsa belum memungkinkan un
tuk mampu belajar secara mandiri. Karena itu
sebe—
gai pemecahannya kelompok belajar dapat
dijadikan
sebagai pusat belajar mahasiswa Universitas Terbuka
sebagai pengganti perkuliahan secara tatap muka dan
untuk mendeteksi belajar secara mandiri yang
lebih
intensif. Untuk itu diperlukan peninjauan
kerabali
terhadap kurikulum yang berlaku di Universitas Ter
buka, terutama dari segi pendekatan proses belajar,
if) Agar kegiatan belajar mahasiswa dalam kelompok
in
tensif, efisien, efektif dan produktif, maka
dalam
pembentukan kelompok perlu diperhatikan : kesamaan
jurusan, program, angkatan, persamaan
pengambilan
mata kuliah setiap semester dan wilayah terapat
132
5) Intensitas kegiatan belajar kelompok dan
kehadir-an kehadir-anggota tidak stabil bahkkehadir-an cenderung
menurun,
maka diperlukan berbagai upaya pemecahan. Di
anta-ranya harus adanya tata tertib
dan sanksi
yang
jelas dan tegas serta mempunyai pengaruh yang
ber-kaitan dengan akademis. Karena itu perlu
penangan-an ypenangan-ang serius dari pihal lembaga secara ,intensif
agar tampak ada kesungguhan dan perhatian dari ma
hasiswa .
6) Berdasarkan hasil observasi, v/awancara ian
mengka-ji dokumen mahasiswa Universitas Terbuka yang
me-nunjukkan persiapan belajar, proses belajar
dan
hasil belajar mahasiswa rendah serta banyaknya
ma-mahasiswa yang non-aktif, maka diperlukan berbagai
pemecahan di antaranya :
a. Dalam penerimaan calon mahasiswa (input)
harus
diadakan seleksi yang bertujuan sebagai alat
u-kur dalam pengambil keputusan diterima atau
ti-daknya, selain
itu untuk memprediksi kemungkin
an keberhasilan atau kegagalan mahasiswa
dalam
mengikuti perkuliahan.
b. Untuk seleksi calon mahasiswa dapat berupa test
yang bersifat akademik
dan non-akademik,
yang
bersifat akademik di antaranya test
kemampuan
non-akade-133
mik seperti test bakat, raotivasi dan sikap.
c. Berhubung membaca bagi mahasiswa Universitas Ter
buka merupakan proses belajar yang lebih.
utarna,
maka perlu diadakan job training
sistem
belajar
modul yang efisien, efektif dan produktif;
teruta-ma yang berhubungan dengan ketrampilan dan
kebia-saan membaca. Program tersebut dapat
diselenggara-kan pada saat orientasi pengenalan studi mahasiswa
baru. Dan setiap satu tahun sekali diadakan
rcenye-garan kembali bagi setiap mahasiswa, hal ini untuk
sebagai evaluasi dan menumbuhkan kebiasaan belajar
melalui membaca.
d. Perlu adanya perubahan persyaratan minimal tentang
mahasiswa yang berhak menyusun tesis yang
semula
harus mempunyai IPK 3>00, di ubah menjadi IPK 2,00
hal
tersebut agar mahasiswa banyak yang dapat
me-nempuh jalur tesis; dengan asumsi bahwa
keluaran
(out put) mahasiswa Universitas Terbuka akan lebih
baik kualitasnya jika mereka dapat menyusun tesis.
7. Karena tidak memenuhi syarat fasilltas yang digunakan
mahasiswa untuk belajar kflompok, maka diperlukan
ke-ikut-sertaan UPBJJ membantu secara operasional dalam
hal pengambilan tempat atau sanggar belajar yang
DAFTAR PUSTAXA
Adikusumo, S ., Pendidikan - Interx>retasi Dan Implikasi
(Pengamatan Sosio-Kultural), Fakultas Pasca Sarjana
Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Bandung, 1988.
, Mencari Potensi Sumberdaya Manusia Dan
""
Tatanan D_i Sekolah Dasar Dan Alternatif Pembenahan
Dalam Kondisi Masai (Sebuah Gagasan). Makalah Seminar
Nasional, IKIP, Bandung, 1989.
Ausubel, D.P., and Robinson, F.G., School Learning, Holt
Rinehart and Winston, Inc, New York,
1969-Baker, William D., Reading Skills. Prentice-Hall Englewood
Cliffs, New Jersey, 1957.
Battle, J and Shannon, R., Gagasan Baru Dalam Pendidikan,
Terjemahan Sans S Hutabarat, Penerbit Mutiara,
Jakarta, 1978.Bigge, Morris L., Learning Theories For Teacher, Harver
and Row, Publisher, New York, 1982.
Bogdan, Robert C, and Biklen, Qualitative Reseach
£or
Education : An Introduction To Theory And Method,
Allyn and Bacon, Inc, 1982
Bruner, J., The Process Of Education. Harvard University :
Press, Massachusetts, 1977.
Burton, William., The Guidance 0£ Learning, Activities,
Third Edition, Mc Graw-Hill Book Company, Inc, New
York, 1966.
Corey, Gerald and C. Marianne., Groups : Process And
Practice, Brooks/Cole Publishing Company, Moterey,
California, 1977.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Universitas Terbuka,
Mengenal Universitas Terbuka. Jakarta, 1985.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Universitas Terbuka,
Panduan Registrasl-Bela.1ar-Ujian, Jakarta, 19tfb.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Dikti, Dinamika Ke
lompok, Jakarta, 1982.
135
Eggen, Paul D. et al., Strategies For Teacher-Information Processing Model In The Class Room, Prentice Hall Inc, 1979.
Engkoswara, Dasar-Dasar Metodologi Penga.jaran. Fakultas
Ilmu Pendidikan-Institut Keguruan dan Ilmu Pendidik
an Bandung, 1982.
Gagne, Robert M., Fleismen Edwin A., Psychology And Human
Performance.-; An Introduction To Psychology. Holt
Rinehart and Winston, New York, 1959.
Hilgard, Ernest R., Bower Gordon H., Theories Of Learning. Four Edition, Hall of India Private Limited New
Delhi, 1977.
Hofman, Richard, Mastering Study Skills. First Publi