S
S
T
T
R
R
A
A
T
T
E
E
G
G
I
I
S
S
A
A
N
N
I
I
T
T
A
A
S
S
I
I
K
K
O
O
T
T
A
A
K
K
A
A
B
B
U
U
P
P
A
A
T
T
E
E
N
N
K
K
A
A
R
R
O
O
Disusun Oleh:
Pokja Sanitasi Kabupaten Karo
K
K
A
A
B
B
U
U
P
P
A
A
T
T
E
E
N
N
K
K
A
A
R
R
O
O
T
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan YME, karena berkat dan rahmatNya, dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kabupaten Karo ini dapat disiapkan sebagai bagian dari dokumen yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam perencanaan dan pembangunan Sanitasi ke depan.
SSK yang telah disiapkan dalam jangka waktu relatif singkat ini, dapat menjadi acuan bagi para pemangku kebijakan Kabupaten Karo dalam upaya memaksimalkan dan mengaktualisasikan berbagai kegiatan yang telah direncanakan dan disiapkan sampai dengan akhir tahun 2014. Hal itu juga sejalan pula dengan visi dan misi penanganan Sanitasi Kabupaten Karo yang telah disepakati bersama. Dengan mempertimbangkan bahwa kebutuhan kota yang dinamis dan cendrung berubah, dokumen SSK yang telah disiapkan ini, dapat direvisi sesuai dengan kebutuhan Kabupaten Karo pada tahun-tahun berikutnya. Berbagai isu strategis baik dari sisi aspek teknis dan non-teknis yang dimasukkan dalam bahan SSK ini, seyogianya dapat menjadi dasar pemicu bagi para pemangku kebijakan kota untuk dapat mewujudkan berbagai kegiatan yang telah dibuat, sehingga maksud dan tujuan yang telah disepakati dapat tercapai. Pada sisi lain, komitmen dan perhatian yang serius dari pimpinan kota dan seluruh SKPD termasuk unsur masyarakat dan pihak swasta menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan sehingga semua rencana yang dibuat dapat direalisasikan.
Ucapan terimakasih atas sumbangan pemikiran, ide serta saran-saran berharga, disampaikan kepada semua pihak terutama Pokja Sanitasi Kabupaten Karo yang berasal dari berbagai SKPD, serta kepada segenap unsur masyarakat yang telah banyak memberikan informasi yang relevan baik secara tertulis maupun langsung di lapangan.
Semoga SSK yang disiapkan ini, dapat memberi bermanfaat yang lebih nyata dalam memacu perkembangan pembangunan dan peningkatan pelayanan sanitasi pada umumnya, di Kabupaten Karo pada khususnya.
K Kaabbaannjjaahhee,, 22001111 B BUUPPAATTIIKKAARROO D DRR..((HHCC))KKEENNAAUUKKUURRKKAARROOJJAAMMBBIISSUURRBBAAKKTTII
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i Daftar Isi ... ii Daftar Tabel ... iv Daftar Gambar ... v Daftar Istilah ... viDaftar Singkatan... ... xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang... I-1
1.2 Maksud dan Tujuan... I-2
1.3 Landasan Hukum ... I-4
1.4 Metode Penyusunan ... I-6
1.5 Sistematika Dokumen ... I-7
BAB II ARAH PENGEMBANGAN SEKTOR SANITASI KOTA
2.1 Gambaran Umum Sanitasi Kota ... II-1 2.1.1 Kondisi Umum Wilayah Fisik Pemerintahan ... II-1 2.1.2 Kondisi Umum Sanitasi Kabupaten Karo ... II-11 2.1.2.1. Drainase Lingkungan ... II-11 2.1.2.2. Persampahan ... II-12 2.1.2.3. Pengelolaan Air Limbah ... II-14 2.1.2.4. Higiene dan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sanitasi ... II-18 2.2 Visi dan Misi Sanitasi Kota ... II-20 2.3 Kebijakan Umum dan Strategi Sektor Sanitasi Kota 2010-2014 ... II-21 2.4 Tujuan Umum, Sasaran Umum dan Arahan Tahapan Pencapaian ... II-22
BAB III ISU STRATEGIS DAN TANTANGAN SEKTOR SANITASI KOTA
3.1 Aspek Non-teknis. ... III-1 3.1.1 Kebijakan Daerah dan Kelembagaan. ... III-1 3.1.2 Aspek Keuangan... ... III-3 3.1.3 Aspek Komunikasi. ... III-19 3.1.4 Keterlibatan Sektor Swasta dan Pelaku Bisnis.. ... III-19 3.1.5 Apek Pemberdayaan Masyarakat, Jender dan Kemiskinan. ... III-19 3.2 Aspek Teknis ... III-20 3.2.1 Drainase Lingkungan.. ... III-20 3.2.2 Persampahan.. ... III-21 3.2.3 Air Limbah.. ... III-21 3.2.4 PHBS Sanitasi.. ... III-22
BAB IV STRATEGI KEBERLAJUTAN LAYANAN SANITASI KOTA
4.1 Tujuan, Sasaran dan Strategi Tahapan pencapaian dari Aspek Teknis
4.1.1. Sub-Sektor Drainase Lingkungan.. ... IV-1 4.1.2. Sub-Sektor Persampahan. ... IV-2 4.1.3. Sub-Sektor Air Limbah ... IV-5 4.1.4. Aspek PHBS ... IV-6 4.2 Strategi Aspek Non-Teknis ... IV-7 4.2.1. Kelembagaan ... IV-7 4.2.2. Keuangan ... IV-7 4.2.3. Komunikasi ... IV-7 4.2.4. Keterlibatan Pelaku Bisnis. ... IV-8 4.2.4. Partisipasi Masyarakat, Jender dan Kemiskinan. ... IV-8
BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN
5.1. Program dan Kegiatan Teknis ... V-1 5.1.1. Drainase Lingkungan ... V-1 5.1.2. Persampahan... V-4 5.1.3. Air Limbah ... V-5 5.1.4. Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ... V-5 5.2. Program dan Kegiatan Non-Teknis... ... V-7 5.2.1. Kebijakan Daerah dan Kelembagaan ... V-7 5.2.2. Keuangan ... V-7 5.2.3. Komunikasi... V-9 5.2.4. Keterlibatan Pelaku Bisnis ... V-10 5.2.5. Pemberdayaan Masyarakat Jender dan kemiskinan ... V-11
BAB VI MONITORING DAN EVALUASI
6.1. Tujuan Monitoring dan Evaluasi. ... VI-1 6.2. Metode Monitoring dan Evaluasi ... VI-2 6.3. Program dan Kegiatan yang Akan Dimonitor dan Dievaluasi. ... VI-2 6.4. Indikator Monitoring dan Evaluasi ... VI-2 6.4.1. Indikator Input.. ... VI-2 6.4.2. Indikator Proses. ... VI-3 6.4.3. Indikator Output/Outcome. ... VI-3 6.5. Pelaksanaan Evaluasi ... VI-5
DAFTAR TABEL
Tabel 2-1 Daerah Aliran Sungai Kabupaten Karo ... II-2 Tabel 2-2 Luas Wilayah Kabupaten Karo ... II-2 Tabel 2-3 Persentase Penggunaan Lahan Kabupaten Karo Tahun 2003-2013 ... II-4 Tabel 2-4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan di
Kabupaten Karo Tahun 2009 ... II-5 Tabel 2-5 Jumlah Penduduk per Kecamatan dan Jenis Kelamin di
Kabupaten Karo Tahun 2009 ... II-5 Tabel 2-6 Pertumbuhan Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Karo Tahun 2009 II-6 Tabel 2-7 Jumlah Fasilitas Pendidikan Umum di Kabupaten Karo Tahun 2009 ... II-7 Tabel 2-8 Jumlah Sekolah, Ruang Kelas, Guru dan Murid di Kabupaten Karo
Tahun 2009 ... II-8 Tabel 2-9 Banyaknya Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Karo Tahun 2009 ... II-9 Tabel 2-10 Banyaknya Tenaga Dokter di Kabupaten Karo s/d Tahun 2009 ... II-9 Tabel 2-11 Banyaknya Kasus Penyakit di Kabupaten Karo Tahun 2009 ... II-10 Tabel 2-12 Jumlah Sarana Ibadah di Kabupaten Karo Tahun 2009 ... II-11 Tabel 2-13 Timbulan dan Jumlah Sampah yang Terangkut/hari (m3/hari) ... II-13
Tabel 2-14 Alat Angkut Sampah ... II-14 Tabel 2-15 Jumlah & Jenis Sarana Jamban Keluarga di Kabupaten Karo Tahun 2009 II-17 Tabel 2-16 Penderita Penyakit Berhubungan Dengan Lingkungan Menurut
Kecamatan Tahun 2009 ... II-19 Tabel 3-1 Perkembangan Pajak Daerah Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Agustus 2008 ... III-4 Tabel 3-2 Perkembangan Retribusi Daerah Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Agustus 2008 ... III-5 Tabel 3-3 Perkembangan Hasil Pengelolaan PERUSDA dan Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan Kabupaten Karo Tahun 2004 – Agustus 2008 ... III-5 Tabel 3-4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Agustus 2008 ... III-6 Tabel 3-5 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Agustus 2008 ... III-7 Tabel 3-6 Dana Alokasi Umum (DAU) Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Agustus 2008 ... III-7 Tabel 3-7 Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Agustus 2008 ... III-8 Tabel 3-8 Bagi Hasil Pajak dari Propinsi Tahun 2004 – Agustus 2008 ... III-9 Tabel 3-9 Perkembangan Pendapatan Daerah Kabupaten Karo ... III-10 Tabel 3-10 Perkembangan Belanja Daerah Kabupaten Karo Tahun 2004-2007... III-11 Tabel 3-11 Sumber Penerimaan APBD Kabupaten Karo Tahun 2004 –
Tabel 3-12 Proyeksi Sumber Penerimaan APBD Kabupaten Karo Tahun 2009-2013 III-13 Tabel 3-13 Proyeksi PAD dan Dana Perimbangan APBD Kabupaten Karo
Tahun 2009 – 2013 ... III-14 Tabel 3-14 Proyeksi Belanja APBD Kabupaten Karo Tahun 2009 – 2013 ... III-15 Tabel 5-1 Program Pembangunan Sub Bidang Drainase TA 2009 – 2013 ... V-1 Tabel 5-2 Program Pembangunan Sub Bidang Persampahan TA 2009 – 2013 ... V-4 Tabel 5-3 Program Pembangunan Sub Bidang Air Limbah TA 2009 – 2013 ... V-5 Tabel 5-4 Program Pembangunan Sub Bidang PHBS TA 2009-2013 ... V-5 Tabel 5-5 Program dan Kegiatan dalam Menguatkan Peran Pelaku Bisnis
Bidang Sanitasi ... V-10 Tabel 5-6 Program dan Kegiatan Untuk Menguatkan ... Peran Masyarakat, Jender
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2-1. Peta Kabupaten Karo ... II-3 Gambar 2-2. Volume Timbulan Sampah dan Sampah yang Terangkut di
DAFTAR ISTILAH
Air : Campuran gas-gas, terutama oksigen dan nitrogen, yang mengelilingi bumi dan membentuk atmosfir (Jica Expert-DPU.2000.”Glossary Wastewater Treatment System”.Jakarta)
Air Limbah : Kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya. (Sugiharto.2005. Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah.Jakarta).
Air limbah Domestik : Air yang telah dipergunakan yang berasal dari rumah tangga atau pemukiman termasuk didalamnya adalah yang berasal dari kamar mandi tempat cuci, WC, serta tempat memasak. (Sugiharto.2005.Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah.Jakarta).
Cubluk : Disebut juga dengan Soakage/leaching pit, merupakan suatu lubang yang digunakan untuk menampung tinja manusia dari jamban, berfungsi sebagai tempat pengendapan tinja dan juga sebagai media peresapan dari cairan yang masuk. Cairan yang masuk baik dari tinja, air seni maupun air pembilas dari jamban akan meresap ke dalam tanah dan sisa padatan akan teruarai. (Ir. Martin Dharmasetiawan, Msc.2006.”Perencanaan Sarana Sanitasi Perkotaan”.Jakarta).
Drainase : Prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air dan atau ke bangunan resapan buatan (Balitbang PU)
Drainase Lingkungan : Atau disebut juga Ecodrain adalah Rangkaian usaha sejak dari sumber (hulu) sampai ke muara (hilir) untuk membuang/mengalirkan hujan kelebihan melalui saluran drainase dan atau sungai ke badan air (pantai/laut, dana, situ, waduk, dan bozem) dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di dataran banjir yang dilalui oleh saluran dan atau sungai tersebut (akibat kenaikan debit puncak dan pemendekan waktu mencapai debit puncak).(DPU.2007)
Drainase Perkotaan : Drainase di wilayah kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia (Balitbang PU)
Higiene : Berasal dari bahasa yunani yang artinya perawatan dan pemeliharaan kesehatan (Petra Widmer.2005.”pangan, papan, dan kebun berguna”.Yogyakarta).
IPAL : Merupakan Instalasi Pengolahan Air Limbah yang mana pada umumnya tingkatan proses pengolahan air limbah didasarkan pada kondisi karakteristik kualitas influen yang masuk ke dalam IPAL serta persyaratan kualitas influent yang ditetapkan.
Tahapan pengolahan IPAL:
1. Pengolahan pendahuluan (pre-treatment) 2. Pengolahan primer (primary treatment) 3. Pengolahan sekunder (secondary treatment) 4. Pengolahan tersier (tertiary treatment)
(Ir. Martin Dharmasetiawan, Msc. 2006.”Perencanaan Sarana Sanitasi Perkotaan”.Jakarta).
IPLT : Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja dengan tujuan untuk menurunkan kandungan zat organik dari lumpur tinja tersebut yang dapat mencemari lingkungan dan untuk menurunkan bakteri-bakteri patogen (organisme penyebab penyakit)
Jamban Sehat : Fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit (Departemen Kesehatan RI.2008.Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Jakarta).
ODF : Open Defecation Free adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan (Departemen Kesehatan RI.2008.Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Jakarta).
On Site System : Suatu sistem pengeloan air limbah yang berada di dalam persil (batas tanah yang dimiliki) atau dengan kata lain pada titik dimana limbah tersebut timbul, contoh: cubluk, tangki septik. (Robert J. Kodoatie, Ph.D. & Roestam Sjarief, Ph.D. 2008. “Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu”. Yogyakarta).
Off Site System : Sistem sanitasi secara terpusat adalah suatu sistem yang menggunakan sarana tertentu untuk membawa air limbah keluar dari persil, dan mengolahnya ke lokasi tertentu. Air limbah rumah tangga yang diolah secara terpusat di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tersebut adalah berasal dari kamar mandi, toilet dan dapur. Suatu sistem pembuangan air limbah yang mengalirkan air limbah dari sumbernya ke saluran air limbah kota. Kemudian saluran air limbah kota
akan mengumpulkan dan mengalirkan air limbah menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk di olah, sebelum dibuang ke Badan Air Penerima (BAP) dan/atau dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
(Ir. Martin Dharmasetiawan, Msc.2006.”Perencanaan Sarana Sanitasi Perkotaan”.Jakarta).
Pencemaran Air : Masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. (DPU.2007).
Pengelolaan Sampah : Kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah (Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
Penghasil Sampah : Setiap orang dan/atau akibat proses alam yang menghasilkan timbulan sampah (Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
Peran Masyarakat : Keterlibatan masyarakat secara sukarela di dalam proses perumusan kebijakan dan pelaksanaan keputusan dan/atau kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pada setiap tahap kegiatan pembangunan (perencanaan, desain, implementasi, dan evaluasi). (DPU.2007).
Produksi Bersih : Strategi pencegahan dampak lingkungan terpadu yang diterapkan secara terus menerus pada proses, produk, jasa untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan dan mengurangi resiko terhadap manusia maupun lingkungan (UNEP.1994). Strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimalisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (KLH.2003).
3R : Upaya pengelolaan sampah dengan mencegah (reduce),
ulang (recycle). (Tim Penulis PS.2008.”Penanganan & Pengolahan Sampah”.Jakarta).
Reduce (Cegah) : Upaya pengelolaan sampah yang diterapkan dengan meminimalisir jumlah barang yang digunakan. Pengurangan dilakukan tidak hanya berupa jumlah saja, tetapi juga mencegah penggunaan barang-barang yang mengandung kimia berbahaya dan tidak mudah terdekomposisi. (Tim
Penulis PS.2008.”Penanganan & Pengolahan
Sampah”.Jakarta).
Reuse (Pakai Ulang) : Upaya pengelolaan sampah dengan memperpanjang usia penggunaan barang melalui perawatan dan pemanfaatan kembali barang secara langsung, diusahakan dipakai berulang-ulang. (Tim Penulis PS.2008.”Penanganan & Pengolahan Sampah”.Jakarta).
Recycle (Daur Ulang) : Upaya pengelolaan sampah dengan mengolah barang yang tidak terpakai menjadi barang baru. Upaya ini memerlukan campur tangan produsen pada praktiknya. Namun, beberapa sampah dapat didaur ulang secara langsung oleh masyarakat, seperti pengomposan,
pembuatan batako dan briket. (Tim Penulis
PS.2008.”Penanganan & Pengolahan Sampah”.Jakarta).
Sampah : Sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat (Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
Sampah Anorganik : Sampah yang tidak dapat terurai (undegradable), seperti karet, plastik, kaleng, dan logam. (Tim Penulis PS.2008.”Penanganan & Pengolahan Sampah”.Jakarta).
Sampah Organik : Sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti dedaunan dan sampah dapur dan dapat terurai secara alami
(degradable). (Tim Penulis PS.2008.”Penanganan &
Pengolahan Sampah”.Jakarta).
Sanitasi : Terdiri dari tiga unsur, yaitu: 1) air limbah domestik; 2) sampah; 3) drainase (Pusteklim.2008.”Manual Teknologi Tepat Guna Pengolahan Air Limbah”.Yogyakarta).
Sanitasi Dasar : Sarana sanitasi rumah tangga yang meliputi sarana buang air besar, sarana pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga (Departemen Kesehatan RI.2008.Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Jakarta).
Sanitasi Total : Kondisi ketika suatu komunitas: 1) tidak buang air besar (BAB) sembarangan; 2) Mencuci tangan pakai sabun; 3) Mengelola air minum dan makanan yang aman; 4) Mengelola sampah dengan benar; 5) Mengelola limbah cair rumah
tangga dengan aman (Departemen Kesehatan
RI.2008.Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Jakarta).
Sewerage : Suatu sistem pembuangan air limbah yang mengalirkan air limbah dari sumbernya ke saluran air limbah kota, yang selanjutnya akan diteruskan ke IPAL untuk diolah. (Ir. Martin Dharmasetiawan, Msc.2006.”Perencanaan Sarana Sanitasi Perkotaan”.Jakarta).
Separate/Konvensional System: Pengaliran air limbah yang dipisahkan dengan air hujan, pengaliran air limbah dengan sistem ini biasanya digunakan perpipaan air limbah yang terpisah (sewerage) dari saluran drainase, kemudian dialirkan ke Instalasi Pengolahaan Air Limbah (IPAL), baru kemudian hasil olahan dialirkan ke badan air penerima (sungai/ laut)
Combine System: pengaliran air limbah yang dicampurkan dengan air hujan, pengaliran air limbah secara bersama-sama dengan saluran drainase, kemudian dialirkan ke Instalasi Pengolahaan Air Limbah (IPAL), sebelum dialirkan ke badan air penerima (sungai/laut).
Sistem IPAL : Sistem Instalasi Pengolahan air limbah merupakan sistem yang diterapakan untuk menurunkan kadar polutan yang ada dalam air (berlebih) agar berkurang sampai batas yang diperbolehkan. Ada beberapa macam cara pengolahan limbah cair, tergantung dari sifat atau karakteristik dan kandungan parameter pencemar yang ada.
Spesifik Sampah : Sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau volumnya memerlukan pengelolaan khusus (Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
STBM : Sanitasi Total Berbasis Masyarakat adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan (Departemen Kesehatan RI.2008.Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.Jakarta).
Sumber Sampah : Asal Timbulan Sampah (Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
Tangki Septik : Merupakan sarana pembuangan air limbah yang sangat umum digunakan terutama di perkotaan Indonesia. Prinsip utamanya adalah mengendapkan bahan padatan yang terkandung air limbah dan diuraikan secara anaerobic (tanpa oksigen) di dalam tangki sedangkan bagian cairnya dialirkan ke bidang peresapan. (Ir. Martin Dharmasetiawan, Msc.2006.”Perencanaan Sarana Sanitasi Perkotaan”.Jakarta).
Tata Ruang : Wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun yang tidak direncanakan (terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai, danau, suaka alam, gua, gunung, dan sejenisnya). Wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentukan rona lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan lainnya membentuk tata ruang (Seperti pusat kota, pusat lingkungan, pusat pemerintahan; prasarana jalan seperti jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal; rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan, garis langit, dan sebagainya).
Pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam (pola lokasi, sebaran permukiman, tempat kerja, industri, dan pertanian, serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan). (Parfi Khadiyanto.2005.”Tata Ruang Berbasis Pada Kesesuaian Lahan”.Semarang).
TPS : Tempat Penampungan Sementara adalah tempat sebelum
sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu (Undang- Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
TPA : Tempat Pembuangan Akhir adalah Tempat untuk
memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan (Undang- Undang RI Nomor 18 Tahun 2008).
DAFTAR SINGKATAN
AMDAL Analisis Dampak Lingkungan
AMPL-BM Air Minum dan Penyehatan Lingkungan- Berbasis Masyarakat APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappeda Badan Perencana Pembangunan Daerah
BPMPD Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa BPLH Badan Pengelola Lingkungan Hidup
CLTS Community Lead Total Sanitation CTPS Cuci Tangan Pakai Sabun
DAK Dana Alokasi Khusus
DAU Dana Alokasi Umum
DED Detail Engineering Design
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DPU Dinas Pekerjaan Umum
DTRBP Dinas Tata Ruang Bangunan dan Pemukiman
DPKAD Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Dinkes Dinas Kesehatan
Dindik Dinas Pendidikan
Distamben Dinas Pertambangan dan Energi
EHRA Environmental Health Risk Assessment IPAL Instalasi Pengolahan Air Limbah
IPLT Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja Kemendagri Kementerian Dalam Negeri
Kemenkes Kementerian Kesehatan Kemenkeu Kementerian Keuangan
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
MBR Masyarakat berpenghasilan rendah MCK Mandi, Cuci dan Kakus
MDGs Millennium Development Goals
Musrenbang Musyawarah Perencanaan Pembangunan NGO Non-Governmental Organization
O&M Operation and Maintenance PAD Pendapatan Asli Daerah
PAH Penampungan Air Hujan
Pamsimas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat PDAM Perusahaan Daerah Air Minum
PDB Produk Domestik Bruto Perda Peraturan Daerah
Pemda Pemerintah Daerah
Permendagri Perintah Menteri Dalam Negeri PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PNPM Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pokja Kelompok Kerja
PP Peraturan Pemerintah
PPh Pajak Pertambahan Hasil
PPSP Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
PU Pekerjaan Umum
RKA-SKPD Rencana Kerja dan Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah
RKA Rencana Kerja Anggaran
RPIJM Rencana Program Investasi Jangka Menengah RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RT Rukun Tetanggga
RW Rukun Warga
RTRW Rencana Tata Ruang Wilayah
Sanimas Sanitasi berbasis Masyarakat Satker Satuan Kerja
Sekda Sekretaris Daerah Setda Sekretariat Daerah
SILPA Sisa Lebih Penggunaan Anggaran
SPA Sehat Pakai Air
SKPD Satuan Kerja Perangkat Daerah SPM Standar Pelayanan Minimal
SPT Sumur Pompa Tangan
STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat SSK Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten SWD Solid Waste Disposal
TA Technical Assistance
TPA Tempat Pemrosesan Akhir
TPS Tempat Penampungan Sementara
TPSA Tempat Penampungan Sampah Akhir
TUPM Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan
UU Undang-undang
UKM Usaha Kecil Menengah
UMKM Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UPAM Unit Pengelola Air Minum
UPTD Unit Pelaksana Teknis Daerah
WS Water Supply
B
BA
AB
B
I
II
I
A
AR
RA
AH
H
P
PE
EN
NG
GE
E
MB
M
BA
AN
NG
GA
AN
N
S
SE
EK
KT
T
OR
O
R
S
SA
AN
NI
IT
TA
AS
SI
I
K
KO
OT
T
A
A
2.1. Gambaran Umum Sanitasi Kota
2.1.1. Kondisi Umum Wilayah Fisik Pemerintahan A. Geografis
Kabupaten Karo terletak diantara 2°50” - 3°19” Lintang Utara serta pada 97°55 - 98°38¨ Bujur Timur merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan Palung Pasifik Barat dengan luas wilayah 2.127,25 Km² atau merupakan 2,97% dari luas Propinsi Sumatera Utara. Secara administratif terdiri dari 17 Kecamatan dan 262 Desa/Kelurahan (252 desa dan 10 kelurahan), dengan jumlah penduduk 2.127,25 jiwa (Kabupaten Karo Dalam Angka 2009).
KARAKTERISTIK PENJELASAN
Letak 2°50 - 3°19 Lintang Utara
97°55” - 98°38¨ Bujur Timur
Luas Wilayah 2.127,25 Km²
Letak diatas pemukaan Laut 120-1420 M
Batas-Batas Utara : Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang
Selatan : Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir Barat : Propinsi Nangroe Aceh Darusalam
Timur : Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten Simalungun
Daerah Administratif terdiri dari 17 Kecamatan dan 262 Desa/Kelurahan
B. Topografis
Kabupaten Karo secara geografis terletak pada jajaran bukit barisan dan sebagian besar merupakan dataran tinggi. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini.Wilayah kabupaten karo berada 120-1420 diatas permukaan laut.
C. Hidrologi
Kabupaten Karo merupakan Daerah Hulu Sungai (DHS) dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Wampu/Ular, sub Daerah Aliran Sungai Laubiang, dengan luas
areal 2.127,25 km2, yang kesemuanya bermuara ke Selat Malaka. Pada
umumnya sub DAS ini dimanfaatkan untuk mengairi areal persawahan sebagai upaya peningkatan produksi pertanian.
Tabel 2-1
Daerah Aliran Sungai Kabupaten Karo No Daerah Aliran
Sungai (DAS) Sub DAS Luas Areal Km2 Keterangan 1. Lau Biang Wampu/Ular
D. Administratif
Secara administratif Wilayah Kabupaten Karo terbagi dalam wilayah 17 kecamatan, 252 desa dan 10 kelurahan. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo berada di kabanjahe.
E. Luas Wilayah, Jenis Tanah dan Penggunaan Lahan
Wilayah Kabupaten Karo terdiri dari 17 Kecamatan dan 262 desa/kelurahan memiliki luas wilayah 2.127,25 km 2 dengan luas wilayah masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut :
Tabel 2-2
Luas Wilayah Kabupaten Karo
No Kecamatan Luas Wilayah (Km2)
(1) (2) (3) 1 Mardingding 267,11 2 Laubaleng 252,60 3 Tigabinanga 160,38 4 Juhar 218,56 5 Munte 125,64 6 Kutabuluh 195,70 7 Payung 47,24 8 Tiganderket 86,76 9 Simpang empat 93,48 10 Naman Teran 87,82 11 Merdeka 44,17 12 Kabanjahe 44,65
No Kecamatan Luas Wilayah (Km2) 13 Berastagi 30,50 14 Tigapanah 186,84 15 Dolat Rayat 32,25 16 Merek 125,51 17 Barusjahe 128,04 Jumlah 2 127,25
Sumber: Kab. Karo Dalam Angka Tahun 2010
Untuk pembagian wilayah kabupaten karo dapat dilihat di gambar Peta
Kabupaten Karo berikut ini :
Gambar 2.1. Peta Kabupaten Karo
Secara rinci, penggunaan lahan di Kabupaten Karo dapat dibedakan sebagai berikut :
Tabel 2-3
Persentase Penggunaan Lahan Kabupaten Karo Tahun 2003 - 2013
No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Luas Persentase
1 Hutan Lindung 96.387 45,31 2 Suaka Alam 475 0,22 3 Taman Nasional 0 0,00 4 Hutan Wisata 0 0,00 5 Tahura 7 0,003 6 Hutan Produksi 22.987 10,81
7 Tanaman Lahan Basah 16.454 7,73
8 Tanaman Lahan Kering 46.448 21,83
9 Tanaman Tahunan 14.138 6,65
10 Perkebunan Campuran 7.714 3,63
11 Alang-Alang 8.115 3,81
Jumlah 212.725 100
Sumber : Revisi Rencana tata Ruang Wilayah Kabupaten Karo 2003 – 2013
F. Kependudukan
Pemahaman tentang jumlah, struktur, dan pertumbuhan serta distribusi penduduk sangat menentukan arah pembangunan di suatu daerah. Kondisi kependudukan akan mempengaruhi berbagai kebijaksanaan pembangunan dari berbagai sektor-sektor pelayanan dan pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintah. Jumlah penduduk Kabupaten Karo terus tumbuh secara relatif cepat dan hal ini akan membawa perubahan pada sistem pelayanan pemerintah secara keseluruhan.
Jumlah penduduk Kabupaten Karo Tahun 2007 tercatat sebanyak 351.368 jiwa, kemudian meningkat menjadi 360.880 jiwa pada Tahun 2008, kemudian meningkat menjadi 370.655 jiwa pada Tahun 2009. Dimana komposisi penduduk menurut umur pada tahun 2009 sebagai berikut : penduduk kelompok umur 0 s/d 14 Tahun sebanyak 121.407 jiwa (32,76 %) dan penduduk kelompok umur 15 s/d 64 Tahun sebanyak 232.011 jiwa (62,60 %), sedangkan jumlah penduduk kelompok umur 65 Tahun keatas adalah 17.201 jiwa (4,64 %). Jumlah penduduk Kabupaten Karo ini merupakan potensi sumber daya manusia yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Hal ini akan dapat memperkuat SDM Kabupaten Karo dimasa yang akan datang guna mempercepat pengembangan daerah Kabupaten Kabupaten Karo.
Dilihat dari distribusi dan kepadatan penduduk, maka rata-rata kepadatan penduduk telah mencapai ± 174,22 jiwa/km2. Kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Berastagi yaitu 1.530,69 jiwa/km2, sedangkan kepadatan terendah terdapat di Kecamatan Mardinding yaitu 62,21 jiwa/km2. Jumlah kepadatan penduduk perkecamatan dapat terlihat pada tabel berikut :
Tabel 2-4
Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Per Kecamatan Di Kabupaten Karo Tahun 2009
Kecamatan Nama Ibu kota luas Wilayah/ (Km2) penduduk Banyak
Kepadatan Penduduk (jiwa/Km2) 01 Mardingding Mardingding 267,11 16 617 62,21 02 Laubaleng Laubaleng 252,60 20 355 80,58 03Tigabinanga Tigabinanga 160,38 19 902 124,09 04 Juhar Juhar 218,56 14 217 65,05 05 Munte Munte 125,64 21 586 171,81 06 Kutabuluh Kutabuluh 195,70 12 507 63,91 07 Payung Payung 47,24 11 309 239,39 08 Tiganderket Tiganderket 86,76 14 579 168,04
09 Simpang Empat Simpang Empat 93,48 21 089 225,60
10 Naman Teran Naman Teran 87,82 12 652 144,07
11 Merdeka Merdeka 44,17 13 218 299,25
12 Kabanjahe Kabanjahe 44,65 63 990 1 433,15
13 Berastagi Berastagi 186,84 46 686 1 530,69
14 Tigapanah Tigapanah 186,84 33 102 177,17
15 Dolat Rayat Dolat Rayat 32,25 8 573 265,83
16 Merek Merek 125,51 16 130 128,52
17 Barusjahe Barusjahe 128,04 24 107 188,28
Jumlah Total 2 127,25 370 619 174,22
Sumber : Karo Dalam Angka Tahun 2010
Tabel 2-5. Jumlah Penduduk Per Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Karo Tahun 2009
No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Sex Rasio
1 Mardingding 8.323 8.294 16.617 100,35 2 Laubaleng 10.072 10.283 20.355 97,95 3 Tigabinanga 10.033 9.869 19.902 101,66 4 Juhar 6.704 7.513 14.217 89,23 5 Munte 10.745 10.841 21.586 99,11 6 Kutabuluh 6.199 6.308 12.507 98,27
No Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah Sex Rasio 7 Payung 5.552 5.757 11.309 96,44 8 Tiganderket 7.124 7.455 14.579 95,56 9 Simpang Empat 10.462 10.627 21.089 98,45 10 Naman Teran 6.348 6.304 12.652 100,70 11 Merdeka 6.608 6.610 13.218 99,97 12 Kabanjahe 31.856 32.134 63.990 99,13 13 Berastagi 21.863 24.823 46.686 88,08 14 Tigapanah 16.291 16.811 33.102 96,91 15 Dolat Rayat 4.256 4.317 8.573 98,59 16 Merek 8.084 8.046 16.130 100,47 17 Barusjahe 11.977 12.130 24.107 98,74 Jumlah 182.497 188.122 370.619 97,01 sumber: Karo Dalam Angka Tahun 2010
Tabel 2-6. Pertumbuhan Penduduk Per Kecamatan Di Kabupaten Karo Tahun 2009
Kecamatan/Sub Regency Distribusi penduduk (tahun) Rata-rata pertumbuhan penduduk 1990 2000 2009 2000/1990 2009/2000 Mardingding 14.436 13.488 16.617 -0,68 2,35 Laubaleng 15.293 14.268 20.355 -0,69 4,03 Tigabinanga 16.969 16.795 19.902 -0,10 1,90 Juhar 12.901 13.242 14.217 0,26 0,79 Munte 16.488 18.461 21.586 1,14 1,75 Kutabuluh 9.881 9.496 12.507 -0,40 3,11 Payung 8.605 9.181 11.309 0,65 2,34 Tiganderket 12.290 12.059 14.579 -0,19 2,13 Simpang Empat 15.472 16.981 21.089 0,93 2,44 Naman Teran 7.786 9.198 12.652 1,68 3,61 Merdeka 7.857 330 13.218 1,73 3,95 Kabanjahe 41.045 46.785 63.990 1,32 3,54 Berastagi 26.046 30.575 46.686 1,62 4,82 Tigapanah 20.003 22.319 33.102 1,10 4,48 Dolat Rayat 5.728 6.637 8.573 1,48 2,88 Merek 10.731 14.521 16.130 3,07 1,17 Barusjahe 16.450 20.377 24.107 2,16 1,89 Jumlah total 257.981 274.713 370.619 0,96 3,01 Sumber : Karo Dalam Angka tahun 2010
G. Pendidikan
Ketersediaan jumlah fasilitas pendidikan di Kabupaten Karo dapat dibedakan dari Pendidikan Umum dan Pendidikan Agama. Jumlah fasilitas pendidikan umum di Kabupaten Karo pada tahun 2009 terdapat sekitar 384 Sekolah yang terdiri dari 286 unit Sekolah Dasar, 64 unit SLTP, 27 unit SMU dan 7 unit Sekolah Menengah Kejuruan. Fasilitas pendidikan terbanyak terdapat di Kecamatan Tigapanah yaitu sebanyak 27 unit sekolah. Sedangkan fasilitas pendidikan terkecil terdapat di Kecamatan Kutabuluh dan Merek yaitu masing-masing sebanyak 13 unit sekolah.
Jumlah fasilitas pendidikan Agama Islam di Kabupaten Karo pada tahun 2009 terdapat sekitar 15 unit sekolah yang terdiri dari 7 unit Sekolah Mdrasah Ibtidaiyah, 5 unit Sekolah Madrasah Tsanawiyah, 3 unit Sekolah Madrasah Aliyah, 98 unit Sekolah MTs dan sebanyak 32 unit Sekolah MA. Fasilitas pendidikan agama islam masih terdapat di sebagian kecil wilayah Kabupaten Karo yaitu di kecamatan Laubaleng, Tigabinanga, Simpang Empat, Kabanjahe, Berastagi, Kutabuluh. Sedangkan untuk kecamatan Mardingding, Juhar, Munte, Payung, Tiganderket, Naman Teran, Merdeka, Tigapanah, Dolat Rayat, Merek, dan Barusjahe belum memiliki sekolah agama islam.
Untuk lebih jelasnya mengenai penyebaran fasilitas pendidikan di Kabupaten Karo dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.7. Jumlah Fasilitas Pendidikan Umum Di Kabupaten Karo tahun 2009
No Kecamatan Neg. SD Sw. Neg. SMP Sw. Neg. SMU Sw. Neg. SMK Sw. Jumlah
1 Mardingding 16 3 3 1 23 2 Laubaleng 15 2 1 4 1 23 3 Tigabinanga 19 2 3 1 1 1 27 4 Juhar 14 3 1 1 19 5 Munte 20 2 1 1 24 6 Kutabuluh 13 1 5 1 20 7 Payung 26 3 1 1 1 32 8 Tiganderket 1) 9 Simpang Empat 30 3 1 1 1 36 10 Naman Teran 1) 11 Merdeka 1)
No Kecamatan Neg. SD Sw. Neg. SMP Sw. Neg. SMU Sw. Neg. SMK Sw. Jumlah 12 Kabanjahe 23 12 3 10 3 1 3 55 13 Berastagi 16 10 3 4 1 6 1 41 14 Tigapanah 27 2 4 1 3 37 15 Dolat Rayat 1) 16 Merek 13 2 2 3 18 17 Barusjahe 21 1 4 1 1 1 29 Jumlah 253 33 39 25 14 13 3 4 384
sumber: Karo Dalam Angka tahun 2010
Keterangan/Note: 1) Data Kecamatan Tiganderket masih bergabung dengan Kecamatan Payung, Naman Teran dan Merdeka ke Simpang Empat, dan Dolat Rayat ke Kecamatan Tigapanah
Tabel 2.8. Jumlah Sekolah, Ruang Kelas, Guru Dan Murid Di Kabupaten Karo Tahun 2009
No. Kecamatan Sekolah Ruang Kelas Guru Murid
1 Mardingding 16 112 146 2 316 2 Laubaleng 15 81 131 2 233 3 Tigabinanga 19 101 128 1 931 4 Juhar 14 113 124 1 514 5 Munte 20 126 192 2 427 6 Kutabuluh 13 91 128 2 196 7 Payung 26 175 263 1 705 8 Tiganderket 1) 9 Simpang Empat 30 196 291 4 392 10 Naman Teran 1) 11 Merdeka 1) 12 Kabanjahe 23 162 298 5 939 13 Berastagi 16 100 183 3 883 14 Tigapanah 27 200 297 3 990 15 Dolat Rayat 1) 16 Merek 13 88 134 2 441 17 Barusjahe 21 143 219 3 043 Jumlah 253 1 688 2 534 38 010
Sumber : Karo Dalam Angka tahun 2010
H. Kesehatan
Jumlah fasilitas kesehatan yang terdapat di Kabupaten Karo pada tahun 2009 terdapat sekitar 422 Unit, yang terdiri 6 unit Rumah Sakit Umum, 19 Unit Pukesmas Rawat Jalan, 258 Unit Puskesmas Pembantu, 23 Unit Rumah Bersalin, 93 Unit Balai Pengobatan Umum (BPU) dan 23 Unit Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang telah tersebar di 19 (Sembilan belas kecamatan), disamping itu di Kabupaten karo juga terdapat sebanyak 401 unit Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Fasilitas kesehatan terbanyak terdapat di Kecamatan Berastagi,
yaitu sebanyak 60 Unit. Sedangkan fasilitas kesehatan terkecil terdapat di Kecamatan Dolat Rayat, yaitu hanya mempunyai sebanyak 7 Unit fasilitas kesehatan. Lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Tabel 2.9. Banyaknya Fasilitas Kesehatan Di Kabupaten Karo Tahun 2009 No Kecamatan Rumah Sakit
Umum
Puskesmas
Puskesmas Pembantu
Rumah
Bersalin BPU Poskesdes Jumlah Rawat
inap Rawat Jalan
1 Mardingding - - 1 8 - 5 1 15 2 Laubaleng - - 1 15 - 8 - 24 3 Tigabinanga - - 1 25 - 6 1 33 4 Juhar - - 1 11 - 3 - 15 5 Munte - - 1 34 - 2 - 37 6 Kutabuluh - - 1 10 1 2 - 14 7 Payung - - 1 6 - - - 7 8 Tiganderket - - 1 11 - 1 - 13 9 Simpang Empat - - 1 11 - 1 2 15 10 Naman Teran - - 1 14 - 2 5 22 11 Merdeka - - 1 4 - 1 3 9 12 Kabanjahe 4 - 1 25 8 17 - 55 13 Berastagi 2 - 2 21 9 23 3 60 14 Tigapanah - - 2 19 2 8 6 37 15 Dolat Rayat - - 1 3 1 1 - 6 16 Merek - - 1 11 2 5 - 19 17 Barusjahe - - 1 30 - 8 2 41 Jumlah 6 19 258 23 93 23 422
Sumber : Karo dalam angka tahun 2010
Tabel 2.10. Banyaknya Tenaga Dokter Di Kabupaten Karo Sampai Dengan Tahun 2009
No. Tahun Dokter Umum Dokter Spesialis Dokter Gigi Jumlah
1. 1992 18 - 9 27 2. 1993 28 - 13 41 3. 1994 40 12 22 74 4. 1995 39 11 20 70 5. 1996 35 11 26 72 6. 1997 26 13 21 60 7. 1998 23 15 18 56 8. 1999 22 13 19 54 9. 2000 1 ) 39 12 23 74 10. 2001 1 ) 48 12 25 85 11. 2002 1 ) 37 14 24 75 12. 2003 1 ) 35 16 24 75 13. 2004 1 ) 50 15 23 88 14. 2005 1 ) 64 15 23 102 15. 2006 1 ) 64 15 23 102
No. Tahun Dokter Umum Dokter Spesialis Dokter Gigi Jumlah
16. 2007 1 ) 64 15 23 72
17. 2008 1 ) 77 15 26 103
18. 2009 1 ) 74 18 27 119
Sumber :Karo dalam angka tahun 2010 Keterangan : 1) Termasuk Dokter PTT
Tabel 2.11. Banyaknya Kasus Penyakit Di Kabupaten Karo Tahun 2009
No. Kecamatan Jenis Penyakit
TBC1 G.O Disentri Campa Diare Cacing
1. Mardingding 25 4 220 - 798 175 2. Laubaleng 18 2 238 1 799 136 3. Tigabinanga 10 3 108 - 691 69 4. Juhar 14 10 240 - 1 257 133 5. Munte 6 5 311 - 896 275 6. Kutabuluh 5 2 109 - 657 200 7. Payung 14 - 32 2 637 198 8. Tiganderket 13 8 76 1 657 72 9. Simpang Empat 4 1 140 1 734 322 10. Naman Teran - - 23 - 136 341 11. Merdeka 6 26 163 5 299 185 12. Kabanjahe 63 - 46 1 207 63 13. Berastagi 38 48 254 13 1056 195 14. Tigapanah 18 5 303 14 650 648 15. Dolat Rayat 4 6 65 1 43 52 16. Merek 4 4 500 - 296 421 17. Barusjahe 11 7 223 1 797 58 Jumlah 253 131 3 051 40 10 610 3 543 Sumber : Karo dalam angka tahun 2010
Keterangan : 1) BTA (+) dan RO (+) I. Sosial Masyarakat
Jika dilihat dari kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Karo pada umumnya penduduk di Kabupaten Karo mayoritas beragama Kristen Protestan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah tempat ibadah umat Kristen lebih banyak bila dibandingkan dengan sarana ibadah agama lainnya walalupun pada dasarnya masyarakat di Kabupaten Karo terdiri dari beragam suku dan agama. Jumlah sarana ibadah yang ada saat ini di Kabupaten terdapat sebanyak 911 Unit, yang terdiri dari 164 Unit Mesjid, 51 Unit Langgar/Musholla, 538 Unit Gereja Protestan, 148 Unit Gereja Katolik, 8 Unit Pura, dan 2 Vihara. Jumlah sarana ibadah yang terbanyak terdapat di Kecamatan Percut Sei Tuan yaitu sebanyak 354 Unit. Sedangkan jumlah sarana ibadah yang terkecil terdapat
di Kecamatan Gunung Meriah yaitu hanya sebanyak 23 Unit. Lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Tabel 2.12. Jumlah Sarana Ibadah Di Kabupaten Karo Tahun 2009
No Kecamatan Mesjid Langgar Surau/ Gereja/Kristen Protestan Gereja Kapel/ Katolik Pura Vihara
1 Mardingding 10 - 30 9 1 - 2 Laubaleng 8 4 37 9 1 - 3 Tigabinanga 14 2 41 13 - - 4 Juhar 7 - 33 13 - - 5 Munte 12 3 36 15 2 - 6 Kutabuluh 4 2 30 8 3 - 7 Payung 6 - 14 5 - - 8 Tiganderket 15 2 26 4 1 - 9 Simpang Empat 9 1 29 5 - - 10 Naman Teran 12 - 22 4 - - 11 Merdeka 15 - 10 3 - 1 12 Kabanjahe 17 15 48 12 - 1 13 Berastagi 13 16 31 8 - - 14 Tigapanah 7 2 51 14 - - 15 Dolat Rayat 4 - 17 2 - - 16 Merek 4 3 35 9 - - 17 Barusjahe 7 1 48 15 - - Jumlah 164 51 538 148 8 2
Sumber : Karo dalam angka tahun 2010
2.1.2. Kondisi Umum Sanitasi Kabupaten Karo 2.1.2.1. Drainase Lingkungan
Secara umum, drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras atau mengalirkan air. Drainase juga adalah salah satu unsur dari prasarana umum yang dibutuhkan masyarakat dalam rangka menuju kehidupan yang aman, nyaman, bersih dan sehat. Prasarana drainase berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air (sumber air permukaan dan bawah permukaan tanah) dan atau bangunan resapan. Selain itu juga berfungsi sebagai pengendali kebutuhan air permukaan dengan tindakan untuk memperbaiki daerah becek, genangan air dan banjir.
Fungsi saluran drainase antara lain :
1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada akumulasi
air tanah.
2. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
3. Mengendalikan air hujan berlebihan sehingga tidak terjadi banjir.
Saluran drainase di Kabupaten Karo pada umumnya menggunakan sistem saluran terbuka dan masih banyak yang bersifat alami (saluran tanah), sedangkan untuk saluran tertutup ditemui disepanjang jalan utama kota yang difungsikan juga sebagai trotoar.
Kondisi saluran drainase pada saat ini belum berfungsi dengan baik, hal ini dapat dilihat pada titik-titik tertentu seperti pada kawasan Karo, bila terjadi hujan yang cukup lama maka akan terjadi genangan pada badan jalan bahkan melimpah sampai kerumah penduduk.
Kabupaten Karo belum memiliki sistem drainase secara teknis, pada umumnya drainase yang dipergunakan masih bersifat alami atau sederhana.
2.1.2.2. Persampahan
Limbah padat atau sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.
Saat ini Kabupaten Karo telah memiliki 1 (satu) unit Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang berlokasi di Nang Belawan Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo dengan luas areal ± 4 Ha dengan kapasitas muatan ± 750.000.000 m³, disamping itu Kabupaten Karo juga memiliki ± 72 Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dengan kapasitas masing-masing ± 1,5 m3 yang lokasi penempatannya tersebar di Kota Kabanjahe, Kota Berastagi dan Ibu Kota Kecamatan. Selain itu Kabupaten Karo juga memiliki 18 Unit Bin Kontainer dengan kapasitas 6 m3 yang lokasi penempatannya juga tersebar di masing-masing Ibu Kota Kecamatan.
Volume Sampah Terangkut di Kab. Karo Tahun 2006 s/d Tahun 2010 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 1 2 3 4 5 Tahun Ke -V ol um e (. 00 0 m 3) Series1 Series2
Produksi Sampah untuk Kota Kabanjahe rata-rata 305 m3 per hari sedangkan untuk sampah yang berasal dari 5 Kelurahan yaitu sebesar ± 38,25 m3 per hari, sedangkan produksi sampah untuk Kota Berastagi rata-rata 21,43 m3 per hari Produksi sampah di kota dan pasar Karo rata-rata 28 m3 /hari, dimana jumlah sampah terangkut adalah 12 m3/hari atau 43% dari total sampah dengan intensitas pengangkutan 1 kali sehari oleh 2 unit dump truck. Uraian timbulan dan jumlah sampah yang terangkut serta peralatan yang tersedia dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.13.
Timbulan dan Jumlah Sampah yang terangkut/hari (m3/hari)
No Tahun Jumlah Timbulan Sampah (m3) Jumlah Sampah yang Ditangani (m3) Persentase
1 2006 124.968.00 93.726,00 75,00
2 2007 123.741,00 92.806,00 75,00
3 2008 146.975,00 110.231,00 75,00
4 2009 143.308,00 111.231,00 77,62
5 2010 148.368,00 111.276.00 75,00
Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Karo Tahun 2011 Gambar 2-2
Volume Timbulan Sampah Dan Sampah Terangkut Di Kabupaten Karo Tahun 2006 s/d Tahun 2010
Sumber-sumber sampah di Kabupaten Karo antara lain berasal dari :
1. Sampah Jalan Arteri dan kolektor Sampah yang berasal dari pejalan kaki, pengendara kendaraan maupun berasal dari pengguna jalan yang lain. Sampah jalan ditangani oleh penyapu jalan baik dalam pengumpulan maupun pengangkutan.
2. Sampah Pasar/pertokoan. Sampah ini berasal dari kegiatan pasar, yang kebanyakan merupakan sisa sayur-mayur dan buah-buahan.
3. Sampah Perkantoran. Jumlah sarana perkantoran yang ada di kabupaten ini memberikan kontribusi sampah yang umumnya berwujud kertas.
4. Sampah Sekolah. Jenis sampah dari sarana pendidikan terdiri dari berbagai macam jenis sampah antara lain plastik, organik, kertas dan lain-lain.
5. Sampah Terminal
6. Sampah Rumah Sakit/Puskesmas. Sampah yang berasal dari aktifitas baik termasuk sampah yang berasal dari kegiatan laboratorium. Biasanya sampah yang dibuang di TPA adalah sampah jenis non B3.
7. Sampah Perumahan. Sampah ini berasal dari rumah tangga. Sampah ini berasal dari aktifitas dapur, sampah pohon di halaman maupun kegiatan rumah tangga lain.
Tabel 2.14. Alat Angkut Sampah
No Jenis Alat Angkut Jumlah (Unit) Kapasitas per unit (m3) Ritasi Masih Beroperasi Ya Tidak
1. Gerobak sampah 43 0,5
2. Dump truck 6 6 4 Rusak
3. Arm roll 9 5 3 Rusak
Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Karo Tahun 2011
2.1.2.3. Pengelolaan Air Limbah
Masyarakat di Kabupaten Karo sebagian telah melakukan pengelolaan air limbah rumah tangganya, namun sarana pendukungnya masih terbatas. Banyak dijumpai di lingkungan permukiman belum tersedia sarana sanitasi yang memadai sehingga bila tidak segera ditangani dikuatirkan akan mencemarkan lingkungan hidup di sekitarnya.
Banyaknya rumah tangga yang belum memiliki sarana sanitasi menjadi salah satu indikator kesehatan lingkungan masyarakatnya.
Prasarana dan sarana pengelolaan air limbah di Kabupaten Karo masih terbatas pada skala rumah tangga saja, sedangkan untuk skala yang lebih luas seperti IPAL dan IPLT belum tersedia.
Sarana sanitasi berupa pengelolaan air limbah di beberapa tempat telah tersedia sehingga tinggal dikelola dan dipantau secara berkala, seperti: rumah sakit umum 1 buah, industri dll.
Penanganan sanitasi di Kabupaten Karo, tidak hanya faktor higienis yang harus diperhatikan tetapi juga masalah pencemaran terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh air limbah domestik itu sendiri. Secara umum tingkat pencemaran menunjukan angka yang signifikan pada badan air yang melalui perkotaan pada kawasan dengan kepadatan penduduk yang lebih tinggi. Di kawasan perkotaan, seperti: Kota Kabanjahe dan Kota Berastagi yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi diperlukan penataan dan pengelolaan air limbah yang baik sehingga tidak mencemari lingkungan permukiman. Kondisi prasarana dan sarana sanitasi di Kabupaten Karo masih terbatas sehingga pengelolaannya masih belum optimal. Masih banyak dijumpai warga masyarakat yang belum memiliki sarana sanitasi yang baik pada setiap huniannya.
Sistem pembuangan air limbah harus dipisahkan dengan sistem pembuangan air hujan, namun sering dijumpai limbah dari rumah tangga dibuang ke dalam sistem pembuangan air hujan yang dapat mengakibatkan polusi/pencemaran lingkungan hidup.
Pengelolaan prasarana dan sarana air limbah pada setiap daerah mempunyai karakteristik yang berbeda, baik tingkat pelayanan, jenis dan lingkup pelayanannya. Pengelolaan sanitasi dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem yaitu:
a. Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (on-site system);
Sistem pengelolaan air limbah di Kabupaten Karo masih banyak menggunakan sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) baik itu secara individu dan di beberapa tempat secara komunal. Di sisi lain masih banyak warga masyarakat yang belum memiliki pengelolaan air limbah dan membuang limbahnya ke saluran atau sungai, hal ini tidak lepas dari sebagian masyarakat belum mendapatkan pelayanan air minum yang baik dan kontinu sehingga penyediaan sarana sanitasi masih sangat terbatas.
Berdasarkan hasil Study EHRA dengan metode sampling pada 8 kecamatan di Kabupaten Karo, menemukan fasilitas BAB di Kabupaten Karo yang paling umum dilaporkan oleh rumah tangga adalah jamban siram/leher angsa yang disalurkan ke tangki septic, proporsinya adalah sekitar
43,1% (siram) dan yang membuang tinja langsung ke ruang terbuka (parit, kolam, lobang galian) sebesar 28,6%, sementara untuk jamban non siram ke septik tank sebesar 2,1% dan keruang terbuka sebesar 26,2%.
Dari hasil wawancara Study EHRA diperoleh sekitar 45,2% rumah tangga di Kabupaten Karo menggunakan tangki septik, yang mana lokasi septik pada umumnya terletak pada perkarangan belakang rumah. Kader-kader juga mengamati keberadaan saluran air
disekitar rumah terpilih, saluran yang dimaksud adalah saluran yang digunakan untuk membuang air bekas penggunaan rumah tangga (grey water), seperti air dapur, bekas cuci piring/bahan makanan. Air cuci pakaian maupun air bekas mandi, Saluran ini bercampur dengan pembuangan air hujan (drainase). Hasil pengamatan menunjukan bahwa sekitar 42,49% memiliki akses pada saluran air disekitar rumahnya. Sementara sekitar 57,51% rumah tangga tidak memiliki akses pada saluran air limbah. Kabupaten Karo, belum memiliki Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja untuk pengolahan Limbah dari Tangki Septik. Sehingga setelah tangki septik disedot, dibuang ke sembarang tempat yang jauh dari permukiman
Tabel. 2-15.
Jumlah dan Jenis Sarana Jamban Keluarga di Kabupaten Karo Tahun 2009
NO PUSKESMAS
JENIS SARANA
KET
PLENGSENGAN CEMPLUNG SEPTIK TANK
J.RH JPYM TBF J.RH JPYM TBF J.RH JPYM TBF
1 Kabanjahe 2 Berastagi 298 1289 2987 14521 3 Korpri 4 Simpang iv 77 385 545 2725 5 Naman 6 Kutabuluh 350 1200 222 5100 448 2500 7 Tiganderket 649 2435 8 Munte 5 25 3167 14007 9 Juhar 120 635 1985 7798 10 Tigabinanga 106 761 2428 7693 11 Lau Baleng 12 Mardingding 943 6453 13 Tigapanah 4074 16260 14 Barusjahe 135 2272 15 Merek 160 1120 631 4417 16 Payung 17 Merdeka 21 105 18 Dolat Rakyat 51 793 850 1600 19 Singa 13 47 800 392 JUMLAH 350 1200 1208 10260 21779 80801 NO PUSKESMAS
JENIS SARANA TOTAL LEHER ANGSA LAIN-LAIN SPAL RUMAH TOTAL J.RH JPYM TBF J.RH JPYM TBF J.RH JPYM TBF YAJ JPYM
1 Kabanjahe 2 Berastagi 4854 13728 393 1965 8139 29538 3 Korpri 4 Simpang iv 2308 11540 3006 10030 2970 14650 5 Naman 6 Kutabuluh 840 2600 270 1370 1180 10970 7 Tiganderket 4 695 185 918 8 Munte 3167 14007 1944 4087 67 335 3172 14032 9 Juhar 2826 6213 1105 7786 10 Tigabinanga 770 967 3304 8173 400 371 3304 9371 11 Lau Baleng 12 Mardingding 1077 6853 1085 2115 295 979 3400 16400 13 Tigapanah 875 3221 404 2000 500 3000 4949 19481 14 Barusjahe 548 1890 2955 15 Merek 811 5677 647 4124 1602 11214
NO PUSKESMAS
JENIS SARANA TOTAL LEHER ANGSA LAIN-LAIN SPAL RUMAH TOTAL J.RH JPYM TBF J.RH JPYM TBF J.RH JPYM TBF YAJ JPYM
16 Payung
17 Merdeka 1353 6765 1072 4180 50 250 1379 6870
18 Dolat Rakyat 301 1470 15 1320 1515 7370 1217 4433
19 Singa 27 139 32 13 8 840 3961
JUMLAH 16935 67662 12177 36478 7731 22335 36212 148706
Di beberapa tempat, pada bangunan-bangunan tertentu diwajibkan menyediakan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL), seperti: rumah sakit, industri, penginapan dll. Fasilitas pengolahan ini sangat dibutuhkan untuk menghindari dampak pencemaran lingkungan hidup.
Masyarakat desa yang mendapat program/kegiatan PAMSIMAS ini telah dilibatkan sejak awal, yaitu dari perencanaan, pelaksanaan maupun operasional serta pemeliharaannya. Diharapkan dengan adanya program PAMSIMAS ini menjadikan kawasan permukiman menjadi lebih sehat dengan tersedianya air minum dan sarana sanitasi di sekitar lingkungan perumahan dan sekolah.
2.1.2.4. Higiene dan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sanitasi
Menurunnya kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Karo dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perilaku hidup masyarakat yang relatif kurang kondusif terhadap program sanitasi, pertambahan jumlah penduduk, penyebaran penduduk dengan dibukanya wilayah baru oleh pengembang perumahan serta kurang tersedianya sarana dan prasarana sanitasi. Masyarakat lebih suka menggunakan sarana alam (sungai) dari pada menggunakan sarana yang tersedia, dalam arti kata kebiasaan dan prilaku yang perlu dilakukan reformasi (perubahan).
Menurunnya kualitas air permukaan dikarenakan masuknya air limbah, sampah padat dan tinja ke badan air. Hal ini disebabkan karena limbah cair domestik masih dikelola secara individual. Sistem komunal mandi, cuci dan kakus (MCK) telah dilaksanakan dibeberapa tempat melalui program SANIMAS tetapi belum menjangkau seluruh pemukiman padat sehingga perlu dilaksanakan di lokasi lain.
Limbah cair yang berasal dari industri, hotel, dan rumah sakit baik yang sudah memiliki fasilitas IPAL apalagi yang belum juga memberi kontribusi bahan
pencemar. Hal ini menyebabkan Biologycal Oxygent Demand (BOD) dan
Chemical Oxygent Demand (COD) meningkat sedangkan Dissolved Oxygent (DO) menurun; sehingga air permukaan dibeberapa tempat sudah berbau busuk dan berwarna kehitam-hitaman, kandungan mikroorganismen pada badan air tersebut meningkat serta terjadinya pendangkalan sungai.
Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan penyebaran penduduk ke wilayah yang lebih luas, menyebabkan jumlah timbulan sampah meningkat setiap tahunnya. Kesulitan mendapatkan area tempat pengelolaan sampah sementara (TPS) mempengaruhi ketersediaan jumlah TPS yang ada di masyarakat. Hal ini memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membuang sampah sembarangan selain karena perilaku masyarakat itu sendiri yang suka membuang sampah seenaknya. Ketersediaan lahan yang laik untuk tempat pengelolaan
sampah akhir (TPA) dan pemilihan tipe TPA yang masih berupa open dumping
merupakan tantangan ke depan yang perlu dicari pemecahannya. Rintisan upaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) perlu dilakukan. Upaya pengelolaan sanitasi udara dilakukan lewat uji emisi kendaraan bermotor, penghijauan di ruas jalan kota dan penataan ruang terbuka hijau di pusat Kota.
Tabel 2-16.
Penderita Penyakit Berhubungan Dengan Lingkungan Menurut Kecamatan
No. Kecamatan Jenis Penyakit
TBC1 G.O Disentri Campa Diare Cacing
1. Mardingding 25 4 220 - 798 175 2. Laubaleng 18 2 238 1 799 136 3. Tigabinanga 10 3 108 - 691 69 4. Juhar 14 10 240 - 1.257 133 5. Munte 6 5 311 - 896 275 6. Kutabuluh 5 2 109 - 657 200 7. Payung 14 - 32 2 637 198 8. Tiganderket 13 8 76 1 657 72 9. Simpang Empat 4 1 140 1 734 322 10. Naman Teran - - 23 - 136 341 11. Merdeka 6 26 163 5 299 185 12. Kabanjahe 63 - 46 1 207 63 13. Berastagi 38 48 254 13 1.056 195 14. Tigapanah 18 5 303 14 650 648 15. Dolat Rayat 4 6 65 1 43 52
No. Kecamatan Jenis Penyakit
TBC1 G.O Disentri Campa Diare Cacing
16. Merek 4 4 500 - 296 421
17. Barusjahe 11 7 223 1 797 58
Jumlah 253 131 3.051 40 10.610 3.543
Sumber : Karo dalam angka tahun 2010 Keterangan : 1) BTA (+) dan RO (+)
Berdasarkan di atas dapat ditunjukkan bahwa dalam tahun 2009 kasus penyakit terbesar adalah Diare. Wilayah yang paling tinggi tingkat penderita penyakit Diare adalah kecamatan Juhar dan Berastagi. Namun pada umumnya kasus penyakit Diare ini ditemui di seluruh kecamatan di Kabupaten Karo.
2.2. Visi dan Misi Sanitasi Kota
Visi dan Misi Kabupaten Karo Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Karo Visi :
“Terwujudnya Masyarakat Karo yang Makmur dan Sejahtera
BerbasisPembangunan Pertanian dan Pariwisatayang Berwawasan Lingkungan.’
Visi :
“Masyarakat Karo hidup dalam lingkungan sehat dan berperilaku sehat”.
Misi :
1. Meningkatkan kapasitas dan profesionalisme aparatur.
2. Meningkatkan produksi pertanian dan pemasaran hasil pertanian sektor unggulan yang berdaya saing melalui dukungan agro industri.
3. Membangun dan atau meningkatkan kuantitas dan kualitas daerah tujuan wisata yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
4. Membangun dan meningkatkan kuantitas serta kualitas infrastruktur yang menjangkau sentra produksi, kawasan strategis dan wilayah terisolir yang memilik dampak terhadap pembangunan ekonomi daerah.
5. Menjamin dan meningkatkan kuantitas sertakualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara merata.
6. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi kerakyatan yang saling bersinergi dan berkelanjutan.
7. Meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan.
Misi :
1. Menggerakan pembangunan yang berwawasan kesehatan
2. Mendorong kesadaran serta kemandirian masyarakat untuk berpartisipasi dalam perbaikan lingkungan
3. Mewujudkan terjadinya peningkatan kualitas lingkungan pemukiman
4. Memelihara dan meningkatkan hygiene dan sanitasi tempat-tempat umum serta tempat pengolahan makanan dan minuman
Visi dan Misi Kabupaten Karo Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten Karo 8. Melakukan harmonisasi dan sinergitas
hubungan antar tingkat pemerintahan dalam pembangunan kewilayahan melalui pemantapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) secara berkelanjutan.
9. Memperkuat kapasitas kelembagaan dan SDM masyarakat.
2.3. Kebijakan Umum dan Strategi Sanitasi Kota 2010-2014
Kebijakan umum dan arah strategi sanitasi Kabupaten Karo tetap mengacu kepada RPJMD Kabupaten Karo Tahun 2011-2015
2.3.1. Kebijakan Umum Untuk Membangun Pelayanan Sanitasi
Kebijakan umum untuk mendukung pencapaian strategi tersebut adalah penyediaan sarana dan prasarana sanitasi lingkungan.
Kebijakan di atas bertujuan agar pemerintah daerah Kabupaten Karo dapat meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan cakupan pelayanan dasar permukiman.
2.3.2. Kebijakan Umum Untuk Mengembangkan Kawasan Permukiman dan Perumahan
Kebijakan umum untuk mendukung strategi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Menata pengelolaan kawasan permukiman yang sudah ada dan
membuka kawasan permukiman yang baru;
b. Meningkatkan kesadaran dan peran serta seluruh stakeholders dalam pengelolaan drainase.
Kebijakan di atas bertujuan agar pemerintah daerah Kabupaten Karo dapat meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan cakupan pelayanan dasar permukiman.
2.3.3. Kebijakan Umum Mengembangkan Sistem Pengelolaan Persampahan
Kebijakan umum untuk mendukung pencapaian strategi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mengoptimalkan fungsi sarana dan prasarana persampahan;
b. Meningkatkan peran serta seluruh stakeholders dalam upaya mencapai
sasaran pembangunan persampahan.
Kebijakan di atas bertujuan agar pemerintah daerah Kabupaten Karo dapat meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan cakupan pelayanan dasarpermukiman.
2.3.4. Kebijakan Umum Untuk Membangun, Meningkatkan, dan Memelihara Sarana dan Prasarana Kesehatan Secara Merata Pada Setiap Kecamatan dan Desa
Kebijakan umum untuk mendukung pencapaian strategi tersebut adalah pengembangan sarana dan prasarana kesehatan merata pada setiap kecamatan dan desa.
Kebijakan di atas bertujuan agar pemerintah daerah Kabupaten Karo dapat meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan.
2.4. Tujuan Umum, Sasaran Umum dan Tahapan Pencapaian
Dengan memperhatikan berbagai sasaran yang telah disebutkan sebelumnya, maka ditetapkan beberapa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai pada tahun 2010-2014 yang meliputi:
Tujuan
1. Terbangunnya Sarana dan Prasarana Sanitasi
2. Terciptanya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat dan bersih;
3. Terwujudnya partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders) dalam
Sasaran
1. Meningkatnya Sarana dan Prasarana Sanitasi
2. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat dan bersih;
3. Meningkatnya partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders) dalam
menciptakan lingkungan yang sehat.
Arah Tahapan Pencapaian 2010 - 2014
1. Pengelolaan Air Limbah Domestik:
Menghilangkan kebiasaan BAB di sembarang tempat (Stop BABS)
Menyediakan MCK bagi masyarakat yang belum terlayani atau rawan
sanitasi
Meningkatkan akses dan tingkat pelayanan sanitasi, terutama bagi penduduk
berpendapatan rendah, kawasan perumahan padat dan rawan sanitasi
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas septik tank.
2. Pengelolaan Persampahan
Meningkatkan kedisiplian warga untuk melakukan 3R dan komposting
Meningkatkan volume sampah terangkut
Meningkatkan jumlah dan kualitas Tempat Pembuangan Sampah Sementara
(TPS)
Meningkatkan tingkat pelayanan dan area yang dapat dilayani
Meningkatkan jumlah dan kualitas armada pengangkutan sampah
3. Penataan Sistem Drainase Lingkungan
Meningkatnya resapan air ke dalam tanah, melalui lubang-lubang biopori, sumur resapan, dan parit resapan.
Meningkatkan luasan kolam-kolam penampungan air, waduk-waduk, dan
sejenisnya
B
B
A
A
B
B
V
V
I
I
I
I
P
P
E
E
N
N
U
U
T
T
U
U
P
P
Dengan diterbitkannya Dokumen Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kabupaten Karo
melalui kinerja Pokja Sanitasi, diharapkan Pemerintah Kabupaten Karo mampu meningkatkan kualitas layanan sanitasi, sehingga dapat memenuhi upaya pencapaian target pembangunan sanitasi.
Untuk mencapai semua tujuan dari berbagai strategi yang telah disiapkan serta termasuk juga berbagai item kegiatan yang telah disusun sedemikian rupa, seyogyanyalah Pemerintah kabupaten Karo dapat mengaktualisasikan rencana tersebut dengan didukung oleh komitmen yang tinggi. Pada sisi lain tidak kalah pentingnya adalah terbentuknya suatu wadah yang kuat sebagai unsur kelembagaan yang benar-benar memahami mengenai segala isu dan kepentingan terkait dengan semua aspek teknis dan non-teknis pembangunan sanitasi. Dengan demikian perencanaan, implementasi dan evaluasi dapat dilakukan dengan terkoordinasi.
Masih diperlukan peningkatan berbagai kapasitas terutama aspek Teknis Sanitasi dan Non-Teknis yang dapat diberikan kepada Tim Teknis Pokja, mengingat unsur Pokja Sanitasi Kabupaten Karo yang ada saat ini belum sepenuhnya memahami aspek sanitasi secara menyeluruh. Tugas sebagai Pokja Sanitasi masih dianggap sebagai tugas tambahan yang hanya menambah berat pekerjaan. Dengan demikian, Pemerintah kabupaten perlu melakukan tinjauan kembali atas SK Pokja Sanitasi yang dibuat. Langkah tersebut bisa dengan melakukan pergantian personal in charged, menambah, atau disesuaikan dengan bidang-bidang yang benar-benar terkait dan kompeten. Hal tersebut termasuk juga dengan memperluas dan mempebesar Tim Teknis Pokja dengan unsur-unsur terkait lainnya termasuk juga LSM yang bergerak dibidang sanitasi serta unsur yang berasal dari figur atau tokoh masyarakat.
SSK yang disiapkan, bersifat dinamis dengan arti kata, Kabupaten dengan segala kebijakannya masih dapat menambah ataupun merobah atau menggeser jadual pelaksanaan yang telah dibuat sesuai dengan kemampuan Kota dan aspek-aspek lainnya.