• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Pengembangan Usaha Tani Tambak Da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Pengembangan Usaha Tani Tambak Da"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN PENGEMBANGAN USAHA TANI TAMBAK

DALAM RANGKA PENINGKATAN PENDAPATAN

PETANI TAMBAK DI WILAYAH PESISIR

SULAWESI TENGGARA

Peneliti :

Dr. H. Azis Muthalib, SE. M.Si

Dr. Abdul Razak, SE. M.Si

HASIL PENELITIAN

KERJASAMA

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH (BALITBANGDA) PROVINSI SULAWESI TENGGARA

DENGAN

PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (P3M) SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ENAM-ENAM KENDARI

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf

hidup dan kesejahteraan rakyat. Selama beberapa tahun terakhir

pelaksanaan pembangunan telah mampu meningkatkan taraf hidup dan

kesejahteraan sebagian besar rakyat indonesia, namun hal ini tidak dapat

disangkal bahwa masih ada sebagian rakyat yang hidup dalam kemiskinan

dan ketidakberdayaan sebagai akibat dari kegagalan pelaksanaan

pembangunan dalam menciptakan pemerataan. Oleh karena itu, kebijakan

pembangunan harus senantiasa berpijak pada bagaimana mendorong

pertumbuhan ekonomi yang tinggi, perluasan kesempatan kerja, peningkatan

pendapatan dan distribusi pendapatan yang merata.

Pembangunan seharusnya dapat meningkatkan harkat dan martabat

manusia secara universal dan setiap orang berhak menikmati hasil

pembangunan. Todaro dan Smith (2003) dalam Lincolin Arsyad (2010)

menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara

ditunjukkan oleh tiga nilai pokok yaitu; (1) berkembangnya kemampuan

masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya (sustenance), (2) meningkatnya rasa harga diri (self-esteem) masyarakat sebagai manusia, (3) meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memilih (freedom from servitude) yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia. Karena itu kebijakan dan prioritas pembangunan harus diarahkan untuk mencapai

tujuan-tujuan tersebut di atas yang kesemuanya akan bermuara pada

peningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat. Kebijakan dan prioritas

pembangunan sedapat mungkin harus memperhatikan potensi sumberdaya

yang dimiliki baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia.

Potensi lahan budidaya tambak di Indonesia seluas 2,96 juta ha dan

budidaya laut seluas 2,55 juta ha. Potensi yang sangat besar tersebut baru

(3)

dimanfaatkan baru sekitar 682.726 ha atau sekitar 23,04 persen dari potensi

lahan tambak yang tersedia. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi

Sulawesi Tenggara menunjukan bahwa potensi lahan budidaya tambak di

Provinsi Sulawesi Tenggara seluas 58.930 Ha, dan sampai tahun 2012,

potensi tersebut baru termanfaatkan 27,03 persen.

Berdasarkan potensi tersebut di atas maka pengembangan usaha tani

tambak masih cukup prospektif. Pengembangan usaha tani tambak

khususnya budidaya bandeng dan udang selain ditujukan untuk memenuhi

kebutuhan lokal, antar pulau dan ekspor juga diharapkan dapat membawa

perubahan bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat.

Pengembangan usahatani tambak rakyat dengan memberdayakan

masyarakat/rakyat baik sebagai pemilik tambak maupun sebagai pekerja

tambak akan memberikan peluang yang besar dalam upaya meningkatkan

pendapatan, taraf hidup dan kesejahteraan rakyat sehingga pada giliran

selanjutnya petani tambak akan dapat keluar dari lingkaran atau perangkap

kemiskinan.

Disamping uraian yang telah dikemukakan di atas, maka secara umum

pengembangan usaha tani tambak memiliki makna yang sangat strategis,

beberapa diantaranya dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Produksi perikanan tambak merupakan komoditi yang mempunyai potensi

pemasaran yang cukup cerah, baik pasar dalam negeri maupun pasar

luar negeri (ekspor). Karena itu peningkatan produksi perikanan tambak

akan dapat meningkatkan penerimaan devisa yang sangat dibutuhkan

dalam membiayai pembangunan.

2. Pengembangan usaha perikanan tambak berarti pula pengembangan

bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan berbagai industri pengolahan

(agro-industri), yang dapat menciptakan kesempatan kerja baru bagi

(4)

3. Pengembangan usaha perikanan tambak akan dapat meningkatkan

perekonomian wilayah pesisir melalui peningkatan produksi, perluasan

kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan.

4. Pengembangan usaha perikanan budidaya khususnya budidaya tambak

dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir telah sejalan

dengan rencana strategis Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi

Sulawesi Tenggara tahun 2013-2018.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penelitian tentang

pengembangan usaha tani tambak dalam rangka peningkatan pendapatan

petani tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara sangat penting untuk

dilakukan sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah dalam

merumuskan kebijakan peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup

masyarakat serta penanggulangan kemiskinan.

1.1.Permasalahan

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas, maka yang

menjadi masalah dalam penelitian adalah :

1. Bagaimana model penguasaan lahan tambak bagi petani tambak di

wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

2. Bagaimana teknik budidaya/ pengelolaan tambak yang dilakukan petani

tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

3. Permasalahan apakah yang dihadapi petani tambak rakyat di wilayah

pesisir Sulawesi Tenggara dalam meningkatkan pendapatannya.

4. Faktor-faktor apakah yang paling dominan mempengaruhi produksi

tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

5. Pola pengusahaan manakah yang paling efisien dan paling

menguntungkan yang dilakukan oleh petani tambak

6. Pola budidaya manakah yang paling menguntungkan petani tambak di

(5)

7. Bagaimana model pengembangan usahatani tambak rakyat di wilayah

pesisir Sulawesi Tenggara.

1.2. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

1. Mengetahui model penguasaan lahan tambak bagi petani tambak di

wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

2. Mengetahui teknik budidaya/pengelolaan tambak yang dilakukan petani

tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

3. Mengetahui permasalahan yang dihadapi petani tambak rakyat di wilayah

pesisir Sulawesi Tenggara dalam meningkatkan pendapatannya.

4. Mengetahui faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi produksi

tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

5. Mengetahui pola pengusahaan yang paling efisien dan paling

menguntungkan yang dilakukan petani tambak.

6. Mengetahui pola budidaya yang paling menguntungkan petani tambak di

wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

7. Merumuskan model pengembangan usahatani tambak rakyat di wilayah

pesisir Sulawesi Tenggara.

Sasaran penelitian ini adalah merumuskan model pengembangan

usaha tani tambak dalam rangka peningkatan pendapatan di wilayah pesisir

Sulawesi Tenggara.

1.3. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai

berikut :

1. Untuk menambah pengetahuan masyarakat khususnya petani tambak

agar mereka dapat mengembangkan usaha tani tambak yang paling

(6)

2. Bagi pemerintah, khususnya pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara

dapat dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan pengembangan

usaha tani tambak.

3. Sebagai bahan referensi bagi peneliti berikutnya khususnya yang

(7)

BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL

Pengembangan usaha tani tambak pada dasarnya masih

diperhadapkan pada berbagai masalah. Oleh karena itu, permasalahan yang

dihadapi petani tambak harus dapat diidentifikasi secara jelas. Selain itu

berbagai faktor yang mempengaruhi produksi harus dapat diketahui melalui

suatu penelitian.

Alat analisis yang digunakan untuk pemecahan masalah penelitian

adalah analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis

deskriptif antara lain nilai frekuensi, nilai rata-rata, nilai maksimum dan

minimum dari masing-masing variabel dan indikator yang diteliti. Sedangkan

analisis statistik inferensial digunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas.

Dengan menggunakan beberapa pendekatan alat analisis tersebut

diatas, permasalahan penelitian akan dapat dipecahkan. Bentuk simplikasi

(8)

Gambar 1. Skema Kerangka Pikir Kajian Pengembangan Usahatani

Tambak Dalam Rangka Peningkatan Pendapatan

2.1. Hipotesis

Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah :

1. Faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi produksi tambak di

wilayah pesisir Sulawesi Tenggara adalah luas lahan, modal dan tenaga

kerja.

Nilai frekuensi, Nilai maksimum, Rata-rata dan Fungsi Produksi Cobb-Douglas.

(9)

2. Pola pengusahaan yang paling efisien yang dilakukan petani tambak di

wilayah pesisir Sulawesi Tenggara adalah pola pengusahaan Bandeng.

3. Pola pengelolaan yang paling menguntungkan bagi petani tambak adalah

pola pengusahaan udang windu dan bandeng.

4. Pola budidaya yang paling menguntungkan bagi petani tambak di wilayah

(10)

2.2. Tinjauan Pustaka

2.2.1. Pengertian Usaha Pertambakan

Menurut Soeseno (2005) pengusahaan tambak adalah untuk

pemeliharaan organisme air (ikan, udang, rumput laut, dan lain-lain) sebagai

upaya pemanfaatan lahan di tepi pantai yang tanahnya tidak dapat digunakan

untuk usaha pertanian tanaman pangan.

Anonim Pengertian lain dari usaha pertambakan atau lebih dikenal

dengan perikanan tambak adalah salah satu bentuk usaha tani yang

memproduksi komoditi perikanan dengan memanfaatkan lahan dan air di

pantai, berupa air payau yakni campuran air tawar dan air laut.

Menurut Smith dalam Laside (1988) sistem budidaya tambak terdiri

dari subsistem-subsistem seagai berikut:

a. Pengadaan sarana produksi mencakup pasar faktor-faktor produksi,

seperti benih ikan, pakan, pupuk, pertisida, lahan, manajemen dan

lain-lain.

b. Usaha transformasi mencakup kegiatan mengubah

(mengkombinasikan) faktor-faktor produksi menjadi produksi.

c. Pemasaran hasil mencakup pasar lokal, pasar antar pulau, maupun

pasar luar negeri.

Dari sistem tersebut diatas dimungkinkan penerapan teori ekonomi

produksi pada budidaya perairan (pertambakan). Keluaran atau output yang

dihasilkan merupakan fungsi masukan (input) yang digunakan dalam proses

produksi.

Menurut Ranoemihardjo et.al (2008) produktifitas tambak dapat

ditingkatkan melalui pengelolaan yang intensif dengan pengaturan air,

konstruksi tambak, padat tebaran benih, pemberian pakan dan pupuk, serta

pengendalian hama penyakit. Pengelolaan tersebut hanya dapat efektif dan

(11)

2.2.2. Pengembangan Usahatani Tambak

Budidaya tambak ramah lingkungan adalah budidaya tambak yang

didalam proses pembuatannya dan proses produksinya dilakukan dengan

tidak merusak lingkungan, harus memperhatikan peraturan tata tertib

lingkungan seperti : greenbelt, tandon buangan dan pemasukan air, perbandingan tambak dan hijauan (60% : 40%), tanoa antibiotika (Soewardi,

2007).

Tambak tradisional adalah tambak yang cara pembuatan hingga

pengoperasiannya tidak menggunakan peralatan modern, umumnya

dilakukan oleh petani yang berpengetahuan rendah, berorientasi pada

kelestarian, dan produktifitas tergantung dari alam. Teknologi budidaya

tambak dibedakan atas budidaya tradisonal, semi intensif dan intensif.

Pembagian sistem budidaya tersebut didasarkan pada beberapa kriteria

berikut, yaitu; pakan, pengelolaan air, padat penebaran, ukuran petak tambak

dan produksi. Budidaya tambak intensif dapat menghasilkan produksi yang

besar/maksimal namun rentang waktu operasinya pendek, sebaliknya

budidaya tambak tradisional produksinya kecil namun rentang waktu

operasinya panjang (Boers, 2001). Pada umumnya, isu utama dalam

perencanaan pembangunan budidaya tambak adalah : (1) teknologi yang

tepat, (2) meminimumkan dampak lingkungan dari budidaya tesebut, (3)

perhatikan daya dukung lingkungan, (4) meminimumkan penyakit, (5)

memaksimumkan nilai produksi, dan (6) mengurangi kemiskinan (Nautilus

Consultants, 2000).

Mustafa et. al., mengemukakan bahwa lahan untuk budididaya tambak

harus memenuhi persyaratan biologis, teknis, social, ekonomi, higienik dan

legal. Menurut Bengen (2002), konsep daya dukung didasarkan pada

pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung

(12)

1. Daya dukung ekologis : tingkat maksimum (baik jumlah maupun volume)

pemanfaatan suatu sumber daya atau ekosistem yang dapat

diakomodasi oleh suatu kawasan sebelum terjadi penurunan kualitas

fisik.

2. Daya dukung fisik : Jumlah maksimum pemanfaatan suatu sumber daya

atau ekosistem yang dapat diabsorpsi oleh suatu kawasan tanpa

menyebabkan penurunan kualitas fisik.

3. Daya dukung sosial : Tingkat kenyamanan dan apresiasi pengguna suatu

sumber daya atau ekosistem terhadap suatu kawasan akibat adanya

pengguna lain dalam waktu bersamaan.

4. Daya dukung ekonomi : tingkat skala usaha dalam pemanfaatan suatu

sumber daya yang memberikan keuntungan ekonomi maksimum secara

berkesinambungan.

Menurut Dahuri (2001) bahwa daya dukung kawasan ditetukan oleh :

(1) kondisi biofisik kawasan, dan (2) pemintaan manusia akan sumber daya

alam dan jaa-jasa lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh

karena itu, daya dukung kawsan ditentukan dengan menganalisis (1) kondisi

biogeofisik yang menyusun kemampuan kawasan pesisir dalam

memproduksi/menyediakan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan, dan

(2) kondisi social ekonomi budaya dalam memenuhi kebutuhan manusia

yang tingal di dalam kawasan atau di luar kawasan pesisir, tetapi

berpengaruh terhadap kawasan pesisir akan sumberdaya alam dan jasa-jasa

lingkungan (Dahuri, 2001).

Agar kegiatan ekonomi di pesisir dapat lestari maka pemanfaatan

kawasan pesisir dibagi ke dalam 3 (tiga) zona yaitu : zona preservasi yaitu

kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi, sifat-sifat alami yang unik,

(13)

tradisional, dan (3) zona pengembangan intensif, termasuk kegiatan

budidaya secara intensif (Dahuri, 1998).

Selanjutnya menurut Soesono 2004) bahwa fungsi perikanan adalah;

untuk penyediaan protein murah, peningkatan cadangan devisa dan

penyerapan lapangan kerja. Dengan demikian, tujuan pembangunan

perikanan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani tambak,

menyerap tenaga kerja khususnya yang bertempat tinggal di wilayah pesisir.

Keuntungan lain yang dapat diperoleh dalam hal pemeliharaan udang

adalah:

a. Pemanfaatan potensi hewani udang yang sangat penting bagi

pertumbuhan tubuh manusia.

b. Pemeliharaan udang secara seksama akan memberikan hasil yang

besar mengingat harga udang dipasaran baik pasar dalam negeri

maupun pasar luar negeri cukup tinggi.

c. Besarnya permintaan konsumsi udang dalam negeri maupun untuk

tujuan ekspor.

2.2.3. Produksi dan Fungsi Produksi

Menurut Djoyohadikusumo (1985) produksi adalah proses

mempergunakan unsur-unsur produksi dengan maksud menciptakan faedah

untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dari rumusan tersebut jelas bahwa

untuk menghasilkan suatu barang dipergunakan lebih dari satu unsur faktor

produksi. Pada setiap proses produksi untuk menghasilkan barang maka

faktor-faktor produksi tersebut dikombinasikan dalam jumlah tertentu.

Menurut Soedarsono (2003) fungsi produksi adalah hubungan teknis

yang menghubungkan antara faktor produksi atau disebut pula masukan atau

input dan hasil produksinya atau produk (output).

Selanjutnya Kartasaputra (1998) mengemukakan fungsi produksi

(14)

Analisis mengenai hubungan antara produksi dan faktor-faktor

produksi atau analisis fungsi produksi dimana dalam menentukan variabel

independen tergantung dari tujuan dan kondisi dari usahatani yang hendak

diteliti. Secara sederhana bentuk matematik dari fungsi produksi dapat

dituliskan sebagai berikut:

Y = f (x1,x2, …xn)

Y= Hasil produksi fisik

X1,X2,…Xn = faktor-faktor produksi

Salah satu fungsi produksi yang banyak diterapkan di sektor

pertanian adalah fungsi produksi Cobb-Douglas (Soekartawi, 2006). Bentuk

umum dari fungsi produksi Cobb-Douglas adalah :

Y = bo X1.b1X2.b2……….Xnmbn eun Dimana : Y = produksi fisik

Ln bo = intercept

b1, b2,……..bn = koefisien faktor produksi

X1, X2, …..Xm = Faktor produksi

e = Faktor kesalahan.

Bentuk fungsi produksi tersebut dapat diubah menjadi bentuk linear

dengan melakukan transformasi ke dalam bentuk logaritma. Dengan

demikian perhitungan akan lebih mudah dan koefisien dari faktor produksi,

yang juga merupakan koefisien elastisitas produksi dapat diinterpretasi.

Analisis fungsi produksi Cobb-Douglas sering dipakai oleh peneliti.

Menurut Soekartawi (1997), ada tiga alasan pokok sehingga fungsi

Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh para peneliti yaitu: (1) Penyelesaian fungsi

Cobb-Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain. (2)

Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan

koefisien regresi sekaligus juga menunjukkan besaran elastisitas. (3)

Besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran “Return

(15)

Pemanfaatan faktor produksi disamping menyangkut aspek fisik juga

berkaitan dengan aspek ekonomis. Menurut Adiwilaga (1982), penambahan

faktor produksi merupakan suatu gejala fisik, sudah tentu mempunyai akibat

ekonomis pula. Penambahan faktor produksi memerlukan biaya, dan hasil

tambahan yang diperoleh akhirnya dinilai dengan uang. Dengan demikian

dalil hasil tambahan yang berkurang selain merupakan satu dalam arti fisik,

juga merupakan satu dalil dalam arti ekonomis.

2.2.4. Peningkatan Pendapatan

Pendapatan pada hakekatnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu

pendapatan uang dan pendaspatan riil. Pendapatan uang adalah jumlah

uang yang diterima para pekerja dari para pengusaha sebagai pembayaran

atas tenaga mental atau fisik para pekerja yang digunakan dalam proses

produksi. Sedangkan pendapatan riil adalah pendapatan pekerja yang diukur

dari sudut tingkat kemampuan pendapatan tersebut membeli barang-barang

dan jasa-jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para pekerja.

Pendapatan pengusaha tambak adalah pendapatan yang diperoleh

petani tambak sebagai akibat kemampuan yang dimiliki untuk

mengkombinasikan berbagai faktor produksi untuk menghasilkan produksi

(output). Peningkatan pendapatan petani tambak dipengaruhi oleh beberapa

faktor antara lain: (1) tingkat ketrampilan yang dimiliki, (2) Penguasaan faktor

produksi, (3) Kemampuan dalam mengelola usaha, (4) Penanganan pasca

(16)

2.3. MetodePenelitian 2.3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

Lokasi sampel ditentukan di Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe

Selatan, Kabupaten Kolaka, dan Kabupaten Bombana. Penentuan lokasi

sampel ditetapkan dengan pertimbangan bahwa di Kabupaten tersebut di

atas adalah sentra produksi tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

Waktu penelitian direncanakan akan berlangsung selama 8 bulan terhitung

sejak tanggal penanda tanganan kontrak penelitian.

2.3.2. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah semua petani tambak di wilayah pesisir

Sulawesi Tenggara. Sampel akan diambil pada empat kabupaten yang

merupakan sentra produksi tambak di Sulawesi Tenggara yaitu di Kabupaten

Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Kolaka, dan Kabupaten

Bombana. Jumlah sampel akan diambil sebanyak 120 responden dengan

rincian Kabupaten Konawe 35 responden, Kabupaten Konawe Selatan 25

Responden, Kabupaten Kolaka 25 responden dan kabupaten Bombana 35

responden.

2.3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer

dan data sekunder. Data primer diperoleh dan dikumpulkan langsung melalui

kuesioner dari responden petani tambak.

Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen Dinas Kelautan dan

Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten, Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara dan instansi

lainnya yang terkait dengan penelitian ini. Data-data tersebut digunakan

(17)

kuesioner untuk memperdalam dan melengkapi pembahasan dalam

penelitian ini.

2.3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap

yaitu survey awal, pengumpulan data dilapangan melalui penyebaran

kuesioner, dan pemantauan.

Survey awal dilakukan untuk mengetahui karakteristik petani tambak di

lokasi penelitian. Dari hasil survey awal kemudian ditentukan lokasi

penyebaran kuesioner yang dianggap dapat representative mewakili populasi

penelitian.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung

kepada responden dengan menggunakan kuesioner, diskusi mendalam

dengan responden, catatan lapangan dan dokumentasi. Penyebaran dan

pengumpulan kuesioner pada setiap responden petani tambak dilakukan

secara langsung oleh peneliti yang dibantu oleh 12 (dua belas) orang

enumerator.

Pemantauan dilakukan dengan cara mengamati pengelolaan tambak

yang dilakukan oleh responden, penanganan pasca panen dan saluran

pemasaran yang digunakan petani tambak di wilayah penelitian.

2.3.5. Metode Analisis Data

Berdasarkan pada permasalahan penelitian yang telah dikemukakan

di atas, maka data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan

metode statistik deskriptif dan statistik inferensial yang didukung dengan

analisis kualitatif untuk memperkaya dan memperdalam pembahasan.

1. Metode Analisis Statistik Deskriptif

Metode analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan atau

(18)

frekuensi, nilai rata-rata (mean), nilai maksimum dan nilai minimum serta nilai persentase dari masing-masing variabel dan indikator penelitian. Metode

analisis ini digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian pertama

kedua, kedua, ketiga, kelima, keenam dan ketujuh.

2. Metode Analisis Statistik Inferensial

Metode analisis statistik inferensial digunakan untuk menjawab

permasalahan penelitian keempat. Teknik analisis statistik deskriptif yang

digunakan adalah analisis fungsi produksi Cobb-Douglas. Analisis fungsi

produksi Cobb-Douglas digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang

(19)

BAB III

GAMBARAN UMUM

Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara

dengan mengambil obyek pada Usaha Tani Tambak di Wilayah Pesisir.

Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Secara

geografis wilayah ini terletak di bagian Selatan garis katulistiwa, memanjang

dari Utara ke Selatan di antara 02o45–06o151 lintang Selatan dan

membentang dari Barat ke Timur di antara 120o45–124o151bujur Timur.

Secara administratif, wilayah Sulawesi Tenggara terbagi kedalam 12

wilayah kabupaten dan wilayah kota. Kesepuluh wilayah tersebut

masing-masing Kabupaten Buton, Muna, Konawe, Kolaka, Konawe Selatan,

Bombana, Wakatobi, Kolaka Utara, Buton Utara, Konawe Utara, Kolaka

Timur, dan Konawe Kepulauan. Sedangkan dua wilayah kota masing-masing

Kota Kendari dan Kota Bau-bau.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden

1. Jabatan Responden

Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Jabatan Dalam Usaha

No Jabatan Dalam Usaha Jumlah Persentase 1 Pemilik 113 94.17% 2 Pimpinan 7 5.83%

(20)

2. Pengalaman Berusaha

Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Berusaha

No Pengalaman Berusaha (tahun) Jumlah Persentase 1 < 10 11 9.17%

2 10-19 41 34.17%

3 20-30 55 45.83%

4 > 30 13 10.83% Jumlah 120 100.00% Sumber : Data Primer (diolah)

3. Umur Responden

Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

No Umur Responden Jumlah Persentase 1 <30 10 8.33% 2 30-40 30 25.00% 3 41-49 42 35.00% 4 >50 38 31.67% Jumlah 120 100.00% Sumber : Data Primer (diolah)

4. Pendidikan Responden

Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

No Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase 1 Tidak ada 1 0.83% Sumber : Data Primer (diolah)

5. Jenis Kelamin Responden

(21)

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase 1 Laki-Laki 114 95.00% 2 Perempuan 6 5.00%

Jumlah 120 100.00% Sumber : Data Primer (diolah)

6. Tanggungan Responden

Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan

No Jumlah Tanggungan Jumlah Persentase 1 <3 3 2.50% 2 3-5 94 78.33% 3 6-8 16 13.33% 4 >8 7 5.83%

Jumlah 120 100.00% Sumber : Data Primer (diolah)

7. Jenis Usaha

Tabel 4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Usaha

No Jenis Usaha Jumlah Persentase 1 Bandeng 47 39.13% 2 Udng.wndu+bndg 32 26.66% 3 udang vanamai 29 42.17% 4 udng/van+bndng 12 10.00% Jumlah 120 100.00% Sumber : Data Primer (diolah)

B. Model Penguasaan Lahan

Tabel 4.11. Distribusi Responden Berdasarkan Pola Penguasaan Lahan

No Pola Penguasaan Lahan Jumlah Persentase 1 Milik sendiri 100 83.33% 2 Warisan 7 5.83%

3 Sewa 6 5.00%

(22)

C. Teknik Budidaya

Tabel 4.12. Distribusi Responden Berdasarkan Kondisi Konstruksi Tambak

No Konstruksi Tambak Jumlah Persentase

1 Belum baik 42 35.00%

2 Baik 78 65.00%

Jumlah 120 100.00%

Gambar 2. Kontruksi Pematang Tambak yang Kurang Baik

(23)

Tabel 4.13. Distribusi responden berdasarkan kondisi konstruksi pintu air

No Konstruksi pintu air Jumlah Persentase

1 Tidak permanen 85 70.83%

2 Permanen 35 29.17%

Jumlah 120 100.00%

Gambar 4. Konstruksi Pintu Air Tambak dari Kayu

Tabel 4.14. Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan Teknologi Pasca Panen

No Teknologi paska panen Jumlah Persentase

1 Ya 26 21.67%

2 Tidak 94 78.33%

Jumlah 120 100.00%

(24)

Tabel 4.15. Distribusi responden berdasarkan kepemilikan manajemen usaha

No Manajemen Usaha Jumlah Persentase

1 Ya 8 6.67%

2 Tidak 112 93.33%

Jumlah 120 100.00%

Tabel 4.16. Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Pergantian Air

No Pergantian Air Jumlah Persentase

1 1 kali/bln 19 15.83%

2 2 kali/bln 42 35.00%

3 3 kali/bln 15 12.50%

4 4 kali/bln 12 10.00%

5 8 kali/bln 32 26.67%

Jumlah 120 100.00%

Tabel 4.17. Distribusi Responden Berdasarkan Waktu Penebaran Benih

No Waktu penebaran benih Jumlah Persentase

1 Pagi 39 32.50%

2 Siang 7 5.83%

3 Sore 13 10.83%

4 Malam 61 50.83%

Jumlah 120 100.00%

Tabel 4.18. Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan Pengontrolan Hama

No Pengontrolan hama Jumlah Persentase

1 Ya 51 42.50%

2 Tidak 69 57.50%

(25)

Tabel 4.19. Distribusi Responden Berdasarkan Ketersediaan Benih

No Ketersediaan Benih Jumlah Persentase

1 Tersedia 26 21.67%

2 Tidak tersedia 94 78.33%

Jumlah 120 100.00%

D. Permasalahan Yang Dihadapi Petani Tambak

Permasalahan yang dihadapi petani tambak rakyat antara lain sebagai

berikut:

1. Rendahnya Ketrampilan Petani Tambak

2. Keterbatasan Modal

3. Rendahnya pengetahunan petani tambak

4. Rendahnya Kualitas benih.

5. Belum adanya pendampingan usaha

6. Terbatasnya akses pasar

E. Faktor-Faktor yang Dominan Mempengaruhi Produksi

Hasil analisa funsi produksi Cobb Dougglas, diperoleh informasi

bahwa faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi produksi adalah

luas lahan, modal, dan tenaga kerja.

F. Pola Pengusahaan

No. Pola Pengusahaan Tingkat Efisiensi

1. Bandeng 3,42

(26)

G. Pola Budidaya

No. Pola Budidaya Pendapatan Rata-Rata (Rp)

1. Pola Kontinu 20.897.609

2. Pola Diskontinu 23.691.105

H. Model Pengembangan Usaha Tani Tambak

(27)

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan

pada bab sebelumnya, maka dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

1. Model penguasaan lahan tambak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara

terdiri atas milik sendiri, warisan orang tua, sewa, dan bagi hasil.

Sebagian besar responden atau sekitar 83,00 persen memiliki lahan milik

sendiri.

2. Teknik budidaya yang dilakukan petani tambak di wilayah pesisir

Sulawesi Tenggara yang dapat dilihat dari kondisi konstruksi tambak,

konstruksi pematang, konstruksi pintu air dan penggunaan teknologi

pasca panen, menunjukkan bahwa sebagian besar konstruksi tambak

sudah tergolong baik, namun konstruksi pintu air sebagian besar tidak

permanen, dan sebagian besar petani tambak belum melakukan

teknologi pasca panen.

3. Permasalahan yang dihadapi petani tambak di wilayah pesisir Sulawesi

Tenggara antara lain adalah rendahnya ketrampilan petani tambak,

terbatasnya modal yang dimiliki, Rendahnya pengetahuan petani tambak,

rendahnya kualitas benih yang diperoleh, belum adanya pendampingan

usaha dan terbatasnya akses pasar.

4. Faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi produksi tambak di

wilayah pesisir Sulawesi Tenggara adalah luas lahan, modal dan tenaga

kerja.

5. Pola pengusahaan yang paling efisien yang dilakukan oleh petani tambak

di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara adalah pola pengusahaan bandeng

(28)

biaya yang dikeluarkan untuk pengusahaan bandeng, akan memperoleh

pendapatan sebesar Rp. 3,42.

6. Pola pengusahaan yang paling menguntungkan petani tambak di wilayah

pesisir Sulawesi Tenggara adalah pola pengusahaan udang windu dan

bandeng dengan tingkat pendapatan rata-rata sebesar Rp. 25.150.352,-.

7. Pola budidaya yang paling menguntungkan bagi petani tambak di wilayah

pesisir Sulawesi Tenggara adalah pola diskontinu yang dapat

memberikan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 23,691,105,36.

B. Saran

1. Tingkat kepemilikan lahan para petani tambak sangat tinggi, sehingga hal

ini dapat menjadi modal utama untuk pengembangan usaha.

2. Pengetahuan petani tambak tentang pertambakan umumnya berasal dari

pengetahuan sendiri secara turun temurun atau pembelajaran autodidak,

sehingga tingkat penguasaan inovasi teknologi pertambakan relatif

terbatas, maka perlu dilakukan pelatihan secara berkala dan

menempatkan tenaga penyuluhan khususnya yang menguasai tentang

pertambakan.

3. Perlu penataan pola pengelolaan tambak secara terencana sehingga

(29)

4. Pemerintah pusat dan daerah masih perlu menambah tenaga-tenaga

penyuluh lapangan khususnya di bidang usaha tani tambak dalam jumlah

yang memadai agar dapat menjangkau petani-petani tambak di wilayah

pesisir.

5. Upaya peningkatan ketrampilan petani melalui pelatihan masih perlu

ditingkatkan.

6. Pemerintah daerah dalam hal ini dinas perikanan dan kelautan perlu

melakukan mediasi dalam pengadaan benih yang berkualitas.

7. Dalam rangka peningkatan produksi dan pendapatan petani tambak,

diperlukan tenaga-tenaga pendamping baik dari dinas perikanan,

Gambar

Gambar 1.Skema Kerangka Pikir Kajian Pengembangan Usahatani
Tabel 4.2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Berusaha
Tabel 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan
Gambar 2.  Kontruksi Pematang Tambak yang Kurang Baik
+4

Referensi

Dokumen terkait

UU No 3 tahun 2014 tentang perindustrian memberikan pengertian industri hijau sebagai “industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan

Bekas Timbalan Perdana Menteri, Allahyarham Tun Abdul Ghafar bin Baba merupakan seorang negarawan ulung di Malaysia yang mempunyai kecekalan diri dalam berpolitik serta telah

dan tranplantasi paru merupakan opsi bedah yang dapat dipertimbangkan pada pasien dengan PPOK yang sangat berat. 6u#ukan kepada spesialis bedah thora2 diindikasikan untuk

Menurut salah seorang Tengku Imum dan beberapa tokoh lainnya di Kota Banda Aceh, beliau beranggapan kepemimpinan perempuan kalau dalam segi agama itulah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah yang akan dibahas penulis sebagai berikut : Apakah penggunaan metode Mind Map (Peta

Masukan yang diberikan oleh calon tamu hotel yang mana berupa teks kalimat bahasa sehari-hari serta berbahasa Indonesia akan digunakan untuk melakukan query

Fuzzy Logic dapat diterapkan dalam penentuan nilai MD berdasarkan nilai MB yang didapat dari pakar kemudian dari kedua nilai tersebut digunakan pada perhitungan

Menginventarisasi nilai angka kredit untuk masing-masing butir kegiatan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 5 Tahun 2014