TUGAS AKHIR KEBIJAKAN LUAR NEGERI
INDONESIA
REVIEW
BAB VII
KEANGGOTAAN INDONESIA DI G-20
NAMA : FREDERIKA SOI
NIM : 2013-22-140
FISIP-HI
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
BAB VII
Keanggotaan Indonesia di G-20
A. Latar Belakang G-20
Krisis ekonomi dan keuangan global yang terjadi pada tahun 2007 merupakan dampak dari sistem arsitektur dan keuangan internasional yang tidak berimbang, terutama dalam hal regulasi sektor keuangan yang keuangan accountable. Efek domino krisis ekonomi tersebut turut menyeret sektor rill dan mengakibatkan terpuruknya perekonomian negara-negara di dunia. Krisis ekonomi dan keuangan global telah menghambat proses pembangunan terutama negara Least Developed Countries serta telah menyebabkan kemunduran pencapaian Millenium Develoment Goals (MDGs).
Krisis yang terjadi di Amerika Serikat berakar pada besarnya gelembung kredit yang dikucurkan ke perumahan. IMF memperhitungkan bahwa kerugian di seluruh dunia pada hutang yang berasal dari Amerika Serikat (terutama yang berhubungan dengan mortagages) akan mencapai 1,4 triliun dolar AS, perhitungan ini meningkat dari perkiraan awal yang mencapai 945 miliar dolar AS pada bulan April 2008. Dampaknya, banyak perusahaan-perusahaan besar di dunia yang terkena imbasnya.
Wall street Journal menulis rentetan peristiwa tersebut dengan menyebut bahwa sistem keuangan Amerika Srikat terguncang hingga pusaranya. Hingga sejumlah negara-negara maju saat itu juga mengalami resesi. Pendapatan nasional di AS, Inggis, Prancis, Jerman, dan Jepang turun. Sementara para pekerja di negara-negara maju tersebut dengan cepat kehilangan pekerjaannya dan menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat.
G-20 pada awalnya merupakan forum internasional yang didirikan diengah krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an. G-20 didirikan atass dasar pentingnya memandang memandang isu ekonomi global yang berkembang semakin dinamis sejak Great Depreession tahun 1930-an. B. Keanggotaan Indonesia di G-20
Pertama kali mengadakan pertemuan tingkat kepala negara dan kemudian mendeklarasikan forum ini sebagai forum utama kerjasama ekonomi global, G-20 sering disebut sebagai klub ekslusif karena posisi dan kapasitasnya yang mewakili hampir keseluruhan GDP dunia. Disebut klub ekslusif karena tidak sembarang negara dapat bergabung, banyak negara yang ingin bergabung namun tidak mendapat pengakuan. Ketika kapasitas G-20 ditingkatkan menjadi forum kepala negara, yang artinya forum tersebut akan lebih powerful dan lebih didengar, Indonesia tetap diundang sebagai anggota.
Keanggotaan Indonesia dalam G-20 sekiranya karena ada empat hal, yaitu: Gross Domestik Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia cukup tinggi; kontelasi kekuatan ekonomi yang telah berubah; dibutuhkannya koordinasi antara major power dan emrging market seperti Indonesia; dan pengaruh Indonesia yang semakin besar dan luas.
I. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia
China dan India, bahkan didunia karena kuatnya fundamental ekonomi dunia. Untuk negara Brazil, Rusia, India, dan China (BRIC), secara global omzet mereka mencapai 15% dari seluruh ekonomi dunia, 13% melalui perdagangan global. Hampir 3 triliun dolar AS atau 40% dari total seluruh cadangan devisa dunia.
III. Dibutuhkannya koordinasi antara major power dan emerging power
Dengan semakin tereduksinya kekuatan dan peran negara-negara maju, serta semakin meningkatnya kekuatan dan peran negara-negara berkembang, maka di butuhkan koordinasi dan kolaborasi antar keduanya untuk mengatasi krisis finansial global, dalam mengatasi berbagai perekonomian dunia, baik perdagangan maupun keuangan, negara-negara maju yang tergabung dalam G-8 selalu berinisiatif dan saling berkoodinasi untuk mengatasi masalah.
G-8 juga sangat dominan dalam forum-forum multilateral yang membahas perekonomian, seperti WTO, IMF dan Bank Dunia. Koalisi ini sangat kuat dan kompak karena memiliki kapasitas yang sangat besar dan kepentingan yang sama yang pada intinya mempertahankan status-quo
struktur dan kontelasi perekonomian dunia. Kekuatan dan peran emerging
market tersebut semakin diakui, kerenanyaa G-8 mengajak negara
emerging market untuk membahas krisis perekonoian global. IV. Pengaruh Indonesia yang semakin besar dan luas.
antara-negara Baarat dengan negara-negara Islam di Timur Tengah. Peran internasional Indonesia juga semakin meningkat yang terlihat dan politik luar negerinya bebas aktif dalam merespon isu-isu internasional.
Dengan mengimplementasikan gagasan navigating a turbulent ocen
dan thousand friends-zero enemy dan dengan memanfaatkan kapasitas dan aset yang dimilikinya, Indonesia dibawah pemerintahan Presiden Yudhoyono telah aktif turut serta menjaga perdamaian dunia, seperti keanggotaan tidak tetapnya di DK PBB, aktif dalam mengatasi masalah perubahan iklim, isu-isu HAM dan demokrasi, terorisme dan lain sebagainya. Indonesia merupakan pemain utama dalam upaya memajukan dan menjaga stabilitas di kawasan.
C. Kiprah dan peran Indonesia di G-20
Berhubungannya Indonesia dalam G-20 sudah merupakan implementasi dari gagasan navigating a turbulent ocean dalam konteks ini adalah kondisi dunia yang tengah diguncang tantangan pembangunan, dimana krisis ekonomi dan finansial global telah dan akan terus menghambat proses pembangunan semua negara, baik negara berkembang maupun negara maju.
1. Kiprah dan peran Indonesia dalam KTT G-20 Washington 2008
Pada pernyataannya (statement) di KTT G-20 diwishington, presiden yudhoyono mengajak semua negara untuk bersama-sama fokus dalam memulihkan kepercayaan dan stabilitas sistem keuangan global serta mencegah dampak lebih lanjut dari krisis ekonomi global ini. Secera garis besar, Indonesia menyarankan tiga hal: aksi jangka pendek, jangka menegah, dan jangka panjang.
2. Kiprah dan peran Indonesia pada KTT G-20 London 2009 Pada pidato intervensinya, presiden Yudhoyono menyampaikan tiga empat hal sebagai upaya memulihkan ekonomi dan pertumbuhan global.
impor terjadi secara cukup agar caunter-cycical measures dapat berjalan secara efektif. Kedua, Indonesia mendukung semua upaya agar bank-bank di seluruh dunia, terutama bank-bank besar di negara maju, bisa kembali memberi pinjaman agar
Opini
G-20 sudah memulai aktivitasnya sejak dibentuk pada tahun 1999 di Jerman. Namun forum intergovernmental ini baru dikenal komunitas internasional secara luas terutama sejak tahun 2008 ketika pemimpin-pemimpinnya memutuskan mengubah tingkat pertemuannya dari level menteri ke level Kepala Negara/ Kepala Pemerintahan. G-20 menjadi high profile forum dengan digelarnya KTT pertama di Washington. Pemimpin pun bersepakat untuk mengadakan pertemuan KTT dua kali dalam setahun dengan agenda urgent untuk mengatasi krisis finansial yang melanda dunia.
Terlepas dari polemik untung tidaknya kita ada dalam G-20, mungkin ada baiknya kita menyegarkan ingatan dulu soal keberadaan lembaga ini. Lembaga yang lahir pada 1999 ini dibentuk setelah krisis finansial global pada 1997 yang setahun kemudian ikut membuat ambruk
perekonomian Indonesia.
Beranjak dari latar belakang didirikannya, forum ini berisi para menteri keuangan dan pimpinan bank sentral. Namun, pada perkembangannya, terutama saat krisis global kembali terjadi pada 2008, forum ini memperkukuh diri menjadi forum untuk memperkuat kerja sama ekonomi di tingkat global. Tujuannya pun semakin lebar.
Tidak seperti lembaga internasional pada umumnya, G-20 tidak mempunyai sekretariat permanen. Arahan untuk agenda dan koordinasi G-20 ditentukan oleh representatif yang disebut 'Sherpa'. Lagi-lagi, karena berupa forum, G-20 tidak memiliki instrumen yang bisa "memaksa" anggotanya untuk menjalankan apa yang sudah disepakati dalam poin-poin kesepakatan KTT mereka.
lembaga ini. Ia mencontohkan komitmen pada KTT 2010 soal penguatan Indonesia bea masuk di banyak negara, Presiden Joko Widodo langsung membantahnya. Menurut Jokowi, hal-hal yang mengikat terkait tarif dan bea masuk biasanya diatur World Trade Organization (WTO).
Bagaimanapun, keanggotaan Indonesia pada lembaga apa pun bukanlah sebuah harga mati. Terlebih, jika dibandingkan dengan lembaga internasional lainnya, keberadaan anggota disini tidak meningkat.
Indonesia berada dalam kelompok elite, itu pun karena kekuatan ekonomi yang ditopang besarnya jumlah penduduk, bukan kekuatan ekonomi per kapita. Bukan seperti Jepang, misalnya, yang secara nominal maupun per kapita punya kekuatan ekonomi yang mumpuni. Tak banyak mungkin manfaatnya buat kita secara langsung.
Namun, buat pergaulan internasional, sebagai satu-satunya negara anggota ASEAN yang bercokol di situ, Indonesia tentu punya nilai lebih. Keberadaan Indonesia di forum itu bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Caranya dengan menggunakan forum itu sebagai ajang meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia adalah partner bisnis yang setara. Keanggotaan G-20 bisa dijadikan sebuah pijakan agar peran Indonesia dalam perekonomian Indonesia bisa punya gaung dan bukan menjadi pasar yang besar.
Namun, modal itu tentunya tak cukup berguna jika kita tak mampu memanfaatkannya. Ibaratnya, Indonesia sudah berada dalam sorotan perekonomian dunia, kita menjadi bagian kelompok elite, tinggal bagaimana kita mampu mengoptimalkan keberadaan kita di situ.