MAKALAH
“JENIS - JENIS RISIKO”
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah “Manajemen Risiko”
Dosen Pengampu :
Ayu Febri Puspitasari.,M.M
Disusun Oleh :
Kelompok 3
1. Nova Nursida Y. (2824133098)
2. Riska Afifah (2824133107)
3. Susi Puspareni (2824133115)
Kelas / Semester : ES – V/D
Jurusan : Ekonomi Syariah
Fakultas : Ekonomi Dan Bisnis Islam
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
TULUNGAGUNG
2015
“JENIS-JENIS RISIKO” PEMBAHASAN A. Risiko Properti
Kemungkinan timbulnya kerugian
Ketidakpastian
Penyimpangan aktual dari rencana
Suatu perusahaan selalu berhadapan dengan kemungkinan timbulnya risiko atau bahaya kerugian atau mala petaka karena berbagai sebab yang tidak dapat diketahui sebelumnya. Misalnya aktiva mungkin terbakar atau dicuri orang, diterbangkan angin puting beliung, diterjang air bah, ditipu oleh penipu dan sebagainya. Kerugian karena berbagai sebab tersebut diatas, sudah tentu mengancam kelangsungan hidup suatu perusahaan. Karenanya manajer perusahaan harus berusaha mencari jalan untuk memproteksi kerugian dengan cara penanganan sebelum terjadi. 1
Risiko yang mungkin terjadi atas properti (harta benda) karena kebakaran, banjir, perusakan, dan lainnya. Cakupan Asuransi Umum & Properti:2
a. Asuransi Harta Benda (Property Insurance) b. Asuransi Rekayasa (Engineering Insurance) c. Asuransi Pengangkutan (Marine Cargo Insurance) d. Asuransi Rangka Kapal (Marine Hull Insurance)
e. Asuransi Usaha Minyak & Gas Bumi (Oil & Gas Insurance) f. Asuransi Pesawat (Aviation Insurance)
g. Asuransi Satelit (Space Insurance)
h. Asuransi Kecelakaan Diri (Personal Accident Insurance) i. Asuransi Tanggung Gugat (Liability Insurance)
j. Asuransi Uang (Money Insurance)
k. Asuransi Kebongkaran (Burglary Insurance)
Dalam perusahaan asuransi, risiko atas harta benda biasanya masuk dalam kategori asuransi umum. Harta benda mencakup banyak kategori seperti bangunan, perabot rumah tangga, perlengkapan rumah, mesin, barang dagangan, persediaan bahan baku atau barang jadi dan sebagainya. Harta benda yang kerap menghindari risiko, pada umumnya dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu sebagai berikut :
1. Properti riil : properti riil bisa didefinisikan sebagai tanah dan apa saja yang tumbuh, berdiri.
2. Properti personal : properti personal bisa didefinisikan sebagai apa saja yang dimiliki selain properti riil.
Eksposur yang dihadapi harta benda mencakup kejadian (peril) yang standar, sesuai dengan Polis “Standar Kebakaran Indonesia” yang mencakup kebakaran,
1 M.Manulang, Pengantar Bisnis, (yogyakarta :Gadjah Mada University Press), h. 289
petir, asap, ledakan, dan kejatuhan pesawat terbang. Selain itu kejadian lain yang dicakup oleh asuransi adalah kerusuhan, tanah longsor, banjir, dan biaya pembersihan puing.
Tidak semua harta benda bisa diasuransikan, biasanya asuransi hanya mengcover benda yang kelihatan (tangible assets), sedangkan yang tidak kelihatan (intagible assets) seperti hak cipta, nama baik tidak termasuk cakupan asuransi. Alternatif lain untuk melihat eksposur atau risiko yang dihadapi harta benda adalah dengan melihat sumber-sumber dari risiko yang bisa berpengaruh terhadap harta benda. Sumber tersebut bisa diklasifikasikan menjadi :
1. Sumber Fisik, mencakup antara lain kekuatan alam, seperti api, badai, ledakan yang bisa menghancurkan harta benda.
1. Sumber Sosial, mencakup kejadian yang muncul karena dorongan sosial. 2. Sumber Ekonomi, mencakup kekuatan ekonomi yang mengakibatkan
kerusakan.
1. Kerugian Yang Dialami Harta Benda
Kerugian akibat kejadian buruk yang terjadi bisa diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kerugian langsung, Kerugian langsung terjadi jika kejadian buruk mempunyai dampak langsung terhadap properti. Contoh, kebakaran menghancurkan bangunan. Kerugian karena bangunan yang hancur akibat kebakaran tersebut merupakan kerugian langsung.
2. Kerugian Tidak Langsung, Kerugian tidak langsung terjadi jika kejadian buruk tersebut berdampak secara tidak langsung terhadap kerugian tersebut. Contoh, karena bangunan hancur, maka kegiatan bisnis dan perkantoran menjadi terganggu. Perusahaan terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membangun fasilitas perkantoran darurat. Jika bangunan tersebut bisa disewakan, kebakaran tersebut menyebabkan pendapatan sewa tidak diperoleh. Kerugian karena pendapatan yang hilang tersebut merupakan contoh kerugian tidak langsung. 3. Elemen Waktu, Kerugian tidak langsung bisa jadi mempunyai elemen waktu jika
besar kerugian yang dialami oleh perusahaan. Dengan kata lain, besarnya kerugian merupakan fungsi dari waktu.
2. Metode Penilaian Kerugian Aset Fisik 1. Nilai atau Harga Pasar
Harga pasar adalah harga yang terbentuk melalui mekanisme pasar. Penilaian property riil dengan menggunakan metode harga pasar bisa dilakukan dengan membandingkan harga pasar aset yang mirip yang pernah diperdagangkan (jika aset semacam itu bisa ditemukan). Disamping itu jika tidak bisa ditemukan aset dengan karakteristik yang sama persis dengan aset yang hancur, maka penyesuaian-penyesuaian juga perlu dilakukan. Perhitungan harga pasar secara tidak langsung, dengan menggunakan opportunity cost (kesempatan yang hilang)
2. Replacement Cost Baru
Tehnik Replacemeny Cost baru dilakukan dengan melihat biaya yang diperlukan untuk mengganti barang yang rusak dengan barang baru yang sama. Jika kerusakannya parsial, maka perbaikan bisa dilakukan secara parsial. Kebutuhan dana untuk perbaikan secara parsial tersebut bisa dihitung dengan cara replacement cost walaupun barang yang digunakan adalah baru.
3. Replacement Cost Baru Dikurangi Depresiasi
Dengan teknik ini, Manajer akan menghitung replacement cost (baru) kemudian dikurangi dengan depresiasi atau angka yang mencerminkan turunnya nilai ekonomis.
Argumen yang mendasari tehnik tersebut adalah nilai suatu property yang sebenarnya adalah nilai property tersebut dikurangi dengan depresiasi atau penurunan nilai karena sudah digunakan (barang bekas/second) juga bisa karena berjalannya waktu (tua), juga bisa disebabkan faktor desain (fashionable/out of date).
B. Resiko Gugatan (Liability)3
Eksposur kewajiban legal (liability) muncul jika pengadilan memutuskan kita sebagai pihak tertanggung yang harus membayar ganti rugi kepada pihak lainnya. Beberapa contoh kewajiban atau gugatan hukum adalah: pasien menuntut ganti rugi
kepada dokter yang dianggap melakukan malpraktek, konsumen menuntut kepada produsen karena barang yang dijual membahayakan, gugatan pengadilan memegang saham terhadap perusahaan karena menderita kerugian yang cukup besar.
1. Hukum Pidana Dan Perdata
Hukum pidana diarahkan kepada tindakan salah (pelanggaran hukum) terhadap masyarakat. Hukum perdata diarahkan kepada tindakan pelanggaran hak atas individu atau organisasi. Dalam suatu kasus, seseorang dapat tersangkut kedua-duanya misalnya; membunuh, maka dapat dituntut pidana karena pembunuhannya, dan perdata sebagai ganti rugi akibat kematian itu.
2. Common Law Dan Civil Law
Di dunia ada dua sistem hukum yang utama, yaitu civil law dan common law. Civil law didasarkan pada sistem hukum yang dikodifikasi yang menetapkan peraturan/ perundangan yang komprehensif, yang kemudian dipakai dan diinterpretasikan oleh hakim. Sistem tersebut ditandai dengan perundangan yang ekstensif, misal dibuat Undang-undang yang terdiri dari banyak pasal untuk mengatur hal-hal tertentu (misal, di Indonesia ada UU pasar modal, UU perseroan terbatas, dan UU lainnya). Sistem tersebut berasal dari hukum kekaisaran Roma, meskipun civil law moderen didasarkan pada kodifikasi hukum di Eropa pada abad 19, khususnya pada masa pemerintahan Napoleon di Perancis. Sistem civil law merupakan sistem hukum yang paling banyak dipakai di dunia. Seseorang melakukan kesalahan hukum jika ia melanggar perundangan yang telah ditetapkan. Sistem peradilan lebih aktif memulai persidangan dan menentukan keputusannya.
Alternatif dari civil law adalah common law. Common law berkembang berdasarkan kebiasaan (adat atau custom) yang berkembang sebelum ada hukum tertulis. Common law menggunakan putusan hakim atau kasus-kasus hukum yang terjadi sebelumnya (jurisprudensi) sebagai dasar pengambilan keputusan kasus yang akan diputuskan. Dalam sistem tersebut, pihak-pihak yang berselisih akan mengajukan kasus kemudian pengadilan akan mendengarkan argumen dari pihak yang menuduh (plaintiff) dan pihak tertuduh (defendant), untuk sampai pada keputusan hukum.
didasarkan pada kasus-kasus hukum sebelumnya), tetapi juga pada pendekatan terhadap hukum. Pada civil law, perundangan dipandang sebagai sumber utama hukum. Pengadilan mendasarkan keputusannya pada perundangan tersebut. Pada common law, kasus-kasus merupakan sumber utama hukum, sementara perundangan hanya sebagai pelengkap.
Beberapa penulis melihat implikasi ekonomi yang berbeda antara kedua sistem hukum tersebut. Civil law lebih menekankan stabilitas sosial, sementara common law memfokuskan pada hak individu. Perbedaan tersebut diyakini oleh beberapa pihak membawa konsekuensi berbeda terhadap perkembangan ekonomi negara yang menganut sistem hukum yang berbeda tersebut. Sebagai contoh, beberapa penulis berpendapat negara dengan sistem common law memberikan perlindungan terhadap investor lebih baik dibandingkan dengan negara dengan sistem civil law.
3. Pelanggaran terhadap kewajiban hukum
Kewajiban hukum muncul sebagai akibat pelanggaran hukum. Dalam bahasa hukum disebut pelanggaran hukum atau legal wrong atau torts.
Pelanggaran hukum dapat dikelpmpokkan menjadi sebagai berikut : a. Pelanggaran hukum yang disengaja.
b. Kewajiban absolute.
c. Negligence. Negligence dapat diartikan sebagai kegagalan untuk menjalankan perhatian sesuai dengan standar hukum yang berlaku. 4. Elemen Tindakan Negligence
Tindakan negligence yang dapat berakibat pada pelanggaran hukum dan denda ganti rugi mempunyai empat elemen yaitu sebagai berikut :
1. Adanya kewajiban hukum untuk melaksanakan perhatian yang memadai. 2. Gagal untuk melaksanakan kewajiban tersebut.
3. Kerusakan atau cedera pada penggugat.
4. Terdapat hubungan sebab akibat antara perbuatan ceroboh dengan kerusakan.
C. Resiko Kredit4
Resiko kredit adalah resiko yang berkaitan dengan kemungkinan kegagalan debitur untuk melunasi utangnya baik pokok maupun bunganya pada waktu yang telah ditentukan.
Resiko kredit dapat timbul karena beberapa hal, antar lain : 1. Debitur tidak dapat melunasi utangnya
2. Adanya kemungkinan pinjaman yang diberikan oleh bank atau obligasi yang dibeli oleh bank tidak dibayar
3. Terjadinya gagal bayar dari semua kewajiban antara bank dengan pihak lain, misalnya kegagalan dalam membayar kontrak derivatif. 5
Hal –hal yang harus diperhatikan sebelum memberikana kredit disebut 5 C yakni: 1) Character, yaitu kemampuan peminjam (debitur) untuk memenuhi
kewajibannya. Hal ini sangat terkait dengan karakter peminjam. Peminjam yang mampu mengembalikan pinjamannya tetapi ia memiliki karakter yang tidak baik, memiliki kemungkinan tidak mengembalikan pinjamannya pada tanggal yang telah ditentukan. Kondisi ini dapat mengancam kreditur.
2) Capacity, yaitu kemampuan peminjam untuk melunasi utangnya. Bagi
nasabah yang sudah menjadi langganan, kemampuan ini dapat dibaca melalui sejarahnya bagi peminjam, namun bagi nasabah baru tentu pihak yang memberi pinjaman belum punya data.
3) Capital, yaitu posisi finansial peminjam secara keseluruhan. Kondisi ini dapat dilihat dari analisis keuangan, seperti analisis rasio.
4) Collateral, yaitu aset yang dijaminkan. Jika akibat sesuatu hal peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman, maka jaminan aset itulah yang akan digunakan untuk menutup utang tersebut.
5) Condition, yaitu kondisi perekonomian. Kondisi perekonomian dapat berpengaruh pada usaha si peminjam. Kondisi perekonomian yang perlu diwaspadai adalah kondisi perekonomian yang memburuk sehingga dapat mengancam kelanjutan usaha si peminjam dan berdampak pula pada menurunnya pendapatan, dan menyebabkan kemampuan mengembalikan pinjaman juga ikut menurun.
Metode pengelolaan risiko kredit :6
Agunan (jaminan asset)
Pemantauan arus kas
Sekuritasi (efek)
Manajemen pemulihan
D. Resiko Pasar 7
5 Sulad, sri hardanto, Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, (jakarta : PT alex media
komputindo,Tahun 2006), h.106
Risiko pasar (market risk) adalah kerugian yang diderita bank, antara lain dicerminkan dari posisi on dan off balance sheet bank akibat terjadinya market price atas aset bank, interest rate dan foreign excanghes rate, market volatility dan market liqquidity.
Risiko ini muncul akibat adanya harga pasar yang bergerak ke arah yang merugikan. Risiko ini merupakan risiko gabungan yang terbentuk akibat perubahan perubahan suku bunga, perubahan nilai tukar serta hal lain yang mempengaruhi harga pasar saham, ekuitas maupun komoditas. Bank terkena dampak faktor pembentuk harga dipasar modal seperti suku bunga karena melakukan hal sebagai berikut.
1. Traded market risk (jika bank cukup aktif dalam perdagangan instrumen pasar seperti obligasi yang nilainya sangat terkait dengan market rate).
2. Risiko suku bunga dalam pembukuan bank (bank terkena dampak dari pasar modal akibat struktur bisnisnya, seperti pemberian pinjaman dari penerimaan tabungan).
Dua jenis market risk :
a) Specific market risk, adalah risiko terjadinya pengaruh buruk bagi bank sebagai akibat dari perubahan harga itu secara spesifik dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu atau oleh peristiwa yang menimpa issuer-nya sendiri.
b) General market risk, adalah risiko terjadinya pengaruh buruk bagi bank, sebagai akibat dari perubahan harga suatu instrumen moneter tertentu, sehingga secara umum berpengaruh terhadap harga pasar sejumlah instrumen sekuritas. Sebagai contoh, naik turunnya tingkat suku bunga bank resmi atau official (BI atau SBI) tentu akan berpengaruh pada tingkat suku bunga perbankan lainnya.
E. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas terbagi menjadi dua macam, yaitu risiko likuiditas aset (asset liquidity risk) dan risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas aset atau sering disebut dengan market/product liquidity risk, timbul ketika suatu transaksi tidak dapat dilaksanakan pada harga pasar. Yang terjadi akibat besarnya nilai transaksi relatif terhadap besarnya pasar. Sedangkan risiko likuiditas pendanaan yang sering disebut dengan cash-flow risk, yaitu risiko ketidakmampuan memenuhi kewajiban jatuh tempo sehingga mengakibatkan likuidasi.8
F. Risiko Operasional 9
Proses penggunaan teknologi yang berdampak pada operasi bank merupakan risiko yang timbul akibat tindakan manusia. Oleh karena itu, kecurangan, ketidakjujuran, kegagalan manajemen, sistem pengendalian yang tidak memadai, prosedur operasional yang tidak tepat, termasuk dalam risiko operasional. Risiko operasional juga dapat menyebabkan terjadinya risiko pasar dan risiko kredit. Misalnya, adanya masalah operasional pada transaksi bisnis seperti kegagalan sattlement akan menciptakan risiko pasar dan risiko kredit, karena kerugian dari masalah operasional ini besarnya tergantung dari pergerakan harga pasar.
Contoh, bentuk risiko operasional adalah dalam kegagalan baring bank. Kesalahan baring bank adalah terlalu percaya terhadap salah seorang trader yaitu nick leeson. Sebagai seorang trader, ia mengerjakan dua fungsi sekaligus yaitu fungsi front office (sebagai trader) dan fungsi back office (melakukan transaksi atas transaksinya). Ketika ia memperoleh keuntungan, ia akan mencatatkan keuntungan tersebut, tetapi ketika mengalami kerugian ia tidak akan mencatat kerugiannya. Akibatnya, kerugian dari tradingnya tidak akan terkontrol oleh bank sehingga mengakibatkan kerugian sebesar 1,3 milyar dolar.
G. Resiko reputasi10
Resiko ini muncul akibat opini negatif publik terhadap operasional bank, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya jumlah nasabah bank tersebut atau menimbulkan biaya besar karena gugatan pengadilan atau merosotnya pendapatan bank. Persepsi publik tentang pasar merupakan penyebab yang cukup signifikan dalam resiko reputasi. Resiko reputasi bank semakin meningkat dalam hal keamanan maupun dalam hal pelayanan dewasa ini, karena pasar finansial global beroperasi 24 jam. Kegagalan bank internasional dapat terjadi kapan saja di belahan bumi mana saja dan dapat dimonitor seketika juga. Resiko reputasi ini juga dapat berdampak pada bank-bank lain.
Contoh kasus pada Westminister Bank (NatWest), sebuah bank yang cukup besar di inggris mengungkapkan adanya black hole pada portofolio opsi yang nilainya setara 50 juta poundstrerling. Kerugian itu diakibatkan oleh kesalahan penentuan harga sejak tahun 1994. Kesalahan tersebut dianggap sekedar kelalaian dan bukan kecurangan. Sebuah artikel di Euromoney pada mei 1997 emlansir bahwa, seorang pelaku pasar diperbolehkan menentukan harga pasar sendiri di dalam sistem NatWest, serta menyebutkan juga sistem manajemen interest rate risk yang dibuat oleh bank tersebut, sehingga tidak dapat menilai posisi perdagangan secara benar.
Publikasi tersebut menjadi berita yang sangat buruk bagi NatWest karena membeberkan ketidakmampuan bank tersebut untuk mengelola kegiatan perdagangan.
H. Risiko Strategik (Strategik Risk)
Risiko ini muncul akibat penerapan strategi yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang keliru atau bank kurang responsif terhadap perubahan eksternal, sehingga bank mengalami kerugian. Tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, banyak bank-bank di jepang dan Eropa memberikan pinjaman yank cukup besar kepada negara-negara berkembang. Tahun 1982, negara-negara kurang berkembang
tersebut mempunyai utang lebih dari $500 billion kepada bank asing, pemerintah dan lembaga-lembaga keuangan internasional.11
Tingginya harga minyak selama tahun 1970-an, menyebabkan negara-negara anggota OPEC mendapatkan keuntungan yang cukup besar, dana-dana ini kemudian didepositokan pada bank internasional dan oleh bank internasional dana-dana ini dipinjamkan kepada negara-negara kurang berkembang yang mampu menghasilkan return lebih besar, dibandingkan jika diinvestasikan di pasar domestik. Oleh negara-negara yang kurang berkembang tersebut, pinjaman tersebut diinvestasikan pada sektor yang tidak produktif.
Akibatnya adalah terjadinya krisis ekonomi yang mendorong terjadinya restrukturisasi utang dengan memberikan utang baru. Restrukturisasi utang ini ternyata gagal dan bank-bank internasional mengalami kerugian sangat besar atas penerapan strategi yang tidak tepat.
I. Resiko Kepatuhan (Compliance Risk)
Risiko ini terjadi, karena bank tidak mau mematuhi atau tidak mau melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Dalam praktiknya, resiko kepatuhan melekat pada risiko bank yang terkait pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Misalnya, risiko kredit terkait dengan ketentuan kewajiban pemenuhan modal minimum (KPMM), kualitas aktiva produktif pembentukan penyisihan aktiva produktif (PPAP), batas maximum pemberian kredit (BMPK), risiko pasar terkait dengan ketentuan posisi devisa netto (PDN), risiko strategik terkait dengan ketentuan rencana kerja anggaran tahunan (RKAT) bank.12
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Hardanto, Sulad sri.2006. Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, (Jakarta : PT alex media komputindo)
Kasidi. 2014. Manajemen Risiko. (Bogor : Ghalia Indonesia)