• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 Skripsi Ismayanti Said

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan " 4 Skripsi Ismayanti Said"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial, tindakannya yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan sosial. Suatu tindakan untuk saling mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan dan saling mengekpresikan serta menyetujui sesuatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu, di dalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yang umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang merupakan suatu masyarakat untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan komunikasi. Di sini perlu disadari bahwa “Bahasa berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena tanpa bahasa maka segala jenis kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh” (Keraf, 1993:1).

(2)

terampil berbicara, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis (Tarigan, 1986:22).

Setiap keterampilan tersebut saling berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Semua itu dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan berlatih. “Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir.” (Tarigan, 1986:1).

(3)

“Kepandaian dan keterampilan berbicara dapat diperoleh dengan jalan praktik dan banyak latihan” (Tarigan, 1986:1). Tanpa adanya latihan dan praktik yang memadai maka akan menimbulkan masalah dalam pembicaraan bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara. Hal ini ditunjang oleh hasil penelitian Fitriani (2001) yang menyatakan bahwa “Guru kurang memberikan praktik dan latihan dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar”.

Berdasarkan gambaran tersebut di atas keterampilan berbicara perlu dikembangkan dan dipelajari oleh setiap orang, karena keterampilan berbicara sangat penting dalam berkomunikasi.

(4)

Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin mengetahui problematik yang dihadapi siswa dalam keterampilan berbicara. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pangkep dengan pertimbangan untuk mengetahui perkembangan SMP Negeri 2 Balocci dan selain itu pertimbangan biaya dan kemudahan akomodasi. Selain itu pula, di tempat tersebut belum ada yang mengangkat masalah tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah “ Problematik apa sajakah yang dihadapi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia?"

C. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan mendeskripsikan problematik yang dihadapi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci dalam pembelajaran berbicara bahasa Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

(5)

Dengan mengetahui problematik pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep, maka diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam memilih dan menerapkan metode mengajar tertentu, agar dapat memenuhi keterampilan berbicara.

b. Manfaat praktis

Dalam pengembangan ilmu pengtahuan dan teknologi, hasil penelitian ini harapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi pihak yang akan meneliti hal-hal yang relevan. Dan menjadi bahan masukan yang positif sebagai salah satu bentuk pemecahan masalah yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar di kelas terutama keterampilan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan pustaka

1. Pengertian berbicara

(6)

langsung apakah sang pembicaranya maupun para penyimak; apakah dia bersikap serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengomunikasikan gagasan-gagasannya, dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990: 114), berbicara berasal dari kata “bercakap”, kemudian menjadi bicara yang berarti pertimbangan (pikiran); berbahasa namun batasan ini susah untuk dipakai karena disamakan antara keterampilan berbicara dengan berbahasa, padahal berbicara merupakan dari keterampilan berbahasa.

Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus manusia. Oleh karena itu, pembicara seumur dengan bangsa manusia (Henrikus, 1990: 14) mengatakan “bahwa bahasa dan pembicaraan itu muncul, ketika manusia mengungkapkan dan menyampaikan pikiran kepada manusia lain”.

Menurut Lagousi (1992: 25), berbicara adalah kegiatan menyampaikan pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan memakai bahasa lisan “pesan verbal” dan dibantu oleh nonverbal.

Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Menurut Tarigan (1986: 15) berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang mengatakan faktor fisik, psikologis,

(7)

neorologis, semantik dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting dalam kontrol sosial.

Berbicara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan menyatakan sesuatu kepada seseorang dalam bentuk ujaran (bahasa lisan). Pengertian tersebut memberikan gambaran bahwa berbicara atau aktivtas manusia dengan bahasanya yang terwujud dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan. Oleh karena itu, retorika pada hakikatnya senantiasa berkaitan dengan kegiatan manusia dalam berkomunikasi. Berkomunikasi yang dimaksud adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya.

Menurut Semi, (1992: 2) berbicara perlu dipelajari dan dilakukan melalui latihan, orang tidak mungkin dapat berbicara dengan benar bila ia tidak pernah mau mencoba berbicara di depan orang banyak”.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan suatu kegiatan manusia dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa lisan untuk mencapai tujaun atau maksud yang diinginkan.

(8)

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dalam menyampaikan pikiran, gagasan, maksud sering menggunakan bahasa lisan atau dalam bentuk ucapan (berbicara). Aspek tersebut termasuk dalam unsur produktif, yang berfungsi sebagai penyampaian, penyebar informasi dengan menggunakan bahasa lisan (Tarigan, 1986: 86).

Menurut Dallman (dalam Syafi’ie, 1998: 9) ada beberapa keterampilan yang diperlukan siswa berbicara dengan baik, keterampilan-keterampilan itu adalah :

1. Pengucapan kata-kata yang betul.

2. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dengan baik dan jelas.

3. Menyatakan sesuatu dengan tegas sehingga jelas perbedaanya dengan perkataan lain.

4. Sikap berbicara yang baik.

5. Mempunyai nada berbicara yang menyenangkan.

6. Menggunakan kata-kata secara tepat sesuai dengan maksud yang dinyatakan.

7. Menggunakan kalimat yang efektif .

8. Mengorganisir pokok-pokok pikiran dengan baik .

(9)

Syafi’ie (1998: 4-7) mengemukakan bahwa “Keterampilan berbicara memiliki empat unsur pokok, yaitu rasional yang baik, etika dan nilai moral, bahasa, dan pengetahuan”.

3. Tujuan berbicara

Tujuan utama dari berbicara untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan pikiran ecara efektif, maka pembicara harus memahami yang ingin dikomunikasikannya, dan dia mampu megevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya, dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraanya, baik secara umum maupun perorangan.

Sebagai alat sosial, maka pada dasarnya berbicara memunyai tujuan umumn, yaitu :

1. Memberitahukan, melaporkan. 2. Menjamu, menghibur.

(10)

4. Prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara

Menurut Brooks (dalam Tarigan, 1986: 16-17) beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara, antara lain:

1. Membutuhkan paling sedikit dua orang.

2. Mempergunakan suatu sandi/ tanda linguistik yang dipahami bersama.

3. Menerima atau mengakui suatu daerah referensi umum.

4. Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepala lingkungannnya segera.

5. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan.

6. Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengaran (vocal and auditory apparatus).

7. Secara tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yan diterima sebagai dalil. Brook (dalam Tarigan, 1986: 16-17).

(11)

1. Sang pembicara merupakan suatu kemauan, suatu maksud, suatu makna yang diinginkannya dimiliki oleh orang lain, yaitu suatu pikiran (a thought).

2. Sang pembicara atau pemakai bahasa, membentuk pikiran dan perasaan menjadi kata-kata.

3. Sang pembicara atau sesuatu yang ingin disimak, ingin didengarkan, menyampaikan maksud dan kata-katanya kepada orang lain melalui suara, dan dilihat.

4. Sang pembicara atau sesuatu yang harus memperlihatkan rupa, sesuatu tindakan yang harus diperhatikan, dan dibaca melalui mata.

Menurut Tarigan, (1986: 19), keberhasilan seseorang berkomunikasi dalam masyarakat menunjukkan kematangan atau kedewasaan pribadinya. Ada empat keterampilan utama yang merupakan ciri pribadi yang dewasa (a nature personality), yaitu :

1. Keterampilan sosial. 2. Keterampilan simantik. 3. Keterampilan fonetik.

(12)

Keterampilan sosial (social skill) adalah kemampuan untuk berpartisipasi secara efektif dalam hubungan masyarakat. Keterampilan sosial menuntut agar kita mengetahui :

1. Apa yang harus dikatakan? 2. Bagaimana cara mengatakannya? 3. Apabila mengatakannya.

4. Kapan tidak mengatakannya?

Keterampilan semantik (semantic skill) adalah kemampuan untuk mempergunakan kata-kata dengan tepat penuh pengertian.

Keterampilan fonetik (phonetic skill) adalah kemampuan membentuk unsur-unsur fonetik bahasa kita secara tepat.

Keterampilan vokal (vocal skill) adalah kemampuan untuk menciptakan efek emosional yang diinginkan dengan suara kita.

5. Ciri-ciri pembicara ideal

(13)

Ciri-ciri pembicara yang baik untuk dikenal, dipahami dan dihayati, serta diterapkan dalam berbicara yaitu:

1. Memilih topik yang tepat. 2. Menguasai materi.

3. Memahami pendengar. 4. Memahami situasi.

5. Merumuskan tujuan yang jelas. 6. Menjalin kontrak dengan pendengar. 7. Memiliki kemampuan linguistik. 8. Menguasai pendengar.

9. Memanfaatkan alat bantu. 10. Meyakinkan dalam penampilan. 11. Mempunyai rencana.

Langkah pokok yang masih berifat umum itu dapat dikembangkan menjadi langkah-langkah yang spesifik. Menurut Keraf (1988: 127). Hasil pengembangan langkah yang bersifat umum menjadi langka spesifik khusus adalah sebagai berikut:

1. Menentukan maksud.

(14)

4. Mengumpulkan bahan. 5. Membuat kerangka uraian. 6. Menguraikan secara mendetail. 7. Melatih dengan suara nyaring.

Lain halnya dengan Waingright (dalam Tarigan, 1986: 127) mengemukakan enam langkah yang harus dilalui dan dikuasai ole seseorang agar dapat menjadi pembicara yang baik. Langkah-langkah tersebut, yakni :

1. Memilih topik.

2. Memahami dan menguji topik.

3. Memahami latar belakang pendengar dan situasi. 4. Menyusun kerangka pembicaraan.

5. Mengujicobakan. 6. Menyajikan.

6. Jenis-jenis berbicara

Ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasikan kegiatan berbicara. Kelima landasan tersebut, yaitu :

(15)

Aktivitas berbicara sudah terjadi atau berlangsung dalam suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Menurut Logan, dkk. (dalam Tarigan, 1986: 48), jenis berbicara menurut situasi, yaitu:

1) Jenis-jenis (kegiatan) berbicara informal meliputi : 1. Tukar pengalaman.

2. Percakapan.

3. Menyampaikan berita.

4. Menyampaikan pengumuman. 5. Bertelepon, dan memberi petunjuk.

2) Jenis-jenis (kegiatan) berbicara formal meliputi : 1. Ceramah.

2. Perencanaan dan penelitian. 3. Interview.

4. Prosedur parlementer, dan 5. Bercerita.

b. Tujuan

Menurut tujuannya maka kegiatan berbicara terbagi menjadi lima jenis, yaitu :

(16)

2. Berbicara mengimformasikan. 3. Berbicara menstimulasi. 4. Berbicara meyakinkan, dan 5. Berbicara mengerakkan.

c. Metode penyampaian

Ada empat cara yang bisa digunakan orang dalam menyampaikan pembicaraanya, yaitu :

1. Penyampaian secara mendadak.

2. Penyampaian berdasarkan catatan kecil. 3. Penyampaian berdasarkan hafalan, dan 4. Penyampaian berdasarkan naskah. d. Jumlah penyimak

Berdasarkan jumlah penyimak, berbicara dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu:

1. Berbicara antarpribadi.

2. Berbicara dalam kelompok kecil. 3. Berbicara dalam kelompok besar.

(17)

Menurut Logan dkk (dalam Tarigan, 1986: 56), berdasarkan peristiwa khusus berbicara atau pidato dapat digolongkan atas enam jenis, yaitu:

1. Pidato presentasi. 2. Pidato penyampaian. 3. Pidato perpisahan. 4. Pidato perjamuan. 5. Pidato perkenalan. 6. Pidato nominasi.

7. Pengetahuan dasar berbicara

Mulgraw (dalam Tarigan, 1986 : 21-22) mengatakan bahwa berbicara dapat ditinjau sebagai suatu seni dan juga sebagai suatu ilmu. Jika berbicara itu dipandang sebagai suatu seni, maka penekanannya ditekankan pada penerapan sebagai suatu alat komunikasi dalam suatu masyarakat. Jika berbicara dipandang sebagai suatu ilmu, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :

(18)

5. Konsonan-konsonan, 6. Bunyi-bunyi bahasa, 7. Pantologi ujaran.

Pengetahuan mengenal teori dalam berbicara, sangat bermanfaat dalam menunjang kemampuan dan kesuksesan dalam praktik berbicara, maka dari itulah, diperlukan pendidikan berbicara.

Adapun konsep yang mendasari pendidikan berbicara dikategorikan dalam tiga kelompok, yaitu :

1. hal-hal yang berkenaan dengan hakikat atau sifat dasar tujuan 2. hal-hal yang menyatakan proses-proses intelektual yang diperlukan

untuk mengembangkan kemampuan berbicara dengan baik.

3. hal-hal yang memudahkan seseorang untuk mencapai keterampilan berbicara.

(19)

8. Rambu-rambu dalam berbicara

Suksesnya suatu pembicaraan tergantung pada pembicara dan pendengar. Untuk itu, diperlukan beberapa persyaratan kepada seseorang pembicara dan pendengar, antara lain :

1. Menguasai masalah yang dibicarakan. Penguasaan masalah akan membutuhkan keyakinan kepada diri pembicara, sehingga akan menimbulkan rasa percaya diri yang merupakan model utama bagi pembicara.

2. Mulai berbicara jika situasi memungkinkan. Sebelum memulai pembicaraan, hendaknya pembicara memperhatikan situasi seluruhnya, khususnya pendengar. Bila pendengar sudah siap, baru mulai berbicara.

3. Pengarahan yang tepat akan dapat memancing perhatian pendengar. Sesudah memberikan kata salam dalam membuka pembicaraan, seorang pembicara yang baik akan menginformasikan tujuan ia berbicara dan menjelaskan pentingnya pokok pembicaraan itu bagi pendengar.

(20)

5. Pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu. Pandangan mata dalam hal ini juga mempunyai peranan.

6. Kenyaringan suara. Suara hendaknya dapat didengar oleh semua pendengar dalam ruangan itu.

7. Dalam komunikasi dua arah, mulailah berbicara jika sudah dipersilahkan. Bila ingin mengemukakan pendapat, berbicaralah jika telah diberi kesempatan. Jangan memotong pembicaraan orang lain dan jangan pula berebut berbicara. Jangan berbicara berbelit-belit tetapi langsung pada sasaran (Arsjad & Mukti, 1998 : 31-32).

9. Kebahasaan yang menunjang faktor keefektifan berbicara

Sebagai pembicara yang baik, seseorang harus memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan dan memperhatikan keberanian dan kegairahan serta kejelasan dalam berbicara. Dalam hal ini, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh pembicara, yaitu kebahasaan dan faktor nonkebahasaan.

(21)

a. Ketetapan ucapan, seseorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat.

b. Penempatan tekanan, nada, tanda, dan durai yang sesuai

c. Pilihan kata (diksi). Pilihan kata hendaknya tepat jelas dan bervariasi. d. Ketepatan sasaran pembicaraan (Arsjad dkk., 1988: 17-19).

Faktor yang memengaruhi efektivitas restoris terdapat pada setiap unsur komunikasi, yaitu komunikatif, resipiens, pesan dan medium.

a. Pola komunikator

Beberapa faktor yang memengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi restoris, yaitu :

1. Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan komunikasi, dalam hal ini adalah penguasaan bahasa dan keterampilan menggunakan bahasa dalam media komunikasi untuk mempermudah prose belajar.

2. Sikap komunikasi seperti rendah hati, rela mendengar dan menerima sara dapat memberi dampak besar dalam proses komunikasi restoris. 3. Sistem sosial dimaksudkan bahwa semua komunikator berada dan

(22)

4. Sistem kebudayaan seperti tingkah laku, kata adab, dan pandangan hidup yang diwariskan oleh suatu kebudayaan tertentu yang akan mempunyai efektifitas dalam proses komunikasi dengan orang lain.

b. Pola resipiens

Faktor-faktor ini pada umumnya sama dengan faktor yang memengaruhi komunikator yaitu, pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi, sikap resipiens, dan sistem sosial dan kebudayaan.

c. Pola pesan dan medium

Kedua faktor ini perlu diperhatikan oleh komunikator dalam proses komunikasi retoris, terutama dalam hal :

1. Elemen-elemen pesan komunikator menerjemahkan pesan dengan memengaruhi medium, yang berupa kata-kata, kalimat, teks, ide yang dikemukakan, alat-alat peraga yang dipakai untuk memperjelas pesan yang berupa suara, aksen, artikulasi, mimik, dan gerak yang disampaikan.

2. Struktur pesan.

(23)

2. Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara. 3. Kesediaan menghargai pendapat orang lain. 4. Gerak – gerik mimik yang tepat

5. Kenyaringan suara yang sangat menentukan

6. Kelancaran seorang pembicara ang lancara berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraan.

7. Relevansi/ penalaran gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis.

8. Penguasaan topik. Pembicaraan formal selalu menuntut persiapannya supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai.

10. Metode peyampaian dan penilaian dalam berbicara

Kemampuan mengutarakan pendapat dengan bahasa oleh pembicara menyangkut penggunaan bahasa dengan baik, tepat, dan seksama.

Mulgrove (dalam Tarigan 1986: 21-26) mengemukakan metode penyampaian berbicara sebagai berikut:

a. Penyampaian secara mendadak (Impromto) b. Penyampaian dari naskah

(24)

Beberapa cara menyampaikan pembicaraan untuk meningkatkan daya ingat para pendengardengan cara sebagai berikut:

1. Pengulangan. Semakin sering sesuatu pesan di dengar, semakin mudah untuk diingat.

2. Dekatnya. Semakin baru satu pesan di dengar, semakin baik untuk diigat

3. Pesan. Semakin besar kesan atau pengaruh emosi yang kuat terhadap pendengar, semakin lama pesan itu untuk diingat

4. Kesederhanaan. Suatu pernyajian yang sederhana akan mudah diingat oleh para pendengar.

Dari beberapa konsep tersebut di atas, maka disampaikan bahwa keterampilan berbicara sangat memberikan pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan kepribadian seseorang, baik itu dari faktor fisik maupun faktor kejiwaan (phsikis), baik itu diruang formal maupun non formal (lingkungan keluarg dan lingkungan masyarakat).

11. Faktor-faktor yang memengaruhi keterampilan berbicara

Ada beberapa faktor yang sangat memengaruhi seseorang dalam berbicara, yaitu :

(25)

1) Malu kepada teman, dengan alasan bahwa teman lebih pintar, teman lebih berpegalaman, dan sebagainya.

2) Malu mengeluarkan kata-kata dengan alasan bahwa pembicaraan tersebut mengalami gangguan atau psikis seperti gugup, tidak jelas jika berbicara, atau sering-sering mengalami kesalahan jika menyebut huruf, dan sebagainnya.

3) Malu jika mengalami kesalahan, dengan alasan bahwa apa yang dibicarakan oleh pembicara terebut tidak sesuai apa yang dikehendaki oleh guru.

b. Rasa takut

Rasa takut terdiri atas : 1. Takut salah,

2. Takut ditertawai, dan 3. Takut salah bahasa

(26)

c. Kurang percaya diri, karena ada perasaan gugup, bimbang, dan kaku dalam setiap diberi kesempatan untuk berbicara di depan kelas (Henriks, 1990: 157-158).

Selain faktor tersebut di atas, terdapat faktor lain yang memengaruhi keterampilan berbicara seseorang, yaitu siswa yang masih dipengaruhi oleh bahasa pertama/ bahasa ibu dan dialek daerah. Semua ini kadang-kadang membuat struktur bahasa indonesia yang berbeda.

Selain itu, kelengkapan buku menjadi masalah bagi seorang guru dalam mengajarkan bahasa indonesia. Ini disebabkan penggunaan yag dipergilirkan untuk kelas lain. Dari keadaan tersebut di atas dapat menghambat kelancaran proses belajar mengajar karena waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan berbicara, digunakan untuk menulis.

Guru dalam menyajikan materi menggunakan metode ceramah dan penugasan. Isi sesuai dengan model dalam proses belajar mengajar keterampilan berbicara, yaitu untuk melihat bagaimana umpan balik anak terhadap materi tersebut dan untuk pembentukan keterampilan, memperoleh pengetahuan dan mengkmunikasikan pemerolehannya.

12. Kriteria yang bermasalah, yaitu :

(27)

Kata kurikulum berasal dari bahasa latin currikulum yang berarti ’jalur pacu’. Secara tradisional, pengertian kurikulum secara etimologis tersebut mengilhami penerapan kurikulum di sekolah. Dimyanti ( 1999: 3) mengemukakan beberapa pengertian kurikulum, yaitu :

1. Kurikulum sebagai pedoman pengajaran 2. Kurikulum sebagai isi pelajaran

3. Kurikulum sebagai pengalaman belajar yang direncanakan 4. Kurikulum sebagai rencana tertulis untuk dilaksanakan

b. Penguasaan metode

Dalam mengajarkan keterampilan berbicara, guru sebaiknya menerapkan berbagai metode, agar siswa terlatih dan mahir dalam berbicara. Adapun kriteria penilaian terhadap siswa terbagi ke dalam dua aspek linguistik yaitu kemahiran menggunakan kata-kata (kosakata), misalnya ungkapan, idiom, dan variasi kalimat. Sedangkan yang termasuk ke dalam nonlinguistik yaitu bagaiman siswa dalam berbicara, apakah siswa tersebut bersifat tentang, jujur, berani dan terbuka.

(28)

tersebut dimaksudkan agar dalam mengajat atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas baik secara individual maupun secara kelompok, mudah diserap, dipahami, dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Makin baik metode mengajar yang diterapkan, makin efektif pula pencapaian dan tujuan pembelajaran.

c. Penguasaan pendekatan

Dalam pembelajaran bahasa dan sastra indonesia dierlukan pendekatan yang dapat mengantarkan pengajaran bahasa mencapai sasaran yang diinginkan. Pengajaran bahasa dan sastra indonesia dalam kurikulum 1994 menggunakan pendekatan komunikatif, yaitu pendekatan yang berorientasi kepada kegiatan belajar mengajar fungsi bahasa.

Pendekatan komunikati dalam pengajaran bahasa dan sastra indonesia mempunyai asumsi dan prinsip sebagai berikut:

1. Bahasa mempunyai fungsi utama sebagai alat komunikasi

2. Tujuan utama bahasa dan sastra indonesia adalah penguasaan kompetensi dan performansi.

(29)

4. Dalam proses belajar mengajar mengoptimalkan pemakaian bahasa indonesia, dan

5. Siswa diarahkan pada penggunaan bahasa.

Dalam proses belajar mengajar dengan metode komunikatif ini, guru menjalankan peran-peran sebagai berikut:

1. Fasilitator, 2. Komunikator 3. Organisator 4. Penasihat 5. Manajer

6. Analisis kebutuhan belajar siswa

d. Perencanaan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran diawali dengan rencana pelajaran di kelas VIII SMP Negeri 2 Baloci Kabupaten Pangkep pada semester genap tahun pelajaran 2009-2010. Rencana pelajaran difokuskan pada keterampilan berbicara, khusunya tanya-jawab. Secara garis besar, rencana tersebut disusun dengan muatan dasar sebagai berikut”

(30)

2. Anggota kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok, yakni kelompok penanya dan kelompok penjawab.

3. Telah disediakan wacana peristiwa yang berkaitan dengan upcara HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang dilaksanakan oleh warga sekolah.

4. Setiap anggota kelompok memiliki satu kali kesempatan bertanya dan satu kali kesempatan menjawab.

e. Penguasaan materi pelajaran

Materi pelajaran merupakan segala informasi yang berisi fakta-fakta, prinsip, dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Sehubungan dengan itu Tarigan (1986: 22-24), mengemukakan pedoman penentuan materi pelajaran sebagai berikut :

1. Sudut pandang 2. Kejelasan konsep

3. Relevansi dengan kurikulum 4. Menarik minat

(31)

8. Memantapkan nilai-nilai

f. Kegiatan belajar mengajar

Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu dari dua kegiatan yang searah. Rumusan kegiatan belajar mengajar dapat berupa uraian singkat yang akan dilakanakan. Komponen kegiatan belajar mengajar tersebut meliputi pemilihan materi, sumber pelajaran, serta pemilihan media dan metode pengajaran. Uraian kegiatan belajar mengajar ini mencerminkan langkah-langkah kegiatan, penguasaan, dan pengelompokan pembelajaran.

g. Penilaian

Evaluasi hasil belajar dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan ini terdiri ata seperangkat soal yang harus dijawab oleh para peserta didik dan tugas-tugas terstruktur yag berkaitan dengan konsep yang sering dibahas. Ulangan minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester. Ulangan harian ini terutama ditujukan untuk memperbaiki modul dan program pembelajaran. Namun, tidak menutup kemungkinan digunakan untuk tujuan lain, misalnya sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi peserta didik.

(32)

Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam berbicara adalah a. Faktor eksternal, yaitu :

1. Pengaruh lingkungan : lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.

2. Faktor guru, karena guru merupakan orang yang berhadapan langsung dengan siswa.

3. Kurangnya buku-buku penunjang. Khususnya buku keterampilan berbicara.

b. Faktor internal, yaitu :

Faktor yang terdapat dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar adalah bakat, minat, kemampuan, dan motivasi belajar. Siswa merupakan masukan (bahan) mentah yang perlu dimbimbing dalam proses belajar mengajar.

B. Kerangka pikir

(33)

Namun, untuk mencapai tujuan tersebut masih ditemukan beberapa masalah, baik yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru dalam pembelajaran keterampilan berbicara.

Masalah yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara ini, secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yakni: faktor internal dan eksternal. Kedua faktor inilah yang selanjutnya diidentifikasi dan dianalisis secara rinci untuk mendapatkan gambaran tentang problematik pembelajaran keterampilan berbicara. Gambaran inilah yang menjadi hasil akhir penelitian.

Sebagai konsep dasar atau kerangka pikir dalam penelitian ini adalah: Kurikulum SMPN 2 Balocci Berbicara Bahasa Indonesia Siswa Kelas

(34)

Gambar 1 Bagan Kerangka pikir

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SMP Negeri 2 Balocci, Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan.

B. Desain Penelitian

(35)

deskriptif berupa kata-kata tertulis dan tulisan tentang orang-orang atau perilaku yang dapat diamati.

C. Definisi Variabel

Yang termasuk problematik keterampilan berbicara dalam penelitian ini yaitu: Masalah atau kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran baik menerima maupun dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan (berbicara) sehingga tujuan yang diinginkan oleh pembicara dapat dicapai dengan baik.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi penelitian ini baik berupa manusia, benda, peristiwa, maupun gejala yang terjadi (Ali, 1985: 54). Dalam penelitian ini, yang dijadikan populasi adalah keseluruhan sebanyak 91 siswa dan satu orang guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:

Table 1. Keadaan Populasi Kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci.

No Kelas Jumlah

1 VIIIII A 31 orang

2 VIIIII B 30 orang

3 VIIIII C 30 orang

Jumlah 91 orang

(36)

2. Sampel

Arikunto (1992: 70) berpendapat bahwa: ”Apabila subjeknya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semua. Sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah sujeknya di atas 100 orang dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25%. Karena populasi kurang dari 100, yakni 91 responden menurut pendapat Arikunto lebih baik semua dijadikan sampel. Selain siswa, guru juga dijadikan sampel karena teknik pengumpulan datanya adalah observasi, angket, dan wawancara.

E. Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu memperoleh data dan informasi serta mengidentifikasi problematik keterampilan berbicara bahasa Indonesia di kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci, Kabupaten Pangkep. Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap, peneliti mengunakan metode antara lain:

1. Observasi atau pengamatan

Untuk memperoleh informasi secara langsung dengan menyaksikan proses belajar mengajar di kelas khususnya dalam pembelajaran keterampilan berbicara.

(37)

Tes wawancara 8 butir diberikan dengan rangkaian tanya jawab dengan guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk memperoleh data tentang problematik yang ditemukan dalam mengajarkan keterampilan berbicara. Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara dengan senantiasa berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan.

3. Angket

Penyebaran angket sebanyak 15 butir. Angket ini digunakan untuk memperoleh data tentang problematik keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep. Angket ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui teknik wawancara.

F. Teknik Analisis Data

(38)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penyajian Hasil Analisis Data

Data dalam penelitian ini dianalisis sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan pada bab terdahulu. Adapun data yang dianalisis adalah data hasil wawancara dengan guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia dan data hasil angket siswa. Data tersebut menggambarkan probelmatik pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep.

1. Hasil observasi/ pengamatan

Masalah yang diamati pada penelitian ini adalah

1. Penguasaan metode. Sesuai dengan analisis data, teknik atau metode yang diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbicara sifatnya

(39)

masih monoton (kurang bervariasi), sehingga pada saat proses belajar mengajar berlangsung masih ada siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran. Karena metode yang diterapkan tersebut kurang bervariasi akhirnya berdampak pada siswa itu sendiri.

2. Penguasaan materi. Sesuai dengan analisis data, guru masih kurang menguasai materi pelajaran. Agar tercapai tujuan pembelajaran yang efektif, guru harus lebih meningkatkan cara mengajarnya dengan lebih memperdalam materi yang akan dibahas. Guru biasanya kurang menguasai materi karena kurangnya buku-buku yang dijadikan pegangan atau buku-buku penunjang dalam mengajarkan keterampilan berbicara. Di samping itu guru yang mengajar bahasa Indonesia tidak sesuai dengan disiplin ilmu.

3. Kurikulum dan penerapannya. Sesuai dengan analisis data, kurikulum yang digunakan di sekolah tersebut terlalu padat. Sehingga tidak mampu menampung aspirasi, bakat, minat, dan perhatian siswa.

(40)

berbicara. Keaktifan siswa dalam menerima pelajaran merupakan modal utama dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena tanpa hal ini, maka guru tidak dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan yang telah digariskan, apalagi jika dikaitkan dengan aspek berbicara yang banyak menuntut praktik dan latihan untuk dapat berbicara yang baik dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

2. Hasil wawancara dengan guru

Wawancara dilakukan sesuai dengan daftar pertanyaan dan disesuaikan dengan keadaan pada saat itu. Berikuti ini hasil wawancara peneliti dengan guru bidang studi bahasa Indonesia kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep.

Hasil wawancara dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, dalam hubungannya dengan kelengkapan buku paket siswa. Menurut tenaga pengajar mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa kurang memiliki buku paket sehingga muncul salah satu kendala yang mempengaruhi keterampilan berbicara bahasa Indonesia, selain itu juga tingkat kekerapan siswa dalam membaca buku di perpustakaan masih kurang.

(41)

kadang-kadang menyenangi pembelajaran keterampilan berbicara, sesuai dengan materinya.

Mengenai waktu yang telah disediakan untuk bidang studi bahasa Indonesia kelas VIII setiap minggunya. Menurut guru bidang studi, waktu ini sudah cukup untuk mengajarkan ketermpilan berbicara.

Wawancara dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, diperoleh data mengenai kendala-kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara di kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep dihubungkan dengan kurang aktifnya siswa dalam kegiatan berbicara (bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat, dan diskusi) umumnya disebabkan oleh :

a. Merasa malu; malu ini terdiri atas :

1) Malu kepada teman, dengan alasan bahwa teman belajar lebih pintar, teman lebih berpengalaman, dan sebagainya.

2) Malu mengeluarkan kata-kata, dengan alasan bahwa pembicara tersebut mengalami gangguan psikis seperti gugup, tidak jelas jika berbicara atau seringanya mengalami kesalahan jika menyebut huruf, dan sebagainya. 3) Malu jika mengalami kesalahan, dengan alasan bahwa apa yang

(42)

b. Merasa takut; takut ini terdiri atas : 1. Takut membuat kesalahan 2. Takut ditertawakan

3. Takut berhenti di tengah pembicaraan karena kehilangan jalan pikiran 4. Takut karena tidak menguasai tema

5. Takut mendapat kritikan

6. Takut jika pembicaraanya tidak dapat dimengerti

7. Takut jika dibandingkan dengan pembicara lain yang lebih pintar

8. Takut mengecewakan pendengar, dalam hal ini guru, sehingga akan mendapat nilai rendah.

c. Kurang rasa percara diri, karena ada perasaan gugup, bimbang dan kaku dalam setiap diberi kesempatan untuk berbicara di depan kelas.

(43)

eksternal yaitu, dipengaruhi oleh dialek daerah atau bahasa Ibu dan keadaan lingkungan keluarga dan masyarakat umum yang kurang mendukung. Kedua faktor tersebut menjadi masalah bagi siswa. Dngan adanya masalah yang dihadapi siswa dalam kegiatan berbicara, maka sasaran yang ingin dicapai pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek berbicara, yaitu siswa mampu dan terampila menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi pada situasi yang resmi dan formal, kurang berjalan dengan baik.

3. Pembahasan hasil data dari angket

Hasil penelitian membuktikan bahwa masih banyak masalah yang dihadapi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, informasi tentang priblematik pembelajaran keterampilan berbicara di SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep ini dapat diketahui melalui pertanyaan dan informasi siswa. Data tentang pertanyaan dan informasi siswa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

1) Untuk mengetahui apakah siswa yang menyenagi materi pelajaran bahasa Indonesia

Tabel 2. Kesenangan Siswa terhadap Materi Pelajaran Bahasa Indonesia

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 39 42,86

(44)

3 Ragu-ragu 2 2,20

4 Tidak Senang 0 0

5 Sangat Tidak Senang 0 0

Jumlah 91 100

Bedasarkan tabel 2 di atas, mengenai kesenangan siswa terhadap materi pelajaran bahasa indonesi di sekolah menunjukkan, 42,86% yang menyatakan sangat menyenangi mata pelajaran bahasa indoensia, 54,95% responden yang menyatakan senang terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia, 2,10% yang menyatakan ragu-ragu, 0% responden yang kurang menyenangi mata pelajaran bahasa Indonesia, dan 0% responden yang sama sekali tidak menyenangi mata pelajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci Kabupaten Pangkep lebih banyak yang menyenangi mata pelajaran bahasa Indonesia.

2) Untuk mengetahui keterkaitan siswa terhadap materi pelajaran lain daripada materi pelajaran bahasa Indonesia.

Tabel 3. Ketertarikan Siswa terhadap Materi Pelajaran Lain daripada Pelajaran Bahasa Indonesia.

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat tertarik 1 1,10

2 Tertarik 10 11

3 Ragu-ragu 45 49,45

4 Tidak Tertarik 33 36,26

5 Sangat Tidak Tertarik 2 2,20

(45)

Berdasarkan tabel 3 di atas, mengenai ketertarikan siswa terhadap materi pelajaran lain daripada materi pelajaran bahasa Indonesia menunjukkan bahwa 1,10% responden yang sangat tertarik , 11% responden yang tertarik terhadap materi pelajaran lain daripada materi pelajaran bahasa indoensia, 49,45% responden yang ragu-ragu tertarik mempelajari materi pelajaran lain daripada materi pelajaran bahasa indoensia, 36,26% responden yang lebih tertarik materi pelajaran bahasa Indonesia daripada materi pelajaran bahasa Indonesia, dan 2,20% responden yang sangat tidak tertarik materi pelajaran bahasa Indonesia daripada materi pelajaran lain.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa lebih banyak siswa yang tertarik materi pelajaran bahasa Indonesia daripada materi pelajaran yang lain.

3) Untuk mengetahui materi yang paling disenangi siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Tabel 4. Komponen Keterampilan Berbahasa yang Paling Disenangi Siswa dalam Bahasa Indonesia.

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

(46)

Berdasarkan tabel 4 di atas, mengenai materi yag disenangi siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menunjukkan 8,80 responden yang menyatakan menyenangi pelajaran bahasa Indonesia pada aspek menulis, 63,74% responden yang menyatakan menyenangi pelajaran bahasa Indonesia pada aspek membaca, 6,59% responden yang menyatakan menyenangi pelajaran bahasa Indonesia pada aspek berbicara, 18,68% responden yang menyatakan menyenangi pelajaran bahasa Indonesia pada aspek berbicara.

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam pelajaran bahasa Indonesia pada siswa kela VIII SMP Negeri 2 Baloci Kabupaten Pangkep lebih banyak siswa yang menyenangi pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada aspek membaca.

4) Tanggapan siswa tentang materi keterampilan berbicara di sekolah

Tabel 5. Tanggapan Siswa tentang Materi Keterampilan Berbicara di Sekolah

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat sulit 18 19,78

2 Sulit 0 0

3 Mudah 72 79,12

4 Sangat mudah 1 1,09

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

(47)

79,12% responden yang menyatakan mudah, 19,78% menyatakan sangat sulit, 1,09% yang menyatakan sangat mudah dan tidak seorang pun yang menyatakan bahwa keterampilan berbicara bahasa Indonesia itu sulit

5) Tanggapan siswa waktu membaca buku tentang materi berbicara di perpustakaan

Tabel 6. Tanggapan Siswa tentang Waktu Membaca Buku Materi Berbicara di Perpustakaan

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Sering 3 3,30

2 Sering 19 20,88

3 Jarang 61 67,03

4 Tidak Pernah 8 8,79

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 6 di atas, mengenai waktu membaca buku tentang materi berbicara di perpustakaan ada sejumlah 3,30% responden yang menyatakan sangat sering, 20,88% responden yang menyatakan sering, 67,03% responden yang menyatakan jarang dan 8,79% responden menyatakan tidak pernah membaca buku di perpustakaan.

(48)

keterampilan berbicara dituntut ketekunan dan kekerapan membaca buku agar lebih banyak pengetahuan yang diperoleh.

6) Salah satu kendala siswa dalam berbicara bahasa indonesia, yakni dipengaruhi oleh dialek Daerah/ Bahasa Pertama

Tabel 7. Kendala Siswa dalam Berbicara Bahasa Indonesia, yakni Dipengaruhi oleh Dialek Daerah/ Bahasa Pertama

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 16 17,58

2 Setuju 38 41,76

3 Ragu-ragu 13 14,29

4 Tidak Setuju 24 26,37

5 Sangat Tidak Setuju 0 0,00

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 7 di atas, mengenai pengaruh dialek daerah/ bahasa pertama 17,58% responden yang menyatakan sangat setuju dipengaruhi, 41,76% responden yang menyatakan setuju, 14,29% responden menyatakan ragu-ragu, 26,37% responden menyatakan tidak setuju, dan tak seorang pun siswa sangat tidak setuju.

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa sangat dipengaruhi oleh dialek daerah atau bahasa pertama dalam berbicara.

(49)

Tabel 8. Persepsi Siswa terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-hari

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setujuh 2 2,20

2 Setujuh 40 43,96

3 Ragu-Ragu 32 35,16

4 Tidak Setujuh 13 14,29

5 Sangat Tidak Setujuh 4 4,40

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 8 di atas, persepsi siswa terhadap penggunaan bahasa anggota keluarga masing-masing dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan bahwa 2,20% siswa yang menyatakan sangat setujuh menggunakan bahasa indonesia dalam kehidupan sehari-hari, 43,96% responden yang menyatakan setujuh, 35,16% responden menyatakan ragu-ragu, 14,29% reponden yang menyatakan bahwa tidak setujuh, dan 4,40% siswa yang menyatakan bahwa sangat tidak setujuh.

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa keluarga siswa hampir semuanya menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari

(50)

Tabel 9. Persepsi Siswa tentang Keseringan Menggunakan Bahasa Daerah daripada Bahasa Indonesia dalam Komunikasi di luar Lingkungan Sekolah

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Sering 1 1,10

2 Sering 22 24,18

3 Jarang 15 16,48

4 Tidak sering 46 50,55

5 Sangat Tidak sering 7 7,69

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 9 di atas, menunjukkan bahwa, 1,10% siswa menyatakan bahwa sangat sering menggunakan bahasa daerah di luar lingkungan sekolah, 24,18% siswa menyatakan bahwa sering menggunakan bahasa daerah di luar sekolah, 16,48% siswa menyatakan bahwa jarang menggunakan bahasa daerah di luar lingkungan sekolah, 50,55% siswa menyatakan bahwa tidak sering menggunakan bahasa daerah di luar sekolah, dan 7,69% siswa menyatakan bahwa sangat tidak sering menggunakan bahasa daerah di luar lingkungan sekolah.

(51)

9) Faktor penyebab siswa kurang aktif dalam kegiatan keterampilan berbicara (bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat, dan diskusi) kerana merasa malu.

Tabel 10. Persepsi Siswa terhadap Kurang Aktifnya dalam Kegiatan Keterampilan Berbicara (Bertanya, Mengemukakan Pendapat, Menjawab, dan Diskusi)

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 0 0,00

2 Setuju 14 15,38

3 Ragu-Ragu 19 20,88

4 Tidak Setuju 35 38,46

5 Sangat Tidak Setuju 23 25,27

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

(52)

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab kurang aktifnya siswa dalam berbicara (bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat, dan diskusi) adalah bukan faktor rasa malu.

10)Faktor penyebab kurang aktifnya siswa dalam kegiatan keterampilan berbicara karena takut

Tabel 11. Persepsi Siswa tentang Faktor Penyebab Kurang Aktifnya Siswa dalam Kegiatan Keterampilan Berbicara karena Takut

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setujuh 1 1,10

2 Setujuh 22 24,18

3 Ragu-Ragu 15 16,48

4 Tidak Setujuh 46 50,55

5 Sangat Tidak Setujuh 7 7,69

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 11 di atas, dapat dipahami bahwa 1,10% responden yang menyatakan sangat setujuh bahwa faktor penyebab kurang aktifnya siswa dalam berbicara adalah rasa takut, 24,18% responden yang menyatakan setuju, 16,48% responden yang menyatakan ragu-ragu, 50,55% responden yang menyatakan tidak setuju, dan 7,69% responden yang menyatakan sangat tidak setuju jika faktor penyebab kurang aktifnya siswa dalam berbicara adalah rasa takut.

(53)

11)Faktor penyebab siswa kurang aktif dalam kegiatan keterampilan berbicara karena kurang pengalaman

Tabel 12. Faktor Penyebab Siswa Kurang Aktif dalam Berbicara karena Kurang Pengalaman

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setujuh 1 1,10

2 Setujuh 18 19,78

3 Ragu-Ragu 22 24,18

4 Tidak Setujuh 44 48,35

5 Sangat Tidak Setujuh 6 6,59

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 12 di atas, dapat diketahui bahwa 1,10% responden menyatakan sangat setuju jika penyebab siswa kurang aktif dalam keterampilan berbicara karena kurang pengalaman, 19,78% responden menyatakan setuju, 24,18% menyatakan ragu-ragu, 48,35% menyatakan tidak setuju, dan 6,59%% responden menyatakan sangat tidak setuju jika faktor penyebab siswa kurang aktif dalam kegiatan berbicara karena kurang pengalaman

(54)

12)Faktor utama lain yang mempengaruhi siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran berbicara karena kurang percaya diri.

Tabel 13. Faktor Siswa Kurang Aktif dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara karena Kurang Percara Diri

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 1 1,10

2 Setuju 22 24,18

3 Ragu-ragu 15 16,48

4 Tidak Setuju 46 50,55

5 Sangat Tidak Setuju 7 7,69

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 13 di atas, sebanyak 1,10% responden yang menyatakan sangat setuju, 24,18% responden menyatakan setuju, 16,48% responden menyatakan ragu-ragu, 50,55% responden menyatakan tidak setuju, dan 7,69% responden menyatakan sangat tidak setuju.

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa kurang aktif dalam dalam pembelajaran berbicara karena tidak dipengaruhi oleh faktor kurang percaya diri. Terlihat dari tabel di atas, responden mengaku percaya diri sebanyak 50,55%.

13)Tanggapan siswa terhadap guru yang mengajarkan materi berbicara di kelas Tabel 14. Tanggapan Siswa terhadap Guru yang Mengajarkan Materi Berbicara

di Kelas

(55)

1 Sangat Menarik 31 34,07

2 Menarik 58 63,74

3 Kurang Menarik 2 2,20

4 Tidak Menarik 0 0,00

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Berdasarkan tabel 14 di atas, 34,07% responden menyatakan sangat menarik, 63,74% responden menyatakan kurang menarik, 2,20% responden menyatakan kurang menarik, dan tidak seorang pun menyatakan tidak menarik

Berdasarkan tabel 14 di atas, dapat disimpulkan bahwa, cara guru menyajikan materi cukup baik. Sehingga siswa tidak menemukan masalah dalam hal penyajian materi.

14)Untuk mengetahui apakah setiap siswa memiliki buku paket Tabel 15. Tanggapan Siswa mengenai Kelengkapan Buku Paket

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setujuh 1 1,10

2 Setujuh 11 12,09

3 Ragu-Ragu 20 21,98

4 Tidak Setujuh 55 60,44

5 Sangat Tidak Setujuh 4 4,40

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

(56)

menyatakan ragu-ragu sebanyak 20 orang dengan persentase 21,98%, yang menyatakan tidak setujuh sebanyak 55 orang dengan persentase 60,44%, dan yang menyatakan sangat tidak setujuh sebanya 4 orang dengan persentase 4,40%.

15)Untuk mengetahui tanggapan siswa tentang metode mengajar guru Tabel 16. Tanggapan Siswa tentang Metode Mengajar Guru

No Informasi Siswa Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Menarik 3 3,30

2 Menarik 31 34,07

3 Jarang 57 62,64

4 Tidak Menarik 0 0,00

Jumlah 91 100

Sumber : Hasil Penelitian, 2010

Dari tabel 16 di atas ditunjukkan bahwa kurangnya keterampilan berbicara siswa karena metode guru dalam mengajarkan materi tersebut, diketahui sebanyak 3 orang dengan persentase 3,30% siswa menyatakan sangat menarik, 31 orang dengan persentase 34,07% menyatakan menarik, 57 orang dengan persentase 62,64% yang menyatakan jarang, 0% yang menyatakan tidak menarik.

(57)

B. Pembahasan

Berdasarkan analisis data yang dikemukakan pada bagian sebelumnya, pada bagian ini akan dibahas tentang problematik yang dihadapi siswa pada kelas VIII SMP Negeri 2 Baloci dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia.

Hasil analisis data membuktikan bahwa, masih ada beberapa problematik atau masalah yang dihadapi siswa khususnya siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Baloci Kabupaten Pangkep, masalah-masalah tersebut yaitu : 1. Siswa dipengaruhi oleh dialek atau bahasa pertama

Berdasarkan analisis data, siswa kurang aktid dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia karena dipengaruhi oleh dialek daerah atau bahasa pertama. Hal ini disebabkan kerana pengaruh lingkungan, yaitu siswa lebih serig menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia dalama berkomunikasi. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya siswa dibiasakan untuk senantiasa berbahasa Indonesia baku pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.

2. Adanya rasa malu, rasa takut, dan kurang percara diri

(58)

tersebut muncul karena siswa kurang dilatih dalam berbicara di depan umum, metode yang digunakan guru sifatnya masih monoton, dan kurang motivasi dan bakat yang tertanam dalam diri siswa. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah tersebut, dalam rangka meningkatkan pembelajaran keterampilan berbicara sebaiknya siswa dibiasakan untuk berani tampil berbicara di depan kelas, dengan jalan banyak memberikan latihan dan praktik guru sebaliknya menerapkan berbagai macam metode, agar siswa terlatih dan mahir dalam berbicara.

(59)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Bedasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka penulis menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor yag memengaruhi pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci, Kabupaten Pangkep.

(60)

B. Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian di atas, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:

1. Sebaiknya siswa diberikan latihan dan praktik untuk mengvaluasi kemampuan mereka dalam berbicara yang baik dan benar.

2. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa baku.

3. Sebaiknya siswa diberikan arahan supaya memanfaatkan buku-buku di perpustakaan khususnya buku mengenai keterampilan berbicara.

(61)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1985. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa

Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Arsjad, G Maidar & U. S. Mukti. 1998. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Pengembangan Keterampilan Berbicara. Jakarta : Depdikbud.

Dimyanti, Mudjiono. 1993. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud. Fitriani. 2001. ”Problematika Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa

Indonesia Siswa Kelas III SMA Negeri 3 Makassar”. Skripsi Makassar : FBS UNM.

Henrikus, Dori Wuwur. 1990. Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi, Ladero.

(62)

Lagousi, Kulla, 1992. Berbicara Sebuah Pendekatan Etnografi Berbicara dan Psikolinguistik. IKIP : Erlangga.

Osborn, John. W. 1990. Kiat Berbicara di Depan Umum Eksekutif Jalan Menuju Keberhasilan. Jakarta : PT : Bumi Aksara.

Salam & Sahrir. 1990. Dasar-dasar Penerapan Pendekatan Berbahasa dan Mengapresiasikan Sastra Indonesia. Ujung Pandang : FPBS IKIP Ujung Pandang.

Poerwadarmito. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Semi, M. Atar. 1992. Terampil Berpidato. Bandung : Angkasa. Syafi’ie, Imam. 1998. Retorika dalam Menulis. Jakarta, Depdikbud.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung Angkasa.

(63)

L

A

M

P

I

(64)

A

N

Lampiran 1

PEDOMAN WAWANCARA

(daftar pertanyaan untuk guru)

1. Apakah setiap siswa memiliki buku paket?

2. Apakah siswa memanfaatkan buku paket yang tersedia di perpustakaan yang ada kaitannya dengan pembelajaran keterampilan berbicara?

3. apakah siswa kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan berbicara karena tidak memiliki buku paket ?

4. apakah alokasi waktu yang diperlukan untuk pembelakaran keterampilan berbicara cukup memadai?

5. Apakah dalam berbicara siswa masih dipengaruhi oleh dialek daerah atau bahasa pertama?

6. Apakah dalm berbicara siswa mempunyai nada berbicara yang menyenangkan? 7. Apakah siswa kurang aktif dalam berbicara karena takut dan malu ditertawai? 8. Kendala-kendala apa sajakah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran

(65)

Lampiran 2

ANGKET SISWA

Petunjuk I

Angket ini bertujuan untuk mengumpulkna data tentang kesulitan (problematik) yang Anda hadapi serta hal yang dianggap mempuengaruhi kesulitan Anda dalam berbicara. Untuk itulah, Anda diharapkan memberi jawabn yang sejujurnya sehingga penelitian diperoleh secara seobjektif mungkin.

Petunjuk II

1. Tulislah Nama, NIS, dan kelas Anda.

2. Angket ini bukan ujian bagi Anda, melainkan untuk kepentingan peneliti.

3. Pilihlah jawaban yang tepat sesuai dengan keadaan Anda dengan memberi tanda

checklist (√).

4. Anda tidak perlu bekerjasama dalam mengisinya.

5. lingkarilah salah satu jawaban yang menurut Anda benar. 6. Jika ada yang kurang jelas tanyakan kepada peneliti.

Nama : NIS : Kelas :

1. Saya sangat menyenangi mata pelajaran Bahasa Indonesia Sangat setuju

(66)

Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat tidak setuju

2. Saya lebih tertarik mempelajari materi pelajaran lain dari pada materi pelajaran bahasa Indonesia.

3. Materi apakah yang paling Anda senangi dari pelajaran Bahasa Indonesia? Menulis

Membaca Berbicara Menyimak

4. Bagaimana tanggapan Anda tentang materi berbicara di sekolah? Sulit

Sangat Sulit Mudah

Sangat Mudah

5. Apakah dalam berbicara Anda sering mengikutkan dialek daerah? Sering

Sangat Sering Jarang Tidak Pernah

6. Hampir Seluruh anggota keluarga saya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari:

7. Saya lebih sering menggunakan bahasa Daerah daripada Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi di luar lingkungan sekolah:

Sangat setuju Setuju Ragu-ragu

(67)

Tidak Setuju Sangat tidak setuju

8. Saya kurang aktif dalam kegiatan keterampilan berbicara (bertanya, menjawab, menggunakan pendapat, dan diskusi) karena saya merasa malu

Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat tidak setuju

9. Saya juga kurang aktif alam berbicara karena saya merasa takut: Sangat setuju

Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat tidak setuju

10. Saya kurang aktif dalam berbicara karena kurang percara diri: Sangat setuju

Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat tidak setuju

11. Saya kurang aktif dalam pembelajaran keterampilan berbicara karena saya merasa kurang pengalaman:

12. Bagaimana tanggapan Anda terhadap guru yang mengajarkan keterampilan berbicara di sekolah ?

Sangat menarik Menarik

Kurang menarik Tidak menarik

13. Apakah Anda sering membaca buku tentang keterampilan berbicara di perpustakaan ?

(68)

Sangat sering Sering

Jarang Tidak pernah

14. Dalam kegiatan diskusi di kelas Anda seringkali melibatkan diri secara langsung setiap pembicaraan?

Sering

Sangat sering Jarang

Tidak pernah

15. Saya kurang aktif dalam kegiatan keterampilan berbicara karena saya tidak memiliki buku paket:

Sangat setuju Setuju Ragu-ragu

Tidak Setuju Sangat tidak setuj

Gambar

Table 1.  Keadaan Populasi Kelas VIII SMP Negeri 2 Balocci.
Tabel 2. Kesenangan Siswa terhadap Materi Pelajaran Bahasa Indonesia
Tabel 3. Ketertarikan  Siswa  terhadap  Materi  Pelajaran  Lain  daripadaPelajaran Bahasa Indonesia
Tabel 4. Komponen Keterampilan Berbahasa yang Paling Disenangi Siswadalam Bahasa Indonesia.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor eksternal adalah hal-hal yang berpengaruh dari luar diri siswa, yaitu berasal dari (1) model pembelajaran yang digunakan guru belum mampu membangkitkan

Syah (2012: 55) mengelompokkan faktor kesulitan belajar siswa menjadi dua macam yaitu faktor dari dalam diri siswa (internal) dan faktor dari luar diri siswa (eksternal). Dari segi

Faktor penyebab menurunnya hasil belajar peserta didik berkaitan dengan faktor internal dan faktor eksternal berkaitan hal ini sangat dijelaskan pada hasil

Adanya pendorong perubahan yaitu faktor internal bersumber dari diri individu dan kreativitas perajin itu sendiri atau terkait dengan sumber daya manusia dan

Faktor eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang timbul dari luar diri siswa. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi kemampuan membaca Al- Qur’an adalah

Syah (2012:145) mengemukakan bahwa belajar dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa),

Faktor Eksternal Menurut Slameto (dalam Zufrida:2012) Faktor eksternal adalah hal-hal atau situasi dari luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi kemampuan anak. Adapun

Faktor eksternal yaitu faktor yang bersumber dari luar diri Mediator dalam proses mediasi yaitu karena keinginan kuat untuk bercerai, sudah terjadi konflik yang berkepanjangan, faktor