PERLINDUNGAN PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN. pdf

Teks penuh

(1)
(2)

URNA, Jurnal Seni Rupa merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pen-didikan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya. URNA berisikan artikel konsep-tual, resume penelitian, dan tinjauan buku. Bertujuan untuk mengembangkan dan mengomunikasikan secara luas perkembangan seni rupa dan pendidikan seni rupa baik yang sifatnya teoretis maupun pragmatis. Terbit dua kali setahun, tiap bulan Juni dan Desember.

Penanggung Jawab : Eko A.B. Oemar

Ketua Penyunting : I Nyoman Lodra

Wakil Ketua Penyunting : Asy Syams Elya Ahmad

Penyunting Ahli : Djuli Djatiprambudi (Universitas Negeri Surabaya) Martadi (Universitas Negeri Surabaya)

Sofyan Salam (Universitas Negeri Makassar)

Tjetjep Rohendi Rohidi (Universitas Negeri Semarang)

Penyunting Pelaksana : Salamun Kaulam

Asidigisianti Surya Patria Muhajir Nadhiputro Marsudi

Sekretaris : Nova Kristiana

Administrasi : Fera Ratyaningrum

Alamat Redaksi:

Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya Gedung T3 Lt. 2, Kampus Lidah Wetan Surabaya 64732

Telp/Fax. 031-7530865 | E-mail: urna.jurnalsenirupa@yahoo.co.id

urna.jurnalsenirupa@gmail.com | Website: htp://www.urna-jurnalsenirupa.org

ISSN 2301–8135

© 2012 Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya

(3)

ISSN 2301–8135

Vol. 1, No. 1 (Juni 2012): 1–105

d a f t a r i s i

Artikel:

PENDEKATAN KONSTRUKTIVIS DALAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA

Martadi (Universitas Negeri Surabaya)

PERLINDUNGAN PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN PRAKTIK HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

I Nyoman Lodra (Universitas Negeri Surabaya)

NILAI ESTETIKA DALAM KOMODIFIKASI WADAH

DI MASYARAKAT HINDU BALI

I Ketut Side Arsa (Institut Seni Indonesia Denpasar)

PROSES APRESIASI DAN KREASI DALAM TRITUNGGAL SENI

M. Sattar (Universitas Negeri Surabaya)

PENGGUNAAN UNSUR-UNSUR BUDAYA BALI DALAM BOG-BOG BALI CARTOON MAGAZINE I Wayan Swandi (Institut Seni Indonesia Denpasar)

CITRA WANITA DALAM KARYA SENI RUPA

Muhajir Nadhiputro (Universitas Negeri Surabaya)

MAKNA SIMBOLIS RAGAM HIAS PENDAPA TERAS CANDI PANATARAN

Rustarmadi (Universitas Negeri Surabaya)

1

11

21

30

42

50

(4)

ISSN 2301–8135

Vol. 1, No. 1 (Juni 2012): 1–105

Resume Penelitian:

PERSEPSI GENDER GAMBAR ILUSTRASI DALAM BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SEKOLAH DASAR KELAS I – III

Asidigisianti Surya Patria (Universitas Negeri Surabaya)

PENGEMBANGAN MEDIA DIGITAL KRIYA TOPENG MALANG UNTUK PEMBELAJARAN

SENI BUDAYA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Marsudi (Universitas Negeri Surabaya)

Tinjauan Buku:

BUKU PENTING DI TENGAH DUNIA SENI RUPA YANG GENTING

Djuli Djatiprambudi (Universitas Negeri Surabaya)

76

89

(5)

PERLINDUNGAN PENGETAHUAN TRADISIONAL

DAN PRAKTIK HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HaKI)

I Nyoman Lodra

Abstrak: Pola-pola bisnis yang dibangun di Bali sifatnya masih tradisional. Berupa usaha-usaha yang bergerak berbasis ekonomi, dalam penyediaan industri pariwisata, seperti: restoran, bungalow (penginapan), hiburan, toko souvenir (art shop) dan industri kerajinan lainnya. Industri ini memperkerjakan dengan cara kekeluargaan. Saat ini masih sebagai fenomena-fenomena tersebut mulai mengarah pada sikap individual, materialistik, sekulerisasi dan bahkan mungkin ke kapitalis diikuti hegemoni dan berimbas pada permasalahan Hak Kekayaan Inteletual (HaKI) atau Hak Cipta terhadap produk budaya Bali.

Abstract: Business patern in Balinese culture is build traditionally. It can be seen

in economic tourism business such as: restaurant, hotel, entertainment, art shop and other craft small industry. This industry employs family. Recently this phenomenon has shifted into individualistic, materialistic, secularization even into capitalist and he -gemony. It leads into copyright problems of local and traditional genius as the products Balinese culture.

Kata kunci: pengetahuan tradisional, HaKI, hak cipta

Kemajuan teknologi mempercepat arus gelombang globalisasi yang menjadi-kan dunia ini seolah-olah kecil dan sempit dalam ruang aktivitas, hubungan antar bangsa, negara, kelompok dan individu sangat mudah dan cepat. Bali boleh dikata-kan sebagai daerah global, masyarakat membangun aktivitas kesehariannya yang mendunia melalui kegiatan-kegiatan industri pariwisata. Dalam konteks pergula-tan globalisasi ini telah berakses pada terjadinya perubahan-perubahan ideologi dan sikap masyarakat Bali. Ideologi masyarakat Bali yang sosial religius, komunal, dengan lebih mengedepankan kebersamaan kepemilikan, mengedepankan sifat kespiritualan dalam kegiatan keseharian, dan sosial “ngayah” dalam membangun hubungan antara sesama individu, masayarakat (gotong royong ). Pola-pola bisnis yang dibangun masih sifatnya tradisional, di mana usaha-usaha yang bergerak ber-basis ekonomi, misalnya dalam penyediaan industri pariwisata, seperti: restoran,

I Nyoman Lodra adalah Staf Pengajar pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya. e-mail: nyoman.unesa@yahoo.co.id

(6)

bungalow (penginapan), hiburan, toko sovenir (art shop) dan industri kerajinan lainnya dikerjakan dengan cara kekeluargaan.

Globalisasi tidak saja menjadikan pergeseran, perubahan pada nilai-nilai bu-daya lokal, serta kemudahan, kenikmatan lahiriah, juga memberikan imbas pada perubahan sistem nilai kemasyarakatan, yang mengarah pada konlik internal, eksternal, yang bisa saja akan memusnahkan atau menenggelamkan identitas bu-daya, dan berujung pada penghacuran sebuah nilai etnik (Liliweri: 2005). Bali pada saat ini sedang mengalami hal serius seperti apa yang disebutkan di atas.

Keterkaitan dengan kasus Hak Cipta yang cukup menggegerkan komunitas perajin/desainer perak Bali. Pencermatan, pengkajian, analisis oleh para praktisi hukum, budayawan, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat, kasus Hak Cipta ini tidaklah sederhana, antara perajin dengan pengusaha pemilik sertiikat Hak Cipta, tetapi masalah ini sangat kompleks, dan merambah pada wilayah bu-daya, dalam bentuk “penjajahan budaya” kolonialisme baru (Liliweri: 2005). Kasus yang banyak diliput dan diakses oleh berbagai media lokal, nasional bahkan inter-nasional, secara faktual telah terjadi pada tahun 2006. Dalam publikasi oleh media nasional, Radar Bali, melalui kuasa hukum Ancient Modern Art LLC, Putu Kesuma & Rekan, sangat jelas sekali sertiikat Hak Cipta, perlu dipertanyakan, jika dirunut dengan sistem yang diacu oleh lembaga HaKI, materi-materi desain seperti bentuk, motif, ornamen, tidak lagi mengacu pada UU HaKI, No. 19, pasal 10, ayat (1) dan (2) karena materi yang tersajikan, masih mencerminkan wilayah pengetahuan tra-disional (Radar Bali, 8 Agustus 2006).

Begitu juga kasus indikasi pelanggaran Hak Cipta, yang cukup menyita per-hatian publik di Bali, yang juga banyak diakses serta menjadi sorotan dunia inter-nasional, hal ini tidak terlepas dari aktor-aktor yang bermain antara digugat dan yang menggugat, adalah pemeran perdagangan internasional melalui dunia maya (internet). Seperti kasus I Ketut Dany Ariyasa desainer Lokal (Bali) yang digugat dengan objek perkara desain motif kulit crocodile oleh, PT Karya Tangan Indah (KTI) dengan desain motif batu kali (Fajar Bali, 29 April 2008), tidak perlu terjadi jika para pemerannya berkerja secara profesional. Yang menarik dari kasus HaKI ini adalah, di mana seorang desainer asing memanfaatkan keunggulan motif, ben-tuk, ornamen etnis Bali yang dijadikan objek desain. Apakah itu dilakukan dengan pendekatan adaptif, stilisasi, kolaborasi, modiikasi, maupun secara eklektif, hasil kerja dekonstruksi desainer dan mendapatkan legalitas Hak Cipta, yang kemudian Hak Cipta ini diperjual belikan, di kalangan pengusaha asing.

Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi pada tahun 1985, berawal dari Desak Nyoman Suarti, seorang pengusaha perak yang tinggal di desa Pengosekan Ubud, Bali, Indonesia dan tinggal di Amerika, digugat oleh pengusaha asing yang ber-nama Rois Hill di Pengadilan Negeri Amerika, dengan objek gugatan desain motif “Anyaman”. Perkara gugatan ini berawal dari Desak Suarti yang menjual kerajinan perak dengan motif jenis anyaman, kelabang mantri, kelakat, tikar, bedeng kepada Rois

(7)

Hill (pengusaha asal Amerika) yang bermarkas di Bali. Oleh pengusaha asing, se-cara diam-diam konsep desain kerajinan anyaman ini didaftarkan di Amerika dan mendapatkan Hak Cipta, atas nama pengusaha asing tersebut. Desain kerajinan perak dengan konsep ayaman itu pun telah menjadi milik warga asing dengan dilindungi sertiikat HaKI.

Masih di wilayah negara Amerika, Suarti yang masih kental dengan perilaku budaya Bali, juga menjual kerajinan peraknya, kepada pengusaha asing lainnya, dengan konsep yang sama. Di sinilah awal mulainya terjadi persengketaan antara Suarti dengan Rois Hill sebagai pemilik sah atas sertiikat Hak Cipta motif “Anya-man”. Kejadian di mana pada saat transaksi penjualan, Suarti dikejar-kejar seperti pedagang kaki lima oleh pihak keamanan di Amerika, karena dilaporkan dan di-tuduh melanggar Hak Cipta. Suarti seorang perempuan Bali, yang ada di Negeri Amerika, digelandang dan diadili, dengan kasus pelanggaran Hak Cipta. Di sidang pengadilan Suarti digugat oleh pengusaha asing tersebut dengan tuduhan pelang-garan HaKI, yaitu penjiplakan desain kerajinan perak dengan konsep “Anyaman”. Mersasa sama-sama memiliki hak atas konsep desain anyaman, perseteruan antara Suarti (pengusaha lokal) dengan oknum pengusaha asing, yang bermarkas di Bali tak terhindarkan. Pengusaha asing yang merasa berhak atas desain konsep ayaman, diperkuat dengan sertiikat Hak Cipta, sedangkan Desak Nyoman Suarti dengan paham bahwa konsep anyaman itu adalah milik leluhur masyarakat Bali, dan siapun berhak memakainya. Perkara tuduhan pelanggaran Hak Cipta menjadi istimewa, dan menjadi isu dunia internasional lantaran sidang gugatan terjadi di pengadilan Negeri Amerika, sedangkan yang digugat hanya seorang perempuan desa dari Bali, dengan profesi perajin.

Suarti merasa yakin bahwa karya desain kerajinan peraknya adalah murni kreasi kreativitasnya sendiri yang berlandaskan pada konsep “anyaman“ (bambu,

tikar, kelakat, kelabang mantri). Dengan penuh keyakinan bahwa anyaman yang diperkarakan, adalah nilai-nilai budaya tradisional, sebagai warisan nenek moyang orang Bali, dan bisa dimanfaatkan oleh siapapun, dan tidak boleh diklaim sebagai milik pribadi/kelompok. Walaupun Suarti sangat buta dan tidak tahu tentang apa yang tercamtum dalam UU HaKI, yang telah direvisi menjadi UU HaKI, No. 19, tentang Hak Cipta, pada pasal 10, ayat (1) dan (2) tahun 2002. Suarti oleh orang asing dijuluki sebagai “Srikandi” dari Bali, dengan gagah berani menantang dan melawan Rois Hill, pengusaha asing yang bermaksud mengangkangi nilai-nilai tradisional Bali tersebut. Perlawanan sengit “Srikandi Bali” di Pengadilan Negeri Amerika akhirnya dimemenangkan oleh Suarti. Sidang pengadilan negeri di Ame-rika, memutuskan bahwa desain konsep anyaman sepenuhnya milik msayarakat Bali dan tidak bisa diklaim sebagai milik individu/kelompok. Sertiikat HaKI atas nama pengusaha asing tersebut dibatalkan demi hukum, dan Desak Nyoman Su-arti (pengusaha dari Bali) dibebaskan dari segala tuntutan hukum (wawancara, 16 Juni 2008, di Ketewel, Bali).

(8)

Kasus-kasus pelanggaran HaKI tersebut di atas, oleh Agus Sarjono (2006) merupakan suatu releksi dari ilsafat hidup, di mana negara-negara maju yang mengusung HaKI punya pemikiran bahwa pengetahuan tradisional sebagai public

domain, sehingga siapa saja bebas untuk mengeksploitasi dan mengkomersilkan untuk kepentingan pribadi, dengan mengedepankan individualisme dan kapital-isme, kemudian mewujudkan gagasan untuk melindungi sebagai hak individu. Sedangkan di Bali, mengusung nilai-nilai kebersamaan dan tidak berorientasikan nilai materialistis semata-mata, melainkan juga spritualisme, dengan gagasan hidup bersama, dengan demikian pengetahuan tradisional sebagai milik masyarakat, yang tidak boleh diklaim oleh individu/kelompok.

Dalam konvensi World Intelectual Property Organization (WIPO) pada tanggal 2–3 Desember 2008, diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Indonesia yang dihadiri oleh bebera delegasi dari masing-masing negara yang masuk dalam organisasi ini. Negara maju diwakili oleh Sally Basser, dari Camberra Australia, Luoyong, dari Beijing Cina dan dari negara berkembang (delegasi Indonesia) diwakili oleh Edi Sedyawati, Safron Rasyidi, Gunarsa, Ibu Abin. Ada masalah yang masih mem-pertanyakan tentang pandangan terhadap Pengetahuan Tradisonal dan Ekspresi Budaya Tradsional, masih menjadi bahan perdebatan dengan perbedaan paham, ada yang menganggap sebagai Comunal Right dan sebagaian menganggap sebagai

Individual Right. Dalam perdebatan tentang pengakuan pemahanan pengetahuan tradisional (PT) dan Ekpresi Budaya Tradisional (EBT). Dari delegasi negara maju tetap tidak menghiraukan tentang, hak sebagai comunal right, yang tercamtum da-lam UU Hak Cipta, pasal 10 ayat (1) dan (2).

Pertimbangan lain, perbedaan budaya menjadikan masalah yang perlu men-jadikan rujukan, seperti tereleksi dalam cara pandang masyarakat terhadap HaKI, semestinya menjadikan bahan kajian yang sepatutnya dicermati oleh lembaga terkait termasuk HaKI dalam memutuskan dan menerbitkan sertiikat Hak Cipta. Kesalahan oleh lembaga terkait dalam peng-Hak Ciptaan akan berdampak buruk pada kehidupan pengerajin, desainer dan kelestarian budaya.

Bila dikorelasikan antara kebiasan pemahaman masyarakat Nasional, Inter-nasional, tentang Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional, Ka-sus Suarti, I Ketut Dany Ariyasa, sangat wajar terjadi, karena tidak ada ketegasan (konvesi) dan kesamaan pemahaman. Dari data-data empirik, pada masa menda-tang pengerajin-pengerajin, desainer kerajinan perak menunggu antrian digugat (analisis arsip desain, yang telah tersertiikat). Ini suatu bukti sebagai dampak dari kurang cermatnya lembaga terkait dalam pemahaman UU HaKI, No 19, tahun 2002, tentang Hak Cipta. Bila sampai terjadi, Ini sebagai musibah besar bagi pengerajin/ desainer, karena tidak ada lagi kebebasan dalam berkreasi kreatif, sebagai kon-sekuensi penghormatan pada hak cipta orang lain.

Pengetahuan tradisional sebagai kekayaan dan aset daerah yang mendapat-kan perlindungan hukum, sebagaimana yang tertuang dalam UU Hak Cipta, pada

(9)

pasal 10, ayat (1) dan (2) (Riswandi, 2005). Untuk meminimalisir permasalahan HaKI, sangat segera dibutuhkan formulasinya, mengingat dari sedikit rekap data tentang kajian konsep desain kerajinan perak Bali, tampaknya tidak sedikit yang masuk dalam wilayah pelanggaran Hak Cipta. Dengan demikian pada tahun-tahun mendatang nampaknya kasus gugat-menggugat masih berpotensi mewar-nai kehidupan masyarakat pengerajin perak di Bali. Jika permasalahan HaKI ini dibiarkan terjun bebas baik oleh pemerintah, lembaga terkait, maupun masyarakat Bali itu sendiri, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi marjinalisasi pengerajin-pengerajin Bali. Meskipun sudah ada Udang-undang Nomor 19 tahun 2002 ten-tang Hak Cipta, untuk menghindari perlakuan yang sama terhadap pengetahuan tradisional Bali, lembaga-lembaga terkait perlu mencarikan solusi atau alternatif perlindungan pengetahuan tradisional.

PRAKTIK HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HaKI)

Lembaga profesional yang berhak untuk memutuskan boleh dan tidaknya pendaftaran Hak Cipta adalah lembaga HaKI, yang ada di masing-masing daerah, dan perguruan tinggi, seperti di Dinas Perdagangan Kabupaten, Dinas Perdaga-ngan Provinsi dan di Sentral HaKI UNUD, ini sebagai kepanjaPerdaga-ngan taPerdaga-ngan Lembaga Dirjen HaKI di Jakarta. Mulai dari sistem proses pendaftaran, inventori data yang dipakai untuk mengevaluasi akurasi data yang masuk (menerima/menggugurkan) tidak ada. Begitu juga dalam lembaga HaKI yang ada di Dinas Perdagangan Kabu-paten Gianyar, sama sekali tidak ada inventorisasi data-data yang nantinya dipakai untuk meloloskan/menggurkan pendaftar Hak Cipta (Wawancara dengan Kepala Dinas Perdagangan Kab. Gianyar: Bapak Suamba, pada tgl 29 Nov 2008). Tidak ter-tutup kemungkinan hal yang sama juga terjadi pada Dinas Perdagangan Provinsi Bali, karena data biasa didistribusikan dari masing-masing daerah Kabupaten. Jika lembaga-lembaga yang berkompeten tentang HaKI, seperti hal tersebut diatas, tidak ada data yang akurat untuk mengevaluasi pendaftar Hak Cipta, sudah jelas sertiikat yang dikeluarkan penuh kontroversi.

Ketidaksiapan lembaga HaKI ini jelas memunculkan pergolakan dan pergu-latan yang berkaitan dengan masalah adanya indikasi pelanggaran hukum oleh masyarakat pengerajin Bali, khususnya pengerajin perak, pada tahun-tahun men-datang akan terjadi lebih banyak dan kompleks. Karena ada indikasi kecenderu-ngan pengusaha, desainer asing berlomba memanfaatkan kelemahan-kelemahan lembaga ini dan pada masyarakat pengerajin, yang tidak peduli dengan hak cipta. Mungkin masyarakat pengerajin belum banyak tahu dalam pemahaman tentang HaKI, atau mungkin karena disebabkan hal seperti banyak biaya, sistem birokrasi yang panjang dan berbelit. Di samping itu yang juga menjadi sebuah kelemahan dari lembaga adalah mungkin minimnya data-data yang bisa dipakai rujukan (in-ventarisasi data), dalam mengambil keputusan, sehingga apa yang menjadi kepu-tusan menyangkut penerbitan sebuah sertiikat menjadi kontroversial.

(10)

Dari hasil pengamatan, pengkajian dan pemahaman terhadap beberapa de-sain kerajinan perak yang telah dipublikasikan sebagai pemegang sertiikat Hak Cipta, akan banyak memunculkan masalah yang ujung-ujungnya akan tetap me-rugikan masyarakat pengerajin Bali. Dalam kajian sebuah desain, tidak bisa dilihat secara parsial, harus dilihat secara utuh, mulai dari elemen dasar (garis, tone, ruang, warna, balance), bagaiamana latar belakang konsep penciptaan, wujud visual dan aplikasinya.

Untuk membedah dan mengkaji suatu desain apalagi telah dilindungi hak cipta, harus ada pisau pembedah, siapa pembedahnya, dan bagaimana membedah-nya. Seperti beberapa desain kerajinan perak yang diklaim sebagai milik perusahan asing pada penguasaan motif, bentuk, ornamen yang masih sangat kental dengan karakteristik dari salah satu nilai-nilai budaya tradisional. Untuk menjernihkan permasalahan desain tersebut, ahli bedahnya harus seorang yang profesional dan netral, dilihat mulai dari bagaimana konsep ilosoi desain, bagaimana bentuk vi -sual dari sebuah desain, bagaimana kajian: motif, bentuk, dan ornamennya. Dari hasil kajian-kajian desain yang utuh akan ditemukan jati diri dari sebuah desain, apakah hasil ciptaan ini original atau jiplakan akan kelihatan jelas.

Keteledoran dan kurang cermatnya lembaga terkait dalam keputusan mener-bitkan sertiikat Hak Cipta, menjadikan masalah bagaimana kelanjutan dari sebuah identitas budaya, etnisitas dan akan berujung pada sebuah kemusnahan budaya (Ardika: 1999). Tidak cukup pada masalah kehilangan identitas budaya etnik atau kemusnahan budaya, ketidakcermatan penerbitan sertiikat Hak cipta, memun -culkan permasalah baru bagi pengerajin Bali, yang ujung-ujungnya bisa menyeret mereka ke ranah pelanggaran Hak Cipta dan tidak tertutup kemungkinan terseret ke meja pengadilan.

Peng-Hak Cipta-an motif, bentuk, ornamen tradisional tidak sejalan dengan konsep pemikiran Mantra (1996) tentang kreativitas. Meminjam konsep pemikiran Mantra: untuk menjadi manusia maju dan dihormati bila bisa menunjukkan kreati-vitas budaya yang tinggi, dan menganjurkan nilai tradisional diacu sebagai lan-dasan dasar kreasi kreatif. Konsep pemikiran ini bermakna mengajak masyarakat untuk berlomba berbuat sesuatu yang baru dan menghindari budaya plagiat, deng-an demikideng-an konsep pelestarideng-an, pengembdeng-angdeng-an budaya tradisional akdeng-an berjaldeng-an dengan baik. Praktik peng-Hak Cipta-an desain kerajinan perak oleh orang asing seperti tersebut di atas yang lebih banyak merugikan masyarakat pengerajin Bali, yang masih kental dengan konsep “menyama braya”.

Konsep pemikiran “menyama braya” ini pun masih relevan dengan isi dari UU Hak Cipta, sebagaimana yang dituangkan dalam ketentuan pasal 10 ayat (1) dan (2) yang menyatakan: (1) Negara memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah,sejarah dan budaya nasional lainnya; (2) Negara memegang hak cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadikan miliki bersama seperti ceritra, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan dan karya seni

(11)
(12)

an hukum dalam bentuk Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Perlindungan hukum pengetahuan tradisional di Indonesia sangatlah penting dan harus dilaksanakan, dengan alasan: (1) adanya potensi keuntungan ekonomis yang dihasilkan dari pe-manfaatan pengetahuan tradisional, (2) keadilan dalam sistem perdagangan dunia, dan (3) perlunya perlindungan hak masyarakat lokal.

Bali sebagai daerah lintas global, kaya dengan khasanah budaya lokal perlu dan wajib untuk ikut sistem perdagangan dunia dengan payung perlindungan hu-kum HaKI. Melihat permainan sistem perdagangan dunia (WTO), lembaga HaKI Bali menjadi organisasi yang menempati posisi sangat penting. Maka dari itu lem-baga ini harus memiliki kapabilitas yang mumpuni, profesional dan punya sistem jaringan data baik material maupun non material.

Adanya banyak kasus tentang Peng-HaKI-an pengetahuan tradisional seperti yang dijelaskan di atas, berpeluang memunculkan masalah baru bagi masyarakat pengerajin, pengusaha dan pelaku budaya Bali. Di era globalisasi, kita tidak mung-kin menolak aturan perdagangan internasional, dengan peyertaan HaKI, untuk itu perlu adanya pemilahan yang jelas tentang pengetahuan tradisional, seperti apa yang terjabarkan pada Undang-undang Hak Cipta. Nampaknya masih ada kelema-han pada perlindungan pengetahuan tradisional, sehingga dimanfaatkan oleh ok-num pencari HaKI. Sebaiknya agar lebih amannya perlu dilengkapi dengan aturan lain, sejenis: Perda/Peraturan Pemerintah (PP). Atau mungkin sejenis rekomendasi bersama dari lembaga terkait, seperti dari Dinas Industri dan Perdagangan, Dinas Kebudayaan dan Kejaksaan, yang diketahui oleh pemerintahan kabupaten/kota.

DAMPAK HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HaKI)

Konsekuensi penerapan praktik Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk masyarakat pengerajin, pengusaha, bisa menjadi sebuah wujud kenyamanan (positif) dan bisa juga memunculkan kegelisahan dan malapetaka (negatif). Dalam perdagangan dunia, Indonesia khususnya Bali, patut mengikuti sistem yang dise-pakati oleh negara-negara yang menjadi anggota World Trade Organization (WTO), yang dimotori oleh negara-negara maju. Di mana setiap produk dilengkapi dengan sertiikat Hak Cipta yang dikeluarkan oleh lembaga HaKI, sebagai bentuk nyata yang tidak bisa ditawar-tawar, jika mau aman dan mendapat perlindungan hukum internasional. Dampak lain dari perlindungan hak cipta adalah pengerajin, pengu-saha lebih nyaman dan tidak ada kekhawatiran terjadinya plagiarisme.

Kesalahan keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga terkait, seperti HaKI, dalam proses peng-Hak Cipta-an akan berdampak langsung pada kehidupan dan masa depan pengerajin, desainer, pengusaha dan kebudayaan Bali, karena masa ikatan Hak Cipta sampai 50 tahun. Bercermin pada kasus digugatnya Desak Nyo-man Suarti, I Ketut Deny Ariyasa, dan beberapa bentuk desain yang telah memiliki sertiikat hak cipta, seperti yang telah diuraikan diatas, menunjukan masih ada celah kelemahan lembaga terkait yang mengeluarkan sertiikat.

(13)

Seperti kita ketahui salah satu pilar tumpuan ekonomi masyarakat Bali adalah Pariwisata, pilar ini akan selalu dibarengi oleh pemodal-pemodal yang bisa mem-permainkan arah kebijakan, yang oleh Karl Marx disebut dengan kaum kapitalis (Barker, 2008: 62 ). Pengerajin-pengerajin sebagai tenaga upahan, sebagai pekerja yang tidak memiliki kekuatan, menolak apa yang menjadi kebijakan kaum modal. Nilai tawar pengerajin-pengerajin Bali sangat rendah di hadapan para pe-modal yang telah mengangkangi kekayaan budaya milik nenek moyang orang Bali, dengan kemasan Hak Cipta. Gramsci (dalam Barker, 2008: 14) mengatakan bahwa kaum kapitalis akan selalu diikuti oleh binatang “hegomoni”, pengerajin tidak punya kekuatan apa-apa untuk menolak, terjadi subordinat melalui kekuatan dan persetujuan. Kekuatan kaum kapitalis ini selain bermodalkan pada inansial yang besar juga pada sertiikat Hak Cipta, yang prosesnya masih perlu dipertanyakan.

Konsep pengerajin dan desainer Bali berkreasi kreatif secara umum berlan-daskan pada nilai-nilai budaya tradisional. Sedangkan yang menjadi objek kreasi para pengerajin dan desainer terindetiikasi telah banyak diikat oleh hak cipta, de-ngan konsekuensi pada hukum, maka sangat tidak mungkin konsep ini akan bisa berlanjut. Hal ini sudah sangat gawat dan darurat, pemerintah, lembaga terkait, dan masyarakat pengerajin, harus duduk bersama sesegera mungkin untuk me-nemukan, solusinya. Kalau tidak segera ditindak lanjuti, Bali akan kehilangan nilai-nilai budaya tradisional, yang merupakan jati diri orang Bali. Dengan begitu, kaum kapitalis akan semakin berkuasa dan berjaya, dan masyakat pengerajin akan semakin terhegomoni dan termarjinalkan di kampungnya sendiri. Keterikatan dan ketergantungan masayakat pengerajin Bali dalam proses kreasi kreatif terhadap kaum kapitalis sebagai pemegang hak cipta nilai-nilai tradisional budaya Bali, menjadikan kita sebagai masayakat terjajah atau bisa dikatakan sebagai bentuk “penjajahan budaya” (newcolonial ).

Pemaparan uraian di atas, beberapa rumusan permasalahan yang muncul berkaitan dengan “Perlindungan Pengetahuan Tradisional dan Praktik Hak Ke-kayaan Intelektual” seperti pemahaman masyarakat Internasional, Nasional dan Regional tentang Pengetahuan Tadisional dan Ekspresi Budaya Tradisional, masih sangat bias, dan cendrung diabaikan. Lembaga-lembaga HaKI, terkesan kurang siap, tidak ada inventorisasi data untuk mendukung sebagai alat mengevaluasi se-tiap pendaftar Hak Cipta. Produk-produk HaKI, berupa hak cipta, khusunya pada kerajinan perak Bali, sangat kontrovesial dan mengundang permasalahn hukum. Dari semiloka di LPM UNUD, berhasil mengidentiikasi permasalahan masyarakat pengerajin dan seminar di Kabupaten Gianyar, yaitu dihasilkan model perlin-dungan pengetahuan tradisional dan ekpresi budaya tradisional, sejenis Perda/PP, yang dikeluarkan besama lembaga terkait.

KESIMPULAN

Perlindungan pengetahuan tradisional dan praktek Hak Kekayaan Intelektual

(14)

(HaKI) dan permasalahan produk-produk HaKI di Bali, banyak mengundang kon-troversial masyarakat, khusunya pengerajin dan desainer perak Bali, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa masyarakat (perajin) masih sangat awam mengenai arti penting hak cipta sebuah desain. Lembaga terkait dalam hal ini mungkin lembaga HaKI, Perdagangan, Kebudayaan, Perindustrian perlu membentuk suatu sistem jaringan sehingga proses percepatan pemahaman masyarakat tentang HaKI, bisa terealisasi. Perlu adanya penjabaran lebih konkrit dan pembuatan peraturan daerah (Perda) yang berkaitan dengan materi yang termuat pada pasal-pasal yang mengatur tentang pengetahuan tradisional. Permasalahan hak cipta ini muncul karena akibat dari penerbitan sertiikat hak cipta yang kurang transparan. Dampak dari kasus-kasus pelanggaran hak cipta sangat meresahkan dan menakutkan masyarakat pengerajin perak Bali, yang pada ujungnya produktivitas kerajinan perak Bali menjadi terganggu.

DAFTAR PUSTAKA

Ardika,Wayan. 1989. Dinamisme Kebudayaan Bali. Denpasar: PT Upada Sastra. Barker, Chris. 2008. Cultural Studies. Yoyakarta: Kreasi Wacana.

Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konlik. Yoyakarta: LKiS.

Mantra, IB. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Sardjono, Agus. 2006. Hak Kekayaan Intelektual dan Pengetahuan Tradisional. Bandung: PT Alumni.

Riswandi, Agus Budi. 2005. Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum. Jakarta: PT Raja Graindo.

Bali Post (2008, 29 April). Sidang Pelanggaran Hak Cipta Jangan Korbankan Desainer Lokal. Fajar Bali (2008, 29 April). Kantongi Sertiikat Hak Cipta, Malah Didakwa Melanggar. Radar Bali (2006, 8 Agustus). Pengumuman dan Peringatan Hak Cipta dan Desain Industri. Wawancara dengan Suamba. Gianyar, 29-11-2008.

Wawancara dengan Suarti. Ketewel, 16-6-2008.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...