PENGEMBANGAN KAWASAN HUTAN BAKAU DALAM PERSPEKTIF
MORFODINAMIKA MUARA SUNGAI OPAK
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Yan Restu Freski [1] dan Srijono [2],
[1] [email protected], Jurusan Teknik Geologi FT UGM [2] Sie Geomorfologi Lab. Geologi Dinamik Jur. Teknik Geologi FT UGM
ABSTRAK
Pada kenyataannya, terdapat pembelokan aliran Sungai Opak ke barat saat akan bermuara di Samudra Hindia, membentuk wilayah pantai yang kompleks. Di wilayah pantai, terdapat tumbuhan bakau. Saat ini hutan bakau tidak berhubungan dengan air laut secara langsung. Untuk itu, perlu diadakan penelitian yang fokus mengenai pengembangan hutan bakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan hutan bakau pada kondisi morfodinamika muara Sungai Opak.
Metode yang digunakan adalah pemetaan persebaran hutan bakau di sekitar muara Sungai Opak dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) dan pemetaan pembelokan aliran Sungai Opak. Selain itu perlu dilakukan pengukuran salinitas air dengan salinity-meter dan daya hantar listrik pada air di ruas muara dan wilayah hutan bakau. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan menginterpretasikan secara kualitatif terhadap data yang telah diperoleh.
Hutan bakau tidak berhubungan dengan air laut secara langsung. Hutan bakau dipisahkan dari air laut oleh beberapa jenis morfologi. Morfologi yang dimaksud adalah gisik, ruas muara, dan tanggul alam sungai. Gisik mempunyai topografi datar yang berbatasan langsung dengan air laut. Sebaran kawasan hutan bakau memanjang searah dengan tanggul alam sungai. Tanggul alam berada di sebelah utara ruas muara. Di sebelah utara tanggul alam terbentuk cekungan air yang mendukung tumbuh kembangnya hutan bakau. Ada dua fenomena yang terjadi yaitu 1) adanya pembelokan aliran Sungai Opak saat akan bermuara membentuk perairan estuarium dan 2) terjadinya neotektonik (pengangkatan) dengan indikasi terbentuknya tanggul alam. Hutan bakau merupakan kawasan yang mempunyai ekosistem unik sehingga pengembangan kawasan ini menjadi penting. Secara prospektif, kawasan hutan bakau dapat bertahan jika pasokan brackish water konstan. Gejala neotektonik jenis pengangkatan yang kontinu dapat berakibat airnya dapat berubah. Hal itu dapat diatasi dengan mencari alternatif sumber pasokan brackish water sehingga masalah hutan bakau dapat teratasi.
Kata kunci : bakau, morfodinamika, muara, Sungai Opak
PENDAHULUAN
Hutan bakau daerah penelitian terletak di Dusun Baros, Desa Tirtohargo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebaran hutan bakau meliputi bagian utara ruas estuaria Sungai Opak dengan koordinat 8o0’27.77” LS- 8o0’33.66” LS dan 110o16’45.60” BT-110o 17’08.90” BT. Studi ini mengkaji pengaruh morfodinamika muara Sungai Opak terhadap pengembangan kawasan hutan bakau. Metode penelitian yang digunakan meliputi pemetaan sebaran hutan bakau dan pengujian sampel air di daerah studi dengan parameter daya hantar listrik dan salinitas.
LATAR BELAKANG GEOLOGI
Permasalahan muncul dari lokasi pengembangan hutan bakau tersebut dalam perspektif geologi. Pengembangan hutan bakau dilakukan di daerah yang sangat dinamis. Pengaruh tersebut berasal dari sistem estuaria Sungai Opak yang dipengaruhi oleh keberadaan spit bar dan sistem tatanan neotektonik. Oleh karena itu, perlu dikaji mengenai keberlanjutan pengembangan hutan bakau dengan morfodinamika muara Sungai Opak tersebut.
MORFODINAMIKA MUARA SUNGAI
Sistem estuaria Sungai Opak dapat dibagi dalam beberapa satuan geomorfologi (Gb. 1), yaitu:
1. Satuan Spit bar
Satuan ini merupakan batas antara satuan perairan estuaria dengan laut. Satuan ini membentang dari arah Pantai Depok Kretek (tenggara) ke arah Pantai Samas Sanden (baratlaut). Dimensi panjang satuan ini adalah ± 2,380 km dengan lebar 4 – 5 m. Ketinggian spit bar ± 4 mdapl. Satuan ini tersusun atas material lepas dari volkanik Gunung Merapi yang telah mengalami penampian oleh proses longshore current sehingga tersortasi dengan baik. Satuan ini merupakan bagian sistem estuaria Sungai Opak yang paling dinamis.
2. Satuan Perairan Estuaria
Satuan ini merupakan cekungan yang terisi oleh air payau hasil interaksi air sungai dengan air laut. Satuan ini terbentuk akibat terbendungnya aliran Sungai Opak oleh spit bar sehingga aliran sungai tidak langsung masuk ke laut. Satuan ini melebar dengan panjang ± 2,380 km dengan lebar 230 - 320 m.
3. Satuan Dataran Banjir
Satuan dataran banjir terletak di sebelah utara satuan perairan estuaria. Satuan ini digunakan sebagai lahan pertanian. Ketinggian dataran banjir berkisar 2 – 3 mdapl. Satuan dataran banjir melampar hingga sejauh 1 km ke utara dari satuan perairan estuaria.
4. Satuan Gumuk Pasir Purba
Satuan gumuk pasir purba berada di sebelah utara satuan dataran banjir. Gumuk pasir purba terletak di desa Baros Tirtohargo Kretek Bantul. Satuan ini berperan dalam
proses evolusi sistem estuaria Sungai Opak. Keberadaan gumuk pasir purba yang berada 1,5 km dari garis pantai menunjukkan adanya indikasi perkembangan pantai maju.
Air payau (brackish water) terjadi karena ada intrusi air laut ke arah satuan perairan estuaria melalui muara sungai dan rembesan pada spit bar (Gb. 4). Dalam tubuh estuaria, terjadi sirkulasi arus yang mendistribusikan air asin dalam air tawar sehingga terbentuk air payau yang mengalir.
PENGEMBANGAN HUTAN BAKAU
Jenis tanaman bakau yang dikembangkan di wilayah estuaria Sungai Opak adalah Avicennia sp. dan Rhizophora sp. (Setyawan, 2004). Bakau tersebut memiliki perbedaan karakteristik fisiologis yang sesuai dengan cara serta zona habitat dalam suatu sistem perairan payau. Rhizopora sp. memiliki akar jangkar (stilt root) yang mengembang dan berfungsi sebagai penguat pohon dari arus dan gelombang air. Spesies ini berkembang baik dalam perairan yang mempunyai arus cukup kuat. Avicennia sp. memiliki akar nafas yang muncul dari lumpur yang berfungsi sebagai alat eksresi dan respirasi. Spesies ini dapat berkembang baik pada daerah payau yang berarus sedang-lemah.
Jika terjadi pengrusakan hutan bakau, maka akan terjadi hal-hal berikut:
1. Abrasi pantai
2. Mengakibatkan intrusi air laut lebih jauh ke daratan
3. Potensi perikanan menurun 4. Kehidupan satwa liar terganggu
5. Sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang
Morfodinamika estuaria Sungai Opak akan berpengaruh pada eksistensi hutan bakau yang tumbuh baru di utara estuaria. Perubahan morfologi daerah tersebut akan mempengaruhi tingkat salinitas dan daya hantar listrik air payau yang dihasilkan.
Dari pengujian kadar salinitas dan daya hantar listrik (DHL), air payau di daerah penelitian mengalami perubahan karakteristik berupa penurunan kadar salinitas dan DHL air ke arah sungai (selatan) (Gb. 3). Perairan bakau yang jauh dari arus sungai memiliki salinitas dan DHL yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya air payau yang terjebak saat banjir melimpah hingga satuan dataran banjir. Air payau akan mengalami infiltrasi dan perkolasi menjadi airtanah yang bersalinitas dan DHL normal-tinggi. Berbeda dengan tubuh perairan bakau yang terletak dekat dengan estuaria Sungai Opak memiliki salinitas dan DHL yang kecil. Hal ini membuktikan bahwa sirkulasi air payau di estuaria terjadi sangat intensif dan cepat. Jumlah air tawar sungai yang dikontrol oleh musim mengakibatkan fluktuasi yang dinamis dalam sistem perairan bakau.
Bakau membutuhkan salinitas ideal antara 4 -35 o/oo (Djohan, 2000). Salinitas air daerah penelitian berkisar antara <0.01 – 14.5 o/oo (Gb. 3). Dengan demikian, daerah penelitian berpotensi baik untuk pengembangan bakau.
Faktor lain yang berperan dalam sistem estuaria bakau adalah faktor neotektonik. Faktor ini tidak berperan aktif dalam morfodinamika estuaria Sungai Opak. Faktor ini bekerja dalam skala waktu yang lama sehingga tidak begitu tampak sebagai pengontrol sistem estuaria. Padahal faktor ini telah mengubah dan membentuk sistem pantai maju di pantai selatan Pulau Jawa. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan gumuk pasir purba
di sebelah utara satuan dataran banjir yang diyakini dahulu berdekatan dengan garis pantai seperti gumuk pasir yang terbentuk saat ini di Pantai Parangkusumo Kretek Bantul DIY.
SIMPULAN
Daerah estuaria Sungai Opak memiliki prospek yang baik untuk pengembangan hutan bakau. Sistem morfodinamika estuaria Sungai Opak memberikan efek positif kepada lahan tumbuh kembang tanaman bakau. Dengan demikian perlu penataan daerah kepesisiran yang lebih baik dengan menjaga keberlangsungan hutan bakau seiring dinamika muara Sungai Opak.
UCAPAN TERIMAKASIH
Studi ini didukung oleh Jurusan Teknik Geologi UGM dan Laboratorium Hidrologi dan Kualitas Air Fakultas Geografi UGM. Terimakasih diucapkan kepada seluruh pihak yang telah memberi masukan dan membantu secara moral maupun material hingga karya tulis ini dapat diselesaikan.
REFERENSI
Djohan, Tjut Sugandawaty. 2000. Prospek Pengembangan Mangrove di Pantai Selatan. Workshop Regional Mangrove: STIPER Yogyakarta.
Hendratno, Agus. 2000. Kondisi Geologi Untuk
Pengembangan Lingkungan Fisik
Wilayah Pesisir Selatan Yogyakarta Antara Muara Sungai Opak dan Girijati.
Thesis. UGM: Sekolah Pascasarjana
Teknik Geologi UGM
Gb1. Peta Wilayah Penelitian
Gb 2 (a) Peta sebaran bakau S. Opak, (b) fungsi bakau sebagai penghambat erosi (kamera menghadap timur)
U
(a)
Grafik Salinitas Air Daerah Penelitian
0 2 4 6 8 10 12 14 16
YS-01 YS-02 YS-03 YS-04 YS-05 YS-06 YS-07 YS-08 YS-09
Kode Contoh
Ka
da
r S
al
in
ita
s (
o/
oo
)
Grafik Daya Hantar Listrik Air Daerah Penelitian
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
YS-01 YS-02 YS-03 YS-04 YS-05 YS-06 YS-07 YS-08 YS-09
Kode Contoh
DH
L (
um
ho
s/
cm
)
(a) (b)
Gb 3 (a) Grafik salinitas air daerah penelitian, (b) Grafik daya hantar listrik air daerah penelitian.