DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN 2
A. Latar Belakang 2
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II : PERANG BADAR 3
A. Kronologi 3
B. Dampak 5
BAB III : PERANG UHUD 6
A. Kronologi 6
B. Dampak 8
BAB IV : PERANG KHANDAQ 9
A. Kronologi 9
B. Dampak 10
BAB V : PENUTUP 11
A. Kesimpulan 11
B. Saran-saran 11
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Rasulullah berdakwah selama 13 tahun di Mekkah, sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Yatsrib. Kota yang diganti namanya menjadi Madinah tersebut menandai perkembangan syi’ar Islam hingga ke luar Jazirah Arab. Madinah tak ubahnya negara berdaulat, dengan Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi dan penduduknya terikat dalam perjanjian yang disebut Piagam Madinah.
Dalam membangun peradaban di Madinah, Rasulullah menghadapi berbagai tantangan. Suku-suku pedalaman di Madinah belum sepenuhnya menerima Islam sementara kaum Yahudi beberapa kali melanggar kesepakatan yang telah disetujui bersama. Selain itu, ancaman dari kaum musyrikin Quraisy di Mekkah masih belum pudar. Konfrontasi tersebut akhirnya meletus dalam tiga peperangan penting, yaitu Perang Badar, Uhud, dan Khandaq.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja peperangan penting yang terjadi pada masa Rasulullah? 2.Bagaimana kronologi peperangan pada masa Rasulullah?
3. Apa pengaruh peperangan pada masa Rasulullah terhadap peradaban Islam di Madinah?
C. Tujuan
1. Mengetahui peperangan penting pada masa Rasulullah
BAB II PERANG BADAR A. Kronologi Perang
Perang Badar merupakan puncak pertikaian antara kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy Mekkah. Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi di lembah Badar.
Terdengar sebuah berita mengenai sebuah kafilah Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan dengan 40 orang penjaga. Kafilah tersebut membawa harta yang melimpah milik penduduk Mekkah; sekitar 1000 ekor unta membawa muatan bernilai 50.000 dinar emas.1 Mendengar hal itu Rasulullah membentuk pasukan untuk menyerang kafilah
tersebut. Kejadian ini tercantum dalam surah al-Anfal ayat 5-6.2
ننوههرركنكلن ننينرمرؤؤمهلؤٱ ننممر اققيررفن نمنإرون قمرحنلؤٱبر كنتريؤبن ننمر كنبمهرن كنجنرنخؤأن امنكن
ننورهظهنين مؤههون تروؤمنلؤٱ ىلنإر ننوقهاسنيه امننمنأنكن ننيمنبنتن امندنعؤبن قمرحنلؤٱ ىفر كنننولهدرجنكيه
(5) Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya(6) mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).
Abu Sufyan mengirim mata-mata sebelum melewati Madinah untuk mengetahui adakah pasukan dari kaum muslimin yang akan mencegat kafilahnya. Di sisi lain, Rasulullah juga mengirimkan dua orang mata-mata yaitu Basbas bin Amr dan Adi bin Abi az-Zaghba. Abu Sufyan yang mendapatkan informasi bahwa Rasulullah sudah mengutus para sahabatnya untuk mencegat kafilah3 segera mengutus Dhamdam bin Amr al-Ghifari
ke Mekkah untuk memberitakan bahwa pasukan kaum muslimin akan segera datang ke Badar. Dhamdham diminta untuk menyampaikan kepada masyarakat Mekkah agar mengirimkan bantuan.
1Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung MUHAMMAD dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, (Jakarta: Darul Haq, 2012), hlm. 295.
Rasulullah bersama Abu Bakar pun keluar mencari informasi mengenai pasukan dari Mekkah. Kemudian keduanya bertemu dengan seorang tua dari kalangan Arab Badui4
dan bertanya kepadanya tanpa memberi tahu identitas yang sebenarnya. Setelah mendapat informasi, Rasulullah dan Abu Bakar meninggalkan orang tua itu. Pada sore harinya, Rasulullah mengutus Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash bersama beberapa orang sahabatnya menuju perairan yang ada di kawasan Badar untuk mencari berita tentang kaum Quraisy.5 Kemudian mereka bertemu dengan
dua orang budak dari kaum musyrikin Quraisy yang sedang mengambil air untuk pasukan perang mereka. Kedua budak tersebut lalu dibawa ke hadapan Rasulullah, dari kedua budak tersebut didapatkan informasi mengenai jumlah pasukan Quraisy.
Rasulullah SAW segera keluar dari Madinah bersama 313 pasukan dengan peralatan perang yang seadanya. Mereka hanya mempunyai 2 ekor kuda, yang ditunggangi bergantian oleh para sahabat nabi dan 70 ekor unta. Setelah Abu Sufyan dan kafilahnya menyusuri jalan pantai dan selamat, ia mengirimkan surat kepada kaum Quraisy yang telah siap untuk berperang agar segera kembali, namun Abu Jahal dan pasukan sebanyak kurang lebih 1000 orang menginginkan berperang. Akhirnya kaum muslimin dan kaum musyrikin saling berhadapan di medan perang.
Kaum Quraisy mengutus Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Al-Walid bin Utbah, sementara dari pihak muslimin Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Ubaidah bin Al-Harits maju ke muka. Peperangan ini kemudian dimulai dengan Ubaidah yang melawan Utbah bi Rabi’ah, Hamzah menghadapi Syaibah dan Ali berhadapan dengan al-Walid. Akhirnya ketiganya dapat dikalahkan, namun Ubaidah mendapat luka yang cukup parah dan akhirnya meninggal dunia. Melihat ketiga tokoh dari kaum musyrikin terbunuh, mereka marah dan menyerang kaum muslimin.
Pertempuran berakhir dengan kekalahan di pihak kaum musyrikin dan kemenangan diraih oleh kaum muslimin. Dari pihak kaum muslimin terdapat 14 orang gugur sebagai syuhada, 6 orang dari Muhajirin dan 8 dari Anshar. Sedangkan di pihak kaum musyrikin sebanyak 70 orang tewas dan 70 orang lainnya ditawan. Semua mayat
4Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Lengkap Rasulullah, Jilid 1, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2012), hlm. 614.
dimasukkan kedalam sumur yang terletak di jantung kawasan Badar atas perintah Rasulullah.6
B. Dampak Perang
Kemenangan yang dicapai meningkatkan moral dan semangat kaum muslimin. Kabar mengenai Perang Badar telah tersiar di Madinah dan sekitarnya.7 Kaum munafik
merasa waswas, tidak berani menampakkan kedengkian mereka terhadap Islam secara terang-terangan.
Sementara itu, kaum musyrikin Quraisy mendapatkan kerugian akibat kekalahan yang diderita. Dalam perang ini, Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Utbah, dan pemimpin perang lainnya terbunuh. Penduduk Mekkah merasakan duka yang mendalam, banyak keluarga mereka mati terbunuh ataupun menjadi tawanan. Kekalahan pada Perang Badar mengancam kekuasaan dan perdagangan kaum Quraisy Mekkah di daerah Hijaz.
6Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Perjalanan Hidup Rasul..., hlm. 329-330.
BAB III PERANG UHUD A. Kronologi Perang
Perang Uhud merupakan peperangan antara kaum muslimin melawan kaum Quraisy Mekkah yang terjadi pada tanggal 22 Maret 625 M atau 7 Syawal 3 H. Peperangan ini terjadi di dekat perbukitan Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi yang mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah.
Perang ini dilatarbelakangi oleh kekalahan kaum musyrikin Quraisy pada perang Badar. Kaum Quraisy dengan jumlah tentara 1000 orang melawan Muslim yang hanya berjumlah 313 pasukan. Selain itu terbunuhnya tokoh pemuka Quraisy yaitu Abu Jahal semakin menyulut keinginan mereka untuk membalas dendam. Tokoh yang paling antusias adalah Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan bin Umayah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin Rabiah.
Langkah pertama yang dilakukan kaum Quraisy ialah mempersiapkan perang dengan mengumpulkan dana dari masyarakat sekitar. Dana yang terkumpul mencapai 1000 unta dan 1500 dinar. Upaya mereka tercantum dalam Surah Al-Anfal ayat 36.
ممنثه ةقرنسؤحن مؤهريؤلنعن نهوكهتن ممنثه اهنننوقهفرنيهسنفن هرلمنلٱ لريبرسن نعن ااودمهصهينلر مؤههلنونكمؤأن ننوقهفرنيه ااورهفنكن ننيذرلمنٱ نمنإر
ننورهشنحؤيه مننمنهنجن ىكلنإر ااوورهفنكن ننيذرلمنٱون ننوبهلنغؤيه
(36) Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkanSelanjutnya mereka memanfaatkan para penyair untuk mengobarkan semangat perang. Shafwan bin Umayyah membujuk Abu Azzah seorang penyair yang pernah ditawan Rasulullah setelah saat perang Badar. Selain itu, ada penyair lain yang bernama Musafi` ibn Abu Manafal-Jumah.
besi berjumlah 700 orang. Mereka membagi pasukan dalam tiga komando, yaitu di bawah kepemimpinan Abu Sufyan, Ikrimah bin Abu Jahal dan Khalid bin Walid.
Dari pihak kaum muslimin, Abbas bin Abdul Muthalib yang kala itu masih berada di Mekkah bertindak sebagai mata-mata. Ia mengirimkan surat yang sampai kepada Rasulullah dalam tiga hari. Isi suratnya menyebutkan persiapan perang yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy.
Rasulullah berdiskusi dengan para sahabatnya mengenai tempat diadakannya perang. Akhirnya ditentukan bahwa perang akan diadakan di luar kota Madinah. Kaum muslimin menyiapkan pasukan sebanyak 1000 prajurit, 100 diantaranya berbaju besi dengan 50 penunggang kuda. Formasi pasukan dibagi menjadi tiga; sayap kanan dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amr termasuk pasukan pemanah yang ditempatkan di atas bukit yang sekarang di sebut Jabal Rumat. Rasulullah berpesan kepada pasukan pemanah untuk tetap berjaga di bukit sampai perang dinyatakan selesai. Sayap kiri di komandani oleh Zubair bin Awwam dan pasukan pendukung dipimpin al-Miqdad bin al-Aswad.
Peperangan dimulai dengan duel antara Thalhah bin Abu Thalhah dan al-Abdari Az-Zubair dan dimenangkan pihak muslimin. Kemudian perang meletus di berbagai titik. Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ali juga ikut berjuang kecuali Utsman. Hamzah bin Abdul Muthalib merangsek ke tengah-tengah pasukan musyrikin. Di samping itu muncul Abu Dujanah dengan membawa pedang Rasulullah. Usahanya dapat mengacak-acak barisan pasukan musyrikin.8
Pasukan muslim mendominasi peperangan sampai menjelang akhir perang. Pasukan pemanah yang berada di bukit melakukan kesalahan fatal. Mereka turun dari bukit karena melihat sebagian kaum muslimin sudah mengumpulkan ghanimah.9 Hingga hanya
tersisa sepuluh orang pemanah yang berjaga di atas bukit. Kelengahan kaum muslimin dimanfaatkan Khalid untuk menyerang dari belakang. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak kaum musyrikin.
8Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah (Sejarah Hidup Nabi Muhammad), (Jakarta: Ummul Qura, 2014),hlm. 475.
B. Dampak Perang
Meskipun kemenangan dalam Perang Uhud tidak berpihak pada kaum muslimin, Rasulullah sebagai pemimpin masih hidup, sehingga menghalangi keinginan kaum Quraisy Mekkah untuk membuka jalur perdagangan ke Syam.
Perang Uhud meninggalkan kerugian yang besar bagi kedua belah pihak. Kaum musyrikin Quraisy menderita kerugian akibat kekalahan di awal hingga penghujung akhir perang, sementara yang meninggal dari pihak muslim kebanyakan berasal dari golongan Anshar sebanyak 65 orang dengan rincian 41 dari Khazraj dan 24 dari Aus. Dari golongan Muhajirin sebanyak empat orang gugur termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib.
Setelah kekalahan yang dialami kaum muslimin dalam Perang Uhud, kaum munafik terang-terangan menampakkan ketidaksukaannya terhadap Islam, seperti yang digambarkan dalam Surah Ali Imran ayat 167:
مؤكهننكعؤبنتمنٱلمن القاتنقر مهلنعؤنن وؤلن ااولهاقن ااوعهفندؤٱ ورأن هرلمنلٱ لريبرسن ىفر ااولهترقنك ااوؤلناعنتن مؤههلن لنيقرون ااوقهفنانن ننيذرلمنٱ منلنعؤينلرون
BAB IV
PERANG KHANDAQ A. Kronologi Perang
Setelah Perang Uhud, para pembesar Quraisy mulai menganggap Rasulullah sebagai pemimpin yang piawai. Mereka sadar bahwa untuk menghancurkan kaum muslimin dibutuhkan persiapan yang matang dan juga kekuatan yang besar. Para pembesar Quraisy sudah mulai membuat perjanjian kerjasama dengan kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar Mekkah. Selain itu kaum Quraisy juga melakukan kerjasama dengan orang-orang Yahudi Khaibar dan Bani Nadhir serta Bani Ghathfan. Kaum Yahudi di Khaibar menanggapi tawaran tersebut secara positif, mengingat Rasulullah telah mengusir mereka dari Madinah. Dengan diplomasi yang dilakukan, para pembesar Quraisy berharap mampu menumpas kekuatan Islam sampai ke akarnya. Dari kerjasama yang di lakukan kaum Quraisy, mereka dapat mengerahkan sebanyak 600 pasukan kaveleri, 10.000 infranteri, dan unta yang sangat banyak untuk mengangkut perbekalan.10 Oleh karena banyaknya sekutu
yang bergabung, maka perang ini disebut juga dengan nama Ahzab.
Rasulullah yang mengetahui rencana kaum musyrikin meminta pendapat para sahabat, apakah mereka bersedia menghadapi kaum musyrikin di luar atau di dalam Madinah. Mayoritas sahabat mengusulkan agar kaum muslimin tidak keluar dari Madinah. Salah seorang sahabat Rasulullah dari Persia, yaitu Salman al Farisi mengusulkan penggalian parit mengelilingi Madinah. Pembangunan parit dilakukan selama 9-15 hari.
Pengerahan pasukan dari kedua belah pihak dimulai pada 31 Maret 627 M atau Syawal 5 H. Strategi pertahanan berupa parit belum dikenal oleh Bangsa Arab. Kaum musyrikin Quraisy tidak berani bertindak gegabah dalam menghadapi kaum muslimin. Mereka mendirikan tenda-tenda di luar Madinah sambil mencari celah untuk menyerang.
Pasukan muslim dipimpin oleh Rasulullah sendiri dengan Zaid bin Haritsah sebagai pembawa panji dari kaum Muhajirin dan Sa’ad bin Ubadah dari kaum Anshar. Rasulullah memerintahkan kepada yang menjaga parit agar jangan lengah. Kemudian ketika malam hari Rasulullah berkali-kali mengingatkan kepada kaum muslimin agar berpatroli dan mengetatkan penjagaan parit serta menjaga benteng-benteng Yahudi.
Hampir sebulan kedua belah pihak bertahan pada posisinya masing-masing. Tidak ada pergerakan yang berarti dari kedua belah pihak selain hanya saling melepaskan anak panah. Membelotnya Bani Quraizhah dengan kaum musyrikin Mekkah menambah beban penderitaan kaum muslimin. Dalam suasana yang genting itu, turun Surah Al-Ahzab ayat 10-11, sedangkan Surah Al-Ahzab ayat 12-15 menggambarkan keadaan kaum munafik yang mengundurkan diri dari perang dengan berbagai alasan.
Dalam pengepungan tersebut beberapa kali pasukan berkuda Quraisy mencoba menerobos melewati parit, diantara adalah Amr bin Abd Wud, akan tetapi ia berhasil dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Selain itu Naufal bin Abdullah bin Mughiroh juga terbunuh ketika berusaha untuk melewati parit Madinah.
Kala itu, Nu’aim bin Mas’ud al Asyja’i menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Ia kemudian mengusulkan untuk memecah belah pasukan kaum musyrikin dan menawarkan dirinya sebagai pelaksana taktik tersebut. Di tengah-tengah suasana yang memanas akibat pertikaian, kaum musyrikin menghadapi bencana berupa angin topan dan udara yang dingin. Perkemahan yang mereka dirikan porak poranda. Abu Sufyan kemudian memerintahkan pasukannya untuk mundur. Setelah melihat pasukan musyrikin pergi barulah Rasulullah mengizinkan kepada sahabat untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
B. Dampak Perang
Dengan tercapainya kemenangan dalam Perang Khandaq, kaum musyrikin perlahan mulai menempuh jalan damai dengan Pemerintahan Madinah, karena memang jika dengan menggunakan jalan perang sudah tidak dapat di lakukan lagi, melihat tangguhnya kaum muslimin dalam menghadapi serangan dari kaum musyrikin yang dibantu kaum munafik.
Usai Perang Khandaq, Rasulullah melakukan serangkaian serangan sebagai peringatan terhadap kabilah dan penduduk pedalaman yang masih berusaha menggempur Madinah. Muhammad bin Maslamah dikirim untuk membekuk klan Ubaid bin Kilab dari Qais Ailan yang mendiami jalur menuju Bashrah.11 Dengan demikian, stabilitas internal
dan eksternal Madinah dapat dipertahankan.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dakwah Rasulullah di Madinah ditandai dengan pembangunan peradaban Islam. Peradaban yang masih dirintis tersebut mengalami berbagai gangguan, yaitu Islam belum sepenuhnya diterima oleh suku-suku pedalaman di Madinah, kaum Yahudi yang beberapa kali melanggar perjanjian dan ancaman yang datang dari kaum musyrikin Quraisy di Mekkah. Konfrontasi tersebut akhirnya meletus dalam beberapa peperangan, termasuk Badar, Uhud dan Khandaq.
Kemenangan pada Perang Badar meningkatkan moral dan semangat kaum muslimin. Madinah tumbuh menjadi peradaban yang disegani oleh suku-suku di sekitarnya. Namun prestise yang sudah terbentuk ini luluh akibat kekalahan pada Perang Uhud. Meskipun begitu, kaum muslimin masih dapat mengamankan posisi mereka sehingga mencegah kaum Quraisy Mekkah memanfaatkan jalur perdagangan ke Syam. Pada perang Khandaq, dilakukan penggalian parit sebagai strategi pertahanan Madinah. Secara garis besar, strategi peperangan yang dilakukan Rasulullah berkisar pada taktik spionase untuk penggalian informasi pihak musuh, sabotase jalur perdagangan sebagai taktik ekonomi, dan psy war.
Dengan kemenangan yang diraih kaum muslimin, syi’ar Islam semakin luas. Rasulullah mengutus para sahabat untuk memerangi suku-suku Arab yang membahayakan kekuasaan di Madinah. Diplomasi kepada kerajaan lain juga dilakukan untuk meraih dukungan dalam membangun peradaban Islam di Madinah.
B. Saran-saran
1. Dalam mempelajari peperangan pada masa Rasulullah, tidak cukup hanya berpedoman dengan satu referensi saja, penulis menyarankan pembaca agar mencari referensi lain agar mendapatkan wawasan yang lebih luas.
yang matang menjadi landasan keberhasilan. Berlawanan dengan hal itu, kelalaian dalam peperangan sudah seharusnya dihindari.
3. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan makalah ini ke depannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abazhah, Nizhar. 2013. Perang Muhammad: Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah. [penerj.] Asy'ari Khatib. Jakarta : Zaman, 2013.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. 2014. Sirah Nabawiyah (Sejarah Hidup
Nabi Muhammad). Jakarta : Ummul Qura, 2014.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur Rahman. 2012. Perjalanan Hidup Rasul Yang
Agung MUHAMMAD dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Jakarta : Darul Haq,
2012.
Ash-Shallabi, Ali Muhammad. 2012. Sejarah Lengkap Rasulullah. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2012. Vol. I.
Ghanim, Abdul Aziz. 1991. Perang dan Damai di Masa Pemerintahan Rasulullah.