PENGARUH ORIENTASI PROSES BISNIS TERHADAP PERTUMBUHAN USAHA PENGRAJIN LOGAM
DI WILAYAH KEDIRI RAYA
LILIA PASCA RIANI
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI ([email protected])
ABSTRAK
Orientasi proses bisnis, adalah konsep yang diperkenalkan oleh McCormack dan Johnson (2001) bahwa sararan perusahaan ditekankan pada proses bagaimana bisnis tersebut dapat mencapai tahap kedewasaan melalui serangkaian pengukuran kinerja. Brownet al., (2009:314) pengukuran kinerja perusahaan selain melibatkan kinerja keuangan dan produktivitas, pengukuran kinerja hendaknya dilakukan secara seimbang antara pengukuran kinerja dari sisi keuangan maupun non keuangan.
Penelitian ini dilakukan pada para pengrajin logam diwilayah Kediri raya melalui pengisian kuesioner yang berisi 37 item pertanyaan. Kuesioner yang terkumpul sejumlah 86 buah. Kemudian dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas item pertanyaan. Hasilnya adalah semua item pertanyaan dinyatakan valid dan reliable untuk masing-masing variabel penelitian ini.
Pengujian hipotesis menggunakan alat analisis Simple Regression Analysis. Nilai β = 0,668; t = 11,758; dan p < 0,001. Nillai adjusted R2 sebesar 0,446 menunjukkan bahwa 44,6% kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh orientasi proses bisnis dari pemilik perusahaan tersebut. Hal ini menyatakan bahwa hipotesis terdukung. Penelitian ini membuktikan bahwa orientasi proses bisnis memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan usaha, yang mana hasil ini kontradiktif dengan hasil penelitian Skrinjar et al., (2008). Sehingga Orientasi Proses Bisnis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Pertumbuhan Usaha pengrajin logam di wilayah Kediri Raya. Keywords : Orientasi Proses Bisnis, Pertumbuhan Usaha, Kediri Raya, Pengrajin Logam.
PENDAHULUAN
Seiring dengan perubahan konjungtur perekonomian, membuat setiap elemen dari struktur ekonomi beradaptasi, mencari posisi yang paling tepat sesuai dengan kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan. Pertanian sebagai penopang utama perekonomian dinilai sudah tidak dapat lagi meningkatkan kesejahteraan karena nilai jual petani yang rendah, sehingga penduduk menjual atau menyewakan sawahnya kepada pihak lain dan beralih profesi salah satunya menjadi pengrajin logam. Padahal dengan memasuki area usaha baru masih terdapat kendala-kendala seperti kurangnya berbagai pengetahuan.
Sentra Industri logam di wilayah Kediri Raya adalah Tanjungkalang, sebuah desa di kecamatan Ngronggot, terletak di wilayah tenggara sekitar 22 km dari kota Nganjuk. Sekitar 15 tahun lalu, desa ini merupakan pusat industri logam yang cukup populer di seluruh Indonesia berkat hasil produksi para pengrajin di desa itu yang menyebar ke seluruh nusantara.
Hasil produksi logam olahan masyarakat setempat berupa pisau, cangkul, arit, sekop dan peralatan pertaniann lainnya, banyak diminati oleh pedagang dari berbagai daerah, karena mutunya. Bentuknya unik dan tradisional, dan memiliki endurance atau ketahanan cukup lama.
Usaha itu turun temurun dan menjadi andalan mata pencaharian masyarakat desa setempat hingga zaman modern ini. Tapi, seiring dengan waktu, kemajuan teknologi produksi logam membalikkan keadaan mereka. Banyak pengusaha dan pengrajin mulai gulung tikar dan beralih ke usaha lain (surabayapost.co.id/)
Mengacu pada fenomena tersebut, maka penilitian ini membahas mengenai orientasi proses bisnis diartikan sebagai pola pikir dari pengelola perusahaan serta mengarahkan bisnis yang berorientasi pada proses dan melihat hubungannya dengan pertumbuhan usaha para pengrajin logam berskala mikro dan kecil di wilayah Kediri Raya.
TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Tujuan dari penelitian ini mengacu pada teori yang telah dibangun mengenai adanya keterkaitan antara orientasi proses bisnis dengan kinerja organisasional sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh McCormmack dan Johnson (2003) yang menyatakan bahwa setiap pemikiran dari top manajemen mengenai tujuan dari setiap proses organisasi adalah untuk mendapatkan peningkatan kinerja keuangan, secara eksplisit disebutkan yaitu peningkatan laba dan aset-aset perusahaan.
Organisasi dengan mengimplementasikan orientasi proses bisnis telah banyak mengalami keberhasilan seperti adanya peningkatan kinerja bisnis dari sebuah organisasi yang berorientasi pada proses. Sebuah tim yang berorientasi pada lingkungan kerja dan rasa kepemilikan yang kuat juga merupakan unsur penting dari suatu organisasi yang berorientasi proses bisnis (McCormmack dan Johnson, 2003). Tetapi teori yang di kemukakan tersebut kontradiktif dengan hasil penelitian Skrinjar et al., (2008) yang menyebutkan bahwa hubungan antara orientasi proses bisnis dengan kinerja keuangan adalah dinyatakan tidak signifikan secara statistik.
Widjajani dan Yudoko (2008) meneliti tentang perilaku strategis pengusaha kecil di industri kecil logam Kiara Condong, Bandung, menggunakan kombinasi grounded theory dan SSM (Soft System Methodology) mengungkap 4 jenis perilaku, yaitu perilaku dalam menentukan atau merumuskan strategi, perilaku dalam melaksanakan produksi, perilaku dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan inovasi, dan perilaku dalam melaksanakan pemasaran. Sebuah model konseptual perilaku strategis yang berhasil diekplorasi melalui pendekatan kuantitatif.
mempengaruhi pertumbuhan usaha kecil. Sedangkan kompetensi pengetahuan tidak berkorelasi signifikan dengan tingkat pendidikan formal para wirausaha.
Pertumbuhan merupakan hal yang penting dalam keberlangsungan sebuah usaha. Di negara-negara maju pertumbuhan usaha dapat dilihat dari meningkatnya harga saham perusahaan. Pertumbuhan (Growth) juga merupakan salah satu dari banyak refleksi mengenai pengukuran kinerja, selain laba, ROA (Return on Assets), ROI (Return on Invesment), peningkatan penjualan, dan peningkatan jumlah tenaga kerja.
Pertumbuhan usaha baik itu yang tergolong usaha kecil, maupun besar merupakan tujuan dari setiap aktifitas yang dilakukannya sehingga pada akhirnya memiliki kemampuan daya saing, menurut Hardrimurtjahyo, et al. (2011) pertumbuhan usaha dapat dilihat dari pertumbuhan produksi, pertumbuhan penjualan, pertumbuhan pendapatan, dan pertumbuhan laba.
Istilah pertumbuhan (growth) menurut Salojarvi et al., (2005) lebih sesuai dengan kontek usaha kecil dan menengah dibandingkan dengan kinerja meskipun keduanya memiliki aspek/aspek, dimensi dan indikator yang sama.
Beberapa studi empiris dilakukan oleh banyak peneliti di dunia yang telah menciptakan dan membangun teori mengenai konsep pengukuran kinerja perusahaan dengan berbagai konstruk yang menjadi antesedennya, misalnya Montes et al., (2003) meneliti mengenai hal-hal yang menyebabkan adanya hubungan mengenai TQM dan kinerja organisasional. Koh et al., (2007) yang meneliti pengaruh manajemen rantai pasok terhadap kinerja pada perusahaan kecil dan menengah. Salaheldin (2009), yang meneliti Critical Success Factors (SCF) untuk TQM dan pengaruhnya pada kinerja perusahaan kecil dan menengah.
Berdasarkan kajian literature dan penelitian terdahulu diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah “Orientasi proses bisnis memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan usaha para pengrajin logam.”
MODEL PENELITIAN
Penelitian ini ingin melihat serta menganalisis, seberapa besar pengaruh masing masing variable dari konstruk orientasi proses bisnis terhadap pertumbuhan usaha. Sesuai dengan uraian pada latar belakang masalah, landasan teori dan penelitian sebelumnya, maka disusun model penelitian sebagai berikut :
Gambar 1. Model Penelitian METODE PENELITIAN
Populasi penelitian ini adalah seluruh pengrajin logam sebagai pemilik sekaligus manajer usaha sebagai target subject (responden/unit of analysis). Adapun pengrajin logam masuk dalam klasifikasi UMKM sector manufaktur, sub sector pengolahan logam.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, maka peneliti memiliki kebebasan untuk menentukan responden yang hendak diteliti sesuai dengan kriteria tertentu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama kurang lebih 2 bulan dengan mengumpulkan data melalui kuesioner yang disebar kepada 86 responden yang tercatat sebagai pengrajin logam diwilayah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri, berikut adalah data yang dapat diperoleh:
Tabel 1. Data Jumlah Pengrajin Logam di Wilayah Kediri Raya Jenis industri kecil Wilayah Kediri
Kabupaten Kota Makanan, Minuman & Tembakau 1.539 179
Tekstil & Kulit 28 48
Kayu 216 60
Kertas 30 57
Kimia, Karet, & Plastik 95 18
Mineral & Logam -
-Logam Dasar -
-Barang Logam & Mesin 127 122
Lainnya 218 79
Jumlah 2.253 563
Sumber : Data BPS Kabupaten dan Kota Kediri diolah, 2014
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pelaku industri kecil sektor barang logam dan mesin untuk wilayah kabupaten Kediri sebanyak 127 pelaku usaha dan 122 pelaku usaha untuk wilayah kota Kediri.
Tabel 2. Data mengenai jumlah responden yang di ambil berdasarkan kota/kabupaten di Kediri
No. Nama Kota/Kabupaten Jumlah Responden
1. Kabupaten Kediri 64
2. Kota Kediri 22
Jumlah 86
Sumber: data primer diolah, 2014
Pada tabel 2 diatas, terlihat responden terbanyak adalah berasal dari wilayah kabupaten, 64 responden atau sebanyak 74 persen dari keseluruhan responden yang diteliti. Ini merupakan justifikasi peneliti dalam menentukan responden sesuai kriteria yang ada.
Tabel 3. Data mengenai lama beroperasi pengrajin logam yang menjadi responden penelitian
No. Lama Beroperasi Jumlah Responden
1. 3–5 tahun
-2. 6–9 tahun 26
3. > 10 tahun 60
Jumlah 86
Tabel 3 menjelaskan mengenai lamanya beroperasi pengrajin logam yang menjadi responden dalam penelitian ini. Sebanyak 60 responden (70%) menyatakan telah beroperasi selama lebih dari 10 tahun.
Definisi Operasional Variabel Penelitian
a. Orientasi Proses Bisnis
Orientasi proses bisnis adalah pemikiran dari manajemen level atas dimana sebuah organisasi yang menekankan pada proses yang berlawanan dengan hirarki dengan penekanan khusus pada hasil dan kepuasan pelanggan (McCormack dan Johnson, 2001)
Dimana McCormack dan Johnson (2001) menyebutkan konstruk orientasi proses bisnis ada enam jenis orientasi proses di dalam konteks supply chain, yaitu:
1) Process view atau documentation, Terdiri dari 4 item pertanyaan dan masing-masing diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin.
2) Process jobs, terdiri dari 3 item pertanyaan dan masing-masing diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin.
3) Process management and measurement, terdiri dari 5 item pertanyaan dan masing-masing diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin.
4) Process Structures, terdiri dari 6 item pertanyaan dan masing-masing diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin.
5) Process Value and Beliefs, terdiri dari 6 item pertanyaan dan masing-masing diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin.
6) IT support, terdiri dari 6 item pertanyaan dan masing-masing diukur dengan menggunakan skala Likert 5 poin.
b. Pertumbuhan Usaha
Menurut Skrinjar et al., (2008), kinerja keuangan adalah sebuah cara mengukur kinerja organisasi dari sisi finansial, yaitu tingkat pengembalian investasi, profit dalam mata uang selama periode waktu tertentu, dan rata-rata tingkat penjualan selama periode waktu tertentu.
Dalam penelitian ini, instrumen pengukuran variabel pertumbuhan usaha menggunakan indikator yang dikembangkan oleh Hardrimurtjahyo, et al. (2011) dan Hatten (2012:464), yakni :
1) Persepsi pelaku usaha mengenai peningkatan laba perusahaan selama 3 tahun terakhir.
2) Persepsi pelaku usaha mengenai peningkatan pendapatan selama 3 tahun terakhir.
3) Persepsi pelaku usaha mengenai penambahan modal selama 3 tahun terakhir. 4) Persepsi pelaku usaha mengenai peningkatan jumlah tenaga kerja selama 3
tahun terakhir.
5) Persepsi pelaku usaha mengenai peningkatan jumlah produk yang diproduksi selama 3 tahun terakhir.
6) Persepsi pelaku usaha mengenai peningkatan kebutuhan fasilitas selama 3 tahun terakhir.
ANALISIS PENGUJIAN HIPOTESIS
Pengujian hipotesis menggunakan regresi linier sederhana yang menunjukkan pengaruh satu variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Berikut adalah hasil pengujian hipotesis menggunakan analisis uji regresi :
Hipotesis menyatakan bahwa orientasi proses bisnis memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Menunjukkan nilai β = 0,668; t = 11,758; dan p < 0,001. Nillai adjusted R2 sebesar 0,446 menunjukkan bahwa 44,6% pertumbuhan usaha dipengaruhi oleh orientasi proses bisnis dari pemilik usaha tersebut. Hal ini menyatakan bahwa hipotesis terdukung. Penelitian ini membuktikan bahwa orientasi proses bisnis memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan, yang mana hasil ini kontradiktif dengan hasil penelitian Skrinjaretal., (2008).
KESIMPULAN DAN DISKUSI
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa orientasi proses bisnis berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan usaha para pengrajin logam di Kediri Raya. Temuan ini memberikan dukungan empiris bahwa orientasi proses bisnis tidak hanya dimiliki oleh perusahaan manufaktur berskala besar seperti hasil penelitian yang dilakukan Skrinjar et al., (2008), dan MacCormack dan Johnson (2003) tetapi juga pada perusahaan perusahaan manufaktur skala mikro, kecil dan menengah (Demirbaget al., 2006).
Berdasarkan hasil wawancara dan pengolahan data kuesioner, para pengrajin logam ini tidak memiliki merk dagang pada produknya, produk yang di buat diberikan nama sesuai dengan tradisi turun temurun masyarakat jawa seperti cangkul, arit, sotil, teko air, parut, serok, wajan, panci, irus, dll sehingga diferensiasi atau keunikan dari hasil produksinya tidak ada. Untuk menekan biaya produksi, bahan baku yang digunakan adalah dari logam limbah pabrik di Surabaya danspare partbekas kendaraan bermotor (Wahyudi, 2011).
Melihat pada indikator orientasi proses bisnis prosesvalue and belief, para pengrajin logam ini menerapkan proses produksi yang bersifat stagnan, atrinya nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tahapan prosesnya tetap dipertahankan dari waktu ke waktu meskipun menunjukkan ketidak-efisienan apabila mengikuti arus perubahan teknologi, tanpa mengesampingkan nilai keselamatan kerja dan meminimalisasi kecelakaan. Indikator proses value and belief juga diterapkan dalam hal orisinalitas ide ide kreatif meskipun tidak bisa dipungkiri adanya imitasi dan meniru produk hasil dari proses produksi pabrikan juga dilakukan .
Kondisi yang semakin terpuruk dengan adanya CAFTA dan semakin mahalnya bahan bahu, bahan pembantu, dan upah kerja serta kurangnya pendampingan dari pemerintah membuat pengrajin logam kesulitan mencapai pertumbuhan usaha seperti subsektor yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Demirbag, M., Tatoglu, E., Tekinkus, M., Zaim, S., (2006). “An Analysis of the Relationship Between TQM mplementation and Organizational Performance”, Journal of Manufacturing Technology Management, Vol. 17, No. 6, pp. 829-847.
Keramik Kasongan, Bantul, Yogyakarta”, Parallel Session IIIA : Agriculture & Rural Economy, Universitas Indonesia, Depok.
Hatten, Timothy S., (2012). Small Business Management : Entrepreneurship and Beyond, Fifth Edition, South-Western Cengage Learning, Mason, USA. Kumalaningrum, Maria Pampa, (2012). “Market Orientation, Entrepreneural
Orientation, Innovation Success, dan Profitabilitas Usaha Kecil dan Menengah.” Jurnal Akuntansi dan Manajemen, STIE YKPN Yogyakarta, Vol. 23, No. 1 Hal. 13-25.
McCormack, K., (2001). “Business Process Orientation: Do You Have It?”, Quality Progress, pp. 51-58.
McCormack, K., Johnson, WC. (2002). “Supply Chain Networks and Business process orientation: Advanced Strategies and Best Practices”, St. Louise Press, Florida.
Montes, LJ., Jover, AV., Fernandez, LMM., (2003). “Faktors Affecting the Relationship Between Total Quality Management and Organizational Performance”, International Journal of Quality and Reliability Management, Vol. 20, No. 2, pp. 180-209.
Muljaningsih, S., Zain, D., Ratnawati, K., Sudarma, M., (2011). “Analisis Karakteristik Organisasi dan Gaya Manajemen Serta Pengaruhnya terhadap Orientasi Kewirausahaan dan Kinerja Perusahaan : Studi pada Usaha Kecil Sandang di Jawa Timur,Jurnal Aplikasi Manajemen, Vil. 9, No. 2, pp. 340-352.
Salojärvi, S., Furu, P., Sveiby, KE., (2005). “Knowledge Management and Growth in Finnish SMEs.” Journal of Knowledge Management, Vol. 9, No. 2, pp. 103-122.
Skrinjar, R., Bosili-Vuksic, V., Indihar-Stemberger, M., (2008). “The Impact Of Business Process Orientation On Financial And Non-Financial Performance”, Business Process Management Journal, vol. 14 no. 5, pp. 738-754.
Wahyudi, Edy, (2011). “Created Innovation dan Peningkatan akses pasar usaha kecil logam di tulungagung”. Jurnal Inspirant, Universitas Jember, Tahun II Edisi 3 Nomor 1.
Widjajani, Yudoko, Gatot, (2008). “Keunggulan Kompetitif Industri Kecil di Klaster Industri Kecil Tradisional dengan Pendekatan Berbasis Sumber Daya : Studi Kasus Pengusaha Industri Kecil Logam Kiara Condong, Bandung”. Jurnal Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra, Vol. 10, No. 1, pp. 50-64.
Www.bpsjatim.go.id Www.surabayapost.co.id