UPAYA KEPOLISIAN TERHADAP PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR (Studi Kasus di Polsek Banjar Agung KabupatenTulang Bawang)

Teks penuh

(1)

UPAYA KEPOLISIAN TERHADAP PENANGGULANGAN TINDAK PIDANAPENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR

(Studi Kasus di Polsek Banjar Agung KabupatenTulang Bawang)

(Jurnal)

Oleh :

SINDU PURNOMO

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

UPAYA KEPOLISIAN TERHADAP PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR

(Studi Kasus di Polsek Banjar Agung KabupatenTulang Bawang)

Sindu Purnomo, Tri Andrisman, Diah Gustiniati, M. endu_sinduboy@ymail.com

ABSTRAK

Tulang Bawang merupakan daerah pemekaran yang saat ini dapat dikatakan daerah yang sedang dalam tahap maju pesat, terutama di Daerah Unit Dua yang sekarang menjadi pusat dari Kota Tulang Bawang.Kondisi wilayah dapat dikatakan rawan karena sebagian besar wilayahnya terdiri dari daerah perkebunan dan jarang pemukiman penduduk serta tidak terpantau oleh pihak kepolisian, hal itu membuat para pelaku pencurian kendaraan bermotor akan memanfaatkan situasi ini untuk melakukan pencurian biasa atau dengan kekerasan. Permasalahan yang muncul dalam skripsi ini adalah bagaimanakah upaya kepolisian terhadap penanggulangan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor dan faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penghambat dalam upaya kepolisian terhadap penanggulangan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor.Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan masalah melalui pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris dengan data primer dan data sekunder dimana masing-masing data diperoleh dari penelitian kepustakaan dan di lapangan. Analisis data dideskripsikan dalam bentuk uraian kalimat dan dianalisis secara kualitatif, kemudian untuk selanjutnya ditarik suatu kesimpulan.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan: (1)upaya kepolisian terhadap penanggulangan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor di polsek Banjar Agung dilakukan secara upaya penal yaitu tindakan represif

dilakukan setelah kejahatan terjadi yaitu menindak dan memberantas pencurian kendaraan bermotor melalui jalur hukum. upaya non penal: preventif,dilakukan untuk mencegah terjadinya atau timbulnya kejahatan yang pertama kali, selanjutnya pre-emtif yaitu cara pencegahan yang dilakukan secara dini dengan edukasi (2) Faktor-faktor penghambat adalah faktor penegak hukum, faktor sarana dan fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor kultur atau budaya.

(3)

POLICE EFFORT TOWARDS PREVENTION THE CRIME OF THEFT OF MOTOR VEHICLE

(Case Study in Police Sector Banjar Agung regency Tulang Bawang) Sindu Purnomo, Tri Andrisman, Diah Gustiniati, M.

endu_sinduboy@ymail.com

ABSTRACT

Tulang Bawang an expansion area that can now be said that the area is in the advanced stage of rapid, especially in the Region Unit Dua which is now the center of town Tulang Bawang. The condition can be said to be prone area because most of the territory consists of plantation area and sparse settlements and not monitored by police, it makes the perpetrators of theft of motor vehicles will take advantage of this situation to carry out regular or violent theft. The problems that arise in this thesis is how the police efforts to overcoming the crime of theft of motor vehicles and what are the factors inhibiting the police efforts towards overcoming the crime of theft of motor vehicles. This research was conducted using the approach the problem through juridical normative and empirical primary data and secondary data in which each of the data obtained from the research literature and in location. Analysis of the data described in narrative form and analyzed qualitatively sentence, then to the next drawn a conclusion.Based on the results of research and discussion that has been done, it can be concluded: (1) efforts to police the mitigation of the crime of theft of motor vehicles in the police sector Banjar Agung done in an effort penal repression is done after the crime occurred, ie crack and combat motor vehicle theft with the role of law. non-penal efforts: preventive, is to prevent the occurrence or the onset of the first crime, The next pre-emptive which way do early prevention through education (2) inhibiting factor is the factor of law enforcement, facilities and infrastructure factors, community factors, and culture or cultural factors.

Keywords: Police Efforts, Crime, Theft of Motor Vehicles.

I. PENDAHULUAN

Provinsi Lampung adalah daerah

yang sangat luas wilayahnya.

Perkembangan teknologi serta

kebutuhan akan kendaraan juga semakin meningkat, lampung adalah daerah dengan kebutuhan kendaraan

yang sangat tinggi dimana

(4)

kendaraan dengan tujuan untuk mempermudah segala akses yang

ingin ditempuhnya baik itu

kendaraan beroda dua atau roda empat.

Jumlah penduduk Provinsi Lampung di tahun 2014, mencapai ±10.000 jiwa dan memiliki berbagai macam

agama, budaya, adat-istiadat,

kebiasaan yang berbeda1.Saat ini

untuk tingkat pengahasilan,

masyaraakat lampung memiliki

penghasilan yang cukup baik, maka untuk kebutuhan kendaraan bukan lagi suatu hal yang mengherankan ketika dalam satu keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor, terutama untuk kendaraan bermotor jenis roda dua atau yang disebut dengan sepeda motor.

Tulang Bawang merupakan daerah pemekaran yang saat ini dapat dikatakan daerah yang sedang dalam tahap maju pesat, terutama di daerah unit dua yang sekarang menjadi pusat dari Kota Tulang Bawang. Segala sumber daya alam yang dimiliki dan lahan yang luas,

menjadikan rata-rata dari

penduduknya memiliki tanah dan usaha lahan perkebunan yang cukup luas dan berkehidupan mapan yang

membuat daerah ini memiliki

pertumbuhan yang pesat, terutama daerah kotanya seperti pada bidang perekonomian dan pendidikanya. Hal ini memunculkan ide kreatif sebagian masyarakat untuk membuka dan membangun tempat-tempat hiburan seperti karaoke, tempat wahana permainan, dan sebagainya demi

1http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsi

pid/demografipendudukjkel.php?ia=18&is= 37.Badan Pusat Statistik Provinsi Provinsi Lampung. Diunduh pada tanggal 13/10/2014 pukul 09:00am.

memenuhi kebutuhan hiburan

masyarakat Tulang Bawang.

Kondisi wilayah untuk Daerah

Tulang Bawang dapat dikatakan

rawan karena sebagian besar

wilayahnya terdiri dari darah

perkebunan dan jarang pemukiman penduduk serta tidak terpantau oleh pihak kepolisian, hal itu akan membuat para pelaku pencuriaan

kendaraan bermotor akan

memanfaatkan situasi ini untuk

melakukan pencurian dengan

kekerasan istilah yang akrab di masarakat adalah pembegalan.Hal itu

disebabkan Karena tidak ada

keseimbangan dimana pihak

kepolisian masih kekurangan

personil dalam menangani kasus

pencurian kendaraan bermotor,

sedangkan kelompok-kelompok

pencuri justru semakin bertambah jumlahnya dan kurangnya sarana prasarana anggota kepolisian dalam melakukan tindakan dalam kasus pencurian kendaraan bermotor.

Polsek Banjar Agung memiliki lokasi yang dekat dengan pusat kota di unit dua Tulang Bawang, hanya berjarak ±1km meter dari pasar unit dua karena hal tersebut Polsek Banjar

Agung menjadi tujuan utama

masyarakat di Tulang Bawang untuk melaporkan seluruh kejadian kasus tindak pidana yang mereka alami.

Jumlah Keseluruhan anggota

kepolisian yang bertugas di Polsek Banjar Agung berjumlah 43 personil dengan petugas kepolisian yang langsung turun kelapangan tempat kejadian dan menangani perkara

dalam hal penyelidikan dan

penyidikan yaitu BARESKRIM

(5)

INTELKAM 3 personil dan

SHABARA 12 personil2.

Upaya kepolisian sebenarnya sudah dapat kita lihat bersama walaupun belum memuaskan seperti yang kita harapkan, upaya tersebut seperti tindakan pencegahan (preventive),

pendekatan (preemptive), dan

penegakan hukum (represive), yang bertujuan menegakan hukum hukum sesuai dengan aturan hukum yang

ada yang bersifat melindungi

mengayomi dan melayani

masyarakat sesuai dengan tugas pokok kepolisian yang terdapat pada Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Pasal 13 tentang Tugas Pokok Kepolisian, tetapi pada kenyataanya

pencurian kendaraan bermotor

sampai saat ini tetap terjadi.

Pencurian kendaraan bermotor baik itu roda dua ataupun roda empat yang terjadi di Daerah Tulang Bawang sekarang bukan hanya menjadi perhatian saja tetapi menjadi suatu kerisauan terhadap warga

setempat. Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana, buku ke-2 titel XXII dari Pasal 362 sampai 367 KUHP. Delik pencurian diatur dalam pasal 362 KUHP, dimana menyebutkan barang siapa mengambil barang

sesuatu, yang seluruhnya atau

sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidan denda paling banyak sembilan ratus rupiah3.

2

Hasil wawancara saat pra-riset di POLSEK Banjar Agung Kab. Tulang Bawang. Tanggal 18 Agustus 2014.

3

Pasal 362 KUHP

Berdasarkan data yang ada di Polsek Banjar Agung Tulang Bawang di tahun 2014 Pada saat peneliti melakukan pra researchmenunjukan peningkatan kasus tindak pidana pencurian kendaraan bermoto setiap bulanyaterhitung dari bulan januari-agustus ada 54 laporan kasus Pencurian kendaaraan bermotor.

Melihat dari latar belakang yang ada,

maka permasalahan yang akan

dibahas dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah Upaya Kepolisian terhadap Penanggulangan Tindak

Pidana Pencurian Kendaraan

Bermotor di Daerah Tulang

Bawang, 2) Faktor-faktor apa

sajakah yang menjadi penghambat dalam Upaya Kepolisian terhadap

penanggulangan Tindak Pidana

Pencurian Kendaraan Bermotor di Daerah Tulang Bawang.

Pendekatan masalah yang digunakan untuk menjawab permasalahan di

atas yaitu pendekatan yuridis

normatif, dan yuridis empiris. Data yang digunakan adalah data primer, dan data sekunder. Pengumpulan

data dilakukan dengan studi

kepustakaan, dan studi lapangan. Data-data tersebut lalu dilakukan pengolahan melalui tahap seleksi

data, klasifikasi data, dan

sistematisasi data. Data yang sudah diolah tersebut kemudian disajikan dalam bentuk uraian, selanjutnya diinterpretasikan atau ditafsirkan untuk dilakukan pembahasan dan dianalisis secara kualitatif, kemudian

untuk selanjutnya ditarik suatu

kesimpulan4.

II. PEMBAHASAN

4

(6)

A. Upaya Kepolisian Sektor Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang dalam Penanggulangan Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor

a. Upaya Penal

Upaya penal adalah upaya

penanggulangan kejahatan yang

bersifat represif, bagi pelanggar hukum atau pelaku kejahatan.Jadi upaya ini dilakukan setelah kejahatan terjadi5.

Berdasarkan wawancara dengan

respoden Supandi. Upaya

penanggulangan yang dilakukan oleh anggota yang berada di Polsek Banjar Agung sudah sesuai dengan prosedur dimana tindakan dalam hal ini yang akan dibahas adalah

mengenai tindakan penal atau

represif. Tindakan ini adalah

tindakan yang dilakukan setelah adanya laporan atau kejadian yang telah dialami oleh korban baik itu baru saja terjadi atau sudah lama terjadi, hal ini ditujukan lebih kearah pengungkapan terhadap semua kasus kejahatan yang terjadi, yang disebut

sebagai macam faktual. Polsek

Banjar Agung dalam melakukan tindakan. Mengenai hal ini dalam penanganan yang bergerak dalam ketika ada kasus kejadian yang dialaporkan oleh korban yang baru saja terjadi adalah:

1. Bagian Intelejen 2. Bagian Reserse

3. Menerima Laporan dan menindak

4. Berkordinasi dengan anggota

kepolisian yang lain yang sedang

5

Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakkan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2001, hlm. 73.

bertugas atas apa yang telah terjadi dalam kasus6.

Polisi juga harus bisa memperhatikan benar hal mana yang menjadi unsur pencurian yaitu:

a. Unsur objektif, terdiri dari: 1. Perbuatan mengambil 2. Objeknya suatu benda

3. Unsur keadaan yang menyertai atau melekat pada benda, yaitu benda tersebut sebagian atau seluruhnya milik orang lain. b. Unsur-unsur subjektif, terdiri dari:

1. Adanya maksud

2. Yang ditujukan untuk memiliki 3. Dengan melawan hukum

Suatu perbuatan atau peristiwa, baru dapat dikualifisir sebagai pencurian apabila terdapat semua unsur tersebut diatas7.

Hasil wawancara dengan Rahmat, ia membenarkan apa yang telah di paparkan sebelumnya oleh responden supandi dengan segala tindakan yang dilakukan Polsek Banjar Agung dalam penanganan kasus tindak pidana. Dalam hal ini kasus tindak

pidana Pencurian Kendaraan

bermotor, ia menambahkan ketika suatu kasus kejadian telah lama terjadi atau tidak langsung memberi laporan seketika kejadian itu terjadi dan baru dilaporkan.

Tindakan yang akan dilakukan oleh

pihak petugas kepolisian akan

berbeda dengan tindakan yang baru saja terjadi. Hal itu dilakukan karena harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi di lapangan, dimana

6

Hasil wawancara dengan Bripka Supandi, Kanit RESKRIM Polsek Banjar Agung Kab. Tulang Bawang 29 Nopember 2014. Pukul 13.00 pm.

(7)

perbedaan yang akan terlihat adalah dari segi penangananya. Pada kasus ini maka cara penangananya tidak lagi dengan cara menyebar anggota dengan membagi tugas

masing-masing dengan waktu yang

bersamaan dengan tujuan untuk langsung menemukan pelaku dari suatu perbuatan tindak pidana yang telah kabur bersama dengan barang bukti karena dalam hal ini sudah jelas dan terang siapa pelakunya. Tetapi jika kasus yang terjadi adalah kasus lama dan baru saja dilaporkan maka upaya yang dilakukan oleh kepolisian yang diutamakan untuk

menangani suatu kasus adalah

dengan melakukan penyelidiikan dan penyidikan dimana dalam hal ini yang berwenang adalah bagian fungsi dari intelejen dan reserse.

Pelaksanaan dalam hal ini memang banyak dilimpahkan kepada bagian fungsi intelejen dan reserse namun tak jarang dari bagian fungsi yang lain ikut turut membantu karena keterbatasan jumlah personil. Berikut ini adalah fungsi dari masing-masing bagian fungsi yang akan menangani suatu perkara:

1. Bagian fungsi Intelejen 2. Bagian Fungsi Reserse

Bagian ini bertugas melakukan

penangkapan, penyelidikan dan

penyidikan sesuai aturan8.

Menurut H.L Packer

Penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana menyatakan juga

tentang pentingnya penggunaan

sanksi pidana yaitu:

1. Sanksi Pidana sangatlah

diperlukan, kita tidak dapat hidup

8

Hasil wawancara dengan Brigpol Rahmat, Banit RESKRIM Polsek Banjar Agung Kab. Tulang Bawang 29 Nopember 2014. Pukul 14.00 pm.

sekarang ataupun dimasa yang akan datang tanpa hukum pidana.

2. Sanksi Pidana Merupakan alat atau sarana yang terbaik dan yang tersedia, yang kita miliki untuk menghadapi bahaya besar dan segera

untuk menghadapi

ancaman-ancaman dari bahaya itu.

3. Sanksi pidana suatu ketika

merupakan penjamin utama atau yang terbaik dan suatu ketika merupakan pengancam yang utama dari kebebasan manusia9.

Kepolisian selanjutnya yang

berperan dalam penyidikan akan membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), nantinya ketika berkas sudah lengkap akan diberikan kepada jaksa penuntut umum sampai di bawa ketahap pengadilan.

Penulis sependapat dengan para responden, Jadi dapat dipahami bahwa perlakuan ini mengandung dua tujuan pokok, yaitu sebagai upaya pencegahan dan penyadaran terhadap pelaku kejahatan agar tidak melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi dimaksudkan agar si pelaku kejahatan ini di kemudian hari tidak lagi melakukan pelanggaran hukum, baik dari pelanggaran-pelanggaran yang mungkin lebih besar merugikan masyarakat dan pemerintah.

Langkah dalam penanggulangan

selain upaya Penal yaitu:

a. Upaya Non Penal

Upaya non penal adalah upaya

penanggulangan kejahatan yang

bersifat preventif dan pre-emtif, yait upaya-upaya pencegahan terhadap

kemungkinan kejahatan yang

dlakukan sebelum terjadinya

9Abdulkadir Muhammad. Politik Hukum

(8)

kejahatan.Meskipun demikian apabila pencegahan diartikan secara luas maka tindakan represif yang

berupa pidana terhadap pelaku

kejahatan dapatlah dimaksudkan agar

orang yang bersangkutan dan

masyarakat pada umumnya tidak melakukan tindak pidana10.

1) Upaya Preventif

Penanggulangan kejahatan secara

preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya atau timbulnya kejahatan

yang pertama kali. Mencegah

kejahatan lebih baik daripada

mencoba untuk mendidik penjahat

menjadi lebih baik kembali,

sebagaimana semboyan dalam

kriminologi yaitu usaha-usaha

memperbaiki penjahat perlu

diperhatikan dan diarahkan agar tidak terjadi lagi kejahatan ulangan. Sangat beralasan bila upaya preventif diutamakan karena upaya preventif dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa suatu keahlian khusus dan ekonomis. Upaya preventif (pencegahan), yaitu untuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap pencurian. Pecegahan lebih baik daripada pemberantasan, pencegahan dalam pencurian kendaraan bermotor dapatdengan cara, seperti pembinaan dan pengawasan dalam keluarga,

penyuluhan oleh pihak yang

berkompetensi. Hal itu bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan

kasus pencurian kendaraan

bermotor11.

Supandi Memaparkan bahwa upaya yang dilakukan di Polsek Banjar Agung jika dilakukan dengan sarana

non penal yaitu dengan

10

Barda Nawawi Arief, Op.Cit. 2001.hal.73

11

R. Soesilo, soerjono,Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-Delik Khusus, Bogor, Politeia, 1984, hlm.95

menggunakan upaya preventif, yaitu

upaya yang dilakukan sedini

mungkin untuk pencegahan terhadap kemungkinan akan terjadi suatu perbuatan tindak pidana. Hal yang dilakukan pada saat ini yaitu:

1. Patroli

memberikan pendekatan kepada

masyarakat melelui dialog ataupun

penyuluhan-penyuluhan mengenai

bahaya dan rawan akan tindak pidana

pencurian kendaraan bermotor.

Pemberian sepanduk dan peringatan berupa anjuran untuk memberi kunci tambahan serta suatu peraturan kampung dimana harus memberi peringatan kepada para pemilik rumah kontrakan untuk melakukan laporan jika ada tamu lebih dari 2x24 jam hal ini dilakukan karena melihat di pusat Kota Tulang bawang merupakan daerah yang maju dengan berbagai etnis penduduk yang berasal dari pendatang yang ingin mencari pekerjaan dan hidup mengontrak rumah disini13.

Nikmah Rosidah berpendapat dalam suatu kelompok ataupun sekumpulan msyarakat memang harus ada suatu aturan yang harus mengaturnya demi tujuan akan memberikan keamanan

12

Hasil wawancara dengan Bripka Supandi, Kanit RESKRIM Polsek Banjar Agung Kab. Tulang Bawang 29 Nopember 2014. Pukul 13.00 pm.

13

(9)

dan ketertiban untuk kepentingan bersama. Tidak bisa dipungkiri bahwa Tulang Bawang merupakan daerah dengan beberapa pekerjaan dengan gaji yang tinggi, hal itu akan membuat para penduduk dari luar daerah tersebut akan berdatangan14.

B.Faktor-Faktor Penghambat Kepolisian di POLSEK Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang dalam Menanggulangi Tindak Pidana pencurian Kendaraan Bermotor

a. Faktor Penegak Hukum

Berdasarkan wawancara dengan

responden supandi, suatu aturan akan sia-sia ketika diberlakukan jika dari

sisi penegak hukumnya tidak

menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Dari kasus yang telah ada di karenakan jumlah personil di Polsek banjar Agung yang kekurangan personel membuat tidak efektif

pekerjaan dibidangnya

masing-masing. Sering kali dari bagian terutama Reserse akan merangkap tugas sebagai bagian intelejen untuk melakukan penyelidikan, begitupun dengan bagian fungsi yang lain15. Nikmah rosidah memaparkan akan pentingnya penegak hukum, melihat penegakan hukum yang ada pada

saat ini memang sedikit

memprihatinkan karena tidak jarang dari penegak hukum lah yang ikut campur dalam bidang kotor seperti memberikan izin untuk kegiatan negatif yang dilarang seperti judi dan tempat hiburan, dalam kebanyakan

14

Hasil wawancara dengan Nikah Rosidah. Akademisi Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung, 04 Nopember 2014. Pukul 13.00 pm.

15

Hasil wawancara dengan Bripka Supandi, Kanit RESKRIM Polsek Banjar Agung Kab. Tulang Bawang 29 Nopember 2014. Pukul 13.00 pm.

kasus yang terungkap para pelaku tindak pidana memiliki seseorang dibelakangnya dari salah seorang penegak hukum untuk melindungi prakteknya. Hal itulah yang harusnya ditindak tegas dan harus diluruskan agar para penegak hukum bisa sejalan dengan perturan yang ada16.

Penulis sependapat dengan

responden Nikmah Rosidah, dalam

melakukan pekerjaan sudah

selayaknya para penegak hukum mengabdikan dirinya kepada bangsa

dan negara demi kepentingan

rakyat.Tindakan tegas harus

diberlakukan kepada para penegak hukum yang kotor agar timbul

kemanan dan ketertiban bagi

masyarakat.

b. Faktor Sarana dan Fasilitas dalam Penegakan Hukum

Berdasarkan wawancara dengan

responden Rahmat, Polsek Banjar Agung memiliki ruang lingkup yang cukup luas di Daerah Tulang bawang.Untuk luas wilayah yang ada di tulang bawang memang terjadi ketidak seimbangan antara jumlah personil di Polsek banjar Agung dengan luas wilayah di Tulang Bawang. Sering kali dari pihak kepolisian susah untuk menjangkau daerah pedesaan yang terutama daerah yang di pedalaman untuk melakukan patroli, penjagaan dan

razia. Hal tersebut sering

dimanfaatkan oleh para pelaku

kejahatan untuk melancarkan

aksinya. Untuk suatu ruang lingkup Polsek di Tulang Bawang seharusnya

minimal memiliki personil 80

anggota yang terbagi dalam setiap

16

(10)

bagian akan tetapi pada saat ini Polsek tulang Bawang Hanya meiliki 43 personil. Sarana berupa kendaraan juga tidak menunjang dikarenakan kondisi jalanan yang rusak di sebagian wilayah Tulang Bawang sehingga susah untuk di tempuh

karena kurangnya armada

transportasi. Hal ini juga akan

menghambat proses dalam

penyelidak dan penyidikan dalam setiap pengusutan suatu kasus17.

Nikmah Rosidah menyebutkan

bahwa dalam suatu kondisi wilayah yang memiliki medan yang luas dan infrastruktur jalan yang memiliki

medan yang jelek haruslah

dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai, karena dengan begitu maka akan mempermudah suatu

penegakan hukum yang akan

dilakukan pihak kepolisian18.

c. Faktor Masyarakat

Kesadaran hukum yang dimaksud berpangkal pada perasaan setiap individu yaitu bagaimana seharusnya perasaan hukum itu. Hal ini sesuai

dengan pendapat Stammler yang

menyatakan bahwa law cleary is

volition sehingga penerapan hukum terindikasi dari kemauan masyarakat untuk melakukanya. Dapat dikatakan

bahwa budaya hukum akan

mempengaruhi penolakan dan

penerimaan masyarakat terhadap

suatu peraturan hukum, hal ini penting diperhatikan karena tanpa masyarakat hukum akan kehilangan kewibawaan mengenai peraturanya.

17

Hasil wawancara dengan Brigpol Rahmat, Banit RESKRIM Polsek Banjar Agung Kab. Tulang Bawang 29 Nopember 2014. Pukul 14.30 pm.

18

Hasil wawancara dengan Nikah Rosidah. Akademisi Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung, 04 Nopember 2014. Pukul 13.00 pm.

Rahmat memaparkan bahwa dalam

penanggulanagan kejahatan

pencurian kendaraan bermotor dari

pihak kepolisian sanga

membutuhkan kerjasama dengan

masyarakat. Masyarakat dalam hal ini bisa berperan sebagai pelapor yang baik dan bersedia membantu proses penyelidikan dan penyidikan

ketika ada kejadian yang

bersangkutan dengan dirinya, hal tersebut bisa sebagai saksi atau juga sebagai korban bahkan pelaku.

Masyarakat sangat penting memiliki kesadaran dan kewaspadaan tentang

bahaya pencurian kendaraan

bermotor, selain dengan

menambahkan kunci tambahan di kendaraanya mereka juga harus waspada ketika bepergian. Dengan kondisi wilayah yang memiliki banyak titik rawan terutama di daerah yang susah untuk dijangkau pihak kepolisian itu akan membuat para pelaku kejahatan tidak segan untuk melakukan pencurian dengan kekerasan dalam kasus yang sering terjadi adalah pembegalan19.

Penulis sependapat dengan Rahmat, Masyarakat adalah faktor yang besar pengaruhnya dalam suatu penegakan hukum, jika kesadaran masyarakat akan hukum sudah tinggi maka akan sangat mudah bagi pihak kepolisian

untuk menangani perkara. Jadi

sangat dibutuhkan kerja sama yang baik diantara kedua belah pihak ini.

d. Faktor Kebudayaan

Supandi menjelaskan untuk wilayah Tulang Bawang terutama di daerah

19

(11)

pusat yaitu Unit Dua memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat

tinggi.Di lingkungan tersebut

memiliki berbagai perbadaan dalam hal, agama, suku, bahasa dan

sebagainya. Pertumbuhan

ekonomilah yang menjadikan hal tersebut terus berkembang dimana dari para perantau akan banyak yang

mencari pekerjaan di Tulang

Bawang.

Kondisi ini yang dimanfaatkan oleh

para penduduk setempat untuk

mendirikan bangunan seperti rumah,

atau kos-kosan yang nantinya

akandikontrakan kepada para

pendatang tersebut. Kebudayaan

yang kurang baik yang terjadi selama ini dilingkungan tersebut adalah membiarkan para tamu yang untuk singgah tersebut tanpa memberi laporan kepada ketua RT atau RW nya masing-masing. Kebiasaan yang meremehkan atas bahaya terhadap

orang asing seringkali menjadi

modus dari para pelaku pencuri untuk memanfaatkan situasi ini. Pelaku pencurian akan sangat leluasa untuk berkeliling di daerah tersebut dengan keadaan lingkungan yang

tidak memperhatikaanya dimana

ketika mereka menganggap situasi itu sudah pas dan saat orang-orang

lengah meninggalkan kendaraan

sembarangan tanpa kunci tambahan, maka pada saat itulah para pelaku melancarkan aksi pencurian20.

Nikamah Rosidah membenarkan

tentang situasi yang terjadi kepada daerah dengan perekonomian yang maju. Hal tersebut akan memicu banyaknya orang untuk berdatangan.

20

Hasil wawancara dengan Bripka Supandi, Kanit RESKRIM Polsek Banjar Agung Kab. Tulang Bawang 29 Nopember 2014. Pukul 13.00 pm.

Tidak menutup kemungkinan bahwa banyak pula dari sekian orang yang datang memiliki niat yang buruk, di Daerah Lampung sudah banyak daerah yang menjadi pusat para pelaku kejahatan tindak pidana

CURANMOR seperti Lampung

Timur dan kota Bumi bahkan mulai menjalar di Daerah Kabupaten lain. Kebudayaan yang seperti ini yang harus diwaspadai oleh masyarakat. Jangan menganggap semuanya itu

sama, harus siap siaga untuk

menghadapi segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya21.

Penulis sependapat dengan dengan kedua responden, Suatu kebudayaan

memang sangat baik untuk

dilestarikan. Akan tetapi dengan berkembangnya zaman di era pada saat ini, Kebudayaan justru akan banyak yang menyalahgunakanya. Sikap yang tanggap dan bisa

menyesuaikan diri terhadap

lingkungan sangatlah diharapkan

untuk situasi ini karena hal tersebut akan menjaga diri dan harta benda kita dari perbuatan yang tidak kita inginkan.

III. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan penulis dapat ditarik simpulan bahwa :

1. Upaya Kepolisian Sektor Banjar

Agung Kabupaten Tulang

Bawang dalam Penanggulangan

Tindak Pidana Pencurian

Kendaraan Bermotor adalah

dengan

21

(12)

Upaya penal, upayaini dilakukan setelah kejahatan terjadi yaitu

menindak dan memberantas

pencurian kendaraan bermotor

melalui jalur hukum, yang

dalakukan oleh penegak hukum

atau aparat keamanan yang

dibantu oleh masyarakat.Tindakan

yang dilakukan menggunakan

upaya represif, yang berperan aktif adalah bagian fungsi : Intelejen, Reserse dan Sabhara.

Upaya Non Penal yaitu

Penanggulangan kejahatan secara

preventif yangdilakukan untuk

mencegah terjadinya atau

timbulnya kejahatan yang pertama kali.Upaya ini meliputi Tindakan Patroli yaitu tindakan melalui pendeteksian, penindakan atau

represif, dialogis.Tindakan

Penjagaan dan Tindakan

Razia.Upaya pre-emtifadalah

penanganan kasus dengan cara pencegahan yang dilakukan secara dini, seperti penyuluhan dan

pemberian spanduk mengenai

bahaya pencurian kendaraan

bermotor dan penambahan kunci tambahahan.

2Faktor-Faktor Penghambat

Kepolisian di POLSEK Banjar

Agung Kabupaten Tulang

Bawang dalam Menanggulangi Tindak Pidana CURANMOR :

a. Faktor Sarana dan Fasilitas dalam Penegakan Hukum Wilayah tulang bawang yang luas dengan sebagian jalan yang rusak serta Kekurangan

Kendaraan mengakibatkan

pihak kepolisian susah untuk menjangkau daerah pedesaan

terutama daerah yang di

pedalaman untuk melakukan patroli, penjagaan dan razia.

b. Faktor Penegak Hukum

Kekurangan personel membuat

tidak efektif pekerjaan

dibidangnya masing-masing.

Sering kali dari bagian

terutama Reserse akan

merangkap tugas sebagai

bagian intelejen untuk

melakukan penyelidikan,

begitupun dengan bagian

fungsi yang lain. c. Faktor Masyarakat

Masyarakat adalah faktor yang besar pengaruhnya dalam suatu

penegakan hukum, jika

kesadaran masyarakat akan hukum sudah tinggi maka akan sangat mudah bagi pihak kepolisian untuk menangani perkara.

d. Faktor Kebudayaan

Kebiasaan yang meremehkan atas bahaya terhadap orang asing seringkali menjadi modus dari para pelaku pencuri untuk memanfaatkan situasi ini.Sikap

waspada dan tidak

(13)

Muhammad, Abdulkadir, 1999.

Politik Hukum Pidana.

Bandar Lampung, Universitas Lampung.

Nawawi Arief, Barda, 2001,

Masalah Penegakkan Hukum

dan ebijakan

Penanggulangan Kejahatan, Bandung, Citra Aditya Bakti.

Soekanto, Soerjono. 2007,Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Universitas Indonesia.

Soerjono. R. Soesilo,1984, Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-Delik Khusus, Bogor, Politeia.

B. Perundang-undangan

Undang-undang No. 1 Tahun 1946

tentang Kitab Undang-undang

Hukum Pidana (KUHP).

C. Website

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...