• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERUSAKAN HUTAN SERTA PERAN PEMERINTAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KERUSAKAN HUTAN SERTA PERAN PEMERINTAH "

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

KERUSAKAN HUTAN SERTA PERAN PEMERINTAH DAERAH

TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI KALIMANTAN

Makalah

Disusun Oleh :

Fornestor Mindaw

NIM : 101004244

JURUSAN ILMU SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ATMA JAYA

YOGYAKARTA

(2)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

KERUSAKAN HUTAN SERTA PERAN PEMERINTAH DAERAH

TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI KALIMANTAN

Makalah

Disusun Oleh :

Fornestor Mindaw

NIM : 101004244

JURUSAN ILMU SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ATMA JAYA

YOGYAKARTA

(3)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

KERUSAKAN HUTAN SERTA PERAN PEMERINTAH DAERAH

TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI KALIMANTAN

Makalah

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Ujian Akhir Semester

Mata Kuliah Penulisan Ilmiah Di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Atma Jaya

Disusun Oleh :

Fornestor Mindaw

NIM : 101004244

JURUSAN ILMU SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ATMA JAYA

YOGYAKARTA

(4)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan

karunia-Nyalah makalah yang berjudul “Kerusakan Hutan Serta Peran Pemerintah Daerah

Terhadap Pengelolaan Kawasan Hutan di Kalimantan” ini dapat diselesaikan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu, baik dalam bentuk materil maupun moril. Terutama bagi para penulis

dan para pemerhati lingkungan yang telah menyediakan referensi dan berbagai

data untuk menjadi bahan acuan dalam penulisan makalah ini. Sehingga

pembuatan karya tulis ini bisa berjalan dengan lancar dan pada akhirnya bisa

diselesaikan dengan baik.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini terutama untuk memenuhi syarat

mengikuti Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Penulisan Ilmiah di Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atam Jaya Yogyakarta. Selian itu, tujuan

lainnya adalah untuk menambah pengetahuan penulis serta para pembaca

mengenai keadaan hutan di Kalimantan.

Mengingat keterbatasan dan keterampilan penulis, maka mohon maaf apabila

dalam penyusunan makalah ini terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan.

Untuk itu, demi hasil yang lebih baik lagi di masa yang akan datang, penulis

sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak yang

membaca makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan mampu

memberikan kesadaran bagi para pembaca untuk lebih peduli terhadap lingkungan

terutama pada kawasan hutan.

Yogyakarta, 1 Desember 2010

(5)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ABSTRAKSI

Hubungan timbal balik antara hutan dan masyarakat di negara-negara

berkembang tergolong sangat tinggi. Indonesia merupakan salah satu contoh

negara berkembang. Ketergantungan masyarakatnya terhadap hutan jelas masih

tinggi, terutama masyarakat yang berada di luar pulau Jawa seperti di Kalimantan.

Namun luas hutan di Indonesia menyusut setiap tahunnya. Kementerian

Kehutanan mencatat kerusakan hutan selama 2009 mencapai 1,08 juta hektare per

tahun.

Melihat konteks hutan di Kalimantan, yang nota bene masyarkatnya masih

sangat tergantung akan hasil hutan dalam kehidupan sehari-hari, setiap tahunnya

luas hutan itu semakin berkurang. Tentunya deforestasi hutan yang ada, terjadi

secara tidak wajar. Hutan yang dulunya lebat berganti menjadi perkebunan kelapa

sawit dan ladang pertambangan. Menurut perhitungan Kemenhut, jumlah

deforestasi hutan Kalimantan dari tahun 2000 hingga 2005 sekitar 1.230.100

hektare, dengan rata-rata (tahun 2000 sampai 2005) 246.020 hektare per tahun.

Sumber lain seperti WWF menyebutkan, dari 73,7 persen hutan di Kalimantan

pada tahun 1985, pada tahun 2010 luas hutan berkurang menjadi 44,4 persen.

Apabila dikaitkan dengan bencana seperti banjir dan tanah longsor yang

marak terjadi di Kalimantan lima sampai sepuluh tahun terakhir, deforestasi

disinyalir menjadi penyebab utamanya. Adapun deforestasi tersebut terjadi,

sekitar 80 persen disebabkan ekspansi kelapa sawit oleh perusahaan besar, dan 20

persennya akibat pertambangan dan area transmigrasi. Ini merupakan hal yang

perlu untuk diteliti terkait kontrol dan kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda)

terhadap pengelolaan kawasan hutan di Kalimantan.

Untuk mempermudah dalam memahami tentang isi dari kajian dalam tulisan

ini, kata kunci yang harus dipahami oleh pembaca di antaranya adalah hutan,

(6)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

ABSTRAKSI ... iii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Permasalahan ... 4

1.3 Tujuan ... 5

1.4 Metode Pengumpulan Data ... 5

1.5 Sistematika Penulisan ... 5

BAB II PEMBAHASAN ... 7

2.1 Deskripsi Pulau Kalimantan ... 7

2.2 Penyebab Kerusakan Hutan di Kalimantan serta Hubungannya dengan Bencana Alam yang Terjadi ... 8

2.3 Kontrol dan Kebijakan Pemerintah Daerah terkait Kerusakan Hutan di Kalimantan ... 13

BAB III SIMPULAN DAN SARAN ... 19

3.1 Simpulan ... 19

3.2 Saran ... 20

(7)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di negara-negara berkembang, hubungan timbal balik antara hutan dan

masyarakat masih sangat kuat. Indonesia merupakan salah satu contoh negara

berkembang. Ketergantungan masyarakatnya terhadap hutan jelas masih tinggi,

terutama di luar pulau Jawa, contohnya di Kalimantan. Namun luas hutan di

Indonesia menyusut setiap tahunnya. Kementerian Kehutanan mencatat kerusakan

hutan selama 2009 mencapai 1,08 juta hektare per tahun. Menurun dari data

kerusakan hutan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 2 juta hektar per

tahun.1 Dalam tulisan ini, hutan yang dimaksud sama artinya dengan kawasan

hutan. Kawasan hutan sendiri adalah wilayah tertentu yang berupa hutan, yang

ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya

sebagai hutan tetap. Kawasan hutan perlu ditetapkan untuk menjamin kepastian

hukum mengenai status kawasan hutan, letak batas dan luas suatu wilayah tertentu

yang sudah ditunjuk sebagai kawasan hutan menjadi kawasan hutan tetap.

Penetapan kawasan hutan juga ditujukan untuk menjaga dan mengamankan

keberadaan dan keutuhan kawasan hutan sebagi penggerak perekonomian lokal,

regional dan nasional serta sebagai penyangga kehidupan lokal, regional, nasional

dan global.2

Kawasan Hutan Indonesia ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dalam bentuk

Surat Keputusan Menteri Kehutanan tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan

Perairan Propinsi. Penunjukan Kawasan Hutan ini disusun berdasarkan hasil

pemaduserasian antara Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) dengan

Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Penunjukkan kawasan hutan mencakup

(8)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

pula kawasan perairan yang menjadi bagian dari Kawasan Suaka Alam (KSA) dan

Kawasan Pelestarian Alam (KPA).3 Sehingga jelas bahwa kawasan hutan setiap

propinsi ditetapkan langsung oleh pusat (Kementrian Kehutanan), begitu juga

halnya dengan kawasan hutan yang berada di Kalimantan. Seharusnya, dalam

menentukan kebijakan dan mengontrol pengelolaan kawasan hutan, Kementrian

Kehutananlah yang harus bertanggung jawab kepada rakyat.

Jika yang dilihat adalah dalam konteks kawasan hutan yang ada di

Kalimantan, fakta menunjukkan bahwa laju kerusakan hutan yang ada saat ini

tergolong sangat tinggi. Menurut data Kementerian Kehutanan, kerusakan hutan

akibat penebangan dan alih fungsi kawasan hutan (deforestasi) di Indonesia

rata-rata 1,2 juta hektare per tahun. Angka tersebut membawa hutan Indonesia dalam

keadaan yang sangat kritis. Padahal apabila dilihat secara cermat, khususnya di

Kalimantan, baik dalam memenuhi kebutuhan memasak, maupun kebutuhan akan

hasil kayu, pohon-pohon di hutan menjadi sangat penting. Kebutuhan memasak

ini dibagi menjadi kebutuhan langsung dan tidak langsung. Kebutuhan secara

langsung contohnya pada masyarakat Dayak di pedalaman. Hasil hutan diolah

secara alamiah untuk makanan sehari-hari. Sedangkan kebutuhan makanan tidak

langsung misalnya dengan mengolah karet alam untuk dijual dan kemudian hasil

penjualan digunakan dalam membeli kebutuhan hidup sehari-hari.4

Kemudian

kebutuhan terhadap hasil kayu. Masyarakat pedalaman di Kalimantan mengolah

hasil hutan seperti kayu ulin untuk dijadikan bahan utama pembuatan rumah

mereka. Selain di pedalaman, di daerah perkotaanpun masih banyak yang

menggunakan kayu sebagai kerangka utama pembuatan rumah.

Bahkan di sebagian besar negara-negara berkembang, sebenarnya setiap

keluarga menggunakan kayu untuk sebagian atau seluruh kegiatan memasak. Di

sebagaian besar negara bagian “dunia ketiga”, penggunaan kayu dan arang tetap

3

Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan, Badan Planologi Kehutanan DEPARTEMEN KEHUTANAN 2002.

4

(9)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

menonjol untuk bahan bakar memasak. Industri seperti pengeringan tembakau,

pengeringan teh dan kopi, industri bata dan genteng, semuanya menggunakan

bahan bakar kayu. Di kota-kota terdapat restoran, warung teh, toko roti, dan

perusahaan komersial lainnya yang memerlukan arang dan kayu bakar, dalam hal

ini semakin menambah permintaan jumlah kayu bakar. Di negara sangat miskin,

jumlah kayu bakar yang digunakan masyarakatnya mencapai lebih 90% dari total

konsumsi energi yang digunakan (Awang, 2004: 11).5

Selain kebutuhan akan hutan dalam hal memasak dan pengolahan hasil kayu

oleh masyarakat di Kalimantan, secara global, hutan juga memiliki peranan

penting dalam hal menjaga keseimbangan dan kesehatan lingkungan. Hutan sering

disebut sebagai paru-paru dunia. Jika kita analogikan dengan manusia, dapat

dibayangkan apabila paru-paru manusia tersebut menjadi rusak. Jelas paru-paru

yang rusak ini dapat menyebabkan manusia menjadi tidak sehat, dan begitu juga

halnya dengan hutan. Hutan yang semakin rusak berimplikasi terhadap

keseimbangan dan kesehatan lingkungan. Hutan merupakan salah satu komponen

kunci yang mengatur peredaran karbon dunia. Jumlah dan luas hutan menentukan

keadaan iklim di dunia. Hutan berkontribusi dalam hal keseimbangan alam dan

lingkungan serta berfungsi menahan air tanah supaya tidak terjadi banjir. Pada

saat sumberdaya pohon-pohonan semakin berkurang, persediaan produk-produk

utama dari pohon menjadi semakin langka, dan bentang alam akan lebih mudah

mengalami erosi dan degradasi.

Kembali melihat konteks hutan di Kalimantan, yang nota bene masyarkatnya

masih sangat tergantung akan hasil hutan dalam kehidupan sehari-hari, setiap

tahunnya luas hutan itu semakin berkurang. Tentunya deforestasi hutan yang ada,

terjadi secara tidak wajar. Hutan yang dulunya lebat berganti menjadi perkebunan

kelapa sawit dan ladang pertambangan. Menurut perhitungan Kemenhut, jumlah

deforestasi hutan Kalimantan dari tahun 2000 hingga 2005 sekitar 1.230.100

hektare, dengan rata-rata (tahun 2000 sampai 2005) 246.020 hektare per tahun.

5 Awang, S.A. 2005.

(10)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sumber lain seperti WWF menyebutkan, dari 73,7 persen hutan di Kalimantan

pada tahun 1985, pada tahun 2010 luas hutan berkurang menjadi 44,4 persen.

Apabila dikaitkan dengan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang

marak terjadi di Kalimantan lima sampai sepuluh tahun terakhir, deforestasi

disinyalir menjadi penyebab utama bencana yang ada. Adapun deforestasi tersebut

terjadi, menurut sebuah lembaga peduli lingkungan, Save Our Borneo (SOB),

sekitar 80 persen disebabkan ekspansi kelapa sawit oleh perusahaan besar, dan 20

persennya akibat pertambangan dan area transmigrasi. Ini merupakan hal yang

perlu untuk diteliti terkait kontrol dan kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda)

terhadap pengelolaan kawasan hutan di Kalimantan.

Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti mengenai KERUSAKAN

HUTAN SERTA PERAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP

PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI KALIMANTAN. Perlu untuk

dibatasi bahwa yang dimaksud dengan Pemerintah Daerah tersebut hanya dalam

lingkup empat propinsi yang ada di Kalimantan. Selain itu, yang menjadi sampel

dari penelitian ini hanya sebatas pada empat tingkat propinsi dan beberapa

kabupaten yang ada di Kalimantan, dan tidak mencakup kelseluruhuannya, tetapi

dapat menjadi tolak ukur atau acuan penyebab kerusakan hutan di Kalimantan.

1.2 Permasalahan

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai

berikut :

a. Apa yang menyebabkan deforestasi hutan di Kalimantan tergolong sangat

tinggi sehingga berakibat pada maraknya bencana alam yang terjadi ?

b. Bagaimana peran, dalam hal ini, kontrol dan kebijakan Pemerintah Daerah

(11)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

1.3 Tujuan

a. Untuk memenuhi syarat mengikuti Ujian Akhir Semester mata kuliah

Penulisan Ilmiah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

b. Memberi informasi kepada pembaca tentang keadaan hutan di Kalimantan

serta kaitannya dengan bencana alam yang terjadi beberapa tahun terakhir.

c. Untuk mengetahui peran Pemerintah Daerah dalam mengontrol berbagai

bentuk pengelolaan hutan Kalimantan.

1.4 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikemukakan dalam karya tulis ini diperoleh melalui berbagai

macam metode. Pertama, dengan membaca buku-buku sumber yang ada

hubungannya dengan kerusakan hutan. Selain buku, ada juga majalah, koran , dan

berbagai informasi yang berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah yang ada

di Kalimantan. Kedua, data juga diperoleh melalui observasi yang dilakukan oleh

penulis selama berada di Kalimantan. Dalam pengumpulan data ini juga tidak

terlepas dari sumber-sumber dari di internet yang bisa untuk dipertanggung

jawabkan.

1.5 Sistematika Penulisan

Perlu untuk diketahui bahwa karya tulis ini disusun dengan urutan sebagai

berikut.

Bab I Pendahuluan, menjelaskan tentang latar belakang masalah, permasalahan,

tujuan penulisan, metode pengumpilan data, dan sistematika penulisan.

Bab II Pembahasan, menjelaskan dan memaparkan tentang deskripsi Pulau

Kalimantan pada umumnya, membahas tentang penyebab terjadinya

kerusakan hutan di Kalimantan serta hubungannya dengan bencana alam yang

(12)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

pemerintah daerah terkait kerusakan hutan di Kalimantan serta solusi yang

ditawarkan.

Bab III Simpulan dan Saran, memuat tentang kesimpulan dari pokok masalah

yang dibahas dalam karya tulis ini serta saran dari penulis terkait pengelolaan

(13)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Pulau Kalimantan

Kalimantan merupakan bagian wilayah Indonesia yang ada di Pulau Borneo

dan meliputi 73 persen massa daratan pulau tersebut. Secara geografis pulau

Kalimantan terletak di antara 40 24` LU - 40 10` LS dan di antara 1080 30` BT -

1190 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535.834 km2. Berbatasan langsung

dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara, yang panjang

perbatasannya mencapai 3000 km. Pulau Kalimantan yang mencakup daerah

pegunungan atau perbukitan sekitar 39,69 %, daratan 35,08 %, sisanya dataran

pantai dan dataran aluvial masing-masing 11,73 % dan 12,47 %, dan lain–lain

sekitar 0,93 %. Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara adalah daerah

pegunungan tinggi dengan lereng yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan

hutan lindung yang perlu untuk dipertahankan agar dapat berperan sebagai

cadangan air di masa yang akan datang.

Pegunungan utama sebagai kesatuan ekologis di Kalimantan adalah

Pegunungan Muller, Schwaner, Pegunungan Iban dan Kapuas Hulu serta di

bagian selatannya terdapat Pegunungan Meratus. Sejumlah sungai besar

merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan

hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import.

Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah Sungai-sungai

Kapuas (1.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan

Barat.

Kalimantan merupakan salah satu daerah yang memiliki hutan alam terbesar.

Pada tahun 2007, dalam buku laporan State of the World's Forests, FAO (Food

and Agricultural Organization) menempatkan Indonesia di urutan ke-8 dari

(14)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

termasuk dalam golongan “hutan hujan tropis”, dan pada umumnya menghasilkan

kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Selain itu pada hutan karet alam,

yang dapat dihasilkan tentu saja karet alam itu sendiri, yang menjadi mata

pencaharian utama masyarakat pedalaman Kalimantan.

Kalimantan terbagi menjadi empat propinsi, yaitu Kalimantan Barat,

Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, luas seluruhnya

mencapai 549.032 km2. Luasan ini merupakan 28 % dari seluruh daratan

Indonesia. Kementerian Kehutanan menyebutkan, saat ini terdapat 500 kabupaten

di Kalimantan, meningkat lebih dari 100 % dari sebelumnya yang hanya 200

kabupaten.

2.2 Penyebab Kerusakan Hutan di Kalimantan serta Hubungannya dengan

Bencana Alam yang Terjadi

Persaingan antar negara untuk melakukan investasi produktif dalam

perekonomian global tentu saja ditandai oleh perbedaan antara struktural negara

maju dan negara berkembang. Kita telah mengetahui bahwa alat ukur investasi

muthakir seperti Gross Domestic Product (GDP) tidak memberikan pengukuran

terhadap nilai investasi tersebut. Namun, tertipu oleh pertumbuhan GDP dan

didorong oleh kebutuhan sosial-ekonomi yang lebih besar, negara-negara

berkembang seperti Indonesia terbukti lebih bersedia menerima investasi yang

menimbulkan dampak negatif seperti eksploitasi kawasaan hutan alam menjadi

perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Akibatnya, hutan yang dieksploitasi

semakin mengalami tingkat deforestasi yang tinggi dan tidak terkendali serta tidak

memiliki efektifiktas bagi masyarakat.6

6

(15)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hutan merupakan hal yang esensial

bagi kehidupan manusia. Hutan dapat menyediakan barang dan jasa sebagai

material dasar untuk pembangunan. Pada saat yang sama, hutan memiliki

kekayaan hewan yang sering diburu oleh manusia, dan hutan juga dijadikan

sebagai wilayah tempat pengembangan areal pertanian. Saat ini, banyak negara di

“dunia ketiga” telah membuktikan bahwa penekanan pada kegiatan industri kehutanan tidak menghasilkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pedesaan

akan hasil hutan. Penyebabnya karena sebagian besar program kehutanan

dikembangkan untuk kepentingan pemerintah tanpa melakukan konsultasi dengan

penduduk dan pada umumnya mengabaikan peran serta masyarakat dalam

perlindungan sumber daya hutan (Rao, 1984).7 Salah satu yang menjadi korban

dari program tersebut adalah hutan di Kalimantan.

Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan dengan negara asing,

maka Kalimantan mempunyai masalah yang terkait dengan ”illegal trading” dan

”smugling”, apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju dengan pesat. Selain itu, pesoalan ”illegal logging” yang

terjadi hingga akhir tahun 2008 sangat merusak potensi sumber daya alam (hutan

tropis). Di samping masalah dalam konteks ”illegal” tersebut, pulau Kalimantan

juga mempunyai potensi lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerja sama

ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai, Indonesia, Malaysia, Philipina –

Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalur perdagangan laut internasional

ALKI-1 dan ALKI-2 (http://saveourborneo.com, dikases 1 November 2010)8

Berdasarkan prediksi setiap sepuluh tahunan, dari luas areal pulau

Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan (deforestasi)

minimal telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau sekitar 2,16 persen.

Kerusakan hutan yang terjadi di Propinsi Kalimantan Tengah tercatat sebagai

yang terluas dibanding tiga propinsi lain dari sisi luasan kerusakan, yaitu

7

Awang, S.A. 2005. Dekonstruksi Sosial Forestri : Reposisi Masyarakat dan Keadilan lingkungan. Yogyakarta: BIGRAF Publishing & Program Pustaka.

8

(16)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

mencapai 256 ribu hektare per tahun. Kalimantan Tengah, dari 10 juta hektare

luas hutan yang ada, laju kerusakannya mencapai sekitar 2,2 persen per tahun.

Sementara Propinsi Kalimantan Selatan, memiliki laju kerusakan yang paling

cepat dibanding propinsi lain, meski luasannya relatif kecil. Tercatat seluas 66,3

ribu hektare hutan musnah per tahun dari luas total hutan Kalsel yang mencapai 3

juta hektare. Kondisi yang hampir serupa terjadi di tiga propinsi lain, walaupun

dengan luas dan laju yang berbeda. Penyebab utamanya karena pembukaan

pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit (Save Our Borneo: 2008).

Kalimantan Barat misalnya, dari luas wilayah hutan yang mencapai 12,8 juta

hektare, deforestasinya mencapai 166 ribu hektare per tahun atau sekitar 1,9

persen. Kegiatan eksploitasi hutan secara berlebihan ini, selain mengakibatkan

hutan menjadi rusak parah, juga berdampak pada terjadinya bencana banjir dan

tanah longsor.

Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan/sesar

dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya

lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993), kemungkinan yang sering terjadi

adalah erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwaner dan Gunung Benturan,

serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di

Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan

timur. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau

sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan

tropis. Beberapa tahun terakhir, bahkan hampir seluruh propinsi dan kabupaten di

Kalimantan mengalami banjir. Di kabupaten Kapuas Hulu (Kalbar) misalnya,

hampir 90 % wilayahnya dilanda banjir (Borneo Tribune, 2010). Padahal, sekitar

delapan tahun yang lalu tidak pernah ada banjir sebesar itu, walaupun sebenarnya

tanda-tanda akan adanya bencana banjir besar sudah mulai terasa.

Lahan yang luas di Kalimantan telah dieksploitasi secara buruk. Operasi

pembalakan yang dikelola dengan buruk serta rencana-rencana pertanian yang

gagal, telah meninggalkan bekas-bekasnya pada bentang lahan di Kalimantan.

(17)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

menjadi merah dan ditinggalkan. Padahal, semula lahan-lahan tersebut ditumbuhi

hutan yang sangat lebat, dan akibat dari eksploitasi tersebut, setiap tahunnya

padang alang-alang menjadi kering dan terbakar. Akibatnya hutan tidak mendapat

kesempatan untuk melakukan regeneresi, dan padang rumput terus bertambah

luas. Tidak dapat dipungkiri, kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan,

penyebab utamanya adalah perluasan kegiatan pertanian pangan, perluasan

kegiatan peternakan, meningkatnya permintaan atau tuntutan untuk hasil-hasil

hutan komersial dan non komersial, perluasan areal perkebunan swasta dan

negara, dan pembukaan wilayah untuk transmigrasi. Namun menurut berbagai

organisasi pemerhati lingkungan hidup, deforestasi lebih disebabkan oleh

pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan illegal

logging (pembalakan hutan secara liar).

Selain itu, banyaknya perkebunan kelapa sawit yang menggunakan Amdal

(Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang “kadaluarsa”, salah satu contohnya yang ada di Kalteng, semakin memperburuk kondisi hutan Kalimantan.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kalteng, Moses Nicodemus,

menyampaikan bahwa sampai saat ini masih banyak perusahaan perkebunan

kelapa sawit yang beroperasi di Kalteng dan tidak mengurus analisis mengenai

dampak lingkungan, padahal Amdal merupakan syarat khusus untuk operasi

sebuah perusahaan perkebunan. Menurut data resmi Pemprop Kalteng, terdapat

sekitar 314 unit perkebunan besar swasta (PBS) sawit yang menguasai areal

seluas 3,854 juta hektar. Dari jumlah itu, baru 117 unit yang telah melakukan

kegiatan operasional dengan luas lahan tanam sekitar 1,455 juta hektar

(Banjarmasin Post, 1 September 2010).

Contoh yang serupa misalnya di Kalbar, organisasi Wahana Lingkungan

Hidup (Walhi) Kalbar memprediksi perampasan tanah oleh pemilik perusahaan

perkebunan berskala besar penyebab kerusakan lingkungan hidup di Kalbar.

Menurut catatan Walhi Kalbar, dalam kurun 13 tahun terakhir telah terjadi 6.632

(18)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

2010 telah terjadi 630 konflik terkait perkebunan sawit, dan sebanyak 200 konflik

digolongkan sebagai konflik perkebunan monokultur.

Dapat dilihat dari meningkatnya kerusakan hutan di Kalimantan, penyebab

utama yang selalu menjadi sasaran dan tentunya beralasan yang kuat, pertama

yaitu pembukaan areal perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Kedua, akibat

dari pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan yang

baru, menarik masyarakat luar Kalimantan untuk pindah dan berdomisili di daerah

tersebut. Tentu hal ini berkaitan dengan transformasi kawasan hutan untuk

dijadikan wilayah pemukiman para pendatang. Sehingga transmigrasi juga

merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang ada di Kalimantan selain

karena pembukaan areal perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ada baiknya produksi karet alam harus

diutamakan, karena merupakan salah satu komoditi ekspor utama yang mampu

memberikan kontribusi untuk meningkatkan devisa negara.9 Selain itu,

perkebunan karet juga tidak merusak struktur tanah, dan pohonnya juga

merupakan salah satu unsur yang membentuk wilayah yang disebut hutan. Perlu

juga untuk diketahui bahwa akar-akar dari pohon karet juga berfungsi untuk

menyerap air tanah dan bisa untuk menahan dan mencegah terjadinya banjir.

Dalam hal ini, pemerintah harus mau berkoordinasi dan belajar langsung dari

masyarakat pedalaman di Kalimantan untuk mengelola hutan atau perkebunan

karet alam. Sepertinya, pengembangan perkebunan karet alamlah satu-satunya

solusi bagi pencegahan kerusakan hutan dan bencana banjir di Kalimantan (bila

perlu di wilayah yang lain). Alasannya, dalam penanaman karet alam, kita tidak

perlu menghancurkan kawasan hutan alami, tetapi tunas karet alam langsung

ditanam di areal hutan alami dan penanaman itu tidak akan mempengaruhi

9

Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2,2 juta ton. Meskipun demikian, menurut perkiraan IRSG, pasokan karet alam akan terjadi kekurangan pada dua dekade mendatang. Hal ini yang menjadi kegalauan besar banyak pihak (konsumen) terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear, dan Michellin. Oleh sebab itu pada 2004 IRSG membentuk REP untuk melakukan studi tentang permintaan-penawaran karet hingga 2035.

(19)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

kesuburan tanah. Selain itu, karet alam akan bisa langsung menjadi kontras dan

padu dengan hutan alami sebelumnya.10

2.3 Kontrol dan Kebijakan Pemerintah Daerah terkait Kerusakan Hutan di

Kalimantan

Kalangan ekologi politik berpendapat bahwa masyarakat maju telah

membawa bumi menuju kehancuran. Alasannya adalah karena angka produksi

dan konsumsi masyarakat maju jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat di

negara-negara berkembang.11 Selain itu, angka penggunaan sumber daya dan

penyebab pencemaran lingkungan juga tinggi. Ditambah lagi, negara-negara

berkembang sangat tertarik dengan gaya hidup negara maju, dengan

berpandangan bahwa tingkat produksi dan konsumsi yang tinggi menjadi tolak

ukur dari gaya hidup negara maju tersebut. Kritik ekologisme terhadap

masyarakat industri modern dapat diringkas dalam klaim bahwa kecenderungan

industrialisme untuk memperluas produksi dan konsumsi tidak sejalan dengan

sifat terbatas planet ini. Cepat atau lambat, batas-batas perluasan itu akan tercapai,

pada saat sumber daya habis, atau kemampuan planet ini untuk menyerap limbah

beracun juga habis, lingkungan dirampas dan kualitas hidup manusia memburuk.12

Salah satu unsur penting dalam ekologi adalah hutan, yang memiliki fungsi

serta manfaat besar dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan seimbang.

10

Pada masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan, ladang berpindah bertujuan untuk menambah perkebunan karet alam. Setelah areal hutan ditebang dan dibakar untuk dijadikan ladang padi tradisional, bekas ladang tersebut ditanami dengan karet alam dan berbagai pohon buah-buahan. Maka sebenarnya selain untuk memberi kesempatan kepada hutan untuk bereproduksi, orang Dayak melakukan investasi yang sehat. Di samping itu, apabila hal yang

serupa diterapkan di seluruh masyarakat di Indonesia, kegiatan sperti “Gerak Tanam Seribu Pohon” tidak perlu untuk dilakukan, karena hanya menghabis-habiskan dana dan hasilnya belum tentu maksimal.

11

Sebagai contoh, menurut Ted Trainer, tiap warga AS menggunakan energi 617 kali lipat per tahun dibandingkan warga Ethiopia.

(20)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Lingkungan yang sehat dan seimbang dapat tercipta jika bencana alam seperti

halnya erosi dan banjir tidak sering terjadi dalam suatu wilayah. Di Kalimantan

yang sebagian besar wilayahnya meliputi hutan alam, selama dua tahun

belakangan (sejak 2008) bencana alam seperti banjir sudah mencapai tingkat yang

sangat parah. Walaupun hutan-hutan yang ada, seperti yang telah diketahui,13

banyak mengalami deforestasi. Hutan-hutan yang ada di Kalimantan tentu saja

dikolola dan berada di bawah tanggung jawab Kementerian Kehutanan

(Kemenhut). Namun yang menjadi persoalan, tumpang tindih kebijakan tata ruang

dan kawasan hutan serta tidak patuhnya daerah terhadap peraturan pusat

mengakibatkan sulitnya pengendalian kerusakan hutan di lapangan. Sehingga

analisisnya bahwa perintah daerah memegang peranan penting dalam mengontrol

dan menentukan kebijakan terkait pengelolaan hutannya masing-masing.14

Sebagai bahan pertimbangan dan dasar dari pemikiran yang dipaparkan, misalnya

tentang hutan kemasyarakatan tahun 1995 sampai 2004.

Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) sendiri dimulai pada tahun 1995

oleh Departemen Kehutanan (sekarang Kementrian Kehutanan). Program ini

muncul karena banyak desakan dari publik agar institusi kehutanan lebih

meningkatkan kepeduliannya kepada masyrakat miskin di sekitar hutan. Gagasan

HKm juga muncul tidak hanya karena tuntutan publik, tetapi juga karena program

Bina Desa Hutan oleh HPH tidak menunjukkan gejala membaik dan diterima oleh

masyarakat. Program HKm masih terus berlanjut di beberapa tempat di Indonesia

sampai sekarang, lebih terfokus kepada kegiatan rehabilitasi hutan dan kemudian

mengatur pembagian manfaat antar masyarakat dengan pemerintah. Perangkat

kelembagaan belum dikembangkan sehingga muncul ketidakpastian manfaat bagi

masyrakat, terutama dari aspek perizinan HKm yang banyak mengalami

hambatan. Era otonomi daerah seharusnya mempermudah izin HKm, tetapi

13

Ibid. 8

14

(21)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

ternyata izin tersebut sangat sulit untuk diwujudkan. Pada periode ini kebijakan

dari Departemen Kehutanan selalu berganti, dan hal ini membuat instansi

kehutanan di daerah kebingungan, gamang, apalagi masyrakat lebih bingung lagi.

Setelah reformasi 1998, HKm dapat dilaksanakan di hutan alam yang masih

utuh kayunya melalui lembaga koperasi (menggunakan SK Mentri No.677 /

1998). Oleh karena itu, sejak tahun 2000-2002 banyak bermunculan HKm dengan

fokus kegiatan penebangan kayu oleh koperasi yang luasnya 100 sampai 1.000

hektare. Tetapi sayangnya kegiatan penebangan kayu oleh koperasi ini, yang

hampir seluruhnya berada di Kalimantan mengalami kegagalan karena tidak

adanya perencanaan, bahkan menjadi ajang kolusi dan korupsi baru. Langkah ini

blunder bagi Departemen Kehutanan karena kerusakan hutan semakin parah di

banyak wilayah kabupaten di Kalimantan. Sampai saat ini belum ada cerita sukses

dari pelaksanaan HKm tersebut dengan berbasis bisnis penebangan kayu.

Dari program HKm tersebut, dapat dilihat bahwa tujuan dari Departemen

Kehutanan yang berlaku sebagai pemerintah pusat sendiri sangat positif. Namun

kenyataannya, peran pemerintah daerah di lapangan jauh lebih besar, dan

keseriusan serta kontrol pemerintah daerah sendiri boleh dikatakan tidak ada,

maka korupsi dan kolusi menjadi tujuan yang tersembunyi, dan tentunya banyak

melibatkan pejabat-pejabat di daerah. Dikatakan tidak ada sama sekali dalam hal

pengontrolan pengelolaan kawasan hutan, karena secara nyata, para pejabat

bahkan kepala daerah tingkat II (Bupati) di Kalimantan sebelum tahun 2010 juga

berperan sebagai pelaku bisnis perkebunan kelapa sawit, pertambangan serta

campur tangan dalam pembalakan hutan. Secara logika, kita dapat berargumen

bahwa sebenarnya dalam hal pengelolaan hutan di Kalimantan, orang yang

membalak hutan secara liar diawasi oleh pembalak hutan itu sendiri. Sehingga

peraturan yang turun dari pusat hanya sebatas abstraksi dan tidak diaplikasikan di

lapangan. Sehingga jelas, kontrol pemerintah daerah itu sendiri tidak pernah ada

(22)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kemudian dalam hal kebijakan yang diharapkan bisa memperbaiki kualitas

lingkungan serta kelestarian hutan, lagi-lagi kepala daerah memegang hak

prerogatif. Dapat dibayangkan jika yang bertindak sebagai pembalak hutan di

Kalimantan adalah para pejabat daerah, tentunya kebijakan pemerintah daerahpun

akan memberikan keuntungan bagi para pejabat yang “bermain”. Artinya bahwa

kebijakan dari pemerintah di atasnya (propinsi ataupun pusat), tidak mungkin

untuk direspons. Karena permasalahan hutan yang ada begitu kompleks, maka

menimbulkan kesulitan bagi pemerintah pusat untuk menanggulangi kerusakan

hutan di Kalimantan maupun di daerah yang lain. Ditambah lagi tidak adanya

kesadaran dari pemerintah daerah di tingkat Kabupaten untuk mencoba

memahami betapa pentingnya peranan hutan bagi kehidupan di Bumi. Semakin

sulitnya pemerintah pusat, dalam hal ini Kemenhut, untuk mengatasi masalah

yang berkaitan dengan hutan di Kalimantan, terlihat dari peran langsung

pemerintah daerah kabupaten di lapangan untuk menentukan keputusan “terakhir”

terkait pengelolaan kawasan hutan di wilayak kabupatennya masing-masing.

Dengan demikian, harapan penulis, selain dalam hal menetapkan kawasan

hutan di setiap daerah di Indonesia, Kementrian Kehutanan (pemerintah pusat)

juga berperan aktif dalam mengontrol pengelolaan kawasan hutan di daera-daerah,

terutama di Kalimantan. Tentunya kontrol dari pemerintah pusat diharapkan

mampu untuk mengatasi masalah hutan yang ada di Kalimantan. Selain itu, jika

melihat mengenai kebijakan di Indonesia yang diturunkan dari pusat, dan tidak

ada realisasinya di tingkat daerah (khususnya di tingkat kabupaten), sebaiknya

alur kebijakan yang ada diubah. Kebijakan yang diturunkan langsung dari pusat

kepada pemerintah propinsi terkait pengelolaan kawasan hutan, langsung

diturunkan kepada rakyat tanpa melalui pemerintah kabupaten, dengan demikian

dalam hal pengawasan akan lebih mudah. Apabila ke depannya ada kelalaian

dalam hal kontrol dari pemerintah propinsi maka akan mudah untuk dideteksi dan

dimintai pertanggungjawaban. Di samping itu, perlu dibuat dan diatur dalam

undang-undang mengenai tanggung jawab pengelolaan hutan oleh pemerintah

(23)

undang-Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

undang tersebut perlu dimuat mengenai sanksi yang akan ditanggung jika terjadi

pelanggaran oleh pemerintah dan rakyat. Bila perlu, penyalahgunaan ataupun

ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola dan mengontrol kawasan hutan,

sanksi atau hukumannya disetarakan dengan hukuman akan pelanggaran Hak

Asasi Manusia (HAM).

Di samping itu, karena tujuan utama dari pengubahan pola penurunan

kebijakan terkait pengelolaan hutan adalah demi kesejahteraan rakyat, maka

tujuan utamanya adalah rakyat mengelola sendiri kawasan hutan di bawah kontrol

pemerintah propinsi dan pemerintah pusat. Dengan mengadopsi pola dan siklus

ladang berpindah yang diterapkan oleh masyarakat pedalaman di Kalimantan,

mustahil harapan akan lestarinya kawasan hutan di Indonesia akan tercapai.

Namun tidak terlepas dari hal ini, kestabilan harga karet alam di pasaran juga

harus diperhatikan, karena apabila harga karet alam tinggi maka masyarakat tidak

mungkin akan meninggalkan mata pencaharian yang bertumpu akan karet

tersebut. Sbagai pelengkap, siklus ladang berpindah yang diterapkan oleh

masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan adalah sebagai berikut :

(24)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sehingga dengan menerapkan sistem ladang berpindah seperti yang ada pada

masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan, dan tentunya dengan meninggalkan

sistem perkebunan kelapa sawit serta pertambangan yang dituding merusak

kawasan hutan, selain kelestarian lingkungan bisa terjaga, maka perekonomian

masyarakat sekitar hutan juga bisa terjamin. Dengan catatan, harga karet di

pasaran juga perlu untuk diperhatikan. Untuk jauh ke depan, selain sebagai pusat

perkebunan karet, sepertinya Kalimantan juga berpotensi untuk dijadikan pusat

idustri pengolahan karet mentah menjadi karet jadi. Harapanya jelas untuk

(25)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Dari pembahasan yang telah dilakukan terhadap permasalahan dalam

makalah ini, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal terkait kerusakan hutan di

Kalimantan serta peran pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan hutan.

Adapun kesimpulan dari tulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Penyebab utama kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan adalah akibat

dari perluasan kegiatan pertanian pangan, perluasan kegiatan peternakan,

meningkatnya permintaan atau tuntutan untuk hasil-hasil hutan komersial dan

non komersial, perluasan areal perkebunan swasta dan negara, dan

pembukaan wilayah untuk transmigrasi. Namun menurut berbagai organisasi

pemerhati lingkungan hidup, deforestasi lebih disebabkan oleh pembukaan

lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan illegal logging

(pembalakan hutan secara liar). Akibat dari pembukaan lahan untuk

perkebunan kelapa sawit dan pertambangan itu maka menarik para pendatang

dari luar untuk berdomisili di Kalimantan, sehingga ada tuntutan baru supaya

ada pembukaan kawasan hutan (transformasi hutan) untuk dijadikan wilayah

pemukiman para pendatang.

2. Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan/sesar

dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya

lingkungan seperti banjir dan erosi pada musim hujan dan kebakaran hutan

pada musim kemarau. Perlu untuk diketahui bahwa banjir dan erosi yang

terjadi di Kalimantan sudah sering terjadi sejak sepuluh tahun terakhir.

(26)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kalimantan, sehingga menjadi ketidakmampuan pohon-pohon yang tersisa

untuk menahan dan mnyerap air tanah.

3. Peran pemerintah daerah, terutama di tingkat kabupaten pada umumnya,

terkait kontrol serta pengelolaan kawasan hutan di Kalimantan dinilai sangat

minim, bahkan banyak pejabat-pejabat daerah yang terlibat langsung dalam

bisnis eksploitasi hutan secara besar-besaran. Hal ini juga menyebabkan

kesulitan dari pemerintah pusat untuk menyelesaikan masalah kerusakan

hutan di Kalimantan. Alasannya karena pemerintah kabupaten lebih

memegang “kunci” kebijakan pengelolaan kawasan hutan dalam

penerapannya secara langsung di lapangan.

3.2 Saran

Setelah mengetahuhi tentang kerusakan hutan serta peran pemerintah daerah

terhadap pengelolaan kawasan hutan di Kalimantan serta menyimpulakan isi dari

tulisan ini, penulis menyarankan beberapa hal terkait hal tersebut di atas.

Terutama mengenai kebijakan dan langkah pemerintah, baik yang pusat maupun

daerah dalam pengelolaan kawasan hutan di Kalimantan. Ada baiknya, alur

kebijakan di Indonesia, terkait pengelolaan kawasan hutan, diubah sedemikian

rupa supaya dalam hal pengawasan atau kontrol bisa dilaksanakan menjadi lebih

baik lagi. Selain itu, penulis menyarankan agar pemerintah lebih memperhatikan

kembali mengenai perkebunan karet alam ketimbagan perkebunan kelapa sawit

dan pertambangan. Alasannya jelas bahwa, selain bisa meningkatkan devisa

negara, dalam pengelolaannya tidak akan merusak kawasan hutan alamiah.

Selain itu, penulis sadar bahwa karya tulis ini tidak mungkin lepas dari

berbagai kesalahan. Oleh karena itu, untuk hasil yang lebih baik lagi, harapannya

para pembaca bisa menyampaikan kritik dan saran terkait materi atau seluruh

(27)

Fornestor Mindaw |Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Abidin, S. Z. 2005. Kebijakan Publik (Edisi Revisi Edisi Ketiga). Jakarta: Penerbit Suara Bebas.

Arifin, B. 2001. Spektrum Kebijakan Pertanian Indonesia: Telaah Struktur, Kasus, dan Alternatif Strategi. Jakarta: Erlangga.

Awang, S. A. 2004. Dekonstruksi Sosial Forestri: Reposisi Masyarakat dan Keadilan Lingkungan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Irwan, Z. D. 2009. Besarnya Eksploitasi Perempuan dan Lingkungan di Indonesia: Siapa Bisa Mengandalikan Penyulutnya ? Jakarta: Elex Media Komputindo.

Low, N. dan Brenden Gleeson. 2009. Politik Hijau: Kritik Terhadap Politik Konvensional Menuju politik Berwawasan Lingkungan dan Keadilan. Terjemahan oleh Daryanto. Bandung: Penerbit nusa Media

Milne, A. 1991. Dunia Di Ambang Kepunahan. Terjemahan oleh J. B. Srijanto. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

B. Koran dan Majalah

“Karet Alam yang Merana”. 2010. Oktober. Kalimantan Review.18.

Transtoto Handadhari. 2010. November 18 “Bencana Lingkungan yang

Diabaikan”. Kompas.7.

C. Internet

Gambar

Gambar 2.1 Siklus ladang berpindah pada masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan secara umum

Referensi

Dokumen terkait

Kasus pada Pemilihan Kepala Desa Ngaban Tanggulangin Sidoarjo), UIN Surabaya, 2009, h.. pikir dan pemahaman yang nantinya akan diterapkan dan diimplementasikan dalam

Hasil tabulasi silang antara efikasi diri dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa yang mempunyai efikasi diri yang cukup terdapat sebesar 71,4% yang memberikan

73/Pdt.G/Arb/2012/PN.Smda yang merupakan tata cara persidangan perdata namun jika dilihat dalam seperti pernyataan pasal 70 Undang-undang Arbitrase dan Penyelesaian

Tenet khilafah berhubung rapat dengan prinsip Tauhid. Tenet ini menjelaskan bahawa manusia hanyalah pemegang amanah Allah SWT dan menggunakan kekayaan dari

1. Kedua orangtua saya Bapak H. Mukhlis dan umi munawwaroh serta adek saya alaika nasrulla, serta seluruh keluarga besarku yang menjadi pembimbing dan pendidik hidup

Terkadang hati begitu berat melangkah dengan segla keadaan Namun aku tahu inilh duniamu yang tak seperti duniaku kemarin. Tapi apakah kamu mau merusak duniamu dengan

Disekitar kita mungkin banyak sekali kita temukan banyak sekali bahan-bahan yang sudah dipakai namun sisanya yang sekiranya masih bisa dimanfaatkan hanya terbuang sia-sia.Padahal

c) Kode Simbolik, diperlihatkan pada tiga hal, pertama Pakaian menutup aurat, sopan dan tetap trendy. Pakaian yang dikenakan model yang berhijab merupakan pakaian menutup