• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH PENGANGGURAN DI INDONESIA tahun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MASALAH PENGANGGURAN DI INDONESIA tahun "

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

“ MASALAH PENGANGGURAN DI INDONESIA“

Disusun oleh :

Jasmine Risky Ramadhani

8105132098

JURUSAN EKONOMI DAN ADMINISTRASI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat serta karunianya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini

yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Makalah ini di buat untuk memenuhi

tugas mata kuliah “ Pengantar Ilmu Ekonomi II “.

Dalam makalah ini kami mengangkat tema yang membahas tentang

“SERBA-SERBI TENTANG MASALAH PENGANGGURAN TERHADAP

EKONOMI”.

Makalah ini berisikan mengenai masalah-masalah

ketenagakerjaan serta pengangguran di Indonesia dan dampaknya bagi ekonomi

di Indonesia. Yang mana masalah tersebut setiap hari selalu berkembang dan

bertambah. Serta dalam makalah ini juga membahas tentang cara-cara serta

upaya pemerintah dalam menghadapi masalah pengangguran di Indonesia.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu

saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kalian.

Bekasi, 10 Maret 2014

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ...3

BAB I (PENDAHULUAN)

A. Latar Belakang Masalah ...

4

B. Rumusan Masalah ...

5

C. Tujuan Penulisan ...

5

BAB II (PEMBAHASAN)

2.1. Pengertian Pengangguran ...

6

2.2. Jenis-jenis Pengangguran ...

9

2.3. Masalah Pengangguran Secara Umum ...

12

2.4. Penyebab Pengangguran ...

13

2.5. Keadaan Pengangguran di Indonesia ...

14

2.6. Akibat Buruk yang Ditimbulkan Pengangguran ...

16

2.7. Solusi untuk Mengatasi Pengangguran ...

19

BAB III (PENUTUP)

3.1. Kesimpulan ...

21

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak serta memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, ini membuat Indonesia pantas disebut sebagai negara yang kaya akan sumber dayanya, baik pada sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Hal ini harusnya dapat memberikan keuntungan besar untuk perekonomian di Indonesia.

Namun hal itu belum bisa terwujud karena keadaan di Indonesia sekarang tidak seperti yang kita bayangkan. Ini Karena pemerintah Indonesia yang belum dapat mengefesiensikan sumber daya alam dan manusianya yang melimpah. Faktanya sekarang, banyak warga Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan atau dengan kata lain menjadi pengangguran di negaranya sendiri.

Pengangguran ada karena jumlah populasi yang setiap saat bertambah dengan pesat tanpa ada keseimbangan antara lahan untuk mencari kerja dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah itu. Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya1.

Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa sekolan smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.

Dalam makalah ini, saya akan mengulas sebagian kecil masalah pengangguran di Indonesia dan memberikan sedikit bantuan solusi yang saya harap akan membantu dalam menanggulangi masalah perekonomian

pengangguran di indonesia.

Keterbatasan lapangan pekerjaan di indonesia khuusnya di kota-kota besar sangatlah tinggi dari tahun ketahun, sehingga berpotensi untuk tidak dapat tertampungnya lulusan program pendidikan di lapangan kerja setiap tahun selalu meningkat tidak pernah mengalami penurunan. Lapangan

pekerjaan merupakan indikator penting tingkat kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menjadi indikator keberhasilan penyelenggaraan “pendidikan” dalam mengurangi angka kemiskinan yang ada. Sementara dampak sosial

(5)

dari jenis pengangguran ini relatif lebih besar dan banyak efek negatif dari hal ini salah satunya tingkat kriminalitas tiap daerah juga ikut bertambah karena dorongan ekonomi. Mengingat kompleksnya masalah ini, maka upaya pemecahannya pun tidak sebatas pada kebijakan sektor pendidikan saja, namun merembet pada masalah lain secara multi dimensional. Di samping itu tentu saja akan menciptakan angka produktivitas sosial yang rendah, yang akan menurunkan tingkat pendapatan masyarakat nantinya. Pengangguran merupakan masalah serius yang dihadapi dalam pembangunan sumber daya manusia yang tengah dilakukan saat ini.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah definisi pengangguran itu ?

2. Apa saja penyebab timbulnya pengangguran ?

3. Apakah ada dampak yang timbul dari pengangguran tersebut ? 4. Bagaimana solusi untuk mengatasi pengangguran ?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui pengertian pengangguran.

2. Untuk mengetahui apa yang menyebabkan timbulnya pengangguran. 3. Untuk mengetahui jenis, dampak, dan solusi untuk mengatasi masalah

pengangguran.

(6)

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengangguran

Tiap negara dapat memberikan definisi yang berbeda mengenai definisi

pengangguran. Nanga (2005: 249) mendefinisikan pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif tidak sedang mencari pekerjaan. Dalam sensus penduduk 2001 mendefinisikan pengangguran sebagai orang yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama seminggu sebelum pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan (BPS, 2001: 8).

Menurut Sukirno (2004: 28) pengangguran adalah jumlah tenaga kerja dalam perekonomian yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperolehnya. Selanjutnya International Labor Organization (ILO) memberikan definisi pengangguran yaitu:

 Pengangguran terbuka adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang selama periode tertentu tidak bekerja, dan bersedia menerima pekerjaan, serta sedang mencari pekerjaan.

 Setengah pengangguran terpaksa adalah seseorang yang bekerja sebagai buruh karyawan dan pekerja mandiri (berusaha sendiri) yang selama periode tertentu secara terpaksa bekerja kurang dari jam kerja normal, yang masih mencari pekerjaan lain atau masih bersedia mencari pekerjaan lain/tambahan (BPS, 2001: 4)2.

Sedangkan menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) menyatakan bahwa:

 Setengah pengangguran terpaksa adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu yang masih mencari pekerjaan atau yang masih bersedia menerima pekerjaan lain.

 Setengah pengangguran sukarela adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu namun tidak mencari pekerjaan dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain (BPS, 2000: 14).

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan

(7)

pendapatan baik itu masyarakat maupun pemerintah atau negara akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah sosial, dan masalah ekonomi lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan

menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan

kekacauan politik keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan

pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.

Di Negara berkembang seperti Indonesia ini, masalah pengangguran yang makin meningkat dalam pembangunan ekonomi merupakan masalah yang lebih rumit dan lebih serius daripada masalah perubahan dalam distribusi pendapatan yang kurang menguntungkan penduduk yang berpendapatan terendah. Keadaan di Negara-negara berkembang dalam beberapa tahun ini menunjukan bahwa pembangunan ekonomi yang telah tercipta tidak dapat mengadakan kesempatan kerja yang lebih banyak dan cepat daripada pertambahan penduduk. Oleh karenanya itu masalah pengangguran yang mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak.

Untuk mengetahui tingkat pengangguran yang wujud pada suatu waktu tertentu perlulah terlbih dahulu diketahui jumlah tenaga kerja atau angkatan kerja yang ada dalam perekonomian. Jumlah tenaga kerja tidak boleh disamakan dengan jumlah penduduk. Sebagian daripada penduduk tidak dapat digolongkan sebagai tenaga kerja karena mereka masih terlalu muda atau sudah terlalu tua untuk dapat bekerja dengan efektif. Golongan penduduk ini tidak termasuk dalam angkatan kerja. Di banyak negara penduduk yang digolongkan sebagai angkatan kerja adalah penduduk yang berumur 15-59 tahun dan di beberapa negara ia meliputi penduduk yang berumur di antara 15-64 tahun3. Tetapi tidak

semua penduduk yang berada dalam lingkungan umur diatas dapat dipandang sebagai tenaga kerja. Apabila mereka tidak bekerja dan tidak mecoba untuk mencari pekerjaan maka,

walaupun umur mereka adalah dalam lingkungan umur di atas, mereka tidak termasuk dalam golongan angkatan kerja.

Tingkat pengangguran daopat dihitung dengan rumus4:

Tingkat Pengangguran = Jumlah Yang Menganggur

Jumlah Angkatan Kerja X 100

3 Pratama Rahardja dan Mandala Manurung, Pengantar llmu Ekonomi (Mikroekonomi&Makroekonomi) edisi Ketiga, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008, hlm.375.

(8)

Tetapi memang besar kecilnya angka pengangguran sangat tergantung dari definisi atau pengklasifikasian pengangguran. Setidak-tidaknya ada dua dasar utama klasifikasi pengangguran, yaitu pendekatan angkatan kerja (labour force approach) dan pendekatan pemanfaatan tenaga kerja (labour utilization approach5).

1) Pendekatan Amgkatan Kerja (Labour Force Approach)

Pendekatan ini mendefinisikan penganggur sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja.

2) Pendekatan Pemanfaatan Tenaga Kerja (Labour Utilization Approach)

Dalam pendekatan ini, angkatan kerja dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni:

a) Menganggur (Unemployed), yaitu mereka yang sama sekali tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini sering disebut juga pengangguran terbuka (open unemployment).

b) Setengah Menganggur (Underemployed), yaitu mereka yang bekerja, tetapi belum dimanfaatkan secara penuh. Aartinya jam kerja mereka dalam seminggu kurang dari 35 jam.

c) Bekerja Penuh (Employed), yaitu orang-orang yang bekerja penuh atau jam kerjanya mencapai 35 jam per minggu.

2.2. Jenis-Jenis Pengangguran

(9)

Dalam studi ekonomi ekonomi makro yang lebih lanjut, pembahasan masalah pengangguran akan dilakukan lebih spesifik dan cermat. Misalnya, akan dibahas apakah pengangguranyang terjadi merupakan pengangguran sukarela (voluntary unemployment) atau pengangguran dukalara (involuntary unemployment). Pengangguran sukarela adalah

pengangguran yang bersifat sementara, karena seseorang ingin mencari pekerjaan yang lebih baik atau lebih cocok. Pengangguran dukalara adalah pengangguran yang terpaksa diterima oleh seseorang, walaupun sebenarnya dia masih ingin bekerja.

Keynes membagi secara jelas tentang pengangguran sukarela dan pengangguran karena terpaksa. Sehingga tidak ada kesalahan untuk menetapkan tingkat pengangguran. Pengangguran sukarela adalah bila orang tidak mau bekerja (menerima pekerjaan) pada tingkat upah yang berlaku (ditawarkan). Pengangguran terpakasa adalah suatu keadaan pada tingkat upah yang berlaku ada orang yang bersedia melakukan pekerjaan tetapi tidak tersedia lowongan pekerjaan.

Di dalam teori, perekonomian dipandang sebagai mencapai tingkat penggunaan tenaga penuh apabila tenaga kerja yang tersedia seluruhnya digunakan. Di dalam menentukan apakah perekonomian telah mencapai tingkat penggunaan penggunaan tenaga penuh atau belum, yang menjadi ukuran bukanlah penggunaan tenaga kerja sebesar 100 persen, tetapi penggunaan tenaga kerja yang lebih sedikit dari itu.

Pengangguran yang terjadi dalam perekonomian dapat digolongkan berdasarkan penyebab terjadinya, yaitu:

1) Pengangguran Friksional (Frictional Unemployment)

Pengangguran ini bisa dikelompokkan dalam pengangguran sukarela, karena pengangguran ini timbul hanya karena perpindahan seseorang dari pekerjaaan yang satu ke pekerjaan yang lainnya karena ingin mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi (pekerjaan yang lebh baik). Pengangguran jenis ini bersifat sementara dan terjadi karena adanya kesenjangan antara pencari kerja dengan lowongan kerja.

2) Pengangguran Struktural (Structural Unemployment)

Dikatakan pengangguran struktural karena sifatnya yang mendasar.

Pengangguran ini terjadi bila terdapat ketidakseesuaian antara penawaran tenaga kerja dengan permintaan atas pekerjaan yang tersedia. Ketidaksesuaian ini bisa terjadi karena permintaan atas jenis tenaga kerja tertentu meningkat dan jenis tenaga kerja lainnya menurun. Pencari kerja tidak mampu memenuhi persyaratan yang dibuthkan untuk lowongan pekerjaan yang tersedia. Ini juga dapat terjadi akibat adanya

perubahan struktur perekonomian. Dengan berkembang dan makin majunya suatu perekonomian, maka input (tenaga kerja) yang dibutuhkan mengalami pergeseran. Karena kebutuhan tenaga kerja akan mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang tersedia (juga mengalami perubahan). Bilamana tenaga kerja

(10)

3) Pengangguran Siklis / Siklikal atau Konjungtural (Cyclical Unemployment)

Pengangguran Siklis / Siklikal (Cyclical Unemployment) atau pengangguran

konjungtur adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan perekonomian.

Jenis pengangguran ini terjadi apabila permintaan secara keseluruhan akan tenaga kerja sangat rendah, apabila terjadi kemerosotan jumlah pengeluaran masyarakat untuk jenis produksi tertentu dan akan menyebabkan terjadinya pengurangan produksi sehingga ini menyebabkan pengurangan tenaga kerja dalam bidang industri tersebut. Pengangguran tenaga kerja ini yang menyebabkan timbulnya pengangguran.

4) Pengangguran Teknologi

Pengangguran ini merupakan pengangguran yang terjadi karena adanya penggunaan alat-alat tenologi yang semakin modern. Seperti contohnya adalah sebelum adanya alat penggilingan padi, orang yang berprofesi sebagai penumbuk padi bekerja, setelah ada mesin penggiling padi, ia menjadi pengangguran karena tenaga nya sudah tidak dibutuhkan lagi karena sudah digantikan oleh mesin yang kerjanya lebih cepat.

5) Pengangguran Musiman

Bentuk pengangguran ini merupakan pengangguran yang sering sekali wujud dalam sektor pertanian di negara-negara berkembang. Pengangguran ini berkaitan erat dengan fluktuasi kegiatan ekonomi jangka pendek. Pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi pada masa-masa tertentu dalam suatu tahun. Biasanya pengangguran seperti itu berlaku pada masa-masa dimana kegiatan bercocok tanam sedang menurun kesibukannya. Waktu di antara menuai dan bercocok tanam

berikutnya, dan waktu sudah menanam bibit dan masa mengutip hasilnya adalah masa-masa yang kurang sibuk dalam kegiatan pertanian. Di dalam waktu tersebut banyak di antara para petani yang tidak melakukan pekerjaan sama sekali, berarti mereka sedang dalam keadaan menganggur. Tetapi pengangguran itu adalah untuk sementara sajam dan berlaku dalam waktu-waktu tertentu.

Jenis-jenis pengangguran yang baru dijelaskan di atas adalah pengangguran mutlak. Yaitu penganggur-penganggur tersebut tidak melakukan sesuatu kerja untuk mencari nafkah apapun pada waktu mereka tergolong sebagai penganggur atau dalam keadaan menganggur. Bahwa penganggur-penganggur itu dalam keadaan menganggur dapat dengan nyaa dilihat. Pengangguran seperti itu dinamakan pengangguran

terbuka.

Di dalam suatu perekonomian dapat berlaku keadaan di mana segolongan pekerja melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk memperoleh pendapatan, tetapi

(11)

atau (ii) lakukan di dalam masa yang singkat sehingga jam kerja mereka adalah jauh lebih sedikit daripada jam kerja yang semestinya dilakukan dalam suatu jangka waktu tertentu.

Apabila dalam sesuatu kegiatan ekonomi jumlah tenaga kerja sangat

berlebihab sehingga berada dalam suatu keadaan di mana walaupun sebagian tenaga kerjanya dipindahkan ke sktor lain tetapi produksi dalam kegian=tan itu tidak berkurang, maka dalam kegiatan itu tidak berkurang, maka dalam kegiatan itu telah berlaku suatu jenis pengangguran yang dinamakan pengangguran tersembunyi atau

pengangguran tak kentara.

2.3. Masalah Pengangguran Secara Umum

(12)

mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.

Pembangunan bangsa Indonesia kedepan sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusia Indonesia yang sehat fisik dan mental serta mempunyai keterampilan dan keahlian kerja, sehingga mampu membangun keluarga yang bersangkutan untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan layak, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup,

kesehatan dan pendidikan anggota keluarganya.

Dalam pembangunan Nasional, kebijakan ekonomi makro yang bertumpu pada sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter harus mengarah pada penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.

2.4. Penyebab Pengangguran

Pengangguran dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

(13)

Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang dapat menampung banyaknya jumlah angkatan kerja yang tersedia. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

 Pendidikan dan keterampilan yang rendah

 Adanya lapangan kerja yang dipengaruhi oleh musim

 Kurangnya lapangan pekerjaan

Setiap tahunnya, Indonesia memiliki jumlah lulusan sekolah atau kuliah yang begitu tinggi. Jumlah yang sangat besar ini tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang ada, baik yang di sediakan oleh pemerintah maupun swasta.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan

kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.

Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah

"pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang

2.5. Keadaan Pengangguran Di Indonesia

(14)

seperti pada kenyataannya pengangguran di Indonesia rata-rata adalah usia produktif yang notabene menjadi penyebab kerancuan, kegelisahan dan perhatian pemerintah.

Jika melihat lebih kedalam lagi penyebab maraknya kriminal tarjadi di Indonesia mayoritas tersangkanya adalah para pemuda dan termasuk dalam golongan pengangguran. Ternyata dampak dari pengangguran bukan hanya menyebabkan kemiskinan namun lebih parah lagi yaitu menyebabkan orang berlaku kriminal terhadap sesamanya.

Menurut data BPS angka pengangguran di Indonesia pada tahun 2013 adalah sebagai berikut :

(15)

Jumlah pengangguran pada Agustus 2013 mencapai 7,4 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung meningkat, dimana TPT Agustus 2013 sebesar 6,25 persen, naik dari TPT Agustus 2012 sebesar 5,92 persen dan TPT Februari 2013 sebesar 6,14 persen.

Pada Agustus 2013, TPT untuk pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan menempati posisi tertinggi yaitu sebesar 11,19 persen, disusun oleh TPT Sekolah Menengah Atas sebesar 9,74 persen, sedangkan TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 3,51 persen.

(16)

2.6. Akibat-akibat Buruk yang Ditimbulkan oleh Pengangguran

Sedapat mungkin setiap perekonomian harus berusaha untuk menghindari atau mengurangi masalah pengangguran yang dihadapinya. Usaha seperti itu harus dilakukan karena masalah itu menimbulan beberapa akibat buruk kepada masyarakat.

Telah ditunjukkan bahwa apabila ada pengangguran maka tingkat pendapatan

nasional yang sebenarnya adalah lebih rendah daripada tingkat pendapatan nasional potensial. Keadaan ini berarti tingkat kemakmuran yang mungkin dicapainya. Makin tinggi

pengangguran, makin besar perbedaan di antara tingkat pendapatan nasional sebenarnya dengan tingkat pendapatan nasional potensial, dan dengan demikian makin besar pula

perbedaan di antara tingkat kemakmuran yang dinikmati masyarakat dan tingkat kemakmuran yang mungkin dinikmati mereka. Akibat buruk dari pengangguran yang baru dijelaskan ini dinamakan sebagai ongkos ekonomi dari pengangguran6. Berapapun besarnya biaya ekonomi yang terbuang secara sia-sia sebagai akibat terjadinya pengangguran yang tinggi, jumlah ini mencakup seluruh penderitaan batin, sosial, juga psikologis yang timbul sebagai akibat pengangguran yang berkepanjangan. Karena pengangguran ini menyebabkan rusaknya kesehatan fisik, mental, dan ini akan menimbulkan kerawanan sosial yang akan dapat mengganggu proses produksi secara keseluruhan, kalau pengangguran yang tinggi ini berkepanjangan.

A. Biaya Sosial Dari Pengangguran

1) Terganggunya Stabilitas Perekonomian

Pengangguran struktural dan atau kronis akan mengganggu stabilitas perekonomian dilihat dari sisi permintaan dan penawaran agregat.

a) Melemahnya Permintaan Agregat

Untuk dapat bertahan hidup, manusia harus bekerja. Sebab dengan bekerja dia akan memperoleh pengahsilan, yang digunakan untuk belanja barang dan jasa. Jika tingkat pengangguran tinggi dan bersifat struktural, maka daya beli akan menurun, yang pada gilirannya menimbulkan menurunnya permintaan agregat.

b) Melemahnya Penawaran Agregat

Tingginya tingkat pengangguran akan menurunkan penawaran agregat, bila dilihat dari penawaaran tenaga kerja sebagai faktor produksi utama. Makin sedikit tenaga kerja yang digunakan, makin kecil penawaran agregat.

Dampak pengangguran terhadap penawaran agregat makin terasa dalam

(17)

jangka panjang. Makin lama seseorang menganggur, keterampilan, produktivitas meupun etika kerjanya akan mengalami penurunan.

Mungkin argumen di atas dapat dibantah dengan mengatakan bahwa dalam perekonomian modern, tenaga kerja dapat digantikan dengan barang modal. Bahkan penggunaan barang modal yang makin intensif akan meningkatkan efisiensi, diukur dari biaya produksi per unit yang makin rendah. Dengan harga jual yang makin rendah, tentu permintaan akan meningkat.

Melemahnya permintaan dan penawaran agregat jelas akan mengancam stabilitas perekonomian. Hal ini telah berkali-kali terbukti dalam sejarah peekonomian dunia. Misalnya Depresi Besar (1929-1933), oleh para ekonom disebabkan oleh melemahnya permintaan agregat. Krisis Ekonomi Asia Timur (1988), termasuk yang dialami Indonesia, menurut Bank Dunia (World Bank, 1999) maupun IMF (1998), dapat dijelaskan dalam konteks interaksi melemahna permintaan dan penawaran agregat.

2) Terganggunya Stabilitas Sosial Politik

Saat ini pengangguran bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga masalah sosial politik. Sebab dampak sosial dari pengangguran sudah jauh lebih besar dari masa-masa sebelumnya. Pengangguran yang tinggi akan meningkatkan kriminalitas, baik berupa kejahatan pencurian, perampokan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang maupun kegiatan-kegiata ekonomi ilegal lainnya. Biaya ekonomi yang dikeluarkan untuk

mengatasi masalah-masalah sosial ini sangat besar dan susah diukur tingkat efisiensi dan efektivitasnya.

Pengangguran sangat berdampak pada kehidupan perekonomian dan kehidupann sosial masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang menurun, dan bahkan tingkat

kesejahteraan masyarakat yang menurun adalah salah satu dampak pengangguran. Berikut beberapa dampak pengangguran terhadap perekonomian dan kehidupan sosial berikut ini :

 Dampak pengangguran terhadap kegiatan ekonomi masyarakat

Salah satu faktor penting yang menentukan kemakmuran suatu masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi adalah tingkat pendapatan. Pendapatan masyarakat atau negara akan mencapai maksimum apabila tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dapat diwujudkan (full employment).

(18)

Adapun dampak penganggguran terhadap kegiatan ekonomi antara lain sebagai berikut.

- Kemiskinan adalah akibat utama dari masalah pengangguran. Walau awalnya memiliki banyak uang, orang yang menganggur dalam waktu lama tentu akan menjadi miskin secara perlahan.

- Kegiatan produksi terhambat, karena menurunnya output yang dihasilkan dan kualitas dari output tersebut, sehingga dapat menurunkan pendapatan nasional dan pendapatan per kapita.

- Kegiatan distribusi kurang lancar, karena apabila output yang dihasilkan oleh suatu perusahaan kualitasnya rendah, maka barang tersebut tidak laku di pasaran, baik pasaran dalam negeri maupun luar negeri, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi rendah.

- Kegiatan konsumsi berkurang, karena barang yang diperlukan oleh konsumen tidak

terpenuhi oleh produsen. Apalagi bila produsen tidak mampu untuk memproduksi suatu barang, maka akan terjadi kelaparan.

 Dari segi sosial :

- Akan timbul masalah lain seperti tindak kriminal yang semakin banyak, meningkatkan jumlah pengemis atau gelandangan.

- Timbulnya perasaan kurang percaya diri

- Secara individu, orang yang menganggur tentu akan stres dan depresi. Tak hanya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup, ia bisa saja akan dikucilkan

masyarakat. Sebagai contoh, seorang lelaki muda yang pengangguran membunuh adiknya yang masih berusia 11 tahun karena diejek menganggur oleh sang adik. Itulah salah satu contoh bahaya stres seorang penganggur.

 Dari segi pembangunan ekonomi nasional

- Masyarakat tidak mampu memaksimalkan kemakmuran

- Pendapatan pejak pemerintah berkurang

(19)

2.7. Solusi Untuk Mengatasi Pengangguran

Untuk menghindari akibat buruk pengangguran diatas, diperlukan beberapa cara untuk mengatasi masalah tersebut, diantaranya :

Cara mengatasi pengangguran secara umum :

 Pendidikan gratis bagi yang kurang mampu. Salah satu penyebab pengangguran

adalah rendahnya tingkat pendidikan seseorang, sehingga ia tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan susah untuk mendapatkan pekerjaan.

 Pemerintah sebaiknya menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak sehingga

dapat membantu untuk mengurangi tingkat pengangguran.

 Tak hanya pemerintah, masyarakat pun diimbau untuk dapat menciptakan lapangan

pekerjaan bagi orang lain.

 Mendirikan tempat-tempat pelatihan keterampilan, misalnya kursus menjahit,

pelatihan membuat kerajinan tangan, atau BLK (Balai Latihan Kerja) yang didirikan di banyak daerah. Hal ini juga termasuk cara mengatasi pengangguran, sehingga orang yang tidak berpendidikan tinggi pun bisa bekerja dengan modal keterampilan yang sudah mereka miliki.

 Pemerintah diharapkan mendirikan suatu lembaga bantuan kredit atau langsung

bekerja sama dengan bank-bank tertentu untuk memberikan kredit pada masyarakat yang kurang mampu. Kredit tersebut diharapkan dapat membantu mereka untuk mendirikan suatu usaha, misalnya UKM atau sejenisnya.

 Sebagai antisipasi, pelajar perlu diberi pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal

bisa berupa keterampilan khusus, kemampuan berkomunikasi atau peningkatan EQ, serta diarahkan untuk menjadi lulusan sekolah yang mempu menciptakan suatu lapangan pekerjaan. Bukan semata-mata sebagai lulusan sekolah yang hanya bisa melamar pekerjaan.

Cara mengatasi pengangguran menurut jenis-jenis pengangguran :

 Cara Mengatasi Pengangguran Struktural

Pengangguran struktural terjadi karena perubahan struktur ekonomi, misalnya dari agraris ke industri. Untuk mengatasi pengangguran struktural bisa dilakukan cara-cara berikut :

a. Memindahkan para pengangguran ketempat yang lebih membutuhkan.

b. Membuka pendidikan dan pelatihan bagi para pengangguran agar dapat mengisi lowongan pekerjaan yang sedang membutuhkan.

c. Mendirikan industry dan proyek padat karya untuk menampung para penganggur. d. Meningkatkan mobilitas (perputaran) modal dan tenaga kerja agar mampu menyerap para penganggur.

(20)

dalam rangka menyesuaikan struktur perekonomian.

 Cara Mengatasi Pengangguran Konjungtural (Siklikal)

Pengangguran konjungtural terjadi karena naik turunnya kegiatan perekonomian yang suatu

saat mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat yang di ikuti oleh turunnya permintaan terhadap barang dan jasa. Untuk mengatasi pengangguran konjungtural, bisa dilakukan cara-cara berikut;

a. Meningkatkan daya beli masyarakat dengan membuka berbagai proyek-proyek pemerintah.

b. Mengarahkan masyarakat agar menggunakan pendapatannya untuk membeli barang dan jasa sehingga permintaan terhadap barang dan jasa meningkat.

c. Menciptakan teknik - teknik pemasaran dan promosi yang menarik agar masyarakat tertarik membeli barang dan jasa.

.

 Cara Mengatasi Pengangguran Friksional

Pengangguran friksional terjadi karena adanya pekerja yang ingin pndah mencari pekerjaan yang lebih baik dan cocok di perusahaan lain. Untuk mengatasi pengangguran ini bisa dilakukan cara menyediakan sarana informasi lowongan kerja yang cepat, mudah dan murah kepada pencari kerja. Misalnya, dengan menempelkan iklan-iklan lowongan kerja di tempat-tempat umum.

 Cara Mengatasi Pengangguran Musiman

Pengangguran musiman terjadi karena perubahan musim atau karena perubahan permintaan tenaga kerja secara berkala. Cara yang dilakukan untuk mengatasi pengannguran musiman, antara lain;

a. Memberikan latihan keterampilan yang lain seperti menjahit, mengelas, menyabl on,dan

membordir. Dengan demikian, mereka dapat bekerja sambil menunggu datangnya musim tertentu.

(21)

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Angka pengangguran di Indonesia yang sangat tinggi mencapai berjuta-juta merupakan masalah yang sangat penting bagi perekonomian di Indonesia. Dampak

pengangguran juga sangat berperan bagi masyarakat dari segi ekonomi, sosial serta bidang pembangunan ekonomi. Maka dari itulah strategi komunikasi pembangunan, kebijakan-kebijakan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis mutlak dilakukan agar angka pengangguran dapat ditekan maupun dikurangi. Dengan kebijakan yang langsung menyentuh permasalahan pengangguran, maka penyebab dari berbagai patologi sosial yang dialami masyarakat saat ini dapat dikurangi. Berbagai masalah sosial perkotaan yang meresahkan masyarakat saat ini berakar dari kesulitan hidup atau kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh ketiadaan.

Dari pembahasan diatas maka kami dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Pengangguran adalah seorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.

2. Pengangguran menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro ekonomi yang paling utama.

3. Pengangguran di sebabkan oleh besarnya angkatan kerja tidak seimbang dengan kesempatan kerja, struktur lapangan kerja tidak seimbang, kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang, meningkatnya peranan dan aspirasi angkatan kerja wanita salam seluruh struktur angkatan kerja Indonesia, penyediaan dan pemanfaatan tenaga kerja antar daerah tidak seimbang.

3.2. Saran

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Rahardja, Prathama & Manurung, Mandala. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi

(Mikroekonomi & Makroekonomi), edisi Ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Budiono. 1995. Ekonomi Makro, edisi 4. BPFE. Yogyakarta.

Erni, Umi Hasanah. 2013. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. CAPS. Yogyakarta.

Drs. Ek, M. Soc. Sc. Sadono Sukirno. 1981. Pengantar Teori Makroekonomi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

de-ngan harta dan jiwan n harta dan jiwanya pada jala ya pada jalan Allah n Allah dan dan orang-orang yang orang-orang yang memberikan memberikan tempat kediaman

1 menunjukan bahwa nilai rata-rata hasil belajar fisika peserta didik Pretest dan post-test pada kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran

Melalui penerapan Model TIL (The Information Literacy) Tipe The Big6 dalam proses pembelajaran diharapkan dapat menciptakan indonesia sebagai negara yang minat dan

Pengetahuan mahasiswa Pendidikan Tata rias mengenai kosmetika modern dan yang dipakai sehari-hari pada penelitian ini di dapat dari mata kuliah Kimia Dasar dan

Telah dikemukakan dalam riset bahwa moral kerja dapat mempertinggi produktivitas dalam kondisi tertentu, akan tetapi dalam kondisi yang lain ternyata tidak begitu

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan program

Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui komposisi tumbuhan yang berada di hutan lindung Gunung Pesagi dilakukan dengan menghitung nilai INP dari setiap jenis

Hasil pengujian didasarkan pada hasil uji dengan menggunakan Crosstabs (tabel silang) serta melihat hasil uji Pearson Chi- Square yang dibandingkan dengan nilai