PENGARUH JUMLAH PAJAK DAERAH TERHADAP PAD DALAM KEBIJAKAN PERPAJAKAN DAERAH
(Studi kasus pada Kabupaten Musi Banyuasin) Maulan Irwadi, SE, M.Si., Ak.
Dosen Program Studi Akuntansi Politeknik Anika Palembang
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pajak daerah terhadap PAD dalam kebijakan Perpajakan Daerah, hambatan dalam memungut pajak daerah serta faktor-faktor yang mempengaruhi PAD. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Musi Banyuasin. Hasil menunjukkan antara lain besarnya jumlah pajak daerah terhadap PAD berdampak terhadap kebijakan perpajakan daerah yaitu terdapat peningkatan potensi pajak daerah dan mengalami penambahan objek pajak daerah dari 6 jenis pajak daerah menjadi 9 jenis pajak daerah. Adanya hambatan dalam memungut pajak daerah serta terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi PAD selain pajak daerah. Dalam hal ini sebaiknya DPPKAD Kabupaten Musi Banyuasin agar dapat meningkatkan potensi pajak daerah dan mencari upaya untuk mengatasi hambatan dalam memungut pajak daerah serta tetap memperhatikan dan mempertahankan faktor yang mempengaruhi PAD selain pajak daerah.
Kata kunci: Pajak Daerah, PAD, Kebijakan Pajak, Objek Pajak
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Menurut UU Nomor 12 Tahun 2008 memberikan definisi Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Era otonomi daerah yang secara resmi diberlakukan di Indonesia menghendaki daerah untuk mencari sumber penerimaan yang dapat membiayai pengeluaran pemerintah daerah dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan.
UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah mencakup
pembagian keuangan antara
pemerintah pusat dan pemerintahan daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan Daerah. Urusan yang berkaitan dengan otonomi daerah didasarkan pada asas desentralisasi fiskal yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom sehingga pemerintah daerah harus mampu menggali sumber-sumber
penerimaan daerah. Sumber
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD) b. Dana Perimbangan
c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Realisasi PAD Kabupaten Musi Banyuasin dalam periode tahun
2007 sampai dengan 2012
mengalami peningkatan yaitu dari
Rp. 28,28 Miliar pada tahun 2007 menjadi Rp. 96,73 Miliar pada tahun 2012, dan rata-rata kenaikan yaitu sebesar 30,45%. Perkembangan realisasi PAD Kabupaten Musi Banyuasin dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Realisasi PAD Kabupaten Musi Banyuasin periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2012 ( dalam ribu rupiah )
Tahun Realisasi Kenaikan (%)
2007 28.015.084
-2008 31.260.166 11,58
2009 35.050.058 12,12
2010 64.021.754 82,65
2011 80.644.882 25,96
2012 96.732.349 19,94
Sumber: Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Musi Banyuasin (2013)
Pada Tabel 1 dapat di lihat bahwa realisasi PAD Kabupaten
Musi Banyuasin mengalami
beberapa kali peningkatan dalam periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2012. Hal ini menyatakan bahwa potensi di daerah Kabupaten Musi Banyuasin dapat memberikan kontribusi dari tahun ke tahun sehingga mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan PAD menjadi sangat penting.
Pajak daerah berperan sebagai salah satu sumber PAD.
Kabupaten Musi Banyuasin
merupakan daerah otonom yang memaksimalkan penerimaan pajak daerah dibantu oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan,
dan Aset Daerah (DPPKAD)
Kabupaten Musi Banyuasin.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yaitu mengetahui pengaruh pajak daerah terhadap PAD dalam kebijakan
Perpajakan Daerah di Kabupaten Musi Banyuasin.
1.3 Perumusan Masalah
Perumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimanakah pengaruh pajak daerah terhadap PAD dalam kebijakan Perpajakan Daerah di Kabupaten Musi Banyuasin.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Peran PAD
Menurut Undang-Undang
(2004: 33) tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menyebutkan bahwa sumber-sumber pendapatan daerah adalah:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu pendapatan yang diperoleh
daerah yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang
meliputi:
c) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan
d) Lain-lain PAD yang sah. 2. Dana perimbangan, yaitu dana
yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada
daerah untuk mendanai
kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana perimbangan terdiri dari dua jenis, yaitu dana bagi hasil dan dana transfer.
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah meliputi:
a) Sisa lebih perhitungan anggaran daerah;
b) Penerimaan pinjaman
daerah;
c) Dana cadangan daerah; dan d) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
Pendapatan daerah adalah semua penerimaan kas yang menjadi hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. PAD adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah.
Menurut Permendagri (2006: 13), PAD terdiri dari:
1. Pajak daerah 2. Retribusi Daerah
3. Hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan
4. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Sedangkan Menurut Taufik (2009: 185), PAD terdiri dari:
1. Pajak Daerah yaitu penerimaan pemerintah daerah yang berasal dari daerah, pajak yang dikelola
pemerintah daerah
kabupaten/kota.
2. Retribusi Daerah yaitu penerimaan pemerintah daerah yang berasal dari retribusi daerah. 3. Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan
Hasil Pengelolaan Kekayaan Darah yang Dipisahkan yaitu penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah yaitu penerimaan dari PAD yang bukan merupakan klasifikasi PAD yang disebutkan sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ketahui bahwa PAD sangat penting sebagai sumber pembiayaan dan sebagai tolok ukur dalam pelaksanaan otonomi daerah. Sehingga untuk melaksanakan otonomi daerah, pemerintah harus dapat mengidentifikasi sektor-sektor yang dinilai potensial sebagai pendorong pembangunan daerah, terutama dalam memaksimalkan PAD.
2.2 Pengertian dan Peran Pajak Daerah
Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan penggunaannya untuk membiayai sebagian belanja daerah. Pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang. Ketentuan tentang pajak daerah diatur dalam UU Nomor 34 Tahun 2000 yang telah diubah dengan UU Nomor 28 Tahun 2009. Menurut Soemarso (2007: 626) , pengertian pajak daerah yaitu:
“Pajak daerah merupakan pungutan
dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah”.
Sedangkan Menurut
Pahala (2010: 10) ,
pengertian pajak daerah yaitu:
“Pajak daerah merupakan pajak
yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan peraturan daerah, yang wewenang pemungutannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah karena pemerintah daerah di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang diberi kewenangan untuk melaksanakan otonomi daerah”.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pajak daerah merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah berdasarkan peraturan pajak yang ditetapkan oleh daerah untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga pemerintah daerah tersebut. Penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan.
UU Nomor 28 Tahun 2009 lahir dengan pertimbangan bahwa UU Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah perlu disesuaikan dengan kebijakan otonomi daerah. Menurut UU Nomor 28 Tahun 2009 yang dikutip oleh Pahala (2010: 65), ditentukan jenis pajak kabupaten/kota, yaitu:
Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas:
a. Pajak Hotel; b. Pajak Restoran; c. Pajak Hiburan; d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan; f. Pajak Mineral Bukan
Logam dan Batuan; g. Pajak Parkir; h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB)
Perdesaan dan Perkotaan; k. Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak daerah diatas. Jenis pajak provinsi, kabupaten/kota diatas dapat tidak dipungut apabila potensinya kurang memadai dan atau disesuaikan dengan kebijakan daerah yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian Novalita (2005) meneliti mengenai peranan pajak
daerah dalam meningkatkan
pendapatan asli daerah Kota Bogor periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2004 dengan menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian Novalita adalah pajak daerah memberikan peranan besar terhadap PAD Kabupaten Bogor dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,872.
Penelitian Ruswandi (2009) meneliti mengenai pengaruh pajak daerah terhadap Pendapatan Asli
Daerah Kabupaten Sumedang
periode tahun 1994 sampai dengan tahun 2007 dengan menggunakan analisis regresi komponen utama. Hasil penelitian Ruswandi adalah pajak daerah pengaruh signifikan secara positif terhadap nilai PAD di
Kabupaten Sumedang dengan
3. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Penelitian ini
menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Aset Daerah
(DPPKAD) Kabupaten Musi
Banyuasin berupa data pajak daerah dan PAD dari tahun 2007 sampai
dengan tahun 2012. Dalam
pengumpulan data, penulis
menggunakan teknik dokumentasi, wawancara dan studi pustaka.
4. PEMBAHASAN 4.1 Analisis Data Instansi
Semakin besar penerimaan PAD suatu daerah maka semakin rendah tingkat ketergantungan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah pusat. Sebaliknya semakin rendah penerimaan PAD suatu daerah maka semakin tinggi tingkat ketergantungan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah pusat. Hal ini dikarenakan PAD merupakan sumber penerimaan daerah yang berasal dari dalam daerah itu sendiri.
Realisasi PAD Kabupaten
Musi Banyuasin mengalami
beberapa kali kenaikan dalam periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2012. Kenaikan dan penurunan PAD dipengaruhi oleh salah satu jenis penerimaan PAD berupa pajak daerah. Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah sebagai upaya pemerintah dalam mendorong pelaksanaan otonomi daerah. Pajak daerah Kabupaten Musi Banyuasin dalam periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 terdiri dari pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C sedangkan pajak daerah Kabupaten Musi Banyuasin dalam periode 2011 sampai dengan 2012 terdiri dari pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak air tanah, pajak burung walet dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Pajak daerah memiliki pengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Musi Banyuasin. Berikut data realisasi PAD dan Pajak Daerah Kabupaten Musi Banyuasin.
Tabel 2. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2007 sampai dengan 2012
(dalam ribu rupiah)
No URAIAN
TAHUN
2007 2008 2009 2010 2011 2012
1 Pendapatan Asli Daerah
28.015.084 31.260.166 35.050.058 64.021.754 80.644.882 96.732.349
2 Pajak Daerah 3.841.538 3.691.064 5.666.153 8.214.830 20.157.106 18.394.708 Sumber: Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD)
4.2 Pajak Daerah Kabupaten Musi Banyuasin
Berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 pajak daerah dan retribusi daerah, pajak daerah di Kabupaten Musi Banyuasin terdiri dari 9 jenis pajak daerah yaitu: 1. Pajak Reklame berdasarkan
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Pajak Reklame dan Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun
2010 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemungutan Pajak Reklame
a) Klasifikasi pajak reklame 1. Reklame papan 2. Reklame spanduk 3. Reklame Selebaran 4. Reklame Suara
b) Sistem pemungutan pajak reklame menggunakan sistem Official Assesment
c) Tarif pajak reklame sebesar 25%
2. Pajak air tanah berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2010 Tentang Pajak Air Tanah dan Peraturan Bupati Nomor 25 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Air Tanah
a) Sistem pemungutan pajak air tanah menggunakan sistem Self Assesment
b) Dasar pengenaan pajak air tanah adalah Rp.125 per M3 c) Tarif pajak air tanah sebesar
20%
d) Perhitungan pajak mineral bukan logam dan batuan sesuai dengan rumus berikut: Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
3. Pajak penerangan jalan
berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2010 Tentang
Pajak Penerangan Jalan dan Peraturan Bupati Nomor 26 Tahun
2010 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemungutan Pajak Penerangan Jalan
a) Klasifikasi pajak penerangan jalan
1. Pajak penerangan jalan listrik yang dihasilkan sendiri / PLN
2. Pajak penerangan jalan listrik yang dihasilkan pihak lain / non PLN 3. Pajak penerangan jalan
listrik selain yang dihasilkan pihak lain b) Sistem pemungutan pajak
penerangan jalan
menggunakan sistem
Witholding Assesment
c) Dasar pengenaan pajak penerangan jalan berupa nilai jual tenaga listrik
1. Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri / PLN
2. Penggunaan tenaga listrik yang yang dihasilkan pihak lain / non PLN oleh industri pertambangan, minyak bumi dan gas alam
3. Penggunaan tenaga
listrik selain yang dihasilkan pihak lain d) Tarif pajak penerangan jalan
1. Tarif untuk penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri / PLN senilai 1,5%
2. Tarif untuk penggunaan tenaga listrik yang yang dihasilkan pihak lain / non PLN senilai 3% 3. Tarif untuk penggunaan
dihasilkan pihak lain senilai 8%
e) Perhitungan pajak
penerangan jalan sesuai dengan rumus berikut:
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
4. Pajak hotel berdasarkan
Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Pajak Hotel dan Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Hotel
a) Klasifikasi pajak hotel
1. Hotel Bintang Tiga seperti Hotel Ranggonang 2. Hotel Melati Tiga seperti Hotel Randik dan Hotel Andalas
3. Hotel Melati Satu
4. Losmen penginapan
seperti losmen kurnia, penginapan sederhana dan penginapan sari musi. 5. Wisma pariwisata seperti
wisma ranggonang dan wisma atlet.
b) Sistem pemungutan pajak hotel menggunakan sistem Self Assesment
c) Dasar pengenaan pajak hotel berupa omzet per bulan d) Tarif pajak hotel sebesar 10% e) Perhitungan pajak hotel sesuai dengan rumus berikut: Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
5. Pajak restoran berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 Tentang Pajak Restoran dan Peraturan Bupati Nomor 28 Tahun 2010 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan
Pemungutan Pajak Restoran.
a) Klasifikasi pajak restoran 1. Restoran
2. Rumah Makan 3. Catering
b) Sistem pemungutan pajak restoran menggunakan sistem Self Assesment
c) Dasar pengenaan pajak
restoran berupa omzet
minimal Rp.300.000 per
bulan setelah dikurangi pengeluaran selama sebulan. d) Tarif pajak restoran sebesar
10%
e) Perhitungan pajak restoran sesuai dengan rumus berikut:
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
6. Pajak mineral bukan logam dan batuan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dan Peraturan Bupati Nomor 29 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
a) Klasifikasi pajak mineral bukan logam dan batuan 1. Tanah urug
2. Pasir urug 3. Tanah liat 4. Pasir Bangunan
b) Sistem pemungutan pajak mineral bukan logam dan batuan menggunakan sistem Self Assesment
c) Wajib Pajak (WP) pajak mineral bukan logam dan batuan
1. WP Pribadi penambang pasir bangunan/liat/pasir urug/tanah urug
2. WP Badan yang memiliki
kegiatan yang
kegiatannya telah sesuai
kesepakatan kemudian dilakukan analisa lalu
diterbitkan Surat
Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) oleh
dinas pendapatan
setempat sehingga WP bisa membayar pajak mineral bukan logam dan
batuan dengan
menggunakan Surat
Setoran Pajak Daerah (SSPD)
d) Dasar pengenaan pajak mineral bukan logam dan
e) Tarif pajak mineral bukan logam dan batuan sebesar 15%
f) Perhitungan pajak mineral bukan logam dan batuan sesuai dengan rumus berikut: Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
7. Pajak sarang burung walet berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2010 Tentang Pajak Sarang Burung Walet dan Peraturan Bupati Nomor 30 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Sarang Burung Walet
a) Klasifikasi pajak sarang burung walet adalah sarang burung walet
b) Sistem pemungutan pajak
sarang burung walet
menggunakan sistem Self Assesment
a) Dasar pengenaan pajak sarang burung walet berupa omzet per bulan
b) Tarif pajak sarang burung walet sebesar 10%
c) Perhitungan pajak sarang burung walet sesuai dengan rumus berikut:
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
8. Pajak hiburan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Pajak Hiburan dan Peraturan Bupati Nomor 31 Tahun 2010 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan
Pemungutan Pajak Hiburan d) Klasifikasi pajak hiburan
1. Pengelaran
kesenian/Musik/Tari/Busa na
2. Karaoke
3. Permainan ketangkasan e) Sistem pemungutan pajak
hiburan menggunakan sistem Self Assesment
f) Dasar pengenaan pajak hiburan berupa omzet per bulan
g) Tarif pajak hiburan 1. Pengelaran
kesenian/Musik/Tari/Busa na sebesar 10%
2. Karaoke sebesar 20% 3. Permainan ketangkasan
sebesar 10%
h) Perhitungan pajak hiburan sesuai dengan rumus berikut:
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
9. Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Bea Perolehan Hak Atas
Tanah dan Bangunan dan
Tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
a) Klasifikasi Bea Perolehan
Hak Atas Tanah dan
Bangunan adalah Bea
Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
b) Sistem pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan menggunakan sistem Self Assesment
c) Dasar pengenaan Bea
Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan berupa nilai
transaksi diatas Rp
60.000.000
d) Tarif Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan adalah 5%
e) Perhitungan Bea Perolehan
Hak Atas Tanah dan
Bangunan sesuai dengan rumus berikut:
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak
4.3 Potensi Pajak Daerah terhadap PAD
Sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerah itu sendiri
adalah PAD. Pajak daerah
merupakan sumber penerimaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Setiap daerah memiliki potensi pajak daerahnya masing-masing begitupun dengan pajak daerah yang dimiliki oleh Kabupaten Musi Banyuasin. Adapun potensi pajak daerah yang dimiliki oleh Kabupaten Musi Banyuasin dapat dilihat dilihat dari anggaran pajak daerah yang merupakan target dari pajak daerah dan tertuang dalam kebijakan perpajakan daeran MUBA dan dapat diihat sebagai berikut:
Tabel 5. Potensi Pajak Daerah Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2007 sampai dengan 2010 (dalam rupiah)
No URAIAN TAHUN
2007 2008 2009 2010
1 Pajak Hotel 240.200.000 351.650.000 395.865.000 369.000.000
2 Pajak Restoran 101.100.000 148.000.000 175.000.000 310.000.000
3 Pajak Hiburan 5.000.000 50.000.000 65.500.000 70.500.000
4 Pajak Reklame 120.000.500 148.850.000 165.735.000 174.825.000
5 Pajak Penerangan
Jalan 1.622.500.000 1.375.000.000 1.475.000.000 2.250.000.000
6 Pajak Galian
Golongan C 1.399.999.500 1.500.012.000 1.440.000.000 1.445.000.000
Jumlah 3.488.800.000 3.573.512.000 3.717.100.000 4.619.325.000
Tabel 6. Potensi Pajak Daerah Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2011 sampai dengan 2012 (dalam rupiah)
Sumber: Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Musi Banyuasin
Berdasarkan data pada Tabel 5, dapat dilihat potensi pajak daerah Kabupaten Musi Banyuasin yang mengalami peningkatan yaitu Rp.3.488.000.000 pada tahun 2007 dan Rp.4.619.325.000 pada tahun 2010. Tabel 6 juga menampilkan data potensi pajak daerah Kabupaten Musi Banyuasin dalam periode tahun 2011 sebesar Rp.14.065.575.000 yang mengalami peningkatan sebesar
Rp.20.471.250.000 pada tahun 2012. Peningkatan ini disebabkan oleh penambahan pajak daerah baru pada tahun tersebut berupa pajak air tanah, pajak sarang burung walet dan bea perolehan atas tanah dan bangunan. Kenaikan potensi pajak daerah Kabupaten Musi Banyuasin selama periode 2007 sampai dengan tahun 2012 dapat dilihat pada gambar berikut:
Sumber : Data yang diolah
Gambar 3. Potensi Pajak Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2007 sampai dengan 2012 (dalam persentase).
No URAIAN TAHUN
2011 2012
1 Pajak Hotel 585.000.000 653.500.000
2 Pajak Restoran 2.000.000.000 4.610.000.000
3 Pajak Hiburan 95.750.000 105.250.000
4 Pajak Reklame 184.825.000 202.500.000
5 Pajak Penerangan Jalan 2.800.000.000 4.600.000.000
6
Pajak Mineral Bukan Logam dan
Batuan 800.000.000 1.200.000.000
7 Pajak Air Tanah 50.000.000 50.000.000
8 Pajak Sarang Burung Walet 50.000.000 50.000.000
9 Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan
Bangunan 7.500.000.000 9.000.000.000
4.4 Hambatan dalam Pemungutan Pajak Daerah
Pemungutan pajak daerah bertujuan untuk merealisasikan potensi pajak daerah yang ada di suatu daerah agar dapat digunakan
dalam penyelenggaraan
pemerintahan, pelayanan publik dan kegiatan pembangunan. Pemungutan pajak daerah pada pelaksanaannya menghadapi kendala atau hambatan. Begitupula yang dihadapi oleh Pemerintahan Kabupaten Musi Banyuasin dalam hal ini adalah Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah
(DPPKAD) Kabupaten Musi
Banyuasin. Kendala atau hambatan yang dihadapi oleh DPPKAD antara lain disebabkan oleh:
1. Kesadaran Masyarakat kurang dalam membayar Pajak Daerah Banyak masyarakat belum mengerti dan memahami aturan perpajakan baik itu peraturan daerah maupun peraturan bupati sehingga masyarakat malas membayar pajak.
2. Sarana dan Prasarana kurang Pegawai UPTD yang berdomisili di Kecamatan Lalan contohnya mengalami hambatan dalam meninjau lokasi objek pajak daerah yang jauh dengan kondisi jalan yang berbatu sehingga untuk kendaraan roda dua mengalami kesulitan.
3. Terbatasnya Sumber Daya
Manusia (SDM)
Pelayanan yang diberikan kepada wajib pajak kurang maksimal karena terbatasnya sumber daya manusia.
4.5 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD)
PAD memiliki sumber
penerimaan lainnya selain pajak daerah. Sumber penerimaan lainnya tersebut merupakan faktor-faktor mempengaruhi PAD selain pajak daerah yaitu:
1. Retribusi daerah yaitu
penerimaan daerah yang berasal dari retribusi daerah.
2. Hasil Pengelolaan Kekayaan Darah yang Dipisahkan yaitu penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
3. Lain-lain Pendapatan Asli
Daerah yang Sah yaitu
penerimaan dari PAD yang bukan merupakan klasifikasi
PAD yang disebutkan
sebelumnya.
Tabel 13. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD) (dalam ribu rupiah)
No URAIAN TAHUN
2007 2008 2009 2010 2011 2012
1 Pajak Daerah 3.841.538 3.691.064 5.666.153 8.214.830 20.157.106 18.394.708
2 Retribusi Daerah 4.505.554 3.740.224 2.240.938 3.269.845 1.615.367 2.506.482 3 Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah
yang Dipisahkan 1.448.327 2.127.103 7.054.440 5.809.446 7.086.557 9.528.703
4
Lain-lain
Pendapatan Daerah
yang Sah 18.219.665 21.701.775 20.088.527 46.727.633 51.785.852 66.302.456
JUMLAH 28.015.084 31.260.166 35.050.058 64.021.754 80.644.882 96.732.349
Sumber : Data yang diolah
Tabel di atas memberikan informasi bahwa retribusi mengalami penurunan pada tahun 2008, 2009
dan 2011 serta mengalami
peningkatan tahun 2010 dan 2012. Hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan mengalami
penurunan tahun 2010 serta mengalami peningkatan tahun 2008, 2009, 2011 dan 2012. Lain-lain pendapatan daerah yang sah mengalami penurunan tahun 2009 serta mengalami peningkatan tahun 2008, 2010, 2011 dan 2012.
5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan hasil pembahasan maka dapat dibuat simpulan sebagai berikut:
1. Potensi pajak daerah di Kabupaten Musi Banyuasin mengalami peningkatan dan mengalami penambahan objek pajak daerah yang mulanya ada 6 jenis pajak daerah menjadi 9 jenis pajak daerah selama periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2012.
2. Hambatan yang dihadapi oleh
DPPKAD Kabupaten Musi
Banyuasin yaitu kurangnya
kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah, sarana dan prasarana yang dimiliki UPTD kurang serta pelayanan yang diberikan kepada wajib pajak kurang maksimal karena terbatasnya sumber daya manusia.
3. Faktor-faktor yang
mempengaruhi PAD selain pajak daerah adalah retribusi daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, penulis memberikan saran sebagai masukan bagi DPPKAD Kabupaten Musi Banyuasin:
2. DPPKAD Kabupaten Musi Banyuasin menghadapi kendala
atau hambatan dalam
pemungutan pajak daerah maka untuk mengatasi hambatan tersebut DPPKAD perlu:
a. Mengadakan sosialisasi ke
setiap kecamatan di
Kabupaten Musi Banyuasin
untuk memberikan
pemahaman ke masyarakat tentang aturan perpajakan baik itu peraturan daerah maupun peraturan bupati b. Mencanangkan pengadaan
kendaraan roda empat di setiap UPTD kecamatan
masing-masing agar
memudahkan untuk
menjangkau lokasi objek pajak ataupun masyarakat di daerah-daerah.
c. Menambah pegawai baru untuk memberikan pelayanan yang maksimal.
3. Untuk memaksimalkan
penerimaan pajak daerah sebagai tujuan diadakannya otonomi
daerah maka DPPKAD
Kabupaten Musi Banyuasin disarankan untuk meningkatkan kontrol terhadap objek pajak daerah yang telah ada sehingga nantinya akan tetap bisa berpotensi dan memiliki pengaruh terhadap PAD di Kabupaten Musi Banyuasin.
DAFTAR PUSTAKA
Novalita, Betta Sari. 2005. Peranan Pajak Daerah Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kota Bogor. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Nordiawan, dkk. Akuntansi
Pemerintahan. Jakarta: Salemba Empat
Nomor 91 Tahun 2010 Tentang Jenis Penetapan Pajak Daerah yang
Dipungut Berdasarkan
Penetapan Kepala Daerah Atau Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
Priyatno, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Taufik, Irwan. R. 2009. Perencanaan
dan Penganggaran Keuangan Daerah di Indonesia.
Yogyakarta: Sekolah
Pascasarjana UGM.
Triyanto. 2011. Profil Kabupaten Musi Banyuasin. (Online). (Situs Resmi Pemkab MUBA, diakses 24 Juni 2013).
Ruswandi, Rina Rahmawati. 2009. Analisis Pengaruh Pajak Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Sumedang skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor S.R, Soemarsono. 2007. Perpajakan.
Jakarta: Salemba Empat.
Siahaan, Marihot Pahala. 2010. Pajak Daerah & Retribusi Daerah Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta Bandung.
Supranto, J. 2009. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta: Erlangga
Suryabrata, Sumadi. 2010.
Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.
Undang-undang No. 33 Tahun 2004
Tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Undang-undang No. 12 Tahun 2008