PROSES LELANG DALAM KEPAILITAN
Oleh
Abuyazid Bustomi., SH., MH.1 ABSTRAK
Harta pailit dijual secara lelang atau di bawah tangan dengan ijin Hakim Pengawas. Dari ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa meskipun dibolehkan adanya penjualan harta pailit di bawah tangan dengan seijin hakim pengawas, tetapi dalam era globalisasi dan reformasi dimana transparansi, efisiensi dan efektifitas merupakan semangat masyarakat di segala bidang kehidupan, kiranya penjualan melalui lelang merupakan alternatif yang tepat yang tepat dan cepat digunakan dalam penyelesian kepailitan.
Penyelesaian hutang tersebut harus dilaksanakan secara cepat dan efektif. Sarana dan prasarana yang penting dalam rangka penyediaan sarana hukum yang dapat digunakan sebagai landasan bagi upaya penyelesaian utang piutang yaitu peraturan keapailitan, yang dapat memenuhi kebutuhan dunia usaha yang semakin berkembang cepat dan luas.
Terhadap asset debitur pailit yang bersekala besar yang melibatkan banyak buruh dan kreditur akan lebih aman dan kecil resikonya apabila meminta atau memakai jasa Kantor Lelang Negara dari pada Kurator yang melaksanakan sendiri dalam melakukan penjualan asset tersebut di bawah tangan kepada calon pembeli atau pihak ketiga.
Para pemohon lelang harus dapat menyadari bahwa alternatif lelang adalah alternatif yang paling baik karena penjualan dan nilai asset debitor yang telah mengalami kepailitan dapat terlaksana lebih objektif dan optimal, walaupun di dalam ketentuan Undang-Undang Kepailitan diperbolehkan juga penjualan di bawah tangan. 2 Debitor
1 . Abuyazid Bustomi, SH.,MH, Dosen
Fakultas Hukum Universitas Palembang.
2. Munir Fuady, Hukum Pailit Teori
dalam Prakte, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, Hlm. 111.
merupakan pihak yang paling berkepentingan mengenai hal ini debitor harus benar-benar memahami. Misalnya mengenai propertinya, dia harus tahu berapa nilai propertinnya, proses lelangnya dan fee yang terkait.
Kata Kunci : Proses Lelang Harta Pailit
I. Pendahuluan.
A. Latar belakang
Pengaruh gejolak moneter sejak tahun 1997 telah menimbulkan kesulitan yang sangat besar terhadap perekonomia nasional terutama kemampuan dunia usaha dalam mengembangkan usahanya, bahkan untuk mempetahankan kelangsungan usahanya juga kemampuan untuk memenuhi kewajiban pembayaran hutang kepada kreditur.
Penyelesaian hutang tersebut harus dilaksanakan secara cepat dan efektif. Sarana dan prasarana yang penting dalam rangka penyediaan sarana hukum yang dapat digunakan sebagai landasan bagi upaya penyelesaian utang piutang yaitu peraturan keapailitan, yang dapat memenuhi kebutuhan dunia usaha yang semakin berkembang cepat dan luas.
Dalam kasus kepailitan Direktorat Jenderal Piutang Negara “ terbawa serta” dalam hal menangani lelang eksekusi. Mengenai pengaturan lelang,mengenai hal ini masih menggunakan peraturan yang kuno yaitu Peraturan lelang Stb. 1908. Kemudian yang berkaitan dengan tarif diatur dalam Peraturan Pemerintah, yang juga masih dalam tahap revisi. Sedangkan proses dan aturan main seluruhnya diatur olek SK Menteri Keuangan.
Nomor 348. Dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1998 tanggal 20 Agustus 1998 tentang Kepailitan yang sekarang menjadi Undang-Undang Nomor 37 Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan. Dengan adanya undang-undang ini dapat dikatakan sebagai suatu kemajuan karena ini menunjukkan adanya tekad untuk menyelesaikan permaslahan perekonomian melalui proses hukum yang cepat dan pasti.
Dalam pasal 185 ayat (2) UU No. 37 tahun 2004 ditentukan bahwa harta pailit dijual secara lelang atau di bawah tangan dengan ijin Hakim Pengawas. Dari ketentuan tersebut dapat dilihat bahwa meskipun dibolehkan adanya penjualan harta pailit di bawah tangan dengan seijin hakim pengawas, tetapi dalam era globalisasi dan reformasi dimana transparansi, efisiensi dan efektifitas merupakan semangat masyarakat di segala bidang kehidupan, kiranya penjualan melalui lelang merupakan alternatif yang tepat yang tepat dan cepat digunakan dalam penyelesian kepailitan.
Untuk penjualan di muka umum, tergantung Kurator apakah akan memaki jasa Biro Lelang Swasta untuk bertindak sebagai penghubung (arranger) di dalam hubungan dengan Kantor Lelang Negara atau Kantor Pelayanan Piutang dan Lerlang Negara (KP2LN), karena tersebut terakhir sebagai kantor Pemerintah yang akan melaksanakan setiap transaksi lelang asset negara atau swasta di muka umum, atau Kaurator sendiri yang akan menghubungi Kantor Lelang Negara dalam rangka pelaksanaan di muka umum atas asset dibitur tersebut. 3
Terhadap asset debitur pailit yang bersekala besar yang melibatkan banyak
3 . Tafrizal Hasan Gewang, Panduan
Singkat Kurator, THG Yustisia, Jakarta, 2005, Hlm. 42.
buruh dan kreditur akan lebih aman dan kecil resikonya apabila meminta atau memakai jasa Kantor Lelang Negara dari pada Kurator yang melaksanakan sendiri dalam melakukan penjualan asset tersebut di bawah tangan kepada calon pembeli atau pihak ketiga.
Apabila lelang di muka umum berjalan dan asset debitur pailit telah berhasil melalui penawar tertinggi sesuai dengan harga limit yang ditetapkan oleh Kurator, tidak berarti uang hasil penjualan tersebut langsung dibagikan kepada kreditur separatis atau kreditur biasa atau konkuren. Kurator wajib membuat Daftar Pembagian untuk dimintakan persetujuan kepada Hakim Pengawas 4, lelang harus mengkualifikasikan harta pailit sebagai lelang eksekusi dan oleh karenanya harus dilakukan oleh Kantor Lelang Negara atau KP2LN dan tidak bisa dilaksanakan oleh Balai Lelang.
Para pemohon lelang harus dapat menyadari bahwa alternatif lelang adalah alternatif yang paling baik karena penjualan dan nilai asset debitor yang telah mengalami kepailitan dapat terlaksana lebih objektif dan optimal, walaupun di dalam ketentuan Undang-Undang Kepailitan diperbolehkan juga penjualan di bawah tangan. 5Debitor merupakan pihak yang paling berkepentingan mengenai hal ini debitor harus benar-benar memahami. Misalnya mengenai propertinya, dia harus tahu berapa nilai propertinnya, proses lelangnya dan fee yang terkait.
Berangkat dari uraian tersebut di atas penulis mencoba mengkaji pelaksanaan 4 . Pasal 185 ayat (1) UUK berbuinyi
“ Semua benda harus dijual di muka umum sesuai dengan tata cara yang ditentukan dalam Peraturan Perundang-Undangan”.
5 . Munir Fuady, Hukum Pailit
lelang asset debitur dalam upaya penyelesaian pembayaran hutangnya kepada kreditur, dengan mempokuskan kajian tersebut pada “ Proses Lelang Dalam Kepailitan “.
B. Permasalahan
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalaha ini adalah sebagai berikut : Bagaimana Tata cara Prosedur Lelang terhadap harta debitor dalam Kepailitan ? Faktor-faktor apa yang yang mempengaruhi pelaksanaan Lelang bagi asset Debitor yang mengalami pailit ?
C. Metode Penulisan
Kajian dalam penulisan ini adalah suatu kajian hukum normatif atau penelitian doktrinal Arif Sidharta, penulisan normatif atau penelitian doktrinal mencakup :
Dasar-dasar landasan berlakunya norma yaitu dengan menelaaah asas-asas hukum, kaidah-kaidah, putusan-putusan kaidah hukum berdasarkan hukum dan politik hukum, yang bagian-bagian penting ditetapkan menjadi undang-undang atau peraturan oleh pihak-pihak yang berwenang ;
Asas-asas atau prinsip dari suatu norma, yaitu dengan menghimpun menafsirkan, dan memaparkan bahan-bahan hukum ; Tujuan dari suatu norma (lingkup teleogis atau menyangkuit tujuan dari suatu normas hukum);
Lingkup berlakunya suatu norma (lingkup epiologis);
Akibat dari penerapan norma hukum (lingkungan aksiologis atau meyangkut penelitian/teori-teori.6
Penelitian ini didasarkan atas
bahan-bahan hukum lainnya
berupamkepustakaan, peraturan perundang-undang dan dokumen hukum
6 . Rudhi Prasetya, Kedudukan
Mandiri Perseroan Terbatas, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1985, Hlm. 9
lainnya yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan (library research). Selanjutnya bahan-bahan hukum yang telah diolah tersebut kemudian dilakukan analisis yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik suatu kesimpulan yang sahih dari suatu dokumen-dokumen hukum resmi uatamanya perundang-undnagan. 7
Penggnaan teknik analisis ini dilakukan untuk mengabstraksi konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum yang mengatur tentang Dasr hukum Lelang, Tata cara Prosedur Lelang terhadap asset Debitor yang telah mengalami Kepailitan.
II. Pembahasan
Lelang di Indonesia mulai dikenal tahun 1908 dengan dikeluarkannya Vendu Reglement (peraturan Lelang Stb. 1908 Nomor 190. Pengertian penjualan umum (lelang) dapat ditemukan dalam pasal 1 Vendu Reglement yang menyebutkan bahwa lelang adalah setiap penjualan barang di muka umum dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis melalui usaha mengumpulkan para peminat/ peserta lelang penjualan umum tersebut harus dipimpin oleh pejabat lelang.
Lelang harta pailit pada dasarnya adalah lelang eksekusi dalam rangka melaksanakan putusan pengadilan, yang dalam hal ini Pengadilan Niaga. Lelang dilakukan di depan umum, dengan cara penawaran harga yang kompetitif, dan dilaksanakan oleh Pejabat Lelang selaku pejabat umum yang independen. Dengan melaksanakan penjualan harta pailit secara lelang berarti kepentingan berbagai pihak seperti debitor maupun pembeli lelang itu
7 . Soejono Soekanto dan Sri
sendiri dapat terlindungi, lebih efisien dan dapat dipertanggung jawabkan.
Dipilihnya penjualan secara lelang didepan umum terhadap asset debitor yang telah mengalami kepailitan merupakan alternatif terbaik, hal ini disebabkan penjualan secara lelang lebih :
Objektif, Lelang dilakukan secara terbuka, tidak ada prioritas di antara peserta lelang, kesamaan hak dan kewajiban antara peserta dan pemohon lelang akan mengahasilkan pelaksanaan lelang yang obyektif;
Kompetitif, Lelang menciptakan mekanisme penawaran dengan persaingan bebas di antara para penawar sehingga akan tercapai harga yang wajar dan memadai sesuai dengan yang dikehendaki penjual;
Built In Control, Lelang diumumkan lebih dahulu dan dilaksanakan di depan umum. Bahkan sejak diumumkan pihak yang berkeberatan dapat mengajukan verzet/gugatan. Dengan ini diharapkan dapat terhindar adanya penyimpangan-pentimpangan yang merugikan;
Authentik, artinya dari setiap pelaksanaan lelang diterbitkan risalah lelang yang merupakan akta authentik. Dengan risalah lelang, pembeli dapat mempertahankan haknya, dapat digunakan untuk balik nama dan bagi penjual dapat digunakan sebagai bukti telah dilaksanakannya penjualan dengan baik sesuai prosedur.
Secara umum lelang penjualan barang yang terbuka untuk umum baik secara langsung maupun melalui media elektronik dengan cara penawaran harga secara lisan dan atau tertulis yang didahului dengan usaha mengumpulkan peminat, Hal ini dapat dijumpai dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 304/MK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang petunjk lelang.
Dalam ketentuan penjualan Lelang dalam rangka kepoailitan atau dasar hukum lelang adalah sebagai berikut :
1. Peraturan lelang/vendu reglement (Stb. 1908 Nomor 189);\
2. Instruksi Lelang/Vendu Instruksi (Stb. 1908 Nomor. 190);
3. Peraturan Pemungutan Bea Lelang untuk Pelelangan dan Penjualan Umum (Peraturan Pemerintah 15 Desember 1949, Stb. 1949 Nomor. 390);
4. Keputusan Menteri Keuangan No. 304/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentangh Petunjuk Pelaksanaan Lelang;
5. Keputusan Menteri Keuangan No. 305/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang Pejabat Lelang;
6. Keputusan Menteri Keuangan No. 306/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang Balai Lelang dan
7. Surat Edaran Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara No. SE-12/PL/2001 tanggal 19 April 2001 tentang Lelang harta Pailit.
Berangkat dari ketentuan dan dasar hukum tentang lelang terhadap asset debitur tersebut. Lelang dilakukan di depan umum, dengan cara penawaran harga yang kompetitif, dan dilaksanakan oleh pejabat lelang selaku pejabat umum yang independen. Dengan melaksanakan penjualan harta pailit secara lelang berarti kepentingan berbagai pihak seperti debitor, kreditor maupun pembeli lelang itu sendiri dapat terlindunggi dan adapat dipertanggung jawabkan. Dalam pelaksanaannya lelang terhadap harta debitor dalam kepailitan harus melalui tata cara dan prosedur yang telah ditentukan. II. Proses dan Prosedur Lelang Dalam Kepailitan
asset tersebut setidaknya harus mempertimbangkan dua aspek. Aspek pertama yaitu aspek yuridisnya, apakah dengan menjual harta lelang ini seorang tidak akan dipermasalahkan nantinya bila tidak memuaskan para pihak. Hal ini terkait dengan kapan harus menjualnya, bagaimana prosedurnya penjualannya, apakah memerlukan ijin, dan pasal mana yang mengatur hal tersbut. Hal lain adalah terkait dengan aspek bisnis, yaitu untuk mencapai harga setinggi-tingginya. Jika perlu yang bersangkutan akan menyewa ahli untuk memberikan analisa saat yang tepat kapan menjual asset-asset tersebut, misalnya apakah dijual sebagian ataukah keseluruhan. Dari kedua aspek ini, kurator harus dapat memilih manakah yang paling tepat. Kurator dapat memilih melalui lelang dengan memepertimbangkan asas-asas lelang dan kelebihannya.
Terhadap barang-barang tidak bergerak tereksekusi yang akan dijual dengan perantaraan kantor lelang negara dan pada umumnya disita terlebih dahulu, juga terhadap barang bergerak sama saja halnya atau sebelumnya telah diletakkan di bawah sita jaminan. 8
Lelang menganut asas
taransparansi dan publicity, yang artinya tidak ada orang yang tidak tahu bahwa pada tanggal sekian akan dilaksanakan acara lelang dan terbuka untuk mum karena sudah diberitahukan sesuai dengan peraturan yang ada. Lelang juga menganut asas Certainty, dimana siapapun yang menang lelang pasti mendapatkan barang dan dokumen-dokumennya beswerta risalah lelang. Dengan adanya lelang terbuka akan ada competition dalam pelaksanaannya. Jadi bisa menyenangkan kreditor dan debitor untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
8 . Djazuli Bachar, Eksekusi
Putusan Perkara Perdata, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995, Hlm. 97.
Syarat permohonan lelang diajukan secara tertulis oleh Balai Harta Peninggalan (BHP) dan kurator yang ditunjuk, dimana dalam permohonan tersebut disebutkan sipenjual harus memberikan nilai limit yang disampaikan sebelum pelaksanaan lelang. Prosedur dan tata cara pelaksanaan lelang akan melibatkan pemohon lelang/ kurator/BHP, PUPN dan Balai lelang, peserta lelang, surat kabar/ pengumuman lelang, kantor kas negara dan pihak bank. Adapun prosedur lelang tersebut adalah sebagai berikut :
Permohonan lelang dari pemohon lelang atau kurator memberikan permohonannya kepada Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) beserta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan barang tersebut;
Dengan adanya permohonan ini, maka kantor lelang akan memberikan waktu kapan akan dilaksnakan lelang. Waktu ini bisa ditentukan oleh para pihak; Kurator/BHP akan mengumumkan disurat kabar harian setempat, jika tempat
barangnya tersebar, maka
pengumumamnnya harus dilakukan di temapat yang dikehendaki penjual. Namun bila barangnya lebih dari tiga maka cukup diumumkan di Jakarta;
Para pihak yang telah melihat pengumuman, kemudian berkeinginan menjadi peserta lelang untuk mendapat nomor peserta lelang, maka pihak tersebut harus membayar uang jaminnan yang sudah ditentukan oleh penjual;
Setelah negosiasi dan lelang etrselenggara, jika lelangnya berupa tanah dan bangunan, maka kantor lelang minta SKT (Surat keterangan Tanag0, Srertifikat tanah kepada Badan Pertanahan.
Dalam pelaksanaan lelang, baik tertutup atau terbuka, penawar yang tertinggi dan melebihi bilai limit, oleh pejabat lelang dengan persetujuan ditunjuk sebagai pembeli;
Pemenang lelang membayar harga kepada KP2LN dengan sejumlah pajak, bea lelang, dan uang miskin. KP2LN akan meneruskan uang ini kepada si penjual; Pembeli akan menerima barang baik langsung maupun tidak langsung, tidak langsung bilamana jumlah barangnya cukup banyak; dan
KP2LN pada waktu lelang tersebut akan menyerahkan dokumennya kepada pemenang lelang dengan petikan lelang. Penjual juga akan mendapat salinan rislah lelang tersebut.
Secara umum kewajiban peserta lelang adalah menyetor uang jaminan ke pejabat lelang. Hal ini dapat diwakilkan kepada kuasanya ataupun dengan konsersium, pihak yang ditunjuk dalam konsorsium harus hadir dalam pelaksanaan lelang. Bila tidak ada kuasa, lelangnya bisa dianggap tidak sah dan bila lelangnya dalam bentuk tertutup, maka ia harus mengisi surat penawaran dengan baik dan benar. Selanjutnya pemenang lelang harus membayar uang pokok lelang, uang miskin dan pajak/pengutan lain seperti BPHTB.
Sedangkan hak dari peserta lelang/pembeli adalah meminta keterangan atas dokumen-dokumen barang yang dilelang, melibatkan dan memeriksa barang, meminta kembali uang jaminan bila tidak jadi membeli barang lelang, meminta bukti petikan/grosse risalah lelang untuk balik nama, dan sebagainya.
III. Faktor-Faktor Mempengaruhi Pelaksanaan Lelang Asset Debitor Dalam Kepailitan
Secara umum proses lelang terhadap semua asset/harta debitor yang telah mengalami pailit harus dijual
dihadapan umum atau dijual di bawah tangan dengan izin hakim pengawas. Dalam pelaksanaannya lelang mempunyai dua fungsi yaitu fun gsi privat dan fungsi publik, dimana fungsi privat lelang terletak pada hakekat lelang yang merupakan alat untuk mengadakan perjanjian jual beli barang dengan car-cara yang diatur undang-undang, yang pelaksanaannya bersifat transparan dengan cara pembentukan harga yang khas dan kompetitif sehingga penawar denmgan harga tertinggi yang telah mencapai atau melampaui nilai limit pembelinya.
Sedangkan Fungsi Publik tercermin dari pengamanan aset yang dimiliki/dikuasai negara untuk meningkatkan efsiensi dan tertib administrasi dari pengelolaan aset tersebut, pelayana penjualan barang dalam rangka mewujudkan law enforcement yang mencerminkan keadilan, keamanan dan kepastian hukum serta mengumpulkan penerimaan negara dalam bentuk Bea Lelang dan Uang Miskin. Akan tetapi dalam pelaksanaannya prosedur lelang sering kali kurang dilaksanakan sebagaimana mestinya, dimana hal ini dapat menimbulkan permaslahan hukum seperti gugatan terhadap lelang tersebut. Adapu permasalahan lelang terhadap harta pailit adalah sebagai berikut :
Penggologan jenis lelang harta pailit, selain KP2LN, kewenangan lelang juga ada pada balai lelang, sebagai Kantor lelang swasta, kewenangan balai lelang terbatas hanya melakukan lelang sukarela. Sedangkan pailit adalah merupakan keputusan pengadilan masuk dalam kategori eksekusi;
Nilai limit, dimana harga yang terbentuk dalam lelang, yang menajdi persoalan bagaimana cara kurator menentukan nilai limit dan dapat dipertanggung jawabkan karena yang namanya harga mengandung sifat obyektif, tetapi juga sifat subyektif; Penndaan Lelang, sering dimanfaatkan untuk mengahalangi pelaksanaan lelang dan berpotensi menhambat proses penyelesaian kasus kepailitan. Untuk menjaga kelancaran penyelesaian kasus kepailitan perlu adanya penegasan dari Makamah Agung mengenai putusan atau penetapan apa saja yang dapat menunda pelaksanaan lelang kepailitan serta jangka waktu penundaan pelaksanaan lelang; Legalitas barang yang dilelang, karena banyaknya harta pailit yang akan di lelang tersebut dapat menyebabkan kurator tidak mengetahui secara keseluruhan legalitas obyek yang akan dilellang, dan ini akan menyebabkan permasalahan dikemudian hari seperti adanya gugatan dari pihak ketiga;
Cara Pembayaran, yang pada prinsipnya pembayaran dalam lelang dilakukan secar tunai selambat-lambatnya 3 hari kerja setelah pelaksanaan lelang, akan tetapi pembayaran tidak tunai dapat dilakukan dengan izin kasus perkasus dari Direktorat Jenderal atas nama Menteri Keuangan, dan ini memberikan peluang ketidak pastian hukum.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas tentang berbagai faktor yang dapat menghambat proses pelaksanaan lelang harta debitor yang telah mengalami kepailitan, secara umum lebih disebabkan ketidak tegasan peraturan perundang-undangan tentang mekanisme tata cara pelaksanaan lelang yang pada akhirnya memberikan interprestasi penafsiran yang berbeda. Hal ini memberikan celah bagi pihak-pihak tertentu untuk menghambat atau mencari
keuintungan dari proses pelaksanaan lelang tersebut.
IV. Penutup 1. Kesimpulan
Dari pembahasan atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Terhadap proses lelang semua harta Debitor yang mengalami Kepailitan, Kurator mengajukan surat permohonan kepada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara, kemudian KP2LN menentukan tanggal, waktu dan tempat pelaksanaan lelang dengan memperhatikan keinginan pemohon lelang. Dimana semua harta pailit dijual dihadapan umum. Dalam pelaksanaannya Prosedur lelang sering kali tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, hal ini sering menimbulkan permasalahan dikemudian hari berupa gugatan dari pihak ketiga. Dimana dalam prosedur lelang, pelaksana lelang harus memberuitahukan kepada orang yang menempati atau menguasai barang yang akan di lelang tersebut. Bahkan terkesan proses dari permohonan lelang sering kali terasa sangat lamban. Faktor yang paling sering menghambat dalam proses lelang harta debitor yang mengalami kepailitan, antara lain mengenai harga limit yang sering bocor, dimana pihak lain bisa mengetahui lebih dahulu. Kurang tegasnya pengaturan tentang bagaimana cara kurator menentukan nilai limit harga yang dapat dipertanggung jawabkan, karena yang namanya harga mengandung sifat obyektif dan subyektif. Tidak ada aturan yang tegas mengenai ketentuan apa saja yang dapat melakukan penundaan lelang, hal ini tentunya dapat merugikan debitor, kreditor dan pihak calon pembeli/pemenang lelang.
2. Saran
penunjukan haklim pengawas dan penunjukan kurator. Selanjutnya kurator mempunyai hak untuk menjual barang secar langsung pada saat yang tepat. Untuk hal tersebut berupa penjualan harta pailit kiranya kurator tidak perlu meminta izin dari pihak manapun termasuk Hakim Pengawas, ketua Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Niaga.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Djazuli Bachtiar, Rksekusi Putusan Perkara Perdata, Akademika Pressindo, Jakarta, 1995.
Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.
Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995.
Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja, Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Tafrizal Hasan Gewang, Panduan Singkat Praktek Kurator, THG Yustisia, Jakarta, 2005.